PENGARUH ENERGI RANSUM TERHADAP
PENAMPILAN KAMBING KACANG INDUK BUNTING
HASIL PERKAWINAN DENGAN JANTAN BOER
(The Effects of Ration Energy Levels on Performance of Pregnant Kacang Does Crossed with Boer Male)
MUCHJI MARTAWIDJAJA, BAMBANG SETIADI danDWI YULISTIANI Balai Penelitian Ternak, PO Box 221, Bogor 16002
ABSTRACT
Feeding experiment has been cunducted in Cilebut Experimental Station, Bogor, by using 40 heads of Kacang does that were crossed with male Boer goats. Four weeks before till seven weeks after mating, all does were fed with chopped napier grass (NG) ad libitum + concentrate (GTO3) at 300 g/d/h. At seven weeks after mating, 30 heads of the does were pregnant. All does were then randomly divided into two groups, 15 heads each, to receive one the following two rations: R1 = NG + concentrate C1 (CP 18%, DE 3,000 kcal/kg DM) and R2 = NG + concentrate C2 (CP 18%, DE 3,500 kcal/kg DM). Each treatment group was allocated in a colony pen. The amount of grass and concentrate offered was adjusted to meet the requirement based on the age of pregnancy; from 7 to 15 weeks of pregnancy, NG was offered at 3 kg/d and concentrate was at 2% BW, and from 15 weeks to 21 weeks of pregnancy the corresponding amounts were 2.5 kg/d and 2.5%, repectively. Measumement included feed consumption, body weight change and feed conversion. Feed consumption and conversion effects were analysed descriptively, and body weight change analyzed using a Completely Randomized Design, while different effects of the treatments by using LSD test. The results showed that in the mid pregnancy (7-15 weeks of pregnancy), dry matter (DM) and crude protein (CP) intakes between ration R1 and R2 were not much different, but digestible energy (DE) consumption in R2 was 11.1% higher than the value in R1. Average daily gain (ADG) between treatment R1 and R2 was not significanlty different (P>0.05), but ADG in R2 indicated 7.9% higher and feed conversion 6.4% more efficient than in R1. At the end of pregnancy (15-21 weeks of pregnancy), DM and CP intakes between ration R1 and R2 was not much different, but DE intake in R2 was 8.1% higher than the value in R1. Average daily gain (ADG) between R1and R2 was not significantly different (P>0.05), but ADG in R2 indicated 3.1% higher, and feed conversion (5.1) more efficient than those in R1. When were calculated from 7 to the last 21 week of pregnancy, DM and CP intake in R2 was 9.2% higher than the value in R1. Average daily gain (ADG) in R2 was 5.9% higher and feed coversion 6.05% more efficient than in R1. The conclusion of the experiment was that concentrate C2 (18% CP; 3,500 kcal DE/kg DM) gave better digestible energy consumption, average daily gain and feed conversion than concentrate C1 (18% CP; 3,000 kcal DE/kg DM).
Key words: Energy level, performance, pregnant Kacang does
ABSTRAK
Suatu percobaan ransum telah dilakukan di Stasiun Percobaan Cilebut, Bogor, dengan menggunakan 40 ekor induk kambing Kacang yang dikawinkan dengan jantan Boer. Empat minggu sebelum sampai tujuh minggu setelah dikawinkan, induk diberi ransum cacahan rumput Gajah (RG) segar secara ad lib + konsentrat GT03 300 g/e/h. Tujuh minggu setelah dikawinkan, 30 ekor induk yang positif bunting secara acak dibagi dua masing-masing 15 ekor, dan diberi ransum: R1 = RG + konsentrat K1 (PK 18%, Edd 3.000 kkal), dan R2 = RG + konsentrat K2 (PK18%, Edd 3.500 kkal). Pemberian rumput (RG) dan konsentrat disesuaikan dengan umur kebuntingan yaitu dari minggu ke 7-15 (bunting muda) RG sebanyak 3,0 kg/e/h dan konsentrat 2,0% BB,
adalah konsentrat komersial yang dibuat Indofeed. Induk dikandangkan di dalam kandang kelompok, parameter yang diukur yaitu konsumsi ransum, perubahan bobot badan dan konversi pakan. Untuk perubahan bobot badan, menggunakan Rancangan Acak Lengkap, perbedaan respon nutrisi antar perlakuan ransum dilakukan dengan uji LSD, sedangkan konsumsi ransum dan konversi pakan dianalisis secara deskriptif. Hasil percobaan pada periode bunting muda konsumsi bahan kering (BK) dan protein kasar (PK) antara ransum R1 dengan R2 tidak berbeda, namun konsumsi Edd pada R2 cenderung (11,1%) lebih tinggi. Pertambahan bobot badan harian (PBBH) antara R1 dengan R2 tidak berbeda (P>0,05) namun pada R2 cenderung (7,9%) lebih tinggi, dan konversi pakan (KP) (6,4%) lebih efisien dibanding R1. Pada periode bunting tua konsumsi BK dan PK antara R1 dengan R2 tidak jauh berbeda, konsumsi Edd pada R2 cenderung (8,1%) lebih tinggi dibanding R1. Pertambahan bobot badan harian (PBBH) antara R1 dengan R2 tidak berbeda (P>0,05) namun pada R2 cenderung (3,1%) lebih tinggi, dan KP (5,1%) lebih efisien dibanding R1. Dihitung dari awal kebuntinggan 7 (tujuh) minggu sampai akhir kebuntinggan 21 minggu, konsumsi BK dan PK antara ransum R1 dengan R2 relatif sama, konsumsi Edd pada R2 cenderung (9,2%) lebih tinggi. Pertambahan bobot badan harian (PBBH) pada induk ransum R2 cenderung (5,9%) lebih tinggi, dan KP (6,05%) lebih efisien dari R1. Pada kondisi penelitian ini disimpulkan bahwa pemberian konsentrat (PK 18%, Edd 3.500 kkal) pada induk kambing bunting, cenderung meningkatkan konsumsi Edd dan PBBH lebih tinggi, serta konversi pakan lebih efisien dibanding dengan konsentrat (PK 18%, Edd 3.000 kkal).
Kata kunci: Energi ransum, penampilan kambing induk bunting PENDAHULUAN
Upaya memperbaiki produktivitas kambing lokal (Kacang) sebagai ternak penghasil daging selain dilakukan melalui seleksi, dapat juga dilakukan melalui persilangan dengan bangsa kambing impor yang memiliki keunggulan bobot badan, seperti kambing Boer asal dari Afrika Selatan. Kambing Boer termasuk tipe besar dengan bobot badan jantan dewasa antara 60-0 kg (DEVENDRA danBURNS, 1983). Namun untuk mencapai produktivitas yang optimal dan efisien sesuai dengan potensi genetiknya, perlu ditunjang dengan lingkungan yang baik terutama gizi pakan yang sesuai dengan kebutuhan status fisiologisnya.
Gizi pakan (terutama protein dan energi) yang dikonsumsi, merupakan faktor terbesar yang mempengaruhi efisiensi reproduksi dan produktivitas ternak (TILLMAN et al., 1983; GATENBY. 1986; MCDONALD et al., 1988). Pada saat bunting, kambing induk memerlukan protein dan energi lebih tinggi, selain untuk mempertahankan kondisi tubuh, juga untuk pembentukan dan pertumbuhan jaringan baru yaitu janin, membran janin, plasenta, pembesaran uterus, perkembangan kelenjar mammae dan proses metabolisme (MCDONALD et al., 1988; TILLMAN et al., 1983). Energi selain diperlukan untuk aktivitas fisik, pertumbuhan, reproduksi dan produksi susu (TILLMAN et al., 1983), juga meningkatkan fungsi rumen dan efisiensi penggunaan protein (ENSMINGER danPARKER, 1986). Saat bunting tua, induk yang mengandung anak dua atau lebih (GATENBY, 1986), dan yang menyusui anak (ENSMINGER danPARKER, 1986), memerlukan energi dua kali kebutuhan hidup pokok.
Kambing induk sebagai penghasil anak, perlu mendapat pakan cukup (kualitas dan kuantitas) sesuai dengan kebutuhan status fisiologisnya (prabunting, bunting dan laktasi). Pemberian pakan tambahan pada induk sebelum dikawinkan (flushing), dapat meningkatkan kondisi dan bobot badan, meningkatkan ovulasi dan fertilisasi serta jumlah anak yang dilahirkan (SASTRY danTHOMAS, 1979; GATENBY, 1986; ENSMINGER dan PARKER, 1986), meningkatkan penampilan induk dan tingkat keberhasilan perkawinan (MATHIUS et al., 1995), dan memperpendek jarak konsepsi pertama (SUTAMA, 1989).
Pada kambing induk dalam periode bunting muda, kebutuhan nutrisi (terutama protein dan energi) relatif sama dengan induk yang tidak bunting (GATENBY, 1986; MCDONALD et al., 1988). Menurut SASTRY dan THOMAS (1979) pada awal dan pertengahan kebuntingan, kebutuhan nutrisi tidak sekritis seperti pada masa bunting tua. Pada akhir kebuntingan, induk memerlukan nutrisi lebih tinggi untuk memacu pertumbuhan janin yang cepat dan perkembangan kelenjar susu induk untuk persiapan produksi air susu (MCDONALD et al., 1988; Ensminger dan PARKER, 1986). Kekurangan nutrisi pada masa kebuntingan, dapat mengakibatkan kematian janin (MCDONALD et
al., 1988), bobot lahir kecil dan lemah (SASTRY dan THOMAS, 1979). Pada domba saat akhir kebuntingan, pemberian pakan tambahan yang tinggi, berpengaruh baik pada sifat keindukan (GEDE PUTU, 1989).
Berdasarkan pertimbangan tersebut di atas, maka dilakukan percobaan ransum untuk mengetahui respon perbedaan energi ransum yang diberikan terhadap penampilan kambing induk bunting hasil perkawinan dengan jantan Boer.
MATERI DAN METODE
Percobaan ini bertujuan untuk mendukung penelitian pemuliaan dengan menggunakan 40 ekor kambing Kacang induk yang disilangkan dengan jantan Boer. Dari saat dikawinkan sampai minggu ketujuh sesudahnya, kambing induk diberi ransum berupa cacahan rumput Gajah (RG) segar secara ad lib + konsentrat komersial GT03 sebanyak 300 g/e/h. Pada minggu ketujuh setelah dikawinkan, sembilan ekor tidak bunting dan 31 ekor positif bunting (satu ekor yang bunting dikeluarkan karena kurang baik kondisinya). Induk yang bunting dan sehat secara acak dibagi dua kelompok masing masing 15 ekor untuk selanjutnya diberikan salah satu dari dua ransum perlakuan, dan kambing induk ditempatkan di dalam kandang kelompok. Dua perlakuan ransum dimaksud adalah R1 = RG + konsentrat K1 (PK 18%, Edd 3.000 kkal), dan R2 = RG + konsentrat K2 (PK 18%, Edd 3.500 kkal). K1 dan K2 adalah konsentrat komersial yang dipesan dari pabrik makanan ternak Indofeed, Bogor. Dari analisa ulang di Laboratorium Makanan Ternak, Bogor, kandungan energi konsentrat K1 dan K2 hanya dapat dianalisa nilai gros energinya (GE), sedangkan energi dapat dicerna (Edd) diasumsikan sebesar 70% GE. Jumlah pemberian ransum disesuaikan dengan umur kebuntingan yaitu dari minggu ketujuh sampai ke 15 (bunting muda) rumput sebanyak 3,0 kg/e/h dan konsentrat 2,0% dari bobot badan (2,0% BB), selanjutnya dari minggu ke15-21 (bunting tua) rumput sebanyak 2,5 kg/e/h dan konsentrat 2,5% BB. Parameter yang diukur yaitu konsumsi ransum, perubahan bobot badan dan konversi pakan. Untuk perubahan bobot badan, penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dan perbedaan respon nutrisi diuji dengan uji LSD (STEEL danTORRIE, 1980), sedangkan konsumsi ransum dan konversi pakan dianalisis secara deskriptif.
HASIL DAN PEMBAHASAN Kandungan gizi pakan
Pakan yang diberikan untuk ransum kambing induk dianalisa di Laboratorium Makanan Ternak, Bogor, (Tabel 1). Kandungan protein (PK) konsentrat K1 dan K2 menurut perhitungan semula yaitu 18%, namun hasil analisa ternyata lebih rendah. Hal ini diperkirakan karena bahan dasar yang digunakan untuk konsentrat mutunya bervariasi sehingga tidak sama dengan perhitungan dalam penyusunan sebelumnya.
Tabel 1. Kandungan bahan kering (BK), protein kasar (PK) dan gros energi (GE) rumput Gajah (RG) dan konsentrat yang diberikan untuk ransum kambing induk
Kandungan gizi
Jenis pakan
BK (%) PK (%) GE (kkal/kg BK) Edd * (kkal/kg BK)
Rumput Gajah (RG) 15,84 14,59 3.884 2.719
Konsentrat - K1 87,56 17,42 4.307 3.015
- K2 88,13 17,16 4.976 3.482
- GT03 87,95 16,50 4.285 3.000
Keterangan: * Energi dapat dicerna (Edd) diasumsikan sama dengan 70% GE
Periode 0-7 minggu setelah kawin
Dari saat dikawinkan sampai tujuh minggu sesudahnya (pengecekan kebuntingan), kambing induk mengkonsumsi bahan kering (BK), protein kasar (PK) dan gros energi (GE) rata-rata 731 g, 111,7 g dan 2.945 kkal/e/h (Edd = 2062 kkal). Jumlah BK, PK dan Edd yang dikonsumsi induk rata-rata melebihi kebutuhan untuk hidup pokok, sehingga memungkinkan untuk memperbaiki kondisi dan meningkatkan bobot badan. Rataan bobot badan kambing induk pada periode ini berkisar antara 28,4-30,6 kg, dengan pertambahan bobot badan harian (PBBH) rata-rata 52,4 g/e/h. Menurut NRC (1981) untuk kambing seberat 30 kg dengan PBBH 50 g/h, memerlukan konsumsi BK 690 g, PK 65 g dan Edd 2.030 kkal/e/h. Dengan bertambahnya bobot badan menunjukkan bahwa kondisi induk meningkat ke arah yang lebih baik, dan ini penting dalam masa kebuntinggan seperti yang diutarakan GATENBY (1986). Saat awal kebuntingan, kebutuhan nutrisi (terutama protein dan energi) relatif sama dengan induk tidak bunting, namun jumlah nutrisi yang dikonsumsi akan mempengaruhi kondisi induk dan kemampuan hidup janin untuk selanjutnya (MCDONALD et
al., 1988).
Periode bunting muda
Selama periode bunting muda (7-15 minggu umur kebuntingan), penambahan energi dapat dicerna (Edd) dari 3.000 menjadi 3.500 kkal/kg BK dalam konsentrat, tidak menunjukkan perbedaan yang berarti terhadap konsumsi BK dan PK, namun konsumsi Edd pada R2 cenderung (11,1%) lebih tinggi dari R1. Rataan konsumsi BK, PK dan Edd pada induk R1 masing-masing adalah 889 g (25,7 g/kg BB), 143,8 g (4,16 g/kg BB) dan 2.563 kkal/e/h (74,2 kkal/kg BB). Sedangkan pada R2 konsumsi BK, PK dan Edd masing-masing adalah 898 g (25,9 g/kg BB), 147,0 g (4,25 g/kg BB) dan 2.847 kkal/e/h (82,3 kkal/kg BB) (Tabel 2).
Peningkatan kandungan Edd ransum dari 3.000 menjadi 3.500 kkal tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap pertambahan bobot badan harian (PBBH) induk, namun pada induk ransum R2 cenderung (7,9%) lebih tinggi dibanding R1 masing-masing yaitu 137,8 (R1) vs 148,7 g/h (R2) (Tabel 2).
Konversi pakan, dihitung dari rata-rata jumlah bahan kering (BK) ransum yang dikonsumsi dibagi dengan pertambahan bobot badan harian (PBBH) (g BK/g PBBH). Selama periode bunting muda konversi pakan pada induk dengan ransum R2 cenderung (6,4%) lebih efisien dibanding R1 masing-masing yaitu 6,45 (R1) vs 6,04 (R2) (Tabel 2).
Kambing induk dalam periode bunting muda, kebutuhan nutrisi (terutama protein dan energi) relatif sama dengan induk yang tidak bunting (GATENBY, 1986; MCDONALD et al., 1988). Menurut SASTRY danTHOMAS (1979) pada awal dan pertengahan umur kebuntingan, kebutuhan nutrisi tidak sekritis seperti pada masa bunting tua. Dalam kondisi bunting muda dengan bobot badan antara 30-40 kg (rataan 35 kg), untuk hidup pokok membutuhkan konsumsi BK antara 530-40-670 g/e/h (rataan 605g), PK antara 51-63 g/e/h (rataan 57 g) dan Edd antara 1.590-1.980 kkal/e/h (rataan 1.785 kkal) (NRC, 1981).
Tabel 2. Konsumsi bahan kering (BK), protein kasar (PK) dan gros energi (GE), serta perubahan bobot badan (PBB) dan konversi pakan (KP) periode bunting muda
Perlakuan ransum Uraian R1 R2 Rataan Konsumsi ransum : - BK : - rumput (g/e/h) 388 371 - konsentrat (g/e/h) 501 527 Total BK (g/e/h) 889 898 894 Per kg BB (g/kg BB) 25,7 25,9 25,8 - PK (g/e/h) 143,8 147,0 145,4 Per kg BB (g/kg BB) 4,16 4,25 4,21 - GE (kkal/e/h) 3.662 4,067 4.014 Edd (kkal/e/h) 2.563 2.847 2.705 Per kg BB (kkal/kg BB) 74 82 78
Perubahan bobot badan (PBB):
- BB awal (kg) 30,7 30,44 - BB akhir (kg) 38,42 38,77
- PBB (kg) 7,72 8,33 8,02
- PBB harian (PBBH) (g/e/h) 137,8a 148,7a 143,3
- KP (g BK/g PBBH) 6,45 6,04 6,24
Keterangan: untuk PBBH: huruf kecil yang sama didalam baris (a) tidak berbeda nyata(P>0,05)
Dalam penelitian ini, rataan BB induk perlakuan ransum R1 yaitu 34,56 kg dengan total konsumsi BK, PK dan Edd masing-masing yaitu 889 g, PK 143,8 g dan Edd 2.563 kkal/e/h. Pada ransum R2 rataan BB induk 34,60 kg, dengan rataan konsumsi BK, PK dan Edd masing-masing yaitu 898 g, 147,0g dan 2.847 kkal/e/h. Total BK, PK dan Edd yang dikonsumsi induk pada perlakuan ransum R1dan R2, keduanya melebihi kebutuhan hidup pokok sehingga memungkinkan untuk mencukupi kebutuhan induk kondisi bunting muda.
Telah disebutkan di atas bahwa konsumsi BK dan PK antara induk perlakuan ransum R1 dengan R2 relatif sama, namun pada R2 konsumsi Edd rata-rata 11,1% lebih tinggi, dan diikuti
tinggi pada induk R2 ini, diduga karena pengaruh dari lebih banyaknya energi yang dikonsumsi. Menurut NRC (1981) kebutuhan energi ternak tergantung pada bobot badan dan besarnya pertambahan bobot badan. Selain itu energi yang lebih tinggi dari kebutuhan pokok ternak, dapat meningkatkan fungsi rumen dan efisiensi penggunaan protein serta pertambahan bobot badan (ENSMINGER danPARKER, 1986). Pertambahan bobot badan harian (PBBH) yang lebih tinggi akan berdampak lebih baik terhadap efisiensi konversi pakan dan kondisi kebuntingan induk selanjutnya (SASTRY dan THOMAS, 1976; ENSMINGER dan PARKER, 1986). Pada periode bunting muda, nutrisi (terutama protein dan energi) selain digunakan untuk kebutuhan hidup pokok, juga untuk menambah bobot badan induk sendiri, pembentukan dan pertumbuhan jaringan baru yaitu janin, membran janin dan plasenta, pembesaran uterus dan proses metabolisme (TILLMAN et al., 1983). Sampai pertengahan umur kebuntingan, nutrisi lebih banyak digunakan untuk perkembangan plasenta yang berperan memberi makan janin, dan apa bila kekurangan nutrisi dapat menghambat perkembangan plasenta dan pertumbuhan janin selanjutnya (MCDONALD et al., 1988).
Periode bunting tua
Seperti halnya periode bunting muda, pada periode bunting tua (15-21 minggu umur kebuntingan), penambahan Edd konsentrat dari 3.000-3.500 kkal, tidak menyebabkan perbedaan yang berarti terhadap konsumsi BK dan PK, sedangkan total konsumsi Edd pada R2 cenderung (8,1%) lebih tinggi. Rataan konsumsi BK, PK dan Edd pada induk dengan ransum R1 masing-masing yaitu 1.069 g/e/h (25,9 g/kg BB), 193,1 g/e/h (4,68 g/kg BB) dan 3.1418 kkal/e/h (83 kkal/kg BB). Pada induk ransum R2 konsumsi BK, PK dan Edd masing-masing yaitu 1.046 g/e/h (25,1 g/kg BB), PK 189,7 g/e/h (4,55 g/kg BB) dan 3.694 kkal/e/h (89 kkal/kg BB) (Tabel 3). Jumlah nutrisi (BK, PK dan Edd) yang dikonsumsi, dapat mempengaruhi kondisi kebuntingan induk, dan ini dapat dilihat dari perubahan bobot badannya.
Peningkatan Edd dari 3.000-3.500 kkal dalam konsentrat, tidak menunjukkan pengaruh yang nyata (P>0,05) terhadap PBBH induk, namun pada induk ransum R2 cenderung (3,1%) lebih tinggi dibanding R1 masing-masing yaitu 133,3 (R1) vs 137,4 g/e/h (R2) (Tabel 3).
Konversi pakan antara induk perlakuan ransum R1 dengan R2 walaupun tidak jauh berbeda, namun pada R2 (5,1%) cenderung lebih efisien dibanding R1masing-masing yaitu 8,02 (R1) vs 7,61 (R2) (Tabel 3).
Selama induk bunting tua, kebutuhan nutrisi (BK, PK dan Edd) lebih tinggi dari rata-rata periode bunting muda. Peningkatan kebutuhan tersebut (terutama energi) selain untuk hidup pokok, juga diperlukan untuk pertumbuhan janin yang sangat cepat (dibanding saat bunting muda) dan perkembangan kelenjar mammae induk untuk persiapan produksi air susu (TILLMAN et al., 1981; ENSMINGER dan PARKER, 1986). Sesuai dengan yang dianjurkan NRC (1981) pada akhir kebuntingan, induk perlu konsumsi (BK, PK dan Edd) dua kali kebutuhan untuk hidup pokok, terutama pada induk yang melahirkan anak dua atau lebih (GATENBY, 1986).
Dalam penelitian ini rataan BB induk perlakuan ransum R1 adalah 41,22 kg dengan konsumsi BK, PK dan Edd masing-masing adalah 1.069g; 193,1 g dan 3.418 kkal/e/h. Pada perlakuan ransum R2 rataan BB induk adalah 41,65 kg dengan konsumsi BK, PK dan Edd masing-masing sebesar 1.046 g, 189,7 g dan 3.694 kkal/e/h. Menurut NRC (1981) bobot badan induk kambing 40 kg, dalam kondisi bunting tua, memerlukan konsumsi BK, PK dan Edd masing-masing sebanyak 1.260 g, 145 g dan 3.720 kkal/e/h. Dari angka-angka tersebut, maka pada induk dengan ransum R1, total konsumsi BK (15,1%) dan Edd (8,1%) lebih rendah, namun konsumsi PK (33,2%) lebih tinggi,
sedangkan pada induk ransum R2, konsumsi BK (17%) lebih rendah, Edd relatif sama, namun konsumsi PK (30,8%) lebih tinggi dari kebutuhan yang disarankan NRC (1981).
Tabel 3. Konsumsi bahan kering (BK), protein kasar (PK) dan gross energi (GE), serta perubahan bobot badan (PBB) dan konversi pakan (KP) periode bunting tua
Uraian Perlakuan ransum
R1 R2 Rataan Konsumsi ransum : - BK : - rumput (g/e/h) 364 353 - konsentrat (g/e/h) 705 693 Total BK (g/e/h) 1.069 1.046 1.057 Per kg BB (g/kg BB) 25,9 25,1 25,5 -PK (g/e/h) 193,1 189,7 191,4 Per kg BB (g/kg BB) 4,68 4,55 4,61 - GE (kkal/e/h) 4.883 5.277 5.080 (Edd) (kkal/e/h) 3.418 3.694 3.556 Per kg BB kkal/kg BB) 83 89 86
Perubahan bobot badan (PBB):
- BB awal (kg) 38,42 38,77
- BB akhir (kg) 44,02 44,54
- PBB (kg) 5,60 5,77 5,68
- PBB harian (PBBH) (g/e/h) 133,3a 137,4a 135,4
- KP (g BK/g PBBH) 8,02 7,61 7,81
Keterangan: PBBH: huruf kecil yang sama didalam baris (a) tidak berbeda nyata (P>0,05)
Telah disebutkan terdahulu, bahwa konsumsi BK dan PK antara induk perlakuan ransum R1 dengan R2 tidak jauh berbeda, sedangkan konsumsi Edd pada R2 (8,1%) lebih tinggi dari R1. Dari hasil penelitian ini maka penambahan Edd konsentrat dari 3.000 menjadi 3.500 kkal/kg BK, walaupun menurut analisa statistik tidak berpengaruh nyata terhadap PBBH, namun ada kecenderungan pada induk ransum R2 masih lebih tinggi, dan konversi pakan lebih efisien dibandingkan dengan R1 (Tabel 3). Selama induk periode bunting tua, dengan PBBH yang lebih tinggi, selain konversi pakannya lebih efisien, juga akan melahirkan anak dengan bobot lahir yang lebih besar (GATENBY, 1986; ENSMINGER dan PARKER, 1986).
Bila dihitung secara keseluruhan dari awal kebuntingan 7 (tujuh) minggu sampai akhir kebuntingan minggu ke 21, konsumsi BK dan PK antara perlakuan ransum R1 dengan R2 tidak berbeda masing-masing yaitu 966 vs 961g/e/h (25,8 vs 25,6 g/kg BB), dan 164,9 vs 165,3 g/e/h (4,41 vs 4,40 g/kg BB), sedangkan Edd pada R2 (9,2%) lebih tinggi dari R1 yaitu 2.929 (R1) vs 3.210 kkal/e/h (R2) (78,4 vs 85,6 kkal/kg BB). Dengan konsumsi Edd yang lebih tinggi ini, berdampak positif terhadap PBBH dimana pada induk dengan ransum R2 cenderung (5,9%) lebih tinggi (135,9 vs 143,9 g/e/h), dan konversi pakan (6,05%) lebih efisien dari R1 (7,11 vs 6,68). Dari angka-angka tersebut dapat di katakan bahwa penambahan Edd konsentrat dari 3.000 menjadi 3.500 kkal/kg BK, walaupun tidak berpengaruh pada konsumsi BK dan PK, namun cenderung meningkatkan pada konsumsi energi (Edd), dan pertambahan bobot badan harian (PBBH) lebih tinggi, serta konversi pakan lebih efisiensi
KESIMPULAN
Dari hasil dan pembahasan di atas pada kondisi penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian dua macam ransum yaitu R1(PK 18%, Edd 3.000 kkal/kg BK) dan R2 (PK 18%, Edd 3.500 kkal/kg BK), tidak menyebabkan perbedaan terhadap konsumsi bahan kering (BK) dan protein kasar (PK), namun dengan ransum R2 konsumsi energi dapat dicerna (Edd) pada induk bunting muda (11,1%), dan induk bunting tua (8,1%) lebih tinggi. Pertambahan bobot badan harian (PBBH) antara ransum R1 dengan R2 tidak berbeda nyata (P>0,05), akan tetapi PBBH dengan ransum R2 pada induk bunting muda (7,9%), dan bunting tua (3,1%) cenderung lebih tinggi, serta konversi pakan (6,4%) pada bunting muda dan (5,1%) pada bunting tua lebih efisien dibanding dengan ransum R1. Secara keseluruhan dari awal kebuntingan 7 (tujuh) sampai 21 minggu, dengan ransun R2 konsumsi Edd (9,2%) dan PBBH (5,9%) lebih tinggi, serta konversi pakan (6,05%) lebih efisien dibanding dengan ransum R1. Diharapkan dengan pertambahan bobot badan induk yang relatif lebih tinggi, akan berpengaruh lebih baik terhadap bobot lahir anak dan produksi susu sehingga induk mampu merawat anak dan hidup sampai disapih.
DAFTAR PUSTAKA
DEVENDRA, C AND M. BURNS. 1983. Goat production in the tropics. Commonwealth Agricultural Bureaux, London: 91-115
ENSMINGER , M.E and R.O.Parker. 1986. Sheep and goats Science. Fifth Ed. The Interstate. Printers & Publisher, Inc. Danville, Illinois: 370-402
GATENBY, R. M. 1986. Sheep production in the tropics and sub-tropics. Tropical Agriculture Series. Longman, London and New York.
GEDE PUTU, I. 1989. Tingkat makanan yang rendah pada akhir masa kebuntingan mempengaruhi sifat keindukan dan kenaikan angka kematian anak domba kelahiran kembar. Pros. Pertemuan Ilmiah Ruminansia Kecil. Jilid 2. Ruminansia Kecil. Puslitbangnak. Badan Litbangtan. Deptan, Bogor: 78-84. MATHIUS, I. W., B. HARYANTO, M. MARTAWIDJAJA., A. WILSON. dan. I. INOUNU. 1995. Studi tatalaksana
pemberian pakan dan kebutuhan pakan induk domba prolifik pada fase bunting. Kumpulan Hasil-hasil Penelitian APBN Tahun Anggaran 1994/1995. Ternak Ruminansia Kecil. Balitnak. Puslitbangnak. Badan Litbangtan. Deptan, Bogor: 155-162.
MCDONALD, P., R. A. EDWARD andJ.F.D. GREENHALGH. 1988. Animal nutrition. 4th Ed. Longman Scientific & Tehnical, New York: 321-370
NRC. 1981. Nutrient requirements of goats: Angora, dairy, and meat goats in temparate and tropical countries. Nutrient requirement of domestic animals. No. 15. National Academy Sci, Washington D.C.
SASTRY, N. S. R andC.K. THOMAS. 1979. Farm animal management. Vickas Publishing House. PVT. LTD, New Delhi Bangalor Calcuta Kanpur: 116-189.
STEEL, R. G. D and J. H.TORRIE. 1980. Principles and procedures of statistics. 2nd.Ed. McGraw-Hill Book Company, New York, St. Luis, San Francisco.
SUTAMA, K. 1989. Pengaruh tingkat pemberian pakan terhadap performans reproduksi domba ekor tipis. Pros. Pertemuan Ilmiah Ruminansia Kecil. Jilid 2. Ruminansia Kecil. Puslitbangnak. Badan Litbangtan. Deptan, Bogor: 54-62.
TILLMAN, A. D., T. HARTADI., S. REKSOHADIPRODJO., S. PRAWIROKUSUMO dan S. LEBDOSOEKOJO. 1983. Ilmu makanan ternak dasar. Gadjah Mada University Press. Fak. Peternakan UGM, Yogyakarta.
DISKUSI
P
Peerrttaannyyaaaann::
Apakah ada informasi tentang umur kambing yang digunakan
J
Jaawwaabbaann::