• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan buku cerita bergambar berbasis Pendidikan Lingkungan Hidup untuk pembelajaran membaca siswa SD kelas rendah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengembangan buku cerita bergambar berbasis Pendidikan Lingkungan Hidup untuk pembelajaran membaca siswa SD kelas rendah"

Copied!
155
0
0

Teks penuh

(1)

i

PENGEMBANGAN BUKU CERITA BERGAMBAR BERBASIS

PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP UNTUK

PEMBELAJARAN MEMBACA SISWA SD KELAS RENDAH

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Oleh :

Nindia Desy Permatasari NIM: 131134116

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(2)
(3)
(4)

iv

PERSEMBAHAN

Skripsi ini penulis persembahkan kepada:

1. Tuhan Yesus Kristus yang selalu senantiasa memberkati penulis dalam

menyelesaikan skripsi ini.

2. Bapak Bardi Wahyono (Alm) dan Ibu Dewi Wahyuningsih yang selalu

memberikan cinta, kasih sayang, dukungan serta doa kepada penulis, sehingga

penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan baik.

3. Kedua kakak saya Ardhina Devi Maria dan Yustina Murwaningsih yang selalu

memberikan dukungan serta motivasi.

4. Herta Surya Maharta yang selalu memberikan motivasi, semangat, serta

bersabar terhadap penulis selama penulis menyelesaikan skripsi.

5. Sahabat-sahabat saya yang selalu menemani dan memberikan semangat untuk

segera menyelesaikan skripsi ini.

(5)

v MOTTO

“Janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya”.

(Matius 6: 8)

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara

kamu”.

(6)

vi ABSTRAK

PENGEMBANGAN BUKU CERITA BERGAMBAR BERBASIS PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP UNTUK PEMBELAJARAN

MEMBACA SISWA SD KELAS RENDAH Nindia Desy Permatasari

Universitas Sanata Dharma 2017

Membaca merupakan keterampilan berbahasa yang penting untuk dioptimalkan di bangku SD khususnya pada siswa kelas rendah. Salah satu penunjang pembelajaran membaca yang digunakan adalah buku cerita bergambar. Penelitian ini merupakan penelitian yang difokuskan pada pendidikan lingkungan hidup untuk menanamkan nilai kepedulian siswa terhadap lingkungan di sekitarnya. Oleh karena itu, peneliti terdorong untuk melakukan penelitian pengembangan buku cerita bergambar berbasis pendidikan lingkungan hidup untuk pembelajaran membaca siswa SD kelas rendah.

Jenis penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan (Research and Development). Produk yang dihasilkan dalam pengembangan ini berupa buku cerita bergambar untuk pembelajaran membaca yang berbasis pendidikan lingkungan hidup. Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan modifikasi dari langkah Sugiyono dan Langkah Borg & Gall. Ada enam langkah proses pengembangan buku cerita bergambar yang telah dimodifikasi peneliti yaitu (1) potensi dan masalah, (2) pengumpulan data, (3) desain produk, (4) validasi desain, (5) revisi desain, dan (6) uji coba produk. Buku cerita bergambar ini telah divalidasi oleh tiga validator. Skor rata-rata yang diperoleh dari hasil validasi adalah 4,4 dengan kategori sangat baik sehingga layak digunakan untuk uji coba produk.

Uji coba produk dilakukan kepada 6 siswa kelas III SD untuk mengetahui pendapat dari siswa mengenai kualitas buku cerita bergambar. Dari hasil uji coba yang telah dilakukan peneliti bahwa semua siswa tertarik dengan buku cerita bergambar yang telah dibacanya, karena produk yang dihasilkan peneliti mudah untuk dipahami siswa dari isi ceritanya dan dapat menanamkan sikap peduli terhadap lingkungan sekitar.

(7)
(8)

viii ABSTRAK

PENGEMBANGAN BUKU CERITA BERGAMBAR BERBASIS PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP UNTUK PEMBELAJARAN

MEMBACA SISWA SD KELAS RENDAH Nindia Desy Permatasari

Universitas Sanata Dharma 2017

Membaca merupakan keterampilan berbahasa yang penting untuk dioptimalkan di bangku SD khususnya pada siswa kelas rendah. Salah satu penunjang pembelajaran membaca yang digunakan adalah buku cerita bergambar. Penelitian ini merupakan penelitian yang difokuskan pada pendidikan lingkungan hidup untuk menanamkan nilai kepedulian siswa terhadap lingkungan di sekitarnya. Oleh karena itu, peneliti terdorong untuk melakukan penelitian pengembangan buku cerita bergambar berbasis pendidikan lingkungan hidup untuk pembelajaran membaca siswa SD kelas rendah.

Jenis penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan (Research and Development). Produk yang dihasilkan dalam pengembangan ini berupa buku cerita bergambar untuk pembelajaran membaca yang berbasis pendidikan lingkungan hidup. Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan modifikasi dari langkah Sugiyono dan Langkah Borg & Gall. Ada enam langkah proses pengembangan buku cerita bergambar yang telah dimodifikasi peneliti yaitu (1) potensi dan masalah, (2) pengumpulan data, (3) desain produk, (4) validasi desain, (5) revisi desain, dan (6) uji coba produk. Buku cerita bergambar ini telah divalidasi oleh tiga validator. Skor rata-rata yang diperoleh dari hasil validasi adalah 4,4 dengan kategori sangat baik sehingga layak digunakan untuk uji coba produk.

Uji coba produk dilakukan kepada 6 siswa kelas III SD untuk mengetahui pendapat dari siswa mengenai kualitas buku cerita bergambar. Dari hasil uji coba yang telah dilakukan peneliti bahwa semua siswa tertarik dengan buku cerita bergambar yang telah dibacanya, karena produk yang dihasilkan peneliti mudah untuk dipahami siswa dari isi ceritanya dan dapat menanamkan sikap peduli terhadap lingkungan sekitar.

(9)

ix ABSTRACT

THE DEVELOPMENT OF ILLUSTRATED STORY BOOK BASED ON ENVIRONMENTAL EDUCATION IN TEACHING READING TO THE

LOWER CLASS STUDENTS OF ELEMENTARY SCHOOL

Nindia Desy Permatasari Sanata Dharma University

2017

Reading is a language skill that is important to be optimized in Elementary School level, especially to the lower class students. One of the supporting of teaching reading which is used is illustrated story book. This research is a research that is focused on environmental education to implant the students awareness value to their environment. Therefore, the reseacher is motivated to do the research of the development of illustrated story book based on environmental education in teaching reading to the lower class students of Elementary School.

The type of this research is Research and Development. The product that is produced in this development is an illustrated story book for teaching reading based on environmental education. This research uses Research and Development

Method which is modified from Sugiyono’s step and Borg & Gall’s step. There

are six steps for the process of the development of illustrated story book which are modified by the researcher. The six step are (1) potential and problem, (2) data collection, (3) product design, (4) design validation, (5) design revision, and (6) product trial. This illustrated story book has been validated by three validators.

The average score from the validation result is 4.4 which is categorized “Very Good”. So, it is useable to try the product out.

The product trial is done by six students to the third grade of Elementary School. It aims to know the students opinions for the quality of this illustrated story book. From the result of product trial that has been done by the researcher, it is concluded that all of the students are interested in this ilustrated story book they

read because this researcher’s product is easy to be understood by the students

from the content of the story and able to implant awareness attitude for the environment.

(10)

x

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah

memberikan kasih dan penyertaanNya sehingga skripsi yang berjudul

Pengembangan Buku Cerita Bergambar Berbasis Pendidikan Lingkungan Hidup

Untuk Pembelajaran Membaca Siswa SD Kelas Rendah ini dapat terselesaikan

dengan baik.

Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana

Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan

dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma. Keberhasilan penulisan skripsi

tidak terlepas dari bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu,

penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. Rohandi, Ph.D. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

2. Christiyanti Aprinastuti S.Si., M.Pd. selaku Kaprodi PGSD.

3. Apri Damai Sagita K., S.S., M.Pd. selaku Wakaprodi PGSD, sekaligus dosen

pembimbing II yang telah memberikan bimbingan serta masukkan bagi

penulis dalam menyusun skripsi ini.

4. Brigitta Erlita Tri Anggadewi, M.Psi. selaku dosen pembimbing I yang telah

membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

5. Andreas Erwin P., M.Pd. selaku validator yang telah membantu

(11)

xi

6. Jarot Wardoyo, S.Pd. selaku kepala sekolah SD N 3 Palar yang telah

memberikan ijin selama penelitian yang dilakukan.

7. Wiwik Hastuti, S.Pd. selaku validator sekaligus guru wali kelas III SD N 3

Palar yang telah bersedia dan bekerja sama dengan baik selama penelitian

berlangsung.

8. Seluruh siswa kelas III SD N 3 Palar yang telah bersedia berpartisipasi dalam

melakukan analisis kebutuhan.

9. Para dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas

Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma yang telah

memberikan ilmunya dalam mendidik penulis selama kuliah.

7. Ayah dan Ibu penulis, Bapak Bardi Wahyono (Alm) dan Ibu Dewi

Wahyuningsih yang selalu memberikan cinta, kasih sayang, dukungan serta

doa kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan

baik.

8. Kedua kakak saya Ardhina Devi Maria dan Yustina Murwaningsih yang selalu

memberikan dukungan serta motivasi.

10. Herta Surya Maharta yang selalu memberikan motivasi, semangat, serta

bersabar terhadap penulis selama penulis menyelesaikan skripsi.

11. Sahabat-sahabatku Ola, Achun, Vera, Vero, Lola, Listy, Cicil. Teman

dekatku Agnes, Wulan, Lendi, Wahono. Teman-teman PPL Tika, Dita, Lola,

(12)

xii

dapat disebutkan satu persatu. Teman-teman skripsi payung yang telah

mendukung, mendoakan, dan saling berbagi cerita sehingga penulis dapat

menyelesaikan skripsi dengan baik.

12. Seluruh pihak yang tidak bisa disebutkan satu per satu, yang telah

memberikan semangat dan dukungan kepada penulis, sehingga penulis

memiliki motivasi untuk menyelesaikan skripsi ini. Terimakasih untuk

semuanya, semoga karya penelitian ini dapat memberikan manfaat dan

berguna bagi banyak pihak.

(13)

xiii

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS...vii

(14)

xiv

2.1.2.4 Tahap-tahap Membaca...20

2.1.2.5 Faktor Pengaruh Pembelajaran Membaca...21

2.1.2.6 Jenis-jenis Membaca ...23

2.1.2.7 Gerakan Literasi Sekolah...23

2.1.3 Buku Cerita Bergambar...24

2.1.3.1 Pengertian Buku Cerita Bergambar...24

2.1.3.2 Tujuan Buku Cerita Bergambar...26

2.1.4 Pendidikan Lingkungan Hidup...27

3.6.1 Teknik Analisa Data Kualitatif...57

3.6.2 Analisa Data Kuantitatif...58

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN...62

4.1 Hasil Penelitian Pengembangan...62

4.1.1 Hasil Penelitian Pengembangan...62

(15)

xv

4.2 Pembahasan...95

BAB V PENUTUP...100

1.1 Kesimpulan...100

1.2 Keterbatasan penelitian...100

1.3 Saran ...101

DAFTAR REFERENSI...102

(16)

xvi

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Tabel Kisi-kisi Wawancara...51

Tabel 3.2 Kisi-kisi Kuesioner Uji Validasi untuk Dosen Ahli dan Guru...53

Tabel 3.3 Instrumen Kuesioner Uji Validasi untuk Ahli dan Guru...54

Tabel 3.4 Kisi-Kisi Kuesioner Uji Validasi untuk Siswa...55

Tabel 3.5 Instrumen Kuesioner Uji Validasi untuk Siswa...56

Tabel 3.6 Pedoman Pemberian Skor...58

Tabel 3.7 Konversi Skala Lima...59

Tabel 4.1 Tabel Kisi-Kisi Wawancara...67

Tabel 4.2 Tabel Penjabaran Karakter Tokoh pada Cerita...72

Tabel 4.3 Hasil Validasi oleh Dosen ahli...81

Tabel 4.4 Hasil Validasi oleh Guru Wali Kelas III...83

Tabel 4.5 Hasil Validasi oleh Siswa Wali Kelas III...85

Tabel 4.6 Tabel Masukan Dosen Ahli dan Perbaikan Desain...86

Tabel 4.7 Tabel Masukan Guru Wali Kelas III dan Perbaikan Desain...89

Tabel 4.8 Tabel Masukan Siswa Kelas III dan Perbaikan Desain...90

Tabel 4.9 Tabel Rekapitulasi Hasil Kuesioner Siswa...92

Tabel 4.10 Hasil Rekapitulasi Validator...93

(17)

xvii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1 Bagan Rancangan Penelitian...48

Gambar 4.1 Judul Buku...75

Gambar 4.2 Gambar Sketsa Tangan...76

Gambar 4.3 Gambar Sketsa Tangan Sebelum Diwarnai...77

Gambar 4.4 Gambar Sketsa Tangan Sesudah Diwarnai...78

Gambar 4.5 Font untuk Judul Buku...79

Gambar 4.6 Font untuk Kata Pengantar, Panduan Penggunaan Buku, dan Refleksi...79

Gambar 4.7 Font untuk Teks Narasi...80

Gambar 4.8 Sebelum Revisi dari Dosen...87

Gambar 4.9 Sesudah Revisi dari Dosen...87

Gambar 4.10 Sebelum Revisi dari Dosen...88

Gambar 4.11 Sesudah Revisi dari Dosen...88

Gambar 4.12 Sebelum Revisi dari Guru Kelas III...89

Gambar 4.13 Sesudah Revisi dari Guru Kelas III...89

Gambar 4.14 Sebelum Revisi dari Siswa Kelas III...90

Gambar 4.15 Sesudah Revisi dari Siswa Kelas III...90

(18)

xviii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Hasil Wawancara dengan Guru Kelas III SD Negeri 3 Palar...105

Lampiran 2 Data Hasil Validasi oleh Dosen Ahli...109

Lampiran 3 Data Hasil Validasi oleh Guru Kelas III...112

Lampiran 4 Data Hasil Validasi Siswa...115

Lampiran 5 Data Hasil Kuesioner Siswa...117

Lampiran 6 Hasil Refleksi Siswa setelah Membaca Buku Cerita Bergambar...125

Lampiran 7 Hasil Rekapitulasi Validator...128

Lampiran 8 Rekapitulasi Hasil Kuesioner Siswa...129

Lampiran 9 Rekapitulasi skor hasil validasi dan uji coba lapangan...130

Lampiran 10 Dokumentasi...131

Lampiran 11 Surat Ijin Penelitian...133

Lampiran 12 Surat Keterangan Melakukan Uji Validasi...134

Lampiran 13 Surat Keterangan Melakukan Uji Coba...135

Lampiran 14 Buku Cerita Bergambar (Terpisah)...136

(19)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pada masa era globalisasi seperti sekarang ini seseorang dapat

mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan sangat

mudah dan cepat. Peningkatan kualitas sumber daya manusia mempunyai

posisi yang strategis bagi keberhasilan dan kelanjutan pembangunan

nasional. Wadah yang tepat sebagai upaya peningkatan sumber daya

manusia adalah pendidikan. Pendidikan yaitu sebagai proses pembentukan

pribadi, pendidikan diartikan sebagai suatu pendidikan yang sistematis dan

sismetik terarah kepada terbentuknya kepribadian peserta didik

(Tirtarahardja, 2008: 34).

Menurut UU No. 20 Tahun 2003 Pendidikan adalah usaha sadar

dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran

agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk

memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,

kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,

masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan terdiri dari berbagai jenjang,

jenjang pendidikan paling dasar untuk meningkatkan kualitas SDM adalah

pendidikan sekolah dasar. Sekolah adalah kelompok layanan pendidikan

yang menyelenggarakan pendidikan pada jalur formal, nonformal, dan

(20)

Guru dalam pembelajaran menggunakan metode, pendekatan,

teknik mengajar dan alat peraga serta media pembelajaran sebagai

penunjang dalam proses belajar mengajar khususnya siswa SD. Sehingga

guru dapat kreatif, aktif dan inovatif untuk menciptakan perkembangan

baru di dunia pendidikan. Pendidikan sebagai wadah masyarakat untuk

meningkatkan kualitas bangsa ini. Adanya pendidikan diharapkan

masyarakat mampu mengubah pola pikirnya untuk dapat peduli dengan

lingkungan yang ada disekitarnya demi kelangsungan hidupnya.

Salah satu pendidikan yang dapat digunakan untuk meningkatkan

rasa peduli masyarakat terhadap lingkungan adalah pendidikan lingkungan

hidup. Lingkungan sangat penting bagi keberlangsungan hidup manusia

dan segala aktivitas yang dilakukan di dalamnya. Menurut Wuryandari

(2015: 244) lingkungan hidup adalah segala sesuatu yang ada di sekitar

manusia, yang mempengaruhi perkembangan kehidupan manusia, baik

langsung maupun tidak langsung. Kondisi lingkungan tergantung dengan

manusia dan bagaimana manusia tersebut mengelola lingkungan dengan

semaksimal mungkin. Sehingga terdapat dampak positif dan dampak

negatif yang dilakukan oleh manusia terhadap lingkungan. Perubahan

lingkungan sering terjadi akibat ulah dari manusia yang tidak disadarinya,

salah satu dampak negatif sikap manusia adalah membuang sampah di

sembarang tempat yang dapat mengakibatkan bencana banjir dan

(21)

Banjir adalah suatu gejala alam yang menyebabkan suatu daerah

dalam keadaan tergenang oleh air dalam jumlah yang sangat besar atau

melebihi tingkat normal. Banjir dapat merusak rumah-rumah penduduk,

merusak lahan pertanian dan perkebunan, merusak sarana dan prasarana,

mengganggu kelancaran transportasi dan bahkan menimbulkan korban

jiwa (Dhiyaulhag, 2015: 163). Bencana banjir terjadi karena musim

penghujan yang terlalu panjang melanda bangsa kita sehingga kota-kota

besar yang padat penduduknya padat yang dapat dilanda banjir setiap

tahunnya. Kondisi lingkungan yang seperti ini dapat menusak kualitas

lingkungan karena adanya perubahan lingkungan yang terjadi.

Lingkungan hidup merupakan suatu sistem kompleks dalam sebuah

ruang. Sementara itu, ruang merupakan tempat bagi komponen-komponen

lingkungan hidup dalam melakukan setiap proses, yaitu saling

mempengaruhi, saling berhubungan dan saling ketergantungan.

Komponen-komponen lingkungan hidup terdiri dari komponen biotik dan

komponen abiotik. Komponen biotik adalah mahkluk hidup yang meliputi

hewan, tumbuhan dan manusia. Komponen abiotik adalah benda-benda tak

hidup seperti air, tanah, batu, udara dan cahaya matahari (Samadi, 2006:

126). Lingkungan hidup harus dirawat dan dijaga oleh manusia dengan

sebaik mungkin, sehingga perlu adanya pendidikan lingkungan hidup.

Menurut Hamzah (2013: 35), pendidikan lingkungan hidup adalah

yang tidak hanya memberikan pengetahuan tentang lingkungan tetapi juga

(22)

kondisi lingkungan. Melalui pendidikan lingkungan, individu akan dapat

memahami pentingnya lingkungan dan bagaimana keterkaitan lingkungan

dengan masalah ekonomi, sosial, budaya, serta pembangunan. Pendidikan

lingkungan diarahkan untuk mengembangkan pemahaman dan motivasi

serta keterampilan yang diwarnai dengan kepedulian terhadap penggunaan

dan konservasi sumber daya alam secara selayaknya.

Di dalam dunia pendidikan membaca sangatlah penting dan erat

kaitannya di dalam kehidupan sehari-hari. Membaca adalah suatu proses

yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh

pesan, yang hendak disampaikan penulis melalui media kata-kata/ bahasa

tulis (Tarigan, 2008: 7). Membaca adalah satu dari empat kemampuan

bahasa pokok, dan satu dari bagian atau komponen dari komunikasi

tulisan. Pada tingkatan membaca permulaan, proses perubahan yang dibina

dan dikuasai dan dilakukan pada masa kanak-kanak, khususnya pada

permulaan di sekolah. Tampubolon (2008: 5). Membaca tidak lepas dari

yang namanya buku, karena buku merupakan jendela dunia bagi setiap

orang. Pembelajaran membaca tidak hanya didapatkan di sekolah saja

akan tetapi pembelajaran membaca juga dapat dilakukan di lingkungan

keluarga.

Pembelajaran membaca selalu ada dalam setiap tema pembelajaran

yang dialami siswa selama menuntut ilmu di sekolah. Kerampilan

membaca, berfungsi sebagai alat untuk meraih keberhasilan siswa untuk

(23)

kegiatan pembelajaran, tidak hanya pada studi bahasa Indonesia saja

melainkan untuk menguasai setiap mata pelajaran. Membaca itu penting

dalam kehidupan yang semakin kompleks, setiap aspek kehidupan

melibatkan kegiatan membaca. Pembelajaran membaca adalah kegiatan

yang dilakukan oleh siswa untuk memahami isi dari bacaan tersebut

dengan bantuan guru. Untuk itu guru harus membuat perencanaan yang

matang. Pembelajaran membaca harus mempunyai tujuan yang jelas,

tujuan tersebut meliputi membaca bersuara, menggunakan strategi untuk

memahami bacaan serta menikmati keindahan yang terkandung dalam

bacaan (Rafli, 2015: 76).

Salah satu alat yang dapat digunakan untuk pembelajaran membaca

yaitu menggunakan media pembelajaran. Media pembelajaran adalah

segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari

pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan,

perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses

belajar terjadi (Sadiman dkk. 2002: 7). Salah satu penunjang media

pembelajaran untuk minat membaca siswa adalah buku cerita bergambar.

Buku cerita bergambar (cergam) yang berupa urutan gambar dalam

panel-panel sebagaimana halnya komik dengan teks verbal dibawah tiap gambar

diluar panel (Nurgiyantoro, 2005: 157). Buku cerita bergambar merupakan

media yang bersifat sederhana, mudah, dan jelas. Selain itu, media buku

cerita bergambar memiliki nilai kreatif dan nilai edukatif bagi

(24)

potensial digunakan sebagai media pembelajaran untuk menyampaikan

pesan dalam proses belajar mengajar di sekolah, dan diharapkan mampu

meningkatkan hasil belajar siswa.

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan guru kelas III

di SD Negeri 3 Palar pada hari Selasa, 25 Oktober 2016 diperoleh bahwa

masih ada beberapa siswa yang belum bisa atau kesulitan untuk membaca.

Dari jumlah siswa kelas III yang berjumlah 29 siswa, terdapat siswa yang

masih sulit untuk membaca karena masih mengeja setiap suku kata, dan

terdapat siswa yang sudah lancar membaca tetapi ada jeda pada saat

membaca. Dengan demikian kelas III SD ini memiliki minat membaca

yang kurang baik, bahkan wali kelas III SD N 3 Palar sudah menerapkan

gerakan membaca 15 menit sebelum jam pelajaran berlangsung, sehingga

dapat meningkatkan minat membaca siswa dan bisa mengetahui buku

bacaan yang digemari masing-masing siswa akan tetapi masih sedikit

minat baca siswa. Siswa kelas III di sekolah ini kurang peduli dengan

lingkungannya karena pada saat melakukan penelitian peneliti masih

menemukan bungkus jajanan di sekitar sekolah maupun kelas.

Masalah-masalah yang ada tersebut perlu ditindaklanjuti agar minat

baca siswa dapat lebih meningkat dan siswa lebih memiliki kesadaran atau

rasa kepedulian terhadap lingkungan yang ada disekitarnya. Dengan

adanya pengembangan buku cerita bergambar tersebut dapat membuat

siswa untuk lebih aktif dan meningkatkan minat baca siswa agar dapat

(25)

baca pada kelas III sekolah dasar, buku ini juga memiliki pembelajaran

yang tidak kalah pentingnya yaitu meningkatkan rasa kepedulian siswa

terhadap lingkungannya. Jadi buku cerita bergambar dapat membuat siswa

lebih tertarik dalam membaca sekaligus dapat menumbuhkan rasa

kepeduliannya sehingga dapat memahami bagaimana merawat lingkungan

yang ada disekitar. Alasan memilih cerita tentang pendidikan lingkungan

hidup yaitu, minimnya buku-buku pegangan guru maupun buku-buku

cerita bergambar yang memiliki nilai-nilai tentang pendidikan lingkungan

hidup sehingga pada cerita ini siswa mendapatkan pemahaman tentang

pentingnya mempelajari pendidikan lingkungan hidup.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka

terdapat beberapa rumusan masalah sebagai berikut :

1.2.1. Bagaimana langkah-langkah pengembangan buku cerita bergambar

berbasis pendidikan lingkungan hidup untuk pembelajaran membaca siswa

SD kelas rendah ?

1.2.2. Bagaimana kualitas buku cerita bergambar berbasis pendidikan lingkungan

hidup untuk pembelajaran membaca siswa SD kelas rendah ?

1.3. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk :

1.3.1. Mendeskripsikan langkah-langkah pengembangan buku cerita bergambar

berbasis pendidikan lingkungan hidup untuk pembelajaran membaca siswa

(26)

1.3.2. Mendiskripsikan kualitas buku cerita bergambar berbasis pendidikan

lingkungan hidup untuk pembelajaran membaca siswa SD kelas rendah.

1.4. Manfaat Penelitian 1.4.1. Bagi Peneliti

Menambah pengetahuan bagi peneliti sebagai bekal menekuni dunia

pendidikan di masa yang akan datang serta mendapatkan pengalaman

dalam mengembangkan buku cerita bergambar yang berbasis pendidikan

lingkungan hidup untuk menarik minat baca siswa.

1.4.2. Bagi Siswa

Penelitian ini diharapkan dapat menarik perhatian siswa di dalam

membaca dan meningkatkan rasa kepedulian siswa terhadap lingkungan

yang ada disekitarnya.

1.4.3. Bagi Guru

Penelitian ini dapat digunakan sebagai cara untuk meningkatkan minat

baca siswa serta untuk mengembangkan pendidikan lingkungan hidup

dengan menggunakan buku cerita bergambar.

1.4.4. Bagi Sekolah

Dengan menggunakan buku cerita bergambar dalam pembelajaran

membaca berbasis lingkungan hidup dapat meningkatkan kualitas sekolah

dan menambah koleksi buku di perpustakaan sekolah.

1.4.5. Bagi Prodi

Penelitian ini dapat disimpan dan didokumentasikan sebagai arsip oleh

(27)

1.5. Definisi Operasional

1.5.1. Buku Cerita Bergambar adalah cerita yang ditujukan untuk anak-anak

yang di dalamnya terdapat tokoh-tokoh hewan, tumbuhan, peri bahkan

manusia yang dilengkapi dengan isi teks beserta gambar ilustrasi tersebut

sehingga dapat menarik perhatian siswa.

1.5.2. Pendidikan Lingkungan Hidup adalah suatu proses yang diajarkan untuk

meningkatkan kepedulian siswa terhadap lingkungan yang ada di

sekitarnya.

1.5.3. Membaca adalah suatu pesan yang ingin disampaikan oleh penulis kepada

pembaca dengan menggunakan lambang-lambang tulisan atau huruf

menurut alfabet latin sehingga dapat tertuang dalam kalimat-kalimat yang

disajikan oleh penulis.

1.6. Spesifikasi Produk

Produk yang dihasilkan dalam penelitian pengembangan ini berupa

buku cerita bergambar dengan spesifikasi berikut :

1.6.1. Buku cerita bergambar ini memiliki ukuran A5.

1.6.2. Cover dan isi buku cerita bergambar ini menggunakan kertas ivory 260

dan artpaper 150.

1.6.3. Buku cerita bergambar ini dibuat full color untuk menarik minat baca

siswa.

1.6.4. Buku cerita bergambar ini dilengkapi dengan kata pengantar, panduan

penggunaan buku dan refleksi dan memberikan pembelajaran tentang rasa

(28)

10 BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Kajian Pustaka

2.1.1 Karakteristik Siswa SD

Psikologi perkembangan adalah salah satu cabang psikologi yang

mempelajari kapan dan bagaimana perubahan yang terjadi pada manusia

dari waktu ke waktu (Dinar, 2008: 2). Menurut Dinar (2008: 40)

mempunyai pandangan tentang teori perkembangan kognisi dengan

menggunakan teori Piaget. Seorang psikolog Swiss yang bernama Jean

Piaget (1896-1980) menyatakan bahwa anak akan membangun dunia

kognitif mereka sendiri karena anak mampu mengolah informasi yang

diterima untuk mengembangkan gagasan baru, tidak hanya sekedar

menerima informasi dari lingkungan. Terdapat dua hal penting dalam proses

penyesuaian diri dengan lingkungan, yaitu asimilasi dan akomodasi.

Asimilasi terjadi ketika individu menghubungkan informasi baru ke dalam

pengetahuan mereka sebelumnya. Sedangkan akomodasi terjadi ketika

individu menyesuaikan diri dengan informasi baru.

Asimilasi dan akomodasi terjadi sejak bayi masih sangat kecil, ketika

anak mengembangkan refleks menghisap setiap benda yang menyentuh

bibirnya. Kemudian terjadi proses belajar (asimilasi maupun akomodasi)

(29)

jari atau susu ibu, benda-benda lain tidak dapat dihisap. Individu mengenal

benda-benda melalui proses asimilasi, tetapi memperoleh pemahaman

tentang benda-benda yang dapat dihisap dan tidak melalui akomodasi. Ada

4 tahapan perkembangan kognisi menurut Piaget.

2.1.1.1 Tahap Sensorimotor (sejak lahir hingga usia 2 tahun).

Pada tahap ini, bayi mengembangkan pemahaman tentang dunia

melalui koordinasi antara pengalaman sensoris dengan gerakan

motorik-fisik. Bayi juga mulai mengembangkan kemampuan yang lebih dari

sekedar refleks, namun sudah membentuk pola sensori motor yang

kompleks serta mulai mengoperasikan simbol-simbol primitif.

2.1.1.2 Tahap Praoperasional (usia sekitar 2-7 tahun).

Pada tahap ini, anak mulai mampu menerangkan dunia melalui

kata-kata dan gambar. Namun, anak belum mampu melakukan tindakan

mental yang diinterealisasikan yang memungkinkan anak melakukan

secara mental hal-hal yang dahulu dilakukan secara fisik.

2.1.1.3 Tahap Operasional Konkrit (usia 7-11 tahun).

Anak-anak mampu mulai berpikir logis untuk menggantikan cara

berpikir sebelumnya yang masih bersifat intuitif-primitif, namun

(30)

2.1.1.4 Tahap Operasinal Formal (usia sekitar 11-15 tahun).

Pada tahap ini individu melewati dunia nyata dan pengalaman

konkret menuju cara berpikir yang lebih abstrak dan logis, sistematis, serta

mampu mengembangkan hipotesis tentang penyebab terjadinya suatu

peristiwa. Kemudian, dia menguji hipotesis tersebut secara deduktif.

Sebagai konsekuensinya anak mulai mengembangkan gambaran yang

ideal, misalnya bagaimana menjadi orang tua yang ideal.

Pengembangan fase anak sekolah (usia sekolah dasar) ini dibagi

menjadi 7 fase (Yusuf, 2009: 178) yang diuraikan sebagai berikut :

a. Perkembangan intelektual

Pada usia sekolah dasar anak mampu mereaksi rangsangan

intelektual atau melaksanakan tugas-tugas belajar yang menuntut

kemampuan intelektual atau kemampuan kognitif, seperti membaca,

menulis dan menghitung. Di usia ini anak mampu mengelompokkan,

menyusun atau menghitung angka-angka atau bilangan, serta mampu

melakukan perhitungan (menambah, mengurangi, mengalikan dan

membagikan).

b. Perkembangan Bahasa

Pada masa usia sekolah dasar perkembangan mengenal dan

menguasai perbendaharaan kata sangat pesat. Anak dapat menguasai

(31)

kata. Anak sudah terampil membaca dan berkomunikasi dengan orang

lain yang ada di sekitarnya, pada usia ini anak sudah lebih maju dengan

banyak mengajukan pertanyaan soal waktu dan sebab-akibat.

c. Perkembangan Sosial

Perkembangan sosial pada anak sekolah dasar ditandai dengan

adanya perluasan hubungan dengan keluarga, teman sebaya atau teman

sekelas, sehingga ruang gerak hubungan sosial telah bertambah luas.

Anak mulai memiliki kesanggupan menyesuaikan diri-sendiri kepada

sikap kerja sama atau kepeduliannya terhadap kepentingan orang lain.

Pada usia ini, anak berminat untuk bermain dengan teman sebayanya,

dengan begitu dia merasa senang apabila bisa bermain dengan teman

sebayanya.

d. Perkembangan Emosi

Anak sekolah dasar mulai menyadari bahwa dengan penggunaan

emosi secara kasar tidak dapat diterima di masyarakat. Pengontrolan

emosi anak diperoleh melalui peniruan dan pembiasaan. Emosi yang

biasanya dirasakan oleh anak seusia sekolah dasar yaitu marah, takut,

(32)

e. Perkembangan Moral

Anak mulai mengenal konsep moral (baik-buruk, benar-salah)

pertama kali dari lingkungan keluarga. Apada anak usia SD, anak dapat

mengikuti peraturan dari orang tua atau lingkungan sekitar.

f. Perkembangan Penghayatan Keagamaan

Pada anak usia SD adalah masa pembentukan nilai-nilai agama

sebagai kelanjutan periode berikutnya. Anak dibiasakan untuk

beribadah, karena menyangkut dengan akhlak terhadap sesama

manusia, seperti hormat kepada orangtua, guru, dan orang lain. Dengan

hal ini anak dapat bertanggung jawab terhadap sikap kepada dirinya

sendiri maupun dengan orang lain.

g. Perkembangan motorik

Pada usia sekolah dasar, anak mempunyai kelebihan gerak atau

aktivitas motorik yang lincah, hal ini merupakan masa yang ideal untuk

belajar keterampilan yang berkaitan dengan menggambar, menulis,

melukis, atletik, mengetik, dan bermain bola.

Peneliti memilih tahap piaget ini karena perkembangan anak pada

usia sekolah dasar pasti melewati tahap-tahap dikemukakan oleh piaget,

meskipun setiap perkembangan cepat lambatnya anak satu dengan yang

(33)

2.1.2 Membaca

2.1.2.1 Pengertian Membaca

Membaca merupakan interaksi antara pembaca dan penulis.

Interaksi tersebut tidak langsung, tetapi bersifat komunikatif. Komunikasi

antara pembaca dan penulis akan semakin baik jika pembaca mempunyai

kemampuan yang lebih baik. Pembaca hanya dapat berkomunikasi dengan

karya tulis yang digunakan oleh pengarang sebagai media untuk

menyampaikan gagasan, perasaan, dan pengalamannya. Dengan demikian

pembaca harus mampu menyusun pengertian-pengertian yang tertuang

dalam kalimat-kalimat yang disajikan oleh pengarang sesuai dengan

konsep yang terdapat pada diri pembaca (Haryadi, 2006: 77). Membaca

juga dapat diartikan sebagai proses yang dilakukan serta dipergunakan

oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampikan oleh

penulis melalui media kata-kata/ bahasa tulis. Suatu proses yang menuntut

agar kelompok kata yang merupakan suatu kesatuan akan terlihat dalam

suatu pandangan sekilas dan makna kata-kata secara individual dapat

diketahuai (Tarigan, 2008: 7). Menurut Tampubolon (2008: 5) membaca

adalah salah satu dari empat kemampuan bahasa pokok dan merupakan

satu bagian atau komponen dari komunikasi tulisan. Komunikasi tulisan

merupakan lambang-lambang tulisan atau huruf menurut alfabet latin.

Dari beberapa definisi diatas, maka dapat diambil kesimpulan

(34)

kepada pembaca dengan menggunakan lambang-lambang tulisan atau

huruf menurut alfabet latin sehingga dapat tertuang dalam kalimat-kalimat

yang disajikan oleh penulis.

2.1.2.2 Tujuan Membaca

Tujuan utama dalam membaca adalah untuk mencari serta

memperoleh informasi, mencakup isi, memahami makna bacaan. Makna,

arti (meaning) erat sekali berhubungan dengan maksud tujuan, atau

intensif kita dalam membaca (Tarigan, 2008: 9). Berikut ini adalah

beberapa tujuan penting dari membaca :

a) Membaca untuk mengemukakan atau mengetahui

penemua-penemuan yang telah dilakukan oleh tokoh; apa-apa yang telah

dibuat oleh tokoh; apa yang telah terjadi pada tokoh khusus, atau

untuk memecahkan masalah-masalah yang dibuat oleh tokoh.

Membaca seperti ini disebut membaca untuk memperoleh

perincian-perincian atau fakta-fakta.

b) Membaca untuk mengetahui mengapa hal itu merupakan topik

yang baik dan menarik, masalah yang terdapat pada cerita, apa-apa

yang dipelajari atau yang dialami tokoh, merangkumkan hal-hal

yang dilakukan oleh tokoh untuk mencapai tujuannya. Membaca

seperti ini disebut membaca untuk memperoleh ide-ide utama.

c) Membaca untuk menemukan atau mengetahui apa yang terjadi

(35)

kedua dan ketiga/ seterusnya. Setiap tahap dibuat untuk

memecahkan masalah adegan-adegan dan kejadian-kejadian buat

dramatisasi. Ini disebut membaca untuk mengetahui urutan/

susunan, organisasi cerita.

d) Membaca untuk menemukan serta mengetahui mengapa para tokoh

merasakan seperti cara mereka itu, apa yang hendak diperlihatkan

oleh pengarang kepada para pembaca, mengapa para tokoh berubah

kualitas-kualitas yang dimiliki para tokoh yang membuat mereka

berhasil/ gagal. Isi disebut membaca untuk menyimpulkan,

membaca inferensi.

e) Membaca untuk menemukan serta mengetahui apa-apa yang tidak

biasa, tidak wajar mengetahui sesorang tokoh apa yang lucu dalam

cerita, atau apakah yang benar dan tidak benar dalam cerita. Ini

disebut membaca untuk mengelompokkan, membaca untuk

mengklasifikasikan.

f) Membaca untuk menemukan apakah tokoh berhasil atau hidup

dengan ukuran-ukuran tertentu, apakah kita ingin berbuat seperti

yang diperbuat oleh tokoh, atau bekerja seperti cara tokoh bekerja

dalam cerita itu. Ini disebut membaca menilai, membaca

mengevaluasi.

g) Membaca untuk menemukan bagaimana caranya tokoh berubah,

(36)

bagaimana dua cerita mempunyai persamaan, dan bagaiman tokoh

menyerupai pembaca. Ini disebut membaca untuk

memperbandingkan atau mempertentangkan.

Tujuan membaca menurut Burn (dalam Rahim 2007: 11)

mencakup: kesenangan, menyempurnakan membaca nyaring,

menggunakan strategi tertentu, memperbarui pengetahuannya tentang

suatu topik, mengaitkan informasi baru dengan informasi yang telah

diketahuinya, memperoleh informasi untuk laporan lisan atau tertulis,

mengaplikasikan informasi yang diperoleh dari suatu teks, dan menjawab

pertanyaan-pertanyaan spesifik.

2.1.2.3 Keterampilan dan Aspek-aspek Membaca

Menurut Rahim (2007: 2) kegiatan membaca memiliki 3

keterampilan dasar yaitu recording, decoding, dan meaning. Recording

merajuk pada kata-kata dan kalimat, kemudian mengngasosiakan dengan

bunyi-bunyinya sesuai dengan sistem tulisan yang digunakan. Proses

decoding merujuk pada proses penerjemahan rangkaian grafis ke dalam

kata-kata. Sedangkan meaning merupakan proses memahami makna yang

berlangsung dari tingkat pemahaman interpretatif, kreatif, dan evaluatif.

Proses recording dan decoding terjadi pada kelas awal, sedangkan

meaning pada kelas tinggi (akhir). Menurut Tarigan (2008: 11) bahwa

keterampilan membaca mencakup 3 komponen, yaitu pengenalan terhadap

(37)

dengan unsur-unsur linguistik yang formal, dan yang terakhir adalah

hubungan lebih lanjut dari suatu kemampuan untuk mengenal

bentuk-bentuk yang disesuaikan dengan mode yang berupa gambar-gambar, garis,

lengkungan dan titik dalam hubungan berpola yang beraturan rapi dengan

suatu kemampuan untuk menghubungkan tanda-tanda hitam dari atas

kertas yaitu gambar-gambar berpola dengan bahasa.

Membaca merupakan suatu keterampilan yang kompleks yang

melibatkan serangkaian keterampilan yang lebih kecil lainnya (Tarigan,

2008: 12). Sebagai garis besarnya, terdapat dua aspek penting dalam

membaca yaitu:

a. Keterampilan yang bersifat mekanis yang dapat dianggap berada pada

urutan yang lebih rendah. Aspek ini mencakup:

1. Pengenalan bentuk huruf.

2. Pengenalan unsur-unsur linguistik (fonem, kata, frase, kalimat, pola

klausa dll.)

3. Pengenalan hubungan pola ejaan dan bunyi.

b. Keterampilan yang bersifat pemahaman yang dianggap berada pada

urutan yang lebih tinggi. Aspek ini mencakup:

1. Memahami pengertian sederhana (leksikal, gramatikal dan

retorikal).

2. Memahami signifikasi atau kata (maksud dan tujuan pengarang,

relevansi/ keadaan kebudayaan, dan reaksi pembaca).

(38)

4. Kecepatan membaca yang fleksibel, yang mudah disesuaikan

dengan keadaan.

2.1.2.4 Tahap-tahap Membaca

Menurut Tarigan (2008: 18) ada beberapa tahap yang dapat diikuti

bila perlu dalam situasi serta kondisi memungkinkan. Tahapan ini

diuraikan sebenarnya tertuju kepada para pelajar dan pelajar bahasa asing

secara umum, namun demikian para pengajar serta pelajar bahasa

Indonesia pun dapat mengambil manfaat dari bahan tersebut dengan tujuan

pengajaran membaca pada sekolah yang bersangkutan. Adapun tahapan

tersebut yaitu pada tahap pertama para pelajar membaca bahan yang telah

mereka pelajari, mengucapkannya dengan baik. Pada tahap ini para pelajar

harus dibimbing untuk mengembangkan responsi-responsi yang otomatis

terhadap gambaran-gambaran huruf, setelah itu guru membentuk

kelompok dan meminta membaca nyaring. Lalu membaca mengikuti guru

bersama-sama dan diminta untuk membaca secara bergantian.

Tahap kedua, guru atau kelompok guru bahasa asing pada sekolah

yang bersangkutan menyusun kata-kata atau struktur yang telah diketahui

tersebut menjadi bahan dialog atau paragraf yang beraneka ragam, para

pelajar dibantu dalam membaca bahan yang baru disusun yang

mengandung unsur-unsur yang sudah biasa bagi mereka.

Tahap ketiga, para pelajar mulai membaca bahan yang berisi

sejumlah kata dan struktur yang masih asing bagi mereka. Guru dapat

(39)

dengan usia para pelajar. Dengan ini para pelajar mengalami sedikit

bahkan tidak menghadapi kesulitan adanya kata baru yang diselipkan.

Acapkali teks-teks tata bahasa berisi paragraf-paragraf yang sesuai buat

bacaan pada tahap ini.

Tahap keempat, yaitu beberapa spesialis dalam bidang membaca

menganjurkan pengunaan teks-teks sastra atau majalah-majalah yang telah

disederhanakan sebagai bahan bacaan pada tahap ini yang dapat

dimanfaatkan oleh para pelajar untuk mempermudahkan membacanya.

Dan tahap yang terakhir, yaitu bahan bacaan tidak dibatasi, artinya seluruh

dunia buku terbuka bagi para pelajar.

2.1.2.5 Faktor Pengaruh Pembelajaran Membaca

Keterampilan membaca seperti mrupakan suatu kemampuan yang

kompleks, banyak faktor yang mempengaruhinya. Menurut Rahim (207:

16) faktor yang memengaruhi membaca permulaan adalah:

1. Faktor Fisikologis

Faktor fisikologis mencakup kesehatan fisik, pertimbangan neurologis,

dan jenis kelamin. Kelelahan juga merupakan kondisi yang tidak

menguntungkan bagi anak untuk belajar, khususnya belajar membaca.

2. Faktor Intelektual

Secara umum, intelegensi anak tidak sepenuhnya memengaruhi

(40)

mengajar guru, prosedur, dan kemampuan guru juga turut mepengaruhi

kemampuan membaca permulaan anak.

3. Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan juga memengaruhi kemajuan kemampuan membaca

siswa. Faktor lingkungan itu mencakup latar belakang dan pengalaman

siswa di rumah, dan sosial ekonomi keluarga siswa.

4. Faktor Psikologis

Faktor lain yang juga memengaruhi kemajuan kemampuan membaca

anak adalah faktor psikologis. Faktor ini mencakup motivasi, minat,

dan kematangan sosial, emosi, serta penyesuaian diri.

Menurut Abdurrahman (2003: 201) mengemukakan bahwa

ada delapan faktor yang memberikan sumbangan bagi keberhasilan

belajar membaca yaitu kematangan mental, kemampuan visual,

kemampuan mendengarkan, perkembangan wicara dan bahasa,

keterampilan berpikir dan memperhatikan, perkembangan motorik,

kematangan sosial dan emosional, dan motivasi dan minat.

2.1.2.6 Jenis-jenis Membaca

Menurut Tarigan (2008: 23), ada tiga jenis membaca yaitu

membaca nyaring atau membaca bersuara, membaca dalam hati, dan

membaca telaah isi. Membaca nyaring atau bersuara merupakan kegiatan

(41)

lain keterampilan melafalkan, intonasi, kejelasan, bahkan keberaniaan

dalam membaca. Membaca dalam hati adalah membaca yang hanya

mempergunakan ingatan visual (visual memory) yang melibatkan mata

dan ingatan, bertujuan untuk memperoleh informasi. Keterampilan

membaca dalam hati sangat sering dilakukan oleh banyak orang, sebab

dalam membaca dalam hati informasi akan mudah diperoleh tanpa

mengeluarkan suara saat membaca. Membaca telaah isi adalah membaca

dengan tujuan untuk mengetahuii serta menelaah suatu isi bacaan secara

lebih mendalam. Membaca telaah isi, pembaca memerlukan kemampuan

dan keterampilan yang lebih dalam, dalam memahami isi bacaan yaitu

dengan kemampuan membaca pemahaman.

2.1.2.7 Gerakan Literasi Sekolah

Menurut Sutrianto (2016: 2) Gerakan literasi sekolah merupakan

sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan

sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literasi sepanjang

hayat melalui pelibatan publik. Menurut Wiedarti (2016: 7) juga

mengemukakan bahwa gerakan literasi sekolah adalah suatu usaha atau

kegiatan yang bersifat partisipatif dengan melibatkan warga sekolah baik

peserta didik, guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, pengawas

sekolah, komite sekolah, maupun orang tua murid.

Salah satu upaya penumbuhan budi pekerti dapat dilakukan dengan

(42)

konteks kebangsaan dan kenegaraaan Indonesia seperti yang terkandung

dalam butirbutir Nawacita: nilai-nilai budi pekerti, kearifan lokal,

nasional, dan global yang disampaikan sesuai tahap perkembangan peserta

didik. Kegiatan membaca tersebut dapat dilakukan 15 menit setiap hari

pada saat pelajaran di kelas dimulai, atau disesuaikan dengan kondisi

sekolah masing-masing. Hal ini merupakan salah satu dasar dalam tahap

pembiasaan sebelum masuk ke tahap pengembangan dan pembelajaran.

Kegiatan membaca ini sebenarnya ada dalam semua komponen literasi.

Komponen literasi informasi yang terdiri atas literasi dasar, literasi

perpustakaan, literasi media, literasi teknologi, dan literasi visual

(Sutrianto, 2016: 5).

Tujuan membaca selama 15 menit setiap hari menurut Sutrianto

(2016: 9) adalah memotivasi peserta didik untuk mau dan terbiasa

membaca, menunjukkan bahwa membaca sesuatu kegiatan yang

menyenangkan, memperkaya kosa kata (dalam bahasa tulisan), menjadi

sarana berkomunikasi antara peserta didik dan guru, mengajarkan strategi

membaca, dan guru sebagai teladan membaca (reading role model).

2.1.3 Buku Cerita Bergambar

2.1.3.1 Pengertian Buku Cerita Bergambar

Menurut Hardjana (2006: 2) cerita anak adalah cerita yang ditujukan

untuk anak-anak, dan bukan cerita tentang anak. Dalam buku cerita anak

(43)

dijadikan tokoh dalam sebuah cerita tersebut. orang tua, kakek, nenek, pak

guru, mahasiswa, anak remaja, binatang, bahkan peri atau makhluk halus

bisa menjadi tokoh cerita. Pendapat lain juga diungkapkan oleh Egan

(2009: 3) bahwa cerita merupakan salah satu alat kognisi paling ampuh

yang dimiliki oleh para siswa, yang tersedia untuk keterlibatan imajinatif

dengan ilmu pengetahuan.

Menurut Sumanto (2005: 5) menggambar merupakan suatu

perbuatan seseorang dalam usahanya untuk mengungkapkan buah pikiran,

sehingga bermakna visual pada suatu gambar dan hasil disebut gambar.

Media gambar memegang peranan yang sangat penting dalam proses

belajar. Manfaat yang diperoleh dari media gambar adalah anak dapat

memahami isi gambar, sehingga anak lebih termotivasi dan lebih tertarik

untuk membaca dan mengetahui isi cerita bergambar (Sari, 2010: 28).

Menurut Mitchell dalam Nurgiyantoro (2005: 153) buku cerita

bergambar adalah buku yang menampilkan gambar dan teks dan keduanya

saling menjalin. Baik gambar maupun teks secara sendiri belum cukup

untuk mengungkapkan cerita secara lebih mengesankan, dan keduanya

saling membutuhkan untuk saling mengisi dan saling melengkapi. Dari

beberapa uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa buku cerita bergambar

adalah cerita yang ditujukan untuk anak-anak yang di dalamnya terdapat

tokoh-tokoh hewan, tumbuhan, peri bahkan manusia yang dilengkapi

dengan isi teks beserta gambar ilustrasi tersebut sehingga dapat menarik

(44)

2.1.3.2 Tujuan Buku Cerita Bergambar

Tujuan dari buku cerita bergambar diantaranya adalah dengan buku

cerita bergambar anak menjadi terinspirasi, membantu anak dalam

perkembangan apresiasi kultural, memperluas pengetahuan anak,

menimbulkan kesenangan tersendiri bagi anak , mengembangkan imajinasi

anak dan dapat memotivasi anak untuk lebih banyak menggali literatur.

(Raines, 2002: 7). Suyanto dan Abbas (dalam Musfiroh 2005: 23) cerita

dapat digunakan sebagai sarana mendidik dan membentuk kepribadian

anak. Nilai-nilai luhur ditanamkan pada diri anak melalui penghayatan

terhadap makna dan maksud cerita. Tranmisi budaya terjadi secara

alamiah. Anak memiliki referensi yang mendalam karena setelah

menyimak, anak melakukan serangkaian aktivitas kognisi dan afeksi yang

rumit dari fakta cerita separti nama tokoh, sifat tokoh, latar tempat, dan

budaya, serta hubungan sebab akibat dalam alur cerita dan pesan moral

yang tersirat didalamnya, misalnya makna kebaikan, kejujuran, dan kerja

sama. Proses ini terjadi secara lebih kuat dari pada nasehat atau paparan.

Mitchell (dalam Nurgiyantoro, 2005: 159) buku cerita bergambar

dapat membantu anak terhadap pengembangan dan perkembangan emosi.

Anak akan merasakan terfasilitasi dan terbantu untuk memahami dan

menerima dirinya sendiri dan orang lain, serta mengekspresikan berbagai

emosinya, seperti takut, senang, sedih dan bahagia yang merupakan bagian

(45)

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tujuan

dari buku cerita bergambar adalah media yang dapat digunakan untuk

membantu anak-anak dalam memperluas pengetahuan, mengembangkan

imajinasi dan dapat menanamkan nilai-nilai pada diri anak melalui

penghayatan terhadap makna dan maksud cerita.

2.1.4 Pendidikan Lingkungan Hidup

Menurut Wuryandari (2015: 244) lingkungan hidup adalah segala

sesuatu yang ada di sekitar manusia, yang mempengaruhi perkembangan

kehidupan manusia, baik langsung maupun tidak langsung.

Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 1997 menyebut lingkungan hidup sebagai

kesatuan ruang dengan semua benda dan perilakunya yang melangsungkan

perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya.

Dengan terminologi itu, maka pemahaman Indonesia terhadap lingkungan

biotik, unsur sosial budaya yang dibuat dan ditaati masayarakat, dan unsur

abiotik yang terdiri dari benda-benda tak hidup seperti tanah, air, udara,

iklim, dan lain-lain.

Pendidikan lingkungan tidak hanya memberikan pengetahuan

tentang lingkungan tetapi juga meningkatkan kesadaran terhadap

lingkungan dan kepeduliannya terhadap kondisi lingkungan. Melalui

pendidikan lingkungan individu akan dapat memahami pentingnya

lingkungan dan bagaimana keterkaitan lingkungan dengan masalah

ekonomi, sosial, budaya, serta pembangunan. Pendidikan lingkungan

(46)

keterampilan yang diwarnai dengan kepedulian terhadap penggunaan dan

konservasi sumber daya alam secara wajar (Hamzah, 2013: 35). Peran

dan tujuan pendidikan lingkungan yaitu pendidikan lingkungan perlu

dipamahami dengan baik, merupakan pendidikan sepanjang hayatyang

komprehensif, satu tanggapan terhadap satu perubahan dunia yang sangat

cepat. Pendidikan lingkungan akan menyiapkan setiap individu seumur

hidup melalui suatu pemahaman terhadap masalah utama dunia pada saat

ini dan membekali setiap individu dengan keterampilan dan pengetahuan

yang dibutuhkan untuk berperan produktif untuk meningkatkan kualitas

hidup serta melindungi lingkungan dengan kepedulian dan nilai-nilai etika

(Hamzah, 2013: 37). Pendapat lain juga dirumuskan oleh UNESCO

(dalam Hamzah 2013: 39) bahwa pendidikan lingkungan adalah suatu

proses unutk mengenali nilai-nilai dan menjelaskan konsep dalam rangka

mengembangkan keterampilan, sikap yang diperlukan untuk memahami

serta menghargai hubungan timbal balik antara manusia, budaya dan

lingkungan biofisiknya.

Menurut konvensi UNESCO di Tbilisi (dalam Hamzah 2013: 39)

pendidikan lingkungan hidup adalah suatu proses yang bertujuan untuk

menciptakan suatu masyarakat dunia yang memiliki kepedulian terhadap

lingkungan dan masalah-masalah yang terkait di dalamnya serta memiliki

pengetahuan, motivasi, komitmen, dan keterampilan untuk bekerja, baik

secara perorangan maupun kolektif dalam mencari alternatif atau memberi

(47)

untuk menghindari timbulnya masalah-masalah lingkungan hidup baru.

Definisi ini memberikan pemahaman kepada kita bahwa dalam pendidikan

lingkungan terdapat upaya untuk menggiring individu ke arah perubahan

gaya hidup dan perilaku ramah lingkungan. Tujuan pendidikan lingkungan

hidup tersebut adalah: (1) untuk membantu menjelaskan masalah

kepedulian serta perhatian tentang saling keterkaitan antara ekonomi,

sosial, politik, dan ekologi di kota maupun di wilayah pedesaan; (2) untuk

memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk mengembangkan

pengetahuan, nilai sikap, komitmen dan kemampuan yang dibutuhkan

untuk melindungi dan memperbaiki lingkungan, dan (3) untuk

menciptakan pola perilaku yang baru pada individu, sekelompok, dan

masyarakat sebagai suatu keseluruhan terhadap lingkungan. Sedangkan

tujuan yang ingin dicapai tersebut meliputi aspek:

2.1.4.1 Pengetahuan, untuk membentuk peserta didik memperoleh pemahaman

dasar tentang lingkungan hidup secara keseluruhan dan masalah-masalah

yang berhubungan dengannya.

2.1.4.2 Sikap, untuk membantu peserta didik memperoleh seperangkat nilai-nilai

dan sikap peduli terhadap lingkungan hidup serta motivasi untuk

berpartisipasi secara aktif dalam memperbaiki dan melindungi lingkungan

hidup.

2.1.4.3 Kepedulian, untuk membantu peserta didik mengembangkan kepedulian

dan sensivitas terhadap lingkungan hidup secara keseluruhan dan

(48)

2.1.4.4 Keterampilan, untuk membantu peserta didik memperoleh keterampilan

dalam mengidentifikasi, menyelidiki, dan memecahkan masalah-masalah

lingkungan hidup.

2.1.4.5 Partisipasi, untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik secara

aktif memasuki semua jenjang pekerjaan pada masa datang yang

berkenaan dengan masalah-masalah lingkungan hidup.

Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan

lingkungan hidup adalah suatu proses yang diajarkan untuk meningkatkan

kepedulian siswa terhadap lingkungan yang ada di sekitarnya.

2.2 Penelitian yang Relevan

Berdasarkan dari penelitian yang dilakukan oleh peneliti

sebelumnya mengenai pengembangan pembelajaran, peneliti mengambil

beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian pengembangan ini.

Berikut tiga penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah :

Pertama, penelitian yang dilakukan oleh Ratna Dwi Astuti (2012)

yang berjudul “Pengaruh Buku Bergambar terhadap Minat Baca Siswa di

SDN Lempuyangwangi Yogyakarta”. Tujuan penelitian ini adalah

mendiskripsikan keadaan buku bergambar, keadaan minat baca siswa, dan

pengaruh buku gambar terhadap minat baca siswa. Jenis penelitian ini

adalah kuantitatif dengan metode penelitian survei. Teknik yang

digunakan dalam penelitian ini adalah angket, dokumentasi, wawancara

(49)

pedoman wawancara, angket dan lembar observasi. Pedoman wawancara

digunakan untuk mengumpulkan data analisis kebutuhan untuk

menemukan permasalahan yang harus diteliti. Angket digunakan untuk

memperoleh data minat baca siswa terhadap buku bergambar. Teknik

analisis data yang digunakan adalah analisis diskriptif kuantitatif. Hasil

analisis menunjukkan keadaan buku cerita bergambar di SDN

Lempuyangwangi sangat baik, dengan skor 3,38. Keadaan minat baca

siswa juga sangat baik dengan skor 3,40. Pengaruh antara buku bergambar

terhadap minat baca siswa kurang berpengaruh dengan nilai korelasi

sebesar 0,466.

Kedua, penelitian yang dilakukan oleh Ermadwicitawati (2013)

yang berjudul “Pengembangan Materi Ajar Cerita Anak yang

Mengandung Pendidika n Karakter pada Pembelajara n Membaca Cerita

Anak SMP Kelas VII”. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan

materi ajar cerita anak yang mengandung pendidikan karakter pada

pembelajaran membaca cerita anak. Metode penelitian yang digunakan

adalah metode penelitian dan pengembangan (research and development).

Hasil dari penelitian ini adalah tersusunnya materi ajar cerita anak yang

mengandung pendidikan karakter pada pembelajaran membaca cerita anak.

Hasil ujicoba produk menunjukkan bahwa siswa memiliki kemampuan

yang baik dan memahami cerita anak. Hal ini dibuktikan dengan hasil tes

yang menunjukkan bahwa sebanyak 75% lebih siswa mencapai KKM.

(50)

yang relevan dengan tingkat kemampuan siswa, isi materi ajar yang

mengandung pendidikan karakter, sesuai dengan kurikulum, dan

kontekstual terhadap kehidupan siswa. Berdasarkan hasil ujicoba produk

ini digunakan untuk materi ajar dalam pembelajaran cerita untuk anak

SMP kelas VII.

Ketiga, penelitian yang dilakukan oleh Riza Stiyarini (2015) yang

berjudul “Implementasi Kurikulum Pendidikan Lingkungan Hidup dan

Mitigasi Bencana di SMA N Banguntapan Bantul DIY”. Penelitian ini

bertujuan untuk mengetahui kurikulum dan program pendidikan

lingkungan hidup dan mitigasi bencana di SMA N Banguntapan.

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan

kualitatif. Penelitian ini menggunakan teknik trianggulasi, maka

pengumpulan data dilakukan melalui teknik triangulasi dengan

menggabungkan tiga macam teknik yaitu wawancara, observasi dan

pencermatran dokumen. Penelitian ini menggunakan model analisis

interaktif Milles dan Huberman yang langkahnya adalah sebagi berikut

yaitu reduksi data, sajian data, dan penarikkan kesimpulan. Hasil dari

penelitian ini dapat menerapkan kurikulum pendidikan lingkungan hidup

dan mitigasi bencana dengan memadukan dua pendekatan yaitu monolitik

dan integratif.

Keempat, penelitian yang dilakukan oleh Anisa Muslicha (2016)

yang berjudul “Metode Pengajaran dalam Pendidikan Lingkungan Hidup

(51)

metode yang efektif dalam mengajarkan PLH di sekolah Adiwiyata dan

menganalisis aspek dalam pemilihan metode pengajaran PLH di sekolah

dasar. Pendidikan lingkungan hidup penting diajarkan pada siswa SD,

karena untuk memperoleh pengetahuan, kesadaran dan mempunyai sikap

dan perilaku peduli lingkungan. Metode yang digunakan dalam penelitian

ini adalah kuantitatif dengan analisis deskriptif. Penelitian dilakukan di

sekolah penerima Adiwiyata di DKI Jakarta, dengan responden berjumlah

46 orang guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode yang

digunakan guru sekolah Adiwiyata dalam mengajarkan PLH adalah

metode ceramah, metode pengalaman langsung dan diskusi.

Berdasarkan keempat penelitian tersebut, pengembangan buku

cerita bergambar berbasis pendidikan lingkungan hidup masih relevan

untuk diteliti. Peneliti berharap dengan adanya buku cerita bergambar ini

dapat mengembangkan minat baca siswa serta kepeduliannya terhadap

lingkungan yang ada disekitarnya. Kelebihan dari penelitian ini yaitu

pemerintah sudah menerapkan program literasi sekolah yang mewajibkan

siswa membaca buku non akademis selama 15 menit, sehingga buku cerita

yang dikembangkan peneliti efektif untuk diberikan kepada siswa.

Persamaan penelitian peneliti dengan penelitian yang lain yaitu sama-sama

melakukan penelitian tentang buku cerita bergambar dan pendidikan

lingkungan hidup, sedangkan perbedaanya penelitian peneliti untuk

(52)

Keempat penelitian yang relevan tersebut digambarkan ke dalam

diagram agar lebih jelas untuk dipahami. Desain diagram penelitian ini

bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai penelitian yang akan

dilakukan oleh peneliti.

Buku Cerita Bergambar Pendidikan Lingkungan Hidup

Ratna Dwi

(53)

2.3 Kerangka Berpikir

Pendidikan lingkungan hidup adalah suatu proses yang bertujuan

untuk menciptakan suatu masyarakat dunia yang memiliki kepedulian

terhadap lingkungan dan masalah-masalah yang terkait di dalamnya

sehingga dapat memiliki pengetahuan, keterampilan serta kepeduliannya

terhadap lingkungan yang ada di sekitar agar dapat menumbuhkan rasa

cinta terhadap lingkungannya dan dapat berperan penting dalam upaya

melestarikan dan menjaga lingkungan sekitar. Salah satu sarana yang

dapat digunakan untuk memberikan pengetahuan tentang pendidikan

lingkungan hidup ini dapat tertuang ke dalam suatu media yang berupa

buku cerita bergambar. Buku cerita bergambar ini adalah media yang

sangat efisien dan praktis untuk digunakan oleh anak-anak usia SD karena

di dalam buku cerita bergambar ini banyak sekali tokoh yang ada di

dalamnya serta anak dapat memahami isi gambar, sehingga anak lebih

termotivasi dan lebih tertarik untuk membaca dan mengetahui isi cerita

bergambar tersebut. Serta dengan adanya buku cerita bergambar anak

menjadi terinspirasi, membantu anak dalam perkembangan apresiasi

kultural, memperluas pengetahuan anak, menimbulkan kesenangan

tersendiri bagi anak, mengembangkan imajinasi anak dan dapat

memotivasi anak untuk lebih banyak membaca buku. Pada saat ini

membaca sangatlah penting dan harus diajarkan dari usia kanak-kanak,

dan dari pemerintahpun juga sudah menerapkan gerakalin literasi sekolah

(54)

belajar mengajar. Buku yang dibaca adalah buku non pelajaran, sehingga

buku cerita bergambar ini dibuat berisi tentang pendidikan lingkungan

hidup dengan ilustrasi gambar yang menarik dan mudah dipahami oleh

siswa, dengan adanya buku ini siswa dapat mengetahui bagaimana

menghargai, merawat serta melestarikan lingkungan hidup yang ada

disekitarnya. Siswa dapat peduli dengan lingkungan yang ada dan tahu

bagaimana cara memanfaatkan kondisi alam yang sudah ada.

Berdasarkan dari uraian yang telah dijabarkan di atas, maka

penelitian ini mempunyai maksud untuk mengembangkan sebuah buku

cerita bergambar yang berbasis pendidikan lingkungan hidup untuk

menarik minat baca terhadap siswa khususnya pada siswa sekolah dasar

kelas rendah. Sehingga siswa mampu memahami isi dari cerita tersebut

dan menemukan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya khususnya

pada kepedulian akan lingkungan hidup yang ada di sekitar mereka.

2.4 Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan dari uraian di atas, maka dapat dirumuskan beberapa

pertanyaaan penelitian sebagaimana berikut ini :

2.4.1 Bagaimana pengembangan buku cerita bergambar berbasis pendidikan

lingkungan hidup untuk pembelajaran membaca siswa SD kelas rendah ?

2.4.2 Bagaimana kualitas buku cerita bergambar berbasis pendidikan lingkungan

(55)

2.4.3 Bagaimana kualitas buku cerita bergambar berbasis pendidikan lingkungan

hidup untuk pembelajaran membaca siswa SD kelas rendah menurut guru

wali kelas III SDN 3 Palar ?

2.4.4 Bagaimana kualitas buku cerita bergambar berbasis pendidikan lingkungan

hidup untuk pembelajaran membaca siswa SD kelas rendah menurut hasil

(56)

38 BAB III

METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu

pengembangan atau research and development (R&D). Menurut Sugiono

(2010: 407) metode penelitian pengembangan atau research and

development (R&D) adalah metode penelitian yang digunakan untuk

menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan produk tersebut.

Menurut Borg & Gall (dalam Setyorini, 2013: 222) pengertian dari

penelitian pengembangan adalah suatu proses yang dipakai untuk

mengembangkan dan memvalidasi produk. Trianto (2011: 206) juga

mengatakan bahwa penelitian dan pengembangan adalah suatu proses atau

langkah-langkah untuk mengembangkan suatu produk baru, atau

menyempurnakan produk yang telah ada, yang dapat

dipertanggungjawabkan.

Berdasarkan dari beberapa uraian di atas, maka dapat disimpulkan

bahwa penelitian dan pengembangan atau research and development

(R&D) adalah metode penelitian yang digunakan untuk mengembangkan

suatu produk atau membuat produk baru yang dapt diuji kefektifan produk

tersebut.

Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini dan

pengembangan ini mengadopsi dua model. Model yang pertama adalah

Gambar

Gambar 3.1 Bagan Rancangan Penelitian
Tabel 3.1 Tabel Kisi-kisi Wawancara
Tabel 3.2
gambar dan teks yang saling berhubungan. Tampilan buku lebih dominan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Kualitas tersebut dapat ditunjukkan dari berbagai muatan dari buku cerita bergambar teresebut antara lain buku cerita bergambar ini menggunakan bahasa dan gaya tulisan

Saran untuk peneliti selanjutnya yang akan mengembangkan produk buku cerita bergambar berbasis pendidikan anti korupsi pada siswa Sekolah Dasar kelas rendah adalah

a) Buku cerita bergambar dapat membantu anak terhadap pengembangan dan perkembangan emosi. Anak akan merasa terfasilitasi dan terbantu untuk memahami dan menerima dirinya

a) Buku cerita bergambar dapat membantu anak terhadap pengembangan dan perkembangan emosi. Anak akan merasa terfasilitasi dan terbantu untuk memahami dan menerima dirinya

Penelitian ini diharapkan dapat memotivasi dan mendorong siswa terutama kelas III untuk lebih tertarik dan berminat pada kegiatan belajar membaca dengan menggunakan buku cerita

Untuk memecahkan masalah; 2 cerita bergambar menarik imajinasi anak dan rasa ingin tahu tentang masalah supranatural; 3 cerita bergambar memberi anak pelarian sementara hiruk

Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa produk buku cerita bergambar memiliki kualitas yang baik dan mendukung Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dan

Pengembangan buku cerita bergambar berbasis lingkungan hidup pada pembelajaran tematik kelas II SD/MI pada tema merawat hewan dan tumbuhan menggunakan Research and