• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH CAPITAL ADEQUACY RATIO, NON PERFORMING FINANCING, FINANCING TO DEPOSIT RATIO DAN BIAYA OPERASIONAL PENDAPATAN OPERASIONAL TERHADAP TINGKAT PROFITABILITAS (ROA) PADA PT. BANK SYARIAH MANDIRI” PERIODE JANUARI 2010 – DESEMBER 2014.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGARUH CAPITAL ADEQUACY RATIO, NON PERFORMING FINANCING, FINANCING TO DEPOSIT RATIO DAN BIAYA OPERASIONAL PENDAPATAN OPERASIONAL TERHADAP TINGKAT PROFITABILITAS (ROA) PADA PT. BANK SYARIAH MANDIRI” PERIODE JANUARI 2010 – DESEMBER 2014."

Copied!
39
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH CAPITAL ADEQUACY RATIO, NON PERFORMING FINANCING, FINANCING TO DEPOSIT RATIO,

DAN RASIO BIAYA OPERASIONAL PENDAPATAN OPERASIONAL TERHADAP TINGKAT PROFITABILITAS (ROA) PADA

BANK SYARIAH MANDIRI ( Periode Januari 2010 – Desember 2014)

TESIS

Diajukan Guna Memenuhi Syarat

Memperoleh Gelar Magister dalam Program Studi Ekonomi Syariah

Oleh:

BUDI ARDIANSYAH NIM: F14213216

PASCASARJANA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA

(2)
(3)
(4)

” PENGARUH CAPITAL ADEQUACY RATIO, NON PERFORMING

FINANCING, FINANCING TO DEPOSIT RATIO DAN BIAYA

OPERASIONAL PENDAPATAN OPERASIONAL TERHADAP TINGKAT PROFITABILITAS (ROA)

PADA PT. BANK SYARIAH MANDIRI” (Periode Januari 2010 – Desember 2014)

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana tingkat

profitabilitas (ROA) pada PT. Bank Syariah Mandiri pada periode

Januari 2010 sampai dengan Desember 2014. Materi penelitian ini terdiri

dari factor yang mempengaruhi tingkat profitabilitas (ROA) yaitu antara

lain: CAR, NPF, FDR, dan BOPO serta menggambarkan pengaruh yang

paling kuat dalam meningkatkan profitabilitas (ROA) di PT. Bank

Syariah Mandiri.

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, data diperoleh

dengan setting alamiah. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan

menganalisa laporan keuangan perusahaan periode Januari 2010 sampai

dengan Desember 2014. Pendekatan fenomenologi digunakan untuk

mendiskripsikan pemahaman yang mendalam dari analisis pengaruh

dalam meningkatkan profitabilitas (ROA) di PT. Bank Syariah Mandiri.

Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa secara umum

seluruh variabel memiliki pengaruh terhadap peningkatan profitabilitas

(ROA) pada PT Bank Syariah Mandiri

(5)

PERNYATAAN KEASLIAN ……….. v

PERSETUJUAN ....….………... vi

PENGESAHAN TIM PENGUJI………... vii

BAB I PENDAHULUAN………... 1

A. Latar Belakang Masalah.………... 1

B. Identifikasi Dan Batasan Masalah………... ... 9

C. Rumusan Masalah………... 11

D. Tujuan Penelitian………... 11

E. Kegunaan Penelitian ... 12

F. Penelitian Terdahulu ... 12

G. Sistematika Penulisan ... 14

BAB II KAJIAN PUSTAKA..…….………... ….. 16

C. Teknik Analisis Statistik Data ……….. 30

D. Kerangka Konseptual ... 35

E. Sistematika Penulisan ... 35

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 65

A. Hasil Penelitian ... 65

(6)

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 77

A. Kesimpulan ... 77

B. Saran ... 78

DAFTAR PUSTAKA ... 79

LAMPIRAN ... 80

(7)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pertumbuhan dan perkembangan lembaga perbankan syariah mengalami

kemajuan yang sangat pesat, baik di dunia internasional maupun di Indonesia.

Konsep perbankan dan keuangan Islam yang pada mulanya di tahun 1970-an

hanya merupakan diskusi teoritis, kini telah menjadi realitas faktual yang

mencengangkan banyak kalangan. Penerapan ekonomi yang Islami menjadi

fenomena baru di berbagai Negara, naik di Asia, Eropa, Afrika, hingga Amerika.

Khusus di Indonesia, ekonomi Islam mulai diterapkan dalam bentuk Institusi

pada tahun 1991 dengan bentuk baitul mal wat tamwil (BMT), Pada tahun 1992

berdiri Bank Syariah pertama yaitu Bank Muamalat dan pada tahun 1999 berdiri

bank syariah terbesar di Indonesia yaitu Bank Syariah Mandiri.

Perkembangan pesat tersebut dapat terlihat ketika pasca krisis moneter

yang menerpa Indonesia, dimana bank syariah termasuk bank yang kokoh dalam

menghadapi krisis moneter yang menerpa Indonesia. Meski merupakan system

yang baru di dalam dunia jasa keuangan, namun, diakui oleh banyak kalangan

bahwa system yang dianut dapat menjawab tantangan krisis. Maka dengan fakta

tersebut, pemerintah berupaya mendorong perkembangan perbankan syariah

menjadi lebih baik setiap tahunnya. Bank syariah hadir sebagai sarana alternatif

jasa yang semakin lengkap untuk masyarakat Indonesia, yang mayoritasnya

adalah muslim dan pada akhirnya, Perbankan Syariah dan Perbankan

(8)

2

Konvensional secara sinergis mendukung mobilisasi dana kepada masyarakat.

Dan perbedaan diantara keduanya adalah meliputi perbedaan dari asasnya,

perbedaan aspek pengaturan dan pengoperasionalnya, dan perbedaan produk.

Tujuan fundamental perbankan syariah adalah untuk mendorong dan

mempercepat kemajuan ekonomi masyarakat dengan melakukan kegiatan

perbankan, financial, komersial, dan investasi sehingga meningkatkan

kesempatan kerja dan kesejahteraan ekonomi sesuai dengan syariah Islam.

Tujuan bisnis perbankan syariah tidak berbeda dengan perbankan konvensional

yaitu memperoleh keuntungan optimal dengan jalan memberikan layanan jasa

keuangan kepada masyarakat dengan prinsip syariah.

Target utamanya adalah kesejahteraan ekonomi, perluasan kesempatan

kerja, dan tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi, keadilan sosio-ekonomi

serta distribusi pendapatan dan kekayaan yang wajar, stabilitas nilai uang, dan

mobilisasi serta investasi tabungan untuk pembangunan ekonomi yang mampu

memberikan jaminan keuntungan (bagi hasil) kepada semua pihak yang terlibat.

Tampaknya dimensi religius harus dikemukakan sebagai tujuan akhir, dalam arti

bahwa peluang untuk melakukan operasi keuangan yang halal jauh lebih penting

dibanding model operasi keuangan itu sendiri .

Dengan lahirnya bank Islam yang beroperasi berdasarkan sistem bagi hasil

sebagai alternative pengganti bunga pada bank-bank konvensional, merupakan

peluang bagi umat Islam untuk memanfaatkan jasa bank seoptimal mungkin,

merupakan peluang karena umat Islam akan berhubungan dengan perbankan

(9)

3

di dalam memobilisasi dana masyarakat untuk pembiayaan pembangunan

ekonomi umat berdasarkan kepercayaan dan kepada yang berhak menerimanya.

Dalam Al Qur’an surat An-Nisaa’ ayat 58 disebutkan:

Artinya:

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat. 1

Kemudian dalam syarat transaksi sesuai syariah antara lain adalah tidak

mengandung unsur kedzaliman, bukan riba, tidak membahayakan pihak sendiri

atau pihak lain, tidak ada penipuan (gharar), tidak mengandung materi-materi

yang diharamkan dan tidak mengandung unsur judi (maishir). Dengan nilai

tersebut maka banyak umat Islam sangat mendambakan adanya bank yang dapat

menjalankan syariah Islam. Peluang tersebut tidak hanya dirasakan oleh umat

Islam saja tetapi juga umat non muslim, karena bank Islam dinilai terbukti

mampu menjadi sarana penunjang permbangunan ekonomi yang handal dan

dapat beroperasi secara sehat, karena didalam operasinya terkandung misi

kebersamaan antara nasabah dengan bank. Selain itu bank Islam mampu hidup

berdampingan secara serasi dan kompetisi secara sehat dan wajar dengan

bank-bank konvensional yang telah ada, Karena bank Islam tidak bersifat

1

(10)

4

bank-bank konvensional yang telah ada, karena bank Islam tidak bersifat

eksklusif untuk umat Islam saja, tetapi tidak ada larang bagi umat non muslim

untuk melakukan hubungan dengan bank Islam. Bahkan pengelolaannya pun

dapat dilakukan oleh non muslim, seperti terjadi pada bank Islam di London,

Luxemburg, Switzerland, dan bank-bank asing Pakistan.

Sebaiknya ada Bank syariah dengan asset yang minimal menyamai Bank

Konvensional karena dengan adanya sebuah bank besar syariah maka dapat

menjadi jangkar bagi Bank Umum Syariah lainnya di Indonesia karena

berdasarkan data statistik perbankan indonesia, aset Bank Umum Syariah pada

November 2014 senilai Rp. 197,5 trilliun mengalami kenaikan senilai Rp. 23,5

trilliun dari periode yang sama dari tahun sebelumnya senilai Rp. 174 trilliun

tetapi apabila dibandingkan dengan aset pada tahun 2013 aset yang di miliki

Bank umum syariah senilai Rp. 180,36 trilliun mengalami kenaikan Rp. 42,77

triliun jika dibandingkan dengan aset pada tahun 2012. Rasio kredit bermasalah

atau non performing financing (NPF) per bulan November tercatat sebesar 4,86%

lebih tinggi jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun

sebelumnya yaitu sebesar 3,08%. rasio kecukupan modal perbankan syariah atau

CAR mencapi 15,66%. Rasio biaya operasional terhadap pendapatan

operasional (BOPO) perbankan syariah pun pada November 2014 sebesar 78,22%

mengalami penurunan bila dibandingkan pada periode yang sama tahun

sebelumnya mencapai 83,88%. Jumlah bank umum syariah yang ada di

Indonesia per November 2014 sebanyak 12 buah. Selain itu terdapat 22 unit

(11)

5

terjadi saat ini bahwa pertumbuhan ekonomi yang melambat mengimbas sektor

perbankan syariah Tanah Air. Hal ini terlihat dari kinerja bank syariah milik

bank BUMN. Dari 4 bank syariah BUMN, hanya 1 bank yang mengalami

kenaikan laba di tahun 2014. Bank Syariah Mandiri mencetak laba hanya

sebesar Rp 71,8 miliar. Bank ini mengalami penurunan laba yang cukup dalam

jika dibandingkan posisi laba tahun 2013 yang mencapai Rp 810,7 miliar.

Hingga 2014, aset Bank Syariah Mandiri mencapai Rp66,94 triliun atau hanya

tumbuh sekitar 4,3% secara year on year dari posisi Rp64,13 triliun. Sepanjangn

tahun 2014 seluruh industri perbankan termasuk perbankan syariah mengalami

beragam tekanan. Pertumbuhan ekonomi melambat dari 5,8% pada 2013

menjadi 5,1% di penghujung 2014. Industri juga dihimpit beban bunga yang

terus mendaki, menyusul keputusan bank sentral menaikkan BI Rate. Sejak Juni

2013 hingga saat ini, BI Rate naik 200 basis poin. Yuslam Fauzi, Ketua Umum

Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo), menilai perlambatan ekonomi

menyebabkan volume pembiayaan turut melambat dan di sisi lain, kualitas aset

pembiayaan terus mengalami pemburukan. Pembiayaan syariah hingga

November 2014 hanya tumbuh 9,7% menjadi Rp198,376 triliun. Ini juga level

terendah dalam empat tahun terakhir. Sementara itu, jumlah pembiayaan macet

atau kolektabilitas tingkat lima naik 73,45% menjadi Rp5,36 triliun dan jumlah

pembiayaan tidak lancar juga naik 78% sehingga NPF kotor pun terkerek.

Kenaikan NPF akan membentuk biaya pencadangan sehingga ujungnya laba

perbankan syariah ambles. Hingga November 2014, laba perbankan hanya

Rp1,89 triliun, turun hampir separuhnya dari pencapaian tahun lalu sebesar

3

(12)

6

Rp3,44 triliun. 3

Direktur Eksekutif Perbankan Syariah Direktorat Perbankan Syariah OJK,

Ahmad Buchori, mengatakan pihaknya kini sedang menyiapkan Roadmap

Perbankan Syariah sebagai arah kebijakan pengembangan perbankan syariah

2015-2019. Rencananya roadmap tersebut akan diluncurkan pada event Pasar

Rakyat Syariah 2015 yang digelar 14 Juni 2015 mendatang. Ada tujuh arah

kebijakan pengembangan perbankan syariah dalam roadmap tersebut. Pertama,

meningkatkan sinergi hubungan antar regulator dengan membentuk Komite

Nasional Keuangan Syariah yang digagas oleh Bappenas. Langkah ini dilakukan

untuk mendukung pengembangan perbankan syariah sebagaimana yang

dilakukan oleh Malaysia melalui Malaysia International Islamic Financial

Centre (MIFC). Sejak 1992 pengembangan keuangan syariah, termasuk

perbankan syariah di Indonesia dilakukan secara bottom up atau dari bawah.

Arah pengembangan kedua dalam Roadmap Perbankan Syariah adalah edukasi

untuk meningkatkan pemahaman masyarakat agar mereka bisa langsung

memanfaatkan jasa atau produk keuangan syariah. Ketiga, meningkatkan

kualitas dan kuantitas SDM keuangan syariah. Keempat, peningkatan modal

skala usaha yang terkait pula hubungannya dengan efisiensi dan permodalan.

Kelima, produk yang harus beragam, variatif dan sesuai ekspektasi dan harapan

masyarakat. Buchori menilai saat ini relatif produk perbankan syariah belum

banyak yang sesuai dengan harapan masyarakat. Keenam, yaitu meningkatkan

sinergi antara anak usaha dan induk bank syariah. Arah pengembangan ini

(13)

7

yang berupa bank syariah. Ketujuh adalah penyempurnaan peraturan dengan

meningkatkan optimalisasi dari ketentuan, aturan, dan pengawasan di OJK. 4

Berdasarkan fenomena dan pemaparan pelaku ekonomi syariah maka

perlu adanya monitoring kinerja untuk mengetahui bagaimana kinerja keuangan

suatu bank apakah dalam kategori baik/buruk, salah satunya dapat diukur

dengan menggunakan rasio keuangan, penggunaan rasio keuangan ini

merupakan cara yang paling banyak digunakan dalam pengukuran kinerja suatu

bank baik yang konvensional maupun yang syariah. Rasio ini digunakan untuk

mengetahui keadaan dan perkembangan keuangan bank terutama bagi pihak

debitur. Hasil analisis dapat digunakan untuk melihat kelemahan financial bank

selama periode waktu berjalan. Kelemahan yang terdapat di bank dapat segera

diperbaiki, sedangkan hasil yang cukup baik untuk dipertahankan pada waktu

yang akan datang. Selanjutnya analisis histories tesebut dapat digunakan untuk

penyusunan rencana dan kebijakan di masa mendatang. Rasio-rasio tersebut

yaitu likuiditas, rentabilitas, resiko usaha bank, permodalan, dan efisiensi usaha.

Untuk mengetahui bagaimana kinerja keuangan suatu bank apakah dalam

kategori baik/buruk, salah satunya dapat diukur dengan menggunakan rasio

keuangan, penggunaan rasio keuangan ini merupakan cara yang paling banyak

digunakan dalam pengukuran kinerja suatu bank baik yang konvensional

maupun yang syariah. Rasio ini digunakan untuk mengetahui keadaan dan

perkembangan keuangan bank terutama bagi pihak debitur. Hasil analisis dapat

digunakan untuk melihat kelemahan financial bank selama periode waktu

berjalan. Kelemahan yang terdapat di bank dapat segera diperbaiki, sedangkan

4

(14)

8

hasil yang cukup baik untuk dipertahankan pada waktu yang akan datang.

Selanjutnya analisis histories tesebut dapat digunakan untuk penyusunan

rencana dan kebijakan di masa mendatang. Rasio-rasio tersebut yaitu likuiditas,

rentabilitas, resiko usaha bank, permodalan, dan efisiensi usaha.

Penilaian tingkat kesehatan salah satunya menggunakan rasio

profitabilitas atau disebut juga rentabilitas atau kemampuan menghasilkan laba.

Rasio profitabilitas di terjemahkan sebagai kemampuan bank untuk

menghasilkan laba. Umumnya dikenal 6 tolak ukur tingkat profitabilitas, yaitu

Net Profit Margin (NPM), Gross Profit Margin GPM), Assets Utilization,

Return On Asset (ROA), Earnings Per Share, dan Return On Equity (ROE).

Menurut tata cara penilaian tingkat kesehatan ada dua metode yang menjadi

ukuran tingkat kesehatan bank dilihat dari rentabilitasnya. Dua metode itu

adalah Return On Asset (ROA) dan Beban Operasional Pendapatan Operasional

(BOPO). Dalam penelitian ini penulis menggunakan Return On Asset (ROA)

sebagai tolak ukur.

Dapat dilihat dari Surat Edaran Bank Indonesia No. 26 / 5 / BPPP

mengenai pengukuran tingkat kesehatan yang dilakukan dengan

mengkuantifikasikan CAMEL dan melihat kepatuhan pada ketentuan

pemerintah. CAMEL terdiri dari faktor permodalan (capital), kualitas aktiva

produktif (asset), manajemen (management), rentabilitas (earning), dan

likuiditas (liquidity). Sedangkan kepatuhan pada ketentuan pemerintah dapat

dilihat daridari judgment, pemberian batas maksimum pemberian kredit

(15)

9

Dalam CAMEL yang dibahas mengenai likuiditas sebuah bank, salah satu

indikatornya adalah dengan mengukur FDR dari sebuah bank. Bank Indonesia

menetapkan batas maksimum rasio pemberian kredit terhadap dana yang

terhimpun atau FDR adalah maksimal 110% dan standar besar tingkat FDR yang

optimal adalah 85%-110%. Semakin besar FDR maka semakin besar

profitabilitas bank. Tetapi apabila FDR terlalu besar maka bank tersebut

cenderung tidak likuid.

Berdasarkan analisa tersebut maka penulis tertarik untuk melakukan

penelitian dengan judul “Pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR), Non

Performing Financing (NPF), Financing to Deposit Ratio (FDR), dan Rasio

Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) terhadap Tingkat

Profitabilitas (ROA) pada Bank Syariah Mandiri” ( Periode Januari 2010

(16)

10

B.Identifikasi dan Batasan Masalah

1. Identifikasi Masalah

Berdasarkan pada latar belakang masalah tersebut, maka dapat

ditemukan identifikasi masalah sebagai berikut:

a. Penetapan CAR (Capital Adequacy Ratio) sebagai variable yang

mempengaruhi profitabilitas didasarkan hubungannya dengan tingkat

risiko bank. Tingginya rasio modal dapat melindungi deposan dan

memberikan dampak meningkatnya kepercayaan masyarakat kepada bank.

Manajemen bank perlu mempertahankan atau meningkatkan nilai CAR

sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia. Dengan modal yang cukup maka

bank dapat melakukan pengembangan usaha dengan lebih aman dalam

rangka meningkatkan profitabilitasnya.

b. Penetapan FDR ( Financing To Deposit Ratio ) sebagai variable yang

mempengaruhi profitabilitas, FDR adalah rasio antara jumlah pembiayaan

yang diberikan bank dengan dana yang diterima oleh bank. Semakian

rendah FDR menunjukkan kurangnya efektifitas bank dalam pembiayaan

dan sebaliknya semakin tinggi FDR, maka semakin meningkat pula

profitabilitas bank menunjukkan efektifitas penyaluran dananya.

c. Penetapan NPF (Non Performing Financing) menunjukkan resiko

pembiayaan. Semakin tinggi rasio ini maka menunjukkan kualitas

(17)

11

pembiayaan yang mempengaruhi profitabilitas bank. NPF diketahui

dengan cara menghitung pembiayaan non lancar terhadap total

pembiayaan. Adanya pembiayaan bermasalah dapat mengakibatkan

kerugian dengan tidak adanya perolehan pendapatan dari pembiayaan

yang dilepaskan.

d. Penetapan BOPO ( Rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan

Operasional ) menunjukkan rasio yang mengukur efisiensi dan efektifitas

operasional suatu perusahaan dengan cara membandingkan satu dengan

yang lainnya, Semakin rendah BOPO berarti semakin efisien bank dalam

mengendalikan biaya operasionalnya.

2. Batasan Masalah

Berdasarkan uraian pada masalah diatas maka dalam hal ini penulis

membatasi permasalahan yang diteliti yaitu:

1. Variabel yang akan digunakan untuk meneliti adalah CAR, FDR, BOPO

dan NPF terhadap Profitabilitas Bank Syariah Mandiri

2. Data yang digunakan dalam penelitian adalah data laporan keuangan PT

Bank Syariah Mandiri periode Januari 2010 sampai dengan September

2014

3. Tempat penelitian ini adalah PT Bank Syariah Mandiri

C.Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan sebelumnya, maka

(18)

12

dirumuskan sebagai berikut :

1. Apakah CAR, NPF, FDR, dan BOPO secara simultan berpengaruh signifikan

terhadap tingkat profitabilitas (ROA) pada bank Syariah Mandiri?

2. Apakah CAR, NPF, FDR, dan BOPO secara parsial berpengaruh signifikan

terhadap tingkat profitabilitas (ROA) pada bank Syariah Mandiri?

3. Bagaimana hubungan antar variable (CAR, NPF, FDR, dan BOPO) dengan

tingkat profitabilitas (ROA) pada bank Syariah Mandiri?

D. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui apakah CAR, NPF, FDR, dan BOPO secara simultan

berpengaruh signifikan terhadap tingkat profitabilitas (ROA) pada bank

Syariah Mandiri.

2. Untuk mengetahui apakah CAR, NPF, FDR, dan BOPO secara parsial

berpengaruh signifikan terhadap tingkat profitabilitas (ROA) pada bank

Syariah Mandiri.

3. Untuk menemukan hubungan antara variabel CAR, NPF, FDR, dan BOPO

dengan tingkat profitabilitas (ROA) pada bank Syariah Mandiri.

E. Kegunaan Penelitian

1. Bagi penulis, untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan penganalisaan

laporan keuangan bank terutama rasio-rasio yang penting bagi bank Syariah

Mandiri.

(19)

13

dapat meningkatkan efektifitas dalam penghimpunan dana dan penyaluran

dana dalam bentuk pembiayaan.

3. Bagi masyarakat adalah memberikan kontribusi positif dalam rangka

menyediakan informasi tentang kondisi PT Bank Syariah Mandiri.

F. Penelitian Terdahulu

1. Penelitian Taufiq Muttaqin

Penelitian yang berjudul Pengaruh CAR, LDR, KAP dan NPL

Terhadap Tingkat Profitabilitas (ROA) BPR Syariah Rinjani. Metode

penelitian yang digunakan analisa deskriptif dengan pendekatan survey, data

kuantitatif laporan keuangan BPR Syariah Rinjani.

Hasil penelitian adalah untuk uji keseluruhan menunjukkan bahwa

terdapat pengaruh secara keseluruhan dari CAR, NPL, KAP dan LDR

terhadap ROA BPR Syariah Rinjani sedangkan hasil penelitian individu

dengan menggunakan dua subhipotesis, subhipotesis pertama diterima yang

artinya terdapat pengaruh yang signifikan antara CAR dengan tingkat

profitabilitas bank dengan besarnya total pengaruh langsung dan tidak

langsung sebesar 30,6% sedangkan subhipotesis keduanya ditolak yang

berarti tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara CAR terhadap

profitabilitas ROA BPR Syariah Rinjani.

2. Penelitian Anggi Suwandhani

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat

pengaruh yang signifikan dan seberapa besar pengaruh Loan to Deposit Ratio

(20)

14

(ROA). Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode

asosiatif dengan pendekatan survey. Sementara untuk menganalisis data,

digunakan pendekatan kuantitatif, yaitu dengan teknik analisis korelasi dan

analisis regresi linier sederhana sebagai alat bantu perhitungannya.

Hasil penelitian menunjukkan hubungan yang sangat kuat antara

variabel X dengan variabel Y. kemudian dari hasil perhitungan koefisien

determinasi (r2) didapat nilai sebesar 65,28% atau dengan kata lain tingkat

Loan to Deposit Ratio (LDR) berpengaruh sebesar 65,28% terhadap tingkat

profitabilitas bank. Uji statistic t didapat nilai t hitung sebesar 4,945 dan t

table sebesar 2,160. dengan demikian nilai t hitung lebih besar dibandingkan

dengan t table. Hal ini berarti Ho ditolak dan Ha diterima, sehingga potensi

yang diajukan bahwa tingkat Loan to Deposit Ratio (LDR) mempunyai

pengaruh yang signifikan terhadap profitabilitas bank dapat diterima.

3. Penelitian M. Khoirul Anam

Penelitian tentang pengaruh rasio CAMEL terhadap prediksi

keuntungan pada industry keuangan mikro syariah di Tangerang. Metodologi

yang digunakan adalah regresi linier berganda dengan metode purposive

sampling, dari pengujian terhadap 8 rasio yang terdiri dari Capital Adequacy

Ratio, Financing Risk Ratio, Asset Utilization, Net Present Value. Hasilnya

rasio NPM dan BOPO berpengaruh negatif dari signifikan pada alpha 5%.

Penelitian ini berbeda dengan penelitian-penelitian sebelumnya. Dalam

penelitian ini, walaupun penulis juga menggunakan analisis secara kuantitatif,

(21)

15

pada masing-masing variable independen, dalam SPSS dijelaskan bahwa

variable independen juga dapat menjadi variable perantara, variable independen

yang dalam fungsinya juga sebagai variable perantara untuk mengetahui

seberapa besar pengaruh CAR, NPF, FDR, dan BOPO Terhadap Tingkat

Profitabilitas (ROA) Pada Bank Syariah Mandiri.

G. Sistematika Penulisan

Bab pertama tentang pendahuluan yang meliputi latar belakang

masalah, identifikasi dengan batasan masalah, rumusan masalah, tujuan

penelitian, kegunaan penelitian, hasil penelitian terdahulu, dan sistematika

penulisan.

Bab kedua tentang landasan teori mengenai laporan keuangan yang

meliputi tinjauan umum laporan keuangan, sumber dana bank syariah,

komponen – komponen laporan keuangan, definisi profitabilitas, dan rasio

kesehatan bank.

Bab ketiga terkait dengan metode penelitian yang meliputi: jenis

penelitian, tehnik pengumpulan data, tehnik analisis statistik data, kerangka

konseptual, gambaran umum Bank Syariah Mandiri dan indikator tingkat

kesehatan Bank Syariah Mandiri periode 2010 sampai dengan 2014.

Bab keempat mengenai pemaparan dan pembahasan hasil penelitian

dan analisis data.

(22)

16

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Kerangka Teoritik

1. Laporan Keuangan Bank Syariah

Laporan keuangan pada sektor perbankan syariah, sama seperti sektor

lainnya, adalah untuk menyediakan informasi yang menyangkut posisi

keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan aktifitas operasi bank

yang bermanfaat dalam mengambil keputusan.

Laporan keuangan (financial statement) menyimpulkan setiap kegiatan

dalam setiap bidang fungsional. Neraca mewakili kesimpulan tentang

keputusan manajemen yang telah diambil untuk bidang-bidang fungsional

dan pernyataan Laba-Rugi mengukur tingkat kemampuan menghasilkan laba

(profitability) dari keputusan manajemen selama periode tertentu. Financial

statements terdiri atas 5 :

a. Laporan Laba/Rugi (income statements) adalah laporan yang

menggambarkan kinerja dan kegiatan usaha bank syariah pada suatu

periode tertentu yang meliputi pendapatan dan beban yang timbul pada

operasi utama bank dan operasi lainnya. Penyusunan laporan laba rugi

didasarkan pada pendapatan dan biaya diakui secara akrual sedangkan

perhitungan distribusi pendapatan/hasil usaha menggunakan dasar kas.

(23)

17

b. Neraca (balancesheet) berisi laporan sistematis keadaan aktiva/assets,

utang/ liabilities, dan modal sendiri/owners’ equity perusahaan pada saat

tertentu.

c. Laporan arus kas (statements of cash flows) merupakan laporan yang

menunjukkan penerimaan dan pengeluaran kas dan setara kas pada bank

selama periode tertentu yang dikelompokkan dalam aktivitas operasi,

investasi, dan pendanaan selama satu periode tertentu.

d. Laporan perubahan ekuitas adalah laporan yang menunjukkan perubahan

ekuitas bank yang menggambarkan peningkatan atau penurunan aktiva

bersih atau kekayaan selama periode pelaporan.

e. Laporan perubahan dana investasi terikat (mudharabah muqayyadah)

adalah laporan dari akad mudharabah dimana shahibul maal memberikan

batasan kepada mudharib mengenai tempat, cara, dan objek investasi.

Laporan perubahan dana investasi terikat memisahkan dana investasi

terikat berdasarkan sumber dana dan memisahkan investasi berdasarkan

jenisnya.

f. Pelaporan sumber dan penggunaan dana zakat, infaq, dan sadaqah

merupakan laporan menunjukkan sumber dan penggunaan dana selama

jangka waktu tertentu, serta saldo ZIS pada tanggal tertentu.

g. Laporan sumber dan penggunaan dana qard merupakan laporan yang

menunjukkan sumber dan penggunaan dana selama suatu jangka waktu

(24)

18

h. Catatan atas laporan keuangan merupakan bagian tak terpisahkan dari

laporan keuangan. Catatan atas laporan keuangan memberikan penjelasan

mengenai gambaran umum bank syariah, ikhtisar kebijakan akuntansi,

penjelasan pos-pos laporan keuangan dan informasi penting lainnya.

2. Fungsi Laporan Keuangan

Sebagai bahan informasi yang dapat digunakan oleh pihak-pihak

yang membutuhkan, laporan keuangan setidaknya harus berfungsi sebagai

berikut 6 :

a. Menyediakan informasi yang bermanfaat bagi pihak-pihak yang

berkepentingan dalam pengambilan keputusan yang rasional. Pihak -

pihak yang berkepentingan antara lain:

1) Sahibul maal / pemilik dana

2) Kreditur

3) Pembayar zakat, infaq, dan sadaqah

4) Pemegang saham

5) Otoritas pegawai

6) Bank Indonesia

7) Pemerintah

8) Lembaga penjamin simpanan

9) Masyarakat

b. Informasi dalam menilai prospek arus kas, bertujuan untuk memberikan

(25)

19

dalam penerimaan kas di masa depan atas deviden, bagi hasil, dan hasil

dari penjualan, pelunasan (redemption), dan jatuh tempo dari surat

berharga atau pinjaman.

c. Informasi atas sumber daya ekonomi tentang sumber daya ekonomis bank

(economic resources), kewajiban bank untuk mengalihkan sumber daya

tersebut kepada entitas lain atau pemilik saham serta kemungkinan

terjadinya transaksi, dan peristiwa yang dapat mempengaruhi perubahan

sumber daya tersebut.

d. Informasi mengenai kepatuhan bank terhadap prinsip syariah serta

informasi mengenai pendapatan dan pengeluaran yang tidak sesuai dengan

prinsip syariah dan pegelolaan pendapatan dana bank tersebut.

e. Informasi untuk membantu pihak terkait di dalam menentukan zakat bank

atau pihak lainnya.

f. Informasi untuk membantu mengevaluasi pemenuhan bank terhadap

tanggung jawab amanah dalam mengamankan dana, menginvestasikannya

pada tingkat keuntungan rasional.

g. Informasi mengenai pemenuhan fungsi sosial bank.

3. Acuan Penyusunan Laporan Keuangan

Penyusunan laporan keuangan bank syariah didasarkan dari beberapa

acuan yang relevan, adapun acuan tersebut adalah 7 :

a. Peraturan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia

b. Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan Umum,

Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan Syariah,

7

(26)

20

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Umum, Pernyataan Standar

Akuntansi Keuangan Syariah (PSAKS) dan Interprestasi Standar

Akuntansi Keuangan (ISAK).

c. Accounting and Auditing Standard for Islamic Financial Institutions yang

dikeluarkan oleh AAOIFI (Accounting and Auditing Organization of

Islamic Financing Institutions).

4. Sumber Dana Bank Syariah

Sebagai lembaga keuangan, masalah bank yang paling utama adalah

dana. Dana adalah uang tunai yang dimiliki atau dikuasai oleh bank dalam

bentuk tunai atau aktiva lain yang dapat segera diubah menjadi uang tunai.

Dana tersebut tidak hanya berasal dari para pemilik bank itu saja tetapi juga

berasal dari titipan atau penyertaan dana orang lain atau pihak lain yang

sewaktu-waktu dapat ditarik kembali baik secara berangsur-angsur maupun

sekaligus.

Berdasarkan data empiris dana yang berasal dari para pemilik bank itu

sendiri ditambah cadangan modal yang berasal dari akumulasi keuntungan

yang ditanam kembali pada bank hanya sebesar 7% sampai 8% dari total

aktiva bank. Bahkan di Indonesia rata-rata jumlah modal dan cadangan yang

dimiliki oleh bank belum pernah melebihi 4% dari total aktiva. Ini berarti

sebagian besar modal kerja bank berasal dari masyarakat, lembaga keuangan

(27)

21

Berdasarkan prinsip tersebut bank syariah memiliki sumber dana dari

pihak ketiga atau masyarakat dalam bentuk:

a. Titipan (wadiah) yaitu simpanan yang dijamin keamanan dan

pengembaliannya (guaranteed deposit) tetapi tanpa memperoleh imbalan

atau keuntungan.

b. Partisipasi modal berbagi hasil dan berbagi resiko (non guaranteed

account) untuk investasi umum (general investment account/ mudharabah

mutkaqoh) dimana bank akan membayar bagian keuntungan secara

proporsional dengan portofolio yang didanai dengan modal tersebut.

c. Investasi khusus (special investment account/ mudharabah muqayyahdah)

dimana bank bertindak sebagai manager investasi untuk memperoleh fee,

jadi bank tidak ikut berinvestasi sedangkan investor sepenuhnya

mengambil risiko atas investasi itu.

Sumber dana bank syariah terdiri dari:

1. Modal inti (core capital)

Modal ini adalah dana modal sendiri, yaitu dana yang berasal dari para

pemegang saham, yakni pemilik bank. Umumnya modal inti terdiri dari:

a. Modal yang disetor oleh para pemegang saham, sumber utama dari

modal perusahaan adalah saham.

b. Cadangan, yaitu sebagian laba bank yang tidak dibagi, yang disisihkan

(28)

22

c. Laba ditahan, yaitu dana yang tidak dibagikan kepada para pemegang

saham namun ditanam kembali di dalam bank untuk menambah dana

modal lebih lanjut.

2. Kuasi ekuitas (mudharabah account)

Bank menghimpun dana bagi hasil atas dasar prinsip mudharabah,

yaitu akad kerjasama antara pemilik dana (shahibul maal) dengan

pengusaha (mudharib) untuk melakukan usaha bersama dan pemilik dana

tidak boleh mencampuri pengelolaan bisnis sehari-hari. Berdasarkan

prinsip ini dalam kedudukannya sebagai mudharib, bank menyediakan

jasa bagi para investor berupa:

a. Rekening investasi umum, dimana bank menerima simpanan dari

nasabah yang mencari kesempatan investasi atas dana mereka dalam

bentuk investasi berdasarkan prinsip mudharabah mutlaqah

(unrestricted investement account), simpanan diperjanjikan untuk

jangka waktu tertentu.

b. Rekening investasi khusus, dimana bank bertindak sebaai manajer

investasi bagi nasabah institusi (pemerintah atau lembaga keuangan)

atau nasabah korporasi untuk menginvestasikan dana mereka pada

unit-unit usaha atau proyek-proyek tertentu yang mereka setujui atau

(29)

23

c. Rekening tabungan mudharabah, prinsip ini digunakan untuk jasa

pengelolaan rekening tabungan. Salah satu syarat mudharabah adalah

dananya harus dalam bentuk uang (monetary form) dalam jumlah

tertentu dan diserahkan kepada mudharib.

3. Titipan (wadiah) atau Simpanan tanpa imbalan (non remunerated deposit)

Dana titipan adalah dana pihak ketiga yang dititipkan pada bank yang

umumnya berupa giro atau tabungan:

a. Rekening giro wadiah, dalam hal ini bank Islam menggunakan prinsip

wadiah yad dhamanah. Bank sebagai custodian yang menjamin

kembali simpanan wadiah, dana tersebut dapat digunakan untuk

kegiatan usaha dan bank berhak atas pendapatan yang diperoleh. Bank

tidak boleh menjanjikan imbalan atau keuntungan kepada pemegang

rekening wadiah dan pemilik rekening pun tidak boleh meminta

imbalan atau keuntungan tersebut karena setiap imbalan atau

keuntungan yang diperjanjikan dapat dianggap riba, namun bank dapat

memberikan imbalan berupa bonus (hibah) kepada pemilik dana.

b. Prinsip wadiah yad dhamanah juga dipergunakan oleh bank dalam

mengelola jasa tabungan, yaitu simpanan dari nasabah yang

memerlukan jasa penitipan dana dengan tingkat keleluasaan tertentu

untuk menariknya kembali. 8

8

(30)

24

B.Profitabilitas

Profitabilitas sebagai salah satu acuan dalam mengukur besarnya laba

menjadi begitu penting untuk mengetahui apakah perusahaan telah menjalankan

usahanya secara efisien. Efisiensi sebuah usaha baru dapat diketahui setelah

membandingkan laba yang diperoleh dengan aktiva atau modal yang

menghasilkan laba tersebut.

Return on Assets (ROA) menunjukkan kemampuan manajemen bank

dalam menghasilkan laba dari pengelolaan asset yang dimiliki. ROA digunakan

untuk mengukur profitabilitas bank karena Bank Indonesia sebagai pembina dan

pengawas perbankan lebih mengutamakan nilai profitabilitas suatu bank, diukur

dengan asset yang dananya sebagian besar dari dana simpanan masyarakat.

Semakin besar ROA suatu bank, semakin besar pula tingkat keuntungan yang

dicapai bank, dan semakin baik pula posisi bank dari segi penggunaan asset.

Menurut Karya dan Rakhman, tingkat profitabilitas bank syariah di

Indonesia merupakan yang terbaik diukur dari rasio laba terhadap asset (ROA),

baik untuk kategori bank yang full fledge maupun untuk kategori Unit Usaha

Syariah. Rasio rentabilitas ekonomi mengukur kemampuan aktiva perusahaan

memperoleh laba dari operasi perusahaan. Karena hasil operasi yang ingin

diukur, maka dipergunakan laba sebelum pajak. Aktiva yang digunakan untuk

mengukur kemampuan memperoleh laba operasi adalah aktiva operasional.

ROA merupakan rasio yang juga digunakan untuk mengukur kemampuan

manajemen bank dalam memperoleh laba bank syariah. ROA dihitung

(31)

25

C.Rasio Kesehatan Bank

Kesehatan Bank merupakan kepentingan semua pihak yang terkait, baik

pemilik, manajemen, masyarakat pengguna jasa bank dan pemerintah dalam

hal ini Bank Indonesia selaku otoritas pengawasan perbankan, karena

kegagalan dalam industri perbankan akan berdampak buruk terhadap

perekonomian Indonesia. Penilaian tingkat kesehatan bank mencakup

penilaian terhadap faktor faktor sebagai berikut:

a. Permodalan (capital)

b. Kualitas Aset (asset quality)

c. Manajemen (management)

d. Rentabilitas (earnings)

e. Likuiditas (liquidity)

f. Sensitivitas terhadap Risiko Pasar (sensitivity to risk market) 10

Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah (UUS) wajib memelihara

tingkat kesehatan yang meliputi sekurang-kurangnya mengenai kecukupan

modal, kualitas aset, likuiditas, rentabilitas, solvabilitas, kualitas manajemen

yang menggambarkan kapabilitas dalam aspek keuangan, kepatuhan terhadap

Prinsip Syariah dan prinsip manajemen Islami, serta aspek lainnya yang

berhubungan dengan usaha Bank Syariah dan UUS.

Tingkat kepercayaan masyarakat Indonesia untuk menggunakan bank

syariah masih terbilang rendah, saat ini masyarakat lebih banyak

menggunakan bank konvensional. Maka selain perlunya peningkatan

sosialisasi kepada masyarakat mengenai keberadaan bank syariah, diperlukan

10

(32)

26

pula penilaian tingkat kesehatan bank syariah agar masyarakat mengetahui

kinerja suatu bank syariah. Bank yang sehat adalah bank yang mampu

menjalankan usahanya dengan lancar, sanggup memenuhi kewajibannya dan

menjamin dana yang dipercayakan masyarakat kepada bank tersebut aman

serta mampu mengembangkan sumber daya yang sudah dipercayakan

pemilik pada manajemen.

Hasil penilaian kondisi bank dapat digunakan sebagai sarana untuk

menetapkan strategi usaha di masa mendatang oleh bank, sedangkan bagi

Bank Indonesia dapat digunakan sebagai sarana penetapan kebijakan dan

implementasi pengawasan perbankan.

Menyadari arti pentingnya kesehatan suatu bank bagi pembentukan

kepercayaan dalam dunia perbankan serta untuk melaksanakan prinsip

kehati-hatian (prudential banking) dalam dunia perbankan, maka Bank

Indonesia merasa perlu untuk menerapkan aturan tentang kesehatan bank.

Dengan adanya peraturan tentang kesehatan bank ini, perbankan diharapkan

selalu dalam kondisi sehat, sehingga tidak akan merugikan masyarakat yang

berhubungan dengan perbankan. Bank yang beroperasi dan berhubungan

dengan masyarakat diharapkan hanya bank yang benar-benar sehat. Aturan

tentang kesehatan bank yang diterapkan oleh Bank Indonesia mencakup

berbagai aspek dalam kegiatan bank, mulai dari penghimpunan dana sampai

(33)

27

Perkembangan metodologi penilaian kondisi bank bersifat dinamis,

sehingga sistem penilaian tingkat kesehatan bank juga harus disesuaikan dengan

kondisi yang senantiasa berubah agar lebih mencerminkan kondisi bank yang

sesungguhnya baik pada saat ini maupun pada masa mendatang. Penilaian

kondisi bank meliputi penyempurnaan pendekatan penilaian kuantitatif dan

kualitatif serta penambahan penilaian faktor bilamana diperlukan. 11

Berdasarkan Prinsip Syariah, tingkat Kesehatan Bank adalah hasil

penilaian kuantitatif dan kualitatif atas berbagai aspek yang berpengaruh

terhadap kondisi atau kinerja suatu bank atau UUS melalui:

1. Penilaian kuantitatif dan penilaian kualitatif terhadap faktor-faktor

permodalan, kualitas aset, rentabilitas, likuiditas, sensitivitas terhadap

risiko pasar.

2. Penilaian kualitatif terhadap faktor manajemen.

Penilaian terhadap faktor-faktor permodalan, kualitas aset, manajemen,

rentabilitas dan likuiditas meliputi penilaian terhadap komponen-komponen

sebagai berikut:

1. Permodalan (Capital)

a. kecukupan, proyeksi (trend ke depan) permodalan dan kemampuan

permodalan dalam mengcover risiko.

b. kemampuan memelihara kebutuhan penambahan modal yang berasal

dari keuntungan, rencana permodalan untuk mendukung pertumbuhan

usaha, akses kepada sumber permodalan dan kinerja keuangan

pemegang saham.

11

(34)

28

2. Kualitas Aset (Asset Quality)

a. kualitas aktiva produktif, perkembangan kualitas aktiva produktif

bermasalah, konsentrasi eksposur risiko, dan eksposur risiko nasabah inti.

b. kecukupan kebijakan dan prosedur, sistem kaji ulang (review) internal,

sistem dokumentasi dan kinerja penanganan aktiva produktif

bermasalah.

3. Manajemen (Management)

a. kualitas manajemen umum, penerapan manajemen risiko terutama

pemahaman manajemen atas risiko Bank atau UUS.

b. kepatuhan Bank atau UUS terhadap ketentuan yang berlaku, komitmen

kepada Bank Indonesia maupun pihak lain, dan kepatuhan terhadap

prinsip syariah termasuk edukasi pada masyarakat, pelaksanaan fungsi

sosial.

4. Rentabilitas (Earnings)

a. kemampuan dalam menghasilkan laba, kemampuan laba mendukung

ekspansi dan menutup risiko, serta tingkat efisiensi.

b. diversifikasi pendapatan termasuk kemampuan bank untuk

mendapatkan fee based income, dan diversifikasi penanaman dana,

serta penerapan prinsip akuntansi dalam pengakuan pendapatan dan

(35)

29

5. Likuiditas (Liquidity)

a. kemampuan memenuhi kewajiban jangka pendek, potensi maturity

mismatch, dan konsentrasi sumber pendanaan.

b. kecukupan kebijakan pengelolaan likuiditas, akses kepada sumber

pendanaan, dan stabilitas pendanaan.

6. Sensitivitas terhadap Risiko Pasar (Sensitivity to Market Risk)

a. kemampuan modal Bank atau UUS mengcover potensi kerugian sebagai

akibat fluktuasi nilai tukar.

b. kecukupan penerapan manajemen risiko pasar. 12

Faktor finansial atau keuangan adalah penilaian kualitatif melalui

penilaian kuntitatif dan kualitatif mengenai Aspek Permodalan (Capital),

Kualitas Aset (Asset Quality), Rentabilitas (Earnings), Likuiditas (Liquidity)

dan Solvabilitas. Dalam penelitian ini analisis yang digunakan untuk menilai

tingkat kesehatan bank adalah melalui analisis rasio keuangan dari Faktor

Permodalan, Kualitas Aset, Rentabilitas, dan Likuiditas. Analisis rasio-rasio

tersebut digunakan penulis sebagai teknik analisis data untuk menilai tingkat

kesehatan PT. Bank Muamalat Indonesia tahun 2009-2011. Proses penilaian

Peringkat Faktor Finansial dilaksanakan dengan pembobotan atas nilai

peringkat Faktor Permodalan, Kualitas Aset, Rentabilitas, Likuiditas, dan

Sensitivitas terhadap Risiko Pasar.

12

(36)

78

BAB V

PENUTUP

A.Kesimpulan

Berdasarkan paparan dan analisis data yang telah penulis lakukan pada

bagian sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. CAR, NPF, FDR, dan BOPO secara bersama-sama berpengaruh signifikan

terhadap ROA dengan kontribusi sebesar 95,2%. Sementara itu sisanya sebesar

4,8% merupakan kontribusi variabel yang tidak disertakan dalam penelitian ini.

2. CAR, NPF, FDR, dan BOPO secara parsial memberikan pengaruh terhadap

ROA. Koefisien t hitung BOPO sebesar -7,279 dengan signifikansi  = 0,748

memenuhi persamaan thitung (7,279) > ttabel (2,85); sig (0,000) < 0,05 memberikan

kesimpulan bahwa pengaruh FDR terhadap ROA signifikan, sementara itu

BOPO memiliki pengaruh parsial yang signifikan terhadap ROA.

3. Hubungan antara CAR, NPF, FDR, dan BOPO dengan ROA memiliki

karakteristik yang berbeda. CAR, NPF, dan BOPO berkorelasi negatif dengan

ROA sehingga sifat korelasinya berlawanan arah. Artinya pergerakan

masing-masing indikator CAR, NPF, BOPO mendorong pergerakan ROA ke

arah yang berlawanan (kenaikan CAR, NPF, atau BOPO menyebabkan

penurunan ROA). Koefisien t hitung FDR sebesar 1,701 dengan signifikansi =

0,110 memenuhi persamaan thitung (1,701) < ttabel (2,85); sig (0,110) > 0,05

(37)

79

korelasinya searah. Artinya perubahan FDR akan menyebabkan perubahan

ROA ke arah yang sama (FDR naik ROA naik).

B. Saran

Berdasarkan beberapa kesimpulan tersebut di atas maka peneliti dapat

memberikan saran sebagai berikut :

1. PT. Bank Syariah Mandiri mempertahankan tingkat efisiensi operasional

yang tercermin dari BOPO karena merupakan indikator yang mampu

memberikan dampak yang signifikan terhadap ROA. Di sisi lain pihak bank

hendaknya tetap mempertahankan tingkat rasio-rasio kesehatan agar tetap

berada di bawah standar ideal yang ditetapkan Bank Indonesia mengingat

secara keseluruhan variabel-variabel tersebut memberikan kontribusi yang

tinggi terhadap tingkat profitabilitas.

2. Mempertimbangkan bahwa terdapat faktor-faktor penentu profitabilitas

selain indikator-indikator dalam penelitian ini yang tidak dapat diukur secara

kuantitatif (sensitifitas terhadap risiko pasar dan kepatuhan manajemen),

hendaknya investor di bidang perbankan atau penanam modal tidak terpaku

pada indikator-indikator finansial dan mempertimbangkan aspek-aspek

manajerial mengingat hal tersebut sangat bergantung pada kondisi ekonomi

makro.

3. Penelitian selanjutnya diharapkan melakukan kajian mendalam dengan

melakukan pengembangan yang mencakup analisis terhadap faktor-faktor non

(38)

80

finansial untuk memperoleh hasil yang lebih komprehensif terkait dengan

(39)

81

DAFTAR PUSTAKA

Algaoud, L. M & Lewis, M. K Alih bahasa oleh Wirasubrata, B, 2007. Perbankan Syariah. Jakarta : Penerbit Serambi.

Aristya Hesti, Diah, Analisa Pengaruh Ukuran Perusahaan, Kecukupan Modal, Kualitas Aktiva Produktif (KAP), Dan Likuiditas Terhadap Kinerja Keuangan (Studi Pada Bank Syariah Di Indonesia Periode

2005-2006), Program S1 UNDIP, Semarang, 2010.

Hasan, M. Iqbal, 2002. Pokok-Pokok Materi Metodologi Penelitian Dan Aplikasinya. Bogor, Penerbit Ghalia Indonesia

Hermawan Darmawi, 2011, Manajemen Perbankan, Jakarta, Penerbit Bumi Aksara.

Imam Ghozali. 2009. Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS, Edisi 4, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.

Lukman Dendawijaya. 2009. Manajemen Perbankan, Ghalila Indonesia, Jakarta.

Rivai, Veithzal dan Arviyan Arifin, 2010, Islamic Banking: Sebuah Teori, Konsep, dan Aplikasi, Jakarta: Penerbit Bumi Aksara.

Suad Husnan dan Eny Pudjiastuti, 2006, Dasar-Dasar Manajemen Keuangan, Edisi 5, UPP STIM YKPN, Yogyakarta.

Sugiyono, 2005, Metode Penelitian Kualitatif, Bandung: Penerbit Alfabeta.

Sumitro, Warkum, 2004. Asas-Asas Perbankan Islam & Lembaga-Lembaga Terkait, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

Syafi’i Antonio, Muhammad. 2001. Bank syariah : Dari teori ke praktik. Jakarta : Penerbit Gema Insani, hal. 256

Triandanu, Sigit dan Totok Budisantoso, 2006. Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya. edisi 2, Jakarta: Penerbit Salemba .

Peraturan Perundang-undangan:

UU No.21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, http://www.bi.go.id.

Peraturan Bank Indonesia No. 9/1/2007 tentang Sistem Penilaian Tingkat

Kesehatan Bank Umum Berdasarkan Prinsip Syariah.

Gambar

table sebesar 2,160. dengan demikian nilai t hitung lebih besar dibandingkan

Referensi

Dokumen terkait

Bagaimana pengaruh Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) berpengaruh secara parsial terhadap Profitabilitas (ROA) pada Bank Umum Syariah Devisa periode 2010

Operasional (BOPO) terhadap Profitabilitas Bank Umum Syariah yang. terdaftar di Bank Indonesia

Berdasarkan fenomena yang diungkapkan di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang profitabilitas yaitu Return On Asset (ROA) dengan judul “Pengaruh

Hasil yang diperoleh adalah capital adequacy ratio (CAR) Bank Umum Syariah (BUS) terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap profitabilitas bank atau semakin besar

Analisis rasio rentabilitas ini menggunakan ROA dikarenakan Bank Syariah Mandiri sebagai Pembina dan pengawas perbankan lebih mengutamakan nilai profitabilitas suatu bank

Dalam penelitian ini populasinya adalah seluruh laporan keuangan yang telah diterbitkan oleh bank syariah mandiri indonesai.Penelitian ini dilakukan dengan

Dalam penelitiannya Astohar (2016) tentang Pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR) dan Financing to Deposit Ratio terhadap Profitabilitas Perbankan Syariah di

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa NPF dan FDR secara parsial tidak berpengaruh terhadap tingkat bagi hasil deposito mudharabah pada Bank Syariah