• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Kerangka Teori

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Kerangka Teori"

Copied!
66
0
0

Teks penuh

(1)

13 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teori 1. Tinjauan Tentang Perbandingan Hukum

a. Pengertian Perbandingan Hukum

Terdapat berbagai istilah asing mengenai perbandingan hukum antara lain Comparative Law, Comparative Jurisprudence, Foreign Law (Istilah Inggris), Droit Compare (istilah perancis), Rechtsvergelijking (istilah Belanda) dan Rechtsvergleichung atau Vergleichende Rechlehre (istilah Jerman). Di dalam Black’s Dictionary, Istilah Perbandingan hukum terdapat di dalam bab mengenai prinsip-prinsip ilmu hukum di mana perbandingan hukum diartikan dengan melakukan perbandingan berbagai macam sistem hukum (the study of principles of legal science by the comparison of various systems of law) (Barda Nawawi Arief, 2003:3).

Di dalam Black’s Law Dictionary dikemukakan, bahwa comparative Jurisprudence ialah suatu studi mengenai prinsip-prinsip ilmu hukum dengan melakukan perbandingan berbagai macam sistem hukum.

Prof. Jaakko Husa membedakan macro comparative law dan micro comparative law. Perbandingan hukum makro, lebih fokus pada masalah- masalah atau tema-tema besar dan luas, seperti masalah sistematika, penggolongan dan pengklasifikasian sistem hukum sedangkan perbandingan hukum mikro, berkaitan dengan aturan-aturan hukum, kasus-kasus, dan lembaga-lembaga yang bersifat khusus/aktual. Dalam menjelaskan perbandingan sistem hukum (legal system), Jakko Husa menemukan, bahwa, legal system dapat dilihat dalam arti sempit dan dalam arti luas, Dalam arti sempit legal system adalah sistem hukum formal dari berbagai negara sedangkan dalam arti luas legal system tidak hanya mecakup aturan, lembaga, jurisprudensi dan doktrin-doktrin hukum, tetapi juga mencakup berbagai unsur hubungan sosial, faktor sejarah, ideologi, budaya, dan tradisi. (Barda Nawawi Arief, 2003:5).

(2)

Berkaitan dengan pengertian perbandingan hukum, ada beberapa pendapat para ahli yang mengemukakan pengertian perbandingan hukum di antaranya sebagai berikut (Romli Atmasasmita,2000:7-10, Peter de Cruz, 2012:11) :

1) Rudolf B. Schlesinger, mengatakan bahwa perbandingan hukum merupakan metode penyelidikan dengan tujuan untuk memperoleh pengetahuan yang lebih dalam tentang bahan hukum tertentu.

Perbandingan hukum bukanlah perangkat peraturan dan asas-asas hukum dan bukan suatu cabang hukum, melainkan merupakan teknik untuk menghadapi unsur hukum asing dari satu masalah hukum.

2) Winterton, mengemukakan bahwa perbandingan hukum adalah suatu metode yang membandingkan sistem-sistem hukum dan perbandingan tersebut menghasilkan data sistem hukum yang dibandingkan.

3) Gutterdige, menyatakan bahwa perbandingan hukum tidak lain merupakan suatu metode yaitu metode perbandingan yang dapat digunakan dalam semua cabang ilmu.

4) Lemaire, mengemukakan perbandingan hukum sebagai cabang ilmu pengetahuan (yang juga mempergunakan metode perbandingan) mempunyai lingkup : (isi dari) kaidah-kaidah hukum, persamaan dan perbedaannya, sebab-sebabnya dan dasar dasar masyarakatnya.

5) Orucu mengemukakan Comparative law is a legal discipline aiming at ascertaining similiarities and differences and finding out relationships between various legal systems, their essence and style, looking at comparable, legal intitutions and concepts and trying to determine solutions to certain problems in these system with a definite goal in mind, such as law reform, unification etc.

6) Watson mengatakan hukum komparatif bukanlah sebuah studi tentang suatu sistem hukum atau bagian dari suatu sistem hukum,

(3)

meskipun kadang-kadang memang ada atau bahkan selintas sering ditemui pada suatu sistem hukum. Studi tentang sebuah cabang hukum asing tetap menjadi domain hukum asing, bukan hukum komparatif.

Dari penjelasan di atas diketahui bahwa perbandingan hukum itu adalah suatu cabang ilmu pengetahuan yang juga merupakan suatu metode perbandingan hukum itu sendiri yang berguna untuk memperoleh pengetahuan yang lebih dalam tentang hukum tertentu.

b. Manfaat Perbandingan Hukum

Johnny Ibrahim (2005 :313) mengemukakan bahwa perbandingan hukum merupakan salah satu cara yang digunakan dalam penelitian normatif untuk membandingkan salah satu lembaga hukum (Legal Institutions) dari sistem hukum yang satu dengan lembaga hukum (yang kurang lebih sama dari sistem hukum) yang lain. Dari perbandingan tersebut dapat ditemukan unsur-unsur yang persamaan dan perbedaan kedua sistem hukum tersebut. Persamaan-persamaan akan menunjukan inti dari lembaga hukum yang diselidiki, sedangkan perbedaanperbedaan disebabakan oleh adanya perbedaan iklim, suasana, sejarah masingmasing bangsa yang bersangkutan dengan sistem hukum yang berbeda.

Menurut Sunaryati Hartono (1991:1-2), dengan melakukan perbandingan hukum dapat ditarik kesimpulan bahwa :

1) kebutuhan-kebutuhan yang universal (sama) akan menimbulkan cara- cara pengaturan yang sama pula;

2) kebutuhan-kebutuhan khusus berdasarkan perbedaan suasana dan sejarah itu akan menimbulkan cara-cara yang berbeda pula.

Menurut Prof. Sudarto, dalam mempelajari perbandingan hukum ada kecenderungan untuk menjurus mempelajari sistem hukum asing. Ada dua manfaat mempelajari sistem hukum asing itu:

(4)

1) Yang bersifat Umum

a) memberi kepuasan bagi orang yang hasrat ingin tahu yang bersifat ilmiah;

b) memperdalam pengertian tentang pranata masyarakat dan kebudayaan sendiri;

c) membawa sikap kritis terhadap sistem hukum sendiri.

2) Yang bersifat khusus

Menurut Rene David dan Brierley bahwa:

a) berguna dalam penelitian hukum yang bersifat historis dan filosofis;

b) penting untuk memahami lebih baik dan untuk mengembangkan hukum nasional;

c) membantu dalam mengembangkan pemahaman terhadap bangsa- bangsa lain dan oleh karena itu memberikan sumbangan untuk menciptakan hubungan/suasana yang baik bagi perkembangan hubungan-hubungan internasional.

Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa manfaat perbandingan hukum bukan hanya untuk memperkaya khazanah keilmuan semata, tetapi juga berguna sebagai pengembangan ilmu hukum kedepannya. Terutama dalam hubungan-hubungan internasional. Dalam hal ini, penulis membandingkan antara Hukum Humaniter Internasional dan Hukum Islam dalam melindungi wanita ketika konflik bersenjata.

2. The Convention on the Elimination of all Forms of Discrimination Against Women (CEDAW)

Hak asasi manusia merupakan hak yang dimiliki oleh setiap manusia, baik laki-laki maupun perempuan. Hak asasi manusia bertujuan untuk menjamin dan melindungi martabat setiap orang berdasarkan hukum, bukan atas dasar kehendak, keadaan maupun kondisi kecenderungan politik. Kemunculan konvensi tentang penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan atau CEDAW (Convention on the

(5)

Elimination of All Forms of Discrimination Against Women) adalah upaya untuk menjamin hak-hak perempuan tersebut.

The Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination against Women (CEDAW) diadopsi oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa – Bangsa pada tahun 1979 (Nations). Konvensi ini kerapkali disebut sebagai instrumen perundang-undangan mengenai hak perempuan secara internasional. Di dalamnya, konvensi ini terdiri atas pembukaan dan tiga puluh artikel atau pasal yang mendefinisikan tentang bagaimana jenis- jenis diskriminasi terhadap perempuan. Jelas sekali bahwa konvensi ini dibentuk untuk memberantas segala bentuk ketidaksetaraan yang ada antara kaum perempuan dan kaum laki- laki (Sri Wiyanti Eddyono, 2007:

27).

CEDAW terdiri atas tiga puluh pasal mencakup materi berbeda.

Selain berisi tentang diskriminasi perempuan, di dalamnya terdapat hak anak, sosial-politik, sosial-budaya, ekonomi, dan lain-lain. Secara umum isi CEDAW terdiri atas:

a. pasal 1-16 mendiskusikan tentang Prinsip-prinsip dalam Konvensi;

b. Pasal 7-9 membahas tentang hak sipil dan politik perempuan;

c. Pasal 10-14 menetapkan tentang hak perekonomian, sosial dan budaya;

d. pasal 15-16 membincang tentang Hak perempuan setelah menikah (menjadi istri) berikut hak terhadap anak akibat perkawinan;

e. Pasal 17-22 tentang Komite CEDAW dan mekanisme Laporan pelaksanaan konvensi;

f. pasal 23-30 adalah tentang pemberlakuan Konvensi,ratifikasi adopsi serta reservasi Konvensi.

Diantara pasal yang menegaskan mengenai hak perempuan dalam CEDAW adalah sebagai berikut (Arifah Millati Agustina, 2016: 206):

(6)

a. persamaan wanita dengan pria dalam perkawinan yaitu, akan diberikan hak untuk mengadakan pergerakan dan memilih tempat kediaman;

b. persamaan wanita dengan pria akan dijamin terhadap hak dan tanggung jawab dalam hubungan kekeluargaan dan semua urusan mengenai perkawinan, khususnya beberapa hak wanita bersama dengan pria akan dijamin dibidang perkawinan;

c. dalam pasal 16 huruf (a) disebutkan hak yang sama antara pria dan wanita untuk melakukan ikatan perkawinan;

d. dalam pasal 16 huruf (b) Hak-hak yang sama untuk memilih dengan bebas pasangan hidupnya dan untuk masuk ke dalam ikatan perkawinan hanya dengan persetujuan bebas dan sepenuhnya;

e. dalam pasal 16 huruf (c) mensyaratkan Hak-hak dan tanggung jawab yang sama selama perkawinan dan pada pemutusan perkawinan;

f. Pasal 16 ayat (1) huruf (d) mengakui hak pribadi yang sama sebagai suami istri termasuk hak memilih nama, keluarga, profesi dan jabatan;

g. Pasal 16 ayat (1) huruf (f) mensyaratkan hak yang sama untuk kedua suami dan istri berkaitan dengan benda;

h. Pasal 16 ayat (2) melarang pertunangan dan perkawinan seorang anak (nikah dini);

i. hak sama untuk suami istri berhubungan dengan pemilikan atas perolehan pengelolaan harta benda.

Jadi, Secara umum konvensi ini memberikan fondasi dalam rangka mewujudkan kesetaran antara kaum perempuan dan kaum laki – laki. Hal tersebut dipastikan dengan tersedianya akses terhadap kesetaraan itu sendiri baik dalam kehidupan politik dan ruang – ruang publik lainnya dari mulai pendidikan, kesehatan, dan ketenagakerjaan. Negara – negara yang

(7)

ikut andil dalam konvensi ini telah siap untuk melakukan segala jenis tindakan yang tepat untuk melindungi kaum perempuan. Dengan begitu, mereka dapat menikmati hak asasi dan kebebasan fundamental yang dimiliki. Hak asasi dan kebebasan memang telah menjadi dua instrument yang sangat fundamental untuk dimiliki oleh setiap insan manusia. Hal ini menunjukan bahwa segala hal yang tidak sejalan dengan hak asasi sudah seharusnya diperbaiki.

3. Tinjauan Hukum Humaniter Internasional a. Tinjauan Tentang Perang

1) Pengertian Perang

Ada beberapa sarjana yang mencoba menjelaskan pengertian Hukum Perang. Lauterpact secara singkat mengatakan “Laws of war are the rules of the law of nation respecting warfare”, (dalam Haryomataram, 2007:6). Definisi yang lebih panjang diberikan oleh Starke (J.G. Starke, 1977:585):

The laws of war consist of the limits set by International law within which the force required to overpower the enemy may be used, and the principles there under governing the treatment of individuals in the course of war and armed conflict.

Hukum perang terdiri atas aturan yang ditetapkan oleh hukum internasional yang dalam aturannya diperbolehkan menggunakan kekerasan untuk mengalahkan musuh, dan prinsip-prinsip yang ada digunakan mengatur perlakuan individu dalam peperangan dan konflik bersenjata.

Menurut Morris Greenspan (dalam Haryomataram, 2007: 5) mengatakan dalam tulisannya, War, like most other field of human activity, today is regulated and contained by a body of laws. Hukum yang mengatur tentang perang itu disebut hukum perang (laws of war).

Hukum perang merupakan bagian dari hukum Internasional dan dewasa ini sebagian besar merupakan hukum tertulis. Hukum perang itu merupakan bagian tertua dari hukum Internasional dan yang pertama dikodifikasi. Bagian terbesar dari hukum perang terdapat

(8)

dalam keempat Konvensi Jenewa 1949, yang keseluruhannya terdiri dari 427 Pasal. Konvensi ini juga dikenal dengan nama Red Cross Convention karena diprakarsai oleh International Committee of the Red Cross (ICRC).

Prof. Mochtar Kusumaatmadja memberikan definisi bahwa perang adalah suatu keadaan di mana suatu negara atau lebih terlibat dalam suatu konflik bersenjata, disertai dengan pernyataan niat salah satu pihak untuk mengakhiri hubungan damai dengan pihak lain .Ia memberikan pembagian hukum perang yaitu sebagai berikut (Prof. Dr.

Mochtar Kusumaatmadja, 1979:12).

a) Jus ad bellum, yaitu hukum tentang perang yang mengatur dalam hal bagaimana negara dibenarkan menggunakan kekerasan.

b) Jus in bello, yaitu hukum yang berlaku dalam perang. Hukum ini dibagi menjadi dua, yaitu:

(1) hukum yang mengatur cara dilakukannya perang (conduct of war), yang biasanya disebut Hague Laws;

(2) hukum yang mengatur perlindungan orang-orang yang menjadi korban perang, yang lazimnya disebut Geneva Laws (Mochtar Kusumaatmadja, 1979:12).

Selain itu, definisi perang juga diberikan oleh seorang ahli Hukum Internasional, Quincy Wright di bawah ini. (Fadillah Agus, 1997: 3).

“War will be considered the legal condition which equally permits two or more hostile groups to carry out a conflict by armed force.”

“Perang akan dianggap sebagai kondisi hukum yang memungkinkan dua atau lebih kelompok yang bermusuhan untuk melakukan konflik dengan angkatan bersenjata.”

Pada perjalanannya, istilah perang tidak disukai semua orang karena akibat yang ditimbulkan membawa trauma yang sangat dalam bagi semua orang. suasana anti perang ini mempunyai dampak pada berbagai bidang, salah satunya pada bidang hukum perang itu sendiri.

karena paradigma yang sudah tertanam kuat dalam masyarakat akan

(9)

istilah perang maka mereka meninggalkan usaha untuk mempelajari atau menyempurnakan hukum perang.

Walaupun istilah atau pengertian dan hukum perang tidak disukai, namun pertikaian bersenjata masih tetap ada. sehingga timbulah kebingungan akan penyebutan pertikaian tersebut. Dalam kondisi itu, muncul istilah baru dalam istilah perang yaitu laws of armed conflict (sengketa bersenjata). Menurut Edward Kossoy, seorang ahli Hukum Humaniter Internasional mengatakan “On purely legal consideration the replacement of “war” by “armed conflict” seems more justified and logical.” Sedangkan dalam Commentary dikatakan bahwa: “The Subtitute of this much more general expression for the word “war”

was deliberate.” (Haryomataram, 1984: 8-10 dan Fadillah Agus, 1997:

3-4).

Menurut Karl Josef partsch, istilah international armed conflict adalah lebih luas daripada istilah war (Rudolf L.Binschelder, Encyclopedia of International Public International Law, dalam Fadillah Agus,1997: 4). Setelah itu, istilah armed conflict ini banyak dipergunakan, baik dalam konsepsi-konsepsi internasional maupun dalam resolusi-resolusi.

Jadi, berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa perang atau sekarang lebih dikenal sebagai konflik bersenjata merupakan keadaan yang melibatkan suatu negara atau lebih yang memiliki niat untuk mengakhiri hubungan damai dengan menggunakan kekerasan (angkatan bersenjata). Perang diatur oleh hukum perang yang sekarang dikenal sebagai Hukum Humaniter Internasional, yang mana mengatur hal bagaimana negara dibenarkan menggunakan kekerasan dan cara melakukan perang serta mengatur bagaimana perlindungan terhadap orang-orang yang menjadi korban perang.

(10)

b. Sejarah Perkembangan Hukum Humaniter

Hukum perang merupakan bagian paling tua dari Hukuk Internasional. Hukum Humaniter Internasional telah mengalami perkembangan yang sangat panjang. Selama masa tersebut telah banyak upaya-upaya untuk untuk memberikan perlindungan kepada orang-orang dari kekejaman perang dan perlakuan tidak manusiawi dari pihak-pihak yang berperang.

Upaya-upaya tersebut dapat dibagi dalam tahapan-tahapan sebagai berikut (Arlina Permanasari, 1999: 13-17).

1) Zaman Kuno

Pada masa ini para pemimpin militer memerintahkan pasukan mereka untuk memperlakukan musuh yang tertangkap dengan baik. Sebelum perang dimulai, maka pihak musuh akan diberi peringatan dahulu. Lalu untuk menghindari luka yang berlebihan, maka ujung panah tidak akan diarahkan ke hati. Dan segera setelah ada yang terbunuh dan terluka, pertempuran akan berhenti selama 15 hari.

Jean Pictet menjelaskan bahwa upaya-upaya tersebut juga berjalan pada peradaban-peradaban besar selama tahun 3000-1500 SM, antara lain sebagai berikut (Arlina Permanasari, 1999:13-15).

a) Di antara bangsa-bangsa Sumeria, perang sudah terorganisir.

Ini ditandai dengan adanya pernyataan perang, kemungkinan mengadakan arbitrase, kekebalan utusan musuh dan perjanjian damai.

b) Kebudayaan Mesir kuno, sebagaimana disebutkan dalam

“seven works of true mercy”, yang menggambarkan adanya perintah untuk memberikan makanan, minuman, pakaian dan perlindungan kepada musuh; juga perintah untuk merawat yang sakit dan menguburkan yang mati.

(11)

c) Dalam kebudayaan bangsa Hitite, perang dilakukan dengan cara-cara yang sangat manusiawi. Hukum yang mereka miliki didasarkan atas keadilan dan integritas.

d) Di India, peraturan perang yang mereka gunakan telah tertulis dalam syair kepahlawanan Mahabrata dan undang-undang Manu.

2) Zaman Pertengahan

Pada abad pertengahan Hukum Humaniter dipengaruhi oleh ajaran-ajaran dari agama Kristen, Islam, dan prinsip kesatriaan.

Ajaran agam Kristen misalnya memberikan sumbangan terhadap konsep “perang yang adil” atau just war, Ajaran Islam tentang perang antara lain bisa dilihat dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 190.

َنيِدَت ۡعُمۡلٱ ُّب ِحُي َلَ َ هللَّٱ هنِإ ْْۚا ٓوُدَتۡعَت َلَ َو ۡمُكَنوُلِتََٰقُي َنيِذهلٱ ِ هللَّٱ ِليِبَس يِف ْاوُلِتََٰق َو ١٩

“ Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.“

Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 191.

ُةَنۡتِفۡلٱ َو ْۚۡمُكوُج َر ۡخَأ ُثۡيَح ۡنِ م مُهوُج ِر ۡخَأ َو ۡمُهوُمُتۡفِقَث ُثۡيَح ۡمُهوُلُتۡقٱ َو َن ِم ُّدَشَأ

ۡمُهوُلُتۡقٱَف ۡمُكوُلَتََٰق نِإَف ِِۖهيِف ۡمُكوُلِتََٰقُي َٰىهتَح ِما َرَحۡلٱ ِد ِج ۡسَمۡلٱ َدنِع ۡمُهوُلِتََٰقُت َلَ َو ِْۚلۡتَقۡلٱ

َني ِرِف ََٰكۡلٱ ُءٓا َزَج َكِلََٰذَك ١٩١

”Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah);

dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidilharam, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir.”

Adapun prinsip kesatrian yang berkembang pada abad pertengahan ini misalnya mengerjakan tentang pentingnya pengumuman perang dan larangan penggunaan senjata-senjata tertentu.

(12)

3) Zaman Modern

Salah satu tonggak penting dalam perkembangan Hukum Humaniter Internasional yaitu didirikannya organisasi Palang Merah dan ditandatanganinya Konvensi Jenewa tahun 1864. Pada waktu yang hampir bersamaan di Amerika Serikat Presiden Lincoln meminta Lieber, seorang pakar hukum imigran Jerman, untuk menyusun aturan berperang. Hasilnya, adalah Intructions for Government of Armies of the United States atau disebut Lieber Code. (Masjhur Effendi, Moh. Ridwan, Muslich Subandi, Pengantar dan Dasar-dasar Hukum Internasional, dalam Arlina, 1999:16)

Dengan demikian, tidak seperti pada masa-masa sebelumnya yang terjadi melalui proses hukum kebiasan, maka pada masa ini perkembangan-perkembangan yang sangat penting bagi Hukum Humaniter Internasional, dikembangkan melalui traktat-traktat umum yang ditandatangani oleh mayoritas- mayoritas negara-negara setelah tahun 1850.

Hukum Humaniter Internasional nampak sebagai hukum yang dinamis dan selalu berkembang sesuai dengan perkembangan jaman. Namun demikian, Menurut Kunz, hukum perang sekarang ini dalam keadaan kacau. Banyak persoalan yang belum diatur, dan ketentuan-ketentuan yang telah ada sudah ketinggalan jaman sehingga perlu direvisi.

Secara umum hukum perang dapat dibagi dua, yaitu : a) hukum yang mengatur cara berperang dan alat-alat yang

boleh dipakai untuk berperang;

b) hukum yang melindungi kombatan, penduduk sipil dari akibat perang.

Bagian pertama pada umumnya diatur dalam The Hague Convention 1907, dan oleh karena itu sering disebut Hague Laws

(13)

of War. Bagian kedua diatur di dalam Geneva Conventions 1949 dan oleh karena itu disebut juga Geneva Laws of War. Hukum yang mengatur cara dan alat berperang dirumuskan sekitar akhir abad ke-19 dan permulaan abad ke-20. setelah itu peraturan atau ketentuan itu hampir tidak pernah diperbaharui lagi. Mengingat usia peraturanperaturan tersebut, serta memperhatikan kemajuan pesat teknologi-terutama teknologi pembuatan senjata-maka dapat diperkirakan bahwa bagian hukum perang ini sudah sangat ketinggalan jaman atau out-of-date. Hague Law of War belum disesuaikan dengan perubahan ini. Bagian ini memerlukan revisi.

Usaha revisi ini menghadapi beberapa kesulitan, antara lain (Haryomataram, 1994:2) :

a) Suasana saat ini- terutama suasana sesudah perang dunia ke-2 kurang menguntungkan. Orang sudah jemu berperang dan oleh karena itu tidak mau diingatkan lagi pada

“perang”. Pada tahun 1949 dibentuk International Law Commission. Komisi ini menolak memasukkan hukum perang sebagai salah satu topik antara lain dengan alasan bahwa perang sudah dilarang, jadi tidak perlu lagi membahas hukum perang. Apabila komisi membahas hukum perang, maka seolah-olah komisi tidak percaya kemampuan akan PBB untuk mempertahankan perdamaian.

b) Pembahasan atau revisi bagian hukum perang ini menyangkut penggunaan senjata yang paling mutakhir. Hal ini tidak mungkin dilihat dari segi hukum saja. Faktor politis, terutama politik pertahanan-keamanan, tidak dapat diabaikan.

Pandangan bahwa hukum perang sudah tidak perlu karena perang sudah dihapuskan, kurang realistis, berbahaya dan merugikan. Meskipun sudah ada Kellog-Briand dan Charter PBB,

(14)

namun perang belum dapat dihapuskan. Oleh karena itu, hukum perang yang up-to-date perlu ada. (A regulate war is a lesser evil than a unregullated war).

Pada saat ini, terdapat kekurangan dan kelebihan pada hukum Humaniter Internasional. Salah satu contoh kekurangannya yaitu seperti yang telah di jelaskan uraian di atas. Sedangkan, contoh kelebihan yang ada yaitu sudah baiknya peraturan hukum perang yang mengatur perlindungan korban perang, baik kombatan maupun non-kombatan (Haryomataram, 1994 : 1-3).

Demikianlah keadaan hukum perang dewasa ini, di mana harus selalu memperbaharui setiap peraturan yang berhubungan dengan perang karena dari hari ke hari perang yang terjadi semakin berkembang baik dengan menggunakan metode atau alat-alat yang digunakannya.

c. Pengertian Hukum Humaniter

Menurut Marco Sasoli, Hukum Humaniter Internasional dapat didefinisikan sebagai cabang Hukum Internasional yang membatasi penggunaan kekerasan dalam konflik bersenjata dengan (Marco Sasoli Dkk, 2006:81):

1) memisahkan mereka yang tidak atau tidak berpartisipasi secara langsung dalam permusuhan;

2) membatasi kekerasan dengan jumlah yang diperlukan untuk mencapai tujuan dari konflik, yang dapat terlepas dari sebab-sebab melemahnya potensi militer musuh.

Definisi ini mengarah pada prinsip-prinsip dasar Hukum Humaniter Internasional, yaitu:

1) perbedaan antara warga sipil dan kombatan;

2) larangan menyerang kombatan yang terluka;

3) larangan menimbulkan penderitaan yang tidak perlu;

(15)

4) prinsip kebutuhan;

5) prinsip proporsional.

Dalam pemahaman yang sederhana, istilah perang dengan konflik bersenjata sering kali dianggap sama, namun dalam kajian teoretis masih diperdebatkan apakah keduanya memang merupakan istilah yang mempunyai pengertian sama. Dalam Black’s Law Dictionary dinyatakan bahwa perang adalah permusuhan (pertikaian) dengan menggunakan angkatan bersenjata yang terjadi antara bangsa-bangsa, negara-negara atau penguasa-penguasa, atau warga-warga dalam suatu bangsa atau satu negara. Sementara istilah perang dalam Dictionary of The International Law of Armed Conflict diartikan sebagai permusuhan (pertikaian) bersenjata antara dua atau lebih Negara yang melibatkan angkatan bersenjata masing-masing dan diatur oleh hukum internasional. Dua pengertian ini menyebutkan dua unsur esensial dari perang yaitu (Yustina Trihoni,2013: 26):

1) adanya situasi pertikaian (permusuhan) dengan menggunakan kekuatan bersenjata;

2) adanya pihak-pihak yang bersengketa.

Berdasarkan kedua unsur esensial ini maka secara harfiah istilah perang sesungguhnya sama dengan istilah sengketa (konflik) bersenjata karena perang adalah pertikaian diantara para pihak dengan menggunakan kekuatan bersenjata. Sedangkan Openheim berpendapat, “…War is a contention between two or more states through their armed forces, for the purpose of overpowering each other and imposing such condition of peace as the victor pleases” (A. Masyhur Effendi,1988: 9). Di sini tegasnya ada dua atau lebih negara yang sedang yang sedang konflik, sedangkan konflik antarwarga/golongan di dalam Negara tersebut di dalam bidang politik yang kadang-kadang berkembang menjadi perang saudara (internal war) sudah diatur pula dalam Konvensi Jenewa 1949.

(16)

Istilah hukum humaniter atau lengkapnya disebut internasional humanitarian law applicable in armed conflict berawal dari istilah hukum perang (laws of war), yang kemudian berkembang menjadi hukum sengketa bersenjata (laws of armed conflict), yang akhirnya pada saat ini biasa dikenal dengan istilah hukum humaniter.

Hayomataram, membagi hukum humaniter menjadi dua aturan- aturan pokok, yaitu (Haryomataram, 2007 : 45-48) :

1) hukum yang mengatur mengenai cara dan alat yang boleh dipakai untuk berperang (Hukum Den Haag/ The Hague Laws);

2) hukum yang mengatur mengenai perlindungan terhadap kombatan dan penduduk sipil akibat perang (Hukum Jenewa/ The Geneva Laws).

Sedangkan Mochtar Kusumaatmadja membagi hukum perang sebagai berikut (Haryomataram, 2007 : 6-7) :

1) Jus ad bellum, yaitu hukum tentang perang mengatur tentang dalam hal bagaimana negara dibenarkan menggunakan kekerasan bersenjata.

2) Jus in bello, yaitu hukum yang berlaku dalam perang, dibagi menjadi 2 (dua) yaitu :

a) hukum yang mengatur cara dilakukannya perang (conduct of war). Bagian ini biasanya disebut The Hague Laws;

b) hukum yang mengatur perlindungan orang-orang yang menjadi korban perang. Ini lazimnya disebut The Geneva Laws.

Berdasarkan Uraian di atas maka Hukum Humaniter Internasional terdiri atas dua aturan pokok, yaitu hukum Den Haag dan hukum Jenewa.

Berdasarkan beberapa definisi di atas, maka hukum humaniter pada intinya terdiri atas dua bagian, yaitu (Andrey Sujatmoko, 2015: 172):

(17)

1) ketentuan yang mengatur tentang cara/ pelaksanaan permusuhan (conduct of hostilities) yang meliputi ketentuan yang mengatur alat/sarana (means) dan cara/metode (methods) berperang;

2) ketentuan yang mengatur tentang perlindungan korban perang (protection of war victims).

Dalam kepustakaan hukum Internasional istilah hukum humaniter merupakan istilah yang dianggap relative baru. Istilah ini baru lahir sekitar tahun 1970-an, ditandai dengan diadakannya Conference of Government Expert in the Reaffirmation and Development of International Humanitarian Law Applicable in Armed Conflict. Sebagai bidang baru dalam hukum internasional, maka terdapat berbagai rumusan atau definisi mengenai hukum humaniter dari para ahli, dengan ruang lingkupnya.

Rumusan-rumusan tersebut adalah sebagai berikut (dalam Haryomataram, 2007: 20-21, Mochtar Kusumaatmadja, 1979:12, Arlina Dkk, 1999 :9) :

1) Menurut Jean Pictet,

“International humanitarian law in the wide sense is constitutional legal provision, whether written and customary, ensuring respect for individual and his well being”.

2) Geza Herzegh merumuskan hukum humaniter sebagai berikut,

“Part of the rules of public internastional law which serve as the protection of individuals in time of armed conflict. Its place is beside the norm of warfare it is closely related to them but must be clearly distinguish from these its purpose and spirit being different”.

3) Mochtar Kusumaatmadja mengemukakan bahwa hukum humaniter adalah sebagian dari hukum perang yang mengatur ketentuan- ketentuan perlindungan korban perang, berlainan dengan hukum perang yang mengatur perang itu sendiri dan segala yang

(18)

menyangkut cara melakukan perang itu sendiri dan segala sesuatu yang menyangkut cara melakukan perang itu, seperti misalnya senjata-senjata yang dilarang.

4) Esbjorn Rosenblad, merumuskan Hukum Humaniter Internasional dengan mengadakan pembedaan antara :

The Law of Armed Conflict, berhubungan dengan:

a) permulaan dan berakhirnya pertikaian;

b) pendudukan wilayah lawan;

c) hubungan pihak bertikai dengan negara netral.

Sedangkan Law Warfare, mencakup sebagai berikut:

a) metode dan sarana berperang;

b) status kombatan;

c) perlindungan yang sakit, tawanan perang dan orang sipil.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat diketahui bahwa hukum humaniter pada hakikatnya tidak melarang perang, tetapi mengatur perang. Dalam hal ini, hukum humaniter mengatur alat dan cara berperang, serta mengatur tentang perlindungan terhadap penduduk sipil dan korban perang.

d. Asas Asas Hukum Humaniter Internasional

Pengertian asas hukum adalah prinsip-prinsip yang dianggap dasar atau fundamen hukum atau pengertian dan nilai-nilai yang menentukan undang-undang dan interpretasi undang-undang atau prinsip-prinsip yang kedudukannya lebih tinggi daripada hukum yang ditentukan manusia (Abdul Ghofur Anshori, 2016:107).

Dalam hukum humaniter dikenal ada tiga asas utama, yaitu sebagai berikut (Arlina dkk, 1999: 11).

1) Asas Kepentingan Militer (Military Necessity)

(19)

Berdasarkan asas ini maka pihak yang bersengketa dibenarkan menggunakan kekerasan untuk menundukkan lawan demi tercapainya tujuan dan keberhasilan perang.

2) Asas Keperimanusiaan (Humanity)

Berdasarkan asas ini maka pihak yang bersengketa diharuskan untuk memperhatikan perikemanusiaan, di mana mereka dilarang untuk menggunakan kekerasan yang dapat menimbulkan luka yang berlebihan atau penderitaan yang tidak perlu.

3) Asas Kesatriaan (Chivalry)

Asas ini mengandung arti bahwa di dalam perang kejujuran harus diutamakan. Penggunaan alat-alat yang tidak terhormat, berbagai macam tipu muslihat dan cara-cara yang bersifat khianat dilarang.

Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa asas-asas di atas bertujuan untuk membatasi gerak para pihak yang berperang. Namun, ketiga asas di atas belum dapat memenuhi kebutuhan terhadap perlindungan sipil karena tidak adanya jaminan dilaksanakannya asas- asas tersebut.

Dalam pelaksanaannya ketiga asas tersebut harus dilaksanakan secara seimbang, sebagaimana dikatakan oleh kunz, (dalam Arlina, 1999: 11) :

“Law of war, to be accepted and to be applied in practice, must strike the correct balance between, on the one hand principle of humanity and chivalry, and on the other hand military interest”.

“Hukum perang dapat diterima dan diterapkan dalam pelaksanaanya harus mencapai keseimbangan antara prinsip kemanusiaan, prinsip kesatria serta prinsip kepentingan militer”.

Jadi, Perang yang dilakukan tidak menimbulkan penderitaan yang berlebihan bagi pihak yang berperang dan bagi warga sipil. Kedua

(20)

belah pihak yang berperang bertanggungjawab untuk melindungi warga sipil yang tidak ikut dalam peperangan.

e. Tujuan Hukum Humaniter

Hukum Humaniter tidak dimaksudkan untuk melarang perang, karena dari sudut pandang hukum humaniter, perang merupakan suatu kenyataan yang tidak dapat dihindari. Hukum humaniter mencoba untuk mengatur agar suatu perang dapat dilakukan dengan lebih memperhatikan prinsip=prinsip kemanusiaan. Ada beberapa tujuan hukum humaniter yang dapat dijumpai dalam berbagai kepustakaan, antara lain sebagai berikut (Arlina Dkk, 1999: 12):

1) memberikan perlindungan terhadap kombatan maupun penduduk sipil dari penderitaan yang tidak perlu (unnecessary suffering);

2) menjamin hak asasi manusia yang sangat fundamental bagi mereka yang jatuh ke tangan musuh. Kombatan yang jatuh ke tangan musuh harus dilindungi dan dirawat serta berhak diperlakukan sebagai tawanan perang;

3) mencegah dilakukannya perang secara kejam tanpa mengenal batas. Di sini, yang terpenting adalah asas perikemanusiaan.

U.S Army field Manual of the law of landwarfare (dalam Haryomataram, 2007: 7) menjelaskan beberapa tujuan hukum Humaniter, yaitu:

1) memberikan perlindungan terhadap kombatan maupun penduduk sipil dari penderitaan yang tidak perlu (unnecessary suffering);

2) menjamin hak-hak asasi tertentu dari orang yang jatuh ketangan musuh;

3) memungkinkan dikembalikannya perdamaian;

4) membatasi kekuasaan pihak yang berperang.

Dari penjelasan di atas diketahui bahwa pada dasarnya hukum humaniter tidak melarang perang. Tujuan dari hukum humaniter adalah

(21)

untuk memanusiakan perang agar tidak melampaui batas, dengan cara memberikan perlindungan bagi penduduk sipil, menjamin hak-hak asasi, mengembalikan perdamaian dan membatasi kekuasaan para pihak yang berperang.

f. Sumber-Sumber Hukum Humaniter

Pasal 38 (1) Statuta Mahkamah Internasional diakui secara luas sebagai pernyataan paling otoritatif dan lengkap mengenai sumber-sumber hukum internasional, dinyatakan bahwa Mahkamah yang berfungsi memutuskan berbagai sengketa yang diajukan kepadanya sesuai dengan hukum internasional akan memberlakukan ketentuan sebagai berikut (Malcolm N. Shaw QC, 2013: 67) :

1) perjanjian internasional, (international convention)baik yang bersifat umum maupun khusus, yang menetapkan aturan yang secara tegas diakui oleh negara-negara terkait;

2) kebiasaan internasional (international custom), sebagai bukti praktek umum yang diterima sebagai hukum;

3) prinsip-prinsip umum hukum yang diakui oleh bangsa-bangsa yang beradab (general principle of law);

4) keputusan pengadilan (judicial decision) dan pendapat para penulis paling berkualitas dari berbagai bangsa, sebagai sarana tambahan dalam menetapkan aturan hukum.

Sumber Hukum humaniter terdiri atas hukum Jenewa dan hukum Den Haag. Hukum Jenewa mengatur perlindungan terhadap korban perang, sedangkan hukum Den Haag mengatur mengenai cara dan alat berperang. Kedua ketentuan hukum tersebut merupakan sumber hukum humaniter yang utama, selain konvensi-konvensi lain yang telah disebutkan terdahulu. Pertama dapat dikemukakan bahwa ada sumber hukum tertulis dan yang tidak tertulis. Sumber hukum yang akan dibahas di sini adalah sumber hukum yang tertulis. Sumber-sumber tersebut juga

(22)

disebut sebagai sumber utama, adalah sebagai berikut: (Haryomataram, 2007: 45-51)

1) Hukum Den Haag

Hukum Den Haag merupakan ketentuan hukum humaniter yang mengatur mengenai cara dan alat berperang. Hukum Den Haag memuat hasil-hasil konferensi perdamaian I yang diadakan pada tahun 1899 dan konferensi perdamaian II yang diadakan pada tahun 1907.

Konferensi yang dimulai pada tanggal 20 mei 1899 itu berlangsung selama 2 bulan menghasilkan tiga konvensi dan tiga deklarasi pada tanggal 29 Juli 1899.

Adapun tiga konvensi yang dihasilkan adalah:

a) Konvensi I tentang penyelesaian damai persengketaan internasional;

b) Konvensi II tentang hukum dan kebiasaan perang di darat;

c) Konvensi III tentang adaptasi azas-azas konvensi jenewa tanggal 22 Agustus 1864 tentang hukum perang laut.

Sedangkan tiga deklarasi yang dihasilan adalah sebagai berikut:

a) melarang penggunaan peluru-prluru dum-dum )peluru-peluru yang bungkusnya tidak sempurna menutup bagian dalam sehingga dapat pecah dan membesar dalam tubuh manusia);

b) peluncuran proyektil-proyektil dan bahan-bahan peledak dari balon, selama jangka lima tahun yang berakhir di tahun 1905 juga dilarang;

c) penggunaan proyektil-proyrktil yang menyebabkan gas-gas cekik dan beracun dilarang.

Konvensi-konvensi yang dihasilkan oleh konferensi perdamaian II di Den Haag tahun 1907 menghasilkan menghasilkan sejumlah konvensi sebagai berikut:

(23)

a) Konvensi I tentang penyelesaian damai persengketaan internasional;

b) Konvensi II tentang pembatasan kekerasan senjata dalam menuntut pembayaran hutang yang berasal dari perjanjian perdata;

c) Konvensi III tentang cara memulai peperangan;

d) Konvensi IV tentang hukum kebiasaan perang di darat dilengkapi dengan peraturan Den Haag;

e) Konvensi V tentang hak dan kewajiban negara dan warga Negara netral dalam perang di darat;

f) Konvensi VI tentang status kapal dagang musuh pada saat permulaan perang;

g) Konvensi VII tentang status kapal dagang menjadi kapal perang;

h) Konvensi VIII tentang penempatan ranjau otomatis didalam laut;

i) Konvensi IX tentang pemboman oleh angkatan laut di waktu perang;

j) Konvensi X tentang adaptasi asas-asas konvensi Jenewa tentang perang di laut;

k) Konvensi XI tentang pembatasan tertentu terhadap pengguna hak penangkapan dalam perang Angkatan Laut;

l) Konvensi XII tentang mahkamah barang-barang sitaan;

m) Konvensi XIII tentang hak dan kewajiban Negara netral dalam perang di laut.

Dalam hubungannya dengan ratifikasi Indonesia atas konvensi- konvensi Den Haag pada tahun 1907 itu maka F Sugeng Istanto (dalam Arlina, 1999: 25) menjelaskan bahwa pada waktu berlangsungnya konferensi itu Indonesia masih bernama Hindia Belanda yang merupakan jajahan kerajaan Belanda sehingga retifikasi yang

(24)

ditetapkan oleh kerajaan Belanda dengan Undang-Undang (wet) tanggal 1 Juli 1909 dan keputusan Raja tanggal 22 Februari 1919 berlaku pulabagi Hindia Belanda.

Ketika terjadi pengakuan kedaulatan oleh Kerajaan Belanda kepada Republik Indonesia Serikat pada tanggal 27 Desember 1949, maka hak dan kewajiban Hindia Belanda beralih kepada Republik Indonesia Serikat melalui persetujuan peralihan yang merupakan Lampiran induk perjanjian KMB di Den Haag. Ketika susunan negara mengalami perubahan dari Republik Indonesia kesatuan, maka ketentuan peralihan UUDS 1950 telah menjadi jembatan penghubung tetap sahnya ratifikasi itu, demikian juga ketika UUD 1945 berlaku kembali melalui Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1969, Pasal II aturan peralihan telah menampung hal-hal yang belum diatur oleh UUD 1945 termasuk ratifikasi terhadap konvensi Den Haag 1907 tersebut.

2) Hukum Jenewa

Hukum Jenewa yang mengatur mengenai perlindungan korban perang, terdiri atas beberapa perjanjian pokok. Perjanjian tersebut adalah keempat Konvensi Jenewa 1949, yang masing-masing adalah :

a) Konvensi Jenewa I mengenai Perbaikan Keadaan Anggota Angkatan Bersenjata yang Terluka dan Sakit di Darat, 1864;

b) Konvensi Jenewa Kedua (Second Geneva Convention), mengenai Perbaikan Keadaan Anggota Angkatan Bersenjata yang Terluka, Sakit, dan Karam di Laut, 1906;

c) Konvensi Jenewa Ketiga (Third Geneva Convention), mengenai PerlakuanTawanan Perang, 1929;

d) Konvensi Jenewa Keempat (Fourth Geneva Convention), mengenai Perlindungan Orang Sipil pada Masa Perang, 1949.

Satu rangkaian konvensi yang terdiri atas empat konvensi ini secara keseluruhan disebut sebagai “Konvensi-Konvensi Jenewa 1949”

(25)

atau, secara lebih sederhana, “Konvensi Jenewa”. Konvensi-Konvensi Jenewa 1949 dengan tiga Protokol Tambahan, yaitu:

a) Protokol I (1977), mengenai Korban Konflik Bersenjata internasional;

b) Protokol II (1977), mengenai Konflik Bersenjata Non- internasional;

c) Protokol III (2005), mengenai Adopsi Lambang Pembeda Tambahan.

Jadi, di dalam hukum humaniter memiliki dua sumber yang utama.

Pertama Konvensi Den Haag yang mengatur tentang cara dan alat berperang, dan kedua, Konvensi Jenewa yang mengatur tentang perlindungan korban perang. Bahan Hukum Humaniter yang digunakan dalam penelitian ini adalah Konvensi Jenewa 1949, Protokol Tambahan I 1977, dan Protokol Tambahan II 1977.

4. Prinsip Pembedaan (Distinction Principle)

Distinction Principle adalah pembagian penduduk di negara yang terlibat dalam konflik bersenjata menjadi dua kelompok, mereka adalah kombatan dan sipil (Danial, 2015: 178). Menurut Pietro Verri, (Dalam Danial, 2015: 178) kebutuhan akan perbedaan antara kombatan dan warga sipil adalah untuk mencari tahu orang-orang yang diizinkan melakukan permusuhan, oleh karena itu bisa jadi sebagai objek kekerasan dan bagi mereka yang tidak berpartisipasi dalam permusuhan tidak boleh digunakan sebagai sasaran atau objek kekerasan.

Perlindungan orang sipil adalah salah satu tujuan Hukum Humaniter Internasional. Berdasarkan ketentuan-ketentuan Hukum Humaniter Internasional yang menyangkut perilaku permusuhan (the conduct of hostilities), penduduk sipil dan individu sipil memperoleh perlindungan terhadap dampak permusuhan. Oleh karena itu, Hukum Humaniter Internasional mewajibkan pihak peserta konflik bersenjata (parties to an

(26)

armed conflict) untuk setiap saat membedakan antara kombatan dan penduduk sipil dan untuk mengarahkan operasi mereka hanya terhadap target militer.

Hukum Humaniter Internasional juga menetapkan bahwa orang sipil tidak boleh menjadi objek penyerangan yang disengaja. Sejalan dengan itu, Hukum Humaniter Internasional mengamanatkan bahwa orang sipil harus diperlakukan secara manusiawi apabila dan ketika mereka berada di tangan pihak musuh (Denny Ramdhany DKK. 2015: 256).

Perlindungan sipil diatur dalam Konvensi Jenewa 1977 Pasal 57 ayat (1) Protokol Tambahan I 1977 menyatakan bahwa selama konflik internasional, Perhatian yang terus menerus harus diberikan untuk menyelamatkan penduduk sipil, warga sipil dan objek-objek sipil. Sementara dalam konflik bersenjata dan konflik bersenjata non internasional, Protokol Tambahan II memberikan perlindungan minimal yang menyatakan bahwa warga sipil akan menikmati perlindungan umum terhadap bahaya yang timbul dari operasi militer dan tidak akan menjadi objek serangan. Protokol Tambahan ke-2 juga melarang tindakan atau ancaman kekerasan, yang tujuan utamanya adalah untuk menyebarkan teror di kalangan penduduk sipil.

Menurut Pictet (dalam Arlina 1999: 73), prinsip atau asas pembedaan(Distinction Principle) merupakan suatu asas penting dalam Hukum Humaniter, yaitu suatu prinsip atau asas yang membedakan atau membagi penduduk dari suatu negara yang sedang berperang, atau sedang terlibat dalam konflik bersenjata kedalam dua golongan, yakni kombatan dan penduduk sipil.

Menurut Pictet (dalam Denny Ramdhani. 2015: 259), prinsip pembedaan berasal dari asas umum yang dinamakan asas pembatasan ratione personae yang menyatakan bahwa penduduk sipil dan orang-orang sipil harus mendapatkan perlindungan umum bahaya yang ditimbulkan akibat operasi militer. Asas umum ini selanjutnya dijabarkan lebih lanjut ke dalam sejumlah asas pelaksanaan (principle of application), yaitu (Arlina, 1999: 74) :

(27)

a. pihak-pihak yang bersengketa setiap saat harus membedakan antara kombatan dan penduduk sipil guna menyelamatkan penduduk sipil dan objek-objek sipil;

b. penduduk sipil, demikian pula orang sipil secara perorangan tidak boleh dijadikan objek serangan walaupun dalam hal reprisal (pembalasan);

c. tindakan maupun ancaman kekerasan yang tujuan utamanya untuk menyebar terror terhadap penduduk sipil adalah dilarang;

d. pihak-pihak yang bersengketa harus mengambil segala langkah pencegahan yang memungkinkan untuk menyelamatkan penduduk sipil atau setidak-tidaknya untuk menekan kerugian atau kerusakan yang tak disengaja menjadi sekecil mungkin;

e. hanya anggota angkatan bersenjata yang berhak menyerang dan menahan musuh.

Ada beberapa cara untuk membedakan sipil dan peserta tempur, terdapat beberapa kriteria sebagai berikut, bahwa peserta tempur (Denny Ramdhany dkk., 2015: 259, Arlina, 1999: 75., Haryomataram, 2007: 77):

a. membawa senjata secara terbuka;

b. memakai seragam dan tanda khusus yang dapat dikenali dari jarak tertentu;

c. mempunyai seorang komandan yang bertanggung jawab terhadap bawahannya dan;

d. mematuhi ketentuan-ketentuan Hukum Humaniter Internasional (hukum kebiasaan perang).

Hukum, hak dan kewajiban perang tidak hanya berlaku bagi tentara (armies) saja, tetapi juga bagi milisi dan korps sukarela (volunteer corps) yang memenuhi syarat berikut (Haryomataram., 2005 :77, Arlina., 1999: 76):

a. dipimpin oleh seseorang yang bertanggung jawab;

b. mempunyai tanda pengenal yang melekat, yang dapat dilihat dari jauh;

c. membawa senjata secara terbuka;

(28)

d. melakukan operasinya sesuai dengan hukum dan kebiasaan perang.

Negara-negara ketika milisi atau korps sukarela merupakan (constituante) tentara atau menjadi bagian daripadanya, mereka dimasukkan dalam sebutan tentara (army). Jadi, yang perlu ditekankan bahwa perlindungan penduduk sipil adalah suatu kebutuhan yang harus dipenuhi oleh hukum humaniter internasional. Distinction Principle adalah salah satu cara untuk memenuhi tujuan tersebut.

Jadi, Prinsip pembedaan (Distinction Principle) adalah salah satu prinsip yang paling penting dalam suatu konflik bersenjata. Dengan adanya Distinction Principle penduduk sipil dan Objek-objek sipil tidak akan menjadi objek kekerasan dalam peperangan karena adanya pembedaan antara kombatan dan non-kombatan di area konflik.

5. Tinjauan Umum Tentang Hukum Islam a. Definisi Hukum Islam

Hukum Islam biasanya disebut dengan beberapa istilah atau nama yang masing-masing menggambarkan sisi atau karakteristik tertentu hukum tersebut. Setidaknya ada empat nama yang sering dikaitkan kepada Hukum Islam, yaitu syariah, fiqih, hukum syarak, dan qanun. Syariah biasanya dipakai dalam dua pengertian, dalam arti luas dan dalam arti sempit. Dalam arti luas, syariah merujuk pada himpunan norma atau petunjuk yang bersumber kepada wahyu ilahi untuk mengatur sistem kepercayaan dan tingkah laku konkret manusia dalam berbagai dimensi hubungan. Dengan demikian syariah dalam arti luas meliputi dua aspek agama Islam, yaitu akidah dan amaliah (Mustofa, Abdul wahid, 2009: 1).

Allah swt. berfirman:

َنوُمَلۡعَي لَ َنيِ َ لَّٱ َءٓاَوۡه َّ َ أ ۡعِبَّتَت َ

لََو اَهۡعِبَّتٱَف ِرۡم َ ۡ

لۡٱ َنِ م ٖةَعيِ َشَ َٰ َ َعَل َكََٰنۡلَعَج َّمُث ١٨

Kemudian kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu (Q.S Al-Jathiyah: 18).

(29)

Pengarang kitab Al-Qamus (dalam Manna’ Khalil Al- Qhaththan,2018:25) berkata, “syariat adalah apa saja yang Allah tetapkan bagi hamba-hamba-Nya.” Ar-Raghib berkata, “Asy-Syar’u adalah jalan yang terang”, maka dikatakan “aku arahkan dia kepada jalan yang terang.”

Kata asy-syar’u adalah masdar, yang kemudian kata ini digunakan untuk mengistilahkan suatu jalan yang ditempuh. Jalan yang ditempuh diistilahkan dengan syar’u dan syari’ah, yang kemudian dua istilah ini digunakan untuk menamai jalan (aturan) ilahi. Sebagian ulama berkata,

“Syari’ah diibaratkan seperti aliran air, barangsiapa berjalan mengikuti arah aliran air tersebut maka ia akan puas meminum darinya dan dapat bersuci dengannya. (Manna’ Khalil Al-Qhaththan,2018:25)

Syariat Islam secara istilah adalah apa saja yang Allah tetapkan bagi hamba-hamba-Nya yang berupaakidah, ibadah (amaliah), akhlak, muamalah (pergaulan), dan aturan untuk segala aspek kehidupan, guna mewujudkan kebahagiaan di dunia maupun akhirat. Allah swt. berfirman.

َو ا ٗحوُن ۦِهِب َٰ َّصََّو اَم ِنيِ لٱ َنِ م مُك َل َعَ َشَ۞

ٓۦِهِب اَنۡي َّصَو اَمَو َكۡ َلَِإ ٓاَنۡيَحۡوَأ ٓيِ َّلَّٱ

اَم َينِكِ ۡشُۡم ۡ لٱ َ َعَل َ ُبَُك ِِۚهيِف ْاوُقَّرَفَتَت َلََو َنيِ لٱ ْاوُميِقَأ ۡنَأ ٰٓۖى َسيِعَو َٰ َسَوُمَو َميِهََٰرۡبِإ ِهۡ َلَِإ ٓيِدۡهَيَو ُء ٓاَشَي نَم ِهۡ َلَِإ ٓ ِبَِتۡ َيَ ُ َّللَّٱ ِِۚهۡ َلَِإ ۡمُهوُعۡدَت ُبيِنُي نَم

١٣

Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya) (Q.S As Syura: 13).

Fiqih adalah istilah lain yang digunakan untuk menyebut Hukum Islam. Istilah ini biasanya dipakai dalam dua arti. Pertama, dalam arti ilmu hukum atau paralel dengan istilah jurisprudence dalam bahasa Inggris sehingga dengan demikian fiqih merujuk kepada pengertian cabang studi yang mengkaji Hukum Islam. Kedua, dipakai dalam arti hukum itu sendiri,

(30)

dan paralel dengan istilah law dalam bahasa inggris. Dalam arti ini fiqih merupakan himpunan norma atau aturan yang mengatur tingkah laku, baik berasal langsung dari Alquran dan Sunnah Nabi saw, maupun dari hasil ijtihad para ahli Hukum Islam.

Dalam soal pembagian, Syariah Islam itu terdapat dua bidang yang boleh dikatakan terpisah, dalam banyak hal diatur oleh undang-undang yang berbeda atau berlainan, yakni bidang ibadah dan bidang muamalah.

Hukum syarak merujuk kepada satuan norma atau kaidah. Himpunan norma atau hukum syarak ini membentuk syariah atau fiqih. Norma atau hukum syarak yang membentuk syariah atau fiqih ini meliputi baik norma- norma taklifi, seperti wajib, sunat, mubah, makruh dan haram, maupun meliputi norma-norma wad’i seperti sebab, syarat, dan penghalang.

Qanun menggambarkan bagian dari syariah yang telah dipositivisasi dan diintegrasikan oleh pemerintah menjadi hukum negara, seperti hukum perkawinan, dan hukum wakaf. Selain itu, qanun juga merujuk kepada berbagai peraturan perundangan yang dikeluarkan oleh pemerintah dinegeri muslim dalam rangka pelaksanaan syariah dan mengisi kekosongan serta melengkapi syariah. Tindakan ini disebut siyasah syar’iyyah (Syamsul Anwar, 2006: 11-15).

Dari beberapa penjelasan di atas peneliti dapat menyimpulkan bahwa hukum Islam adalah hukum yang bersumber langsung dari Allah melalui Al-Quran dan Hadis, yang mengatur segala sendi-sendi kehidupan manusia mulai dari ibadah, muamalah sampai dengan hukum-hukum tertentu yang melengkapinya, juga mengatur hubungan antara manusia dengan Allah dan mengatur hubungan manusia dengan sesama manusia.

b. Periodisasi Hukum Islam

Mardani membagi periode Hukum Islam ke dalam lima periode (Mardani, 2015 : 59) yaitu:

1) periode Rasulullah saw;

(31)

2) periode Sahabat dan Tabi’in;

3) periode imam-imam mujtahidin;

4) periode taqlid atau periode jumud;

5) periode kebangunan atau periode renaissance.

1) Periode Rasulullah saw.

Periode ini berlangsung relatif singkat tidak lebih dari 22 tahun beberapa bulan. Namun pengaruhnya sangat besar dan penting, karena telah mewariskan beberapa ketetapan hukum dalam al-Quran dan sunnah, dan sejumlah dasar-dasar pokok tasyri’ secara menyeluruh dan telah memberikan petunjuk dan pedoman tentang sumber-sumber dan dalil-dalil yang dipergunakan dalam rangka untuk mengetahui suatu hukum dari persoalan yang belum ada ketetapan hukumnya. Dengan demikian, periode ini telah mewariskan dasar- dasar pembentukan hukum tasyri’ dengan sempurna.

Pada periode Rasulullah saw. terdiri atas 2 fase yang masing- masing mempunyai corak dan karakterisktik tersendiri (Abdul Wahab Khallaf, 2001:8) :

a) Fase Makkiyah

Fase Makkiyah, ialah sejak Muhammad saw. masih menetap dimekah selama 12 tahun beberapa bulan, sejak beliau dilantik menjadi rasul hungga hijrah ke Madinah. Pada fase ini umat Islam keadaannya masih terisolir, masih sedikit kuantitasnya dan kapasitasnya masih lemah, belum bisa membentuk komunitas umat yang mempunyai lembaga pemerintahan yang kuat. Oleh karena itu, perhatian Muhammad saw. pada fase ini dicurahkan kepada aktivitas penyebaran dakwah dalam rangka proyek penanaman tauhid kepada Allah dan meninggalkan praktek-praktek penyembahan berhala dan patung-patung.

(32)

Apabila akidah tertanam kuat dalam jiwa masyarakat, maka akan mudah dalam membangun masyarakat yang berpegang teguh dengan syariat dalam mengatur hubungan mereka dengan Allah, dengan sesame mereka, serta dengan alam semesta. Oleh sebab itu, akidah merupakan tujuan utama ajakan para rasul kepada umatnya.

Allah swt. berfirman:

َمَو ۠اَن َ

أ ٓ َّ

لَِإ َهَٰ َلِإ ٓ َلَ ۥُهَّنَأ ِهۡ َلَِإ ٓ ِحِوُن َّلَِإ ٍلوُسَّر نِم َكِلۡبَق نِم اَنۡلَسۡرَأ ٓا ِنوُدُبۡعٱَف ٢٥

Dan kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya, ‘Bahwasannya tidak ada Ilah (yang hak untuk disembah) melainkan Aku, maka sembahlah Aku’ (Q.S Al- Anbiya: 25)

Disamping itu beliau tetap berusaha mewaspadai orang- orang yang selalu berusaha menghalangi jalannya dakwah dan memperdaya orang-orang yang beriman dengan berbagai macam tipu daya. Dengan situasi dan kondisi seperti itu, maka pada fase ini belum ada kesempatan membentuk perundang-undangan, tata pemerintahan, perdagangan, dan lain-lain.

Oleh karena itu, pada surat-surat makkiyah al-Quran seperti surat Yunus, al-Ra’ad, al-Furqan, Yasin, al-Hadid, dan lain-lain tidak terdapat ayat – ayat yang membahas tentang hukum-hukum aktual (amaliyah). Akan tetapi, justru yang banyak pembahasannya adalah seputar persoalan-persoalan doktrin teologi dan aqidah, akhlak, dan ibarat keteladanan dari proses-proses perjalanan hidup umat-umat terdahulu.

Surat-surat dan ayat-ayat yang turun pada fase mekah menggambarkan orientasi akidah dengan mengajak manusia untuk berfikir dan melihat alam semesta beserta isinya, menyaksikan rahasia-rahasia yang Allah simpan dibalik semua itu, dan ketelitian, serta kesempurnaan pada alam semesta itu sendiri, yang

(33)

mana ia tersusun rapi tanpa ada kecacatan ataupun keraguan padanya.

Disamping itu ayat-ayat yang diturunkan pada fase mekah juga menghapus segala yang diwariskan oleh orang-orang jahiliyah berupa akidah yang rusak dan tradisi yang batil. Sebagaimana ayat- ayat tersebut juga memotivasi untuk berperilaku baik, menyeru kepada penyucian diri, dan menjelaskan asas-asas sempurna yang berkaitan dengan halal dan haram dalam bentuk perintah maupun larangan. Sebagai contoh, ayat-ayat makkiyah mengharamkan mengubur anak perempuan dalam kondisi hidup dan membunuh jiwa. Sebagaimana firman Allah swt. (Manna’ Khalil Al-Qaththan, 2018:80) :

ۡتَلِئُس ُةَدۥُءۡوَم ۡ لٱ اَذوَإِ

ِ ي َ ٨ ۡتَلِتُق ٖبنۢ َذ أِب ٩

Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh (Q.S At-Takwir: 8-9).

ِِۚ قَ ۡ لۡٱِب َّ

لَِإ ُ َّللَّٱ َمَّرَح ِتِ َّلٱ َسۡفَّلنٱ ْاوُلُتۡقَت َلََو

Dan Janganlah Kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar (Q.S Al-An’am: 151)

Ayat di atas adalah ayat yang berkaitan dengan tujuan atau misi Islam dalam menjaga Jiwa.

b) Fase Madaniyah

Fase Madaniyah ialah sejak Muhammad saw. hijrah dari Mekah ke Madinah hungga wafat tahun 11 H/632 M, yakni sekitar 10 tahun lamanya. Pada fase Madaniyah ini Islam sudah kuat, kuantitas umat Islam sudah banyak dan telah mempunyai tata pemerintahan tersendiri, sehingga media-meia dakwah berlangsung dengan aman dan damai.

(34)

Keadaan seperti inilah yang mendorong perlu adanya tasyri’

dan pembentukan perundang-undangan yang mengatur perhubungan antara individu dari suatu bangsa dengan bangsa lain, dan mengatur perhubungan atau kontak komunikasi dan interaksi, dan mengatur perhubungan atau kontak komunikasi dan interaksi mereka dengan kalangan non-Muslim, baik di masa damai ataupun dimasa perang.

Penetapan hukum di Madinah mengarah pada pembentukan masyarakat dan menetapkan aturan dalam hal kemasyarakatan.

Langkah pertama yang diambil oleh Muhammad saw. dalam membangun masyarakat adalah mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar, yang dengannya orang-orang Anshar lebih mengutamakan saudaranya dari kalangan Muhajirin atas diri mereka sendiri (Manna’ Khalil Qaththan, 2018:85).

Allah swt. berfirman:

نِم َنَٰ َميِ لۡٱَو َراَّلٱ وُءَّوَبَت َنيِ ۡ لَّٱَو َّ

َ لََو ۡمِهۡ َلَِإ َرَجاَه ۡنَم َنوُّبِ ُيُ ۡمِهِلۡبَق َن َكَ ۡوَلَو ۡمِهِسُفن َ

أ ى َ َعَل َنوُرِثۡؤُيَو ْاوُتوُأ ٓاَّمِ م ٗةَجاَح ۡمِهِروُدُص ِفِ َنوُدِ َيَ

َنوُحِلۡفُم ۡ لٱ ُمُه َكِئىَلْوُأَف ۦِهِسۡفَن َّحُش َقوُي نَمَو ٞۚ ة َصا َصَخ ۡمِهِب ٩

Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa- apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung (Q.S Al Hasyr: 9).

Pada ayat-ayat yang diturunkan di Madinah, Allah menyebutkan sifat-sifat orang munafik dan memperingatkan siapa saja agar berhati-hati dari mereka, disertai analisa terhadap kejiwaan mereka dan penjelasan atas bahaya mereka. Penetapa

(35)

hukum pada fase di Madinah juga membahas beberapa permasalahan ibadah yang merupakan pondasi tegaknya tiang agama Islam. Allah mensyariatkan zakat, puasa, dan haji melalui ayat-ayat yang diturunkan di Madinah.

Ayat-ayat tersebut juga membahas urusan interaksi antara manusia. Misalnya, Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Allah juga menjelaskan hal-hal yang wajib dilakukan pada transaksi utang-piutang, seperti mendokumentasi utang piutang dan menghadirkan saksi saat transaksi berlangsung, begitu juga beberapa hal yang berkaitan dengannya seperti pembayaran utang pada waktunya atau pemberian tangguh dalam pembayaran. Allah juga menjelaskan masalah perdagangan, dan melarang dari memakan harta orang lain dengan cara batil (Manna Khalil Qathathan, 2018: 86).

Kesimpulannya, bahwa penetapan hukum fase Madinah membangun rambu-rambu kehidupan umat Islam dari semua sisi.

Ia menjelaskan urusan hubungan kemasyarakatan dan politik kekuasaan. Islam adalah agama yang mencakup keyakinan, perbuatan, dan aturan yang sempurna bagi kehidupan. Nabi Muhammad saw. adalah sebagai pendiri negara Islam, yang dengannya Allah menyempurnakan agama dan karunia-Nya.

2) Periode Sahabat

Periode ini bermula sejak wafatnya Muhammad saw. pada tahun 11 Hijriah dan berakhir pada akhir abad 1 Hijriah. Periode ini dikenal dengan nama periode sahabat, sebab kekuasaan perundang-undangan dalam periode ini dipegang oleh para tokoh sahabat Muhammad saw.

Periode ini adalah periode penerangan undang-undang (yang diterima dari Muhammad saw.), dan terbukannya pintu-pintu penggalian hukum terhadap peristiwa yang tidak ada ketentuan hukumnya (yang jelas).

(36)

Masa sahabat ini dapat dibagi menjadi dua bagian. Pertama, Masa sahabat besar, dari tahun 11 Hijriah hingga akhir masa sahabat Ali.

Kedua, masa sahabat kecil dan tabi’in besar, mulai pemerintahan Muawiyah hingga awal akab ke-2 Hijriah yang pada tahun ini umat Islam bersatu untuk mengakui Khalifah Mu’awiyah (A. Aziz Masyhuri, 1974: 29-30).

Sumber perundang-undangan pada periode ini ada tiga macam yaitu Al-Qur’an, As-sunnah dan Ijtihad. Oleh sebab itu kalau timbul sesuatu kejadian baru atau terjadi suatu persengketaan, maka para ahli fatwa dari kalangan sahabat melihat dulu ketentuan hukumya dalam kitab Allah. Jika mereka menemukan nash yang menunjukkan hukumnya maka mereka melaksanakannya. Kalau mereka tidak menemukan nash-nashnya dalam kitab Allah tetapi mereka temukan hukumya dalam As-sunnah, maka mereka melaksanakan hukum itu.

Kalau mereka masih tidak menemukan nash-nashnya dalam Al-Quran maupun di dalam As-sunnah, baru mereka berijtihad untuk menemukan hukumnya (Mardani, 2015: 69).

Salah satu contoh ijtihad pada perang modern saat ini adalah tentang penggunaan senjata kimia. Di zaman Nabi Muhammad saw.

tidak pernah menggunakan senjata kimia dalam berperang sehingga hal ini memerlukan ijtihad dari para ulama. Yusuf Al-Qardawi (2010:

466) menjelaskan dalam Islam, bahwa senjata kimia dihukumi haram sama seperti senjata pemusnah massal. Karena dalam Islam haram hukumnya membunuh orang yang tidak ikut berperang. Namun, para ulama sering berbeda pendapat dalam berijtihad. Seperti menetapkan tentang bagaimana hukumnya bom manusia ketika perang. Sebagian ulama membolehkan hal tersebut tetapi sebagian ulama mengharamkannya.

3) Periode Pembukuan dan Imam-Imam Mujtahid

(37)

Periode ini dimulai pada awal abad kedua Hijriah dan berakhir pada pertengahan abad ke empat Hijriah, jadi kurang lebih 250 tahun.

Dinamai periode pembukuan dan imam-imam mujtahidin, sebab gerakan atau usaha penulisan dan pembukuan terhadap Hukum Islam mengalami perkembangan kemajuan pesat. Dibukukanlah As-sunnah, fatwa-fatwa (pendapat-pendapat) para mufti dari kalangan sahabat, tabi’in, tabi tabi’in, komentar secara mendalam tentang tafsir Al- Qur’an. Fiqh para imam mujtahid dan karangan-karangannya dalam ilmu ushul fiqh. Sebab bakat sejumlah besar pemuka-pemuka ijtihad dan perundang-undangan Islam sudah muncul dalam periode ini, dan sudah tersimpan pada diri mereka jiwa perundang-undangan yang membawa pengaruh abadi di bidang pembuatan undang-undang.

(Abdul Wahab Khallaf, 2001: 71)

Sumber-sumber Tasyri’ dimasa ini ada empat yaitu : a) Al-Qur’an;

b) Al-Hadist;

c) Al Ijma;

d) Al Qiyas (Al Ijtihad dengan jalan Qiyas atau dengan jalan istinbath yang lain).

4) Periode Taqlid

Sebab-sebab terhentinya Ijtihad diantara sebab-sebab yang menghentikan Ijtihad dan menganjurkan taqlid yaitu:

a) pecahnya umat Islam kepada beberapa pemerintahan yang menyebabkan timbulnya pertempuran satu sama lain;

b) pecahnya imam-imam mujtahidin kepada beberapa madzhab yang masing-masingnya mempunyai corak sendiri, mempunyai kecenderungan sendiri dan mempunyai khittah sendiri;

c) tidak terdapatnya suatu undang-undang fatwa yang teratur yang harus diikuti oleh para mufti. Oleh karena tak ada undang-undang

(38)

fatwa itu, dapatlah semua orang memberi fatwanya. Karena itu terwujudlah berbagai fatwa dalam suatu kejadian (Mardani, 2015:

74-75).

5) Periode Membangun kembali Hukum Islam

Masa kelima gerakan membangun kembali fiqh Islam dipertengahan abad ke 18 Masehi, Timbul reformasi dan melepaskan diri dari taqlid dalam tubuh umat Islam. Usaha ini tidaklah terjadi sekaligus, melainkan berangsur-angsur. Usaha ini timbul setelah munculnya kesadaran nasional. Kaum muslimin mengetahui dan merasakan adanya kemuduran-kemunduruan, yang kemudian menimbulkan gerakan-gerakan keagamaan diberbagai negeri-negeri Islam.

Di Hijaz dalam abad ke 13 Hijriah atau abad 18 Masehi timbul gerakan wahabi yang dipelopori oleh Muhammad ibn Abdul Wahab yang mengumandangkan seruan pembasmian bid’ah dan mengajak kembali kepada Qur’an dan Sunnah dan amalan-amalan Ulama Sahabat. Dari beliaulah tumbuh pengikut Wahabiyah. Di Libya, Muhammad Ibn Sanusi, yang pernah juga melawat ke Afrika, dalam usahanya menyeru masyarakat untuk membersihkan agama daripada usaha-usaha infiltrasi musuh Islam yang menyisipkan ajaran-ajaran yang menyesatkan dan mengajak untuk kembali kepada Qur’an dan Sunnah Nabi dan kepada amalan Ulama salaf (Mardani, 2015: 75).

Mesir pada permulaan abad ke-20, akhir abad ke-19 bangunlah tokoh Jamaluddin Al Afghani. Ulama-ulama Mesir yang ingin merdekakan diri dari para penjajah mengadakan hubungan rapat dengan beliau. Di antara yang sangat rapat hubungannya dengan beliau adalah Muhammad Abduh. Beliau mengadakan dakwah mengajak masyarakat kembali kepada mazhab salaf dan kepada sumber-sumber asli. Dengan usaha beliau-beliau ini dihasilkan suatu corak baru dalam

Referensi

Dokumen terkait

Satu-satunya lembaga yang diperkenankan oleh UUD 1945 untuk memutuskan pembubaran partai politik yaitu Mahkamah Konstitusi sesuai dengan ketentuan Pasal 24C ayat (1)

Hari Sasangka dan Lily Rosita memberikan definisi hukum pembuktian adalah merupakan sebagian dari hukum acara pidana yang mengatur macam-macam alat bukti yang sah

Sebagai seorang yang bekerja dalam hubungan kerja, bekerja kepada orang lain, buruh/pekerja mempunyai hak- hak yang harus dipenuhi oleh majikan atau pengusaha.

Mencermati beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa contempt of court dapat dilakukan oleh orang yang terlibat dalam suatu proses perkara maupun tidak, di

1) Identitas seksual, mengacu pada identitas seseorang dengan commit to user.. berbagai kategori seksualitas. Bisa berupa heteroseksual, gay, lesbian,

Upaya hukum menurut R.Atang Ranoemihardja, yaitu suatu usaha melalui saluran hukum dari pihak-pihak yang merasa tidak puas terhadap keputusan hakim yang dianggapnya kurang adil

KUHPdt ini, perkawinan hanya sah dan dianggap mempunyai kekuatan hukum bila dapat dibuktikan dengan adanya suatu akta perkawinan yang dibuat oleh Pegawai

Dalam hubungannya dengan suatu daerah sebagai area pembangunan sehingga terbentuk konsep perencanaan pembangunan daerah, keduanya menyatakan bahwa perencanaan