PERBEDAAN EFEK ANTARA MENGUNYAH PERMEN KARET
MENGANDUNG SORBITOL DAN XILITOL
TERHADAP JUMLAH KOLONI
Streptococcus mutants
LAPORAN PENELITIAN
SKRIPSI INI DIBUAT SEBAGAI KARYA TUGAS AKHIR PROGRAM STUDI SARJANA KEDOKTERAN GIGI
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS TRISAKTI
STEFFANO ADITYA HANDOKO NIM: 040.04.188
UNIVERSITAS TRISAKTI FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
JAKARTA 2008
THE DIFFERENT EFFECT BETWEEN SORBITOL
AND XYLITOL CHEWING GUM
ON COLONY NUMBER OF
Streptococcus mutants
RESEARCH REPORT
THIS PAPER IS DONE FOR BACHELOR DENTAL SURGERY DEGREE REQUIREMENT
FACULTY OF DENTISTRY TRISAKTI UNIVERSITY
STEFFANO ADITYA HANDOKO
STUDENT REGISTERED NUMBER: 040.04.188
TRISAKTI UNIVERSITY FACULTY OF DENTISTRY
JAKARTA 2008
PERBEDAAN EFEK MENGUNYAH PERMEN KARET
MENGANDUNG SORBITOL DAN XILITOL
TERHADAP JUMLAH KOLONI
Streptococcus mutants
LAPORAN PENELITIAN
Pembimbing Pendamping:
(drg. M. Orliando R.)
Skripsi ini telah diperiksa dan disetujui pada tanggal:
(Prof. DR. H. Boedi Oetomo R., drg, MBiomed)
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan YME, yang oleh karena rahmat, karunia, dan ridhoNYA, maka skripsi yang berjudul PERBEDAAN EFEK ANTARA MENGUNYAH PERMEN KARET MENGANDUNG SORBITOL DAN XILITOL TERHADAP JUMLAH KOLONI Streptococcus mutants ini dapat penulis selesaikan dengan baik. Tujuan pembuatan skripsi ini adalah untuk memenuhi tugas akhir sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan pendidikan Program Strata Satu (S1) di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti.
Selama penyusunan skripsi ini, penulis banyak mendapat bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Dalam kesempatan kali ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Mama papaku yang sangat aku cintai di atas segala-galanya, atas segala limpahan kasih sayang, doa yang tiada henti-hentinya, motivasi di saat sedang jatuh serta dukungan bantuan materiil dan spiritual. Adik-adikku Richardo Raditya Handoko dan Kevin Marciano Handoko yang memberikan semangat dan juga mengingatkan dalam menyelesaikan skripsi ini.
2. Prof. Dr. H. Boedi Oetomo Roeslan, drg, MBiomed. selaku pembimbing skripsi dan penasehat akademik yang telah dengan sangat sabar serta telah meluangakan waktu, tenaga, pikiran untuk membimbing penulis dalam menyelesaikan skriksi ini.
3. Drg. Orliando (bang icol), selaku pembimbing pendamping yang telah sangat membantu dan memberikan pengarahan kepada penulis dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini.
4. Drg. Sri Lestari, M.Kes dan drg. Julius Loho selaku Wadek III dan Sekjurmawa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti yang telah ikut serta memberi motivasi penulis selama penyelesaian skripsi ini. 5. Drg. Widijanto, drg. Sari, ibu Sri yang telah membantu dan
6. Para dosen Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti.
7. Pak Samingan, Pak Partono, Ibu Eko, Pak Teguh, Pak Daryo, Pak Dedy, Mas Ari, Pak Sarmili, Pak Waiman, Pak Karjono, Om Rohman, Pak Slamet, Pak Supar, Mas Ade serta seluruh staf dan karyawan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti.
8. Seluruh staf perpustakaan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti yang telah menyediakan buku-buku panduan.
9. Kinanti Aryani yang telah dengan sangat sabar membantu, mengingatkan, mendukung, memberi semangat dalam menyelesaikan skripsi ini.
10. Kakakku yang tercinta Hanna,skg (2002) yang kalau tidak ada dia penulis tidak tahu harus berbuat apa. Terimakasih atas segala bimbingan, kebaikannya. Sukses selalu.
11. Fitri Astuti Antoni yang selalu mendukung, memberi semangat serta turut mengingatkan penulis untuk mengejar deadline skripsi.
12. Teman seperjuangan serta sahabat penulis di FKG Riswandi, Bayu Herlambang, Andri Sutanto, dan Catherine Adelina yang selalu memberi semangat.
13. Mas-mas, kakak-kakak dan abang-abangku di FKG Mas Harno, Mas Endong, Mas Ilham, Mas Ari, Bang Fandi, Bang Irfan, Bang Johan, Kak Iraf, Zulmi, Bakrie, Koko, Arifandi, Willy, Indra, Rasyid, Ujang, Yoyo, Fadil, Mopan, Ikhwan, Aulia, Adol, Sergio, Tarman, Ferry, Ika, Oky, anak tongkrongan lantai 1 terima kasih untuk menghibur pada waktu penulis buntu pikirannya.
14. Kak Henny, Dilla, mbak Ning, Icha, Cia, Thya, Ditya, Desty, Amel, Dina, Tita, Yetty, Nanda, BEM periode 2005-2006.
15. Teman-Teman angkatan 2004 Allia, Ika, Rineth, Nia, Ina, Wenny, Ery, Eko, Babi, Yono, Nicky, Vebie, Mira, Hijir, Raymond, Incen, Teja, Rio, Laura, Ricky, Anak-anak TLC, Be15, dll yang telah memberi semangat dalam penyelesaian skripsi ini.
16. Seluruh teman-teman di kepengurusan BEM periode 2007-2008 yang telah banyak memberikan dukungan dan pengertian.
17. Teman-teman di OTF SATGAS dan di OTF Basket atas dukungannya selama pengerjaan skripsi ini.
18. Pihak lain yang banyak membantu penulis yang mohon maaf tidak dapat disebutkan satu persatu.
Penulis menyadari pembuatan skripsi ini masih jauh dari sempurna karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki dan oleh karena manusia tidak luput dari kesalahan maka dari itu, dengan segenap kerendahan diri penulis mohon maaf bila ada kesalahan yang kurang berkenan dalam proses pembuatan skripsi ini.
Akhir kata, semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan memberi pengetahuan bagi generasi yang berikutnya.
Jakarta, Juni 2008
DAFTAR ISI
Halaman
PRAKATA... iv
DAFTAR ISI... vii
DAFTAR TABEL... ix
DAFTAR GAMBAR... x
DAFTAR SINGKATAN... xi
DAFTAR LAMBANG... xii
DAFTAR LAMPIRAN... xiii
ABSTRAK... xiv ABSTRACT... xv BAB I PENDAHULUAN……… 1 A. Latar Belakang……… 1 B. Rumusan Masalah……….. 3 C. Tujuan Penelitian……… 3 D. Manfaat Penelitian……….. 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA………... 4
A. Karies Gigi……….. 4
B. Kebiasaan mengunyah permen karet……….. 6
C. Sorbitol………... 7
D. Xilitol……….. 9
E. Streptococcus mutans... 12
BAB III KERANGKA TEORI DAN HIPOTESIS... 16
A. Kerangka Teori... 16
B. Kerangka Konsep... 17
C. Hipotesis... 17
BAB IV METODE PENELITIAN... 18
A. Jenis dan Rancangan Penelitian... 18
C. Populasi Penelitian... 19
D. Sampel Penelitian... 19
E. Bahan dan Alat... 19
F. Cara Kerja... 20
G. Penghitungan Streptococcus mutans... 21
H. Analisis Data... 21
BAB V HASIL PENELITIAN... 22
BAB VI PEMBAHASAN... 25
BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN... 29
DAFTAR TABEL
Halaman Tabel 1. Hasil penghitungan jumlah koloni Streptoccocus mutants
berdasarkan waktu pengukuran dan selisih koloni antara
waktu pengukuran………. 21
Tabel 2. Rata-rata dan simpang baku hasil pengukuran jumlah koloni Streptococcus mutants……… 22
Tabel 3. Hasil uji normalitas data………. 22
Tabel 4. Hasil uji-t untuk menentukan homogenitas awal data……… 22
Tabel 5. Hasil analisis varian……… 22
Tabel 6. Hasil perhitungan selisih antar kelompok perlakuan untuk uji HSD ………... 23
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1. Paduan faktor penyebab karies……….. 5
Gambar 2. Rumus bangun sorbitol……….. 9
Gambar 3. Rumus bangun xilitol………. 10
Gambar 4. Kristal xilitol….………. 11
Gambar 5. Pewarnaan Streptococcus mutants pada biakan Thiglycolate… 13 Gambar 6. Kerangka konsep……… 16
Gambar 7. Skema penelitian………...………. 17
DAFTAR SINGKATAN
ADP : Agar Darah Plate
DAFTAR LAMBANG
p : probabilitas pH : derajat keasaman
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran A. Informed consent
ABSTRAK
Latar Belakang: Karies gigi merupakan suatu proses patologis yang menyerang
permukaan gigi-geligi yang terbuka di dalam mulut.Bakteri penyebab karies yang utama adalah Streptococcus mutans. Karbohidrat terbukti sangat berperan dalam proses terjadinya karies gigi. Sekarang ini telah banyak digunakan gula alkohol untuk pemanis sebagai pengganti sukrosa seperti xilitol dan sorbitol. Tujuan: Mengevaluasi perbedaan efek mengunyah permen karet mengandung sorbitol dan xilitol terhadap jumlah koloni Streptococcus mutans di dalam plak gigi. Metode: Plak diambil dari subjek, dimasukkan dalam tioglikolat, kocok sampai homogen. Setelah 20 menit, letakkan pada ADP. Simpan dalam suhu 37°C. Masukkan sungkup atau jaringan anaerob, lihat dalam waktu 3 x 24 jam. Hitung jumlah koloni Streptococcus mutans. Hasil: Penelitian menunjukkan adanya perbedaan bermakna (p < 0,005) dengan hasil yang menunjukkan bahwa rata-rata jumlah
Streptococcus mutans setelah 28 hari mengunyah permen karet yang mengandung
xilitol (1707 + 235) lebih tinggi dibandingkan jumlah Streptococcus mutans setelah 28 hari mengunyah permen karet yang mengandung sorbitol (1076 + 369).
Kesimpulan: Jumlah koloni Streptococcus mutans pada plak gigi individu yang
mengunyah permen karet yang mengandung xilitol lebih tinggi dibandingkan individu yang mengunyah permen karet yang mengandung sorbitol.
ABSTRACT
Background: Dental caries is a pathologic process that attacks an open
surface of teeth inside our mouth. The main bacteria that cause caries are
Streptococcus mutans. Carbohydrate is proven very important in the process of
dental caries. Nowadays, sweetener alcoholic sugar for replacing sucrose such as xylitol and sorbitol has been found. Objective: To evaluate the different effect between xylitol and sorbitol chewing gum on colony number of Streptococcus
mutans inside the dental plaque. Methods: We took plaque from subjects, put
them in tioglycolate, then we shake. After 20 minutes, put them in ADP, in 37°C temperature. Watch them for 3 x 24 hours.Count the number of Streptococcus
mutans colony. Result: The research shows a significant differences (p < 0,005).
The number of Streptococcus mutans after 28 days chewing gum with xilitol (1707 + 235) are higher then the number of Streptococcus mutans after 28 days chewing gum with sorbitol (1076 + 369). Conclusion: The colony number of
Streptococcus mutans in subjects that chewing gum with xilitol are higher then
subjects that chewing gum with sorbitol.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Masalah kesehatan gigi yang sering dijumpai pada masyarakat umum dewasa ini adalah masalah kebersihan mulut (oral hygiene) yang buruk serta penyakit gigi, terutama karies dan penyakit periodontal (Bouswma, 1996). Prevalensi karies aktif pada penduduk Indonesia sekarang ini kurang lebih 52,3% (SKRT, 2002). Walaupun frekuensi kelainan periodontal di Indonesia lebih tinggi daripada karies gigi, namun perhatian lebih dikhususkan pada karies gigi, mengingat sifatnya yang tidak memungkinkan terjadi pembentukan kembali struktur gigi yang sudah berlubang (Roeslan, 2001).
Kehadiran penyakit gigi dan mulut berawal dari adanya plak gigi (Attstrom, 1998). Plak gigi terdiri dari kumpulan bakteri-bakteri yang berkembang biak dalam suatu maktriks, yang melekat erat pada permukaan gigi yang licin. Warna dari plak gigi itu sendiri adalah kuning keabu-abuan yang berbentuk deposit lunak (Susilo, 1996).
Berdasarkan survei, 80% faktor penyebab timbulnya karies gigi adalah kurangnya kesadaran dan pemahaman pentingnya menjaga kebersihan gigi. Ada 4 prinsip dasar yang mempengaruhi pembentukan karies dalam mulut, yaitu jumlah bakteri, gigi sebagai pejamu, gula, dan antibodi (Lehner, 1992). Bakteri penyebab karies yaitu S. mutans, S. sanguis, Lactobacillus acidophilus, dan Actinomyces
viscosus. Bakteri yang paling besar pengaruhnya ialah bakteri Streptococcus mutans. Gigi sebagai pejamu dipengaruhi oleh morfologi, bentuk gigi, saliva,
celah gusi, dan fluorida. Anti bakterial spesifik dalam saliva yaitu lisozim, peroksidase, dan laktoferin, sedangkan antibodi spesifik yang terkandung dalam saliva ialah IgA sekretori (IgAs) (Roeslan, 2001).
Karbohidrat terbukti sangat berperan dalam proses terjadinya karies gigi, karena mudah difermentasi dan diuraikan menjadi asam oleh mikroorganisme pembentuk asam di dalam dan sekitar rongga mulut. Sukrosa adalah golongan karbohidrat disakarida yang mempunyai potensi kariogenik yang paling besar, serta merupakan gula yang paling banyak digunakan dalam diet. Sukrosa dari sisa makanan akan dimetabolisme oleh mikroorganisma kariogenik terutama
Streptococcus mutans yang menghasilkan polisakarida ekstraseluler bentuk
glukan yang berperan dalam pembentukan plak pada permukaan email gigi (Be, 1978; Kidd dan Bechal, 1987).
Sekarang ini telah banyak digunakan gula alkohol untuk pemanis sebagai pengganti sukrosa. Gula alkohol seperti sorbitol, manitol, dan xilitol, mempunyai kelebihan, diantaranya yaitu tidak mudah difermentasikan oleh mikroorganisme rongga mulut (Andrew, 1999, cit. Lestari dan Yuliarsi, 2002). Gula alkohol tersebut memproduksi kalori yang hampir sama dengan sukrosa dan secara alamiah sudah ada dalam konsentrasi rendah, terutama terdapat di dalam buah-buahan (Kidd dan Bechal, 1987; Thylsrup dan Fejershov, 1986).
Pada saat ini di pasaran Indonesia, telah diproduksi berbagai macam permen karet yang mengandung sukrosa dan bahan pemanis pengganti lainnya seperti sorbitol, manitol, dan xilitol, yang biasa disebut sugar free. Tentang manfaat yang diberikan pada saat mengunyah permen karet setelah makan karbohidrat telah banyak dilakukan penelitian. Menurut penelitian yang dilakukan Gales dan Nguyen (2000), permen karet yang mengandung xilitol lebih efektif mereduksi karies dibandingkan dengan permen karet yang mengandung sorbitol. Jumlah koloni Streptococcus mutans di dalam plak gigi individu yang mengunyah permen karet yang mengandung xilitol lebih rendah dibandingkan dengan jumlah koloni
Streptococcus mutans di dalam plak gigi individu yang mengunyah permen karet
B. Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan, maka masalah penelitian ini dirumuskan sebagai berikut, apakah terdapat perbedaan efek mengunyah permen karet mengandung sorbitol dan xilitol terhadap jumlah koloni Streptococcus
mutans di dalam plak gigi?
C. Tujuan penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi perbedaan efek mengunyah permen karet mengandung sorbitol dan xilitol terhadap jumlah koloni
Streptococcus mutans di dalam plak gigi.
D. Manfaat penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dipergunakan untuk sumbangan pengetahuan di bidang kedokteran gigi pada khususnya, sebagai informasi bagi tenaga kesehatan terutama yang berhubungan langsung dengan kesehatan gigi dan mulut, sebagai informasi bagi masyarakat pada umumnya, serta hasil penelitian dapat dipakai sebagai bahan untuk meneliti lebih jauh tentang manfaat pemanis pengganti sukrosa terhadap Streptococcus mutans di dalam plak gigi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Karies gigi
Karies gigi merupakan suatu proses patologis yang menyerang permukaan gigi-geligi yang terbuka di dalam mulut. Karies adalah penyakit infeksi mikrobiologik yang dapat menyebabkan pelarutan jaringan lokal dan penghancuran jaringan yang terkalsifikasi (Sturdevant’s, 2002).
Karies gigi ditandai oleh rusaknya email dan dentin yang progrsif yang disebabkan oleh keaktifan metabolisme bakteri plak. Proses karies mulai dari permukaan gigi dan terus berpenetrasi makin dalam. Ketika mencapai dentin, perkembangannya semakin cepat sehingga menyebabkan email berlubang (Pittford, 1992).
Karies gigi mengakibatkan kerusakan dari jaringan keras mahkota gigi yang akan berlangsung lambat, sehingga dapat disebut kronis, dan apabila karies tersebut terjadi pada penderita dengan resesi gingiva, maka lesi karies juga akan menyerang bagian akar yang terbuka, sehingga menyebabkan terjadinya karies akar. Bila tidak dilakukan perawatan, maka lesi karies ini akan meluas sampai jaringan pulpa gigi dan dapat merusak seluruh mahkota gigi. Hal ini kemudian dapat menyebabkan rasa sakit, terganggunya fungsi mastikasi, inflamasi jaringan gingiva, pembentukan abses, perubahan penampilan pasien, dan efek-efek sosial yang berkaitan dengannya. Penyakit ini tersebar luas di negara-negara berkembang dan hanya beberapa orang saja yang terbebas dari serangan penyakit ini (Eccles & Green, 1981).
Terdapat empat faktor utama yang berperan dalam proses terjadinya karies, yaitu host, mikroorganisme, substrat, dan waktu. Faktor-faktor tersebut bekerja sama dan saling mendukung satu sama lain. Bakteri plak akan memfermentasikan
karbohidrat (misalnya sukrosa) dan menghasilkan asam, sehingga mengakibatkan pH plak akan turun dalam waktu 1 – 3 menit sampai pH 4,5 – 5,0 (Kidd dan Bechal, 1992).
Karies merupakan proses penghancuran atau kerusakan jaringan keras gigi, yaitu email, dentin, dan sementum. Karies disebabkan oleh suatu jasad renik yang dapat meragikan karbohidrat dan ditandai adanya demineralisasi jaringan keras gigi, kemudian diikuti oleh kerusakan bahan organik email, dentin, dan sementum. Penyebaran infeksi karies dapat masuk ke jaringan periapikal yang menyebabkan rasa nyeri karena adanya mikroflora yang masuk ke dalam pulpa. Meskipun demikian, mengingat kemungkinan terjadinya remineralisasi, pada stadium yang sangat dini, penyakit ini dapat dihentikan.
Mikroorganisme
Substrat
Waktu
Host
B. Kebiasaan mengunyah permen karet
Lima tips agar mulut lebih sehat menurut Jones (2001), ialah menyikat gigi selama dua menit penuh (biasanya orang menyikat gigi hanya 45 detik), menyikat lidah, mengurangi konsumsi snack, meninggalkan konsumsi minuman bersoda, dan mengunyah permen karet yang bahan pemanisnya xilitol. Menurut Burt (2006), mengunyah permen karet merangsang stimulasi aliran saliva yang dapat meningkatkan kapasitas penyangga dan juga membantu menetralisir pengurangan pH plak secara normal setelah kita makan.
Permen karet pernah menjadi ikon anak muda di Indonesia. Awalnya, permen karet dipasarkan hanya sebagai makanan ringan semata. Kemudian, ditambah berbagai rasa dan warna agar lebih diterima pasar. Sejak itu, permen karet terkenal akan manfaatnya (Wilz, 2001).
Manfaat positif mengunyah permen karet menurut Rohdiana (1997) ialah sebagai berikut.
1. Baik untuk kesehatan mulut dan gigi karena permen karet dapat membantu mengangkat dan membersihkan kotoran yang tersisa di gigi
2. Aktivitas mengunyah dapat meningkatkan sirkulasi darah sehingga oksigen yang dikirim ke otak semakin banyak, pikiran menjadi lebih segar dan konsentrasi meningkat
3. Pergerakan rahang pada saat mengunyah permen karet dapat menggerakkan otot wajah sehingga kulit wajah menjadi kencang
4. Memberikan perasaan rileks sehingga dapat membantu mengurangi stres dan mengatasi kejenuhan
Seorang psikolog asal Inggris menyebutkan orang yang terbiasa mengunyah permen karet akan memiliki ingatan yang lebih kuat sebanyak 25%. Hal ini secara tidak langsung berkaitan dengan kerja jantung dan pembuluh darah yang membawa oksigen lebih cepat ke otak saat kita mengunyah (Wilz, 2001).
Sebelumnya studi in situ dan in vitro telah menjelaskan bahwa mengunyah permen karet yang bebas sukrosa dapat mengurangi perkembangan karies gigi. Menurut penelitian di Budapest, Hungaria, sebanyak 547 anak sekolah dianjurkan
untuk mengunyah satu stik permen karet yang mengandung sorbitol selama 20 menit setelah makan sebanyak tiga kali sehari. Setelah dua tahun berjalan, sebanyak 38,7% mengalami penurunan tingkat karies, tidak termasuk white spots. Hasil ini sudah jelas menyatakan bahwa walaupun sudah berlatih menjaga populasi karies dan kesehatan mulut secara normal dengan menggunakan pasta gigi yang mengandung fluor, namun mengunyah permen karet setelah makan juga dapat mengurangi perkembangan karies (Szoke dkk., 2001).
Penelitian terbaru oleh para peneliti dari Universitas Northumbia menemukan bahwa mengunyah permen karet kemampuan orang untuk mengingat kata-kata akan meningkat lebih dari satu per tiga ketika mereka mengkonsumsi permen karet (Budiman, 2005).
Pada saat ini, di pasaran terdapat bermacam-macam pemanis dalam permen karet. Di antaranya ialah yang mengandung sukrosa dan bahan pengganti pemanis lain seperti sorbitol, manitol, dan xilitol yang mengandung gula alkohol dan biasa disebut dengan sugar free (Lestari dan Yuliarsi, 2002).
Dapat dipercaya, bahwa permen karet yang bebas gula memberikan keuntungan yang berlipat ganda, antara lain mengurangi produksi asam dan meningkatkan kecepatan saliva sehingga kapasitas bufernya juga meningkat. Oleh karena itu, pembentukan plak oleh asam dapat dihambat (Hayes, 2001).
C. Sorbitol
Sorbitol atau D-Sorbitol atau D-glucitol atau D-sorbite adalah monosakarida polyol (1,2,3,4,5,6-Hexanehexol) dengan rumus kimia C6H14O6. Sorbitol berupa
senyawa yang berbentuk granul atau kristal dan berwarna putih dengan titik leleh berkisar antara 89°C sampai dengan 101°C, higroskopis, dan berasa manis. Sorbitol memiliki tingkat kemanisan relatif sama dengan 0,5 sampai 0,7 kali tingkat kemanisan sukrosa dengan nilai kalori sebesar 2,6 kkal/g atau setara dengan 10,87 kJ/g. Penggunaannya pada suhu tinggi tidak ikut berperan dalam reaksi pencoklatan Maillard (Badan POM, 2002).
Menurut Houwink (1993, cit. Soesilo dkk., 2005), sorbitol merupakan bahan pengganti gula dari golongan gula alkohol yang paling banyak digunakan terutama di Indonesia. Di Indonesia sorbitol paling banyak digunakan sebagai pemanis pengganti gula karena bahan dasarnya mudah diperoleh dan harganya murah (Kanzil dan Santoso, 1999, cit. Soesilo, 2005). Di Indonesia, sorbitol diproduksi dari tepung umbi tanaman singkong (Manihot Utillissima Pohl) yang termasuk keluarga Euphoribiaceae (Krisnowati, 1997, cit. Soesilo dkk., 2005). Menurut Garrow dan James (1994, cit. Soesilo dkk., 2005), sorbitol juga produksi dalam jaringan tubuh manusia yang merupakan hasil katalisasi dari D-glukosa oleh enzim aldose reductase, yang mengubah struktur aldehid (CHO) dalam molekul glukosa menjadi alkohol (CH2OH). Gula alkohol merupakan hasil
reduksi dari glukosa dimana semua atom oksigen dalam molekul gula alkohol yang sederhana terdapat dalam bentuk kelompok hidroksil, sinonim dengan
polyhidric alcohol (polyols). Polyols dapat dibagi menjadi dua yaitu polyols
asiklik dan polyols siklik. Sorbitol termasuk dalam kelompok polyols asiklik dengan enam rantai karbon (Goldberg, 1994, cit. Soesilo dkk., 2005).
Secara alamiah, sorbitol terdapat di dalam buah seperti ceri, plum, pir, dan rumput laut. Nama lain sorbitol ialah glukitol, yang merupakan polihidroksi alkohol dengan enam atom karbon. Sorbitol dibuat oleh pabrik secara kimiawi, merupakan hasil reaksi reduksi glukosa dengan tekanan yang tinggi dan katalisator Ni atau logam hibrida seperti NaBH4 atau LiBH4 (Soni, 1976, cit.
Lestari dan Yuliarsi, 2002). Sorbitol pelan-pelan diserap usus dan dimetabolisme ke dalam bentuk bentuk fruktosa di hati. Dengan begitu produksi asam dari sorbitol secara normal rendah karena hanya dapat digunakan kira-kira 5-10% dari bakteri dalam plak gigi. Polyol dianggap sebagai kariogenik yang rendah. Jika konsumsi dari sorbitol sering, maka plak bakteri mengalami adaptasi dan fermentasi polyol dan potensi kariogenik dapat meningkat (Kalfas dkk., 1990. Cit. Holgerson, 2007).
Sorbitol aman dikonsumsi manusia, tidak menyebabkan karies gigi dan sangat bermanfaat sebagai pengganti gula bagi penderita penyakit diabetes dan diet rendah kalori. Fungsi lain sorbitol ialah sebagai bahan pengisi (filler/bulking
agent), pengental, mencegah terbentuknya kristal pada sirup. Batas maksimum
penggunaan sorbitol pada berbagai produk pangan berkisar antara 500 sampai 200.000 mg/kg produk (Badan POM, 2002).
Sorbitol seringkali digunakan pada obat batuk sirup dan mentol sugar free, dan biasanya tercantum dalam daftar bahan baku yang tidak aktif (Wikipedia, 2008).
Gambar 2. Rumus bangun sorbitol
D. Xilitol
Xilitol merupakan sumber karbohidrat alamiah yang termasuk golongan politol atau gula alkohol (Imfeld, 1993, cit. Sudhana, 2002). Xilitol memiliki rasa semanis sukrosa dan digunakan sebagai pemanis yang tidak berbahaya dan juga berfungsi sebagai pengganti gula pada makanan penderita diabetes (Dorland, 2002). Sama halnya dengan sorbitol, xilitol juga digunakan sebagai pemanis pengganti gula untuk mengurangi resiko karies karena kurang difermentasi oleh mikroorganisme rongga mulut, namun harganya sedikit lebih mahal (Imfeld, 1993, cit. Sudhana, 2002).
Xilitol pertama kali ditemukan dari pohon birch di Finlandia pada abad ke-19 dan pertama kali dipopulerkan di Eropa sebagai pemanis yang aman untuk
penderita diabetes yang tidak mempengaruhi kadar insulin dalam darah (Wikipedia, 2008).
Gambar 3. Rumus bangun xilitol
Xilitol memiliki struktur pentiol atau gula alkohol dengan 5 atom karbon yang merupakan molekul yang tidak reaktif karena ikatan kimianya cenderung stabil. Hal ini disebabkan oleh karena jumlah atom karbonnya yang ganjil, sehingga sulit bagi mikroorganisme untuk membongkar dan menghasilkan energi darinya. Bentuk molekulnya cenderung untuk menarik air (hidrofilik) dan berikatan lemah dengan kalsium pada larutan. Ikatan ini tidak cukup kuat untuk melarutkan kalsium dalam email gigi. Xilitol cenderung stabil terhadap panas dan asam.Xilitol melebur ketika dipanaskan hingga 94ºC (201°F) dan mendidih pada suhu 216°C (421°F). Xilitol tidak mengalami reaksi Maillard, yang merupakan perubahan warna menjadi coklat, yang bersifat non enzimatik, terjadi ketika gula dipanaskan dengan asam amino.
Xilitol memiliki rasa manis seperti sukrosa, tetapi hanya mengandung dua per tiga kalori sukrosa (Wikipedia, 2008). Kekuatan rasa manis dari xilitol tergantung dari beberapa hal, seperti konsentrasi, pH, suhu, campurannya dengan pemanis jenis lain, dan bentuk produk dari xilitol yang dipergunakan. Ketika xilitol larut dalam mulut, muncul rasa dingin yang menyenangkan yang merupakan hasil dari
reaksi endotermik yang muncul (Peldyak, 1996). Xilitol menghambat perlekatan, pertumbuhan, dan metabolisme deri mikroorganisme rongga mulut, sehingga xilitol mengurangi jumlah Streptococcus mutans. Xilitol juga memungkinkan terjadinya proses remineralisasi dari lesi awal karies pada email. Xilitol memiliki sifat bersinergi dengan fluoride dalam penggunaannya secara bersama-sama (Anderson, 1993).
Gambar 4. Kristal xilitol
Xilitol merupakan pemanis alami yang ditemukan dalam serat pada beberapa jenis sayuran dan buah2an (Wikipedia, 2008). Xilitol terdapat pada jamur, pisang, stroberi, dan apel. Beberapa penelitian menunjukkan xilitol dapat membantu terjadinya proses remineralisasi, sehingga proses terjadinya karies dapat dicegah (Thylsrup dan Fejershov, 1986; Kidd dan Bechal, 1987).
Xilitol dipergunakan secara luas di Finlandia. Seluruh permen karet yang dipasarkan di Finlandia, dan hampir seluruh negara bagian di Eropa, menggunakan pemanis xilitol (Wikipedia, 2008).
E. Streptococcus mutans
Streptococcus mutans adalah sel berbentuk bulat dengan diameter 0,6 mikron
sampai dengan 1 mikron. Streptococcus mutans ditemukan pertama kali oleh Clerke pada tahun 1924, tetapi pada saat itu belum dapat didefinisikan sebagai penyebab karies gigi. Bakteri ini dinamakan mutans karena bakteri ini sering berubah bentuk, kadang berbentuk kokus dan kadang berbentuk batang. Apabila dibiakkan pada BHI broth, maka selnya yang berbentuk kokus akan tersusun seperti rantai gram positif, sedangkan bila dibiakkan pada media agar, bentuk selnya lebih banyak berbentuk batang. Pada tahun 1960, Fitzgerald dan Keyes berhasil membuktikan bakteri tersebut sebagai penyebab karies gigi (Schactele, 1990).
Streptococcus mutans bersifat fakultatif anaerob karena tetap dapat tumbuh
dengan atau tanpa adanya oksigen. Akan tetapi, biasanya pertumbuhan optimal terjadi pada keadaan anaerob yang mengandung 5% CO2 (Wallman dan Krask,
1991).
Streptococcus mutans membuat glukosiltransferase yang dapat menghasilkan
sejumlah polisakarida ekstraseluler (glukan) dari sukrosa. Juga enzim glikosidihidrolase yang memecah gula dari glikoprotein yang larut waktu makan (Rosen dkk., 1991). Menurut Rosen dkk. (1991), ciri lain dari Streptococcus
mutans adalah memiliki berbagai struktur antigenik pada dinding selnya seperti
antigen protein, polisakarida, spesifik peptidoglikan dan asam lipoteloat,
Streptococcus mutans dibedakan menjadi 8 serotipe berdasarkan spesifitas
karbohidrat terhadap dinding sel, dan terdapat protein yang berfungsi sebagai enzim. Enzim tersebut adalah glukosiltransferase (GTF) yang dapat mengubah sukrosa menjadi glukan.
Streptococcus dapat diklasifikasi berdasarkan pada kemampuannya
memfermentasikan bermacam-macam karbohidrat pada spesies yang berbeda. Menurut Burnet dan Schucter (1973), penggolongan streptococcus adalah
sekeliling koloninya dan Streptococcus viridans yang membentuk green zone (hemolisa α) pada sebagian proses hemolisis di sekeliling koloninya
Gambar 5. Pewarnaan Streptococcus mutans pada biakan tioglikolat
Streptococcus mutans termasuk dalam Streptococcus viridans dan juga
digolongkan menjadi 8 serotipe a, b, c, d, e, f, g, h (Rosen dkk., 1991). Penggolongan ini juga didukung oleh analisa dinding sel dan DNA base content (guanin dan sitosin dalam persen). Streptococcus mutans yang termasuk dalam serotipe c dan d merupakan jenis yang paling banyak pada plak dan berhubungan dengan segala macam karies, sedangkan jenis populasi terbanyak kedua adalah
Streptococcus sobrinus dalam serotipe d dan g (Samaranayake dkk., 1996). Streptococcus mutans merupakan penyebab utama karies gigi secara umum
dan dianggap sebagai bakteri yang paling kariogenik di antara semua golongan
streptococcus (Ajdi dkk., 2002). Streptococcus mutans dapat hidup di dalam
mulut hanya bila terdapat permukaan deskuamatif seperti gigi atau geligi tiruan. Kuman ini tidak dapat ditemukan pada bayi yang tidak bergigi, dan baru dapat dideteksi setelah gigi mulai erupsi. Pada orang tua yang sudah tidak bergigi lagi, kuman ini akan menghilang dan akan tampak kembali setelah menggunakan geligi tiruan (Roeslan, 2000). Tempat untuk Streptococcus mutans biasanya pada lubang
(pit) dan celah gigi (fissure) permukaan oklusal, daerah aproksimal, permukaan gigi dekat gusi (Schactele, 1983, cit. Roeslan, 2000).
Streptococcus mutans positif mempunyai hubungan dengan awal terjadinya
karies pada fisura dari permukaan email yang halus (Schactele, 1983, cit. Roeslan, 2000). Bila dikaji lebih mendalam, virulensi Streptococcus mutans dalam kaitannya dengan kariogenitasnya lebih ditekankan pada kemampuannya dalam membentuk plak gigi dari sukrosa. Tanpa adanya plak gigi, tidak akan terbentuk koloni kuman penghasil asam, yang berarti tidak akan ada asam yang akan melarutkan email gigi. Sifatnya membentuk polisakarida ekstraseluler yang tidak larut ini, merupakan kontribusi Streptococcus mutans yang penting dalam menginduksi karies gigi. Mutan-mutan Streptococcus mutans yang tidak mampu mensintesis glukan yang tidak larut, tidak dapat menyebabkan timbulnya karies pada permukaan gigi yang halus (Newburn, 1989, cit. Roeslan, 2000). Walaupun demikian, tidak dapat diabaikan kemungkinan kuman asidogenik-asidurik lain yang terdapat di dalam plak gigi ikut berperan dalam pembentukan asam.
Di balik rasa dan bentuknya yang manis, permen karet mengandung zat yang menyehatkan. Salah satunya xilitol, yang terbukti mampu mengurangi pembentukan karies pada gigi. Tak hanya itu, selama proses mengunyah, mulut memproduksi banyak saliva yang membantu menetralisasi asam akibat makanan yang dapat merusak gigi (Wilz, 2001).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Larmas dkk. (1976 cit. Sudhana, 2002), ditemukan adanya penurunan jumlah Streptococcus mutans di dalam saliva orang dewasa yang setiap hari mengkonsumsi permen karet xilitol selama 1 tahun. Sedangkan menurut Wennerholm dkk. (1994 cit. Sudhana, 2002); Simons (1997
cit. Sudhana 2002); Hildebrandt dan Sparks (2000 cit. Sudhana, 2002), permen
karet xilitol memiliki potensi untuk menurunkan tingkat Streptococcus mutans di dalam saliva.
Menurut penelitian yang dilakukan Gales dan Nguyen (2000), permen karet yang mengandung xilitol lebih efektif mereduksi karies dibandingkan dengan permen karet yang mengandung sorbitol. Belum ada penelitian yang mengemukakan efek mengunyah permen karet yang mengandung sorbitol
terhadap Streptococcus mutans. Oleh karena itu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk membandingkan efek mengunyah permen karet yang mengandung sorbitol dan xilitol terhadap Streptococcus mutans.
BAB III
KERANGKA TEORI DAN HIPOTESIS
A. Kerangka teori
Masalah kesehatan gigi yang sering dijumpai pada masyarakat umum dewasa ini adalah masalah kebersihan mulut (oral hygiene) yang buruk serta penyakit gigi, terutama karies dan penyakit periodontal. Karbohidrat terbukti sangat berperan dalam proses terjadinya karies gigi, karena mudah difermentasi dan diuraikan menjadi asam oleh mikroorganisme pembentuk asam di dalam dan sekitar rongga mulut. Sekarang ini telah banyak digunakan gula alkohol untuk pemanis sebagai pengganti sukrosa, seperti manitol, sorbitol, dan xilitol.
Awalnya, permen karet dipasarkan hanya sebagai makanan ringan semata. Kemudian, ditambah berbagai rasa dan warna agar lebih diterima pasar. Sejak itu, permen karet terkenal akan manfaatnya. Pada saat ini, di pasaran terdapat bermacam-macam pemanis dalam permen karet. Di antaranya ialah yang mengandung sukrosa dan bahan pengganti pemanis lain seperti sorbitol, manitol, dan xilitol
Bakteri penyebab karies yaitu S. mutans, S. sanguis, Lactobacillus
acidophilus, dan Actinomyces viscosus. Bakteri yang paling besar pengaruhnya
ialah bakteri Streptococcus mutans.
Permen karet yang mengandung xilitol lebih efektif mereduksi karies dibandingkan dengan permen karet yang mengandung sorbitol, sehingga mengunyah permen karet yang mengandung xilitol dapat mengurangi jumlah koloni Streptococcus mutans dibandingkan dengan mengunyah permen karet yang mengandung sorbitol.
B. Kerangka konsep
Gambar 6. Kerangka konsep
C. Hipotesis
Berdasarkan kerangka konsep yang telah dikemukakan, dapat dirumuskan hipotesis bahwa mengunyah permen karet mengandung xilitol lebih banyak mengurangi jumlah koloni Streptococcus mutans di dalam plak gigi daripada mengunyah permen karet mengandung sorbitol.
Mengunyah permen karet SORBITOL
Mengunyah permen karet XILITOL
Perubahan jumlah koloni
Streptococcus mutans
dalam plak gigi
Perubahan jumlah koloni
Streptococcus mutans
dalam plak gigi
BAB IV
METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental in vitro pada manusia untuk mengetahui perbedaan jumlah koloni Streptococcus mutans pada individu yang mengunyah permen karet mengandung sorbitol dan xilitol (Gambar 4).
B. Skema Penelitian
Gambar 7. Skema penelitian Pengukuran Streptococcus
mutans awal
Mengunyah permen karet sorbitol
Mengunyah permen karet xilitol
Pengukuran Streptococcus mutans pada hari ke-7, 14, dan 28
C. Populasi Penelitian
Populasi pada penelitian ini adalah karyawan dan karyawati Rumah Sakit Gigi dan Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti. Sampel diambil mulai tanggal 19 Februari sampai 22 Maret 2007 dan dilakukan setiap minggu.
D. Sampel Penelitian
Sampel penelitian ini adalah jumlah koloni kuman Streptococcus mutans yang diambil secara acak (simple random sampling). Terdiri dari 10 individu, dan dibagi dalam dua kelompok. Masing-masing kelompok terdiri atas dari 5 orang. Besarnya sampel (Lampiran B) dihitung dengan rumus:
Sd2(Zα + Zβ)2
n =
( x1 – x2 )2
E. Bahan dan Alat 1. Bahan
a. Plak
b. Lempeng agar darah c. Mediator (Tioglikolat)
2. Alat
a. Alat hitung b. Spatel
c. Swab (cotton bud) d. Lampu spirtus
F. Cara Kerja
Sampel penelitian yang telah dipilih secara random dari populasi penelitian dalam lingkup karyawan-karyawati rumah sakit gigi dan mulut fakultas kedokteran gigi universitas trisakti yang dibagi dalam dua kelompok yaitu kelompok pertama adalah kelompok dengan mengunyah permen karet yang mengandung sorbitol dan kelompok kedua dengan mengunyah permen karet yang mengandung xilitol. Pengukuran jumlah koloni streptococcus mutants dibagi menjadi 2 tahap,
1. Pengukuran jumlah koloni streptococcus mutants awal sebelum diberikan permen karet. Pada tahap ini dilakukan pengukuran jumlah koloni
streptococcus mutans sebelum diberikan permen karet.
2. Pengukuran jumlah koloni streptococcus mutants setelah diberikan permen karet. Pada tahap ini pengukuran jumlah koloni streptococcus mutans dilakukan
a. Hari I
Ambil sampel (plak), masukkan ke tioglikolat. Kocok sampai homogen. Setelah 20 – 30 menit, tuang ke Agar Darah Plater (ADP). Simpan dalam suhu 37°C. Masukkan sungkup atau jaringan anaerob, lihat dalam waktu 3 x 24 jam. Jika dalam waktu 1 x 24 jam terlihat ada pertumbuhan kuman, langsung hitung jumlah koloni.
b. Hari II
Hitung pertumbuhan jumlah koloni untuk waktu 2 x 24 jam, lakukan seterusnya sampai 3 x 24 jam.
c. Hari III
Jika setelah 3 x 24 jam tidak terlihat pertumbuhan kuman, maka hasil perhitungan dinyatakan negatif
G. Penghitungan Streptococcus mutans
Kuman dalam ADP dihitung kasat mata / manual. Pertama ADP dibagi menjadi empat bagian, lalu dihitung salah satu bagiannya saja dengan alat hitung manual. Hasil penghitungan kemudian dikali empat. Bila jumlah kumannya terlalu banyak, maka ADP dibagi delapan bagian, kemudian hitung bagian yang kira-kira paling kelihatan jumlah kumannya. Setelah itu hasil penghitungannya dikali delapan.
H. Analisis Data
Hasil pemeriksaan Streptococcus mutans sebelum dan sesudah mengunyah permen karet yang mengandung sorbitol dan xilitol diuji secara statistic dengan metode Anova 2 dengan taraf kemaknaan α = 0,05.
BAB V
HASIL PENELITIAN
Penelitian untuk mengetahui perbedaan Streptococcus mutans pada individu yang mengunyah permen karet yang mengandung sorbitol dan xilitol, dilakukan pada karyawan-karyawati Rumah Sakit Gigi dan Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti, Jakarta. Subjek terdiri dari 10 individu yang terbagi dalam dua kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari 5 orang. Hasil perhitungan jumlah koloni Streptococcus mutans pada individu yang mengunyah permen karet yang mengandung xilitol dan sorbitol disajikan pada Tabel 1. Rata-rata dan simpang baku hasil pengukuran jumlah koloni Streptococcus mutans disajikan pada Tabel 2. Hasil uji normalitas data disajikan pada Tabel 3. Hasil uji-t untuk menentukan homogenitas data awal disajikan pada Tabel 2. Uji hipotesis disajikan pada Tabel 4. Hasil analisis varian disajikan pada Tabel 5. Hasil perhitungan selisih antarkelompok perlakuan untuk uji HSD disajikan pada Tabel 6. Grafik pola perubahan jumlah koloni Streptococcus mutans disajikan pada Gambar 8.
Tabel 1. Hasil penghitungan jumlah koloni Streptococcus mutans berdasarkan waktu pengukuran dan selisih koloni antara waktu pengukuran
Permen karet S. mutans awal S. mutans 14 hari S. Mutans 28 hari Selisih S. Mutans awal – 14 hr Selisih S. Mutans 14 hr – 28 hr Xilitol 3648 2424 3024 3006 2424 2006 2376 2184 2028 2068 1824 1966 1332 1707 1707 1642 48 840 978 356 182 410 852 321 361 Sorbitol 2808 3912 2616 2520 2964 1488 1236 1454 1452 1812 1176 656 900 1006 1644 1320 2676 1162 1068 1150 312 580 554 446 168 Ket : hr = hari
Tabel 2. Rata-rata dan simpang baku hasil pengukuran jumlah koloni Streptococcus
mutans
Permen karet n Rata-rata Simpang baku
Xilitol sebelum perlakuan 5 2905 509
Xilitol 14 hari setelah perlakuan 5 2132 152 Xilitol 28 hari setelah perlakuan 5 1707 235
Sorbitol sebelum perlakuan 5 2964 557
Sorbitol 14 hari setelah perlakuan 5 1414 101 Sorbitol 28 hari setelah perlakuan 5 1076 369
Tabel 3. Hasil uji normalitas data
Permen karet n D p
Xilitol sebelum perlakuan 5 0,300 0,142
Xilitol 14 hari setelah perlakuan 5 0,260 > 0,15 Xilitol 28 hari setelah perlakuan 5 0,200 > 0,15
Sorbitol sebelum perlakuan 5 0,264 > 0,15
Sorbitol 14 hari setelah perlakuan 5 0,301 0,140 Sorbitol 28 hari setelah perlakuan 5 0,194 > 0,15
Tabel 4. Hasil uji-t untuk menentukan homogenitas awal data
Permen karet n Rata-rata Simpang baku t p Xilitol sebelum perlakuan
Sorbitol sebelum perlakuan
5 5 2905 2132 509 152 - 0,17 0,87
Tabel 5. Hasil analisis varian
Sumber df Jumlah kuadrat Rata-rata kuadrat F p Perlakuan Error Total 5 24 29 1477120 3310665 18081865 2954240 137944 21,42 0,000 * Nilai kritis = 4,37
Perhitungan Honestly Significant Difference (HSD)
MSe 137944
HSD = Nilai kritis = 4,37 = 726
Keterangan : nilai kritis dan MSe(mean square error) didapat dari perhitungan ANOVA
Tabel 6. Hasil perhitungan selisih antarkelompok perlakuan untuk uji HSD
Xilitol awal Xilitol 14 hari Xilitol 28 hari Sorbitol awal Sorbitol 14 hari Xilitol 14 hari 773* Xilitol 28 hari 1198* 425 Sorbitol awal 59 1476* 1257* Sorbitol 14 hari 1491* 718 293 1550* Sorbitol 28 hari 1829* 1056* 631 1888* 338
* ada perbedaan yang bermakna (p < 0,005) antara rata- rata kelompok
Gambar 8. Grafik pola perubahan jumlah koloni Streptococcus mutans
BAB VI
PEMBAHASAN
Penelitian ini dilakukan pada karyawan dan karyawati Rumah Sakit Gigi dan Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti, Jakarta. Subjek penelitian yang dilibatkan dipilih secara random yang terbagi menjadi dua kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari lima individu. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengevaluasi perbedaan efek mengunyah permen karet mengandung sorbitol dan xilitol terhadap jumlah koloni Streptococcus mutans dalam plak gigi. Subjek dipilih dengan alasan memudahkan dalam pengambilan sampel. Selain itu, subjek bekerja di lingkungan kedokteran gigi, yang semestinya mengerti bagaimana cara menjaga dan memelihara kesehatan mulutnya.
Kesehatan gigi dan mulut sangat penting bagi kita. Namun masih banyak masyarakat yang memiliki masalah dalam menjaga kebersihan dan kesehatan gigi dan mulutnya. Penyakit gigi dan mulut merupakan penyakit yang paling banyak ditemukan dalam rongga mulut.
Kehadiran penyakit gigi dan mulut berawal dari adanya plak gigi (Attstrom, 1998). Plak gigi terdiri dari kumpulan bakteri-bakteri yang berkembang biak dalam suatu maktriks, yang melekat erat pada permukaan gigi yang licin. Warna dari plak gigi itu sendiri adalah kuning keabu-abuan yang berbentuk deposit lunak (Susilo, 1996). Pembentukan plak berlangsung setiap kali mengkonsumsi gula dan selama gula berada di dalam mulut.
Karies adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh adanya interaksi antara bakteri plak, diet makanan, dan gigi. Tidak diragukan lagi, bahwa tanpa adanya plak, maka tidak akan timbul karies. Makanan sangat berpengaruh pada pembentukan plak. Plak didominasi oleh kuman Streptococcus mutans yang dapat menyebabkan karies. Streptococcus mutans merupakan kuman yang kariogenik yang mampu segera membenutk asam dari karbohidrat yang dapat diragikan.
Karbohidrat terbukti sangat berperan dalam proses terjadinya karies gigi, karena mudah difermentasi dan diuraikan menjadi asam oleh mikroorganisme pembentuk asam di dalam dan sekitar rongga mulut. Sukrosa adalah golongan karbohidrat disakarida yang mempunyai potensi kariogenik yang paling besar, serta merupakan gula yang paling banyak digunakan dalam diet. Sukrosa dari sisa makanan akan dimetabolisme oleh mikroorganisma kariogenik terutama
Streptococcus mutans yang menghasilkan polisakarida ekstraseluler bentuk
glukan yang berperan dalam pembentukan plak pada permukaan email gigi (Be, 1978; Kidd dan Bechal, 1987).
Sekarang ini telah banyak digunakan gula alkohol untuk pemanis sebagai pengganti sukrosa. Gula alkohol seperti sorbitol, manitol, dan xilitol, mempunyai kelebihan, diantaranya yaitu tidak mudah difermentasikan oleh mikroorganisme rongga mulut (Andrew, 1999, cit. Lestari dan Yuliarsi, 2002). Gula alkohol tersebut memproduksi kalori yang hampir sama dengan sukrosa dan secara alamiah sudah ada dalam konsentrasi rendah, terutama terdapat di dalam buah-buahan (Kidd dan Bechal, 1987; Thylsrup dan Fejershov, 1986).
Pengembangan dari permen karet bebas gula kemungkinan merupakan alternatif non kariogenik daripada permen karet biasa yang mengandung gula. Memang permen karet bebas gula terlihat lebih efektif, namun kedua jenis permen karet tersebut dapat mengurangi respon pembentukan asam (Manning dan Edgar, 1993). Efek mengurangi plak semestinya lebih terlihat pada permen karet yang mengandung xilitol (Makkinen dkk., 2005).
Jumlah Streptococcus mutans di dalam plak gigi dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti diet sukrosa, pemberian fluor secara topikal, pemakaian antibiotika, jumlah Streptococcus mutans di dalam air liur, dan tingkat kebersihan mulut. Faktor air liur, baik komposisi maupun jumlah alirannya, interaksinya antarmikroorganisme di dalam plak, dan daya tahan pejamu, mempengaruhi derajat infeksi Streptococcus mutans (Newburn, 1989, cit, Roeslan, 2000). Faktor yang mempengaruhi jumlah Streptococcus mutans dalam penelitian ini ialah xilitol dan sorbitol yang terdapat dalam permen karet dan merupakan bahan
pemanis pengganti sukrosa. Kedua pemanis ini mempunyai sifat kariogenik yang rendah.
Permen karet banyak digunakan sebagai alat bantu yang cukup potensial untuk meningkatkan aktivitas pengunyahan, sehingga volume saliva akan meningkat dan keadaan ini dapat menurunkan aktivitas pembentukan plak di rongga mulut. Penggunaan permen karet dapat berfungsi untuk merangsang sekresi air liur serta meningkatkan kecepatan sekresi saliva, jadi berguna sebagai pembersih mulut dari sisa makanan karbohidrat yang mudah difermentasi oleh mikroorganisme rongga mulut. Juga pembersihan asam yang terbentuk akibat proses glikolisis karbohidrat oleh mikroorganisme asidogenik, karena kecepatan yang tinggi dari saliva akan mengalir di atas plak (Edgar dan Geddes, 1990). Dengan cara ini diharapkan terjadi penurunan indeks plak dalam mulut dan berkurangnya jumlah koloni Streptococcus mutans.
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental in vitro pada manusia untuk mengetahui perbedaan jumlah koloni Streptococcus mutans di dalam plak gigi individu yang mengunyah permen karet mengandung sorbitol dan dan individu yang mengunyah pemen karet yang mengandung xilitol.
Untuk mengetahui adanya perbedaan efek mengunyah permen karet yang mengandung sorbitol dan xilitol terhadap jumlah bakteri Streptococcus mutans di dalam plak gigi, dilakukan analisis varian satu jalan dengan nilai critical value sebesar 4,37. Hasil perhitungan dibandingkan dengan perbandingan multipel. Hasilnya menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna (p < 0,005) antara efek mengunyah permen karet yang mengandung sorbitol dan xilitol terhadap jumlah koloni Streptococcus mutans di dalam plak gigi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perhitungan rata-rata jumlah
Streptococcus mutans setelah mengunyah permen karet yang mengandung xilitol
selama 28 hari yang tertinggi ialah 1966, sedangkan setelah mengunyah permen karet yang mengandung sorbitol ialah 1644. Perhitungan rata-rata jumlah
Streptococcus mutans setelah mengunyah permen karet yang mengandung xilitol
selama 28 hari yang terendah ialah 1332, sedangkan setelah mengunyah permen karet yang mengandung sorbitol ialah 656. Sehingga didapatkan hasil yang
menunjukkan bahwa rata-rata jumlah Streptococcus mutans setelah 28 hari mengunyah permen karet yang mengandung xilitol (1707 + 235) lebih tinggi dibandingkan jumlah Streptococcus mutans setelah 28 hari mengunyah permen karet yang mengandung sorbitol (1076 + 369).
BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perhitungan rata-rata jumlah
Streptococcus mutans setelah mengunyah permen karet yang mengandung xilitol
selama 28 hari yang tertinggi ialah 1966, sedangkan setelah mengunyah permen karet yang mengandung sorbitol ialah 1644. Perhitungan rata-rata jumlah
Streptococcus mutans setelah mengunyah permen karet yang mengandung xilitol
selama 28 hari yang terendah ialah 1332, sedangkan setelah mengunyah permen karet yang mengandung sorbitol ialah 656. Sehingga didapatkan hasil yang menunjukkan bahwa rata-rata jumlah Streptococcus mutans setelah 28 hari mengunyah permen karet yang mengandung xilitol (1707 + 235) lebih tinggi dibandingkan jumlah Streptococcus mutans setelah 28 hari mengunyah permen karet yang mengandung sorbitol (1076 + 369).
B. Saran
Hasil yang didapat dalam penelitian ini tidak sesuai dengan teori yang dikemukakan sebelumnya, bahwa permen karet yang mengandung xilitol lebih efektif menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans. Hal ini kemungkinan disebabkan lamanya mengunyah permen karet berbeda-beda.
Sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut dengan menetapkan waktu yang sama untuk tiap individu mengunyah permen karet, sehingga didapatkan hasil yang lebih menunjang dari yang didapatkan pada penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
Anderson, M.H. 1993. The Role of Xylitol in Caries Prevention. Journal of
American Dentistry Association. 124:37
Attstrom, R. 1998. Epidemiology and Etiology of Periodontal Disease ant the
Role of Plaque Control in Dental Caries.
http://www.periodont.od.mah.se/interactive/muchenwiter/mechanical2.html.
online
Be Kien Nio. 1978. Preventive Dentistry. Ed. ke-2. Yayasan Kesehatan Gigi Indonesia, Bandung. Hlm. 14-27
Bouswma, O.J. 1996. The Status, Future, and Problems of Oral Antiseptic.
http://www.ichf.org.publi/chxrew.htm. online
Burnett, G.W. dan Schuster, G.S. 1973. Pathogenic Microbiology. Mosby. St. Louis. Hlm. 1987-1991
Gales, M.A. dan Nguyen, T.M. 2000. Sorbitol Compared with Xylitol in
Prevention of Dental Caries. Am Pharmacother. 34:98-100
Kidd, E.A.M dan Bechal, S.J. 1992. Dasar-dasar Karies Penyakit dan
Penanggulangannya. Cetakan ke-2. Penerbit buku kedokteran. Jakarta. Hlm.
1, 3-4
Lehner, T. 1995. Imunologi pada Penyakit Mulut. Penerjemah: Farid R. dan Suryadhana, N.G. EGC. Jakarta. Hlm. 9-25, 43-69
Lestari, S. dan Yuliarsi Y. 2002. Pengaruh Mengunyah Permen Karet
Mengandung Sorbitol dan Xilitol pada Ibu Hamil terhadap Jumlah Streptococcus mutans. M.I. Kedokteran Gigi. Ed. FORIL. Jakarta. Hlm.
494-497
Peldyak, J. 1996. Xylitol, Sweeten Your Smile. Ed. Ke-2. Advance Development.inc, Mt. Pleasant. Hlm. 2-14, 36-9, 83-4, 121-6
Pittford, T.R. 1993. Restorasi Gigi. Ed.ke-2. Jakarta. Hlm.1
Roeslan, B.O. 2001. Isolasi IgAs dari Air Ludah Tiga Individu dengan Kondisi Karies Berbeda. Majalah Ilmiah Kedokteran Gigi FKG Usakti. 45:113 Rossen, S., dkk. 1991. Essential Dental Microbiology. Prentice-Hall International.
Ohio. Hlm. 157-164
Schactele, C.F. 1990. Dental Caries. Dalam Oral Microbiology and Infectious
Disease. Schuuster, G.S. (Editor). Ed. Ke-2. Williams and Wilkins.
Baltimore. London. Hlm. 197-222
Soesilo, D. Santoso, R. J. Diyatri, I. 2005. Peranan Sorbitol dalam Mempertahankan Kestabilan pH Saliva pada Proses Pencegahan Karies.
Majalah Kedokteran Gigi. Vol. 38. No. 1. Jakarta. Hlm. 25-28
Sturdevant’s, C.M. 2002. Art and Science of Operative Dentistry. Ed.ke-4. T.M. Robertson,dkk (editor). Mosby. St. Louis. Hlm.6-12
Sudhana, W. 2002. Permen Karet Xilitol: Upaya Alternatif dalam Mencegah
Streptococcus mutans Penularan Dini dari Ibu ke Anak. M.I. Kedokteran
Susilo, A. 1996. Kontrol Plak sebagai Upaya Pencegahan dan Perawatan Penyakit Periodontal. Ceramah Poster. Rimbawan. Hlm. 770-772
Thylstrup, A. dan Fejerskov, O. 1986. Textbook of Cariology. Ed. Ke-1. Muunskagard, Copenhagen. Hlm. 28-39, 89-102, 151, 259-262, 286-287, 340-41
LAMPIRAN A
UNIVERSITAS TRISAKTI FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
Jl. Kyai Tapa, Grogol, Jakarta Barat 11440 Telp (021) 5672731 (Hunting), Faks (021) 5655787
SURAT PERSETUJUAN MENJADI SUBJEK PENELITIAN
Saya yang bertandatangan di bawah ini:
Nama : ... Usia : ... Jenis kelamin : ... Alamat : ... ... Pekerjaan : ... No. telp : ... Setelah mendapatkan keterangan secukupnya dan menyadari atas manfaat dan resiko penelitian dengan judul:
... ... Dengan sukarela menyetujui untuk mengikutsertakan dalam uji klinik tersebut dengan catatan, bila suatu waktu merasa dirugikan dalam bentuk apapun, saya berhak membatalkan persetujuan ini.
Jakarta, ...
Penanggung jawab penelitian Yang menyetujui
LAMPIRAN B
LAMPIRAN B
PERHITUNGAN BESAR SAMPEL
Sd2(Zα + Zβ)2 n = ( x1 – x2 )2 (0,2075) 2 (1,645 + 1,282) 2 n = (6,396-6,610) 2 n = 9,22
Hasil perhitungan sampel dari seluruh populasi adalah 9,22 sampel, dibulatkan menjadi 9 sampel.
Keterangan:
n = Besar sampel
Sd = Rata-rata simpang baku kedua kelompok Zα = Tingkat kemaknaan (α = 0,05)
Zβ = Kekuatan uji (80 %)
x1 = Rata-rata xilitol sebelum mengunyah permen karet