SKRIPSI
Oleh
DINA TANIA GULTOM NIM. 141000043
PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2021
ANALISIS PERSONAL HYGIENE, SANITASI LINGKUNGAN DAN KELUHAN KESEHATAN KULIT PADA NARAPIDANA
DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN PEREMPUAN KELAS IIA MEDAN TAHUN 2020
SKRIPSI
Diajukan sebagai Salah Satu Syarat
untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara
Oleh
DINA TANIA GULTOM NIM. 141000043
PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2021
Telah diuji dan dipertahankan Pada tanggal: 8 September 2020
TIM PENGUJI SKRIPSI
Ketua : Prof. Dr. Dra. Irnawati Marsaulina, M.S.
Anggota : 1. Dr. Surya Dharma, M.P.H.
2. Dr. Sri Malem Indirawati, S.K.M., M. Si.
Personal Hygiene, Sanitasi Lingkungan dan Keluhan Kesehatan Kulit pada
Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan Tahun 2020” beserta seluruh isinya adalah benar karya saya sendiri dan saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku dalam masyarakat keilmuan, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebut dalam daftar pustaka. Atas pernyataan ini, saya siap menanggung risiko atau sanksi yang dijatuhkan kepada saya apabila kemudian ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan dalam karya saya ini, atau klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya saya ini.
Medan, September 2020
Dina Tania Gultom
Abstrak
Kulit merupakan bagian terluar dari tubuh yang melindungi tubuh dari kerusakan atau pengaruh lingkungan yang buruk. Keluhan kesehatan kulit diakibatkan oleh beberapa faktor seperti kebiasaan personal hygiene dan pemeliharaan sanitasi lingkungan. Kepadatan penghuni di Lembaga Pemasyarakatan mengakibatkan minimnya sarana sanitasi sehingga narapidana juga terbatas dalam memelihara personal hygiene. Maka tujuan penelitian yaitu Analisis Personal Hygiene, Sanitasi Lingkungan dan Keluhan Kesehatan Kulit pada Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif yang bersifat survei deskriptif. Penelitian dilakukan pada bulan September 2019 sampai September 2020 di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan. Sampel dari penelitian ini sebanyak 86 orang.
Instrumen penelitian berupa lembar observasi dan kuesioner. Metode analisis data menggunakan analisis univariat dan disajikan pada tabel distribusi frekuensi.
Hasil penelitian menyatakan narapidana yang mengalami keluhan kesehatan kulit dengan proporsi terbanyak adalah umur 26-45 tahun (47,7%), berpendidikan SD- SMP/MTs (38,4%), dan pada masa tahanan ≥ 3 tahun (57,1%). Narapidana yang mengalami keluhan kesehatan kulit sebanyak 75 orang (87,2%). Jenis keluhan kesehatan kulit yang paling banyak dialami narapidana seperti gatal-gatal pada kulit (57%), kulit terasa kering (60,5%), dan kulit terasa kasar seperti bersisik (55,8%). Personal hygiene narapidana tergolong kategori cukup. Namun personal hygiene narapidana termasuk kategori buruk dengan proporsi tertinggi yaitu dalam hal kebersihan penggunaan tempat tidur dan sprei (50%), akan tetapi kondisi sanitasi lingkungan di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan termasuk dalam kriteria memenuhi syarat.
Kata Kunci: Kulit, hygiene, sanitasi, lembaga pemasyarakatan
such as personal hygiene habits and maintenance of environmental sanitation.
Occupant density in the Penitentiary were resulted in the lack of sanitation facilities, so that the prisoners were also limited in maintaining personal hygiene.
Then, the purpose of the study is for Analysis of Personal Hygiene, Environmental Sanitation and Skin Health Complaints in Prisoners at Class IIA Women's Penitentiary Medan. Type of the research is a quantitative research which is a descriptive survey. The study was conducted in September 2019 until September 2020 at the Class IIA Women's Penitentiary Medan. The sample of this study were 86 people. The research instruments were in the form of observation sheets and questionnaires. Data analysis method are using univariate analysis and presented in the frequency distribution table. The results showed that the prisoners who experienced skin health complaints with the highest proportion were aged 26-45 years (47.7%), educated at SD-SMP/MTs (38.4%), and in detention ≥ 3 years (57.1% ). Prisoners who experienced skin health complaints were 75 people (87.2%). Skin health complaints most experienced by prisoners were skin itching (57%), dry skin (60.5%), and skin feeling rough like scaly (55.8%). The personal hygiene of prisoners were in the sufficient category. Personal hygiene of prisoners classified in the bad category with the highest proportion was the cleanliness of beds and bed linen (50%), however the environmental sanitation conditions at the Class IIA Women's Penitentiary Medan were included in the eligibility criteria.
Key words: Skin, hygiene, sanitation, penitentiary
Kata Pengantar
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas segala berkat yang telah diberikan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Analisis Personal Hygiene, Sanitasi Lingkungan dan Keluhan Kesehatan Kulit pada Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan Tahun 2020”. Skripsi ini adalah salah satu syarat yang ditetapkan untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
Selama proses penyusunan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak baik moril maupun materil. Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H., M.Hum. selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
3. dr. Devi Nuraini Santi, M.Kes selaku Kepala Departemen Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
4. Prof. Dr. Dra. Irnawati Marsaulina, M.S. selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang telah meluangkan waktu dan dengan sabar memberikan bimbingan, arahan, dan masukan kepada penulis dalam penyempurnaan skripsi ini.
6. Dian Apriyanti, Amd selaku Pegawai Departemen Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara
7. Iskandar, S.H., M. Si selaku Kepala Sub Bagian Tata Usaha Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan yang telah mengizinkan penulis melakukan penelitian di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan.
8. Marlia Rezeki Santoso, A.Md, IP., S.H. selaku Kepala Seksi Pembinaan dan Pendidikan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Medan.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Maka dari itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dalam penyempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat memberikan hal yang bermanfaat dan menambah wawasan bagi pembaca dan khususnya bagi seluruh mahasisa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera.
Medan, September 2020
Dina Tania Gultom
Daftar Isi
Halaman
Halaman Persetujuan i
Halaman Penetapan Tim Penguji ii
Halaman Pernyataan Keaslian Skripsi iii
Abstrak iv
Abstract v
Kata Pengantar vi
Daftar Isi viii
Daftar Tabel x
Daftar Gambar xii
Daftar Lampiran xiii
Daftar Istilah xiv
Riwayat Hidup xv
Pendahuluan 1
Latar Belakang 1
Perumusan Masalah 5
Tujuan Penelitian 6
Tujuan umum 6
Tujuan khusus 6
Manfaat Penelitian 7
Manfaat teoritis 7
Manfaat praktis 7
Tinjauan Pustaka 9
Personal Hygiene 9
Sanitasi Lingkungan 11
Kulit 14
Landasan Teori 24
Kerangka Konsep 26
Metode Penelitian 27
Jenis Penelitian 27
Lokasi dan Waktu Penelitian 27
Populasi dan Sampel 27
Variabel dan Definisi Operasional 29
Metode Pengumpulan Data 30
Metode Pengukuran 31
Metode Analisis Data 35
Karakteristik individu 37
Personal hygiene 39
Sanitasi lingkungan 49
Keluhan kesehatan kulit 51
Pembahasan 57
Karakteristik Individu 57
Umur 57
Tingkat pendidikan 57
Masa tahanan 58
Personal Hygiene 58
Kebersihan kulit 58
Kebersihan tangan, kaki dan kuku 59
Kebersihan rambut 59
Penggunaan pakaian 60
Penggunaan handuk 60
Penggunaan tempat tidur dan sprei 61
Sanitasi Lingkungan 61
Penyediaan air bersih 62
Kamar mandi 62
Pengelolaan sampah 63
Pengelolaan air limbah 64
Keluhan Kesehatan Kulit 64
Keterbatasan Penelitian 65
Kesimpuan dan Saran 66
Kesimpulan 66
Saran 67
Daftar Pustaka 68
Lampiran 71
Daftar Tabel
No Judul Halaman
1 Distribusi Narapidana Menurut Blok Kamar di Lembaga
Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan Tahun 2020 36 2 Distribusi Penyakit/Keluhan Kesehatan pada Narapidana
di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan
Tahun 2020 37
3 Distribusi Responden Berdasarkan Umur di Lembaga
Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan Tahun 2020 38 4 Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan di
Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan
Tahun 2020 38
5 Distribusi Responden Berdasarkan Masa Tahanan di Lembaga
Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan Tahun 2020 38 6 Distribusi Frekuensi Kebersihan Kulit di Lembaga
Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan Tahun 2020 39 7 Kategori Kebersihan Kulit di Lembaga Pemasyarakatan
Perempuan Kelas IIA Medan Tahun 2020 40
8 Distribusi Frekuensi Kebersihan Tangan, Kaki dan Kuku di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan
Tahun 2020 40
9 Kategori Kebersihan Tangan, Kaki dan Kuku di Lembaga
Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan Tahun 2020 42 10 Distribusi Frekuensi Kebersihan Rambut di Lembaga
Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan Tahun 2020 42 11 Kategori Kebersihan Rambut di Lembaga Pemasyarakatan
Perempuan Kelas IIA Medan Tahun 2020 44
12 Distribusi Frekuensi Penggunaan Pakaian di Lembaga
Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan Tahun 2020 44
Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan Tahun 2020 46 15 Kategori Penggunaan Handuk di Lembaga Pemasyarakatan
Perempuan Kelas IIA Medan Tahun 2020 48
16 Distribusi Frekuensi Penggunaan Tempat Tidur dan Sprei di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan
Tahun 2020 48
17 Kategori Penggunaan Tempat Tidur dan Sprei di Lembaga
Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan Tahun 2020 49 18 Distribusi Frekuensi Sanitasi Lingkungan di
Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan
Tahun 2020 50
19 Distribusi Keluhan Kesehatan Kulit pada Responden di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan
Tahun 2020 51
20 Distribusi Jenis Keluhan Kesehatan Kulit di Lembaga
Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan Tahun 2020 52 21 Distribusi Keluhan Kesehatan Kulit Berdasarkan Karakteristik
Responden pada Responden di Lembaga Pemasyarakatan
Perempuan Kelas IIA Medan Tahun 2020 53
22 Distribusi Keluhan Kesehatan Kulit Berdasarkan Kategori Personal Hygiene pada Responden di Lembaga
Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan Tahun 2020 55
Daftar Gambar
No Judul Halaman
1 Kerangka konsep 26
1 Kuesioner Karakteristik Responden 71
2 Kuesioner Personal Hygiene 72
3 Lembar Observasi Fasilitas Sanitasi Lingkungan di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan
Kelas IIA Medan 79
4 Kuesioner Keluhan Kesehatan Kulit 81
5 Kondisi Fasilitas Sanitasi di Lembaga
Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan 82
Daftar Istilah
Lapas Lembaga Pemasyarakatan
LPP Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Rutan Rumah Tahanan
SPAL Saluran Pembuangan Air Limbah WBP Warga Binaan Pemasyarakatan WHO World Health Organization
Medan pada tanggal 23 Januari 1997. Penulis beragama Kristen Protestan, anak kedua dari tiga bersaudara dari pasangan Bapak Drs. A. Gultom dan Ibu M.
Batubara.
Pendidikan formal dimukai dari pendidikan sekolah dasar di SD Negeri 066663 Balam tahun 2002-2008, pendidikan sekolah menengah pertama di SMP Swasta Trisakti 2 Medan tahun 2008-2011, sekolah menengah atas di SMA Swasta Indonesia Membangun Medan tahun 2011-2013, selanjutnya penulis melanjutkan pendidikan di Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
Medan, September 2020
Dina Tania Gultom
Pendahuluan
Latar Belakang
Penyakit kulit merupakan penyakit paling banyak ditemukan di negara beriklim tropis, diantaranya yaitu Indonesia. Prevalensi penyakit kulit berkisar 20% - 80% pada negara berkembang (Hay R, 2006). Temperatur dan kelembaban pada negara tropis dapat berubah setiap waktu yang dapat mempermudah perkembangan penyakit kulit seperti penyakit kulit yang disebabkan jamur, parasit dan bakteri (Putra, 2008). Permasalahan pada gangguan kesehatan kulit seperti kulit mengering, tekstur kulit yang kasar, kulit bersisik, jerawat, ruam pada kulit, dermatitis dan pengelupasan lapisan epidermis (Perry, 2005).
Berdasarkan Data Profil Kesehatan Indonesia tahun 2009 menjelaskan bahwa penyakit kulit dan jaringan subkutan lainnya berada di urutan ketiga dari sepuluh jumlah penyakit terbanyak di rumah sakit se-Indonesia pada pasien rawat jalan dengan jumlah kunjungan yaitu sekitar 371.673 kunjungan dan total kasus 247.256 kasus (Kementerian Kesehatan RI, 2010).
Menurut Achmadi (2017), penyakit adalah hasil interaktif antara perilaku atau kebiasaan manusia terhadap komponen lingkungan yang memiliki potensi penyakit, hal ini dikenal sebagai proses kejadian penyakit. Menurut Budiman dan Suyono (2019), cara penularan penyakit kulit dapat secara kontak langsung atau melalui peralatan seperti baju, handuk, sprei, tikar, bantal, dan lain-lain. Beberapa cara dapat dilakukan terhadap pencegahan penyakit kulit ini seperti menjaga kebersihan diri dan menjaga kebersihan lingkungan. Menurut Isro’in dan Andarmoyo (2012), personal hygiene merupakan tindakan memelihara kebersihan
dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan baik fisik maupun psikis. Menurut Maharani (2015), salah satu faktor penyebab terjadinya penyakit kulit yaitu sanitasi lingkungan. Lingkungan dengan sanitasi yang tidak sehat dan tidak terjaga dapat mempengaruhi perjalanan penyakit, penyebab terjangkit penyakit dan berperan sebagai media transmisi penyakit. Berdasarkan Undang-Undang No.
23 Tahun 1992 menjelaskan bahwa sasaran dari pelaksanaan kesehatan lingkungan salah satunya adalah lingkungan pemukiman meliputi rumah tinggal, asrama atau yang sejenisnya (Sari, 2019).
Berdasarkan Keputusan Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia RI Nomor: M. 01. PL. 01. 01. Tahun 2003 mencantumkan bahwa Lembaga Pemasyarakatan yang disebut dengan Lapas adalah tempat membina narapidana dan anak didik pemasyarakatan. Berdasarkan Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. 11 tahun 2017, keadaan rumah tahanan atau lembaga pemasyarakatan telah overcrowded hampir di seluruh Indonesia.
Rumah tahanan atau lembaga pemasyarakatan di Indonesia memiliki kapasitas ideal sekitar 119.860 orang, namun jumlah Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) sebesar 209.417 orang, maka terjadi kelebihan kapasitas sekitar 75%. Hal tersebut berakibat pada terbatasnya sarana sanitasi maka penghuni rumah tahanan atau Lapas juga terbatas dalam memelihara personal hygiene (kebersihan perorangan).
Dengan demikian, keadaan seperti itu dapat berisiko terjadi penularan penyakit.
Saat ini sarana hunian di lembaga pemasyarakatan tidak sesuai yang disyaratkan oleh kesehatan seperti kebersihan, ventilasi, dan peralatan tidur yang nyaman bagi narapidana (Rismaninggar, 2009). Menurut Humananda, dkk (2014),
3
narapidana yang mengalami masalah kesehatan di lembaga pemasyarakatan dikarenakan kapasitas yang berlebih sehingga berisiko penyakit menular, deteksi penyakit yang lambat, ruangan isolasi yang kurang, dan pengobatan yang tidak tepat. Menurut Purwoastuti (2015), angka kesakitan lebih tinggi dari kalangan wanita sedangkan angka kematian lebih tinggi dikalangan pria maka hal ini dapat dihubungkan bahwa wanita lebih bebas untuk mencari perawatan.
Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan (LPP) menyediakan 55 ruangan sel yang terdiri dari 47 buah kamar besar dan 8 buah kamar kecil. Setiap kamar besar berukuran 5×6 m2 dan penghuni 15 orang narapidana per kamar sedangkan setiap kamar kecil berukuran 3×4 m2 dan penghuni 3 orang narapidana per kamar. Maka dapat diketahui ruang tahanan narapidana mengalami kepadatan hunian. Seperti pada hunian di kamar besar dengan ukuran 5×6 m2 dan penghuni 15 orang, maka setiap narapidana mempunyai kapasitas kepadatan hunian sebesar 2 m2 per orang dan hal ini tidak sesuai persyaratan berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 829/Menkes/SK/VII/1999 yang menganjurkan luas ruangan minimal 8 m² dan tidak digunakan > 2 orang (4 m2 per orang).
Menurut Achmadi (2011), kepadatan penghuni berpengaruh terhadap proses penularan atau perpindahan penyakit ke orang lain. Meskipun beberapa penyakit yang diderita oleh suatu kelompok atau komunitas tidak spesifik, multiple agents, dan multiple simptomps (gejala) sehingga penyebab dan akibat sulit ditentukan. Parameter lingkungan dan sanitasi dasar yang buruk berdampak
pada berbagai gejala seringkali menunjukkan tingkat hubungan yang tinggi dengan cara melakukan analisis hubungan.
Beberapa penelitian telah dilakukan dalam menunjukkan personal hygiene, sanitasi lingkungan, dan kejadian penyakit kulit mempunyai hubungan, diantaranya berdasarkan penelitian yang dilakukan Frenki (2011) di Pesantren Darel Hikmah menjelaskan ada hubungan personal hygiene seperti kebersihan kulit, kebersihan tangan dan kuku, kebersihan genitalia, kebersihan pakaian, kebersihan handuk, kebersihan tempat tidur dan sprei terhadap kejadian penyakit kulit. Sama halnya berdasarkan penelitian yang dikemukakan oleh Agsa Sajida (2012) tentang Hubungan Personal Hygiene dan Sanitasi Lingkungan dengan Keluhan Penyakit Kulit di Kelurahan Denai Kecamatan Denai Kota Medan menyatakan ada hubungan bermakna kebersihan kulit, kebersihan tangan dan kuku, kebersihan pakaian, kebersihan handuk, kebersihan tempat tidur dan sprei, kebersihan sanitasi lingkungan terhadap keluhan penyakit kulit di Kelurahan Denai Kecamatan Denai Kota Medan.
Survei pendahuluan peneliti di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan, beberapa narapidana mengungkapkan bahwa persediaan air bagi narapidana lancar dan mencukupi namun sumber air bersih yang disediakan bagi narapidana menggunakan air sumur bor sehingga air yang digunakan narapidana terlihat sedikit keruh. Pencahayaan dan ventilasi mencukupi di tiap kamar namun kondisi di dalam kamar terasa lembab. Persediaan jemuran di luar kamar sangat minim mengakibatkan narapidana menjemur pakaian di gerbang
5
depan kamar. Hal ini memperhambat pencahayaan alami masuk ke dalam kamar narapidana.
Menurut pernyataan dari beberapa narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan, keadaan lembab di dalam kamar memicu perkembangan dan pertumbuhan beberapa serangga dan hewan berukuran kecil lainnya seperti tomcat (semut semai), tungau, cacing, kelabang, dan lain-lain. Keberadaan beberapa serangga dan hewan berukuran kecil lainnya sangat menggangu dan meresahkan narapidana serta menyebabkan sejumlah narapidana mengeluhkan gangguan kesehatan pada kulit seperti gatal-gatal, kulit memerah di bagian tubuh tertentu bahkan hampir di seluruh bagian tubuh dan kulit mengalami pengelupasan serta permukaan kulit bergelembung berisi cairan.
Hal ini sesuai Data Laporan dari Poliklinik Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan tahun 2020 mencantumkan jumlah penyakit kulit pada bulan April 2020 sampai bulan Juni 2020 termasuk dalam 3 terbanyak dari beberapa penyakit lainnya yang dialami narapidana dan hal ini akan selalu dialami narapidana dengan jumlah yang cukup banyak setiap bulan.
Perumusan Masalah
Kejadian penyakit kulit merupakan keluhan kesehatan yang sering dialami narapidana di Lembaga Pemasyarakatan. Maka rumusan yang diperoleh yaitu bagaimana personal hygiene, sanitasi lingkungan dan keluhan kesehatan kulit pada narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan tahun 2020.
Tujuan Penelitian
Tujuan umum. Penelitian dilakukan untuk menganalisis personal hygiene, kondisi sanitasi lingkungan dan keluhan kesehatan kulit pada narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan.
Tujuan khusus. Penelitian bertujuan untuk mengetahui beberapa variabel yang akan dianalisis antara lain:
a. Mengetahui karakteristik individu pada narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan.
b. Mengetahui kebiasaan kebersihan kulit pada narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan.
c. Mengetahui kebiasaan kebersihan tangan, kaki dan kuku pada narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan.
d. Mengetahui kebiasaan kebersihan rambut pada narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan.
e. Mengetahui kondisi penggunaan pakaian pada narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan.
f. Mengetahui kondisi penggunaan handuk pada narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan.
g. Mengetahui kondisi penggunaan tempat tidur dan sprei pada narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan.
h. Mengetahui kondisi sanitasi lingkungan di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan.
7
i. Mengetahui keluhan kesehatan kulit yang dialami narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan.
Manfaat Penelitian
Manfaat teoritis. Penelitian diharapkan dapat meningkatan wawasan serta dapat menerapkan praktik personal hygiene dan sanitasi lingkungan serta memahami keluhan kesehatan kulit pada narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan.
Manfaat praktis. Penelitian bermanfaat bagi pihak-pihak terkait dalam mengembangkan serta memperbaiki instansi maupun kelompok tertentu meliputi:
Bagi lembaga pemasyarakatan perempuan kelas IIA Medan. Penelitian sebagai masukan dan pertimbangan dalam perancangan dan pelaksanaan program- program terkait peningkatan kesehatan bagi narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan terutama mengenai personal hygiene dan kondisi sanitasi lingkungan.
Bagi narapidana. Penelitian sebagai penambah pengetahuan dan mengembangkannya dalam praktik di kehidupan sehari-hari bagi seluruh narapidana terkait memperbaiki hidup dari segi kesehatan perorangan dan lingkungan.
Bagi fakultas kesehatan masyarakat. Penelitian sebagai penambah daftar kepustakaan terutama hal yang berkaitan dengan personal hygiene, kondisi sanitasi lingkungan dan keluhan kesehatan kulit yang terjadi di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan.
Bagi peneliti. Penelitian ini dilakukan sebagai penambah wawasan bagi penulis tentang personal hygiene, sanitasi lingkungan dan keluhan kesehatan kulit yang terjadi pada Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan.
Tinjauan Pustaka
Personal Hygiene
Definisi personal hygiene. Personal hygiene berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari kata personal yaitu perorangan dan hygiene yaitu sehat. Maka personal hygiene merupakan tindakan memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan baik fisik maupun psikis (Isro’in dan Andarmoyo, 2012).
Tujuan personal hygiene. Personal hygiene memiliki beberapa tujuan menurut Isro’in dan Andarmoyo (2012) yaitu:
1. Peningkatan derajat kesehatan 2. Pemeliharaan kebersihan diri 3. Memperbaiki personal hygiene 4. Pencegahan penyakit
5. Menciptakan keindahan 6. Rasa percaya diri meningkat
Macam-macam personal hygiene. Macam-macam personal hygiene menurut Isro’in dan Andarmoyo (2012), yaitu:
Kebersihan kulit. Pemeliharaan kebersihan kulit perlu memperhatikan
kebiasaan sehat seperti menggunakan barang milik sendiri, mandi menggunakan sabun minimal 2 kali sehari, menjaga kebersihan pakaian dan lingkungan (Djuanda, 2010).
Pakaian bersentuhan langsung dengan kulit sehingga pakaian yang basah karena keringat dan kotoran yang dikeluarkan tubuh dapat menjadi tempat perkembangbiakan bakteri di kulit dan menimbulkan bau (Irianto, 2007).
Penggunaan handuk dianjurkan tidak boleh bersama-sama, hal ini dapat mempermudah penularan bakteri ke orang lain. Jika handuk tidak dijemur di bawah sinar matahari dan dicuci dalam jangka waktu yang lama maka dapat memungkinkan penambahan jumlah bakteri dan sangat berisiko penularan ke orang lain (Lita, 2005).
Kebersihan tangan, kaki dan kuku. Menurut World Health Organization,
kebersihan tangan adalah setiap kegiatan membersihkan tangan dengan menggosok tangan menggunakan handrub (larutan berbasis alcohol) atau mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir. Pencucian tangan dilakukan tanpa ada perhiasan, jam tangan, kuku palsu atau diwarnai dan kuku terpotong pendek (Wijaya, 2018). Menurut Isro’in dan Andarmoyo (2012), menjaga kebersihan kaki dan tangan yang baik dimulai dengan membasuh menggunakan air bersih, mencuci dengan sabun, dan mengeringkan dengan handuk.
Kebersihan rambut. Pemeliharaan kebersihan rambut dan kulit kepala
perlu dijaga agar tetap sehat. Oleh karena itu dianjurkan mencuci rambut dilakukan 2 kali seminggu menggunakan sampo dan gunakan alat-alat memelihara rambut milik sendiri (Perry, 2005).
Kebersihan rongga mulut dan gigi. Mulut beserta organ di dalamnya mempunyai peran penting, sehingga hygiene mulut adalah perawatan yang penting. Higiene mulut dapat menjaga mulut, gigi, gusi dan bibir. Kebersihan
11
higiene mulut ditentukan oleh volume saliva, plak gigi dan flora mulut. Saliva merupakan komponen penting dalam sistem imun mulut. Penurunan produksi saliva mengakibatkan mulut kering dan memicu terbentuknya plak gigi (Isro’in dan Andarmoyo, 2012).
Kebersihan mata, telinga dan hidung. Kesehatan dan kebersihan mata,
telinga dan hidung yang kurang dijaga dapat menyebabkan timbulnya berbagai masalah kesehatan yaitu infeksi pada mata, telinga dan hidung (Isro’in dan Andarmoyo, 2012).
Sanitasi Lingkungan
Pengertian sanitasi lingkungan. Menurut World Health Organization, sanitasi adalah upaya mengendalikan faktor lingkungan yang menjadi mata rantai penularan penyakit (Sucipto, 2019). Menurut Maharani (2015), sanitasi lingkungan merupakan kegiatan untuk mempertahankan dan meningkatkan standar kondisi lingkungan yang dapat mempengaruhi kesejahteraan manusia mencakup pasokan air yang bersih dan aman, pembuangan limbah dari hewan, manusia dan industri yang efisien, perlindungan makanan dari kontaminasi biologis dan kimia, udara serta ruangan yang bersih dan aman.
Media lingkungan yang berhubungan atau berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat terutama untuk keperluan hygiene dan sanitasi yaitu media air (Budiman dan Suyono, 2019). Tempat tinggal yang sehat harus didukung dengan fasilitas-fasilitas sebagai sanitasi yaitu penyediaan air bersih yang cukup, pembuangan tinja, pembuangan air limbah, dan pembuangan sampah (Notoatmodjo, 2011).
Manfaat sanitasi lingkungan. Beberapa manfaat yang dapat dirasakan jika menjaga sanitasi di lingkungan antara lain (Widyati dan Yuliarsih, 2002):
a) Pencegahan penyakit menular b) Mencegah kecelakaan
c) Mencegah bau tak sedap d) Menghindari pencemaran
e) Jumlah (persentase) sakit berkurang
f) Menciptakan lingkungan bersih, sehat dan nyaman
Cakupan sanitasi lingkungan. Menurut Santoso (2019), fasilitas sanitasi harus memenuhi persyaratan dari segi penyediaan air bersih, toilet dan kamar mandi, pengelolaan sampah, dan pengelolaan air limbah.
Penyediaan air bersih. Air yang sehat harus mempunyai persyaratan
sebagai berikut:
1. Kualitas : Tersedia air bersih yang memenuhi syarat kesehatan (fisik, kimia dan bakterilogis).
2. Kuantitas : Tersedia air bersih minimal 60 liter/orang/hari.
3. Kontinuitas : Air minum dan air bersih tersedia pada setiap.
tempat kegiatan yang membutuhkan secara berkesinambungan Toilet dan kamar mandi. Aspek kesehatan toilet dan kamar mandi yaitu:
1. Toilet dan kamar mandi selalu bersih.
2. Lantai dari bahan yang kedap air, kuat dan tidak licin, berwarna terang, dan mudah dibersihkan.
13
3. Toilet dan kamar mandi harus dilengkapi pembuangan air limbah yang dilengkapi dengan penahan bau (water seal).
4. Toilet dan kamar mandi tidak berada langsung dengan tempat pengelolaan makanan (dapur, ruang makan).
5. Lubang penghawaan berhubungan langsung dengan udara dari luar.
6. Toilet dan kamar mandi bagi petugas/pengurus terpisah dari toilet penghuni dan tidak ada tempat penampungan atau genangan air.
7. Jumlah penghuni dengan jumlah jamban dan kamar mandi untuk penghuni berjumlah 15 orang harus menyediakan satu jamban dan kamar mandi.
Menurut Sucipto (2019), jamban yang memenuhi syarat kesehatan adalah tidak mengotori sumber air bersih, kotoran tidak dapat dijangkau oleh serangga dan tikus, tidak berbau, mudah dibersihkan, letak jamban dengan sumber air minimal 10 meter. Pada umumnya jenis jamban yang dikenal adalah cemplung dan leher angsa, namun jamban jenis leher angsa lebih baik dibanding jenis cemplung karena jenis leher angsa terdapat air berfungsi sebagai pengontrol bau dan jangkauan serangga jika dibandingkan cemplung tinja langsung jatuh di tempat penampungan. .
Pengelolaan sampah. Tempat sampah yang dipersyaratkan yaitu :
1. Tempat sampah terbuat dari bahan yang kuat, tahan karat, permukaan bagian dalam rata/licin dan dilengkapi penutup.
2. Pengosongan tempat sampah setiap 1 × 24 jam atau 2/3 bagian telah terisi penuh.
3. Penyediaan tempat sampah minimal 1 buah setiap radius 10 meter dan juga harus tersedia jarak 20 meter dari ruang tunggu dan ruang terbuka.
4. Pembuangan sampah sementara harus mudah dikosongkan, tidak terbuat dari beton permanen, lokasi mudah dijangkau kendaraan pengangkut sampah dan dikosongkan 3×24 jam.
Pengelolaan air limbah. Persyaratan pengelolaan air limbah yaitu sistem
pengelolaan air limbah milik sendiri atau memenuhi persyaratan teknis jika belum tersedia dan tidak terjangkau oleh sistem pengolahan air limbah perkotaan.
Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL) mudah mengalir dan tertutup sehingga air limbah tidak tergenang dan tidak berpotensi sebagai tempat perkembangbiakan vektor serta berguna untuk aspek estetika. Syarat penampungan air limbah menurut Sucipto (2019) yaitu bahan kuat dan kokoh, ramah lingkungan dan model septic tank
Kulit
Definisi kulit. Kulit merupakan organ terbesar tubuh dengan luas sekitar 2 m². Kulit adalah pertahanan pertama dari ancaman dari luar seperti virus dan bakteri. Kulit juga salah satu alat indera (indera peraba) karena terdapat banyak saraf peraba di seluruh permukaan kulit (Maharani, 2015).
Fungsi kulit. Beberapa fungsi kulit yaitu (Maharani, 2015):
1. Kulit sebagai pelindung.
2. Fungsi absorpsi.
3. Kulit sebagai fungsi ekskresi.
15
4. Fungsi persepsi.
5. Kulit sebagai pengaturan suhu tubuh. Kulit sebagai pembentuk vitamin D.
6. Kulit sebagai tempat penyimpanan.
7. Kulit sebagai alat peraba.
8. Kulit sebagai penunjang penampilan.
Anatomi kulit. Menurut Susanti (2018), kulit terdiri dari 3 lapisan pokok antara lain:
Lapisan epidermis. Epidermis terdapat lima lapisan yaitu lapisan tanduk,
stratum lusidum, lapisan granular, lapisan malpighi, dan lapisan basal. Epidermis juga terdapat kelenjar keringat, kelenjar sebaseus, rambut dan kuku.
Lapisan dermis. Dermis terdiri dari jaringan ikat yang tersusun rapat pada
lapisan atas (pars papillaris) dan tersusun lebih longgar pada lapisan bawah (pars reticularis). Lapisan pars reticularis mengandung pembuluh darah, saraf, rambut, kelenjar keringat dan kelenjar sebaseus.
Lapisan subkutan (subkutis atau hipodermis). Jaringan subkutan
memiliki saraf, pembuluh darah dan limfe, serta kandungan rambut. Jaringan subkutan pada lapisan atas terdapat kelenjar keringat. Jaringan subkutan berperan sebagai penahan panas, bantalan terhadap trauma dan tempat penumpukkan energi.
Kelengkapan kulit. Kulit tidak dapat berdiri sendiri, di setiap permukaan kulit selalu terdapat organ tubuh yang lain. Organ-organ yang melengkapi permukaan kulit yaitu kuku dan rambut (Maharani, 2015).
Gejala keluhan kesehatan kulit. Menurut Maharani (2015) untuk mempermudah dalam menegakkan diagnosis suatu penyakit agar bisa melakukan penanganan terapeutik, maka perlu dikenali perubahan kulit berupa keluhan yang diamati secara klinis yaitu efloresen. Efloresensi kulit atau ruam kulit terdiri dari:
Efloresen primer. Efloresen primer terdapat pada kulit normal.
Bercak (Macula). Perubahan warna kulit seperti dilatasi pembuluh darah (eritema), darah masuk ke jaringan, hiperpigmentasi atau depigmentasi.
Urtica. Bentol-bentol di kulit berwarna merah muda sampai putih disebabkan oleh udem.
Papula. Ukuran seperti kepala jarum pentul sampai sebesar kacang hijau dikarenakan penebalan epidermis secara lokal atau perbanyakan sel dalam korium.
Tuber (Nodus). Menyerupai papula, akan tetapi tuber lebih besar.
Vesikel. Ukuran seperti kepala jarum pentul sampai sebesar biji kapri, rongga beruang satu atau banyak yang berisi cairan. Vesikel terjadi pada jaringan subepitel atau intraepitel.
Bulla. Menyerupai vesikel, hanya agak besar dan beruang satu.
Pustula. Vesikel berisi nanah, terdapat di kulit yang berubah karena peradangan atau terdapat di folikel rambut.
Urtika. Tonjolan di permukaan kulit akibat edema setempat dan perlahan- lahan dapat hilang, seperti pada dermatitis medikamentosa dan gigitan serangga.
Tumor. Tonjolan di permukaan kulit karena pertumbuhan sel atau jaringan tubuh.
17
Kista. Tonjolan di permukaan kulit berupa kantong berisi cairan serosa, padat atau setengah padat.
Plak. Permukaan kulit mengalami peninggian dan berisi zat padat (biasanya infiltrate), diameter 2 cm atau lebih.
Abses. Kumpulan nanah pada jaringan atau dalam kutis dan subkutis.
Efloresen sekunder. Efloresen sekunder berkembang pada kulit yang
berubah.
Ketombe. Pecahan-pecahan stratum corneum.
Crusta. Pengeringan eksudat, nanah, darah atau obat. Dibawahnya terdapat kulit yang berubah.
Erosio. Permukaan kulit mengalami kerusakan dan penyembuhan terjadi tanpa pembentukan luka parut.
Ulcus. Komponen kulit hilang pada bagian yang lebih dalam, epidermis, korium, dan pelengkap juga rusak. Penyembuhan membentuk luka parut.
Likenifikasi. Permukaan kulit mengalami penebalan sehingga lipatan/relief kulit tampak lebih jelas.
Ekskoriasi. Kulit mengalami kerusakan sampai pada ujung stratum papilaris sehingga kulit jadi merah disertai bintik-bintik perdarahan.
Keloid. Proses pertumbuhan hipertrofi yang melampaui batas.
Rhagade. Kulit mengalami kerusakan dalam bentuk celah. Sering terjadi pada kulit yang sering digunakan sehingga bagian kulit menjadi pecah-pecah (pada telapak tangan, ujung bibir atau di antara jari kaki).
Hiperpigmentasi. Penumpukkan pigmen yang berlebih sehingga kulit tampak lebih hitam.
Hipopigmentasi. Kelainan penyebab kulit menjadi lebih putih.
Atrofi. Pengecilan lapisan kulit, pengurangan jumlah kelenjar keringat dan kelenjar sebasea, rambut berkurang, kulit mengkerut dan mudah diangkat dari lapisan bawah.
Abses. Efloresensi berupa kantong berisi nanah di dalam jaringan.
Guma. Kulit jadi rusak yang destruktif, kronik, dengan penyebaran pertiginosa.
Luka Parut (Cicatrix). Kehilangan jaringan ikat pengganti epidermis dan dermis, dapat mencekung dari kulit sekitar (sikatriks atrofi), lebih menonjol (sikatris hipertrofi), dan dapat normal (eutrofi/ luka sayat). Luka parut disebabkan perbaikan tak sempurna dari suatu jaringan yang rusak oleh jaringan ikat.
Jenis-jenis penyakit kulit. Kesehatan kulit yang terganggu dapat menimbulkan penyakit kulit. Penyakit kulit terjadi pada waktu yang lama, penyebabnya kemerahan, pembengkakan, lesi, dan plak di kulit, biasanya menimbulkan rasa gatal. Menurut Maharani (2015), jenis-jenis penyakit kulit yaitu:
Penyakit kulit akibat gangguan inflamasi. Kulit mengalami kemerahan,
pembengkakan, lesi dan plak pada kulit, kulit meradang, melepuh dan berisi cairan, biasanya menimbulkan rasa gatal.
Dermatitis/eksim. Peradangan dan iritasi yang dialami kulit, paling sering terkena pada tangan dan kaki. Jenis eksim yang banyak dijumpai adalah eksim
19
atopik atau dermatitis atopik. Gejala sederhana eksim dikenali dengan muncul kemerahan pada kulit. Namun gejala utama eksim yaitu rasa gatal. Sewaktu-waktu rasa gatal sudah timbul sebelum terdapat kemerahan di kulit. Kemerahan dapat muncul pada wajah, lutut, tangan dan kaki, tapi tidak dapat kemungkinan kemerahan timbul pada daerah tubuh lain. Gejala eksim berupa panas dan dingin yang berlebihan, rasa gatal sering terjadi di malam hari, tampak lepuhan-lepuhan kecil dan kulit disertai pembengkakan, penularan eksim sangat cepat terjadi pada kulit yang lain.
Psoriasis. Psoriasis merupakan proses pergantian kulit yang terlalu cepat.
Proses pergantian kulit pada penderita psoriasis sekitar 2-4 hari, pergantian sel kulit dengan jumlah banyak dan menebal. Gejala-gejala berupa bintik merah yang makin melebar, ditumbuhi sisik putih yang lebar dan berlapis-lapis, menyerang sendi, bernanah serta kulit menjadi merah dengan badan menggigil.
Jerawat. Penyumbatan yang terjadi pada pori-pori kulit sehingga kantung nanah mengalami peradangan. Penyebab jerawat yaitu produksi minyak yang berlebih, penyumbatan lapisan kulit mati pada pori-pori yang terinfeksi, bakteri, kosmetik, obat-obatan, telepon genggam, stres, faktor genetika dari orangtua, faktor hormon, iritasi kulit, dan pil KB. Gejala jerawat berupa benjolan di permukaan kulit atau tekstur kulit tidak merata, kulit menjadi kasar, kulit kemerahan dan meradang, pembengkakan, dan iritasi kulit.
Penyakit kulit diakibatkan karena virus. Gejala awal dari penyebab penyakit ini yaitu demam, ruam kulit, dan gejala lain seperti dingin. Penyakit ini menyebar melalui kontak fisik.
Cacar air. Penyakit menular akibat infeksi virus Varicella zoster yang menginfeksi manusia dengan sifat sistemik yaitu virus menimbulkan reaksi menyeluruh, bukan bersifat lokal. Cacar air menular secara droplet (cairan yang dikeluarkan dari mulut pada waktu bersin, batuk, atau berbicara) yang berpindah pada tubuh orang yang sehat, melalui kontak langsung, serta bersentuhan dengan penderita. Gejala-gejala cacar air antara lain pilek, cepat lelah, lesu dan lemah, tubuh mengalami demam tinggi, sakit kepala, nyeri sendi dan pusing, ruam berisi cairan yang muncul di sekujur tubuh.
Campak. Penyakit yang diakibatkan oleh virus morbillivirus. Seseorang terserang penyakit campak karena terpercik ludah yang terkontaminasi virus.
Penderita mulai menularkan penyakit sekitar 2-4 hari yaitu sebelum timbul ruam- ruam kulit sampai ruam menghilang. Gejala-gejala orang terkena campak seperti demam tinggi 2 hari pertama, rhinitis dan konjungtivitis (peradangan selaput ikat mata), intens cahaya tidak nyaman, disertai dengan batuk kering dan iritasi.
Herpes zoster. Penyakit kulit yang disebabkan oleh virus Varisela zoster yang menetap di akar saraf. Virus Varisela zoster mempengaruhi satu saraf saja, pada satu sisi tubuh. Sesekali 2 atau 3 saraf yang bersebelahan dapat terpengaruh.
Saraf pada kulit dada atau perut dan wajah bagian atas (termasuk mata) yang paling sering terkena. Gejala-gejala penderita herpes zoster seperti demam, pilek, cepat lelah, dan lemah, nyeri sendi, sakit kepala, pusing, sakit seperti terbakar, kulit mudah sensitif selama beberapa hari hingga satu minggu, timbul bintik kemerahan kecil di kulit yang dapat berubah menjadi gelembung-gelembung transparan berisi cairan.
21
Kanker kulit. Penyakit yang terjadi akibat pertumbuhan sel-sel kulit yang abnormal. Kanker kulit biasanya ada di epidermis, sehingga tumor dapat tampak dari luar. Gejala-gejala kanker kulit berupa muncul noda atau tahi lalat (bukan bawaan lahir) disertai rasa gatal serta nyeri dan tidak terdapat garis jelas pada daerah sekitarnya, warna tepi cenderung samar, noda hitam tumbuh hingga lebih dari setengah sentimeter, bentuk asimetris (tidak beraturan), kulit menjadi kasar dan seperti bekas luka. Kesembuhan penyakit kanker kulit dapat dilakukan dengan operasi, kemoterapi, radioterapi, dan pengobatan minimal invasif.
Penyakit kulit yang diakibatkan bakteri. Penyakit kulit akibat infeksi
bakteri skrofuloderma, tuberkulosis kutis, verukosa, kusta (lepra), dan patek.
Impetigo. Penyakit kulit akibat terinfeksi bakteri Staphylococcus aureus dan kadang-kadang oleh bakteri Streptococcus pyogene yang menyebabkan terbentuk lepuhan-lepuhan kecil berisi nanah (pustula). Impetigo terjadi setelah menginfeksi saluran pernapasan atas (misalnya flu atau infeksi virus lainnya).
Impetigo menyebar melalui kulit yang terinfeksi (lesi). Pencegahan dapat dilakukan dengan menghindari kontak dengan lepuhan di kulit, hindari pemakaian handuk, pisau cukur atau pakaian bersamaan dengan penderita dan selalu cuci tangan setelah menangani lesi kulit.
Bisul. Kumpulan nanah (neutrofil mati) yang terakumulasi pada rongga jaringan setelah menginfeksi sesuatu (penyebab umum yaitu bakteri dan parasit) atau barang asing (seperti luka tembakan/tikaman). Penyebab paling banyak adalah bakteri yaitu bakteri Staphylococcus aureus, maka bisul sebagai infeksi lokal pada kulit dalam. Pencegahan bisul melalui perawatan kebersihan kulit
menggunakan sabun cair yang mengandung zat antibakteri untuk mencegah infeksi atau mencegah penularan.
Kusta/hansen. Penyakit infeksi menular kronis akibat bakteri Mycobacterium leprae. Penyakit kusta adalah tipe penyakit granulomatosa di saraf tepi dan mukosa dari saluran pernapasan atas, dan lesi di kulit merupakan tanda mudah diamati dari luar. Jika tidak tertangani, kusta dapat progresif yang menyebabkan kerusakan kulit, saraf-saraf, anggota gerak, dan mata. Tanda-tanda pada kulit penderita kusta berupa bercak kemerahan, keputihan, atau benjolan, kulit tampak mengkilap, bercak tidak gatal, terdapat bagian tubuh yang tidak berkeringat dan tidak berambut, serta terdapat lepuhan tapi tidak megalami nyeri.
Penyakit kulit yang diakibatkan infeksi jamur. Penyakit kulit karena
jamur seperti tinea versikolor, tinea korporis, tinea kruris, pitiaris kapitis, dan sebagainya.
Panu. Penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur Pytrosporum orbiculare.
Jamur Pytrosporum orbiculare adalah bagian flora normal kulit manusia dan menyebabkan gangguan pada keadaan tertentu pada saat banyak berkeringat.
Penyakit ini lebih sering ditemukan di daerah yang beriklim panas (Susanto, 2013). Panu ditandai adanya bercak pada kulit disertai rasa gatal saat berkeringat.
Bercak-bercak bisa berwarna putih, coklat atau merah tergantung warna kulit penderita. Penyakit panu dapat menular dan menyerang di semua bagian kulit seperti pada kulit kepala, lipatan lengan, leher, wajah dan kaki.
Kudis. Penyakit dengan kondisi kulit yang sangat gatal akibat gangguan tungau kecil yang disebut Sarcoptes scabiei. Rasa gatal karena alergi terhadap
23
tungau, telur-telur dan kotoran yang menempel pada tubuh. Gejala yang timbul berupa gatal yang berkelanjutan dan memburuk di malam hari, terdapat lecet atau benjolan kecil dan tipis pada kulit. Menurut Susanto (2013), ciri khas scabies yaitu terjadi gatal-gatal hebat dan memburuk di malam hari dan lubang tungau seperti garis bergelombang dengan panjang 2,5 cm. Lubang tungau dan gatal-gatal dapat ditemukan di sela-sela jari tangan, pada pergelangan tangan, siku, ketiak, di sekitar puting payudara wanita, alat kelamin pria, di sepanjang garis pinggang dan pantat bagian bawah. Lama-lama lubang sulit terlihat karena ditutupi oleh peradangan yang terjadi akibat garukan.
Kurap. Penyakit kulit menular yang disebabkan oleh fungi. Gejala kurap yaitu pada kulit terdapat bagian kecil yang kasar dan dikelilingi lingkaran merah muda. Kurap dapat menular melalui kontak langsung dengan penderita maupun secara tidak langsung (misalnya melalui pakaian).
Ketombe (Pityriasis capitis). Pengelupasan yang terjadi pada kulit mati padda kulit kepala secara berlebihan. Kepala yang terkena ketombe digaruk terus- menerus menyebabkan kerusakan kulit kepala, meningkatkan risiko infeksi dari Staphylococcus aureus dan Streptococcus. Ketombe disebabkan oleh dermatitis seboroik, psoriasis, kulit kepala yang kering, infeksi jamur, stres yang tinggi, kurang menjaga kebersihan kulit kepala, saling berbagi sisir terhadap penderita ketombe serta penggunaan sampo dan kondisioner tidak sesuai jenis kulit kepala.
Kebanyakan kasus ketombe dicegah dengan keramas menggunakan sampo atau pengobatan bebas, mandi setelah melakukan kegiatan berkeringat, dan menerapkan pola hidup sehat.
Landasan Teori
Proses kejadian penyakit merupakan hubungan perilaku manusia dengan komponen lingkungan yang berpotensi bahaya penyakit, dikenal sebagai patogenesis penyakit. Patogenesis penyakit dalam perspektif lingkungan dijelaskan dalam Teori Simpul mencakup simpul 1 sebagai sumber penyakit, simpul 2 adalah komponen lingkungan yang merupakan media transmisi penyakit, simpul 3 merupakan seseorang dengan berbagai variabel kependudukan, simpul 4 merupakan seseorang yang dalam keadaan sehat atau sakit setelah mengalami interaksi dengan komponen lingkungan yang mengandung bibit penyakit atau agent penyakit, dan simpul 5 adalah sekumpulan variabel suprasistem misalnya topografi, iklim atau kebijakan suprasistem seperti politik dan kebijakan (Achmadi, 2017). Simpul 2 sebagai komponen lingkungan, simpul 3 sebagai variabel seseorang/individu dan simpul 4 sebagai dampak atau kondisi yang ditimbulkan, merupakan komponen yang sangat berpengaruh terhadap proses kejadian patogenesis penyakit.
Personal hygiene merupakan bagian dari kebutuhan utama manusia meliputi kesehatan dan kebersihan perorangan agar terhindar dari penyakit.
Kebersihan kulit merupakan tindakan menjaga kebersihan perseorangan seperti mandi 2 kali sehari menggunakan sabun untuk mencegah penyakit menular (Tarwoto dan Wartonah, 2003). Perilaku hidup yang tidak sehat seperti tidak mencuci tangan sebelum atau sesudah makan, mencuci atau mandi dengai air yang kotor merupakan perilaku yang dapat mengundang terjangkit penyakit (Maharani, 2015). Hasil penelitian oleh Agsa Sajida (2012) telah menunjukkan
25
bahwa kebersihan kulit mempunyai hubungan signifikan terhadap keluhan penyakit kulit.
Sanitasi lingkungan merupakan kegiatan meningkatkan dan mempertahankan standar kondisi lingkungan yang mendasar serta mempengaruhi kesejahteraan manusia seperti pasokan air yang bersih dan aman. Tempat tinggal harus mempunyai fasilitas-fasiltas untuk mendukung kebutuhan dan aktivitas penghuni, kebutuhan tersebut adalah kebutuhan akan air bersih. Air merupakan kebutuhan dasar yang harus terpenuhi, baik untuk minum, mandi, maupun mencuci. Air yang tidak bersih menimbulkan berbagai penyakit karena dapat menjadi tempat perkembangbiakan bakteri (Maharani, 2015). Scabies merupakan salah satu penyakit kulit, di Indonesia dikenal sebagai penyakit kudis. Scabies bisa diperoleh di daerah kumuh dengan keadaan sanitasi yang buruk. Penularan terjadi secara langsung dari orang ke orang atau lewat peralatan seperti pakaian.
Hal ini dipermudah karena kurangnya ketersediaan air bersih (Slamet, 2009). Air dikatakan memiliki potensi menimbulkan penyakit jika air mengandung bakteri Escherichia coli, bakteri Salmonella typhi, bakteri Vibrio cholerae, atau air mengandung bahan kimia beracun seperti logam berat, pestisida, dan sebagainya (Achmadi, 2014). Hasil penelitian oleh Agsa Sajida (2012) telah menunjukkan bahwa sanitasi lingkungan mempunyai hubungan signifikan terhadap keluhan penyakit kulit.
Kerangka Konsep
Gambar 1. Kerangka konsep Personal Hygiene:
1. Kebersihan Kulit
2. Kebersihan Tangan, Kaki dan Kuku
3. Kebersihan Rambut
Keluhan Kesehatan Kulit Sanitasi Lingkungan
Lembaga Pemasyarakatan 1. Penyediaan air bersih 2. Kamar mandi
3. Pengelolaan sampah 4. Pengelolaan air limbah
Metode Penelitian
Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif yang bersifat survei deskriptif dengan pendekatan cross sectional yang bertujuan memberikan atau mengulas gambaran secara luas fenomena mengenai personal hygiene, sanitasi lingkungan dan keluhan kesehatan kulit pada narapiadana di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian. Penelitian dilakukan di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan, Jalan Pemasyarakatan Tanjung Gusta Medan.
Waktu penelitian. Penelitian ini dilakukan pada bulan September 2019 sampai dengan bulan September 2020.
Populasi dan Sampel
Populasi. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan. Total populasi dalam penelitian ini sebanyak 626 orang.
Sampel. Besar sampel penelitian ditentukan dengan rumus Slovin yaitu:
n = 𝑁
1 + 𝑁(𝑑)² Keterangan:
n = Besar sampel N = Jumlah populasi
d = Tingkat kesalahan penarikan sampel 10% dan tingkat kepercayaan 90%
Populasi penelitian berjumlah 626 orang dan presisi yang ditetapkan atau tingkat signifikasi 0,1. Besar sampel narapidana Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan yaitu:
𝑛 = 𝑁
1 + 𝑁(𝑑)² 𝑛 = 626
1 + 626(0,1)²
𝑛 = 86,22 ≈ 86
Teknik pengambilan sampel. Pengambilan sampel penelitian ini dengan
teknik probability sampling yaitu proportionate stratified random sampling.
Menurut Eryando (2017), probability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang memerlukan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Proportionate stratified random sampling adalah teknik yang digunakan bila populasi mempunyai anggota/unsur yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional. Untuk menentukan besarnya sampel pada setiap kelas dilakukan dengan alokasi proporsional agar sampel yang diambil lebih proporsional dengan cara:
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 𝑡𝑖𝑎𝑝 𝑏𝑙𝑜𝑘 = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑜𝑝𝑢𝑙𝑎𝑠𝑖 × 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑡𝑖𝑎𝑝 𝑏𝑙𝑜𝑘 Setelah diketahui jumlah sampel sebanyak 86 orang maka besar sampel berdasarkan jenis kamar/blok antara lain:
29
1 Blok A dan Blok B (Kamar Besar Bertingkat)
𝑛 =434
626 × 86 = 60
2 Blok C (Kamar Besar Tidak Bertingkat) 𝑛 = 165
626× 86 ≈ 22,66 = 23 3 Blok D (Kamar Kecil dan Starf Sel)
𝑛 = 26
626× 86 ≈ 3,57 = 4 Variabel dan Definisi Operasional
Karakteristik individu. Karakteristik individu adalah karakter atau ciri- ciri yang menggambarkan keadaan individu dan pembeda antar individu lain mencakup umur, tingkat pendidikan, dan masa tahanan.
Personal hygiene. Personal hygiene adalah tindakan memelihara kebersihan perorangan dalam meningkatkan kesehatan dan membatasi penularan bibit penyakit yang meliputi kebersihan kulit, kebersihan rambut, serta kebersihan tangan, kaki dan kuku.
Kebersihan kulit. Kebersihan kulit adalah kegiatan seseorang memelihara kebersihan dan kesehatan kulit seperti mandi, penggunaan sabun dan kekerapan waktu mandi.
Kebersihan tangan, kaki dan kuku. Kebersihan tangan, kaki dan kuku adalah perilaku seseorang memelihara kebersihan dan kesehatan tangan, kaki dan kuku melalui kebiasaan mencuci tangan, memotong kuku dan menggunakan alas kaki.
Kebersihan rambut. Kebersihan rambut adalah sikap seseorang menjaga kebersihan rambut seperti kebiasaan membersihkan rambut, pola pembersihan rambut dan penggunaan sampo.
Penggunaan pakaian. Penggunaan pakaian adalah tindakan seseorang terhadap kebiasaan membersihkan pakaian dan mengganti pakaian.
Penggunaan handuk. Penggunaan handuk adalah perilaku seseorang terhadap kebiasaan menjemur handuk dan frekuensi mencuci handuk.
Penggunaan tempat tidur dan sprei. Penggunaan tempat tidur dan sprei adalah perilaku seseorang mengenai frekuensi menjemur kasur serta kekerapan mengganti sprei dan kebiasaan membersihkan kasur.
Sanitasi lingkungan. Sanitasi lingkungan adalah pemantauan terhadap kondisi sanitasi di lingkungan dan sekitarnya yang mencakup aspek penyediaan air bersih, kamar mandi atau toilet, pengelolaan sampah dan pengelolaan air limbah.
Keluhan kesehatan kulit. Keluhan kesehatan kulit merupakan ada terjadi keluhan berupa gatal-gatal, kulit terasa kering, tekstur kulit terasa kasar seperti bersisik, bercak-bercak dan bintik-bintik kemerahan, ruam-ruam pada kulit, penumbuhan jaringan pada permukaan kulit, kulit menggelembung berisi cairan, lepuhan-lepuhan pada kulit, kulit terasa pecah-pecah dan terjadi pengelupasan pada permukaan kulit.
Metode Pengumpulan Data
Data primer. Data primer diperoleh dari hasil observasi dengan menggunakan kuesioner yang berisi pertanyaan dan pilihan jawaban yang telah
31
disediakan mencakup karakteristik responden, kebiasaan personal hygiene, kondisi sanitasi lingkungan dan keluhan kesehatan kulit narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan.
Data sekunder. Data sekunder diperoleh dari Pegawai Sipil di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan berupa:
1. Profil Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan yaitu alamat, luas bangunan serta luas tiap kamar di masing-masing jenis kamar.
2. Jumlah narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan.
3. Sarana dan prasarana yang tersedia di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan.
Metode Pengukuran
Karakteristik individu. Aspek pengukuran terhadap karakteristik individu terdiri dari 3 komponen antara lain:
Umur. Umur mencakup:
a. Remaja (12 - 25 tahun) b. Dewasa (26 - 45 tahun) c. Lansia (46- 65 tahun)
Tingkat pendidikan. Tingkat pendidikan mencakup:
a. Pendidikan rendah/dasar (SD-SMP/MTs) b. Pendidikan menengah (SMA/SMK) c. Pendidikan tinggi (D3/S1)
Masa tahanan. Masa tahanan mencakup:
a. < 3 tahun b. ≥ 3 tahun c. Seumur hidup
Kebersihan kulit. Aspek pengukuran kebersihan kulit tersedia 5 pertanyaan pada kuesioner dengan penilaian:
a. Baik, jika responden menjawab 5 pertanyaan dengan pilihan jawaban A.
b. Cukup, jika responden menjawab 3-4 pertanyaan dengan pilihan jawaban A.
c. Buruk, jika responden menjawab 1-2 pertanyaan dengan pilihan jawaban A.
Kebersihan tangan, kaki dan kuku. Aspek pengukuran kebersihan tangan, kaki, dan kuku tersedia 5 pertanyaan pada kuesioner dengan penilaian:
a. Baik, jika responden menjawab 5 pertanyaan dengan pilihan jawaban A.
b. Cukup, jika responden menjawab 3-4 pertanyaan dengan pilihan jawaban A.
c. Buruk, jika responden menjawab 1-2 pertanyaan dengan pilihan jawaban A.
Kebersihan rambut. Aspek pengukuran kebersihan rambut tersedia 5 pertanyaan pada kuesioner dengan penilaian:
33
a. Baik, jika responden menjawab 5 pertanyaan dengan pilihan jawaban A.
b. Cukup, jika responden menjawab 3-4 pertanyaan dengan pilihan jawaban A.
c. Buruk, jika responden menjawab 1-2 pertanyaan dengan pilihan jawaban A.
Penggunaan pakaian. Aspek pengukuran penggunaan pakaian tersedia 5 pertanyaan pada kuesioner dengan penilaian:
a. Baik, jika responden menjawab 5 pertanyaan dengan pilihan jawaban A.
b. Cukup, jika responden menjawab 3-4 pertanyaan dengan pilihan jawaban A.
c. Buruk, jika responden menjawab 1-2 pertanyaan dengan pilihan jawaban A.
Penggunaan handuk. Aspek pengukuran penggunaan handuk tersedia 5 pertanyaan pada kuesioner dengan penilaian:
a. Baik, jika responden menjawab 5 pertanyaan dengan pilihan jawaban A.
b. Cukup, jika responden menjawab 3-4 pertanyaan dengan pilihan jawaban A.
c. Buruk, jika responden menjawab 1-2 pertanyaan dengan pilihan jawaban A.
Penggunaan tempat tidur dan sprei. Aspek pengukuran penggunaan tempat tidur dan sprei tersedia 5 pertanyaan pada kuesioner dengan penilaian:
a. Baik, jika responden menjawab 5 pertanyaan dengan pilihan jawaban A.
b. Cukup, jika responden menjawab 3-4 pertanyaan dengan pilihan jawaban A.
c. Buruk, jika responden menjawab 1-2 pertanyaan dengan pilihan jawaban A.
Sanitasi lingkungan. Aspek penilaian sanitasi lingkungan berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No.829/Menkes/SK/VII/1999 dan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 32 tahun 2017 dalam Santoso (2019) mencakup aspek fasilitas sanitasi dengan memberi skor pada variabel yang dinilai dengan total bobot 20. Adapun hasil penilaian pengamatan berupa skor terdiri dari 2 kriteria:
1) Tidak memenuhi syarat : < 1.368 (< 60%) 2) Memenuhi syarat : ≥ 1.368 (60% - 100%)
Keluhan kesehatan kulit. Aspek pengukuran keluhan kesehatan kulit berdasarkan dari beberapa keluhan yang dialami oleh responden dan dikategorikan menjadi:
1) Jika mengalami keluhan, dengan jawaban “ya” diberi skor 1.
2) Jika tidak mengalami keluhan, dengan jawaban “tidak” diberi skor 0.
35
Metode Analisa Data
Analisa data dilakukan dengan analisis univariat yang bertujuan mendeksripsikan data karakteristik responden dan variabel penelitian secara sistematis. Data dikumpulkan dan data yang bersumber dari kuesioner dan lembar observasi mencakup variabel personal hygiene, sanitasi lingkungan dan keluhan kesehatan kulit ditabulasi kemudian data disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi.
Hasil Penelitian
Gambaran Umum Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan Geografi. Lokasi penelitian berada di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan. Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan didirikan pada tahun 1983-1985 pada tanggal 26 Februari 1986 yang beralamat di Jalan Pemasyarakatan Tanjung Gusta Medan dengan jarak sekitar 5 Km dari pusat kota. Luas wilayah Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan yaitu 6.455 m2 dengan luas bangunan sebesar 5.250 m2.
Demografi. Jumlah seluruh narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan sebanyak 626 orang. Secara lengkap komposisi narapidana menurut karakteristiknya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 1
Distribusi Narapidana Menurut Blok Kamar di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan Tahun 2020
Jenis Kamar
Jumlah Kamar (buah)
Penghuni per kamar (orang)
Jumlah Penghuni (orang) Blok A dan Blok B
Kamar besar (bertingkat)
31 14 434
Blok C
Kamar besar (tidak bertingkat)
15 11 165
Kamar teroris 1 1 1
Blok D
Kamar kecil 7 3 21
Straf sel 1 5 5
Total 626
37
Tabel 2
Distribusi Penyakit/Keluhan Kesehatan pada Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan Tahun 2020
Penyakit/ Keluhan Kesehatan
Jumlah Keluhan (Orang) April 2020 Mei 2020 Juni 2020
Penyakit Kulit 69 41 68
Sakit Gigi 67 69 67
Penyakit Pencernaan 61 59 99
Hipertensi 17 13 18
Diabetes Mellitus 11 12 13
HIV 9 7 7
Penyakit Pernafasan 7 6 6
Penyakit Mata 5 1 1
Ginjal 3 3 -
Jantung 3 3 3
Kanker 3 3 3
Penyakit Syaraf 1 1 1
Gangguan Jiwa 1 - -
Penyakit Pendengaran 1 3 3
Stroke 1 1 1
Sumber: Laporan Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan
Berdasarkan Laporan Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan dijelaskan bahwa penyakit kulit merupakan keluhan yang dirasakan oleh narapidana. Narapidana yang mengalami penyakit kulit pada bulan April 2020 sampai bulan Juni 2020 dengan frekuensi tertinggi terjadi pada bulan April 2020 sebanyak 69 orang.
Analisis Univariat
Karakteristik individu. Adapun gambaran karakteristik individu pada responden dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 3
Distribusi Responden Berdasarkan Umur di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan Tahun 2020
Umur Responden Jumlah (Orang) %
12-25 tahun 21 24,4
26-45 tahun 46 53,5
46-65 tahun 19 22,1
Total 86 100
Tabel diatas menunjukkan bahwa jumlah responden berdasarkan umur di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Medan proporsi tertinggi pada umur 26-45 tahun sebanyak 46 orang (53,5%).
Tabel 4
Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan Tahun 2020
Tingkat Pendidikan Responden Jumlah (Orang) %
SD-SMP/MTs 38 44,2
SMA/SMK 34 39,5
D3/S1 14 16,3
Total 86 100
Tabel diatas menunjukkan bahwa jumlah responden berdasarkan tingkat pendidikan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Medan proporsi tertinggi pada tingkat SD-SMP/MTs yaitu 38 orang (44,2%).
Tabel 5
Distribusi Responden Berdasarkan Masa Tahanan di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan Tahun 2020
Masa Tahanan Responden Jumlah (Orang) %
< 3 tahun 25 29,1
≥ 3 tahun 56 65,1
Seumur hidup 5 5,8
Total 86 100
39
Tabel diatas menunjukkan bahwa jumlah responden berdasarkan masa tahanan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Medan proporsi tertinggi pada masa ≥ 3 tahun yaitu 56 orang (65,1 %).
Personal hygiene. Analisis univariat terhadap personal hygiene responden pada penelitian mencakup beberapa aspek, yaitu:
Kebersihan kulit. Adapun gambaran kebersihan kulit responden pada
penelitian dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 6
Distribusi Frekuensi Kebersihan Kulit di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan Tahun 2020
Kebersihan Kulit Jumlah (Orang) %
Kekerapan waktu mandi
2 kali sehari 60 69,8
sekali sehari 26 30,2
Cara mandi
Mandi dengan baik dan benar
86 100,0
Kebiasaan penggunaan sabun
Memakai sabun sendiri 72 83,7
Memakai sabun bergantian dengan teman
14 16,3
Kondisi air secara fisik
Bersih 69 80,2
Sedikit keruh 17 19,8
Penggunaan sabun ketika mandi
Menggunakan sabun 86 100,0
Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa responden kerap mandi 2 kali sehari sebanyak 60 orang (69,8%) dan lainnya sekali sehari sebanyak 26 orang (30,2%). Responden menerapkan kebiasaan mandi dengan baik dan benar sebanyak 86 orang (100%). Persediaan air secara fisik dalam keadaan bersih