• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Yuridis Tindak Pidana Pencucian Uang Yang Dilakukan oleh Pegawai Bank ( Studi Putusan Nomor : 857/Pid.Sus/2017/PN.Jkt.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Analisis Yuridis Tindak Pidana Pencucian Uang Yang Dilakukan oleh Pegawai Bank ( Studi Putusan Nomor : 857/Pid.Sus/2017/PN.Jkt."

Copied!
113
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Disusun untuk melengkapi tugas akhir dan diajukan sebagai persyaratan untuk mendapatkan gelar Sarjana Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara

Oleh:

ALEXANDER INVRANTO S NIM 140200303

DEPARTEMEN HUKUM PIDANA

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2018

(2)
(3)

i

Maha Esa sumber dari segala ilmu dan pengetahuan, maha pengasih dan maha penyayang yang tak pernah meninggalkan dan selalu menjaga penulis dalam menyelesaikan penulisan skripisi yang menjadi tugas akhir untuk menyelesaikan perkuliahan di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

Adapun yang menjadi judul skripsi ini adalah “Analisis Yuridis Tindak Pidana Yang Dilakukan oleh Pegawai Bank (Studi Putusan Nomor : 857 / Pid.Sus / 2017 / PN.Jkt.Sel)” skripsi ini membahas mengenai analisis atas putusan pengadilan terhadap pegawai yang menyalahgunakan jabatannya untuk memperoleh keuntungan secara illegal.

Namun penulis sadari dalam penulisan maupun isi dari skripsi ini masih sangat banyak kekurangan, oleh karena itu dengan tulus dan hati yang paling dalam meminta maaf dan memohon bimbingan, namun terlepas daripada itu semoga kiranya skripsi ini dapat memberikan sumbangsih dan tambahan pengetahuan terhadap para pembacannya.

Dalam kesempatan yang sangat bahagia ini, penulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH, M.Hum, selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.

(4)

ii

3. Bapak Dr. M. Hamdan, SH, MH sebagai Ketua Departemen Hukum Pidana dan seorang Dosen Hukum Pidana yang selalu membimbing serta mengajar dan memberikan dukungan dalam proses penyelesaian skripsi ini.

4. Bapak Prof. Dr. Syafruddin Kalo, SH, M.Hum sebagai Dosen Pembimbing I yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing dan memberikan masukan dalam penyelesaian penulisan skripsi ini.

5. Bapak Alwan, SH, M.Hum, sebagai Dosen Pembimbing II yang telah memberikan banyak bimbingan, bantuan ilmu serta masukan baik selama penulisan skripsi maupun dalam masa masa perkuliahan.

6. Untuk semua Dosen dan Staff pengajar di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang tidak pernah lelah memberikan ilmu, semoga Tuhan Yang Maha Esa tetap memberikan kebaikannya atas ketulusan hati seluruh Dosen khususnya Dosen di Departemen Hukum Pidana.

7. Untuk kedua orang tua ku terkasih, Bapak Goodmen Simbolon dan Ibu Rutmawaty Lumban Gaol yang tak pernah letih lelah memberikan kasih sayang dan dorongan semangat serta tak henti mendoakan dengan penuh tulus. Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan kesehatan, perlindungan dan kebahagiaan selalu kepada kedua orang tua ku.

(5)

iii

semangat yang tulus. Semoga tercapai impian dan cita cita kalian, tetap rajin rendah hati dan selalu dekat dengan Tuhan apapun situasinya.

9. Untuk sahabat sahabat ku stambuk 2014 Fakultas Hukum USU yang selalu ada dalam masa masa perkuliahan yang kita jalani bersama yang tak dapat ku sebut satu persatu dan kalian semua terbaik di hukum 2014 kita bertemu di kesuksesan berikutnya, terimakasih.

10. Kepada sahabatku Indra Syahputra, sahabat seperjuangan terimakasih atas kesempatan persahabatan selama perkuliahan ini semoga tercapai impian dan cita cita dan sampai bertemu di kesuksesan yang selanjutnya.

11 Kepada sahabatku Jonathan Hasibuan, sahabat seperjuangan terimakasih atas kesempatan persahabatan selama perkuliahan ini semoga tercapai impian dan cita cita dan sampai bertemu di kesuksesan yang selanjutnya.

12. Kepada sahabatku Muhammad Ivan Taufik, sahabat seperjuangan terimakasih atas kesempatan persahabatan selama perkuliahan ini semoga tercapai impian dan cita cita dan sampai bertemu di kesuksesan yang selanjutnya.

13. Kepada sahabatku Wirandi Manik, sahabat seperjuangan terimakasih atas kesempatan persahabatan selama perkuliahan ini semoga tercapai impian dan cita cita dan sampai bertemu di kesuksesan yang selanjutnya.

(6)

iv

sehingga aku dapat belajar dan menyelesaikan pendidikanku disini.

15. Untuk Keluarga Besar Alumni SMPN 73 Jakarta dan SMAN 54 Jakarta terimakasih atas pengalaman berharga yang tidak mungkin penulis lupakan.

16. Kepada seluruh pihak yang memberikan bantuannya kepada penulis dalam penyelesaian skripsi ini, dan tidak bisa penulis sebutkan satu persatu.

Terimakasih banyak.

Besar harapan penulis, semoga skripsi ini dapat bermanfaat dalam perkembangan ilmu hukum, khususnya ilmu hukum pidana, bagi penulis sendiri maupun bagi pembaca.

Medan, Oktober 2018

Alexander Invranto S

(7)

v

DAFTAR ISI v

ABSTRAK ix

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ……… 1

B. Rumusan Masalah ……….. 6

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan ………... 6

a. Tujuan Penulisan ……… 6

b. Manfaat Penulisan ……….. 7

D. Keaslian Penulisan ………. 7

E. Tinjauan Kepustakaan ……… 8

1. Pengertian Tindak Pidana ……….. 8

2. Tindak Pidana Pencucian Uang ………... 11

a. Pengertian Tindak Pidana Pencucian Uang ………….. 11

b. Unsur Unsur Tindak Pidana Pencucian Uang ……….. 14

(8)

vi

b. Pelapisan (Layering) ……….………... 18

c. Penyatuan atau Integrasi (Integration) ………. 19

F. Metode Penulisan ………. 21

1. Jenis Penelitian ………. 21

2. Data dan Sumber Data ………. 22

3. Teknik Mengumpulkan Data ……… 23

4. Analisis Data ……… 23

G. Sistematika Penulisan ………...… 24

BAB II PENCUCIAN UANG MENURUT UNDANG UNDANG NO. 8 TAHUN 2010 A. Pengertian Tindak Pidana Pencucian Uang Menurut Undang No. 8 Tahun 2010 ………...… 28

B. Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang Menurut Undang Undang No. 8 Tahun 2010 ……….. 40

(9)

vii

KEUANGAN (PPATK) SEBAGAI LEMBAGA PENGAWAS DAN PEMBANTU DALAM PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG

A. Pegertian dan Kedudukan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) ………. 51

1. Pengertian Pusat dan Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) ………. 51

2. Kedudukan Pusat dan Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) ………. 53

B. Peranan dan Wewenang Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) ………...………. 58

BAB IV ALASISIS YURIDIS TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG YANG DILAKUKAN OLEH PEGAWAI BANK (STUDI PUTUSAN NOMOR : 857 / PIS.SUS / 2017 / PN.JKT.SEL)

A. Putusan Pengadilan Negeri No. 857/Pid.Sus/2017/

PN.Jkt.Sel

a. Kronologis ………. 72

(10)

viii

d. Fakta Hukum ………... 81

e. Pertimbangan Hakim ………... 84

f. Putusan ……… 90

B. Analisis Kasus ……… 91

BAB V KEISMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ………..…… 95

B. Saran ……… 97

DAFTAR PUSTAKA

(11)

ix

Prof. Dr. Syafruddin Kalo.S.H.,M.Hum Alwan.S.H.,M.Hum***

Pencucian Uang merupakan suatu fenomena yang kejahatan yang berawal dari suatu organisasi kejahatan yang terjadi di Amerika Serikat dimana inti dari kejahatan tersebut adalah untuk mengelabui uang hasil kejahatan organisasi tersebut menjadi legal dan dapat dipergunakan. Pencucian uang dipergunakan dalam sebagai istilah untuk semua jenis kejahatan yang sejenis oleh semua penegak hukum diseluruh dunia. Indonesia sendiri mulai memerangi tindak pidana pencucian uang ditandai dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2003 tentang Perubahan atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang. Hal ini dilakukan sebagai upaya pemerintah untuk mendapatkan kepercayaan terhadap internasional dalam hal ekonomi dan bisnis dan terkahir Indonesia mengeluarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2008 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang sebagai ganti Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003. Adapun dikeluarkannya Undang-Undang tersebut adalah untuk menjaga kestabilan negara dan menjalankan amanat dari Undang Undang Dasar 1945.

Penelitian ini merupakan hukum normatif dan data yang digunakan adalah data sekunder, data yang diperoleh dianalisis secara kualitatif untuk menjawab rumusan masalah skripsi.

Hasil dari penelitian ini merupakan kesimpulan bahwa, pertama dengan adanya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2008 sudah cukup untuk melindungi Negara dari praktek praktek pencucian uang, walaupun perlu lebih lagi pemerintah dalam hal ini memberikan pengertian yang lebih tentang tindak pidana pencucian uang ini. Kedua, PPATK sebagai lembaga independen statusnya dalam memberantas tindak pidana pencucian uang masih kurang kuat dan perlu di berikan kewenangan yang lebih lagi dalam penyelidikan maupun penangkapan.

Dalam skripsi ini Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2008 merupakan landasan hukum dalam menjatuhkan hukuman pidana kepada seseorang yang melakukan tindak pidana pencucian uang dilihat dari sudut pertimbangan hakim dan fakta faktu hukum yang ada di pengadilan.

Kata Kunci : Pencucian Uang, Undang Undang Nomor 8 Tahun 2008, PPATK

* Mahasiswa Departemen Hukum Pidana Fakultas Hukum USU

** Dosen Pembimbing I, Dosen Departemen Hukum Pidana Fakultas Hukum USU

*** Dosen Pembimbing II, Dosen Departemen Hukum Pidana Fakultas Hukum USU

(12)

A. Latar Belakang Masalah

Kejahatan merupakan entitas yang selalu lekat dengan dinamika perkembangan peradaban manusia. Kejahatan yang disebut perilaku menyimpang selalu ada dan melekat pada tiap bentuk–bentuk masyarakat, tidak ada masyarakat yang sepi dari kejahatan, oleh karena itu upaya penanggulangan kejahatan sesungguhnya merupakan upaya yang terus menerus dan berkesinambungan.

Kejahatan merupakan bagian dari kehidupan masyarakat dan kehidupan sehari- hari. Seorang filsuf bernama Cicero mengatakan Ubi Societas, Ibi Ius, Ibi Crime yang artinya ada masyarakat, ada hukum dan ada kejahatan. Batasan kejahatan dari sudut pandang masyarakat adalah setiap perbuatan yang melanggar kaidah–

kaidah yang hidup di dalam masyarakat. Kejahatan dapat dibedakan atas dua sudut pandang yakni dari sudut pandang yuridis dan sudut pandang sosiologis.

Dari sudut pandang yuridis yakni kejahatan adalah suatu perbuatan yang tingkah lakunya bertentangan dengan kaidah–kaidah dalam undang undang. Lalu kejahatan dari sudut pandang soiologis memiliki arti perbuatan atau tingkah laku yang selain merugikan si penderita juga merugikan masyarakat, yaitu berupa hilangnya keseimbangan, ketentraman, dan ketertiban, hal ini dimaksud bahwa setiap upaya penanggulangan kejahatan tidak dapat menjanjikan dengan pastinya bahwa kejahatan itu tidak akan terulang atau tidak akan memunculkan kejahatan baru. Namun demikian upaya itu harus tetap dilakukan untuk lebih menjamin

(13)

perlindungan dan kesejahteraan manusia. Dari berbagai jenis dan bentuk kejahatan ada kejahatan yang tidak hanya dilakukan didalam batas wilayah suatu negara melainkan melewati batas negara lain sehingga sering disebut transnasional crime, untuk kejahatan transnasional biasanya harta kekayaan hasil dari kejahatan oleh pelaku disembunyikan, kemudian dikeluarkan lagi seolah olah dari hasil legal. Hal tersebut lebih dikenal dengan istilah Pencucian Uang atau Money Laundering.1

Pencucian Uang atau Money Laundering, adalah istilah yang sering didengar di media massa, oleh sebab itu banyak pengertian yang berkembang sehubungan dengan istilah Pencucian Uang. Istilah Money Laundering sudah sering digambarkan dengan suatu usaha usaha yang dilakukan seseorang atau badan hukum untuk melegalisasi uang “kotor” yang diperolehnya dari hasil tindak pidana.

Secara historis, kejahatan Money Laundering tidak dapat dilepaskan dari peristiwa tahun 1920an, kala itu para pelaku kejahatan terorganisasi di Amerika Serikat, mencuci uang hitam dari usaha kejahatannya melalui usaha binatu (laundry) yang dipelopori oleh Al Capone, seorang gangster dan mafia pada zamannya. Mereka banyak mendirikan usaha binatu sebagai tempat persembunyian uang haram. Sejak saat itu, tindakan persembunyian atau menyamarkan asal usul uang hasil kejahatan disebut dengan money laundering atau pecucian uang. Sebetulnya masalah pencucian uang sudah telah lama dikenal sejak 1930, akan tetapi istilah ini baru populer pada 1984 tatkala interpol

1 Irman S, Hukum Pembuktian Pencucian Uang (Money Laundering) (Bandung: MQS Publishing, 2006), hal 1.

(14)

mengusut pemutihan uang mafia Amerika Serikat yang dikenal Pizza Connection yang menyangkut dana sekitar US$ 600 juta, yang ditransfer melalui serangkaian transaksi finansial yang rumit ke sejumlah Bank Swiss dan Italia. Transfer tersebut menggunakan restoran restoran pizza sebagai sarana usaha untuk mengelabui sumber dana.2

Semakin majunya peradaban manusia semakin berkembang pula tindak pidana pencucian uang. Dapat dilihat dari makin banyaknya jenis dan cara cara dalam melakukan tindakan tersebut dan untuk mengimbangi perkembangan itu diperlukannya upaya penanggulangan untuk menjamin ketentraman masyarakat.

Hukum merupakan salah satu cara penanggulangan tindak pidana pencucian uang, hukum adalah suatu sistem yang dibuat manusia untuk membatasi tingkah laku manusia agar dapat terkontrol, hukum adalah aspek terpenting dalam pelaksanaan atas rangkaian kekuasaan kelembagaan, hukum mempunyai tugas untuk menjamin adanya kepastian hukum dalam masyarakat. Dalam bidang hukum, upaya ini direalisasikan dengan hukum pidana. Hukum pidana diharapkan dapat menciptakan ketertiban dan ketentraman di masyarakat dan juga negara.

Tindak pidana pencucian uang merupakan tindak pidana baru dalam sistem hukum pidana di Indonesia. Kriminalisasi terhadap pencucian uang baru dimulai sejak diundangkannya Undang Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang, setelah berlaku seekitar sekitar setahun kemudian undang undang ini diubah dengan Undang Undang Nomor 25 Tahun 2003 tentang Perubahan Atas Undang Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana

2 Hariman Satria, Anatomi Hukum Pidana Khusus (Yogyakarta: UII Press, 2014), hal 11.

(15)

Pencucian Uang. Dalam perkembangan selanjutnya, Undang Undang Nomor 15 Tahun 2003 dicabut dan diganti dengan Undang Undang Nomor 8 Tahun 2010.

hal ini dilakukan karena pertimbangan bahwa tindak pidana pencucian uang tidak hanya mengancam stabilitas perekonomian dan integritas sistem keuangan, tetapi juga dapat membahayakan sendi-sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan pertimbangan pula bahwa pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian memerlukan landasan hukum yang kuat untuk menjamin kepastian hukum, dan efektifitas penegakan hukum.3 Oleh karena besarnya dampak yang yang ditimbulkan akibat Tindak Pidana Pencucian Uang sehingga Pemerintah sangat serius dalam pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang sebagai upaya dalam memberikan keadilan, ketentraman, kemakmuran masyarakat luas khususnya Indonesia dan juga didorong oleh keadaan internasional yang juga melakukan upaya pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Alfrod menyatakan Pencucian Uang adalah proses yang dilakukan untuk mengubah hasil kejahatan dari korupsi, kejahatan narkotika, perjudian, penyelundupan, dan lain lain dengan menggunakan sarana lembaga keuangan sehingga uang hasil dari kegiatan yang sah karena asal usulnya sudah disamarkan atau di sembunyikan.4

3 Ruslan Renggong, Hukum Pidana Khusus (Jakarta: PRENADAMEDIA GROUP, 2016),hal 93.

4 Alford,Money Laundering. N.C.J Int’l & Com (Reg.Vol 19:1994), hal 437.

(16)

Menurut N. Willing, yang menjadi objek utama dalam pencucian uang adalah “uang kotor” atau “uang haram”. Uang dapat menjadi kotor dengan dua cara yaitu, Melalui pengelakan pajak (tax evasion), yaitu memperoleh uang secara ilegal tetapi uang yang dilaporkan kepada pemerintah untuk keperluan perhitungan pajak lebih sedikit daripada yang sebenarnya diperoleh. Dan memperoleh uang melalui cara cara yang melanggar hukum, misalnya hasil penjualan obat obat terlarang (drug sakes), perjudian gelap (illegal gambling), penyuapan (bribery), terorisme (terrorism), pelacuran (prostitution), perdagangan senjata (arms trafficking), penyelundupan (smugglig), dan kejahatan kerah putih (white corall crime).

Selain dengan mengeluarkan Undang Undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, negara juga membuat lembaga untuk membantu penegak hukum dalam memberantas Tindak Pidana Pencucian Uang yaitu Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan.

Pemegang kunci dari mekanisme pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang di Indonesia ada di tangan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Karena jika PPATK tidak menjalankan fungsinya dengan benar, maka efektifitas dari pelaksaan Undang Undang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) tidak akan tercapai.5

Berdasarkan latar belakang diatas, dapat dilihat bahwa Tindak Pidana Pencucian Uang merupakan suatu kasus yang penting untuk diteliti dan dianalisa.

Oleh karena itulah, penulis sangat tertarik untuk mengangkat masalah ini sebagai

5 Ivan Yustiavandana, Arman Nevi dan Adiwarman, Tindak Pidana Pencucian Uang di Pasar Modal, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2010), hal 219.

(17)

bahan penulisan skripsi dengan memberi judul “Analisis Yuridis Kasus Tindak Pidana Pencucian Uang Yang dilakukan oleh Pegawai Bank (Studi Putusan Nomor : 857 / Pid.Sus / 2017 / PN.Jkt.Sel)”

B. Rumusan Masalah

Dalam merumuskan masalah ini, penulis akan mengemukakan permasalahan yang berkaitan dengan latar belakang diatas tersebut. Yaitu sebagai berikut :

1. Bagaimana pengaturan hukum pencucian uang menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010?

2. Bagaimana peran Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) sebagai lembaga pengawas dan pemberantas tindak pidana pencucian uang?

3. Bagaimana analisis yuridis tindak pidana pencucian uang yang dilakukan oleh pegawai bank dalam Putusan Pengadilan Negeri No. 857/

Pid.Sus/2017/PN.Jkt.Sel ?

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan a. Tujuan Penulisan

Berdasarkan latar belakang diatas, maka tujuan yang ingin dicapai penulis dalam skripsi ini sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui peranan negara dan lembaga penegak hukum dalam upaya pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

(18)

2. Untuk memahami dan mengetahui putusan yang diberikan hakim terhadap putusan nomor 857/Pid.Sus/2017/PN.Jkt.Sel sebagai Tindak Pidana Pencucian Uang.

b. Manfaat Penulisan

Dari hasil penulisan skripsi ini diharapkan dapat memberikan kegunaan sebagai berikut :

1. Skripsi ini sangat diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam upaya pengembangan Ilmu Hukum secara umum dan perkembangan Hukum Pidana secara khusus, terutama berkaitan terhadap Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang

2. Hasil skripsi ini juga diharapkan dapat memberikan masukan tambahan pemikiran terhdap instansi terkait, dan juga kepada masyarakat tentang ketentuan pidana Tentang Tindak Pidana Pencucian Uang

D. Keaslian Penulisan

Penulisan skripsi ini diajukan untuk melengkapi tugas tugas dan memenuhi syarat untuk memperoleh gelar sarjana. Penulis dalam membuat dan menulis judul ini berdasarkan penelitian penulis sendiri. “Analisis Yuridis Tindak Pidana Pencucian Uang Yang Dilakukan oleh Pegawai Bank ( Studi Putusan Nomor : 857/Pid.Sus/

2017/PN.Jkt.Sel)” yang diangkat menjadi judul skripsi dan telah diperiksa dan diteliti secara administratif dan judul tersebut belum pernah ditulis di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Skripsi ini merupakan hasil karya sendiri dan

(19)

ditulis sesuai asas keilmuan yang jujur, rasional, objektif serta terbuka. Skripsi ini juga didasari pada referensi dari buku-buku dan informasi dari media elektronik seperti internet. Dan referensi ini adalah cara, ciri dan proses menemukan kebenaran ilmiah, sehingga pengangkatan judul diatas dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Jika kemudian hari ternyata terdapat judul yang sama atau telah ditulis oleh orang lain dalam bentuk skripsi sebelum skripsi ini dibuat, maka hal ini dapat dimintakan pertanggungjawabannya.

(20)

E. Tinjauan Kepustakaan 1. Pengertian Tindak Pidana

Dalam kepustakaan, tindak pidana tidak ditemukan pengertian yang seragam tentang tindak pidana. Masing-masing ahli merumuskan pengertian tindak pidana berdasarkan alam pikiran yang berpengaruh pada saat para ahli tersebut merumuskan pengertian tindak pidana. Itulah sebabnya, sehingga belum ada pengertian tindak pidana yang disepakati sebagai pengertian yang lengkap dan sempurna.

Pengertian tindak pidana menurut Simons ialah suatu tindakan atau perbuatan yang diancam dengan pidana oleh undang-undang hukum pidana, bertentangan dengan hukum pidana dan dilakukan dengan kesalahan oleh seseorang yang mampu bertanggung jawab atas tindakannya dan oleh undang-undang hukum pidana telah dinyatakan sebagai suatu tindakan yang dapat dihukum. Van Hamel juga sependapat dengan rumusan tindak pidana dari Simons, tetapi menambahkan adanya “sifat perbuatan yang mempunyai sifat dapat dihukum”. Jadi, pengertian tindak pidana menurut Van Hamel meliputi lima unsur, sebagai berikut :

1. Diancam dengan pidana oleh hukum, 2. Bertentangan dengan hukum,

3. Dilakukan oleh seseorang dengan kesalahan (schuld),

4. Seseorang itu dipandang bertanggung jawab atas perbuatannya, 5. Sifat perbuatan yang mempunyai sifat dapat dihukum.

(21)

Menurut E.Utrecht, pengertian tindak pidana dengan isilah peristiwa pidana yang sering juga ia sebut delik, karena peristiwa itu suatu perbuatan (handelen atau doen positif) atau suatu melalaikan (natalen-negatif), maupun akibatnya (keadaan yang ditimbulkan karena perbuatan atau melalaikan itu).6

Menurut Pompe dalam hukum positif strafbaarfeit tidak lain adalah feit tindakan yang diancam pidana dalam ketentuan undang-undang, namun Pompe juga mengatakan bahwa dalam hukum positif, sifat melawan hukum dan kesalahan bukanlah syarat mutlak untuk adanya tindak pidana.7

Arti luas dari pengertian tindak pidana itu sendiri yakni perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum larangan mana disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu, bagi barang siapa melanggar larangan tersebut. Dapat juga dikatakan bahwa perbuatan pidana adalah perbuatan yang oleh suatu aturan hukum dilarang dan diancam pidana, asal saja dalam pada itu diingat bahwa larangan ditujukan kepada perbuatan.8

Dalam kita menjabarkan sesuatu rumusan delik kedalam unsur-unsurnya, maka yang mula-mula dapat kita jumpai adalah disebutkan sesuatu tindakan manusia, dengan tindakan itu seseorang telah melakukan sesuatu tindakan yang terlarang oleh undang-undang. Setiap tindak pidana yang terdapat di dalam Kitab Undang- undang Hukum Pidana (KUHP) pada umumnya dapat dijabarkan ke dalam unsur- unsur yang terdiri dari unsur subjektif dan unsur objektif.

A. Unsur-unsur subjektif dari suatu tindak pidana itu adalah:

6 http://artonang.blogspot.com/2014/12/pengertian-tindak-pidana-unsur-unsur.html diakses pada tanggal 7 juni 2018 pukul 13:35 wib.

7 Tongat, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia Dalam Perspektif Pembaharuan (Malang: UMM Press), hal 103.

8 Moeljatno, Asas Asas Hukum Pidana (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), hal.59.

(22)

a. Kesengajaan atau ketidaksengajaan (dolus atau culpa);

b. Maksud atau voornemen pada suatu percobaan atau pogging seperti yang dimaksud dalam Pasal 53 ayat 1 KUHP;

c. Macam-macam maksud atau oogmerk seperti yang terdapat misalnya di dalam kejahatan-kejahatan pencurian, penipuan, pemerasan, pemalsuan dan

lain-lain;

d. Merencanakan terlebih dahulu atau voorbedachte raad seperti yang terdapat di dalam kejahatan pembunuhan menurut Pasal 340 KUHP;

e. Perasaan takut atau vress yang antara lain terdapat di dalam rumusan tindak pidana menurut Pasal 308 KUHP.

B. Unsur-unsur objektif dari sutau tindak pidana itu adalah:

a. Sifat melanggar hukum atau wederrechtelicjkheid;

b. Kualitas dari si pelaku, misalnya kedaan sebagai seorang pegawai negeri di dalam kejahatan jabatan menurut pasal 415 KUHP atau keadaan sebagai pengurus atau komisaris dari suatu Perseroan Terbatas di dalam kejahatan menurut Pasal 398 KUHP.

c. Kausalitas, yakni hubungan antara suatu tindak pidana sebagai penyebab dengan sesuatu kenyataan sebagai akibat.9

2. Tindak Pidana Pencucian Uang

a. Pengertian Tindak Pidana Pencucian Uang Beberapa pengertian/definisi pencucian uang antara lain:

9 http://www.sarjanaku.com/2012/12/pengertian-tindak-pidana-dan-unsur.html diakses tanggal 7 Juni 2018 pukul 14:06 wib.

(23)

1. Perbuatan dalam hal menempatkan, mentransfer, membayarkan, membelanjakan, mengibahkan, menyumbangkan, menitipkan, membawa keluar negeri, menukarkan, atau perbuatan lainnya atas harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana dengan maksud untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta kekayaan sehingga seolah olah menjadi harta kekayaan yang sah.

2. Setiap proses yang digunakan untuk mengubah identitas dari uang yang diperoleh secara ilegal (tidak sah) sehingga tampak bersal dari sumber yang sah secara legal.

3. Tindakan kriminal untuk mengubah uang yang diperoleh secara ilegal (atau uang yang legal digunakan untuk tujuan yang tidak legal), melalui serangkaian transaksi untuk menyulitkan upaya pelacakan oleh aparat hukum.10 Pencucian Uang telah didefinisikan sebagai “penggunaan uang yang diperoleh dari aktivitas ilegal dengan menutupi identitas individu yang memperoleh uang tersebut dan mengubahnya menjadi aset yang terlihat seperti diperoleh dari sumber yang sah”. Secara sederhana ialah suatu proses untuk membuat uang kotor terlihat bersih.11

Dalam tindak pencucian uang ada beberapa modus yang digunakan oleh pelaku diantaranya :

1. Loan Back yakni dengan cara meminjam uangnya sendiri, modus ini terinci lagi dalam bentuk direct loan, dengan cara meminjam uang dari perusahaan luar negeri, semacam perusahaan bayangan (immobilen investment company)

10 Amin Widhaha Tunggal, Memahami Seluk Beluk Pencucian Uang (Jakarta:

HARVINDO, 2015). hal 3.

11 Irman S,Op.Cit,. hal 40.

(24)

yang direksinya dan pemegang sahamnya adalah dia sendiri, Dalam bentuk back to loan, dimana si pelaku peminjam uang dari cabang bank asing secara stand by letter of credit atau certificate of deposit bahwa uang didapat atas dasar uang dari kejahatan, pinjaman itu kemudian tidak dikembalikan sehingga jaminan bank dicairkan.

2. Smurfing, yaitu upaya untuk menghindari pelaporan dengan memecah- mecah transaksi yang dilakukan oleh banyak pelaku.

3. Structuring, yaitu upaya untuk menghindari pelaporan dengan memecah mecah transaksi sehingga jumlah transaksi menjadi lebih kecil.

4. U Turn, yaitu upaya untuk mengaburkan asal usul hasil kejahatan dengan memutarbalikkan transaksi untuk kemudian dikembalikan ke rekening asalnya.

5. Cuckoo Smurfing, yaitu upaya mengaburkan asal usul sumber dana dengan mengirimkan dana-dana dari hasil kejahatannya melalui rekening pihak ketiga yang menunggu kiriman dana dari luar negeri dan tidak menyadari bahwa dana yang diterimanya tersebut merupakan “proceed of crime”.

6. Pembelian aset/barang-barang mewah, yaitu menyembunyikan status kepemilikan dari aset/barang mewah termasuk pengalihan aset tanpa terdeteksi oleh sistem keuangan.

7. Pertukaran barang (barter), yaitu menghindari penggunaan dana tunai atau instrumen keuangan sehingga tidak dapat terdeteksi oleh system keuangan.

8. Modus over invoice atau double invoices. Modus ini dilakukan dengan mendirikan perusahaan ekspor-impor negara sendiri, lalu diluar negeri (yang bersistem tax haven) mendirikan pula perusahaan bayangan (shell company).

(25)

Perusahaan di negara tax haven ini mengekspor barang ke Indonesia dan perusahaan yang ada d diluar negeri itu membuat invoice pembelian dengan harga tingi inilah yang disebut over invoice dan bila dibuat 2 invoices, maka disebut double invoices.

9. Underground Banking/Alternative Remittance Services, yaitu kegiatan pengiriman uang melalui mekanisme jalur informal yang dilakukan atas dasar kepercayaan.

10. Penggunaan pihak ketiga, yaitu transaksi yang dilakukan dengan menggunakan identitas pihak ketiga dengan tujuan menghindari terdeteksinya identitas dari pihak yang sebenarnya merupakan pemilik dana hasil tindak pidana.

11. Mingling, yaitu mencampurkan dana hasil tindak pidana dengan dana dari hasil kegiatan usaha yang legal dengan tujuan untuk mengaburkan sumber asal dananya.

12. Penggunaan identitas palsu, yaitu transaksi yang dilakukan dengan menggunakan identitas palsu sebagai upaya untuk mempersulit terlacaknya identitas dan pendeteksian keberadaan pelaku pencucian uang.12

b. Unsur Unsur Tindak Pidana Pencucian Uang

Setiap perbuatan kejahatan dalam kegiatannya apabila dilihat dari rumusan delik dalam hukum pidana maka perbuatan itu harus dapat dibuktikan, dalam rumusan delik menunjukkan apa yang harus dibuktikan menurut hukum pidana, semua

12 http://info-ful.blogspot.com/2013/05/memahami-pengertian-tahap-tahap-dan.html, diakses tanggal 7 Juni 2018 pada pukul 14:48 wib

(26)

yang tercantum dalam rumusan delik harus dibuktikan menurut aturan hukum pidana.

Dalam perbuatan tindak pidana pencucian uang terdapat unsur unsur yang dapat dikelompokan, berikut ini unsur unsur tindak pencucian uang dalam Undang Undang Nomor 8 Tahun 2010:

1. Setiap Orang;

2. Menempatkan, mentransfer, mengalihkan, membelanjakan, membayarkan, menghibahkan, menitipkan, membawa ke luar negeri, mengubah bentuk, menukar dengan mata uang atau surat berharga atau perbuatan lain atas harta kekayaan;

3. Menyembunyikan atau menyamarkan asal usul, sumber, lokasi, peruntukan, pengalihan hak-hak, atau kepemilikan yang sebenarnya atas harta kekayaan;

4. Menerima atau menguasai penempatan, pentransferan, pembayaran, hibah, sumbangan, penitipan, penukaran, atau menggunakan harta kekayaan;

5. Diketahuinya dan patut diduganya merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1);

6. Dipidana karena Tindak Pidana Pencucian Uang dan denda.

Dan pasal 5 ayat (2) sampai dengan pasal 9 ayat (2) mengatur Pencucian Uang yang berkaitan dengan korporasi. Sedangkan pasal 11 sampai dengan pasal 16 mengatur tentang ketentuan PPATK.13

Ini merupakan unsur unsur delik tertulis yaitu persyaratan tertulis untuk dapat dipidana, untuk dapat dipidana maka semua unsur harus dituduhkan dan

13 Ruslan Renggong,Op.Cit,hal,98-103

(27)

dibuktikan, kemudian unsur unsur tersebut terdapat yang pengertian yang sama sehingga dalam unsur tindak pidana pencucian uang terdapat unsur pokok yang harus selalu ada didalam setiap perbuatan tindak pidana pencucian uang, yaitu:

1. Kegiatan → TRANSAKSI

2. Sesuatu → HARTA KEKAYAAN

3. Pebuatan → MELANGGAR HUKUM

Tetapi dalam prosesnya selalu perbuatan melanggar hukum terjadi lebih dahulu yang menghasilkan harta kekayaan, kemudian ditransaksikan.14

c. Tahapan Tahapan Tindak Pidana Pencucian Uang

Tindak pidana pencucian uang adalah kejahatan yang bersifat ganda dan lanjutan (follow up crime). Sedangkan kejahatan utamanya atau kejahatan asalnya disebut sebagai predicate offense, core crime atau unlawful activity, yaitu kejahatan asal yang menghasilkan uang untuk kemudian diproses melalui pencucian.15

Adapun tahap - tahap atau prosesnya adalah sebagai berikut:

A. Penempatan (Placement)

Tahap pertama dari pencucian uang adalah menempatkan atau mendepositkan uang haram ke dalam sistem keuangan (financial system) disuatu negara.

Sedangkan Jeffry Robinson menyebutnya dengan istilah immersion, yang artinya konsolidasi atau penempatan. Penempatan dilakukan dengan cara memcahkan jumlah uang tunai yang sangat besar kedalam jumlah-jumlah yang lebih kecil dan kemudian mendepositkannya langsung ke dalam suatu rekening bank. Cara ini

14 Irman S, Op.Cit,. hal 57.

15 Philips Darwin, Money Laundering (Cara Memahami Dengan Tepat dan Benar Soal Pencucian Uang) (Sinar Ilmu, 2012), hal 41.

(28)

dilakukan pula dengan membeli instrumen instrumen moneter (monetary instrumen), seperti cek (cheques), money orders, dan lain lain kemudian menagih serta mendepositkan uang tersebut kedalam rekening-rekening di lokasi lain.

Setelah ditempatkan disuatu bank, maka uang itu masuk kedalam sistem keuangan negara yang bersangkutan. Selanjutnya uang itu dapat dipindahkan lagi ke bank lain di negara tersebut maupun di negara yang berbeda. Akibatnya, uang tersebut masuk kedalam sistem keuangan global atau internasional.16

Robinson memberikan contoh bagaimana pencucian uang dilakukan dalam tahap immersion. Seorang pengedar narkoba yang mengumpulkan uang tunai sejumlah lima juta dollar AS dihadapkan dengan tugas yang berat untuk menempatkan uang tersebut sebanyak banyaknya ke dalam sistem perbankan. Tidak seperti halnya pemalsuan uang, yang harus mampu memasukkan uang palsu yang dibuatnya kedalam sirkulasi, pecucian uang (laundryman) terpaksa mengandalkan rekening rekening bank (bank accounts), surat berharga yang dikeluarkan oleh kantor pos (postal orders), cek bepergian (Traveler’s Checks), dan instrumen yang dapat dinegosiasikan lainnya untuk menyalurkan uang tunai tersebut kedalam sistem perbankan

Singkatnya, penempatan diartikan sebagai upaya untuk menempatkan dana yang dihasilkan suatu aktivitas kejahatan. Dalam hal ini uang tunai bergerak secara fisik melalui penyelundupan dari suatu negara ke negara lain, penggabungan dengan uang tunai yang berasal dari hasil kegiatan yang sah, ataupun penempatan

16 Ibid, hal 42.

(29)

uang giral kedalam sistem perbankan (deposito bank, cek, via real estate, saham- saham, konversi ke mata uang lainnya, atau transfer uang kedalam valuta asing).17

B. Pelapisan (Layering)

Besarnya jumlah uang haram yang ditempatkan disuatu bank akan sangat menarik perhatian otoritas moneter disuatu negara. Para penegak hukum di Negara tersebut segera menyelidiki asal usul uang tersebut. Itulah sebabnya para pelaku pencucian uang melakukan proses layering atau heavy soaping.

Dalam proses pelapisan, pelaku pencucian uang berusaha memutus hubungan uang hasil kejahatan itu dari sumbernya. Caranya, uang dipecah pecah jumlahnya, kemudian dipindahkan dari satubank atau negara ke bank atau negara lainnya hingga beberapa kali. Dengan pemecahan dan pemindahan beberapa kali, maka asal usul uang tersebut tidak mungkin lagi dapat dilacak oleh otoritas moneter atau penegak hukum.

Pelaku pencucian uang melakukannya dengan mengupayakan konversi atau pemindahan dana tersebut menjauh dari sumbernya melalui pembelian dan penjualan instrumen instrumen investasi (invesment instruments). Mereka juga memindahkannya dengan cara fund wire melalui sejumlah rekening di berbagai bank seluruh dunia. Caranya, uang dikirimkan dari suatu perusahaan gadungan (dummy company) ke perusahaan gadungan yang lain dengan mengandalkan ketentuan rahasia bank (bank secrecy) dan aturan mengenai kerahasiaan hubungan pengacara dan kliennya (attorney client privilege). Tujuannya untuk

17 N.H.T. Siahaan, Money Laundering; Pencucian Uang dan Kejahatan Perbankan (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2002), hal 23.

(30)

menyembunyikan identitas pribadinya dengan sengaja menciptakan jaringan transaksi keuangan yang kompleks.18

Penggunaan rekening rekening yang tersebar luas itu dimaksudkan untuk melakukan pencucian, terutama di negara-negara yang tidak bekerjasama dalam investigasi dalam pencucian uang. Dalam beberapa hal pelaku pencucian uang juga menyamarkan pemindahan dana tersebut (transfer) seakan-akan sebagai pembayaran untuk barang barang dan jasa-jasa sehingga terlihat sebagai transaksi yang sah.

Singkatnya, pelapisan adalah proses memisahkan hasil kejahatan dari sumbernya melalui beberapa tahapan transaksi keuangan yang kompleks untuk menyamarkan atau mengelabui sumber dana ilegal tersebut. Pelapisan dapat pula dilakukan melalui pembukaan sebanyak banyaknya rekening perusahaan perusahaan fiktif dengan memanfaatkan ketentutan rahasia bank.19

C. Penyatuan atau Intergrasi (Integration)

Istilah lainnya adalah repatrion and intergration, atau spin dry. Pada tahap ini uang yang telah dicuci dibawa kembali kedalam sirkulasi dalam bentuk pendapatan yang bersih, bahkan merupakan objek pajak (taxable). begitu uang tersebut berhasil diupayakan sebagai uang halal melalui cara layering, maka tahap selanjutnya adalah menggunakan uang yang telah menjadi uang halal (clean money) untuk kegiatan bisnis atau kegiatan operasi kejahatan yang dilakukan penjahat atau organisasi kejahatan yang mengendalikannya.

18 Philips Darwin,Op.Cit, hal 43-44

19 N.H.T. Siahaan,Op.Cit.

(31)

Para pencuci uang dapat memilih menggunakannya dengan menginvestasikan dana tersebut kedalam bisini real estate, barang barang mewah (luxury assets), atau perusahaan perusahaan (business ventures). Kegiatan pencucian aung dapat pula terkonsentrasi secara geografis sesuai dengan tahap pencucian uang sebagaimana dikemukakan diatas. Pada tahap penempatan, misalnya dana biasanya diproses didekat tempat berlangungnya aktivitas yang menghasilkannya.

Pada saat pelapisan, pelaku pencucian uang mungkin memilih suatu offshore financial centre, pusat bisnis regional besar (a large business centre) atau pusat perbankan dunia (a world banking centre) yang menyediakan infrastruktur keuangan atau bisnis yang memadai. Pada tahap ini dana yang dicuci mungkin saja hanya transit direkening rekening bank dibeberapa tempat tanpa meninggalkan jejak mengenai sumber atau tujuan akhirnya. Sedangkan pada tahap integrasi, pelaku dapat menginvestasikan dana yang telah dicuci dilokasi lain apabila kesempatan-kesempatan investasi di negara tersebut sangat terbatas.

Jeffry Robinson memberi perumpamaan mengenai apa yang sebenarnya terjadi terhadap uang yang berhasil dicuci. Ia menggambarkannya seperti melempar batu ke suatu kolam: it’s like a stone being thrown into a pound. You see the stone hit the water because it splashes. As it begins to sink. The water ripples and, for a few moments, you can still find the spot where the stone hit. But, as the stone sink deeper, the ripples fade. By the time the stone raches the bottom, any traces of it are long gone and the stone itself may be impossible to find. That’s exactly what happen to laundered money.20

20 Philips Darwin, Op.Cit, hal 45-46.

(32)

Menurut Robinson, immersion adalah tahap yag paling rentan bagi pelaku pencucian uang. Apabila ia tidak dapat memasukkan uang haram ke dalam proses pencucian, maka ia tidak akan mampu mencucinya. Namun jika uang itu berhasil dikonversikan kedalam nomor-nomor rekening bank yang muncul disatu layar komputer, dan dipindahkan melintasi dunia, maka pergerakannya seperti riak air yang melenyap dan batunya terkubur di lumpur dasar kolam.

Singkatnya, tahap intergrasi adalah upaya untuk menetapkan suatu landasan sebagai penjelasan absah (legitimate explaination) bagi hasil kejahatan. Disini uang yang diputihkan melalui penempatan maupun pelapisan dialihkan kedalam kegiatan-kegiatan resmi sehingga tampak tidak berhubung sama sekali dengan aktivitas kejahatan sebelumnya. Uang yang telah diputihkan lantas dimasukkan kembali kedalam sirkulasi dengan benttuk yang sesuai aturan hukum.21

F. Metode Penulisan 1. Jenis Penelitian

Penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah penelitian normatif.

Metode penelitian hukum normatif atau metode penelitian hukum kepustakaan adalah metode atau cara yang dipergunakan didalam penelitian bahan pustaka yang ada.22

Sehingga dalam penelitian hukum normatif ini mencangkup terhadap beberapa hal yaitu:

a. Penelitian terhadap azas - azas hukum;

21 N.H.T. Siahaan, Op.Cit.

22 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum (Jakarta: Universitas Indonesia (UI Press), 1986), hal 10.

(33)

b. Penelitian terhadap sistematika hukum;

c. Penelitian terhadap taraf sinkronasi hukum;

d. Penelitian sejarah hukum.23 2. Data dan Sumber Data

Data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh dari bahan hukum primer, sekunder dan tersier.

a. Bahan hukum primer, yaitu bahan yang terdiri dari Peraturan Perundang - Undangan dibidang hukum yang mengikat, antara lain Kitab Undang - Undang Hukum Pidana (KUHP). Undang - Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang dan keseluruhan Peraturan Perundang - Undangan yang berkaitan dengan penulisan skripsi ini.

b. Bahan hukum sekunder, yaitu bahan hukum yang memberikan penjelasan terhadap bahan hukum primer, yaitu hasil karya para ahli hukum berupa buku- buku, pendapat-pendapat para sarjana yang dimuatkan dalam artikel yang berhubungan dengan skripsi ini.

c. Bahan hukum tersier adalah bahan hukum penunjang, yaitu bahan hukum yang memberikan petunjuk atau penjelasan bermakna terhadap bahan hukum primer dan/atau hukum sekunder, yaitu kamus hukum dan lain lain.24

3. Teknik Mengumpulkan Data

Untuk melengkapi penulisan skripsi ini agar tujuan dapat lebih terarah dan dapat dipertanggungjawabkan digunakan metode penelitian hukum normatif yakni

23 Ibid,. hal 12.

24 Burhan Bungin, Analisis Data dan Penelitian Kualitatif Pemahaman filosofis dan Metodologis ke arah model aplikasi (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003), hal 68-69.

(34)

dengan menggunakan suatu penelitian kepustakaan (library research). Dalam hal ini penelitian hukum dilakukan dengan cara penelitian kepustakaan atau disebut penelitian normatif yaitu dengan cara meneliti bahan pustaka atau data sekunder belaka yang lebih dikenal dengan nama bahan acuan dalam bidang hukum atau rujukan bidang hukum.25 Metode library research adalah mempelajari sumber- sumber atau bahan-bahan tertulis yang dapat dijadikan bahan dalam penulisan skripsi ini. Berupa rujukan beberapa buku, wacana yang dikemukakan oleh pendapat para sarjana hukum yang sudah mempunyai nama besar dibidangnya, koran dan majalah.26

4. Analisis Data

Pengolahan data pada hakekatnya merupakan kegiatan untuk melakukan analisa terhadap permasalahan yang akan dibahas. Analisis data dilakukan dengan:

a. Mengumpulkan bahan-bahan hukum yang relevan dengan permasalahan yang diteliti.

b. Memilih kaidah-kaidah hukum atau doktrin yang sesuai dengan penelitian.

c. Mensistematiskan kaidah-kaidah hukum, azas atau doktrin,

d. Menjelaskan hubungan hubungan antara berbagai konsep, pasal atau doktrin yang ada.

Menarik kesimpulan dengan pendekatan dedukatif sehingga akan dapat merangkum terhadap permasalahan yang telah disusun.27

25 Ronny Hanitijo Soemitro, Metodologi Penelitian Hukum (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1983), hal 83.

26 Bambang Sunggono, Metode Penelitian Hukum (Jakarta: PT. Raja Grafindo, 1997), hal 41.

27 Winarto Surachmad, Dasar dan Teknik Research (Pengantar Metodologi Ilmiah) (Bandung: Tarsito, 1982), hal 131.

(35)

G. Sistematika Penulisan

Untuk mempermudah penulisan dan penjabaran penulisan, maka diperlukan adanya sistematika penulisan yang teratur yang terbagi dalam bab per bab yang saling berangkaian satu dengan yang lain. Adapun sistematika penulisan skripsi ini adalah:

BAB I: PENDAHULUAN

Pada bab ini penulis meguraikan tentang latar belakang, rumusan permasalahan, tujuan penulisan dan manfaat penulisan, keaslian penulisan, tinjauan kepustakaan, metode penelitian, dan sistematika penulisan.

BAB II: PENCUCIAN UANG MENURUT UNDANG UNDANG NO. 8 TAHUN 2010

Pada bab ini penulis menguraikan tentang apa yang dimaksud pencucian uang dan penjelasan pencucian uang menurut Undang Undang No.8 Tahun 2010 dan penjelasan serta pembahasan mengenai upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang menurut Undang Undang No . 8 Tahun 2010.

(36)

BAB III: PUSAT PELAPORAN DAN ANALISIS TRANSAKSI KEUANGAN SEBAGAI LEMBAGA PENGAWAS DAN PEMBANTU DALAM PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG

Bab ini menjelaskan tentang apa yang dimaksud Pusat Pelaporan dan Analisis Keuangan dan penjelasan mengenai kedudukannya serta menjelaskan peranan dan wewenang Pusat Pelaporan dan Analisis Keuangan dalam pemberantasan tindak pidana pencucian uang.

BAB IV: ANALISIS YURIDIS TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG YANG DILAKUKAN OLEH PEGAWAI BANK (STUDI PUTSAN NOMOR: 857/PID.SUS/2017/PN.JKT.SEL)

Dalam bab ini menjelaskan mengenai analisa kasus terhadap putusan hakim dalam perkara No.857/Pid.Sus/2017/PN.Jkt.Sel, tentang hal hal yang terjadi dipersidangan.

Baik kronologis kasus, dakwaan, fakta hukum, tuntutan pidana, pertimbangan hakim, putusan. Hal-hal tersebut diatas akan dianalisis oleh penulis untuk mendapatkan data yang valid mengenai putusan yang tepat dalam perkara ini.

(37)

BAB V: KESIMPULAN DAN SARAN

Pada bab ini berisi kesimpulan dan saran saran atas bagaimana seharusnya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang dapat dilakukan dan dikembangkan dan juga pertimbangan hakim dalam memutus kasus pencucian uang. Bab ini juga berisi saran yang disampaikan oleh penulis mengenai hal- hal tindak pidana pencucian uang di Indonesia yang dimana kesimpulan dan saran saran itu melihat dari uraian yang ada pada bab-bab sebelumnya.

(38)

27

Dalam Pasal 1 angka 1 Undang Undang Nomor 8 Tahun 2010 ada frasa

“Pencucian Uang”, namun mengenai apa yang dimaksud dengan Pencucian Uang sampai saat ini tidak ada belum terdapat definisi atau pengertian yang universal dan komperhensif28. Demikian juga dalam Undang Undang No. 8 Tahun 2010 tidak terdapat definisi atau pengertian apa yang dimaksud dengan Pencucian Uang, karena Pasal 1 angka 1 hanya menyebut: “Pencucian Uang adalah segala perbuatan yang memenuhi unsur–unsur tindak pidana sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini”.

Menurut Sutan Remy Sjahdeini yang dimaksud dengan pencucian uang atau money laundering adalah rangkaian kegiatan yang merupakan proses yang dilakukan oleh seseorang atau organisasi terdapat uang haram, yaitu uang yang berasal dari tindak pidana, dengan maksud untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal–usul uang tersebut dari pemerintah atau otoritas yang berwenang melakukan penindakan tindak pidana, dengan memasukan uang tersebut kedalam sistem keuangan (financial system), sehingga uang tersebut kemudian dapat dikeluarkan dari sistem keuangan itu sebagai uang yang halal.29 Jika diperhatikan bahwa dalam Pasal 1 angka 1 terdapat adanya frasa “memenuhi unsur–unsur tindak pidana” maka kiranya dapat disimpulkan bahwa sebenarnya

28 Sutan Remy Sjahdeini, Seluk Beluk Tindak Pidana Pencucian Uang dan Pembiayaan Terorisme (Jakarta: Pusaka Utama Grafitri, 2004), hal 1.

29 Ibid, hal 5.

(39)

yang dimaksud oleh Pasal 1 angka 1 adalah “Tindak Pidana Pencucian Uang” dan bukan “Pencucian Uang”.

A. Pengertian Tindak Pidana Pencucian Uang menurut Undang Undang Nomor 8 Tahun 2010

Dalam Pasal 3 Undang Undang Nomor 8 Tahun 2010 menjelaskan bahwa Tindak Pidana Pencucian Uang adalah : “Setiap orang yang yang menempatkan, mentransfer, mengalihkan, membelanjakan, membayarkan, mengibahkan, menitipkan, membawa keluar negeri, mengubah bentuk, menukarkan dengan mata uang atau surat berharga atau perbuatan lain atas harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana sebagai mana dimaksud pasal 2 ayat (1) dengan tujuan menyembunyikan atau menyamarkan asal-usul harta kekayaan dipidana karena tindak pidana Pencucian Uang dengan pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling banyak Rp.10.000.000.000,- (sepuluh miliar rupiah).

Tindakan pidana sebagaimana dimaksud oleh pasal 3 tersebut, oleh pasal 3 sudah diberi kualifikasi sebagai tindak Pidana Pencucian Uang.30

Kualifikasinya ialah sebagai berikut:

1. Tindak Pidana Pencucian Uang Aktif, yaitu setiap orang yang menempatkan, mentransfer, mengalihkan, membelanjakaan, membayarkan, mengibahkan, menitipkan, membawa keluar negeri, mengubah bentuk, menukarkan dengan uang uang atau surat berharga atau perbuatan lain atas harta

30 R.Wiyono, Pembahasan Undang Undang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (Jakarta: Sinar Grafika, 2014),hal 54.

(40)

kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1) dengan tujuan menyembunyikan atau menyamarkan asal-usul harta kekayaan.

2. Tindak Pidana Pencucian Uang Pasif, yang dikenakan kepada setiap orang yang menerima atau menguasai penempatan, pentransferan, pembayaran, hibah, sumbangan, penitipan, penukaran, atau menggunakan harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tidak pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1). hal ini tersebut dianggap juga sama dengan melakukan pencucian uang. Namun dikecualikan bagi pihak pelapor yang melaksanakan kewajiban pelaporan sebagaimana diatur dalam undang-undang ini.

3. Dalam pasal 4 UU No. 8/2010, dikenakan pula bagi mereka yang menikmati hasil tindak pidana pencucian uang yang dikenakan kepada setiap orang yang menyembunyikan atau menyamarkan asal-usul, sumber lokasi, peruntukan, pengalihan hak-hak, atau kepemilikan yang sebenarnya atas harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1). hal ini pun dianggap sama dengan melakukan pencucian uang.31

Sesuai dengan ketentuan yang terdapat dalam pasal 1 angka 9, yang dimaksud dengan “setiap orang” dalam pasal 3 adalah:

a. Orang perseorangan; atau b. Korporasi

31 Philips Darwin,Op.Cit,hal 76-77.

(41)

Jadi sebenarnya tindak pidana pencucian uang sebagaimana dimaksud dalam pasal 3, disamping dapat dilakukan oleh orang perseorangan (Natuurlijk persoon), juga dapat dilakukan oleh korporasi. Hanya saja korporasi yang melakukan tindak pidana pencucian uang tersebut tidak dijatuhkan pidana denda yang disebutkan dalam pasal 3, melainkan pidana dengan yang disebutkan dalam pasal 7 ayat (1).

Untuk tindak pidana Pencucian Uang yang dilakukan oleh korporasi terdapat dalam Pasal 6.

Yang dimaksud dengan “harta kekayaan” dalam pasal 3 tersebut adalah hanya terbatas harta kekayaan yang merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1) huruf a sampai hufuf z saja. Hasil tindak pidana yang merupakan harta kekayaan adalah: a. korupsi; b. penyuapan; c. narkotika; d.

psikotropika; e. penyelundupan tenaga kerja; f. penyelundupan migran; g.

dibidang perbankan; h. dibidang pasar modal; i. dibidang perasuransian; j.

kepabeaan; k. cukai; l. perdagangan orang; m. perdagangan senjata gelap; n.

terorisme; o. penculikan; p. pencurian; q. penggelapan; r. penipuan; s. pemalsuan uang; t. perjudian; u. prostitusi; v. dibidang perpajakan; w. dibidang kehutanan; x.

dibidang lingkungan hidup; y. dibidang kelautan dan perikanan; atau z. tindak pidana lain yang diancam dengan pidana penjara 4 (empat) tahun atau lebih.

Dengan demikian misalnya harta kekayaan yang merupakan hasil tindak pidana sebagai dimaksud oleh pasal 335 ayat (1) angka 1 KUHP tidak merupakan harta kekayaan yang dapat menjadi objek Pencucian Uang.

(42)

Sesuai dengan ketentuan yang terdapat dalam pasal 1 angka 13, yang dimaksud dengan harta kekayaan sebagaimana dimaksud oleh pasal 2 ayat (1) jo. Pasal 3 dapat terdiri dari semua benda:

a. Yang bergerak atau tidak bergerak;

b. Yang berwujud atau tidak berwujud.

Yang semua benda tersebut diperoleh baik langsung maupun tidak langsung dari tindak pidana sebagaimana dimaksud oleh pasal 2 ayat (1).32

Lalu unsur subjektif berupa “yang diketahuinya” dalam pasal 3 menunjuk adanya bentuk kesalahan yang serupa “sengaja” atau “dolus”, sedangkan unsur subjektif berupa “patut diduganya” dalam pasal 3 menunjuk adanya bentuk kesalahan berupa “tidak sengaja” atau “alpa”.

Dari Memorie van Tulichting disebutkan bahwa “sengaja” (opzettelijk) adalah sama dengan “dikehendaki dan diketahui” (willens en wettens)33.

Oleh Satochid Kartanegara dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan “willens en wettens” adalah seorang yang melakukan sesuatu perbuatan dengan sengaja, harus menghendaki (willen) perbuatan itu serta harus menginsafi, mengerti (witten) akan ajubat dari perbuatan itu34.

Sedang yang dimaksud “tidak sengaja” atau “alpa”, oleh van Hamel dikemukakan bahwa kealpaan itu mengandung syarat, yaitu:

1. tidak mengadakan penduga–duga sebagaimana diharuskan oleh hukum.

32 R.Wiyono,Op.Cit,. hal 56 - 57.

33 E. Utrech, Hukum Pidana I, (Surabaya: Pusaka Tirta Mas, 1987), hal 301.

34 Satochid Kartanegara, Hukum Pidana, Bagian I (Balai Lektur Mahasiswa), hal 291.

(43)

2. tidak mengadakan penghati–hati sebagaimana diharuskan pleh hukum.35 Untuk kata “Menempatkan” dalam pasal 3 ayat (1) huruf a, Sutan Remy Sjahdeini menjelaskan bahwa kata “Menempatkan” pada huruf a tersebut merupakan terjemahan dari bahasa Inggris to place. Ketentutan ini lebih atau terutama terkait dengan atau ditujukan kepada perbuatan menempatkan uang tunai pada bank. Sepanjang menyangkut bank, pengertian “menempatkan” disini sama dengan pengertian menyimpan atau to deposite uang tunai. Sesuai dengan ketentuan UU No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah ditambah dengan UU No. 10 Tahun 1998, dana yang telah ditempatkan atau disimpan pada bank disebut “simpanan”. Simpanan menurut UU tersebut dapat berupa dana yang disimpan di bank dalam betuk giro, deposito, sertifikat deposito, tabungan dana tau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu.36

Dengan mengikuti penjelasan dari Sutan Remy Sjahdeini seperti tersebut diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa:

a. yang dimaksud dengan “menempatkan atas harta kekayaan yang diketahui atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1)” dalam pasal 3 adala menyimpan harta kekayaan yang berupa uang tunai yang diketahui atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1) di bank sebagai simpanan.

b. simpanan bank tersebut dapat berupa giro, deposito, sertifikat deposito, tabungan atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu.37

35 Mulyatno, Azas – Azas Hukum Pidana

36 Sutan Remy Sjahdeini, Op.Cit,. hal 187.

37 R.Wiyono,Op.Cit, hal 58-59.

(44)

Mengengai apa yang dimaksud dengan “mentransfer”, Sutan Remy Sjahdeini menjelaskan “… sedangakan kata “mentransfer” adalah istilah perbankan dan selalu terikat dengan dana atau fund. Untuk dapat mentransfer dana, maka dana itu harus terlebih dahulu telah berada sebagai simpanan di bank yang akan

“mentransfer” (melakukan transfer) dana tersebut. Artinya telah disimpan dalam suatu rekening (account) pada bank tersebut … dst”38

Dengan mengikuti penjelasan dari Sutan Remy Sjahdeini seperti diatas, maka dapat diketahui bahwa yang dimaksud dengan “mentransfer atas harta kekayaan yang diketahui atau patut diduga merupakan hasil tindak pindana sebagaimana pasal 2 ayat (1)” dalam pasal 3 tersebut adalah pemindahan dana sebagai simpanan yang ada di bank.39

Untuk kata “Mengalihkan” berasal dari kata dasar “alih”, yang artinya adalah pindah, ganti, tukar atau ubah.40

Dengan demikian “mengalihkan” artinya adalah memindahkan, menganti, menukar atau mengubah.

Sehubungan dengan arti “mengalihkan” seperti tersebut diatas, maka tentunya yang dimaksud dengan “mengalihkan atas harta kekayaan yang diketahui atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat(1)” dalam pasal 3 adalah memindahkan, mengganti, menukar atau mengubah

38 Sutan Remy Sjaheini, Op.Cit,. hal 188.

39 R.Wiyono, Op.Cit,. hal 59.

40 Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2003), hal 30.

(45)

harta kekayaan yang diketahui atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1) tersebut.41

Mengenai apa yang dimaksud “membelanjakan”, Sutan Remy Sjahdeini menjelasakn bahwa pengertian “membelanjakan adalah dalam rangaka membeli barang atau jasa, yang padanannya dalam Bahasa inggris adalah to spend.42

Oleh karena itu untuk membeli barang atau jasa harus dengan uang, maka dengan mengikuti pendapat dari Sutan Remy Sjahdeini seperti tersebut diatas, yang dimaksud dengan “membelanjakan atas harta kekayaan yang diketahui atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1) “ dalam pasal 3 adalah membeli barang atau jasa dengan harta kekayaan yang berupa uang diketaui atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1)”.43

Dan yang dimaksud “membayarkan”, Sutan Remy Sjhadeini juga menjelaskan “... kata “membahayakan” dalam huruf c dari Pasal 3 ayat (1) huruf c UU No. 15 Tahun 2002 jo. UU No.25 Tahun 2003) mengandung arti menggunakan harta kekayaan yang merupakan hasil tindak pidana tersebut bukan hanya dalam rangka pembayaran harga barang dan jasa, tetapi juga dalam rangka membayar atau melunasi kewajiban, misalnya kewajiban membayar (melunasi) utang.... dengan demikian harta kekayaan (yang merupakan hasil tindak pidana) yang dipakai untuk membayar kewajiban tersebut tidak selalu harus berupa uang, tetapi dapat pula berupa benda bergerak atau benda tidak bergerak baik yang berwujud maupun tidak berwujud selain uang.

41 R.Wiyono,Op.Cit,. hal 61.

42 Sutan Remy Sjahdeini,Op.Cit,. hal 189

43 R.Wiyono, Op.Cit,. hal 61.

(46)

Misalnya berupa saham, obligasi, deposito, surat utang, bangunan, perhiasan dan lain lain … dst”.44

Dengan mengikuti penjelasan dari Sutan Remy Sjahdeini tersebut diatas, maka dapat disimpulkan bahwa yang membayarkan atas harta kekayaan yang diketahui atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1) dalam pasal 3 adalah:

a. membayarkan harga barang atau jasa dengan harta kekayaan yang berupa uang yang diketahui atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat 1.

b. membayar atau melunasi kewajiban dengan harta kekayaan yang tidak berupa uang yang diketahui atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat 1.

Perlu diperhatikan bahwa pada waktu masih berlakunya UU No. 15 Tahun 2002jo. UU No. 25 Tahun 2003, ketentutan mengenai “membelanjakan” dan

“membayarkan” atas harta kekayaan yang diketahui atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat 1 terebut adalah dalam satu ketentutan, yaitu pasal 3 ayat 1 huruf c.45

Lalu mengenai apa yang dimaksud dengan “mengibahkan”, Sutan Remy Sjahdeini menjelaskan “… kata “mengibahkan” dalam huruf d dalam pasal 3 ayat 1 UU No. 15 Tahun 2002 jo. UU No. 2 Tahun 2003 mengandung pengertian

“memberikan harta kekayaan secara cuma cuma atau tanpa syarat”. harta kekayaan diberikan itu harus berupa apa yang dalam bahasa Inggris disebut

44 Sutan Remy Sjhadeini,Op.Cit,. hal 189.

45 R.Wiyono,Op.Cit,. hal 62.

(47)

“grant”. Kata mengibahkan tersebut dapat pula berarti hibah sebagaimana dimaksud dalam KUHPerdata … dst”.46

Yang dimaksud oleh Sutan Remy Sjhadeini dengan hibah sebagaimana dimaksud dalam KUHPerdata tersebut adalah hibah sebagaimana yang disebutkan dalam pasal 1666 KUHPerdata, yaitu suatu persetujuaan dengan mana si pengibah di waktu hidupnya, dengan cuma cuma dan tidak dapat ditarik kembali, menyerahkan sesuatu benda guna keperluan si penerima hibah yang menerima penyerahan itu.

Dengan mengikuti penjelasan Sutan Remy Sjhadeini seperti diatas dapat diketahui bahwa yang dimaksud “mengibahkan atas harta kekayaan yang diketahui atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat 1 dalam pasal 3 adalah memberikan harta kekayaan yang diketahui atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat 1 secara cuma cuma atau tanpa syarat dan tidak dapat ditarik kembali.47

Pasal 1694 KUHPerdata menyebutkan bahwa penitipan adalah terjadi apabila seseorang menerima sesuatu barang dari orang lain, sengan syarat bahwa dia akan menyimpan dan mengembalikannya dalam wujud asalnya.

Oleh Sutan Remy Sjahdeini kemudian dijelaskan, “… kata “menitipkan” sama dengan “to bail” dalam pengertian lembaga bailment dalam hukum perdata atau sama dengan to deposite. Cara menitipkan misalnya dengan menyewa safe deposit box dari bank dimana pelaku menitipkan barang perhiasan, surat utang

46 Sutan Remy Sjahdeini, Op.Cit,. hal 189 -190.

47 R.Wiyono, Op.Cit,. hal 63.

Referensi

Dokumen terkait

1. M Quraish Shihab berpendapat kata jahiliyah terambil dari kata jahl yang digunakan Alquran untuk menggambarkan suatu kondisi dimana masyarakatnya

Hasil penelitian mengenai hubungan antara kualitas kehidupan kerja dengan kepuasan kerja di di Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Kota Administrasi Jakarta

Puji Syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah membimbing saya selaku peneliti telah menyelesaikan proposal penelitian dengan judul “Analisis Perbedaan Kepuasan Mahasiswa

Salah satu dari lokasi tersebut telah berdiri diatasnya sebuah usaha SPBU Nomor Seri 54.684-34 yang memiliki 4 (empat) dispenser dengan pendapatan bruto migas rata-rata setiap

Dari kondisi semacam ini bisa dibuat suatu analisa jika pada daerah pit yang diuji tersebut, terdapat banyak oksida yang terbentuk, dimana oksida tersebut

Gulma spesies tertentu secara ekologis dapat tumbuh dengan baik pada daerah budidaya dengan jenis tanaman tertentu dan mendominasi daerah pertanaman

Berdasarkan hasil penelitian ini berat kering total dan berat kering tajuk yang diberi perlakuan mikoriza tidak berbeda nyata dengan tanpa mikoriza, sedangkan pada berat

PERAN KELUARGA DALAM SOSIALISASI PENDIDIKAN NILAI DAN KARAKTER..