• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGEMBANGAN BUKU CERITA BERGAMBAR BERBASIS PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP UNTUK PEMBELAJARAN MEMBACA SISWA SD KELAS ATAS SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGEMBANGAN BUKU CERITA BERGAMBAR BERBASIS PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP UNTUK PEMBELAJARAN MEMBACA SISWA SD KELAS ATAS SKRIPSI"

Copied!
154
0
0

Teks penuh

(1)

i

PENGEMBANGAN BUKU CERITA BERGAMBAR BERBASIS PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP UNTUK

PEMBELAJARAN MEMBACA SISWA SD KELAS ATAS

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Oleh:

Arif Saefudin NIM: 131134126

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA 2017

▸ Baca selengkapnya: contoh buku tamu kelas untuk sd

(2)

ii SKRIPSI

PENGEMBANGAN BUKU CERITA BERGAMBAR BERBASIS PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP UNTUK

PEMBELAJARAN MEMBACA SISWA SD KELAS ATAS

Oleh:

Arif Saefudin NIM: 131134126

Telah disetujui oleh:

Pembimbing I

Brigitta Erlita Tri Anggadewi M.Psi. Tanggal, 9 Januari 2017

Pembimbing II

Apri Damai Sagita Krissandi S.S., M.Pd. Tanggal, 9 Januari 2017

(3)

iii SKRIPSI

PENGEMBANGAN BUKU CERITA BERGAMBAR BERBASIS PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP UNTUK

PEMBELAJARAN MEMBACA SISWA SD KELAS ATAS

Dipersiapkan dan ditulis oleh:

Arif Saefudin NIM: 131134126

Telah dipertahankan di depan Panitia Penguji pada tanggal 16 Januari 2017

dan dinyatakan telah memenuhi syarat

Susunan Panitia Penguji

Nama Lengkap Tanda Tangan

Ketua : Christiyanti Aprinastuti S.Si., M.Pd. ...

Sekretaris : Apri Damai Sagita Krissandi S.S., M.Pd. ...

Anggota : Brigitta Erlita Tri Anggadewi M.Psi. ...

Anggota : Apri Damai Sagita Krissandi S.S., M.Pd. ...

Anggota : Laurensia Aptik Evanjeli, S.Psi., M.A. ...

Yogyakarta, 16 Januari 2017

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma

Dekan,

Rohandi, Ph.D.

(4)

iv PERSEMBAHAN

Karya ini penulis persembahkan kepada:

1. Orang tua penulis, Bapak Sarman dan Ibu Siyami.

2. Kakak penulis, Tiswanti dan Nanang Sutaji.

3. Seseorang yang spesial, Annisa Faradian Pradevi.

4. Almamater Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan seluruh pendidik dalam Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

(5)

v MOTTO

“Tidak ada yang tidak mungkin, hanya caranya yang belum ditemukan”

(Arif Saefudin)

(6)

vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah saya sebutkan dalam kutipan daftar referensi, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 16 Januari 2017 Penulis

Arif Saefudin

(7)

vii LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma:

Nama : Arif Saefudin Nomor Mahasiswa : 131134126

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul:

PENGEMBANGAN BUKU CERITA BERGAMBAR BERBASIS PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP UNTUK

PEMBELAJARAN MEMBACA SISWA SD KELAS ATAS

Beserta perangkat yang diperlukan. Dengan demikian, saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk lain, mengelolanya dalam bentuk apa saja, mendistribusikan secara terbatas dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di Yogyakarta

Pada tanggal: 16 Januari 2017 Yang menyatakan

Arif Saefudin

(8)

viii ABSTRAK

Saefudin, Arif (2017). Pengembangan buku cerita bergambar berbasis pendidikan lingkungan hidup untuk pembelajaran membaca siswa SD kelas atas.

Skripsi. Yogyakarta: Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma.

Dalam kesehariannya manusia tidak pernah terlepas dari kegiatan membaca.

Membaca merupakan ketrampilan berbahasa yang penting untuk diajarkan secara benar kepada siswa. Penelitian ini difokuskan pada pengembangan buku cerita bergambar berbasis pendidikan lingkungan hidup untuk pembelajaran membaca siswa SD kelas atas.

Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan modifikasi dari Sugiyono. Tujuan pelitian ini adalah mengembangkan produk dan mengetahui kualitas produk. Langkah-langkah dalam pengembangan penelitian ini adalah (1) tahap analisis masalah, (2) tahap pengumpulan data, (3) tahap desain produk, (4) tahap validasi desain, (5) tahap revisi desain, (6) tahap uji coba produk, (7) tahap revisi produk. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah daftar pertanyaan wawancara dan lembar kuesioner. Wawancara digunakan untuk analisis kebutuhan kepada guru kelas V SDN Deresan Depok Yogyakarta.

kuesioner digunakan untuk validasi kualitas produk oleh ahli media, guru kelas V SDN Deresan Depok Yogyakarta, dan 10 siswa kelas atas SDN Deresan Depok Yogyakarta sebagai subjek penelitian.

Berdasarkan validasi yang dilakukan, ahli media memberikan skor dengan rata-rata 4,18, guru SD kelas V dengan rata-rata 4,68, dan 10 siswa SD kelas atas dengan rata-rata 4,66. Dari keseluruhan skor yang didapat, rata-rata yang diperoleh adalah 4,50 dengan kategori “Sangat Baik”. Penilaian buku cerita bergambar ini ditinjau dari lima aspek yaitu: (1) Tujuan dan pendekatan, (2) Desain dan pengorganisasian, (3) Isi kebahasaan, (4) Keterampilan Bahasa, dan (5) Metodologi.

Kata kunci: penelitian dan pengembangan, buku cerita bergambar, membaca

(9)

ix ABSTRACT

Saefudin, Arif (2017). Developing picture books based environmental education for reading lesson of high-grade elementary school students. Minithesis.

Yogyakarta: Study Program of Elementary School Teacher Education of Sanata Dharma University.

In everyday human can’t be separated from reading. Reading is an important language skills to be taught correctly to the students. This research focused on the developing picture books based environmental education for reading lesson of high- grade elementary school students.

This study uses research and development modifications of Sugiyono. The purpose of this study was to develop a product and knowing the quality of the product. The steps in the development of this study were (1) problem analysis, (2) data gathering, (3) product design, (4) product validation, (5) design revisions, (6)product trials, (7) product revision. The instrument used in this study is a list of interview questions and the questionnaire. Interviews were used for analysis needs to classroom teachers SDN Deresan Depok Yogyakarta. A questionnaire was used to validate the quality of the product by media experts, teachers grade V SDN Deresan Depok Yogyakarta, and 10 high-grade student SDN Deresan Depok Yogyakarta as a research subject.

Based on the validation conducted, media experts give point with an average score of 4.18, fifth grade elementary school teacher with an average of 4.68, and 10 high-grade elementary school students with an average of 4.66. Of the overall score obtained, the average obtained was 4.50 with a category of "Very Good". Rate this picture story book in terms of five aspects: (1) Objectives and approach, (2) Design and organization, (3) Fill in the language, (4) Language Skills, and (5) Methodology.

Keywords: research and development, picture books, reading

(10)

x KATA PENGANTAR

Dengan mengucap puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karena atas ridho dan hidayahNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi ini disusun untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta .

Penulis menyadari bahwa skripsi ini selesai karena bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada:

1) Bapak Rohandi, Ph D., Dekan Fakultas Pendidikan dan Ilmu Pendidikan.

2) Christiyanti Aprinastuti S.Si., M.Pd., Kaprodi PGSD.

3) Apri Damai Sagita Krissandi S.S., M.Pd., Wakaprodi PGSD dan dosen pembimbing II yang telah memberikan arahan dan masukan dalam menyelesikan skripsi ini.

4) Brigitta Erlita Tri Anggadewi M.Psi., dosen pembimbing I yang telah membimbing dan memotivasi penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.

5) Ahli media selaku validator yang telah membantu memaksimalkan penelitian ini.

6) Guru kelas V SD Negeri Deresan Depok Yogyakarta selaku narasumber dan validator.

7) Para dosen PGSD Universitas Sanata Dharma yang telah mendidik dan memberikan ilmunya kepada penulis selama kuliah.

8) Para guru SD Negeri Deresan Depok Yogyakarta yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

9) Ayah dan Ibu penulis, Bapak Sarman dan Ibu Siyami, yang selalu memberikan doa, cinta, dan semangat kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.

10) Kakak penulis, Tiswanti dan Nanang Sutaji, yang selalu membantu dan memberikan dorongan kepada penulis dalam setiap masalah.

(11)

xi 11) Annisa Faradian Pradevi, yang selalu memberikan semangat,

menumbuhkan motivasi, memberikan bantuan, dan menemani penulis selama peyusunan skripsi ini.

12) Teman-teman Kontrakan Holic yang namanya tidak bisa penulis sebutkan satu persatu, yang telah memberikan hiburan di sela penyusunan skripsi ini.

Akhir kata, semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan karunia-Nya dan membalas segala amal budi serta kebaikan pihak-pihak yang telah membantu penulis dalam penyusunan skripsi ini dan semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang membutuhkan.

Penulis

Arif Saefudin

(12)

xii DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

HALAMAN MOTTO ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ... vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACK ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xvi

DAFTAR BAGAN ... xvii

DAFTAR GAMBAR ... xviii

DAFTAR LAMPIRAN ... xix

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 6

1.3 Tujuan Penelitian ... 6

1.4 Manfaat Penelitian ... 6

1.5 Batasan Istilah ... 7

1.6 Spesifikasi Produk yang Dihasilkan ... 8

BAB II LANDASAN TEORI ... 9

2.1 Kajian Pustaka ... 9

2.1.1 Pembelajaran Membaca ... 9

2.1.1.1 Pengertian Membaca ... 9

2.1.1.2 Tujuan Membaca ... 10

2.1.1.3 Manfaat Membaca ... 11

(13)

xiii

2.1.1.4 Jenis-jenis Membaca ... 12

2.1.1.5 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kegiatan membaca 13 2.1.1.6 Gerakan Literasi Sekolah ... 17

2.1.1.7 Pembelajaran Membaca SD Kelas Tinggi ... 18

2.1.2 Buku Cerita Bergambar ... 25

2.1.1.1 Pengertian Media ... 25

2.1.1.2 Manfaat Media ... 26

2.1.1.3 Jenis-jenis Media ... 28

2.1.1.4 Pengertian Buku Cerita Bergambar ... 29

2.1.1.5 Manfaat Buku Cerita Bergambar ... 32

2.1.3 Pendidikan Lingkungan Hidup ... 33

2.1.1.1 Lingkungan Hidup ... 33

2.1.1.2 Permasalahan Lingkungan hidup ... 34

2.1.3.1 Pendidikan Lingkungan Hidup untuk Siswa SD ... 37

2.1.4 Karakterisitik Siswa SD Kelas Tinggi ... 39

2.2 Penelitian yang Relevan ... 41

2.3 Kerangka Berpikir ... 43

2.4 Pernyataan Penelitian ... 44

BAB III METODE PENELITIAN... 46

3.1 Jenis Penelitian ... 46

3.2 Prosedur Pengembangan ... 47

3.3 Uji Coba Terbatas ... 51

3.3.1 Desain Uji Coba Terbatas ... 51

3.3.2 Subjek Uji Coba Terbatas ... 51

3.3.3 Teknik Pengumpulan Data ... 51

3.3.4 Instrumen Penelitian ... 52

3.3.5 Teknik Analisis Data ... 57

3.3.5.1 Teknik Analisis Data Kualitatif ... 57

3.3.5.2 Teknik Analisis Data Kuantitatif ... 58

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 62

4.1 Analisis Kebutuhan ... 62

(14)

xiv

4.2 Deskripsi Produk Awal... 65

4.2.1 Sampul Buku Cerita Bergambar ... 66

4.2.2 Isi Buku Cerita Bergambar ... 66

4.2.1.1 Kata Pengantar ... 67

4.2.1.2 Daftar Isi ... 67

4.2.1.1 Tentang Buku... 67

4.2.1.4 Pembahasan Materi ... 68

4.2.1.5 Refleksi ... 68

4.2.1.6 Daftar Referensi ... 69

4.2.1.7 Biodata Penulis ... 69

4.3 Data Uji Coba dan Revisi ... 70

4.3.1 Data Validasi Ahli media dan Revisi Produk ... 70

4.3.2 Data Validasi Guru SD dan Revisi Produk ... 71

4.3.3 Data Uji Coba Terbatas dan Revisi Produk ... 72

4.4 Kajian Produk akhir dan Pembahasan ... 75

4.4.1 Sampul Buku Cerita Bergambar ... 75

4.4.2 Isi Buku Cerita Bergambar ... 76

4.4.1.1 Kata Pengantar ... 77

4.4.1.2 Daftar Isi ... 77

4.4.1.3 Tentang Buku... 78

4.4.1.4 Pemetaan Kompetensi ... 79

4.4.1.5 Pembahasan Materi ... 80

4.4.1.6 Refleksi ... 84

4.4.1.7 Daftar Referensi ... 85

4.4.1.8 Biodata Penulis ... 86

4.4.3 Pembahasan ... 87

BAB V PENUTUP ... 92

5.1 Kesimpulan ... 92

5.2 Keterbatasan Penelitian ... 93

5.3 Saran ... 94

(15)

xv DAFTAR REFERENSI ... 95 LAMPIRAN ... 97

(16)

xvi DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Kompetensi Dasar yang memuat pembelajaran membaca ... 23

Tabel 3.1 Kisi-kisi wawancara untuk guru SD kelas V ... 53

Tabel 3.2 Acuan skor kuesioner untuk guru SD kelas V ... 54

Tabel 3.3 Kisi-kisi uji validasi untuk ahli media dan guru SD kelas V ... 55

Tabel 3.4 Kisi-kisi uji validasi untuk siswa SD kelas tinggi ... 56

Tabel 3.5 Rumus Persentase Kelayakan Produk ... 58

Tabel 3.6 konversi nilai skala lima menurut Sukardjo ... 58

Tabel 3.7 Kriteria Skala Lima (Sukardjo, 2008: 101) ... 60

Tabel 4.1 Rangkuman hasil wawancara guru SD kelas V ... 63

Tabel 4.2 Komentar dan revisi ahli media ... 71

Tabel 4.3 Komentar dan revisi guru SD kelas V ... 72

Tabel 4.4 Data hasil validasi 10 siswa SD kelas tinggi... 73

Tabel 4.5 Komentar 10 siswa SD kelas tinggi ... 74

Tabel 4.6 Rekapitulasi skor hasil validasi dan uji coba lapangan ... 90

(17)

xvii DAFTAR BAGAN

Bagan 2.1 Jenis-jenis membaca menurut Tarigan... 12

Bagan 2.2 Penelitian yang relevan ... 43

Bagan 3.1 Prosedur pengembangan menurut Sugiyono ... 46

Bagan 3.2 Modifikasi prosedur pengembangan menurut Sugiyono ... 48

(18)

xviii DAFTAR GAMBAR

Gambar 4.1 Revisi sampul produk ... 76

Gambar 4.2 Revisi kata pengantar produk ... 77

Gambar 4.3 Revisi daftar isi produk ... 78

Gambar 4.4 Revisi tentang buku produk... 79

Gambar 4.5 Revisi pemetaan kompetensi produk... 80

Gambar 4.6 Revisi pembahasan materi produk halaman 3 ... 81

Gambar 4.7 Revisi pembahasan materi produk halaman 8 ... 81

Gambar 4.8 Revisi pembahasan materi produk halaman 9 ... 82

Gambar 4.9 Revisi pembahasan materi produk halaman 16 ... 83

Gambar 4.10 Revisi pembahasan materi produk halaman 23 ... 84

Gambar 4.11 Revisi Refleksi ... 85

Gambar 4.12 Revisi Daftar Referensi ... 86

Gambar 4.13 Revisi Biodata Penulis ... 87

(19)

xix DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Hasil Wawancara dengan Guru Kelas V SDN Deresan Depok

Yogyakarta ... 98

Lampiran 2 Data Hasil Validasi Ahli media ... 100

Lampiran 3 Data Hasil Validasi Guru Kelas V SDN Deresan Depok Yogyakarta ... 105

Lampiran 4 Data Hasil Validasi Siswa ... 108

Lampiran 5 Rekapitulasi Hasil Validasi Ahli media... 128

Lampiran 6 Rekapitulasi Data Hasil Validasi Guru Kelas V SDN Deresan Depok Yogyakarta ... 130

Lampiran 7 Rekapitulasi Hasil Validasi Siswa ... 132

Lampiran 8 Rekapitulasi skor hasil validasi dan uji coba lapangan ... 133

Lampiran 9 Surat Ijin Penelitian ... 134

Lampiran 10 Surat Keterangan Melakukan Penelitian ... 135

Lampiran 11 Buku Cerita Bergambar ... 136

(20)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kemampuan berbahasa berperan penting dalam kehidupan karena pengetahuan diperoleh dari hasil berbahasa. Oleh karena itu kemampuan berbahasa harus dikuasai oleh anak sejak dini. Beberapa keterampilan yang termasuk dalam aspek berbahasa, antara lain adalah keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis (Tarigan, dkk., 1989:13). Keempat keterampilan berbahasa tersebut dibutuhkan oleh anak baik dalam pendidikan formal maupun nonformal. Dalam setiap waktu kita dihadapkan dengan aspek kebahasaan, entah sadar maupun tidak kita memang selalu menggunakan keterampilan berbahasa.

Salah satu keterampilan berbahasa yang harus diperhatikan adalah keterampilan membaca. Dalam kesehariannya manusia tidak pernah terlepas dari kegiatan membaca. Menurut Tarigan, dkk. (1989: 3), membaca adalah kegiatan yang sangat purba. Membaca dikatakan purba adalah karena manusia sudah mulai membaca sejak jaman dahulu. Sejarah perkembangan manusia juga terjadi karena kegiatan membaca. Perkembangan berbahasa anak sudah dimuali sejak anak lahir, tak terkecuali keterampilan membaca. Sejak anak dilahirkan, anak sudah mempunyai potensi yang lambat laun akan berkembang dan selalu dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya terutama keluarga (Tarigan, dkk., 1989: 74).

(21)

2 Pada usia belajar, banyak gangguan yang bisa mempengaruhi minat anak dalam membaca. Ada banyak hal lebih dianggap menarik bagi anak daripada membaca, contohnya adalah acara televisi, radio, mobil mainan, dan alat bermain lainnya. Minat adalah sesuatu yang disenangi anak tanpa ada unsur paksaan. Dalam pembelajaran membaca minat baca dibutuhkan agar anak bisa mendalami pembelajaran secara menyeluruh. Apabila bahan bacaan yang diterima anak sesuai dengan minat dan kemampuannya, anak akan belajar dengan baik (Tarigan, dkk., 1989:94). Dibutuhkan strategi yang tepat untuk meningkatkan minat baca anak maka. Salah satu strategi yang dapat meningkatkan minat baca anak adalah media pembelajarannya. Minat baca anak akan turun ketika melihat buku yang berisi tulisan-tulisan, berbeda ketika anak melihat acara televisi, anak betah berlama-lama menontonnya. Hal itu disebabkan karena televisi lebih banyak memuat media visual daripada tulisan, selain itu media visual yang dimuat dalam acara televisi dikemas denagn menarik. Menurut Sudjana dan Rivai (1990: 9-10), penggunaan media visual dapat menigkatkan pengaruh yang tinggi terhadap prestasi belajar siswa karena memuat pesan-pesan yang realistis.

Pemahaman membaca siswa pada tingkat menengah (usia 15 tahun) di Indonesia pernah diuji oleh Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD - Organization for Economic Cooperation and Development) dalam Programme for International Student Assessment (PISA) pada tahun 2009.

Uji coba ini Hasil uji coba menunjukkan siswa Indonesia berada pada peringkat ke- 57 dengan skor 396 (skor rata-rata OECD 493). Pada tahun 2012 diadakan uji coba yang diikuti oleh 65 negara. Hasil uji coba pada tahun 2012 menunjukkan siswa

(22)

3 Indonesia berada pada peringkat ke-64 dengan skor 396 (skor rata-rata OECD 496) (Faizah dkk., 2016: i). Hal tersebut menunjukkan penurunan kemampuan membaca siswa di Indonesia mengalami penurunan dari tahun 2009 sampai 2012.

Kemampuan membaca siswa jenjang menengah berhubungan erat dengan pendidikan yang siswa terima pada jenjang sebelumnya yaitu Sekolah Dasar (Faizah, dkk., 2016: i).

Pemerintah melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 merancang gagasan-gagasan dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa. Salah satu kegiatan di dalam gerakan tersebut adalah

“Kegiatan 15 menit membaca buku nonpelajaran sebelum waktu belajar dimulai”

atau disebut dengan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Kegiatan ini dilaksanakan untuk menumbuhkan minat baca peserta didik serta meningkatkan keterampilan membaca agar pengetahuan dapat dikuasai secara lebih baik. Materi baca berisi nilai-nilai budi pekerti, berupa kearifan lokal, nasional, dan global yang disampaikan sesuai tahap perkembangan peserta didik (Faiza dkk., 2016:iii). GLS memiliki tujuan khusus, antara lain adalah menumbuhkembangkan budaya literasi di sekolah, meningkatkan kapasitas warga dan lingkungan sekolah agar literat, menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan dan ramah anak agar warga sekolah mampu mengelola pengetahuan, menjaga keberlanjutan pembelajaran dengan menghadirkan beragam buku bacaan dan mewadahi berbagai strategi membaca.

Berdasarkan wawancara yang dilakukan pada tanggal 29 Juli 2016 dengan guru kelas V SDN Deresan Depok Yogyakarta, menyatakan bahwa siswa kelas atas

(23)

4 rata-rata sudah bisa membaca, namun ada beberapa siswa yang belum bisa membaca lancar. Walaupun sudah bisa membaca, ada anak yang belum bisa memahami bacaan yang dibacanya. Guru kelas V SDN Deresan Depok Yogyakarta menyatakan bahwa perlu media yang dapat membangkitkan minat baca siswa, rasa penasaran siswa, dan pemahaman siswa akan materi yang disajikan. Sebagian buku yang dibaca siswa sebagian besar adalah teks, sehingga saat melihat pertama siswa sudah enggan untuk membacanya. Menurut Guru kelas V SDN Deresan Depok Yogyakarta, salah satu faktor penyebab rendahnya kemampuan membaca siswa adalah rendahnya minat baca karena media pembelajaran yang kurang menarik.

Arsyad (2009: 4-5) mengemukakan bahwa media adalah komponen sumber belajar atau wahana fisik yang mengandung materi instruksional di lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar.

Dalam proses belajar mengajar, kehadiran suatu media mempunyai arti yang cukup penting. Dengan kehadiran media tersebut, siswa dapat termotivasi untuk belajar. Salah satu media yang bisa digunakan adalah buku cerita bergambar.

Menurut Nurgiyantoro (2005: 152), yang disebut dengan buku cerita bergambar adalah buku bacaan cerita yang menampilkan teks narasi secara verbal dan disertai gambar-gambar ilustrasi. Media gambar yang menarik, akan menarik perhatian siswa dan menjadikan siswa memberikan respon awal terhadap proses pembelajaran. Dengan bantuan media cerita bergambar, siswa tidak hanya membayangkan isi bacaan sesuai dengan persepsi mereka. Akan tetapi, siswa juga dapat memiliki gambaran yang jelas mengenai isi bacaan tersebut.

(24)

5 Adanya pengaruh lingkungan dalam perkembangan anak, membuat orang tua dan orang terdekat dituntut untuk menjaga lingkungan sekitar anak agar anak bisa berkembang dengan baik. Selain orang tua dan orang terdekat anak, anak sendiri harus bisa menjaga lingkungan sekitar mereka. Hamzah (2013: 1) mengatakan bahwa kondisi alam sangat dipengaruhi oleh perilaku manusia.

Pendidikan yang dimulai dari dini tentang lingkungan hidup yang baik dan benar akan menghasilkan individu yang peduli dengan lingkungan hidupnya. Pemberian materi tentang pendidikan lingkungan hidup di Sekolah Dasar sangat penting karena akan membuat anak mengerti seluk beluk lingkunganya. Pendidikan lingkungan hidup untuk anak menekankan pada keterampilan yang bisa memberikan pengalaman kepada anak untuk memecahkan masalah lingkungan hidupnya (Hamzah, 2013: 40). Oleh karena itu, penambahan pendidikan lingkungan hidup pada buku bacaan anak adalah langkah yang tepat.

Penggabungan teks dengan visual yang sesuai serta tidak mengurangi isi dari materi yang dibahas dapat menjadi kelebihan bagi pembacanya. Buku cerita bergambar membuat anak tertarik membaca buku sekaligus terhibur dengan adanya ilustrasi di dalamnya. Penggunaan media cerita bergambar berbasis pendidikan lingkungan hidup untuk pembelajaran membaca siswa merupakan upaya efektif yang bisa membantu anak dalam belajar membaca sekaligus mengerti tentang lingkungan sekitar mereka.

(25)

6 1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Bagaimana pengembangan buku cerita bergambar berbasis pendidikan lingkungan hidup untuk pembelajaran membaca siswa SD kelas atas?

1.2.2 Bagaimana kualitas buku cerita bergambar berbasis pendidikan lingkungan hidup untuk pembelajaran membaca siswa SD kelas atas?

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Mengembangkan buku cerita bergambar berbasis pendidikan lingkungan hidup untuk pembelajaran membaca siswa SD kelas atas.

1.3.2 Mendeskripsikan kualitas buku cerita bergambar berbasis pendidikan lingkungan hidup untuk pembelajaran membaca siswa SD kelas atas.

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Bagi Siswa

Buku cerita bergambar berbasis pendidikan lingkungan ini dapat membantu siswa untuk belajar membaca sekaligus belajar tentang lingkungan. Siswa akan mengetahui berbagai hal terkait lingkungan hidup dan dapat menerapkannya dalam kehidupan.

1.4.2 Bagi Guru

Buku cerita bergambar berbasis pendidikan lingkungan hidup ini dapat menambah media yang menarik untuk kegiatan belajar mengajar khususnya pada pembelajaran membaca siswa SD kelas atas.

(26)

7 1.4.3 Bagi Sekolah

Sekolah dapat menggunakan buku cerita bergambar berbasis pendidikan lingkungan hidup sebagai acuan untuk mengembangkan bahan ajar lain. Buku ini juga bisa menjadi koleksi perpustakaan yang bisa dibaca oleh siswa.

1.4.4 Bagi Prodi PGSD

Penelitian ini dapat menambah pustaka prodi PGSD Universitas Sanata Dharma terkait dengan pengembangan buku cerita bergambar berbasis pendidikan lingkungan untuk pembelajaran membaca siswa SD kelas atas.

1.4.5 Bagi Peneliti

Penelitian ini dapat menambah wawasan dan pengalaman peneliti dalam mengembangkan media pembelajaran berupa buku cerita bergambar.

1.5 Batasan Istilah

1.5.1 Membaca adalah kegiatan yang dilakukan oleh pembaca untuk memperoleh pesan dan memahami apa yang disampaikan penulis dalam tulisannya.

1.5.2 Pendidikan lingkungan hidup adalah pendidikan yang mengajarkan konsep untuk membina keterampilan dan sikap untuk memahami dan menghargai hubungan antar manusia dengan lingkungannya.

1.5.3 Siswa kelas atas adalah siswa yang berusia antara usia 9 atau 10 tahun – 12 atau 13 tahun dan duduk di kelas IV, V dan VI Sekolah Dasar. Siswa pada usia ini suka membentuk kelompok sebaya atau peergroup untuk bermain bersama, mereka membuat peraturan sendiri dalam kelompoknya.

(27)

8 1.5.4 Literasi adalah kegiatan menbaca buku nonpelajaran selama 15 menit

sebelum pelajaran dimulai.

1.6 Spesifikasi Produk yang Dihasilkan

1.6.1 Mengandung kegiatan siswa yang variatif (menyimak, membaca, dan merefleksikan).

1.6.2 Sesuai dengan perkembangan bahasa anak (konkret dan menarik).

1.6.3 Bersifat kontekstual (berkaitan dengan lingkungan sekitar anak).

1.6.4 Buku cerita bergambar mengandung komponen kata pengantar, daftar isi, pemetaan, kegiatan belajar dan refelksi.

1.6.5 Buku cerita bergambar dicetak dengan menggunakan kertas Ivory dengan ukuran A4 (21.0cm x 29.7cm)

(28)

9 BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Kajian Pustaka

2.1.1 Pembelajaran Membaca 2.1.1.1 Pengertian Membaca

Membaca sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap waktu manusia menggunakan kemampuan membaca seperti membaca koran, membaca buku, membaca pengumuman, dan kegiatan membaca lainnya. Kegiatan membaca juga tidak terlepas dari bagian pembelajaran di sekolah. Setiap pembelajaran mempunyai bagian sendiri untuk dibaca oleh siswa, umumnya berupa materi pelajaran dan soal. Membaca merupakan suatu kesatuan kegiatan yang mencangkup beberapa kegiatan seperti mengenali huruf dan kata-kata, menghubungkan bunyi serta maknanya, serta menarik kesimpulan mengenai maksud bacaan (Akhadiah dkk., 1992:22). Hodgson (dalam Tarigan, 1987: 7), mengemukakan bahwa membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta digunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis. Sedangkan menurut Soedarso (2004:4), membaca adalah aktivitas yang kompleks dengan mengerahkan sejumlah besar tindakan yang terpisah-pisah, meliputi: orang harus menggunakan pengertian dan khayalan, mengamati, dan mengingat-ingat. Menurut Rahim (2007: 2), membaca pada hakikatnya adalah suatu yang rumit yang melibatkan banyak hal, tidak hanya sekadar melafalkan tulisan, tetapi juga melibatkan aktivitas visual,

(29)

10 berpikir, psikolinguistik, dan metakognitif. Tampubolon (1990: 227) juga menyampaikan bahwa membaca adalah kegiatan fisik dan mental yang dapat berkembang menjadi suatu kebiasaan.

Dari beberapa pendapat diatas, dapat disimpulakan bahwa membaca merupakan suatu kegiatan yang kompleks, yang bertujuan untuk menafsirkan atau mengartikan lambang tertulis sehingga diperoleh makna atau pesan yang terkandung dalam bahasa tulis tersebut.

2.1.1.2 Tujuan Membaca

Seperti yang dikemukakan oleh Tarigan (1987: 9), tujuan utama dalam membaca adalah untuk mencari serta memperoleh informasi, mencakup isi, memahami makna bacaan. Akhadiah dkk. (1992: 33) juga mengemukakan bahwa dengan kemampuan membaca yang memadai, pembaca akan lebih mudah menggali informasi dari berbagai sumber tertulis. Siswa yang mempunyai kemampuan membaca yang baik mampu memahami materi yang disajikan secara tertulis dengan baik pula.

Blanton, dkk. dan Irwin (dalam Rahim, 2007: 11-12) juga menyebutkan beberapa tujuan dari membaca. Tujuan membaca itu adalah sebagai berikut:

a) Kesenangan.

b) Menyempurnakan membaca nyaring.

c) Menggunakan strategi tertentu.

d) Memperbaharui pengetahuannya tentang suatu topik.

e) Mengaitkan informasi baru dengan informasi yang telah diketahuinya.

(30)

11 f) Memperoleh informasi untuk laporan lisan atau tertulis.

g) Mengkonfirmasikan atau menolak prediksi.

h) Menampilkan suatu eksperimen atau mengaplikasikan informasi yang diperoleh dari suatu teks dalam beberapa cara lain dan mempelajari tentang struktur teks.

i) Menjawab pertanyaan-pertanyaan yang spesifik.

Tujuan membaca untuk setiap orang bisa berbeda, namun mempunyai kesamaan yaitu untuk memperoleh informasi dari sebuah bacaan.

2.1.1.3 Manfaat Membaca

Somadayo (2011: 2) menyatakan bahwa membaca merupakan salah satu diantara empat keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, menulis) yang penting untuk dipelajari dan dikuasai oleh setiap individu. Dengan membaca, seseorang dapat bersantai, berinteraksi dengan perasaan dan pikiran, memperoleh informasi, dan meningkatkan ilmu pengetahuan. Syafi’ie (dalam Somadayo, 2011:

3) juga menyatakan bahwa sebagai bagian dari keterampilan berbahasa, keterampilan membaca mempunyai kedudukan yang sangat penting dan strategis karena melalui membaca, orang dapat memahami kata yang diutarakan seseorang.

Menurut Burns, dkk., (dalam Rahim, 2007: 1), kemampuan membaca merupakan sesuatu yang vital dalam suatu masyarakat terpelajar. Namun, siswa yang tidak memahami pentingnya belajar membaca tidak akan termotivasi untuk belajar. Membaca merupakan kemampuan yang sanagat penting bagi siswa dalam

(31)

12 mengikuti pembelajaran. Selain sebagai pengantar dari materi menuju siswa, membaca juga bisa menjadi rangsangan siswa untuk mengetahui hal baru.

2.1.1.4 Jenis-jenis Membaca

Membaca dibagi menjadi dua jenis, yaitu: 1) membaca nyaring, dan 2) membaca dalam hati. Membaca dalam hati terdiri atas: (a) membaca ekstensif, yang dibagi lagi menjadi: membaca survey, membaca sekilas, dan membaca dangkal, dan (b) membaca intensif, yang terdiri dari: membaca telaah isi dan membaca telaah bahasa. Membaca telaah isi terdiri dari: membaca teliti, pemahaman, kritis, dan membaca ide-ide. Berikut ini adalah skema jenis-jenis membaca menurut Tarigan (1987:12-13):

Bagan 2.1 Jenis-jenis membaca menurut Tarigan

Membaca

Membaca nyaring Membaca dalam hati

Membaca ekstensif Membaca intensif

Membaca telaah isi

Membaca telaah bahasa

Membaca bahasa, membaca sastra Membaca teliti,

membaca pemahaman, membaca ide-ide Membaca survey,

membaca sekilas, membaca dangkal

(32)

13 Kridalaksana (dalam Haryadi dan Zamzani, 1996: 32) berpendapat bahwa membaca adalah keterampilan mengenal dan memahami tulisan dalam bentuk urutan lambang-lambang grafis dan perubahannya menjadi wicara bermakna dalam bentuk pemahaman diam-diam atau pengujaran keras-keras. Yang dimaksud dengan diam-diam adalah membaca dalam hati, sedangakan pengujaran keras-keras adalah membaca nyaring.

2.1.1.5 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kegiatan membaca

Faktor-faktor yang mempengaruhi membaca permulaan menurut Lamb dan Arnold (dalam Rahim, 2007: 16) adalah faktor fisiologis, intelektual, lingkungan, dan psikologis.

a) Faktor Fisiologis

Menurut Rahim (2007: 16), faktor fisiologis mencakup kesehatan fisik, pertimbangan neurologis, dan jenis kelamin. Kelelahan juga merupakan kondisi yang tidak menguntungkan bagi siswa untuk belajar, khususnya belajar membaca. Dalyono (2009: 55) mengatakan bahwa kesehatan jasmani dan rohani sangat besar pengaruhnya terhadap kemampuan belajar.

Berdasarkan pendapat tersebut, faktor fisiologi sangatlah berpengaruh dalam kegiatan membaca dan kegiatan belajar anak.

b) Faktor Intelektual

Faktor metode mengajar guru, prosedur, dan kemampuan guru juga turut mempengaruhi kemampuan membaca permulaan siswa (Rahim, 2007: 17).

Dalyono (2009: 56), siswa yang memiliki inteligensi baik (IQ-nya tinggi)

(33)

14 umumnya mudah belajar dan hasilnya pun cenderung baik. Sebaliknya siswa yang inteligensinya rendah, cenderung mengalami kesukaran dalam belajar, lambat berpikir sehingga prestasi belajarnya pun rendah. Jadi, tingkat intelegensi siswa umumnya berpengaruh terhadap kemampuan membacanya. Apabila siswa mempunyai intelegensi tinggi umumnya akan mempunyai kemampuan membaca yang baik, sedangkan siswa yang mempunyai intelegensi rendah umumnya akan mempunyai kemampuan membaca yang rendah pula.

c) Faktor Lingkungan

1) Latar Belakang dan Pengalaman

Rahim (2007: 18) menjelaskan bahwa faktor lingkungan akan mempengaruhi kemampuan membaca siswa. Lingkungan dapat membentuk pribadi, sikap, nilai, dan kemampuan bahasa siswa. Kondisi di rumah mempengaruhi pribadi dan penyesuaian diri siswa dalam masyarakat. Kondisi itu pada gilirannya dapat membantu siswa, dan dapat juga menghalangi siswa belajar membaca. Siswa yang tinggal di dalam rumah tangga yang harmonis, rumah yang penuh dengan cinta kasih, yang orang tuanya memahami anak-anaknya, dan mempersiapkan mereka dengan rasa harga diri yang tinggi, tidak akan menemukan kendala yang berarti dalam membaca. Menurut pendapat tersebut, kondisi keluarga dan lingkungan sekitar sangat berpengaruh dalam perkembangan anak dan juga kemampuan membaca anak. Apabila keluarga dan lingkungan sekitar bisa mendukung, maka anak-anak akan

(34)

15 berkembang ke arah yang baik dan meiliki kemampuan membaca yang baik.

2) Faktor sosial ekonomi

Akhadiah, dkk., (1992: 26) mengemukakan bahwa orang tua yang memiliki kesadaran akan pentingnya kemampuan membaca akan berusaha agar anak-anaknya memiliki kesempatan untuk belajar membaca. Crawley dan Mountain (dalam Rahim, 2007: 19) juga mengemukakan bahwa faktor sosial ekonomi berpengaruh terhadap kemampuan membaca siswa. Terdapat beberapa bagian yang bisa membentuk lingkungan siswa, antara lain adalah orang tua dan lingkungan tetangga. Apabila orang tua dan lingkungan tetangga mempunyai sosial ekonomi yang baik, maka akan memberikan dampak yang baik. Beberapa penelitian memperlihatkan bahwa status sosial ekonomi siswa mempengaruhi kemampuan verbal siswa. Semakin tinggi status sosial ekonomi siswa semakin tinggi kemampuan verbal siswa. Keadaan sosial ekonomi yang baik akan mendorong siswa untuk lebih berkembang karena adanya sumber daya yang beragam. Dari pendapat di atas, jelaslah bahwa faktor sosial ekonomi siswa mempengaruhi kemampuan membacanya.

d) Faktor Psikologis 1) Motivasi

Crawley dan Mountain (dalam Rahim, 2007: 20) mengemukakan bahwa motivasi ialah sesuatu yang mendorong seseorang belajar atau

(35)

16 melakukan suatu kegiatan. Motivasi belajar mempengaruhi minat dan hasil belajar siswa. Usman (2006: 29) menyatakan bahwa tugas guru adalah membangkitkan motivasi siswa sehingga ia mau melakukan belajar. Motivasi dapat timbul dari dalam diri individu dan dapat pula timbul akibat pengaruh dari luar dirinya. Dalyono (2009: 57) juga menjelaskan bahwa seseorang yang belajar dengan motivasi kuat, akan melaksanakan semua kegiatan belajarnya dengan sungguh-sungguh, penuh gairah atau semangat. Sebaliknya, belajar dengan motivasi yang lemah, akan malas bahkan tidak mau mengerjakan tugas-tugas yang berhubungan dengan pelajaran. Menurut Akhadiah, dkk. (1992: 26), motivasi merupakan faktor yang cukup besar pengaruhnya terhadap kemampuan membaca. Siswa yang memiliki motivasi tinggi atau kuat, tanpa didorong atau disuruh membaca akan giat belajar membaca.

Sedangkan yang tidak bermotivasi atau motivasinya rendah, tentunya enggan membaca. Dari beberapa pendapat di atas, jelaslah bahwa motivasi sangat penting dalam meningkatkan kemampuan membaca siswa.

2) Minat

Jame (dalam Usman, 2006: 27) melihat bahwa minat siswa merupakan faktor utama yang menentukan derajat keaktifan belajar siswa. Rahim (2007: 28) menjelaskan bahwa minat baca ialah keinginan yang kuat disertai usaha-usaha seseorang untuk membaca. Orang yang mempunyai minat membaca yang kuat akan diwujudkannya dalam kesediaannya

(36)

17 untuk mendapat bahan bacaan dan kemudian membacanya atas kesadarannya sendiri. Sementara itu, Dalyono (2009: 57) mengemukakan bahwa minat belajar yang besar cenderung menghasilkan prestasi yang tinggi, sebaliknya minat belajar kurang akan menghasilkan prestasi yang rendah. Minat akan mempengaruhi kemampuan membaca siswa karena tanpa adanya minat, siswa cenderung enggan membaca. Hal ini tentunya akan berdampak pada kemampuan membaca yang rendah.

3) Kematangan Emosi dan Sosial serta Penyesuaian Diri

Ada tiga aspek kematangan emosi dan sosial, yaitu: a) stabilitas emosi, b) kepercayaan diri, dan c) kemampuan berpartisipasi dalam kelompok (Rahim, 2007: 29). Ketiga aspek tersebut berpengaruh terhadap kemampuan membaca siswa.

2.1.1.6 Gerakan Literasi Sekolah

Gerakan Literasi Sekolah adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan atau berbicara (Faizah dkk., 2016:2).

Kegiatan ini dilaksanakan untuk menumbuhkan minat baca peserta didik serta meningkatkan keterampilan membaca agar pengetahuan dapat dikuasai secara lebih baik. Materi baca berisi nilai-nilai budi pekerti, berupa kearifan lokal, nasional, dan global yang disampaikan sesuai tahap perkembangan peserta didik. Kegiatan ini dilaksanakan selama 15 menit. Bahan bacaan yang dibaca dalam kegiatan ini bukan

(37)

18 buku pekaran, namun buku bacaan yang diminati oleh siswa. Siswa bebas untuk membawa buku yang disukainya ke sekolah untuk kegitan ini.

Gerakan Literasi Sekolah yang digagas dan dikembangkan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah merupakan kepedulian atas rendahnya kompetensi peserta didik Indonesia dalam bidang matematika, sains, dan membaca.

Data penelitian dalam Progress International Reading Literacy Study (PIRLS) tahun 2011 menunjukkan bahwa kemampuan siswa Indonesia dalam memahami bacaan berada di bawah rata-rata internasional. Melalui penguatan kompetensi literasi, terutama literasi dasar, peserta didik diharapkan dapat memanfaatkan akses lebih luas pada pengetahuan agar rendahnya peringkat kompetensi tersebut dapat diperbaiki. Gerakan ini tercantum dalam Permendikbud No. 23 Tahun 2015 (Faizah dkk., 2016:iii).

2.1.1.7 Pembelajaran Membaca SD Kelas atas

Dalam undang-undang no. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pasal 1 ayat 20 dinyatakan bahwa bembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.

Kompleksitas dalam kegiatan pembelajaran juga terdapat pada pembelajaran membaca. Pembelajaran membaca harus memperhatikan kebiasaan cara berfikir teratur dan baik. Hal ini disebabkan membaca sebagai proses yang sangat kompleks dengan melibatkan semua proses mental yang lebih tinggi, seperti ingatan, pemikiran, daya khayal, pengaturan, penerapan, dan pemecahan masalah (Iskandarwassid, 2009:264).

(38)

19 Pembelajaran membaca tidak berdiri sendiri sebagai sebuah mata pelajaran.

Pembelajaran membaca merupakan salah satu aspek pembelajaran bahasa Indonesia yang diarahkan untuk mengembangkan kompetensi membaca. Dengan demikian, pembelajaran membaca dapat dilakukan terpadu dengan pembelajaran keterampilan berbahasa lainnya. Kemampuan yang disampaikan dalam pembelajaran membaca adalah kemampuan berbahasa dan bersastra. Oleh karena itu, wacana dalam pembelajaran membaca bisa berupa wacana sastra maupun nonsastra (Nurhayati, 2009).

Terdapat beberapa ketrampilan yang bisa membantu guru dalam melakukan pembelajaran membaca bagi siswanya. Ketrampilan-keterampilan itu dibagi menjadi dua yaitu, keterampilan dalam membaca nyaring dan keterampilan dalam membaca dalam hati. Menurut Dawson, dkk. (dalam Tarigan, 1987: 24-25) berikut adalah daftar keterampilan yang dapat membantu guru dalam pembelajaran membaca nyaring di SD.

a) Kelas I

1) Mempergunakan ucapan yang tepat.

2) Mempergunakan frase yang tepat.

3) Menggunakan intonasi suara yang wajar agar makna mudah terpahami.

4) Memiliki perawakan dan sikap yang baik serta merawat buku dengan baik.

5) Menguasai tanda-tanda baca sederhana seperti: titik (.), koma (,), tanda tanya (?), dan tanda seru (!).

b) Kelas II

(39)

20 1) Membaca dengan tenang dan jelas.

2) Membaca dengan penuh prasaan, ekspresi.

3) Membaca tanpa tertegun-tegun, tanpa terbata-bata.

c) Kelas III

1) Membaca dengan penuh perasaan, ekspresi.

2) Mengerti serta memahami bahan bacaan.

d) Kelas IV

1) Memahami bhan bacaan pada tingkat dasar.

2) Kecepatan mata dan suara: 3 patah kata dalam satu detik e) Kelas V

1) Membaca dengan pemahaman dan perasaan.

2) Aneka kecepatan membaca nyaring tergantung pada bahan bacaan.

3) Dapat membaca tanpa terus menerus melihat pada bahan bacaan.

f) Kelas VI

1) Membaca nyaring dengan penuh perasaan atau ekspresi.

2) Membaca dengan penuh kepercayaan (pada diri sendiri) dan mempergunakan frase atau susunan kata yang tepat

Barbe dan Abbott (dalam Tarigan, 1987:37-38) mengemukakan keterampilan selanjutnya yang dapat menolong guru dalam melaksanakan pembelajaran membaca dalam hati, antara lain adalah:

a) Kelas I

1) Membaca tanpa bersuara, tanpa gerakan-gerakan bibir, tanpa berbisik.

2) Membaca tanpa gerakan-gerakan kepala.

(40)

21 b) Kelas II

1) Membaca tanpa gerakan-gerakan bibir atu kepala.

2) Membaca lebih cepat secara dalam hati daripada secara bersuara.

c) Kelas III

1) Membaca dalam hati tanpa menunjuk-nujuk dengan jari, tanpa gerakan bibir.

2) Memahami bahan bacaan yang dibaca secara diam atau secara dalam hati itu.

3) Lebih cepat membaca dalam hati daripada membaca bersuara.

d) Kelas IV

1) Mengerti serta memahami bahan bacaan pada tingkat dasar.

2) Kecepatan mata dalam membaca 3 kata per detik.

e) Kelas V

1) Membaca dalam hati jauh lebih cepat daripada membaca bersuara.

2) Membaca dengan pemahaman yang baik.

3) Membaca tanpa erakan-gerakan biiratau kepala atau menunjuk-nunjuk denngan jari tangan.

4) Menikmati bahan bacaan yang dibaca dalam hati itu; senang membaca dalam hati.

f) Kelas VI

1) Membaca tanpa gerakan-gerakan bbir; tanpa komat-kamit.

2) Dapat menyesuaikan kecepatan membaca dengan tingkat kesukaran dalam bahan bacaan.

(41)

22 3) Dapat membaca 180 patah kata dalam satu menit pada bacaan fiksi pada

tingkat dasar.

Menurut Supriyadi (1992: 115), di Sekolah Dasar jenis membaca dengan cara menyaringkan atau menyuarakan apa yang dibaca sebagian besar atau bahkan sepenuhnya dilakukan pada peringkat kelas I dan II. Untuk peringkat-peringkat kelas yang lebih tinggi, frekuensi kegiatan membaca teknis semakin dikurangi.

Dari uraian tersebut dapat diketahui bahwa perbedaan antar pembelajaran membaca kelas bawah dan kelas atas. Pada kelas bawah (kelas I-III), pembelajaran fokus pada hal teknis tentang bagaimana cara membaca, sedangkan pada kelas atas (kelas IV-VI), pembelajaran mulai fikus pada aspek pemahaman. Pemahaman dalam pembelajaran membaca pada SD mulai ditekankan pada kelas III, namun belum sepenuhnya. Mulai kelas IV pemahaman sudah menjadi indikator yang harus dicapai oleh siswa dalam pembelajaran membaca.

Pada kurikulum 2013, pembelajaran membaca dimasukan ke dalam kompetensi inti 3 yang berupa pengetahuan. Kompetensi inti kemudian diturunkan ke dalam beberapa kompetensi dasar. Terdapat beberpa kompetensi dasar yang memuat pembelajaran membaca.

Tabel 2.1 Kompetensi Dasar yang memuat pembelajaran membaca Kelas Kompetensi Inti Kompetensi Dasar

(42)

23 IV 3. Memahami pengetahuan

faktual dengan cara mengamati dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah, di sekolah dan tempat bermain

3.4 Menggali informasi dari teks cerita petualangan tentang lingkungan dan sumber daya alam dengan bantuan guru dan teman dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis dengan memilih dan memilah kosakata baku

V 3. Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah, di sekolah dan tempat bermain

3.1 Menggali informasi dari teks laporan buku tentang makanan dan rantai makanan, kesehatan manusia, keseimbangan ekosistem, serta alam dan pengaruh kegiatan manusia dengan bantuan guru dan teman dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis dengan memilih dan memilah kosakata baku VI 3. Memahami pengetahuan

faktual dengan cara mengamati dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan

3.1 Menggali informasi dari teks laporan investigasi tentang ciri khusus makhluk hidup dan lingkungan, serta campuran dan larutan dengan bantuan guru dan teman dalam ahasa

(43)

24 benda-benda yang

dijumpainya di rumah, di sekolah dan tempat bermain

Indonesia lisan dan tulis dengan memilih dan memilah kosakata baku

Dari tabel tersebut, dalam setiap pembelajaran siswa membutuhkan sumber belajar berupa media teks yang memuat materi yang berhubungan dengan lingkungan hidup untuk berlangsungnya pembelajaran. Peneliti menentukan pokok materi yang akan dibahas dalam buku cerita bergambar yaitu tentang hubungan antara anusia dengan lingkungan. Peneliti memperoleh pokok materi tersebut dengan cara mengkomparasikan Kompetensi dasar dari tiga kelas, kemudian menentukan materi pokok mana yang tetap sesuai apabila digunakan untuk kelas IV, V, dan VI. Selain sebagai sumber belajar dalam pembelajaran, buku ini juga bisa dipakai dalam Gerakan Literasi Sekolah. Walupun buku ini bisa digunakan dalam pembelajaran, buku ini bukan termasuk buku pelajaran, namun buku bacaan.

Berdasarkan uraian tersebut, peneliti membuat buku cerita bergambar berbasis pendidikan lingkungan hidup dalam pembelajaran membaca untuk siswa SD kelas atas.

2.1.2 Buku Cerita Bergambar 2.1.2.1 Pengertian Media

(44)

25 Media pembelajaran sanagat membantu dalam proses pembelajaran di kelas. Media pembelajaran akan membuat pembelajaran yang berlangsung menjadi lebih menarik dan efektif. Kata media berasal dari bahasa Latin Medius yang secara harfiah berarti tengah, perantara, atau pengantar (Azhar, 2010:3). Menurut Gerlach dan Ely (dalam Azhar, 2010:3), media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Media merupakan sarana komunikasi yang membawa informasi antara sebuah sumber dan sebuah penerima (Smaldino, 2011:7). Menurut Sudjana dan Rivai (1990: 3-4), ada beberapa jenis media pengajaran yang biasa digunakan dalam proses pengajaran.

Pertama, media grafis seperti gambar, foto, grafik, bagan atau diagram, poster, kartun, komik, dan lain-lain. Media grafis sering juga disebut media dua dimensi, yakni media yang mempunyai ukuran panjang dan lebar. Kedua, media tiga dimensi yaitu dalam bentuk model seperti model padat (solid model), model penampang, model susun, model kerja, mock up, diorama, dan lain-lain. Ketiga, media proyeksi seperti slide, film strips, film, penggunaan OHP, dan lain-lain. Keempat, penggunaan lingkungan sebagai media pengajaran.

Dari berbagai definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah alat bantu yang ada di lingkungan siswa yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan berupa bahan pelajaran, sehingga dapat merangsang belajar siswa dan mengefektifkan proses pembelajaran.

2.1.2.2 Manfaat Media

(45)

26 Mulyanta dan Leong (2009: 2) mengemukakan bahwa media pembelajaran sebenarnya merupakan alat bantu yang dapat digunakan oleh guru dalam membantu tugas kependidikannya. Media pembelajaran juga dapat memudahkan pemahaman siswa terhadap materi yang harus dipelajari, yang pada akhirnya diharapkan dapat mempertinggi hasil belajar. Menurut Sagala (2010: 169), pendidikan yang disertai media yang tepat, selain memudahkan siswa dalam mengalami, memahami, mengerti, dan melakukan juga menimbulkan motivasi yang lebih kuat ketimbang semata-mata dengan menggunakan kata-kata yang abstrak. Usman (2006: 31) juga mengemukakan bahwa belajar akan lebih efektif jika dibantu dengan alat peraga pengajaran daripada siswa belajar tanpa dibantu dengan alat pengajaran.

Hamalik (dalam Arsyad, 2009: 15) mengemukakan bahwa pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa.

Sudjana dan Rivai (1990: 2) menyebutkan manfaat media pengajaran dalam proses belajar siswa adalah sebagai berikut.

a) Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar.

b) Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh para siswa, dan memungkinkan siswa menguasai tujuan pengajaran lebih baik.

c) Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan

(46)

27 dan guru tidak kehabisan tenaga, apalagi apabila guru mengajar untuk setiap jam pelajaran.

d) Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan dan lain-lain.

Levie dan Lentz (dalam Arsyad, 2009: 16-17) mengemukakan empat fungsi media pembelajaran, khususnya media visual, yaitu: a) fungsi atensi, b) fungsi afektif, c) fungsi kognitif, dan d) fungsi kompensatoris.

a) Fungsi atensi media visual merupakan inti, yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi pelajaran.

b) Fungsi afektif media visual dapat terlihat dari tingkat kenikmatan siswa ketika belajar (atau membaca) teks yang bergambar. Gambar atau lambang visual dapat menggugah emosi dan sikap siswa.

c) Fungsi kognitif media visual dapat terlihat dari temuan-temuan penelitian yang mengungkapkan bahwa lambang visual atau gambar memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar.

d) Fungsi kompensatoris media visual dapat terlihat dari hasil penelitian bahwa media visual yang memberikan konteks untuk memahami teks membantu siswa yang lemah dalam membaca untuk mengorganisasikan informasi dalam teks dan mengingatnya kembali.

(47)

28 Berdasarkan pendapat di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa media merupakan sarana penghubung yang bisa mempermudah penyampaian informasi antara pemberi informasi dengan penerima informasi.

2.1.2.3 Jenis-jenis Media

Menurut Sudjana dan Rivai (1990: 3-4), ada beberapa jenis media pengajaran yang biasa digunakan dalam proses pengajaran. Pertama, media grafis seperti gambar, foto, grafik, bagan atau diagram, poster, kartun, komik, dan lain- lain. Media grafis sering juga disebut media dua dimensi, yakni media yang mempunyai ukuran panjang dan lebar. Kedua, media tiga dimensi yaitu dalam bentuk model seperti model padat (solid model), model penampang, model susun, model kerja, mock up, diorama, dan lain-lain. Ketiga, media proyeksi seperti slide, film strips, film, penggunaan OHP, dan lain-lain. Keempat, penggunaan lingkungan sebagai media pengajaran.

Leshin, Pollock dan Reigeluth (dalam Arsyad, 2009: 36) mengklasifikasikan media ke dalam lima kelompok, yaitu: a) media berbasis manusia (guru, instruktur, tutor, main-peran, kegiatan kelompok, field-trip), b) media berbasis cetak (buku, penuntun, buku latihan (workbook), alat bantu kerja, dan lembaran lepas), c) media berbasis visual (video, film, program slide-tape, televisi), dan e) media berbasis komputer (pengajaran dengan bantuan komputer, interaktif video, hypertext).

2.1.2.4 Pengertian Buku Cerita Bergambar

(48)

29 Salah satu media yang dapat membantu siswa dalam memahami suatu teks cerita yaitu gambar. Pengajaran akan lebih efektif apabila objek dan kejadian yang menjadi bahan pengajaran dapat divisualisasikan secara realistik menyerupai keadaan yang sebenarnya, namun tidaklah berarti bahwa media harus selalu menyerupai keadaan yang sebenarnya (Sudjana dan Rivai, 1990: 9).

Beberapa alasan menunjukkan bahwa gambar merupakan media yang baik untuk membantu proses belajar. Gambar berfungsi sebagai pemancing kognisi dan imajinasi serta pemilihan bentuk-bentuk kebahasaan (Nurgiyantoro, 2010: 429).

Arsyad (2009: 91) mengemukakan bahwa media visual dapat memperlancar pemahaman (misalnya melalui elaborasi struktur dan organisasi) dan memperkuat ingatan. Visual dapat pula menumbuhkan minat siswa dan dapat memberikan hubungan antara isi materi pelajaran dengan dunia nyata. Sadiman, dkk. (2009: 29- 31) menyebutkan beberapa kelebihan media gambar adalah sebagai berikut.

a) Sifatnya konkret, gambar lebih realistis menunjukkan pokok masalah dibandingkan dengan media verbal semata.

b) Gambar dapat mengatasi batasan ruang dan waktu. Tidak semua benda, objek atau peristiwa dapat dibawa ke kelas, dan tidak selalu bisa siswa dibawa ke objek atau peristiwa tersebut.

c) Media gambar dapat mengatasi keterbatasan pengamatan kita.

d) Gambar dapat memperjelas suatu masalah, dalam bidang apa saja dan untuk tingkat usia berapa saja, sehingga dapat mencegah atau membetulkan kesalahpahaman.

(49)

30 e) Gambar harganya murah dan mudah didapat serta digunakan, tanpa

memerlukan peralatan khusus.

Salah satu pengembangan dari media gambar yaitu media cerita bergambar.

Cerita bergambar adalah teks cerita yang disertai gambar-gambar. Istilah lain yang lebih populer yaitu buku cerita bergambar. Buku bacaan cerita yang menampilkan teks narasi secara verbal dan disertai gambar-gambar ilustrasi itu disebut sebagai buku bergambar atau buku cerita bergambar (Nurgiyantoro, 2005: 152).

Menurut Huck, dkk. (dalam Nurgiyantoro, 2005: 153), buku bergambar (picture books) menunjuk pada pengertian buku yang menyampaikan pesan lewat dua cara, yaitu lewat ilustrasi dan tulisan. Lukens, 2003 (dalam Nurgiyantoro, 2005:

154) menguatkan bahwa ilustrasi gambar dan tulisan merupakan dua media yang berbeda, tetapi dalam buku cerita bergambar keduanya secara bersama membentuk perpaduan. Gambar-gambar itu akan membuat tulisan verbal menjadi lebih kelihatan, konkret, dan sekaligus memperkaya makna teks.

Mitchell (dalam Nurgiyantoro, 2005: 153) mengemukakan bahwa buku cerita bergambar adalah buku yang menampilkan gambar dan teks dan keduanya saling menjalin. Baik gambar maupun teks secara sendiri belum cukup untuk mengungkapkan cerita secara lebih mengesankan, dan keduanya saling membutuhkan untuk saling mengisi dan melengkapi. Dengan demikian, pembacaan terhadap buku bacaan cerita tersebut akan terasa lebih lengkap dan konkret jika dilakukan dengan melihat (baca: mengamati) gambar dan membaca teks narasinya lewat huruf-huruf.

(50)

31 Menurut Huck, dkk. (dalam Nurgiyantoro, 2005: 154), dalam picture storybooks gambar-gambar yang ditampilkan harus mencerminkan alur dan

karakter tokoh. Justru karena tuntutan ini gambar-gambar yang ditampilkan dapat menjadi bervariasi dan lebih menarik. Selain itu, dalam tiap ilustrasi tokoh dan alur cerita, juga sering ikut ditunjukkan aspek-aspek latar yang mendukungnya.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa cerita bergambar merupakan sebuah cerita dalam bentuk teks narasi atau kata-kata dan disertai dengan gambar-gambar yang berfungsi sebagai ilustrasi cerita. Kata-kata dan gambar-gambar merupakan kesatuan yang padu, sehingga ilustrasi tersebut menggambarkan keseluruhan alur narasi. Dengan demikian, media cerita bergambar merupakan salah satu media pembelajaran yang efektif karena mengkombinasikan kata-kata dan gambar secara terpadu.

2.1.2.5 Manfaat Buku Cerita Bergambar

Menurut Nurgiyantoro (2005: 152), dengan gambar-gambar cerita menarik yang dihadirkan, siswa akan membaca dengan penuh kesungguhan mengikuti dan mencoba memahami alur gambar aksi yang dilihatnya, dan itu mungkin sekali dilakukan berkali-kali. Gambar-gambar cerita itu menjadi salah satu daya gerak mengembangkan fantasi lewat imajinasi dan logika. Menurut Prasetyono (2008:

89), bahan bacaan yang bergambar (komik) mempunyai efek yang lebih kuat

(51)

32 daripada yang tidak bergambar. Hal ini karena bahan bacaan yang disertai dengan gambar (cerita bergambar) memiliki banyak manfaat.

Prasetyono (2008: 82-83) mengemukakan maksud dari buku-buku yang bergambar ini adalah sebagai berikut:

a) Menarik perhatian siswa.

b) Menimbulkan motivasi atau merangsang siswa.

c) Merangsang percakapan (ekspresi dan diskusi).

d) Mendidik sifat kritis pada siswa.

e) Memperkenalkan kata-kata baru.

f) Menyajikan pola-pola kalimat.

Mitchell (dalam Nurgiyantoro, 2005: 159-161) menunjukkan beberapa hal tentang fungsi dan pentingnya buku cerita bergambar bagi siswa adalah sebagai berikut.

a) Buku cerita bergambar dapat membantu siswa terhadap pengembangan dan perkembangan emosi.

b) Buku cerita bergambar dapat membantu siswa untuk belajar tentang dunia, menyadarkan siswa tentang keberadaan di dunia di tengah masyarakat dan alam.

c) Buku cerita bergambar dapat membantu siswa belajar tentang orang lain, hubungan yang ada terjadi, dan pengembangan perasaan.

d) Buku cerita bergambar dapat membantu siswa untuk memperoleh kesenangan.

(52)

33 e) Buku cerita bergambar dapat membantu siswa untuk mengapresiasi

keindahan.

f) Buku cerita bergambar dapat membantu siswa untuk menstimulasi imajinasi.

Dengan mengetahui berbagai manfaat tersebut, maka cerita bergambar dapat digunakan sebagai media saat proses pembelajaran berlangsung.

2.1.3 Pendidikan Lingkungan Hidup 2.1.3.1 Lingkungan Hidup

Lingkungan merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam kehidupan manusia, karena lingkungan tidak saja sebagai tempat manusia beraktivitas, tetapi lingkungan juga mendukung berbagai aktivitas manusia. Di lingkungan, semua kebutuhan manusia telah tersedia sehingga manusia berupaya untuk mengekploitasinya. Dengan adanya interaksi tersebut, maka kondisi lingkungan akan dipengaruhi oleh perilaku manusia (Hamzah, 2013:1).

Menurut Gustavo (dalam Hamzah, 2013:5), lingkungan adalah jumalah total dari semua kondisi yang mempengaruhi eksistensi, pertumbuhan, dan kesejahteraan dari suatu organisme yang ada di bumi. Setiap unsur yang ada di sekitar kita merupakan bagian dari sebuah lingkungan hidup yang terus mendukung keberlangsungan hidup.

Chiras (dalam Hamzah, 2013:5) mengemukakan bahwa lingkungan hidup adalah semua faktor yang secara biologi mempengaruhi organisme. Shingh (dalam Hamzah, 2013:5).mengatakan bahwa lingkungan merupakan interaksi sistem

(53)

34 fisik,biologi, dan unsur budaya yang saling berhubungan dengan berbagai cara, baik secara individual atau bersama-sama. Menurut Undang-undang RI Nomor 32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, lingkungan hidup dinyatakan sebagai kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.

2.1.3.2 Permasalahan Lingkungan hidup

Menurut Hamzah (2013:7-19), terdapat beberapa masalah dan tantangan yang harus diperhatikan secara serius, antara lain adalah:

a) Penduduk

Permasalahan utama adalah meningkatnya jumlah penduduk yang berarti kebutuhan yang harus dipenuhi juga semakin bertambah, seperti kebutuhan pangan dan sandang. Kondisi seperti ini sudah pasti akan memberikan tekanan terhadap keberadaan sumber daya alam.

b) Teknologi

Keinginan untuk melakuakan sesuatu dengan mudah dan nyaman telah mengantarkan manusia pada upaya-upaya kreatif menciptakan berbagai teknologi. Berkaitan dengan perkembangan teknologi yang terjadi akan ada banyak konsekuensi berupa dampak, baik itu positif maupun negatif.

Dampak negatif sering kali dilupakan oleh manusia, karena manusia umumnya lebih tertuju kepada dampak positif yang secara langsung dapat dirasakan.

(54)

35 c) Keterbelakangan dan kemiskinan

Keterbelakangan dan kemiskinan sangat berkaitan dengan lingkungan.

Apabila sesorang kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya dan tidak punya kesadaran, maka dengan terpaksa mengambil manfaat dari sumber daya alam secara berlebihan agar bisa bertahan hidup, dan pengabaian terhadap lingkungan mereka pada akhirnya mengabaikan mereka, hingga akhirnya kemampuan mereka untuk bertahan hidup menjadi semakin sulit dan tidak pasti.

d) Pendidikan

Pengelolaan lingkungan yang efektif bergantung pada upaya kita dalam mengadopsi etika lingkungan secara baik dalam perilaku kita. Perilaku yang ditunjukan adalah perilaku yang mencerminkan sikap ramah lingkungan serta kemampuan mempertahankan keragaman hayati yang dapat mendukung kehidupan. Dengan demikian, pendidikan harus dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembentukan sikap dan kepedulian terhadap lingkungan secara efektif.

e) Informasi

Informasi tentang lingkungan kepada masyarakat dan peserta didik baik di lingkungan formal maupun nonformal sanagtlah dibutuhkan. Hal ini akan mengantarkan pengetahuan baru tentang aturan-aturan dan program pemeliharaan lingkungan. Informasi menjadi penting karena tidak semua masyarakat mempunyai pengetahuan dan tingkat pendidikan yang memadai, disamping sikap pedulinya. Pendidikan formal, nonformal, dan

(55)

36 pemanfaatan media massa elektronik maupun cetak, merupakan salah satu alternatif yang dapat dimanfaatkan untuk menginformasikan hal-hal yang berkaitan dengan masalah lingkungan tersebut.

f) Kearifan lokal

Menurut keraf (dalam Hamzah, 2013: 15) kearifan lokal adalah sebuah bentuk pengetahuan, keyakinan, pemahaman atau wawasan, serta adat kebiasaan atau etika yang menuntun perilaku manusia dalam kehidupan komunitas ekologis. Kearifan sudah dimiliki masyarakat dan diturunkan setiap generasinya. Kearifan tersebut terwujud dalam perilaku masyarakat lokal ketika berinteraksi dengan lingkungan hidupnya. Sudah banyak kearifan-kearifan warisan nenek moyang ita yang telah terlupakan, terutama oleh generasi muda kita saat ini karena dianggap kuno dan lebih menjunjung tingga kemajuan jaman dan teknologi.

g) Penegakan hukum

Penegakan hukum juga dapat berpotensi menjadi salah satu sumber munculnya permasalahan lingkungan seperti pemberian izin usaha, izin mendirikan bangunan, dan izin mengeksploitasi sumber daya alam di suatu lokasi. Komitmen pemerintah terhadap keterlaksanaanya aturan-aturan yang ada berkaitan dengan masalah tersebut akan sangat berperan bagi muncul tidaknya permasalahan lingkungan.

h) Kebijakan pembangunan

Kebijakan pembangunan yang dilaksanakan pemerintah akan turut menambah faktor kondisi lingkungan. Pemerintah yang terlalu fokus

(56)

37 mengejar pertumbuhan ekonomi dan melakukan pembangunan di mana- mana cenderung mengabaikan lingkungan. Oleh karena itu pembangunan hendaknya juga memperhatikan keasrian dan kelestarian lingkungan hidup.

i) Perubahan iklim global

Berbagai dampak negatif yang berkaitan dengan perubahan iklim global secara perlahan terus menerus mempengaruhi kehidupan manusia dan lingkunagn hidupnya. Seperti musim yang tidak teratur, suhu yang cukup tinggi, naikya permukaan laut, dan lain-lain.

2.1.3.3 Pendidikan Lingkungan Hidup untuk Siswa SD

Pendidikan lingkungan hidup yang dimulai sejak kecil akan menjadikan anak sebagai manusia yang peduli terhadap lingkungannya. Adanya kepedulian yang terus tumbuh dalam diri anak akan memunculkan tindakan-tindakan sebagai bentuk kepedulian tersebut dan berdampak hingga dewasa. Schmieder (dalam Hamzah, 2013:37), menyatakan bahwa proses pembelajaran atau pendidikan lingkungan hidup hendaknya merupakan suatu proses mereorganisasi nilai dan memperjelas konsep-konsep untuk membina keterampilan dan sikap yang diperlukan untuk memahami dan menghargai antar hubungan manusia, kebudayaan, dan lingkungan fisiknya.

Berdasarkan konferensi antar pemerintah tentang pendidikan lingkungan yang dilaksanakan di Tbilisi, ibukota Georgia, menyatakan bahwa pendidikan lingkungan, perlu dipahami dengan baik, merupakan pendidikan sepanjang hayat yang komperehensif, satu tanggapan terhadap perubahan dunia yang sangat cepat.

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil uji coba yang telah dilakukan peneliti bahwa semua siswa tertarik dengan buku cerita bergambar yang telah dibacanya, karena produk yang dihasilkan

a) Buku cerita bergambar dapat membantu anak terhadap pengembangan dan perkembangan emosi. Anak akan merasa terfasilitasi dan terbantu untuk memahami dan menerima dirinya

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan yang telah memberikan kasih dan penyertaan-Nya sehingga skripsi berjudul Pengembangan Buku Cerita Bergambar Berbasis Pendidikan

Buku cerita bergambar yang dikembangkan adalah buku cerita bergambar yang mencakup kebutuhan siswa dan guru dengan judul “Pengembangan Buku Cerita Bergambar Berbasis

Dari hasil uji coba yang telah dilakukan peneliti bahwa semua siswa tertarik dengan buku cerita bergambar yang telah dibacanya, karena produk yang dihasilkan peneliti mudah

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan yang telah memberikan kasih dan penyertaan-Nya sehingga skripsi berjudul Pengembangan Buku Cerita Bergambar Berbasis Pendidikan

Untuk memecahkan masalah; 2 cerita bergambar menarik imajinasi anak dan rasa ingin tahu tentang masalah supranatural; 3 cerita bergambar memberi anak pelarian sementara hiruk

Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa produk buku cerita bergambar memiliki kualitas yang baik dan mendukung Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dan