• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLEMENTATION OF CITIZENSHIP CHARACTER FORMATION BY THE STUDY OF CIVIC EDUCATION ON SENIOR HIGH SCHOOL IN THE DISTRICT OF BANTUL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "IMPLEMENTATION OF CITIZENSHIP CHARACTER FORMATION BY THE STUDY OF CIVIC EDUCATION ON SENIOR HIGH SCHOOL IN THE DISTRICT OF BANTUL"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

IMPLEMENTATION OF CITIZENSHIP CHARACTER FORMATION BY THE STUDY OF CIVIC EDUCATION ON SENIOR HIGH SCHOOL IN

THE DISTRICT OF BANTUL

By: Murni Lestari and Dr. Samsuri, M.Ag./Legal and Civic Education Department, Faculty of Social Sciences, Yogyakarta State University

[email protected] ABSTRACT

This reseach is limited to the implementation of citizenship character formation in the study of civic education. The aim is, to describe the implementation model of citizenship character formation in learning process, also the solution taken by teachers in dealing with problems related to citizenship character formation in the study of civic education on Senior High School in the district of Bantul.

Approach used is qualitative descriptive with phenomenology strategy. Subjects are teacher of civic education who have been charged as pilot project since 2013 and have implemented Curriculum of 2013 in the district of Bantul. They are teachers who teach in SMA N 1 Bantul, SMA N 2 Bantul, SMA N 1 Jetis, SMA N 1 Sewon, SMA N 1 Kasihan and SMA N 1 Sedayu. Subject determination conducted by purposive. Techniques of data collecting are observation, interview, and documentation. While data validation technique used is triangulation technique, that is by checking data from the same source using two or more different techniques. Checking includes observation, interview and documentation result. Technique of data analysis is inductive data analysis, which the steps include reduction, presentation and data conclusion.

The result shows that Senior High School teachers in the district of Bantul use two methods in the implementation of citizenship character fomation. Those are direct teaching and indirect teaching. Direct teaching means to use problem solving and cooperative learning method. While indirect teaching means outdoor activity, extracurriculer, collaborative student-parent with outside-school parties, school environment include vission, mission, and other values which conducted as habituation and exemplary.

One sample problem, faced by teachers is how to take affective appraisal for students. The solution taken for this problem is by generalizing student's affective aspect. The ability of teacher in implementing this character formation in the classroom learning activity can be seen from RPP (lesson plan) document, which also explains detailly about the formation of student's citizenship character.

(2)

PENDAHULUAN

Kompetensi kewarganegaraan merupakan komponen penting untuk

mewujudkan kewarganegaraan yang handal. Sejalan tujuan civic education untuk

meningkatkan kompetensi warga negara agar mampu menjadi warga negara yang berperan serta secara aktif dalam sistem pemerintahan negara yang demokratis (Sunarso, 2006: 10). Karakter kewarganegaraan sebagai komponen kompetensi

kewarganegaraan dapat dikembangkan melalui, kegiatan ko-kurikuler,

ekstrakurikuler, maupun pembiasaan atau habituasi (Kemendiknas, 2011: 18-19). Pembentukan karakter kewarganegaraan melalui kegiatan ko-kurikuler dapat dilaksanakan melalui mata pelajaran PPKn yang bertujuan dan bertanggungjawab

untuk mewujudkan warga negara yang baik (good citizenship) seperti yang telah

tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Sehingga guru PPKn berperan penting dalam membentuk karakter kewarganegaraan peserta didik.

Panduan guru dalam pembentukan karakter kewarganegaraan tercantum dalam buku guru mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) Kelas XII Kurikulum 2013 (Kemendikbud, 2015: 3) yang menjelaskan secara rinci aspek-aspek pengembangan kompetensi kewarganegaraan melalui

pembelajaran yaitu civic literacy, civic engagement, civic skill and participation,

civic knowledge, dan civic participation and civic responsibility. Pembentukan karakter harus terintegrasi ke dalam setiap aspek kehidupan sekolah (Muchlas Samani dan Hariyanto, 2013: 139). Lickona menyarankan agar pendidikan karakter terlaksana secara efektif, maka guru dapat mengusahakan implementasi dengan berbagai metode (Muchlas Samani dan Hariyanto, 2013: 147). Sehingga pembentukan karakter kewarganegaraan dapat terrealisasi sesuai dengan yang direncanakan. Selain itu efektifitas pendidikan karakter juga dipengaruhi oleh bagaimana strategi-strategi pembelajaran yang digunakan oleh guru (Samsuri, 2011: 12-13).

Berdasarkan kajian penelitian yang sebelumnya dilakukan oleh Yuni Maya Sari (2014: 8) bahwa pembinaan toleransi dan peduli sosial merupakan salah satu

(3)

Kajian tersebut menyebutkan bahwa guru memiliki peran penting dalam proses

pembentukan karakter kewarganegaraan (civic disposition). Sejalan dengan

penelitian yang dilakukan oleh Lutfia Intan Verina (2013) tentang pengembangan karakter kewarganegaraan di kalangan siswa melalui kegiatan ekstrakurikuler kesenian di SMA Negeri 1 Yogyakarta, dalam penelitian ini disebutkan bahwa pengembangan karakter kewarganegaraan melalui program pembelajaran berkontribusi menanamkan karakter kewarganegaraan. Meskipun pelaksanaannya terdapat beberapa kendala. Dilengkapi dengan hasil penelitian dari Siti Aminah (2013) yang menyebutkan bahwa pola internalisasi nilai, tahap transaksi, transinternalisasi, sehingga pola tersebut memberi dampak pada karakter kewarganegaraan, antara lain tanggung jawab moral dan disiplin diri sebagai karakter privat, kepedulian dan kesopanan sebagai karakter publik.

Penilaian kurikulum 2013 yang harus memahami karakter setiap peserta didik satu persatu merupakan kesulitan bagi guru. Tak terkecuali dengan guru PPKn, dalam penelitian Fitriany Indri Sapitri (2015) disebutkan bahwa guru mengalami hambatan dalam implementasi kurikulum 2013 pada mata pelajaran PPKn untuk pembinaan karakter peserta didik. Dengan adanya hambatan yang dirasakan oleh guru PPKn dalam pembinaan karakter tersebut, maka dimungkinkan bahwa pembentukan karakter kewarganegaraan belum mencapai hasil optimal. Maka penelitian ini perlu dilakukan untuk mengetahui pelaksanaan pembentukan karakter kewarganegaraan dalam pembelajaran PPKn. Serta permasalahan yang dihadapi guru dalam pembentukan karakter kewarganegaraan. Kabupaten Bantul dipilih sebagai lokasi penelitian karena Kabupaten

Bantul adalah lokasi Launching kurikulum 2013 secara Nasional. Sekolah yang

ditunjuk menjadi pilot project dalam implementasi Kurikulum 2013, yaitu SMA

N 1 Bantul, SMA N 2 Bantul, SMA N 1 Jetis, SMA N 1 Sewon, SMA N 1 Kasihan dan SMA N 1 Sedayu (Irfan Fauzi, 2015: xvi). Dalam kurikulum 2013 ini menekankan tidak hanya pengetahuan tetapi juga perkembangan spiritual dan sosial yang bermuara pada karakter kewarganegaraan.

Berdasarkan pemaparan di atas, permasalahan yang dapat diidentifikasi dalam penelitian ini diantaranya ialah: 1) hambatan implementasi Kurikulum

(4)

2013 dalam pembentukan karakter kewarganegaraan, 2) kurangnya pemahaman guru tentang model implementasi pembentukan karakter kewarganegaraan dalam pembelajaran 3) model pembentukan karakter kewarganegaraan yang digunakan guru kurang optimal. Oleh karena itu, pertanyaan penelitian ini adalah bagaimana model implementasi pembentukan karakter kewarganegaraan serta solusi guru

terhadap permasalahan pembentukan karakter kewarganegaraan dalam

pembelajaran PPKn SMA Negeri di Kabupaten Bantul?

Hasil penelitian ini diharapkan dapat mendeskripsikan model

implementasi pembentukan karakter kewarganegaraan. Serta solusi guru terhadap permasalahan pembentukan karakter kewarganegaraan dalam pembelajaran PPKn SMA Negeri di Kabupaten Bantul. Selain itu juga diharapkan dapat memberi kontribusi yang bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan bidang Pendidikan Kewarganegaraan, khususnya tentang pembentukan karakter kewarganegaraan.

METODE PENELITIAN Jenis Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan pendekatan kualitatif yaitu metode untuk mengeksplorasi dan memahami makna yang oleh sejumlah individu atau sekelompok orang dianggap berasal dari masalah sosial atau kemanusiaan (Creswell, 2010: 4). Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif, yaitu metode yang digunakan untuk meneliti suatu objek dalam lokasi penelitian dengan apa adanya tanpa pengujian hipotesis. Strategi yang digunakan adalah fenomenologi, mengingat tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan pengalaman guru PPKn dalam mengimplementasi pembentukan karakter kewarganegaraan dalam pembelajaran. Menurut Creswell (2010: 20-21) merupakan strategi penelitian dimana didalamnya peneliti mengidentifikasi hakikat pengalaman manusia tentang suatu fenomena.

Waktu dan Tempat Penelitian

Waktu penelitian berlangsung pada bulan Januari 2016 sampai dengan

(5)

pelaksana Kurikulum 2013 sejak tahun 2013 di Kabupaten Bantul. SMA tersebut adalah SMA N 1 Bantul, SMA N 2 Bantul, SMA N 1 Jetis, SMA N 1 Sewon, SMA N 1 Kasihan dan SMA N 1 Sedayu.

Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini diambil secara purposive yaitu dipilih dengan

pertimbangan dan tujuan tertentu yang karena keadaan, situasi dan posisinya dinilai bisa memberikan pendapat, informasi, dan pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan tentang pembentukan karakter kewarganegaraan dalam pembelajaran PPKn SMA Negeri di Kabupaten Bantul. Narasumber yang dimaksud adalah guru PPKn SMA Negeri yang menerapkan Kurikulum 2013 dan

ditunjuk sebagai pilot project Kurikulum 2013 sejak tahun 2013 yaitu SMA N 1

Bantul, SMA N 2 Bantul, SMA N 1 Jetis, SMA N 1 Sewon, SMA N 1 Kasihan dan SMA N 1 Sedayu.

Prosedur

Data dalam penelitian ini diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Menurut Creswell (2010: 267) observasi dilakukan dengan peneliti langsung turun ke lapangan untuk mengamati perilaku dan aktivitas individu-individu di lokasi penelitian. Peneliti melakukan observasi dengan pengamatan langsung terhadap proses aktivitas pembelajaran di dalam kelas dan mengamati sikap atau perilaku peserta didik yang tampak.

Penelitian ini menggunakan wawancara tidak terstruktur sehingga peneliti dapat mengembangkan pertanyaan-pertanyaan penelitian. Wawancara dilakukan dengan bertemu untuk saling bertukar informasi melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam topik tertentu (Creswell, 2010: 267). Teknik dokumentasi dilakukan dengan mengambil data yang tersedia dalam dokumen agar data yang dihasilkan dapat dipertanggungjawabkan sehingga menjadi sah, dan bukan berdasarkan pada perkiraan saja.

Data, Instrumen, Teknik Pengumpulan Data

Instrumen dalam penelitian ini menggunakan lembar observasi, pedoman

wawancara, dan dokumentasi. Lembar observasi dibuat dengan sistem check list.

(6)

check list berdasarkan kriteria yang dimaksud dilaksanakan atau tidak oleh guru.

Serta kolom “tampak” dan “tidak tampak” untuk diberi tanda check list

berdasarkan kriteria karakter kewarganegaraan tampak atau tidak pada peserta didik.

Tabel 1. Kisi-kisi Lembar Observasi

No Aspek Indikator Ya Tidak

1 Kompetensi Pedagogik a. Perencanaan b. Pelaksanaan c. Evaluasi Hasil 2 Kompetensi Profesional a. Bahan ajar b. Model pembelajaran c. Bentuk penilaian

No Aspek Indikator Tampak Tidak Tampak

3 Indikator Karakter kewarganegaraan a. Menurut Branson b. Menurut Permendiknas No. 22 Tahun 2006

Pedoman wawancara dalam penelitian ini menggunakan pedoman wawancara tidak terstruktur. Berikut adalah kisi-kisi wawancara dalam penelitian ini.

Tabel 2. Kisi-kisi Pedoman Wawancara

No Materi Wawancara

1 Tanggapan terhadap pendidikan karakter dalam Kurikulum 2013

2 Pemahaman terhadap kaitan pendidikan karakter dengan kompetensi

kewarganegaraan

3 Pemahaman tentang karakter kewarganegaraan

4 Pelaksanaan pengembangan karakter kewarganegaraan

5 Tanggapan pentingnya pengembangan karakter kewarganegaraan

6 Model pengembangan karakter kewarganegaraan

7 Tanggapan terhadap hasil pengembangan karakter kewarganegaraan

8 Keterkaitan pengembangan karakter kewarganegaraan dengan kegiatan

belajar di luar kelas, kegiatan ekstrakurikuler, lingkungan sekolah, kerjasama orang tua dan pihak lainnya

9 Tanggapan model pengembangan karakter kewarganegaraan yang

efektif

Kisi-kisi dokumen yang dimaksud dalam penelitian ini dan keterkaitannya dengan model pengembangan karakter kewarganegaraan.

(7)

Tabel 3. Kisi-kisi Dokumentasi

No Dokumen Pengembangan karakter kewarganegaraan

1 Silabus

Kurikulum 2013

Silabus merupakan perangkat pembelajaran PPKn sebagai bagian dari perencanaan pembentukan karakter kewarganegaraan

2 Prota/ Prosem Prota atau Prosem adalah program yang sengaja

dirancang untuk mengembangkan nilai-nilai karakter kewarganegaraan.

3 RPP RPP merupakan perencanaan atau desain

pembentukan karakter kewarganegaraan. RPP juga menjadi acuan pelaksanaan pembentukan karakter kewarganegaraan.

4 Lembar

Penilaian

Evaluasi hasil yang dilakukan oleh guru dalam

implementasi pembentukan karakter

kewarganegaraan. Lembar penilaian adalah produk

penilaian sebagai bukti bahwa guru telah

melaksanakan pembentukan karakter

kewarganegaraan.

Teknik Analisis Data

Model analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis induktif. Adapun langkah-langkahnya diantaranya sebagai berikut:

1. Reduksi Data (Data Reduction)

Peneliti menentukan kerangka konseptual, pertanyaan penelitian, kasus, dan instrumen penelitian yang digunakan, kemudian setelah hasil catatan lapangan, wawancara, rekaman dan data lain telah tersedia, maka dilanjutkan

dengan perangkuman data (data summary), pengodean (coding), merumuskan

tema-tema, pengelompokan (clustering), dan penyajian cerita secara tertulis.

2. Penyajian Data (Data Display)

Penyajian data dalam penelitian ini berupa ringkasan atau deskripsi singkat hasil wawancara, menyajikan data hasil observasi dan dokumentasi yang telah diperoleh dalam pengumpulan data.

3. Pengambilan Kesimpulan dan verifikasi

Pengambilan keputusan dalam penelitian ini menggunakan metode konfirmasi dengan triangulasi dari tiga teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini.

(8)

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian pada guru PPKn tingkat SMA yang menjalankan Kurikulum 2013 di Kabupaten Bantul diketahui bahwa guru telah memahami pembentukan karakter kewarganegaraan, hal ini ditunjukkan dengan pemahaman guru terhadap pendidikan karakter dalam Kurikulum 2013 serta pemahaman guru tentang karakter kewarganegaraan. Hal tersebut tampak pada penjelasan yang guru sampaikan ketika wawancara. Selain itu tampak pada hasil observasi yang menunjukkan bahwa guru telah mengimplementasikan pembentukan karakter kewarganegaraan berdasarkan Kurikulum 2013. Serta dokumentasi RPP telah menunjukkan bahwa kompetensi inti (KI 1 dan KI 2) telah eksplisit tercantum dan telah ditemukan substansi untuk mengembangkan tiga aspek yaitu pengetahuan, keterampilan dan karakter kewarganegaraan.

Hasil penelitian pada guru PPKn tingkat SMA yang menjalankan Kurikulum 2013 di Kabupaten Bantul diketahui bahwa guru telah melaksanakan pembentukan karakter kewarganegaraan dalam pembelajaran PPKn SMA Negeri di Kabupaten Bantul. Hal ini ditunjukkan dengan model pembentukan karakter kewarganegaraan yang digunakan disesuaikan dengan Kurikulum 2013. Serta implementasi pembentukan indikator-indikator karakter kewarganegaraan dalam pembelajaran. Hal tersebut tampak pada hasil observasi yang menunjukkan bahwa guru menggunakan model-model diskusi, presentasi, debat dan lainnya untuk pembentukan karakter kewarganegaraan. serta dokumentasi RPP telah menunjukkan model pembelajaran yang digunakan untuk membentuk karakter kewarganegaraan.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa guru telah melaksanakan evaluasi hasil pembentukan karakter kewarganegaraan. Wujud hasilnya berupa sikap atau perilaku yang ditunjukkan peserta didik dihadapan guru dan dalam kehidupan sekolah. Penilaian afektif juga telah dilaksanakan meskipun pelaksanaannya terdapat permasalahan. Hal itu ditunjukkan pada penjelasan guru, observasi dan dokumentasi yang dilakukan.

(9)

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pembentukan karakter kewarganegaraan juga dikaitkan dalam kegiatan luar kelas dan kegiatan ekstrakurikuler, meskipun pelaksanaannya belum optimal. Sekolah juga berupaya menjalin kerjasama dengan orang tua atau wali murid dan pihak lainnya agar pengawasan lebih maksimal. Sekolah berupaya menciptakan iklim sekolah yang positif mulai dari visi dan misi sekolah, pembiasaan serta keteladanan. Hal itu ditunjukkan berdasarkan penjelasan guru, pengamatan yang dilakukan serta dokumentasi.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa guru menghadapi permasalahan pembentukan karakter kewarganegaraan yaitu kendala penilaian. Hal itu disebabkan karena banyaknya jam mengajar guru yang menyebabkan tidak maksimalnya pengamatan masing-masing peserta didik. Berdasarkan hasil observasi bahwa kendala tersebut ditemukan karena beberapa alasan, yaitu RPP yang tidak secara eksplisit terdapat pembentukan karakter kewarganegaraan, terbatasnya waktu, model yang digunakan teralu minimalis, dan banyaknya jam mengajar guru. Sehingga kendala-kendala tersebut dimungkinkan menjadi alasan permasalahan penilaian yang dihadapi guru.

Berdasarkan permasalahan yang dihadapi guru, maka guru telah berupaya menghadapi permasalahan yang dihadapi dengan beberapa solusi. Solusi yang dilakukan guru dalam menghadapi permasalahan yang dihadapi adalah dengan melakukan generalisasi nilai afektif dan pengamatan perilaku peserta didik dihadapan guru. Berdasarkan observasi guru telah melakukan penilaian dengan melakukan pengamatan langsung pada peserta didik secara umum, tidak spesifik pada masing-masing peserta didik. Selain itu berdasakan hasil dokumentasi yang dilakukan selama penelitian bahwa penilaian afektif dilakukan dengan generalisasi nilai. Terlihat pada dokumentasi penilaian yang terlihat hampir sama pada masing-masing peserta didik.

Pembahasan

Model pembentukan karakter kewarganegaraan dalam pembelajaran PPKn SMA Negeri di Kabupaten Bantul terdiri dari pembentukan karakter

(10)

tidak langsung (Indirect Teaching). Model pembentukan karakter kewarganegaraan melalui pengajaran langsung dapat dilakukan dengan Model penggunaan metode pembelajaran itu sendiri. Metode pembelajaran bisa

menggunakan metode Problem Solving, Cooperative learning dan experience

based projects (projek berbasis pengalaman). Metode tersebut dapat

diintegrasikan melalui metode diskusi untuk menguraikan nilai-nilai kebajikan kedalam praktek kehidupan sehari-hari hal itu berdasarkan pendapat Halstead dan Taylor (Samsuri, 2011: 13).

Pembentukan karakter kewarganegaraa dilakukan dengan tiga tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi hasil (Udin S. Winataputra, 2012: 48). Pada perencanaan implementasi pembentukan karakter kewarganegaraan diperlukan pemahaman guru terhadap pembentukan karakter kewarganegaraan.

Pada tahap implementasi dikembangkan pengalaman belajar (learning

experiences) dan proses pembelajaran bermuara pada pembentukan karakter peserta didik. Pengalaman belajar tersebut dapat dibangun melalui pendekatan intervensi dan habituasi. Agar proses pembelajaran berhasil, peran guru sebagai

sosok panutan (role model) sangat penting dan menentukan. Sementara dalam

habituasi diciptakan situasi dan kondisi (persistent-life situation), dan penguatan

(reinforcement) yang memungkinkan peserta didik membiasakan perilaku sesuai nilai dan menjadi karakter yang telah diinternalisasi dan dipersonalisasi dari dan melalui intervensi (Udin S. Winataputra, 2012: 49). Evaluasi hasil dilakukan dengan merancang program perbaikan berkelanjutan dan mendeteksi aktualisasi karakter dalam diri peserta didik sebagai indikator tercapainya proses pembudayaan dan pemberdayaan karakter tersebut (Udin S. Winataputra, 2012: 49).

Pembentukan karakter kewarganegaraan melalui pengajaran tidak

langsung (Indirect Teaching) menurut Halstead dan Taylor (Samsuri, 2011: 13),

dapat dilakukan yaitu dengan model pendidikan karakter melalui kehidupan sekolah, visi misi sekolah, teladan guru dan penegakan aturan-aturan dan disiplin. Model ini bertujuan untuk mencipatakan iklim moral di lingkungan sekolah

(11)

kewarganegaraan dapat dikembangkan melalui beberapa ranah, dapat dikaitkan dengan kegiatan ekstrakurikuler, dengan membangun kerja sama dengan keterlibatan wali murid untuk membentuk pembiasaan karakter kewarganegaraan (Kemendiknas, 2011: 18-19). Pembentukan karakter kewarganegaraan dengan pengajaran tidak langsung perlu peran guru dalam mengembangkan misi pembentukan karakter kewarganegaraan tersebut yaitu mengembangkan kultur sekolah dan guru menjadi model (Cholisin, 2011: 14-19). Keteladanan merupakan perilaku, sikap guru, tenaga kependidikan dan peserta didik dalam memberikan contoh melalui tindakan-tindakan yang baik sehingga diharapkan menjadi panutan bagi peserta didik lainnya (Kemendiknas, 2011: 15).

Kompetensi profesional guru PPKn yang diperlukan guna untuk menentukan beberapa hal yaitu; bahan ajar yang termasuk pengetahuan

kewarganegaraan (civic knowledge), nilai dan keterampilan kewarganegaraan

(civic skill) dan karakter kewarganegaraan (civic disposition); model pembelajaran yang dapat mengembangkan ketiga kemampuan kewarganegaraan tersebut; serta

bentuk penilaian yang sesuai untuk mengukur ketiga kemampuan

kewarganegaraan (Winarno, 2013: 58-70). Guru PPKn perlu memperkuat pemahaman akan bentuk-bentuk penilaian afektif sebagai upaya pembentukan karakter kewarganegaraan, sebab pendidikan kewarganegaraan dalam kategori

yang maksimal dicirikan dengan value based bukan pada knowledge based dan

difficult to achieve and measure in practice. Hal ini berarti bahwa untuk mencapai kategori pendidikan kewarganegaraan yang ideal, sangat penting bagi guru PPKn untuk menjalankan evaluasi sikap, meskipun memang sulit untuk mencapai dan mengukurnya dalam praktik pembelajaran PPKn (Winarno, 2013: 63).

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Deskripsi hasil dan pembahasan penelitian mengenai implementasi pembentukan karakter kewarganegaraan dalam pembelajaran PPKn SMA Negeri di Kabupaten Bantul dapat disimpulkan bahwa implementasi pembentukan

(12)

pembentukan karakter kewarganegaraan melalui pengajaran langsung (direct teaching). Kedua, pembentukan karakter kewarganegaraan melalui pengajaran

tidak langsung (indirect teaching).

Guru menghadapi permasalahan dalam hal penilaian, terutama penilaian ranah afektif. Permasalahan tersebut disebabkan karena keterbatasan guru dalam melakukan pengamatan pada masing-masing peserta didik, sehingga implementasi pembentukan karakter kewarganegaraan tidak terlaksana secara maksimal. Solusi guru menghadapi permasalahan tersebut adalah dengan cara melakukan observasi

pada peserta didik secara umum. Penilaian ranah afektif dilakukan dengan cara

meng-generalisasi ranah afektif peserta didik, sehingga nilai yang didapatkan peserta didik rata-rata sama dan berada pada interval baik.

Saran

Berdasarkan kesimpulan dari hasil penelitian mengenai implementasi pembentukan karakter kewarganegaraan dalam pembelajaran PPKn SMA Negeri di Kabupaten Bantul, peneliti memiliki sumbang saran yang sekiranya dapat dijadikan pertimbangan yang membangun bagi beberapa pihak. Sumbang saran tersebut diantaranya adalah:

1. Bagi Guru

a. Sebaiknya guru mencari informasi yang banyak berkaitan dengan

indikator karakter kewarganegaraan, lalu mengembangkannya;

b. Sebaiknya guru menyisihkan waktu luang dipergunakan untuk mencari

cara lain yang lebih kreatif untuk membentuk karakter

kewarganegaraan secara eksplisit bukan hanya secara implisit saja;

c. Seyogyanya guru mempersiapkan RPP yang secara eksplisit

mencantumkan karakter kewarganegaraan yang dikembangkan, sebagai acuan pelaksanaan pembentukan karakter kewarganegaraan.

d. Sebaiknya guru melaksanakan evaluasi dan penilaian terutama ranah

afektif sebagaimana dalam panduan penilaian yang tercantum dalam buku guru mata pelajaran PPKn, sehingga pengembangan karakter kewarganegaraan dapat terlaksana lebih maksimal.

(13)

2. Bagi Sekolah

a. Sebaiknya sekolah mendukung sepenuhnya guru yang berupaya

memanfaatkan kegiatan di sekolah untuk dijadikan sarana

pembentukan karakter kewarganegaraan, sehingga ruang guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dalam pembentukan karakter kewarganegaraan dapat maksimal;

b. Sebaiknya sekolah mendukung sepenuhnya pembentukan karakter

kewarganegaraan yang dilakukan guru dengan menciptakan iklim sekolah yang sehat dan positif.

3. Bagi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

a. Sebaiknya pemerintah membuat standar baku pembentukan karakter

kewarganegaraan;

b. Sebaiknya setiap kurun periode tertentu mengadakan pemantauan atau

evaluasi proses pembentukan karakter kewarganegaraan yang ada di sekolah;

c. Apabila saat mengadakan pemantauan atau evaluasi menemukan

pelaksanaan pembentukan karakter kewarganegaraan yang tidak tepat agar segera diberikan tindak lanjut demi suksesnya pengembangan

karakter kewarganegaraan untuk mewujudkan good citizen.

DAFTAR PUSTAKA

Branson, M.S, dkk. 1999. Belajar Civic Education dari Amerika. Diterjemahkan

oleh Syafruddin,dkk. Yogyakarta: LKiS.

Cholisin. 2011. Peran Guru PKn dalam Pendidikan Karakter. (Tidak diterbitkan)

Disampaikan pada Kuliah Umum Jurusan PPKn FKIP UAD Yogyakarta, 5 Februari.

Creswell, John W. 2010. Research Design: Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif,

dan Mixed (Terj: Ahmad Fawaid). Diterjemahkan oleh Achmad Fawaid. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Fitriany Indri Sapitri. 2015. Implementasi Kurikulum 2013 pada Mata Pelajaran

PPKn untuk Pembinaan Karakter Siswa. Skripsi. Bandung: Universitas

(14)

Irfan Fauzi. 2015. Studi Deskripsi Implementasi Kurikulum 2013 Pada

Pembelajaran Fisika di Wilayah SMA Negeri Kabupaten Bantul. Skripsi.

Yogyakarta: Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Kemendikbud. 2015. Buku Guru Kurikulum 2013 Mata Pelajaran PPKn Kelas

XII. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.

Kemendiknas. 2011. Pendidikan Karakter untuk Membangun Karakter Bangsa.

Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar, Kemendiknas Jakarta. Edisi 4 Juli. Lutfia Intan Verina. 2013. Pengembangan Karakter Kewarganegaraan di

Kalangan Siswa melalui Kegiatan Ekstrakurikuler Kesenian di SMA Negeri

1 Yogyakarta. Skripsi. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.

Muchlas Samani dan Hariyanto. 2013. Konsep dan Model Pendidikan Karakter.

Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan dasar dan Menengah

Samsuri. 2011. Pendidikan Karakter Warga Negara: Kritik Pembangunan

Karakter Bangsa. Yogyakarta: Diandra Pustaka Indonesia.

Siti Aminah. 2013. Pola Pendidikan Pesantren dan Implikasinya Terhadap

Pembentukan Karakter Kewarganegaraan. Skripsi. Surakarta: Universitas

Sebelas Maret.

Sunarso, dkk. 2006. Pendidikan Kewarganegaraan: PKN untuk Perguruan

Tinggi. Yogyakarta: UNY Press.

Udin S. Winataputra. 2012. Pendidikan Kewarganegaraan dalam Perspektif

Pendidikan untuk Mencerdaskan Kehidupan Bangsa. Bandung: Widya

Aksara Press.

Udin S. Winataputra. 2012. Pendidikan Kewarganegaraan dalam Perspektif

Pendidikan untuk Mencerdaskan Kehidupan Bangsa. Bandung: Widya

Aksara Press.

Winarno. 2013. Pembelajaran Pendidikan PKN (Isi, Strategi, dan Penilaian).

Jakarta: Bumi Aksara.

Yuni Maya Sari. 2014. Pembinaan Toleransi dan Peduli Sosial dalam Upaya Memantapkan Watak Kewarganegaraan (Civic Disposition) Siswa (Studi

Kasus di SMAN 4 Balikpapan Kalimantan Timur). Skripsi. Bandung:

Universitas Pendidikan Indonesia.

Gambar

Tabel 1. Kisi-kisi Lembar Observasi
Tabel 3. Kisi-kisi Dokumentasi

Referensi

Dokumen terkait

Income maximization (meningkatkan laba) adalah manajemen laba yang dilakukan oleh manajemen yaitu dengan menaikkan laba untuk tujuan tertentu, misalnya: saat akan melakukan IPO

perusahaan, tanpa adanya perencanaan (Rudianto, 2009:6) akan mengakibatkan kurangnya sasaran atau strategi yang akan dicapai berkaitan dengan segala sesuatu yang ingin dihasilkan

Remaja akan menjadi sangat mudah terpengaruh dengan hal – hal yang negatif sebagai contoh saat pacar mengajak untuk melakukan hal yang mengarah pada hubungan seksual

Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bentuk-bentuk poskolonial yang ada pada buku ajar keterampilan Bahasa Inggris yang digunakan di universitas di

Saran yang dapat diberikan (1) bagi mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Seni Indonesia, hendaknya penelitian ini dapat dijadikan bahan referensi untuk

Meskipun banyak peneliti telah menyelidiki perbedaan antara guru dan siswa ,preferensi untuk koreksi kesalahan juga untuk pengetahuan penelitian tidak ada pelajaran yang telah di

Schaufeli dan Bakker (2003) menyatakan bahwa karakteristik kerja, yaitu sumber daya kerja dan tuntutan kerja, berkaitan dengan keterikatan kerja yang membawa pada

Kuil Yasukuni sendiri khusus didedikasikan bagi Kami para tentara atau mereka yang tewas dalam peperangan untuk membela Kekaisaran Jepang dalam perang Boshin