BUKU AJAR
SEKOLAH TINGGI PENYULUHAN PERTANIAN
ISBN : 978-602-6367-27-3
PENANGGUNG JAWAB
Kepala Pusat Pendidikan Pertanian PENULIS
Teknologi Produksi Tanaman Keras
Firman. RL. Silalahi, S.TP.,M.Si
Endang Krisnawati, SP.,MP
TIM REDAKSI
Ketua : Dr. Bambang Sudarmanto, S.Pt.,MP Sekretaris : Dra. Rosari Hadi Armadiana, M.Pd
Pusat Pendidikan Pertanian
Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian, Kantor Pusat Kementerian Pertanian
Gedung D, Lantai 5, Jl. Harsono RM, No. 3 Ragunan, Jakarta Selatan 12550 Telp./Fax. : (021) 7827541, 78839234
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga Buku Ajar Teknologi Produksi Tanaman Keras dapat diselesaikan dengan baik. Buku ajar ini merupakan acuan bagi mahasiswa Program Diploma 4 (D4) Pendidikan Tinggi Vokasi Pertanian lingkup Kementerian Pertanian dalam mengikuti proses perkuliahan untuk mendapatkan gambaran secara jelas dalam menerima materi mata kuliah tersebut.
Terima kasih kami sampaikan kepada Firman. RL. Silalahi, S.TP.,M.Si dan Endang Krisnawati, SP.,MP selaku Dosen Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Medan dan Bogor yang telah menyusun buku ajar ini serta semua pihak yang telah ikut membantu dalam penyelesaiannya. Materi buku ajar ini merupakan bahasan mengenai Budidaya Tanaman Karet dan Budidaya tanaman Kelapa Sawit.
Isi buku ajar ini mencakup materi tentang Budidaya Tanaman Karet yang berisi:
ruang lingkup tanaman karet; persyaratan tumbuh; penyiapan lahan; penyiapan bahan tanam; penanaman; pemeliharaan tanaman; pengendalian hama dan penyakit; dan panen. Pada bagian Budidaya Tanaman Kelapa Sawit berisi tentang:
sejarah kelapa sawit; karakteristik kelapa sawit; syarat tumbuh kelapa sawit;
persiapan lahan dan penanaman; pemeliharaan tanaman; pengendalian gulma hama dan penyakit; dan panen. Buku ajar dilengkapi dengan soal latihan dan tugas praktikum yang memudahkan mahasiswa untuk belajar secara utuh dan komprehensif.
Pada kesempatan ini kami menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penyusun dalam menyelesaikan buku ajar ini. Semoga buku ajar ini dapat memberikan sedikit manfaat bagi para mahasiswa pada pendidikan tinggi vokasi pertanian.
Jakarta, Juli 2017
Kepala Pusat Pendidikan Pertanian
Drs. Gunawan Yulianto, MM., MSi.
NIP. 19590703 198001 1 001
PRAKATA
Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) adalah sekolah tinggi milik Kementerian Pertanian yang menyelenggarakan pendidikan Vokasi Diploma IV.
Salah satu Program Studi yang diselenggarakan adalah Program Studi Penyuluhan Perkebunan. Ciri dari pendidikan Vokasi adalah mahasiswa diarahkan pada penguasaan penerapan ilmu secara praktis. Untuk itu dalam penyelenggaraan Program Studi Penyuluhan Perkebunan, kompetensi mahasiswa diarahkan untuk menguasai secara praktis berbagai ilmu yang menyangkut penyuluhan dan bidang perkebunan.
Pada kurikulum STPP tahun 2016, terdapat matakuliah Teknologi Produksi Tanaman Keras dengan beban 3 (1-2) sks. Untuk memperlancar kegiatan perkuliahan dan meningkatkan kualitas proses pemebelajaran, diperlukan salah satunya adalah ketersediaan bahan ajar yang sifatnya terstruktur dan praktis. Bahan ajar ini dimaksudnya sebagai tuntunan bagi Dosen untuk melaksanakan kegiatan proses pembelajaran dan bagi mahasiswa sebagai bahan bacaan dan tuntunan dalam mengikuti matakuliah. Dengan bahan ajar ini diharapkan bahwa Dosen dan Mahasiswa dapat memahami tujuan pembelajaran (Capaian Standar Kompetensi) matakuliah Teknologi Produksi Tanaman Keras.
Bahan ajar ini terdiri dari dua bagian besar, yaitu Budidaya Tanaman Kelapa Sawit, dan Budidaya Tanaman Karet. Pada bagian Budidaya Tanaman Kelapa Sawit akan dibahas tentang: sejarah kelapa sawit; karakteristik kelapa sawit; syarat tumbuh kelapa sawit; persiapan lahan dan penanaman; pemeliharaan tanaman;
pengendalian gulma hama dan penyakit; dan panen. Pada bagian Budidaya Karet akan dibahas tentang: ruang lingkup tanaman karet; penyiapan bahan tanam;
penyiapan lahan; penanaman karet; pemeliharaan tanaman karet; pengendalian hama dan penyakit; dan panen.
Bahan ajar ini digunakan oleh mahasiswa STPP di Program Studi Penyuluhan Perkebunan. Dapat juga digunakan oleh mahasiswa yang mengambil mata kuliah
yang berkaitan dengan produksi tanaman keras (khususnya tanaman kelapa sawit dan tanaman karet).
Bahan ajar ini adalah bahan proses pembelajaran yang bersifat praktis. Sehingga untuk lebih mendalaminya pokok-pokok bahasan dalam bahan ajar ini, diperlukan referensi dari buku-buku teks yang lain. Namun untuk kegiatan lapangan praktis bahan ajar ini sudah cukup memadai untuk kegiatan di lapangan.
Mudah-mudahan bahan ajar ini berguna bagi semua penggunanya. Terima kasih.
Penyusun
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ... i
PRAKATA ... ii
DAFTAR ISI ... iv
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR GAMBAR ... xiii
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
A. Deskripsi Mata Kuliah ... 1
B. Prasyarat ... 1
C. Manfaat Pembelajaran ... 1
D. Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) ... 1
E. Petunjuk Belajar ... 2
BAB II. RUANG LINGKUP TANAMAN KARET ... 4
A. PENGANTAR MATERI ... 4
1. Deskripsi Singkat ... 4
2. Manfaat Pembelajaran ... 4
3. Capaian Pembelajaran ... 4
4. Metode Pembelajaran ... 4
B. MATERI PEMBELAJARAN ... 4
1. Sejarah Singkat Tanaman Karet ... 4
2. Karakteristik Tanaman Karet ... 5
3. Mengenal Klon Tanaman Karet ... 9
4. Syarat Tumbuh Tanaman Karet ... 14
C. RANGKUMAN ... 16
D. SOAL LATIHAN ... 17
E. TUGAS PRAKTIKUM ... 18
F. SUMBER INFORMASI DAN REFERENSI ... 19
BAB III. PENYIAPAN BAHAN TANAMAN KARET ... 20
A. PENGANTAR MATERI ... 20
1. Deskripsi Singkat ... 20
2. Manfaat Pembelajaran ... 20
3. Capaian Pembelajaran ... 20
4. Metode Pembelajaran ... 20
B. MATERI PEMBELAJARAN ... 20
1. Cara Penyiapan Bahan Tanaman Karet ... 20
2. Persemaian Pendahuluan (Pre-Nursery) ... 21
3. Pembibitan/Persemaian lanjutan (Main Nursery) ... 28
4. Pelaksanaan Okulasi ... 30
5. Pencabutan bibit ... 36
6. Pembibitan di Polybag ... 37
C. RANGKUMAN ... 40
D. SOAL LATIHAN ... 41
E. TUGAS PRAKTIKUM ... 42
F. SUMBER INFORMASI DAN REFERENSI ... 43
BAB IV. PENYIAPAN LAHAN TANAMAN KARET
...
44A. PENGANTAR MATERI ... 44
1. Deskripsi Singkat ... 44
2. Manfaat Pembelajaran ... 44
3. Capaian Pembelajaran ... 44
4. Metode Pembelajaran ... 44
B. MATERI PEMBELAJARAN ... 45
1. Pengertian lahan ... 45
2. Jenis-jenis lahan ... 45
3. Cara penyiapan lahan tanaman karet ... 46
4. Pengolahan tanah ... 49
5. Pembuatan teras/Petakan dan Benteng/Piket ... 50
6. Pemancangan ajir ... 51
7. Pembuatan lubang tanam ... 53
C. RANGKUMAN ... 55
D. SOAL LATIHAN ... 56
E. TUGAS PRAKTIKUM ... 57
F. SUMBER INFORMASI DAN REFERENSI ... 57
BAB V.
TEKNIK PENANAMAN KARET ...
58A. PENGANTAR MATERI ... 58
1. Deskripsi Singkat ... 58
2. Manfaat Pembelajaran ... 58
3. Capaian Pembelajara ... 58
4. Metode Pembelajaran ... 58
B. MATERI PEMBELAJARAN ... 58
1. Kebutuhan Bibit Karet ... 58
2. Penanaman tanaman penutup tanah ... 59
3. Tanaman sela (Intercroping) ... 61
4. Sistem Penanaman Karet ... 62
5. Cara penanaman bibit karet ... 65
C. RANGKUMAN ... 67
D. SOAL LATIHAN ... 68
E. TUGAS PRAKTIKUM ... 69
F. SUMBER INFORMASI DAN REFERENSI ... 70
BAB VI. PEMELIHARAAN TANAMAN KARET ... 71
A. PENGANTAR MATERI ... 71
1. Deskripsi Singkat ... 71
2. Manfaat Pembelajaran ... 71
3. Capaian Pembelajaran ... 71
4. Metode Pembelajaran ... 71
B. MATERI PEMBELAJARAN ... 71
1. Penyulaman
...
712. Penyiangan ... 72
3. Pemupukan ... 75
4. Pemangkasan dan Perangsangan ... 77
C. RANGKUMAN ... 81
D. SOAL LATIHAN ... 83
E. TUGAS PRAKTIKUM ... 84
F. SUMBER INFORMASI DAN REFERENSI ... 85
BAB VII. PENGANDALIAN HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN KARET ... 86
A. PENGANTAR MATERI ... 86
1. Deskripsi Singkat ... 86
2. Manfaat Pembelajaran ... 86
3. Capaian Pembelajaran ... 86
4. Metode Pembelajaran ... 86
B. MATERI PEMBELAJARAN ... 86
1. Pengertian Hama dan Penyakit Tanaman ... 86
2. Jenis-jenis Hama dan Cara Pengendaliannya pada Tanaman Karet ... 87
3. Jenis-jenis Penyakit dan Cara Pengendaliannya pada Tanaman Karet ... 92
C. RANGKUMAN ... 101
D. SOAL LATIHAN ... 102
E. TUGAS PRAKTIKUM ... 103
F. SUMBER INFORMASI DAN REFERENSI ... 105
BAB VIII. PENYADAPAN TANAMAN KARET ... 106
A. PENGANTAR MATERI ... 106
1. Deskripsi Singkat ... 106
2. Manfaat Pembelajaran ... 106
3. Capaian Pembelajaran ... 106
4. Metode Pembelajaran ... 106
B. MATERI PEMBELAJARAN ... 107
1. Prinsip-prinsip Penyadapan ... 107
2. Kriteria Tanaman Siap Sadap ... 109
3. Penyiapan Alat Panen Tanaman Karet ... 110
4. Pelaksanaan Penyadapan ... 113
5. Waktu Penyadapan dan Pengambilan Lateks ... 117
6. Frekuensi Penyadapan ... 117
7. Sistem Eksploitasi ... 118
C. RANGKUMAN ... 119
D. SOAL LATIHAN ... 120
E. TUGAS PRAKTIKUM ... 121
F. SUMBER INFORMASI DAN REFERENSI ... 122
BAB IX. SEJARAH SINGKAT KELAPA SAWIT ... 123
A. PENGANTAR MATERI ... 123
1. Deskripsi Singkat ... 123
2. Manfaat Pembelajaran ... 123
3. Capaian Pembelajaran ... 123
4. Metode Pembelajaran ... 123
B. MATERI PEMBELAJARAN ... 124
1. Asal Kelapa Sawit ... 124
2. Sejarah Singkat Perdagangan Produk Kelapa Sawit ... 124
3. Sejarah Singkat Kelapa Sawit di Indonesia ... 126
4. Potensi dan Perkembangan Kelapa Sawit di Indonesia .... 128
5. Peranan Kelapa Sawit di Indonesia ... 130
6. Kegunaan Produk Kelapa Sawit ... 132
C. RANGKUMAN ... 132
D. SOAL LATIHAN ... 133
E. TUGAS PRAKTIKUM ... 133
F. SUMBER INFORMASI DAN REFERENSI ... 133
BAB X. KARAKTERISTIK KELAPA SAWIT ... 135
A. PENGANTAR MATERI ... 135
1. Deskripsi Singkat ... 135
2. Manfaat Pembelajaran ... 135
3. Capaian Pembelajaran ... 135
4. Metode Pembelajaran ... 136
B. MATERI PEMBELAJARAN ... 136
1. Sistematika Kelapa Sawit
...
1362. Tipe-tipe Tanaman Kelapa Sawit ... 136
3. Anatomi dan Morfologi Kelapa Sawit ... 140
C. RANGKUMAN ... 148
D. SOAL LATIHAN ... 149
E. TUGAS PRAKTIKUM ... 149
F. SUMBER INFORMASI DAN REFERENSI ... 149
BAB XI. SYARAT TUMBUH KELAPA SAWIT ... 150
A. PENGANTAR MATERI ... 150
1. Deskripsi Singkat ... 150
2. Manfaat Pembelajaran ... 150
3. Capaian Pembelajaran ... 150
4. Metode Pembelajaran ... 151
B. MATERI PEMBELAJARAN ... 151
1. Kesesuaian Letak Kawasan
...
1512. Kesesuaian iklim untuk budidaya kelapa sawit ... 151
3. Kesesuaian Lahan untuk Budidaya Kelapa Sawit ... 152
C. RANGKUMAN ... 155
D. LATIHAN ... 155
E. TUGAS PRAKTIKUM ... 155
F. SUMBER INFORMASI DAN REFERENSI ... 155
BAB XII. PEMBENIHAN KELAPA SAWIT ... 156
A. PENGANTAR MATERI ... 156
1. Deskripsi Singkat ... 156
2. Manfaat Pembelajaran ... 156
3. Capaian Pembelajaran ... 156
4. Metode Pembelajaran ... 157
B. MATERI PEMBELAJARAN ... 157
1. Bahan Tanaman
...
1572. Kebutuhan Benih ... 158
3. Kecambah Kelapa Sawit ... 158
4. Kegiatan Pembenihan ... 159
5. Pembenihan Awal (pre-nursery) ... 161
6. Pembenihan Utama (main nursery) ... 165
C. RANGKUMAN ... 175
D. LATIHAN ... 176
E. TUGAS PRAKTIKUM ... 176
F. SUMBER INFORMASI DAN REFERENSI ... 177
BAB XIII. PENYIAPAN LAHAN DAN PENANAMAN KELAPA SAWIT ... 178
A. PENGANTAR MATERI ... 178
1. Deskripsi Singkat ... 178
2. Manfaat Pembelajaran ... 178
3. Capaian Pembelajaran ... 178
4. Metode Pembelajaran ... 179
B. MATERI PEMBELAJARAN ... 179
1. Pembukaan Lahan
...
1792. Pengawetan Tanah ... 188
3. Pembuatan Jalan, Jembatan dan Gorong-gorong ... 191
4. Pembangunan Tata Air di Lahan Gambut ... 192
5. Penanaman ... 194
C. RANGKUMAN ... 199
D. LATIHAN ... 200
E. TUGAS PRAKTIKUM ... 200
F. SUMBER INFORMASI DAN REFERENSI ... 201
BAB XIV. PEMELIHARAAN TANAMAN KELAPA SAWIT ... 202
A. PENGANTAR MATERI ... 202
1. Deskripsi Singkat ... 202
2. Manfaat Pembelajaran ... 202
3. Capaian Pembelajaran ... 202
4. Metode Pembelajaran ... 202
B. MATERI PEMBELAJARAN ... 203
1. Pemeliharaan Tanaman Baru
...
2032. Tanaman Belum Menghasilkan ... 207
3. Tanaman Menghasilkan ... 218
C. RANGKUMAN ... 221
D. LATIHAN ... 221
E. TUGAS PRAKTIKUM ... 222
F. SUMBER INFORMASI DAN REFERENSI ... 222
BAB XV. PENGENDALIAN GULMA, HAMA, DAN PENYAKIT KELAPA SAWIT ... 223
A. PENGANTAR MATERI ... 223
1. Deskripsi Singkat ... 223
2. Manfaat Pembelajaran ... 223
3. Capaian Pembelajaran ... 223
4. Metode Pembelajaran ... 224
B. MATERI PEMBELAJARAN ... 224
1. Gulma
...
2242. Hama ... 224
3. Penyakit ... 245
C. RANGKUMAN ... 249
D. LATIHAN ... 251
E. TUGAS PRAKTIKUM ... 251
F. SUMBER INFORMASI DAN REFERENSI ... 251
BAB XVI. PANEN KELAPA SAWIT ... 252
A. PENGANTAR MATERI ... 252
1. Deskripsi Singkat ... 252
2. Manfaat Pembelajaran ... 252
3. Capaian Pembelajaran ... 252
4. Metode Pembelajaran ... 252
B. MATERI PEMBELAJARAN ... 253
1. Kriteria Tanaman Siap Produksi
...
2532. Persiapan Panen ... 253
3. Kriteria Matang Panen ... 254
4. Rotasi Panen ... 256
5. Sistem Ancak Panen ... 256
6. Kerapatan Panen ... 257
7. Cara Panen ... 257
C. RANGKUMAN ... 258
D. LATIHAN ... 259
E. TUGAS PRAKTIKUM ... 259
F. SUMBER INFORMASI DAN REFERENSI ... 259
DAFTAR PUSTAKA ... 260
DAFTAR TABEL
No Judul Halaman
1. Ukuran rata-rata biji karet ... 24
2. Kriteria batang bawah yang dapat diokulasi ... 30
3. Pemupukan bibit karet dalam polybag ... 39
4. Dosis pemupukan tanaman karet ... 76
5. Kriteria kesesuaian lahan mineral secara umum untuk tanaman kelapa sawit ... 154
6. Persentase kerapatan naungan pada proses pembenihan kelapa sawit 162 7. Jumlah benih kelapa sawit pada beberapa jarak tanam di pembenihan 168 8. Jadwal dan dosis pemupukan benih kelapa sawit ... 171
9. Standar pertumbuhan benih kelapa sawit ... 173
10. Ukuran diameter pohon dan tinggi tunggul maksimum penumbangan tanaman Sawit ... 186
11. Ukuran parit drainase pada lahan kelapa sawit ... 189
12. Kanal pembuangan lahan sawit ... 192
13. Pola jarak tanam dan kerapatan tanaman kelapa sawit ... 195
14. Panduan dosis pemupukan pada TBM ... 212
15. Sifat dan jenis pupuk ... 213
16. Dosis dan jumlah aplikasi pupuk pada masa kelapa sawit TM ... 220
17. Pedoman pengendalian hama perusak daun kelapa sawit ... 230
18. Fraksi matang panen pada tanaman kelapa sawit ... 254
19. Hubungan antara fraksi, rendemen dan mutu minyak sawit ... 255
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Akar karet ... 6
2. Batang tanaman karet ... 7
3. Daun tanaman karet ... 7
4. Bunga tanaman karet ... 7
5. Buah karet ... 8
6. Biji karet ... 8
7. Beberapa jenis klon karet ... 13
8. Pengecambahan biji karet pada kotak kayu dan lahan ... 27
9. Cara mendederkan biji karet ... 27
10. Persemaian lanjutan tanaman karet ... 28
11. Langkah kerja mengokulasi karet ... 31
12. Batang bawah ... 34
13. Entres atau batang atas ... 34
14. Pembibitan dalam polybag ... 37
15. Penyiapan media dalam polybag ... 38
16. Pembibitan dalam polybag ... 39
17. Lahan untuk penanaman karet ... 46
18. Pengolahan tanah untuk tanaman karet ... 50
19. Pemancangan ajir ... 52
20. Pengajiran pada lahan datar (a) dan pengajiran menurut kontur (b) ... 53
21. Cara pengajiran pada lahan datar dengan hubungan kuadrat/ bujur Sangkar ... 53
22. Pembuatan lubang tanam ... 54
23. Pembuatan Lubang tanam ... 54
24. Tanaman penutup tanah diantara tanaman karet ... 60
25. Tumpang sari karet dan jagung ... 61
26. Sistem penanaman tumpang sari dengan jarak jalanan
(karet + kopi + lamtoro) ... 63
27. Sistem penanaman tumpang sari dengan jarak tanam pagar (karet dan kopi) ... 63
28. Tumpang sari karet dan temulawak ... 64
29. Jarak tanam monokultur segitiga ... 64
30. Karet ditanam secara monokultur ... 65
31. Kegiatan penanaman karet ... 67
32. Gulma tanaman karet ... 74
33. Tanaman karet yang terpelihara dengan baik dari gulma ... 75
34. Teknik penyanggulan ... 80
35. Pemenggalan batang karet ... 81
36. Babi hutan ... 91
37. Gejala serangan JAP pada karet ... 93
38. Serangan lanjut jamur upas ... 95
39. Pengobatan karet yang diserang jamur upas ... 96
40. Fisiologi pengaliran lateks ... 108
41. Cara mengukur tanaman siap sadap ... 110
42. Pisau sadap ... 111
43. Talang lateks ... 111
44. Mangkok lateks ... 112
45. Cincin mangkok ... 112
46. Ember pengumpul lateks ... 113
47. Mal sadap ... 113
48. Cara memasang mal sadap ... 115
49. Cara penyadapan ... 115
50. Proses penyadapan ... 117
51. Pengumpulan lateks ... 117
52. Penampang Buah Kelapa Sawit Jenis Dura ... 137
53. Penampang Buah Kelapa Sawit Jenis Pisifera ... 138
54. Penampang Buah Kelapa Sawit Jenis Tenera ... 138
55. Kelapa Sawit Jenis Nigrescens ... 139
56. Kelapa Sawit Jenis Virescens ... 139
57. Kelapa Sawit Jenis Albescens ... 140
58. Akar Tanaman Kelapa Sawit ... 141
59. Bagian-bagian batang tanaman kelapa sawit ... 142
60. Batang tanaman kelapa sawit ... 143
61. Daun kelapa sawit ... 144
62. Duduk pelepah melingkari batang ... 144
63. Susunan pelepah daun kelapa sawit ... 144
64. Bunga kelapa sawit ... 146
65. Bunga pada tanaman kelapa sawit ... 147
66. Susunan buah kelapa sawit ... 148
67. Kecambah kelapa sawit ... 159
68. Pembenihan awal/pre-nursery ... 163
69. Cara penanaman kecambah ... 164
70. Pembenihan Utama/Main Nursery ... 175
71. Pembukaan lahan tanpa bakar ... 181
72. Jalan produksi perkebunan kelapa sawit ... 182
73. Blok – blok kebun pada perkebunan kelapa sawit ... 183
74. Gambar penutup tanah ... 191
75. Pola tanam dengan jarak 9m x 9m ... 196
76. Lubang tanam kelapa sawit ... 198
77. Penanaman kelapa sawit ... 199
78. Pembuatan piringan pada tanaman baru ... 203
79. Pemupukan pada tanaman kelapa sawit tanaman baru ... 206
80. Piringan pada TBM terpelihara ... 206
81. Pemeliharaan gawangan ... 206
82. Pemupukan pada tanaman TBM ... 213
83. Pemangkasan pasir ... 214
84. Dodos untuk kegiatan pemangkasan pasir ... 215
85. Pemangkasan produksi pada kelapa sawit TBM ... 215
86. Kegiatan kastrasi kelapa sawit TBM ... 216
87. Kegiatan pemangkasan kelapa sawit TM ... 219
88. Gulma Pada di Lahan Kelapa Sawit ... 229
89. Ulat Api (Setothosea asigna) pada tanaman kelapa sawit ... 231
90. Tanaman terkena ulat kantong ... 231
91. Tanaman terkena ulat api ... 232
92. Hama tikus pada kelapa sawit ... 233
93. Oryctes Rhinoceros ... 235
94. Larva Tirathaba rufivena ... 237
95. Penyakit akar (Blast Disease) ... 246
96. Penyakit garis kuning (patch yellow) ... 247
97. Penyakit busuk kering pangkal batang (Dry Basal Rot) ... 247
98. Penyakit pucuk busuk (Spear Rot) ... 248
99. Penyakit tandan busuk ... 249
100. Kriteria panen tandan buah segar ... 255
BAB I PENDAHULUAN
A. Deskripsi Mata Kuliah
Mata kuliah ini membahas Budidaya Tanaman Karet dan Budidaya tanaman Kelapa Sawit. Pada bagian Budidaya Tanaman Karet akan dibahas tentang: ruang lingkup tanaman karet; persyaratan tumbuh; penyiapan lahan; penyiapan bahan tanam;
penanaman; pemeliharaan tanaman; pengendalian hama dan penyakit; dan panen. Pada bagian Budidaya Tanaman Kelapa Sawit akan dibahas tentang: sejarah kelapa sawit; karakteristik kelapa sawit; syarat tumbuh kelapa sawit; persiapan lahan dan penanaman; pemeliharaan tanaman; pengendalian gulma hama dan penyakit; dan panen.
B. Prasyarat
Dalam kurukilum Pendidikan Vokasi Pertanian tidak terdapat mata kuliah Dasar- Dasar Budidaya, sehingga mata kuliah Teknologi Produksi Tanaman Keras tidak mempunyai prasyarat dan dapat ditempuh mahasiswa.
C. Manfaat Pembelajaran
Setelah belajar Mata Kuliah Teknologi Produksi Tanaman Keras, manfaat yang didapatkan adalah mahasiswa mampu melaksanakan kegiatan budidaya tanaman keras perkebunan secara baik dan benar terutama pada budidaya tanaman karet dan budidaya tanaman kelapa sawit. Pada akhirnya mahasiswa dapat menggunakan ilmu dan pengetahuan Teknologi Produksi Tanaman Keras Perkebunan untuk bekerja dan berusaha.
D. Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK)
Setelah mendapatkan mata kuliah teknologi produksi tanaman keras diharapakan:
1. Budidaya Tanaman Karet
a. Mahasiswa mampu menjelaskan sejarah singkat tanaman karet di Indonesia b. Mahasiswa mampu menjelaskan karakteristik tanaman karet
c. Mahasiswa mampu menjelaskan syarat tumbuh tanaman karet d. Mahasiswa mampu melaksanakan penyiapan bahan tanaman karet e. Mahasiwa mampu melaksanakan penyiapan lahan tanaman karet f. Mahasiswa mampu melaksanakan penanaman tanaman karet g. Mahasiswa mampu melaksanakan pemeliharaan tanaman karet
h. Mahasiswa mampu mengendalikan hama dan penyakit pada tanaman karet i. Mahasiswa mampu melaksanakan penyadapan karet
2. Budidaya Tanaman Kelapa Sawit
a. Mahasiswa mampu menjelaskan sejarah singkat tanaman kelapa sawit di Indonesia
b. Mahasiswa mampu menggunakan karakteristik kelapa sawit untuk kegiatan budidaya kelapa sawit yang baik
c. Mahasiswa mampu mengindentifikasi kesesuaian iklim dan kesesuaian lahan d. mahasiswa mampu melaksanakan pembenihan kelapa sawit secara baik dan
benar
e. Mahasiswa mampu melaksanakan kegiatan persiapan lahan dan penanaman kelapa sawit secara baik dan benar
f. Mahasiswa mampu melaksanakan kegiatan pemeliharaan tanaman kelapa sawit secara baik dan benar
g. Mahasiswa mampu melaksanakan kegiatan pengendalian gulma, hama, dan penyakit tanaman pada kegiatan budidaya kelapa sawit secara baik dan benar h. Mahasiswa mampu melaksanakan panen pada budidaya tanaman kelapa
sawit secara baik dan benar E. Petunjuk Belajar
Untuk mencapai pembelajaran hal-hal yang harus dilakukan adalah:
a. Pembelajaran dilakukan secara berurutan sesuai dengan urutan materi yang disajikan dalam bahan ajar ini
b. Beban pembelajaran disesuaikan dengan jumlah waktu yang dijadwal pada jumlah pertemuan
c. Pada akhir kegiatan mahasiswa harus mengerjakan soal-soal latihan sesuai dengan materi yang diajarkan.
d. Mahasiswa harus membaca buku-buku tentang budidaya tanaman karet dan tanaman kelapa sawit dari referensi yang lain untuk memperdalam dan menambah wawasan
e. Agar proses pembelajaran dapat tercapai, kegiatan-kegiatan praktikum harus dilaksanakan oleh mahasiswa
BAB II
RUANG LINGKUP TANAMAN KARET
A. PENGANTAR MATERI 1. Deskripsi Singkat
Materi ini membahas tentang ruang lingkup tanaman karet yang meliputi sejarah singkat tanaman karet di Indonesia, karakteristik tanaman, jenis klon dan syarat tumbuh tanaman karet.
2. Manfaat Pembelajaran
Materi pembelajaran ini diharapkan bermanfaat bagi mahasiswa untuk membekali pengetahuan dan keterampilan mahasiswa tentang ruang lingkup tanaman karet agar profesionalitas mahasiswa menjadi meningkat.
3. Capaian Pembelajaran
Setelah mengikuti pembelajaran ini :
a. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang sejarah singkat tanaman karet b. Mahasiswa mampu mengidentifikasi karakteristik tanaman karet
c. Mahasiswa mampu mengenal jenis-jenis klon tanaman karet
d. Mahasiswa mampu menjelaskan persyaratan tumbuh tanaman karet 4. Metode Pembelajaran
Metode yang digunakan dalam pembelajaran ini adalah dengan metode ceramah, diskusi, tanya jawab dan praktik.
B. MATERI PEMBELAJARAN 1. Sejarah Singkat Tanaman Karet
Karet merupakan tanaman perkebunan tahunan berupa pohon batang lurus.
Di daerah asalnya, yakni Brasil – Amerika Serikat, tanaman ini telah dikenal dan digunakan secara tradisional oleh penduduk asli setempat. Pada tahun 1876, Henry A. Wickham, memasukkan biji karet yang berasal dari Amerika Selatan
ke Ceylon, Malaya. Setelah melalui beberapa kali percobaan, pohon ini berhasil dikembangkan di Asia Tenggara. Tanaman karet sendiri pertama kali dikenal di Indonesia sejak zaman penjajahan Belanda. Pada awalnya karet ditanam di kebun Raya Bogor pada tahun 1876 sebagai tanaman koleksi. Selanjutnya karet dikembangkan menjadi tanaman perkebunan komersil dan tersebar di beberapa daerah.
Pada awalnya belum ada yang berani terjun dibidang perkaretan, dikarenakan mereka belum mengetahui syarat tumbuh tanaman tersebut secara tepat dan belum ada kepastian bahwa pengusahaan tanaman karet ini akan menguntungkan.
Setelah tanaman karet berhasil disadap dengan berbagai cara, akhirnya ditemukan cara penyadapan yang lebih baik dibandingkan dengan cara penyadapan yang liar. Hal ini membuktikan bahwa tanaman karet lebih baik dan lebih unggul dibandingkan tumbuhan getah lainnya yang pada saat itu juga menjadi sumber bahan “karet”. Tanaman karet sebenarnya bukan tanaman rawa, sehingga karet dapat diusahakan dengan baik pada berbagai jenis tanah.
Di Indonesia perkebunan besar karet baru dimulai di daerah Sumatera pada tahun 1902 dan di pulau Jawa pada tahun 1906. Sejak saat itulah perkebunan karet mengalami perluasan yang cepat, walaupun terjadi juga masa suram.
Disamping berkembangnya perkebunan besar yang diusahakan oleh pengusaha, berkembang juga perkebunan-perkebunan karet yang diusahakan oleh rakyat (petani karet) terutama di luar Jawa. Karet rakyat ini berkembang cukup pesat, sehingga produksinya melampaui produksi karet perkebunan besar. Perkembangan karet rakyat ini dimulai antara tahun 1904- 1910.
2. Karakteristik Tanaman Karet a. Klasifikasi Tanaman Karet
Tanaman karet merupakan tanaman perkebunan yang tumbuh di berbagai wilayah di Indonesia. Karet merupakan produk dari proses penggumpalan getah tanaman karet (lateks).
Klasifikasi botani tanaman karet adalah sebagai berikut : Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledonae Famili : Euphorbiaceae Genus : Hevea
Spesies : Hevea brasiliensis b. Morfologi Tanaman Karet 1) Akar
Sesuai dengan sifat dikotilnya, tanaman karet memiliki sistem perakaran yang terdiri dari akar tunggang, akar lateral, dan akar serabut. Akar tunggang mampu menopang tanaman yang tinggi dan besar.
Pada tanaman yang berumur 3 tahun kedalaman akar tunggang sudah mencapai 1,5 m.
Apabila tanaman sudah berumur 7 tahun maka akar tunggangnya sudah mencapai
Gambar 1. Akar karet
Sumber : anktani.wordpress.com diakses 17/3/2017
kedalaman lebih dari 2,5 m. Pada kondisi tanah yang gembur, akar lateral dapat berkembang sampai kedalaman 40-80 cm. Akar lateral berfungsi untuk menyerap air dan unsur hara dari tanah. Pada tanah yang subur akar serabut masih dijumpai sampai kedalaman 45 cm.
2) Batang.
Karet merupakan pohon yang tumbuh tinggi dan berbatang cukup besar, pohon dewasa tingginya dapat mencapai 15-25 meter. Batang biasanya tumbuh lurus dan memiliki percabangan yang tinggi. Beberapa pohon karet ada kecondongan arah tumbuh tanaman agak miring. Batang tanaman ini mengandung getah yang dikenal dengan nama lateks.
Gambar 2. Batang tanaman karet Sumber : republika.co.id diakses
17/3/2017
3) Daun
Daun karet terdiri dari tangkai daun utama dan tangkai anak daun. Panjang tangkai daun utama 3-20 cm. Panjang tangkai anak daun sekitar 3-10 cm. Biasanya ada tiga anak daun yang terdapat pada sehelai daun karet. Anak daun berbentuk eliptis, memanjang dengan ujung meruncing, tepinya rata dan gundul.
Gambar 3. Daun tanaman karet Sumber : rainforest-alliance.org
diakses 17/3/2017
4) Bunga
Bunga karet terdiri dari bunga jantan dan betina yang terdapat dalam malai payung tambahan yang jarang. Pangkal tenda bunga berbentuk lonceng dan diujungnya terdapat 5 tajuk yang sempit. Panjang tenda bunga
4-8 mm. Bunga betina berambut vilt. Gambar 4. Bunga tanaman karet Sumber: http://botany.cz/cs/
hevea-brasiliensis/m diakses 18/5/2017
Ukurannya lebih besar sedikit dari yang jantan dan mengandung bakal buah yang beruang tiga. Kepala putik yang akan dibuahi dalam posisi duduk berjumlah 3 buah.
Bunga jantan mempunyai 10 benang sari yang tersusun menjadi suatu tiang.
Kepala sari terbagi dalam 2 karangan, tersusun satu lebih tinggi dari yang lain.
Paling ujung adalah suatu bakal buah yang tidak tumbuh sempurna.
5) Buah dan biji
Ciri pada buah karet, jika buah dibuka akan terlihat memiliki pembagian ruang yang jelas. Masing- masing ruang berbentuk setengah bola. Jumlah ruang biasanya tiga, dengan diameter 3 – 5 cm, Jika sudah tua buah karet akan pecah dengan sendirinya.
Biji karet terdapat dalam setiap ruang buah dengan jumlah biji biasanya ada tiga kadang enam sesuai
Gambar 5. Buah karet Sumber : ukurbumi.blogspot
diakses 17/3/2017
dengan jumlah ruang. Biji karet berukuran besar dengan kulit keras, warnanya coklat kehitaman dengan bercak-bercak berpola yang khas.
Gambar 6. Biji karet Sumber : taniyes.blogspot diakses
20/3/2017
Menurut asalnya biji karet dibedakan atas :
a) Biji legitim (legitimate seed) adalah biji yang diperoleh dari kebun induk yang proses penyerbukannya diketahui secara pasti dari mana tepung sarinya berasal. Biji legitim dapat diperoleh dari hasil persarian alami dalam suatu kebun induk monoklon atau hasil penyerbukan buatan.
b) Biji propelegitim ialah biji yang berasal dari penyerbukan alami dalam suatu kebun benih dimana pohon induknya diketahui secara pasti sedangkan benang sarinya hanya perkiraan saja.
c) Biji illegitim (illegitimate seed) ialah biji yang berasal dari pohon induk tertentu diketahui sifat-sifatnya, namun tumbuhnya tercampur dengan jenis klon lainnya yang dapat menyerbuki klon tersebut, sehingga biji yang dihasilkan tidak diketahui secara pasti asal tetua jantannya.
d) Biji sapuan ialah biji yang tidak diketahui induk dan benang sarinya dengan jelas.
3. Mengenal Klon Tanaman Karet
Bagi peneliti dan petugas lapangan pengenalan klon-klon karet sangat penting, karena dengan mengenal ciri-ciri klon, akan dapat menjamin mutu tanaman karet.
Klon adalah biji yang dihasilkan dengan cara perbanyakan vegetatif suatu tanaman.
Klon pada tanaman karet dimaksudkan untuk memperoleh tanaman dengan sifat- sifat menguntungkan sebagai berikut:
Produksi lateks tinggi sejak awal dan tetap konsisten selama umur produktifnya.
Kuat dan kokoh sehingga tidak mudah roboh oleh tiupan angin.
Tahan terhadap hama dan penyakit.
Pohon tumbuh lurus ke atas.
Cabang menyebar merata di sekeliling batang.
Pertautan antara batang atas dan batang bawah tidak terlalu nyata
Memiliki respon yang baik terhadap stimulasi dan intensitas sadapan rendah
Kulit murni, halus, tebal dan cepat pulih setelah disadap.
Pembentukan klon unggul karet melalui perbanyakan vegetatif pertama sekali dilakukan oleh Hetlen, seorang ahli hortikultura pada tahun 1910 , hingga sampai saat ini klon tanaman karet dilakukan melalui okulasi yang didahului dengan seleksi tanaman induk.
a. Klon karet anjuran
Seiring dengan perkembangan penelitian dan pengembangan tanaman karet khususnya bidang pemuliaan tanaman, maka telah diciptakan banyak klon
yang tujuannnya adalah untuk meningkatkan produktivitas tanaman. Setiap klon dirakit dari tetua mereka yang memiliki sifat unggul di satu lokasi namun kurang optimal di lokasi lainnya, dengan kata lain satu klon akan tumbuh dan berproduksi optimal pada agroekosistem yang sesuai dengan sifat-sifatnya.
Bibit karet yang dianjurkan dalam budidaya karet adalah bibit yang berasal dari klon-klon unggul untuk batang atas dalam okulasi bibit karet.
Pusat Penelitian Karet telah mengidentifikasi klon-klon menurut potensinya.
Pengelompokan ini berdasarkan potensi lateks yang dapat dihasilkan dan juga potensi kayu bila ditebang nanti. Pada tahun 1999/2000 Pusat Penelitian Karet mengeluarkan klon anjuran yang dapat digunakan untuk meningkatkan produktivitas lahan. Beberapa klon-klon tersebut adalah.
Klon Penghasil Lateks adalah klon yang memiliki potensi hasil lateks sangat tinggi tetapi hasil kayu sedang : BPM 24, BPM 107, BPM 109, PB 217, PB 260, PR 261, PR 255, PR 300, RRIM 600.PR 228
Klon Penghasil Lateks-Kayu adalah klon yang memilki potensi hasil lateks tinggi dan hasil kayunya juga tinggi : AVROS 2037, BPM 1, PB 330, RRIC 100
Klon Penghasil Kayu adalah klon yang memiliki ciri potensi lateks yang rendah namun memiliki hasil kayu yang tinggi : IRR 2, IRR 5, IRR 7
Klon-klon yang sudah tidak direkomendasi, bukan berarti klon tersebut tidak boleh ditanam, dengan memperhatikan kondisi agroekosistem, sistem pengelolaan yang diterapkan dan luas areal sudah ditanami klon tersebut.
b. Ciri beberapa klon karet
Ciri-ciri suatu tanaman (klon) kadang-kadang berubah. Perubahan ini disebabkan oleh pengaruh keadaan lingkungan tempat tanaman itu tumbuh, seperti jenis tanah, kesuburan tanah, tinggi tempat, iklim, kekurangan unsur hara tertentu, dan lain-lain. Untuk dapat menunjukkan adanya perbedaan satu klon dengan klon lainnya, memerlukan deskripsi yang jelas.
Klon : AVROS 2037
Silsilah AVROS 256 x AVROS 352 Ciri-ciri:
Batang : jagur, tegak agak melengkung, silinder
Kulit batang : warna coklat tua, celah-celah berupa jala dan sempit sekali, lentisel sedikit dan halus
Mata : letaknya dalam lekukan, bekas pangkal tangkai daun kecil dan rata
Payung : bentuk kerucut, sedang, terbuka, tangkai daun agak jarang, jarak antar payung sedang.
Tangkai daun : bentuknya agak cembung, panjang, kurus, arahnya mendatar agak ke bawah sedikit, pangkal tangkai daun kecil dan bagian atasnya rata.
Anak tangkai daun : bentuknya pendek, lurus, gemuk, arahnya terhadap tangkai daun terjungkat (ke atas), membentuk sudut sedang (+ 60o).
Helai daun : warna hijau kekuning-kuningan, suram, tipis tidak kaku, bentuknya elips sampai agak oval, panjang 2,5x lebar, pinggir daun sedikit bergelombang tak teratur, ujung daun lebar dan garis tepinya agak melengkung dengan ekor daun pendek, penampang melintang rata, helaian daun bersinggungan sampai tumpang tindih, daun tengah di bawah kedua daun pinggir
Warna lateks: : putih kekuning-kuningan.
Klon : PRIM 600
Silsilah : Tjir 1 X PB 86
Ciri-ciri: :
Batang : Agak jagur, tumbuh meninggi, tegak lurus, sedikit bengkok, silindris
Kulit batang : Warna coklat, coklat hitam di bawah bekas pangkal tangkai daun, celah-celah berupa alur tak teratur dan sempit, lentisel sedikit sekali, dan halus.
Mata : Letaknya hampir rata, bekas pangkal tangkai daun kecil agak berbonggol
Payung : Bentuk busur sampai kerucut, agak kecil, agak tertutup , tangkai-tangkai daun agak jarang, jarak antar payung jauh sekali
Tangkai daun : Bentuknya lurus agak berbentuk huruf S, panjang, agak kurus, arahnya mendatar agak ke atas, pangkal tangkai daun kecil dengan lekukan di bagian atasnya.
Anak tangkai daun : Bentuk lurus, pendek, kurus, arahnya terhadap tangkai daun lurus agak ke atas sedikit membentuk sudut sedang (± 60°)
Helaian daun : Warna hijau agak mengkilat sedikit, agak lemas, bentuknya oval agak panjang, panjang (2 1/3 x lebar), pinggir daun rata, ujung daun agak lebar dan garis tepinya melengkung dengan ekor agak panjang, penampang melintang rata, penampang memanjang lurus sedikit melengkung, letak daun terkulai, helaian daun terpisah.
Warna lateks : Putih
Klon: : PR 30 3
Silsilah : Tjir 1 x PR 107
Ciri-ciri :
Batang : jagur, tegak lurus, silindris
Kulit batang : Warna coklat, celah-celah berupa alur tak teratur dan sempit, lentisel banyak, menonjol dan kasar
Mata : Letaknya hampir rata, bekas pangkal tangkai daun agak besar dan rata
Payung : Bentuk busur, agak besar, terbuka, tangkai daun agak jarang, jarak antar payung sedang
Tangkai daun : Bentuknya hampir lurus, agak panjang, sedang, arahnya mendatar sampai agak ke atas, pangkal tangkai daun agak besar dan bagian atasnya berlekuk
Anak tangkai : Bentuknya lurus, panjang, agak kurus, arahnya terhadap tangkai daun lurus, membentuk sudut sedang (± 60°) Helaian daun : Warna hijau kusam, tipis agak kaku, bentuknya oval agak
panjang, panjang 2,5 x lebar, pinggir daun bergelombang teratur, ujung daun lebar dan garis tepinya agak melengkung dengan ekor daun pendek, penampang
melintang rata, penampang memanjang lurus, letak daun tegak agak ke bawah, helaian daun terpisah sampai bersinggungan, daun tengah agak di bawah sedikit dari kedua daun pinggir dan terpuntir, helaian daun pinggir simetris
Warna lateks : Kekuning-kuningan
Klon : PR 228
Silsilah : BR 2 x PR 107
Ciri-ciri :
Batang : Jagur, tegak lurus, silindris
Kulit batang : Warna coklat tua, celah-celah berupa alur sempit tidak teratur, lentisel agak banyak dan kasar
Mata : Letaknya rata, bekas pangkal tangkai daun kasar dan rata Payung : Bentuk busur sampai setengan bulatan besar, agak
tertutup, jarak antar payung sedang, dan tangkai daun agak jarang
Tangkai daun : Bentuknya lurus hampir membentuk huruf S, agak panjang, agak kurus, arahnya agak mendatar, kaki tangkai sedang dengan sedikit lekukan di bagian atasnya
Anak tangkai daun : Bentuk lurus, agak pendek, gemuk, arahnya terhadap tangkai daun ke atas.
Helaian daun : Warna hijau kekuningan, agak kaku, bentuknya oval, pinggir rata, ujung daun agak lebar dan garis tepinya melengkung dengan ekor daun pendek
Warna lateks : Putih kekuning-kuningan.
Gambar 7. Beberapa jenis klon karet Sumber : dokumen.tip, diakses 17/4/2017
4. Syarat Tumbuh Tanaman Karet
Agar tanaman karet dapat tumbuh dengan optimal dan menghasilkan produktivitas lateks yang baik, tanaman karet memiliki persyaratan tempat tumbuh terhadap kondisi iklim dan keadaan tanah yang harus dipenuhi.
Jika kondisi tersebut tidak terpenuhi, tanaman karet tetap tumbuh tetapi pertumbuhannya lambat, produksi lateksnya rendah sehingga secara ekonomis tidak menguntungkan walaupun dilakukan perawatan secara intensif. Syarat tumbuh tanaman karet tersebut adalah sebagai berikut:
a. Syarat iklim
Daerah yang cocok untuk tanaman karet adalah pada zona antara terletak antara 15° LS dan 15° LU.
Curah hujan
Tanaman karet memerlukan curah hujan tahunan tidak kurang dari 2.000 mm.
Curah hujan optimal antara 2.000 - 2.500 mm/tahun dengan hari hujan berkisar 100 sampai dengan 150 hari hujan/tahun. Lebih baik lagi jika curah hujan merata sepanjang tahun. Tanaman karet dapat diusahakan pada daerah dengan curah hujan 1.500 mm/tahun asal merata sepanjang tahun. Sebagai tanaman tropis, karet membutuhkan sinar matahari sepanjang hari, minimum 5- 7 jam/hari.
Tinggi tempat
Tanaman karet tumbuh optimal pada dataran rendah dengan ketinggian 200 m – 400 m dari permukaan laut. Pada ketinggian > 400 m dpl dan suhu harian lebih dari 30°C, akan mengakibatkan tanaman karet tidak bisa tumbuh dengan baik.
Temperatur
Tanaman karet dapat tumbuh dengan baik pada suhu antara 25° C - 35° dengan suhu optimal rata-rata 28 ° C.
Angin
Angin mempengaruhi pertumbuhan tanaman karet. Angin yang kencang pada musim-musim tertentu dapat mengakibatkan kerusakan pada tanaman karet yang berasal dari klon-klon tertentu yang peka terhadap angin kencang. Dianjurkan untuk menanam klon-klon yang memiliki perakaran yang kuat tidak mudah patah, serta menanami tanaman penahan angin di sekeliling kebun.
b. Tanah
Tanaman karet dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, baik tanah vulkanis muda, vulkanis tua, alluvial, maupun tanah gambut. Tanah vulkanis umumnya memiliki sifat-sifat fisika yang cukup baik terutama dari segi struktur, tekstur, solum, kedalaman air tanah, aerasi, dan draenase, tetapi sifat kimianya secara umum kurang baik karena kandungan haranya rendah. Sedangkan tanah alluvial biasanya cukup subur, tetapi sifat fisikanya kurang baik sehingga drainase dan aerasinya kurang baik. Tanah-tanah kurang subur seperti podsolik merah kuning dengan bantuan pemupukan dan pengelolaan yang baik bisa dikembangkan menjadi perkebunan karet dengan hasil yang cukup baik. Padas pada lapisan olah tanah tidak disukai tanaman karet karena mengganggu pertumbuhan dan perkembangan akar, sehingga proses pengambilan hara dari dalam tanah terganggu. Derajat keasaman mendekati normal cocok untuk tanaman karet, yang paling cocok adalah pH 5-6.
Batas toleransi pH tanah adalah 4-8.
Sifat-sifat tanah yang cocok untuk tanaman karet adalah :
Solum cukup dalam sampai 100 cm atau lebih dan tidak terdapat batu-batu
aerase dan draenase baik
remah, poros, dan dapat menahan air.
Tekstur terdiri atas 35 % liat dan 30 % pasir.
Tidak bergambut, dan jika ada tidak lebih tebal dari 20 cm.
Kandungan unsur hara N, P dan K cukup dan tidak kekurangan unsur hara mikro.
pH 4,5 – 6,5
Kemiringan tidak lebih dari 16 %.
Permukaan air tanah tidak kurang dari 100 cm.
C. RANGKUMAN
Tanaman karet merupakan tanaman perkebunan tahunan berupa pohon batang lurus. Tanaman karet sendiri pertama kali dikenal di Indonesia sejak zaman penjajahan Belanda. Pada awalnya karet ditanam di kebun Raya Bogor pada tahun 1876 sebagai tanaman koleksi. Selanjutnya karet dikembangkan menjadi tanaman perkebunan komersil dan tersebar di beberapa daerah. Di Indonesia perkebunan besar karet baru dimulai di daerah Sumatera pada tahun 1902 dan di pulau Jawa pada tahun 1906.
Karet merupakan pohon yang tumbuh tinggi dan berbatang cukup besar, pohon dewasa tingginya dapat mencapai 15-25 meter, memiliki sistem perakaran yang terdiri dari akar tunggang, akar lateral, dan akar serabut. Panjang tangkai daun utama 3-20 cm sedangkan panjang tangkai anak daun sekitar 3-10 cm. Anak daun berbentuk eliptis, memanjang dengan ujung meruncing, tepinya rata dan gundul.
Bunga karet terdiri dari bunga jantan dan betina yang terdapat dalam malai payung tambahan yang jarang. Pangkal tenda bunga berbentuk lonceng dan di ujungnya terdapat 5 tajuk yang sempit. Buah karet jika dibuka akan terlihat memiliki pembagian ruang yang jelas dengan jumlah ruang biasanya 3, dengan diameter 3 – 5 cm.
Tanaman karet tumbuh optimal pada dataran rendah dengan ketinggian 200 m – 400 m dari permukaan laut .Curah hujan optimal antara 2.000 - 2.500 mm/tahun dengan hari hujan berkisar 100 sampai dengan 150 hari hujan/tahun serta suhu optimal rata-rata 28 ° C.
Biji karet berdasarkan asalnya digolongkan atas biji legitim, illegitim, propelegitim dan biji. Klon karet yang dianjurkan dapat berupa hasil seleksi klon-klon introduksi atau hasil persilangan sendiri dan dievaluasi setiap 2 tahun melalui lokakarya pemuliaan tanaman karet, yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Karet.
Pusat Penelitian Karet telah mengidentifikasi klon-klon menurut potensinya.
Pengelompokan ini berdasarkan potensi lateks yang dapat dihasilkan dan juga potensi kayu bila ditebang nanti. Beberapa klon-klon tersebut adalah.
Klon Penghasil Lateks seperti PB 260, PR 261, PR 255, PR 300, RRIM 600. PR 228
Klon Penghasil Lateks-Kayu seperti AVROS 2037, BPM 1, PB 330, RRIC 100
Klon Penghasil Kayu seperti IRR 2, IRR 5, IRR 7.
Untuk dapat tumbuh dengan optimal dan menghasilkan produktivitas lateks yang baik, tanaman karet memiliki persyaratan tempat tumbuh terhadap kondisi iklim dan keadaan tanah yang harus dipenuhi. Syarat tumbuh tanaman karet tersebut meliputi iklim dan tanah.
- Daerah yang cocok untuk tanaman karet adalah pada zone antara 15 LS dan 15 LU.
- Curah hujan optimal antara 2.000 - 2.500 mm/tahun dengan hari hujan berkisar 100 sampai dengan 150 hari hujan/tahun
- Tanaman dapat tumbuh optimal pada dataran rendah dengan ketinggian 200 m – 400 m dari permukaan laut.
- Suhu optimal rata-rata 28 ° C.
D. SOAL LATIHAN
1. Tanaman karet dikenal dengan nama ilmiah…
a. Copea brasilinsis b. Teobroma brasilensis c. Havea brasilensis d. Elaeis brasilensis
2. Pada umumnya tanaman karet adalah tanaman yang menghasilkan…
a. Bunga b. Getah c. Minyak d. Buah
3. Daun tanaman karet terdiri atas tangkai daun utama dan tangkai anak daun, panjang tangkai daun utama berkisar…
a. 3 – 10 cm b. 3 – 15 cm c. 3 - 20 cm d. 3 - 25 cm
4. Ada bebrapa klon tanaman karet, diantaranya klon penghasil lateks, klon penghasil lateks dan kayu, klon penghasil kayu. Yang termasuk klon penghasil lateks adalah…
a. RRIC 100 b. PB 260 c. PB 330 d. IRR 70
5. Suhu optimal untuk pertumbuhan tanaman karet…
a. 8 derajat celcius.
b. 18 derajat celcius c. 28 derajat celcius d. 38 derajat celcius E. TUGAS PRAKTIKUM
1. Judul : Identifikasi morfologi tanaman karet
2. Tujuan : Mahasiswa terampil mengidentifikasi tanaman karet 3. Waktu : 2 x 170 menit
4. Keselamatan Kerja
a. Kenakan perlengkapan K3
b. Hati-hati dalam menggunakan peralatan kerja 5. Alat dan Bahan
a. Alat : cangkul, parang b. Bahan : bibit karet
6. Langkah kerja :
a. Bongkar bibit karet secara hati-hati dengan menggunakan alat
b. Potong bagian-bagian dari bibit tersebut, dipisahkan akar, batang, dan daunnya
c. Lakukan pengamatan terhadap bagian-bagian tersebut F. SUMBER INFORMASI DAN REFERENSI
Anwar, Chairil, 2006. Manajemen dan Teknologi Budidaya Karet. Pusat Penelitian Karet, Medan
Gembong Tjitrosoepomo, 2007. Morfologi Tumbuhan. Gajah Mada University Press.
Setyamidjaya Djoehana, 1993. Karet. Budidaya dan Pengolahan. Kanisius Yogyakarta.
Nanang Ahdiat, 2005. Karet Budidaya dan Pengolahannya. PT. Musi Perkasa Utama, Jakarta.
Setiawan, Didit Heru dan Handoko Agus , 2006. Petunjuk Lengkap Budidaya Karet, Agromedia Pustaka, Jakarta.
Tim Penulis PS, 2004. Karet, Strategi Pemasaran, Budidaya dan Pengolahan.
Penebar Swadaya, Jakarta.
Tim Penulis PS, 2009. Panduan Lengkap Karet. Penebar Swadaya, Jakarta.
BAB III
PENYIAPAN BAHAN TANAMAN KARET
A. PENGANTAR MATERI 1. Deskripsi Singkat
Materi ini membahas tentang teknik penyiapan lahan, yang meliputi cara penyiapan bahan, persemaian pendahuluan, persemaian lanjutan, pengokulasian, pencabutan bibit dan pembibitan di polybag untuk budidaya tanaman karet.
2. Manfaat Pembelajaran
Materi ini diharapkan bermanfaat bagi mahasiswa untuk membekali pengetahuan tentang persiapan bahan tanaman karet sehingga profesionalitas mahasiswa meningkat.
3. Capaian Pembelajaran
Setelah mengikuti pembelajaran ini mahasiswa
a. Mahasiswa mampu menyiapkan bahan tanaman karet.
b. Mahasiswa mampu melaksanakan persemaian pendahuluan (pre-nursery) c. Mahasiswa mampu melaksanakan persemaian lanjutan (main-nursery) d. Mahasiswa mampu melaksanakan okulasi karet
e. Mahasiswa mampu melaksanakan pencabutan bibit karet f. Mahasiswa mampu melaksanakan pembibitan di polybag 4. Metode Pembelajaran
Metode yang digunakan dalam pembelajaran ini adalah dengan metode ceramah, diskusi, tanya jawab dan praktik.
B. MATERI PEMBELAJARAN
1. Cara penyiapan bahan tanaman karet
Bahan tanam karet merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi produktivitas kebun, sehingga harus dipersiapkan dengan teknik dan budidaya
yang benar. Bahan tanam karet adalah bahan tanam karet klonal yang diperoleh dengan cara okulasi (grafting) antara batang bawah (rootstock) dan mata entres dari batang atas (scion) unggul yang dipersiapkan di pembibitan.
Khusus bahan tanaman ada tiga komponen yang perlu disiapkan yaitu: batang bawah (root stoct), entres/batang atas (budwood) dan okulasi (grafting) pada penyiapan bahan tanam.
Pada usaha tanaman karet bahan tanam yang ada beberapa jenis, yaitu: stum mata tidur, bibit dalam polybag, stum mini dan stum tinggi. Stum mata tidur lebih mudah ditangani sehingga biaya menjadi lebih murah. Kelemahannya tingkat kematian di lapang cukup tinggi sehingga diperlukan jumlah stum mata tidur yang cukup banyak. Penggunaan bibit dalam polybag sangat menjamin tingkat keberhasilan penanaman di lapang dan kemurnian klon lebih, tetapi biayanya cukup mahal.
Ada dua tahap kegiatan dalam pengadaan bahan tanaman yaitu : kegiatan pesemaian dan pembibitan. Untuk kegiatan okulasi dilaksanakan di lokasi pembibitan, jika okulasi berhasil maka akan dihasilkan stum mata tidur, stum mini atau bibit dalam polybag
2. Persemaian pendahuluan (Pre-Nursery)
Persemaian bibit adalah tempat atau areal untuk kegiatan memproses benih menjadi bibit/semai yang siap ditanam di lapangan. Pre-Nursery adalah kegiatan persemaian untuk mengecambahkan benih karet sebelum bibit dipindahkan ke persemaian selanjutnya (main-nursery). Dalam persemaian pendahuluan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dilakukan diantaranya yaitu:
a. Syarat tempat persemaian
- Lahan persemaian harus datar agar populasi persatuan luas bisa banyak - Tanah yang miring menyebabkan luasan tanah menjadi berkurang karena
habis untuk dibuat teras agar tanah tidak mudah erosi
- Tanah subur, remah, gembur dan kadar bahan organiknya tinggi - Dekat dengan areal penanaman, untuk mempermudah pengangkutan
- Dekat dengan sumber air - Dekat dengan pemukiman
- Bebas dari sisa-sisa akar dan gulma - Bebas dari hama dan penyakit
b. Seleksi biji
Biji sebaiknya diseleksi terlebih dahulu sebelum dikecambahkan. Seleksi biji dilaksanakan melalui tes biji untuk memilih biji yang baik dan yang tidak baik. Cara seleksi biji dapat dilakukan dengan cara :
Pengujian daya lenting
Pengujian daya lenting dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui viabilitas dari biji karet yang akan digunakan
- Biji dijatuhkan dari ketinggian 1 meter dari lantai semen, permukaan meja atau lembaran kayu. Biji yang memantul (melenting) hingga ketinggian > 40 cm sewaktu dijatuhkan adalah biji yang baik. Sedangkan biji yang tidak memantul (menggulir ke samping dengan bunyi hampa) biasanya tidak baik untuk benih.
- Pengujian daya lenting dapat pula dilakukan menggunakan kotak kayu dengan tinggi 40 cm, dimana apabila biji karet setelah dipantulkan keluar dari kotak, secara otomatis dapat langsung terpisahkan.
Perendaman
- Biji dimasukkan ke dalam air bersih.
- Biji yang baik adalah biji yang tenggelam, sedangkan biji yang mengambang sebaiknya dipisahkan dan dibuang.
Pengambilan sampel (contoh) biji
- dari sejumlah biji yang akan dikecambahkan diambil 100 biji untuk tiap 200 liter biji dengan beberapa ulangan.
- Biji sampel kemudian dibelah dan diperiksa bagian dalamnya.
- Bila dari hasil pengamatan sampel 70 % , biji menunjukkan keadaan baik.
Uji kesegaran biji
Cara pengujian kesegaran biji
Ambil secara acak 200 biji dari 10.000 biji.
Pecahkan biji-biji tersebut dan belah daging bijinya (endospermnya).
Biji yang baik adalah biji yang berwarna putih, murni, sampai kekuning- kuningan
Belahan biji karet yang kekuning-kuningan berminyak, kuning kecoklatan sampai hitam dan/atau keriput dinilai jelek.
Jumlah biji yang berwarna putih
% Kesegaran biji = ____________________________ x 100 % Jumlah biji yang diambil secara acak
Uji daya berkecambah
Pengujian daya kecambah adalah mengecambahkan benih pada kondisi yang sesuai untuk kebutuhan perkecambahan benih tersebut, lalu menghitung presentase daya berkecambahnya.
Tujuan dari pengujian daya berkecambah adalah :
1) Memperoleh informasi nilai penanaman benih di lapangan 2) Membandingkan kualitas benih antar seed lot (kelompok benih) 3) Menduga storabilitas (daya simpan) benih
4) Memenuhi apakah nilai daya berkecambah benih telah memenuhi peraturan yang berlaku
Cara pengujian daya berkecambah
1) Ambil secara acak 200 biji dari 10.000 biji
2) Dederkan dalam kotak berisi pasir, biarkan selama 21 hari 3) Hitung jumlah biji yang berkecambah.
Jumlah biji yang berkecambah
% Daya kecambah = ____________________________ x 100 % Jumlah biji yang dikecambahkan
Tanda-tanda biji yang baik
1) Kemurnian biji minimal 98 % ; dapat diketahui dari bentuk, ukuran serta ciri khas lainnya yang berbeda bagi setiap klon.
2) Nilai keseragaman biji lebih dari 80 % ; biji yang baik memiliki kulit biji yang mengkilat dan bila dijatuhkan di atas lantai akan mental dan berbunyi nyaring.
3) Daya kecambah minimal 80 % dalam jangka waktu 21 hari.
4) Kadar air biji 32 – 45%
5) Biji berasal dari pohon sumber yang berumur lebih dari 8 tahun Tabel 1. Ukuran rata-rata biji karet
Ukuran Panjang
(cm) Lebar
(cm) Tebal
(cm) Jumlah
(butir/kg) Berat (gr/butir)
Terkecil 1,733 1,545 1,393 508 1,650
Agak kecil 1,887 1,670 1,464 434 2,064
Kecil 1,978 1,733 1,536 410 2,231
Sedang 2,060 1,794 1,626 310 2,840
Besar 2,291 1,928 1,750 287 3,300
Sumber : Indriaty Indyah S dalam Tim Penulis PS, 1991
Berdasarkan ukurannya, secara umum biji karet yg berukuran sedang memiliki daya kecambah paling baik dibandingkan dengan ukuran lainnya dan daya kecambah biji berukuran besar lebih baik daripada biji ukuran kecil. Melalui pengamatan, biji karet yang memiliki daya kecambah baik adalah yang berkulit luar mengkilap.
Sementara itu, berdasarkan daya lentingnya, biji yang dijatuhkan di ubin dan memantul berarti keadaannya cukup baik.
Cara terakhir untuk mengetahui daya kecambah biji adalah melalui pembelahan.
Pembelahan ini dilakukan dengan metode sample. Sekitar 100 biji karet dari
200 kg biji diambil secara acak dan kemudian dibelah menggunakan batu atau palu. Setelah dibelah, ada 6 (enam) kriteria daya kecambah biji karet yang bisa disimpulkan berdasarkan warna belahannya. Keenam kriteria tersebut sebagai berikut :
• Belahan biji berwarna putih dinilai sangat baik.
• Belahan biji berwarna kekuningan dinilai baik.
• Belahan biji kekuningan agak kehijauan dinilai cukup baik.
• Belahan biji kekuningan berminyak dinilai jelek.
• Belahan biji kekuningan gelap dinilai rusak.
• Belahan biji kecokelatan hingga kehitaman dinilai busuk.
Biji karet yang baik setelah dilakukan pembelahan berwarna putih, tetapi kondisi ini sangat sulit ditemukan. Akan tetapi bila ada warna kekuningan sebanyak 80%
sudah bisa disebut baik.
Perendaman dengan cara memasukkan biji-biji karet ke dalam karung plastik dan selanjutnya merendamnya dalam air bersih selama empat malam. Harus diusahakan karung terendam di dalam air seluruhnya. Karenanya, di atasnya perlu diberi beban. Setelah empat malam terendam, karung diangkat dan ditiriskan, selanjutnya biji-biji tersebut dihamparkan atau dikeringanginkan di atas anyaman bambu di dalam ruangan bersirkulasi udara baik hingga kering. Saat pengeringan di dalam ruang ini tebal hamparan sebaiknya tidak lebih dari 5 cm. Agar terlindung dari infeksi bakteri atau mikroorganisme lainnya, biji-biji tersebut disemprot menggunakan fungisida Actiodane dengan kepekatan 0,05%. Setelah disemprot dan kering, biji karet siap dikirim ke tempat pesemaian yang jaraknya relatif jauh.
Disamping syarat-syarat tersebut di atas untuk mendapatkan biji yang unggul, perlu juga diperhatikan saat pengumpulan biji yaitu antara lain :
1) Biji pungutan pertama jangan diambil, karena tidak diketahui kapan biji-biji tersebut jatuh, kemungkinan biji-biji tersebut sudah jatuh pada beberapa minggu atau bahkan beberapa bulan sebelumnya, sehingga sudah tidak segar lagi.
2) Tiga atau empat baris tanaman dari pinggir sekeliling kebun bijinya jangan diambil
3) Biji dipungut setiap hari atau dua hari sekali dan
4) Hasil pungutan dua hari harus segera dikirimkan untuk segera disemaikan c. Cara penyemaian benih
1) Keluarkan biji dari pembungkusnya, tebarkan di lantai yang terlindung dari matahari langsung atau segera diangkut ketempat persemaian.
2) Sebelum disemai cucilah biji dengan air untuk membersihakan dari serbuk gergaji dan serbuk belerang karena serbuk belerang dapat merusak biji yang sudah berkecambah.
3) Untuk meningkatkan daya kecambah biji, dapat dilakukan perendaman dengan larutan KNO3 O,2 % bahan aktif selama 24 jam atau dengan air bersih selama 24 jam.
4) Biji selanjutnya didederkan pada media yang sudah disiapkan, dengan cara menekan biji ke dalam tanah, bagian yang rata mengarah ke bawah sedalam sampai ¾ bagian biji.
5) Atur arah tempat keluarnya lembaga mengarah kesatu arah.
6) Jarak tanam antar barisan sekitar 5 cm dan dalam barisan 2-3 cm atau setiap meter dapat didederkan 24 baris biji, satu barisan berisi 35 biji.
7) Bila tidak ada hujan, siram persemaian 2 kali sehari dengan menggunakan gembor.
8) Untuk mencegah biji keluar dari pasir, tutuplah permukaan bedengan dengan potongan daun lalang kering.
Gambar 8. Pengecambahan biji karet pada kotak kayu dan lahan Sumber: Ruangtani.com diakses 18/5/2017
Gambar 9. Cara mendederkan biji karet Sumber : unmura10.blogspot.co.id, diakses, 11/6/2017
Persemaian perkecambahan harus dipelihara dengan baik agar benih dapat berkecambah dengan baik.
Penyiraman dilakukan pagi dan sore hari agar bedengan selalu dalam keadaan lembab.
Penyiraman dilakukan dengan menggunakan alat gembor
d. Seleksi kecambah
Umumnya benih telah berkecambah setelah 10 – 14 hari sejak disemaikan. Benih yang telah berkecambah dipindahkan dimana kondisi kecambah masih pendek, yaitu saat kecambah membentuk daun pada fase “Bayonet”. Pemindahan pada saat demikian akan mengurangi kemungkinan patahnya lembaga dan akar tunggang.
3. Pembibitan/Persemaian lanjutan (Main Nursery)
Pada pembibitan lanjutan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan diantaranya:
a. Syarat tempat pembibitan - Datar atau agak miring
- Dekat dengan sumber air dan cukup subur - Bebas dari sisa - sisa akar dan gulma - Dekat dengan areal yang ditanami - Bebas dari penyakit akar
- Drainase baik
Penyemaian. Biji yang sudah berkecambah dibesarkan untuk diokulasi dan selanjutnya dipindahkan ke lahan
Gambar 10. Persemaian lanjutan tanaman karet
Sumber : perkebunan.litbang.pertanian.go.id, diakses 15/5/2017
b. Cara pengolahan lahan
Lahan untuk persemaian dicangkul sedalam 60- 75 cm
Bekas-bekas akar dan kotoran lainnya dibuang
Tanah dihaluskan dan diratakan, kemudian dibentuk menjadi bedengan- bedengan yang tingginya 20 cm
Diantara bedengan-bedengan dibuat parit selebar 50 cm untuk mengalirkan kelebihan air
c. Penanaman bibit
Benih yang telah berkecambah dipindah dan ditanam di tempat persemaian bibit
Setelah tanah diolah / bedengan dibuat segera dilakukan pemancangan jarak tanam sesuai dengan yang ditentukan.
Jarak tanam untuk bibit stum tinggi 90 cm x 90 cm atau 100 cm x 100 cm x 100 cm.
Jarak tanam bibit stum 50 cm x 50 cm, 50 cm x 30 cm dan 30 cm x 30 cm.
Jarak tanam tujuan untuk okulasi hijau 60 cm x 15 cm.
Pemeliharaan persemaian
Untuk memperoleh bibit yang baik dan sehat pertumbuhannnya, bibit di persemaaian harus mendapatkan pemeliharaan yang meliputi kegiatan :
Pembibitan harus bebas dari tumbuhan pengganggu sejak awal sampai pembibitan tidak digunakan lagi
Penyiraman dilakukan pada awal pertumbuhan bibit, terutama bila keadaan cuaca kering
Penyulaman dilakukan bila ada bibit yang mati. Dilakukan selambat - lambatnya 3 minggu setelah penanaman agar tidak tinggal pertumbuhanya. Bibit yang digunakan sebagai bahan sulaman diambil dari tempat persemaian kecambah
Penyiangan dilakukan bersamaan dengan penggemburan tanah
Pemupukan pertama dilakukan pada saat pengolahan pada pengolahan terakhir yaitu fosfat alam sebanyak 400-600 kg/ha atau TSP 200-300 kg/ ha yang ditabur meliputi areal dan dicampur dengan tanah lapisan atas sedalam
13 - 25 cm, atau dapat juga digunakan dosis pemupukan sebagai berikut:
- Untuk tanaman batang bawah yang berasal dari biji klon GT 1, dosis pemupukan : 16,50 gr ZA / 8,0 gr urea + 4 gr + T5P + 2 gr ZK / KCI, per pohon / sekali memupuk.
- Waktu memupuk dilakukan tiap tiga bulan sekali. sewaktu keadaan tanah masih lembab.
- Cara memupuk yaitu dengan pupuk diberikan dalam parit sedalam 5-7 cm dari batang, kemudian parit ditutup kembali.
Pengendalian hama dan penyakit
Bibit yang terserang penyakit cendawan hendaknya dihembus dengan belerang cirrus atau dengan fungisida lainnya.
4. Pelaksanaan Okulasi
Okulasi adalah salah satu teknik perbanyakan tanaman secara vegetatif dengan menempelkan mata tunas dari suatu tanaman kepada tanaman lain yang dapat bergabung (kompatibel) yang bertujuan untuk menyatukan sifat-sifat baik yang dimiliki oleh batang bawah dengan batang atas yang ditempelkan kepadanya.
Tanaman yang bakal ditempel disebut batang bawah yang berdiri di atas akar sendiri. Sedang mata tunas diambil dari kayu okulasi atau kayu entres disebut batang atas.
Prinsip okulasi sama yaitu penggabungan batang bawah dengan batang atas, yang berbeda adalah umur batang bawah dan batang atas yang digunakan sehingga perlu teknik tersendiri untuk mencapai keberhasilan okulasi. Bila bibit yang diokulasi ini ditumbuhkan di lapangan dikatakan tanaman okulasi, sedangkan tanaman asal biji yang di tumbuhkan di lapangan disebut tanaman semai.
Tabel 2 . Kriteria batang bawah yang dapat diokulasi
Tipe Okulasi Umur Batang
Bawah Umur Entres Jenis Mata
Hijau 3-8 bln 1- 3 bln (hijau) Daun atau sisik
Coklat 7-12 bln 6-12 bln (coklat) Daun
Sumber : Setyamidjaja, 1993
Okulasi hijau dapat dilakukan pada tanaman semaian di polybag, sedangkan okulasi coklat dilakukan pada pembibitan batang bawah di lapangan.
Mempunyai payung daun yang sehat.
Tanaman dalam kondisi dorman
Kulit tanaman tidak lengket.
Okulasi sebaiknya dilakukan pagi hari antara jam 07.00 - 10.00 WIB, dimusim hujan kecil. Okulasi yang dilakukan pada musim kemarau atau waktu hujan lebat akan menyebabkan okulasi tidak tumbuh atau banyak mati.
a. Cara mengokulasi
1 2
3 4
5 6
Gambar 11. Langkah kerja mengokulasi karet Sumber : mampirkebun.blogspot.co.id
1) Membuat jendela okulasi pada batang bawah
- batang bawah dibersihkan dengan kain lap 10 cm dari permukaan tanah.
- Pada tinggi 7-10 cm dari permukaan tanah buat irisan sejajar dari bawah ke atas sepanjang 5-7 cm, lebar 1,5 cm atau tidak lebih dari sepertiga lingkaran batang yang dilakukan dengan pisau okulasi yang tajam pada kulit.
- Buat irisan mendatar dibagian ujung irisan tegak tadi
- Bagian kulit yang terbentuk karena irisan tadi disebut jendela.
- Jendela dibuka pada saat menempel mata.
2) Mempersiapkan mata tunas dari kayu okulasi mata tunas
Ada 4 jenis mata atau kuncup tidur (Dorman) yang dikenal pada tanaman karet dan satu mata bunga:
Mata ketiak atau disebut juga mata prima yang ditandai adanya bekas tangkai daun
berada pada ketiak daun, bila hendak digunakan terlebih dahulu dipangkas daunnya kira-kira 10 hari sebelum dipotong digunakan sebagai mata untuk okulasi coklat.
Mata burung, yang ditandai adanya tangkai daun rudimenter yang digunakan untuk okulasi hijau.
Mata sisik : mata yang terdapat dibawah kuncup daun-daun (Flush) atau pada ujung payung daun digunakan untuk okulasi mini.
Mata bunga : terdapat pada tanaman yang sudah masuk umur berbunga tidak dapat digunakan untuk okulasi bersihkan kayu okulasi yang bakal diambil matanya
Cara pelaksanaannya :
- Sayat kayu okulasi dengan pisau yang tajam.
- Tingggalkan sedikit bagian kayunya.
- Kemudian lepaskan kayu dari kulit yag mengandung mata tunas tadi.
- Bentuklah kulit mata okulasi tersebut dengan pisau sehingga bentuknya sama dengan ukuran atau sedikit lebih kecil dengan jendela.