PENGARUH CAPITAL ADEQUACY RATIO, NON PERFORMING FINANCING, FINANCING TO DEPOSIT RATIO,
DAN RASIO BIAYA OPERASIONAL PENDAPATAN OPERASIONAL TERHADAP TINGKAT PROFITABILITAS (ROA) PADA
BANK SYARIAH MANDIRI ( Periode Januari 2010 – Desember 2014)
TESIS
Diajukan Guna Memenuhi Syarat
Memperoleh Gelar Magister dalam Program Studi Ekonomi Syariah
Oleh:
BUDI ARDIANSYAH NIM: F14213216
PASCASARJANA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
” PENGARUH CAPITAL ADEQUACY RATIO, NON PERFORMING
FINANCING, FINANCING TO DEPOSIT RATIO DAN BIAYA
OPERASIONAL PENDAPATAN OPERASIONAL TERHADAP TINGKAT PROFITABILITAS (ROA)
PADA PT. BANK SYARIAH MANDIRI” (Periode Januari 2010 – Desember 2014)
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana tingkat
profitabilitas (ROA) pada PT. Bank Syariah Mandiri pada periode
Januari 2010 sampai dengan Desember 2014. Materi penelitian ini terdiri
dari factor yang mempengaruhi tingkat profitabilitas (ROA) yaitu antara
lain: CAR, NPF, FDR, dan BOPO serta menggambarkan pengaruh yang
paling kuat dalam meningkatkan profitabilitas (ROA) di PT. Bank
Syariah Mandiri.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, data diperoleh
dengan setting alamiah. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan
menganalisa laporan keuangan perusahaan periode Januari 2010 sampai
dengan Desember 2014. Pendekatan fenomenologi digunakan untuk
mendiskripsikan pemahaman yang mendalam dari analisis pengaruh
dalam meningkatkan profitabilitas (ROA) di PT. Bank Syariah Mandiri.
Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa secara umum
seluruh variabel memiliki pengaruh terhadap peningkatan profitabilitas
(ROA) pada PT Bank Syariah Mandiri
PERNYATAAN KEASLIAN ……….. v
PERSETUJUAN ....….………... vi
PENGESAHAN TIM PENGUJI………... vii
BAB I PENDAHULUAN………... 1
A. Latar Belakang Masalah.………... 1
B. Identifikasi Dan Batasan Masalah………... ... 9
C. Rumusan Masalah………... 11
D. Tujuan Penelitian………... 11
E. Kegunaan Penelitian ... 12
F. Penelitian Terdahulu ... 12
G. Sistematika Penulisan ... 14
BAB II KAJIAN PUSTAKA..…….………... ….. 16
C. Teknik Analisis Statistik Data ……….. 30
D. Kerangka Konseptual ... 35
E. Sistematika Penulisan ... 35
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 65
A. Hasil Penelitian ... 65
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 77
A. Kesimpulan ... 77
B. Saran ... 78
DAFTAR PUSTAKA ... 79
LAMPIRAN ... 80
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pertumbuhan dan perkembangan lembaga perbankan syariah mengalami
kemajuan yang sangat pesat, baik di dunia internasional maupun di Indonesia.
Konsep perbankan dan keuangan Islam yang pada mulanya di tahun 1970-an
hanya merupakan diskusi teoritis, kini telah menjadi realitas faktual yang
mencengangkan banyak kalangan. Penerapan ekonomi yang Islami menjadi
fenomena baru di berbagai Negara, naik di Asia, Eropa, Afrika, hingga Amerika.
Khusus di Indonesia, ekonomi Islam mulai diterapkan dalam bentuk Institusi
pada tahun 1991 dengan bentuk baitul mal wat tamwil (BMT), Pada tahun 1992
berdiri Bank Syariah pertama yaitu Bank Muamalat dan pada tahun 1999 berdiri
bank syariah terbesar di Indonesia yaitu Bank Syariah Mandiri.
Perkembangan pesat tersebut dapat terlihat ketika pasca krisis moneter
yang menerpa Indonesia, dimana bank syariah termasuk bank yang kokoh dalam
menghadapi krisis moneter yang menerpa Indonesia. Meski merupakan system
yang baru di dalam dunia jasa keuangan, namun, diakui oleh banyak kalangan
bahwa system yang dianut dapat menjawab tantangan krisis. Maka dengan fakta
tersebut, pemerintah berupaya mendorong perkembangan perbankan syariah
menjadi lebih baik setiap tahunnya. Bank syariah hadir sebagai sarana alternatif
jasa yang semakin lengkap untuk masyarakat Indonesia, yang mayoritasnya
adalah muslim dan pada akhirnya, Perbankan Syariah dan Perbankan
2
Konvensional secara sinergis mendukung mobilisasi dana kepada masyarakat.
Dan perbedaan diantara keduanya adalah meliputi perbedaan dari asasnya,
perbedaan aspek pengaturan dan pengoperasionalnya, dan perbedaan produk.
Tujuan fundamental perbankan syariah adalah untuk mendorong dan
mempercepat kemajuan ekonomi masyarakat dengan melakukan kegiatan
perbankan, financial, komersial, dan investasi sehingga meningkatkan
kesempatan kerja dan kesejahteraan ekonomi sesuai dengan syariah Islam.
Tujuan bisnis perbankan syariah tidak berbeda dengan perbankan konvensional
yaitu memperoleh keuntungan optimal dengan jalan memberikan layanan jasa
keuangan kepada masyarakat dengan prinsip syariah.
Target utamanya adalah kesejahteraan ekonomi, perluasan kesempatan
kerja, dan tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi, keadilan sosio-ekonomi
serta distribusi pendapatan dan kekayaan yang wajar, stabilitas nilai uang, dan
mobilisasi serta investasi tabungan untuk pembangunan ekonomi yang mampu
memberikan jaminan keuntungan (bagi hasil) kepada semua pihak yang terlibat.
Tampaknya dimensi religius harus dikemukakan sebagai tujuan akhir, dalam arti
bahwa peluang untuk melakukan operasi keuangan yang halal jauh lebih penting
dibanding model operasi keuangan itu sendiri .
Dengan lahirnya bank Islam yang beroperasi berdasarkan sistem bagi hasil
sebagai alternative pengganti bunga pada bank-bank konvensional, merupakan
peluang bagi umat Islam untuk memanfaatkan jasa bank seoptimal mungkin,
merupakan peluang karena umat Islam akan berhubungan dengan perbankan
3
di dalam memobilisasi dana masyarakat untuk pembiayaan pembangunan
ekonomi umat berdasarkan kepercayaan dan kepada yang berhak menerimanya.
Dalam Al Qur’an surat An-Nisaa’ ayat 58 disebutkan:
Artinya:
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat. 1
Kemudian dalam syarat transaksi sesuai syariah antara lain adalah tidak
mengandung unsur kedzaliman, bukan riba, tidak membahayakan pihak sendiri
atau pihak lain, tidak ada penipuan (gharar), tidak mengandung materi-materi
yang diharamkan dan tidak mengandung unsur judi (maishir). Dengan nilai
tersebut maka banyak umat Islam sangat mendambakan adanya bank yang dapat
menjalankan syariah Islam. Peluang tersebut tidak hanya dirasakan oleh umat
Islam saja tetapi juga umat non muslim, karena bank Islam dinilai terbukti
mampu menjadi sarana penunjang permbangunan ekonomi yang handal dan
dapat beroperasi secara sehat, karena didalam operasinya terkandung misi
kebersamaan antara nasabah dengan bank. Selain itu bank Islam mampu hidup
berdampingan secara serasi dan kompetisi secara sehat dan wajar dengan
bank-bank konvensional yang telah ada, Karena bank Islam tidak bersifat
1
4
bank-bank konvensional yang telah ada, karena bank Islam tidak bersifat
eksklusif untuk umat Islam saja, tetapi tidak ada larang bagi umat non muslim
untuk melakukan hubungan dengan bank Islam. Bahkan pengelolaannya pun
dapat dilakukan oleh non muslim, seperti terjadi pada bank Islam di London,
Luxemburg, Switzerland, dan bank-bank asing Pakistan.
Sebaiknya ada Bank syariah dengan asset yang minimal menyamai Bank
Konvensional karena dengan adanya sebuah bank besar syariah maka dapat
menjadi jangkar bagi Bank Umum Syariah lainnya di Indonesia karena
berdasarkan data statistik perbankan indonesia, aset Bank Umum Syariah pada
November 2014 senilai Rp. 197,5 trilliun mengalami kenaikan senilai Rp. 23,5
trilliun dari periode yang sama dari tahun sebelumnya senilai Rp. 174 trilliun
tetapi apabila dibandingkan dengan aset pada tahun 2013 aset yang di miliki
Bank umum syariah senilai Rp. 180,36 trilliun mengalami kenaikan Rp. 42,77
triliun jika dibandingkan dengan aset pada tahun 2012. Rasio kredit bermasalah
atau non performing financing (NPF) per bulan November tercatat sebesar 4,86%
lebih tinggi jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun
sebelumnya yaitu sebesar 3,08%. rasio kecukupan modal perbankan syariah atau
CAR mencapi 15,66%. Rasio biaya operasional terhadap pendapatan
operasional (BOPO) perbankan syariah pun pada November 2014 sebesar 78,22%
mengalami penurunan bila dibandingkan pada periode yang sama tahun
sebelumnya mencapai 83,88%. Jumlah bank umum syariah yang ada di
Indonesia per November 2014 sebanyak 12 buah. Selain itu terdapat 22 unit
5
terjadi saat ini bahwa pertumbuhan ekonomi yang melambat mengimbas sektor
perbankan syariah Tanah Air. Hal ini terlihat dari kinerja bank syariah milik
bank BUMN. Dari 4 bank syariah BUMN, hanya 1 bank yang mengalami
kenaikan laba di tahun 2014. Bank Syariah Mandiri mencetak laba hanya
sebesar Rp 71,8 miliar. Bank ini mengalami penurunan laba yang cukup dalam
jika dibandingkan posisi laba tahun 2013 yang mencapai Rp 810,7 miliar.
Hingga 2014, aset Bank Syariah Mandiri mencapai Rp66,94 triliun atau hanya
tumbuh sekitar 4,3% secara year on year dari posisi Rp64,13 triliun. Sepanjangn
tahun 2014 seluruh industri perbankan termasuk perbankan syariah mengalami
beragam tekanan. Pertumbuhan ekonomi melambat dari 5,8% pada 2013
menjadi 5,1% di penghujung 2014. Industri juga dihimpit beban bunga yang
terus mendaki, menyusul keputusan bank sentral menaikkan BI Rate. Sejak Juni
2013 hingga saat ini, BI Rate naik 200 basis poin. Yuslam Fauzi, Ketua Umum
Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo), menilai perlambatan ekonomi
menyebabkan volume pembiayaan turut melambat dan di sisi lain, kualitas aset
pembiayaan terus mengalami pemburukan. Pembiayaan syariah hingga
November 2014 hanya tumbuh 9,7% menjadi Rp198,376 triliun. Ini juga level
terendah dalam empat tahun terakhir. Sementara itu, jumlah pembiayaan macet
atau kolektabilitas tingkat lima naik 73,45% menjadi Rp5,36 triliun dan jumlah
pembiayaan tidak lancar juga naik 78% sehingga NPF kotor pun terkerek.
Kenaikan NPF akan membentuk biaya pencadangan sehingga ujungnya laba
perbankan syariah ambles. Hingga November 2014, laba perbankan hanya
Rp1,89 triliun, turun hampir separuhnya dari pencapaian tahun lalu sebesar
3
6
Rp3,44 triliun. 3
Direktur Eksekutif Perbankan Syariah Direktorat Perbankan Syariah OJK,
Ahmad Buchori, mengatakan pihaknya kini sedang menyiapkan Roadmap
Perbankan Syariah sebagai arah kebijakan pengembangan perbankan syariah
2015-2019. Rencananya roadmap tersebut akan diluncurkan pada event Pasar
Rakyat Syariah 2015 yang digelar 14 Juni 2015 mendatang. Ada tujuh arah
kebijakan pengembangan perbankan syariah dalam roadmap tersebut. Pertama,
meningkatkan sinergi hubungan antar regulator dengan membentuk Komite
Nasional Keuangan Syariah yang digagas oleh Bappenas. Langkah ini dilakukan
untuk mendukung pengembangan perbankan syariah sebagaimana yang
dilakukan oleh Malaysia melalui Malaysia International Islamic Financial
Centre (MIFC). Sejak 1992 pengembangan keuangan syariah, termasuk
perbankan syariah di Indonesia dilakukan secara bottom up atau dari bawah.
Arah pengembangan kedua dalam Roadmap Perbankan Syariah adalah edukasi
untuk meningkatkan pemahaman masyarakat agar mereka bisa langsung
memanfaatkan jasa atau produk keuangan syariah. Ketiga, meningkatkan
kualitas dan kuantitas SDM keuangan syariah. Keempat, peningkatan modal
skala usaha yang terkait pula hubungannya dengan efisiensi dan permodalan.
Kelima, produk yang harus beragam, variatif dan sesuai ekspektasi dan harapan
masyarakat. Buchori menilai saat ini relatif produk perbankan syariah belum
banyak yang sesuai dengan harapan masyarakat. Keenam, yaitu meningkatkan
sinergi antara anak usaha dan induk bank syariah. Arah pengembangan ini
7
yang berupa bank syariah. Ketujuh adalah penyempurnaan peraturan dengan
meningkatkan optimalisasi dari ketentuan, aturan, dan pengawasan di OJK. 4
Berdasarkan fenomena dan pemaparan pelaku ekonomi syariah maka
perlu adanya monitoring kinerja untuk mengetahui bagaimana kinerja keuangan
suatu bank apakah dalam kategori baik/buruk, salah satunya dapat diukur
dengan menggunakan rasio keuangan, penggunaan rasio keuangan ini
merupakan cara yang paling banyak digunakan dalam pengukuran kinerja suatu
bank baik yang konvensional maupun yang syariah. Rasio ini digunakan untuk
mengetahui keadaan dan perkembangan keuangan bank terutama bagi pihak
debitur. Hasil analisis dapat digunakan untuk melihat kelemahan financial bank
selama periode waktu berjalan. Kelemahan yang terdapat di bank dapat segera
diperbaiki, sedangkan hasil yang cukup baik untuk dipertahankan pada waktu
yang akan datang. Selanjutnya analisis histories tesebut dapat digunakan untuk
penyusunan rencana dan kebijakan di masa mendatang. Rasio-rasio tersebut
yaitu likuiditas, rentabilitas, resiko usaha bank, permodalan, dan efisiensi usaha.
Untuk mengetahui bagaimana kinerja keuangan suatu bank apakah dalam
kategori baik/buruk, salah satunya dapat diukur dengan menggunakan rasio
keuangan, penggunaan rasio keuangan ini merupakan cara yang paling banyak
digunakan dalam pengukuran kinerja suatu bank baik yang konvensional
maupun yang syariah. Rasio ini digunakan untuk mengetahui keadaan dan
perkembangan keuangan bank terutama bagi pihak debitur. Hasil analisis dapat
digunakan untuk melihat kelemahan financial bank selama periode waktu
berjalan. Kelemahan yang terdapat di bank dapat segera diperbaiki, sedangkan
4
8
hasil yang cukup baik untuk dipertahankan pada waktu yang akan datang.
Selanjutnya analisis histories tesebut dapat digunakan untuk penyusunan
rencana dan kebijakan di masa mendatang. Rasio-rasio tersebut yaitu likuiditas,
rentabilitas, resiko usaha bank, permodalan, dan efisiensi usaha.
Penilaian tingkat kesehatan salah satunya menggunakan rasio
profitabilitas atau disebut juga rentabilitas atau kemampuan menghasilkan laba.
Rasio profitabilitas di terjemahkan sebagai kemampuan bank untuk
menghasilkan laba. Umumnya dikenal 6 tolak ukur tingkat profitabilitas, yaitu
Net Profit Margin (NPM), Gross Profit Margin GPM), Assets Utilization,
Return On Asset (ROA), Earnings Per Share, dan Return On Equity (ROE).
Menurut tata cara penilaian tingkat kesehatan ada dua metode yang menjadi
ukuran tingkat kesehatan bank dilihat dari rentabilitasnya. Dua metode itu
adalah Return On Asset (ROA) dan Beban Operasional Pendapatan Operasional
(BOPO). Dalam penelitian ini penulis menggunakan Return On Asset (ROA)
sebagai tolak ukur.
Dapat dilihat dari Surat Edaran Bank Indonesia No. 26 / 5 / BPPP
mengenai pengukuran tingkat kesehatan yang dilakukan dengan
mengkuantifikasikan CAMEL dan melihat kepatuhan pada ketentuan
pemerintah. CAMEL terdiri dari faktor permodalan (capital), kualitas aktiva
produktif (asset), manajemen (management), rentabilitas (earning), dan
likuiditas (liquidity). Sedangkan kepatuhan pada ketentuan pemerintah dapat
dilihat daridari judgment, pemberian batas maksimum pemberian kredit
9
Dalam CAMEL yang dibahas mengenai likuiditas sebuah bank, salah satu
indikatornya adalah dengan mengukur FDR dari sebuah bank. Bank Indonesia
menetapkan batas maksimum rasio pemberian kredit terhadap dana yang
terhimpun atau FDR adalah maksimal 110% dan standar besar tingkat FDR yang
optimal adalah 85%-110%. Semakin besar FDR maka semakin besar
profitabilitas bank. Tetapi apabila FDR terlalu besar maka bank tersebut
cenderung tidak likuid.
Berdasarkan analisa tersebut maka penulis tertarik untuk melakukan
penelitian dengan judul “Pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR), Non
Performing Financing (NPF), Financing to Deposit Ratio (FDR), dan Rasio
Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) terhadap Tingkat
Profitabilitas (ROA) pada Bank Syariah Mandiri” ( Periode Januari 2010
10
B.Identifikasi dan Batasan Masalah
1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan pada latar belakang masalah tersebut, maka dapat
ditemukan identifikasi masalah sebagai berikut:
a. Penetapan CAR (Capital Adequacy Ratio) sebagai variable yang
mempengaruhi profitabilitas didasarkan hubungannya dengan tingkat
risiko bank. Tingginya rasio modal dapat melindungi deposan dan
memberikan dampak meningkatnya kepercayaan masyarakat kepada bank.
Manajemen bank perlu mempertahankan atau meningkatkan nilai CAR
sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia. Dengan modal yang cukup maka
bank dapat melakukan pengembangan usaha dengan lebih aman dalam
rangka meningkatkan profitabilitasnya.
b. Penetapan FDR ( Financing To Deposit Ratio ) sebagai variable yang
mempengaruhi profitabilitas, FDR adalah rasio antara jumlah pembiayaan
yang diberikan bank dengan dana yang diterima oleh bank. Semakian
rendah FDR menunjukkan kurangnya efektifitas bank dalam pembiayaan
dan sebaliknya semakin tinggi FDR, maka semakin meningkat pula
profitabilitas bank menunjukkan efektifitas penyaluran dananya.
c. Penetapan NPF (Non Performing Financing) menunjukkan resiko
pembiayaan. Semakin tinggi rasio ini maka menunjukkan kualitas
11
pembiayaan yang mempengaruhi profitabilitas bank. NPF diketahui
dengan cara menghitung pembiayaan non lancar terhadap total
pembiayaan. Adanya pembiayaan bermasalah dapat mengakibatkan
kerugian dengan tidak adanya perolehan pendapatan dari pembiayaan
yang dilepaskan.
d. Penetapan BOPO ( Rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan
Operasional ) menunjukkan rasio yang mengukur efisiensi dan efektifitas
operasional suatu perusahaan dengan cara membandingkan satu dengan
yang lainnya, Semakin rendah BOPO berarti semakin efisien bank dalam
mengendalikan biaya operasionalnya.
2. Batasan Masalah
Berdasarkan uraian pada masalah diatas maka dalam hal ini penulis
membatasi permasalahan yang diteliti yaitu:
1. Variabel yang akan digunakan untuk meneliti adalah CAR, FDR, BOPO
dan NPF terhadap Profitabilitas Bank Syariah Mandiri
2. Data yang digunakan dalam penelitian adalah data laporan keuangan PT
Bank Syariah Mandiri periode Januari 2010 sampai dengan September
2014
3. Tempat penelitian ini adalah PT Bank Syariah Mandiri
C.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan sebelumnya, maka
12
dirumuskan sebagai berikut :
1. Apakah CAR, NPF, FDR, dan BOPO secara simultan berpengaruh signifikan
terhadap tingkat profitabilitas (ROA) pada bank Syariah Mandiri?
2. Apakah CAR, NPF, FDR, dan BOPO secara parsial berpengaruh signifikan
terhadap tingkat profitabilitas (ROA) pada bank Syariah Mandiri?
3. Bagaimana hubungan antar variable (CAR, NPF, FDR, dan BOPO) dengan
tingkat profitabilitas (ROA) pada bank Syariah Mandiri?
D. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui apakah CAR, NPF, FDR, dan BOPO secara simultan
berpengaruh signifikan terhadap tingkat profitabilitas (ROA) pada bank
Syariah Mandiri.
2. Untuk mengetahui apakah CAR, NPF, FDR, dan BOPO secara parsial
berpengaruh signifikan terhadap tingkat profitabilitas (ROA) pada bank
Syariah Mandiri.
3. Untuk menemukan hubungan antara variabel CAR, NPF, FDR, dan BOPO
dengan tingkat profitabilitas (ROA) pada bank Syariah Mandiri.
E. Kegunaan Penelitian
1. Bagi penulis, untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan penganalisaan
laporan keuangan bank terutama rasio-rasio yang penting bagi bank Syariah
Mandiri.
13
dapat meningkatkan efektifitas dalam penghimpunan dana dan penyaluran
dana dalam bentuk pembiayaan.
3. Bagi masyarakat adalah memberikan kontribusi positif dalam rangka
menyediakan informasi tentang kondisi PT Bank Syariah Mandiri.
F. Penelitian Terdahulu
1. Penelitian Taufiq Muttaqin
Penelitian yang berjudul Pengaruh CAR, LDR, KAP dan NPL
Terhadap Tingkat Profitabilitas (ROA) BPR Syariah Rinjani. Metode
penelitian yang digunakan analisa deskriptif dengan pendekatan survey, data
kuantitatif laporan keuangan BPR Syariah Rinjani.
Hasil penelitian adalah untuk uji keseluruhan menunjukkan bahwa
terdapat pengaruh secara keseluruhan dari CAR, NPL, KAP dan LDR
terhadap ROA BPR Syariah Rinjani sedangkan hasil penelitian individu
dengan menggunakan dua subhipotesis, subhipotesis pertama diterima yang
artinya terdapat pengaruh yang signifikan antara CAR dengan tingkat
profitabilitas bank dengan besarnya total pengaruh langsung dan tidak
langsung sebesar 30,6% sedangkan subhipotesis keduanya ditolak yang
berarti tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara CAR terhadap
profitabilitas ROA BPR Syariah Rinjani.
2. Penelitian Anggi Suwandhani
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat
pengaruh yang signifikan dan seberapa besar pengaruh Loan to Deposit Ratio
14
(ROA). Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode
asosiatif dengan pendekatan survey. Sementara untuk menganalisis data,
digunakan pendekatan kuantitatif, yaitu dengan teknik analisis korelasi dan
analisis regresi linier sederhana sebagai alat bantu perhitungannya.
Hasil penelitian menunjukkan hubungan yang sangat kuat antara
variabel X dengan variabel Y. kemudian dari hasil perhitungan koefisien
determinasi (r2) didapat nilai sebesar 65,28% atau dengan kata lain tingkat
Loan to Deposit Ratio (LDR) berpengaruh sebesar 65,28% terhadap tingkat
profitabilitas bank. Uji statistic t didapat nilai t hitung sebesar 4,945 dan t
table sebesar 2,160. dengan demikian nilai t hitung lebih besar dibandingkan
dengan t table. Hal ini berarti Ho ditolak dan Ha diterima, sehingga potensi
yang diajukan bahwa tingkat Loan to Deposit Ratio (LDR) mempunyai
pengaruh yang signifikan terhadap profitabilitas bank dapat diterima.
3. Penelitian M. Khoirul Anam
Penelitian tentang pengaruh rasio CAMEL terhadap prediksi
keuntungan pada industry keuangan mikro syariah di Tangerang. Metodologi
yang digunakan adalah regresi linier berganda dengan metode purposive
sampling, dari pengujian terhadap 8 rasio yang terdiri dari Capital Adequacy
Ratio, Financing Risk Ratio, Asset Utilization, Net Present Value. Hasilnya
rasio NPM dan BOPO berpengaruh negatif dari signifikan pada alpha 5%.
Penelitian ini berbeda dengan penelitian-penelitian sebelumnya. Dalam
penelitian ini, walaupun penulis juga menggunakan analisis secara kuantitatif,
15
pada masing-masing variable independen, dalam SPSS dijelaskan bahwa
variable independen juga dapat menjadi variable perantara, variable independen
yang dalam fungsinya juga sebagai variable perantara untuk mengetahui
seberapa besar pengaruh CAR, NPF, FDR, dan BOPO Terhadap Tingkat
Profitabilitas (ROA) Pada Bank Syariah Mandiri.
G. Sistematika Penulisan
Bab pertama tentang pendahuluan yang meliputi latar belakang
masalah, identifikasi dengan batasan masalah, rumusan masalah, tujuan
penelitian, kegunaan penelitian, hasil penelitian terdahulu, dan sistematika
penulisan.
Bab kedua tentang landasan teori mengenai laporan keuangan yang
meliputi tinjauan umum laporan keuangan, sumber dana bank syariah,
komponen – komponen laporan keuangan, definisi profitabilitas, dan rasio
kesehatan bank.
Bab ketiga terkait dengan metode penelitian yang meliputi: jenis
penelitian, tehnik pengumpulan data, tehnik analisis statistik data, kerangka
konseptual, gambaran umum Bank Syariah Mandiri dan indikator tingkat
kesehatan Bank Syariah Mandiri periode 2010 sampai dengan 2014.
Bab keempat mengenai pemaparan dan pembahasan hasil penelitian
dan analisis data.
16
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Kerangka Teoritik
1. Laporan Keuangan Bank Syariah
Laporan keuangan pada sektor perbankan syariah, sama seperti sektor
lainnya, adalah untuk menyediakan informasi yang menyangkut posisi
keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan aktifitas operasi bank
yang bermanfaat dalam mengambil keputusan.
Laporan keuangan (financial statement) menyimpulkan setiap kegiatan
dalam setiap bidang fungsional. Neraca mewakili kesimpulan tentang
keputusan manajemen yang telah diambil untuk bidang-bidang fungsional
dan pernyataan Laba-Rugi mengukur tingkat kemampuan menghasilkan laba
(profitability) dari keputusan manajemen selama periode tertentu. Financial
statements terdiri atas 5 :
a. Laporan Laba/Rugi (income statements) adalah laporan yang
menggambarkan kinerja dan kegiatan usaha bank syariah pada suatu
periode tertentu yang meliputi pendapatan dan beban yang timbul pada
operasi utama bank dan operasi lainnya. Penyusunan laporan laba rugi
didasarkan pada pendapatan dan biaya diakui secara akrual sedangkan
perhitungan distribusi pendapatan/hasil usaha menggunakan dasar kas.
17
b. Neraca (balancesheet) berisi laporan sistematis keadaan aktiva/assets,
utang/ liabilities, dan modal sendiri/owners’ equity perusahaan pada saat
tertentu.
c. Laporan arus kas (statements of cash flows) merupakan laporan yang
menunjukkan penerimaan dan pengeluaran kas dan setara kas pada bank
selama periode tertentu yang dikelompokkan dalam aktivitas operasi,
investasi, dan pendanaan selama satu periode tertentu.
d. Laporan perubahan ekuitas adalah laporan yang menunjukkan perubahan
ekuitas bank yang menggambarkan peningkatan atau penurunan aktiva
bersih atau kekayaan selama periode pelaporan.
e. Laporan perubahan dana investasi terikat (mudharabah muqayyadah)
adalah laporan dari akad mudharabah dimana shahibul maal memberikan
batasan kepada mudharib mengenai tempat, cara, dan objek investasi.
Laporan perubahan dana investasi terikat memisahkan dana investasi
terikat berdasarkan sumber dana dan memisahkan investasi berdasarkan
jenisnya.
f. Pelaporan sumber dan penggunaan dana zakat, infaq, dan sadaqah
merupakan laporan menunjukkan sumber dan penggunaan dana selama
jangka waktu tertentu, serta saldo ZIS pada tanggal tertentu.
g. Laporan sumber dan penggunaan dana qard merupakan laporan yang
menunjukkan sumber dan penggunaan dana selama suatu jangka waktu
18
h. Catatan atas laporan keuangan merupakan bagian tak terpisahkan dari
laporan keuangan. Catatan atas laporan keuangan memberikan penjelasan
mengenai gambaran umum bank syariah, ikhtisar kebijakan akuntansi,
penjelasan pos-pos laporan keuangan dan informasi penting lainnya.
2. Fungsi Laporan Keuangan
Sebagai bahan informasi yang dapat digunakan oleh pihak-pihak
yang membutuhkan, laporan keuangan setidaknya harus berfungsi sebagai
berikut 6 :
a. Menyediakan informasi yang bermanfaat bagi pihak-pihak yang
berkepentingan dalam pengambilan keputusan yang rasional. Pihak -
pihak yang berkepentingan antara lain:
1) Sahibul maal / pemilik dana
2) Kreditur
3) Pembayar zakat, infaq, dan sadaqah
4) Pemegang saham
5) Otoritas pegawai
6) Bank Indonesia
7) Pemerintah
8) Lembaga penjamin simpanan
9) Masyarakat
b. Informasi dalam menilai prospek arus kas, bertujuan untuk memberikan
19
dalam penerimaan kas di masa depan atas deviden, bagi hasil, dan hasil
dari penjualan, pelunasan (redemption), dan jatuh tempo dari surat
berharga atau pinjaman.
c. Informasi atas sumber daya ekonomi tentang sumber daya ekonomis bank
(economic resources), kewajiban bank untuk mengalihkan sumber daya
tersebut kepada entitas lain atau pemilik saham serta kemungkinan
terjadinya transaksi, dan peristiwa yang dapat mempengaruhi perubahan
sumber daya tersebut.
d. Informasi mengenai kepatuhan bank terhadap prinsip syariah serta
informasi mengenai pendapatan dan pengeluaran yang tidak sesuai dengan
prinsip syariah dan pegelolaan pendapatan dana bank tersebut.
e. Informasi untuk membantu pihak terkait di dalam menentukan zakat bank
atau pihak lainnya.
f. Informasi untuk membantu mengevaluasi pemenuhan bank terhadap
tanggung jawab amanah dalam mengamankan dana, menginvestasikannya
pada tingkat keuntungan rasional.
g. Informasi mengenai pemenuhan fungsi sosial bank.
3. Acuan Penyusunan Laporan Keuangan
Penyusunan laporan keuangan bank syariah didasarkan dari beberapa
acuan yang relevan, adapun acuan tersebut adalah 7 :
a. Peraturan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia
b. Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan Umum,
Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan Syariah,
7
20
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Umum, Pernyataan Standar
Akuntansi Keuangan Syariah (PSAKS) dan Interprestasi Standar
Akuntansi Keuangan (ISAK).
c. Accounting and Auditing Standard for Islamic Financial Institutions yang
dikeluarkan oleh AAOIFI (Accounting and Auditing Organization of
Islamic Financing Institutions).
4. Sumber Dana Bank Syariah
Sebagai lembaga keuangan, masalah bank yang paling utama adalah
dana. Dana adalah uang tunai yang dimiliki atau dikuasai oleh bank dalam
bentuk tunai atau aktiva lain yang dapat segera diubah menjadi uang tunai.
Dana tersebut tidak hanya berasal dari para pemilik bank itu saja tetapi juga
berasal dari titipan atau penyertaan dana orang lain atau pihak lain yang
sewaktu-waktu dapat ditarik kembali baik secara berangsur-angsur maupun
sekaligus.
Berdasarkan data empiris dana yang berasal dari para pemilik bank itu
sendiri ditambah cadangan modal yang berasal dari akumulasi keuntungan
yang ditanam kembali pada bank hanya sebesar 7% sampai 8% dari total
aktiva bank. Bahkan di Indonesia rata-rata jumlah modal dan cadangan yang
dimiliki oleh bank belum pernah melebihi 4% dari total aktiva. Ini berarti
sebagian besar modal kerja bank berasal dari masyarakat, lembaga keuangan
21
Berdasarkan prinsip tersebut bank syariah memiliki sumber dana dari
pihak ketiga atau masyarakat dalam bentuk:
a. Titipan (wadiah) yaitu simpanan yang dijamin keamanan dan
pengembaliannya (guaranteed deposit) tetapi tanpa memperoleh imbalan
atau keuntungan.
b. Partisipasi modal berbagi hasil dan berbagi resiko (non guaranteed
account) untuk investasi umum (general investment account/ mudharabah
mutkaqoh) dimana bank akan membayar bagian keuntungan secara
proporsional dengan portofolio yang didanai dengan modal tersebut.
c. Investasi khusus (special investment account/ mudharabah muqayyahdah)
dimana bank bertindak sebagai manager investasi untuk memperoleh fee,
jadi bank tidak ikut berinvestasi sedangkan investor sepenuhnya
mengambil risiko atas investasi itu.
Sumber dana bank syariah terdiri dari:
1. Modal inti (core capital)
Modal ini adalah dana modal sendiri, yaitu dana yang berasal dari para
pemegang saham, yakni pemilik bank. Umumnya modal inti terdiri dari:
a. Modal yang disetor oleh para pemegang saham, sumber utama dari
modal perusahaan adalah saham.
b. Cadangan, yaitu sebagian laba bank yang tidak dibagi, yang disisihkan
22
c. Laba ditahan, yaitu dana yang tidak dibagikan kepada para pemegang
saham namun ditanam kembali di dalam bank untuk menambah dana
modal lebih lanjut.
2. Kuasi ekuitas (mudharabah account)
Bank menghimpun dana bagi hasil atas dasar prinsip mudharabah,
yaitu akad kerjasama antara pemilik dana (shahibul maal) dengan
pengusaha (mudharib) untuk melakukan usaha bersama dan pemilik dana
tidak boleh mencampuri pengelolaan bisnis sehari-hari. Berdasarkan
prinsip ini dalam kedudukannya sebagai mudharib, bank menyediakan
jasa bagi para investor berupa:
a. Rekening investasi umum, dimana bank menerima simpanan dari
nasabah yang mencari kesempatan investasi atas dana mereka dalam
bentuk investasi berdasarkan prinsip mudharabah mutlaqah
(unrestricted investement account), simpanan diperjanjikan untuk
jangka waktu tertentu.
b. Rekening investasi khusus, dimana bank bertindak sebaai manajer
investasi bagi nasabah institusi (pemerintah atau lembaga keuangan)
atau nasabah korporasi untuk menginvestasikan dana mereka pada
unit-unit usaha atau proyek-proyek tertentu yang mereka setujui atau
23
c. Rekening tabungan mudharabah, prinsip ini digunakan untuk jasa
pengelolaan rekening tabungan. Salah satu syarat mudharabah adalah
dananya harus dalam bentuk uang (monetary form) dalam jumlah
tertentu dan diserahkan kepada mudharib.
3. Titipan (wadiah) atau Simpanan tanpa imbalan (non remunerated deposit)
Dana titipan adalah dana pihak ketiga yang dititipkan pada bank yang
umumnya berupa giro atau tabungan:
a. Rekening giro wadiah, dalam hal ini bank Islam menggunakan prinsip
wadiah yad dhamanah. Bank sebagai custodian yang menjamin
kembali simpanan wadiah, dana tersebut dapat digunakan untuk
kegiatan usaha dan bank berhak atas pendapatan yang diperoleh. Bank
tidak boleh menjanjikan imbalan atau keuntungan kepada pemegang
rekening wadiah dan pemilik rekening pun tidak boleh meminta
imbalan atau keuntungan tersebut karena setiap imbalan atau
keuntungan yang diperjanjikan dapat dianggap riba, namun bank dapat
memberikan imbalan berupa bonus (hibah) kepada pemilik dana.
b. Prinsip wadiah yad dhamanah juga dipergunakan oleh bank dalam
mengelola jasa tabungan, yaitu simpanan dari nasabah yang
memerlukan jasa penitipan dana dengan tingkat keleluasaan tertentu
untuk menariknya kembali. 8
8
24
B.Profitabilitas
Profitabilitas sebagai salah satu acuan dalam mengukur besarnya laba
menjadi begitu penting untuk mengetahui apakah perusahaan telah menjalankan
usahanya secara efisien. Efisiensi sebuah usaha baru dapat diketahui setelah
membandingkan laba yang diperoleh dengan aktiva atau modal yang
menghasilkan laba tersebut.
Return on Assets (ROA) menunjukkan kemampuan manajemen bank
dalam menghasilkan laba dari pengelolaan asset yang dimiliki. ROA digunakan
untuk mengukur profitabilitas bank karena Bank Indonesia sebagai pembina dan
pengawas perbankan lebih mengutamakan nilai profitabilitas suatu bank, diukur
dengan asset yang dananya sebagian besar dari dana simpanan masyarakat.
Semakin besar ROA suatu bank, semakin besar pula tingkat keuntungan yang
dicapai bank, dan semakin baik pula posisi bank dari segi penggunaan asset.
Menurut Karya dan Rakhman, tingkat profitabilitas bank syariah di
Indonesia merupakan yang terbaik diukur dari rasio laba terhadap asset (ROA),
baik untuk kategori bank yang full fledge maupun untuk kategori Unit Usaha
Syariah. Rasio rentabilitas ekonomi mengukur kemampuan aktiva perusahaan
memperoleh laba dari operasi perusahaan. Karena hasil operasi yang ingin
diukur, maka dipergunakan laba sebelum pajak. Aktiva yang digunakan untuk
mengukur kemampuan memperoleh laba operasi adalah aktiva operasional.
ROA merupakan rasio yang juga digunakan untuk mengukur kemampuan
manajemen bank dalam memperoleh laba bank syariah. ROA dihitung
25
C.Rasio Kesehatan Bank
Kesehatan Bank merupakan kepentingan semua pihak yang terkait, baik
pemilik, manajemen, masyarakat pengguna jasa bank dan pemerintah dalam
hal ini Bank Indonesia selaku otoritas pengawasan perbankan, karena
kegagalan dalam industri perbankan akan berdampak buruk terhadap
perekonomian Indonesia. Penilaian tingkat kesehatan bank mencakup
penilaian terhadap faktor faktor sebagai berikut:
a. Permodalan (capital)
b. Kualitas Aset (asset quality)
c. Manajemen (management)
d. Rentabilitas (earnings)
e. Likuiditas (liquidity)
f. Sensitivitas terhadap Risiko Pasar (sensitivity to risk market) 10
Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah (UUS) wajib memelihara
tingkat kesehatan yang meliputi sekurang-kurangnya mengenai kecukupan
modal, kualitas aset, likuiditas, rentabilitas, solvabilitas, kualitas manajemen
yang menggambarkan kapabilitas dalam aspek keuangan, kepatuhan terhadap
Prinsip Syariah dan prinsip manajemen Islami, serta aspek lainnya yang
berhubungan dengan usaha Bank Syariah dan UUS.
Tingkat kepercayaan masyarakat Indonesia untuk menggunakan bank
syariah masih terbilang rendah, saat ini masyarakat lebih banyak
menggunakan bank konvensional. Maka selain perlunya peningkatan
sosialisasi kepada masyarakat mengenai keberadaan bank syariah, diperlukan
10
26
pula penilaian tingkat kesehatan bank syariah agar masyarakat mengetahui
kinerja suatu bank syariah. Bank yang sehat adalah bank yang mampu
menjalankan usahanya dengan lancar, sanggup memenuhi kewajibannya dan
menjamin dana yang dipercayakan masyarakat kepada bank tersebut aman
serta mampu mengembangkan sumber daya yang sudah dipercayakan
pemilik pada manajemen.
Hasil penilaian kondisi bank dapat digunakan sebagai sarana untuk
menetapkan strategi usaha di masa mendatang oleh bank, sedangkan bagi
Bank Indonesia dapat digunakan sebagai sarana penetapan kebijakan dan
implementasi pengawasan perbankan.
Menyadari arti pentingnya kesehatan suatu bank bagi pembentukan
kepercayaan dalam dunia perbankan serta untuk melaksanakan prinsip
kehati-hatian (prudential banking) dalam dunia perbankan, maka Bank
Indonesia merasa perlu untuk menerapkan aturan tentang kesehatan bank.
Dengan adanya peraturan tentang kesehatan bank ini, perbankan diharapkan
selalu dalam kondisi sehat, sehingga tidak akan merugikan masyarakat yang
berhubungan dengan perbankan. Bank yang beroperasi dan berhubungan
dengan masyarakat diharapkan hanya bank yang benar-benar sehat. Aturan
tentang kesehatan bank yang diterapkan oleh Bank Indonesia mencakup
berbagai aspek dalam kegiatan bank, mulai dari penghimpunan dana sampai
27
Perkembangan metodologi penilaian kondisi bank bersifat dinamis,
sehingga sistem penilaian tingkat kesehatan bank juga harus disesuaikan dengan
kondisi yang senantiasa berubah agar lebih mencerminkan kondisi bank yang
sesungguhnya baik pada saat ini maupun pada masa mendatang. Penilaian
kondisi bank meliputi penyempurnaan pendekatan penilaian kuantitatif dan
kualitatif serta penambahan penilaian faktor bilamana diperlukan. 11
Berdasarkan Prinsip Syariah, tingkat Kesehatan Bank adalah hasil
penilaian kuantitatif dan kualitatif atas berbagai aspek yang berpengaruh
terhadap kondisi atau kinerja suatu bank atau UUS melalui:
1. Penilaian kuantitatif dan penilaian kualitatif terhadap faktor-faktor
permodalan, kualitas aset, rentabilitas, likuiditas, sensitivitas terhadap
risiko pasar.
2. Penilaian kualitatif terhadap faktor manajemen.
Penilaian terhadap faktor-faktor permodalan, kualitas aset, manajemen,
rentabilitas dan likuiditas meliputi penilaian terhadap komponen-komponen
sebagai berikut:
1. Permodalan (Capital)
a. kecukupan, proyeksi (trend ke depan) permodalan dan kemampuan
permodalan dalam mengcover risiko.
b. kemampuan memelihara kebutuhan penambahan modal yang berasal
dari keuntungan, rencana permodalan untuk mendukung pertumbuhan
usaha, akses kepada sumber permodalan dan kinerja keuangan
pemegang saham.
11
28
2. Kualitas Aset (Asset Quality)
a. kualitas aktiva produktif, perkembangan kualitas aktiva produktif
bermasalah, konsentrasi eksposur risiko, dan eksposur risiko nasabah inti.
b. kecukupan kebijakan dan prosedur, sistem kaji ulang (review) internal,
sistem dokumentasi dan kinerja penanganan aktiva produktif
bermasalah.
3. Manajemen (Management)
a. kualitas manajemen umum, penerapan manajemen risiko terutama
pemahaman manajemen atas risiko Bank atau UUS.
b. kepatuhan Bank atau UUS terhadap ketentuan yang berlaku, komitmen
kepada Bank Indonesia maupun pihak lain, dan kepatuhan terhadap
prinsip syariah termasuk edukasi pada masyarakat, pelaksanaan fungsi
sosial.
4. Rentabilitas (Earnings)
a. kemampuan dalam menghasilkan laba, kemampuan laba mendukung
ekspansi dan menutup risiko, serta tingkat efisiensi.
b. diversifikasi pendapatan termasuk kemampuan bank untuk
mendapatkan fee based income, dan diversifikasi penanaman dana,
serta penerapan prinsip akuntansi dalam pengakuan pendapatan dan
29
5. Likuiditas (Liquidity)
a. kemampuan memenuhi kewajiban jangka pendek, potensi maturity
mismatch, dan konsentrasi sumber pendanaan.
b. kecukupan kebijakan pengelolaan likuiditas, akses kepada sumber
pendanaan, dan stabilitas pendanaan.
6. Sensitivitas terhadap Risiko Pasar (Sensitivity to Market Risk)
a. kemampuan modal Bank atau UUS mengcover potensi kerugian sebagai
akibat fluktuasi nilai tukar.
b. kecukupan penerapan manajemen risiko pasar. 12
Faktor finansial atau keuangan adalah penilaian kualitatif melalui
penilaian kuntitatif dan kualitatif mengenai Aspek Permodalan (Capital),
Kualitas Aset (Asset Quality), Rentabilitas (Earnings), Likuiditas (Liquidity)
dan Solvabilitas. Dalam penelitian ini analisis yang digunakan untuk menilai
tingkat kesehatan bank adalah melalui analisis rasio keuangan dari Faktor
Permodalan, Kualitas Aset, Rentabilitas, dan Likuiditas. Analisis rasio-rasio
tersebut digunakan penulis sebagai teknik analisis data untuk menilai tingkat
kesehatan PT. Bank Muamalat Indonesia tahun 2009-2011. Proses penilaian
Peringkat Faktor Finansial dilaksanakan dengan pembobotan atas nilai
peringkat Faktor Permodalan, Kualitas Aset, Rentabilitas, Likuiditas, dan
Sensitivitas terhadap Risiko Pasar.
12
78
BAB V
PENUTUP
A.Kesimpulan
Berdasarkan paparan dan analisis data yang telah penulis lakukan pada
bagian sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. CAR, NPF, FDR, dan BOPO secara bersama-sama berpengaruh signifikan
terhadap ROA dengan kontribusi sebesar 95,2%. Sementara itu sisanya sebesar
4,8% merupakan kontribusi variabel yang tidak disertakan dalam penelitian ini.
2. CAR, NPF, FDR, dan BOPO secara parsial memberikan pengaruh terhadap
ROA. Koefisien t hitung BOPO sebesar -7,279 dengan signifikansi = 0,748
memenuhi persamaan thitung (7,279) > ttabel (2,85); sig (0,000) < 0,05 memberikan
kesimpulan bahwa pengaruh FDR terhadap ROA signifikan, sementara itu
BOPO memiliki pengaruh parsial yang signifikan terhadap ROA.
3. Hubungan antara CAR, NPF, FDR, dan BOPO dengan ROA memiliki
karakteristik yang berbeda. CAR, NPF, dan BOPO berkorelasi negatif dengan
ROA sehingga sifat korelasinya berlawanan arah. Artinya pergerakan
masing-masing indikator CAR, NPF, BOPO mendorong pergerakan ROA ke
arah yang berlawanan (kenaikan CAR, NPF, atau BOPO menyebabkan
penurunan ROA). Koefisien t hitung FDR sebesar 1,701 dengan signifikansi =
0,110 memenuhi persamaan thitung (1,701) < ttabel (2,85); sig (0,110) > 0,05
79
korelasinya searah. Artinya perubahan FDR akan menyebabkan perubahan
ROA ke arah yang sama (FDR naik ROA naik).
B. Saran
Berdasarkan beberapa kesimpulan tersebut di atas maka peneliti dapat
memberikan saran sebagai berikut :
1. PT. Bank Syariah Mandiri mempertahankan tingkat efisiensi operasional
yang tercermin dari BOPO karena merupakan indikator yang mampu
memberikan dampak yang signifikan terhadap ROA. Di sisi lain pihak bank
hendaknya tetap mempertahankan tingkat rasio-rasio kesehatan agar tetap
berada di bawah standar ideal yang ditetapkan Bank Indonesia mengingat
secara keseluruhan variabel-variabel tersebut memberikan kontribusi yang
tinggi terhadap tingkat profitabilitas.
2. Mempertimbangkan bahwa terdapat faktor-faktor penentu profitabilitas
selain indikator-indikator dalam penelitian ini yang tidak dapat diukur secara
kuantitatif (sensitifitas terhadap risiko pasar dan kepatuhan manajemen),
hendaknya investor di bidang perbankan atau penanam modal tidak terpaku
pada indikator-indikator finansial dan mempertimbangkan aspek-aspek
manajerial mengingat hal tersebut sangat bergantung pada kondisi ekonomi
makro.
3. Penelitian selanjutnya diharapkan melakukan kajian mendalam dengan
melakukan pengembangan yang mencakup analisis terhadap faktor-faktor non
80
finansial untuk memperoleh hasil yang lebih komprehensif terkait dengan
81
DAFTAR PUSTAKA
Algaoud, L. M & Lewis, M. K Alih bahasa oleh Wirasubrata, B, 2007. Perbankan Syariah. Jakarta : Penerbit Serambi.
Aristya Hesti, Diah, Analisa Pengaruh Ukuran Perusahaan, Kecukupan Modal, Kualitas Aktiva Produktif (KAP), Dan Likuiditas Terhadap Kinerja Keuangan (Studi Pada Bank Syariah Di Indonesia Periode
2005-2006), Program S1 UNDIP, Semarang, 2010.
Hasan, M. Iqbal, 2002. Pokok-Pokok Materi Metodologi Penelitian Dan Aplikasinya. Bogor, Penerbit Ghalia Indonesia
Hermawan Darmawi, 2011, Manajemen Perbankan, Jakarta, Penerbit Bumi Aksara.
Imam Ghozali. 2009. Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS, Edisi 4, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.
Lukman Dendawijaya. 2009. Manajemen Perbankan, Ghalila Indonesia, Jakarta.
Rivai, Veithzal dan Arviyan Arifin, 2010, Islamic Banking: Sebuah Teori, Konsep, dan Aplikasi, Jakarta: Penerbit Bumi Aksara.
Suad Husnan dan Eny Pudjiastuti, 2006, Dasar-Dasar Manajemen Keuangan, Edisi 5, UPP STIM YKPN, Yogyakarta.
Sugiyono, 2005, Metode Penelitian Kualitatif, Bandung: Penerbit Alfabeta.
Sumitro, Warkum, 2004. Asas-Asas Perbankan Islam & Lembaga-Lembaga Terkait, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Syafi’i Antonio, Muhammad. 2001. Bank syariah : Dari teori ke praktik. Jakarta : Penerbit Gema Insani, hal. 256
Triandanu, Sigit dan Totok Budisantoso, 2006. Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya. edisi 2, Jakarta: Penerbit Salemba .
Peraturan Perundang-undangan:
UU No.21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, http://www.bi.go.id.
Peraturan Bank Indonesia No. 9/1/2007 tentang Sistem Penilaian Tingkat
Kesehatan Bank Umum Berdasarkan Prinsip Syariah.