• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEJARAH ILMU EKONOMI ISLAM PADA MASA RAS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "SEJARAH ILMU EKONOMI ISLAM PADA MASA RAS"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

SEJARAH ILMU EKONOMI ISLAM PADA MASA RASULULLAH 1. Pengertian Sejarah

Menurut etimologi, sejarah dalam bahasa Arab disebut tarikh, yang bermakna ketentuan masa. Kata tarikh bermakna juga perhitungan tahun. Dalam Al-Quran sejarah disebut qashash, sebagaimana firman Allah SWT.: “Maka bacalah kisah-kisah tersebut.(QS.6:130)

Al-Quran mengandung nilai-nilai transhistoris, artinya Al-Quran diturunkan dalam realitas sejarah. Sebab Al-Quran turun sebagai respon konkret terhadap sejarah kurun waktu, peristiwa tertentu, dan tempat tertentu.

Literatur Inggris menyebutkan sejarah dengan istilah history, yang berarti pengalaman masa lampau dari umat manusia ( the past experience of mankind).

Menurut terminologi sejarah berarti keterangan yang telah terjadi di kalangan masyarakat pada masa lampau atau masa sekarang. Pengertian sejarah selanjutnnya adalah catatan yang berhubungan dengan kejadian masa lampau yang diabadikan dalam laporan-laporan tertulis dan dalam ruang lingkup yang luas. Sebagai cabang ilmu pengetahuan, sejarah mengungkapkan peristiwa-peristiwa masa silam, baik peristiwa sosial, politik, ekonomi, maupun agama dan budaya dari suatu bangsa, Negara, atau dunia.

Sayyid Quthb dalam bukunya konsepsi sejarah dalam Islam mengatakan bahwa sejarah bukanlah peristiwa, melainkan penafsiran terhadap peristiwa-peristiwa, dan pengertian mengenai hubungan-hubungan nyata dan tidak nyata, yang meyakini seluruh bagian serta memberinya dinamisme dalam waktu dan tempat. Namun realitasnya, sejarah adalah science conjecturale atau pengetahuan dugaan. Artinya, kebenaran sejarah tidak seperti kebenaran ilmu eksperimental.1

Banyak pula yang mengakui bahwa istilah sejarah berasal dari bahasa Yunani, historia. Dalam bahasa Inggris dikenal dengan history, bahasa Prancis historie, bahasa Italia storia, bahasa Jerman geschichte, dan bahasa Belanda dikenal gescheidenis.2

2. Objek Sejarah Pendidikan Islam

Sejarah biasanya ditulis dan dikaji dari sudut pandang suatu fakta atau kejadian tentang suatu fakta atau kejadian tentang peradaban bangsa, maka objek sejarah pendidikan Islam mencakup fakta-fakta yang berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam, baik formal maupun non formal, dengan demikian, akan diperoleh apa yang disebut sejarah serba objek. Dan hal ini sejalan dengan peran agama Islam sebagai agama dakwah penyeru kebaikan pencegah kemungkaran , menuju kehidupan sejahtera lahir batin (material dan spiritual), namun sebagai cabang ilmu pengetahuan, objek sejarah pendidikan Islam umumnya tidak jauh berbeda dengan objek yang dilakukan dalam objek-objek sejarah pendidikan. 3

Metode sejarah pendidikan Islam dapat pula di kategorikan kepada:

1 Ramayulis, Sejarah Pendidikan Islam,(Jakarta: Radar Jaya, 2012), hal 1-2.

2 . Aam Abdillah, Pengantar Ilmu Sejarah, (Bandung: Pustaka Setia,2012), hal 13.

(2)

a. Teknik pengumpulan data 1. Dokumentasi

2. Wawancara b. Teknik analisis data

1. Content analysis

Data yang diperoleh selanjutnya diolah dan dianalisis dengan teknik analisis isi (Content analysis).

2. Hermeneutik analysis

Secara sederhana hermeneutik dipahami sebagai cara untuk menafsirkan teks masa silam dan menerangkan perbuatan pelaku sejarah. Richard E. Palmer mengajukan dua pengertian hermeneutik yaitu pertama; hermeneutic sebagai suatu prinsip-prinsip metodologi penafsiran yang bersifat umum, dan kedua, hermeneutik sebagai pencarian filosofis tentang karakter dan kondisi yang dibutuhkan untuk semua aktivitas pemahaman (understanding).

Sejalan dengan itu, Carl Breaten, mendefinisikan hermeneutik sebagai ilmu pengetahuan yang memikirkan tentang bagaimana menjadikan teks atau peristiwa (budaya) yang terjadi pada masa lalu dapat dipahami pada masa sekarang sebagaimana makna asal pada masanya.

Dalam penelitian ini pendekatan hermeneutik sangat berguna untuk mengeksplorasi, menafsirkan dan menganalisis peristiwa maupun para tokoh pelaku sejarah yang tertuang dalam bentuk teks (buku).

Metode penulisan sejarah :

Dalam penulisan sejarah pendidikan Islam metode yang biasa digunakan adalah : a. Metode deskriptif

Dengan metode ini ditunjukkan untuk menggambarkan apa adanya tentang sejarah pendidikan Islam, maksudnya ajaran Islam sebagai agama samawi yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. dalam kitab suci Al-Quran dan Al-Hadits terutama yang berhubungan pertumbuhan dan perkembangnya melalui pendidikan harus dijelaskan sebagai mana adanya, dengan tujuan untuk memahami makna yang terkandung dalam sejarah tersebut.

b. Metode Komperatif

Metode ini merupakan metode yang berusaha membandingkan sebuah perkembangan pendidikan Islam dengan lembaga-lembaga Islam lainnya. Melalui metode ini dimaksudkan bahwa ajaran-ajaran Islam tersebut dikomparasikan dengan fakta-fakta yang terjadi dan berkembang dalam waktu serta tempat-tempat tertentu untuk mengetahui adanya persamaan dan perbedaan dalam suatu permasalahan tertentu yang menghubungkan secara

1. Ilmu-ilmu yang berkaitan dengan sejarah pendidikan islam: a. Sejarah kebudayaan

Iilmu politik

b. Ilmu filsafat sejarah.4

(3)

Masyarakat Arab sebelum Islam disebut masyarakat jahiliah, yang dikenal dengan masa kebodohan , ketidaktahuan, atau kebiadaban, pada saat itu bangsa arab tidak pandai baca tulis, mereka juga ikut agama watsani, yang bertuhan kepada banyak berhala serta dikenal dengan prilaku kasar, bermoralitas rendah.

Di segi ekonomi mengikuti kondisi sosial,yang bisa dilihat dari jalan kehidupan bangsa Arab, perdagangan merupakan sarana yang paling dominan untuk memenuhi kebutuhan hidup, jalur-jalur perdagangan tidak bisa dikuasai begitu saja kecuali memang sanggup memegang kendali keamanan dan perdamaian. Sedangkan kondisi yang aman sepertinya tidak pernah terwujud di jazirah Arab kecuali di bulan suci. Pada saat suci itulah dibuka pasar-pasar yang terkenal di Arab seperti Ukadz, Dzilmajaz, Madinah, dan lainnya. Mereka tidak menguasai perindustrian dan kerajinan. Kebanyakan hasil kerajinan yang ada di Arab, seperti jahit-menjahit, menjamak kulit, dan lainnya berasal dari daerah Yaman, Hirah, dan Syam. Sekalipun begitu di tengah jazirah Arab ada pertanian dan pengembalaan hewan ternak. Sedangkan wanita-wanita Arab hanya bekerja dalam pekerjan pemintalan benang. Kekayaan-kekayaan yang dimiliki seseorang mampu memecahkan peperangan. Kemiskinan, kelaparan, dan orang-orang telanjang merupakan pemandangan yang biasa di tengah masyarakat.

Perikemanusiaan mengarah kepada sifat kebinatangan dan kebuasan, yang kuat menindas yang lemah, yang kaya memeras yang miskin, yang berkuasa menginjak-injak yang dikuasainya, sehingga persaudaraan menjadi permusuhan, persatuan menjadi perpecahan, kesayangan menjadi kebengisan.

Menurut Abudin Nata dan Fauzan, dalam hal perekonomian bangsa Arab praIslam berada dalam kondisi kesesatan, terlihat dalam menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang atau sesuatu yang diperlukan, seperti mencuri, berjudi, merampok, menipu, memeras, atau melipat gandakan bunga (riba) kepada orang yang meminjamkan uang kepadanya. Praktek ekonomi demikian itu pada tahap selanjutnya menimbulkan kesenjangan sosial antara kaum yang kaya raya dengan kaum yang miskin . kasus-kasus diatas, sesungguhnya merupakan indikasi masyarakat yang jauh dari aturan dan nilai-nilai luhur.5

a. Deskripsi Kehidupan Ekonomi Bangsa Arab

Sebelum lahirnya Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW., bangsa Arab dikenal sebagai bangsa yang sudah memiliki kemajuan dalam bidang ekonomi, letak geografis yang cukup strategis membuat Islam yang diturunkan di Mekkah menjadi cepat tersebar luas ke berbagai wilayah disamping cepatnya laju perluasan wilayah yang dilakukan oleh umat Islam. Bahkan, bangsa Arab telah dapat mendirikan kerajaan, diantaranya kerajaan Saba’, Ma’in dan Qutban serta Himyar yang semuanya berada diwilayah Yaman. Di sisi lain, kenyataan bahwa Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. dan diturunkan dalam konteks geografis Arab, mengimplikasikan sebuah asumsi bahwa suatu pemahaman yang koprehensif terhadap Al-Quran hanya mungkin dilakukan dengan melacak pemaknaan dan pemahaman pribadi, masyarakat dan lingkungan mereka yang menjadi audien pertama Al-Quran, yaitu Muhammad SAW. dan masyarakat Arab saat itu dengan segala kultur dan tradisinya untuk memiliki pengertian yang sebenar-benarnya tentang asal mula Islam, satu hal yang perlu diketahui adalah keadaan Arab sebelum adanya Islam, Muhammad SAW., dan sejarah Islam terdahulu.

(4)

b. Pengaruh sejarah islam terhadap pembentukan sistem ekonomi islami

Terdapat hubungan pengaruh yang signifikan sejarah Arab pra-Islam terdapat perkembangan dan pembentukan islam selanjutnya. Saling mempengaruhi antar budaya menjadi mata rantai sejarah islam yang tidak terpisahkan. Fakta sejarah bahwa Arab dahulu memiliki peradaban, baik secara sendiri maupun dipengaruhi oleh budaya lain menjadi lembaran panjang dalam sejarah.

Sejarah Islam Arab adalah akibat dari pengaruh dari budaya bangsa-bangsa disekitarnya yang lebih awal maju daripada kebudayaan dan peradaban Arab, pengaruh tersebut masuk ke jazirah Arab melalui beberapa jalur, dan beberapa yang terpenting diantaranya adalah:

1. Melalui hubungan dagang dengan bangsa lain

2. Melalui kerajaan-kerajaan protektorat , Hirah dan Gassan 3. Masuknya misi Yahudi dan Kristen .6

c. Peradaban Perekonomian Pada Masa Nabi Muhammad SAW. 1. Hijrah sebagai awal membangun peradaban baru

a. Legalisasi hijrah

Peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW. yang dilegalkan oleh khalifah Umar bin Khattab, sebagai awal tahun baru dalam kalender Islam dipopulerkan sebagai tahun Hijriah yang penetapannya dilakukan sejak rasul hijrah pada tahun 622 Masehi. Diantara penetapan tersebut adalah hijrah merupakan pemisahan periode Mekkah dan Madinah.

Untuk melepaskan diri dari hegemoni kaum jahiliyah Mekkah , Nabi memutuskan untuk hijrah atas petunjuk Allah SWT. dengan meninggalkan kampung kelahiran, harta dan keluarga yang dicintainya dengan berjalan kaki tidak kurang dari 500 km menuju Madinah. Pasca hijrahnya Nabi bersama sahabat ke Madinah merupakan awal pencerahan dan perubahan nasib umat Islam. Sebab, apabila di Mekkah, umat Islam yang masih minoritas di tindas dan dimusuhi, di Madinah umat islam justru mendapat perlakuan cukup baik dari kaum Anshar.

2. Jejak rekam perekonomian Islam pada masa Muhammad SAW.

Secara simplistis, kelahiran Muhammad SAW. ke muka bumi pada hakikatnya adalah kelahiran sebuah peradaban baru yang penuh pencerahan. Jika kita mengukur kebesaran dengan pengaruh, Muhammad SAW. adalah raksasa sejarah. Beliau berjuang meningkatkan taraf hidup rohaniah dan moral suatu bangsa yang tenggelam dalam kebiadaban karena kegersangan dan keganasan gurun dengan pedoman Islam.

Tentu saja pedoman yang digunakan oleh Nabi SAW. dalam menyelesaikan persoalan tersebut adalah Quran. sekalipun demikian sebagaimana diketahui, Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. tidak sekaligus tetapi berangsur-angsur dimulai di Makkah dan diakhiri di Madinah. Atas dasar wahyu yang sudah diturunkan itulah, Nabi menyelesaikan persoalan-persoalan yang terjadi dalam masyarakat pada waktu itu, tetapi adakalanya timbul persoalan yang cara penyelesaiannya belum disebut oleh wahyu yang sudah diterima oleh Nabi. Dalam hal ini, Nabi berijtihad.

(5)

Nabi lah yang menjadi satu-satunya sumber hukum. Dalam arti lain, secara langsung pembuat hukum adalah Nabi, sedangkan Tuhan membuat hukum secara tidak langsung. Hal ini karena tugas Nabi adalah menyampaikan dan melaksanakan hukum yang di tentukan Tuhan. Setelah Nabi wafat sahabat berpegang pada Al-Quran dan sunnah yang di tinggalkan Nabi.

Masa Nabi ini terbagi menjadi dua periode, Makkah dan Madinah. periode Mekkah berlangsung selama 12 Tahun dan beberapa bulan semenjak turun wahyu yang pertama hingga Nabi berhijrah ke Madinah. Dalam periode ini, nabi telah mencurahkan perhatiannya untuk memperbaiki kepercayaan masyarakat Arab dengan menanamkan akidah (tauhid) kedalam jiwa mereka serta memalingkannya dari memperhamba diri kepada selain Allah.

Pada periode Madinah, Islam menjadi kekuatan politik. Dalam jangka waktu yang relatif singkat, Rasulullah SAW. telah menjadi pemimpin sebuah komunitas kecil yang jumlahnya terus meningkat dari waktu ke waktu. Rasullulah SAW. pun menjadi pemimpin bangsa Madinah. Ajaran Islam yang berkenaan dengan masyarakat (mu’amalah) banyak turun dikota ini. Dengan demikian selama periode Madinah, Nabi SAW. mempunyai kedudukan sebagai kepala Negara disamping pemimpin agama.7

3. Pengembangan sistem ekonomi atas petunjuk Al-Quran

Dalam tulisan Adiwarman , disebutkan bahwa untuk permulaan, Madinah merupakan Negara yang baru terbentuk dengan kemampuan daya mobilitas yang sangat rendah dari sisi ekonomi. oleh karena itu, peletakan dasar-dasar sistem keuangan Negara yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. merupakan langkah yang sangat signifikan, sekaligus brilian dan spektakuler pada masa itu. Sehingga Islam sebagai sebuah agama dan Negara dapat berkembang dengan pesat dalam jangka waktu yang relatif singkat dan dilakukan secara bersamaan.

Sistem ekonomi yang diterapkan oleh nabi Muhammad SAW. bersifat Qurani . Al-Quran yang merupakan sumber utama ajaran Islam telah menetapkan berbagai aturan sebagai hidayah (petunjuk) bagi umat manusia dalam melakukan aktivitas di setiap aspek kehidupannya termasuk di bidang ekonomi. Prinsip Islam yang paling mendasar adalah kekuasaan tertinggi hanya milik Allah SWT. semata dan manusia diciptakan sebagai khalifah-Nya dimuka bumi. Sebagai khalifah manusia telak diciptakan dalam bentuk yang paling baik dari seluruh ciptaan lainnya, seperti matahari, bulan, bintang, dan langit, telah ditakdirkan untuk dimanfaatkan oleh manusia. Sebagimana firman Allah SWT. dalam surat al-A’raf ayat 10:

اَهيِف ْمُكَل اَنْلَعَجَو ِضْرَ ْلا يِف ْمُكاّنّكَم ْدَقَلَو

َنوُرُكْشَت اَم لليِلَق ۗ َشِياَعَم

Artinya: “Dan sungguh, kami telah menempatkan kamu di bumi dan disana kami sediakan (sumber) penghidupan untukmu. (tetapi) sedikit kali kamu bersyukur”( Q.S. Al-A’raf:10).

4. Pasar pada masa Rasulullah SAW.

(6)

Bukti nyata bahwa Rasulullah SAW. sebagi pedagang adalah beliau senantiasa berada dan mengawasi pasar. Pasar memegang peranan penting dalam perekonomian masyarakat muslim pada masa Rasulullah SAW. dan khulafaur rasyidin. Bahkan, Muhammad SAW. pada awalnya adalah seorang pebisnis demikian pula Khulafaur Rasyidin dan kebanyakan sahabat. Pada negeri Syam. Kemudian sejalan dengan usianya ynag semakin dewasa, Muhammad semakin giat berdagang, baik dengan modal sendiri maupun musyarakah, dianggap cukup popular pada masyarakat Arab pada waktu itu. Salah satu mitra bisnisnya adalah Khadijah, seorang wanita pengusaha yang cukup disegani di Mekkah yang akhirnya menjadi istri beliau.

Secara faktual, selain sebagai Rasulullah SAW., beliau juga seorang pedagang professional dan selalu menjunjung tinggi kejujuran hingga mendapat julukan al-Amin (yang terpercaya). Setelah menjadi Rasul beliau memang tidak lagi menjadi pelaku bisnis secara aktif karena situasi dan kondisinya yang tidak memungkinkan. Pada awal perkembangan Islam di Mekkah, Rasulullah SAW. dan masyarakat muslim mendapat gangguan dan terror yang berat dari masyarakat kafir Mekkah, (terutama suku Quraisy, suku Rasulullah sendiri) sehingga perjuangan dan dakwah merupakan prioritas . ketika masyarakat muslim telah berhijrah ke Madinah, peran Rasulullah SAW. bergeser menjadi pengawas pasar atau al-muhtasih, beliau mengawasi jalannya mekanisme pasar di Madinah dan sekitarnya agar tetap dapat berlangsung secara Islami.

Pada saat itu, mekanisme pasar sangat dihargai, beliau menolak untuk membuat kebijakan penetapan harga manakala tingkat harga di Madinah pada saat itu tiba-tiba naik. Sepanjang kenaikan terjadi karena kekuatan permintaan dan penawaran yang murni, yang dibarengi dengan dorongan-dorongan monopolistik dan monopsonistik, tidak ada alasan untuk tidak menghormati harga pasar. Pada saat itu para sahabat berkata, “wahai Rasulullah! Tentukanlah harga untuk kita ! “ Beliau menjawab,”Allah itu sesungguhnya adalah penentu harga pasar. Penahan, pencurah, serta pemberi rezeki. Aku berharap dapat menemui Tuhanku dimana salah seorang dari kalian tidak menuntutku karena kezaliman dalam hal darah dan harta.”

Hadis diatas dengan jelas menyatakan bahwa harga pasar merupakan hukum alam (sunnatullah) yang harus di junjung tinggi. Tidak seorang pun secara individual dapat mempengaruhi pasar, sebab pasar adalah kekuatan kolektif yang telah menjadi ketentuan Allah SWT.. Pelanggaran terhadap harga pasar, misalnya penetapan harga dengan cara dan alasan yang tidak tepat, merupakan suatu ketidakadilan yang akan dituntut pertanggung jawabannya di hadapan Allah SWT.. Penjual yang menjual harga barangnya dengan harga pasar laksana berjuang dijalannya Allah SWT. (jihad fii sabilillah).8

5. Pensyariatan zakat

(7)

Situasi tersebut berubah setelah turunnya surat al-Anfal (rampasan perang) pada tahun kedua Hijriah. dalam ayat ini, Allah SWT. Menentukan tata cara pembagian harta ghanimah dengan formulasi sebagai berikut: seperlima bagian untuk Allah dan Rasul-Nya (seperti untuk Negara yang dialokasikan nagi kesejahteraan umum), dan untuk para kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan para musafir. Bagian seperlima ini dikenal dengan istilah khums

Pada tahun kedua Hijriah Allah SWT. Mewajibkan kaum muslim menunaikan zakat fitrah pada setiap bulan Ramadhan. Besar zakat ini adalah satu sha’ kurma, tepun, keju lembut, kismis; atau setengah sha’ gandum untuk setiap muslim, baik budak ataupun merdeka, laki-laki, perempuan, muda atau tua, serta dibayarkan sebelum pelaksanaan shalad ‘Id. Setelah perekonomian kaum muslim stabil, Allah SWT. Mewajibkan zakat mal atau (harta) pada tahun kesembilan Hijriah. Sekalipun demikian, sebagian besar ahli hadis cenderung berpendapat bahwa zakat mal telah ada seblum tahun kesembilan Hijriah. Maulana Abul Hasan menyatakan bahwa zakat mal diwajibkan setelah peristiwa Hijrah dan dalam kurun waktu lima tahun setelahnya. Fakta sejarah lain menyebutkan bahwa zakat telah disebutkan dalam surat-surat yang turun di Mekkah, bahkan riwayat sebelumnya telah menjelaskan hal tersebut, seperti dalam pidato Ja’far tentang zakat pada sidang di Najasyi pada tahun kelima kenabian atau pembebanan zakat dan ushr atas anggur dan kurma terhadap bani Tsaqif pada tahun ke delapan Hijriah.

Sebelum diwajibkan, zakat bersifat sukarela, yakni hanya berupa komitmen perorangan tanpa ada aturan khusus atau batasan-batasan hukum. Ketika fondasi islam telah benar-benar kokoh, Negara mulai berekspansi dengan cepat dan masyarakat beamai-ramai memeluk agama Islam. Pada tahun ke Sembilan Hijriah, Allah SWT. Menurunkan ayat yang mengatur alokasi pengeluaran zakat. Atas dasar ayat ini, Rasulullah membuat peraturan zakat yang meliputi sistem pengumpulan zakat, dan barang-barang yang dikenakan zakat, batas bebas zakat, dan tingkat presentase zakat untuk setiap barang yang berbeda-beda. Selanjutnya, Rasulullah mengutus para pengumpul zakat ke berbagai daerah dengan tugas yang jelas. Pada masa ini, pengumpulan zakat bukan merupakan pekerjaan yang memerlukan waktu khusus dan para petugasnya tidak diberikan gaji resmi, tetapi hanya memperoleh bayaran tertentu dari dana zakat.9

6. Sumber pendapatan pada masa Rasulullah

Pada masa pemerintahannya, Rasulullah SAW. menerapkan jizyah, yakni pajak yang dibebankan kepada orang-orang nonmuslim, khususnya ahli kitab, sebagai jaminan perlindungan jiwa, harta mili, kebebasan menjalankan ibadah, serta pengecualian dari wajib militer. Besarnya jizyah adalah satu dinar pertahun untuk setiap orang laki-laki dewasa yang mampu membayarnya. Perempuan, anak-anak dan pengemis, pendeta, orang tua, penderita sakit jiwa, dan semua yang menderita sakit dibebaskan dari kewajiban ini.

Diantara sumber pendapatan Negara pada masa Rasulullah SAW., zakat dan ushr (zakat hasil pertanian dan buah-buahan) merupakan dua pendapatan yang paling utamadan penting. Keduanya berbeda dengan pajak dan tidak diberlakukan seperti pajak. Zakat dan ushr merupakan kewajiban agama

9 Boedi Abdullah, Peradaban Pemikiran Ekonomi Islam, (Bandung: Pustaka Setia), 2010, hlm

(8)

dan merupakan salah satu rukun Islam. Pengeluaran untuk keduanya sudah diuraikan secara jelas dan eksplisit di dalam Al-Quran. Oleh karena itu, pengeluaran untuk zakat tidak dapat dibelanjakan untuk pengeluaran umum Negara. Lebih jauh lagi, zakat secara fundamental adalah pajak lokal.

Pada masa Rasulullah SAW., zakat dikenakan pada hal-hal berikut:

1. Benda logam yang terbuat dari emas, seperti koin, perkakas, perhiasan, atau dalam bentuk lainnya;

2. Benda logam yang terbuat dari perak, seperti koin, perkakas, perhiasan, atau dalam bentuk lainnya;

3. Binatang ternak, seperti unta, sapi, domba, dan kambing; 4. Berbagai jenis barang dagangan, termasuk budak dan hewan; 5. Hasil pertanian, termasuk buah-buahan;

6. Luqathah, harta benda yang di tinggalkan musuh; 7. Barang temuan.

Zakat emas dan perak ditentukan berdasarkan beratnya. Binatang ternak yang digembalakan secara bebas ditentukan berdasrkan jumlahnya. Barang dagangan, barang tambang, dan luqathah ditentukan berdasarkan nilai jualnya serta hasil pertanian dan buah-buahan ditentukan berdasarkan kuantitasnya. Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah telah mentapkan nisab, yakni batas terendah dari kuantitas atau nilai dari suatu barang dan jumlah dari tiap jenis binatang ternak. Nisab dan tingkat zakat, dari berbagai jenis barang, berbeda satu sama lain. 10

Selain sumber-sumber pendapatan negara tersebut, terdapat beberapa sumber pendapatan lainnya yang bersifat tambahan (sekunder). Diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Uang tebusan para tawanan perang, khususnya perang Badar. Pada perang lain tidak disebutkan jumlah uang tebusan tawanan perang, bahkan 6.000 tawanan perang Hunain dibebaskan tanpa uang tebusan.

2. Pinjaman-pinjaman (setelah penaklukan kota Mekkah) untuk pembayaran diyat kaum muslim bani Judzaimah atau sebelum pertempuran Hawazin sebesar 30.000 dirham (20.000 dirham menurut bukhari) dari Abdullah bin Rabiah dan meminjam beberapa pakaian dan hewa-hewan tunggangan dari Sufyan bin Umayyah.

3. Khums atas rikaz atau harta karun.

4. Amwal Fadilah, yakni harta yang berasal dari harta benda kaum muslim yang meninggal tanpa ahli waris atau harta seorang muslim yang telah murtad dan pergi meninggalkan negaranya.

5. Wakaf, yaitu harta benda yang didekasikan oleh seorang muslim untuk kepentingan agama Allah dan pendapatannya akan disimpan di Baitul mal.

6. Nawaib, yaitu pajak khusus yang dibebankan kepada kaum muslim yang kaya raya dalam rangka menutupi pengeluaran Negara selama masa darurat, seperti yang pernah terjadi pada masa Perang Tabuk.

7. Zakat fitrah.

(9)

Data lain menunjukkan bahwa jumlah total pendapatan Negara pada masa Rasulullah SAW. tidak bisa diketahui. Menurut para sejarahwan muslim, hal ini disebabkan beberapa alasan berikut.

1. Jumlah kaum muslim yang bisa membaca masih sedikit dari jumlah ini, orang yang dapat menulis atau mengenal aritmatika sederhana berjumlah lebih sedikit lagi.

2. Sebagian besar pendapatan bernilai setara dan didistribusikan atau diberikan dalam bentuk ytang sama.

3. Sebagian besar pendapatan zakat hanya didistribusikan secara lokal.

4. Bukti-bukti penerimaan dari berbagai daerah yang berbeda tidak umum digunakan.

5. Pada kebanyakan kasus, harta ghanimah didistribusikan berselang tidak lama setelah terjadi peperangan tertentu.

Data terperinci tentang pengeluaran pada masa pemerintahan Rasulullah SAW. juga tidak tersedia. Sekalipun demikian, hal ini tidak berarti bahwa sistem keuangan yang ada pada masa itu tidak berjalan dengan baik dan benar. Rasulullah SAW. senantiasa memberikan perintah yang jelas dan tegas kepada para petugas yang sudah terlatih mengumpulkan zakat. Dalam kebanyakan kasus, beliau menyerahkan pencatatan penerimaan harta zakat kepada masing-masing petugas. Setiap perhitungan yang ada disimpan dan diperiksa oleh Rasulullah SAW. dan setiap hadiah yang diterima oleh para pengumpul zakat akan disita, seperti yang terjadi pada Al-Lutbigha, pengumpul zakat dari bani Sulaim. Berkaitan dengan pengumpulan zakat ini, Rasulullah SAW. sangat menaruh perhatian terhadap zakat harta, terutama zakat unta. Hasil pengumpulan kharaj dan jizyah didistribusikan melalui suatu daftar pembayaran yang berisi nama-nama yang berhak menerimanya. Masing-masing menerima bagian sesuai dengan kondisi materialnya, orang yang sudah menikah memperoleh bagian dua kali lebih besar dari pada orang yang belum menikah.

6. Manajemen zakat

Pada masa Rasulullah SAW., jumlah kuda di Arab masih sangat sedikit, terutama kuda yang dimiliki oleh kaum muslim karena digunakan untuk kebutuhan pribadi dan jihad. Pada perang Badar, pasukan kaum muslim yang berjumlah 313 orang hanya memiliki dua kuda. Pada saat itu pengepungan suku bani Quraizhah (5 H), pasukan kaum muslim memiliki 36 kuda. Pada tahun yang sama, di Hudaibiyah, mereka mempunyai sekitar dua ratus kuda. Karena zakat dibebankan terhadap barang-barang yang memiliki produktivitas, seorang budak atau seekor kuda yang dimiliki kaum muslim ketika itu tidak dikenakan zakat.

(10)

Daftar pustaka

Ramayulis. 2012. Sejarah Pendikdikan Islam. Jakarta: Radar Jaya

Abdillah, Aam. 2012. Pengantar Ilmu Sejarah. Bandung: Pustaka Setia

Referensi

Dokumen terkait

Dahulu umar merupakan orang yang menentang keras ajaran islam yang dibawah oleh Rasulullah SAW, kaum Muslim saat itu mengakui bahwa Umar adalah lawan yang paling mereka

Sedangkan orang-orang Madinah (anshar) mereka adalah orang-orang kaya yang memiliki tanah dan perkebunan, maka orang-orang Anshar membagi harta mereka

Sebelum kemenangan Khmer Merah pada 1975, komunitas Muslim Kamboja sebenarnya terdiri dari kaum Cham dari bekas kerajaan Champa di Vietnam yang runtuh pada 1470 M.. Kaum Cham

Akan tetapi, anggapan mengenai memudarnya politik aliran ini, menurut penulis, hanya dapat dilihat dari sudut bahwa kalangan santri atau tepatnya, kaum Muslim yang

Setelah diangkat sebagai Khalifah Islam IV oleh segenap kaum muslimin, Ali bin Abi Thalib langsung mengambil beberapa tindakan, seperti memberhentikan para pejabat yang korup,

Secara terminologi, definisi shariah adalah peraturan-peraturan dan hukum yang telah digariskan oleh Allah, atau telah digariskan pokok-pokoknya dan dibebankan kepada kaum

Artinya: Urusan mereka dimusyawarahkan di antara mereka. Ayat di atas merupakan teks yang jelas bahwa masalah-masalah kaum muslim terutama yang penting, dilakukan dengan jalan

Banyak pendapat yang mengatakan tentang metode penulisan sejarah pada masa awal Islam, menurut Rosenthal dalam bukunya A History of Muslim Historiography, yang membahas tentang