No. 049/10/14/Th. XVII, 3 Oktober 2016
NILAI TUKAR PETANI (NTP) DI PROVINSI RIAU
SEPTEMBER 2016 SEBESAR 99,11 ATAU NAIK 1,15 PERSEN
Nilai Tukar Petani (NTP) adalah perbandingan antara indeks harga yang diterima petani (It) dengan indeks harga yang dibayar petani (Ib) dan dinyatakan dalam persentase. NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kesejahteraan petani, dengan mengukur kemampuan tukar produk yang dihasilkan/dijual petani dibandingkan dengan produk yang dibutuhkan petani baik untuk proses produksi maupun untuk konsumsi rumah tangga petani. Semakin tinggi NTP dapat diartikan kemampuan daya beli atau daya tukar (term of trade) petani relatif lebih baik dan tingkat kehidupan petani juga lebih baik.
Sejak Desember Tahun 2013 dilakukan perubahan tahun dasar dalam penghitungan NTP dari tahun dasar 2007=100 menjadi tahun dasar 2012=100. Perubahan tahun dasar ini dilakukan untuk menyesuaikan perubahan/pergesaran pola produksi pertanian dan pola konsumsi rumah tangga pertanian diperdesaan, serta
Pada bulan September 2016, Nilai Tukar Petani (NTP) di Provinsi Riau sebesar 99,11 atau naik sebesar 1,15 persen dibanding NTP Agustus 2016 sebesar 97,98. Kenaikan NTP ini disebabkan oleh naiknya indeks harga yang diterima petani sebesar 1,65 persen, relatif lebih tinggi dibandingkan kenaikan indeks harga yang dibayar petani sebesar 0,50 persen.
Kenaikan NTP di Provinsi Riau pada bulan September 2016 terjadi pada semua subsektor, kecuali pada subsektor peternakan yang mengalami penurunan sebesar 0,38 persen, yaitu dari 102,42 pada bulan Agustus 2016 menjadi 102,03 pada bulan September 2016.
NTP September 2016 sebesar 99,11 persen dapat diartikan bahwa kondisi kesejahteraan petani relatif lebih buruk dibandingkan keadaan pada tahun 2012 dan masih mengalami defisit sebesar 0,89 persen. Defisit ini terutama terjadi pada petani subsektor hortikultura (NTPH=94,11) dan subsektor tanaman perkebunan rakyat (NTPPR=97,74).
JIka dibandingkan dengan provinsi lain yang ada di pulau Sumatera, NTP Provinsi Riau menduduki rangking 5 dari 10 provinsi yang ada.
Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) Provinsi Riau sebesar 110,39 atau naik sebesar
1,59 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya.
perluasan cakupan subsektor pertanian dan provinsi dalam penghitungan NTP, agar penghitungan indeks dapat dijaga ketepatannya.
Perbedaan antara NTP tahun dasar 2007=100 dengan NTP tahun dasar 2012=100 adalah meningkatnya cakupan jumlah komoditas baik pada paket komoditas It maupun Ib. Penghitungan NTP (2012=100) juga mengalami perluasan khususnya pada Subsektor Perikanan. Selain NTP Perikanan secara umum yang dihitung di 33 provinsi termasuk Provinsi DKI Jakarta, Nilai Tukar Nelayan (NTN) dan Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi) juga disajikan secara terpisah.
Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib), dimana komponen Ib hanya terdiri dari Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM). Dengan dikeluarkannya konsumsi dari komponen indeks harga yang dibayar petani (Ib), NTUP dapat lebih mencerminkan kemampuan produksi petani, karena yang dibandingkan hanya produksi dengan biaya produksinya.
Tabel 1
Nilai Tukar Petani (NTP) Gabungan Provinsi Riau September 2016 (2012 = 100)
Rincian
Indeks Gabungan Riau
Perubahan (%) Agustus'16 September'16
[1] [2] [3] [4]
Indeks Harga yang Diterima Petani 122.70 124.72 1.65 Indeks Harga yang Dibayar Petani 125.22 125.85 0.50
Konsumsi Rumah Tangga 128.31 129.08 0.60
Bahan Makanan 137.53 138.51 0.71
Makanan Jadi 127.02 128.05 0.81
Perumahan 115.32 115.58 0.23
Sandang 123.29 123.67 0.31
Kesehatan 120.13 120.36 0.19
Pendidikan, Rekreasi & Olah raga 116.21 116.45 0.21
Transportasi dan Komunikasi 120.86 121.50 0.53
BPPBM 112.92 112.98 0.06
Bibit 115.45 116.09 0.55
Obat-obatan & Pupuk 111.79 111.83 0.03
Sewa Lahan, Pajak & Lainnya 105.91 105.91 0.00
Transportasi 122.09 122.00 -0.08
Penambahan Barang Modal 115.53 115.97 0.38
Upah Buruh Tani 109.92 109.94 0.02
Nilai Tukar Petani 97.98 99.11 1.15
Nilai Tukar Usaha Pertanian 108.66 110.39 1.59
Berdasarkan hasil pemantauan harga-harga pedesaan di Provinsi Riau, NTP pada bulan September 2016 Riau sebesar 99,11 atau naik sebesar 1,15 persen dibanding NTP Agustus 2016 sebesar 97,98. Hal ini disebabkan harga barang/produk pertanian yang dihasilkan oleh rumah tangga mengalami kenaikan yang relatif lebih besar dibandingkan kenaikan harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga maupun untuk keperluan produksi pertanian seperti terlihat pada Tabel 1.
Tabel 2
NILAI TUKAR PETANI (NTP) RIAU SEPTEMBER 2016 (2012 = 100)
Subsektor Bulan
% Perub.
Agustus'16 September'16
[1] [2] [3] [4]
1 Tanaman Pangan
a Indeks Harga yang Diterima (It) 127.85 129.20 1.05
b Indeks Harga yang Dibayar (Ib) 126.43 127.13 0.55
c Nilai Tukar Petani (NTPP) 101.13 101.63 0.50
2 Hortikultura
a Indeks Harga yang Diterima (It) 117.04 118.97 1.65
b Indeks Harga yang Dibayar (Ib) 125.82 126.41 0.47
c Nilai Tukar Petani (NTPH) 93.02 94.11 1.17
3 Tanaman Perkebunan Rakyat
a Indeks Harga yang Diterima (It) 121.39 124.16 2.28
b Indeks Harga yang Dibayar (Ib) 126.36 127.02 0.53
c Nilai Tukar Petani (NTPR) 96.07 97.74 1.74
4 Peternakan
a Indeks Harga yang Diterima (It) 123.29 123.23 -0.05
b Indeks Harga yang Dibayar (Ib) 120.37 120.77 0.33
c Nilai Tukar Petani (NTPT) 102.42 102.03 -0.38
5 Perikanan
a Indeks Harga yang Diterima (It) 135.02 136.03 0.75
b Indeks Harga yang Dibayar (Ib) 121.46 122.08 0.51
c Nilai Tukar Petani (NTNP) 111.17 111.42 0.23
5.1. Perikanan Tangkap
a Indeks Harga yang Diterima (It) 141.78 142.42 0.46
b Indeks Harga yang Dibayar (Ib) 120.96 121.52 0.47
c Nilai Tukar Petani (NTN) 117.21 117.20 -0.01
5.2. Perikanan Budidaya
a Indeks Harga yang Diterima (It) 124.80 126.36 1.25
b Indeks Harga yang Dibayar (Ib) 122.21 122.92 0.58
c Nilai Tukar Petani (NTPi) 102.12 102.80 0.66
R i a u
a Indeks Harga yang Diterima (It) 122.70 124.72 1.65
b Indeks Harga yang Dibayar (Ib) 125.22 125.85 0.50
c Nilai Tukar Petani (NTP) 97.98 99.11 1.15
Dari 5 (lima) subsektor penyusun NTP, terdapat 4 (empat) subsektor yang mengalami kenaikan indeks NTP dan mengakibatkan naiknya NTP di Provinsi Riau. Kenaikan indeks NTP terjadi pada subsektor tanaman pangan yang mengalami kenaikan NTP sebesar 0,50 persen, subsektor hortikultura yang mengalami kenaikan NTP sebesar 1,17 persen, subsektor tanaman perkebunan rakyat yang mengalami kenaikan NTP sebesar 1,74 persen dan subsektor perikanan yang mengalami kenaikan NTP sebesar 0,23 persen. Sementara itu, subsektor peternakan menjadi satu-satunya subsektor penyusun NTP yang mengalami penurunan yaitu sebesar 0,38 persen seperti terlihat pada Tabel 2.
1. Indeks harga yang diterima petani (I t )
Pada September 2016, indeks harga yang diterima petani (It) di Provinsi Riau sebesar 124,72. Indeks harga yang diterima ini mengalami kenaikan sebesar 1,65 persen jika dibandingkan dengan It pada Agustus 2016 sebesar 122,70.
Kenaikan It terjadi pada 4 (empat) subsektor penyusun NTP dengan rincian sbb: subsektor tanaman pangan mengalami kenaikan It sebesar 1,05 persen, subsektor hortikultura mengalami kenaikan It sebesar 1,65 persen, subsektor tanaman perkebunan rakyat mengalami kenaikan It sebesar 2,28 persen dan subsektor perikanan mengalami kenaikan It sebesar 0,75 persen. Penurunan It terjadi pada subsektor peternakan yang mengalami penurunan sebesar 0,05 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
2. Indeks harga yang dibayar petani (Ib)
Melalui indeks harga yang dibayar petani (Ib) dapat ditunjukkan fluktuasi harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat pedesaan, khususnya petani yang merupakan bagian terbesar, serta fluktuasi harga barang dan jasa yang diperlukan untuk memproduksi hasil pertanian.
Indeks harga yang dibayar petani (Ib) pada September 2016 di Provinsi Riau naik sebesar 0,50 persen dibanding Ib Agustus 2016, yaitu dari 125,22 menjadi 125,85. Kenaikan Ib terjadi di semua subsektor penyusun NTP antara lain subsektor tanaman pangan yang mengalami kenaikan Ib sebesar 0,55 persen, subsektor tanaman hortikultura yang mengalami kenaikan Ib sebesar 0,47 persen, subsektor tanaman perkebunan rakyat yang mengalami kenaikan Ib sebesar 0,53 persen, subsektor peternakan yang mengalami kenaikan Ib sebesar 0,33 persen dan subsektor perikanan yang mengalami kenaikan Ib sebesar 0,51 persen.
3. NTP Subsektor
a. Subsektor Tanaman Pangan/Padi & Palawija (NTPP)
Pada September 2016, NTPP mengalami kenaikan indeks sebesar 0,50 persen dibandingkan dengan
NTPP bulan Agustus 2016, yaitu dari 101,13 pada Agustus 2016 menjadi 101,63 pada September 2016. Hal
ini disebabkan indeks harga yang diterima petani mengalami kenaikan sebesar 1,05 persen, relatif lebih
besar dibandingkan kenaikan indeks harga yang dibayar petani sebesar 0,55 persen.
Tabel 3.
Nilai Tukar Petani Per Subsektor dan Perubahannya September 2016 (2012 = 100)
Subsektor dan Kelompok
Bulan
% Perub.
Agustus'16 September'16
[1] [3] [4] [5
1 Tanaman Pangan
a Indeks Harga yang Diterima (It) 127.85 129.20 1.05
- Padi 122.62 124.03 1.15
- Palawija 142.63 143.81 0.83
b Indeks Harga yang Dibayar (Ib) 126.43 127.13 0.55
- Indeks Konsumsi Rumah Tangga 128.64 129.43 0.62
- Indeks BPPBM 114.38 114.56 0.16
2 Hortikultura
a Indeks Harga yang Diterima (It) 117.04 118.97 1.65
- Sayur-sayuran 114.49 117.88 2.96
- Buah-buahan 119.70 120.13 0.36
- Tanaman obat 116.31 116.91 0.52
b Indeks Harga yang Dibayar (Ib) 125.82 126.41 0.47
- Indeks Konsumsi Rumah Tangga 128.70 129.43 0.56
- Indeks BPPBM 111.94 111.90 -0.04
3 Tanaman Perkebunan Rakyat
a Indeks Harga yang Diterima (It) 121.39 124.16 2.28
- Tanaman Perkebunan Rakyat (TPR) 121.39 124.16 2.28
b Indeks Harga yang Dibayar (Ib) 126.36 127.02 0.53
- Indeks Konsumsi Rumah Tangga 128.66 129.42 0.59
- Indeks BPPBM 113.47 113.60 0.11
4 Peternakan
a Indeks Harga yang Diterima (It) 123.29 123.23 -0.05
- Ternak Besar 126.69 126.72 0.02
- Ternak Kecil 125.20 128.23 2.42
- Unggas 117.71 116.69 -0.87
- Hasil Ternak 124.26 126.32 1.65
b Indeks Harga yang Dibayar (Ib) 120.37 120.77 0.33
- Indeks Konsumsi Rumah Tangga 127.71 128.44 0.57
- Indeks BPPBM 109.07 108.96 -0.10
5 Perikanan
a Indeks Harga yang Diterima (It) 135.02 136.03 0.75
- Tangkap 141.78 142.42 0.46
- Budidaya 124.80 126.36 1.25
b Indeks Harga yang Dibayar (Ib) 121.46 122.08 0.51
- Indeks Konsumsi Rumah Tangga 124.24 125.26 0.82
- Indeks BPPBM 115.62 115.42 -0.18
1. Perikanan Tangkap
a Indeks Harga yang Diterima (It) 141.78 142.42 0.46
- Penangkapan Perairan Umum 139.54 141.03 1.07
- Penangkapan Laut 142.49 142.87 0.27
b Indeks Harga yang Dibayar (Ib) 120.96 121.52 0.47
- Indeks Konsumsi Rumah Tangga 124.29 125.31 0.82
- Indeks BPPBM 114.10 113.74 -0.32
2. Perikanan Budidaya
a Indeks Harga yang Diterima (It) 124.80 126.36 1.25
- Budidaya Air Tawar 124.80 126.36 1.25
b Indeks Harga yang Dibayar (Ib) 122.21 122.92 0.58
- Indeks Konsumsi Rumah Tangga 124.16 125.18 0.82
- Indeks BPPBM 117.92 117.95 0.03
BPPBM=Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal
Naiknya indeks harga yang diterima petani untuk subsektor tanaman pangan/padi & palawija ini disebabkan oleh naiknya indeks harga kelompok padi dan palawija masing-masing sebesar 1,15 persen dan 0,83 persen (khususnya gabah, ketela pohon/ubi kayu dll). Naiknya indeks harga yang dibayar petani disebabkan oleh naiknya indeks konsumsi rumah tangga sebesar 0,62 persen (khususnya cabai merah, beras, rokok kretek filter dll) dan indeks BPPBM sebesar 0,16 persen (khususnya upah mencangkul, TSP/SP36, upah merambet/menyiangi dll).
b. Subsektor Hortikultura (NTPH)
Pada September 2016, NTPH mengalami kenaikan sebesar 1,17 persen, yaitu dari 93,02 pada Agustus 2016 menjadi 94,11 pada September 2016. Hal ini disebabkan indeks harga yang diterima petani mengalami kenaikan sebesar 1,65 persen, relatif lebih tinggi dibandingkan kenaikan indeks harga yang harus dibayar petani sebesar 0,47 persen.
Naiknya indeks harga yang diterima petani disebabkan naiknya indeks harga kelompok sayur-sayuran sebesar 2,96 persen, buah-buahan sebesar 0,36 persen dan tanaman obat sebesar 0,52 persen (khususnya cabai merah, nangka, cabai rawit dll). Naiknya indeks harga yang dibayar petani disebabkan oleh naiknya indeks konsumsi rumah tangga sebesar 0,56 persen (khususnya cabai merah, beras, rokok kretek filter, kentang dll). Sementara itu, indeks BPPBM mengalami penurunan sebesar 0,04 persen (khususnya KCL, NP/NPK dll).
c. Subsektor Perkebunan Rakyat (NTPR)
Pada September 2016, NTPR mengalami kenaikan sebesar 1,74 persen, yaitu dari 96,07 pada Agustus 2016 menjadi 97,74 persen pada September 2016. Hal ini disebabkan oleh indeks harga yang diterima petani yang mengalami kenaikan sebesar 2,28 persen, relatif lebih besar dibandingkan kenaikan indeks harga yang dibayar petani sebesar 0,53 persen.
Kenaikan indeks harga yang diterima petani disebabkan oleh naiknya indeks harga kelompok tanaman perkebunan rakyat sebesar 2,28 persen (khususnya kelapa sawit, kelapa, karet dll). Naiknya indeks harga yang dibayar petani disebabkan oleh naiknya indeks konsumsi rumah tangga sebesar 0,59 persen (khususnya cabai merah, beras, rokok kretek filter dll) dan indeks BPPBM sebesar 0,11 persen (khususnya parang, urea dll).
d. Subsektor Peternakan (NTPT)
Pada September 2016, NTPT mengalami penurunan indeks sebesar 0,38 persen. Hal ini disebabkan indeks harga yang diterima petani mengalami penurunan sebesar 0,05 persen, sementara indeks harga yang dibayar petani mengalami kenaikan sebesar 0,33 persen.
Turunnya indeks harga yang diterima petani disebabkan oleh turunnya indeks harga pada kelompok
unggas sebesar 0,87 persen (khususnya ayam ras pedaging). Naiknya indeks harga yang dibayar petani
disebabkan oleh kenaikan indeks konsumsi rumah tangga sebesar 0,57 persen (cabai merah, beras, rokok
kretek filter dll). Sementara itu, indeks BPPBM mengalami penurunan sebesar 0,10 persen (khususnya bibit
e. Subsektor Perikanan (NTNP)
Pada September 2016, NTNP mengalami kenaikan sebesar 0,23 persen. Kenaikan ini terjadi karena indeks harga yang diterima petani (It) mengalami kenaikan sebesar 0,75 persen, relatif lebih besar dibandingkan kenaikan indeks harga yang dibayar petani (Ib) sebesar 0,51 persen. It pada September 2016 mengalami kenaikan disebabkan oleh naiknya It pada kelompok perikanan tangkap sebesar 0,46 persen (khususnya kerang, lais dll) dan pada kelompok perikanan budidaya sebesar 1,25 persen (khususnya patin, mas dan bawal). Naiknya indeks harga yang dibayar petani disebabkan oleh naiknya indeks konsumsi rumah tangga sebesar 0,82 persen (khususnya cabai merah, udang laut, rokok kretek, rokok kretek filter, buncis dll).
Sementara itu, indeks BPPBM mengalami penurunan sebesar 0,18 persen.
1). Kelompok Penangkapan Ikan (NTN)
Pada September 2016, NTN mengalami penurunan sebesar 0,01 persen jika dibandingkan dengan NTN bulan sebelumnya. Hal ini terjadi karena It hanya mengalami kenaikan sebesar 0,46 persen, relatif lebih kecil dibandingkan kanaikan Ib sebesar 0,47 persen. Kenaikan It disebabkan oleh naiknya indeks harga di sebagian besar ikan pada kelompok penangkapan perairan umum dan kelompok penangkapan laut masing- masing sebesar 1,07 persen dan 0,27 persen (khususnya kerang, lais, udang, baung dll). Kenaikan Ib disebabkan oleh naiknya indeks konsumsi rumah tangga sebesar 0,82 persen (khususnya cabai merah, udang laut, rokok kretek, rokok kretek filter, buncis dll). Sementara itu, indeks BPPBM mengalami penurunan sebesar 0.32 persen.
2). Kelompok Budidaya Ikan (NTPi)
Pada September 2016, NTPi mengalami kenaikan sebesar 0,66 persen. Kenaikan ini disebabkan oleh naiknya It sebesar 1,25 persen, relatif lebih tinggi dibandingkan kenaikan Ib sebesar 0,58 persen. Naiknya It disebabkan oleh naiknya indeks harga sebagian besar ikan pada kelompok budidaya air tawar sebesar 1,25 persen (khususnya patin, mas dan bawal). Kenaikan Ib disebabkan oleh naiknya indeks konsumsi rumah tangga sebesar 0,82 persen (khususnya cabai merah, udang laut, rokok kretek, rokok kretek filter, buncis dll) dan naiknya indeks BPPBM sebesar 0,03 persen (khususnya listrik, dedak, keranjang dll).
4. Perbandingan NTP Antar Provinsi di Pulau Sumatera
Kenaikan NTP terjadi di 5 (lima) Provinsi di Pulau Sumatera. Kenaikan NTP tertinggi terjadi di
Provinsi Sumatera Utara yaitu sebesar 1,50 persen, kemudian diikuti Provinsi Jambi yang mengalami kenaikan
NTP sebesar 1,43 persen, Provinsi Riau yang mengalami kenaikan NTP sebesar 1,15 persen, Provinsi
Sumatera Barat yang mengalami kenaikan NTP sebesar 0,70 persen dan Provinsi Bengkulu yang mengalami
kenaikan NTP sebesar 0,60 persen. Sementara itu 5 (lima) provinsi lain di Pulau Sumatera mengalami
penurunan NTP. Penurunan NTP terbesar terjadi di Provinsi Lampung yaitu sebesar 1,15 persen, kemudian
diikuti Provinsi NAD yang mengalami penurunan NTP sebesar 0,49 persen, Provinsi Sumatera Selatan yang
mengalami penurunan NTP sebesar 0,47 persen, Provinsi Kepulauan Riau yang mengalami penurunan NTP
sebesar 0,41 persen dan Provinsi Bangka Belitung yang mengalami penurunan NTP sebesar 0,10 persen seperti
Tabel 4.
Nilai Tukar Petani 10 Provinsi Di Pulau Sumatera dan Persentase Perubahannya September 2016 (2012 = 100)
No. Provinsi It Ib NTP
Indeks % Perub. Indeks % Perub. Indeks % Perub.
[1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8]
1 NAD 118.22 0.23 124.31 0.72 95.10 (8) -0.49
2 SUMUT 126.56 1.98 125.57 0.47 100.79 (2) 1.50
3 SUMBAR 120.77 1.30 123.47 0.60 97.81 (6) 0.70
4 RIAU 124.72 1.65 125.85 0.50 99.11 (5) 1.15
5 JAMBI 123.10 1.91 123.97 0.47 99.30 (4) 1.43
6 SUMSEL 116.35 -0.06 123.62 0.42 94.11 (9) -0.47
7 BENGKULU 116.86 1.21 125.50 0.60 93.12 (10) 0.60 8 LAMPUNG 127.25 -0.54 123.14 0.62 103.34 (1) -1.15
9 BABEL 120.65 0.44 119.95 0.55 100.58 (3) -0.10
10 KEPRI 116.06 -0.33 119.62 0.08 97.02 (7) -0.41
Ket:
( ) = Rangking
5. Inflasi/Deflasi Perdesaan
Perubahan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) mencerminkan angka Inflasi/Deflasi di wilayah pedesaan. Pada bulan September 2016, di daerah perdesaan Provinsi Riau terjadi inflasi sebesar 0,60 persen.
Inflasi perdesaan disebabkan oleh naiknya indeks pada semua kelompok pengeluaran konsumsi rumah tangga yaitu kelompok bahan makanan yang naik sebesar 0,71 persen, kelompok makanan jadi yang naik sebesar 0,81 persen, kelompok perumahan yang naik sebesar 0,23 persen, kelompok sandang yang naik sebesar 0,31 persen, kelompok kesehatan yang naik sebesar 0,19 persen, kelompok pendidikan, rekreasi & olah raga yang naik sebesar 0,21 persen dan kelompok transportasi dan komunikasi yang naik sebesar 0,53 persen seperti terlihat pada Tabel 5.
Tabel 5.
Persentase Perubahan Indeks Harga Konsumen Pedesaan Provinsi Riau Menurut Kelompok Pengeluaran
September 2016 (2012 = 100)
Kelompok Pengeluaran
Bulan Perubahan
Agustus'16 September'16 September’16 thd Agustus’16
[1] [2] [3] [4]
Konsumsi Rumah Tangga 128.31 129.08 0.60
Bahan Makanan 137.53 138.51 0.71
Makanan Jadi, Rokok & Tembakau 127.02 128.05 0.81
Perumahan 115.32 115.58 0.23
Sandang 123.29 123.67 0.31
Kesehatan 120.13 120.36 0.19
Pendidikan, Rekreasi, & OR 116.21 116.45 0.21 Transportasi & Komunikasi 120.86 121.50 0.53
6. Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) Subsektor
Pada September 2016, terjadi kenaikan NTUP sebesar 1,59 persen. Hal ini disebabkan oleh naiknya indeks harga yang diterima petani sebesar 1,65 persen, relatif lebih tinggi dibandingkan kenaikan indeks BPPBM mengalami sebesar 0,06 persen (lihat Tabel 1). Kenaikan NTUP terjadi pada semua subsektor penyusun NTP dengan rincian sbb: subsektor tanaman pangan mengalami kenaikan indeks sebesar 0,89 persen, subsektor hortikultura mengalami kenaikan indeks sebesar 1,69 persen, subsektor tanaman perkebunan rakyat mengalami kenaikan indeks sebesar 2,17 persen, subsektor peternakan mengalami kenaikan indeks sebesar 0,06 persen dan subsektor perikanan mengalami kenaikan indeks sebesar 0,93 persen, seperti terlihat pada Tabel 6.
Tabel 6.
Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian per Subsektor Dan Persentase Perubahannya
September 2016 (2012=100)
Sub Sektor Agustus'16 September'16
Perubahan (%) September'16 thd Agustus'16
[1] [2] [3] [4]
1. Tanaman Pangan 111.78 112.78 0.89
2. Hortikultura 104.55 106.32 1.69
3. Tanaman Perkebunan Rakyat 106.98 109.30 2.17
4. Peternakan 113.03 113.10 0.06
5. Perikanan 116.77 117.85 0.93
a. Tangkap 124.25 125.22 0.78
b. Budidaya 105.84 107.13 1.22
Riau 108.66 110.39 1.59