i
PENGEMBANGAN BUKU CERITA BERGAMBAR BERBASIS
PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP UNTUK
PEMBELAJARAN MEMBACA SISWA SD KELAS RENDAH
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Oleh :
Nindia Desy Permatasari NIM: 131134116
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA
iv
PERSEMBAHAN
Skripsi ini penulis persembahkan kepada:
1. Tuhan Yesus Kristus yang selalu senantiasa memberkati penulis dalam
menyelesaikan skripsi ini.
2. Bapak Bardi Wahyono (Alm) dan Ibu Dewi Wahyuningsih yang selalu
memberikan cinta, kasih sayang, dukungan serta doa kepada penulis, sehingga
penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan baik.
3. Kedua kakak saya Ardhina Devi Maria dan Yustina Murwaningsih yang selalu
memberikan dukungan serta motivasi.
4. Herta Surya Maharta yang selalu memberikan motivasi, semangat, serta
bersabar terhadap penulis selama penulis menyelesaikan skripsi.
5. Sahabat-sahabat saya yang selalu menemani dan memberikan semangat untuk
segera menyelesaikan skripsi ini.
v MOTTO
“Janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya”.
(Matius 6: 8)
“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara
kamu”.
vi ABSTRAK
PENGEMBANGAN BUKU CERITA BERGAMBAR BERBASIS PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP UNTUK PEMBELAJARAN
MEMBACA SISWA SD KELAS RENDAH Nindia Desy Permatasari
Universitas Sanata Dharma 2017
Membaca merupakan keterampilan berbahasa yang penting untuk dioptimalkan di bangku SD khususnya pada siswa kelas rendah. Salah satu penunjang pembelajaran membaca yang digunakan adalah buku cerita bergambar. Penelitian ini merupakan penelitian yang difokuskan pada pendidikan lingkungan hidup untuk menanamkan nilai kepedulian siswa terhadap lingkungan di sekitarnya. Oleh karena itu, peneliti terdorong untuk melakukan penelitian pengembangan buku cerita bergambar berbasis pendidikan lingkungan hidup untuk pembelajaran membaca siswa SD kelas rendah.
Jenis penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan (Research and Development). Produk yang dihasilkan dalam pengembangan ini berupa buku cerita bergambar untuk pembelajaran membaca yang berbasis pendidikan lingkungan hidup. Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan modifikasi dari langkah Sugiyono dan Langkah Borg & Gall. Ada enam langkah proses pengembangan buku cerita bergambar yang telah dimodifikasi peneliti yaitu (1) potensi dan masalah, (2) pengumpulan data, (3) desain produk, (4) validasi desain, (5) revisi desain, dan (6) uji coba produk. Buku cerita bergambar ini telah divalidasi oleh tiga validator. Skor rata-rata yang diperoleh dari hasil validasi adalah 4,4 dengan kategori sangat baik sehingga layak digunakan untuk uji coba produk.
Uji coba produk dilakukan kepada 6 siswa kelas III SD untuk mengetahui pendapat dari siswa mengenai kualitas buku cerita bergambar. Dari hasil uji coba yang telah dilakukan peneliti bahwa semua siswa tertarik dengan buku cerita bergambar yang telah dibacanya, karena produk yang dihasilkan peneliti mudah untuk dipahami siswa dari isi ceritanya dan dapat menanamkan sikap peduli terhadap lingkungan sekitar.
viii ABSTRAK
PENGEMBANGAN BUKU CERITA BERGAMBAR BERBASIS PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP UNTUK PEMBELAJARAN
MEMBACA SISWA SD KELAS RENDAH Nindia Desy Permatasari
Universitas Sanata Dharma 2017
Membaca merupakan keterampilan berbahasa yang penting untuk dioptimalkan di bangku SD khususnya pada siswa kelas rendah. Salah satu penunjang pembelajaran membaca yang digunakan adalah buku cerita bergambar. Penelitian ini merupakan penelitian yang difokuskan pada pendidikan lingkungan hidup untuk menanamkan nilai kepedulian siswa terhadap lingkungan di sekitarnya. Oleh karena itu, peneliti terdorong untuk melakukan penelitian pengembangan buku cerita bergambar berbasis pendidikan lingkungan hidup untuk pembelajaran membaca siswa SD kelas rendah.
Jenis penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan (Research and Development). Produk yang dihasilkan dalam pengembangan ini berupa buku cerita bergambar untuk pembelajaran membaca yang berbasis pendidikan lingkungan hidup. Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan modifikasi dari langkah Sugiyono dan Langkah Borg & Gall. Ada enam langkah proses pengembangan buku cerita bergambar yang telah dimodifikasi peneliti yaitu (1) potensi dan masalah, (2) pengumpulan data, (3) desain produk, (4) validasi desain, (5) revisi desain, dan (6) uji coba produk. Buku cerita bergambar ini telah divalidasi oleh tiga validator. Skor rata-rata yang diperoleh dari hasil validasi adalah 4,4 dengan kategori sangat baik sehingga layak digunakan untuk uji coba produk.
Uji coba produk dilakukan kepada 6 siswa kelas III SD untuk mengetahui pendapat dari siswa mengenai kualitas buku cerita bergambar. Dari hasil uji coba yang telah dilakukan peneliti bahwa semua siswa tertarik dengan buku cerita bergambar yang telah dibacanya, karena produk yang dihasilkan peneliti mudah untuk dipahami siswa dari isi ceritanya dan dapat menanamkan sikap peduli terhadap lingkungan sekitar.
ix ABSTRACT
THE DEVELOPMENT OF ILLUSTRATED STORY BOOK BASED ON ENVIRONMENTAL EDUCATION IN TEACHING READING TO THE
LOWER CLASS STUDENTS OF ELEMENTARY SCHOOL
Nindia Desy Permatasari Sanata Dharma University
2017
Reading is a language skill that is important to be optimized in Elementary School level, especially to the lower class students. One of the supporting of teaching reading which is used is illustrated story book. This research is a research that is focused on environmental education to implant the students awareness value to their environment. Therefore, the reseacher is motivated to do the research of the development of illustrated story book based on environmental education in teaching reading to the lower class students of Elementary School.
The type of this research is Research and Development. The product that is produced in this development is an illustrated story book for teaching reading based on environmental education. This research uses Research and Development
Method which is modified from Sugiyono’s step and Borg & Gall’s step. There
are six steps for the process of the development of illustrated story book which are modified by the researcher. The six step are (1) potential and problem, (2) data collection, (3) product design, (4) design validation, (5) design revision, and (6) product trial. This illustrated story book has been validated by three validators.
The average score from the validation result is 4.4 which is categorized “Very Good”. So, it is useable to try the product out.
The product trial is done by six students to the third grade of Elementary School. It aims to know the students opinions for the quality of this illustrated story book. From the result of product trial that has been done by the researcher, it is concluded that all of the students are interested in this ilustrated story book they
read because this researcher’s product is easy to be understood by the students
from the content of the story and able to implant awareness attitude for the environment.
x
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan kasih dan penyertaanNya sehingga skripsi yang berjudul
Pengembangan Buku Cerita Bergambar Berbasis Pendidikan Lingkungan Hidup
Untuk Pembelajaran Membaca Siswa SD Kelas Rendah ini dapat terselesaikan
dengan baik.
Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana
Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan
dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma. Keberhasilan penulisan skripsi
tidak terlepas dari bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu,
penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Rohandi, Ph.D. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.
2. Christiyanti Aprinastuti S.Si., M.Pd. selaku Kaprodi PGSD.
3. Apri Damai Sagita K., S.S., M.Pd. selaku Wakaprodi PGSD, sekaligus dosen
pembimbing II yang telah memberikan bimbingan serta masukkan bagi
penulis dalam menyusun skripsi ini.
4. Brigitta Erlita Tri Anggadewi, M.Psi. selaku dosen pembimbing I yang telah
membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
5. Andreas Erwin P., M.Pd. selaku validator yang telah membantu
xi
6. Jarot Wardoyo, S.Pd. selaku kepala sekolah SD N 3 Palar yang telah
memberikan ijin selama penelitian yang dilakukan.
7. Wiwik Hastuti, S.Pd. selaku validator sekaligus guru wali kelas III SD N 3
Palar yang telah bersedia dan bekerja sama dengan baik selama penelitian
berlangsung.
8. Seluruh siswa kelas III SD N 3 Palar yang telah bersedia berpartisipasi dalam
melakukan analisis kebutuhan.
9. Para dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma yang telah
memberikan ilmunya dalam mendidik penulis selama kuliah.
7. Ayah dan Ibu penulis, Bapak Bardi Wahyono (Alm) dan Ibu Dewi
Wahyuningsih yang selalu memberikan cinta, kasih sayang, dukungan serta
doa kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan
baik.
8. Kedua kakak saya Ardhina Devi Maria dan Yustina Murwaningsih yang selalu
memberikan dukungan serta motivasi.
10. Herta Surya Maharta yang selalu memberikan motivasi, semangat, serta
bersabar terhadap penulis selama penulis menyelesaikan skripsi.
11. Sahabat-sahabatku Ola, Achun, Vera, Vero, Lola, Listy, Cicil. Teman
dekatku Agnes, Wulan, Lendi, Wahono. Teman-teman PPL Tika, Dita, Lola,
xii
dapat disebutkan satu persatu. Teman-teman skripsi payung yang telah
mendukung, mendoakan, dan saling berbagi cerita sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi dengan baik.
12. Seluruh pihak yang tidak bisa disebutkan satu per satu, yang telah
memberikan semangat dan dukungan kepada penulis, sehingga penulis
memiliki motivasi untuk menyelesaikan skripsi ini. Terimakasih untuk
semuanya, semoga karya penelitian ini dapat memberikan manfaat dan
berguna bagi banyak pihak.
xiii
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS...vii
xiv
2.1.2.4 Tahap-tahap Membaca...20
2.1.2.5 Faktor Pengaruh Pembelajaran Membaca...21
2.1.2.6 Jenis-jenis Membaca ...23
2.1.2.7 Gerakan Literasi Sekolah...23
2.1.3 Buku Cerita Bergambar...24
2.1.3.1 Pengertian Buku Cerita Bergambar...24
2.1.3.2 Tujuan Buku Cerita Bergambar...26
2.1.4 Pendidikan Lingkungan Hidup...27
3.6.1 Teknik Analisa Data Kualitatif...57
3.6.2 Analisa Data Kuantitatif...58
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN...62
4.1 Hasil Penelitian Pengembangan...62
4.1.1 Hasil Penelitian Pengembangan...62
xv
4.2 Pembahasan...95
BAB V PENUTUP...100
1.1 Kesimpulan...100
1.2 Keterbatasan penelitian...100
1.3 Saran ...101
DAFTAR REFERENSI...102
xvi
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Tabel Kisi-kisi Wawancara...51
Tabel 3.2 Kisi-kisi Kuesioner Uji Validasi untuk Dosen Ahli dan Guru...53
Tabel 3.3 Instrumen Kuesioner Uji Validasi untuk Ahli dan Guru...54
Tabel 3.4 Kisi-Kisi Kuesioner Uji Validasi untuk Siswa...55
Tabel 3.5 Instrumen Kuesioner Uji Validasi untuk Siswa...56
Tabel 3.6 Pedoman Pemberian Skor...58
Tabel 3.7 Konversi Skala Lima...59
Tabel 4.1 Tabel Kisi-Kisi Wawancara...67
Tabel 4.2 Tabel Penjabaran Karakter Tokoh pada Cerita...72
Tabel 4.3 Hasil Validasi oleh Dosen ahli...81
Tabel 4.4 Hasil Validasi oleh Guru Wali Kelas III...83
Tabel 4.5 Hasil Validasi oleh Siswa Wali Kelas III...85
Tabel 4.6 Tabel Masukan Dosen Ahli dan Perbaikan Desain...86
Tabel 4.7 Tabel Masukan Guru Wali Kelas III dan Perbaikan Desain...89
Tabel 4.8 Tabel Masukan Siswa Kelas III dan Perbaikan Desain...90
Tabel 4.9 Tabel Rekapitulasi Hasil Kuesioner Siswa...92
Tabel 4.10 Hasil Rekapitulasi Validator...93
xvii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 3.1 Bagan Rancangan Penelitian...48
Gambar 4.1 Judul Buku...75
Gambar 4.2 Gambar Sketsa Tangan...76
Gambar 4.3 Gambar Sketsa Tangan Sebelum Diwarnai...77
Gambar 4.4 Gambar Sketsa Tangan Sesudah Diwarnai...78
Gambar 4.5 Font untuk Judul Buku...79
Gambar 4.6 Font untuk Kata Pengantar, Panduan Penggunaan Buku, dan Refleksi...79
Gambar 4.7 Font untuk Teks Narasi...80
Gambar 4.8 Sebelum Revisi dari Dosen...87
Gambar 4.9 Sesudah Revisi dari Dosen...87
Gambar 4.10 Sebelum Revisi dari Dosen...88
Gambar 4.11 Sesudah Revisi dari Dosen...88
Gambar 4.12 Sebelum Revisi dari Guru Kelas III...89
Gambar 4.13 Sesudah Revisi dari Guru Kelas III...89
Gambar 4.14 Sebelum Revisi dari Siswa Kelas III...90
Gambar 4.15 Sesudah Revisi dari Siswa Kelas III...90
xviii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Hasil Wawancara dengan Guru Kelas III SD Negeri 3 Palar...105
Lampiran 2 Data Hasil Validasi oleh Dosen Ahli...109
Lampiran 3 Data Hasil Validasi oleh Guru Kelas III...112
Lampiran 4 Data Hasil Validasi Siswa...115
Lampiran 5 Data Hasil Kuesioner Siswa...117
Lampiran 6 Hasil Refleksi Siswa setelah Membaca Buku Cerita Bergambar...125
Lampiran 7 Hasil Rekapitulasi Validator...128
Lampiran 8 Rekapitulasi Hasil Kuesioner Siswa...129
Lampiran 9 Rekapitulasi skor hasil validasi dan uji coba lapangan...130
Lampiran 10 Dokumentasi...131
Lampiran 11 Surat Ijin Penelitian...133
Lampiran 12 Surat Keterangan Melakukan Uji Validasi...134
Lampiran 13 Surat Keterangan Melakukan Uji Coba...135
Lampiran 14 Buku Cerita Bergambar (Terpisah)...136
1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pada masa era globalisasi seperti sekarang ini seseorang dapat
mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan sangat
mudah dan cepat. Peningkatan kualitas sumber daya manusia mempunyai
posisi yang strategis bagi keberhasilan dan kelanjutan pembangunan
nasional. Wadah yang tepat sebagai upaya peningkatan sumber daya
manusia adalah pendidikan. Pendidikan yaitu sebagai proses pembentukan
pribadi, pendidikan diartikan sebagai suatu pendidikan yang sistematis dan
sismetik terarah kepada terbentuknya kepribadian peserta didik
(Tirtarahardja, 2008: 34).
Menurut UU No. 20 Tahun 2003 Pendidikan adalah usaha sadar
dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran
agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk
memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan terdiri dari berbagai jenjang,
jenjang pendidikan paling dasar untuk meningkatkan kualitas SDM adalah
pendidikan sekolah dasar. Sekolah adalah kelompok layanan pendidikan
yang menyelenggarakan pendidikan pada jalur formal, nonformal, dan
Guru dalam pembelajaran menggunakan metode, pendekatan,
teknik mengajar dan alat peraga serta media pembelajaran sebagai
penunjang dalam proses belajar mengajar khususnya siswa SD. Sehingga
guru dapat kreatif, aktif dan inovatif untuk menciptakan perkembangan
baru di dunia pendidikan. Pendidikan sebagai wadah masyarakat untuk
meningkatkan kualitas bangsa ini. Adanya pendidikan diharapkan
masyarakat mampu mengubah pola pikirnya untuk dapat peduli dengan
lingkungan yang ada disekitarnya demi kelangsungan hidupnya.
Salah satu pendidikan yang dapat digunakan untuk meningkatkan
rasa peduli masyarakat terhadap lingkungan adalah pendidikan lingkungan
hidup. Lingkungan sangat penting bagi keberlangsungan hidup manusia
dan segala aktivitas yang dilakukan di dalamnya. Menurut Wuryandari
(2015: 244) lingkungan hidup adalah segala sesuatu yang ada di sekitar
manusia, yang mempengaruhi perkembangan kehidupan manusia, baik
langsung maupun tidak langsung. Kondisi lingkungan tergantung dengan
manusia dan bagaimana manusia tersebut mengelola lingkungan dengan
semaksimal mungkin. Sehingga terdapat dampak positif dan dampak
negatif yang dilakukan oleh manusia terhadap lingkungan. Perubahan
lingkungan sering terjadi akibat ulah dari manusia yang tidak disadarinya,
salah satu dampak negatif sikap manusia adalah membuang sampah di
sembarang tempat yang dapat mengakibatkan bencana banjir dan
Banjir adalah suatu gejala alam yang menyebabkan suatu daerah
dalam keadaan tergenang oleh air dalam jumlah yang sangat besar atau
melebihi tingkat normal. Banjir dapat merusak rumah-rumah penduduk,
merusak lahan pertanian dan perkebunan, merusak sarana dan prasarana,
mengganggu kelancaran transportasi dan bahkan menimbulkan korban
jiwa (Dhiyaulhag, 2015: 163). Bencana banjir terjadi karena musim
penghujan yang terlalu panjang melanda bangsa kita sehingga kota-kota
besar yang padat penduduknya padat yang dapat dilanda banjir setiap
tahunnya. Kondisi lingkungan yang seperti ini dapat menusak kualitas
lingkungan karena adanya perubahan lingkungan yang terjadi.
Lingkungan hidup merupakan suatu sistem kompleks dalam sebuah
ruang. Sementara itu, ruang merupakan tempat bagi komponen-komponen
lingkungan hidup dalam melakukan setiap proses, yaitu saling
mempengaruhi, saling berhubungan dan saling ketergantungan.
Komponen-komponen lingkungan hidup terdiri dari komponen biotik dan
komponen abiotik. Komponen biotik adalah mahkluk hidup yang meliputi
hewan, tumbuhan dan manusia. Komponen abiotik adalah benda-benda tak
hidup seperti air, tanah, batu, udara dan cahaya matahari (Samadi, 2006:
126). Lingkungan hidup harus dirawat dan dijaga oleh manusia dengan
sebaik mungkin, sehingga perlu adanya pendidikan lingkungan hidup.
Menurut Hamzah (2013: 35), pendidikan lingkungan hidup adalah
yang tidak hanya memberikan pengetahuan tentang lingkungan tetapi juga
kondisi lingkungan. Melalui pendidikan lingkungan, individu akan dapat
memahami pentingnya lingkungan dan bagaimana keterkaitan lingkungan
dengan masalah ekonomi, sosial, budaya, serta pembangunan. Pendidikan
lingkungan diarahkan untuk mengembangkan pemahaman dan motivasi
serta keterampilan yang diwarnai dengan kepedulian terhadap penggunaan
dan konservasi sumber daya alam secara selayaknya.
Di dalam dunia pendidikan membaca sangatlah penting dan erat
kaitannya di dalam kehidupan sehari-hari. Membaca adalah suatu proses
yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh
pesan, yang hendak disampaikan penulis melalui media kata-kata/ bahasa
tulis (Tarigan, 2008: 7). Membaca adalah satu dari empat kemampuan
bahasa pokok, dan satu dari bagian atau komponen dari komunikasi
tulisan. Pada tingkatan membaca permulaan, proses perubahan yang dibina
dan dikuasai dan dilakukan pada masa kanak-kanak, khususnya pada
permulaan di sekolah. Tampubolon (2008: 5). Membaca tidak lepas dari
yang namanya buku, karena buku merupakan jendela dunia bagi setiap
orang. Pembelajaran membaca tidak hanya didapatkan di sekolah saja
akan tetapi pembelajaran membaca juga dapat dilakukan di lingkungan
keluarga.
Pembelajaran membaca selalu ada dalam setiap tema pembelajaran
yang dialami siswa selama menuntut ilmu di sekolah. Kerampilan
membaca, berfungsi sebagai alat untuk meraih keberhasilan siswa untuk
kegiatan pembelajaran, tidak hanya pada studi bahasa Indonesia saja
melainkan untuk menguasai setiap mata pelajaran. Membaca itu penting
dalam kehidupan yang semakin kompleks, setiap aspek kehidupan
melibatkan kegiatan membaca. Pembelajaran membaca adalah kegiatan
yang dilakukan oleh siswa untuk memahami isi dari bacaan tersebut
dengan bantuan guru. Untuk itu guru harus membuat perencanaan yang
matang. Pembelajaran membaca harus mempunyai tujuan yang jelas,
tujuan tersebut meliputi membaca bersuara, menggunakan strategi untuk
memahami bacaan serta menikmati keindahan yang terkandung dalam
bacaan (Rafli, 2015: 76).
Salah satu alat yang dapat digunakan untuk pembelajaran membaca
yaitu menggunakan media pembelajaran. Media pembelajaran adalah
segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari
pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan,
perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses
belajar terjadi (Sadiman dkk. 2002: 7). Salah satu penunjang media
pembelajaran untuk minat membaca siswa adalah buku cerita bergambar.
Buku cerita bergambar (cergam) yang berupa urutan gambar dalam
panel-panel sebagaimana halnya komik dengan teks verbal dibawah tiap gambar
diluar panel (Nurgiyantoro, 2005: 157). Buku cerita bergambar merupakan
media yang bersifat sederhana, mudah, dan jelas. Selain itu, media buku
cerita bergambar memiliki nilai kreatif dan nilai edukatif bagi
potensial digunakan sebagai media pembelajaran untuk menyampaikan
pesan dalam proses belajar mengajar di sekolah, dan diharapkan mampu
meningkatkan hasil belajar siswa.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan guru kelas III
di SD Negeri 3 Palar pada hari Selasa, 25 Oktober 2016 diperoleh bahwa
masih ada beberapa siswa yang belum bisa atau kesulitan untuk membaca.
Dari jumlah siswa kelas III yang berjumlah 29 siswa, terdapat siswa yang
masih sulit untuk membaca karena masih mengeja setiap suku kata, dan
terdapat siswa yang sudah lancar membaca tetapi ada jeda pada saat
membaca. Dengan demikian kelas III SD ini memiliki minat membaca
yang kurang baik, bahkan wali kelas III SD N 3 Palar sudah menerapkan
gerakan membaca 15 menit sebelum jam pelajaran berlangsung, sehingga
dapat meningkatkan minat membaca siswa dan bisa mengetahui buku
bacaan yang digemari masing-masing siswa akan tetapi masih sedikit
minat baca siswa. Siswa kelas III di sekolah ini kurang peduli dengan
lingkungannya karena pada saat melakukan penelitian peneliti masih
menemukan bungkus jajanan di sekitar sekolah maupun kelas.
Masalah-masalah yang ada tersebut perlu ditindaklanjuti agar minat
baca siswa dapat lebih meningkat dan siswa lebih memiliki kesadaran atau
rasa kepedulian terhadap lingkungan yang ada disekitarnya. Dengan
adanya pengembangan buku cerita bergambar tersebut dapat membuat
siswa untuk lebih aktif dan meningkatkan minat baca siswa agar dapat
baca pada kelas III sekolah dasar, buku ini juga memiliki pembelajaran
yang tidak kalah pentingnya yaitu meningkatkan rasa kepedulian siswa
terhadap lingkungannya. Jadi buku cerita bergambar dapat membuat siswa
lebih tertarik dalam membaca sekaligus dapat menumbuhkan rasa
kepeduliannya sehingga dapat memahami bagaimana merawat lingkungan
yang ada disekitar. Alasan memilih cerita tentang pendidikan lingkungan
hidup yaitu, minimnya buku-buku pegangan guru maupun buku-buku
cerita bergambar yang memiliki nilai-nilai tentang pendidikan lingkungan
hidup sehingga pada cerita ini siswa mendapatkan pemahaman tentang
pentingnya mempelajari pendidikan lingkungan hidup.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka
terdapat beberapa rumusan masalah sebagai berikut :
1.2.1. Bagaimana langkah-langkah pengembangan buku cerita bergambar
berbasis pendidikan lingkungan hidup untuk pembelajaran membaca siswa
SD kelas rendah ?
1.2.2. Bagaimana kualitas buku cerita bergambar berbasis pendidikan lingkungan
hidup untuk pembelajaran membaca siswa SD kelas rendah ?
1.3. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk :
1.3.1. Mendeskripsikan langkah-langkah pengembangan buku cerita bergambar
berbasis pendidikan lingkungan hidup untuk pembelajaran membaca siswa
1.3.2. Mendiskripsikan kualitas buku cerita bergambar berbasis pendidikan
lingkungan hidup untuk pembelajaran membaca siswa SD kelas rendah.
1.4. Manfaat Penelitian 1.4.1. Bagi Peneliti
Menambah pengetahuan bagi peneliti sebagai bekal menekuni dunia
pendidikan di masa yang akan datang serta mendapatkan pengalaman
dalam mengembangkan buku cerita bergambar yang berbasis pendidikan
lingkungan hidup untuk menarik minat baca siswa.
1.4.2. Bagi Siswa
Penelitian ini diharapkan dapat menarik perhatian siswa di dalam
membaca dan meningkatkan rasa kepedulian siswa terhadap lingkungan
yang ada disekitarnya.
1.4.3. Bagi Guru
Penelitian ini dapat digunakan sebagai cara untuk meningkatkan minat
baca siswa serta untuk mengembangkan pendidikan lingkungan hidup
dengan menggunakan buku cerita bergambar.
1.4.4. Bagi Sekolah
Dengan menggunakan buku cerita bergambar dalam pembelajaran
membaca berbasis lingkungan hidup dapat meningkatkan kualitas sekolah
dan menambah koleksi buku di perpustakaan sekolah.
1.4.5. Bagi Prodi
Penelitian ini dapat disimpan dan didokumentasikan sebagai arsip oleh
1.5. Definisi Operasional
1.5.1. Buku Cerita Bergambar adalah cerita yang ditujukan untuk anak-anak
yang di dalamnya terdapat tokoh-tokoh hewan, tumbuhan, peri bahkan
manusia yang dilengkapi dengan isi teks beserta gambar ilustrasi tersebut
sehingga dapat menarik perhatian siswa.
1.5.2. Pendidikan Lingkungan Hidup adalah suatu proses yang diajarkan untuk
meningkatkan kepedulian siswa terhadap lingkungan yang ada di
sekitarnya.
1.5.3. Membaca adalah suatu pesan yang ingin disampaikan oleh penulis kepada
pembaca dengan menggunakan lambang-lambang tulisan atau huruf
menurut alfabet latin sehingga dapat tertuang dalam kalimat-kalimat yang
disajikan oleh penulis.
1.6. Spesifikasi Produk
Produk yang dihasilkan dalam penelitian pengembangan ini berupa
buku cerita bergambar dengan spesifikasi berikut :
1.6.1. Buku cerita bergambar ini memiliki ukuran A5.
1.6.2. Cover dan isi buku cerita bergambar ini menggunakan kertas ivory 260
dan artpaper 150.
1.6.3. Buku cerita bergambar ini dibuat full color untuk menarik minat baca
siswa.
1.6.4. Buku cerita bergambar ini dilengkapi dengan kata pengantar, panduan
penggunaan buku dan refleksi dan memberikan pembelajaran tentang rasa
10 BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Kajian Pustaka
2.1.1 Karakteristik Siswa SD
Psikologi perkembangan adalah salah satu cabang psikologi yang
mempelajari kapan dan bagaimana perubahan yang terjadi pada manusia
dari waktu ke waktu (Dinar, 2008: 2). Menurut Dinar (2008: 40)
mempunyai pandangan tentang teori perkembangan kognisi dengan
menggunakan teori Piaget. Seorang psikolog Swiss yang bernama Jean
Piaget (1896-1980) menyatakan bahwa anak akan membangun dunia
kognitif mereka sendiri karena anak mampu mengolah informasi yang
diterima untuk mengembangkan gagasan baru, tidak hanya sekedar
menerima informasi dari lingkungan. Terdapat dua hal penting dalam proses
penyesuaian diri dengan lingkungan, yaitu asimilasi dan akomodasi.
Asimilasi terjadi ketika individu menghubungkan informasi baru ke dalam
pengetahuan mereka sebelumnya. Sedangkan akomodasi terjadi ketika
individu menyesuaikan diri dengan informasi baru.
Asimilasi dan akomodasi terjadi sejak bayi masih sangat kecil, ketika
anak mengembangkan refleks menghisap setiap benda yang menyentuh
bibirnya. Kemudian terjadi proses belajar (asimilasi maupun akomodasi)
jari atau susu ibu, benda-benda lain tidak dapat dihisap. Individu mengenal
benda-benda melalui proses asimilasi, tetapi memperoleh pemahaman
tentang benda-benda yang dapat dihisap dan tidak melalui akomodasi. Ada
4 tahapan perkembangan kognisi menurut Piaget.
2.1.1.1 Tahap Sensorimotor (sejak lahir hingga usia 2 tahun).
Pada tahap ini, bayi mengembangkan pemahaman tentang dunia
melalui koordinasi antara pengalaman sensoris dengan gerakan
motorik-fisik. Bayi juga mulai mengembangkan kemampuan yang lebih dari
sekedar refleks, namun sudah membentuk pola sensori motor yang
kompleks serta mulai mengoperasikan simbol-simbol primitif.
2.1.1.2 Tahap Praoperasional (usia sekitar 2-7 tahun).
Pada tahap ini, anak mulai mampu menerangkan dunia melalui
kata-kata dan gambar. Namun, anak belum mampu melakukan tindakan
mental yang diinterealisasikan yang memungkinkan anak melakukan
secara mental hal-hal yang dahulu dilakukan secara fisik.
2.1.1.3 Tahap Operasional Konkrit (usia 7-11 tahun).
Anak-anak mampu mulai berpikir logis untuk menggantikan cara
berpikir sebelumnya yang masih bersifat intuitif-primitif, namun
2.1.1.4 Tahap Operasinal Formal (usia sekitar 11-15 tahun).
Pada tahap ini individu melewati dunia nyata dan pengalaman
konkret menuju cara berpikir yang lebih abstrak dan logis, sistematis, serta
mampu mengembangkan hipotesis tentang penyebab terjadinya suatu
peristiwa. Kemudian, dia menguji hipotesis tersebut secara deduktif.
Sebagai konsekuensinya anak mulai mengembangkan gambaran yang
ideal, misalnya bagaimana menjadi orang tua yang ideal.
Pengembangan fase anak sekolah (usia sekolah dasar) ini dibagi
menjadi 7 fase (Yusuf, 2009: 178) yang diuraikan sebagai berikut :
a. Perkembangan intelektual
Pada usia sekolah dasar anak mampu mereaksi rangsangan
intelektual atau melaksanakan tugas-tugas belajar yang menuntut
kemampuan intelektual atau kemampuan kognitif, seperti membaca,
menulis dan menghitung. Di usia ini anak mampu mengelompokkan,
menyusun atau menghitung angka-angka atau bilangan, serta mampu
melakukan perhitungan (menambah, mengurangi, mengalikan dan
membagikan).
b. Perkembangan Bahasa
Pada masa usia sekolah dasar perkembangan mengenal dan
menguasai perbendaharaan kata sangat pesat. Anak dapat menguasai
kata. Anak sudah terampil membaca dan berkomunikasi dengan orang
lain yang ada di sekitarnya, pada usia ini anak sudah lebih maju dengan
banyak mengajukan pertanyaan soal waktu dan sebab-akibat.
c. Perkembangan Sosial
Perkembangan sosial pada anak sekolah dasar ditandai dengan
adanya perluasan hubungan dengan keluarga, teman sebaya atau teman
sekelas, sehingga ruang gerak hubungan sosial telah bertambah luas.
Anak mulai memiliki kesanggupan menyesuaikan diri-sendiri kepada
sikap kerja sama atau kepeduliannya terhadap kepentingan orang lain.
Pada usia ini, anak berminat untuk bermain dengan teman sebayanya,
dengan begitu dia merasa senang apabila bisa bermain dengan teman
sebayanya.
d. Perkembangan Emosi
Anak sekolah dasar mulai menyadari bahwa dengan penggunaan
emosi secara kasar tidak dapat diterima di masyarakat. Pengontrolan
emosi anak diperoleh melalui peniruan dan pembiasaan. Emosi yang
biasanya dirasakan oleh anak seusia sekolah dasar yaitu marah, takut,
e. Perkembangan Moral
Anak mulai mengenal konsep moral (baik-buruk, benar-salah)
pertama kali dari lingkungan keluarga. Apada anak usia SD, anak dapat
mengikuti peraturan dari orang tua atau lingkungan sekitar.
f. Perkembangan Penghayatan Keagamaan
Pada anak usia SD adalah masa pembentukan nilai-nilai agama
sebagai kelanjutan periode berikutnya. Anak dibiasakan untuk
beribadah, karena menyangkut dengan akhlak terhadap sesama
manusia, seperti hormat kepada orangtua, guru, dan orang lain. Dengan
hal ini anak dapat bertanggung jawab terhadap sikap kepada dirinya
sendiri maupun dengan orang lain.
g. Perkembangan motorik
Pada usia sekolah dasar, anak mempunyai kelebihan gerak atau
aktivitas motorik yang lincah, hal ini merupakan masa yang ideal untuk
belajar keterampilan yang berkaitan dengan menggambar, menulis,
melukis, atletik, mengetik, dan bermain bola.
Peneliti memilih tahap piaget ini karena perkembangan anak pada
usia sekolah dasar pasti melewati tahap-tahap dikemukakan oleh piaget,
meskipun setiap perkembangan cepat lambatnya anak satu dengan yang
2.1.2 Membaca
2.1.2.1 Pengertian Membaca
Membaca merupakan interaksi antara pembaca dan penulis.
Interaksi tersebut tidak langsung, tetapi bersifat komunikatif. Komunikasi
antara pembaca dan penulis akan semakin baik jika pembaca mempunyai
kemampuan yang lebih baik. Pembaca hanya dapat berkomunikasi dengan
karya tulis yang digunakan oleh pengarang sebagai media untuk
menyampaikan gagasan, perasaan, dan pengalamannya. Dengan demikian
pembaca harus mampu menyusun pengertian-pengertian yang tertuang
dalam kalimat-kalimat yang disajikan oleh pengarang sesuai dengan
konsep yang terdapat pada diri pembaca (Haryadi, 2006: 77). Membaca
juga dapat diartikan sebagai proses yang dilakukan serta dipergunakan
oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampikan oleh
penulis melalui media kata-kata/ bahasa tulis. Suatu proses yang menuntut
agar kelompok kata yang merupakan suatu kesatuan akan terlihat dalam
suatu pandangan sekilas dan makna kata-kata secara individual dapat
diketahuai (Tarigan, 2008: 7). Menurut Tampubolon (2008: 5) membaca
adalah salah satu dari empat kemampuan bahasa pokok dan merupakan
satu bagian atau komponen dari komunikasi tulisan. Komunikasi tulisan
merupakan lambang-lambang tulisan atau huruf menurut alfabet latin.
Dari beberapa definisi diatas, maka dapat diambil kesimpulan
kepada pembaca dengan menggunakan lambang-lambang tulisan atau
huruf menurut alfabet latin sehingga dapat tertuang dalam kalimat-kalimat
yang disajikan oleh penulis.
2.1.2.2 Tujuan Membaca
Tujuan utama dalam membaca adalah untuk mencari serta
memperoleh informasi, mencakup isi, memahami makna bacaan. Makna,
arti (meaning) erat sekali berhubungan dengan maksud tujuan, atau
intensif kita dalam membaca (Tarigan, 2008: 9). Berikut ini adalah
beberapa tujuan penting dari membaca :
a) Membaca untuk mengemukakan atau mengetahui
penemua-penemuan yang telah dilakukan oleh tokoh; apa-apa yang telah
dibuat oleh tokoh; apa yang telah terjadi pada tokoh khusus, atau
untuk memecahkan masalah-masalah yang dibuat oleh tokoh.
Membaca seperti ini disebut membaca untuk memperoleh
perincian-perincian atau fakta-fakta.
b) Membaca untuk mengetahui mengapa hal itu merupakan topik
yang baik dan menarik, masalah yang terdapat pada cerita, apa-apa
yang dipelajari atau yang dialami tokoh, merangkumkan hal-hal
yang dilakukan oleh tokoh untuk mencapai tujuannya. Membaca
seperti ini disebut membaca untuk memperoleh ide-ide utama.
c) Membaca untuk menemukan atau mengetahui apa yang terjadi
kedua dan ketiga/ seterusnya. Setiap tahap dibuat untuk
memecahkan masalah adegan-adegan dan kejadian-kejadian buat
dramatisasi. Ini disebut membaca untuk mengetahui urutan/
susunan, organisasi cerita.
d) Membaca untuk menemukan serta mengetahui mengapa para tokoh
merasakan seperti cara mereka itu, apa yang hendak diperlihatkan
oleh pengarang kepada para pembaca, mengapa para tokoh berubah
kualitas-kualitas yang dimiliki para tokoh yang membuat mereka
berhasil/ gagal. Isi disebut membaca untuk menyimpulkan,
membaca inferensi.
e) Membaca untuk menemukan serta mengetahui apa-apa yang tidak
biasa, tidak wajar mengetahui sesorang tokoh apa yang lucu dalam
cerita, atau apakah yang benar dan tidak benar dalam cerita. Ini
disebut membaca untuk mengelompokkan, membaca untuk
mengklasifikasikan.
f) Membaca untuk menemukan apakah tokoh berhasil atau hidup
dengan ukuran-ukuran tertentu, apakah kita ingin berbuat seperti
yang diperbuat oleh tokoh, atau bekerja seperti cara tokoh bekerja
dalam cerita itu. Ini disebut membaca menilai, membaca
mengevaluasi.
g) Membaca untuk menemukan bagaimana caranya tokoh berubah,
bagaimana dua cerita mempunyai persamaan, dan bagaiman tokoh
menyerupai pembaca. Ini disebut membaca untuk
memperbandingkan atau mempertentangkan.
Tujuan membaca menurut Burn (dalam Rahim 2007: 11)
mencakup: kesenangan, menyempurnakan membaca nyaring,
menggunakan strategi tertentu, memperbarui pengetahuannya tentang
suatu topik, mengaitkan informasi baru dengan informasi yang telah
diketahuinya, memperoleh informasi untuk laporan lisan atau tertulis,
mengaplikasikan informasi yang diperoleh dari suatu teks, dan menjawab
pertanyaan-pertanyaan spesifik.
2.1.2.3 Keterampilan dan Aspek-aspek Membaca
Menurut Rahim (2007: 2) kegiatan membaca memiliki 3
keterampilan dasar yaitu recording, decoding, dan meaning. Recording
merajuk pada kata-kata dan kalimat, kemudian mengngasosiakan dengan
bunyi-bunyinya sesuai dengan sistem tulisan yang digunakan. Proses
decoding merujuk pada proses penerjemahan rangkaian grafis ke dalam
kata-kata. Sedangkan meaning merupakan proses memahami makna yang
berlangsung dari tingkat pemahaman interpretatif, kreatif, dan evaluatif.
Proses recording dan decoding terjadi pada kelas awal, sedangkan
meaning pada kelas tinggi (akhir). Menurut Tarigan (2008: 11) bahwa
keterampilan membaca mencakup 3 komponen, yaitu pengenalan terhadap
dengan unsur-unsur linguistik yang formal, dan yang terakhir adalah
hubungan lebih lanjut dari suatu kemampuan untuk mengenal
bentuk-bentuk yang disesuaikan dengan mode yang berupa gambar-gambar, garis,
lengkungan dan titik dalam hubungan berpola yang beraturan rapi dengan
suatu kemampuan untuk menghubungkan tanda-tanda hitam dari atas
kertas yaitu gambar-gambar berpola dengan bahasa.
Membaca merupakan suatu keterampilan yang kompleks yang
melibatkan serangkaian keterampilan yang lebih kecil lainnya (Tarigan,
2008: 12). Sebagai garis besarnya, terdapat dua aspek penting dalam
membaca yaitu:
a. Keterampilan yang bersifat mekanis yang dapat dianggap berada pada
urutan yang lebih rendah. Aspek ini mencakup:
1. Pengenalan bentuk huruf.
2. Pengenalan unsur-unsur linguistik (fonem, kata, frase, kalimat, pola
klausa dll.)
3. Pengenalan hubungan pola ejaan dan bunyi.
b. Keterampilan yang bersifat pemahaman yang dianggap berada pada
urutan yang lebih tinggi. Aspek ini mencakup:
1. Memahami pengertian sederhana (leksikal, gramatikal dan
retorikal).
2. Memahami signifikasi atau kata (maksud dan tujuan pengarang,
relevansi/ keadaan kebudayaan, dan reaksi pembaca).
4. Kecepatan membaca yang fleksibel, yang mudah disesuaikan
dengan keadaan.
2.1.2.4 Tahap-tahap Membaca
Menurut Tarigan (2008: 18) ada beberapa tahap yang dapat diikuti
bila perlu dalam situasi serta kondisi memungkinkan. Tahapan ini
diuraikan sebenarnya tertuju kepada para pelajar dan pelajar bahasa asing
secara umum, namun demikian para pengajar serta pelajar bahasa
Indonesia pun dapat mengambil manfaat dari bahan tersebut dengan tujuan
pengajaran membaca pada sekolah yang bersangkutan. Adapun tahapan
tersebut yaitu pada tahap pertama para pelajar membaca bahan yang telah
mereka pelajari, mengucapkannya dengan baik. Pada tahap ini para pelajar
harus dibimbing untuk mengembangkan responsi-responsi yang otomatis
terhadap gambaran-gambaran huruf, setelah itu guru membentuk
kelompok dan meminta membaca nyaring. Lalu membaca mengikuti guru
bersama-sama dan diminta untuk membaca secara bergantian.
Tahap kedua, guru atau kelompok guru bahasa asing pada sekolah
yang bersangkutan menyusun kata-kata atau struktur yang telah diketahui
tersebut menjadi bahan dialog atau paragraf yang beraneka ragam, para
pelajar dibantu dalam membaca bahan yang baru disusun yang
mengandung unsur-unsur yang sudah biasa bagi mereka.
Tahap ketiga, para pelajar mulai membaca bahan yang berisi
sejumlah kata dan struktur yang masih asing bagi mereka. Guru dapat
dengan usia para pelajar. Dengan ini para pelajar mengalami sedikit
bahkan tidak menghadapi kesulitan adanya kata baru yang diselipkan.
Acapkali teks-teks tata bahasa berisi paragraf-paragraf yang sesuai buat
bacaan pada tahap ini.
Tahap keempat, yaitu beberapa spesialis dalam bidang membaca
menganjurkan pengunaan teks-teks sastra atau majalah-majalah yang telah
disederhanakan sebagai bahan bacaan pada tahap ini yang dapat
dimanfaatkan oleh para pelajar untuk mempermudahkan membacanya.
Dan tahap yang terakhir, yaitu bahan bacaan tidak dibatasi, artinya seluruh
dunia buku terbuka bagi para pelajar.
2.1.2.5 Faktor Pengaruh Pembelajaran Membaca
Keterampilan membaca seperti mrupakan suatu kemampuan yang
kompleks, banyak faktor yang mempengaruhinya. Menurut Rahim (207:
16) faktor yang memengaruhi membaca permulaan adalah:
1. Faktor Fisikologis
Faktor fisikologis mencakup kesehatan fisik, pertimbangan neurologis,
dan jenis kelamin. Kelelahan juga merupakan kondisi yang tidak
menguntungkan bagi anak untuk belajar, khususnya belajar membaca.
2. Faktor Intelektual
Secara umum, intelegensi anak tidak sepenuhnya memengaruhi
mengajar guru, prosedur, dan kemampuan guru juga turut mepengaruhi
kemampuan membaca permulaan anak.
3. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan juga memengaruhi kemajuan kemampuan membaca
siswa. Faktor lingkungan itu mencakup latar belakang dan pengalaman
siswa di rumah, dan sosial ekonomi keluarga siswa.
4. Faktor Psikologis
Faktor lain yang juga memengaruhi kemajuan kemampuan membaca
anak adalah faktor psikologis. Faktor ini mencakup motivasi, minat,
dan kematangan sosial, emosi, serta penyesuaian diri.
Menurut Abdurrahman (2003: 201) mengemukakan bahwa
ada delapan faktor yang memberikan sumbangan bagi keberhasilan
belajar membaca yaitu kematangan mental, kemampuan visual,
kemampuan mendengarkan, perkembangan wicara dan bahasa,
keterampilan berpikir dan memperhatikan, perkembangan motorik,
kematangan sosial dan emosional, dan motivasi dan minat.
2.1.2.6 Jenis-jenis Membaca
Menurut Tarigan (2008: 23), ada tiga jenis membaca yaitu
membaca nyaring atau membaca bersuara, membaca dalam hati, dan
membaca telaah isi. Membaca nyaring atau bersuara merupakan kegiatan
lain keterampilan melafalkan, intonasi, kejelasan, bahkan keberaniaan
dalam membaca. Membaca dalam hati adalah membaca yang hanya
mempergunakan ingatan visual (visual memory) yang melibatkan mata
dan ingatan, bertujuan untuk memperoleh informasi. Keterampilan
membaca dalam hati sangat sering dilakukan oleh banyak orang, sebab
dalam membaca dalam hati informasi akan mudah diperoleh tanpa
mengeluarkan suara saat membaca. Membaca telaah isi adalah membaca
dengan tujuan untuk mengetahuii serta menelaah suatu isi bacaan secara
lebih mendalam. Membaca telaah isi, pembaca memerlukan kemampuan
dan keterampilan yang lebih dalam, dalam memahami isi bacaan yaitu
dengan kemampuan membaca pemahaman.
2.1.2.7 Gerakan Literasi Sekolah
Menurut Sutrianto (2016: 2) Gerakan literasi sekolah merupakan
sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan
sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literasi sepanjang
hayat melalui pelibatan publik. Menurut Wiedarti (2016: 7) juga
mengemukakan bahwa gerakan literasi sekolah adalah suatu usaha atau
kegiatan yang bersifat partisipatif dengan melibatkan warga sekolah baik
peserta didik, guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, pengawas
sekolah, komite sekolah, maupun orang tua murid.
Salah satu upaya penumbuhan budi pekerti dapat dilakukan dengan
konteks kebangsaan dan kenegaraaan Indonesia seperti yang terkandung
dalam butirbutir Nawacita: nilai-nilai budi pekerti, kearifan lokal,
nasional, dan global yang disampaikan sesuai tahap perkembangan peserta
didik. Kegiatan membaca tersebut dapat dilakukan 15 menit setiap hari
pada saat pelajaran di kelas dimulai, atau disesuaikan dengan kondisi
sekolah masing-masing. Hal ini merupakan salah satu dasar dalam tahap
pembiasaan sebelum masuk ke tahap pengembangan dan pembelajaran.
Kegiatan membaca ini sebenarnya ada dalam semua komponen literasi.
Komponen literasi informasi yang terdiri atas literasi dasar, literasi
perpustakaan, literasi media, literasi teknologi, dan literasi visual
(Sutrianto, 2016: 5).
Tujuan membaca selama 15 menit setiap hari menurut Sutrianto
(2016: 9) adalah memotivasi peserta didik untuk mau dan terbiasa
membaca, menunjukkan bahwa membaca sesuatu kegiatan yang
menyenangkan, memperkaya kosa kata (dalam bahasa tulisan), menjadi
sarana berkomunikasi antara peserta didik dan guru, mengajarkan strategi
membaca, dan guru sebagai teladan membaca (reading role model).
2.1.3 Buku Cerita Bergambar
2.1.3.1 Pengertian Buku Cerita Bergambar
Menurut Hardjana (2006: 2) cerita anak adalah cerita yang ditujukan
untuk anak-anak, dan bukan cerita tentang anak. Dalam buku cerita anak
dijadikan tokoh dalam sebuah cerita tersebut. orang tua, kakek, nenek, pak
guru, mahasiswa, anak remaja, binatang, bahkan peri atau makhluk halus
bisa menjadi tokoh cerita. Pendapat lain juga diungkapkan oleh Egan
(2009: 3) bahwa cerita merupakan salah satu alat kognisi paling ampuh
yang dimiliki oleh para siswa, yang tersedia untuk keterlibatan imajinatif
dengan ilmu pengetahuan.
Menurut Sumanto (2005: 5) menggambar merupakan suatu
perbuatan seseorang dalam usahanya untuk mengungkapkan buah pikiran,
sehingga bermakna visual pada suatu gambar dan hasil disebut gambar.
Media gambar memegang peranan yang sangat penting dalam proses
belajar. Manfaat yang diperoleh dari media gambar adalah anak dapat
memahami isi gambar, sehingga anak lebih termotivasi dan lebih tertarik
untuk membaca dan mengetahui isi cerita bergambar (Sari, 2010: 28).
Menurut Mitchell dalam Nurgiyantoro (2005: 153) buku cerita
bergambar adalah buku yang menampilkan gambar dan teks dan keduanya
saling menjalin. Baik gambar maupun teks secara sendiri belum cukup
untuk mengungkapkan cerita secara lebih mengesankan, dan keduanya
saling membutuhkan untuk saling mengisi dan saling melengkapi. Dari
beberapa uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa buku cerita bergambar
adalah cerita yang ditujukan untuk anak-anak yang di dalamnya terdapat
tokoh-tokoh hewan, tumbuhan, peri bahkan manusia yang dilengkapi
dengan isi teks beserta gambar ilustrasi tersebut sehingga dapat menarik
2.1.3.2 Tujuan Buku Cerita Bergambar
Tujuan dari buku cerita bergambar diantaranya adalah dengan buku
cerita bergambar anak menjadi terinspirasi, membantu anak dalam
perkembangan apresiasi kultural, memperluas pengetahuan anak,
menimbulkan kesenangan tersendiri bagi anak , mengembangkan imajinasi
anak dan dapat memotivasi anak untuk lebih banyak menggali literatur.
(Raines, 2002: 7). Suyanto dan Abbas (dalam Musfiroh 2005: 23) cerita
dapat digunakan sebagai sarana mendidik dan membentuk kepribadian
anak. Nilai-nilai luhur ditanamkan pada diri anak melalui penghayatan
terhadap makna dan maksud cerita. Tranmisi budaya terjadi secara
alamiah. Anak memiliki referensi yang mendalam karena setelah
menyimak, anak melakukan serangkaian aktivitas kognisi dan afeksi yang
rumit dari fakta cerita separti nama tokoh, sifat tokoh, latar tempat, dan
budaya, serta hubungan sebab akibat dalam alur cerita dan pesan moral
yang tersirat didalamnya, misalnya makna kebaikan, kejujuran, dan kerja
sama. Proses ini terjadi secara lebih kuat dari pada nasehat atau paparan.
Mitchell (dalam Nurgiyantoro, 2005: 159) buku cerita bergambar
dapat membantu anak terhadap pengembangan dan perkembangan emosi.
Anak akan merasakan terfasilitasi dan terbantu untuk memahami dan
menerima dirinya sendiri dan orang lain, serta mengekspresikan berbagai
emosinya, seperti takut, senang, sedih dan bahagia yang merupakan bagian
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tujuan
dari buku cerita bergambar adalah media yang dapat digunakan untuk
membantu anak-anak dalam memperluas pengetahuan, mengembangkan
imajinasi dan dapat menanamkan nilai-nilai pada diri anak melalui
penghayatan terhadap makna dan maksud cerita.
2.1.4 Pendidikan Lingkungan Hidup
Menurut Wuryandari (2015: 244) lingkungan hidup adalah segala
sesuatu yang ada di sekitar manusia, yang mempengaruhi perkembangan
kehidupan manusia, baik langsung maupun tidak langsung.
Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 1997 menyebut lingkungan hidup sebagai
kesatuan ruang dengan semua benda dan perilakunya yang melangsungkan
perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya.
Dengan terminologi itu, maka pemahaman Indonesia terhadap lingkungan
biotik, unsur sosial budaya yang dibuat dan ditaati masayarakat, dan unsur
abiotik yang terdiri dari benda-benda tak hidup seperti tanah, air, udara,
iklim, dan lain-lain.
Pendidikan lingkungan tidak hanya memberikan pengetahuan
tentang lingkungan tetapi juga meningkatkan kesadaran terhadap
lingkungan dan kepeduliannya terhadap kondisi lingkungan. Melalui
pendidikan lingkungan individu akan dapat memahami pentingnya
lingkungan dan bagaimana keterkaitan lingkungan dengan masalah
ekonomi, sosial, budaya, serta pembangunan. Pendidikan lingkungan
keterampilan yang diwarnai dengan kepedulian terhadap penggunaan dan
konservasi sumber daya alam secara wajar (Hamzah, 2013: 35). Peran
dan tujuan pendidikan lingkungan yaitu pendidikan lingkungan perlu
dipamahami dengan baik, merupakan pendidikan sepanjang hayatyang
komprehensif, satu tanggapan terhadap satu perubahan dunia yang sangat
cepat. Pendidikan lingkungan akan menyiapkan setiap individu seumur
hidup melalui suatu pemahaman terhadap masalah utama dunia pada saat
ini dan membekali setiap individu dengan keterampilan dan pengetahuan
yang dibutuhkan untuk berperan produktif untuk meningkatkan kualitas
hidup serta melindungi lingkungan dengan kepedulian dan nilai-nilai etika
(Hamzah, 2013: 37). Pendapat lain juga dirumuskan oleh UNESCO
(dalam Hamzah 2013: 39) bahwa pendidikan lingkungan adalah suatu
proses unutk mengenali nilai-nilai dan menjelaskan konsep dalam rangka
mengembangkan keterampilan, sikap yang diperlukan untuk memahami
serta menghargai hubungan timbal balik antara manusia, budaya dan
lingkungan biofisiknya.
Menurut konvensi UNESCO di Tbilisi (dalam Hamzah 2013: 39)
pendidikan lingkungan hidup adalah suatu proses yang bertujuan untuk
menciptakan suatu masyarakat dunia yang memiliki kepedulian terhadap
lingkungan dan masalah-masalah yang terkait di dalamnya serta memiliki
pengetahuan, motivasi, komitmen, dan keterampilan untuk bekerja, baik
secara perorangan maupun kolektif dalam mencari alternatif atau memberi
untuk menghindari timbulnya masalah-masalah lingkungan hidup baru.
Definisi ini memberikan pemahaman kepada kita bahwa dalam pendidikan
lingkungan terdapat upaya untuk menggiring individu ke arah perubahan
gaya hidup dan perilaku ramah lingkungan. Tujuan pendidikan lingkungan
hidup tersebut adalah: (1) untuk membantu menjelaskan masalah
kepedulian serta perhatian tentang saling keterkaitan antara ekonomi,
sosial, politik, dan ekologi di kota maupun di wilayah pedesaan; (2) untuk
memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk mengembangkan
pengetahuan, nilai sikap, komitmen dan kemampuan yang dibutuhkan
untuk melindungi dan memperbaiki lingkungan, dan (3) untuk
menciptakan pola perilaku yang baru pada individu, sekelompok, dan
masyarakat sebagai suatu keseluruhan terhadap lingkungan. Sedangkan
tujuan yang ingin dicapai tersebut meliputi aspek:
2.1.4.1 Pengetahuan, untuk membentuk peserta didik memperoleh pemahaman
dasar tentang lingkungan hidup secara keseluruhan dan masalah-masalah
yang berhubungan dengannya.
2.1.4.2 Sikap, untuk membantu peserta didik memperoleh seperangkat nilai-nilai
dan sikap peduli terhadap lingkungan hidup serta motivasi untuk
berpartisipasi secara aktif dalam memperbaiki dan melindungi lingkungan
hidup.
2.1.4.3 Kepedulian, untuk membantu peserta didik mengembangkan kepedulian
dan sensivitas terhadap lingkungan hidup secara keseluruhan dan
2.1.4.4 Keterampilan, untuk membantu peserta didik memperoleh keterampilan
dalam mengidentifikasi, menyelidiki, dan memecahkan masalah-masalah
lingkungan hidup.
2.1.4.5 Partisipasi, untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik secara
aktif memasuki semua jenjang pekerjaan pada masa datang yang
berkenaan dengan masalah-masalah lingkungan hidup.
Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan
lingkungan hidup adalah suatu proses yang diajarkan untuk meningkatkan
kepedulian siswa terhadap lingkungan yang ada di sekitarnya.
2.2 Penelitian yang Relevan
Berdasarkan dari penelitian yang dilakukan oleh peneliti
sebelumnya mengenai pengembangan pembelajaran, peneliti mengambil
beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian pengembangan ini.
Berikut tiga penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah :
Pertama, penelitian yang dilakukan oleh Ratna Dwi Astuti (2012)
yang berjudul “Pengaruh Buku Bergambar terhadap Minat Baca Siswa di
SDN Lempuyangwangi Yogyakarta”. Tujuan penelitian ini adalah
mendiskripsikan keadaan buku bergambar, keadaan minat baca siswa, dan
pengaruh buku gambar terhadap minat baca siswa. Jenis penelitian ini
adalah kuantitatif dengan metode penelitian survei. Teknik yang
digunakan dalam penelitian ini adalah angket, dokumentasi, wawancara
pedoman wawancara, angket dan lembar observasi. Pedoman wawancara
digunakan untuk mengumpulkan data analisis kebutuhan untuk
menemukan permasalahan yang harus diteliti. Angket digunakan untuk
memperoleh data minat baca siswa terhadap buku bergambar. Teknik
analisis data yang digunakan adalah analisis diskriptif kuantitatif. Hasil
analisis menunjukkan keadaan buku cerita bergambar di SDN
Lempuyangwangi sangat baik, dengan skor 3,38. Keadaan minat baca
siswa juga sangat baik dengan skor 3,40. Pengaruh antara buku bergambar
terhadap minat baca siswa kurang berpengaruh dengan nilai korelasi
sebesar 0,466.
Kedua, penelitian yang dilakukan oleh Ermadwicitawati (2013)
yang berjudul “Pengembangan Materi Ajar Cerita Anak yang
Mengandung Pendidika n Karakter pada Pembelajara n Membaca Cerita
Anak SMP Kelas VII”. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan
materi ajar cerita anak yang mengandung pendidikan karakter pada
pembelajaran membaca cerita anak. Metode penelitian yang digunakan
adalah metode penelitian dan pengembangan (research and development).
Hasil dari penelitian ini adalah tersusunnya materi ajar cerita anak yang
mengandung pendidikan karakter pada pembelajaran membaca cerita anak.
Hasil ujicoba produk menunjukkan bahwa siswa memiliki kemampuan
yang baik dan memahami cerita anak. Hal ini dibuktikan dengan hasil tes
yang menunjukkan bahwa sebanyak 75% lebih siswa mencapai KKM.
yang relevan dengan tingkat kemampuan siswa, isi materi ajar yang
mengandung pendidikan karakter, sesuai dengan kurikulum, dan
kontekstual terhadap kehidupan siswa. Berdasarkan hasil ujicoba produk
ini digunakan untuk materi ajar dalam pembelajaran cerita untuk anak
SMP kelas VII.
Ketiga, penelitian yang dilakukan oleh Riza Stiyarini (2015) yang
berjudul “Implementasi Kurikulum Pendidikan Lingkungan Hidup dan
Mitigasi Bencana di SMA N Banguntapan Bantul DIY”. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui kurikulum dan program pendidikan
lingkungan hidup dan mitigasi bencana di SMA N Banguntapan.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan
kualitatif. Penelitian ini menggunakan teknik trianggulasi, maka
pengumpulan data dilakukan melalui teknik triangulasi dengan
menggabungkan tiga macam teknik yaitu wawancara, observasi dan
pencermatran dokumen. Penelitian ini menggunakan model analisis
interaktif Milles dan Huberman yang langkahnya adalah sebagi berikut
yaitu reduksi data, sajian data, dan penarikkan kesimpulan. Hasil dari
penelitian ini dapat menerapkan kurikulum pendidikan lingkungan hidup
dan mitigasi bencana dengan memadukan dua pendekatan yaitu monolitik
dan integratif.
Keempat, penelitian yang dilakukan oleh Anisa Muslicha (2016)
yang berjudul “Metode Pengajaran dalam Pendidikan Lingkungan Hidup
metode yang efektif dalam mengajarkan PLH di sekolah Adiwiyata dan
menganalisis aspek dalam pemilihan metode pengajaran PLH di sekolah
dasar. Pendidikan lingkungan hidup penting diajarkan pada siswa SD,
karena untuk memperoleh pengetahuan, kesadaran dan mempunyai sikap
dan perilaku peduli lingkungan. Metode yang digunakan dalam penelitian
ini adalah kuantitatif dengan analisis deskriptif. Penelitian dilakukan di
sekolah penerima Adiwiyata di DKI Jakarta, dengan responden berjumlah
46 orang guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode yang
digunakan guru sekolah Adiwiyata dalam mengajarkan PLH adalah
metode ceramah, metode pengalaman langsung dan diskusi.
Berdasarkan keempat penelitian tersebut, pengembangan buku
cerita bergambar berbasis pendidikan lingkungan hidup masih relevan
untuk diteliti. Peneliti berharap dengan adanya buku cerita bergambar ini
dapat mengembangkan minat baca siswa serta kepeduliannya terhadap
lingkungan yang ada disekitarnya. Kelebihan dari penelitian ini yaitu
pemerintah sudah menerapkan program literasi sekolah yang mewajibkan
siswa membaca buku non akademis selama 15 menit, sehingga buku cerita
yang dikembangkan peneliti efektif untuk diberikan kepada siswa.
Persamaan penelitian peneliti dengan penelitian yang lain yaitu sama-sama
melakukan penelitian tentang buku cerita bergambar dan pendidikan
lingkungan hidup, sedangkan perbedaanya penelitian peneliti untuk
Keempat penelitian yang relevan tersebut digambarkan ke dalam
diagram agar lebih jelas untuk dipahami. Desain diagram penelitian ini
bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai penelitian yang akan
dilakukan oleh peneliti.
Buku Cerita Bergambar Pendidikan Lingkungan Hidup
Ratna Dwi
2.3 Kerangka Berpikir
Pendidikan lingkungan hidup adalah suatu proses yang bertujuan
untuk menciptakan suatu masyarakat dunia yang memiliki kepedulian
terhadap lingkungan dan masalah-masalah yang terkait di dalamnya
sehingga dapat memiliki pengetahuan, keterampilan serta kepeduliannya
terhadap lingkungan yang ada di sekitar agar dapat menumbuhkan rasa
cinta terhadap lingkungannya dan dapat berperan penting dalam upaya
melestarikan dan menjaga lingkungan sekitar. Salah satu sarana yang
dapat digunakan untuk memberikan pengetahuan tentang pendidikan
lingkungan hidup ini dapat tertuang ke dalam suatu media yang berupa
buku cerita bergambar. Buku cerita bergambar ini adalah media yang
sangat efisien dan praktis untuk digunakan oleh anak-anak usia SD karena
di dalam buku cerita bergambar ini banyak sekali tokoh yang ada di
dalamnya serta anak dapat memahami isi gambar, sehingga anak lebih
termotivasi dan lebih tertarik untuk membaca dan mengetahui isi cerita
bergambar tersebut. Serta dengan adanya buku cerita bergambar anak
menjadi terinspirasi, membantu anak dalam perkembangan apresiasi
kultural, memperluas pengetahuan anak, menimbulkan kesenangan
tersendiri bagi anak, mengembangkan imajinasi anak dan dapat
memotivasi anak untuk lebih banyak membaca buku. Pada saat ini
membaca sangatlah penting dan harus diajarkan dari usia kanak-kanak,
dan dari pemerintahpun juga sudah menerapkan gerakalin literasi sekolah
belajar mengajar. Buku yang dibaca adalah buku non pelajaran, sehingga
buku cerita bergambar ini dibuat berisi tentang pendidikan lingkungan
hidup dengan ilustrasi gambar yang menarik dan mudah dipahami oleh
siswa, dengan adanya buku ini siswa dapat mengetahui bagaimana
menghargai, merawat serta melestarikan lingkungan hidup yang ada
disekitarnya. Siswa dapat peduli dengan lingkungan yang ada dan tahu
bagaimana cara memanfaatkan kondisi alam yang sudah ada.
Berdasarkan dari uraian yang telah dijabarkan di atas, maka
penelitian ini mempunyai maksud untuk mengembangkan sebuah buku
cerita bergambar yang berbasis pendidikan lingkungan hidup untuk
menarik minat baca terhadap siswa khususnya pada siswa sekolah dasar
kelas rendah. Sehingga siswa mampu memahami isi dari cerita tersebut
dan menemukan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya khususnya
pada kepedulian akan lingkungan hidup yang ada di sekitar mereka.
2.4 Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan dari uraian di atas, maka dapat dirumuskan beberapa
pertanyaaan penelitian sebagaimana berikut ini :
2.4.1 Bagaimana pengembangan buku cerita bergambar berbasis pendidikan
lingkungan hidup untuk pembelajaran membaca siswa SD kelas rendah ?
2.4.2 Bagaimana kualitas buku cerita bergambar berbasis pendidikan lingkungan
2.4.3 Bagaimana kualitas buku cerita bergambar berbasis pendidikan lingkungan
hidup untuk pembelajaran membaca siswa SD kelas rendah menurut guru
wali kelas III SDN 3 Palar ?
2.4.4 Bagaimana kualitas buku cerita bergambar berbasis pendidikan lingkungan
hidup untuk pembelajaran membaca siswa SD kelas rendah menurut hasil
38 BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu
pengembangan atau research and development (R&D). Menurut Sugiono
(2010: 407) metode penelitian pengembangan atau research and
development (R&D) adalah metode penelitian yang digunakan untuk
menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan produk tersebut.
Menurut Borg & Gall (dalam Setyorini, 2013: 222) pengertian dari
penelitian pengembangan adalah suatu proses yang dipakai untuk
mengembangkan dan memvalidasi produk. Trianto (2011: 206) juga
mengatakan bahwa penelitian dan pengembangan adalah suatu proses atau
langkah-langkah untuk mengembangkan suatu produk baru, atau
menyempurnakan produk yang telah ada, yang dapat
dipertanggungjawabkan.
Berdasarkan dari beberapa uraian di atas, maka dapat disimpulkan
bahwa penelitian dan pengembangan atau research and development
(R&D) adalah metode penelitian yang digunakan untuk mengembangkan
suatu produk atau membuat produk baru yang dapt diuji kefektifan produk
tersebut.
Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini dan
pengembangan ini mengadopsi dua model. Model yang pertama adalah