• Tidak ada hasil yang ditemukan

makalah hakikat kurikulum dalam perspektif sosiologis.docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "makalah hakikat kurikulum dalam perspektif sosiologis.docx"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

HAKIKAT KURIKULUM DALAM PERSPEKTIF

HAKIKAT KURIKULUM DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGIS

SOSIOLOGIS

(Mata Kuliah Kajian Kurikulum)

(Mata Kuliah Kajian Kurikulum)

MAKALAH

MAKALAH

OLEH: OLEH: Agnes

Agnes Pradini Pradini Yuliarti Yuliarti 124564010124564010 Siti

Siti Mahmudah Mahmudah 12456401245640 Bangun

Bangun Nathan Nathan Q.S Q.S 1245564012455640 Shansia

Shansia Aisya Aisya 12456421245642 Siti

Siti Maslakhah Maslakhah 12456421245642

PROGRAM STUDI SOSIOLOGI PROGRAM STUDI SOSIOLOGI JURUSAN PENDIDIKAN SEJARAH JURUSAN PENDIDIKAN SEJARAH

FAKULTAS ILMU SOSIAL FAKULTAS ILMU SOSIAL UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

2014 2014

(2)

BAB I

BAB I

PENDAHULUAN

PENDAHULUAN

Dalam rangka menelenggarakan pendiidkan yang dapat merangkul semua peserta Dalam rangka menelenggarakan pendiidkan yang dapat merangkul semua peserta didik untuk mendapatkan pendidikan yang seutuhnya, maka diperlukan sebuah piranti atau didik untuk mendapatkan pendidikan yang seutuhnya, maka diperlukan sebuah piranti atau  pedoman yang menjadi patokan dalam pelaksan

 pedoman yang menjadi patokan dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Kurikulum adalahaan proses pembelajaran. Kurikulum adalah  pedoman

 pedoman yang yang wajib wajib dimiliki dimiliki oleh oleh lembaga lembaga pendidikan pendidikan untuk untuk dapat dapat menjalankan menjalankan prosesproses  pendidikan

 pendidikan sesuai dsesuai dengan engan tujuan tujuan yang sudah yang sudah diatur diatur dan dan direncanakan direncanakan diawal. diawal. Seperti Seperti yangyang termuat dalam UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003, kurikulum adalah seperangkat rencana dan termuat dalam UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003, kurikulum adalah seperangkat rencana dan  pengaturan

 pengaturan mengenai mengenai tujuan, tujuan, isi isi dan dan bahan bahan pelajaran pelajaran serta serta cara cara yang yang digunakan digunakan sebagaisebagai  pedoman

 pedoman penyelenggaraan penyelenggaraan kegiatan kegiatan pembelajaran pembelajaran untuk untuk mencapai mencapai tujuan tujuan pendidikanpendidikan tertentu

tertentu11..

Konsep dan hakikat kurikulum dapat diamati dan dikaji dalam berbagai perspektif. Konsep dan hakikat kurikulum dapat diamati dan dikaji dalam berbagai perspektif. Dari perspektif pedagogis, kurikulum mempunyai pengertian seperti yang sudah termuat Dari perspektif pedagogis, kurikulum mempunyai pengertian seperti yang sudah termuat dalam UU Sisdiknas. Lain halnya jika merujuk pada perspektif filosofis, psikologis dan dalam UU Sisdiknas. Lain halnya jika merujuk pada perspektif filosofis, psikologis dan sosiologis. Ketiga perspektif mempunyai konsep dan pemakanaan tersendiri dalam melihat sosiologis. Ketiga perspektif mempunyai konsep dan pemakanaan tersendiri dalam melihat hakikat kurikulum.

hakikat kurikulum.

Makalah ini akan membahas tentang hakikat kurikulum dalam perspektif sosiologis. Makalah ini akan membahas tentang hakikat kurikulum dalam perspektif sosiologis. Dalam makalah ini akan disampaikan beberapa penjelasan, dimulai dari pengertian Dalam makalah ini akan disampaikan beberapa penjelasan, dimulai dari pengertian kurikulum, tipologi kurikulum, kurikulum dan masyarakat dinamis;mengingat bahasan ini kurikulum, tipologi kurikulum, kurikulum dan masyarakat dinamis;mengingat bahasan ini akan menjelaskan kurikulum secara sosiologis yang menyangkut tentang masyarakat, dan akan menjelaskan kurikulum secara sosiologis yang menyangkut tentang masyarakat, dan yang terakhir yaitu kajian kurikulum secara sosiologis (analisis kasus kebijakan kurikulum yang terakhir yaitu kajian kurikulum secara sosiologis (analisis kasus kebijakan kurikulum dengan teori sosiologi) dimana nantinya makalah ini mencoba menjelaskan proses awal dengan teori sosiologi) dimana nantinya makalah ini mencoba menjelaskan proses awal  pembentukan

 pembentukan kurikulum kurikulum sampai sampai pada pada penerapan penerapan dengan dengan menggunakan menggunakan beberapa beberapa konsepkonsep sosiologis.

sosiologis.

1 1

Lihat UU.Sisdikna

(3)

BAB II BAB II PEMBAHASAN PEMBAHASAN

A.

A. Pengertian KurikulumPengertian Kurikulum

Kurikulum secara sosiologis tidak hanya membahas tentang rangkaian proses Kurikulum secara sosiologis tidak hanya membahas tentang rangkaian proses  pembelajaran

 pembelajaran atau atau pedoman pedoman pembelejaran. pembelejaran. Menurut Menurut Brown,Brown,22 kurikulum merupakan situasi kurikulum merupakan situasi kelompok yang tersedia bagi guru dan pengurus sekolah (administrator) untuk membuat kelompok yang tersedia bagi guru dan pengurus sekolah (administrator) untuk membuat tingkah laku yang berubah dalam arus yang tidak putus-putusnya dari anak-anak dan tingkah laku yang berubah dalam arus yang tidak putus-putusnya dari anak-anak dan  pemuda yang melalui pintu sekolah.

 pemuda yang melalui pintu sekolah.

“ Jadi kurikulum adalah situasi dan kondisi yanga da untuk mengubah sikap anak. Definisi “ Jadi kurikulum adalah situasi dan kondisi yanga da untuk mengubah sikap anak. Definisi ini berarti: bahwa situasi itu diarahkan atau dipimpin kepada pencapaian tujuan yang ini berarti: bahwa situasi itu diarahkan atau dipimpin kepada pencapaian tujuan yang telah ditentukan. Bahkan kurikulum termasuk didalamnya : subject matter, metode, telah ditentukan. Bahkan kurikulum termasuk didalamnya : subject matter, metode, organisasi sekolah dan organisasi kelas, serta pengukuran

organisasi sekolah dan organisasi kelas, serta pengukuran”.”.33

Kurikulum dalam beberapa konsep yang disebutkan oleh beberapa tokoh Kurikulum dalam beberapa konsep yang disebutkan oleh beberapa tokoh mengandung aspek penting kurikulum didalamnya. Menurut Grayson

mengandung aspek penting kurikulum didalamnya. Menurut Grayson44, kurikulum, kurikulum merupakan sebuah

merupakan sebuah perencanaanperencanaan untuk mendapatkan keluaran yang diharapkan dalamuntuk mendapatkan keluaran yang diharapkan dalam suatu pembelajaran. Menurut Saylon J. Gallen dan William N. Alexander 

suatu pembelajaran. Menurut Saylon J. Gallen dan William N. Alexander 55, kurikulum, kurikulum adalah keseluruhan

adalah keseluruhan usahausaha sekolah untuk mempengaruhisekolah untuk mempengaruhi belajarbelajar, baik secara langsung di, baik secara langsung di kelas, di halaman, maupun diluar sekolah. Atau menurut Inlow

kelas, di halaman, maupun diluar sekolah. Atau menurut Inlow66, yang menyebutkan bahwa, yang menyebutkan bahwa kurikulum merupakan semua engalaman yang direncanakan yang dilakukan oleh sekolah kurikulum merupakan semua engalaman yang direncanakan yang dilakukan oleh sekolah untuk menolong

untuk menolong para siswa para siswa dalam dalam mencapaimencapaihasil belajarhasil belajar kepada kemampuan siswa yang kepada kemampuan siswa yang  paling baik.

 paling baik. 2

2

 Lihat Ahmadi, Abu. Sosiologi Pendidikan, hal 129.  Lihat Ahmadi, Abu. Sosiologi Pendidikan, hal 129.

3 3  Ibid.  Ibid. 4 4  Lihat

 Lihat Damsar. Sosiologi Pendidikan, hal.123.Damsar. Sosiologi Pendidikan, hal.123.

5 5  Ibid.  Ibid. 6 6  Ibid.  Ibid.

(4)

Dari ketiga konsep yang telah disebutkan oleh ketiga tokoh diatas, dapat Dari ketiga konsep yang telah disebutkan oleh ketiga tokoh diatas, dapat disimpulkan bahwa

disimpulkan bahwa kurikulum kurikulum pada pada dasarnya dasarnya mempunyai mempunyai tiga tiga aspek, aspek, yaituyaitu perencanaan,

perencanaan, usaha usaha belajar belajar dan dan hasil hasil belajar.belajar.  Dengan kata lain, kurikulum melihat  Dengan kata lain, kurikulum melihat aspek pembelajaran dalam proses pendidikan secara menyeluruh. Mengontrol dari

aspek pembelajaran dalam proses pendidikan secara menyeluruh. Mengontrol dari hulu kehulu ke hilir;

hilir; dari awal perencanaan yang dilakukan oleh lembaga pembuat kurikulum hingga objekdari awal perencanaan yang dilakukan oleh lembaga pembuat kurikulum hingga objek kurikulum, yaitu peserta didik. Secara garis besarnya, pengertian kurikulum dalam kurikulum, yaitu peserta didik. Secara garis besarnya, pengertian kurikulum dalam  perspektif

 perspektif sosiologis sosiologis tidak tidak hanya hanya sebagai sebagai perangkat perangkat pembelajaran, pembelajaran, tetapi tetapi juga juga alat alat untukuntuk mengontrol, memonitor dan mengevaluasi pengembangan peserta didik sebagai objek mengontrol, memonitor dan mengevaluasi pengembangan peserta didik sebagai objek kurikulum.

kurikulum.

Tidak hanya menjelaskan tentang perubahan tingkah laku individu, kurikulum juga Tidak hanya menjelaskan tentang perubahan tingkah laku individu, kurikulum juga mengamati perubahan tingkah laku yang berdampak langsung dalam kehidupan mengamati perubahan tingkah laku yang berdampak langsung dalam kehidupan  bermasyarakat.

 bermasyarakat.77  Kurikulum harus fleksibel dalam menghadapi perubahan yang ada di  Kurikulum harus fleksibel dalam menghadapi perubahan yang ada di masyarakat dan pada akhirnya peserta didik dapat dipersiapkan untuk mengahadpi masyarakat dan pada akhirnya peserta didik dapat dipersiapkan untuk mengahadpi  perubahan di masyarakat dengan adanya kurikulum dalam proses belajar mereka.

 perubahan di masyarakat dengan adanya kurikulum dalam proses belajar mereka.

Kurikulum secara sosiologis, menurut Brown, mempuyai 3 prinsip dalam Kurikulum secara sosiologis, menurut Brown, mempuyai 3 prinsip dalam memandang subject matter secara keseluruhan

memandang subject matter secara keseluruhan88, yaitu:, yaitu: 1.

1. Perubahan kurikulum bersifat gradual yang mencerminkan nilai dasar culturalPerubahan kurikulum bersifat gradual yang mencerminkan nilai dasar cultural masyarakat yang selalu mengalami perubahan

masyarakat yang selalu mengalami perubahan 2.

2. Berfungsi dalam hubungan dengan orang dewasa dan disesuaikan dengan tahapBerfungsi dalam hubungan dengan orang dewasa dan disesuaikan dengan tahap  perkembangan anak

 perkembangan anak 3.

3. Terus menerus berubah menuju yang efektif sesuai dengan tujuan sosial yang telahTerus menerus berubah menuju yang efektif sesuai dengan tujuan sosial yang telah ditentukan.

ditentukan.

7 7

 Ahmadi, Abu. Sosiologi Pendidikan, hal.130  Ahmadi, Abu. Sosiologi Pendidikan, hal.130

8 8

 Ibid. hal 129-130.  Ibid. hal 129-130.

(5)

B.

B. Tipologi Kurikulum.Tipologi Kurikulum.

Terdapat berbagai macam pembagian kurikulum. Merujuk pada Abu Ahmadi, Terdapat berbagai macam pembagian kurikulum. Merujuk pada Abu Ahmadi, kurikulum dibagi dalam ketiga bagian

kurikulum dibagi dalam ketiga bagian99, yaitu:, yaitu: 1.

1. The Classical CurriculumThe Classical Curriculum : kurikulum yang menekankan pada bahasa aisng, bahasa: kurikulum yang menekankan pada bahasa aisng, bahasa kuno, sejarah sastra, matematika dan ilmu murni.

kuno, sejarah sastra, matematika dan ilmu murni. 2.

2. The Vocational CurriculumThe Vocational Curriculum : kurikulum yang menyiapkan peserta didik untuk siap: kurikulum yang menyiapkan peserta didik untuk siap kerja dan dapat hidup layak di masyarakat

kerja dan dapat hidup layak di masyarakat 3.

3.  Life  Life Adjustment CurriculumAdjustment Curriculum : menitikberatkan pada pembangunan kepribadian dari: menitikberatkan pada pembangunan kepribadian dari kurikulum pengalaman kehidupan.

kurikulum pengalaman kehidupan.

Selain itu, merujuk pada Damsar, kurikulum dibagi ke dalam beberapa tipe yang Selain itu, merujuk pada Damsar, kurikulum dibagi ke dalam beberapa tipe yang didasari dari sudut pandang pemikiran yang berbeda.

didasari dari sudut pandang pemikiran yang berbeda.Berdasarkan isiBerdasarkan isi, kurikulum dibagi ke, kurikulum dibagi ke dalam 3 tipe yaitu

dalam 3 tipe yaitu classical curriculum, vocational curriculum, life adjustment curriculum.classical curriculum, vocational curriculum, life adjustment curriculum. Kurikulum

Kurikulum  berdasarkan model pengembangan  berdasarkan model pengembangan dibagi menjadi 2 tipe, yaitu modeldibagi menjadi 2 tipe, yaitu model administrative

administrative  (dikembangkan dari kewenangan administrator pendidikan dari  (dikembangkan dari kewenangan administrator pendidikan dari  pepemerintah)

 pepemerintah) dan dan modelmodel akar rumputakar rumput ( kurikulum yang dibuat oleh guru dan sekolah( kurikulum yang dibuat oleh guru dan sekolah  berdasarkan

 berdasarkan visi visi misi misi sekolah sekolah sesuai sesuai dengan dengan situasi situasi dan dan keadaan keadaan sekolah sekolah tersebut).tersebut). Berdasarkan

Berdasarkan harapan dan kenyataan,harapan dan kenyataan, kurikulum dibagi ke dalam kurikulum dibagi ke dalam tipe ideal  tipe ideal  ( kurikulum ( kurikulum yang dicita-citakan) dan

yang dicita-citakan) dan tipe real tipe real ( kurikulum yang nyata terjadi di lapangan).( kurikulum yang nyata terjadi di lapangan).

Dari segi lain, kurikulum juga dapat dikontruksikan ke dalam beberapa pendekatan Dari segi lain, kurikulum juga dapat dikontruksikan ke dalam beberapa pendekatan teoritik dan menjadikan kurikulum dapat dilihat dari 3 sudut pandang yang berbeda, yaitu: teoritik dan menjadikan kurikulum dapat dilihat dari 3 sudut pandang yang berbeda, yaitu:

1.

1. Model kurikulum saintifikModel kurikulum saintifik

Yang memandang bahwa kurikulum layaknya sebuah ilmu alam yang dapat Yang memandang bahwa kurikulum layaknya sebuah ilmu alam yang dapat digeneralisasikan. Manusia, dalam hal ini peserta didik, diposisikan sebagai mesin yang digeneralisasikan. Manusia, dalam hal ini peserta didik, diposisikan sebagai mesin yang dapat diatur, dikontrol dan dikendalikan. Gagasan ini diperkuat oleh F.W Taylor ketika dapat diatur, dikontrol dan dikendalikan. Gagasan ini diperkuat oleh F.W Taylor ketika membuat ideologi

membuat ideologi  scientism. scientism.  Kurikulum tidak menjadikan peserta didik sebagai manusia,  Kurikulum tidak menjadikan peserta didik sebagai manusia, tapi menjadi mesin.

tapi menjadi mesin. 9

9

 Ibid. hal

(6)

2.

2. Model kurikulum reflektifModel kurikulum reflektif Melihat

Melihat kurikulum skurikulum sebagai konstruk ebagai konstruk sosial sosial para pembuatnya. para pembuatnya. Menggunakan pendekatanMenggunakan pendekatan holistic yang melihat secara keseluruhan kebutuhan dalam pendidikan dan pendekatan holistic yang melihat secara keseluruhan kebutuhan dalam pendidikan dan pendekatan  parsial

 parsial untuk untuk membuat membuat kebijakan kebijakan tertentu tertentu sebagai sebagai cerminan cerminan sebagian sebagian kebutuhan kebutuhan di di dalamdalam  pendidikan.

 pendidikan. 3.

3. Model Kurikulum relasionalModel Kurikulum relasional

Adanya kurikulum mempertimbangkan sejarah perkembangan pendidikan. Dari sejarah Adanya kurikulum mempertimbangkan sejarah perkembangan pendidikan. Dari sejarah itulah dapat diketahui tujuan yang hendak dicapai sedemikian lamanya dan dijadikan itulah dapat diketahui tujuan yang hendak dicapai sedemikian lamanya dan dijadikan landasan untuk perancangan kurikulum secara prakteknya.

landasan untuk perancangan kurikulum secara prakteknya.

C.

C. Kurikulum dan Masyarakat DinamisKurikulum dan Masyarakat Dinamis1010

Perubahan masyarakat yang sejatinya masyarakat bersifat dinamis, turut membawa Perubahan masyarakat yang sejatinya masyarakat bersifat dinamis, turut membawa  pengaruh

 pengaruh kepada kepada kurikulum kurikulum yang yang direncanakan direncanakan oleh oleh suatu suatu negara. negara. Kurikulum Kurikulum wajibwajib menyesuaikan keadaan masyarakat pada saat itu. Sebab, peserta didik yang diajar di dalam menyesuaikan keadaan masyarakat pada saat itu. Sebab, peserta didik yang diajar di dalam sekolah juga merupakan bagian dari masyarakat. Sekolah dan masyarakat menjadi suatu sekolah juga merupakan bagian dari masyarakat. Sekolah dan masyarakat menjadi suatu kesatuan, sehingga kuriulum juga harus dibuat sedemikian rupa yang bersifat berbasis kesatuan, sehingga kuriulum juga harus dibuat sedemikian rupa yang bersifat berbasis masyarakat. Kegiatan sekolah yang berbasis masyarakat (atau biasa dikenal sebagai sekolah masyarakat. Kegiatan sekolah yang berbasis masyarakat (atau biasa dikenal sebagai sekolah masyarakat) tidak hanya terbatas di dalam kelas atau di lingkungan dalam sekolah. Peserta masyarakat) tidak hanya terbatas di dalam kelas atau di lingkungan dalam sekolah. Peserta didik diajak berinterkasi dengan warga sekitar sekolahnya atau pergi ke masyarakat luas didik diajak berinterkasi dengan warga sekitar sekolahnya atau pergi ke masyarakat luas untuk dapat membangun emosi sosial dengan sesamanya.

untuk dapat membangun emosi sosial dengan sesamanya.

Selain di sekitar lingkungan sekolah, peserta didik juga diajak mengenal masyarakat Selain di sekitar lingkungan sekolah, peserta didik juga diajak mengenal masyarakat diluar mereka dalam suatu acara seperti karyawisata atau live-in. hal ini dapat bermanfaat diluar mereka dalam suatu acara seperti karyawisata atau live-in. hal ini dapat bermanfaat membangun relasi dengan masyarakat lain dan dapat mengenal lebih banyak orang serta membangun relasi dengan masyarakat lain dan dapat mengenal lebih banyak orang serta latar belakang masing-masing. Selain interaksi antara peserta didik dengan masyarakat luar, latar belakang masing-masing. Selain interaksi antara peserta didik dengan masyarakat luar,  pihak

 pihak sekolah sekolah juga juga menjalin menjalin hubungan hubungan dengan dengan orang orang tua tua didik didik guna guna turut turut bertanggungbertanggung

10 10

Ibid.

(7)

 jawab

 jawab pada pada perkembangan perkembangan peserta peserta didik, didik, dimana dimana keluarga keluarga merupakan merupakan bentuk bentuk masyarakatmasyarakat kecil bagi pesertadidik.

kecil bagi pesertadidik.

D.

D. Kajian Kurikulum secara Sosiologis (analisis kasus kebijakan kurikulum denganKajian Kurikulum secara Sosiologis (analisis kasus kebijakan kurikulum dengan teori sosiologi)

teori sosiologi)

Mencoba menggambarkan bagaimana sosiologi memandang kurikulum, baik dari segi Mencoba menggambarkan bagaimana sosiologi memandang kurikulum, baik dari segi konsep; seper

konsep; seperti yang ti yang sudah dijelaskan sudah dijelaskan di awal di awal tadi, tadi, dan bagaimana dan bagaimana beberapa tokohbeberapa tokoh sosiologi dengan teorinya memandang proses pembuatan kurikulum itu sendiri sehingga sosiologi dengan teorinya memandang proses pembuatan kurikulum itu sendiri sehingga digunakan oleh lembaga pendidikan untuk membantu meorganisasikan kegiatan digunakan oleh lembaga pendidikan untuk membantu meorganisasikan kegiatan  pembelajaran.

 pembelajaran. Berikut Berikut akan akan dijelaskan dijelaskan penerapan penerapan kurikulum kurikulum ditinjau ditinjau dari dari perspektif perspektif MaxMax Weber, Pierre Bordieu, dan Emile Durkheim.

Weber, Pierre Bordieu, dan Emile Durkheim. Weber mengatakan bahwa wewenang (

Weber mengatakan bahwa wewenang ( authorityauthority) adalah kemampuan untuk mencapai) adalah kemampuan untuk mencapai tujuan tertentu yang diterima secara formal oleh anggota masyarakat

tujuan tertentu yang diterima secara formal oleh anggota masyarakat1111. Jenis authority. Jenis authority yang yang disebutkan Weber dengan

disebutkan Weber dengan rational-legal authority rational-legal authority sebagai bentuk hierarkhi yang dibangunsebagai bentuk hierarkhi yang dibangun atas dasar legitimasi penguasa yang dianggap mempunyai hak dalam kekuasaan yang atas dasar legitimasi penguasa yang dianggap mempunyai hak dalam kekuasaan yang dimiliki. Konsep authority yang diutarakan oleh Weber, jika dikaitkan dengan kurikulum dimiliki. Konsep authority yang diutarakan oleh Weber, jika dikaitkan dengan kurikulum dapat dibuktikan bahwa kurikulum merupakan produk buatan pemerintah (kementrian dapat dibuktikan bahwa kurikulum merupakan produk buatan pemerintah (kementrian  pendididkan

 pendididkan dan dan kebudayaan) kebudayaan) yang yang mempunyai mempunyai otoritas otoritas untuk untuk membuat membuat kebijakankebijakan kurikulum. Mendikbud berhak untuk menentukan kebijakan tentang pembuatan kurikulum kurikulum. Mendikbud berhak untuk menentukan kebijakan tentang pembuatan kurikulum sebab mempunyai legitimasi untuk melaksanakan program pendidikan.

sebab mempunyai legitimasi untuk melaksanakan program pendidikan.

Emile Durkheim yang mengatakan bahwa manusia diatur oleh struktur yang Emile Durkheim yang mengatakan bahwa manusia diatur oleh struktur yang sifatnya eksternal dan mengikat

sifatnya eksternal dan mengikat1212  dan   dan dikategorikan dalam dikategorikan dalam paradigma fakta paradigma fakta sosial. sosial. HalHal tersebut terjadi karena adanya consensus masyarakat yang mengatur hubungan sosial, tersebut terjadi karena adanya consensus masyarakat yang mengatur hubungan sosial, seperti layaknya penerapan kurikulum yang dilakukan oleh Mendikbud, dimana kementrian seperti layaknya penerapan kurikulum yang dilakukan oleh Mendikbud, dimana kementrian yang bersifat struktur dan berada diluar individu ( peserta didik) tapi mengikat. Kurikulum yang bersifat struktur dan berada diluar individu ( peserta didik) tapi mengikat. Kurikulum menjadi suatu nilai dan norma yang ditentukan oleh Kementrian untuk menjalankan suatu menjadi suatu nilai dan norma yang ditentukan oleh Kementrian untuk menjalankan suatu  proses system pendidikan.

 proses system pendidikan.

11 11

 Lihat Siahaan, Hotman M. Pengantar ke Arah Sejarah dan

 Lihat Siahaan, Hotman M. Pengantar ke Arah Sejarah dan Teori Sosiologi, hal 201Teori Sosiologi, hal 201

12 12

 Lihat Wirawan. Teori-Teori Sosial dalam Tiga

(8)

Sementara menurut Pierre Bordieu dengan konsep capital atau modal, kurikulum Sementara menurut Pierre Bordieu dengan konsep capital atau modal, kurikulum mempunyai nilai positif dan kebijakan yang di dalamnya mempunyai tujuan (goal) untuk mempunyai nilai positif dan kebijakan yang di dalamnya mempunyai tujuan (goal) untuk menanamkan nilai baik dan modal budaya kepada peserta didik. Dalam setiap perilaku menanamkan nilai baik dan modal budaya kepada peserta didik. Dalam setiap perilaku manusia, modal yang dimiliki oleh individu digunakan untuk meraih tujuan dalam manusia, modal yang dimiliki oleh individu digunakan untuk meraih tujuan dalam kehidupan bermasyrakat. Begitu pula dengan kurikulum. Nilai penting yang termuat dalam kehidupan bermasyrakat. Begitu pula dengan kurikulum. Nilai penting yang termuat dalam rencana kegiatan di kurikulum membentuk suatu modal; baik itu modal sosial maupun rencana kegiatan di kurikulum membentuk suatu modal; baik itu modal sosial maupun  budaya untuk bekal peserta didik setelah mereka lulus dari jenjang pendidikan.

 budaya untuk bekal peserta didik setelah mereka lulus dari jenjang pendidikan.

Misalnya, kurikulum di SMA yang memuat pelajaran keterampilan yang Misalnya, kurikulum di SMA yang memuat pelajaran keterampilan yang dimasukkan dalam muatan local (mulok). Setiap kegiatan keterampilan seperti mengolah dimasukkan dalam muatan local (mulok). Setiap kegiatan keterampilan seperti mengolah  produk

 produk pangan pangan menjadi menjadi barang barang yang yang punya punya nilai nilai guna guna tinggi tinggi setelah setelah diolah diolah mengajarkanmengajarkan  peserta didik untuk

 peserta didik untuk dapat memasarkan produk dapat memasarkan produk yang mereka buat. yang mereka buat. SelainSelainmodal sosialmodal sosial yang yang didapat karena dengan penjualan, mereka dapat membangun sebuah relasi sosial, terdapat didapat karena dengan penjualan, mereka dapat membangun sebuah relasi sosial, terdapat

modal budaya

modal budaya  yaitu keterampilan mengolah produk pangan. Sehingga jika peserta didik  yaitu keterampilan mengolah produk pangan. Sehingga jika peserta didik tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, mereka dapat mengembangkan pelajaran tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, mereka dapat mengembangkan pelajaran yang mereka dapat di bangku sekolah untuk membuat sebuah usaha.

(9)

BAB III BAB III PENUTUP PENUTUP

Kurikulum dalam perspektif sosiologis, tidak hanya bermakna sebagai rencana Kurikulum dalam perspektif sosiologis, tidak hanya bermakna sebagai rencana  penyelenggaraan

 penyelenggaraan pendidikan. pendidikan. Akan Akan tetapi tetapi di di dalam dalam kurikulum kurikulum terdapat terdapat banyak banyak konstruksikonstruksi  pemikiran terkait den

 pemikiran terkait dengan awal gan awal perencanaan kuperencanaan kurikulum hingga rikulum hingga aplikasinya ke aplikasinya ke peserta didik.peserta didik. Kurikulum mempunyai berbagai macam pembagian, mulai dari fungsi, isi dan tujuan dari Kurikulum mempunyai berbagai macam pembagian, mulai dari fungsi, isi dan tujuan dari kurikulum itu sendiri. Semuanya mempunyai tujuan akhir yang sama, yaitu kurikulum itu sendiri. Semuanya mempunyai tujuan akhir yang sama, yaitu mengembangkan peserta didik lewat pendidikan.

mengembangkan peserta didik lewat pendidikan.

Kurikulum dalam perspektif sosiologis juga dapat dikonsepkan berbagai macam Kurikulum dalam perspektif sosiologis juga dapat dikonsepkan berbagai macam  pandangan.

 pandangan. Menurut Menurut Weber, Weber, kurikulum kurikulum merupakan merupakan produk produk dari dari authority authority pemerintah;pemerintah; dalam hal ini Kemendikbud, dalam rangka sebagai lembaga yang mempunyai legitimasi dalam hal ini Kemendikbud, dalam rangka sebagai lembaga yang mempunyai legitimasi untuk menyelenggarakan pendidikan. Sehingga, kurikulum yang bertujuan untuk untuk menyelenggarakan pendidikan. Sehingga, kurikulum yang bertujuan untuk membantu proses tersebut berjalan, dirancang sedemikian rupa oleh pemerintah sesuai membantu proses tersebut berjalan, dirancang sedemikian rupa oleh pemerintah sesuai dengan kebijakan yang mereka ambil karena mereka yang mempunyai otoritas. dengan kebijakan yang mereka ambil karena mereka yang mempunyai otoritas. Kemendikbud mempunyai otoritas sebagai lembaga penyelenggara dan pembuatan Kemendikbud mempunyai otoritas sebagai lembaga penyelenggara dan pembuatan kebijakan terkait dengan pelaksanaan pendidikan secara menyeluruh di Indonesia.

kebijakan terkait dengan pelaksanaan pendidikan secara menyeluruh di Indonesia.

Dalam perspektif Durkheim, kurikulum merupakan sebuah nilai dan norma yang Dalam perspektif Durkheim, kurikulum merupakan sebuah nilai dan norma yang dibentuk oleh struktur yang mengikat aktor pendidikan; terutama peserta didik. Struktur dibentuk oleh struktur yang mengikat aktor pendidikan; terutama peserta didik. Struktur yang mencetak nilai dan norma dalam suatu kurikulum adalah pemerintah. Aktor yang mencetak nilai dan norma dalam suatu kurikulum adalah pemerintah. Aktor  pendidikan

 pendidikan terikat terikat dengan dengan struktur struktur tersebut tersebut karena karena sifatnya sifatnya yang yang mengikat mengikat dan dan diluar diluar diridiri manusia. menurut Durkheim kurikulum dapat dipandang

manusia. menurut Durkheim kurikulum dapat dipandang dalam paradigma fakta sosial.dalam paradigma fakta sosial. Sementara menurut Bordieu, kurikulum mengandung nilai yang dapat membentuk Sementara menurut Bordieu, kurikulum mengandung nilai yang dapat membentuk suatu modal (capital) yang nantinya menjadi bekal peserta didik. Menikmati ‘bangku suatu modal (capital) yang nantinya menjadi bekal peserta didik. Menikmati ‘bangku  pendidikan’

 pendidikan’ sendiri sendiri sebenarnya sebenarnya sudah sudah mengandung mengandung modal modal budaya, budaya, karena karena tidak tidak semuasemua orang dapat memperoleh pendidikan formal yang di dalamnya diatur oleh kurikulum. orang dapat memperoleh pendidikan formal yang di dalamnya diatur oleh kurikulum. Selain itu, pelatihan soft skill juga dapat menjadi modal budaya dan sosial, misalnya Selain itu, pelatihan soft skill juga dapat menjadi modal budaya dan sosial, misalnya

(10)

keterampilan computer, pengolahan produk dan lainnya yang diajarkan di sekolah sebagai keterampilan computer, pengolahan produk dan lainnya yang diajarkan di sekolah sebagai mata pelajaran muatan local yang diatur sedemikian rupa oleh kurikulum.

mata pelajaran muatan local yang diatur sedemikian rupa oleh kurikulum.

Pada akhirnya, kurikulum tidak hanya menjadi sekedar perangkat keras untuk Pada akhirnya, kurikulum tidak hanya menjadi sekedar perangkat keras untuk menjalankan system pendidikan, tetapi juga mengandung banyak konsep tergantung dari menjalankan system pendidikan, tetapi juga mengandung banyak konsep tergantung dari  perspektif yang dipakai untuk melihat kurikulum secara keseluruhan.

(11)

Rujukan Pustaka: Rujukan Pustaka:

Ahmad, Abu. 2004.

Ahmad, Abu. 2004. Sosiologi PendidikanSosiologi Pendidikan. Jakarta:Rineka Cipta.. Jakarta:Rineka Cipta. Damsar. 2011.

Damsar. 2011. Pengantar  Pengantar Sosiologi Sosiologi Pendidikan.Pendidikan. Jakarta : Kencana Prenada Media Jakarta : Kencana Prenada Media Group.

Group.

Siahaan, Hotman M. 1986.

Siahaan, Hotman M. 1986. Pengantar ke  Pengantar ke Arah Sejarah Arah Sejarah dan Teori dan Teori Sosiologi.Sosiologi. JakartaJakarta : Penerbit Erlangga.

: Penerbit Erlangga. Wirawan. 2009.

Wirawan. 2009. Teori-Teori Sosial dalam Tiga Paradigma.Teori-Teori Sosial dalam Tiga Paradigma. Jakarta : KencanaJakarta : Kencana Prenada Media Group.

Referensi

Dokumen terkait

Kurikulum dapat disebut sebagai sebuah rencana dalam suatu kegiatan atau dokumen tertulis yang didalamnya berisikan strategi untuk mencapai tujuan yang diharapkan atau akhir

Kurikulum baik pada tahap kurikulum sebagai ide, rencana, pengalaman maupun kurikulum sebagai hasil dalam pengembangannya harus mengacu atau menggunakan landasan yang kuat dan

Untuk menjadikan peserta didik agar menjadi warga masyarakat yang diharapkan maka pendidikan memiliki peranan penting, karena itu kurikulum harus mampu

Ada empat komponen yang membentuk kurikulum, yaitu: komponen tujuan, komponen isi kurikulum atau materi pembelajaran, komponen metode atau

Untuk bab 2 materi pokok yang diajarkan pada kurikulum KTSP adalah Operasi Hitung Bentuk Aljabar sedangkan pada kurikulum 2013 materi pokoknya adalah Himpunan,Operasi Hitung

Kurikulum juga adalah sejumlah pengalaman pendidikan, kebudayaan, sosial, olah raga, dan kesenian baik yang berada di dalam maupun di luar kelas yang dikelola

Etos kerja dan modal sosial dalam perspektif

DIMENSI KURIKULUM Kurikulum adalah seperangkat rencana dan cara mengadministrasikan tujuan, isi, dan bahan pembelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan