• Tidak ada hasil yang ditemukan

Relasi Politik OMS dengan Partai Politik

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Relasi Politik OMS dengan Partai Politik"

Copied!
218
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

RELA SI POLITIK OM S

PA RTAI POLITIK

Sebuah Di n ami ka & Tan t an gan Ger akan Si pi l

di Aceh

Chairul Fahmi

Aryos Nivada

(3)

ii

ISBN: 978-602-14847-0-8

RELASI POLITIK OMS dengan PARTAI POLITIK: Sebuah Dinamika dan Tantangan Gerakan Sipil di Aceh

Penulis

Chairul Fahmi Aryos Nivada Cut Famelia T.M. Jafar

Tim Peneliti

Baiquni Hasbi, Nur Azizah, Kholilullah & Zulkarnaen

Konsultan Ahli : Sutoro Eko Editor : Afrizal Tjoetra Design Cover : Arif Abdul Ghafur

The Aceh Institute

Jl.Lingkar Kampus Kav.11-12

Pertokoan Limpok, Limpok Squere Darussalam, Banda Aceh 23111 INDONESIA

Email: [email protected]

Homepage: http://www.acehinstitute.org

(4)

iii

KATA PENGA NTAR

MIGRASI politik aktivis Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) ke partai politik bukanlah fenomena yang baru terjadi, baik di Aceh maupun daerah lain di Indonesia. Sudah lama hal ini berlangsung, dari waktu waktu. Di awal kemerdekaan Indonesia, misalnya, banyak pendiri republik yang awalnya bergiat dalam wadah ormas bergabung ke dalam – atau bahkan mendirikan-- partai politik. Sementara itu, jauh sebelum reformasi, migrasi aktivis OMS ke partai politik ibarat peta jalan untuk menapaki langkah selanjutnya bekerja untuk melayani kepentingan publik. Tengoklah beberapa aktivis mahasiswa -- dari kelompok Cipayung maupun bukan-- yang kemudian menjadi fungsionaris partai politik di jaman orde baru. Setelah reformasi, tidak sedikit pula aktivis OMS yang awalnya sangat militan beraktivitas di dunia LSM beralih menjadi aktivis partai politik, baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Dan, sesuai dengan hukum permintaan dan penawaran, jumlah aktivis OMS yang bermigrasi ke partai politik makin membengkak menjelang pelaksanaan Pemilu. Inilah yang kita saksikan menjelang Pemilu 2014 ini.

(5)

iv

yang menyayangkannya karena dianggap sebagai penyebab dari terkurasnya sumberdaya OMS, atau bahkan menghujatnya dengan alasan telah melemahkan posisi OMS untuk melakukan koreksi terhadap kiprah partai politik.

Di tengah maraknya perdebatan yang setuju dan tidak setuju itu, Aceh Institute melakukan penelitian secara mendalam mengenai hal ini di Aceh. Apakah aktivis OMS yang bermigrasi ke partai politik memiliki dua kaki di ranah yang berbeda; menjadi pendukung partai sambil tetap mengklaim sebagai aktivis OMS? Apakah aktivis OMS yang masuk partai berhasil melakukan perubahan? Apakah OMS yang aktivisnya masuk partai tetap independen atau menjadi kepanjangan tangan partai? Itulah beberapa contoh pertanyaan yang ingin dijawab melalui penelitian Aceh Institute ini, untuk kemudian dipetakan dalam kerangka yang lebih sistematis.

(6)

v

dibutuhkan dan menghasilkan sebuah laporan penelitian yang termuat dalam buku ini.

Setidaknya ada tiga hal menarik dari hasil penelitian Aceh Institute ini yang patut menjadi catatan. Pertama, penelitian ini telah merangkum dinamika peran-peran OMS dalam beberapa situasi di Aceh, baik dalam situasi konflik Aceh, situasi paska bencana tsunami, hingga situasi terkini dimana hampir semua lembaga internasional yang memberi bantuan mengatasi bencana tsunami telah meninggalkan Aceh.

Kedua, penelitian ini berhasil memetakan realitas pola relasi yang terbangun antara beragam jenis OMS dengan partai politik di Aceh ke dalam kategorisasi yang umum dibahas dalam literatur dan berbagai kajian akademik, yakni relasi yang bersifat partisipatoris, klientalistik, korporatis maupun konfrontatif.

Ketiga, penelitian ini berhasil mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi minat aktivis OMS di Aceh untuk bermigrasi ke partai politik, mulai dari pemenuhan kebutuhan finansial, meningkatkan eksistensi diri, memperkuat kapasitas personal dalam bidang politik praktis, membangun jaringan politik yang lebih luas, hingga upaya untuk melakukan perubahan kebijakan.

(7)

vi

memiliki kepedulian dan atau berinteraksi dengan OMS. The Asia Foundation merasa bangga telah dilibatkan oleh Aceh Institute dalam penelitian yang sangat bermanfaat ini.

Jakarta, 20 Februari 2014

The Asia Foundation

Sandra Hamid, PhD

(8)

vii

SAM BUTAN & UCAPAN

TERIMA KASIH

GERAKAN masyarakat sipil yang terorganisir atau dikenal dengan istilah organisasi masyarakat sipil merupakan bagian penting dalam proses pengembangan sistem negara yang lebih demokratis, transparant, akuntabel dan responsible. Meskipun sebagian OMS telah ada sebelum adanya negara Republik Indonesia, seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Perti, dll namun dalam perkembangan kemudian, berbagai OMS lainnya tumbuh dan berkembang seiring prinsip-prinsip konstitusi negara diaplikasi dengan baik. Salah satu prinsip konstitusi itu adalah kebebasan untuk mengeluarkan pendapat dan membentuk perkumpulan-perkumpulan dalam sebuah masyarakat Indonesia.

(9)

viii

kehilangan tempat tinggal dan kerugian ekonomi lainnya, sejumlah OMS tumbuh di Aceh. Menurut Teuku Ardiansyah, lebih dari 600 OMS berbasis lokal tumbuh setelah bencana gempa dan tsunami. Umumnya OMS ini tumbuh dan berkembang karena banyaknya dukungan financial dari berbagai negara asing, donor, dan lembaga-lembaga NGO internasional yang berkerja untuk membangun kembali Aceh yang telah hancur.

Seiring dengan itu, proses perdamaian di Aceh juga diwujudkan. Pertemuan antara perwakilan pemerintah Republik Indonesia dan utusan petinggi GAM di Helsinki Finladia yang difasilitasi oleh CMI telah melahirkan satu perjanjian perdamaian dan mengakhiri konflik politik di Aceh yang telah berjalan selama lebih dari 30 tahun.

Proses perdamaian ini sangat didukung oleh masyarakat sipil. Rasa suka cita yang diperlihatkan oleh seluruh rakyat Aceh menyambut perjanjian damai ini menunjukkan kerinduan rakyat terhadap perdamaian di Aceh segera terwujud. Peran OMS yang dipelopori oleh berbagai LSM kemanusian di Aceh juga menjadi front line untuk mendukung terciptakan perjanjian tersebut.

(10)

ix

otonomi khusus di Aceh. Maka untuk mengawal proses ini berbagai elemen sipil bekerja untuk mengawal proses pengesahan draft UU pemerintahan Aceh yang sesuai dengan MoU dan juga aspirasi rakyat Aceh. Salah satu butir-butir dalam MoU yaitu adanya kewenangan pembentukan partai lokal, yang merupakan satu-satunya bentuk partai politik berbasis lokal yang ada di Indonesia.

Setelah UU No.11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh disahkan oleh DPR RI pada juli 2006, sejumlah aktivis OMS ikut dalam pembentukan partai berbasis lokal untuk dapat mengikuti pemilu pada tahun 2009. Pada saat itu, setidaknya ada tiga parlok yang lulus verifikasi yang didirikan secara murni oleh para aktivis OMS, antara lain; partai SIRA, PRA dan PDA. Sebaliknya PAAS didirikan oleh mantan anggota MPR/DPR RI yaitu Ghazali Abbas Adan, dan anggota MPR/DPR RI yaitu Dr.Ahmad Farhan Hamid yang mendirikan PBA. Selain itu terdapat satu partai yang dirikan oleh mantan GAM yaitu Partai Aceh. Namun secara umum transformasi dari gerakan sipil ke gerakan politik ini memberikan warna baru dan orientasi baru dalam gerakan sipil di Aceh, yaitu dari gerakan jalanan ke gerakan parlemen.

(11)

x

terpecah karena mempunyai persepsi yang berbeda. Ketika itu ada yang berpendapat bahwa UU No.11 tahun 2006 yang memberikan kewenangan terbentuknya partai lokal di Aceh sebaiknya hanya dibentuk satu partai saja, yaitu partai yang diusulkan oleh aktivis GAM. Salah satu aktivisi sipil yang berpendapat seperti itu adalah Kausar, salah satu tokoh gerakan mahasiswa tahun 1998-2004.

Namun usulan dari Kausar tidak diterima oleh aktivis sipil lainnya, yang berpendapat bahwa UUPA memberikan kesempatan bagi siapa saja warga Aceh untuk membentuk partai yang berbasis lokal, jadi tidak saja menjadi hak mantan kombatan GAM untuk mendirikan partai lokal.

(12)

xi

Tengah, Gayo Lues dan Aceh Tenggara yang masih didominasi oleh partai golkar.

Sebaliknya gerakan sipil menjadi melemah, seiring dengan telah berakhirnya program tsunami di Aceh. Berbagai lembaga internasional yang selama ini mendukung kerja-kerja OMS. Disisi lain, beberapa aktivis OMS yang memutuskan bergabung dengan partai tertentu juga mempengaruhi posisi dan peran OMS sejak tahun 2009 sampai sekarang. Pemilu 2014 juga membuktikan sejumlah aktivis OMS yang bergabung dengan sejumlah partai politik, baik partai yang berbasis lokal maupun yang berbasis nasional.

Penelitian ini bertujuan untuk mengukur pengaruh relasi yang dibangun oleh sejumlah aktivisi OMS dengan partai politik, baik secar langsung maupun tidak langsung, serta posisi dari OMS dalam relasi tersebut. Menggunakan pendekatan purpusive sampling, dimana sampel penelitian ini ditentukan berdasarkan karakteristik wilayah, maka terdapat tiga wilayah yang dijadikan sebagai sampel penelitian ini yaitu (1) kota Banda Aceh, (2) Kota Lhokseumawe, dan (3) kabupaten Aceh Tengah.

Hasil akhir dari penelitian ini diharapkan akan menemukan satu konsep ralasi yang ideal antara OMS dengan partai politik, sekaligus untuk memetakan sejumlah OMS yang mempunyai relasi dan atau yang tidak mempunyai relasi dengan partai politik di Aceh.

(13)

xii

lapangan, baik di Banda Aceh, Lhokseumawe maupun di Takengon Aceh Tengah. Terimakasih juga kepada tim pendukung, Marlina, Yusriana, Era, Ijal dan Zakwan serta Kiffah yang juga ikut serta dalam proses penelitian ini. Kepada Sutoro Eko yang telah membantu dalam proses penyusunan kerangka penelitian dan review akhir penelitian ini dan Afrizal Tjoetra atas bantuan review tulisan ini. Terimakasih yang tak terhingga kepada tim penulis yang telah bekerja siang malam dalam menyelesaikan laporan akhir penelitian ini, Aryos Nivada dan Teuku Muhammad Jafar Sulaiman, atas kerja kerasnya dalam menyempurnakan penulisan buku ini dapat diselesaikan dengan baik dan sempurna. Terakhir, ucapan terimakasih yang tak terhingga kepada The Asia Foundation, khususnya kepada ibu Sandra Hamid, PhD, mas Lili Hasanuddin, mbak Natalia Warat, mbak Yassinta, dan mas Ade dan seluruh personil The Asia Foundation yang telah mendukung secara penuh dalam penelitian ini.

Banda Aceh, 28 Februari 2014 The Aceh Institute

Chairul Fahmi, M.A

(14)

xiii

DA FTAR ISTILAH

APBA : Anggaran Pendapatan Belanja Aceh APBK : Anggaran Pendapatan Belanja

Kabupaten/Kota APF : Aceh People Forum

ACSTF : Aceh Masyarakat sipil Task Force

AI : The Aceh Institute

AJMI : Aceh Justice Monitoring Institute

AM : Aceh Merdeka

ADF : Aceh Development Fund AMM : Aceh Monitoring Mission

AMIR : Aksi Mahasiswa Islam untuk Reformasi BRR : Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi BRA : Badan Re-Intergrasi Aceh

CSO : Masyarakat sipil Organization CDI : Citra Desa Indonesia

CCDE : Center for Community Development and Education

CoHA : Cession of Hostalities Aceh

CIDA : Canadian International Development Agency

Caleg : Calon Legislatif

DPRA : Dewan Perwakilan Rakyat Aceh DPRK : Dewan Perwakilan Rakyat

Kabupaten/Kota

(15)

xiv

Fokusgampi : Forum Komunikasi Gerakan Mahasiswa Pemuda Pidie

FoPKRA : Forum Perjuangan Keadilan Rakyat Aceh GAM : Gerakan Aceh Merdeka

GerAK : Gerakan Anti Korupsi

HMI : Himpunan Mahasiswa Islam

HUDA : Himpunan Ulama Dayah Aceh

HDC : Henry Dunart Center HAM : Hak Asasi Manusia

JDA : Jaringan Demokrasi Aceh

Kanwilhukam : Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM

KMPAN : Komite Mahasiswa Pemuda Aceh Nusantara

KAMAUT : Kesatuan Aksi Mahasiswa Aceh Utara KMPA : Komite Mahasiswa Pemuda Aceh KAGEMPAR : Koalisi Gerakan Mahasiswa Pemuda

Aceh Barat

KNPI : Komite Nasional Pemuda Indonesia

KARMA : Komite Aksi Reformasi Mahasiswa Aceh KoMPAS : Kongres Mahasiswa Pemuda Aceh

Serantau

KAMMI : Komite Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia

(16)

xv

MoU : Memorandum of Understanding MaTA : Masyarakat Transparansi Aceh NGO : Non-Goverment Organization NAD : Nanggroe Aceh Darussalam

NU : Nahdlatul Ulama

OMS : Organisasi Masyarakat Sipil Ormas : Organisasi Masyarakat

PNS : Pegawai Negeri Sipil

PA : Partai Aceh

PDA : Partai Damai Aceh

PAAS : Partai Aceh Aman Sejahtera PRA : Partai Rakyat Aceh

PNA : Partai Nasional Aceh PAN : Partai Amanat Nasional PBA : Partai Bersatu Aceh

Pilkada : Pemilihan Kepala Dearah RTA : Rabithah Thaliban Aceh

RUU : Rancangan Undang Undang

RPUK : Relawan Perempuan Untuk Kemanusian

RI : Republik Indonesia

(17)

xvi

Gambar 1 : Tipologi Relasi Politik ---- 27

Gambar 2 : Jumlah OMS dan Partai Politik ---- 40 Gambar 3 : Tipologi OMS ---- 51

Gambar 4 : Pola Relasi OMS Terhadap Partai Politik ---- 128

Gambar 5 : Pola orientasi politik aktivis sipil terhadap partai politik ---- 133

Gambar 6 : Model Relasi LSM&Partai Politik ---- 137 Gambar 7 : Peran OMS Mempengaruhi Kebijakan

Partai Politik ---- 164

Gambar 8 : Posisi OMS dalam Pemilu- 2014 ---- 171

(18)

xvii

DA FTAR TABEL

Tabel 1 : Persepsi masyarakat terhadap lembaga yang berwajah korup di Aceh ---- 70

Tabel 2 : On Budget (APBN) Dana Yang di Kelola oleh BRR NAD-Nias ---- 80

Table 3 : Off Budget (Bantuan NGO) Tahun Anggaran 2005-2006 ---- 82

Tabel 4 : Contoh Aktivis Yang bergabung dengan Partai Politik dan DPD ---- 118

(19)

xviii

Kata Pengantar ---- iii

Sambutan & Ucapan Terimakasih ---- vii Daftar Istilah ---- xiii

Daftar Gambar ---- xvi Daftar Tabel ---- xvii Daftar Isi ---- xviii

Ringkasan Eksekutif ---- xxi

1. Pendahuluan ---- 1

1.1. Latar Belakang ---- 1 1.2. Penjelasan Istilah ---- 8

1.2.1. Organisasi Masyarakat Sipil ---- 8 1.2.2. Pemetaan ---- 9

1.2.3. Relasi Politik ---- 10 1.2.4. Partai Politik ---- 11

2. OMS dan Relasi Politik ---- 13

2.1. Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) ---- 13 2.2. Relasi OMS dengan Partai Politik ---- 18

3. Perkembangan Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) di Aceh ---- 28

3.1. Sejarah Pembentukan OMS ---- 29

3.1.1. Fase Paska Gempa – Tsunami ---- 38 3.1.2. Paska MoU & UUPA ---- 42

(20)

xix

3.3.1. Advokasi DRAFT UUPA --- 59 3.3.2. Advokasi Qanun KKR ---- 64 3.3.3. Advokasi Qanun Lainnya ---- 67 3.3.4. Dukungan terhadap

Good Governance ---- 68

4. Tranformasi Gerakan Organisasi Masyarakat Sipil di Aceh ---- 72

4.1. Gerakan OMS Paska Reformasi ---- 73

4.2. Gerakan OMS Paska Gempa & Tsunami ---- 77 4.3. Gerakan OMS Paska MoU Helsinki dan UU

Pemerintahan Aceh ---- 84

5. Dinamika Relasi Politik OMS dengan Partai Politik ---- 89

5.1. Gerakan OMS di Indonesia ---- 90

5.2. Perkembangan Politik di Aceh Paska MoU Helsinki dan UUPA ---- 94

5.3. Relasi Politik OMS dengan Partai Politik ---- 104 5.3.1. Dinamika Relasi Politik OMS dalam

Pemilu ---- 115

5.3.2. Persepsi Aktivis Terhadap Relasi Politik OMS dengan Partai Politik ---- 122 5.3.3. Pola Relasi Yang Berkembang ---- 134 5.3.4. Analisis Terhadap Relasi Politik OMS di

Aceh ---- 140

5.4. Faktor yang Mempengaruhi Relasi Politik OMS di Aceh ---- 144

(21)

xx

6.1. Pengaruh OMS terhadap Kebijakan Partai Politik ---- 155

6.2. Pengaruh OMS terhadap Pembangunan Demokrasi ---- 165

6.3. Posisi OMS dalam Dinamika Pemilu 2014 ---- 168

7. Penutup ---- 178

7.1. Kesimpulan ---- 178 7.2. Rekomendasi ---- 181

(22)

xxi

RINGKASAN EKSEKUTIF

TRANSFORMASI gerakan sipil ke dalam partai politik setelah penandatanganan MoU damai antara GAM dan Pemerintah Republik Indonesia menjadi satu fenomena yang fenomal dalam sistem perpolitikan di Aceh. Sebagaimana diketahui bahwa sejak reformasi pada tahun 1998, sekaligus dicabutnya DOM oleh Panglima ABRI Jenderal Wiranto perkembangan kebencian terhadap simbol-simbol republik Indonesia kiat memuncak. Proses ini juga dipengaruhi oleh terbongkarnya pelanggaran HAM berat yang dilakukan oleh ABRI saat penerapan DOM sejak tahun 1989 sampai tahun 1998.

(23)

xxii

dari partai politik tertentu. Meskipun ini juga terjadi di seluruh Indonesia, namun di Aceh menjadi menarik karena pengalaman satu dekade sebelumnya sangat elergi dengan simbol-simbok NKRI, termasuk partai politik.

Disisi lain, sejumlah OMS secara tidak langsung juga menggantung harapan kepada dana-dana pemerintah setelah sejumlah lembaga donor dan LSM internasional menutup programnya di Aceh. Maka relasi dengan partai politik dijadikan sebagai milestone untuk membangun relasi yang lebih dekat dengan pemerintahan lokal di Aceh, khususnya pihak eksekutif.

Penelitian ini mencoba memetakan sejumlah OMS di Aceh yang mempunyai relasi dan atau yang tidak mempunyai relasi dengan partai politik, serta menemukan bentuk relasi yang dibangun. Terakhir diharapkan akan ditemukan satu konsep ideal tentang relasi yang dapat dijadikan sebagai lesson learned bagi OMS lain di Indonesia dalam melihat posisi OMS dengan partai politik itu sendiri.

(24)

xxiii

relasi partisipatory, relasi oposisi, relasi korporatis, atau relasi klientelistik? (2) Untuk mengidentifikasi bentuk dan faktor transformasi OMS baik secara individu fungsional maupun secara struktural terhadap partai politik di Aceh. (3) Untuk mengevaluasi model relasi yang efektif antara OMS dengan partai politik dalam upaya membangun proses demokrasi yang lebih baik. (4) Untuk menjadi baseline dalam melihat peta relasi politik OMS dengan partai politik dan model relasi yang dibangun.

Kemudian dilanjutkan dengan penjelasan istilah, yaitu istilah organisasi masyarakat sipil, pemetaan, relasi politik dan partai politik. Setelah itu dilanjutkan dengan metodologi penelitian, mencakup; jenis dan sumber data, sampling, metode pengumpulan data, analisa data, serta terakhir tentang lokasi penelitian.

Penelitian ini bersifat kualitatif, dimana data-data didapatkan melalui interview secara mendalam dengan sejumlah pengurus OMS serta partai politik di Aceh, kemudian melalui diskusi kelompok terfokus, kajian dokumen (desk study), serta mengkaji kasus-kasus yang pernah ada (case study). Sementara informan dari penelitian ini ditentukan melalui mekanisme purposive samping, yaitu wilayah studi ditentukan berdasarkan karakteristik tertentu yang mencakup kota Banda Aceh, kot Lhokseumawe dan kabupaten Aceh Besar.

Bab dua, akan membahas tentang pemahaman

(25)

xxiv

politik, dan tipologi relasi. Secara umum ada 8 tipologi relasi yaitu:

1) participatory linkage. Dalam tipelogi ini OMS

ataupun partai politik memainkan peran sebagai arena atau agen yang memfasilitasi langsung dalam kepentingan publik.

2) electoral linkage dimana pemimpin-pemimpin

partai mengontrol seluruh element dalam proses-proses elektoral.

3) policy responsive linkages ketika partai berperan

sebagai agen yang memastikan pemerintah akan responsif terhadap pemilihnya atau mewakili suara rakyat dalam urusan publik.

4) representative linkages ketikan pola hubungan

yang ada berhasil memastikan keterwakilan baik dalam konteks elektoral maupun kebijakan secara lebih luas.

5) clientelistic linkages ketika partai bertindak

sebagai saluran berbagai keuntungan dengan imbal balik loyalitas dan dukungan suara.

6) directive linkages berlangsung jikalau pengurus

(26)

xxv

7) organ sational linkages atau adanya pertukaran

antara elit partai dengan organisasi yang memobilisasi atau memastikan dukungan organisasi mereka terhadap partai politik, dan 8) integrative linkage adalah pola yang sama dengan

directive linkages melalui sosialisasi, pendidikan, dan kaderisasi politik.

Terakhir pada bab ini akan diuraikan secara konkrit tentang konsep relasi politik OMS terhadap partai politik berdasarkan pengalaman yang ada di Indonesia, serta direlevansikan dengan konsep dan teori mengenai relasi itu sendiri.

(27)

xxvi

menjelaskan gerakan organisasi masyarakat sipil di Aceh yang terbagi menjadi empat (4) ranah terdiri dari : gerakan OMS paska reformasi, gerakan OMS paska gempa dan tsunami, gerakan OMS paska MoU Helsinki, dan gerakan OMS paska disahkan UU No.11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA). Keseluruhan isi akan dijelaskan satu persatu guna mendapatkan gambaran mendalam akan kondisi disetiap ranah tersebut.

Dilanjutkan dengan bab lima, yang merupakan bab inti dari studi ini. Bab ini dibagi dalam beberapa sub pembahasan, antara lain: perkembangan partai politik di Aceh paska MoU Helsinki dan UUPA, pola relasi OMS terhadap partai politik, faktor yang mempengaruhi relasi politik OMS, dan paradigman OMS terhadap relasi politik dengan partai politik.

(28)

eks-xxvii

GAM yang mempunyai ideologi pancasila berbasis etno-nasionalis ke-achehan.

Sementara pola relasi yang dibangun pada umumnya adalah pola participatory, khususnya relasi yang dibangun oleh LSM, sebaliknya baberapa organisasi massa membangun pola klientalistik dengan partai politik tertentu. Sedangkan faktor yang mendorong relasi itu juga beraneka ragam, ada yang didorong untuk mempengaruhi kebijakan dari dalam, ada karena faktor relasi dengan ketokohan dari gerakan sipil yang sudah bergabung dengan sejumlah partai politik yang ada. Disisi lain, faktor ekonomi secara programatik juga menjadi faktor terbentuknya relasi dengan partai politik. Relasi secara ekonomi programatik ini umumnya terbentuk melalui instrumen dana-dana aspirasi yang dimiliki oleh sejumlah anggota legislatif dari partai politik. Sementara relasi klientelistik, terbentuk karena OMS tersebut umumnya dibentuk oleh fungsionaris-fungsionari partai politik yang tujuannya adalah untuk menjadi mesin-mesin bagi partai politik atau calon legislatif untuk bekerja ditingkat komunitas, seperti LeS MoU dan KMPA yang menjadi salah satu underbow Partai Aceh, menerima uang dari Partai Aceh dan bekerja untuk kepentingan-kepentingan partai.

(29)

xxviii

OMS terhadap berbagai kebijakan partai politik terhadap negara dan rakyat, kontrol OMS terhadap fungsi partai politik, termasuk fungsi pendidikan politik bagi bagi warga serta terakhir mengkaji tentang pengaruh OMS terhadap pembangunan demokrasi di Aceh secara khusus dan indonesia pada umumnya.

Hasil kajian ini kemudian mengambil satu kesimpulan tentang konsep relasi yang dibangun oleh sejumlah OMS yang ada di Aceh, serta tergambar sejumlah OMS yang mempunyai relasi dan atau yang tidak mempunyai relasi dengan partai politik, pola relasi yang dibangun, serta faktor yang mempengaruhi relasi itu tersebut. Beberapa rekomendasi dari penelitian ini, antara lain:

1) Perlunya konsolidasi kembali gerakan OMS yang didasarkan kepada prinsip-prinsip demokratis, independensi, mandiri, kritis, dan partisipatif serta komitmen terhadap agenda-agenda perubahan negara ke arah yang lebih baik

(30)

xxix

(31)

1

PENDA HULUA N

1.1. Latar Belakang

(32)

RELASI OMS DENGA N PARTAI POLITIK: Sebuah Dinamika dan Tantangan Gerakan Sipil di Aceh

2

Pemerintahan Aceh yang mengatur pembentukan partai politik lokal.

(33)

3

Aceh (RTA) dan Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA), di antaranya ialah Tgk. Harmen Nuriqman dan Waled Husaini. Lain halnya dengan PAAS, partai lokal ini lahir dari aktivis dakwah yang beraliansi pada gerakan neo-Masyumi yang berbasis di Aceh di bawah pimpinan Ghazali Abas Adan.

Transformasi gerakan sipil menjadi gerakan politik ini menjadi catatan penting dalam upaya membangun demokrasi di Aceh, khususnya paska konflik berkepanjangan sejak tahun 1976, meskipun kemudian hasil pemilu legislatif 2009 di Aceh menunjukkan bahwa satu-satunya partai lokal yang mendapatkan kursi terbanyak adalah Partai Aceh, sementara partai lokal lainnya tidak memperoleh kursi sama sekali di DPRAceh kecuali PDA, yang hanya meraih satu kursi. Partai lokal lainnya pada akhirnya membubarkan diri, seperti PRA, PBA, PAAS dan SIRA, yang tidak lolos verifikasi Komisi Independen Pemilihan (KIP) pada tahun 2012.

(34)

RELASI OMS DENGA N PARTAI POLITIK: Sebuah Dinamika dan Tantangan Gerakan Sipil di Aceh

4

yang tak terpisahkan dari gerakan politik secara struktural.

Disisi lain, berbagai pemikiran muncul terkait konsep ideal posisi dan relasi antara OMS dengan partai politik dalam konteks pembangunan demokrasi. Budi Setyono menyatakan bahwa OMS merupakan lembaga/organisasi non partisan yang berbasis pada gerakan moral (moral force) yang berperan dalam mengawal penyelenggaraan pemerintahan dan kehidupan politik sesuai dengan aspirasi rakyat.1 Fungsi moral

force ini bertujuan untuk membangun proses demokrasi

agar tetap berada pada jalurnya dimana kebijakan penguasa harus mewakili kepentingan rakyat. Oleh karena itu, OMS harus berdiri secara independen tanpa pengaruh dari kepentingan politik partai politik tertentu, atau sebaliknya, menjadi mitra kritis terhadap penyelengaraan pemerintahan oleh pemerintah maupun partai politik di badan legislatif.

Otho H.Hadi mengatakan bahwa pemisahan antara partai politik dengan OMS merupakan upaya OMS sebagai “narcissism”, yaitu OMS harus mempunyai karakter anti perilaku politisi dimana politik adalah sesuatu yang kotor, atau sebaliknya, bekerja di

1

(35)

5

OMS merupakan sesuatu yang bersih.2 Aliran ini menganggap bahwa politisi dan kekuasaan cenderung korup. Seperti yang ditegaskan oleh Nodia, bahwa posisi OMS seharusnya sebagai oposisi dan cenderung melawan partai politik jika kondisi partai politik yang menguasai negara secara mayoritas cenderung otoriter dan diktator.3 Kondisi ini seperti yang terjadi pada rezim komunis Rusia atau ketika masa Orde Lama dan Orde Baru di Indonesia. Konsep posisi OMS terhadap partai politik (political society) ini juga dianggap sebagai relasi anti-negara (relasi negatif) yang dikembangkan oleh Karl Marx. Seperti yang dikutip Canterbury, Marx menuliskan bahwa partai politik adalah instrumen dalam meraih kekuasaan dan kemudian menjadi penguasa adalah kelas borjuis yang merupakan bagian dari kaum kapitalistik. Penguasa yang diperoleh melalui instrumen ini menjadi kelompok dominan dalam pengambilan sebuah keputusan dan kebijakan atau dikenal sebagai

superstucture.4

2

Otho H.Hadi, Peran Masyarakat Sipil Dalam Proses Demokratisasi, Jurnal Makara, Sosial Humaniora, Vol. 14. No.2, Desember 2010, hlm. 117-129

3

Gia Nodia, Civil Society Development in Georgia, (Georgia: Caucacus Institute for Peace, Democracy and Development, 2005), hlm 56.

4

(36)

RELASI OMS DENGA N PARTAI POLITIK: Sebuah Dinamika dan Tantangan Gerakan Sipil di Aceh

6

Model relasi yang lain adalah transformatif. Carl Gershman menyatakan jika negara atau partai politik penguasa yang diktator telah berakhir maka peran OMS harus melakukan transformasi. Upaya transformasi ini dilakukan dengan mendorong demokratisasi, reformasi, toleransi, serta mewujudkan keadilan dan kesejahteraan. Proses membangun sistem ini dilakukan dengan menempatkan aktivis OMS di lembaga pemerintahan atau menjadi penguasa negara dan pengambil kebijakan, baik melalui instrumen partai politik maupun instrumen lainnya yang diatur oleh hukum.5

Mengamati situasi terkini menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Legislatif (Pileg) 9 April 2014, banyak aktor OMS yang berafiliasi dengan berbagai partai politik lokal maupun nasional. Salah satu faktor yang mempengaruhi transformasi gerakan ini ialah tidak adanya dukungan finansial terhadap OMS lokal khususnya, setelah berakhirnya program rehabilitasi dan rekonstruksi paska tsunami dan konflik di Aceh, baik yang didanai oleh pemerintah maupun LSM nasional dan internasional. Disisi lain, independensi secara ekonomi institusi OMS di Aceh relatif tidak terwujud. Oleh karena itu, konsepsi Marx

5

(37)

7

yang menyatakan bahwa masyarakat sipil harus mapan secara ekonomi dan kebijakan dalam melawan political

society tidak sepenuhnya terwujud dalam pergerakan

OMS di Aceh saat ini.

Disamping itu, kecenderungan dan

ketergantungan OMS secara ekonomi terhadap donor juga melahirkan disorientasi independensi gerakan OMS. Hal ini ditandai dengan adanya sejumlah OMS yang membangun relasi dengan partai politik untuk mendapatkan dana aspirasi dan bantuan pemerintah melalui relasi dengan aktor tertentu dari lembagapemerintahan. Krisis ketokohan dan ekonomi yang dihadapi oleh berbagai OMS di Aceh juga menyebabkan posisi beberapa OMS terlihat lebih prakmatis dalam menjaga eksistensinya.

(38)

RELASI OMS DENGA N PARTAI POLITIK: Sebuah Dinamika dan Tantangan Gerakan Sipil di Aceh

8

1.2. Penjelasan Istilah

1.2.1. Organisasi Masyarakat Sipil (OMS)

Secara umum OMS didefinisikan sebagai organisasi kemasyarakatan yang terbagi menjadi organisasi massa, organisasi rakyat, organisasi profesi, organisasi komunitas, dan organisasi Non-Government Organisation (NGO) atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Istilah OMS, yang serupa dengan Civil Soceity

Organization (CSO), dan dianggap sebagai institusi

“third sector” yang berbeda dengan institusi pemerintahan dan institusi wirausaha (business). Collin

English Dictionary mendefinisikan OMS, pertama,

sebagai institusi yang melakukan manifestasi gerakan untuk mewujudkan kepentingan rakyat secara umum,kedua, para fungsionaris dan institusi OMS bersifat independen dari pengaruh pemerintah.

(39)

9

“State, Civil Society and Democracy Ligitimacy”, mendefinisikan negara sebagai masyarakat politik ditambah masyarakat sipil;“the state should be

understood not only as the apparatus of the government, but also ths private apparatus of Civil Society” (negara

tidak harus dipahami hanya sebagai lembaga pemerintahan, tetapi juga sebagai lembaga masyarakat sipil).6

Secara umum, OMS terbagi ke dalam 5 bentuk, yaitu (1) organisasi rakyat, seperti kelompok buruh atau kelompok petani, (2) Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), (3) organisasi profesi, seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dll., (4) organisasi massa, seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, dll., dan (5) organisasi berbasis komunitas, seperti serikat mukim, dll.

1.2.2. Pemetaan

Pemetaan adalah proses penggambaran yang sistematik serta melibatkan pengumpulan data dan informasi termasuk di dalamnya profil dan masalah yang ada. Sementara, pemetaan yang dimaksud di dalam penelitian ini adalah gambaran tentang hubungan antara

6

(40)

RELASI OMS DENGA N PARTAI POLITIK: Sebuah Dinamika dan Tantangan Gerakan Sipil di Aceh

10

satu variabel dengan variabel lainnya, yaitu OMS dengan partai politik (Parpol).

1.2.3. Relasi Politik

Relasi adalah hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya yang berbeda. Dalam konteks ini, relasi diartikan sebagai hubungan antara satu individu dengan individu lainnya atau satu organisasi dengan organisasi lainnya yang berbeda.7

Sedangkan politik, sebagaimana dikemukakan oleh Roger F. Soltau di dalam bukunya yang berjudul

Introduction to Politics, seperti dikutip oleh Prof.

Mariam Budiarjo mengartikan politik sebagai “suatu praktek atau teori yang mempengaruhi orang lain baik dalam bentuk individu maupun kelompok atau lebih khusus sebagai bentuk mencapai posisi dalam pemerintahandan mengontrol serta mengatur kehidupan kemanusiaan, khususnya negara”.8

Berdasarkan definisi di atas, makna relasi politik dalam konteks penelitian ini adalah hubungan antara OMS baik secara individu maupun institusi dengan penyelengara negara, khususnya partai politik baik secara individu maupun institusi.

7

Hasan Alwi, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2008, hlm. 165

8

(41)

11

1.2.4. Partai Politik (Parpol)

Secara umum, partai politik diartikan sebagai organisasi yang dibentuk oleh sekelompok orang (warga negara) yang bertujuan untuk memperjuangkan kepentingan kelompoknya dan masyarakat secara umum yang didasarkan pada perundang-undangan.

Sementara, Carl J. Friedrich mengartikan partai politik sebagai sekelompok manusia yang terorganisir secara stabil dengan tujuan merebut atau mempertahankan penguasaan pemerintah bagi pemimpin partainya, dan penguasaan ini memberikan anggota partainya kemanfaatan yang bersifat ideal maupul material.9

Di sisi lain, Prof. Mariam Budiardjo mendefinisikan partai politik sebagai “suatu kelompok yang terorganisir yang anggota-anggotanya mempunyai orientasi, nilai-nilai dan cita-cita yang sama dengan tujuan memperoleh kekuasaan politik dan merebut kedudukan politik (biasanya), dengan cara konstitusional guna melaksanakan kebijakan-kebijakan mereka.10

9

Carl J. Friedrich, Definisi Partai Politik,

http://id.wikipedia.org/wiki/Partai_politik, diunduh 15 Desember 2013

10

(42)

RELASI OMS DENGA N PARTAI POLITIK: Sebuah Dinamika dan Tantangan Gerakan Sipil di Aceh

12

(43)

13

OM S DA N RELA SI POLITIK

2.1. Organisasi Masyarakat Sipil

Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) adalah fenomena yang kompleks. Menurut Nanna Thue, kompleksitas OMS muncul karena adanya perbedaan yang signifikan terhadap konsep dan komposisi OMS di berbagai negara yang berbeda akibat dari situasi politik, budaya dan kenyakinan masyarakat dinegara setempat.11 Oleh karena itu, tidak mungkin membangun definisi standar terhadap masyarakat sipil yang dapat menyamakan perbedaan kondisi yang dihadapi oleh masyarakat sipil secara keseluruhan. Kendati demikian, untuk membangun metodologi dan penilaian empiris, maka diperlukan pendefinisian yang jelas. Helmut

11

(44)

RELASI OMS DENGA N PARTAI POLITIK: Sebuah Dinamika dan Tantangan Gerakan Sipil di Aceh

14

mendefinisikan masyarakat sipil sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari suatu institusi, organisasi, dan individu yang berada diantara keluarga, negara dan pasar, dimana masyarakat berasosiasi secara sukarela untuk memperjuangkan kepentingan yang sama.12

Helmut menyiratkan bahwa secara esensi tidak ada perbedaan antara masyarakat sipil dengan OMS, karena antara satu dan lainnya merupakan satu bagian yang tidak terpisahkan. Dengan kata lain, masyarakat sipil adalah OMS yang memperjuangkan kepentingan yang sama, begitupun sebaliknya. Helmut hanya menambahkan arahan terhadap terminologi organisasi kepada sebuah asosiasi sukarela, non-pemerintah atau nirlaba, pergerakan sosial, jejaring dan group informal. Organisasi seperti ini merupakan susunan bangunan suatu masyarakat sipil; bahwa mereka adalah kendaraan dan forum untuk partisipasi sosial, proses aspirasi, ekspresi nilai dan paham, dan pemberian layanan.

Sahya Anggara mengelaborasi OMS menjadi beberapa karakter, bahwa Masyarakat sipil terepresentasi oleh berbagai jenis yang luas, baik melalui sistem

membership ataupun sistem dari orientasi OMS tersebut,

seperti: (i) ekonomi: asosiasi dan jaringan yang produktif dan komersial, (ii) budaya: agama, etnik, kelompok

12

(45)

15

komunal, dan institusi dan asosiasi lain yang mempertahankan hak kolektif, nilai, kepercayaan publik, (iii) kepentingan: kelompok yang bertujuan memajukan atau melindungi kepentingan anggotanya seperti perserikatan buruh, asosiasi pensiunan, dan kelompok professional, (iv) pembangunan: organisasi yang mengumpulkan sumber daya dan bakat individual untuk memajukan infrastuktur, institusi dan kualitas kehidupan masyarakat, (v) perlindungan lingkungan, perlindungan konsumen, hak perempuan, dll., (vi) civic: kelompok non-partisan yang bertujuan memajukan sistem politik dan menjadikannya demokratis (pengawas pemilu, pembela HAM, dll.).13

Dalam proses demokrasi, OMS idealnya berperan sebagai sekolah demokrasi dimana masyarakat belajar berpikir dan bertindak demokratis, toleransi terhadap keberagaman dan pluralisme, saling menerima dan berkompromi, serta membangun sikap saling percaya dan kerjasama. OMS sebagai lembaga advokasi dapat mempengaruhi kebijakan pemerintah untuk menaikkan posisi tawar masyarakat dan menggunakan jalur-jalur resmi dalam mendorong debat atau keputusan politik secara terbuka, bebas dan fair. Dengan demikian, membangun organisasi yang dapat bertindak secara

13

(46)

RELASI OMS DENGA N PARTAI POLITIK: Sebuah Dinamika dan Tantangan Gerakan Sipil di Aceh

16

independen dan siap untuk berhadapan dengan pihak pemerintahan, baik dalam mendukung atau mempengaruhi kebijakan, adalah salah satu instrumen dalam proses demokratisasi.14

Rohman mengatakan ada beberapa persyaratan yang lebih khusus bagi masyarakat sipil untuk dapat dikatakan mengusung demokrasi. Pertama, bagaimana masyarakat sipil mengelola dirinya sendiri? Jika mereka mempraktekkan pengelolaan internal lembaga yang transparan, akuntabel terhadap konstituennya, maka merekalah yang mungkin memainkan peranan penting dalam upaya demokratisasi masyarakat. Kedua, apakah masyarakat sipil menghormati nilai-nilai demokrasi seperti halnya mengejar tujuan organisasi? Prospek demokrasi menurun jika masyarakat sipil menolak aturan hukum atau merongrong negara dengan merusak metode demokrasi. Ketiga, apa yang mendasari kekuatan masyarakat sipil? Jika kekuatan bertumpu pada kepemimpinan kharismatik, bukan dari proses demokrasi yang memberi kesempatan kepada siapapun, maka organisasi itu akan lemah dan kurang efektif dalam hal membangun demokrasi itu sendiri. Keempat, bagaimana masyarakat sipil mendefinisikan hubungan mereka dengan negara? Jika organisasi mencoba untuk

14

(47)

17

mengubah kebijakan dengan mengumpulkan kekuatan yang lebih besar dari negara, mereka hanya akan menjadi partai politik. Masyarakat sipil melindungi kepentingan publik dengan menghormati pilihan anggotanya untuk memperjuangkan kepentingannya masing-masing, berbeda dengan partai politik yang mencoba untuk mengarahkan anggotanya untuk mencapai tujuan partai. Jika keempat karakter ini dimiliki, maka masyarakat sipil tersebut dapat dikatakan kuat, baik dalam hal struktur atau prosesnya. Kondisi inilah yang menjadi pondasi dalam membangun pembangunan sebuah negara demokratis.15

Pandangan terhadap biasnya definisi masyarakat sipil masih cukup kuat. Oleh karena itu, Salamon dan Anheier mencoba mendefinisikan masyarakat sipil ke dalam tiga karakter. Pertama, masyarakat sipil bergerak di bawah aturan hukum yang berlaku, namun bukan hukum alam. Kedua, masyarakat sipil berada diantara negara dan pasar, dimana terjadi kontestasi antara kepentingan negara dengan kepentingan pasar. Dengan demikian, masyarakat sipil berdiri sebagai oposisi terhadap pasar dan negara, dan masyarakat sipil juga dipengaruhi oleh tekanan dari keduanya. Munculnya gerakan masyarakat sipil dapat mengganggu pasar,

15

(48)

RELASI OMS DENGA N PARTAI POLITIK: Sebuah Dinamika dan Tantangan Gerakan Sipil di Aceh

18

seperti asosiasi bisnis dan organisasi pengusaha, dan juga negara. Lebih jauh lagi, Salamon dan Anheirer mengistilahkan ruang ini, antara negara dan pasar, sebagai sektor ketiga. Terakhir, hubungan asosiasi kerelawanan mendominasi masyarakat sipil. Sebagai konsekuensi, masyarakat sipil menjadi ruang bagi debat publik yang bebas. Masyarakat sipil yang demikian lebih dari sebuah asosiasi, karena asosiasi biasanya dipengaruhi oleh pasar atau negara. Akibatnya, anggota masyarakat sipil memiliki kepentingan yang beragam, yang pada akhirnya dapat dipertahankan.16

2.2. Relasi OMS dengan Partai Politik

Istilah relasi (linkage) adalah serangkaian hubungan atau koneksi yang biasanya berkonotasi dengan istilah “interaksi” antar elemen yang berhubungan atau berkorelasi satu sama lain. Proses hubungan ini diindikasikan dengan pola yang beragam seperti saling ketergantungan (interdependency), penetrasi, intervensi, integrasi, dan sebagainya. Bila merujuk lebih jauh, banyak studi politik yang menggunakan istilah “linkage” untuk menggambarkan inter-koneksi warga dengan proses pembuatan keputusan

16

(49)

19

dalam proses kebijakan publik; hubungan antar warga negara yang aktif secara politik dengan para politisinya atau pejabat publiknya. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, istilah “linkage” juga banyak digunakan oleh studi politik yang berusaha menggambarkan peran aktor inter-mediari, terutama partai politik dalam mengembangkan “linkage”.17

Meskipun studi-studi political linkage tidak memiliki pemahaman tunggal dan jelas tentang apa sebenarnya yang mereka maksud dengan linkage, Robert Teigrob berusaha memberikan kesimpulan tentang apa yang dimaksud dengan linkage, yaitu:18

“… suatu bentuk hubungan/ikatan/koneksi yang terjadi diantara warga negara secara individual, organisasi sosial, dan sistem politik. Hubungan/ikatan/koneksi tersebut, utamanya bersifat organisasional sebagaimana baik secara formal maupun informal diantara organisasi-organisasi sosial dan organisasi-organisasi politik. Istilah “linkage” juga mengacu pada perasaan keterikatan individu yang bersifat lebih subyektif dengan organisasi-organisasi yang ada di sistem politik….”.

17

Kay Lawson & David Clark, Political Parties and Linkage: A Comparative Perspective, Oxford: Oxford Universities, 2009, hlm. 129

18

(50)

RELASI OMS DENGA N PARTAI POLITIK: Sebuah Dinamika dan Tantangan Gerakan Sipil di Aceh

20

Di sisi lain, terdapat tiga pemikiran tentang konsep relasi OMS dengan partai politik; pertama, harus ada garis tegas antara OMS dengan pemerintah, kedua, posisi OMS adalah oposisi abadi terhadap pemerintah dan atau partai politik, dan ketiga, relasi antara OMS dan pemerintahan atau partai politik adalah sebuah kebutuhan.

Pakar politik memahami komponen relasi dalam empat garis pembatas yang terdiri dari tumpang tindih kepengurusan, posisi keberadaan OMS, kepentingan atau manfaat, dan pengaruh. Maksud dari tumpang tindih kepengurusan dalam hal ini ialah keterlibatan individu OMS di dua ranah yang berbeda; OMS dan partai politik. Hal ini menunjukan masih lemahnya aturan baku atau kode etik yang berlaku di internal OMS itu sendiri.

Selain itu, relasi politik dapat dilihat dari struktur serta visi dan misi OMS, dan juga asal usul terbentuknya OMS. Jika sebuah OMS didirikan oleh partai politik tertentu, maka ia akan menjadi bagian dari partai politik tersebutsehingga kerja-kerja OMS tersebut bertujuan untuk kepentingan partai politiknya. Dengan demikian, segala kebutuhan operasional OMS ini akan didukung oleh partai politik tersebut.

(51)

21

langsung, dimana pengurus partai politik merangkap sebagai pengurus OMS. Hal ini tentunya akan menjadi faktor yang dapat mempengaruh iindependensi OMS. Sebagaimana disampaikan oleh Fuad Mardhatillah bahwa semakin besar pengaruh seseorang maka semakin kuat tingkat keberhasilan meraih kepentingan yang menjadi target dari pengaruhnya.19

Sementara Kay Lawson, seperti dikutip oleh Alistair Clark, menegaskan bahwa terdapat beberapa bentuk atau tipologi political linkages yang ada dalam praktik relasi dengan politik. Pertama participatory

linkage, di mana posisi OMS ataupun partai politik

berperan sebagai arena atau agen yang bekerja secara bersama-sama untuk kepentingan publik di bawah kerangka independensi dan profesionalitasnya masing-masing. Kedua electoral linkage, yaitu bentuk relasi dimana para pemimpin partai politik mengontrol seluruh elemen dalam proses elektoral dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki oleh OMS. Ketiga policy

responsive linkage, yaitu ketika partai politik berperan

sebagai agen yang memastikan pemerintah responsif terhadap pemilihnya atau mewakili suara rakyat dalam urusan publik. Keempat representative linkage, yaitu ketika pola hubungan yang ada berhasil memastikan

19

(52)

RELASI OMS DENGA N PARTAI POLITIK: Sebuah Dinamika dan Tantangan Gerakan Sipil di Aceh

22

keterwakilan baik dalam konteks electoral maupun kebijakan secara lebih luas. Kelima clientelistic

linkage,di mana partai politik bertindak sebagai saluran

berbagai keuntungan dengan imbal balik loyalitas dan dukungan suara. Keenam directive linkage, yang terbangun jika pengurus partai politik selalu berusaha memastikan dan mengontrol perilaku warga dengan cara koersif dan dominatif. Ketujuh organisational linkage,di mana terjadi pertukaran antara elit partai politik dengan organisasi yang memobilisasi atau memastikan dukungan organisasi mereka terhadap partai politik. Kedelapan directive linkage melalui sosialisasi, pendidikan, dan kaderisasi politik.20

Sementara itu, Sutoro Eko membagi relasi OMS dengan partai politik menjadi tujuh bentuk, yaitu:21

1) Relasi Partisipatif

Relasi partisipatif dianggap sebagai relasi yang paling ideal, dimana partai politik merupakan representasi dari berbagai organisasi masyarakat, dan masyarakat dilibatkan dalam proses politik yang diusung oleh partai politik. Di sini terdapat

20

Dr. Alistair Clark, Political Parties in the UK, United Kingdom: Palgrave Macmillan, 2012

20

(53)

23

koherensi antara gerakan sosial yang dimainkan oleh OMS dengan gerakan politik yang dimainkan oleh partai politik untuk mencapai visi politik kolektif mereka.

2) Relasi Klientalistik

Relasi klientalistik merupakan relasi yang terbentuk untuk mendapatkan keuntungan bersama. Dalam relasi ini, OMS menjadi mesin politik yang memperoleh keuntungan ekonomis dari partai politik, misalnya melalui proyek-proyek pemerintah yang dikelola oleh partai politik.

3) Relasi Programatik

Relasi programatik adalah relasi dalam bentuk hubungan erat antara OMS dengan partai diikat dengan kesamaan dan komitmen ideologi maupun program. Dalam konteks ini relasi terbangun karena adanya kesamaan program yang dilakukan oleh partai politik dengan program yang dimiliki oleh sebuah organisasi sipil.

4) Relasi Personal

(54)

RELASI OMS DENGA N PARTAI POLITIK: Sebuah Dinamika dan Tantangan Gerakan Sipil di Aceh

24

Begitupun sebaliknya, relasi partai politik dengan organisasi sipil terbentuk karena adanya tokoh kharismatik pada organisasi sipil yang kemudian membuat personal dipartai politik mendukung organisasi sipil tersebut.

5) Relasi Pasar

Relasi ini merupakan relasi jangka pendek antara OMS dengan partai politik yang terbangun karena kecocokan isu yang diusung oleh partai politik dengan isu yang diperjuangkan oleh OMS. Di sini terjadi pertemuan antara permintaan dan penawaran antara partai politik dan OMS.

6) Relasi Parokhial

Bentuk ini hampir sama dengan relasi personal. Dalam hal ini, hubungan antara OMS dengan partai politik terjalin dengan erat karena kesamaan agama, suku, daerah, golongan, aliran, dll.

7) Relasi Oposisional

(55)

25

independen dan bekerja di ranah gerakan sosial, tetapi terputus dengan ranah gerakan politik yang dibawa oleh partai politik. Dalam bahasa DEMOS, OMS hanya bergerak di ranah tradisional sehingga hadir sebagai “demokrat mengambang”, yang tidak punya akar kuat di grass roots dan tidak punya kaitan ke atas (cantolan) yang kuat.

Sutoro kemudian merumuskan kategori/tipe relasi OMS dengan partai politik yang lebih spesifik, yaitu: 1) Integrasi/korporatis

Integrasi atau korporasi yaitu OMS menjadi partisan, menjadi alat/basis/mesin partai politik untuk dimanfaatkan atau dibentuk oleh partai politik. OMS digunakan untuk kaderisasi maupun untuk menjalankan program/ideologi partai politik, termasuk program pemberdayaan masyarakat dan pendidikan politik. Di Amerika Serikat misalnya, (National Democratic Institute (NDI) merupakan LSM sayap Partai Demokrat, sementara International Republican Institute (IRI) bekerja untuk Partai Republik. Di Jerman, Konrad-Adenauer (KAS) adalah sayap Partai Christian, Friedrich Ebert Stiftung (FES) adalah sayap Partai Sosialis, dan Friedrich Nauman FNS sayap Partai Liberal.

(56)

RELASI OMS DENGA N PARTAI POLITIK: Sebuah Dinamika dan Tantangan Gerakan Sipil di Aceh

26

Relasi kolaborasi atau aliansi alias partisipatory adalah relasi yang dibangun oleh OMS bersifat nonpartisan dan independen. Bentuk relasi ini menjadikan posisi organisasi sipil sebagai intrumen gerakan sosial untuk melakukan berbagai advokasi kebijakan yang berpihak kepada rakyat. 3) Klientelistik

Klientalistik disini dimaksudkan posisi antara OMS dan partai politik terjalin dengan erat dan dekat. Relasi ini juga terbentuk karena hubungan personal maupun parokhial dan terjadi pertukaran ekonomi-politik yang saling menguntungkan, dimana OMS memperoleh keuntungan secara nilai ekonomis, sementara partai politik meraih keuntungan dukungan secara politik. Contohnya, OMS menggunakan dana aspirasi untuk bekerja bagi kepentingan partai politik yang memberikan dana aspirasi tersebut.

4) Oposisi/Konfrontasi.

(57)

27

KLIENTELISTIK KORPORATIS OPOSISI PARTICIPATORY

DEPENDEN INDEPENDEN

Status quo Dominasi

Kartel Oligarki

Perubahan Demokrasi

Reformasi Kesejahteraan dianggap cenderung korup, tidak amanah, melakukan kejahatan terhadap rakyat, dsb.

Gambar 1: Tipologi Relasi Politik

(58)

RELASI OMS DENGA N PARTAI POLITIK: Sebuah Dinamika dan Tantangan Gerakan Sipil di Aceh

28

PERKEM BANGAN ORGANISASI

M ASYARAKAT SIPIL (OM S)

DI ACEH

Perkembangan Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) di Aceh tidak terlepas dari dinamika politik yang berkembang. Sejak tahun 1976 sampai 1998 perkembangan OMS dalam bentuk LSM relatif tidak berkembang, kecuali dalam bentuk organisasi perkumpulan maupun organisasi massa seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Perkembangan yang sangat progresif terjadi ketika adanya transformasi politik di Indonesia dari orde lama ke orde reformasi, di mana sejumlah organisasi massa tumbuh dengan perlahan. Meskipun demikian, OMS tersebut lebih fokus

(59)

29

pada isu-isu demokrasi, penegakan HAM, keadilan dan kebebasan. Sejak tsunami menimpa Aceh pada tanggal 26 Desember 2004, LSM berkembang dengan pesat. Ratusan OMS tumbuh dan bekerja untuk isu-isu rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh paska tsunami. Namun, eksistensi OMS merosot tajam setelah berakhirnya masa pembangunan paska tsunami pada tahun 2009, sehingga banyak aktivis OMS yang kemudian terjun ke dalam partai politik dan menjadi calon legislatif (Caleg).

3.1. Sejarah Pembentukan OMS

Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) atau dikenal juga dengan Organisasi Non Pemerintah (ORNOP) sebenarnya sudah ada sebelum adanya negara Republik Indonesia (RI). OMS ini dibentuk untuk membangun konsolidasi gerakan dalam melawan penjajahan Belanda dan Jepang.

(60)

RELASI OMS DENGA N PARTAI POLITIK: Sebuah Dinamika dan Tantangan Gerakan Sipil di Aceh

30

Gerakan OMS dalam perspektif negara modern di Aceh dibentuk pada tahun 1974 dengan didirikannya satu ORNOP yang merupakan cabang dari Jakarta, yaitu Yayasan Badan Koordinasi Pengembangan Sosial Masyarakat (YAPSM), kemudian ditandai juga dengan hadirnya Save The Children pada tahun 1976 yang fokus pada kegiatan pengembangan masyarakat, khususnya pendidikan bagi anak-anak.

Pada tahun 1980-an perkembangan OMS mulai menggeliat, khususnya OMS dalam bentuk Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Salah satu LSM yang berdiri saat itu adalah Yadesa dan Citra Desa Indonesia (CDI) yang bergerak dibidang lingkungan. Lalu tumbuh LSM yang mengusung isu-isu perempuan, yaitu Yayasan Flower Aceh.

(61)

31

OMS di Aceh.22 Tahun 2000 - 2005 menjadi puncak pertumbuhan OMS di Aceh, yang umumnya bekerja untuk agenda bersama yaitu melawan operasi militer di Aceh, serta mendorong terbukanya ruang demokrasi. Di samping itu yang paling dominan adalah keinginan untuk terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh paska tsunami 2004. Pertumbuhan OMS di Aceh juga dipelopori oleh berbagai elemen masyarakat, baik dari kalangan akademisi, pemuda, masyarakat paguyuban, kelompok agama, maupun kelompok perempuan.

Selain terbentuknya Forum LSM Aceh, beberapa komunitas juga membentuk aliansi baru, seperti Walhi, The Aceh Institute, Kelompok Kerja Transformasi Gender Aceh (KKTGA), Sulòh: Jaringan Informasi dan Pemberdayaan Rakyat, Koalisi NGO HAM, Acehnese Civil Society Task Force (ACSTF), Gerakan Anti Korupsi (Gerak) Aceh, Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA), Cordova, Katahati Institute, (Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Aceh, KontraS Aceh, Center for Community Development and Education (CCDE), Yayasan Pengembangan Wanita, Lembaga Ikatan Pemuda Gayo Antara, dan lain-lain.

22

(62)

RELASI OMS DENGA N PARTAI POLITIK: Sebuah Dinamika dan Tantangan Gerakan Sipil di Aceh

32

Lembaga-lembaga tersebut tumbuh seiring dengan dicabutnya status Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh pada tahun 1998 oleh Pemerintah RI. Penghentian operasi militer secara massif ini juga membuka ruang bagi organisasi sipil untuk menggugat terhadap kejahatan kemanusiaan yang terjadi selama 30 tahun lamanya di Aceh. Berbagai LSM dan organisasi

buffer aksi pada saat itu pada umumnya bekerja untuk

isu-isu penegakan HAM, demokrasi dan hak-hak sipil khususnya hak politik, ekonomi, sosial, dan budaya.

Salah satu organisasi buffer aksi yang sangat kritis saat itu adalah Solidaritas Mahasiswa Untuk Rakyat (SMUR). Sebagaimana disampaikan oleh Tarmizi23, paska lengsernya Soeharto, gerakan reformasi menjalar sampai ke Aceh hingga tumbuh berbagai gerakan sipil yang kritis terhadap kebijakan pemerintah yang menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan, salah satunya adalah praktek pemerkosaan terhadap perempuan-perempuan Aceh oleh pihak militer selama DOM diberlakukan di Aceh.

Selain SMUR juga muncul beberapa buffer aksi mahasiswa lainnya, seperti Koalisai Aksi Reformasi

Mahasiswa Aceh (KARMA) yang merupakan

perkumpulan gerakan senat mahasiswa se-Aceh, dan

23

(63)

33

juga Farmi-DIA (Forum Aksi Reformasi Mahasiswa Islam Daerah Istimewa Aceh) yaitu kelompok mahasiswa yang mendorong lahirnya ruang demokrasi di Aceh serta mendukung pencabutan dwi fungsi ABRI di Indonesia. Selain itu terdapat kelompok mahasiswa lainnya yang tergabung dalam Aksi Mahasiswa Islam untuk Reformasi (AMIR), Forum Koetaradja (Forkoet) (Forum Komunikasi Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Pidie (FOKUSGAMPI), Koalisi Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Aceh Barat (KAGEMPAR), Kesatuan Aksi Mahasiswa Aceh Utara (KAMAUT), Ikatan Mahasiswa, Pemuda dan Pelajar Aceh Timur (IPPAT), Wahana Komunikasi Mahasiswa Aceh Selatan (WAKAMPAS), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pelajar Islam Indonesia (PII), Rabithah Thaliban Aceh (RTA), Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA), Forum Perjuangan Keadilan Rakyat Aceh (FoPKRA), Komite Mahasiswa Pemuda Aceh Nusantara (KMPAN), dan juga ormas yang relatif status qou seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Secara umum, organisasi di atas menjadi frontline dalam menyuarakan penegakan HAM, pembentukkan ruang demokrasi, pencabutan operasi militer, dan mewujudkan keadilan di Aceh.

(64)

RELASI OMS DENGA N PARTAI POLITIK: Sebuah Dinamika dan Tantangan Gerakan Sipil di Aceh

34

khusus, gerakan progresif mahasiswa ini tidak hanya mendukung gerakan reformasi di Indonesia, namun juga menuntut agar Aceh dibebaskan dari berbagai bentuk operasi militer lainnya.24

Disisi lain, berbagai kampanye di dunia internasional oleh para mahasiswa dan LSM yang

concern terhadap isu-isu pelanggaran HAM di Aceh

dianggap sebagai ancaman oleh pihak keamanan dan pemerintah Jakarta. Berbagai dinamika muncul untuk menentukan sikap saat itu, termasuk Gubernur Aceh Prof.Dr.Syamsuddin Mahmud yang mengusulkan agar Aceh menjadi negara bagian RI dalam bentuk federal.25 Namun pada akhirnya diputuskan bahwa harus ada mekanisme penentuan status Aceh yaitu melalui mekanisme referendum. Tuntutan refendum ini mengemuka pada saat dilakukannya Kongres Mahasiswa Pemuda Aceh Serantau (KOMPAS) pada tanggal 31 Januari - 4 Februari 1999 yang telah melahirkan satu rekomendasi yaitu persoalan ini harus ditempuh melalui jalur referendum di mana rakyat diberi kebebasan untuk memilih apakah tetap bergabung atau pisah dari NKRI.

24

Fazloen Hasan, Gerakan Mahasiswa 1998 dan Penyelamatan MoU Helsinki untuk Damai Aceh, The Globe Journal, 22 Agustus 2013

25

(65)

35

Untuk menggalang dukungan nasional dan internasional terhadap ide referendum ini dibentuklah Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA).

Disisi lain, gerakan aktivis GAM semakin kuat, dimana pemuda-pemuda desa banyak yang bergabung dengan GAM dan ikut berbagai latihan di pengunungan Aceh. Kondisi ini kemudian direspon oleh Pemerintah Indonesia dengan melakukan berbagai operasi-operasi terbatas, seperti operasi rencong, operasi Ahmad Kandang, dll. Namun disisi lain, Gusdur juga meletakkan dasar-dasar perdamaian melalui jalur diplomasi. Salah satunya melalui peran HDC (Hendry Dunart Centre), salah satu LSM Internasional yang berbasis di Genewa Swiss. Peran HDC sebagai mediator antara pemerintah Indonesia dan GAM menjadi cikal bakal lahirnya proses perdamaian di Aceh. Meskipun HDC kemudian gagal mewujudkan perdamaian, karena pada pertengah Mei 2003 pemerintah Indonesia mengumumkan bahwa penyelesaian Aceh harus diselesai melalui jalur operasi militer, bukan dialog. Sehingga seluruh perunding GAM ditangkap serta diberlakukannya status Darurat Militer di Aceh. Namun demikian, setidaknya sejak tahun 2001 sampai 2002 sudah pernah diwujudkan “jeda damai” dan genjatan senjata (Cessation of Hostalities) diantara kedua pihak.

(66)

RELASI OMS DENGA N PARTAI POLITIK: Sebuah Dinamika dan Tantangan Gerakan Sipil di Aceh

36

yang ditanda tangani oleh Presiden Megawati telah memberikan legitimasi kepada militer untuk melakukan penumpasan terhadap aktivis GAM. Militer juga diberi kewenangan untuk mengontrol fungsi administrasi sipil serta membatasi gerakan organisasi sipil. Seluruh rapat baik terbuka maupun tertutup yang dilakukan oleh OMS harus mendapatkan izin dari penguasa militer, begitu juga dengan segal program-program yang dilakukan oleh masyarakat sipil harus mendapat izin serta melaporkan hasil rapatnya kepada militer.

(67)

37

bahwa Aceh pernah menjadi negara kerajaan yang berdaulat.26

Meskipun pada awalnya GAM tidak menerima tuntutan referendum yang diperjuangan oleh masyarakat sipil Aceh saat itu, namun setelah dijelaskan bahwa Aceh akan menjadi Timor Leste kedua yaitu merdeka dari Indonesia, dan pilihan referendum lebih konstitusional serta mendapat dukungan dari internasional, maka kemudian GAM mendukung gerakan referendum yang dilaksanakan oleh gerakan sipil ini.

Upaya ini mendapat tantangan yang besar dari TNI/Polri, sehingga sejumlah aktivis sipil di tangkap oleh TNI/Polri termasuk ketua SIRA Muhammad Nazar, S.Ag, dan lainnya menyelamatkan diri dengan naik gunung bersama pasukan GAM, atau keluar dari Aceh seperti ke Jakarta, Bandung, Jogya, Malaysia bahkan sebagian lain ke Amerika dan Eropa untuk mencari suaka politik.

Fase ini merupakan fase anti-klimak terhadap gerakan sipil di Aceh, sekaligus masa terbentuknya konsepsi untuk tidak membangun relasi dengan simbol-simbol pemerintahan Indonesia, termasuk partai politik yang ada di Aceh. Tidak sedikit OMS yang melakukan

26

(68)

RELASI OMS DENGA N PARTAI POLITIK: Sebuah Dinamika dan Tantangan Gerakan Sipil di Aceh

38

upaya untuk memboikot pemilu pada Juli 2004 karena dianggap bagian dari upaya memperpanjang identitas demokrasi Indonesia di Aceh.

Kondisi ini muncul karena proses politik tersebut membuktikan bahwa demokrasi hanya menjadi legitimasi bagi penguasa untuk terus berkuasa dan melahirkan berbagai kebijakan yang menindas rakyat,27 disamping mereka yakin bahwa proses demokrasi yang dijalankan di bawah bayang-bayang operasi militer tidak akan melahirkan prinsip-prinsip demokrasi yang jujur, aman, bebas dan rahasia. Apalagi kemudian seperti diakui oleh TAF Haikal, penguasa darurat militer Mayjen TNI Endang Suwarya ketika itu menyatakan akan memaksa masyarakat untuk memilih ke TPS agar pemilu di Aceh sukses, dan internasional tidak lagi melihat Aceh bermasalah secara politik.28

3.1.1. Fase Paska Gempa dan Tsunami

Gempa dan gelombang tsunami yang menimpa provinsi Aceh 2004 telah menyebabkan 150.000 orang dinyatakan meninggal, 37.000 hilang, 700.000 orang

27

Andi Widjajanto, dkk., Transnasionalisasi Masyarakat Sipil, Jogjakarta: LkiS, 2007, hlm. 132

28

(69)

39

kehilangan tempat tinggal dan kehancuran ekonomi diperkirakan mencapai 5 milyar US dollar.29

Merespon bencana yang sangat dasyat tersebut, berbagai negara dan LSM internasional memberikan sejumlah bantuan untuk memulihkan kembali korban dan pembangunan di Aceh. Pembangunan kembali Aceh paska tsunami juga tercatat sebagai pembangunan terbesar di dunia pada abad ini. Berbagai negara donor dan ribuan NGO Internasional dan Nasional serta para relawan dari seluruh dunia baha membahu menolong korban tsunami dan membangun kembali berbagai infrastruktur.

Hal ini juga mendorong tumbuhnya organisasi masyarakat sipil, khususnya LSM di Aceh yang bekerja untuk isu-isu recovery gempa dan tsunami, dan umumnya organisasi yang bekerja tidak teregistrasi baik di UN OCHA maupun di BRR sebagai lembaga khusus pemerintah RI untuk pemulihan bencana Gempa dan Tsunami Aceh dan Nias.

29

(70)

RELASI OMS DENGA N PARTAI POLITIK: Sebuah Dinamika dan Tantangan Gerakan Sipil di Aceh

40

Gambar 2: Jumlah OMS dan Partai Politik

Sumber: Teuku Ardiansyah, 2011

Data di atas menunjukkan perkembangan OMS khususnya LSM sangat pesat ketika Aceh dilanda bencana gempa dan tsunami. Sebelum tsunami hanya berjumlah 189 LSM namun berubah menjadi 600 LSM paska tsunami. Sebaliknya setelah program tsunami berakhir, jumlah LSM mengalami penurunan yang sangat drastis, bahkan lebih dari 100% menyusut dan hanya tinggal 80 LSM.

(71)

41

dan Linmas diwilayah hukum masing-masing didomisi oleh lembaga/ yayasan/ perkumpulan tersebut. Namun secara umum direktur ICAIOS Dr.Saiful Mahdi menyatakan bahwa jumlah OMS di Aceh diperkirakan lebih dari 9.870 dan 700 diantaranya adalah Lembaga Swadaya Masyarakat. Sementara jumlah yayasan juga lebih dari 1000 yayasan dalam berbagai bidang kerja30

Sementara menurut Afrizal Tjoetra, pertumbuhan LSM lokal saat itu dapat dipahami karena beberapa LSM internasional membutuhkan mitra lokal yang lebih paham sosial budaya masyarakat lokal. Selain itu juga trend kerja di LSM relatif mempunyai pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan menjadi pengawai pemerintahan(PNS).31

Lebih jauh ia menjelaskan setelah proses rehabilitasi dan rekonstruksi dinyatakan selesai pada tahun 2009 dan ditandai dengan ditutupnya berbagai kegiatan BRR di Aceh, yang diikuti oleh berbagai NGO internasional dan negara donor lainnya, maka seiring itu pula ratusan LSM lokal harus “gulung tikar” karena kekurangan dukungan secara financial, ketika dana milyaran dollar US dilimpahkan ke Aceh maka

30

Saiful Mahdi, LSM di Aceh Dianggap Kurang

Professional, dikutip dari Afifuddin Acal, 2012,

http://theglobejournal.com/sosial/lsm-di-aceh-dianggap-kurang-profesional/index.php

31

(72)

RELASI OMS DENGA N PARTAI POLITIK: Sebuah Dinamika dan Tantangan Gerakan Sipil di Aceh

42

pertumbuhan LSM lokal juga berbanding lurus dengan banyaknya dana tersebut, sebaliknya ketika pemerintah Indonesia dan juga LSM internasional menutup programnya di Aceh, maka itu juga berimbas pada LSM lokal, hanya beberapa saja yang masih tetap menjalankan aktivitas LSMnya, seperti Forum LSM Aceh, The Aceh Institute, Koalisi NGO HAM, Gerak Aceh, Masyarakat Transparansi Aceh, KontraS Aceh, LBH Aceh, ASCTF dan beberapa yang lainnya.

3.1.2. Paska MoU Helsinki dan UUPA

Sejak tahun 2005 sampai 2009, ratusan bahkan ribuan OMS lokal terbentuk di Aceh. Namun seperti disebutkan di atas yaitu bertujuan untuk program tsunami. Pembentukan OMS ini juga tidak terlepas dari banyaknya dana untuk program rebah-rekons Aceh. Beberapa LSM internasional membutuhkan mitra lokal untuk menjalankan programnya, demikian juga pembentukan OMS lokal ini akan memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk mendapatkan pekerjaan.

Gambar

Gambar 1: Tipologi Relasi Politik
Gambar 3: Tipologi Organisasi Masyarakat Sipil
Tabel 1: Persepsi masyarakat terhadap lembaga yang  berwajah korup di Aceh
Table 3: Off Budget (Bantuan NGO) Tahun Anggaran 2005-2006 Bidang Program Utama Dalam Rupiah
+6

Referensi

Dokumen terkait

Fenomena dijalinnya relasi politik antara PAN dan PDS merupakan suatu dinamika politik yang unik, menarik, sekaligus cukup kontroversial yang pernah terjadi di sepanjang

Menurut Ramlan Surbakti, Partai politik dapat diklasifikasikan berdasarkan kriteria tertentu, yaitu: berdasarkan asas dan orientasi, komposisi dan fungsi anggota, basis sosial

 Pada Partai Politik murni sebagai organisasi partai yang memberikan bantuan kepada Pemerintah Daerah dalam melakukan kegiatan khususnya dibidang politik dan keamanan, untuk

Anak Muda dan Partai Politik (Studi mengenai latar belakang dan strategi anak muda untuk bertahan serta membangun karir politik di dalam partai PDI-P dan PKB pada Pemilu Legislatif

yang berkaitan dengan partai politik Pengurus OSP, OSP, dan Partai Politik Jenis pelanggaran yang dikenakan ke partai politik (khususnya terkait kewajiban yang tidak

Organisasi, partai atau perusahaan memahami dan menyadari perlunya memberi perhatian yang cukup untuk membangun suatu citra yang menguntungkan, partai politik adalah suatu organisasi

Anggota DPD yang terafiliasi dengan partai politik atau bahkan pengurus partai politik biasanya termasuk tokoh-tokoh yang familiar di media massa dan lebih menguasai wacana

Peran dan tanggung jawab seorang ketua partai politik sangat penting dalam membentuk kebijakan, memobilisasi massa, dan memenangkan pemilihan