• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan buku cerita bergambar berbasis pendidikan anti korupsi untuk pembelajaran membaca kelas III sekolah dasar.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengembangan buku cerita bergambar berbasis pendidikan anti korupsi untuk pembelajaran membaca kelas III sekolah dasar."

Copied!
126
0
0

Teks penuh

(1)

PENGEMBANGAN BUKU CERITA BERGAMBAR BERBASIS

PENDIDIKAN ANTI KORUPSI UNTUK PEMBELAJARAN

MEMBACA KELAS III SEKOLAH DASAR

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Oleh :

Amah Wulandari

NIM: 131134175

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(2)

i

PENGEMBANGAN BUKU CERITA BERGAMBAR BERBASIS

PENDIDIKAN ANTI KORUPSI UNTUK PEMBELAJARAN

MEMBACA KELAS III SEKOLAH DASAR

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Oleh :

Amah Wulandari

NIM: 131134175

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(3)
(4)
(5)

iv

PERSEMBAHAN

Dengan mengucap syukur kepada-Nya, skripsi ini saya persembahkan kepada:

Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan taufik serta

hidayah-Nya kepada saya dalam segala hal.

Kedua orangtua saya, Bapak Kendro Suparmin dan Ibu Suliyem yang selalu

memberikan doa, dukungan, perhatian, kasih sayang dan semangat untuk

menyelesaikan pendidikan ini.

Kakak – kakak saya yang turut memotivasiku untuk tetap semangat.

Andi Setyawan yang selalu memberikan semangat untuk menyelesaikan skripsi ini.

Teman-teman seperjuangan yang selalu memberikan semangat untuk menyelesaikan

skripsi ini.

Teman-teman PGSD angkatan 2013.

(6)

v MOTTO

“Kemenangan yang seindah

-indahnya dan sesukar-sukarnya yang boleh

direbut oleh manusia ialah

menundukan diri sendiri”

(Ibu Kartini)

“Bagian terbaik dari hidup seseorang adalah perbuatan

-perbuatan baiknya

dan kasihnya yang tidak diketahui orang lain”

(William Wordsworth)

“Tiadanya keyakinanlah yang membuat orang takut menghadapi

tantangan, dan sa

ya percaya pada diri saya sendiri”

(Muhammad Ali)

“Waktu itu bagaikan pedang, jika kamu tidak memanfaatkannya

menggunakan untuk memotong, ia akan memotongmu (menggilasmu)”

(H.R. Muslim)

“Learn from yesterday, live for today, and hope for tomorrow”

(7)
(8)
(9)

viii ABSTRAK

PENGEMBAMGAN BUKU CERITA BERGAMBAR BERBASIS PENDIDIKAN ANTI KORUPSI UNTUK PEMBELAJARAN

MEMBACA KELAS III SEKOLAH DASAR

Amah Wulandari Universitas Sanata Dharma

2017

Skripsi ini merupakan hasil penelitian dan pengembangan terkait dengan pendidikan anti korupsi. Penelitian ini berawal dari adanya potensi dan masalah terkait dengan pendidikan anti korupsi. Potensi yang ada adalah pendidikan anti korupsi untuk anak SD kelas rendah. Masalah yang peneliti dapatkan dari hasil wawancara yaitu belum adanya media guru untuk mengajarkan pendidikan anti korupsi pada anak usia dini. Oleh karena itu, peneliti terdorong untuk melakukan penelitian pengembangan media berbasis pendidikan anti korupsi.

Penelitian ini menggunakan metode penelitian pengembangan Borg dan Gall dan pengembangan modifikasi dari Sugiyono. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Mengembangkan produk, (2) Mengetahui kualitas produk. Produk yang dihasilkan berupa buku cerita bergambar untuk mengajarkan pendidikan anti korupsi siswa sekolah dasar. Langkah-langkah dalam pengembangan penelitian ini adalah (1) potensi dan masalah, (2) pengumpulan data, (3) desain produk, (4) validasi desain, (5) revisi desain, (6) uji coba produk. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah daftar pertanyaan wawancara dan lembar kuesioner. Wawancara digunakan untuk analisis kebutuhan kepada guru kelas III SD N 1 Keputran Kemalang Klaten, sedangkan kuesioner digunakan untuk validasi kualitas buku cerita bergambar oleh Dosen, guru kelas III SD N 1 Keputran Kemalang Klaten, dan 6 siswa kelas III SD N 1 Keputran Kemalang Klaten sebagai subjek uji coba.

Berdasarkan hasil validasi, Dosen memperoleh skor sebesar 4,4. Guru kelas III memperoleh skor sebesar 4,5. Subjek uji coba sebesar 4,5. Rerata skor validasi yaitu 4,45 dengan kategori “Sangat Baik”. Hal tersebut ditinjau dari aspek (1) cover buku, (2) kebahasaan dan isi, (3) anatomi buku. Dengan demikian, buku cerita anak yang dikembangkan sudah layak digunakan sebagai buku bacaan tentang pendidikan anti korupsi untuk anak SD kelas rendah.

(10)

ix ABSTRACT

THE DEVELOPMENT OF PICTURED STORYBOOKS BASED ON

ANTI CORRUPTION EDUCATION FOR READING LEARNING OF THIRD

GRADE ELEMENTARY SCHOOL STUDENTS

Amah Wulandari Sanata Dharma University

2017

This paper is the result of research and development related to anti corruption education. This research is begun from the begins of potential and problems related to anti-corruption education. The potential is the anti corruption education for low grade students of elementary schools. The problem that researcher gets from the interview is the absence of media for the teachers to teach anti-corruption education to the students. Therefore, the researcher is encouraged to conduct the research on media development based on anti-corruption education.

This research uses the research Barg and Gall method and development method of modification from Sugiyono. The purpose of this research is to develop the product and to know the quality of the product. The product is a picture storybook for teaching anti-corruption education to elementary school students. The steps in the development of this research are (1) the potential and problem, (2) data collection, (3) product design, (4) design validation, (5) design revision, (6) product trials. The instrument used in this research is a list of interview questions and questionnaire sheets. The interview is used for the analysis of the need for the third grade teachers of State Elementary School (SDN) 1 Keputran Kemalang, Klaten, while the questionnaires are used to validate the quality of the picture storybook by lecturers, the third grade teachers of SDN 1 Keputran Kemalang, Klaten; and 6 students of the third grade SDN 1 Keputran Kemalang, Klaten as the trial subjects.

Based on the validation result, the lecturers get the score of 4.4. The third grade teachers get the score of 4.5. The trial subjects get 4.5. The average validation score is 4.45 with the category "Very Good". This result is viewed from the aspects of (1) book cover, (2) language and content, (3) book anatomy. Thus, this developed children's storybook is worthy to be used as a reading book on anti-corruption education for low grade students of elementary schools.

(11)

x

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa sehingga skripsi

yang berjudul Pengembangan Buku Cerita Bergambar Berbasis Pendidikan Anti Korupsi untuk Pembelajaran Membaca kelas III Sekolah Dasar ini dapat terselesaikan dengan baik. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat memperoleh

gelar Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu

Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini telah selesai karena bimbingan dan

dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dengan kerendahan hati dan penuh

cinta perkenankanlah penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang

telah memberikan bimbingan, dukungan, dan motivasi baik secara langsung maupun

tidak langsung dalam proses penelitian dan penyusunan skripsi ini.

Ucapan terimakasih ini penulis sampaikan kepada:

1. Rohandi, Ph.D. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Sanata Dharma.

2. Christiyanti Aprinastuti S.Si., M.Pd. selaku Ketua Program Studi PGSD.

3. Apri Damai Sagita Krissandi, S.S., M.Pd. selaku Wakil Ketua Program Studi

PGSD.

4. Brigitta Erlita Tri Anggadewi, S.Psi., M.Psi. selaku Dosen Pembimbing I yang

telah membimbing dan memberi dukungan sehingga peneliti dapat

menyelesaikan skripsi ini.

5. Apri Damai Sagita Krissandi, S.S., M.Pd. selaku Dosen Pembimbing II yang

telah membimbing dan memberi dukungan sehingga peneliti dapat

menyelesaikan skripsi ini.

6. Andreas Erwin Prasetya. M.Pd. selaku validator yang telah memberikan

(12)

xi

7. Kepala Sekolah SD Negeri 1 Keputran yang telah memberikan ijin penelitian

kepada peneliti untuk melakukan penelitian di sekolah.

8. Guru SD Negeri 1 Keputran yang telah bersedia membantu selama proses

penelitian.

9. Kedua orangtua saya, Bapak Kendro Suparmin dan Ibu Suliyem yang selalu

memberikan doa, dukungan, perhatian, kasih sayang dan semangat untuk

menyelesaikan pendidikan ini.

10.Kakak – kakak saya yang turut memotivasiku untuk tetap semangat.

11.Andi Setyawan yang selalu memberikan semangat untuk menyelesaikan

skripsi ini.

12.Teman-teman seperjuangan yang selalu memberikan semangat untuk

menyelesaikan skripsi ini.

13.Semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu, terimakasih untuk

bantuan dan dukungan.

Peneliti menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih banyak

keterbatasan dan kekurangannya, maka peneliti sangat membutuhkan kritik

dan saran dari berbagai pihak. Akhirnya peneliti mengucapkan selamat

membaca semoga bermanfaat bagi pembaca dan kita semua

Yogyakarta, 16 Juni 2017

Penulis

(13)

xii DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

HALAMAN MOTTO ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ... vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR GAMBAR ... xv

DAFTAR TABEL ... xvi

DAFTAR LAMPIRAN ... xvii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 6

1.3 Tujuan Penelitian ... 6

1.4 Manfaat Penelitian ... 6

1.5 Definisi Operasional... 8

(14)

xiii

BAB II LANDASAN TEORI ... 10

2.1 Kajian Pustaka ... 10

2.1.1 Pendidikan Karakter ... 10

2.1.2 Pendidikan Anti Korupsi ... 12

2.1.2.1 Pengertian Korupsi ... ... 12

2.1.2.2 Pengertian Pendidikan Anti Korupsi ... ... 14

2.1.2.3 Nilai-nilai dalam Pendidikan Anti Korupsi ... 15

2.1.3 Karakteristik Anak Sekolah Dasar ... 17

2.1.4 Buku Cerita Bergambar... 20

2.1.4.1 Media Pembelajaran ... ... 20

2.1.4.2 Bahan Ajar ... ... 23

2.1.4.3 Membaca ... ... 24

2.1.4.4 Buku Cerita Bergambar ... 27

2.2 Penelitian Yang Relevan ... 29

2.3 Kerangka Berpikir ... 33

2.4 Pertanyaan Penelitian ... 35

BAB III METODE PENELITIAN... 36

3.1 Jenis Penelitian ... 36

3.2 Setting Penelitian ... 39

3.3 Prosedur Pengembangan ... 39

3.3.1 Potensi dan Masalah ... 40

3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 43

(15)

xiv

3.4.2 Observasi ... 43

3.5 Instrumen Pengumpulan Data ... 44

3.5.1 Pedoman Wawancara ... 45

3.5.2 Kuesioner ... ... 46

3.5.2.1 Kuesioner Validasi Buku Cerita ... ... 47

3.5.2.2 Kuesioner Validasi Uji Coba Produk ... ... 50

3.6 Teknik Analisis Data ... 53

3.6.1 Analisis Data Kualitatif ... 53

3.6.2 Analisis Data Kuantitatif ... 54

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 57

4.1 Hasil Penelitian Pengembangan ... 57

4.1.1 Proses Pengembangan Buku Cerita ... 57

4.2.2 Buku Cerita Disusun dengan Ilustrasi yang Menarik ... 72

4.2.3 Buku Cerita Dirancang dengan Anatomi yang Sesuai ... 73

BAB V PENUTUP ... 76

(16)

xv

5.2 Keterbatasan Pengembangan ... 77

5.3 Saran ... 77

DAFTAR PUSTAKA ... 78

(17)

xvi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Bagan Komponen Karakter yang baik menurut Lickona ... 12

Gambar 2.2 Bagan Penelitian yang Relevan ... 32

Gambar 3.1 Bagan Langkah Pengembangan Menurut Sugiyono ... 38

(18)

xvii

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Kisi-kisi Umum Instrumen Penelitian... 44

Tabel 3.2 Pedoman Wawancara Analisis Kebutuhan ... 45

Tabel 3.3 Kisi-kisi Kuesioner Validasi Buku Cerita ... 47

Tabel 3.4 Instrumen kuesioner Validasi Buku Cerita ... 48

Tabel 3.5 Kisi-kisi Kuesioner Uji Produk Buku Cerita ... 50

Tabel 3.6 Instrumen kuesioner Uji Produk Buku Cerita ... 51

Tabel 3.7 Konversi Nilai Skala Lima (Widoyoko, 2009:238) ... 54

Tabel 4.1 Hasil Validasi Buku Cerita oleh Dosen ... 62

Tabel 4.2 Hasil Validasi Buku Cerita oleh Guru Kelas III ... 64

Tabel 4.3 Komentar Validator dan Revisi desain ... 66

Tabel 4.4 Ringkasan Hasil Uji Coba Produk ... ... 68

(19)

xviii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Hasil Wawancara Analisis Kebutuhan ... 82

Lampiran 2 Hasil Validasi Instrumen Oleh Dosen ... 84

Lampiran 3 Hasil Validasi Instrumen Oleh Guru Kelas III ... 87

Lampiran 4 Hasil Uji Coba Produk Oleh Siswa ... 90

Lampiran 5 Surat Izin Penelitian... 102

Lampiran 6 Surat Keterangan Penelitian ... 103

Lampiran 7 Biodata Penulis ... ... 104

(20)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pendidikan adalah sebuah persoalan yang khas dalam kehidupan

manusia. Oleh sebab itu, pendidikan dapat diartikan dari sudut pandang yang

luas yaitu segala jenis pengalaman kehidupan yang mendorong timbulnya

minat belajar untuk mengetahui suatu hal yang ingin diketahui. Selain itu

menurut Suhartono (2009: 43-46) Pendidikan juga dapat diartikan dengan

pendekatan dalam arti sempit, yaitu seluruh kegiatan yang direncanakan

serta dilaksanakan secara teratur dan terarah di dalam lembaga pendidikan

sekolah.

Tujuan pendidikan nasional Indonesia sebagaimana tercantum dalam

Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003

menyatakan bahwa “tujuan pendidikan nasional adalah mencerdaskan

kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yaitu

manusia-manusia yang bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi

pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan

rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta tanggung jawab

kemasyarakatan dan kebangsaan” (UU Sisdiknas: 2003). Pendidikan

diharapkan mampu menumbuhkembangkan segala potensi yang dimiliki oleh

(21)

Pendidikan seharusnya mampu mencetak peserta didik agar memiliki

kepribadian, moral dan karakter demi menjawab segala tantangan zaman.

Hal tersebut juga sesuai dengan rencana pembangunan jangka panjang

nasional tahun 2005-2025 yang menjelaskan bahwa misi pertama yang

harus dicapai adalah mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral,

beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah pancasila

(Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007).

Menurut Trianto (2013: 3) Pendidikan nasional harus mampu

menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu dan

relevansi serta efisiensi manajemen pendidikan. Pada kenyataannya

pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan sering dijumpai beberapa

masalah, antara lain cara mengajar guru yang menganggap siswa hanya

sebuah benda yang hanya dapat menerima pelajaran dari gurunya saja.

Selain sangat banyaknya bahan pelajaran yang harus dipelajari oleh siswa,

guru juga kurang terbiasa menggunakan media-media pembelajaran yang

bervariasi. Padahal seorang guru harus kreatif dalam menyelenggarakan

proses pembelajaran, baik itu dari segi materi, metode maupun media yang

digunakan harus menarik agar dapat menarik minat siswa untuk giat dalam

belajar di sekolah, khususnya di dalam kelas.

Menurut Syaodih (2015: 8) tugas seorang guru adalah memilih dan

menyajikan materi ilmu yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan

(22)

memegang peranan yang sangat penting. Tugas guru tidak hanya

menyampaikan materi kepada siswa, tetapi harus menjadi fasilitator yang

bertugas memberikan kemudahan belajar kepada seluruh siswa, agar

mereka dapat belajar dalam suasana yang menyenangkan, gembira, penuh

semangat, tidak cemas dan berani mengemukakan pendapat secara terbuka.

Bagaimanapun seorang siswa tetap memerlukan bimbingan dan arahan

untuk dapat belajar dengan baik. Selain itu, media pembelajaran yang

bervariasi dapat membantu siswa mengembalikan semangat belajarnya. Di

samping itu, media pembelajaran yang bervariasi membuat para siswa

tertarik dan tertantang untuk mengikuti proses pembelajaran tanpa membuat

siswa tersebut jenuh dan bosan dalam mengikuti proses belajar-mengajar

tersebut. Oleh karena itu, variasi media pembelajaran di sekolah dasar

sangat diperlukan, apalagi keadaan siswa sekolah dasar yang pola pikirnya

masih bersifat konkret dan masih senang bermain, sangat cocok diterapkan

media pembelajaran yang bervariasi. Para guru hendaknya membuat

pembelajaran jadi bermakna dan buatlah semua siswa aktif dalam mengikuti

proses belajar-mengajar, jangan gurunya saja yang aktif dalam proses

pembelajaran.

Menurut Koesoma (2007: 4) Pendidikan karakter diartikan sebagai

sebuah bantuan sosial agar individu itu dapat bertumbuh dalam menghayati

kebebasannya dalam hidup bersama dengan orang lain dalam dunia.

(23)

siswa, namun merupakan sebuah usaha bersama untuk menciptakan sebuah

lingkungan pendidikan tempat setiap individu dapat menghayati

kebebasannya sebagai sebuah prasyarat bagi kehidupan moral yang dewasa.

Menurut Mulyasa (2013: 7) Pendidikan karakter dalam kurikulum

2013 bertujuan untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pendidikan, yang

mengarah pada pembentukan budi pekerti dan akhlak mulia peserta didik

secara utuh, terpadu, dan seimb ang, sesuai dengan standar kompetensi

lulusan pada setiap satuan pendidikan. Pendidikan karakter dapat

diintegrasikan dalam seluruh pembelajaran pada setiap bidang studi yang

terdapat dalam kurikulum.

Korupsi dapat didefiniskan sebagai suatu tindak penyalahgunaan

kekayaan negara (dalam konsep modern), yang melayani kepentingan

umum, untuk kepentingan pribadi atau perorangan. Akan tetapi praktek

korupsi sendiri, seperti suap atau sogok, kerap ditemui di tengah masyarakat

tanpa harus melibatkan hubungan negara. Istilah korupsi dapat pula

mengacu pada pemakaian dana pemerintah untuk tujuan pribadi. Definisi

ini tidak hanya menyangkut korupsi moneter yang konvensional, akan tetapi

menyangkut pula korupsi politik dan administratif.

Menurut Burhanuddin (2014: 5-6) upaya mencegah dan melawan

korupsi tidak akan mengalami kemajuan signifikan jika hanya dilakukan

oleh aparat penegak hukum, birokrat maupun KPK. Dibutuhkan suatu

(24)

kelompok untuk melawan dan menghentikan berbagai tindakan korupsi.

Mengimplementasikan pendidikan anti korupsi di sekolah/madrasah secara

baik merupakan salah satunya.

Pendidikan anti korupsi ini perlu diberikan sejak dini pada anak.

Mengapa harus diberikan pada anak sejak usia dini, hal ini disebabkan

karena pada usia tersebut pemikiran anak masih bersih belum tercampuri

kepentingan apapun. Salah satu metode yang penulis usulkan untuk

digunakan dalam proses pembelajaran adalah melalui buku cerita

bergambar. Metode ini sangat cocok diterapkan pada anak usia dini.

Dengan penanaman pendidikan moral anti korupsi yang diberikan pada

anak sejak usia dini, maka diharapkan kelak para generasi penerus bangsa

ini tidak ada yang melakukan korupsi.

Berdasarkan hasil observasi yang telah kami lakukan dengan ibu

Ratna fitri wulandari, S.Si guru kelas 3 Sekolah Dasar Negeri 1 Keputran

Kemalang Klaten pada tanggal 15 april 2017, menunjukan bahwa di SD

Negeri 1 Keputran Kemalang Klaten belum pernah dikembangkan sebuah

media pembelajaran dalam hal ini buku cerita bergambar untuk menunjang

pendidikan anti korupsi. Selain itu berdasarkan hasil wawancara dengan

guru kelas menunjukan hasil bahwa perlu di kembangkannya sebuah media

pembelajaran dalam hal ini buku cerita bergambar untuk membantu siswa

dalam pembelajaran membaca. Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan di

(25)

membaca dan untuk meminimalisir budaya korupsi sejak dini khusunya di

SD Negeri 1 Keputran Kemalang Klaten peneliti menyusun sebuah

penelitian pengembangan dengan judul “Pengembamgan buku cerita bergambar berbasis pendidikan anti korupsi untuk pembelajaran membaca

siswa kelas III SD Negeri 1 Keputran Kemalang Klaten”. 1.2Rumusan Masalah

1.2.1 Bagaimana mengembangkan buku cerita bergambar berbasis pendidikan

anti korupsi untuk pembelajaran siswa Sekolah Dasar?

1.2.2 Bagaimana kualitas buku cerita bergambar berbasis pendidikan anti

korupsi untuk pembelajaran siswa Sekolah Dasar?

1.3Tujuan Penelitian

1.3.1 Mengembangkan buku cerita bergambar berbasis pendidikan anti korupsi

untuk pembelajaran siswa Sekolah Dasar.

1.3.2 Mendiskripsikan kualitas buku cerita bergambar berbasis pendidikan anti

korupsi untuk pembelajaran siswa Sekolah Dasar.

1.4Manfaat Penelitian 1.4.1 Bagi Peneliti

Menambah wawasan mahasiswa dalam mengembangkan bahan ajar

khususnya untuk mengembangkan pembelajaran membaca dan menulis.

Sebagai seorang calon guru, penelitian ini diharapkan dapat membantu

mahasiswa untuk dapat lebih mengerti pentingnya manfaat buku ajar

(26)

1.4.2 Bagi Guru

Buku cerita bergambar berbasis pendidikan anti korupsi ini dapat

dijadikan sebagai referensi panduan mengajar guru untuk memvariasi

kegiatan pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan membaca

dan menulis siswa serta memberi wawasan tentang pendidikan anti

korupsi kepada siswa sejak dini.

1.4.3 Bagi Siswa

Produk akhir penelitian ini berupa buku cerita bergambar berbasis

pendidikan anti korupsi untuk pembelajaran siswa Sekolah Dasar. Dengan

belajar menggunakan buku cerita bergambar ini, diharapkan siswa dapat

meningkatkan kemampuan membaca dan menulis serta memahami

pentingnya pendidikan anti korupsi sejak dini.

1.4.4 Bagi Sekolah

Sekolah dapat menggunakan buku cerita bergambar berbasis

pendidikan anti korupsi sebagai acuhan mengembangkan bahan ajar di

Sekolah Dasar.

1.4.5 Bagi Prodi PGSD

Penelitian pengembangan ini dapat menambah pustakan prodi PGSD

Universitas Sanata Dharma terkait dengan pengembangan buku cerita

bergambar berbasis pendidikan anti korupsi untuk pembelajaran siswa

(27)

1.5Definisi Operasional

1.5.1 Buku cerita bergambar adalah buku bergambar tetapi dalam bentuk cerita,

bukan informasi. Buku cerita bergambar merupakan kesatuan cerita

disertai dengan gambar-gambar yang berfungsi sebagai penghias dan

pendukung cerita yang dapat membantu proses pemahaman isi buku

tersebut.

1.5.2 Pendidikan anti korupsi adalah usaha sadar dan terencana untuk

mewujudkan proses belajar mengajar yang kritis terhadap nilai-nilai anti

korupsi.

1.5.3 Membaca adalah kegiatan yang memberikan rekreasi karena dalam

membaca seseorang terlebih dahulu melaksanakan pengamatan terhadap

huruf sebagai representasi bunyi ujaran maupun tanda penulisan lainnya.

1.6 Spesifikasi Produk yang Dihasilkan Spesifikasi produk yang dihasilkan adalah:

1.6.1 Produk yang dihasilkan dalam penelitian pengembangan ini berupa buku

cerita bergambar berbasis pendidikan anti korupsi untuk anak Sekolah

Dasar.

1.6.2 Ukuran buku A5 dengan sampul buku lebih tebal dari isinya. Sampul buku

dengan kertas Art Paper ukuran 120 dan isi buku dengan kertas HVS.

1.6.3 Pada awal cerita siswa dihadapkan pada satu pertanyaan yaitu mengenai

(28)

dibantu dengan gambar seorang anak bernama Tito yang sangat disayang

oleh ibunya dimana setiap berangkat sekolah Tito selalu dibawakan bekal

oleh ibunya, tetapi ketika di sekolah Tito selalu diejek temannya karena

tidak pernah jajan ketika istirahat dan hanya makan bekal yang dibuatkan

ibunya.

1.6.4 Pada isi cerita tersebut terdapat penjelasan bahwa Tito berusaha

mendapatkan uang jajan dengan cara berbohong kepada ibunya.

1.6.5 Pada bagian akhir cerita dijelaskan bahwa tindakan Tito merupakan

(29)

10 BAB II

LANDASAN TEORI 2.1 Kajian Pustakan

2.1.1 Pendidikan Karakter

Pendidikan merupakan sebuah kegiatan manusia yang di dalamnya

terdapat tindakan eduktif yang diperuntukkan bagi generasi yang sedang

bertumbuh. Dalam kegiatan mendidik ini, manusia menghayati adanya

tujuan-tujuan pendidikan. Menurut Koesoema (2007:3-4) Pendidikan

karakter merupakan keseluruhan dinamika relasional antar pribadi dengan

berbagai macam dimensi, baik dari dalam maupun dari luar dirinya, agar

pribadi tersebut dapat semakin untuk menghayati dan mengekspresikan

kebebasannya, sehingga ia dapat semakin bertanggung jawab atas

pertumbuhan dirinya sendiri sebagai pribadi dan perkembangan orang lain

dalam hidup mereka.

Menurut Koesoema (2007:4) Pendidikan karakter bukan hanya berurusan

dengan penanaman nilai bagi siswa, namun merupakan sebuah usaha bersama

untuk menciptakan sebuah lingkungan pendidikan tempat setiap individu

dapat menghayati kebebasannya sebagai sebuah prasyarat bagi kehidupan

moral yang dewasa. Secara sederhana, pendidikan karakter dapat

didefinisikan sebagai segala usaha yang dapat dilakukan untuk mempengaruhi

(30)

Berdasarkan uraian di atas maka pendidikan karakter dapat disimpulkan

sebagai suatu usaha dalam rangka pembentukan kepribadian seseorang yang

lebih baik serta terwujudnya suatu sikap yang bertanggung jawab. Dimana

nilai-nilai karakter atau kepribadian yang dimaksud antara lain : Religius,

jujur, disiplin, tanggung jawab, dan lain sebagainya.

Menurut Lickona (2013:72) karakter terbentuk dari tiga macam bagian

yang saling berkaitan, yaitu pengetahuan moral, perasaan moral, dan perilaku

moral. Maksud dari pernyataan Lickona ini adalah seseorang yang

berkarakter pada awalnya harus memiliki pengetahuan tentang karakter itu

sendiri dimana seseorang mengetahui nilai karakter itu apa saja. Kemudian

setelah seseorang mempunyai pengetahuan tentang nilai-nilai karakter

seseorang pasti akan memiliki perasaan untuk menghayati nilai-nilai karakter

tersebut, dan pada akhirnya seseorang itu akan berperilaku yang sesuai

dengan nilai-nilai karakter, karena pada dasarnya setiap pribadi seseorang

pasti ingin menjadi pribadi yang lebih baik atau berkarakter. Karakter yang

baik terdiri atas mengetahui kebaikan, menginginkan kebaikan, dan

melakukan kebaikan-kebiasaan pikiran, kebiasaan hati, kebiasaan perbuatan.

Ketiganya penting untuk menjalankan hidup yang bermoral, ketiganya juga

merupakan faktor kematangan moral. Berdasarkan uraian diatas dapat

dinyatakan bahwa karakter yang baik didukung oleh pengetahuan moral,

perasaan moral, dan aksi moral. Bagan dibawah ini merupakan bagan

(31)

Gambar 2.1 Bagan Komponen Karakter yang baik menurut Lickona.

2.1.2 Pendidikan Anti Korupsi 2.1.2.1 Pengertian Korupsi

Berdasarkan kamus besar Bahasa Indonesia korupsi berasal dari

bahasa Latin coruptio dan corruptus yang berarti kerusakan atau

kebobrokan. Dalam bahasa Yunani corruptio perbuatan yang tidak baik,

buruk, curang, dapat disuap, tidak bermoral, menyimpang dari kesucian,

melanggar norma-norma agama, materil, mental, dan umum. Menurut

Burhanuddin (2014:10) Secara harfiah, korupsi diartikan sebagai

(32)

bermoral, penyimpangan dari kesucian. Dalam kamus besar bahasa

indonesia, korupsi diartikan sebagai penyelewengan atau penyalahgunaan

uang negara (perusahaan dan sebagainya) untuk kepentingan pribadi atau

orang lain.

Mulyono (dalam Burhanuddin, 2014:10) Mendefinisikan korupsi

sebagai sesuatu perbuatan yang busuk, jahat, dan merusak yang

menyangkut perbuatan yang bersifat amoral, sifat dan keadaan yang

busuk, menyangkut jabatan instansi atau aparatur pemerintah,

penyelewengan kekuasaan dalam jabatan karena pemberian, menyangkut

faktor ekonomi dan politik dan penempatan keluarga atau golongan ke

dalam kedinasan di bawah kekuasaan jabatan. Sedangkan menurut

Sumiarti (dalam Burhanuddin, 2014:11) korupsi merupakan hasil

persilangan antara keserakahan dan ketidakpedulian sosial. Para pelaku

koruptor adalah mereka yang tidak mampu mengendalikan keserakahan

dan tidak peduli atas dampak perbuatannya terhadap orang lain, rakyat,

bangsa, dan negara.

Dalam ilmu politik, korupsi didefinisikan sebagai penyalahgunaan

jabatan dan administrasi, ekonomi atau politik, baik yang disebabkan oleh

diri sendiri maupun orang lain, yang ditujukan untuk memperoleh

keuntungan pribadi, sehingga menimbulkan kerugian bagi masyarakat

umum, perusahaan, atau pribadi lainnya. Korupsi berdasarkan pemahaman

(33)

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001. Korupsi merupakan tindakan

melawan hukum untuk memperkaya diri sendiri/orang lain (perseorangan

atau sebuah korporasi), yang secara langsung maupun tidak langsung

merugikan keuangan atau perekonomian negara, yang dari segi materiil

perbuatan itu dipandang sebagai perbuatan yang bertentangan dengan

nilai-nilai keadilan masyarakat.

2.1.2.2 Pengertian Pendidikan Anti Korupsi

Dalam kurikulum nasional pendidikan di Indonesia, istilah korupsi

relatif belum banyak yang mengenalnya. Dalam undang-undang nomor 20

tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional secara eksplisit istilah

pendidikan anti korupsi tidak disebutkan. Dengan demikian pendidikan

anti korupsi dapat dipandang sebagai hasil dari inovasi pendidikan. Hasil

ini sesuai dengan dinamika masyarakat, dari masyarakat yang otoritarian

dengan ciri ketertutupan menuju masyarakat demokratis yang menjunjung

tinggi keterbukaan dan kejujuran.

Menurut Burhanuddin (2014:113) Pendidikan anti korupsi

merupakan langkah pencegahan sejak dini terjadinya korupsi. Strategi ini

mempunyai dampak yang baik dalam menanggulangi korupsi, hanya saja

pendekatan preventif ini memang tidak dapat dinikmati secara langsung,

tetapi akan terlihat hasilnya dalam jangka yang panjang. Berbeda dengan

(34)

agresif menyidangkan dan memenjarakan orang yang bersalah, termasuk

tersangka yang terbukti melakukan korupsi.

Menurut Sumiarti (dalam Burhanuddin, 2014:114) Pendidikan anti

korupsi merupakan tindakan untuk mengendalikan dan mengurangi

korupsi berupa keseluruhan upaya untuk mendorong generasi mendatang

untuk mengembangkan sikap menolak secara tegas terhadap setiap bentuk

korupsi. Mentalitas anti korupsi ini akan terwujud jika setiap orang secara

sadar membina kemampuan generasi mendatang untuk mampu

mengidentifikasi berbagai kelemahan dari sistem nilai yang mereka warisi

dan memperbaharui sistem nilai warisan dengan situasi-situasi yang baru.

Pendidikan anti korupsi berhubungan dengan pendidikan moral.

Menurut Zubaidi (dalam Burhanuddin, 2014:114) Pendidikan moral harus

memberikan perhatian pada tiga komponen karakter yang baik, yaitu 1)

pengetahuan tentang moral, 2) perasaan tentang moral, dan 3) perbuatan

bermoral.

2.1.2.3 Nilai-nilai dalam Pendidikan Anti Korupsi

Sebagai bagian dari pendidikan karakter, pendidikan anti korupsi

bukan merupakan bagian tersendiri dari pendidikan pada umumnya.

Singkatnya, kurikulum pendidikan anti korupsi bukan merupakan bagian

tersendiri dari kurikulum pendidikan secara umum, tetapi merupakan

bagian dari kurikulum pendidikan itu sendiri. Dengan demikian pihak

(35)

mengintegrasikan nilai-nilai pendidikan anti korupsi dalam kurikulum

yang sudah ada.

Menurut Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud,

2012), terdapat nlai-nilai yang diinternalisasikan dalam pendidikan anti

korupsi, yaitu:

Tabel 2.1 Nilai-nilai acuhan dalam pendidikan antikorupsi (Kemendikbud, 2012)

No. Nilai Diskripsi

1. Kejujuran

Perilaku yang didasarkan pada upaya

menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.

2. Kepedulian

Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.

3. Kemandirian

Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugasnya.

4. Kedisiplinan Tindakan yang menunjukan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.

5. Tanggung jawab

Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajiban, yang seharusnya dia lakukan, terhadap dirinya sendiri, masyarakat, lingkungan, negara, dan Tuhan yang Maha Esa

6. Kerja keras

Perilaku yang menunjukan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.

7. Kesederhanaan

Bersahaja, sikap dan perilaku yang tidak berlebihan, tidak banyak seluk-beluknya, tidak banyak pernik, lugas, dan apa adanya, hemat sesuai kebutuhan, dan rendah hati.

8. Keberanian

(36)

9. Keadilan

Sama berat, tidak berat sebelah, tidak

memihak/tidak pilih kasih, seimbang, berpihak pada kebenaran, objektif, dan proporsional.

Menurut Yulita (dalam Wibowo, 2013:47) dengan mengintegrasikan

nilai-nilai anti korupsi tersebut kedalam kehidupan atau proses belajar

siswa diharapkan mampu berkembang menjadi pribadi yang lebih baik,

dan akibatnya akan bersikap anti korupsi. Penanaman nilai anti korupsi ini

tidak sebatas pada mata pelajaran, tetapi perlu diberikan di semua tingkat

pendidikan. Nilai anti korupsi ini hendaknya selalu direfleksikan ke dalam

setiap proses pembelajaran.

2.1.3 Karakteristik Anak Sekolah Dasar

Anak yang berada di kelas awal Sekolah Dasar adalah anak yang berada

pada rentang usia dini. Masa usia dini ini merupakan masa yang pendek, tetapi

merupakan masa yang paling penting bagi kehidupan seseorang. Oleh karena

itu, pada masa ini seluruh potensi yang dimiliki anak perlu didorong sehingga

akan berkembang secara optimal.

Menurut Majid (2014:7) Karakteristik perkembangan anak pada usia

anak SD biasanya petumbuhan fisiknya telah mencapai kematangan. Mereka

telah mampu mengontrol tubuh dan keseimbangannya. Mereka telah dapat

melompat dengan kaki secara bergantian, dapat mengendarai sepeda roda dua,

dapat menangkap bola dan telah berkembang koordinasi tangan dan matanya

untuk dapat memegang pensil maupun memegang gunting. Selain itu

(37)

mereka telah dapat menunjukan keakuannya tentang jenis kelaminnya, telah

mulai berkompetisi dengan teman sebayanya, mempunyai sahabat, telah

mampu berbagi dan mandiri.

Menurut Majid (2014:7) Pertumbuhan dan perkembangan merupakan

dua hal yang sangat penting dan tidak dapat dipisahkan dari perjalanan hidup

manusia. Pertumbuhan dan perkembangan manusia bersifat permanen, dalam

arti pertumbuhan dan perkembangan berlangsung selama manusia hidup dan

berakhir bersama dengan berakhirnya manusia (meninggal dunia). Setiap

individu secara kodrat membawa variasi dan irama pertumbuhan dan

perkembangan sendiri-sendiri. Hal ini menyebabkan setiap individu

mempunyai perbedaan-perbedaan. Teori berkaitan dengan perkembangan

pisikologi dan intelektual siswa di sekolah dasar dijabarkan oleh Piaget.

Menurut teori Piaget (dalam Majid, 2014:7) proses belajar dapat

berlangsung jika terjadi proses pengolahan data yang aktif di pihak pembelajar.

Pengolahan data yang aktif merupakan aktivitas lanjutan dari kegiatan

mencarai informasi dan dilanjutkan dengan kegiatan penemuan. Piaget

berpendapat bahwa “ apa yang sudah ada pada diri seorang siswa (kapasitas

dasar kemampuan intelektualnya atau dapat disebut dengan istilah skema)

adalah dasar untuk menerima hal yang baru”. Menurut Hasan (dalam Majid,

2014:7) Skema berfungsi mengatur interaksi siswa dengan lingkungan

(38)

bio-psikologis seseorang memiliki tingkatan. Tingkatan perkembangan

intelektual ciri-ciri tersendiri, antara lain:

Tahap pra-oprasional (2-7 tahun), tahap berpikir pra-konseptual (2-4

tahun) yang ditandai dengan mulainya adaptasi terhadap simbol, mulai dari

tingkah laku berbahasa, aktivitas imitasi dan permainan. Kemudian pada tahap

berpikir intuitif (4-7 tahun) ditandai oleh berpikir pralogis yaitu antara

oprasional konkrit dengan prakonseptual. Pada tahap ini perkembangan ingatan

siswa didik sudah mulai mantap, tetapi kemampuan berpikir deduktif dan

induktif masih lemah belum mantap.

Perkembangan intelektual siswa Sekolah Dasar berada pada tahap

oprasional konkret (7-11 tahun) yang ditandai oleh kemampuan berpikir

konkret dan mendalam, mampu mengklasifikasi dan mengontrol persepsinya.

Menurut Muhibin (dalam Majid, 2014:8) Pada tahap ini, perkembangan

kemampuan berpikir siswa sudah mantap, kemampuan skema asimilasinya

sudah lebih tinggi dalam melakukan suatu koordinasi yang konsisten antar

skema.

Berdasarkan tahap tersebut siswa Sekolah Dasar kelas I - VI memiliki

tingkatan intelektual oprasional konkret dan siswa kelas enam memiliki

tingkatan oprasional formal. Kemampuan berpikir yang dimiliki oleh siswa

Sekolah Dasar tersebut akan mempengaruhi seluruh kegiatan pembelajaran

yang diselenggarakan guru. Oleh karena itu, kegiatan pembelajaran pendidikan

(39)

diarahkan pada pendekatan” meaningful learning” yang didasarkan kepada

pengembangan kekampuan berpikir disesuaikan dengan biopsikologis siswa

yang hendaknya dijadikan tolak ukur guru, baik dalam pengembangan materi,

strategi mengajar, pendekatan, media, maupun dalam melakukan evaluasi hasil

belajar.

2.1.4 Buku Cerita Bergambar 2.1.4.1 Media Pembelajaran

Kata media berasal dari bahasa latin yaitu jamak dari kata medium

yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Menurut Sadiman

(2014:6) Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke

penerima pesan. Secara umum media pembelajaran dalam pendidikan

disebut media, yaitu berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa

yang dapat merangsangnya untuk berpikir, menurut Gagne (dalam

Sadiman, 2014:6). Sedangkan menurut Brigs (dalam Sadiman, 2014:6)

media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta

merangsang siswa untuk belajar.

Media merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk

menyalurkan pesan dari pengirim dan penerima sehingga dapat

merangsang pikiran, perasaan, minat dan perhatian sedemikian rupa

sehingga proses belajar terjadi (Sadiman, 2014:7). Adapun menurut

Sanjaya (2012: 57) menyatakan bahwa media adalah perantara dari sumber

(40)

lain sebagainya. Alat-alat tersebut merupakan media manakala digunakan

untuk menyalurkan informasi yang akan disampaikan.

Menurut Sanjaya (2012:75) terdapat sejumlah prinsip yang harus

diperhatikan dalam penggunaan media dalam pembelajaran.

Prinsip-prinsip tersebut diuraikan seperti di bawah ini:

a. Media digunakan dan diarahkan untuk mempermudah siswa dalam

upaya memahami materi pembelajaran

b. Media yang digunakan oleh guru harus sesuai dan diarahkan untuk

mencapai tujuan pembelajaran

c. Media yang digunakan harus sesuai dengan materi pembelajaran

d. Media pembelajaran harus sesuai dengan minat, kebutuhan, dan

kondisi siswa.

e. Media yang digunakan harus memperhatikan efektivitas dan efisiensi.

f. Media yang digunakan harus sesuai dengan kemampuan guru dalam

menggunakannya.

Berdasarkan pengertian-pengertian yang telah diberikan, maka media

pembelajaran merupakan segala sesuatu yang digunakan dalam kegiatan

pembelajaran agar dapat merangsang pikiran, perasaan, minat dan

perhatian siswa sehingga proses interaksi komunikasi edukasi antara guru

(atau pembuat media) dan siswa dapat berlangsung secara tepat guna dan

berdaya guna. Media yang digunakan dalam proses pembelajaran harus

(41)

sebagai media apabila media tersebut digunakan dalam menyampaikan

atau menyalurkan pesan dengan tujuan-tujuan pendidikan dan

pembelajaran.

Menurut Sudjana (2011:2), manfaat media pembelajaran dalam

proses belajar peserta didik, yaitu:

a. Proses pembelajaran akan lebih menarik perhatian peserta

didik, sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar.

b. Bahan pembelajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat

lebih dipahami oleh peserta didik dan memungkinkannya

menguasai dan mencapai tujuan pembelajaran.

c. Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata

komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga

peserta didik tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga,

karena ada guru yang mengajar padasetiap jam pelajaran.

d. Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya

mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktifitas lain seperti

mengamati, melakukan, mendemonstrasikan dan lain-lain.

Penggunaan media dalam pembelajaran dapat membuat

peserta didik dapat lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab

tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga melakukan

aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan, dan

(42)

karakteristik dan kemampuan masing-masing media agar media yang

dipilih sesuai dengan perkembangan siswa.

2.1.4.2 Bahan Ajar

Bahan ajar adalahseperangkat materi yangdisusun secara sistematis

sehingga tercipta lingkungan/suasana yang memungkinkan peserta didik

untuk belajar. Bahan ajar berkualitas tinggi dapat berkontribusi secara

substansial terhadap kualitas pengalaman belajar siswa dan outcome siswa

(Horsley, Knight, dan Huntly, 2010: 45). Senada dengan pernyataan di

atas, Warpala (2011: 23) menyatakan bahan ajar adalah segala bentuk

bahan yang digunakan untuk membantu guru/instruktur dalam

melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas. Bahan yang dimaksud

bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis.

Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa bahan

ajar adalah seperangkat materi yang disusun secara sistematis untuk

membantu guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas.

Dalam penyusunan bahan ajar sebagai salah satu sumber belajar yang

masuk dalam kategori bahan/alat pengajaran harus mampu sesuai dengan

tujuan pembelajaran, karakteristik peserta didik, kepraktisan dan

kemudahan dalam penggunaannya, serta kesesuaian dengan materi yang

satu dengan yang lainnya. Dengan memperhatikan syarat tersebut,

diharapkan dapat menunjang proses belajar mengajar agar bisa

(43)

dalam penelitian ini layak digunakan dalam pembelajaran di kelas dapat

dilihat dari aspek materi, aspek kemanfaatan dan aspek media

pembelajaran.

Adapun penilaian bahan ajar ditinjau dari para ahli dan peserta

didik yang meliputi beberapa aspek. Bahan ajar yang layak digunakan

untuk pembelajaran di kelas dapat dilihat dari aspek materi, aspek

kemanfaatan dan aspek media pembelajaran. Adapun penilaian kelayakan

modul dilihat dari para ahli dan juga peserta didik. Aspek penilaian perlu

ditetapkan untuk mengukur kualitas program pembelajaran yang akan

dikembangkan agar nantinya saat pelaksanaan tidak menimbulkan

berbagai persepsi tentang media pembelajaran yang dibuat.

2.1.4.3 Membaca

Menurut Aminuddin (2009:15) Istilah membaca dapat mencangkup

pengertian yang luas sekali. Hal itu terjadi karena membaca dapat

dibedakan dalam berbagai ragam sesuai dengan (1) tujuan, (2) proses

kegiatan, (3) objek bacaan, dan (4) media yang digunakan. Dari adanya

keanekaragaman itu dapat dimaklumi bahwa merumuskan pengertian

membaca dalam satu pengertian saja sangatlah sulit. Untuk itu perumusan

pengertian membaca dalam pembahasan ini dipaparkan dengan bertolak

dari hakikat membaca itu sendiri. Menurut Aminuddin (2009:15-17)

(44)

a. Membaca adalah mereaksi

Membaca disebut sebagai kegiatan memberikan reaksi karena

dalam membaca seseorang terlebih dahulu melakukan pengamatan

terhadap huruf sebagai representasi bunyi ujaran maupun tanda

penulisan lainnya. Dari reaksi itu lebih lanjut terjadi kegiatan

rekognisi, yakni pengenalan bentuk dalam kaitannya dengan makna

yang dikandungnya serta pemahaman yang keseluruhan masih harus

melalui tahap kegiatan tertentu.

b. Membaca adalah proses

Membaca pada dasarnya adalah kegiatan yang cukup kompleks.

Disebut kompleks karena membaca melibatkan berbagai aspek, baik

fisik, mental, bekal pengalaman dan pengetahuan maupun aktivitas

dan merasa. Dalam membaca keseluruhan aspek itu terproses untuk

mencapai tujuan tertentu melalui tahapan (1) persepsi, (2) rekognisi,

(3) komperhensi, (4) interpretasi, (5) evaluasi, dan (6) kreasi atau

utilisasi.

Pada tahap persepsi, kegiatan yang terjadi adalah pengamatan

bentuk penulisan atau “tanda-tanda hitam” dalam teks. Pada tahap

rekognisi, kegiatan yang terjadi adalah upaya memahami hubungan

antara “tanda hitam” dengan makna, pada tahap komperhensi pembaca

berusaha memahami makna kata, kalimat dan paragraf serta relasi

(45)

interpretasi pembaca berusaha mendalami perolehan pemahaman dari

kegiatan komperhensi yang relative masih tersurat ke proses analisis

utuk menyusun kesimpulan.

Lebih lanjut, dalam tahap evaluasi kegiatan yang terjadi adalah

pemilihan satuan-satuan gagasan yang memadai maupun tidak

memadai sesuai dengan latar tujuannya sebagai langkah awal

pemberian kriteria, dan tahap kreasi atau ultilisasai, yakni tahapan

yang berkaitan dengan pengolahan perolehan pengetahuan lewat

bacaan untuk mencapai kreasi atau tujuan-tujuan tertentu. Sesuai

dengan adanya ragam kegiatan membaca, keseluruhan tahapan itu

memang tidak dilalui seluruhnya. Dalam membaca komprehensif,

misalnya kegiatan dapat berhenti pada tahap tiga, membaca kritis pada

tahap lima, sementara membaca kreatif berakhir pada tahap enam.

c. Membaca adalah pemecahan kode dan penerimaan pesan

Dalam kegiatan berbahasa, pemeran yang terlibat di dalamnya

dapat dibedakan antara sender “penyampaian pesan” dengan receiver “penerima pesan”. Penyampaian pesan secara aktif menciptakan kode

sebagai media pemapar gagasan atau melaksanakan encoding, sedangkan penerima pesan berupaya memecahkan kode yang diterima

untuk berusaha memahami pesan atau gagasan yang dikandungnya.

Dalam hubungnnya dengan kegiatan membaca dalam interaksi

(46)

pencipta kode, sedangkan pembaca adalah pihak penerima pesan yang

sekaligus juga berperan sebagai pemecah kode.

Masih banyak sebenarnya rumusan yang berkaitan dengan hakikat

membaca, misalnya membaca adalah kegiatan bertujuan, membaca

adalah kunci perolehan informasi atau pengetahuan, membaca adalah

kreativitas karena dalam membaca seseorang bukan hanya melakukan

analisis, tetapi juga sintesis, bukan hanya memahami apa yang

tersurat, tetapi juga yang tersirat, dan lain-lain. Akan tetapi dari

perumusan di atasa, diharapkan telah diperoleh gambaran pengertian

membaca secara memadai.

2.1.4.4 Buku cerita bergambar

Gambar adalah segala sesuatu yang diwujudkan secara visual

kedalam bentuk dua dimensi sebagai hasil perasaan dan pikiran. Gambar

dapat dipergunakan sebagai media dalam penyelenggaraan proses

pendidikan sehingga memungkinkan terjadinya proses belajar-mengajar.

Tarigan (1995:209) mengemukakan bahwa pemilihan gambar haruslah

tepat, menarik dan dapat merangsang siswa untuk belajar. Media gambar

yang menarik, akan menarik perhatian siswa dan menjadikan siswa

memberikan respon awal terhadap proses pembelajaran. Media gambar

yang digunakan dalam pembelajaran akan diingat lebih lama oleh siswa

karena bentuknya yang konkrit dan tidak bersifat abstrak. Gambar adalah

(47)

Buku cerita bergambar adalah buku bergambar tetapi dalam bentuk

cerita, bukan buku informasi. Dengan demikian buku cerita bergambar

sesuai dengan ciri-ciri buku cerita, mempunyai unsur-unsur cerita (tokoh,

plot, alur). Buku cerita bergambar ini dapat dibedakan menjadi dua jenis,

(1) buku cerita bergambar dengan kata-kata, (2) buku cerita bergambar

tanpa kata-kata. Kedua buku tersebut biasanya untuk prasekolah atau

murid sekolah dasar kelas permulaan dan rendah.

Buku cerita bergambar merupakan sesuatu yang tidak asing dalam

kehidupan anak-anak. Disamping itu, buku adalah sebuah media yang baik

bagi anak-anak untuk belajar membaca. Buku cerita bergambar merupakan

kesatuan cerita disertai dengan gambar-gambar yang berfungsi sebagai

penghias dan pendukung cerita yang dapat membantu proses pemahaman

terhadap isi buku tersebut. Melalui buku cerita bergambar, diharapkan

pembaca dapat dengan mudah menerima informasi dan deskripsi cerita

yang hendak disampaikan.

Pada anak usia dini, alangkah baiknya jika kita mengenalkan buku

cerita bergambar yang sesuai dengan usia mereka, untuk membantu

perkembangannya. Karena pada saat usia dini, perkembangan otak anak

berkembang secara pesat. Sehingga kita harus memotivasi anak untuk

selalu belajar dan media pembelajaran membaca permulaan yang efektif

(48)

Mitchell (dalam Nurgiantoro, 2005:159) mengungkapkan fungsi dan

pentingnya buku cerita bergambar sebagai berikut:

1. Membantu perkembangan emosi anak.

2. Membantu anak belajar tentang dunia dan keberadaannya.

3. Belajar tentang orang lain, hubungan yang terjadi dan pengembangan

perasaan.

4. Memperoleh kesenangan.

5. Untuk mengapresiasi keindahan, dan

6. Untuk menstimulasi imajinasi.

Dari beberapa paparan diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa

media buku cerita bergambar sangat cocok jika diterapkan dalam proses

pembelajaran membaca permulaan di kelas rendah, karena media tersebut

dapat merangsang siswa dalam pembelajaran membaca khususnya

membaca siswa Sekolah Dasar kelas permulaan maupun kelas rendah,

media buku cerita bergambar tersebut diwujudkan dalam bentuk visual ke

dalam bentuk dua dimensi sebagai hasil pikiran dan perasaan.

2.2 Penelitian yang Relevan

Penelitian pengembangan buku cerita bergambar sudah cukup sering

dilakukan, sehingga sudah banyak jurnal-jurnal penelitian dan skripsi yang

berhubungan dengan pengembangan buku cerita bergambar, berikut beberapa

(49)

Pertama, penelitian yang dilakukan oleh wigianto (2015) yang berjudul Pengembangan Buku Cerita Bergambar Pendidikan Karakter Tanggung

Jawab Untuk Peserta Didik Sekolah Dasar”. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan produk pembelajaran pendidikan karakter berupa

buku cerita bergambar. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data primer

berupa deskripsi hasil angket, data sekunder berupa kajian pustaka, proses

pembuatan media buku cerita bergambar, dan menghasilkan buku cerita

bergambar pendidikan karakter tanggung jawab untuk peserta didik SD yang

layak. Hasil penelitian berupa buku cerita bergambar yang berisi materi

pendidikan karakter tanggung jawab ini telah divalidasi oleh ahli media, ahli

materi, ahli bahasa, dan reviewer (Guru SD kelas 2) dan dinyatakan layak. Buku pendidikan karakter tanggung jawab telah diuji cobakan kepada peserta

didik Sekolah Dasar kelas 2 dan peserta didik mampu memahami materi

pendidikan karakter dengan baik.

Kedua, penelitian yang dilakukan oleh Eko Yuli Supriyanta (2015) yang berjudul “Pengembangan Media Komik Untuk Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Tentang Sejarah Persiapan Kemerdekaan Indonesia Pada Kelas V Sd Muhammadiyah Mutihan Wates Kulon Progo”. Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan yang diadopsi dari

Borg dan Gall. Tujuan penelitian yang dilakukan adalah untuk

mengembangkan media komik yang layak untuk pembelajaran tentang sejarah

(50)

yaitu, Secara kuantitatif, penilaian dari ahli materi dan ahli media masing-

masing adalah 4,14 (kesesuaian kurikulum, kebenaran isi dan cara penyajian

materi termasuk kriteria baik) dan 4,07 (pertimbangan produksi, desain visual,

dan kualitas teknis termasuk kriteria baik). Sementara itu, penilaian yang

diberikan siswa pada tahap uji lapangan, uji lapangan lebih luas, dan uji

operasional masing-masing secara berturut-turut 4,19 (termasuk kriteria baik);

4,26 (termasuk kriteria sangat baik); dan 4,14 (termasuk kriteria baik). Secara

kualitatif, media komik “Adegan Sejarah Persiapan Kemerdekaan Indonesia” mampu menarik perhatian siswa untuk belajar, memudahkan belajar siswa,

serta merangsang siswa mengingat materi secara lebih mudah.

Ketiga, penelitian yang dilakukan oleh Maria Magdalena Wargiani (2016) yang berjudul “Pengembangan Buku Suplemen Muatan Pelajaran Bahasa Indonesia Untuk Siswa Kelas III Semester 2 SD Negeri Gelaran II”.

Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan modifikasi

dari Kemp dan Borg & Gall. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan

produk dan mengetahui kualitas buku suplemen muatan pelajaran Bahasa

Indonesia untuk siswa kelas III semester 2. Hasil penelitian menunjukan

bahwa secara keseluruhan hasil validasi produk yang dikembangkan termasuk

kategori “baik”. Penilaian kualitas buku suplemen ini ditinjau dari lima aspek,

yaitu (1) Tujuan dan pendekatan; (2) desain dan pengorganisasian; (3)

(51)

Berdasarkan ketiga penelitian tersebut dapat diketahui bahwa penelitian

yang telah dipaparkan sebelumnya memiliki relevansi dengan penelitian yang

kami lakukan yaitu sama-sama mengembangkan bahan ajar. Penelitian ini

dikhususkan pada pendidikan anti korupsi, dan disesuaikan dengan kebutuhan

siswa sehingga dapat mudah diterima oleh siswa sehingga dapat membantu

memberi wawasan tentang pendidikan anti korupsi sejak dini, serta

menerapkan prinsip prinsip pendidikan anti korupsi dalam kehidupan

sehari-hari. Secara sederhana mengenai penelitian yang relevan akan kami tampilkan

dalam sebuah bagan berikut ini.

Gambar 2.2 Bagan Penelitian yang Relevan Pengembangan Berbasis Pendidikan Anti korupsi untuk

(52)

2.3 Kerangka Berpikir

Budaya korupsi seakan sudah mendarah daging di negara kita, maka

perlu adanya suatu pendidikan moral tentang anti korupsi. Pendidikan moral

anti korupsi ini perlu diberikan sejak dini pada anak. Mengapa harus diberikan

pada anak sejak usia dini, hal ini disebabkan karena pada usia tersebut

pemikiran anak masih bersih belum tercampuri kepentingan apapun. Anak

harus kita bekali dengan pengetahuan tentang pendidikan anti korupsi sejak

dini bagaimanapun kelak masa depan bangsa ini sangat tergantung kepada

para anak-anak ini, apabila pendidikan anti korupsi ini sudah ditanamankan

sejak dini kita berharap kelak ketika anak tersebut sudah dewasa dan menjadi

pemimpin, pendidikan moral anti korupsi yang telah didapat akan

diaplikasikan.

Penggunaan media dalam pembelajaran merupakan salah satu cara

meningkatkan kualitas pembelajaran. Masalah yang sering ditemukan

dilapangan, media pembelajaran untuk anak SD masih sangat terbatas,

pembelajaran cenderung dilakukan secara konvensional. Sajian materi sekedar

bernbentuk cerita naratif dalam teks book, penggunaan media relatif jarang.

Pengembangan media ini bertujuan menciptakan variasi baru media

pembelajaran dan meningkatkan minat membaca siswa. Buku cerita

bergambar menjadi salah satu pilihan media pembelajaran yang tepat. Buku

cerita bergambar memiliki kelebihan sebagai media pembelajaran diantaranya

(53)

penggunaannya mampu menyajikan informasi lebih jelas dengan ilustrasi

visual riil nyata dalam kehidupan sehari – hari

Penggunaan buku cerita bergambar sebagai media pembelajaran

didukung oleh karakteristik dasar anak-anak yang pada umumnya menyukai

gambar-gambar yang menarik. Selain itu siswa SD berada pada tahap berfikir

operasional konkret. Dengan media ini, materi khususnya tentang pendidikan

anti korupsi disajikan secara sederhana agar mudah dipahami siswa. Buku

cerita bergambar dikembangkan sebagai salah satu alternatif penyajian materi

belajar membaca pada kelas III Sekolah Dasar kelas rendah agar lebih

menarik dan mudah dipahami. Penyajian dengan ilustrasi gambar sangat

sesuai dengan peserta didik yang pada umumnya menyukai gambar. Selain

pesan visual dalam gambar, buku cerita bergambar juga mampu memberikan

pesan verbal melalui dialog antar tokoh dalam cerita. Buku cerita bergambar

juga bisa dimodifikasi agar pembelajaran lebih komunikatif, misalnya dengan

bermain peran atau sebagai media bercerita.

Berdasarkan uraian di atas maka peneliti mengusulkan sebuah penelitian

pengembangan yang berjudul “Pengembamgan buku cerita bergambar

berbasis pendidikan anti korupsi untuk meningkatkan pembelajaran

membaca”. Pengembangan Buku cerita bergambar yang dihasilkan diharapkan

dapat memberikan kontribusi terhadap pembelajaran anti korupsi di kalangan

siswa Sekolah Dasar dan dapat diaplikasikan dalam kehidupan riil, sehingga

(54)

akan terjerumus dalam korupsi serta meningkatkan minat siswa untuk

membaca sehingga pada akhirnya pencapaian hasil belajar siswa meningkat.

2.4 Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan uraian teori di atas maka dapat dirumuskan beberapa

pertanyaan penelitian sebagai berikut :

1. Bagaimana mengembangkan buku cerita bergambar berbasis pendidikan

anti korupsi untuk pembelajaran?

2. Bagaimana kualitas buku cerita bergambar berbasis pendidikan anti

(55)

36 BAB III

METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan metode penelitian dan pengembangan

(Research and Development). Menurut Sugiyono (2010 : 407) Metode

penelitian dan pengembangan merupakan metode yang digunakan untuk

menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan produk tersebut.

Sukmadinata (2012:164) Menyatakan bahwa Penelitian dan Pengembangan

adalah suatu proses atau langkah-langkah untuk mengembangkan suatu

produk atau mnyempurnakan produk yang telah ada, yang dapat

dipertanggungjawabkan.

Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian dan

pengembangan ini mengadopsi dua model. Model yang pertama adalah

langkah pengembangan Borg dan Gall (dalam Sukmadinata, 2012 : 169-170).

Model yang kedua merupakan langkah pengembangan menurut Sugiyono

(2010:408).

Langkah pengembangan Borg dan Gall (Sukmadinata, 2012 :169-170)

adalah:

1. Research and Information collecting (penelitian dan pengumpulan data); pengukuran kebutuhan, studi literatur, penelitian dalam skala

kecil, dan pertimbangan-pertimbangan dari segi nilai.

(56)

penelitian, rumusan tujuan yang hendak dicapai dengan penelitian

tersebut, desain atau langkah penelitian yang akan dilakukan.

3. Develop preliminary form of product (pengembangan produk); pengembangan bahan pembelajaran, proses pembelajaran, dan instrumen

evaluasi.

4. Preliminary field testing (Uji coba lapangan awal); selama uji coba dilakukan pengamatan, wawancara dan pengedaran angket.

5. Main product revision (Merevisi hasil uji coba); memperbaiki atau menyempurnakan hasil uji coba.

6. Main field testing (uji coba lapangan); melakaukan uji coba yang lebih luas.

7. Operasional product revision (penyempurnaan produk hasil uji lapangan, menyempurnakan produk hasil uji lapangan.

8. Operasional field testing (uji pelaksanaan lapangan) pengujian dilakukan melalui angket, wawancara dan observasi dan dan analisis

hasilnya.

9. Final product revision (penyempurnaan produk akhir) penyempurnaan didasarkan masukan dari uji pelaksanan lapangan.

10. Dissemination and implementation (diseminasi dan implementasi); melaporkan hasilnya dalam pertemuan profesional dan

dalam jurnal, bekerjasama dengan penerbit untuk penerbitan, serta

memonitoring penyebaran untuk mengkontrol kulitas produk yang

(57)

Sugiyono (2010 : 408) memaparkan sepuluh langkah pengembangan

pada penelitian Research and Development, dinyatakan seperti bagan berikut:

Gambar 3.1 Bagan Langkah Pengembangan Menurut Sugiyono

2. Pengumpulan Data

Pengumpulkan data, merupakan

proses untuk mendapatkan informasi-informasi tertentu,

digunakan sebagai landasan dalam mengembangkan

suatu produk tertentu

4. Validasi Desain

Merupakan proses kegiatan untuk

menilai apakah produk yang

diciptakan dapat efektif ketika

diterapkan di lapangan

5. Revisi Desain

Merupakan proses yang dilakukan

untuk memperbaiki kelemahan

desain produk yang ditemukan dari proses validasi

6. Ujicoba Produk

Merupakan proses ujicoba produk prototip yang dikembangkan

8. Ujicoba Pemakaian

Merupakan kegiatan penerapan

produk dalam lingkup yang lebih luas

7. Revisi Produk

Revisi produk bertujuan untuk

memperbaiki kelemahan yang ada setelah dilakukan ujicoba produk

10. Produksi Masal

Produksi masal dilakukan apabila

produk yang dihasilkan sudah

dinyatakan efektif serta layak

diproduksi secara masal

9. Revisi Produk

Revisi Produk ini dilakukan apabila dalam ujicoba pemakaian masih terdapat kekurangan dan kelemahan

3. Desain Produk

Desain produk merupakan

perwujudan gambaran produk yang akan dihasilkan.

1. Potensi Masalah

Potensi adalah segala sesuatu yang didayagunakan akan memiliki nilai tambah

(58)

Berdasarkan langkah pengembangan Borg dan Gall (dalam Sukmadinata,

2012: 169-170), dan langkah pengembangan Sugiyono (2010: 408), peneliti

memodifikasi langkah-langkah tersebut menjadi enam langkah agar sesuai

dengan langkah penelitian yang akan dilakukan. Peneliti memodifikasi

langkah penelitian menjadi enam langkah karena dalam pengembangan

produk ini hanya dilakukan pada uji terbatas yaitu kelas III SDN Keputran 1

Kemalang Klaten. Keenam langkah tersebut meliputi (1) Potensi dan

masalah, (2) pengumpulan data, (3) desain produk, (4) validasi produk, (5)

revisi desain, dan (6) uji coba produk.

3.2 Setting Penelitian

Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas III SDN

Keputran 1 Kemalang Klaten yang berjumlah 6 anak. Sekolah tersebut

beralamatkan di Kemalanag Klaten peneliti memilih sekolah tersebut karena

lokasi sekolah SD dekat dengan rumah peneliti. Penelitian pengembangan

buku cerita bergambar berbasis pendidikan anti korupsi ini dilaksanakan pada

bulan April – Mei 2017.

3.3 Prosedur pengembangan

Berdasarkan langkah pengembangan Borg dan Gall (dalam Sukmadinata,

2012:169-170), dan langkah pengembangan Sugiyono (2010:408) yang telah

dimodifikasi peneliti, terdapat enam langkah yang harus dilakukan dalam

penelitian ini. Peneliti memodifikasi langkah pengembangan menjadi enam

langkah karena peneliti hanya ingin melihat kelayakan dan kualitas produk

Gambar

Gambar 3.2 Desain Langkah Penelitian Pengembangan ................................. 42
Gambar 2.1 Bagan Komponen Karakter yang baik menurut Lickona.
Tabel 2.1 Nilai-nilai acuhan dalam pendidikan antikorupsi (Kemendikbud, 2012)
Gambar adalah segala sesuatu yang diwujudkan secara visual
+7

Referensi

Dokumen terkait

Kualitas tersebut dapat ditunjukkan dari berbagai muatan dari buku cerita bergambar teresebut antara lain buku cerita bergambar ini menggunakan bahasa dan gaya tulisan

PENGEMBANGAN BUKU CERITA BERGAMBAR BERBASIS PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP UNTUK PEMBELAJARAN.. MEMBACA SISWA SD KELAS I SD NEGERI TLACAP Lendy

a) Buku cerita bergambar dapat membantu anak terhadap pengembangan dan perkembangan emosi. Anak akan merasa terfasilitasi dan terbantu untuk memahami dan menerima dirinya

Buku cerita bergambar yang dikembangkan adalah buku cerita bergambar yang mencakup kebutuhan siswa dan guru dengan judul “Pengembangan Buku Cerita Bergambar Berbasis

a) Buku cerita bergambar dapat membantu anak terhadap pengembangan dan perkembangan emosi. Anak akan merasa terfasilitasi dan terbantu untuk memahami dan menerima dirinya

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul: Pengembangan Buku Cerita Bergambar tentang

Arif Saefudin.. Pengembangan buku cerita bergambar berbasis pendidikan lingkungan hidup untuk pembelajaran membaca siswa SD kelas atas. Yogyakarta: Program Studi Pendidikan

Dari table 2 menunjukkan bahwa hasil validasi ahli materi terhadap pengembangan media pembelajaran buku cerita bergambar untuk meningkatkan minat membaca siswa kelas 2