• Tidak ada hasil yang ditemukan

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA U TARA MEDAN 2018

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA U TARA MEDAN 2018"

Copied!
120
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Disusun Dan Diajukan Untuk Melengkapi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Hukum

Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

OLEH ADINDA NAMIRA NIM : 150200402

DEPARTEMEN HUKUM EKONOMI

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA U TARA MEDAN

2018

(2)
(3)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur yang sedalam-dalamnya penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena dengan berkat dan rahmat-Nya, penulis masih diberi kesempatan, kesehatan dan kemudahan dalam mengerjakan skripsi ini, Nabi Muhammad saw atas doa dan syafaatnya dan tidak lupa ridho serta doa yang selalu dipanjatkan yang tiada henti-hentinya oleh kedua orang tua penulis.

Penulisan skripsi ini diajukan untuk melengkapi syarat guna memperoleh gelar Sarjana Hukum di Universitas Sumatera Utara. Dalam penelitian skripsi ini penulis menyadari bahwa hasil yang diperoleh masih jauh dari kata sempurna.

Oleh sebab itu dengan segala kerendahan hati penulis akan menerima kritik dan saran dari kesempurnaan skripsi ini.

Namun terlepas dari segala tuntutan kekurangan yang ada pada penulisan skripsi ini, penulis tidak terlepas dari bantuan dan pengarahan dari berbagai pihak, untuk itu penulis mengharapkan terima kasih yang tulus kepada :

1. Bapak Prof. Dr .Budiman Ginting, S.H, M.Hum, sebagai Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara sekaligus sebagai Dosen Pembimbing I yang telah memberikan bantuan dan bimbingan kepada penulis dalam penulisan skripsi ini.

2. Bapak Prof. Dr. Bismar Nasution, S.H, M.Hum, sebagai Ketua Departemen Hukum Ekonomi Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

(4)

3. Bapak Dr. Mahmul Siregar, S.H, M.Hum, sebagai sebagai Dosen Pembimbing II yang telah memberikan bantuan dan bimbingan kepada penulis dalam penulisan skripsi ini.

4. Bapak Dr. Jelly Leviza, S.H, M.Hum, sebagai Wakil Dekan III Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

5. Ibu Sinta Uli, S.H, M.Hum, sebagai dosen penasehat akademik bagi penulis selama menjalani proses studi di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

6. Seluruh dosen yang telah banyak memberikan dedikasi kepada penulis serta seluruh pegawai di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang membantu penulis selama masa perkuliahan.

7. Secara khusus penulis ucapkan terima kasih yang sangat besar kepada kedua orang tua penulis cintai dan sayangi, yang telah sabar dan memberikan seluruh kasih sayang, pengorbanan, doa, serta memberikan motivasi dan kesejukan hati sehingga penulis dapat memperoleh pendidikan tinggi dan dengan doa mereka juga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

8. Terima kasih kepada Kakak dan Abang penulis dan juga seluruh keluarga besar penulis yang telah memberi doa dan semangat kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.

9. Terima kasih terkhusus kepada Udak Nazaruddin Matondang sebagai penyemangat penulis dalam menyelesaikan skripsi ini dan membantu penulis selama pengerjaan skripsi ini.

(5)

10. Terima kasih kepada Anjasmara Rambe dan Muhammad sadli sebagai teman bertukar pikiran dan memberikan masukan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

11. Terima kasih kepada Micin Family dan Teuku Hafiz Riansyah yang telah banyak memberikan masukan selama pengerjaan skripsi ini.

12. Terima kasih kepada Agus Syahputra, Rahmad Rizki Putra , Arnan Furqon Hasibuan, Aga, Bang Danie, Maulana, Hari JW, Reza, Sostar, Bang Andri yang telah membantu penulis tetap semangat dalam pengerjaan skripsi ini.

13. Terima kasih kepada Badan Pengurus Harian Ikatan Mahasiswa Hukum Ekonomi (IMAHMI) yang telah membantu penulis memberikan informasi selama pengerjaan skripsi ini.

14. Terima kasih kepada rekan-rekan Ikatan Mahasiswa Hukum Ekonomi Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan semangat kepada penulis dalam mengerjakan skripsi ini.

15. Terima kasih kepada rekan-rekan Pemerintahan Mahasiswa (PEMA) USU 2017/2018,BTM Aladdinsyah S.H,dan AMPI yang telah memberikan semangat positif kepada penulis selama pekerjaan skripsi.

16. Terima kasih kepada seluruh rekan di Fakultas Hukum USU khususnya stambuk 2015 dan abang-kakak stambuk lainnya yang telah banyak membantu penulis yang tidak dapat disebutkan namanya satu-persatu.

17. Terima kasih kepada adik-adik junior ,terkhusus stambuk 2018 yang telah memberikan doa dan semangat kepada penulis selama penulisan skripsi ini.

(6)

18. Terima kasih kepada seluruh rekan PUBG penulis yang selalu memberikan hiburan sehingga penulis tidak merasa jenuh selama proses penulisan skripsi ini.

19. Terima kasih kepada Tonok, Rekky, Kak Asnita, Narez, Kak Angel, Bang Andre, Bang Yoggi, Jese, Bella, Vier, Fikri, Fiki, Karina, Balqis, dan seluruh teman SD, SMP, SMA dan teman les penulis yang selalu memberikan dukungan disaat penulis mengerjakan skripsi ini.

20. Terima kasih kepada seluruh sahabat,teman,abang,kakak di luar Fakultas Hukum USU yang telah membuka pikiran penulis sehingga segera menyelesaikan skripsi ini.

(7)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... ... i

DAFTAR ISI ... .v

DAFTAR SINGKATAN... viii

ABSTRAK...x

BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 7

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan ... 8

D. Keaslian Penulisan ... 9

E. Tinjauan Kepustakaan ... 10

F. Metode Peneltian. ... 26

G. Sistematika Penulisan... 29

BAB II : PENGATURAN HUKUM TERKAIT KEBERADAAN TENAGA KERJA ASING INDONESIA A. Pengertian Tenaga Kerja Asing ... 31

B. Tujuan Adanya Tenaga Kerja Asing... 33

C. Syarat dan Ketentuan keberadaaan Tenaga Kerja Asing di indonesia... 39

D. Klasifikasi Hak- Hak Tenaga Kerja Asing ... 46

(8)

BAB III : PROSEDUR PERSEROAN TERBATAS PENANAMAN MODAL ASING DALAM PENGGUNAAN TENAGA KERJA ASING

A. Definisi Perseroan Terbatas Penanaman Modal Asing... 53 B. Syarat dan Ketentuan Berdirinya Perseroan Terbatas Penanaman Modal Asing... 59 C. Ketentuan Terhadap Perseroan Terbatas Penanaman Modal

Asing terkait menggunakan tenaga kerja ... 68

BAB IV : PENGATURAN TENAGA KERJA ASING TIDAK TERDIDIK/UNSKILLOLEH PERSEROAN TERBATAS PENANAMAN MODAL ASING DI INDONESIA

A. Pengaturan Hukum Terkait Keberadaan Tenaga Kerja

Unskill di Indonesia... 78 B. Regulasi terkait Tenaga Kerja Asing Tak Terdidik/unskill

Oleh Perseroan Terbatas Penanaman Modal Asing di Indonesia... 81 C. Akibat Hukum Perseroan Terbatas Memperkerjaan Tenaga Kerja Asing tak terdidik... 85 D. Kasus Buruh Asing Illegal dan Tak Tersertifikasi... 89 E. Ketidaksinkoran Peraturan Perundang-Undangan Terkait Izin Tenaga Kerja Asing Di Indonesia... 95

(9)

BAB V : PENUTUP

A. Kesimpulan ... 100 B. Saran ... 102

DAFTAR PUSTAKA

(10)

DAFTAR SINGKATAN

AD : Anggaran Dasar

BKPM : Badan Kordinasi Penanaman Modal DNI : Daftar Negatif Investasi

ILO : International Labour Organization IMTA : Izin Menggunakan Tenaga Kerja Asing ITAS : Izin Tinggal Sementara

KADIN : Kamar Dagang dan Indonesia

KBLI : Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia KITAS : Kartu Izin Tinggal Terbatas

MEA : Masyarakat Ekonomi ASEAN

MNE : Multi National Enterprises

NV : Naamzole Vennootschap

PMA : Penanaman Modal Asing

PMDN : Penanaman Modal Dalam Negeri

PT : Perseroan Terbatas

PTSP : Pelayanan Terpadu Satu Pintu RDTR : Rencana Detail Tata Ruang

RPTKA : Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing

RUPS : Rapat Umum Pemegang Saham

SIMKIM : Sistem Informasi Manajemen Keimigrasian

TKA : Tenaga Kerja Asing

TKI : Tenaga Kerja Indonesia

(11)

UUPM : Undang-Undang Penanaman Modal UUPT : Undang-Undang Perseroan Terbatas VITAS : Visa Izin Tinggal Sementara

WNA : Warga Negera Asing.

(12)

ABSTRAK

PENGATURAN TENAGA KERJA ASING TIDAK

TERDIDIK/UNSKILLOLEH PERSEROAN TERBATAS PENANAMAN MODAL ASING DI INDONESIA

Prof. Dr. Budiman Ginting S.H, M.Hum. *)1 Dr. Mahmul Siregar S.H, M.Hum. **)2

Adinda Namira ***)3

Keberadaan tenaga kerja asing di Indonesiapada umumnya bertujuan untuk melakukan dan mempercepat pembangunan nasional. Oleh karena itu tenaga kerja asing sejatinya diperlukan di Indonesia. Berpedoman pada Undang- Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan,dijelaskan dalam menggunakan tenaga kerja asing diwajibkan untuk memiliki rencana penggunaan tenaga kerja asing (RPTKA),namun dalam Peraturan Presiden Nomor 20 tahun 2018 dijelaskan bahwa perusahaan atau pemberi kerja tidak diwajibkan untuk memiliki RPTKA dan kemudian pada Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor.

10 Tahun 2018 telah menghapus adanya izin menggunakan tenaga kerja (IMTA) terhadap pemberi kerja. Permasalahan dalam skripsi ini adalah ketika Peraturan Presiden dan Peraturan Menteri tersebut tidak mewajibkan RPTKA pada tenaga kerja asing tertentu, ini akan membuka peluang bagi tenaga kerja tak terdidik dan menimbulkan pertabrakan aturan antara UU Ketenagakerjaan dengan Peraturan Presiden dan Peraturan Menteri tersebut.

Metode Penulisan yang dipakai untuk menyusun skripsi ini adalah penelitian hukum normatif. Jenis dari data yang digunakan pada penelitian ini adalah data sekunder berupa bahan hukum primer, bahan hukum sekunder serta bahan hukum tersier yang dikumpulkan dengan cara studi pustaka dan data di analisis dengan metode kualitatif.

Kasus penggunaan tenaga kerja asing yang tidak terdidik di Indonesia pada umumnya berada di perusahaan penanaman modal asing, yang telah melanggar ketentuan pada Undang-Undang Ketenagakerjaan. Dalam menangani maraknya kasus tenaga kerja asing yang terdidik, Undang-Undang Ketenagakerjaan telah mengatur bahwa perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja asing tanpa memiliki skill mendapatkan sanksi pidana dan administratif, sedangkan dalam Perarturan Dirjen Imigrasi sanksi dari keberadaan tenaga kerja asing yang tidak memiliki skill dan tidak memiliki dokumen yang sesuai dengan kapasitas akan dilakukan deportasi terhadap tenaga kerja asing yang tidak skill serta buruh asing yang masuk tanpa izin di Indonesia serta Peraturan Presiden No.20 Tahun 2018 dan Permenaker No.10 Tahun 2018 perlu dilakukan ujian materil.

Kata Kunci :Tenaga Kerja Asing, Unskill, Perseroan Terbatas Penanaman Modal Asing.

1 Dosen Pembimbing I

2

(13)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Eksitensi tenaga kerja asing (TKA) yang dipergunakan instansi atau pengusaha bukan fenomena baru di Indonesia. Keikutsertaan atau partisipasi Indonesia dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dan penanaman modal asing sebagai salah satu target Pemerintah untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional adalah beberapa faktor yang menyebabkan penambahan kuantitas tenaga kerja asing di Indonesia. Meningkatnya inventasi asing di Indonesia, membuat semakin maraknya tenaga kerja asing yang datang ke Indonesia.

Dari tahun ke tahun realisasi penanaman modal asing (PMA) langsung yang masuk ke Indonesia cenderung berfluktuasi. Pada tahun 2000 nilai realisasi PMA di Indonesia adalah sebesar US$ 15,420 juta, di tahun 2007 nilai realisasi PMA yang masuk ke Indonesia jauh lebih kecil yaitu sebesar US$ 10,350 juta.

Pada saat krisis keuangan global terjadi di tahun 2009 nilai penanaman modal asing yang masuk ke Indonesiamengalami penurunan yang signifikan dari tahun sebelumnya.4 Realisasi PMA di tahun 2012 sebesar US$ 24.564 juta, dengan realisasi tertinggi pada kuartal ke empat sebesar US$ 6.312 juta. Pada tahun 2013 nilai realisasi PMA sebesar US$ 28.618 juta, dan pada tahun 2014 realisasi PMA di Indonesia turun menjadi US$ 28.530 juta.Kemudian realisasi investasi PMA pada tahun 2015 kembali mengalami kenaikan sekitar US$ 29.300 juta. Setelah

4Hodijah, Analisis Penanaman Modal Asing Di IndonesiaDan Pengaruhnya Terhadap Nilai Tukar Rupiah, Jurnal Paradigma EkonomikaVol.10, No.2, Oktober 2015 hlm 352

(14)

itu pada tahun 2016 realisasi PMA mengalami sedikit penurunan sebesar US$

29.000 juta. Lalu pada tahun 2017 realisasi investasi PMA mengalami kenaikan kembali sebesar US$ 32.200 juta dan pada awal januari hingga juni 2018 masih sekitar US$ 15.300 juta.5

Perkembangan global mendorong terjadi suatu peningkatan mobilitas pada penduduk dunia yang menimbulkan sejumlah dampak baik yang menguntungkan maupun yang merugikan kepentingan dan kehidupan bangsa dan negara Indonesia. Dalam pelaksanaan pembangunan nasional, tenaga kerja mempunyai peranan dan kedudukan yang sangat penting sebagai pelaku dan tujuan pembangunan. Dalam konsideran UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan menyebutkan bahwa perlindungan terhadap tenaga kerja dimaksudkan untuk menjamin hak hak dasar pekerja/buruh dan menjamin kesamaan kesempatan serta perlakuan tanpa diskriminasi atas dasar apapun untuk mewujudkan kesejahteraan pekerja/buruh dan keluarganya dengan tetap memperhatikan perkembangan kemajuan dunia usaha.6

Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (UU Ketenagakerjaan), melalui Pasal 42 sampai dengan Pasal 49, telah memasukkan TKA sebagai bagian dari dinamika ketenagakerjaan di Indonesia.Rangkaian aturan di bidang ketenagakerjaan terkait TKA telah digulirkan sebagai pedoman dalam tataran pelaksana, antara lainadalah Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 16 Tahun 2015 tentang Tata Cara Penggunaan Tenaga Kerja Asing (Permenaker

5Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) – RI, Realisasi Penanaman Modal PMDN-PMA, Jakarta, 14 Agustus 2018, Hlm 33

6Ahmad Jazuli, Pusat Pengkajian Dan Pengembangan Kebijakan Badan Penelitian Dan Pengembangan Hukum Dan Ham Kementerian Hukum Dan Ham RI, “Eksistensi Tenaga Kerja Asing Di IndonesiaDalam Perspektif Hukum Keimigrasian”,Jikh Vol. 12 No.1 Maret 2018 Hlm 90

(15)

16/2015) yang kemudian telah diubah dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 35 Tahun 2015 (Permenaker 35/2015), Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. 40 Tahun 2012 tentang Jabatan-Jabatan Tertentu yang Dilarang Diduduki Tenaga Kerja Asing, Peraturan Presiden No. 72 Tahun 2014 tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing serta Pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Kerja Pendamping.

TKA didefinisikan dalam Pasal 1 angka (13) UU Ketenagakerjaan sebagai warga negara asing pemegang visa dengan maksud bekerja di Indonesia.7 Adapun visa menurut Pasal 1 angka (18) Undang-Undang No.6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian (Undang-Undang Keimigrasian) diberikan arti sebagai keterangan tertulis yang diberikan pejabat berwenang yang memuat persetujuan bagi orang asing untuk melakukan perjalanan ke wilayah Indonesiaatau dasar pemberian izin tinggal. Ada empat macam visa yang diakui dalam UU Keimigrasian, yakni visa diplomatik, visa dinas, visa kunjungan, dan visa tinggal terbatas. Visa untuk pekerja masuk dalam lingkup visa tinggal terbatas.

Dalam pengurusan izin kerja calon TKA, setidaknya ada dua pihak yang terlibat, yakni pemberi kerja dan calon TKA itu sendiri. Dari sisi ketenagakerjaan, pemberi kerja merupakan inisiator bagi penerbitan izin kerja calon TKA. Melalui Pasal 42 ayat (1) Undang-Undang Ketenagakerjaan, diwajibkan bagi setiap pemberi kerja yang akan mempekerjakan TKA untuk memiliki izin tertulis dari Menteri dan instansi yang ditunjuk. Selain itu, pemberi kerja diberikan pula kewajiban untuk memiliki Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing (RPTKA)

7Undang-Undang Republik IndonesiaNomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan pasal 1 angka 13

(16)

yang disahkan oleh Menteri atau pejabat yang ditunjuk sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 43 ayat (1) Undang-Undang Ketenagakerjaan.

Merujuk pada Permenaker 16/2015 jo Permenaker 35/2015 , RPTKA merupakan hal pertama yang harus diperoleh pemberi kerja karena RPTKA-lah yang akan menjadi dasar penerbitan Izin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing (IMTA). Idealnya, melalui RPTKA dapat diperoleh gambaran kebutuhan pemberi kerja atas TKA karena pada permohonan RPTKA tercantum alasan penggunaan TKA, jabatan TKA, jumlah TKA dan lainnya. Pengecualian perihal RPTKA diberikan kepada instansi pemerintah, badan-badan internasional dan perwakilan negara asing.

Dalam hal RPTKA dan IMTA telah diperoleh dengan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Permenaker 16/2015 jo Permenaker 35/2015, termasuk pembayaran Dana Kompensasi Penggunaan TKA, selanjutnya calon TKA mengajukan permohonan visa pada kedutaan Indonesia. IMTA akan menjadi dasar pemberian persetujuan permohonan visa. Setibanya di Indonesia, TKA segera melakukan pengurusan terkait izin tinggal di Indonesiayakni pengurusan Kartu Izin Tinggal Terbatas (KITAS). Kewajiban memiliki IMTA tidak berlaku bagi perwakilan negara asing yang mempergunakan TKA sebagai pegawai diplomatik dan konsuler, kemudian TKA yang memegang posisi tertentu sebagaimana tercantum dalam Permenaker 35/2015 yang berdomisili di luar negeri.

Dalam praktik, hal yang kerap menjadi permasalahan terkait dengan keberadaan WNA yang bekerja di Indonesiaadalah penggunaan visa maupun izin

(17)

tinggal yang tidak tepat. Seperti menggunakan visa kunjungan untuk bekerja.

Lingkup keberlakuan visa kunjungan sebagaimana diuraikan dalam UU Keimigasian adalah diberikan kepada orang asing yang akan melakukan perjalanan ke wilayah Indonesia dalam rangka kunjungan tugas pemerintahan, pendidikan, sosial budaya, pariwisata, bisnis, keluarga, jurnalistik, atau singgah untuk meneruskan perjalanan ke negara lain.

Permasalahan lain yang kerap muncul adalah tidak digunakannya izin kerja dan izin tinggal sesuai dengan peruntukannya. Sebagai contoh, pemberi kerja mempekerjakan TKA tidak sesuai dengan IMTA yang mana konsekuensi dari hal tersebut adalah pencabutan IMTA. Mempekerjakan TKA yang sedang dipekerjakan pada pemberi kerja lain juga merupakan hal yang dilarang dalam Permenaker 16/2015, kecuali bagi TKA dengan jabatan anggota Direksi, anggota Dewan Komisaris atau anggota Pembina atau anggota Pengurus, anggota Pengawas berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) atau Rapat Pembina dan tercantum dalam akta dan keputusan pengesahan yang disahkan oleh instansi yang berwenang. Dengan kata lain, seorang TKA hanya dapat terikat hubungan kerja dengan 1 (satu) pemberi kerja yang tercantum dalam IMTA.

Sehingga apabila hubungan kerja dengan pemberi kerja awal berakhir, TKA wajib meninggalkan wilayah Indonesia terlebih dahulu dan selanjutnya dilakukan pengurusan izin kerja dan izin tinggal baru dengan menggunakan RPTKA dan IMTA dari pemberi kerja baru.8

8 Siti Yuniarti. Tenaga Kerja Asing melalui http://business-law.binus.ac.id diakses pada tanggal 22 Oktober 2018 pukul 15.43 WIB

(18)

Pada Pasal 45 UU ketenagakerjaan jelas dikatakan bahwa penggunaan tenaga kerja asing di Indonesia adalah para pekerja yang akan dipekerjakan harus memiliki keahlian seperti teknologi, pendidikan dan lain lain.9 Namun pada faktanya, berdasarkan data Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia(KSPI) bahwa tenaga kerja asing (TKA) kasar atau buruh kasar asing di Indonesia mencapai 157 ribu orang.10 Tentu keberadaan tenaga kerja asing unskill/tidak memiliki kemampuan khusus tersebut telah melanggar UU tenaga Ketenagakerjaan dan juga UU penanaman modal. Ketika melihat banyaknya tenaga kerja asing unskill di perusahaan penanaman modal nasional maupun penanaman modal asing, tentu ini menjadi urgensi ketika fakta yang terjadi tidak sesuai dengan aturan perundang-undangan yang berlaku saat ini. Kemudian terkait dengan peraturan baru yang menggatikan peraturan lama yang diatas yakni Peraturan Presiden Nomor 20 Tahun 2018 dan Peraturan Menteri No. 10 Tahun 2018 mengenai penggunaan tenaga kerja asing. dalam aturan tersebut telah menghapus IMTA ( Izin Menggunakan Tenaga Asing ) dan juga telah mengubah bahwa ketentuan terkait Rencana penggunaan tenaga kerja asing ( RPTKA) bahwa Perpres No. 20 Tahun 2018 dan Peraturan Menteri No. 10 tahun 2018 tidak lagi mewajibkan pemberi kerja untuk memiliki RPTKA dalam memperkerjaan tenaga kerja asing pemegang saham yang menjabat sebagai anggota direksi atau anggota dewan komisaris pada pemberi kerja TKA. Artinya ini membuka peluang bagi para tenaga kerja asing illegal dan tenaga kerja asingunskill untuk direkrut oleh para

9Ibid pasal 45

10https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-3999459/kspi-sebut-157-ribu-buruh- kasar-asing-serbu-ri(diakses pada tanggal 9 oktober 2018 pukul 17.14)

(19)

pemberi kerja akan bebas tanpa adanya pengawasan khusus karena adanya kelonggaran dalam keberadaan regulasi yang telah terbentuk saat ini .

Melihat urgensi yang telah di uraikan pada latar belakang diatas menjadi hal yang sangat krusial terhadap kepastian hukum di Indonesiaterkait penggunaan tenaga kerja asing yang ada di perusahaan penanaman modal asing seperti data yang telah dipaparkan diatas, Oleh karena itu penulis tertarik untuk mengangkat permasalahan dan menulis skripsi dengan judul “PENGATURAN TENAGA KERJA ASING TIDAK TERDIDIK/UNSKILLOLEH PERSEROAN TERBATAS PENANAMAN MODAL ASING DI INDONESIA”

B. Perumusan Masalah

Ketidaksinkronan fakta yang terjadi di lapangan dan aturan peraturan perundang-undangan terkait keberadaan tenaga kerja asing yang tidak terdidik atau yang biasa disebut unskillmenjadi hal yang sangat krusial dan juga menjadi permasalahan yang serius. Pada umumnya penggunaan tenaga kerja asing oleh perusahaan pemodal nasional ataupun pemodal asing harus mengikuti ketentuan dan prosedur UU ketenagakerjaan dalam memperkerjakan para karyawannya.

Oleh karena itu penulis menentukan objek permasalahan yang akan dibahas yakni:

Adapun permasalahan dalam skripsi ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana pengaturan hukum terhadap keberadaan tenaga kerja Asing(TKA) diIndonesia?

2. Bagaimana prosedur perseroan terbatas penanaman modal asing dalam menggunakan tenaga kerja asing?

(20)

3. Bagaimana pengaturan tenaga kerja asing tidak terdidik/unskill oleh perseroan terbatas penanaman modal asing di Indonesia?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penulisan

Adapun yang menjadi tujuan penulisan dari penulisan ini adalah sebagai berikut:

a. Untuk mengetahui secara rinci pengaturan hukum terhadap eksitensi tenaga kerja asing di Indonesia.

b. Untuk mengetahui prosedur berdirinya perusahaan dalam bentuk perseroan terbatas penanaman modal asing di Indonesiaserta untuk mengetahui prosedur dalam mempekerjakan tenaga kerja asing olehperusahaan penanaman modal asing

c. Untuk mengetahui pengaturan tenaga kerja asing yang tak terdidik/unskill oleh perseroan terbatas penanaman modal asing di Indonesia.

2. Manfaat penulisan

Adapun manfaat dari skripsi ini adalah :

a. Secara Teoritis, penulisan skripsi ini dapat bermanfaat untuk pengembangan pada ilmu hukum terkhusus di bidang Perusahaan Penanaman modal asing yang menggunakan tenaga kerja asing serta terakait keberadaan tenaga kerja asingunskill yang ada di Indonesia. sejauh manakah regulasi mengatur keberadaan Tenaga

(21)

kerja asing unskill yang bekerja di perusahaan penanaman modal asing.

b. Secara Praktis, penulisan dari skripsi ini dapat bermanfaat untuk mahasiswa hukum serta masyarakat dalam menjawab persoalan persoalan hukum yang belum dapat dipecahkan.

D. Keaslian Penulisan

Untuk melihat keaslian dan mengetahui keaslian penulisan dari skripsi yang saya susun dengan judul “Pengaturan TKA Tidak Terdidik /Unskill Oleh Perseroan Terbatas Penanaman Modal Asing di Indonesia’’. Bahwasanya belum pernah dilakukan penulisan skripsi dengan judul tersebut di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, meskipun di lain sisi terdapat judul yang hampir sama namun subtansinya berbeda. Penulis menulis skripsi ini berdasarkan literatur-literatur yang diperoleh di perpustakaan, peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan tenaga kerja asing dan perusahaan penanaman modal asing, media cetak dan eletronik dan juga melalui bantuan dari para pihak.

Adapun skripsi terdahulu yang pernah ditulis sebelumnya dan memiliki keterkaitan dengan judul skripsi penulis ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Defin Christover Sirait Tahun 2017, Mahasiswa Departemen Hukum Ekonomi, Program Kekhususan Hukum Ekonomi Universitas Sumatera Utara dengan judul

“Kajian Yuridis Terhadap Penggunaan Tenaga Kerja Asing di Bidang Jasa Pariwisata Di IndonesiaDalam Perspektif Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)”

Judul skripsi ini diajukan dikarenakan masalah terkait tenaga kerja asing di

(22)

Indonesiamasih menjadi kendala dikarenakan banyaknya aturan hukum yang bertabrakan dan dikaitkan dengan kejadian di Indonesiadengan tenaga kerja asing yang unskill yang berada di nusantara. Pokok masalah dari penelitian tersebut adalah

1. Mengapa pengaturan terkait tenaga kerja asing unskill perlu dikaji lebih dalam berdasarkan peraturan perundang-undangan yang ada?

2. Bagaimana fakta yang terjadi terkait keberadaan tenaga kerja asing/unskillpada perusahaan penanaman modal asing?

3. Bagaimana sinkronisasi antara aturan-aturan yang menjelaskan tenaga kerja asing yang ada di Indonesia?

Pada dasarnya penelitian terdahulu yang dilakukan oleh peneliti tersebut diatas tidak sama dengan penelitian ini, baik dari segi judul maupun pokok permasalahan yang dibahas. Oleh karena itu secara akademik penelitian ini dapat dipertanggungjawabkan keasliannya di kemudian hari. Penulis bertanggungjawab apabila ternyata di kemudian hari bahwa penelitian ini merupakan duplikasi atau plagiat dari penelitian-penelitian yang telah ada sebelumnya.

E. Tinjauan Kepustakaan 1. Tenaga Kerja

Menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003,Tenaga Kerja adalah orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat. Secara umum,definisi tenaga kerja merupakan orang yang memiliki atau melakukan

(23)

suatu pekerjaan demi mendapatkan upah.Tenaga kerja sebagai salah satu dari faktor produksi yang merupakan unsur atau hal yang penting dan paling berpengaruh dalam mengelola dan mengendalikan sistem ekonomi, seperti produksi, distribusi, konsumsi maupun investasi. Keterlibatannya dalam proses produksi menyebabkan mereka menginginkan pendapatan yang memadai, tingkat keamanan dan kenyamanan kerja yang lebih baik, serta keuntungan lain yang dapat diperoleh.11

2. Tenaga Kerja Asing

Menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tenaga kerja asing adalah warga negara asing pemegang visa dengan maksud bekerja di wilayah Indonesia.12 Sedangkan menurut Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 10 Tahun 2018 tenaga kerja asing adalah warga negara asing pemegang visa dengan maksud bekerja di wiliyah Indonesia. Kemudian menurutH.S Syarif , definisi orang asing disini jelaskan ada 2 macam golongan yakni:

a. Orang asing pendatang adalah mereka yang mendapatkan izin masuk (admaasion) dengan hak memperoleh untuk tinggal di Indonesiadalam waktu tertentu yang dikenal tenaga asing pemegang visa.13

b. Orang asing penetap adalah mereka yang diperbolehkan untuk tinggal secara tetap di Indonesiadan diwajibkan untuk memperoleh izin menetap

11Romas Yossia tambunsaribu, Analisis Pengaruh Produktivitas Tenaga Kerja, Upah riil, dan pertumbuhan ekonomi terhadap penyerapan tenaga kerja di 35 kabupaten/kota jawa tengah, Skripsi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro Semarang,hlm 9

12Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan Pasal 1 angka 13

13H.S Syarif, Pedoman penggunaan Tenaga Kerja Asing di Indonesia, (Jakarta : Sinar Grafika,1996) hlm 6

(24)

dengan Surat keterangan penduduk (SKK), yang dikenal dengan tenaga asing atau tenaga asing domestik.14

Lalu definisi pekerjaan adalah sebagai berikut:

a. Setiap pekerjaan yang dilakukan orang dibawah perintah orang lain dengan menerima upah atau tidak.

b. Setiap pekerjaan yang dijalankan atas dasar borongan dalam suatu perusahan, baik itu oleh orang yang menjalankanpekerjaan itu sendiri maupun oleh orang yang membantu orang yang membantu menjalankan pekerjaan itu.15

Jadi dapat disimpulkan yang dimaksud tenaga kerja asing adalah pekerjaan yang dilakukan orang asing yang mempunyai hubungan dengan majikan atau pengusaha dan dengan kata lain yang dipekerjakan oleh orang lain atau pengusaha.16

Menurut jenisnya ada 3 jenis izin kerja tenaga kerja asing yaitu:

a. Izin tenaga kerja asing (baru)

Izin diberikan untuk memperkerjakan tenaga kerja asing tertentu yang untuk pertama kali.

b. Izin kerja tenaga asing untuk perpanjangan.

Izin yang diberikan untuk memperpanjang masa berlakunya izin.

c. Izin kerja tenaga asing-Pindah jabatan

14Ibid

15Ibid

16Ibid hlm 7

(25)

Izin yang diberikan untuk memindahkan jabatan tenaga kerja asing dari jabatan lama ke jabatan baru.17

Perkembangannya tenaga kerja asing mengalami perubahan sesuai zamannya.

Hal ini dapat ditinjau dari aspek hukum ketenagakerjaan pada dasarnya adalah untuk menjamin dan memberi kesempatan kerja yang layak bagi warga Negara Indonesiadi berbagai sektor usaha. Pekerja asing yang bekerja terikat dan tunduk terhadap segala ketentuan ketenagakerjaan di Indonesia. Pemerintah juga memberlakukan ketentuan-ketentuan khusus bagi pekerja asing baik pada proses awal penggunaan tenaga kerja asing, penempatan tenaga kerja asing atau hak dan kewajiban tertentu yang berbeda dengan pekerja lokal.18Tujuan memperkerjakan tenaga kerja asing di di Indonesiayaitu untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja terampil dan profesional pada bidang bidang tertentu yang belum dapat diisi oleh tenaga kerja Indonesiadan untuk mempercepat proses pembangunan nasional dengan jalan mempercepat proses alih teknologi atau alih ilmu pengetahuan, terutama di bidang industri.

3. Unskill labour/ Tenaga Kerja Tidak Terdidik dan Tidak Terlatih

Tenaga kerja tidak terdidik dan terlatih ( Unskill Labour ) adalah tenaga kerja yang dalam pekerjaannya tidak memerlukan pendidikan ataupun pelatihan terlebih dahulu.19 Secara umum, unskill labour/tenaga kerja tidak terlatih

17Ibid

18Saputri Ratu Penghuni, Pelaksanaan Pengawasan Tenaga Kerja Asing oleh Dinas Tenaga Kerja Kota Bandar Lampung, Jurnal Ilmiah Fakultas Hukum Universitas Lampung Vol.2 No. 4 April 2015 hlm 8

19Ahmad Soleh, Masalah Ketenagakerjaan dan Pengangguran di Indonesia, Jurnal Ilmiah Cano Ekonomos Vol. 6 No. 2 Juli 2017, hlm 84

(26)

merupakan segmen tenaga kerja yang terkait dengan keterampilan terbatas atau nilai ekonomi minimal untuk pekerjaan yang dilakukan. Unskill labour/tenaga kerja tidak terlatih umumnya ditandai dengan pencapaian pendidikan yang lebih rendah, dan biasanya menghasilkan upah yang lebih kecil. Artinyaunskill labour pekerjaan yang tidak memerlukan tingkat pendidikan khusus atau pengalaman khusus sering tersedia untuk tenaga kerja tidak terampil.20

Menurut Bussiness Dictionary, unskill labour/tenaga kerja tidak terlatih merupakan pekerjaan yang tidak memerlukan pelatihan atau pengalaman khusus untuk melakukan pekerjaan secara memadai. Tenaga kerja tidak terampil sering digunakan dalam bisnis pertanian, dimana produk pertanian dapat dipanen dengan pelatihan dan pengalaman yang sangat minim.21 Pada umumnya unskill labour ditugaskan sebagai pekerja yang tidak perlu memiliki kemampuan yang khusus untuk melaksanakan pekerjaan. Menurut New ECC Report sektor-sektor pekerjaan yang di lakukan unskill labourpada umumnya adalah sebagai berikut:

a. pembuatan bir atau pembotolan bir dan / atau air mineral.

b. bunkering c. produk semen.

d. jasa konstruksi pabrik sewa.

e. layanan pengiriman, termasuk layanan messenger.

f. pembongkaran bangunan.

g. menggali, meratakan atau memompa tanah pasir atau kerikil.

h. layanan taman.

i. pemeliharaan lahan pertanian atau industri.

20https://www.investopedia.com/terms/u/unskilled-labor.asp (Diakses pada tanggal 07 November 2018 pukul 22.56)

21http://www.businessdictionary.com/definition/unskilled-labor.html (Diakses pada tanggal 07 November pukul 23.03).

(27)

j. manufaktur tepung tulang.

k. pembuatan karpet.

l. pabrikasi makanan untuk hewan domestik.

m. manufaktur pupuk.

n. pembuatan glukosa, dextrose cornflower, pati atau gelatin.

o. memproduksi atau memperbaiki Hessian, rami atau tas lainnya.

p. pembuatan ekstrak tanning q. layanan pengendalian hama

r. mempersiapkan situs untuk membangun atau tujuan lain.

s. pemurnian, penggerusan atau pengepakan garam.

t. penggalian termasuk pemecah batu u. agen pengiriman

v. mempertahankan kuda pacuan w. pemulihan kertas air

x. pemakaman.22

Meskipun Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tidak menjelaskan klasifikasi antara unskill labour dan skill labour, namun istilah tenaga kerja yang tidak terdidik/ unskill labour di Indonesiapada umumnya dianggap sebagai buruh yang melakukan pekerjaan kasar seperti kuli bangunan dan lain lain.

4. Perseroan Terbatas Penanaman Modal Asing

Berdasarkan Pasal 1 Undang-Undang Perseroan Terbatas Nomor 40 Tahun 2007, Pengertian Perseroan Terbatas (Perseroan) adalah badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham, dan

22New ECC Report, The Unskilled Labour Sector 2017, hlm 17.

(28)

memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam undang-undang ini serta peraturan pelaksanaannya.23

Istilah Perseroan Terbatas (PT) saat ini,dulunya dinamakandengan istilah Naamloze Vennootschap (NV). Asal muasal digunakannya istilah Perseroan Terbatas (PT) tidak dapat ditemukan namun istilah tersebut telah menjadi baku di dalam masyarakat bahkan juga-dibakukan pada Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas.Pengertian Perseroan Terbatas terdiri atas dari dua kata, yakni perseroan dan terbatas. Perseroan merujuk kepada modal PT yang terdiri dari sero-sero atau saham-saham.24Perusahaan adalah suatu pengertian ekonomi yang paling banyak dipakai dalam kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD), namun Kitab Undang-Undang Hukum Dagang sendiri tidaklah memberikan penafsiran maupun penjelasan resmi bagaimana tentang perusahaan itu.25

Dari beberapa pengertian yang dijelaskan diatas, maka unsur unsur yang harus dipenuhi untuk menjadi perseroan terbatas adalah sebagai berikut:

1. Berbentuk Badan Hukum

Perseroan Terbatas adalah suatu badan hukum yang mempunyai hak dan kewajiban seperti layaknya seorang manusia, mempunyai harta kekayaan sendiri yang terpisah secara tegas dengan harta kekayaan pribadi para pemiliknya, dapat membuat perjanjian dengan pihak lain dan dapat bertindak sebagai pihak di depan Pengadilan. Bentuk yang berbadan hukum tersebut memberikan kepastian terkait

23Undang-Undang Republik IndonesiaNomor 40 Tahun 2007 Perseroan Terbatas Pasal 1

24Johari Santoso, Perseroan Terbatas Sebagai Institusi Kegiatan Ekonomi Yang Demokratis, Jurnal HukumNo. 15 Vol 7. Desember 2000 hlm 195

25C.S.T Kansil, Chirstine S.T kansil, .Hukum Perusahaaan Indonesia(Jakarta: PT Pradnya Paramita 2001) hlm 67.

(29)

status PT dalam hukum Indonesia. Status tersebut kemudian memberikan kewenangan kepada PT untuk melakukan berbagai perbuatan hukum sebagaimana subjek hukum, tentunya sepanjang tidak bertentangan dengan norma-norma dan kaidah-kaidah yang berlaku.

2. Didirikan atas Dasar Perjanjian

Konsekuensinya, pendirian PT harus terdiri dari minimal dua orang/pihak, karena pada hakikatnya tidak ada perjanjian jika hanya terdiri satu pihak saja.

Persyaratan pendiri PT harus minimal terdiri dari dua orang/pihak ini terdapat dalam rumusan pasal 7 ayat (1) UU PT Tahun 1995 yang mengatur bahwa perseroan terbatas didirikan oleh dua orang/pihak atau lebih dengan akta Notaris yang dibuat dalam bahasa Indonesia.26

3. Melakukan kegiatan usaha

PT merupakan salah satu bentuk badan usaha. Sudah seharusnya setiap PT yang didirikan melakukan kegiatan usaha karena PT didirikan adalah untuk memperoleh pendapatan dan keuntungan (profit oriented). Salah satu kewajiban PT sebagai badan hukum adalah menyelenggarakan pembukuan.

4. Modal terbagi atas saham

Di dalam KUHD tidak ada penetapan batas minimum modal dasar (statuter) suatu PT yang baru didirikan, berbeda dengan UU No. 1 Tahun 1995 Tentang PT, besarnya jumlah minimum modal dasar menurut UU ini adalah Rp.

20.000.000,- (dua puluh juta rupiah) ditegaskan dalam pasal 25. Ketentuan ini kemudian mengalami perubahan sebagaimana ditentukan selanjutnya dalam pasal

26Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995 dan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas. Pasal 7

(30)

41 ayat (1) UUPT yang mengatur bahwa besarnya modal perseroan minimal Rp.

50.000.000,- (limapuluh juta rupiah).

Pada Umumnya Perseroan Terbatas adalah merupakan badan hukum, baik itu Perseroan Terbatas Penanaman Modal Asing dan Juga Perseroan Terbatas Penanaman modal yang dilakukan oleh orang lokal.

Pada umunya orang berpendapat bahwa PT adalah suatu bentuk perseroan yang didirikan untuk menjalankan suatu perusahaan dengan modal perseroan tertentu yang terbagi atas saham-saham, dimana para pemegang saham (persero) ikut serta dengan mengambil satu saham atau lebih dan melakukan perbuatan perbuatan hukum dibuat oleh nama bersama.27

Sedangkan Perseroan Terbatas Penanaman Modal Asing adalah perusahaan yang bergerak dan beraktivitas dikarenakan adanya modal asing.

Penanaman Modal di Indonesiadiatur dalam Undang-Undang Nomor 25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal. Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan Penanaman Modal Asing adalah kegiatan menanam modal untuk melakukan usaha di wilayah Republik Indonesiayang dilakukan oleh penanam modal asing, baik menggunakan modal asing sepenuhnya maupun yang berpatungan dengan penanam modal dalam negeri (Pasal 1 Undang-Undang Nomor 25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal). Penanaman Modal Asing (PMA) lebih banyak mempunyai kelebihan diantaranya sifatnya jangka panjang, banyak memberikan adil (andil) dalam alih teknologi, alih keterampilan manajemen, membuka lapangan kerja baru. Lapangan kerja ini, sangat penting

27Ibid hlm 91

(31)

bagi negara sedang berkembang mengingat terbatasnya kemampuan pemerintah untuk penyediaan lapangan kerja.28

Untuk mengetahui lebih jauh apa yang dimaksud dengan terminologi penanaman modal asing dalam UU penanaman modal, maka perlu kiranya diuraikan apa yang dimaksud dengan “modal” (capital) dan “penanam modal”

(investor) serta “penanaman modal” (invesment) dalam konteks penanaman modal asing. Pemahaman atas kerangka diatas telah diatur secara konseptual diatas perlu dan sangat penting untuk mengetahui kerangka yuridis pengaturan penanaman modal asing di indoneia. 29 Salah satu sumber dana dalam pembangunan ekonomi nasional negara adalah dengan mengundang investor (penanam modal) terutama orang asing agar bersedia menanamkan modalnya di Indonesia. Mengingat bahwa penanaman modal mempunyai arti yang penting bagi pembangunan ekonomi nasional sebagaimana tujuan yang hendak dicapai, untuk itu di undangkanlah Undang – Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (selanjutnya ditulis UUPM). Istilah investasi atau penanaman modal merupakan istilah yang dikenal dalam kegiatan bisnis sehari-hari maupun dalam bahasa perundang – undangan. Istilah investasi merupakan istilah yang popular dalam dunia usaha, sedangkan istilah penanaman modal lazim digunakan dalam perundang –undangan. Namun pada dasarnya kedua istilah tersebut

28https://id.wikipedia.org/wiki/Penanaman_Modal_Asing(01 November 2018 diakses Pukul 00.17 WIB)

29David Kairupan, Aspek Hukum Penanaman Modal Asing Di Indonesia(Jakarta : Kencana Prenadamedia Group) hlm 21

(32)

mempunyai pengertian yang sama, sehingga kadangkala digunakan secara interchangeable.30

Didalam Pasal 5 ayat 2 Undang- Undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal dijelaskan bahwa penanaman modal asing wajib dalam bentuk perseroan terbatas berdasarkan hukum Indonesiadan berkedudukan di dalam wilayah negara Republik Indonesia, kecuali ditentukan lain oleh undang-undang.

Oleh karena itu beberapa hal yang membuat adanya perbedaan antara penanaman modal dalam negeri dan penanaman modal asing yaitu, penanaman modal asing tidak dapat dilakukan dalam bentuk lain diluar perseroan terbatas, maka dari itu penanaman modal asing di Indonesiaharus dilakukan dalam bentuk perseroan terbatas berdasarkan hukum dan berkedudukan di negara Indonesia, kecuali hal tersebut berbeda dalam ketentuan undang-undang.31

Dengan demikian perusahaan asing termasuk dalam kategori sebagai perusahaan-perusahaan multi nasional (multinational enterprises atau MNE), yang ingin berinvestasi di Indonesiaharus membentuk suatu perseroan terbatas sebagaimana yang diatur oleh UUPT dengan status perusahaan penanamanmodal asing. Namun demikian penanaman modal asing yang tidak berbentuk perseroan terbatas dimungkin apabila ditentukan dalam undang-undang. Dengan demikian perusahaan penanaman modal asing merupakan suatu perseroan terbatas yang didirikan berdasarkan undang-undang perseroan terbatas yang ada diIndonesia, yang dimana didalamnya terdapat unsur modal asing, tanpa memperhatikan

30Sigit Teteki Triwis, I Ketut Rai Setiabudhi, , I Gusti Ketut Ariawan, , Analisis Kekuatan Perjanjian Nominee Saham Dalam Perseroan Terbatas Penanaman Modal Asing (PT.PMA), Jurnal Ilmiah Prodi Magister Kenotariatan, 2015 -2016 hlm 15.

31Ibid hlm 80

(33)

besarnya modal asing tersebut dalam struktur permodalan suatu perseroan terbatas. Masuknya modal asing dalam perseroan terbatas atau perusahaan perusahaan PMA berdasarkan pasal 5 ayat (3) UU Penanaman Modal dapat terjadi melalui mekanisme sebagai berikut:

1. Mengambil bagian saham pada saat pendirian perseroan terbatas.

2. Membeli saham

3. Melakukan cara lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.

Adapun yang menjadi perbedaan Perseroan Terbatas Penanaman modal dalam negeri dan modal luar negeri terkait modal dasar. Pada Undang-Undang Perseroan Terbatas dijelaskanMengenai modal dasar Perseroan Terbatas, Pasal 32 dijelaskan bahwa modal dasar Perseroan paling sedikit Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah). Sedangkan Perseroan Terbatas Penanaman Modal Asing harus memiliki modal melebihi 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah). Pada Pasal 13 ayat (1), Peraturan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Nomor 14 Tahun 2015, tentang Pedoman dan Tata Cara Izin Prinsip Penanaman Modal (“Peraturan BKPM 14/2015”) telah mengatur bahwa PT PMA wajib melaksanakan ketentuan dan persyaratan nilai investasi dan permodalan dalam rangka memperoleh Izin Prinsip, yakni izin yang wajib dimiliki dalam rangka memulai atau melanjutkan usaha.32

Ketentuan nilai investasi dan permodalan diatur dalam Pasal 13 ayat (3) Peraturan BKPM 14/2015 sebagai berikut:

32https://dunianotaris.com/prosedur-pendirian-pt-pma-dan-persyaratannya.php (diakses pada tanggal 08 november 2018 pukul 23.25)

(34)

Persyaratan nilai investasi dan permodalan dalam rangka PMA sebagaimana dimaksud pada ayat (1), kecuali ditentukan lain oleh Peraturan Perundang-undangan, harus memenuhi ketentuan:

1. Total nilai investasi lebih besar dari Rp.10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah), diluar tanah dan bangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 4 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah:

Untuk proyek perluasan 1 (satu) bidang usaha dalam 1 (satu) kelompok usaha berdasarkan KBLI di lokasi yang sama maka nilai investasi diperkenankan kurang dari Rp.10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah), dengan ketentuan akumulasi nilai investasi atas seluruh proyek di lokasi tersebut telah mencapai lebih dari Rp.10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) diluar tanah dan bangunan.

Untuk perluasan 1 (satu) atau lebih bidang usaha dalam 1 (satu) sub golongan usaha berdasarkan KBLI, yang tidak mendapatkan fasilitas atau yang mendapatkan fasilitas di luar sektor industri, di 1 (satu) lokasi dalam 1 (satu) kabupaten/kota maka nilai investasi diperkenankan kurang dari Rp.10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah), dengan ketentuan akumulasi nilai investasi untuk seluruh bidang usaha lebih besar dari Rp.10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) diluar tanah dan bangunan.

Nilai modal ditempatkan sama dengan modal disetor, sekurang-kurangnya sebesar Rp.2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta rupiah).

(35)

Penyertaan dalam modal perseroan, untuk masing-masing pemegang saham sekurang-kurangnya Rp.10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) dan persentase kepemilikan saham dihitung berdasarkan nilai nominal saham.33

Kemudian beberapa jenis dari PT Penanaman Modal Asing memiliki bentuk yang berbeda dalam penanaman modal yakni :

1.) Joint Venture

Joint Venture adalah bentuk usaha kerja-sama antara penanaman modal asing dengan modal nasional dalam penjabarannya dilaksanakan pertama kali melalui instruksi Presidium Kabinet Nomor 36/U/IN/6/1967 yang ditetapkan dalam bentuk usaha kerjasama joint enterprise (perusahaan campuran), yang merupakan salah satu bentuk usaha kerja sama (joint- venture).34 Menurut Pasal 5 ayat 3 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007, penanaman dalam negeri dan asing yang melakukan penanaman modal dalam bentuk perseroan terbatas dilakukan dengan:35

i. Mengambil bagian saham pada saat pendirian perseroan terbatas;

ii. Membeli saham; dan

iii. Melakukan cara lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.

Sebelum memulai usaha joint enterprise/ joint venture harus terlebih dahulu diperiksa oleh DNI. Sehingga untuk menghidari terjadinya pembuatan kontrak joint venture terhadap bidang joint venture terhadap

33https://dunianotaris.com/prosedur-pendirian-pt-pma-dan-persyaratannya.php (diakses pada tanggal 08 november 2018 pukul 23.29 WIB)

34Aminuddin Ilmar Hukum Penanaman Modal Di Indonesia, (Jakarta : Kencana Prenada Group ) hlm 48

35Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 Pasal 5 ayat 3

(36)

bidang usaha yang menurut hukum tidak bisa diusahakan oleh orang atau badan hukum asing.36

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal tidak memberikan batas waktu lamanya berdiri sebuah perusahaan patungan.

2.) Fully Owned Enterprises

Fully Owned Enterprises merupakan bentuk usaha yang modalnya 100%

dimiliki orang asing. Badan Kordinasi Penanaman Modal menyatakan bentuk usaha yang boleh dimiliki 100% oleh investor asing ada 35 sektor usaha. Adapun bidang usaha tersebut sebagai berikut:

1. Industri Crumb Rubber (Perindustrian)

2. Pengusahaan Jalan Tol persen (Pekerjaan Umum)

3. Pengelolaan dan Pengembangan Sampah yang tidak berbahaya (Pekerjaan Umum)

4. Direct Selling (Perdagangan) 5. Cold Storage (Perdagangan) 6. Pialang Berjangka (Perdagangan)

7. Restoran (Pariwisata dan Ekonomi Kreatif) 8. Bar (Pariwisata dan Ekonomi Kreatif) 9. Kafe (Pariwisata dan Ekonomi Kreatif)

10. Gelanggang Olahraga (renang, sepak bola, tenis, kebugaran, sport center, kegiatan olahraga lain) (Pariwisata dan Ekonomi Kreatif)

11. Studio Pengambilan Gambar Film (Pariwisata dan Ekonomi Kreatif) 12. Laboratorium Pengolahan Film, semula 49 persen (Pariwisata dan

Ekonomi Kreatif)

13. Sarana Pengisian Suara Film, semula 49 persen (Pariwisata dan Ekonomi Kreatif)

36Mahmul Siregar, Joint Venture Agreement-Masalah-Masalah Penting Dalam JVA, Materi Perkuliahan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Power Point slide 5

(37)

14. Sarana Percetakan dan Penggandaan Film (Pariwisata dan Ekonomi Kreatif)

15. Sarna Pengambilan Gambar (Pariwisata dan Ekonomi Kreatif) 16. Sarana Penyuntingan Film (Pariwisata dan Ekonomi Kreatif) 17. Sarana Pemberian Teks Film (Pariwisata dan Ekonomi Kreatif) 18. Pembuatan Film (Pariwisata dan Ekonomi Kreatif)

19. Pertunjukan Film (Pariwisata dan Ekonomi Kreatif) 20. Studio Rekaman (Pariwisata dan Ekonomi Kreatif) 21. Pengedaran Film (Pariwisata dan Ekonomi Kreatif) 22. Warung Telekomunikasi (Kominfo)

23. Pembentukan Lembaga Pengujian Perangkat Telekomunikasi (tes laboratorium) (Kominfo)

24. Penyelenggaraan Transaksi Perdagangan Melalui Elektronik (platform),Market Place, Place Grabber, Dialy Deals, Iklan Baris Online (Kominfo)

25. Industri Bahan Baku Obat (Kesehatan)

26. Jasa Konsultasi Bisnis dan Manajemen dan/atau Jasa Manajemen RS (Kesehatan)

27. Jasa Pelayanan Penunjang Kesehatan (Penyewaan Peralatan Medik) (Kesehatan)

28. Jasa Pelayanan Penunjang Kesehatan: Laboratorium Klinik (Kesehatan) 29. Jasa Pelayanan Penunjang Kesehatan: Klinik Medical Checkup

(Kesehatan)

30. Praktek dokter umum (Kesehatan) 31. Praktek dokter speasialis (Kesehatan) 32. Praktek dokter gigi (Kesehatan)

33. Jasa Pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh paramedis (Kesehatan) 34. Jasa Pelayanan Kesehatan Tradisional (Kesehatan)

35. Dana Pensiun, (Keuangan).37

37https://economy.okezone.com/read/2016/02/17/20/1314424/daftar-35-bidang-usaha- yang-terbuka-100-untuk-asing ( Diakses pada tanggal 10 November 2018 pukul 11.09)

(38)

F. Metode Penelitian

Untuk Melengkapi Skripsi ini agar tujuan dapat lebih terarah dan dipertanggung jawabkan secara ilmiah, maka metode penelitian yang dipergunakan antara lain :

1. Jenis dan Sifat Penelitian a. Jenis Penelitian

Jenis Penelitian ini adalah penelitian yuridis normatif, yaitu penelitian yang dilakukan berdasarkan perundang-undangan (law in books) atau hukum dikonsepkan sebagai kaidah atau norma yang merupakan patokan berprilaku manusia yang dianggap pantas.38Penelitian yuridis mengandung arti bahwa dalam meninjau dan menganalisa masalah dipergunakan data sekunder dibidang hukum, yaitu meliputi berbagai macam peraturan perundang- undangan, hasil karya ilmiah, hasil-hasil penelitian dan literatur- literatur ilmu hukum.39 Sedangkan pada kata normatif mengandung arti dalam meninjau dan menganalisa masalahnya dilakukan dengan pendekatan undang-undang.40

b. Sifat Penelitian

Sifat penelitian ini merupakan penelitian deskriptif atau menggambarkan sifat, peristiwa dan gejala. Hal tersebut dikarenakan

38Amiruddin dan Zainal Askin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2003), hlm.118.

39Ibid

40Ibid

(39)

penelitian ini bertujuan untuk memberikan data yang dapat dilihat seteliti mungkin, mengenai pengaturan tenga kerja asing tak terdidik unskilloleh perseoran terbatas penanaman modal asing di Indonesia.

2. Sumber data

Penelitian yuridis normatif menggunakan data sekunder sebagai data utama. Data sekunder yang digunakan dalam skripsi ini adalah data yang diperoleh dari bahan-bahan hukum yang sudah tersedia, antar lain :41

a. Bahan Hukum Primer, Yaitu berupa peraturan perundang- undangan di bidang hukum yan mengikat, antara lain Undang- Undang Republik IndonesiaNomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, Undang-Undang Republik IndonesiaNomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal , Peraturan Presiden Nomor 20 Tahun 2018 Tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing, Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 10 Tahun 2018 Tentang Tata Cara Penggunaan Tenaga Kerja Asing Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2018 Tentang Tata Cara Pemberian Visa dan Izin tinggal bagi tenaga kerja asing.

41Bambang Sugono,Metodologi Penelitian Hukum , (Jakarta: PT.Raja Grapindo Persada,2003), hlm.116.

(40)

b. Bahan Hukum Sekunder, yaitu bahan yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer, seperti doktrin-doktrin yang ada di dalam buku, jurnal, hukum maupun internet.

c. Bahan Hukum Tersier, yaitu bahan-bahan yang dapat memberi petunjuk atau penjelasan terhadap bahan hukum primer atau bahan hukum sekunder seperti kamus hukum dan sebagainya.

3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang dipergunakan didalam penelitian ini adalah dengan cara penelitian kepustakaan ( library research ) yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara mengumpulkan literatur dengan sumber data berupa bahan hukum primer ataupun bahan hukum sekunder yang ada hubungannya dengan permasalahan diatas.

4. Analisis Data

Penelitian skripsi ini yang termasuk pada tipe penelitian hukum normatif, pengolahan data pada hakikatnya adalah untuk membahas dan menganalisa pasal pasal yang berkaitan dengan pengaturan tenaga kerja asing yang tidak terdidik oleh perseroan terbatas penanaman modal asing, yang dianalisa kualitatif. Kemudian data yang diperoleh disusun secara sistematis sehingga didapat gambaran yang komprehensif. Selanjutnya ditarik satu kesimpulan yang dituangkan dalam bentuk mencari bahan angka-angka statistik. Dalam metode ini,

(41)

suatu data yang ada dikaji dengan melalui proses yang berlangsung terhadap fakta-fakta yang diperoleh melalui data sekunder dengan menghubungkan pernyataan yang satu dengan pernyataan lainnya dari data sekunder tersebut.

G. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan terdiri dari V Bab yang masing-masing Bab memiliki sub-babnya tersendiri, yang secara garis besarnya dapat diuraikan sebagai berikut:

Bab I merupakan Bab Pendahuluan, pada bab ini penulis menggambarkan secara umum tentang latar belakang penulisan judul, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penulisan, metodologi penelitian, dan sistematika penulisan yang akan berkenaan dengan permasalahan yang akan dibahas dalam skripsi ini.

Bab II akan membahas mengenai pengaturan hukum terkait keberadaan tenaga kerja asing di Indonesia, pengertian tenaga kerja asing, syarat dan ketentuan keberadaan tenaga asing di Indonesia, serta klasifikasi terhadap hak tenaga kerja asing.

Bab IIImerupakan bab yang akan membahas definisi dari perseoran terbatas penanaman modal asing ,syarat dan ketentuan berdirinya perseroan terbatas penanaman modal asing dan ketentuan terhadap perseroan terbatas penanaman modal asing terkait menggunakan tenaga kerja baik tenaga kerja lokal maupun tenaga kerja asing.

(42)

Bab IV sebagai bab yang akan menguraikan tentang pengaturan tenaga kerja asing tidak terdidik (unskill) oleh perseroan terbatas penanaman modal asing. bagaimana Keberadaan tenaga kerja asing tak terdidik/ unskill labor dan bagaimana Regulasi terkait yang mengatur keberadaan Tenaga kerja unskilloleh perusahaan penanaman modal asing.

Bab V merupakan Penutup, pada bab ini berisi tentang kesimpulan dari semua bab yang telah diuraikan diatas serta mencantumkan yang menjadi saran penulis tentang permasalahan yang diangkat pada judul skripsi ini.

(43)

BAB II

PENGATURAN HUKUM TERHADAP KEBERADAAN TENAGA KERJA ASING INDONESIA

A. Pengertian Tenaga Kerja Asing

Tenaga kerja adalah individu yang sedang mencari ataupun juga sedang melakukan pekerjaan yang menghasilkan berupa barang ataupun jasa dalam memenuhi persyaratan dan juga batas usia yang telah ditetapkan berdasarkan Undang-Undang atas tujuan memperoleh hasil ataupun upah dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.Menurut Dr Payaman Simanjuntaktenaga kerja adalah penduduk yang sudah atau sedang bekerja, yang sedang mencari pekerjaan, dan yang melaksanakan kegiatan lain seperti bersekolah dan mengurus rumah tangga. Secara praksis pengertian tenaga kerja dan bukan tenaga kerja menurutnya hanya dibedakan oleh batas umur.42

Apabila melihat perbedaan istilah tenaga kerja asing menurut Undang- Undang Ketenagakerjaan yang lama hingga yang baru saat ini, pada Undang- Undang Nomor 14 Tahun 1969 ketentuan pokok mengenai tenaga kerja, tidak ada pengertian terkait penjelasan tenaga kerja asing didalam undang undang tersebut, karena pada saat regulasi tersebut berlaku belum memiliki ketentuan dan istilah khusus terhadap tenaga kerja asing. Kemudian setelah aturan tersebut diganti oleh Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1997 dijelaskan bahwa pengertian tenaga kerja asing dari aspek yuridisnya adalah warga negara asing pemegang visa dengan

42https://www.cahkutawaringin.id/pengertian-tenaga-kerja-dan-klasifikasinya/ (diakses pada 08 november 2018 pukul 0.18)

(44)

maksud bekerja di wilayah Indonesia. lalu Undang tersebut di ganti oleh Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan dan istilah tenaga kerja asing masih sama dengan istilah undang-undang sebelumnya.

Melihat dari historis dasar hukum yang pernah berlaku terkait aturan ketenagakerjaan, definisi secara yuridis terkait tenaga kerja asing mulai ada sejak Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1997 dibentuk (Undang-Undang Ketenagakerjaan yang lama).

Tenaga kerja asing adalah tiap orang bukan warga negara Indonesia yang mampu melakukan pekerjaan, baik di dalam maupun di luar hubungan kerja, guna menghasilkan jasa atau barang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Secara umum, tenaga kerja asing dapat definisikan sebagai tenaga kerja yang berasal dari luar negeri yang melakukan pekerjaan tertentu untuk mendapatkan upah dengan majikan.43

Pengertian tenaga kerja asing berdasarkan Pasal 1 angka 13 UU No 13 Tahun 2013 tentang Ketenagakerjaan adalah warga negara asing pemegang visa dengan maksud bekerja di wilayah Indonesia.

Adapun unsur-unsur tenaga kerja asing di Indonesiaadalah sebagai berikut:

1. memiliki pendidikan yang sesuai dengan kualifikasi jabatan yang diduduki oleh TKA.

2. memiliki sertifikat kompetensi yang sesuai dengan kualifikasi jabatan.

3. mengalihkan keahlian pada tenaga kerja pendamping.

4. memiliki nomor wajib pajak bagi Tenaga Kerja Asing.

43Widodo Suryandono, Tenaga Kerja Asing:Analisis Politik dan Hukum (Jakarta:

Yayasan Pusa Obor Indonesia, 2017) hlm 6.

(45)

5. memiliki Itas (Izin tinggal terbatas).

6. bekerja di Perseroan Terbatas ataupun di Instansi Pemerintah.44

Kemudian Terkait dengan orang asing yang menjadi konsulat dan bekerja di kedutaan ataupun di lembaga organisasi internasional juga dikatakan sebagai tenaga kerja asing. Namun tidak diwajibkan untuk memiliki IMTA dan RPTKA, Karena terkait hal tersebut diatur oleh Undang-Undang Republik IndonesiaNomor 37 Tahun 1999 Tentang Hubungan Luar Negeri dan juga dikarenakan para tenaga kerja tersebut menggunakan visa diplomatik untuk melaksanakan tugas di Indonesia.

B. Tujuan Adanya Tenaga Kerja Asing Di Indonesia

Pemerintah telah memiliki sejumlah rencana untuk melakukan pembangunan nasional dan juga pembangunan daerah untuk mencapai cita cita yang telah dituangkan oleh falsafah negara dan dasar hukum Undang-Undang Dasar Tahun 1945. Oleh karena itudalam rangka menyukseskan pembangunan nasional yang sudah direncanakan oleh pemerintah, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional telah menyusun Rencana Pembangunan Nasional 2015-2019 melalui Buku 1 Tentang Agenda Pembangunan Nasional.

Beberapa tujuan pembangunan nasional yang telah dituangkan oleh rencana tersebut yakni:

1. Pembangunan untuk menciptakan pendidikan yang merata

2. Pembangunan untuk menciptakan rakyat Indonesiasehat dan sejahtera

44Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 10 Tahun 2018 Pasal 5

(46)

3. Menciptakan Produktivitas Rakyat dan Daya saing Pasar Internasional dari sektor ekonomi. Adapun Tujuan untuk menyukseskan tujuan pembanguna dari sektor ekonomi, diperlukan rencana seperti berikut:

a. Membangun konektivitas nasional untuk mencapai keseimbangan pembangunan.

b. Membangun transportasi umum massal perkotaan membangun perumahan dan kawasan permukiman.

c. Peningkatan efektivitas, dan efisiensi dalam pembiayaan infrastruktur.

d. Penguatan investasi.45

Apabila melihat rencana pembangunan yang telah disusun pemeritah tersebut, artinya keterlibatan tenaga kerja asing dalam rangka menciptakan rencana pembangunan nasional juga memiliki peran penting untuk memperbaiki sumber daya manusia lokal.

Salah satu subtansi untuk menyukseskan pembangunan nasional adalah penguatan investasi didalam negeri. Arah kebijakan pemerintah dalam melakukan penguatan investasi adalah sebagai penguatan investasi ditempuh melalui dua pilar kebijakan yaitu:

1. Peningkatan iklim investasi dan dan iklim usaha untuk meningkatkan efisiensi proses perijinan bisnis;

2. Peningkatan investasi yang inklusif terutama dari investor domestik.

Kedua pilar kebijakan ini akan dilakukan secara terintegrasi baik di

45Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Rencana Pembangunan Nasional 2015-2019. Republik Indonesiahlm 1-3

(47)

tingkat pusat maupun di daerah. Arah kebijakan yang ditempuh dalam pilar pertama penguatan investasi adalah menciptakan iklim investasi dan iklim usaha yang lebih berdaya saing, baik di tingkat pusat maupun daerah, yang dapat meningkatkan efisiensi proses perijinan, meningkatkan kepastian berinvestasi dan berusaha di Indonesia, serta mendorong persaingan usaha yang lebih sehat dan berkeadilan.46

Adapun strategi yang ditempuh adalah:47

1. Peningkatan kepastian hukum terkait investasi dan usaha,yang terutama dilakukan melalui:

a. Sinkronisasi dan harmonisasi peraturan pusat dan daerah agar kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah daerah dapat selaras dengan kebijakan pemerintah pusat. Salah satu upayanya adalah dengan penyusunan peta jalan harmonisasi regulasi investasi;

b. Penghapusan regulasi dan peraturan di pusat dan daerah yang menghambat dan mempersulit dunia usaha untuk berinvestasi dan berusaha;

c. Penghapusan rente ekonomi yang menyebabkan tingginya biaya perijinan, baik di pusat maupun di daerah;

d. penyediaan tata ruang wilayah kabupaten/kota yang telah dijabarkan ke dalam Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) untuk kepastian perijinan lokasi usaha dan investasi.

46Ibid hlm 104

47Ibid hlm 105

(48)

2. Penyederhanaan prosedur perijinan investasi dan usaha di pusat dan daerah, terutama untuk sektor pengolahan dan jasa, antara lain: sektor migas, jasa transportasi laut, serta sektor industri manufaktur berbasis sumber daya alam.

3. Pengembangan layanan investasi yang memberikan kemudahan, kepastian, dan transparansi proses perijinan bagi investor dan pengusaha, melalui:

a.Optimalisasi penyelenggaraan PTSP di daerah, antara lain dengan pendelegasian atau pelimpahan wewenang dari lembaga/instansi yg memiliki kewenangan.

b. Pendirian Pelayanan Terpadu Satu Pintu–tingkat Pusat (PTSP- Pusat), untuk menyatukan perijinan tingkat pusat pada satu tempat layanan perijinan. Adapun langkah yang akan dilakukan, antara lain adalah: - Pengembangan kelembagaan PTSP-Pusat - Penyederhanaan dan standarisasi prosedur, pengembangan proses perijinan secara paralel untuk menghemat waktu, serta pengembangan layanan pengaduan permasalahan perijinan; - Penciptaan transparansi dan akuntabilitas proses perijinan, sehingga dapat meningkatkan kepastian waktu dan kredibilitas layanan; - Pengembangan trackingsystem perijinan di PTSPPusat;48

48Ibid hlm 106

Referensi

Dokumen terkait

Pada sistem pengendalian berhirarki optimasi level pertama menggunakan Linear Quadratic Regulator (LQR), sedangkan pada level kedua digunakan metode interaction

Agar penulisan laporan ini tidak mengembang dan menyimpang ke arah lain, maka penulis menetapkan batasan masalah sebagai perencanaan sistem informasi purchase

Kemudian keesokan harinya sekira pukul 08.00 WIB, Terdakwa menunggu dibelakang tembok Lembaga Pemasyarakatan yang telah dijanjikan oleh ABDUL MUIS alias UCOK

Dengan kata lain, tidak ada campur tangan lain (termasuk penyelenggara media massa, dan kekuatan politik dan ekonomi), yang dapat memanipulasi warga masyarakat untuk tujuan yang

Nilai keluaran crisp yang dihasilkan dengan menggunakan Persamaan (2), dan proses selanjutnya yaitu menentukan indikator formalin seperti yang ditunjukkan pada Gambar

Apabila seluruh sumber daya intelektual yang dimiliki perusahaan dapat dikelola dan dimanfaatkan dengan baik maka akan menciptakan value added bagi perusahaan sehingga

Hasil penelitian diperoleh kesimpulan sebagai berikut implementasi program BPJS Kesehatan dalam pelayanan publik di Puskesmas Watubangga telah berjalan dengan baik didukung

Berdasarkan hasil pengujian dan analisa tentang pengaruh variasi waktu penahanan (holding time) dan temperatur pack carburizing terhadap umur lelah baja ST 42, maka