RENJA
(ANNUAL PERFORMANCE PLAN) TAHUN 2015
INSPEKTORAT DAERAH KOTA BONTANG
i
Penyusunan Rencana Kinerja Tahunan (Renja) Inspektorat Daerah Tahun 2014 adalah untuk memenuhi amanat Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) khususnya Pasal 21 Ayat (3) agar setiap Kepala SKPD menyiapkan Renja SKPD mengacu pada rancangan awal RKPD dan berpedoman pada Renstra SKPD. Selain sebagai salah bagian dari SPPN, Renja Inspektorat Daerah Tahun 2014 juga merupakan instrumen pengintegrasian dari Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP), Sistem Penganggaran, Sistem Perbendaharaan, dan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah (SAKD). Selain itu, Renja Inspektorat Daerah Tahun 2015 juga menjadi acuan dalam penyusunan Program Kerja Pengawasan Tahunan (PKPT) Tahun 2015.
Akhirnya tak lupa diucapkan terima kasih kepada tim verifikasi dari Bappeda Kota Bontang atas masukannya guna penyempurnaan Renja Inspektorat Daerah Tahun 2015.
Bontang, Juni 2014 INSPEKTUR
Ir. HARI BAMBANG RIYADI NIP. 19580402 198703 1 004
ii
KATA PENGANTAR ...………... i
DAFTAR ISI ...…….………... ii
BAB I PENDAHULUAN ...…….………... 1
1.1 LATAR BELAKANG ...………... 1
1.2 LANDASAN HUKUM ...………... 3
1.3 MAKSUD DAN TUJUAN ...………... 6
1.4 SISTEMATIKA PENULISAN ... 6
BAB II EVALUSI PELAKSANAAN RENJA INSPEKTORAT DAERAH TAHUN LALU ... 9
2.1 EVALUASI PELAKSANAAN RANCANGAN RENJA INSPEKTORAT DAERAH TAHUN LALU DAN CAPAIAN RENSTRA INSPEKTORAT DAERAH ... 9
2.2 ANALISA KINERJA PELAYANAN SKPD ... 29
2.3 ISU-ISU PENTING PENYELENGGARAAN TUGAS DAN FUNGSI INSPEKTORAT DAERAH ... 31
2.4 REVIEW TERHADAP RANCANGAN RKPD ... 29
BAB III TUJUAN, SASARAN, PROGRAM DAN KEGIATAN ... 35
3.1 TELAAHAN TERHADAP KEBIJAKAN NASIONAL DAN PROVINSI ... 35
3.2 TUJUAN DAN SASARAN RENJA SKPD ... 38
BAB IV PENUTUP ... 50
1
BAB I PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN), mengamanatkan agar setiap daerah otonom menyusun rencana pembangunan daerah secara sistematis, terarah, terpadu, menyeluruh dan tanggap terhadap perubahan.
Jenjang perencanaan pembangunan daerah tersebut terdiri dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Daerah merupakan perencanaan pembangunan yang periodenya 20 (dua puluh) tahunan, Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Daerah merupakan perencanaan pembangunan yang periodenya 5 (lima) tahunan, dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) sebagai rencana tahunan. Setiap satuan kerja perangkat daerah (SKPD) berkewajiban menyusun rencana strategis (strategic plan) dan recana kerja tahunan (performance annual plan) mengacu pada perencanaan pembangunan daerah dimaksud.
Sebelum diditetapkannya UU Nomor 15 Tahun 2004 tentang SPPN, Pemerintah telah menerbitkan INPRES Nomor 7 Tahun 1999 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) yang mewajibkan setiap instansi pemerintah menyelenggarakan SAKIP untuk memenuhi kewajiban dalam rangka mempertanggungjawabkan keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan misi organisasi. SAKIP terdiri dari berbagai komponen yang merupakan satu kesatuan, yaitu perencanaan strategis, perencanaan kinerja, pengukuran kinerja, dan pelaporan kinerja. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa perencanaan pembangunan daerah akuntabilitas kinerja pemerintah daerah merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Inspektorat Daerah Kota Bontang telah menyusun dokumen Rencana Strategis (Renstra) tahun 2011-2016 yang merupakan penjabaran dari Peraturan Daerah (Perda) Kota Bontang Nomor 8 Tahun 2011 tentang RPJMD Kota Bontang tahun 2011-2016. Renstra Inspektorat Daerah menjadi acuan untuk melaksanakan misi pembangunan daerah Kota Bontang kedua yakni “Meningkatkan Kualitas Tata Kepemerintahan Yang baik” dalam rangka pencapaian visi Kota Bontang tahun 2011-2016 untuk “Mewujudkan Masyarakat Bontang Yang Berbudi Luhur, Maju, Adil dan Sejahtera”.
Renstra Inspektorat Daerah Kota Bontang tahun 2011-2016 disusun berdasarkan tugas pokok dan fungsi Inspektorat Daerah yang memuat visi, misi, tujuan, strategi, kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan berorientasi pada hasil yang harus dilaksanakan oleh seluruh komponen Inspektorat Daerah Kota Bontang dalam periode 5 (lima) tahun ke depan bersifat
2 indikatif. Perda Kota Bontang Nomor 7 Tahun 2008 menetapkan bahwa tugas Inspektorat
Daerah adalah melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan urusan pemerintah daerah.
Menurut PP Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah mendefinisikan arti pengawasan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah adalah proses kegiatan yang ditujukan untuk menjamin agar Pemerintahan Daerah berjalan secara efisien dan efektif sesuai dengan rencana dan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Sesuai dengan agenda kerja perencanaan pembangunan daerah Kota Bontang, Renstra Inspektorat Daerah tahun 2011-2016 mengalami revisi. Hal ini dikarenakan bahwa perencanaan strategis bukanlah hal yang statis, tetapi merupakan suatu proses yang dinamis dan dievaluasi secara terus-menerus. Penyusunan Revisi (review) Renstra Inspektorat Daerah Kota Bontang tahun 2011-2016 memperhatikan perkembangan penyelenggaraan pemerintahan daerah, perubahan lingkungan strategis dan kebijakan pengawasan daerah karena fungsi pengawasan dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan (series of actions and on going basis).
Selain itu, review Renstra Inspektorat Daerah tahun 2011-2016 juga menjadi bagian dari tindak lanjut (follow up) hasil evaluasi Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) Kota Bontang dalam rangka meningkatkan akuntabilitas kinerja pemerintah daerah.
Review Renstra Inspektorat Daerah tahun 2011-2016 akan mempengaruhi penetapan target-target kinerja pengawasan daerah yang ditetapkan dalam penyusunan rencana kinerja tahunan (Renja). Rencana kerja tahunan (Renja) Inspektorat Daerah adalah dokumen perencanaan tahunan yang menguraikan lebih mendetail dari Renstra, berisikan hasil evaluasi pelaksanaan Renja tahun sebelumnya, kebijakan, progam dan kegiatan beserta kerangka pendanaan Inspektorat Daerah tahun berikutnya berpedoman pada Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kota Bontang tahun yang berkenaan. Renja Inspektorat Daerah tahun 2015 akan memberikan arah bagi Inspektorat Daerah untuk melakukan fungsi pengawasan secara efektif dan efesien sehingga dapat memberikan keyakinan yang memadai (reasonable assurance) kepada Kepala Daerah bahwa penyelenggaraan pembangunan dan pemerintahan Kota Bontang telah mempedomani arah kebijakan RPJMD dengan menerapkan prinsip – prinsip good governance.
Rencana Kinerja Tahunan (Renja) akan menjadi dasar ditetapkannya Perjanjian Kinerja (Performance Agreement) yang setiap akhir tahun anggaran akan diukur capaian kinerjanya (Performance Result) dan diindentifikasi celah kinerja yang terjadi (Performance Gap) untuk perbaikan dimasa mendatang. Oleh karena itu, Renja Inspektorat Daerah menjadi alat ukur yang menentukan keberhasilan pencapaian target kinerja yang akan ditetapkan.
3 Program dan kegiatan prioritas yang disertai pagu indikatif dalam Renja Inspektorat
Daerah tahun 2015 menjadi salah satu bahan dasar bagi Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) Kota Bontang untuk menyusun Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD), Rancangan Kebijakan Umum Anggaran (RKUA) dan Rancangan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (RPPAS). Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan PP Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah mengamanatkan bahwa APBD menerapkan anggaran berbasis prestasi kerja (performance based budgeting) Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah menyatakan bahwa bahan penyusunan APBD adalah Renja SKPD. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Renja memiliki peran penting dalam sistem pengelolaan keuangan daerah daerah karena akan mempengaruhi kebijakan anggaran daerah dan kebijakan pembangunan daerah.
Sehubungan dengan pelaksanaan tugas Inspektorat Daerah sebagai Aparat Pengawas Intern Pemerintah (APIP), Renja Inspektorat Daerah tahun 2015 akan menjadi bahan penyusunan Rencana Pengawasan Tahunan Daerah (RPTD) sebagai bagian dari Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) Nasional yang terpadu dan sinergis. Hal ini memenuhi amanat Peraturan Menteri PAN dan BR Nomor: PER/05/M.PAN/03/2008 tentang Standar Audit Aparat Pengawas Intern Pemerintah (APIP) yang menetapkan bahwa APIP harus menyusun rencana pengawasan tahunan dengan prioritas pada kegiatan yang mempunyai risiko terbesar dan selaras dengan tujuan organisasi berpedoman pada Renstra.
1.2. LANDASAN HUKUM
Dasar hukum penyusunan Renja Inspektorat Daerah Kota Bontang tahun 2013 adalah sbb :
1. Undang – Undang Nomor 47 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Nunukan, Kabupaten Malinau, Kabupaten Kutai Barat, Kabupaten Kutai Timur dan Kota Bontang sebagaimana telah diubah dengan Undang – Undang Nomor 7 Tahun 2000;
2. Undang – Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara;
3. Undang – Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara;
4. Undang – Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara;
5. Undang – Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;
4 6. Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan Daerah;
7. Undang – Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah;
8. Undang – Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025;
9. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintah sebagaimana diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010;
10. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pembinaan dan Pengawasan Pemerintahan Daerah;
11. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah;
12. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota;
13. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembanguanan Daerah;
14. Peraturan Pemerintah Nomor 60 tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Internal Pemerintah (SPIP);
15. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2008 tentang Evaluasi Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (LPPD);
16. Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan Nomor 3 Tahun 2007 tentang Tata Cara Penyelesaian Ganti Kerugian Negara terhadap Bendahara;
17. Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan Nomor 2 Tahun 2010 tentang Pemantauan Pelaksanaan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Badan Pemeriksaan Keuangan;
18. Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 1986 tentang Kewajiban Penyampaian Laporan Pajak-Pajak Pribadi bagi Pejabat Negara, Pegawai Negeri Sipil, Anggota Angkatan Bersenjata Republik Indonesia dan Pegawai Badan Usaha Milik Negara dan Daerah;
19. Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah;
20. Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2005 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme;
21. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011;
22. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 23 Tahun 2007 tentang Pedoman Tata Cara
5 Pengawasan atas Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah sebagaimana diubah dengan
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 Tahun 2009;
23. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 25 Tahun 2007 tentang Pedoman Penanganan Pengaduan Masyarakat di lingkungan Menteri Dalam Negeri dan Pemerintah Daerah;
24. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 28 Tahun 2007 tentang Norma Pengawasan dan Kode Etik Pejabat Pengawas Pemerintah;
25. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 4 Tahun 2008 tentang Pedoman Pelaksanaan Reviu atas Laporan Keuangan Pemerintahan Daerah;
26. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: PER/05/M.PAN/03/2008 tentang Standar Audit Aparat Pengawas Intern Pemerintah;
27. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: PER/05/M.PAN/4/2009 tentang Pedoman Penanganan Pengaduan Masyarakat bagi Instansi Pemerintah;
28. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 9 Tahun 2009 tentang Pedoman Pelaksanaan, Pemantauan, Evaluasi dam Pelaporan Tindak Lanjut Hasil pengawasan Fungsional;
29. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 19 Tahun 2009 tentang Pedoman Kendali Mutu Audit Aparat Pengawas Intern Pemerintah;
30. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2010 tentang Sistem Informasi Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah secara Nasional;
31. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 20 Tahun 2010 tentang Road Map Reformasi Birokrasi 2010 – 2014;
32. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 29 Tahun 2010 tentang Pedoman Penyusunan Penetapan Kinerja dan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah;
33. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan PP Nomor 8 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Rencana Pembangunan Daerah;
34. Peraturan Gubernur Kalimantan Timur Nomor 4 Tahun 2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2009 – 2014;
35. Peraturan Daerah Kota Bontang Nomor 7 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Inspektorat, Badan Perencanaan Pembanguan Daerah dan Lembaga Teknis Daerah;
36. Peraturan Daerah Kota Bontang Nomor 8 Tahun 2011 tentang RPJMD Kota Bontang Tahun 2011-2016;
37. Peraturan Walikota Bontang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Rincian Tugas Pokok dan
6 Fungsi Inspektorat Daerah Kota Bontang;
1.3. MAKSUD DAN TUJUAN
Rancangan Rencana Kerja Inspektorat Kota Bontang Tahun 2015 dimaksudkan menetapkan dokumen perencanaan yang memuat program dan kegiatan pembangunan daerah yang menjadi tolak ukur penilaian kinerja Inspektorat Daerah Kota Bontang dalam melaksanakan tugas dan fungsinya selama tahun 2015.
Sedangkan tujuan :
1. Acuan Inspektorat Daerah dalam mengoperasionalkan RKPD Kota Bontang tahun 2015 sesuai dengan tugas dan fungsinya dalam rangka mencapai visi dan misi Pemerintah Kota Bontang.
2. Merumuskan Program Kerja Pengawasan Tahunan (PKPT) dan Non PKPT Kota Bontang selama tahun 2015.
3. Menyediakan satu acuan resmi bagi Inspektorat Daerah dalam menentukan arah kebijakan dan strategi pembangunan.
4. Menyediakan satu pedoman jangka menengah untuk menentukan arah kebijakan pengawasan, dengan berdasarkan diri pada kondisi riil dan proyeksi kemasa yang akan datang.
5. Menyediakan satu materi kemudahan bagi seluruh jajaran aparatur Inspektorat Daerah untuk memahami dan menilai arah kebijakan dan strategi lima tahun yang dijabarkan kedalam kebijakan tahunan.
6. Mendorong terwujudnya koordinasi, integrasi, sinergi dan sinkronisasi pembangunan antara Pemerintah Kabupaten/Kota, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat dalam hubungan dalam pelaksanaan tugas – tugas pengawasan.
7. Menyediakan tolok ukur untuk mengukur kinerja dan mengevaluasi kinerja Inspektorat Daerah Kota Bontang .
8. Mengoptimalkan kerjasama dan kemitraan antara Aparat Pengawas Internal dan Eksternal.
1.4. SISTEMATIKA PENULISAN BAB I PENDAHULUAN
Bagian ini menjelaskan tentang gambaran umum penyusunan Renja Inspektorat Daerah yang meliputi latar belakang, landasan hukum, maksud dan tujuan serta sistematika penulisan, sehingga substansi pada bab-bab berikutnya dapat dipahami dengan baik.
7 BAB II EVALUASI PELAKSANAAN RANCANGAN RENJA INSPEKTORAT DAERAH TAHUN
LALU
2.1. Evaluasi Pelaksanaan Renja SKPD Tahun Lalu dan Capaian Renstra SKPD Memuat kajian (review) terhadap hasil evaluasi pelaksanaan Renja Inspektorat Daerah tahun lalu pada tahun 2011 dan perkiraan capaian tahun berjalan, yakni tahun 2012.
2.2. Analisis Kinerja Pelayanan SKPD
Berisikan kajian terhadap capaian kinerja pelayanan SKPD berdasarkan indikator kinerja yang sudah ditentukan dalam SPM, maupun terhadap IKK sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2008, dan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007. Indikator yang dikaji, disesuaikan dengan tugas dan fungsi masing- masing SKPD, serta ketentuan peraturan perundang-undangan yang terkait dengan kinerja pelayanan.
2.3. Isu-Isu Penting Penyelenggaraan Tugas dan Fungsi SKPD
Berisikan uraian mengenai tingkat kinerja pelayanan SKPD dan hal kritis yang terkait dengan pelayanan SKPD, Permasalahan dan hambatan yang dihadapi dalam menyelenggarakan tugas dan fungsi SKPD.
2.4. Review terhadap Rancangan Awal RKPD
Berisikan uraian mengenai perbandingan antara rancangan awal RKPD dengan analisis kebutuhan dan penjelasan serta catatan penting terjadinya perbedaan tersebut.
BAB III TUJUAN, SASARAN DAN PROGRAM KEGIATAN 3.1. Telaahan terhadap Kebijakan Nasional
Telaahan terhadap kebijakan nasional dan sebagaimana maksud, yaitu penelaahan yang menyangkut arah kebijakan dan prioritas pembangunan nasional dan yang terkait dengan tugas pokok dan fungsi SKPD
3.2. Tujuan dan Sasaran Rancangan RENJA SKPD
Perumusan tujuan dan sasaran didasarkan atas rumusan isu-isu penting penyelenggaraan tugas dan fungsi SKPD yang dikaitkan dengan sasaran target kinerja Renstra SKPD..
3.3. Program dan Kegiatan
Berisikan penjelasan mengenai : faktor-faktor yang menjadi bahan pertimbangan terhadap rumusan program dan kegiatan, rekapitulasi program dan kegiatan serta
8 penjelasan jika rumusan program dan kegiatan tidak sesuai dengan rancangan
awal RKPD, baik jenis program/kegiatan, dan pagu indikatif BAB IV PENUTUP
Menguraikan tentang catatan penting yang perlu mendapat perhatian, baik dalam rangka pelaksanaannya maupun seandainya ketersediaan anggaran tidak sesuai dengan kebutuhan, kaidah pelaksanaannya serta rencana tindak lanjut.
9
BAB II
EVALUASI PELAKSANAAN RENJA INSPEKTORAT DAERAH TAHUN LALU
2.1. EVALUASI PELAKSANAAN RANCANGAN RENJA INSPEKTORAT DAERAH TAHUN LALU DAN CAPAIAN RENSTRA INSPEKTORAT DAERAH
Untuk memantau dan mengendalikan pencapaian kinerja, Inspektorat Daerah telah menetapkan Perjanjian Kinerja (Performance Agreement) tahun 2013 berdasarkan Renja Inspektorat Daerah tahun 2013. Perjanjian Kinerja (Performance Agreement) tahun 2013 telah mengacu pada pencapaian sasaran dalam Review Renstra Inspektorat Daerah tahun 2011-2016.
Sebagaimana yang telah dituangkan dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) TA. 2013 beserta perubahannya, Perjanjian Kinerja Inspektorat Daerah tahun 2013 terdiri dari 11 program dan 43 kegiatan dengan pagu anggaran senilai Rp8.311.763.700,00.
Perjanjian Kinerja (Performance Agreement) Inspektorat Daerah tahun 2013 adalah sebagai berikut:
Tabel 2.1
Perjanjian Kinerja (Performance Agreement) Inspektorat Daerah Tahun 2013
NO. TUJUAN SASARAN
1. Meningkatkan akuntabilitas atas kinerja penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah Kota Bontang
a. Meningkatnya fungsi dan pemanfaatan hasil pengawasan intern pemerintah daerah Kota Bontang
b. Terwujudnya akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah kota Bontang yang baik
c. Meningkatnya akuntabilitas kinerja SKPD kota Bontang
2. Mewujudkan tata kelola kepemerintahan yang baik (prinsip good governance) di lingkungan pemerintah Kota Bontang
a. Terwujudnya efektivitas pelaksanaan penanggulangan dan pencegahan korupsi (PPK) Kota Bontang
b. Terwujudnya zona integritas di lingkungan Pemerintah Kota Bontang
c. Terwujudnya efektivitas pelaksanaan reformasi birokrasi di lingkungan pemerintah Kota Bontang d. Meningkatnya efektivitas penanganan kasus
pengaduan masyarakat yang responsif e. Terwujudnya penerapan SPIP Kota Bontang
10
NO. TUJUAN SASARAN
3. Meningkatkan kinerja manajemen internal Inspektorat dalam rangka efektivitas penyelesaian tugas pengawasan daerah
a. Meningkatnya kapasitas SDM pengawasan b. Terwujudnya efektivitas perencanaan
pengawasan dan pengelolaan tugas pengawasan daerah
Berdasarkan hasil evaluasi akhir tahun 2013 diketahui bahwa capaian kinerja fisik sebesar 99% dengan capaian kinerja keuangan senilai Rp6.073.104.278,00 (73,07%) atau terjadi efesiensi anggaran sebesar 26,91%. Dengan demikian pencapaian sasaran (performance result) Renja Inspektorat Daerah tahun 2013 telah memenuhi target kinerja (performnce plan) sehingga tidak terdapat celah kinerja (gap performance).
Pencapaian Perjanjian Kinerja yang diukur dengan Indikator Kinerja Utama (Key Performance Indicators) dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:
Tabel 2.2
Capaian Indikator Kinerja Utama (Key Performance Indicators) Inspektorat Daerah Tahun 2013
NO. INDIKATOR KINERJA UTAMA TARGET REALISASI CAPAIAN
1. Rasio temuan BPK yang telah selesai
ditindaklanjuti 80% 71,40% 89,25%
2. Persentase penyelesaian tindak lanjut rekomendasi
hasil pengawasan APIP 100% 81,4% 81,4%
3. Presentase kesesuaian LKPD Kota Bontang
terhadap SAP 96% 99,92% 104,08%
4. Persentase penurunan jumlah temuan ketidakpatuhan peraturan perundang-undangan keuangan daerah dibandingkan tahun sebelumnya
35% 83,33% 238%
5. Presentase jumlah SKPD yang akuntabilitas
kinerjanya dengan kategori “Cukup Baik” 80% 80,95% 101,19%
6. Persentase kasus pengaduan masyarakat yang telah selesai ditindaklanjuti
100% 100% 100%
7. Persentase Grand Design SPIP Kota Bontang yang
telah ditindaklanjuti 100% 57,14% 57,14%
8. Persentase konsistensi capaian kinerja jangka menengah Inspektorat Daerah dengan penugasan RPJMD Kota Bontang 2011-2016
90% 84,97% 94,41%
11 Dari tabel tersebut di atas, 7 Indikator Kinerja Utama (IKU) mencapai di atas 80% (sangat
baik), sedangkan 1 IKU yakni Persentase Grand Design SPIP Kota Bontang yang telah ditindaklanjuti mencapai dibawah 70% (cukup baik). Dengan menggunakan metode Rata-Rata Kelompok, maka dapat disimpulkan bahwa pencapaian Penetapan Kinerja Tahun 2013 berdasarkan Indikator Kinerja Utama (IKU) adalah 108% (Berhasil).
Salah satu capaian keberhasilan tahun 2013 berdasarkan hasil tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan (TLRHP) BPK RI Perwakilan Provinsi Kaltim untuk Semester II Tahun 2013 adalah nilai temuan ketidakpatuhan pengelolaan keuangan daerah pemerintah daerah Kota Bontang tahun 2013 merupakan nilai yang terendah bila dibandingkan dengan pemerintah kab/kota/prov se-Kaltim.
Capaian pelaksanaan program dan kegiatan Inspektorat Daerah tahun 2013 dan proyeksi tahun 2014 dapat disampaikan pada tabel 2.3. sebagaimana terlampir.
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24 Perjanjian Kinerja (Performance Agreement) Inspektorat Daerah Tahun 2014 terdiri
dari 10 program dan 40 kegiatan dengan anggaran senilai Rp11.557.904.571,00 (sebelum perubahan). Realisasi Perjanjian Kinerja Inspektorat Daerah tahun 2014 akan dievaluasi setiap semesternya yang disampaikan hasilnya dalam Laporan Keuangan Semester dan Prognosis Realisasi Anggaran 6 Bulan Berikutnya sebagai dasar pengajuan usulan Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) Perubahan TA. 2014. Diproyeksikan bahwa seluruh program dan kegiatan akan dilaksanakan dengan capaian kinerja fisik 100%.
Tujuan dan sasaran strategis Perjanjian Kinerja (Performance Agreement) Inspektorat Daerah Tahun 2014 sebagaimana terlampir dalam lampiran 2.4.
25 Tabel 2.4
Perjanjian Kinerja (Performance Agreement) Inspektorat Daerah Tahun 2014
No. Tujuan Strategis Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target
1. Meningkatkan akuntabilitas atas kinerja penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah Kota Bontang
a. Meningkatnya fungsi dan pemanfaatan hasil pengawasan intern pemerintah daerah Kota Bontang
a.1. Presentase jumlah SKPD yang memiiki tingkat ketaatan pelaksanaan tugas dan fungsi penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah terhadap peraturan perundang-undangan dengan kategori “Baik”
80%
a.2. Rasio temuan BPK yang telah selesai
ditindaklanjuti 85%
a.3. Persentase penyelesaian tindak lanjut
rekomendasi hasil pengawasan APIP 100%
b. Terwujudnya akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah kota Bontang yang baik
b.1. Persentase kesesuaian LKPD terhadap SAP 96,5%
b.2. Persentase penurunan jumlah temuan ketidakpatuhan peraturan perundang-undangan keuangan daerah dibandingkan tahun sebelumnya
35%
c. Meningkatnya akuntabilitas kinerja SKPD kota
Bontang Presentase jumlah SKPD yang akuntabilitas kinerjanya
dengan kategori “Cukup Baik” 90%
2. Mewujudkan tata kelola kepemerintahan yang baik (prinsip good governance) di lingkungan pemerintah Kota Bontang
a. Terwujudnya efektivitas pelaksanaan penanggulangan dan pencegahan korupsi (PPK) Kota Bontang
Presentase sasaran RAD PPK Kota Bontang yang
telah selesai ditindaklanjuti 100%
b. Terwujudnya zona integritas di lingkungan
Pemerintah Kota Bontang Jumlah SKPD yang telah berpredikat ZI menuju
WBK/WBBM 1 SKPD
c. Terwujudnya efektivitas pelaksanaan reformasi birokrasi di lingkungan pemerintah Kota Bontang
Jumlah SKPD yang memiliki profil PMPRB yang Baik 17 SKPD
d. Meningkatnya efektivitas penanganan kasus
pengaduan masyarakat yang responsif Presentase kasus pengaduan masyarakat yang telah
selesai ditindaklanjuti 100%
26
No. Tujuan Strategis Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target
e. Terwujudnya penerapan SPIP Kota Bontang e.1. Jumlah penyelesaian DA SKPD (kumulatif) 6 SKPD e.2. Persentase jumlah SKPD yang telah
melaksanakan Penilaian Risiko dengan metoda CSA
25%
e.3. Persentase Grand Design SPIP Kota Bontang
yang telah ditindaklanjuti 100%
3. Meningkatkan kinerja manajemen internal Inspektorat dalam rangka efektivitas penyelesaian tugas pengawasan daerah
a. Meningkatnya kapasitas SDM pengawasan Jumlah pembentukan jabatan fungsional APIP 60 Jabfung
APIP b. Terwujudnya efektivitas perencanaan
pengawasan dan pengelolaan tugas pengawasan daerah
b.1. Persentase konsistensi capaian kinerja tahunan Inspektorat Daerah dengan penugasan RPJMD Kota Bontang 2011-2016
95%
b.2. Persentase jumlah penyelesaian penugasan pengawasan atas penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah Kota Bontang secara tepat waktu
100%
27 Berdasarkan hasil y evaluasi akuntabilitas kinerja terhadap program maupun kegiatan
yang telah dilaksanakan pada tahun 2013 serta perkiraan capaian program dan kegiatan tahun 2014, maka dapat dikemukakan beberapa permasalahan dalam pelaksanaan program dan kegiatan Inspektorat Daerah yang sama pada tahun sebelumnya sebagai berikut :
1. Ruang lingkup dan peran serta pengawasan dalam PKPT TA. 2013 semakin luas.
Sasaran pemeriksaan di tahun 2013 sebanyak 140 Obyek Pemeriksaan (OP) meningkat menjadi 191 OP pada tahun 2014.
Ruang lingkup pengawasan tidak hanya terbatas pada pemeriksaan reguler dan pemeriksaan kasus saja, tetapi juga meliputi antara lain kegiatan review penganggaran dan laporan keuangan, evaluasi laporan akuntanbilitas instansi pemerintah dan monitoring pelaksanaan kegiatan, pemeriksaan dengan tujuan tertentu serta kegiatan pengawasan lainnya termasuk di dalamnya kegiatan baru, yakni:
a. Penilaian SKPD menjadi ZI menuju Wliayah Bebas Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM), serta
b. Monitoring Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi (PMPRB) Kota Bontang.
c. Pelaksanaan diagnostic assesment (DA) SPIP SKPD
Kondisi ini dapat mengakibatkan penerapan tugas pengawasan berbasis manajemen resiko belum dapat dilakukan sepenuhnya.
2. Jumlah SDM aparat pengawasan Inspekorat Daerah yang masih dirasa kurang sedangkan ruang lingkup pengawasan semakin luas.
Sesuai Surat Keputusan Sekretaris Daerah Kota Bontang Nomor 32 Tahun 2011 tentang Penetapan Hasil Pengukuran Analisis Beban Kerja (ABK) di Lingkungan Inspektorat Daerah, bahwa jumlah kebutuhan pegawai Inspektorat Daerah adalah sebanyak 49 orang, sedangkan kondisi existing pegawai adalah sebanyak 29 orang. sehingga masih memerlukan pegawai dalam kondisi ideal sebanyak 20 orang.
Kondisi ini akan mempengaruhi pencapaian target kinerja pengawasan tahun 2014 secara tepat waktu.
3. Masih adanya respon yang kurang positif dan pemahaman yang berbeda atas hasil pengawasan dengan Obyek Pemeriksaan (Obrik) yang dapat mengakibatkan penyelesaian PKPT tahun 2013 tidak tepat waktu dan masih lambatnya penyelesaian tindak lanjut hasil pengawasan dari APIP fungsional dan BPK.
Dari indentifikasi permasalahan yang dihadapi oleh Inspektorat Daerah dalam melaksanakan tugas pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah Kota Bontang, maka
28 peningkatan dan perbaikan kinerja manajemen internal serta manajemen tugas
pengawasan menjadi hal mutlak yang dilakukan secara sistematis dan terstruktur. Di samping itu, koordinasi dengan SKPD Kota Bontang dan koordinasi pengawasan yang komprehensif antara APIP Fungsional serta BPK harus ditingkatkan lagi agar terjadi sinergisitas, sinkronisasi, efesiensi dan efektifitas fungsi pengawasan pada Pemerintah Kota Bontang.
Dalam rangka mewujudkan tercapainya tujuan dan sasaran strategis yang telah ditetapkan dalam review Renstra Inspektorat Daerah Kota Bontang tahun 2011 – 2016, maka strategi dan kebijakan yang akan ditempuh Inspektorat Daerah Kota Bontang pada tahun 2014 adalah sebagai berikut :
1. Strategi Mengoptimalkan peran Inspektorat sebagai quality assurance, early warning system dan catalyst of change dengan arah kebijakan:
a. Penerapan Sistem Pengawasan Intern berbasis manajemen resiko.
2. Strategi Melakukan pemantauan dan evaluasi penyelesaian TLHP, dengan arah kebijakan:
a. Peningkatan percepatan penyelesaian tindak lanjut hasil pemeriksaan/pengawasan 3. Strategi Meningkatkan kualitas laporan keuangan Pemkot Bontang dan menerapkan
penyelenggaraan keuangan daerah secara tertib, taat pada peraturan perundang- undangan, efektif, efisien, ekonomis, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan azas keadilan, kepatutan, dan manfaat untuk masyarakat, dengan arah kebijakan:
a. Penerapan Rencana Aksi Menuju Opini WTP (Action Plan to Unqualified Opinion/WTP) 4. Strategi Peningkatan kinerja penyelenggaraan pemerintahan Kota Bontang melalui
evaluasi Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP) SKPD serta melakukan tindakan perbaikan atas kelemahan pencapaian sasaran, dengan arah kebijakan:
a. Optimalisasi penerapan SAKIP pada SKPD
5. Strategi Optimalisasi pelaksanaan Koordinasi, Monitoring dan Evaluasi (KORMONEV) PERPRES Nomor 55 Tahun 2012 dengan arah kebijakan:
a. Peningkatan implementasi PERPRES Nomor 55 Tahun 2012 melalui program Island of Integrity dan Rencana Aksi Daerah Pemberantasan Korupsi (RAD-PK)
6. Strategi Implementasi 9 (sembilan) program area perubahan reformasi birokrasi dengan arah kebijakan:
a. Penerapan Road Map Reformasi Birokrasi Pemerintah Daerah bersifat living document 7. Strategi Peningkatan tindak lanjut pengaduan masyarakat yang responsif dengan arah
kebijakan:
29 a. Peningkatan efektivitas penyelesaian penanganan kasus pengaduan masyarakat
8. Strategi Penyelenggaraan SPIP pada Pemkot Bontang dan SKPD secara bertahap (Knowing, Mapping, Norming, Forming, Performing) dengan arah kebijakan:
a. Penyelenggaraan Pemerintahan Kota Bontang berbasis SPIP
9. Strategi Pengembangan kapasitas SDM sesuai tantangan dan kebutuhan organisasi dengan arah kebijakan:
a. Penerapan manajemen SDM yang berkualitas
10. Strategi Meningkatkan evaluasi dan pengendalian manajemen kinerja tugas pengawasan daerah dengan arah kebijakan:
a. Penerapan manajemen berbasis resiko (diagnostic assesment/DA) kegiatan pengawasan daerah
2.2. ANALISA KINERJA PELAYANAN SKPD
Inspektorat Daerah melaksanakan sistem pengawasan intern pemerintahan Kota Bontang berdasarkan Program Kerja Pengawasan Tahunan (PKPT) dengan sasaran pengawasan yang meliputi seluruh pegawai dan SKPD di lingkungan pemerintah daerah kota Bontang serta seluruh program dan kegiatan yang dibiayai oleh APBD Kota Bontang. Ruang lingkup PKPT terdiri pemeriksaan (audit), monitoring, evaluasi, dan review. Selain itu, Inspektorat Daerah juga menetapkan kegiatan Non PKPT untuk melakukan tugas pembinaan penyelenggaraan pemerintahan Kota Bontang sesuai amanat PP Nomor 79 Tahun 2005. Kegiatan Non PKPT antara lain terdiri dari kegiatan pendidikan dan pelatihan pegawai, monitoring dan evaluasi pelaksanaan urusan pemerintah dan kepatuhan perundang-undangan, penyelesaian tindak lanjut hasil pengawasan APIP Fungsional dan BPK RI, serta koordinasi pengawasan secara komprehensif.
Standar Pelayanan Minimal (SPM) untuk fungsi pengawasan sampai saat belum ada ditetapkan dari kementerian/lembaga terkait. Analisa kinerja pelayanan Inspektorat Daerah Kota Bontang mengacu pada PP Nomor 6 Tahun 2008 tentang Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (EPPD) yang menetapkan Indikator Kinerja Kunci (IKK) pada Aspek Penilaian pada Tataran Pengambilan Kebijakan untuk Pemerintah Kota yakni “Rasio temuan BPK RI yang ditindaklanjuti”.
Inspektorat Daerah juga telah menyusun indikator kinerja mandiri APIP yang berlaku secara umum merujuk pada Renstra Inspektorat Provinsi Kaltim, Kementerian PAN dan RB, Inspektorat BPKP maupun APIP lainnya. Indikator kinerja mandiri tersebut kemudian ditetapkan menjadi Indikator Kinerja Utama (IKU) Inspektorat Daerah.
30 Tabel 2.5
Pencapaian Kinerja Pelayanan Inspektorat Daerah Kota Bontang
NO INDIKATOR SPM/
STANDAR
NASIONAL IKK
TARGET RENSTRA SKPD REALISASI
CAPAIAN PROYEKSI
CATATAN ANALISIS TAHUN
2011 TAHUN
2012 TAHUN
2013 TAHUN
2014 TAHUN
2015 TAHUN
2012 TAHUN
2013 TAHUN
2014 TAHUN 2015
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (15)
1. Presentase jumlah SKPD yang memiiki tingkat ketaatan pelaksanaan tugas dan fungsi penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah terhadap peraturan perundang-undangan dengan kategori “Baik
- - - - - 80% 80% - - 80% 80% IKU
2. Rasio temuan BPK yang telah selesai
ditindaklanjuti - - 70% 75% 80% 85% 95% 71,06% 71,40% 85% 95% IKU
3. Persentase penyelesaian tindak lanjut
rekomendasi hasil pengawasan APIP - 100% 100% 100% 100% 100% 100% 63,28% 81,4% 100% 100% IKU
4. Presentase kesesuaian LKPD Kota
Bontang terhadap SAP - - 95% 95,5% 96% 96,5% 97% 96,51% 99,2% 96,5% 97% IKU
5. Persentase penurunan jumlah temuan ketidakpatuhan peraturan perundang- undangan keuangan daerah dibandingkan tahun sebelumnya
- - 35% 35% 35% 35% 35% 14,7% 83,3% 35% 35% IKU
6. Presentase jumlah SKPD yang akuntabilitas
kinerjanya dengan kategori “Cukup Baik” - - 60% 70% 80% 90% 100% 53,57% 80,95% 90% 100% IKU
7. Persentase kasus pengaduan masyarakat
yang telah selesai ditindaklanjuti - - 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% IKU
8. Persentase Grand Design SPIP Kota
Bontang yang telah ditindaklanjuti - - - - 100% 100% 100% - 57,14% 100% 100% IKU
31 2.3. ISU-ISU PENTING PENYELENGGARAAN TUGAS DAN FUNGSI INSPEKTORAT DAERAH
Perubahan sistem manajemen kepemerintahan daerah dari asas sentralisasi menjadi asas desentralisasi dan perubahan sistem pengelolaan keuangan daerah dari line item budgeting menjadi performance based budgeting memberikan perubahan paradigma tugas pengawasan yang dilakukan oleh Inspektorat Daerah selaku APIP. UU Nomor 17 Tahun 2013 tentang Keuangan Negara dan UU Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara menekankan arti pentingnya sistem pengawasan intern dalam rangka penyelenggaraan pengendalian intern di lingkungan pemerintahan secara menyeluruh untuk mewujudkan tata kelola keuangan daerah berdasarkan prinsip good governance.
Sejalan dengan otonomi daerah, UU Nomor 32 Tahun 2004 juga mengamanatkan pentingnya sistem pengawasan intern atas penyelenggaraan pemerintahan daerah yang ditujukan untuk menjamin agar Pemerintahan Daerah berjalan secara efisien dan efektif sesuai dengan rencana dan ketentuan peraturan perundang-undangan dalam rangka mencapai tujuan otonomi secara luas, nyata dan bertanggung jawab.
Mengingat pentingnya sistem pengawasan intern sebagai bagian dari fungsi organik manajemen kepemerintahan daerah, maka Inspektorat Daerah harus memiliki tingkat kapabilitas yang baik. Untuk itu, BPKP Perwakilan Provinsi Kaltim telah melakukan evaluasi mandiri (self assessment) pemetaan APIP pada Inspektorat Daerah kab/kota se-Kaltim termasuk Inspektorat Daerah Kota Bontang menggunakan metode Internal Audit Capability Model (IA-CM) di tahun tahun 2014. Pemetaan APIP sangat diperlukan untuk membantu menentukan tingkat kapabilitas yang tepat bagi APIP, karena Aktivitas Audit Internal (AI) menjadi bagian integral dari tata kelola yang efektif di sektor publik sehingga dapat memberikan gambaran kinerja pelayanan Inspektorat Daerah Kpta Bontang.
Sesuai Laporan hasil evaluasi BPKP Perwakilan Provinsi Kaltim atas tata kelola Inspektorat Daerah Kota Bontang tahun 2014 Nomor: LEV-325/PW17/3/2014 tanggal 2 Juni 2014 bahwa tata kelola APIP pada Inspektorat Daerah Kota Bontang berada di level 2 (infrastructure) dari tingkatan 5 level yang ada. Adapun hasil penilaian per elemen tata kelola APIP Inspektorat Daerah Kota Bontang adalah sbb:
1. Peran dan Layanan (Service and Role of Internal Auditing) berada pada level 2 2. Pengelolaan SDM (People Management) berada pada level 1
3. Praktek Profesional (Professional Practice) berada pada level 1
4. Akuntabilitas dan Manajemen Kinerja (Performance Management and Accountability) berada pada level 2
5. Budaya dan Hubungan Organisasi (Organizational Relationships and Culture) berada pada
32 level 1
6. Struktur Tata Kelola (Governance Structures) berada pada level 2
Beberapa permasalahan tata kelola APIP dalam meningkatkan kinerja pelayanan Inspektorat Daerah adalah sbb:
1. Reiew secara periodik atas pelaskanaan kegiatan pengawasan belum dilaksanakan.
2. Administrasi hasil pengawasan belum dilakukan secara optimal dan tindak lanjut hasil rekomendasi audit yang diberikan belum seluruhnya diselesaikan oleh auditi yang bersangkutan.
3. Inspektorat belum memiliki kualifikasi minimal dan prosedur rekrutmen APIP dil lingkungan pemerintah Kota Bontang.
4. Kegiatan pengawasan belum sepenuhnya didukung dengan penerapan standar kendali mutu.
5. Pemanfaatan teknologi informasi dalam rangka mendukung tugas pengawasan belum optimal.
Adapun saran guna meningkatkan kapabilitas Inspektorat Daerah antara lain:
1. Mengembangkan jasa pelayanan lain selain audit (quality assurance) berupa jasa konsultansi seperti kegiatan sosialisasi, workshop tata kelola, manajemen resiko dan SPIP
2. Meningkatkan kecermatan profesi dalam melaksanakan tugas pengawasan dan dilakukan supervisi secara berjenjang.
3. Melakukan pemetaan kompetensi yang dibutuhkan dan kompetensi yang dimiliki oleh APIP untuk melaksanakan tugas pengawasan.
4. Menyusun PKPT berdasarkan skala prioritas dan mempertimbangkan resiko (audit berpeduli resiko).
5. Melakukan pemuktahiran data base mitra kerja potensial (audit universe).
2.4. REVIEW TERHADAP RKPD
Perda Kota Bontang Nomor 8 Tahun 2011 tentang RPJMD Kota Bontang menetapkan Visi Pemerintahan Daerah Kota Bontang tahun 2011 – 2016 adalah"Terwujudnya Masyarakat Bontang yang Berbudi Luhur, Maju, Adil dan Sejahtera " yang dijabarkan dalam 4 (empat) misi pembangunan daerah. Inspektorat Daerah melaksanakan misi kedua dengan tujuan dan sasaran sbb:
33 Tabel 2.6
Misi, Tujuan, Sasaran RPJMD Kota Bontang Tahun 2011-2016 oleh Inspektorat Daerah
MISI TUJUAN SASARAN
Misi Kedua :
Meningkatkan Kualitas Tata Kepemerintahan Yang Baik
1. Meningkatkan Penyelenggaraan Pemerintahan yang Bersih dan Bebas Korupsi Kolusi dan Nepotisme.
1.2. Terwujudnya Pemerintahan yang bersih, bebeas korupsi, kolusi dan nepotisme.
1.3. Meningkatnya transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan pemerintahan
1.4. Aparatur Pengawas/pemeriksa yang sesuai dengan kualifikasi kompetensi mencapai 100%.
1.5. Pengaduan masyarakat yang ditindaklanjuti mencapai 100%
2. Meningkatkan Kapasitas dan
Akuntabulitas Kinerja Birokrasi 2.1. Meningkatnya akuntabilitas dan kinerja pemerintah
Secara garis besar, prioritas pembangunan daerah tahun 2015 diarahkan pada 4 (empat) hal, yakni (1) Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia (2) Peningkatan Kualitas Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (3) Peningkatan Pengelolaan Lingkungan Hidup Pembangunan dan (4) Pengembangan Infrastruktur.
Peningkatan kualitas penyelenggaraan pemerintah daerah dimaksudkan untuk mendorong percepatan pembangunan daerah dan peningkatan kualitas pelayanan publik sehingga secara signifikan diharapkan akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pelayanan umum dan daya saing daerah.
Peningkatan kualitas penyelenggaraan pemerintahan daerah diwujudkan melalui penyelenggaraan pemerintahan daerah yang profesional, partisipatif, berkepastian hukum, transparan, akuntabel, memiliki kredibiltas, bersih dan bebas KKN; peka dan tanggap terhadap segenap kepentingan dan aspirasi masyarakat; dan berkembangnya budaya dan prilaku aparatur pemerintahan yang mengindahkan nilai dan prinsip tata pemerintahan yang baik.
Fokus prioritas peningkatan kualitas penyelenggaraan pemerintahan daerah berdasarkan tujuan dan sasaran pembangunan adalah :
1. Peningkatan kualitas pelayanan publik 2. Peningkatan PAD
3. Peningkatan kapasitas aparatur pemerintah
4. Menciptakan penegakan hukum tanpa memandang kedudukan, pangkat dan jabatan 5. Mewujudkan ketertiban dan keamanan di wilayah Kota Bontang.
34 Rincian prioritas pembangunan daerah, program pembangunan dan indikator kinerja
RKPD Kota Bontang tahun 2015 yang akan dilaksanakan oleh Inspektorat Daerah disajikan dalam tabel 2.4.
Tabel 2.7
Rincian Prioritas Pembangunan Daerah Inspektorat Daerah Kota Bontang
NO. PRIORITAS PEMBANGUNAN PROGRAM PEMBANGUNAN INDIKATOR KINERJA TARGET
1. Peningkatan Kualitas
Penyelenggaraan Pemerintahan
Program peningkatan
profesionalisme tenaga pemeriksa dan aparatur pengawasan
Terwujudnya kemampuan aparatur pengawas dalam kegiatan pengawasan tertentu
100%
Program peningkatan sistem pengawasan internal dan pengendalian pelaksanaan kebijakan KDH
Terwujudnya penyelenggaraan pengawasan intern pemerintah yang terintegrasi efisien dan efektif
Ada
Pengram mengintensifkan penanganan pengaduan masyarakat
Persentase pengaduan
masyarakat yang ditindaklanjuti 100%
Program penyelenggaraan SPIP
Terselenggaranya SPIP di lingkungan pemerintah Kota Bontang
WTP
Program penataan dan
penyempurnaan kebijakan sistem dan prosedur pengawasan
Terwujudnya ketatalaksanaan yang modern, efisien, efektif berbasis teknologi informasi
100%
35
BAB III
TUJUAN, SASARAN PROGRAM DAN KEGIATAN
1.1. TELAAHAN TERHADAP KEBIJAKAN NASIONAL DAN PROVINSI
UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah telah menjadi tonggak reformasi kepemerintahan daerah dari asas sentralisasi menjadi asas desentralisasi atau dikenal dengan era otonomi daerah. Sejalan perkembangan sistem pemerintahan di Indonesia untuk dapat menerapkan prinsip tata kepemerintahan yang baik, bersih dan berwibawa (good governance and clean government), yang berfokus pada peningkatan pelayanan publik dan peningkatan kapabilitas serta akuntabilitas kinerja pemerintah, telah merubah paradigma fungsi pengawasan sebagai salah satu instrumen manajemen birokrasi. Inspektorat Daerah selaku Aparat Pengawas Intern Pemerintah (APIP) yang melaksanakan fungsi pengawasan tidak lagi terkesan hanya mencari kesalahan saja (watchdog). Sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku, peran baru (new paradigm) Inspektorat Daerah terbagi atas 2 (dua) peran, yakni:
1. Melaksanakan pengawasan atas urusan penyelenggaraan Pemerintahan Daerah, untuk menjamin agar Pernerintahan Daerah berjalan secara efisien dan efektif sesuai dengan rencana dan ketentuan peraturan perundang-undangan, termasuk di dalamnya penanganan pengaduan masyarakat sebagai wujud kontrol sosial.
(PP Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pembinaan dan Pengawasan Pemerintahan Daerah).
2. Memperkuat dan menunjang efektivitas Sistem Pengawasan Intern melalui perwujudan peran APIP yang efektif.
(PP Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah) Perwujudan peran APIP yang efektif sekurang-kurangnya harus:
a. Memberikan keyakinan yang memadai atas ketaatan, kehematan, efisiensi, dan efektivitas pencapaian tujuan penyelenggaraan tugas dan fungsi Instansi Pemerintah;
b. Memberikan peringatan dini dan meningkatkan efektivitas manajemen risiko dalam penyelenggaraan tugas dan fungsi Instansi Pemerintah; dan
c. Memelihara dan meningkatkan kualitas tata kelola penyelenggaraan tugas dan fungsi Instansi Pemerintah.
Salah satu agenda nasional dalam RPJMN tahun 2010-2014 adalah Perbaikan Tata Kelola Pemerintahan yakni Reformasi Birokrasi yang ditetapkan menjadi Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2010 tentang Grand Design Reformasi Birokrasi 2010-2025 dan
36 dioperasionalisasikan dalam Peraturan Menteri PAN dan RB Nomor 20 Tahun 2010 tentang Road
Map Reformasi Birokrasi Tahun 2010-2014. Sasaran keberhasilan reformasi birokrasi yang berkenaan dengan fungsi pengawasan daerah adalah terwujudnya pemerintahan yang bersih dan bebas KKN dengan indikator kinerja Opini WTP daerah tercapai 60% pada tahun 2014.
Sasaran dan indikator tersebut dilaksanakan melalui program-program berorientasi hasil (result oriented programs) yakni:
1. Program Koordinasi, Monitoring, dan Evaluasi Bidang Pengawasan dan Pemberantasan Korupsi dengan hasil yang diharapkan adalah Laporan Monitoring TLHP instansi, Laporan penyaluran dan pemantauan pengaduan masyarakat serta laporan kormonev secara periodik.
2. Program Penguatan Pengawasan terdiri dari Program Penerapan SPIP pada Pemda dengan hasil Peningkatan ketaatan, efisiensi dan efektivitas pelaksanaan tugas dan fungsi.
3. Program Peningkatan Peran Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) sebagai Quality Assurance dan Consulting dengan hasil yang diharapkan Peningkatan kualitas pertanggungjawabanpengelolaan keuangan negara.
Sebagai upaya meningkatkan pencegahan dan pemberantasan korupsi, telah diterbitkan Perpres Nomor 55 Tahun 2012 tentang Strategi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi (Stranas PPK) Jangka Panjang Tahun 2012-2025 dan Jangka Menengah Tahun 2012- 2014. Sasaran keberhasilan Stranas PPK adalah peningkatan Indeks Persepsi Korupsi (IPK). IPK Indonesia yang pada tahun 2011 adalah sebesar 3,0 dari nilai maksimal 10 (rendah) ditargetkan meningkat pada tahun 2014 menjadi nilai 5,0.
Kebijakan Pemerintah Daerah Provinsi Kaltim dalam hal ini Inspektorat Provinsi Kaltimyang berkaitan dengan tugas pokok dan fungsi Inspektorat Daerah Kota Bontang adalah:
1. Meningkatnya Akuntabilitas kinerja instansi pemerintah berdasarkan hasil audit dan evaluasi APIP.
2. Meningkatnya penyelesaian tindak lanjut hasil pengawasan.
3. Meningkatnya koordinasi dan sinergitas pelaksanaan pengawasan
Dari uraian di atas, maka kebijakan nasional dan kebijakan provinsi Kaltim yang harus dilaksanakan oleh Inspektorat Daerah Kota Bontang pada tahun 2013 dapat dirumuskan sbb:
37 Tabel 3.1.
Telaahan kebijakan Nasional, Kebijakan Provinsi, Kebijakan Kota Bontang dan Renstra Inspektorat Daerah
NO. RKP TAHUN 2015 RENJA INSPEKTORAT DAERAH
PROVINSI KALTIM TAHUN 2013 RKPD KOTA BONTANG TAHUN 2013 RENSTRA INSPEKTORAT DAERAH TAHUN 2013
1. Implementasi Perpres Nomor 55 Tahun 2012
tentang Stranas PPK Meningkatnya Akuntabilitas kinerja instansi pemerintah berdasarkan hasil audit dan evaluasi APIP.
Terwujudnya penyelenggaraan pengawasan intern pemerintah yang terintegrasi efisien dan efektif
Terwujudnya penerapan dan peningkatan kualitas hasil pengawasan internal Pemerintah Kota Bontang yang efektif dan efisien
2. Penerapan Sistem Pengawasan Intern sebagai Quality Assurance dan Consulting
3. Opini Laporan Keuangan WTP Terselenggaranya SPIP di lingkungan
pemerintah Kota Bontang
Terwujudnya akuntabilitas keuangan daerah Pemerintah Kota Bontang yang baik
4. Penguatan pengawasan melalui penerapan SPIP Meningkatnya implementasi SPIP pada
Pemkot Bontang
6. Penanganan kasus pengaduan masyarakat Persentase pengaduan masyarakat yang
ditindaklanjuti Meningkatnya peran serta masyarakat dalam pengawasan terhadap pemerintahan Kota Bontang
7. Koordinasi, monitoring dan evaluasi bidang
pengawasan melalui Penyelesaian TLHP Meningkatnya penyelesaian tindak lanjut
hasil pengawasan Meningkatnya koordinasi dan
sinergisitas pengawasan yang komprehensif dengan APIP lainnya Meningkatnya koordinasi dan sinergitas
pelaksanaan pengawasan
8. - - Terwujudnya kemampuan aparatur
pengawas dalam kegiatan pengawasan tertentu
Meningkatnya kapasitas SDM pengawasan
9. - - Terwujudnya ketatalaksanaan yang
modern, efisien, efektif berbasis teknologi informasi
Meningkatnya kinerja manajemen internal kantor dalam rangka tugas pengawasan
38 3.2. TUJUAN DAN SASARAN RENJA SKPD
Memperhatikan hasil telaahan kebijakan nasional, kebijakan provinsi dan kebijakan pemerintah Kota Bontang tahun 2013 terhadap Renstra Inspektorat Daerah tahun 2011-2016, maka Inspektorat Daerah menyusun Rencana Kinerja Tahunan (RKT/Renja) tahun 2013. Adapun tujuan dan sasaran yang ingin dicapai dalam Renja Tahun 2013 sebagaimana terlampir pada lampiran 3.2.
39 Tabel 3.3
Rencana Kinerja Tahunan (Annual Performance Plan) Inspektorat Daerah Tahun 2015
No. Tujuan Strategis Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target
1. Meningkatkan akuntabilitas atas kinerja penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah Kota Bontang
a. Meningkatnya fungsi dan pemanfaatan hasil pengawasan intern pemerintah daerah Kota Bontang
a.1. Presentase jumlah SKPD yang memiiki tingkat ketaatan pelaksanaan tugas dan fungsi penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah terhadap peraturan perundang-undangan dengan kategori “Baik”
80%
a.2. Rasio temuan BPK yang telah selesai
ditindaklanjuti 95%
a.3. Persentase penyelesaian tindak lanjut
rekomendasi hasil pengawasan APIP 100%
b. Terwujudnya akuntabilitas pengelolaan
keuangan daerah kota Bontang yang baik b.1. Persentase kesesuaian LKPD terhadap SAP 97%
b.2. Persentase penurunan jumlah temuan ketidakpatuhan peraturan perundang-undangan keuangan daerah dibandingkan tahun sebelumnya
35%
c. Meningkatnya akuntabilitas kinerja SKPD kota
Bontang Presentase jumlah SKPD yang akuntabilitas kinerjanya
dengan kategori “Cukup Baik” 90%
2. Mewujudkan tata kelola kepemerintahan yang baik (prinsip good governance) di lingkungan pemerintah Kota Bontang
a. Terwujudnya efektivitas pelaksanaan penanggulangan dan pencegahan korupsi (PPK) Kota Bontang
Presentase sasaran RAD PPK Kota Bontang yang
telah selesai ditindaklanjuti 100%
b. Terwujudnya zona integritas di lingkungan
Pemerintah Kota Bontang Jumlah SKPD yang telah berpredikat ZI menuju
WBK/WBBM 2 SKPD
c. Terwujudnya efektivitas pelaksanaan reformasi birokrasi di lingkungan pemerintah Kota Bontang
Jumlah SKPD yang memiliki profil PMPRB yang Baik 22 SKPD
40
No. Tujuan Strategis Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target
d. Meningkatnya efektivitas penanganan kasus
pengaduan masyarakat yang responsif Presentase kasus pengaduan masyarakat yang telah
selesai ditindaklanjuti 100%
e. Terwujudnya penerapan SPIP Kota Bontang e.1. Jumlah penyelesaian DA SKPD (kumulatif) 6 SKPD e.2. Persentase jumlah SKPD yang telah
melaksanakan Penilaian Risiko dengan metoda CSA
50%
e.3. Persentase Grand Design SPIP Kota Bontang
yang telah ditindaklanjuti 100%
3. Meningkatkan kinerja manajemen internal Inspektorat dalam rangka efektivitas penyelesaian tugas pengawasan daerah
a. Meningkatnya kapasitas SDM pengawasan Jumlah pembentukan jabatan fungsional APIP 24 Jabfung
APIP b. Terwujudnya efektivitas perencanaan
pengawasan dan pengelolaan tugas pengawasan daerah
b.1. Persentase konsistensi capaian kinerja tahunan Inspektorat Daerah dengan penugasan RPJMD Kota Bontang 2011-2016
100%
b.2. Persentase jumlah penyelesaian penugasan pengawasan atas penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah Kota Bontang secara tepat waktu
100%
41 3.3. PROGRAM DAN KEGIATAN
Berdasarkan RKPD Kota Bontang tahun 2013, Renstra Inspektorat Daerah Kota Bontang tahun 2011-2016, maka program dan kegiatan yang dirancang oleh Inspektorat Daerah di tahun 2013 sbb:
Program Penunjang
1. Program Pelayanan Jasa Administrasi Perkantoran
Program ini bertujuan untuk meningkatkan kinerja pengelolaan pelayanan perkantoran dan kepegawaian dalam rangka tugas pengawasan dengan kegiatan antara lain:
a. Penyediaan Jasa Surat Menyurat;
b. Penyediaan Jasa Komunikasi dan Listrik;
c. Penyediaan Jasa Pemeliharaan dan Perizinan Kendaraan Dinas/Operasional;
d. Penyediaan ATK;
e. Penyediaan Barang Cetakan dan Penggandaan;
f. Penyediaan Komponen Instalasi Listrik/Penerangan Bangunan Kantor;
g. Penyediaan Peralatan dan Perlengkapan Kerja;
h. Penyediaan Peralatan Rumah Tangga;
i. Penyediaan Bahan Bacaan dan Peraturan Perundang-undangan;
j. Penyediaan Bahan Logistik Kantor;
k. Penyediaan Makanan dan Minuman;
l. Rapat – Rapat Koordinasi dan Konsultasi ke Luar Daerah;
m. Penyediaan Jasa Tenaga Administrasi/Teknis Perkantoran;
2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur
Program ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas sarana dan prasarana yang memadai dalam rangka tugas pengawasan, dengan kegiatan antara lain:
a. Pemeliharaan Rutin/Berkala Gedung Kantor;
b. Pemeliharaan Rutin/Berkala Kendaraan Dinas/Operasional;
c. Pemeliharaan Rutin/Berkala Peralatan Gedung Kantor;
3. Program Peningkatan Disiplin Aparatur
Program ini bertujuan untuk meningkatkan disiplin dan loyalitas pegawai dengan kegiatan Pengadaan Pakaian Khusus Hari – Hari Tertentu
4. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur
Program ini bertujuan untuk meningkatkan tugas pembinaan penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah Kota Bontang dengan kegiatan antara lain:
a. Pendidikan dan Pelatihan Formal;