• Tidak ada hasil yang ditemukan

PT BATAVIA PROSPERINDO FINANCE Tbk

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PT BATAVIA PROSPERINDO FINANCE Tbk"

Copied!
67
0
0

Teks penuh

(1)

PT BATAVIA PROSPERINDO FINANCE Tbk

L A P O R A N K E U A N G A N

INTERIM PER 31 MARET 2011 (TIDAK DIAUDIT)

(2)

Pernyataan Direksi

Laporan Auditor Independen

Neraca

Laporan Laba Rugi

Laporan Perubahan Ekuitas

Laporan Arus Kas Catatan atas Laporan Keuangan

Ekshibit A B C D E

(3)

Catatan

2 0 1 0 2 0 1 1

A S E T

Kas dan setara kas 9.230.761.058 3c,d,5,30 12.118.912.290

Deposito berjangka yang

Dibatasi penggunaannya 680.693.089 3c,6c,30 -

Piutang sewa pembiayaan - bersih, setelah dikurangi penyisihan kerugian penurunan nilai masing - masing 2011: Rp 212.903.451 2010: Rp 148.263.590 3.382.883.260 3c,e,i,7,30 5.228.567.341 Piutang pembiayaan konsumen – bersih, setelah dikurangi penyisihan kerugian penurunan nilai masing-masing 2011: Rp 4.271.569.401 3c,f,i,q, 2010: Rp 4.279.433.172 203.465.602.521 8,30 259.679.302.156

Piutang lain-lain 3.107.121.676 3c,q,9,28a

,30 6.440.241.165

Beban dibayar di muka 4.911.267.055 3j,10 4.559.771.658

Aset pajak tangguhan 469.786.918 3n,14c 888.867.433

Aset tetap - bersih, setelah dikurangi akumulasi penyusutan masing- masing sebesar 2011: Rp 7.164.585.310 2010: Rp 5.089.788.280 5.928.352.435 3k,s,11 6.327.663.344 Aset lain-lain 4.373.134.943 3l,s,12 9.044.948.892 JUMLAH ASET 235.549.602.955 304.288.274.279

Lihat Catatan atas Laporan Keuangan pada Ekshibit E terlampir yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Laporan Keuangan secara keseluruhan

(4)

Catatan

2 0 1 0 2 0 1 1

KEWAJIBAN DAN EKUITAS

KEWAJIBAN

Pinjaman bank 95.593.496.300 3c,13,30 137.976.229.616

Hutang pajak 2.021.608.824 3n,14a 2.788.515.925

Penyisihan imbalan kerja 2.541.046.364 3o,27 3.765.394.432 Beban yang masih harus

dibayar 3.600.710.985 15 3.046.524.773 Jumlah Kewajiban 103.756.862.473 147.576.664.749 EKUITAS Modal saham - Nilai nominal Rp 100 per saham Modal dasar – 2.200.000.000 saham Ditempatkan dan disetor penuh - 1.000.000.000 saham 100.000.000.000 16 100.000.000.000

Tambahan modal disetor 2.651.244.367 17 2.651.244.367

Saldo laba Telah ditentukan penggunaannya - 19 100.000.000 Belum ditentukan penggunaannya 29.141.496.115 53.960.365.166 Jumlah Ekuitas 131.792.740.482 156.711.609.533

JUMLAH KEWAJIBAN DAN

EKUITAS 235.549.602.955 304.288.274.279

Lihat Catatan atas Laporan Keuangan pada Ekshibit E terlampir yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Laporan Keuangan secara keseluruhan

(5)

Catatan 2 0 1 0 2 0 1 1 PENDAPATAN 3m Pembiayaan konsumen 16.955.786.341 21 18.717.857.112 Administrasi 3.259.905.563 22 4.073.325.115 Sewa pembiayaan 130.604.878 21 275.658.231 Lain-lain 119.801.814 23 250.490.817 Jumlah Pendapatan 20.466.098.596 23.317.331.275 BEBAN 3m

Gaji dan tunjangan ( 5.748.930.847) 24 ( 6.588.518.731 )

Umum dan administrasi ( 2.842.194.161) 3q,25,28b ( 3.774.895.809 )

Beban keuangan ( 3.811.274.308) 26 ( 4.174.938.661 )

Kerugian penurunan nilai ( 622.080.327) 3i,7,8 ( 809.165.265 )

Jumlah Beban ( 13.024.479.643) ( 15.347.518.466 )

LABA SEBELUM PAJAK

PENGHASILAN 7.441.618.953 7.969.812.809

Pajak Penghasilan ( 1.521.603.517) 3n,14d ( 2.113.308.628 )

LABA BERSIH 5.920.015.437 5.856.504.181

LABA BERSIH PER SAHAM

DASAR 23.68 3p,20 23.43

Lihat Catatan atas Laporan Keuangan pada Ekshibit E terlampir yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Laporan Keuangan secara keseluruhan

(6)

Tambahan modal Saldo laba

disetor Telah Belum Jumlah

Modal saham ditentukan ditentukan ekuitas

Saldo pada tanggal

31 Desember 2009 100.000.000.000 2.651.244.367 - 23.221.480.678 125.872.725.045

Pengaruh penerapan awal

PSAK 50 (Revisi 2006)

dan 55 (Revisi 2006) 33 - - - 28.752.640 28.752.640

Saldo per 31 Desember 2009

setelah pengaruh penerapan awal PSAK 50 (Revisi 2006) dan 55 (Revisi 2006) 100.000.000.000 2.651.244.367 - 23.250.233.318 125.901.477.685 Dividen kas 18 ( 1.000.000.000) ( 1.000.000.000 Cadangan umum 19 - - 100.000.000 ( 100.000.000) -

Laba bersih tahun berjalan - - - 25.953.627.666 25.953.627.666

Saldo pada tanggal

31 Desember 2010 100.000.000.000 2.651.244.367 100.000.000 48.103.860.984 150.855.105.351

Laba bersih tahun berjalan - - - 5.856.504.181 5.856.504.181

Saldo pada tanggal

(7)

2 0 1 0 2 0 1 1 Arus kas dari aktivitas operasi

Penerimaan kas dari:

Transaksi pembiayaan 151.094.097.598 132.696.251.033

Pendapatan bunga (14.895.689) ( 19.456.417 )

Piutang lain-lain -

Pembayaran kas untuk:

Transaksi pembiayaan (123.706.636.554) (120.948.311.794) Beban operasional ( 11.642.250.270) ( 2.860.218.898) Beban bunga ( 5.352.401.022) ( 5.506.667.929) Pajak penghasilan ( 2.025.909.453) ( 1.628.900.201) Hutang pajak 1.387.157.449 ( 506.089.285) Piutang lain-lain ( 3.004.456.376) ( 6.220.938.839

Kas bersih digunakan untuk

aktivitas Operasi Operasi 6.734.705.683 ( 4.994.332.330)

Arus kas dari aktivitas investasi

Perolehan aset tetap - ( 856.155.256))

Penerimaan dari penjualan aset

tetap 108.000.000 243.500.000

Kas bersih digunakan untuk

aktivitas investasi 108.000.000 ( 612.655.256))

Arus kas dari aktivitas pendanaan

Penerimaan dari pinjaman bank 30.902.896.905 92.850.855.825

Pelunasan pinjaman bank ( (34.077.129.084) (83.249.184.070))

Penambahan modal - -

Pembayaran kas dividen - -

Kas bersih diperoleh dari

aktivitas Pendanaan ( 3.174.232.179 ) 9.601.671.755

Kenaikan bersih kas dan setara kas 3.668.473.504 3.994.684.169

Kas dan setara kas awal tahun 5.562.287.553 8.124.228.120

Kas dan setara kas akhir tahun 9.230.761.057 12.118.912.289 Lihat Catatan atas Laporan Keuangan pada Ekshibit E terlampir yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Laporan Keuangan secara keseluruhan

(8)

1. U M U M

a. Pendirian dan informasi umum Perusahaan

PT Batavia Prosperindo Finance Tbk (“Perusahaan”), dahulu dikenal sebagai PT Bira Multi Finance, didirikan berdasarkan Akta No. 186 tanggal 12 Desember 1994 dari Djedjem Widjaja, S.H., M.H., Notaris di Jakarta. Akta pendirian tersebut telah disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No. C2-18791.HT.01.01.TH.94 tanggal 22 Desember 1994 serta telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 12 tanggal 9 Februari 1996, Tambahan No. 1584. Berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa pada tanggal 20 Oktober 1999 yang diaktakan oleh Djedjem Widjaja, S.H., M.H., Notaris di Jakarta dengan Akta No. 42 tanggal 21 Desember 1999, pemegang saham Perusahaan menyetujui perubahan nama Perusahaan menjadi PT Bina Multi Finance. Perubahan tersebut telah memperoleh persetujuan dari Menteri Hukum dan Perundang-undangan Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No. C5143-HT.01.04.TH.2000 tanggal 6 Maret 2000. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa yang diadakan tanggal 16 Maret 2007 dan diaktakan oleh Sugito Tedjamulja, S.H., Notaris di Jakarta, dengan Akta No. 71, pemegang saham Perusahaan menyetujui perubahan nama Perusahaan menjadi PT Batavia Prosperindo Finance. Perubahan tersebut telah memperoleh persetujuan dari Menteri Hukum dan Perundang-undangan Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No. W7-03581.HT.01.04.TH.2007 tanggal 4 April 2007 serta telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 43 tanggal 29 Mei 2007. Anggaran dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir dengan Akta

No. 122 tanggal 18 Mei 2010 dari Dr. Irawan Soerodjo, S.H., MSi., Notaris di Jakarta, mengenai perubahan susunan komisaris dan komisaris independen Perusahaan. Perubahan tersebut telah dilaporkan kepada dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No. AHU-AH.01.10-16259 tanggal 30 Juni 2010. Kantor pusat Perusahaan terletak di Gedung Plaza Chase Lantai 12, Jl. Jenderal Sudirman Kav. 21, Jakarta. Pada tanggal 31 Maret 2011, Perusahaan memiliki 27 (dua puluh lima) jaringan usaha yang terdiri dari kantor cabang dan kantor perwakilan.

Sesuai dengan pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan Perusahaan adalah di bidang sewa pembiayaan, pembiayaan konsumen, anjak piutang, dan kartu kredit.

Perusahaan memperoleh izin usaha sebagai perusahaan pembiayaan dari Menteri Keuangan Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No. 90/KMK.017/1995 tanggal 15 Februari 1995 dan mulai beroperasi secara komersial sejak tahun 1995.

b . Penawaran umum saham Perusahaan

Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa yang diadakan pada tanggal 21 Oktober 2008 dan diaktakan oleh notaris Dr. Irawan Soerodjo, S.H., MSi., Notaris di Jakarta, dengan Akta No. 156, rapat dengan musyawarah untuk mufakat menyetujui dan memutuskan untuk merubah seluruh Anggaran Dasar Perusahaan, antara lain sehubungan dengan persetujuan atas perubahan nama Perusahaan menjadi PT Batavia Prosperindo Finance Tbk; dalam rangka Penawaran Umum Saham kepada Masyarakat melalui Pasar Modal, dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan peraturan yang berlaku di Pasar Modal. Perubahan Anggaran Dasar Perusahaan tersebut telah memperoleh persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No. AHU-78289.AH.01.02 Tahun 2008 tanggal 24 Oktober 2008 dan telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 33 tanggal 24 April 2009, Tambahan No. 11470.

(9)

1. U M U M (Lanjutan)

Perubahan terakhir atas Anggaran Dasar Perusahaan dilakukan berdasarkan Akta Notaris Dr. Irawan Soerodjo, S.H., MSi., No. 45 tertanggal 7 Agustus 2009, untuk menyesuaikan Anggaran Dasar Perusahaan dengan Peraturan Bapepam – LK No. IX.J.1 tanggal 14 Mei 2008 tentang Pokok-Pokok Anggaran Dasar Perseroan yang melakukan Penawaran Umum Efek bersifat Ekuitas dan Perusahaan Publik.

Perusahaan memperoleh pernyataan efektif dari PT Bursa Efek Indonesia berdasarkan suratnya No. Peng-P-00111/BEI.PSJ/P/05-2009 tanggal 25 Mei 2009 dan No. Peng-0002/BAI/ CAT/P/Jun-2009 tanggal 1 Juni CAT/P/Jun-2009 untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham kepada Masyarakat sejumlah 450.000.000 saham biasa dengan nilai nominal Rp 100 per saham dengan harga penawaran Rp 110 per saham.

c. Dewan Komisaris dan Direksi

Pada tanggal 31 Maret 2010 dan 31 Maret 2011, susunan Dewan Komisaris dan Direksi Perusahaan adalah sebagai berikut:

2 0 1 0 2 0 1 1

Komisaris Utama Irena Istary Iskandar Irena Istary Iskandar

Komisaris dan

Komisaris

Independen Rudi Setiadi Tjahjono Desti Liliati

Direktur Utama Buntardjo Hartadi

Sutanto Buntardjo Hartadi Sutanto Direktur Pemasaran Markus Dinarto

Pranoto Markus Dinarto Pranoto Direktur Keuangan Indah Mulyawan Indah Mulyawan

(Tidak Terafiliasi)

Ruang lingkup Direktur Utama mencakup bidang hukum dan sumber daya manusia, ruang lingkup Direktur Pemasaran mencakup bidang pemasaran dan operasional, dan ruang lingkup Direktur Keuangan (Tidak Terafiliasi) mencakup bidang keuangan dan akuntansi.

Susunan Komite Audit dan Manajemen Risiko Perusahaan pada tanggal 31 Maret 2010 dan 31 Maret 2011 adalah sebagai berikut:

2 0 1 0 2 0 1 1

Ketua Rudi Setiadi Tjahjono Desti Liliati

Anggota Emanuel Handoyo

Pranadjaja Emanuel Handoyo Pranadjaja

Anggota Jimmy Cakranegara Jimmy Cakranegara

Pada tanggal 31 Maret 2010 dan 31 Maret 2011, Perusahaan mempekerjakan masing-masing sebanyak 337 dan 429 karyawan (Tidak diaudit).

(10)

2. PERUBAHAN KEBIJAKAN AKUNTANSI DAN PENGUNGKAPAN

a. Standar akuntansi baru dan amandemen atas standar akuntansi yang diterapkan oleh Perusahaan

Pada periode berjalan, Perusahaan menerapkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (“PSAK”) revisi yang berlaku untuk laporan keuangan dimulai pada atau setelah 1 Januari 2010 sebagai berikut:

(i)PSAK No. 50 (Revisi 2006), “Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan”

Pada penerapan awal PSAK No. 50 (Revisi 2006), Perusahaan mengevaluasi prinsip-prinsip penyajian dan pengungkapan instrumen keuangan sebagai kewajiban atau ekuitas dan saling hapus aset keuangan dan kewajiban keuangan; klasifikasi instrumen keuangan dari perspektif penerbit ke aset keuangan, kewajiban keuangan, dan instrumen ekuitas; pengklasifikasian yang terkait dengan suku bunga, dividen, kerugian dan keuntungan; dan keadaan dimana aset keuangan dan kewajiban keuangan akan saling hapus.

(i)PSAK No. 55 (Revisi 2006), “Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran”

Perusahaan juga mengevaluasi penerapan PSAK 55 (Revisi 2006) termasuk Buletin Teknis No. 4 mengenai Ketentuan Transisi Penerapan Awal PSAK 50 dan 55 (Revisi 2006) mengenai penetapan prinsip-prinsip pengakuan dan pengukuran aset keuangan, kewajiban keuangan dan kontrak pembelian atau penjualan item-item non-keuangan; penetapan pedoman penghentian pengakuan aset keuangan dan kewajiban keuangan; pengukuran dan penentuan nilai wajar dan evaluasi penurunan nilai serta akuntansi lindung nilai.

Penerapan PSAK No. 50 (Revisi 2006) dan PSAK No. 55 (Revisi 2006) berdampak pada pengungkapan seperti dijelaskan dalam Catatan 3c, 4 dan 33 atas laporan keuangan.

b. Standar akuntansi baru, amandemen dan interpretasi atas standar akuntansi yang telah disahkan dan akan efektif berlaku untuk laporan keuangan yang dimulai pada atau setelah 1 Januari 2011

Berikut ini ikhtisar revisi Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) dan Interpretasi Standar Akuntansi Keuangan (ISAK) yang baru-baru ini disahkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia:

- PSAK No. 1 (Revisi 2009), “Penyajian Laporan Keuangan”, menetapkan dasar-dasar bagi

penyajian laporan keuangan bertujuan umum (general purpose financial statements) agar dapat dibandingkan baik dengan laporan keuangan periode sebelumnya maupun dengan laporan keuangan entitas lain.

- PSAK No. 2 (Revisi 2009), “Laporan Arus Kas”, memberikan pengaturan atas informasi

mengenai perubahan historis dalam kas dan setara kas melalui laporan arus kas yang mengklasifikasikan arus kas berdasarkan aktivitas operasi, investasi, maupun pendanaan (financing) selama suatu periode.

- PSAK No. 3 (Revisi 2010), “Laporan Keuangan Interim”, menetapkan isi minimum atas

laporan keuangan interim, serta prinsip-prinsip pengakuan dan pengukuran dalam laporan keuangan lengkap dan ringkas untuk periode interim.

(11)

2. PERUBAHAN KEBIJAKAN AKUNTANSI DAN PENGUNGKAPAN (Lanjutan)

- PSAK No. 4 (Revisi 2009), “Laporan Keuangan Konsolidasian dan Laporan Keuangan Tersendiri”, akan diterapkan dalam penyusunan dan penyajian laporan keuangan

konsolidasian untuk sekelompok entitas yang berada dalam pengendalian suatu entitas induk dan dalam akuntansi untuk investasi pada entitas anak, pengendalian bersama entitas, dan entitas asosiasi ketika laporan keuangan tersendiri disajikan sebagai informasi tambahan. - PSAK No. 5 (Revisi 2009), ”Segmen Operasi”, informasi segmen diungkapkan untuk

memungkinkanpengguna laporan keuangan untuk mengevaluasi sifat dan dampak keuangan dari aktivitas bisnis yang mana entitas terlibat dan lingkungan ekonomi dimana entitas beroperasi.

- PSAK No. 7 (Revisi 2010), “Pengungkapan Pihak-pihak yang berelasi”, bertujuan untuk

memastikan bahwa laporan keuangan entitas berisi pengungkapan yang diperlukan untuk dijadikan perhatian terhadap kemungkinan bahwa laporan posisi keuangan dan laporan laba rugi telah dipengaruhi oleh keberadaan pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa dan oleh transaksi dan saldo, termasuk komitmen dengan pihak-pihak tersebut.

- PSAK No. 8 (Revisi 2010), “Peristiwa Setelah Periode Pelaporan”, menentukan kapan entitas

menyesuaikan laporan keuangannya untuk peristiwa setelah periode pelaporan dan pengungkapan yang dibuat entitas tentang tanggal laporan keuangan diotorisasi untuk terbit dan peristiwa setelah periode pelaporan.

- PSAK No. 12 (Revisi 2009), ”Bagian Partisipasi dalam Ventura Bersama”, akan diterapkan

untuk akuntansi bagian partisipasi dalam ventura bersama dan pelaporan aset, kewajiban, penghasilan dan beban ventura bersama dalam laporan keuangan venturer dan investor, terlepas dari struktur atau bentuk yang mendasari dilakukannya aktivitas ventura bersama. - PSAK No. 15 (Revisi 2009), “Investasi Pada Entitas Asosiasi”, akan diterapkan untuk

akuntansi investasi dalam entitas asosiasi. Menggantikan PSAK 15 (1994) “Akuntansi untuk

Investasi Dalam Perusahaan Asosiasi” dan PSAK 40 (1997) “Akuntansi Perubahan Ekuitas Anak Perusahaan/Perusahaan Asosiasi”.

- PSAK No. 19 (Revisi 2010), “Aset Tak Berwujud”, menentukan perlakuan akuntansi bagi aset

tidak berwujud yang tidak diatur secara khusus pada standar lainnya.

PSAK No. 22 (Revisi 2010), “Kombinasi Bisnis”, bertujuan untuk meningkatkan relevansi,

keandalan, dan daya banding dari informasi yang disampaikan entitas pelapor dalam laporan keuangannya mengenai kombinasi bisnis dan dampaknya.

(12)

2. PERUBAHAN KEBIJAKAN AKUNTANSI DAN PENGUNGKAPAN (Lanjutan)

- PSAK No. 23 (Revisi 2010), “Pendapatan”, mengatur perlakuan akuntansi atas pendapatan

yang timbul dari transaksi dan kejadian tertentu.

- PSAK No. 25 (Revisi 2009), “Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi, dan Kesalahan”, menentukan kriteria untuk pemilihan dan perubahan kebijakan akuntansi,

bersama dengan perlakuan akuntansi dan pengungkapan atas perubahan kebijakan akuntansi, perubahan estimasi akuntansi, dan koreksi kesalahan.

- PSAK No. 48 (Revisi 2009), “Penurunan Nilai Aset”, menetapkan prosedur-prosedur yang

diterapkan agar aset dicatat tidak melebihi jumlah terpulihkan dan jika aset tersebut terjadi penurunan nilai, rugi penurunan nilai harus diakui.

- PSAK No. 57 (Revisi 2009), ”Provisi, Liabilitas Kontinjensi, dan Aset Kontinjensi”, bertujuan

untuk mengatur pengakuan dan pengukuran provisi, kewajiban kontinjensi dan aset kontinjensi serta untuk memastikan informasi memadai telah diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan untuk memungkinkan para pengguna memahami sifat, waktu, dan jumlah yang terkait dengan informasi tersebut.

- PSAK No. 58 (Revisi 2009), “Aset Tidak Lancar yang Dimiliki untuk Dijual dan Operasi yang Dihentikan”, bertujuan untuk mengatur akuntansi untuk aset yang dimiliki untuk dijual, serta

penyajian dan pengungkapan operasi yang dihentikan.

- ISAK No. 7 (Revisi 2009), “Konsolidasi Entitas Bertujuan Khusus (EBK)”, menentukan

pengkonsolidasian EBK jika substansi hubungan antara suatu entitas dan EBK mengindikasikan adanya pengendalian EBK oleh entitas tersebut.

- ISAK No. 9, “Perubahan atas Liabilitas Purna Operasi, Restorasi, dan Liabilitas Serupa”,

diterapkan terhadap setiap perubahan pengukuran atas aktivitas purna-operasi, restorasi atau liabilitas yang serupa yaitu diakui sebagai bagian dari biaya perolehan aset tetap sesuai PSAK 16 dan sebagai liabilitas sesuai PSAK 57.

- ISAK No. 10, “Program Loyalitas Pelanggan”, berlaku untuk penghargaan kredit loyalitas

pelanggan yang diberikan kepada pelanggan sebagai bagian dari transaksi penjualan, dan tergantung pemenuhan atas setiap kondisi lebih lanjut yang dipersyaratkan, pelanggan dapat menukar barang atau jasa secara gratis atau dengan potongan harga di masa yang akan datang.

- ISAK No. 11, “Distribusi Aset Non-kas kepada Pemilik”, diterapkan untuk distribusi searah

(non-reciprocal) aset oleh entitas kepada pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik, seperti distribusi aset non-kas dan distribusi yang memberikan pilihan kepada pemilik untuk menerima aset nonkas atau alternatif kas.

- ISAK No. 12, “Pengendalian Bersama Entitas (PBE): Kontribusi Non-moneter oleh Venturer”,

berkaitan dengan akuntansi venture untuk kontribusi non-moneter ke PBE dalam pertukaran dengan bagian partisipasi ekuitas PBE yang dicatat baik dengan metode ekuitas atau konsolidasi proposional.

(13)

2. PERUBAHAN KEBIJAKAN AKUNTANSI DAN PENGUNGKAPAN (Lanjutan)

- ISAK No. 14, “Aset Tidak Berwujud - Biaya Situs Web”, berkaitan dengan pengakuan biaya

untuk pengembangan situs web site entitas sebagai aset tidak berwujud. Secara umum biaya untuk pengembangan situs web tidak dapat diakui sebagai aset tidak berwujud. Biaya untuk pengembangan web site dapat diakui sebagai aset tidak berwujud apabila memenuhi persyaratan pengakuan pengembangan yang disyaratkan PSAK No. 19 (Revisi 2009), “Aset Tak Berwujud”, terutama mengenai kemampuan web site menghasilkan manfaat ekonomi di masa depan, contoh web site mampu menghasilkan pendapatan. - ISAK No. 17, “Laporan Keuangan Interim dan Penurunan Nilai”, membahas interaksi antara

persyaratan dalam PSAK No. 3 (Revisi 2010), “Laporan Keuangan Interim”, dengan pengakuan rugi penurunan nilai atas goodwill dalam PSAK No. 48 (Revisi 2010), “Penurunan Nilai Aset”, dan beberapa aset keuangan tertentu dalam PSAK No. 55 (Revisi 2006), “Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran”, serta dampak interaksi tersebut atas laporan keuangan interim dan laporan keuangan tahunan selanjutnya.

c. Standar akuntansi baru, amandemen dan interpretasi atas standar akuntansi yang telah disahkan dan akan efektif berlaku untuk laporan keuangan yang dimulai pada atau setelah 1 Januari 2012

- PSAK No. 10 (Revisi 2010), “Pengaruh Perubahan Nilai Tukar Valuta Asing”, menjelaskan

bagaimana memasukkan transaksi-transaksi dalam mata uang asing dan kegiatan usaha luar negeri ke dalam laporan keuangan suatu entitas dan menjabarkan laporan keuangan ke dalam suatu mata uang pelaporan.

- PSAK No. 18 (Revisi 2010), “Akuntansi dan Pelaporan Program Manfaat Purnakarya”,

mengatur akuntansi dan pelaporan program manfaat purnakarya untuk semua peserta sebagai suatu kelompok. Pernyataan ini tidak mengatur pelaporan peserta secara individual tentang hak manfaat purnakaryanya.

- PSAK No. 34 (Revised 2010), “Kontrak Konstruksi”, menggambarkan perlakuan akuntansi

pendapatan dan biaya yang berhubungan dengan kontrak konstruksi.

- PSAK No. 46 (Revised 2010), “Pajak Penghasilan”, mengatur perlakuan akuntansi untuk pajak

penghasilan yang tidak diatur dalam standar terdahulu.

- PSAK No. 50 (Revisi 2010), “Instrumen Keuangan: Penyajian”, menetapkan prinsip

penyajian instrumen keuangan sebagai liabilitas atau ekuitas dan saling hapus aset keuangan dan liabilitas keuangan.

- PSAK No. 53 (Revisi 2010), “Pembayaran berbasis saham”, mengatur pelaporan keuangan

entitas yang melakukan transaksi pembayaran berbasis saham. Secara khusus, Pernyataan ini mempersyaratkan entitas untuk menyajikan dalam laporan laba rugi dan laporan posisi keuangan dampak transaksi pembayaran berbasis saham, termasuk biaya yang berhubungan dengan transaksi pemberian opsi saham kepada karyawan.

(14)

2. PERUBAHAN KEBIJAKAN AKUNTANSI DAN PENGUNGKAPAN (Lanjutan)

- PSAK No. 60, “Instrumen Keuangan: Pengungkapan”, mensyaratkan entitas untuk

menyediakan pengungkapan dalam laporan keuangan yang memungkinkan para pengguna untuk mengevaluasi signifikansi instrumen keuangan atas posisi dan kinerja keuangan entitas dan jenis dan besarnya risiko yang timbul dari instrument keuangan yang mana entitas terekspos selama periode dan pada akhir periode pelaporan, dan bagaimana entitas mengelola risiko-risiko tersebut.

- PSAK No. 61, “Akuntansi Hibah Pemerintah dan Pengungkapan Bantuan Pemerintah”,

diterapkan untuk akuntansi, dan pengungkapan, atas hibah pemerintah dan pengungkapan atas bentuk lain bantuan pemerintah.

- ISAK 13, “Lindung Nilai Investasi Neto dalam Kegiatan Usaha Luar Negeri”, diterapkan

terhadap entitas yang melakukan lindung nilai atas risiko mata uang asing yang timbul dari investasi netonya di dalam kegiatan usaha luar negeri dan berharap dapat memenuhi persyaratan akuntansi lindung nilai sesuai PSAK No. 55 (Revisi 2006). Mengacu pada entitas induk dan laporan keuangan dimana aset neto dari kegiatan usaha luar negeri dimasukkan sebagai laporan keuangan konsolidasian.

- ISAK No. 15, “Batas Aset Imbalan Pasti, Persyaratan Pendanaan Minimum dan Interaksinya”, berlaku untuk semua program imbalan pasti pasca-kerja dan imbalan pasti

kerja jangka panjang lainnya.

- ISAK No. 18, “Bantuan Pemerintah – Tidak Ada Relasi Spesifik dengan Aktivitas Operasi”,

membahas bantuan pemerintah kepada entitas yang mungkin ditujukan untuk mendorong atau memberikan dukungan jangka panjang atas kegiatan usaha baik pada daerah atau sektor industri tertentu yang tidak secara khusus terkait dengan aktivitas operasi entitas.

- ISAK No. 20, “Pajak Penghasilan – Perubahan dalam Status Pajak Entitas atau para Pemegang Saham”, membahas permasalahan mengenai konsekuensi pajak kini dan pajak

tangguhan karena terjadinya perbedaan status pajak entitas atau pemegang sahamnya akan dibebankan sesuai dengan posnya, jika berkaitan dengan Laporan Laba Rugi masuk dalam Laporan Laba Rugi, jika berkaitan dengan other comprehensive income (OCI) masuk dalam OCI atau langsung dibebankan ke ekuitas.

Perusahaan sedang mengevaluasi dampak dari Standar dan Interprestasi yang baru dan direvisi tersebut dan belum menentukan dampaknya terhadap laporan keuangannya.

3. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI YANG SIGNIFIKAN

Kebijakan akuntansi yang signifikan, yang diterapkan secara konsisten dalam penyusunan laporan keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2010 dan 2009 adalah sebagai berikut:

(15)

3. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI YANG SIGNIFIKAN (lanjutan) a. Dasar Penyusunan Laporan Keuangan

Laporan keuangan disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia dan Peraturan No VIII.G.7 tentang “Pedoman Penyajian dan Pengungkapan Laporan Keuangan” yang terdapat dalam Lampiran Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) No. KEP-06/PM/2000 pada tanggal 13 Maret 2000 yang dirubah berdasarkan Lampiran Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) No. KEP-554/BL/2010 pada tanggal 30 Desember 2010. Laporan keuangan disusun berdasarkan konsep nilai historis dan atas dasar akrual, kecuali dinyatakan secara khusus.Laporan arus kas disusun dengan menggunakan metode langsung, dengan mengelompokkan arus kas ke dalam kegiatan operasi, investasi dan pendanaan. Seluruh angka dalam laporan keuangan ini disajikan dalam Rupiah, kecuali dinyatakan secara khusus. b. Penjabaran Mata Uang Asing

Pembukuan Perusahaan diselenggarakan dalam mata uang Rupiah Indonesia. Transaksi dalam mata uang asing dibukukan dengan menggunakan kurs pada saat terjadinya transaksi. Laba atau rugi kurs yang timbul akibat penjabaran pos aset dan kewajiban moneter dalam mata uang asing dikreditkan atau dibebankan pada laporan laba rugi tahun berjalan.

c. Aset dan kewajiban Keuangan

Aset keuangan Perusahaan terdiri dari kas dan setara kas, deposito berjangka yang dibatasi penggunaannya, piutang sewa pembiayaan, piutang pembiayaan konsumen dan piutang lain-lain. Kewajiban keuangan Perusahaan terdiri dari pinjaman bank.Perusahaan telah

menerapkan PSAK No. 50 (Revisi 2006) “Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan” dan PSAK No. 55 (Revisi 2006) “Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran” efektif tanggal 1 Januari 2010.

Dampak penerapan awal PSAK No. 50 (Revisi 2006) dan PSAK No. 55 (Revisi 2006) dijelaskan pada Catatan 33 atas laporan keuangan.

c.1. Klasifikasi

Sejak tanggal 1 Januari 2010, pada saat pengakuan awal, Perusahaan mengelompokkan seluruh aset keuangannya sebagai pinjaman yang diberikan dan piutang. Pinjaman yang diberikan dan piutang adalah aset keuangan non-derivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak mempunyai kuotasi di pasar aktif. Seluruh kewajiban keuangan Perusahaan dikelompokkan sebagai kewajiban keuangan yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi.

c.2. Pengakuan

Perusahaan pada awalnya mengakui aset keuangan dan kewajiban keuangan pada tanggal perolehan.

Pada saat pengakuan awal, aset keuangan atau kewajiban keuangan Perusahaan diukur pada nilai wajar ditambah biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung atas perolehan aset keuangan atau penerbitan kewajiban keuangan. Pengukuran aset keuangan dan kewajiban keuangan setelah pengakuan awal tergantung pada klasifikasinya. Biaya transaksi hanya meliputi biaya-biaya dan pendapatan yang dapat diatribusikan secara langsung untuk perolehan suatu aset keuangan atau penerbitan suatu kewajiban keuangan dan merupakan biaya dan pendapatan tambahan yang tidak akan terjadi apabila instrumen keuangan tersebut tidak diperoleh atau diterbitkan.

(16)

3. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI YANG SIGNIFIKAN (lanjutan)

Untuk aset keuangan, biaya transaksi ditambahkan pada jumlah yang diakui pada awal pengakuan aset, sedangkan untuk kewajiban keuangan, biaya transaksi dikurangkan dari jumlah hutang yang diakui pada awal pengakuan kewajiban (sebelum tanggal 1 Januari 2010, biaya transaksi dicatat pada akun beban tangguhan dan bukan merupakan bagian dari piutang pembiayaan konsumen dan piutang sewa pembiayaan). Biaya transaksi tersebut diamortisasi selama umur instrumen berdasarkan metode suku bunga efektif dan dicatat sebagai bagian dari pendapatan pembiayaan konsumen dan pendapatan sewa pembiayaan untuk biaya transaksi sehubungan dengan aset keuangan dan sebagai bagian dari beban bunga untuk biaya transaksi sehubungan dengan kewajiban keuangan (sebelum tanggal 1 Januari 2010, amortisasi biaya transaksi dicatat sebagai pengurang dari pendapatan pembiayaan konsumen dan pendapatan sewa pembiayaan, tergantung skema biaya transaksi). Setelah pengakuan awal, pinjaman yang diberikan dan piutang dicatat pada biaya perolehan diamortisasi (lihat Catatan 3c.5) dengan menggunakan metode suku bunga efektif.

c.3. Penghentian Pengakuan

Perusahaan menghentikan pengakuan aset keuangan pada saat hak kontraktual atas arus kas yang berasal dari aset keuangan tersebut kadaluwarsa, atau Perusahaan mentransfer seluruh hak untuk menerima arus kas kontraktual dari aset keuangan dalam transaksi dimana Perusahaan secara substansial telah mentransfer seluruh risiko dan manfaat atas kepemilikan aset keuangan yang ditransfer. Setiap hak atau kewajiban atas aset keuangan yang ditransfer yang timbul atau yang masih dimiliki oleh Perusahaan diakui sebagai aset atau kewajiban secara terpisah.

Perusahaan menghentikan pengakuan kewajiban keuangan pada saat kewajiban yang ditetapkan dalam kontrak dilepaskan atau dibatalkan atau kadaluwarsa.

Dalam transaksi dimana Perusahaan secara substansial tidak memiliki atau tidak mentransfer seluruh risiko dan manfaat atas kepemilikan aset keuangan, Perusahaan menghentikan pengakuan aset tersebut jika Perusahaan tidak lagi memiliki pengendalian atas aset tersebut. Hak dan kewajiban yang timbul atau yang masih dimiliki dalam transfer tersebut diakui secara terpisah sebagai aset atau kewajiban. Dalam transfer dimana pengendalian atas aset masih dimiliki, Perusahaan tetap mengakui aset yang ditransfer tersebut sebesar keterlibatan berkelanjutan, yang ditentukan oleh besarnya perubahan nilai aset yang ditransfer.

Perusahaan menghapusbukukan saldo piutang pembiayaan konsumen pada saat Perusahaan menentukan bahwa aset tersebut tidak dapat ditagih lagi. Penerimaan atau pemulihan kembali atas aset keuangan yang telah dihapusbukukan diakui sebagai pendapatan lain-lain.

c.4.Saling Hapus

Aset keuangan dan kewajiban keuangan saling hapus dan nilai bersihnya disajikan dalam neraca jika, dan hanya jika, Perusahaan memiliki hak yang berkekuatan hukum untuk melakukan saling hapus atas jumlah yang telah diakui t ersebut dan berniat untuk menyelesaikan secara neto atau untuk merealisasikan asset dan menyelesaikan kewajibannya secara simultan.

(17)

3. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI YANG SIGNIFIKAN (lanjutan)

Aset keuangan dan kewajiban keuangan saling hapus dan nilai bersihnya disajikan dalam neraca jika, dan hanya jika, Perusahaan memiliki hak yang berkekuatan hukum untuk melakukan saling hapus atas jumlah yang telah diakui tersebut dan berniat untuk menyelesaikan secara neto atau untuk merealisasikan aset dan menyelesaikan kewajibannya secara simultan.

Pendapatan dan beban disajikan dalam jumlah bersih hanya jika diperkenankan oleh standar akuntansi.

c.5. Pengukuran Biaya Perolehan Diamortisasi

Biaya perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau kewajiban keuangan adalah jumlah aset atau kewajiban keuangan yang diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran pokok, ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif dengan menggunakan metode suku bunga efektif yang dihitung dari selisih antara nilai awal dan nilai jatuh temponya, dan penyisihan kerugian penurunan nilai untuk aset keuangan. C.6. Pengukuran Nilai Wajar

Nilai wajar adalah nilai dimana suatu aset dapat dipertukarkan, atau suatu kewajiban diselesaikan antara pihak yang memahami dan berkeinginan untuk melakukan transaksi wajar (arm's length transaction) pada tanggal pengukuran.

Jika tersedia, Perusahaan mengukur nilai wajar instrumen keuangan dengan menggunakan harga kuotasi di pasar aktif untuk instrumen tersebut. Suatu pasar dianggap aktif jika harga kuotasi sewaktu-waktu dan secara berkala tersedia dan mencerminkan transaksi pasar yang aktual dan rutin dalam suatu transaksi yang wajar.

Jika pasar untuk suatu instrumen keuangan tidak aktif, Perusahaan menentukan nilai wajar dengan menggunakan teknik penilaian.

Teknik penilaian mencakup penggunaan transaksi pasar terkini yang dilakukan secara wajar oleh pihak-pihak yang memahami, berkeinginan, dan jika tersedia, referensi atas nilai wajar terkini dari instrumen lain yang secara substansial sama, penggunaan analisa arus kas yang didiskonto dan penggunaan model penetapan harga opsi (option pricing

model).

Teknik penilaian yang dipilih memaksimalkan penggunaan input pasar, dan meminimalkan penggunaan taksiran yang bersifat spesifik dari Perusahaan, memasukkan semua faktor yang akan dipertimbangkan oleh para pelaku pasar dalam menetapkan suatu harga dan konsisten dengan metodologi ekonomi yang diterima dalam penetapan harga instrumen keuangan.

(18)

3. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI YANG SIGNIFIKAN (Lanjutan)

c.6.Pengukuran Nilai Wajar (Lanjutan)

Input yang digunakan dalam teknik penilaian secara memadai mencerminkan ekspektasi pasar dan ukuran atas faktor risiko dan pengembalian (risk-return) yang melekat pada instrumen keuangan. Perusahaan mengkalibrasi teknik penilaian dan menguji validitasnya dengan menggunakan harga-harga dari transaksi pasar terkini yang dapat diobservasi untuk instrumen yang sama atau atas dasar data pasar lainnya yang tersedia yang dapat diobservasi. Bukti terbaik atas nilai wajar instrumen keuangan pada saat pengakuan awal adalah harga transaksi, yaitu nilai wajar dari pembayaran yang diberikan atau diterima, kecuali jika nilai wajar dari instrumen keuangan tersebut ditentukan dengan perbandingan dengan transaksi pasar terkini yang dapat diobservasi dari suatu instrumen yang sama (yaitu tanpa modifikasi atau pengemasan ulang), atau berdasarkan suatu teknik penilaian yang variabelnya hanya menggunakan data dari pasar yang dapat diobservasi.

Jika harga transaksi memberikan bukti terbaik atas nilai wajar pada saat pengakuan awal, maka instrumen keuangan pada awalnya diukur pada harga transaksi dan selisih antara harga transaksi dan nilai yang sebelumnya diperoleh dari model penilaian diakui dalam laporan laba rugi setelah pengakuan awal tergantung pada masing-masing fakta dan keadaaan dari transaksi tersebut namun tidak lebih lambat dari saat penilaian tersebut didukung sepenuhnya oleh data pasar yang dapat diobservasi atau saat transaksi ditutup. Nilai wajar mencerminkan risiko kredit atas instrumen keuangan dan termasuk penyesuaian yang dilakukan untuk memasukkan risiko kredit Perusahaan dan pihak lawan, mana yang lebih sesuai. Taksiran nilai wajar yang diperoleh dari model penilaian akan disesuaikan untuk mempertimbangkan faktor-faktor lainnya, seperti risiko likuiditas atau ketidakpastian model penilaian, sepanjang Perusahaan yakin bahwa keterlibatan suatu pasar pihak ketiga akan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut dalam penetapan harga suatu transaksi.

d. Kas dan Setara Kas

Kas dan setara kas terdiri dari uang kas, uang yang ditempatkan di bank serta deposito berjangka yang akan jatuh tempo dalam waktu tiga bulan atau kurang dari tanggal penempatannya dan tidak digunakan sebagai jaminan atas pinjaman serta tidak dibatasi penggunaannya. Deposito berjangka yang dibatasi penggunaannya atas pinjaman atau digunakan sebagai jaminan dikeluarkan dari akun kas dan setara kas dan disajikan terpisah. e. Akuntansi Sewa Pembiayaan

Berdasarkan PSAK No. 30 (Revisi 2007), penentuan apakah suatu perjanjian merupakan perjanjian sewa atau perjanjian yang mengandung sewa didasarkan atas substansi perjanjian pada tanggal awal sewa dan apakah pemenuhan perjanjian tergantung pada penggunaan suatu aset dan perjanjian tersebut memberikan suatu hak untuk menggunakan aset tersebut. Menurut PSAK revisi ini, sewa yang mengalihkan secara substansial seluruh risiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan aset, diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan. Selanjutnya, suatu sewa diklasifikasikan sebagai sewa operasi, jika sewa tidak mengalihkan secara substansial seluruh risiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan aset.

(19)

3. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI YANG SIGNIFIKAN (Lanjutan)

e. Akuntansi Sewa Pembiayaan (lanjutan)

Berdasarkan PSAK No. 30 (Revisi 2007), penentuan apakah suatu perjanjian merupakan perjanjian sewa atau perjanjian yang mengandung sewa didasarkan atas substansi perjanjian pada tanggal awal sewa dan apakah pemenuhan perjanjian tergantung pada penggunaan suatu aset dan perjanjian tersebut memberikan suatu hak untuk menggunakan aset tersebut. Menurut PSAK revisi ini, sewa yang mengalihkan secara substansial seluruh risiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan aset, diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan.

Selanjutnya, suatu sewa diklasifikasikan sebagai sewa operasi, jika sewa tidak mengalihkan secara substansial seluruh risiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan aset.

f. Piutang Pembiayaan Konsumen

Piutang pembiayaan konsumen merupakan jumlah piutang setelah dikurangi dengan bagian pembiayaan bersama, pendapatan pembiayaan konsumen yang belum diakui dan penyisihan kerugian piutang.

Pendapatan pembiayaan konsumen yang belum diakui merupakan selisih antara jumlah keseluruhan pembayaran angsuran yang akan diterima dari konsumen dan jumlah pokok pembiayaan, yang diakui sebagai pendapatan sepanjang jangka waktu kontrak berdasarkan suatu tarif pengembalian konstan.

Sejak tanggal 1 Januari 2010, piutang pembiayaan konsumen diklasifikasikan sebagai pinjaman yang diberikan dan piutang, yang setelah pengakuan awal, dicatat pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif (lihat Catatan 3c.5).

Penyelesaian kontrak sebelum masa pembiayaan konsumen berakhir diperlakukan sebagai pembatalan kontrak pembiayaan konsumen dan keuntungan atau kerugian yang timbul diakui dalam periode berjalan.

g. Pembiayaan Bersama

Dalam pembiayaan bersama, Perusahaan berhak menentukan tingkat bunga yang lebih tinggi kepada konsumen dibandingkan tingkat bunga yang ditetapkan dalam perjanjian pembiayaan bersama dengan penyedia fasilitas pembiayaan bersama.

Untuk pembiayaan bersama dengan recourse, seluruh jumlah angsuran dari pelanggan dicatat sebagai piutang pembiayaan konsumen, sedangkan kredit yang diberikan oleh penyedia dana dicatat sebagai pinjaman yang diterima (pendekatan bruto).

Bunga yang dikenakan kepada pelanggan dicatat sebagai pendapatan pembiayaan konsumen dan bunga yang dikenakan oleh penyedia dana dicatat sebagai beban bunga di laporan laba rugi.

(20)

3. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI YANG SIGNIFIKAN (Lanjutan)

g. Pembiayaan Bersama (lanjutan)

Untuk pembiayaan bersama tanpa recourse, hanya porsi jumlah angsuran piutang yang dibiayai Perusahaan yang dicatat sebagai piutang pembiayaan konsumen di neraca (pendekatan neto). Pendapatan pembiayaan konsumen disajikan di laporan laba rugi setelah dikurangi dengan bagian yang merupakan hak pihak-pihak lain yang berpartisipasi pada transaksi pembiayaan bersama tersebut.

h. Anjak Piutang

Anjak piutang tanpa recourse diperlakukan sebagai penjualan piutang. Selisih antara nilai piutang alihan dengan jurnlah dana yang diterima ditambah retensi diakui sebagai kerugian atas transaksi anjak piutang.

Kerugian atas transaksi anjak piutang tanpa recourse diakui sebagai beban pada saat transaksi dan disajikan dalam laporan laba rugi sebagai beban usaha.

Anjak piutang dengan recourse diakui sebagai kewajiban anjak piutang sebesar nilai piutang yang dialihkan. Selisih antara nilai piutang yang dialihkan dengan dana yang diterima ditambah retensi diakui sebagai beban bunga selama periode anjak piutang.

Kewajiban anjak piutang disajikan dalam neraca sebesar nilai piutang yang dialihkan dikurangi retensi dan beban bunga yang belum diamortisasi.

i. Identifikasi dan Pengukuran Penurunan Nilai

Sebelum tanggal 1 Januari 2010, Perusahaan menetapkan penyisihan kerugian penurunan nilai piutang pembiayaan konsumen dan piutang sewa pembiayaan berdasarkan penelaahan secara keseluruhan terhadap keadaan akun piutang pada akhir periode, dengan mempertimbangkan umur piutang pembiayaan konsumen.

Sejak tanggal 1 Januari 2010, pada setiap tanggal neraca, Perusahaan mengevaluasi apakah terdapat bukti obyektif telah terjadinya penurunan nilai atas aset keuangan Perusahaan. Aset keuangan mengalami penurunan nilai jika bukti obyektif menunjukkan bahwa peristiwa yang merugikan telah terjadi setelah pengakuan awal aset keuangan, dan peristiwa tersebut berdampak pada arus kas masa datang atas aset keuangan yang dapat diestimasi secara handal.Bukti obyektif bahwa aset keuangan mengalami penurunan nilai meliputi wanprestasi atau tunggakan pembayaran oleh debitur, restrukturisasi piutang oleh Perusahaan dengan persyaratan yang tidak mungkin diberikan jika debitur tidak mengalami kesulitan keuangan, indikasi bahwa debitur akan dinyatakan pailit, atau data yang dapat diobservasi lainnya yang terkait dengan kelompok aset keuangan seperti memburuknya status pembayaran debitur dalam kelompok tersebut, atau kondisi ekonomi yang berkorelasi dengan wanprestasi atas aset dalam kelompok tersebut.

(21)

3. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI YANG SIGNIFIKAN (Lanjutan)

i. Identifikasi dan Pengukuran Penurunan Nilai (Lanjutan)

Perusahaan menentukan bukti penurunan nilai atas piutang pembiayaan konsumennya secara kolektif karena manajemen yakin bahwa piutang pembiayaan konsumen ini memiliki karakteristik kredit yang sejenis.

Dalam mengevaluasi penurunan nilai secara kolektif, Perusahaan menggunakan model statistik dari tren historis atas probabilitas wanprestasi, waktu pemulihan kembali dan jumlah kerugian yang terjadi, yang disesuaikan dengan pertimbangan manajemen mengenai apakah kondisi ekonomi dan kredit terkini sedemikian rupa sehingga dapat mengakibatkan kerugian aktual yang jumlahnya akan lebih besar atau lebih kecil daripada jumlah yang ditentukan oleh model historis. Tingkat wanprestasi, tingkat kerugian dan waktu yang diharapkan untuk pemulihan di masa datang akan diperbandingkan secara berkala terhadap hasil aktual untuk memastikan estimasi tersebut masih memadai. Ketika peristiwa yang terjadi setelah penurunan nilai diakui menyebabkan kerugian penurunan nilai berkurang, kerugian penurunan nilai yang sebelumnya diakui harus dipulihkan dan pemulihan tersebut diakui pada laporan laba rugi.

piutang pembiayaan konsumen akan dihapusbukukan setelah menunggak lebih dari 210 hari. Penerimaan dari piutang yang telah dihapusbukukan diakui sebagai pendapatan lain-lain pada saat diterima.

j. Beban Dibayar di Muka

Beban dibayar di muka dibebankan selama masa manfaat dengan menggunakan metode garis lurus.

k. Aset Tetap

Aset tetap dinyatakan sebesar biaya perolehan, dikurangi akumulasi penyusutannya. Penyusutan aset tetap dihitung dengan menggunakan metode garis lurus (straight-line method), berdasarkan taksiran masa manfaat ekonomis aset tetap, sebagai berikut:

Masa manfaat Tahun Inventaris kantor 4 – 5 Kendaraan Bermotor 5

Biaya untuk perbaikan atau perawatan aset tetap untuk menjaga manfaat keekonomian masa yang akan datang dibebankan pada laporan laba rugi pada saat terjadinya. Pengeluaran y ang menambah masa manfaat atau meningkatkan manfaat ekonomis di masa yang akan datang seperti peningkatan kapasitas dan perbaikan kualitas keluaran atau standar kinerja dikapitalisasi.

(22)

3. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI YANG SIGNIFIKAN (Lanjutan)

k. Aset Tetap (lanjutan)

Aset tetap yang sudah tidak digunakan lagi atau yang dijual, dikeluarkan dari kelompok aset tetap berikut akumulasi penyusutan yang bersangkutan, dan keuntungan atau kerugian yang timbul dari penghentian atau pelepasan suatu aset tetap diakui sebagai keuntungan atau kerugian dalam laporan laba rugi tahun berjalan. Nilai residu, umur manfaat, serta metode penyusutan ditelaah setiap akhir tahun dan dilakukan penyesuaian apabila hasil telaah berbeda dengan estimasi sebelumnya.

l. Agunan yang Diambil Alih

Agunan yang diambil alih sehubungan dengan penyelesaian piutang pembiayaan konsumen dinyatakan berdasarkan nilai terendah antara nilai tercatat piutang pembiayaan konsumen terkait atau nilai realisasi bersih dari agunan yang diambil alih. Selisih antara nilai tercatat dan nilai realisasi bersih dicatat sebagai penyisihan penurunan nilai atas agunan yang diambil alih dan dibebankan pada laporan laba rugi tahun berjalan.

Beban sehubungan dengan perolehan dan pemeliharaan agunan yang diambil alih tersebut dibebankan pada saat terjadinya. Konsumen memberi kuasa kepada Perusahaan untuk menjual agunan yang diambil alih ataupun melakukan tindakan lainnya dalam upaya penyelesaian piutang pembiayaan konsumen bila terjadi wanprestasi terhadap perjanjian pembiayaan. Konsumen berhak atas selisih lebih antara nilai penjualan dengan saldo piutang pembiayaan konsumen. Jika terjadi selisih kurang, kerugian yang terjadi dibebankan pada laporan laba rugi tahun berjalan.

m. Pengakuan Pendapatan dan Beban

m.1.Pendapatan Pembiayaan Konsumen dan Sewa Pembiayaan, Pendapatan Bunga dan

Beban Bunga

Pendapatan pembiayaan konsumen, sewa pembiayaan, pendapatan bunga dan beban bunga diakui dengan menggunakan metode suku bunga efektif.

Beban provisi yang dibayar dimuka sehubungan dengan pinjaman yang diterima diakui sebagai pengurang atas pinjaman yang terkait dan diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif (menggunakan metode garis lurus pada tahun 2009) dan dicatat sebagai bagian dari beban keuangan.

Suku bunga efektif adalah suku bunga yang secara tepat mendiskontokan estimasi pembayaran dan penerimaan kas di masa datang selama perkiraan umur dari aset keuangan atau kewajiban keuangan (atau, jika lebih tepat, digunakan periode yang lebih singkat) untuk memperoleh nilai tercatat dari aset keuangan atau kewajiban keuangan.

(23)

3. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI YANG SIGNIFIKAN (Lanjutan)

m. Pengakuan Pendapatan dan Beban (lanjutan)

Pada saat menghitung suku bunga efektif, Perusahaan mengestimasi arus kas di masa datang dengan mempertimbangkan seluruh persyaratan kontraktual dalam instrumen keuangan tersebut, tetapi tidak mempertimbangkan kerugian di masa mendatang.

Perhitungan suku bunga efektif mencakup seluruh biaya dan bentuk lain yang dibayarkan atau diterima yang merupakan bagian tak terpisahkan dari suku bunga efektif, termasuk biaya transaksi.

m.2.Pendapatan Lain-lain

Pendapatan administrasi diakui pada saat perjanjian pembiayaan konsumen ditandatangani.

Pendapatan denda keterlambatan dan pinalti diakui pada saat denda keterlambatan dan pinalti diterima.

m.3.Beban

Beban diakui dengan metode akrual. n. Pajak Penghasilan

Pajak tangguhan diukur dengan menggunakan tarif pajak yang berlaku atau secara substansial telah berlaku pada tanggal neraca.

Pajak tangguhan dibebankan atau dikreditkan dalam laporan laba rugi tahun berjalan kecuali pajak tangguhan yang dibebankan atau dikreditkan langsung ke ekuitas.

o.Penyisihan Imbalan Kerja

Imbalan kerja jangka pendek diakui pada saat terutang kepada karyawan berdasarkan metode akrual.

Perhitungan imbalan pasca kerja menggunakan metode Projected Unit Credit. Akumulasi keuntungan dan kerugian aktuarial bersih yang belum diakui yang melebihi 10% dari nilai kini kewajiban imbalan pasti diakui dengan metode garis lurus selama rata-rata sisa masa kerja yang diperkirakan dari para pekerja dalam program tersebut.

Biaya jasa lalu dibebankan langsung apabila imbalan tersebut menjadi hak atau vested, dan sebaliknya akan diakui sebagai beban dengan metode garis lurus selama periode rata-rata sampai imbalan tersebut menjadi vested.

Jumlah yang diakui sebagai kewajiban imbalan pasti di neraca merupakan nilai kini kewajiban imbalan pasti disesuaikan dengan keuntungan dan kerugian aktuarial yang belum diakui dan biaya jasa lalu yang belum diakui.

(24)

4. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI YANG SIGNIFIKAN (Lanjutan)

p.Laba Bersih per Saham

Sesuai dengan PSAK No. 56, ”Laba per Saham”, laba bersih per saham, pada tanggal neraca, dihitung berdasarkan laba bersih dibagi dengan jumlah rata-rata tertimbang harian dari modal saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh.

q.Transaksi dengan Pihak-pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa

Perusahaan melakukan transaksi dengan pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa. Definisi pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa yang digunakan adalah sesuai dengan yang dinyatakan dalam PSAK No. 7 “Pengungkapan Pihak-pihak yang Mempunyai Hubungan

Istimewa”.

Seluruh transaksi dengan pihak yang mempunyai hubungan istimewa baik yang dilakukan dengan, atau tidak dengan, syarat dan kondisi normal, sebagaimana yang dilakukan dengan pihak yang tidak mempunyai hubungan istimewa, telah diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan.

r .Informasi Segmen

Informasi segmen dalam laporan keuangan disajikan berdasarkan segmen usaha sebagai segmen primer dan segmen geografis sebagai segmen sekunder.

Sebuah segmen geografis menyediakan jasa di dalam lingkungan ekonomi tertentu yang memiliki risiko serta tingkat pengembalian yang berbeda dengan segmen operasi lainnya yang berada dalam lingkungan ekonomi lain.

s. Penurunan Nilai dari Aset Tetap dan Aset Lainnya

Pada tanggal neraca Perusahaan menelaah ada atau tidaknya indikasi penurunan nilai aset. Aset tetap dan aset lainnya, termasuk aset tak berwujud ditelaah untuk mengetahui apakah telah terjadi kerugian akibat penurunan nilai atau apakah telah terjadi perubahan keadaan yang mengindikasikan bahwa nilai tercatat aset tersebut tidak dapat diperoleh kembali. Kerugian akibat penurunan nilai diakui sebesar selisih antara nilai tercatat aset dengan nilai yang dapat diperoleh kembali dari aset tersebut. Nilai yang dapat diperoleh kembali adalah yang lebih tinggi di antara harga jual neto dan nilai pakai aset.

Dalam rangka menguji penurunan nilai, aset dikelompokkan hingga unit terkecil yang menghasilkan arus kas terpisah.

(25)

4. PENGGUNAAN ESTIMASI DAN PERTIMBANGAN

Dalam penyusunan laporan keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum, dibutuhkan pertimbangan, estimasi dan asumsi yang mempengaruhi:

- penerapan kebijakan akuntansi,

- jumlah aset dan kewajiban yang dilaporkan, dan pengungkapan atas aset dan kewajiban kontinjensi pada tanggal laporan keuangan,

- jumlah pendapatan dan beban yang dilaporkan selama periode pelaporan

Walaupun estimasi ini dibuat berdasarkan pengetahuan terbaik manajemen atas kejadian dan tindakan saat ini, hasil aktual mungkin berbeda dengan jumlah yang diestimasi semula.

Estimasi dan asumsi yang digunakan ditelaah secara berkesinambungan. Revisi atas taksiran akuntansi diakui pada periode dimana taksiran tersebut direvisi dan periode-periode yang akan datang yang dipengaruhi oleh revisi taksiran tersebut.

Secara khusus, informasi mengenai hal-hal penting yang terkait dengan ketidakpastian taksiran dan pertimbangan penting dalam penerapan kebijakan akuntansi yang memiliki dampak yang signifikan terhadap jumlah yang diakui dalam laporan keuangan dan merupakan tambahan atas pembahasan tentang manajemen risiko keuangan (lihat Catatan 31) dijelaskan sebagai berikut:

a. Sumber Penting Atas Ketidakpastian Estimasi

a.1.Penyisihan Kerugian Penurunan Nilai Aset Keuangan

Evaluasi atas kerugian penurunan nilai aset keuangan yang dicatat pada biaya perolehan diamortisasi dijelaskan di Catatan 3i.

Evaluasi penyisihan kerugian penurunan nilai secara kolektif mencakup kerugian kredit yang melekat pada portofolio piutang pembiayaan konsumen dengan karakteristik ekonomi yang serupa ketika terdapat bukti obyektif bahwa telah terjadi penurunan nilai piutang dalam portofolio tersebut, namun penurunan nilai secara individu belum dapat diidentifikasi. Dalam menentukan perlunya untuk membentuk penyisihan kerugian penurunan nilai secara kolektif, manajemen mempertimbangkan faktor-faktor seperti kualitas kredit, besarnya portofolio, konsentrasi kredit, dan faktor-faktor ekonomi. Dalam mengestimasi penyisihan yang dibutuhkan, asumsi-asumsi dibuat untuk menentukan model kerugian bawaan dan untuk menentukan parameter input yang diperlukan, berdasarkan pengalaman historis dan keadaan ekonomi saat ini. Ketepatan dari penyisihan ini bergantung pada asumsi model dan parameter yang digunakan dalam penentuan penyisihan kolektif

(26)

4. PENGGUNAAN ESTIMASI DAN PERTIMBANGAN (Lanjutan)

a.2.Penentuan Nilai Wajar

Dalam menentukan nilai wajar atas aset keuangan dan kewajiban keuangan dimana tidak terdapat harga pasar yang dapat diobservasi, Perusahaan harus menggunakan teknik penilaian seperti dijelaskan pada Catatan 3c.6. Untuk instrumen keuangan yang jarang diperdagangkan dan tidak memiliki harga yang transparan, nilai wajarnya menjadi kurang obyektif dan karenanya, membutuhkan tingkat pertimbangan (judgement) yang beragam, tergantung pada likuiditas, konsentrasi, ketidakpastian faktor pasar, asumsi penentuan harga dan risiko lainnya yang mempengaruhi instrumen tertentu.

b. Pertimbangan Akuntansi yang Penting Dalam Menetapkan Kebijakan Akuntansi Perusahaan

Pertimbangan akuntansi yang penting dalam menetapkan kebijakan akuntansi Perusahaan meliputi penilaian instrumen keuangan.

Kebijakan akuntansi Perusahaan untuk pengukuran nilai wajar dibahas di Catatan 3c.6. Perusahaan mengukur nilai wajar dengan menggunakan hirarki dari metode berikut ini: - Harga kuotasi di pasar yang aktif untuk instrumen keuangan yang sejenis.

- Teknik penilaian berdasarkan input yang dapat diobservasi. Termasuk dalam kategori ini adalah instrumen keuangan yang dinilai dengan menggunakan harga kuotasi di pasar aktif untuk instrumen yang sejenis; harga kuotasi untuk instrumen keuangan yang sejenis di pasar yang kurang aktif; atau teknik penilaian lainnya dimana seluruh input signifikan yang digunakan dapat diobservasi secara langsung ataupun tidak langsung dari data yang tersedia di pasar.

- Teknik penilaian yang menggunakan input signifikan yang tidak dapat diobservasi. Termasuk dalam kategori ini adalah semua instrumen keuangan dimana teknik penilaiannya menggunakan input yang bukan merupakan data yang dapat diobservasi dan input yang tidak dapat diobservasi tersebut dapat memiliki dampak signifikan terhadap penilaian instrumen keuangan. Termasuk dalam kategori ini adalah instrumen yang dinilai berdasarkan harga kuotasi untuk instrumen yang sejenis dimana terdapat penyesuaian signifikan yang tidak dapat diobservasi atau asumsi-asumsi yang diperlukan untuk mencerminkan selisih antara instrumen keuangan yang diperbandingkan.

Nilai wajar dari aset keuangan dan kewajiban keuangan yang diperdagangkan di pasar aktif didasarkan pada kuotasi harga pasar. Untuk seluruh instrumen keuangan lainnya, Perusahaan menentukan nilai wajar menggunakan teknik penilaian. Teknik penilaian termasuk model nilai tunai dan arus kas yang didiskontokan, dan perbandingan dengan instrumen yang sejenis dimana terdapat harga pasar yang dapat diobservasi.

Asumsi dan input yang digunakan dalam teknik penilaian dapat termasuk suku bunga bebas risiko (risk-free) dan suku bunga acuan, credit spread dan variabel lainnya yang digunakan dalam mengestimasi tingkat diskonto, harga obligasi, kurs mata uang asing, serta tingkat kerentanan dan korelasi harga yang diharapkan. Tujuan dari teknik penilaian adalah penentuan nilai wajar yang mencerminkan harga dari instrument keuangan pada tanggal pelaporan yang akan ditentukan oleh para partisipan di pasar dalam suatu transaksi yang wajar.

(27)

5. KAS DAN SETARA KAS

2 0 1 0 2 0 1 1

K a s 159.000.000 749.256.940

B a n k

PT Bank Central Asia Tbk 5.049.693.880 2.752.468.331 PT Bank Mandiri (Persero) Tbk 2.566.209.357 4.767.361.824

PT Bank Permata Tbk 469.646.532 1.692.788.120

PT Bank Rakyat Indonesia

(Persero) Tbk 371.817.327 726.440.596 PT Bank Victoria International Tbk - PT Bank Mutiara Tbk 152.314.028 251.508.110 PT Bank Internasional Indonesia Tbk 156.778.654 213.576.025

PT Bank ICBC Indonesia 273.500.361

PT Bank Victoria Syariah

(d/h PT Bank Swaguna) 35.506.134

PT Bank Bukopin Tbk 47.268.763 302.702.266

PT Bank DKI 29.897.297

PT Bank ICB Bumiputera Tbk (d/h PT Bank Bumiputera

Tbk) 60.037.538 113.875.564

PT Bank CIMB Niaga Tbk (d/h Bank Lippo Tbk dan

PT Bank Niaga Tbk) 41.348.266 197.834.326 PT Bank Mega Tbk 95.206.225 6.851.267 PT Bank Sinarmas (d/h PT Bank Shinta Indonesia) 22.501.839 5.345.129 PT Swaguna 34.001.783 - PT Yudha Bakti 4.936.866 - 9.071.761.058 11.369.655.350 J u m l a h 9.230.761.058 12.118.912.290

(28)

6. DEPOSITO BERJANGKA YANG DIBATASI PENGGUNAANNYA

2 0 1 0 2 0 1 1

PT Bank Central Asia Tbk 680.693.089 -

Tingkat suku bunga per tahun 5.75% -

Deposito berjangka tersebut di atas digunakan sebagai jaminan atas fasilitas kredit yang diperoleh dari PT Bank Central Asia Tbk (Catatan 29).

7. PIUTANG SEWA PEMBIAYAAN

2 0 1 0 2 0 1 1

Pihak ketiga

Piutang sewa pembiayaan – Bruto 4.981.718.000 6.768.664.000

Dikurangi:

Biaya transaksi ditangguhkan ( - ) ( 24.252.842)

4.981.718.000 6.744.411.158

Dikurangi:

Pendapatan sewa pembiayaan

yang belum diakui ( 1.450.571.150) ( 1.302.940.366)

J u m l a h 3.531.146.850 5.441.470.792

Dikurangi: Penyisihan kerugian penurunan

nilai ( 148.263.590) ( 212.903.451)

Piutang sewa pembiayaan -

B e r s i h 3.382.883.260 5.228.567.341

Pada tanggal 31 Maret 2010 dan 31 Maret 2011, piutang sewa pembiayaan Perusahaan seluruhnya berasal dari pembiayaan sendiri.

Rincian atas jatuh tempo kontraktual dari piutang sewa pembiayaan - bruto sesuai dengan tanggal jatuh temponya masing-masing pada tanggal 31 Maret 2010 dan 31 Maret 2011, sebagai berikut:

(29)

7. PIUTANG SEWA PEMBIAYAAN (Lanjutan) 2 0 1 0 2 0 1 1 2010 1.349.761.692 - 2011 1.048.656.000 3.613.968.000 2012 2.583.300.308 1.669.100.000 2013 - 1.485.596.000 J u m l a h 4.981.718.000 6.768.664.000

Pada tanggal 31 Maret 2010 dan 31 Maret 2011, suku bunga efektif per tahun yang dikenakan untuk sewa pembiayaan masing-masing berkisar antara 15,00% - 17,00% .

Rincian analisa umur atas jatuh tempo kontraktual (ditunjukkan dengan arus kas kontraktual yang tidak didiskonto) dari angsuran piutang sewa pembiayaan bruto adalah sebagai berikut:

2 0 1 0 2 0 1 1

Belum jatuh tempo 4.794.028.000 6.768.664.000

Telah jatuh tempo:

61 – 90 hari 187.690.000 -

J u m l a h 4.981.718.000 6.768.664.000

Manajemen Perusahaan berpendapat bahwa penyisihan kerugian penurunan nilai atas piutang sewa pembiayaan adalah cukup untuk menutup kerugian yang mungkin timbul dari tidak tertagihnya piutang tersebut.

Perubahan penyisihan kerugian penurunan nilai adalah sebagai berikut:

2 0 1 0 2 0 1 1

Saldo per 1 Januari 118.610.873 182.691.702

Penyisihan selama tahun berjalan 29.652.717 30.211.749 Penghapusan selama tahun

berjalan ( -) ( - )

(30)

8. PIUTANG PEMBIAYAAN KONSUMEN

2 0 1 0 2 0 1 1

Piutang pembiayaan konsumen -

Bruto Pihak ketiga

Pembiayaan sendiri 242.354.600.000 326.658.210.957

Pembiayaan yang dibiayai bersama pihak-pihak lain -

without recourse 8.484.430.150 5.106.999.190

Pihak yang mempunyai

hubungan istimewa -

250.839.030.150 331.765.210.147

Dikurangi:

Biaya transaksi ditangguhkan ( -) ( 1.482.216.602)

Dipindahkan 250.839.030.150 330.282.993.545

Dikurangi:

Pendapatan yang belum diakui Pihak ketiga

Pembiayaan sendiri ( 40.938.057.195) ( 63.476.800.991)

Pembiayaan yang dibiayai bersama pihak-pihak lain -

without recourse ( 2.155.937.262) ( 2.855.320.997) ( 43.093.994.457) ( 66.332.121.988) J u m l a h 207.745.035.693 263.950.871.557 Dikurangi:

Penyisihan penurunan nilai ( 4.279.433.172) ( 4.271.569.401)

Piutang pembiayaan konsumen -

B e r s i h 203.465.602.521 259.679.302.156

Saldo piutang pembiayaan konsumen-pembiayaan sendiri tersebut di atas telah di kurangi dengan kelebihan baya ratas pelunasan dan pembayaran angsuran dari pelanggan yang belum diketahui indentitasnya yaitu sejumlah Rp 7.996.167.971 pada tanggal 31 Maret 2011.

(31)

8. PIUTANG PEMBIAYAAN KONSUMEN (Lanjutan)

Rincian atas jatuh tempo kontraktual (ditunjukkan dengan arus kas kontraktual yang tidak didiskonto) dari piutang pembiayaan konsumen - bruto sesuai dengan tanggal jatuh temponya masing-masing pada tanggal 31 Maret 2010 dan 31 Maret 2011, sebagai berikut:

2 0 1 0 2 0 1 1 2010 14.636.137.000 - 2011 101.610.590.000 173.079.864.000 2012 92.581.450.000 102.818.089.000 2013 42.010.853.150 41.983.939.000 2014 dan selanjutnya - 13.883.318.147 J u m l a h 250.839.030.150 331.765.210.147

Pada tanggal 31 Maret 2010 dan 31 Maret 2011, suku bunga efektif per tahun untuk pembiayaan konsumen masing-masing berkisar antara 14,10% - 33,87% dan 14,00% - 33,87%.

Piutang pembiayaan konsumen–brutoy ang dikelola Perusahaan pada tanggal-tanggal 31 Maret 2010 dan 31 Maret 2011 termasuk piutang pembiayaan yang dibiayai bersama pihak-pihak lain – without

recourse, adalah masing-masing sebesar Rp 548.971.679.086 dan Rp 654.186.786.957.

Kendaraan bermotor yang dibiayai oleh Perusahaan telah diasuransikan terhadap risiko kehilangan dan kerusakan kepada beberapa perusahaan asuransi pihak ketiga (Catatan 29).

Rincian analisa umur atas jatuh tempo kontraktual dari angsuran piutang pembiayaan konsumen bruto adalah sebagai berikut:

2 0 1 0 2 0 1 1

Belum jatuh tempo 247.203.090.150 325.112.362.147

Telah jatuh tempo:

1-30 hari 1.718.270.000 1.714.022.000

31-60 hari 1.029.036.000 1.233.238.000

61-90 hari 274.361.000 546.583.000

Lebih dari 90 hari 614.273.000 3.159.005.000

J u m l a h 250.839.030.150 331.765.210.147

Manajemen berpendapat bahwa penyisihan kerugian penurunan nilai atas piutang pembiayaan konsumen adalah cukup untuk menutup kerugian yang mungkin timbul dari tidak tertagihnya piutang tersebut.

(32)

8. PIUTANG PEMBIAYAAN KONSUMEN (Lanjutan)

Piutang pembiayaan konsumen digunakan sebagai jaminan pinjaman yang diterima dari bank (Catatan 13).

Perubahan penyisihan kerugian penurunan nilai adalah sebagai berikut:

2 0 1 0 2 0 1 1

Saldo per 1 Januari 4.288.323.163 4.137.647.316

Penyisihan selama tahun berjalan 592.427.610 778.953.516 Penghapusan selama tahun berjalan ( 601.317.601) ( 645.031.431)

Saldo per 31 Maret 4.279.433.172 4.271.569.401 9. PIUTANG LAIN-LAIN

2 0 1 0 2 0 1 1

Pihak ketiga

Bunga yang masih harus diterima - 73.248.439

Pihak yang mempunyai hubungan

Istimewa

Piutang karyawan 3.107.121.676 6.366.992.726

J u m l a h 3.107.121.676 6.440.241.165

Perusahaan tidak membentuk penyisihan kerugian penurunan nilai karena manajemen berkeyakinan bahwa seluruh piutang tersebut dapat ditagih.

Lihat Catatan 28 untuk rincian saldo dan transaksi dengan pihak yang mempunyai hubungan istimewa. 10. BEBAN DIBAYAR DI MUKA

2 0 1 0 2 0 1 1 Pihak ketiga S e w a 2.577.427.022 2.798.745.789 Perawatan Gedung 147.633.640 224.363.039 Operasional Kredit 463.958.180 367.526.100 Lain-lain 1.722.248.213 1.169.136.730 J u m l a h 4.911.267.055 4.559.771.658

(33)

11.ASET TETAP

2 0 1 1

Saldo awal/ Saldo akhir/ Penambahan Pengurangan Biaya perolehan Pemilikan langsung Inventaris kantor 6.072.019.357 514.179.605 - 6.586.198.962 Kendaraan bermotor 6.792.468.618 341.975.651 ( 228.394.577) 6.906.049.692 12.864.487.975 856.155.256 ( 228.394.577) 13.492.248.654 Akumulasi penyusutan Pemilikan langsung Inventaris kantor 3.826.511.964 241.922.447 - 4.068.434.411 Kendaraan bermotor 2.820.071.575 325.750.191 ( 49.670.867) 3.096.150.899 6.646.583.539 567.672.638 ( 49.670.867) 7.164.585.310 Jumlah tercatat 6.217.904.436 6.327.663.344 2 0 1 0

Saldo awal/ Saldo akhir/ Penambahan/ Pengurangan/ Biaya perolehan Pemilikan langsung Inventaris kantor 5.125.018.945 235.948.500 - 5.360.967.445 Kendaraan bermotor 5.283.194.358 519.267.265 ( 145.288.353) 5.657.173.270 10.408.213.303 755.215.765 ( 145.288.353) 11.018.140.715 Akumulasi penyusutan Pemilikan langsung Inventaris kantor 2.928.799.721 218.735.015 - 3.147.534.736 Kendaraan bermotor 1.807.085.229 259.788.768 ( 124.620.453) 1.942.253.544 4.735.884.950 478.523.783 ( 124.620.453) 5.089.788.280 Jumlah tercatat 5.672.328.353 5.928.352.435

(34)

11.ASET TETAP (Lanjutan)

Beban penyusutan dialokasikan pada beban umum dan administrasi masing-masing sebesar Rp 478.523.783 dan Rp 567.672.638 untuk tahun yang berakhir 31 Maret 2010 dan 31 Maret 2011 (Catatan 25).

Rincian laba penjualan aset tetap adalah sebagai berikut:

2 0 1 0 2 0 1 1

Penerimaan hasil penjualan

aset tetap 108.000.000 243.500.000

Jumlah tercatat aset tetap ( 20.667.900) ( 178.723.710)

Laba penjualan aset tetap 87.332.100 64.776.290

Keuntungan atas penjualan aset tetap diakui sebagai bagian dari “Pendapatan Lain-lain” pada laporan laba rugi (Catatan 23).

Pada tanggal 31 Desember 2010 dan 2009, kendaraan bermotor telah diasuransikan terhadap risiko kebakaran, pencurian dan risiko lainnya kepada asuransi PT Asuransi Multi Artha Guna Tbk dengan jumlah pertanggungan masing–masing sebesar Rp 4.177.200.000 (2010) dan Rp 4.141.300.000 (2009), PT Asuransi Sinar Mas sebesar Rp 550.000.000 (2010) dan Rp 315.000.000 (2009), PT Asuransi Indrapura sebesar Rp 2.864.000.000 (2010) dan Rp 1.185.000.000 (2009) dan PT Asuransi Bina Data Arta Tbk sebesar Rp 357.500.000 (2010) dan Rp nol (2009). Manajemen berpendapat bahwa nilai pertanggungan asuransi kendaraan bermotor tersebut cukup untuk menutup kemungkinan kerugian atas aset yang dipertanggungkan. Manajemen berpendapat bahwa tidak terdapat kejadian atau perubahan keadaan yang mengindikasikan penurunan nilai atas aset tetap pada tanggal neraca.

12. ASET LAIN-LAIN 2 0 1 0 2 0 1 1 Renovasi gedung 4.865.038.480 5.360.385.916 Dikurangi: Akumulasi amortisasi ( 2.945.358.074) ( 3.246.243.576) 1.919.680.406 2.114.142.340

Agunan yang diambil alih 2.093.584.537 6.476.316.552

Uang jaminan sewa 359.870.000 454.490.000

J u m l a h 4.373.134.943 9.044.948.892

Pada tanggal 31 Maret 2010 dan 31 Maret 2011, Perusahaan tidak membentuk penyisihan kerugian penurunan nilai atas agunan yang diambil alih karena manajemen berkeyakinan bahwa tidak terdapat indikasi terjadinya penurunan nilai atas jumlah tercatat agunan yang diambil alih tersebut. Beban amortisasi dialokasikan pada beban umum dan administrasi masing-masing sebesar

Gambar

Tabel di bawah ini menggambarkan jatuh tempo kontraktual aset keuangan dan kewajiban keuangan yang dipengaruhi oleh tingkat suku bunga pada tanggal 31 Maret 2011:

Referensi

Dokumen terkait

dipertanggungjawabkan oleh Pemerintah Provinsi NAD dan merupakan bagian yang utuh dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA). Dana Tambahan Infrastruktur dalam

Praktikum ini bertujuan (1) Mengidentifikasi data dan informasi yang diperlukan untuk penyusunan rencana pemanenan, (2) Melakukan pengumpulan, pengolahan, dan

Ketiga, kerja sama dalam struktur pasar bebas.. kerja sama yang bebas. Selama kekuatan penawaran dan permintaan berjalan secara alamiah maka harga ditentukan

Hasil program ini dapat dapat digunakan oleh pedagang di pasar tradisional untuk mengetahui laporan persediaan barang dan total persediaan barang dengan memanfaatkan komputer

Salah satu elemen kunci dari Android adalah Dalvik Virtual Machine (DVM), Android berjalan di dalam Dalvik Virtual Machine (DVM) bukan di Java Virtual Machine

1) Penelitian ini terbatas pada pengembangan buku suplemen yang disusun berdasarkan hasil riset pada empat stasiun pengamatan di kawasan mangrove Dukuh

Kedelapan variable tersebut yaitu, Bimbingan pendiri terhadap suksesor, Pemahaman suksesor terhadap bisnis, Kemampuan suksesor dalam menentukan strategi, Suksesor mampu mengelola

9 DLF cyber city phase III Gurgoan 122002 6th Floor Tower A Building No. 9 DLF cyber city phase III Gurgoan 122002 6th Floor Tower A