TOKOH FILSAFAT ISLAM
Disusun oleh:
Viona Reza Maulinda 152110101125
Dwiana Karomatul Magfiroh 152110101135
Dosen Pengampu: Wajihudin, S.Pd., M.Hum Filsafat Ilmu Pengetahuan Kelas B
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS JEMBER
KATA PENGANTAR
Segala puji hanya milik Allah SWT, shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada Rasulullah SAW. Berkat limpahan rahmat-Nya, penulis mampu menyelesaikan tugas makalah ini guna memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Ilmu Pengetahuan.
Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi, namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan, dorongan dan bimbingan orang tua serta bapak Wajihudin S.Pd., M.Hum selaku dosen mata kuliah Filasafat Ilmu Pengetahuan sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi dapat teratasi.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas wawasan mengenai tokoh – tokoh pemikir filsafat islam yang penulis sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber informasi, referensi dan berita. Makalah ini penulis susun dengan berbagai rintangan baik itu yang datang dari diri penulis maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Allah akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para mahasiswa Universitas Jember. Penulis sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Untuk itu, kepada dosen pengampu, penulis meminta masukannya demi perbaikan pembuatan makalah penulis di masa yang akan datang dan mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca.
Jember, 19 November 2015
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Berfilsafat adalah bagian dari kehidupan peradaban manusia. Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dengan konsep mendasar. Filsafat Islam adalah filsafat yang seluruh cendekianya adalah seorang muslim. Dalam perkembangan filsafat, peradaban islam banyak melahirkan ahli filsafat yang ternama dan penemuannya akan ilmu - ilmu memiliki pengaruh yang kuat pada hampir semua bidang ilmu pengetahuan yang ada saat ini. Namun, keberadaan para filosof islam tidak banyak diketahui atau cenderung terkalahkan oleh keberadaan filosof yunani kuno seperti Plato dan Aristoteles.
Meskipun pemikiran para filosof islam ini merupakan pengembangan dari pemikiran para filosof yunani kuno, namun sebagai seorang yang berilmu, setidaknya harus mengetahui dan mempelajari hal – hal yang telah ditemukan oleh para filosof islam. Oleh karena itu, penulis akan memaparkan tokoh – tokoh filsafat islam beserta pemikirannya dan karya – karya yang dihasilkan pada masa peradaban islam.
1.2Rumusan Masalah
1.2.1 Apakah filsafat islam?
1.2.2 Siapa saja tokoh – tokoh yang lahir dalam perkembangan filsafat islam? 1.2.3 Bagaimana dasar pemikiran para tokoh filsafat islam?
1.2.4 Apa saja karya yang dihasilkan?
1.3Tujuan Penulisan
1.3.1 Mengetahui filsafat islam
BAB 2 PEMBAHASAN
2.1 Filsafat Islam
Filsafat memiliki banyak pengertian. Sejak zaman Yunani Kuno sampai sekarang, banyak para ahli filsafat yang menyumbangkan pemikirannya tentang definisi filsafat. Secara etimologis filsafat berasal dari bahasa Arab yaitu falsafah. Kata falsafah inipun berasal dari bahasa Yunani yaitu dari kata philosophia. Philosophia tediri dari dua akar kata yaitu Philos berarti cinta, suka dan Sophia berarti pengetahuan, ilmu, kebijaksanaan. Jadi, Philosophia berarti cinta pengetahuan atau cinta pada kebijaksanaan. Dilihat dari segi praktis filsafat berarti alam berpikir atau alam pikiran. Filsafat adalah suatu ilmu yang merupakan hasil akal manusia yang memikirkan dan mencari hakikat kebenaran segala sesuatu.
Filsafat Islam menurut Mustofa Abdul Razik, adalah filsafat yang tumbuh di negeri Islam dan di bawah kekuasaan negara Islam. Sedangkan menurut Ibrahim Madkur, Filsafat Islam adalah pemikiran yang lahir dalam dunia Islam untuk menjawab tantangan zaman yang meliputi Allah dan alam semesta, wahyu dan akal, agama dan filsafat. Sedangkan menurut beberapa filosof, Filsafat Islam adalah didefinisikan sebagai berikut :
a. Filsafat Islam adalah filsafat yang diajarkan oleh orang Islam.
b. Filsafat Islam adalah suatu ilmu yang dicelup ajaran Islam dalam membahas hakikat kebenaran sesuatu.
c. Filsafat Islam adalah suatu hasil pemikiran para filsuf tentang ketuhanan, kenabian,manusia, dan alam yang disinari ajaran ajaran islam dalam suatu aturan pemikiranyang logis dan sistematis.
2.2 Tokoh – Tokoh Filsafat Islam dan Pemikirannya 2.2.1 Al KINDI
2.2.1.1 Sejarah Hidup
Nama lengkap Al Kindi adalah Abu Yusuf Ya’kub ibnu Ishaq ibnu al-Shabbah ibnu ‘Imron ibnu Muhammad ibnu al-Asy’as ibnu Qais al-Kindi. Seorang filosof islam yang lahir pada tahun 801 M dan wafat pada tahun 873 M. Al-Kindi dilahirkan di Kufah sekitar tahun 185 H (801 M) dari keluarga kaya dan terhormat. Ayahnya, Ishaq ibnu Al-Shabbah adalah gubernur Kufah pada masa pemerintahan Al-Mahdi dan Ar-Rasyid. Al Kindi sendiri hidup pada masa pemerintahan lima khalifah Bani Abbas, yakni Amin, Ma’mun, Mu’tasim, Al-Wasiq, dan Al-Mutawakkil.
Dalam hal pendidikan Al-Kindi pindah dari Kufah ke Basrah, sebuah pusat studi bahasa dan teologi Islam. Dan ia pernah menetap di Baghdad, ibukota kerajaan Bani Abbas, yang juga sebagai jantung kehidupan intelektual pada masa itu. Ia sangat tekun mempelajari berbagai disiplin ilmu. Oleh karena itu tidak heran jika ia dapat menguasai ilmu astronomi,ilmu ukur, ilmu alam, astrologi, ilmu pasti, ilmu seni musik meteorologi,, optika, kedokteran, matematika, filsafat, dan politik.
2.2.1.2 Filsafat atau pemikirannya
a. Talfiq (Pemaduan Filsafat dan Agama)
Al-Kindi berusaha memadukan (talfiq) antara agama dan filsafat. Menurutnya filsafat adalah pengetahuan yang benar (knowledge of truth). Al-Quran membawa argumen-argumen yang lebih meyakinkan dan benar, tidak mungkin bertentangan dengan kebenaran yang dihasilkan oleh filsafat. Oleh karena itu, mempelajari filsafat dan berfilsafat tidak dilarang bahkan teologi bagian dari filsafat, sedangkan umat Islam diwajibkan mempelajari teologi.
Bertemunya agama dan filsafat dalam kebenaran dan kebaikan sekaligus menjadi tujuan dari keduanya. Agama disamping wahyu, juga mempergunakan akal serta filsafat pun juga mempergunakan akal. Yang benar pertama bagi Al-Kindi ialah Tuhan. Filsafat dengan demikian membahas tentang Tuhan dan agama lah yang menjadi dasarnya. Filsafat yang paling tinggi ialah filsafat tentang Tuhan.
Dengan demikian, orang yang menolak filsafat maka orang itu menurut Al-Kindi telah mengingkari kebenaran, kendatipun ia menganggap dirinya paling benar. Disamping itu, pengetahuan tentang kebenaran termasuk pengetahuan tentang Tuhan, tentang ke-Esaan-Nya, tentang apa yang baik dan berguna, dan juga sebagai alat untuk berpegang teguh kepadanya dan untuk menghindari hal-hal sebaliknya.
kebenaran, sebaliknya semua orang akan menjadi mulia karena kebenaran.
Jika diibaratkan maka orang yang mengingkari kebenaran tersebut tidak beda dengan orang yang memperdagangkan agama, dan pada hakikatnya orang itu tidak lagi beragama. Pengingkaran terhadap hasil-hasil filsafat karena adanya hal-hal yang bertentangan dengan apa yang menurut mereka telah mutlak digariskan Al-Qur’an.
Hal semacam ini menurut Al-Kindi, tidak dapat dijadikan alasan untuk menolak filsafat.
b. Filsafat Jiwa
Al-Kindi mengatakan bahwa jiwa adalah tunggal, tidak tersusun, tidak panjang, dalam dan lebar. Jiwa mempunyai arti penting , sempurna, dan mulia. Subtansinya berasal dari subtansi Allah. Hubungannya dengan Allah sama dengan hubungannya dengan cahaya dan matahari. Jiwa mempunyai wujud tersendiri, terpisah, dan berbeda dengan jasad atau badan.
Jiwa bersifat rohani dan illahi sementara badan mempunyai hawa nafsu dan marah. Dan perbedaannya, jiwa menentang keinginan hawa nafsu dan kemarahan.Pada jiwa manusia terdapat tiga daya: daya bernafsu (yang terdapat di perut), daya marah (terdapat di dada), dan daya pikir (berputar pada kepala).
c. Filsafat Moral dan Akal
Dalam jiwa manusia terdapat tiga daya yang telah disebutkan diatas salah satunya ialah daya berpikir. Daya berpikir itu adalah akal. Menurut al-Kindi akal dibagi menjadi tiga macam: akal yang bersifat potensil; akal yang keluar dari sifat potensil dan aktuil; dan akal yang telah mencapai tingkat kedua dari aktualitas.
2.2.1.3 Hasil Karya
a. Kitab Al-Kindi ila Al-Mu’tashim Billah fi Falsafah al-Ula (tentang filsafat pertama).
b. Kitab al-Falsafah al-Dakhilat wa al-Masa’il al-Manthiqiyyah wa al Muqtashah wa ma fawqa al-Thabi’iyyah (tentang filsafat yang diperkenalkan dan masalah-masalah logika dan muskil, serta metafisika).
c. Kitab fi Annahu la Tanalu Falsafah illa bi ‘ilm al-Riyadhiyyah (tentang filsafat tidak dapat dicapai kecuali dengan ilmu pengetahuan dan matematika).
d. Kitab fi Qashd Aristhathalis fi al-Maqulat (tentang maksud-maksud Aristoteles dalam kategori-kategorinya).
e. Kitab fi Ma’iyyah al-‘ilm wa Aqsamihi (tentang sifat ilmu pengetahuan dan klasifikasinya).
f. Risalah fi Hudud al-Asyya’ wa Rusumiha (tentang definisi benda-benda dan uraiannya).
g. Risalah fi Annahu Jawahir la Ajsam (tentang substansi-substansi tanpa badan).
h. Kitab fi Ibarah al-Jawami’ al Fikriyah (tentang ungkapan-ungkapan mengenai ide-ide komprehensif).
i. Risalah al-Hikmiyah fi Asrar al-Ruhaniyah (sebuah tilisan filosofis tentang rahasia-rahasia spiritual).
2.2.2 AL FARABI
2.2.2.1 Sejarah Hidup
Nama lengkap Al Farbi adalah Abu Nashr Muhammad ibn Muhammad ibn Tarkhan ibn Auzalagh. Dikalangan orang-orang latin abad tengah, Al Farabi lebih dikenal dengan Abu Nashr. Ia lahir di Wasij, Distrik Farab (sekarang kota Atrar), Turkistan pada tahun 257 H. Pada tahun 330 H, ia pindah ke Damaskus dan berkenalan dengan Saif al-Daulah al-Hamdan, sultan dinasti Hamdan di Allepo.
Sultan memberinya kedudukan sebagai seorang ulama istana dengan tunjangan yang sangat besar, tetapi Al-Farabi memilih hidup sederhana dan tidak tertarik dengan kemewahan dan kekayaan. Al-Farabi dikenal sebagai filosof Islam terbesar, memiliki keahlian dalam banyak bidang keilmuan dan memandang filsafat secara utuh dan menyeluruh serta mengupasnya secara sempurna, sehingga filosof yang datang sesudahnya, seperti Ibnu Sina dan Ibn Rusyd banyak mengambil dan mengupas sistem filsafatnya.
2.2.2.2 Filsafat atau Pemikirannya a. Pemaduan filsafat
ilmu logika dan fisika, ia dipengaruhi oleh Aristoteles, dalam masalah akhlak dan politik, ia dipengaruhi oleh Plato, sedangkan dalam hal matematika, ia dipengaruhi oleh Plotinus. Aristoteles berfikiran bahwa idea bukanlah hakikat, namun Plato mengemukakan bahwa idea adalah hakikat dari segala-galanya. Untuk mempertemukan dua filsafat yang berbeda seperti dua halnya Plato dan Aristoteles mengenai idea, Al Farabi menggunakan interpretasi batini, yakni dengan menggunakan ta’wil bila menjumpai pertentangan pikiran antara kedanya. Menurut Al-Farabi, sebenarnya Aristoteles mengakui alam rohani yang terdapat diluar alam ini. Jadi kedua filosof tersebut sama-sama mengakui adanya idea-idea pada zat Tuhan.
b. Filsafat Jiwa
Dalam pemikirannya ini, Al Farabi juga dipengaruhi oleh Plato, Aristoteles dan Plotinus. Jiwa bersifat rohani, bukan materi, terwujud setelah adanya badan dan tidak berpindah-pindah dari suatu badan ke badan lain. Kesatuan antara jiwa dan jasad merupakan kesatuan secara accident, artinya antara keduanya mempunyai substansi yang berbeda dan binasanya jasad tidak membawa binasanya jiwa. Jiwa manusia disebut nafs al-nathiqah, yang berasal dari alam ilahi, sedangkan jasad berasal dari alam khalq, berbentuk, berupa, berkadar, dan bergerak. Jiwa diciptakan tatkala jasad siap menerimanya. Mengenai keabadian jiwa, Al-Farabi membedakan antara jiwa kholidah dan jiwa fana. Jiwa khalidah yaitu jiwa yang mengetahui kebaikan dan berbuat baik, serta dapat melepaskan diri dari ikatan jasmani. Jiwa ini tidak hancur dengan hancurnya badan.
c. Filsafat Politik
manusia yang memiliki fungsi masing – masing. Yang paling penting dalam tubuh manusia adalah kepala, karena kepalalah (otak) segala perbuatan manusia dikendalikan, sedangkan untuk mengendalikan kerja otak dilakukan oleh hati.
Demikian juga dalam negara. Menurut Al-Farabi yang amat penting dalam negara adalah pimpinannya atau penguasanya, bersama-sama dengan bawahannya sebagaimana halnya jantung dan organ-organ tubuh yang lebih lain saling bekerja sama. Pengusa ini harus orang yang lebih unggul baik dalam bidang intelektual maupun moralnya.
Disamping daya profetik yang dikaruniakan Tuhan kepadanya, pemimpin harus memilki kualitas berupa: kecerdasan, ingatan yang baik, pikiran yang tajam, cinta pada pengetahuan, sikap moderat dalam hal makanan, minuman, dan seks, cinta pada kejujuran, kemurahan hati, kesederhanaan, cinta pada keadilan, ketegaran dan keberanian, serta kesehatan jasmani dan kefasihan berbicara.
2.2.2.3 Hasil Karya
a. Al- Jami’u Baina Ra’yani Al Hikman Afalatoni Al Hahiy wa Aristho-thails (pertemuan/penggabungan pendapat antara Plato dan Aristoteles)
b. Tahsilu as Sa’adah (mencari kebahagiaan) c. As Suyasatu Al Madinah (politik pemerintahan) d. Fususu Al Taram (hakikat kebenaran)
e. Arro’u Ahli Al Madinati Al Fadilah (pemikiran – pemikiran utama pemerintahan)
f. As Syiasyah (ilmu politik)
g. Fi Ma’ani Al Aqli (makan berfikir)
2.2.3 IBNU SINA
2.2.3.1 Sejarah Hidup
Ibnu Sina dikenal sebagai Avicenna di Dunia Barat adalah seorang filosof, ilmuwan dan juga dokter. Nama lengkapnya Abu Ali al- Husien ibn Abdullah ibn Hasan ibn Ali ibn Sina. Ia dilahirkan di desa Afsyanah, dekat Buhkara, Persia Utara pada 370 H. Ia mempunyai kecerdasan dan ingatan yang luar biasa sehingga dalam usia 10 tahun telah mampu menghafal Al-Qur’an, sebagian besar sastra Arab dan juga hafal kitab metafisika karangan Aristoteles setelah dibacanya empat puluh kali.
Pada usia 16 tahun ia telah banyak menguasai ilmu pengetahuan, sastra arab, fikih, ilmu hitung, ilmu ukur, filsafat dan bahkan ilmu kedokteran dipelajarinnya sendiri. Ibnu Sina merupakan seorang filsuf, ilmuwan, dokter dan penulis aktif yang lahir di zaman keemasan Peradaban Islam.
2.2.3.2 Filsafat atau Pemikirannya a. Kenabian
tajam mereka mengambil bagian secara langsung pengetahuan tentang peristiwa-peristiwa masa kini dan akan datang.
Kemudian mereka memiliki kesempurnaan daya intuitif, tetapi tidak mempunyai daya imajinatif. Lalu orang yang daya teoretisnya sempurna tetapi tidak praktis. Terakhir adalah orang yang mengungguli sesamanya hanya dalam ketajaman daya praktis mereka.
Nabi Muhammad memiliki syarat-syarat yang dibutuhkan seorang Nabi, yaitu memiliki imajinasi yang sangat kuat dan hidup, bahkan fisiknya sedemikian kuat sehingga ia mampu mempengaruhi bukan hanya pikiran orang lain, melainkan juga seluruh materi pada umumnya.
Dengan imajinatif yang luar biasa kuatnya, pikiran Nabi, melalui keniscayaan psikologis yang mendorong, mengubah kebenaran-kebenaran akal murni dan konsep-konsep menjadi imaji-imaji dan simbol-simbol kehidupan yang demikian kuat sehingga orang yang mendengar atau membacanya tidak hanya menjadi percaya tetapi juga terdorong untuk berbuat sesuatu.
Apabila kita lapar atau haus, imajinasi kita menyuguhkan imaji-imaji yang hidup tentang makanan dan minuman. Pelambangan dan pemberi sugesti ini, apabila ini berlaku pada akal dan jiwa Nabi, menimbulkan imaji-imaji yang kuat dan hidup sehingga apapun yang dipikirkan dan dirasakan oleh jiwa Nabi, ia benar-benar mendengar dan melihatnya.
b. Tasawuf
Dalam pemahaman bahwa jiwa-jiwa manusia tidak berbeda lapangan ma’rifahnya dan ukuran yang dicapai mengenai ma’rifah, tetapi perbedaannya terletak pada ukuran persiapannya untuk berhubungan dengan akal fa’al.
Mengenai bersatunya Tuhan dan manusia atau bertempatnya Tuhan dihati diri manusia tidak diterima oleh ibnu Sina, karena manusia tidak bisa langsung kepada Tuhannya, tetapi melalui prantara untuk menjaga kesucian Tuhan.
Ia berpendapat bahwa puncak kebahagiaan itu tidak tercapai, kecuali hubungan manusia dengan Tuhan. Karena manusia mendapat sebagian pancaran dari perhubungan tersebut. Pancaran dan sinar tidak langsung keluar dari Allah, tetapi melalui akal fa’al.
2.2.3.3 Hasil Karya
a. As Syifa (buku tentang penyembuhan) b. Nafat (ringkasan dari buku As Syifa) c. Qanun (buku ilmu kedokteran) d. Sadidiyya (buku ilmu kedokteran) e. Al Musiqa (buku tentang music) f. Al Mantiq (untuk Abul Hasan Sahli) g. Qamus el Arabi (buku filsafat) h. Uyun ul Hikmah (buku filsafat) i. Danesh Nameh (buku filsafat)
j. Mujiz kabir wa Shaghir (dasar ilmu logika) k. Hikmah el Masyriqiyyin (falsafah timur) l. Al Inshaf (buku keadilan sejati)
m.Al Hudud (memuat istilah dalam ilmu filsafat)
n. Al Isyarat wat Tanbiehat (peringatan mengenai prinsip ketuhanan dan keagamaan)
2.2.4.1 Sejarah Hidup
Nama lengkap Al Razi adalah Abu Bakar Muhammad ibnu Zakaria ibnu Yahya Al-Razi, dikenali sebagai Rhazes di dunia barat merupakan salah seorang pakar sains Iran yang hidup antara tahun 864 - 930. Ia lahir di Rayy, Teheran pada tahun 251 H./865 dan wafat pada tahun 313 H/925.
Ar Razi sejak muda telah mempelajari filsafat, kimia, matematika dan kesastraan. Dalam bidang kedokteran, ia berguru kepadaHunayn bin Ishaq di Baghdad. Sekembalinya ke Teheran, ia dipercaya untuk memimpin sebuah rumah sakit di Rayy. Selanjutnya ia juga memimpin Rumah Sakit Muqtadari di Baghdad.
Ia pernah menjadi tukang intan pada mudanya, penukar uang, dan pemain kecapi. Lalu beliau memusatkan perhatiannya pada ilmu kimia dan meninggalkannya akibat eksperimen-eksperimen yang dilakukannya yang menyebabkan mata terserang penyakit. Setelah itu, beliau mendalami ilmu kedokterang dan filsafat yang ada pada masa itu.
merupakan perkara yang lebih besar ketimbang urusan dengan materi belaka.
2.2.4.2 Filsafat atau Pemikirannya a. Lima Kekal (Al Qadim)
Al Razi memiliki banyak pemikiran filsafat, namun yang paling terkenal adalah filsafat lima kekal. Lima kekal tersebut yaitu Al-Baary Ta’ala (Allah Ta’ala), Al-Nafs Al-Kulliyyat (jiwa universal), Al-Hayuula al-Uula (materi pertama), al-Makaan al-Muthlaq (tampat/ruang absolut), dan al-Zamaan al-Muthlaq (masa absolut). Al-Baary Ta’ala (Allah Ta’ala), menurutnya Allah itu kekal karena Dia-lah yang menciptakan alam ini dari bahan yang telah ada dan tidak mungkin dia menciptakan ala mini dari ketiadaan (creatio ex nihilo).
Al-Nafs Al-Kulliyyat (jiwa universal), menurutnya jiwa merupakan sesuatu yang kekal selain Allah, akan tetapi kekekalannya tidak sama dengan kekekalan Allah.
Al-Hayuula al-Uula (materi pertama), disebut juga materi mutlak yang tidak lain adalah atom-atom yang tidak bisa dibagi lagi, dan menurutnya mengenai materi pertama, bahwasanya ia juga kekal karena diciptakan oleh Pencipta yang kekal.
atau yang mengalir (jauhar yajri), pembagian yang kedua yaitu waktu mahsur. Waktu mahsur adalah waktu yang berlandaskan pada pergerakan planet-planet, perjalanan bintang-bintang, dan mentari. Waktu yang kedua ini tidak kekal. Menurutnya, bahwasanya waktu yang kekal sudah ada terlebih dahulu sebelum adanya waktu yang terbatas.
2.2.4.3 Hasil Karya
Al Razi memiliki banyak karya yang berupa buku – buku dalam bidang kedokteran, fisika, logika, matematika dan astronomi. Adapun buku – buku itu diantaranya sebagai berikut:
a. At Thibb Al Ruhani b. Al Shirath Al Dawlah c. Amarah Al Iqbal Al Dawlah d. Kitab Al Ladzdzah
e. Maqalah Fi Ma Ba’d Al Thabi’iyyah f. Al Shukuk ‘ala Proclus
2.2.5 IBNU MISKAWAIH
2.2.5.1 Sejarah Hidup
kekhalifahan Abassiyyah yang berlangsung selama 524 tahun, yaitu dari tahun 132 sampai 654 H /750-1258 M.
Ibnu Miskawaih lebih dikenal sebagai filosof akhlak daripada sebagai cendekiawan muslim yang ahli dalam bidang kedokteran, ketuhanan, maupun agama. Dia adalah orang yang paling berjasa dalam mengkaji akhlak secara ilmiah. Bahkan pada masa dinasti Buwaihi, dia diangkat menjadi sekretaris dan pustakawan. Dulu sebelum masuk Islam, Ibnu Miskawaih adalah seorang pemeluk agama Magi, yakni percaya kepada bintang-bintang.
2.2.5.2 Filsafat atau Pemikirannya a. Konsep Tentang Tuhan
Tuhan menurut Ibnu Maskawaih adalah zat yang tidak berjisim, Azali, dan Pencipta, tidak terbagi-bagi dan tidak mengandung kejamakan dan tidak satu pun yang setara dengan-Nya. Menurut Ibnu Miskawaih, Tuhan adalah zat yang jelas atau tidak jelas. Jelas karena Tuhan memiliki sifat yang haq (benar), sedangkan tidak jelas berarti karena kelemahan akal manusia untuk menangkap keberadaan Tuhan serta banyaknya kendala kebendaan yang menutupinya.
b. Konsep Tentang Akhlak
menekankan pentingnya pendidikan akhlak pada masa kanak – kanak.
c. Konsep Tentang Manusia
Pemikiran Ibnu Miskawaih tentang konsep manusia tidak jauh berbeda dengan pemikiran para filosof yang lain. Menurutnya, manusia memiliki tiga daya yang saling saling berhubungan satu sama lain, diantaranya yaitu daya nafsu (al-nafs al-bahimiyyat) sebagai daya yang paling rendah; daya berani (nafs al-sabu’iyyat) sebagai daya pertengahan dan daya berpikir (al nafs al nathiqah) sebagai daya yang paling tinggi. Sama halnya dengan Al Razi, Ibnu Maskawaih juga memadukan pemikiran dari Plato, Aristoteles, Phytagoras, Galen dan para filosof lain. Manusia memiliki jiwa yang bersifat kekal dan tidak hancur dengan kematian jasad. Jiwa berbeda dengan jasad. Ibnu Miskawaih mengemukakan argumennya mengenai perbedaan jiwa dengan jasad, yaitu sebagai berikut:
a) Indera sebagai penerima suatu rangsangan
b) Kelemahan Fisik yang disebabkan usia tua tidak mempengaruhi kekuatan mental
c) Jiwa memahami proposisi – proposisi tertentu yang tidak berhubungan dengan data – data inderawi.
2.2.5.3 Hasil Karya
Dalam buku The History of the Muslim Philoshopy disebutkan bahwa karya tulisannya yaitu sebagai berikut :
a. Al-Fauz al-Akbar, al-Fauz al-Asghar, Tajaarib al-Umaan ( sebuah sejarah tentang banjir besar yana ditulis pada tahun 369 H/ 979 M)
c. Tartiib al-Sa’adat ( isinya ahlak dan politik ) d. al-Mustaufa ( isinya syair-syair pilihan )
e. al-Jaami’, al-Siyaab, On the Simple Drugs ( tentang kedokteran )
f. On the composition of the Bajats ( tentang kedokteran ) g. Kitaab al-Ashribah ( tentang minuman )
h. Tahziib al-Akhlak ( tentang akhlak )
i. Risaalat fi al-Lazza wa al-Aalam fil jauhar al-Nafs j. ajwibaat wa As’ilat fi al-Nafs wa al-‘Aql
k. Al-Jawaab fi Al-Masaa’il al-Salas
l. Risaalat fi Jawaab fi Su’al Ali ibnu Muhammad Abuu Hayyan al-Shufii fi HAqiiqat al-‘Aql
m. Tharathat al-Nafs
2.2.6 IBNU RUSYD
2.2.6.1 Sejarah Hidup
tokoh keilmuwan. Ayah dan Kakek Ibnu Rusyd adalah seorang mantan hakim di Andalus.
Pada Tahun 565 H/1169 M, Ibnu Rusyd diangkat menjadi seorang hakim di Seville dan Cordova dan diangkat menjadi ketua mahkamah agung di Qadhi al-Qudhat di Cordova pada tahun 1173 M. Faktor yang menjadikan Ibnu Rusyd menjadi seorang ilmuwan adalah karena Ibnu Rusyd dilahirkan di dalam kalangan keluarga ilmuwan. Disamping itu, yang menjadi faktor utama adalah karena kecerdasan dalam berpikir dan kejeniusan otaknya. Semenjak kecil Ibnu Rusyd menghabiskan waktunya untuk belajar, membaca dan berpikir.
Dalam karir kehakimannya, Ibnu Rusyd mengalami masa kelam yaitu dituduh kafir. Sebagai hukumannya, Ibnu Rusyd dibuang ke Lucena dan jabantannya sebagai hakim mahkamah agung dicopot serta semua buku karyanya dibakar. Pada tahun 1197 M, Khalifah mencabut semua hukumannya dan mengembalikan posisi jabatan Ibnu Rusyd. Ibnu Rusyd wafat pada tanggal 10 Desember 1198 M/ 9 Shafar H di Marakesh.
2.2.6.2 Filsafat atau Pemikirannya
a. Pemikiran Epistemologi Ibnu Rusyd
Rusyd memaparkan tiga cara manusia dalam memperoleh pengetahuan, diantaranya sebagai berikut:
a. Metode Al – Khatabiyyah (retorika) b. Metode Al- Jadaliyah (dialektika)
c. Metode Al – Burhaniyyah (demonstrative)
Menurut Ibnu Rusyd, ketiga metode tersebut telah dipergunakan oleh Allah sebagaimana yang terdapat dalam Al – Qur’an. Allah memperkenalkan ketiga metode tersebut karena tingkat pengetahuan dan kemampuan intelektual manusia yang berbeda – beda. Ibnu Rusyd berpendapat bahwa adanya lafaz dhahir (eksoteris) dalam nash perlu dita’wil agar diketahui makna bathiniyyah (esoteris) yang bertujuan untuk menyelaraskan keberagaman kemampuan penalaran manusia dan perbedaan karakter dalam menerima kebenaran.
b. Metafisika
Ibnu Rusyd berependapat bahwa Allah adalah penggerak pertama (muharrik al-awwal). Wujud Allah ialah esa (satu). Konsep Ibnu Rusyd tentang ketuhanan diambil dari pemikiran Aristoteles, Plotinus, Al Farabi dan Ibnu Sina. Bukan berarti plagiat, tetapi sebagai referensi pemikirannya tentang konsep ketuhanan. Dalam pembuktian adanya Tuhan, Ibnu Rusyd memaparkan beberapa dalil sebagai berikut:
a. Dalil Wujud Allah (Ibnu Rusyd mengemukakan tiga dalil yang menurutnya sesuai dengan Al – Qu’an)
b. Dalil ‘Inayah Al – Ilahiyah (pemeliharaan Tuhan). Dalil ini mengkaitkan bahwa segala sesuatu dijadikan untuk kelangsungan hidup manusia.
ciptaan Allah, maka ia wajib mengetahui hakikat semua ciptaan Allah.
d. Dalil Harkah (gerak). Dalil ini menjelaskan bahwa gerak adalah keadaan tidak tetap terhadap suatu keadaan. Ibnu Rusyd berkesimpulan sama dengan Aristoteles bahwa gerak itu qadim.
Sifat – sifat Allah. Untuk mengenal sifat - sifat Allah, Ibnu Rusyd mengatakan bahwa orang harus menggunakan tasybih dan tanzih.
c. Tanggapan Terhadap Al – Ghazali
Ibnu Rusyd terkenal sebagai seorang filosof yang menentang Al – Ghazali. Ibnu Rusyd menuliskan beberapa pendapatnya yang menentang pemikiran Al – Ghazali dalam buku – buku karyanya diantaranya yang berjudul Tahafut Al-tahafut. Karena hal inilah, maka menimbulkan perdebatan diantara Al – Ghazali dan Ibnu Rusyd. Ada 20 persoalan yang menjadi yang menjadi perdebatan yaitu sebagai berikut:
a) Alam qadim
b) Keabadian alam , masa dan gerak
c) Konsep Tuhan sebagai sang pencipta dan alam sebagai produk
d) Pembuktian eksistensi penciptaan alam e) Argumen rasional bahwa Tuhan itu satu f) Penolakan akan sifat – sifat Tuhan
g) Kemustahilan konsep genus kepada Tuhan
h) Wujud Tuhan adalah sederhana, murni, tanpa kuiditas atau esensi
i) Argumen nasional bahwa Tuhan bukan tubuh
k) Pengetahuan Tuhan selain diri-Nya
l) Pembuktian bahwa Tuhan mengetahui diri-Nya sendiri m) Tuhan tidak mengetahui perincian segala sesuatu
melainkan secara umum n) Langit adalah makhluk hidup o) Tujuan yang menggerakkan
p) Jiwa – jiwa langit mengetahu particular – particular yang bermula
q) Kemustahilan perpisahan dari sebab alami peristiwa – peristiwa
r) Jiwa manusia adalah subtansi spiritual yang ada dengan sendirinya, tidak menempati ruang, tidak terpateri pada tubuh dan bukan tubuh
s) Jiwa manusia setelah terwujud tidak dapat hancur t) Penolakan terhadap kebangkitan jasmani
2.2.6.3 Hasil Karya
a. Al – Kasyf’an Manahij al-Adillat fi’Aqaid al-Millat (kiitikan terhadap metode para ahli ilmu kalam dan sufi)
b. Fashl maqal fi mabain Hikmah wa Syariah min al-Ittishal (metodelogi terhadap pemikiran agama dan filsafat) c. Tahafut al-tahfut (Kritikan terhadap Al-Ghazali)
d. Bidayat al-Mujahid wa Nihayat al-Muqtashid (fiqih)
BAB 3 PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Melalui penjelasan diatas, maka penulis berkesimpulan bahwa setelah berakhirnya atau tidak adanya peletak filsafat ilmiah, muncullah beberapa para filosof islam yang menemukan banyak pengetahuan dengan karyanya yang memuat berbagai ilmu – ilmu pengetahuan terutama dalam bidang pendidikan. Bidang tersebut adalah bidang ilmiah, bidang astronomi, bidang fisika, bidang ilmu pengetahuan alam, bidang matematika, bidang kedokteran, bidang farmasi, dan lain sebagainya.
3.2 Saran
Dari penjelasan yang penulis paparkan diatas mengenai tokoh-tokoh filsafat islam serta pemikiran dan karyanya, penulis telah menarik kesimpulan mengenai isi dari makalah ini. Isi dan kesimpulan yang penulis paparkan bisa saja berubah apabila ditemukan data yang lebih akurat dan valid dari yang telah ada dalam makalah kami ini. Karena itu janganlah terlalu berpegang pada makalah ini yang tentunya memiliki banyak kekurangan, baik yang diketahui ataupun tidak diketahui, maka bacalah juga makalah, buku, artikel ataupun bacaan lain yang berhubungan dengan materi yang penulis bahas ini yang tentunya akan menambah pengetahuan kita bersama.
DAFTAR PUSTAKA
http://mahasiswa.ung.ac.id/291413017/home/2014/4/1/makalah-dasar-pemikiran-dan-karya-tokoh-filsafat-islam.html diakses pada tanggal 19 November 2015 pukul 21.09 WIB
http://digilib.unm.ac.id/files/disk1/5/universitas%20negeri%20makassar-digilib-unm-abdulhakim-206-1-al-kindi.pdf diakses pada tanggal 19 November 2015 pukul 22.01 WIB
https://makinbill.files.wordpress.com/2012/10/filsafat-dunia-timur-islam-2-al-farabi.pdf diakses pada tanggal 20 November 2015 pukul 09.20 WIB