A. Perilaku Kekerasan
1. Definisi
Perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme (makhluk hidup) yang bersangkutan, disamping itu perilaku juga diartikan sebagai respons atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar) (Notoatmodjo, 2007). Bloom (dalam Notoatmodjo, 2007), perilaku manusia dibagi menjadi 3 domain, yaitu pengetahuan, sikap, dan praktik atau tindakan.
Tanda dan gejala yang ditemui pada pasien melalui observasi atau wawancara tentang perilaku kekerasan menurut Keliat (2009) adalah sebagai berikut: muka merah dan tegang, pandangan tajam, mengatupkan rahang dengan kuat, mengepalkan tangan, jalan mondar-mandir, bicara kasar, suara tinggi, menjerit atau berteriak, mengancam secara verbal atau fisik, melempar atau memukul benda/orang lain, merusak barang atau benda, tidak memiliki kemampuan mencegah/mengendalikan perilaku kekerasan. Akibat dari perilaku kekerasan yaitu orang dengan perilaku kekerasan dapat menyebabkan resiko tinggi mencederai diri, orang lain dan lingkungan. Resiko mencederai merupakan suatu tindakan yang kemungkinan dapat melukai/membahayakan diri, orang lain dan lingkungan.
pengrusakan yang berlabihan, menentang petugas medis, dan perilaku kekerasan secara seksual.
2. Rentang perilaku kekerasan
Perilaku atau respon kemarahan dapat berflutuatif dalam rentang adaptif sampai maladaptif. Rentang respon marah menurut Stuart (2006), dimana amuk (perilaku kekerasan) dan agresif berada pada rentang maladaptif, seperti pada gambar berikut:
Adaptif Maladaptif
Asertif Frustasi Pasif Agresif Amuk/PK Gambar 2. 1. Rentang Respon Kemarahan (Sumber : Stuart, 2006) Keterangan:
a. Asertif, merupakan ungkapan rasa tidak setuju atau kemarahan yang dinyatakan atau diungkapkan tanpa menyakiti orang lain sehingga akan memberikan kelegaan dan tidak menimbulkan masalah. Asertif merupakan bentuk perilaku untuk menyampaikan perasaan diri dengan kepastian dan memperhatikan komunikasi yang menunjukkan respek pada orang lain (Stuart & Laraia, 2005).
c. Pasif, merupakan kelanjutan dari frustasi, dalam keadaan ini individu tidak menemukan alternatif lain penyelesaian masalah, sehingga terlihat pasif dan tidak mampu mengungkapkan perasaannya.
d. Agresif, adalah perilaku yang menyertai marah dan merupakan dorongan untuk bertindak destruktif tapi masih terkontrol. Perilaku yang tampak berupa muka masam, bicara kasar, menuntut, dan kasar. e. Amuk (perilaku kekerasan), yaitu perasaan marah dan bermusuhan
yang kuat disertai kehilangan kontrol diri, sehingga individu dapat merusak diri sendiri, orang lain dan lingkungan.
3. Tingkat perilaku kekerasan
Tingkat perilaku kekerasan menurut Jeffrey dkk (2006):
a. Ringan, merupakan perilaku kekerasan yang diperlihatkan pasien dengan gangguan jiwa hanya sebatas intimidasi terhadap orang-orang disekitarnya. Pasien belum melakukan kekerasan verbal tetapi sudah menunjukkan kekerasan emosional. Bentuknya merupakan emosional verbal seperti mata melotot, melihat dengan tajam atau mengepalkan tangan.
c. Berat, merupakan perilaku kekerasan yang benar-benar dilakukan pasien dengan gangguan jiwa dalam intensitas yang berat. Biasanya akan mengakibatkan cedera serius pada orang yang diserang.
4. Etiologi Perilaku kekerasan
Etiologi kemarahan, ada dua yaitu teori neurobiologi dan teori psikososial (Videbeck, 2008), yaitu:
a. Teori neurobiologi
Peran neurotransmiter dalam studi tentang kemarahan telah dipelajari pada hewan dan manusia, tetapi tidak ada satu pun penyebab yang ditemukan. Hasil temuan menyatakan bahwa serotonin berperan sebagai inhibitor utama perilaku agresi (Videbeck, 2008).
b. Teori psikososial
Bayi dan toddler mengekspresikan diri dengan suara keras dan intens. Hal normal pada tahap pertumbuhan dan perkembangan tersebut.
Tempertantrum merupakan respons yang biasa terjadi pada toddler
yang keinginannya tidak terpenuhi (Videbeck, 2008).
B. Proses Terjadinya Perilaku Kekerasan
menantang. Kemarahan diawali oleh adanya stressor yang berasal dari internal atau eksternal. Stressor internal seperti penyakit, hormonal, dendam, kesal sedangkan stressor ekternal bisa berasal dari ledekan, cacian, makian, hilangnya benda berharga, tertipu, penggusuran, bencana dan sebagainya, hal tersebut akan mengakibatkan kehilangan atau gangguan pada sistem individu
(disruption and loss). Videbeck (2008) mengatakan pemaknaan dari individu
pada setiap kejadian yang menyedihkan atau menjengkelkan menjadi hal terpenting.
C. Pengkajian Pada Klien Dengan Perilaku Kekerasan
Pada dasarnya pengkajian pada klien dengan perilaku kemarahan ditujukan pada semua aspek, yaitu biopsikososial-kultural-spiritual (Stuart, 2006).
1. Aspek Biologi
2. Aspek emosional
Individu yang marah merasa tidak nyaman, merasa tidak berdaya, jengkel, frustasi, dendam, ingin berkelahi, ngamuk, bermusuhan, sakit hati, menyalahgunakan dan menuntut. Perilaku menarik perhatian dan timbulnya konflik pada diri sendiri perlu dikaji seperti melarikan diri, bolos dari sekolah, mecuri, menimbulkan kebakaran, dan penyimpangan seksual.
3. Aspek intelektual
Pengalaman kehidupan individu sebagain besar didapatkan melalui proses intelektual. Peran pancaindera sangat penting untuk beradaptasi pada lingkungan yang selanjutnya diolah dalam proses intelektual sebagai suatu pengalaman.
4. Aspek sosial
Meliputi interaksi sosial, budaya, konsep rasa percaya dan ketergantungan. Emosi marah sering merangsang kemarahan dari orang lain. Menimbulkan penolakan dari orang lain, sebagain klien menyalurkan kemarahn dengan nilai dan mengkritik tingkah laku orang lain, sehingga orang lain merasa sakit hati. Proses tersebut dapat mengasingkan individu sendiri menjauhkan dari orang lain.
5. Aspek spiritual
kemarahan yang dimanifestasikan dengan amoral dan rasa tidak berdosa. Individu yang percaya kepada Tuhan, selalu meminta kebutuhan dan bimbingan kepada-Nya.
D. Tindakan Keperawatan Terhadap Perilaku Kekerasan
Stuart (2006), menyatakan bahwa perawat dapat mengimplementasi-kan berbagai intervensi untuk mencegah dan manajemen perilaku kemarahan. Intervensi dapat melalui rentang intervensi keperawatan, seperti pada gambar berikut:
Adaptif Maladaptif
• Strategi preventif • Strategi antisipatif • Strategi pengurungan
Kesadaran diri Komunikasi Managemen krisis
Pendidikan klien Perubahan lingkungan Seclusion Latihan asertif Tindakan perilaku Restrain
Psikofarmakologi
Gambar 2.2 Rentang Tindakan Keperawatan Terhadap Perilaku Kekerasan (Sumber : Stuart, 2006)
a. Kesadaran diri
kesadaran dirinya dan melakukan supervisi dengan memisahkan antara masalah pribadi dan masalah klien.
b. Pendidikan kesehatan
Pendidikan kesehatan yang diberikan mengenai cara berkomunikasi dan cara mengekspresikan marah yang tepat. Banyak klien yang mengalami kesulitasn mengekspresikan perasaanya, kebutuhan, hasrat, dan bahkan kesulitan mengkomunikasikan semua ini kepada orang lain. Jadi dengan berkomunikasi diharapakan agar klien mau mengekspresikan perasaannya, lalu perawat menilai apakah respon yang diberikan klien adaptif atau maladaptif, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan terapi menggambar, sehingga klien dapat mengekpresikan perasaannya melalui gambar.
c. Latihan asertif
Kemampuan dasar interpersonal yang harus dimiliki perawat, meliputi: Berkomunikasi secara langsung dengan setiap orang, mengatakan “tidak” untuk sesuatu yang tidak beralasan, Sanggup melakukan komplain, mengekspresikan penghargaan dengan tepat.
d. Komunikasi
jangan buru-buru menginterprestasikan, jangan buat janji yang tidak dapat ditepati.
e. Perubahan lingkungan
Unit perawatan sebaiknya penyediakan berbagai aktivitas seperti: membaca, grup program yang dapat mengurangi perilaku klien yang tidak sesuai dan meningkatkan adaptasi sosial.
f. Tindakan perilaku
Pada dasarnya membuat kontrak dengan klien mengenai perilaku yang dapat diterima dan yang tidak dapat diterima, konsekuensi yang didapat bila kontrak dilanggar, dan apa saja kontribusi perawat selama perawatan. g. Psikofarmakologi
Pengobatan yang diberikan meliputi obat-obatan golongan anti ansietas dan hipnotik sedatif, antidepresi, stabilasi mood, antipsikotik dan obat-obatan golongan lainnya.
h. Managemen krisis
Bila pada waktu intervensi awal tidak berhasil, maka diperlukan intervensi yang lebih aktif dengan penanganan kedaruratan psikiatri dengan pimpinan tim krisis yang bertanggung jawab selama 24 jam.
i. Seclusion
j. Restrain
Merupakan terapi dengan menggunakan alat-alat mekanik atau manual untuk membatasi mobilitas fisik klien.
E. Faktor-faktor penyebab perilaku kekerasan
a. Faktor Predisposisi
Beberapa teori yang berkaitan dengan timbulnya perilaku kekerasan menurut (Keliat, 2002; Stuart, 2006; dan Yosep 2009) :
1) Faktor Biologis.
Ada beberapa penelitian membuktikan bahwa dorongan agresif mempunyai dasar biologis. Penelitian neurobiologi mendapatkan bahwa adanya pemberian stimulus elektris ringan pada hipotalamus (yang berada di tengah system limbik) binatang ternyata menimbulkan perilaku agresif. Perangsangan yang diberikan terutama pada nukleus perifornik hipotalamus dapat menyebabkan seekor kucing mengeluarkan cakarnya, mengangkat ekornya, mendesis, bulunya berdiri, menggeram, matanya terbuka lebar, pupil berdilatasi, dan hendak menerkan tikus atau objek yang ada di sekitarnya (Stuart, 2006).
Faktor-faktor yang mendukung, menurut Yosep (2009) : 1) Masa kanak - kanak yang tidak menyenangkan 2) Sering mengalami kegagalan
4) Lingkungan yang tidak kondusif (bising, padat). 5) Kecacatan fisik
6) Tumor otak 7) Trauma otak 8) Penyakit menahun 2) Faktor Psikologis
Psychoanalytical Theory; Teori ini mendukung bahwa
perilaku agresif merupakan akibat dari instinctual drives. Freud (1998) berpendapat bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh dua insting. Kesatu insting hidup yang diekspresikan dengan seksualitas; dan kedua, insting kematian yang diekspresikan dengan agresivitas (Yosep, 2009).
Frustation-agression theory; Teori yang dikembangkan oleh
kepuasan, ketidakberdayaan (Yosep, 2009).
Psikologis, kegagalan yang dialami dapat menimbulkan frustasi yang kemudian dapat timbul agresif atau amuk. Masa kanak – kanak yang tidak menyenangkan yaitu perasaan ditolak, dihina, dianiaya atau sanksi penganiayaan (Keliat, 2002)
3) Faktor Sosial Budaya
Social Learning Theory, teori yang dikembangkan oleh
2006). Budaya tertutup dan membahas secara diam (pasif agresif) dan kontrol sosial yang tidak pasti terhadap perilaku kekerasan akan menciptakan seolah-olah perilaku kekerasan diterima (Keliat, 2002). 4) Perilaku
Reinforcement yang diterima pada saat melakukan kekerasan,
sering mengobservasi kekerasan di rumah atau di luar rumah, semua aspek ini mestimulasi individu mengadopsi perilaku kerasan (Keliat, 2002)
5) Bioneurologis
Banyak pendapat bahwa kerusakan sistim limbik, lobus frontal, lobus temporal dan ketidak seimbangan neurotransmitter turut berperan dalam terjadinya perilaku kekerasan (Keliat, 2002).
b. Faktor Presipitasi
orang lain. Sedangkan contoh dari stresor internal : merasa gagal dalam bekerja, merasa kehilangan orang yang dicintai, dan ketakutan terhadap penyakit yang diderita.
Bila dilihat dari sudut perawat-klien, maka faktor yang mencetuskan terjadinya perilaku kekerasan, menurut Stuart 2006; dan Keliat 2002 terbagi dua, yakni :
a. Klien : kelemahan fisik, keputusasaan, ketidakberdayaan, kurang percaya diri.
b. Lingkungan: ribut, kehilangan orang atau objek yang berharga, konflik interaksi sosial.
F. Kerangka Teori Penelitian
Gambar 2.3 Kerangka teori modifikasi Keliat (2002); Stuart (2006) & Yosep (2009)
Faktor Predisposisi:
1. Faktor Biologis (Stuart, 2006; Yosep 2009)
2. Faktor Psikologis (Keliat, 2002; Yosep 2009) 3. Faktor Sosial budaya (Keliat, 2002; Stuart 2006) 4. Perilaku (Keliat, 2002)
5. Bioneurologis (Keliat, 2002)
Resiko perilaku kekerasan
Faktor Presipitasi:
1. Klien: kelemahan fisik, keputusasaan,
ketidakberdayaan, kurang percaya diri (Keliat, 2002; Stuart, 2006)
2. Lingkungan: ribut, kehilangan orang/objek yang berharga, konflik interaksi sosial
G. Kerangka Konsep Penelitian
Kerangka konsep dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Variabel Bebas Variabel Terikat
Gambar 2.4 Kerangka konsep penelitian.
H. Hipotesis penelitian
Hipotesis adalah jawaban atau dugaan sementara yang kebenarannya masih perlu diteliti lebih lanjut (Arikunto, 2002). Hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Ha : Ada hubungan antara faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya perilaku kekerasan pada pasien resiko perilaku kekerasan di ruang Bima dan Sadewa RSUD Banyumas.
Ho : Tidak ada hubungan antara faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya perilaku kekerasan pada pasien resiko perilaku kekerasan di ruang Bima dan Sadewa RSUD Banyumas.
1. Faktor Biologis
2. Faktor Psikologis 3. Faktor Sosial budaya