i
PADA SISWA KELAS V SEMESTER 1
SD NEGERI 1 KARANGDUWUR TAHUN PELAJARAN 2013/2014
LAPORAN AKHIR
PENELITIAN TINDAKAN KELAS
Oleh
Widi Riani, M.Pd.
Guru SD Negeri 1 Karangduwur
UPT DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA UNIT KECAMATAN PETANAHAN
ii
1. Nama : Widi Riani, S.Pd., M.Pd.
2. NIP : 19751026 200312 2 003
3. NUPTK : 6358 7536 55300053
4. Jabatan : Guru Kelas SD
5. Judul Karya Tulis : Pembelajaran Kooperatif TGT Model Ajataka untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Matematika Materi Soal Cerita KPK dan FPB pada Kelas V Semester 1 SD Negeri 1 Karangduwur Tahun Pelajaran 2013/2014 menyatakan bahwa karya tulis tersebut asli hasil kerja sendiri, bukan jiplakan, dan belum pernah dinilai pada lomba sejenis, baik di dalam maupun di luar Kementerian Pendidikandan Kebudayaan.
Pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya dan apabila di kemudian hari terbukti tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi yang ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Mengetahui : Kepala Sekolah,
Kasino,S.Pd.SD.
NIP 19620113 198508 1 002
Karangduwur, 27 September 2013 Peserta Lomba,
iii
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT. yang telah memberikan rahmat, taufik, dan hidayah sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Penelitian Tindakan Kelas ini.
Laporan Penelitian Tindakan Kelas yang berjudul “Pembelajaran Kooperatif TGT Model Ajataka untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Matematika Materi Soal Cerita KPK dan FPB pada Siswa Kelas V Semester 1 SD Negeri 1 Karangduwur Tahun Pelajaran 2013/2014” ini disusun dalam rangka mengikuti Lomba Kreativitas Guru Tingkat Nasional tahun 2013.
Penelitian tindakan kelas ini berawal dari rendahnya aktifitas dan hasil belajar Matematika tentang Soal Cerita KPK dan FPB pada siswa kelas V SD Negeri 1 Karangduwur Kecamatan Petanahan Kabupaten Kebumen. Berdasarkan studi awal disimpulkan bahwa hal ini disebabkan pembelajaran yang abstrak, verbal, dan monoton. Padahal, anak usia sekolah dasar masih berada dalam perkembangan tahap operasional konkret. Mereka menginginkan permainan yang menyenangkan dan penuh tantangan. Untuk menjembatani ini diperlukan pembelajaran dengan model yang tepat dan menarik. Dengan model yang tepat dan menarik, aktifitas belajar siswa diharapkan meningkat sehingga berefek pada peningkatan hasil belajar.
Berpijak pada asumsi di atas penulis menggunakan model pembelajaran TGT model Ajataka pada siswa kelas V SD Negeri 1 Karangduwur. Pembelajaran kooperatif TGT model Ajataka memberikan kesempatan kepada siswa untuk berekspresi tanpa merasa takut sehingga diharapkan dapat meningkatkan aktifitas dan hasil belajar siswa
iv
1. Bapak Suprapto, S.Pd. selaku Kepala UPT Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Unit Kecamatan Petanahan;
2. Bapak Kasino, S.Pd.SD selaku Kepala SD Negeri 1 Karangduwur yang telah memberikan izin untuk melakukan penelitian Tindakan Kelas; dan
3. Rekan-rekan guru SD Negeri 1 Karangduwur dan pihak lain yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu yang telah turut membantu penyelesaian laporan ini.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis mengaharapkan kritik dan saran yang dapat menyempurnakan laporan ini.
Akhirnya, penulis berharap semoga Laporan Penelitian Tindakan Kelas ini dapat dikembangkan lebih lanjut dan dapat memberikan manfaat bagi penulis dan pembaca.
Karangduwur, 27 September 2013
v
Soal Cerita KPK dan FPB pada Siswa Kelas V Semester 1 SD Negeri 1 Karangduwur Tahun Pelajaran 2013/2014.
Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar Matematika materi Soal Cerita KPK dan FPB bagi siswa kelas V semester 1 SD Negeri 1 Karangduwur Tahun Pelajaran 2013/2014 melalui pembelajaran kooperatif TGT model Ajataka.
Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 1 Karangduwur pada tahun pelajaran 2013/2014 dengan subyek penelitian adalah siswa kelas V yang terdiri dari 20 siswa laki-laki dan 15 siswa perempuan.
Metode yang digunakan adalah metode penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus. Pada masing- masing siklus terdiri dari empat tahapan penelitian yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan deskriptif komparatif yang dilanjutkan refleksi. Deskriptif komparatif dilakukan dengan membandingkan data kondisi awal, siklus 1 dan siklus 2, baik untuk aktivitas belajar dan hasil belajar.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: pertama, pembelajaran kooperatif TGT model Ajataka dapat meningkatkan aktivitas belajar matematika materi Soal Cerita KPK dan FPB bagi siswa kelas V semester 1 SD Negeri 1 Karangduwur tahun pelajaran 2013/2014. Terbukti persentase jumlah siswa dalam kategori aktivitas belajar baik meningkat dari kondisi awal 17% menjadi 48,5% pada siklus I dan menjadi 97,14% pada siklus II atau pada kondisi akhir mengalami peningkatan sebesar 80,14% dari kondisi awal. Kedua, pembelajaran kooperatif TGT model Ajataka dapat meningkatkan hasil belajar matematika materi Soal Cerita KPK dan FPB bagi siswa kelas V semester 1 SD Negeri 1 Karangduwur tahun pelajaran 2013/2014. Terbukti persentase ketuntasan belajar siswa meningkat dari kondisi awal 40% menjadi 48,57% pada siklus I dan menjadi 97,14% pada siklus II atau pada kondisi akhir mengalami peningkatan sebesar 57,14% dari kondisi awal.
vi
Math Content KPK and FPB in Class V Semester 1 SD Negeri 1 Karangduwur Academic Year 2013/2014 .
The purpose of this study is to increase the activity and learning outcomes Math Story Problem KPK and materials for students of classes V FPB half of 1 SD Negeri 1 Karangduwur academic year 2013/2014 through a cooperative learning TGT Ajataka models .
The research was conducted in SD Negeri 1 Karangduwur in the school year 2013/2014 with research subjects were students of class V consisting of 20 male students and 15 female students.
The method used was action research method that consists of two cycles. In each cycle consists of four stages , namely research planning, action, observation, and reflection. Data were analyzed using descriptive comparative continued reflection. Comparative descriptive done by comparing baseline, cycle 1 and cycle 2, good for learning activities and learning outcomes .
These results indicate that: firs , the model Ajataka TGT cooperative learning can enhance mathematics learning activity materials and FPB KPK Story Problems for students of classes V Semester 1 SD Negeri 1 Karangduwur academic year 2013/2014. Proven percentage of students in learning activities both categories increased from baseline 17 % to 48.5 % in the first cycle and a 97.14 % in the second cycle or at the end of the condition has increased by 80.14 % from the initial conditions. Second, cooperative learning TGT Ajataka models can improve learning outcomes Story Problem KPK math materials and FPB for 1 semester of fifth grade students of SD Negeri 1 Karangduwur academic year 2013/2014. Proven to increase the percentage of students passing grade of 40 % to the initial condition 48,57% in the first cycle and a 97.14 % in the second cycle or at the end of the condition has increased by 57.14 % from the initial conditions .
vii
A.Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 3
C.Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 4
BAB II KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN ... 7
A.Kajian Teori ... 7
D.Teknik Pengumpulan Data ... 28
E. Validitas Data ... 30
F. Teknik Analisis Data ... 30
G.Indikator Kinerja... 30
H.Prosedur Penelitian ... 31
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 41
A.Deskripsi Kondisi Awal ... 41
B. Deskripsi Hasil Siklus I ... 43
C.Deskripsi Hasil Siklus II ... 58
viii
Tabel 3.3 Data Siswa Kelas V SD Negeri 1 Karangduwur ... 27
Tabel 4.1 Aktivitas belajar pada kondisi awal ... 42
Tabel 4.2 Hasil belajar kondisi awal ... 43
Tabel 4.3 Aktivitas belajar pada siklus I ... 55
Tabel 4.4 Ketuntasan belajar siswa pada siklus I ... 57
Tabel 4.5 Aktivitas belajar pada siklus II ... 69
ix
Gambar 3.2 SD Negeri 1 Karangduwur ... 23
Gambar 3.3 Denah SD Negeri 1 Karangduwur ... 25
Gambar 3.4 Diagram Siklus Pelaksanaan Tindakan Kelas ... 34
Gambar 3.5 Bagan Alur Perbaikan Pembelajaran Melalui PTK... 36
Gambar 4.1 Diagram batang hasil belajar siswa pada kondisi awal ... 43
Gambar 4.2 Foto media kartu soal ... 44
Gambar 4.3 Dokumentasi kegiatan eksplorasi ... 47
Gambar 4.4 Dokumentasi kegiatan elaborasi... 48
Gambar 4.5 Dokumentasi Kegiatan Konfirmasi ... 48
Gambar 4.6 Dokumentasi Demo Aku Sayang Semua ... 49
Gambar 4.7 Dokumentasi Kegiatan Pendahuluan ... 50
Gambar 4.8 Dokumentasi Kegiatan Eksplorasi ... 51
Gambar 4.9 Dokumentasi kegiatan elaborasi... 51
Gambar 4.10 Dokumentasi pertandingan ... 52
Gambar 4.11 Dokumentasi Kegiatan Evaluasi ... 53
Gambar 4.12 Diagram batang hasil belajar siswa ... 56
Gambar 4.13 Dokumentasi Kegiatan Pendahuluan ... 60
Gambar 4.14 Dokumentasi kegiatan apersepsi ... 61
Gambar 4.15 Dokumentasi kegiatan eksplorasi ... 62
Gambar 4.16 Dokumentasi kegiatan elaborasi... 62
Gambar 4.17 Dokumentasi kegiatan konfirmasi ... 63
Gambar 4.18 Dokumentasi Kegiatan Penutup ... 64
Gambar 4.19 Dokumentasi Kegiatan Pendahuluan ... 64
Gambar 4.20 Dokumentasi kegiatan eksplorasi ... 65
Gambar 4.21 Dokumentasi kegiatan elaborasi... 66
Gambar 4.22 Dokumentasi kegiatan konfirmasi ... 67
Gambar 4.23 Dokumentasi Kegiatan Evaluasi ... 67
Gambar 4.24 Diagram batang hasil belajar siswa ... 69
Gambar 4.25 Diagram batang aktivitas belajar siswa ... 72
x
Lampiran 2b Nilai Tes Tertulis Kondisi Awal ... 83
Lampiran 3a RPP Siklus I ... 84
Lampiran 3b Peraturan Pertandingan ... 92
Lampiran 3c Kartu Nilai Pertandingan ... 93
Lampiran 3d Kisi-Kisi Soal Evaluasi ... 94
Lampiran 3e Lembar Evaluasi Siklus I ... 95
Lampiran 3f Kunci Jawaban dan Pedoman Penskoran ... 96
Lampiran 3g Rekap Hasil Pengamatan Aktivitas Belajar Siswa ... 98
Lampiran 3h Rekap Hasil Tes Tertulis Siswa Kondisi Awal dan Siklus I ... 99
Lampiran 3i Rekap Hasil Unjuk Kerja Siswa Siklus I ... 100
Lampiran 3j Lembar Pengamatan Guru Siklus ... 101
Lampiran 3k Contoh Hasil Pekerjaan Siswa ... 104
Lampiran 4a RPP Siklus II ... 105
Lampiran 4b Peraturan Pertandingan ... 113
Lampiran 4c Kartu Nilai Pertandingan ... 114
Lampiran 4d Kisi-Kisi Soal Evaluasi ... 115
Lampiran 4e Lembar Evaluasi ... 116
Lampiran 4f Kunci Jawaban dan Pedoman Penskoran ... 117
Lampiran 4g Rekap Hasil Pengamatan Aktivitas Siswa Siklus II ... 118
Lampiran 4h Rekap Hasil Tes Tertulis Siswa ... 119
Lampiran 4i Rekap Hasil Pertandingan Siswa Siklus I dan Siklus II ... 120
Lampiran 4j Lembar Pengamatan Guru Siklus II ... 121
Lampiran 4k Contoh Hasil Pekerjaan Siswa Siklus II ... 124
Lampiran 5 Biodata Peserta ... 125
Lampiran 6 Instrumen Evaluasi Diri ... 128
Lampiran 7 Surat Pernyataan ... 130
1 A. Latar Belakang Masalah
Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 mengenai Standar Nasional Pendidikan pada pasal 19 mengamanatkan bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Sejalan dengan hal tersebut maka diharapkan guru menerapkan berbagai strategi pembelajaran yang meliputi pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran secara spesifik. Ciri model pembelajaran yang baik meliputi adanya keterlibatan intelektual-emosional peserta didik melalui kegiatan mengalami, menganalisis, berbuat, dan pembentukan sikap; adanya keikutsertaan peserta didik secara aktif dan kreatif selama pelaksanaan proses pembelajaran; guru bertindak sebagai fasilitator, koordinator, mediator dan motivator kegiatan belajar peserta didik; serta penggunaan berbagai metode, alat, dan media pembelajaran.
batas ketuntasan minimal yang ditetapkan.
Pada mata pelajaran Matematika ketuntasan belajar 70% mulai diterapkan. Pada tahun pelajaran 2013/2014, nilai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) mata pelajaran Matematika pada kelas V adalah 70. Pada semester 1 tahun pelajaran 2013/2014, hasil ulangan harian materi Soal cerita KPK dan FPB menunjukkan rata-rata nilai 58,86 dengan 14 siswa (40%) yang tuntas dan 21 siswa (60%) tidak tuntas. Hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar siswa masih rendah.
Dalam kegiatan belajar mengajar maupun dalam penugasan siswa cenderung pasif dan menunggu temannya untuk mengerjakan tugas. Beberapa siswa bahkan sama sekali tidak mengerjakan tugas dengan alasan tidak bisa atau tidak membawa buku dan lebih memilih bercakap-cakap atau bermain-main dengan teman daripada mengerjakan tugas. Dalam diskusi kelompok siswa cenderung diam, tidak aktif dan individualis. Hal ini menunjukkan aktivitas belajar siswa masih rendah.
siswa. Rendahnya aktivitas dan hasil belajar siswa dipengaruhi oleh faktor siswa dan faktor guru. Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya aktivitas dan hasil belajar siswa dari faktor guru karena guru belum menggunakan berbagai macam model dan media. Sedangkan faktor siswa adalah siswa menganggap pelajaran Matematika sulit, membosankan dan tidak menarik, materi soal cerita KPK dan FPB dianggap materi yang abstrak dan sulit. Melihat rendahnya aktivitas dan hasil belajar siswa, maka perlu dilakukan penelitian tindakan kelas oleh guru untuk memecahkan masalah tersebut. Perlu ada tindakan memanfaatkan pembelajaran kooperatif Teams Games Tournament (TGT) model Ajataka (Aku Jawab Tantangan Kamu)
untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar Matematika siswa kelas V semester 1 SD Negeri 1 Karangduwur Tahun Pelajaran 2013/2014.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, peneliti menyusun rumusan masalah sebagai berikut.
1. Apakah melalui penggunaan pembelajaran kooperatif Teams Games Tournament (TGT) model Ajataka (Aku Jawab Tantangan Kamu) dapat
meningkatkan aktivitas belajar Matematika materi Soal cerita KPK dan FPB pada siswa kelas V semester 1 SD Negeri 1 Karangduwur Tahun Pelajaran 2013/2014?
2. Apakah melalui penggunaan pembelajaran kooperatif Teams Games Tournament (TGT) model Ajataka (Aku Jawab Tantangan Kamu) dapat
pada siswa kelas V semester 1 SD Negeri 1 Karangduwur Tahun Pelajaran 2013/2014?
3. Apakah melalui penggunaan pembelajaran kooperatif Teams Games Tournament (TGT) model Ajataka (Aku Jawab Tantangan Kamu) dapat
meningkatkan aktivitas dan hasil belajar Matematika materi soal cerita KPK dan FPB pada siswa kelas V semester 1 SD Negeri 1 Karangduwur Tahun Pelajaran 2013/2014?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
a. Tujuan Umum
1) Untuk meningkatkan aktivitas belajar Matematika materi soal certia KPK dan FPB pada siswa kelas V semester 1 SD Negeri 1 Karangduwur Tahun Pelajaran 2013/2014.
2) Untuk meningkatkan hasil belajar Matematika materi soal cerita KPK dan FPB pada siswa kelas V semester 1 SD Negeri 1 Karangduwur Tahun Pelajaran 2013/2014.
b. Tujuan Khusus
1) Untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar Matematika materi soal cerita KPK dan FPB pada siswa kelas VI semester 1 SD Negeri 1 Karangduwur Tahun Pelajaran 2013/2014 melalui pembelajaran kooperatif Teams Games Tournament (TGT) model Ajataka (Aku Jawab Tantangan Kamu)
cerita KPK dan FPB pada siswa kelas V semester 1 SD Negeri 1 Karangduwur Tahun Pelajaran 2013/2014 melalui penggunaan pembelajaran kooperatif Teams Games Tournament (TGT) model Ajataka (Aku Jawab Tantangan
Kamu).
3) Untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar Matematika materi soal cerita KPK dan FPB pada siswa kelas V semester 1 SD Negeri 1 Karangduwur Tahun Pelajaran 2013/2014 melalui penggunaan pembelajaran kooperatif Teams Games Tournament (TGT) model Ajataka (Aku Jawab Tantangan
Kamu) 2. Manfaat Penelitian
a. Manfaat bagi siswa
1) Meningkatnya aktivitas belajar Matematika materi soal cerita KPK dan FPB pada siswa kelas V semester 1 SD Negeri 1 Karangduwur Tahun Pelajaran 2013/2014.
2) Meningkatnya hasil belajar Matematika materi soal cerita KPK dan FPB pada siswa kelas V semester 1 SD Negeri 1 Karangduwur Tahun Pelajaran 2013/2014.
b. Manfaat bagi guru
1) Guru dapat memanfaatkan pembelajaran kooperatif Teams Games Tournament (TGT) model Ajataka (Aku Jawab Tantangan Kamu)
2) Guru dapat memanfaatkan pembelajaran kooperatif Teams Games Tournament (TGT) model Ajataka (Aku Jawab Tantangan Kamu)
untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
3) Guru dapat memanfaatkan pembelajaran kooperatif Teams Games Tournament (TGT) model Ajataka (aku jawab tantangan kamu)
untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.
4) Guru dapat mengembangkan pembelajaran kooperatif Teams Games Tournament (TGT) model Ajataka (Aku Jawab Tantangan
Kamu)
5) Meningkatkan kinerja guru. c. Manfaat bagi sekolah
1) Meningkatkan mutu pendidikan khususnya mata pelajaran Matematika di sekolah.
7 BAB II
KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN
A. Kajian Teori
1. Model Pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) Model Ajataka (Aku Jawab Tantangan Kamu)
a. Hakikat Matematika
Pembelajaran Matematika selalu berkaiatan dengan kehidupan sehari-hari. Dari banyaknya persoalan dalam kehidupan sehari-hari, maka akan menambah pula materi pembelajaran Matematika. Kesesuaian konteks pembelajaran yang ada pada kurikulum dapat diaplikasikan dengan baik pada mata pelajaran Matematika. Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti bahwa berhasil atau tidaknya pencapaian tujuan pendidikan bergantung pada bagaimana proses belajar yang dialami siswa. Beberapa ahli memberi batasan yang berbeda tentang istilah belajar belajar merupakan peranan yang penting dalam proses pengajaran.
Menurut Slameto (2003:2) belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi di lingkungannya.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa belajar pada dasarnya mengandung makna terjadinya perubahan tingkah laku pada diri anak berkat adanya pengalaman dan latihan. Perubahan tingkah laku dalam pengertian belajar meliputi perubahan terjadi secara sadar.
Matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan, besaran, dan konsep-konsep yang saling berhubungan satu sama lainnya dengan jumlah yang banyaknya terbagi ke dalam tiga bidang yaitu aljabar, analisis, dan geometri (James dalam Ruseffendi, 1992 : 27 ).
Matematika adalah pola berpikir, pola mengorganisasikan pembuktian yang logis, matematika adalah bahasa yang menggunakan istilah yang didefinisikan dengan cermat, jelas dan akurat representasinya dengan simbol dan padat (Johnson dan Rising dalam Ruseffendi, 1992: 28)
sebelumnya yang sudah diterima, sehingga kebenaran antarkonsep dalam matematika bersifat sangat kuat dan jelas (Wahyudi, 2008: 3).
Matematika adalah bahasa simbolis yang fungsi praktisnya untuk mengekspresikan hubungan-hubungan kuantitatif dan keruangan sedangkan teoritisnya adalah untuk memudahkan berpikir (Jhonson dan Myklebust dalam Mulyono Abdurrahman, 2003: 252). Sedangkan menurut Reys dkk. dalam Ruseffendi, dkk. (1992: 28) mengemukakan bahwa “matematika adalah telaah tentang pola dan
hubungan, suatu jalan atau cara berpikir, suatu seni suatu bahasa dan suatu alat”.
Berdasarkan pengertian-pengertian yang dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa matematika adalah ilmu yang mempelajari pola berpikir, pola pengorganisasian, pembuktian yang logis, serta bahasa dan penelaahannya yang dibangun melalui proses penalaran deduktif.
matematika. (3) Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh. (4) Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah. (5) Memiliki sikap menghargai kegunaan Matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian dan minat dalam mempelajarai matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.
Matematika berfungsi untuk mengembangkan kemampuan bernalar melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi, dan eksperimen, sebagai alat pemecahan masalah melalui pola pikir dan model matematika serta sebagai alat komunikasi melalui simbol, tabel, grafik, diagram, dalam menjelaskan gagasan (Wahyudi, 2008: 3).
menyelesaikan model dan menafsirkan yang diperoleh; (4) mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah; (5) memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memilki rasa ingin tahu, perhatian dan minat dalam mempelajari matematiaka, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.
b. Pembelajaran Kooperatif Teams Games Tournament (TGT) 1) Pembelajaran Kooperatif
sebaiknya tidak lebih dari lima orang untuk menjaga kemungkinan adanya anggota yang tidak terlibat.
bekerja sama antar individu, berbicara, dan sharing dengan orang lain. Hal tersebut akan melahirkan sikap positif terhadap keanekaragaman (learning to live together).
Menurut Slavin (2005:71) dalam melaksanakan pembelajaran kooperatif di kelas ada beberapa tahap yang perlu diperhatikan sebagai berikut ini: 1) materi pelajaran dirancang untuk pembelajaran secara kelompok yang sebelumnya dibuat lebih dahulu lembar kegiatan dan lembar jawaban yang akan dipelajari, 2) menetapkan peserta didik dalam kelompok beranggotakan 4-5 orang peserta didik yang terdiri dari campuran peserta didik laki-laki dan perempuan yang memiliki prestasi belajar sedang, tinggi dan rendah juga terdiri dari katar belakang sosial yang beragam, 3) menentukan skor awal yang merupakan rata-rata peserta didik secara individual pada semester sebelumnya, 4) menyiapkan peserta didik untuk belajar kooperatif yang sebaiknya dimulai dengan latihan-latihan kerjasama kelompok masing-masing anggotanya lebih saling mengenal.
2) Teknik Teams Games Tournament (TGT)
Menurut Syaiful Bahri Djamarah (1995:5) teknik sebagai prosedur mental yang berbentuk satuan langkah yang menggunakan upaya ranah cipta untuk mencapai tujuan. Oemar Hamalik (2001:201) mengungkapkan bahwa teknik adalah keseluruhan metode dan prosedur yang menitikberatkan pada kegiatan peserta didik dalam proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan tertentu.
Berdasarkan uraian di atas, teknik adalah keseluruhan metode yang menitikberatkan pada kegiatan peserta didik dalam proses belajar mengajar yang menggunakan upaya ranah cipta untuk mencapai tujuan. Teknik pembelajaran lebih luas dari metode, karena ada prosedur untuk mencapai tujuan tertentu.
Teams Games Tournament (TGT) pada mulanya dikembangkan oleh David De Vries dan Keith Edward. Robert E. Slavin (2010:13) menguraikan bahwa teknik ini menggunakan pelajaran yang sama yang disampaikan guru dan tim kerja yang sama seperti dalam STAD, tetapi menggantikan kuis dengan turnamen mingguan, di mana siswa memainkan game akademik dengan anggota tim lain untuk menyumbangkan poin bagi skor timnya.
pertandingan akan mendapat skor 4 untuk disumbangkan kepada timnya. Selanjutnya, pada permainan berikutnya juara satu pada pertandingan pertama akan melawan juara satu dari tim lain, juara dua melawan juara dua dan seterusnya. Pada akhir game, tim dengan skor tertinggi akan mendapat sertifikat/penghargaan.
Lebih lanjut, Robert E. Slavin (2010: 169) menguraikan tentang pembelajaran kooperatif TGT sebagai berikut: (a) pengajaran: menyampaikan materi; (b) belajar tim: para siswa mengerjakan lembar-lembar kegiatan untuk menguasai materi; (c) turnamen: para siswa memainkan game akademik dalam kemampuan yang homogen, dengan meja turnamen tiga peserta; dan (d) rekognisi tim: skor tim dihitung berdasarkan skor turnamen anggota tim, dan tim tersebut akan direkognisi apabila mereka berhasil melampaui kriteria yang telah ditetapkan sebelumya.
3) Ajataka (Aku Jawab Tantangan Kamu)
perwakilan dari kelompok lain yang mempunyai kemampuan seimbang. Peserta didik yang dapat menjawab soal dengan benar dan paling cepat akan memperoleh skor 5. Selanjutnya, peserta didik berikutnya mendapat skor 4, dan seterusnya. Peserta didik yang menjawab salah mendapat skor 0. Pada akhir pertandingan, skor yang diperoleh setiap peserta didik diserahkan kepada kelompok untuk menentukan juara kelompok. Kelompok yang mendapat skor tertinggi adalah juara pertandingan.
2. Aktivitas Belajar Matematika a. Aktivitas Belajar
Diedrich dalam Nasution (1995) mengelompokkan aktivitas siswa ke dalam kategori:
1. Visual activities seperti membaca, memperhatikan: gambar, demonstrasi, percobaan, pekerjaan orang lain dan sebagainya. 2. Oral activities seperti menyatakan, merumuskan, bertanya,
memberi saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan interviuw, diskusi, interaksi dan sebagainya.
3. Listening activities seperti mendengarkan uraian, percakapan, diskusi, musik, pidato, dan sebagainya.
4. Writing activities seperti menulis cerita, karangan, laporan, angket, menyalin dan sebagainya.
6. Motor activities seperti melakukan percobaan, membuat konstruksi, model, mereparasi, bermain, berkebun, memelihara binatang, dan sebagainya.
7. Mental activities seperti menanggap, mengingat, memecahkan soal, menganalisis, melihat hubungan, mengambil keputusan dan lain sebagainya.
8. Emotional activities seperti menaruh minat, merasa bosan, gembira, berani, tenang, gugup dan lain sebagainya.
b. Aktivitas Belajar Matematika
Aktivitas belajar Matematika materi soal cerita KPK dan FPB meliputi membaca, menerjemahkan soal cerita ke dalam kalimat dan menyampaikan informasi, matematika, menyampaikan pendapat, berdiskusi, menghargai pendapat teman, mengingat, dan berkompetensi.
3. Hasil Belajar Matematika
kemempuannya bereksplorasi dan belajar dengan efektif. (d) Belajar perlu adanya interaksi siswa dengan lingkungannya.
Prinsip dalam belajar memiliki beberapa sudut pandang diantaranya belajar harus ada partisipasi aktif dari siswa dan juga motivasi yang kuat dari dalam diri siswa dan juga dari luar siswa. Hasil belajar memiliki peran penting dalam proses belajar mengajar. Penilaian hasil belajar dapat memberikan informasi kepada guru tentang kemajuan belajar dalam upaya mencapai tujuan belajar melalui berbagai kegiatan belajar mengajar. Pengertian Hasil dalam KBBI adalah sesuatu yang diadakan, dibuat, dijadikan oleh usaha. Belajar adalah usaha secara sadar yang dilakukan individu untuk memahami sesuatu melalui berbagai prosedur latihan dan pengalaman sehingga menghasilkan kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian, dan pengertian.
Menurut Oemar Hemalik (2006: 14) hasil belajar akan terjadi perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu dan dari tidak mengerti menjadi tahu dan mengerti. Sudjana dalam Padmono (2002: 37) menyatakan hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa atau mahasiswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya.
perilaku pada penyelenggaraan pendidikan di Indonesia dengan menggunakan Taksonomi Bloom adalah terdiri dari 3 ranah yaitu afektif, kognitif, dan psikomotorik. Dengan demikian pengertian hasil belajar adalah sesuatu yang diadakan atau dibuat yang dilakukan individu untuk memahami sesuatu melalui berbagai prosedur latihan dan pengalaman sehingga menghasilkan kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian dan pengertian.
Berdasarkan pernyataan diatas dapat simpulkan bahwa hasil belajar matematika adalah sesuatu yang dibuat atau diusahakan yang dicapai seseorang dalam usaha belajar suatu ilmu yang mempelajari hasil kombinasi atau hasil pemfusian atau perpaduan dari sejumlah mata pelajaran.
B. Kerangka Berpikir
Pada kondisi awal guru belum menggunakan pembelajaran kooperatif model ajataka, aktivitas dan hasil belajar matematika rendah. Agar hasil belajar matematika materi soal cerita KPK dan FPB meningkat maka diperlukan adanya tindakan yang dilakukan guru, yaitu guru menggunakan pembelajaran kooperatif Teams Games Tournament (TGT) model Ajataka (Aku Jawab Tantangan Kamu)
cerita KPK. Dari siklus I dan siklus II diharapkan aktivitas dan hasil belajar meningkat.
Pada kondisi akhir, diduga melalui penggunaan pembelajaran kooperatif Teams Games Tournament (TGT) model Ajataka (Aku Jawab Tantangan
Kamu) aktivitas dan hasil belajar matematika materi soal cerita KPK dan FPB pada siswa kelas V SD Negeri 1 Karangduwur pada semester 1 tahun pelajaran 2013/2014 dapat meningkat.
Berikut ini adalah bagan kerangka berpikir penelitian.
Gambar 2.1 Kerangka Berpikir Penelitian
C. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir di atas, peneliti menetapkan hipotesis tindakan sebagai berikut.
1. Melalui penggunaan pembelajaran kooperatif Teams Games Tournament (TGT) Model Ajataka (Aku Jawab Tantangan Kamu) dapat meningkatkan
aktivitas belajar Matematika materi soal cerita KPK dan FPB pada siswa
Guru hanya menggunakan metode ceramah dan penugasan
Guru menggunakan pembelajaran kooperatif TGT model ajataka
Diduga melalui penggunaan pembelajaran kooperatif TGT model Ajataka dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar matematika materi soal cerita KPK dan FPB
Aktivitas dan hasil belajar siswa rendah
Siklus I
Penggunaaan pembelajaran kooperatif TGT model ajataka pada materi soal cerita FPB
Siklus II
kelas V semester 1 SD Negeri 1 Karangduwur Tahun Pelajaran 2013/2014. 2. Melalui penggunaan pembelajaran kooperatif Teams Games Tournament (TGT) Model Ajataka (Aku Jawab Tantangan Kamu) dapat meningkatkan
hasil belajar Matematika materi soal cerita KPK dan FPB pada siswa kelas VI semester 1 SD Negeri 1 Karangduwur Tahun Pelajaran 2013/2014. 3. Melalui penggunaan pembelajaran kooperatif Teams Games Tournament
(TGT) Model Ajataka (Aku Jawab Tantangan Kamu) dapat
22 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Setting Penelitian 1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di UPT Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Unit Kecamatan Petanahan Kabupaten Kebumen yang dilakukan pada siswa kelas V SD. Adapun lokasi penelitian adalah di SD Negeri 1 Karangduwur. Peneliti memilih lokasi di kelas V SD Negeri 1 Karangduwur dengan alasan masalah terjadi di kelas tersebut di mana peneliti bertugas mengajar, sehingga peneliti telah memahami benar-benar kondisi dan kemampuan siswa di samping kekurangan dan kelemahannya.
Lokasi SD Negeri 1 Karangduwur terletak di Jalan Raya Puring 198 Desa Karangduwur Kecamatan Petanahan Kabupaten Kebumen. Akses menuju SD ini dapat dikatakan mudah karena terletak di daerah pemukiman penduduk.
U
Balai Desa Karangduwur
SDN 1 Karangduwur
SD Negeri 1 Karangduwur sebagai salah satu SD Negeri di UPT Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Unit Kecamatan Petanahan merupakan SD yang berprestasi di atas rata-rata. Pada tahun pelajaran 2012/2013 SD Negeri 1 Karangduwur meraih peringkat lima nilai (Ujian Nasional) UN di UPT Dinas Dikpora Unit Kecamatan Petanahan. Di samping itu, prestasi akademik dan nonakademik juga tidak ketinggalan. Berbagai macam kejuaraan pernah diraih. Salah satunya pernah mendapat medali perunggu pada OSN di Medan Sumatera Utara pada bulan Agustus 2010.
Gambar 3.2 SD Negeri 1 Karangduwur
Berikut ini adalah data kepegawaian terbaru di SD Negeri 1 Karangduwur.
Tabel 3.1 Data kepegawaian SD Negeri 1 Karangduwur
No Nama / NIP Gol.
13 TANTINAH PUJIASTUTI PTT Perpustakaan
Seperti sekolah yang lain, SD Negeri 1 Karangduwur juga mempunyai Visi dan Misi sekolah. Adapun visi dan misi tersebut adalah sebagai berikut.
a. Visi :
Mewujudkan masyarakat sekolah yang unggul, berprestasi, dan berbudaya berdasakan iman dan taqwa
b. Misi :
2) Menumbuhkan semangat keunggulan secara intensif kepada seluruh warga sekolah.
3) Menumbuhkan semangat penghayatan dan pengamalan terhadap ajaran agama yang dianut dengan mengedepankan budaya bangsa agar menjadi sumber kearifan dalam bertindak dan terciptanya kerukunan hidup beragama.
4) Membentuk tamatan yang berkepribadian unggul yang mampu mengembangkan diri dan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
Selanjutnya, secara lebih rinci peneliti meggambarkan denah lokasi kelas I sebagai subjek penelitian ini.
2. Waktu penelitian
Penelitian dilaksanakan selama tiga bulan, mulai bulan Juli sampai dengan bulan September 2013. Adapun rincian waktu dan jenis kegiatan penelitian dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 3.2 Jadwal Kegiatan Penelitian
No Jenis Kegiatan
4. Penyusunan laporan
penelitian x x x x
Berdasarkan jadwal pelaksanaan penelitian di atas, peneliti menyusunan jadwal siklus perbaikan pembelajaran sebagai berikut:
Tabel 3.3 Data Siswa Kelas V SD Negeri 1 Karangduwur
26 Grahaita Wahana Lestari P
C. Data dan Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini meliputi dua sumber yaitu (1) sumber data primer di mana data diperoleh langsung dari subjek penelitian (siswa); dan (2) sumber data sekunder di mana data diperoleh dari pengamatan teman sejawat dan wawancara dengan siswa.
D. Teknik Pengumpulan Data 1. Teknik Pengumpulan Data
a. Data Kuantitatif
1) Data tentang hasil belajar siswa dengan teknik tes tertulis Pemberian tes dimaksudkan untuk mengukur seberapa jauh hasil yang diperoleh siswa setelah kegiatan pemberian tindakan. Tes awal diberikan pada awal kegiatan penelitian untuk mengidentifikasi pengetahuan siswa tentang KPK dan FPB dan setiap akhir siklus untuk mengetahui peningkatan mutu hasil belajar siswa. Dengan perkataan lain, tes disusun dan dilakukan untuk mengetahui tingkat perkembangan hasil belajar siswa sesuai dengan siklus yang ada.
2) Data tentang penilaian kegiatan siswa dengan menggunakan lembar penilaian kegiatan siswa baik individu maupun kelompok.
3) Pengamatan
melaksanakan proses belajar mengajar berlangsung. Pengamatan dilakukan oleh teman sejawat yang diminta sebagai observer dengan mengambil tempat duduk paling belakang. Dalam posisi itu, observer dapat secara lebih leluasa melakukan pengamatan terhadap aktivitas belajar mengajar siswa dan guru di kelas.
Pengamatan terhadap guru difokuskan pada kegiatan guru dalam melaksanakan pembelajaran model TGT bermedia Tabu. Pengamatan terhadap kinerja guru juga diarahkan pada kegiatan guru dalam menjelaskan pelajaran, memotivasi siswa, mengajukan pertanyaan, dan menanggapi jawaban siswa, mengelola kelas, memberikan latihan dan umpan balik, dan melakukan penilaian terhadap hasil belajar siswa. Sementara itu, pengamatan terhadap siswa difokuskan pada tingkat partisipasi siswa dalam mengikuti pelajaran, seperti yang terlihat pada keaktifan bertanya dan menanggapi rangsang baik yang datang dari guru atau teman lain, keaktifan siswa dalam mengerjakan tugas, dan sebagainya. 2. Alat Pengumpulan Data
a. Data Kuantitatif
1) Data hasil belajar siswa dengan teknik tes menggunakan satu soal uraian dan tiap siklus.
b. Data Kualitatif
1) Data hasil aktivitas belajar siswa dengan lembar pengamatan oleh pengamat.
2) Data hasil pengamatan proses pembelajaran oleh pengamat. E. Validitas Data
Teknik validasi yang diguakan adalah trianggulasi. Adapun trianggulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah trianggulasi data. Trianggulasi data (sumber) dilakukan dengan cara mengumpulkan data sejenis dari sumber berbeda. Dengan teknik ini diharapkan dapat memberikan informasi yang lebih tepat sesuai keadaan siswa.
F. Teknik Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini menggunakan dua teknik analisis. Data kuantitatif diolah melalui analisis deskriptif komparatif yaitu membandingkan nilai tes kondisi awal, nilai tes setelah siklus I, dan siklus II, sedangkan data kualitatif hasil pengamatan diolah menggunakan analisis deskriptif kualitatif berdasarkan hasil observasi dan refleksi dari tiap-tiap siklus.
G. Indikator Kinerja
adalah peningkatan hasil belajar siswa baik secara individual maupun klasikal serta ketuntasan belajar siswa. Siswa dinyatakan tuntas belajar jika telah mencapai tingkat pemahaman materi 70% ke atas yang ditunjukkan dengan perolehan nilai formatif 70 atau lebih.
Kriteria yang digunakan untuk mengukur tingkat keberhasilan perbaikan pembelajaran adalah sebagai berikut:
1. Perlakuan yang dilaksanakan dinyatakan dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa jika minimal 90% dari jumlah siswa, menunjukkan respon, tanggapan dan opini yang menunjukkn kesetujuannya melalui pengamatan.
2. Perlakuan yang dilaksanakan dinyatakan dapat meningkatkan hasil belajar siswa jika ada peningkatan hasil belajar secara individual dan klasikal, serta minimal 90% dari jumlah siswa tuntas dalam belajar. H. Prosedur Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu metode Penelitian Tindakan Kelas. Dalam penelitian ini tindakan yang akan peneliti lakukan sebanyak dua siklus. Sedangkan tahapan-tahapan dalam siklus terdiri atas empat tahapan yaitu planning, acting, observating, dan reflecting.
Sebelum melaksanakan tindakan penliti melakukan persiapan awal, yaitu (1) Minta izin Kepala Sekolah untuk melakukan penelitian; (2) Menyusun Rencana Pembelajaran; (3) Menyusun perangkat pembelajaran; dan (4) Menyusun instrumen evalusi Pembelajaran.
“penelitian”, “tindakan”, dan “kelas”. Penelitian adalah kegiatan
mencermati suatu objek dengan menggunakan atuan metodologi tertentu untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat untuk meningkatkan mutu suatu hal menarik minat dan penting bagi peneliti. Tindakan adalah suatu gerak kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu, yang dalam rangkaian penelitian berbentuk siklus kegiatan. Kelas adalah sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama menerima pelajaran yang sama oleh guru. Jadi, Suharsimi (2007: 3) berkesimpulan penelitian tindakan kelas adalah suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tibdakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama. Tindakan tersebut diberikan oleh guru atau dengan arahan dari guru yang dilakukan oleh siswa.
bersifat reparatif. Artinya, penelitian yang dilakukan untuk memperbaiki proses pembelajaran agar siswa bisa mencapai hasil yang maksimal.
Selanjutnya Mohammad Asrori (2009:100) menyebutkan dalam penelitian tindakan kelas ada empat langkah tindakan yang biasanya dilakukan, yaitu: (1) perencanaan, (2) tindakan, (3) observasi atau pengamatan, (4) refleksi.
Dalam setiap tindakan yang dilakukan suatu penelitian tindakan kelas biasanya jarang yang berhasil mencapai batas ketuntasan belajar hanya dalam satu siklus saja. Oleh karena itu, penelitian tindakan kelas dilakukan secara bersiklus. Siklus adalah putaran berulang dari kegiatan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi.
Penelitian tindakan kelas dimulai dari siklus pertama. Berdasarkan pelaksanaan siklus pertama tersebut, guru akan mengetahui letak keberhasilan dan kegagalan atau hambatan yang dijumpai pada siklus pertama tersebut. Selanjutnya, guru memutuskan kembali rancangan tindakan untuk siklus kedua. Kegiatan pada siklus kedua ini dapat berupa kegiatan sebagaimana yang dilakukan pada siklus pertama, tetapi sudah dilakukan perbaikan-perbaikan atau tambahan-tambahan berdasarkan hambatan atau kegagalan yang dijumpai pada siklus pertama.
sebagaimana yang telah dilakukan pada siklus kedua setelah mengalami perbaikan terlebih dahulu.
Secara skematis langkah-langkah di atas dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 3.4 Diagram Siklus Pelaksanaan Tindakan Kelas (Mohammad Asrori, 2009:103)
Dalam pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas diperlukan teman sejawat yang berfungsi sebagai observer. Observer ini akan mengamati proses pelaksanaan perbaikan dengan menggunakan instrumen-instrumen yang telah dipersiapkan sebelumnya. Berdasarkan hasil observasi, observer akan
SIKLUS II Permasalahan
memberi masukan-masukan untuk perbaikan pada siklus berikutnya. Kegiatan ini biasanya dilaksanakan pada saat peneliti melakukan refleksi. Melalui kegiatan ini akan dapat diketahui kualitas pelaksanaan perbaikan.
Refleksi dilakukan dengan cara merenungkan kembali proses pembelajaran dari awal hingga akhir, baik mengenai kelebihan maupun kekurangannya. Dengan demikian dapat diketahui tindakan pembelajaran yang perlu diperbaiki pada siklus berikutnya.
Refleksi merupakan suatu bentuk evaluasi yang dilakukan oleh peneliti bersama observer untuk mengidentifikasi kekurangan dan kelemahan dalam pembelajaran. Identifikasi itu meliputi keterampilan membuka dan menutup pelajaran, keterampilan bertanya, keterampilan menyampaikan materi, keterampilan mengelola kelas, keterampilan menanggapi jawaban siswa, keterampilan memotivasi siswa, keterampilan mengelola waktu, keterampilan menggunakan alat peraga, keterampilan menerapkan metode dan model pembelajaran, keterampilan mengaktifkan siswa, serta keterampilan mengevaluasi siswa.
Gambar 3.5 Bagan Alur Perbaikan Pembelajaran Melalui PTK (Rusna Ristasa Augusta, 2006:46)
Prosedur perbaikan pembelajaran pada gambar di atas selanjutnya dirancang dalam tahapan sebagai berikut:
1. Mengidentifikasikan masalah, menganalisis dan merumuskan masalah serta merumuskan hipotesis.
2. Menemukan solusi pemecahan masalah yang berupa tindakan perbaikan pembelajaran.
3. Merancang skenario tindakan perbaikan yang dikemas dalam Rencana Pelaksanaan Perbaikan Pembelajaran (RPPP).
IDE AWAL
Studi Pendahuluan: 1. Proses pembelajaran
2. Tes diagnostik (diperoleh data awal)
3. Analisis dokumen 4. Wawancara dengan anak 5. Diskusi dengan teman sejawat
Pemantapan: 1. Refleksi 2. Studi leteratur
3. Diskusi solusi yang akan dipergunakan
Simpulan Tindakan Siklus III 1. Perencanaan perbaikan 2. Pelaksanaan perbaikan 3. Observasi
4. Diskusi dengan pengamat 5. Refleksi siklus III Berhasil
Belum
4. Mendiskusikan aspek-aspek yang akan diamati dengan teman sejawat (observer).
5. Melaksanakan pembelajaran, sesuai dengan skenario yang telah dirancang, dengan pengamatan oleh teman sejawat.
6. Mendiskusikan hasil pengamatan dengan teman sejawat (observer). 7. Melakukan refleksi terhadap kegiatan pembelajaran yang telah
dilaksanakan.
8. Konsultasi dengan supervisor. 9. Merancang tindak lanjut.
10. Re-planing, dan seterusnya, sampai mencapai batas kriteria yang telah ditetapkan.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu metode Penelitian Tindakan Kelas. Dalam penelitian ini tindakan yang akan peneliti lakukan sebanyak tiga siklus. Sedangkan tahapan-tahapan dalam siklus terdiri atas empat tahapan yaitu planning, acting, observating, dan reflecting.
1. Siklus I
a. Tahap perencanaan
1) Menyusun silabus dan Rencana Perbaikan Pelaksanaan Pembelajaran
2) Menyiapkan media berupa kartu soal, aturan pertandingan, dan daftar skor kelompok.
b. Tahap pelaksanaan
Tahap pelaksanaan dilaksanakan dengan mengadakan pembelajaran sesuai skenario pembelajaran pada siswa. Pembelajaran dilakukan oleh peneliti dan diamati oleh teman sejawat yang bertugas mengamati proses pembelajaran.
c. Tahap observasi
Tahap observasi dilakukan oleh teman sejawat sebagai observer dengan mengamati proses pembelajaran (aktivitas guru dan siswa). Observasi dipusatkan pada pedoman dan lembar observasi yang telah disusun. Selain itu, untuk memperoleh data yang akurat, peneliti juga bertanya jawab dengan siswa untuk mendapatkan data yang lebih lengkap.
d. Tahap refleksi
2. Siklus II
a. Perencanaan Tindakan
Pada siklus II, tahapan pelaksanaan sama dengan pelaksanaan siklus I dengan penyempurnaan pada pelaksanaan tindakan berdasarkan hasil refleksi pada siklus I. pada tahap ini, peneliti kembali menyusun Rencana Pembelajaran untuk siklus II.
b. Pelaksanaan Tindakan
Tahap pelaksanaan dilaksanakan dengan mengadakan pembelajaran sesuai skenario pembelajaran pada siswa. Pembelajaran dilakukan oleh peneliti dan diamati oleh teman sejawat yang bertugas mengamati proses pembelajaran.
c. Observasi
Tahap observasi dilakukan oleh teman sejawat sebagai observer dengan mengamati proses pembelajaran (aktivitas guru dan siswa). Observasi dipusatkan pada pedoman dan lembar observasi yang telah disusun. Selain itu, untuk memperoleh data yang akurat, peneliti juga bertanya jawab dengan siswa untuk mendapatkan data yang lebih lengkap.
d. Refleksi
41 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Kondisi Awal
1. Aktivitas belajar Matematika
Tabel 4.1 Aktivitas belajar pada kondisi awal
No. Kualifikasi Jumlah siswa
1. Kurang 17
2. Cukup 12
3. Baik 6
4. Sangat baik 0
Hasil pengamatan menunjukkan hanya terdapat 6 siswa (17%) mencapai rerata skor lebih besar dari 4,00 (kualifikasi baik). (lihat lampiran 2a). Hal ini menunjukkan aktivitas belajar Matematika masih rendah.
2. Hasil belajar Matematika
Hasil belajar pada kondisi awal diperoleh dari hasil ulangan harian pada kompetensi dasar 1.1 Menggunakan sifat-sifat operasi hitung termasuk operasi campuran, FPB dan KPK. Siswa diminta mengerjakan soal tes tertulis berbentuk uraian untuk mengetahui pengetahuan awal siswa. Ulangan harian terdiri dari 2 nomor soal uraian. Nilai ulangan harian pada materi soal cerita KPK dan FPB tersebut dianalisis untuk untuk mengetahui hasil belajar di kondisi awal sebelum tindakan dilakukan.
Masih rendahnya hasil belajar siswa dapat dilihat pada tabel 4.2. Tabel 4.2 Hasil belajar kondisi awal
No. Aspek Nilai
1. Nilai terendah 40
2. Nilai tertinggi 80
3. Rerata nilai 58,86
Data tersebut dapat divisualisasikan dengan diagram berikut:
Gambar 4.1 Diagram batang hasil belajar siswa pada kondisi awal Ketuntasan hasil belajar berdasarkan hasil tes kondisi awal adalah sebesar 40 %, terdapat 21 siswa dari 35 siswa yang belum tuntas belajar. Pada kondisi awal ini belum digunakan pembelajaran kooperatif TGT model Ajataka (Aku Jawab Tantangan Kamu) sehingga aktivitas dan hasil belajar Matematika kurang maksimal.
B. Deskripsi Hasil Siklus I 1. Tahap Perencanaan
Tahap perencanaan tindakan yang dilakukan pada siklus I meliputi penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran yang dilengkapi dengan instrumen penilaian, kartu soal, dan lembar
0 50 100
Nilai
Terendah Nilai
observasi.
Penyusunan rencana pelaksanaan perbaikan pembelajaran (RPPP) dilakukan dengan cara memperbaiki dan menyesuaikan program pembelajaran yang telah dibuat di awal semester. RPPP disusun sesuai dengan model RPP yang dilengkapi model permainan menggunakan kartu soal. (lihat lampiran 3a)
Pembuatan media kartu soal dilakukan dengan mengetik dalam komputer dan mencetaknya. Setiap kartu kata berukuran 20 cm x 14 cm. Jumlah kartu kata disesuaikan dengan jumlah kelompok yaitu 7 kartu setiap permainan/ game. Kartu kata dibuat dari kertas asturo berwarna agar menarik dan meningkatkan motivasi siswa di samping itu peneliti juga menyediakan spidol untuk menulis soal pada kartu soal. Peneliti membuat 7 set sesuai dengan meja pertandingan yang telah disiapkan.
Lembar observasi aktivitas siswa dirancang untuk melakukan pengamatan dan penilaian pada aspek diskusi, kerjasama dan keaktifan. Lembar pengamatan guru juga disiapkan untuk melakukan pengamatan terhadap proses pembelajaran dan ketempilan guru dalam membawakan pembelajaran. Diharapkan dengan lembar pengamatan ini proses pembelajaran dapat terprotet secara menyeluruh dari berbagai sudut pandang.
2. Pelaksanaan Tindakan
Tindakan yang dilakukan pada pembelajaran mengacu pada perencanaan tindakan yang telah dibuat. Materi yang disajikan pada siklus I materi soal cerita FPB. Siklus I dilaksanakan dalam 2 kali pertemuan (4 jam pelajaran), pertemuan pertama pada 23 Agustus 2013 (2 jp), pertemuan kedua pada 29 Agustus 2013 (2 jp). Ulangan harian dilaksanakan pada pertemuan kedua tanggal 29 Agustus 2013. Pembelajaran dengan model games/permainan model Ajataka (Aku Jawab Tantangan Kamu) dilaksanakan pada pertemuan pertama dan pertemuan kedua.
Pertemuan pertama, 23 Agustus 2013 1. Kegiatan Pendahuluan
fisik untuk mengikuti proses pembelajaran (melalui lagu FPB dan KPK).
Masih dalam kegiatan pendahuluan, peneliti menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu: (1) Peserta didik dapat menerjemahkan soal cerita FPB dalam kalimat matematika dengan benar, dan (2) Peserta didik dapat menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari (soal cerita) yang memuat FPB dengan benar.
Sebagai apersepsi, peserta didik diminta menjawab pertanyaan yang diberikan peneliti untuk mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari yaitu soal cerita FPB. Di sini peneliti memberikan stimulus kepada peserta didik dengan cara bertanya jawab tentang materi prasyarat, semua pendapat peserta didik dihargai. Materi prasyarat meliputi bilangan prima, faktor prima dan Faktor Persekutuan Terbesar. Tanya jawab dimunculkan dengan cara menentukan FPB oleh peserta didik secara lisan atau tertulis di whiteboard/blackboard. Peserta didik tampak semangat mengikuti pembelajaran. Mulai muncul beberapa aktivitas belajar seperti bertanya, menghitung, dan berdiskusi dengan teman satu kelompok.
2. Kegiatan Inti
secara lisan dan meminta peserta didik menerjemahkan dalam kalimat matematika. Tanya jawab dilakukan untuk meningkatkan motivasi. Guru memuji peserta didik yang menjawab dengan benar. Siswa mencari informasi tentang soal cerita FPB dari buku dan sumber lain.
Gambar 4.3 Dokumentasi kegiatan eksplorasi
Gambar 4.4 Dokumentasi kegiatan elaborasi
Setelah diskusi selesai, setiap kelompok mempresentasikan hasil yang telah didapat dengan cara memperagakannya di depan kelas, kelompok lain untuk mengikutinya sehingga temuan dari masing-masing kelompok dapat dipahami oleh kelompok lainnya. Guru memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi.
3. Kegiatan Penutup
Dengan bimbingan guru peserta didik dimotivasi membuat simpulan dengan menggunakan bahasa sendiri, di sini setiap pendapat peserta didik dihargai. Guru memberikan informasi bahwa pada pertemuan yang akan datang peserta didik akan bertanding, dimohon mempersiapkan diri dengan berlatih mengerjakan soal cerita FPB.
Guru mengucapkan terima kasih atas kesediaan peserta didik belajar bersama dan membantu teman dalam belajar. Guru menutup pelajaran dengan demo Aku Sayang Semua.
Gambar 4.6 Dokumentasi Demo Aku Sayang Semua Pertemuan kedua, 13 Agustus 2013
1. Kegiatan Pendahuluan
Guru menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran dengan bernyanyi lagu KPK dan FPB.
Gambar 4.7 Dokumentasi Kegiatan Pendahuluan
Setelah bernyanyi, peneliti mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari dan menyampaikan. Selanjutnya peneliti menyampaikan tujuan pembelajaran yang meliputi (1) Peserta didik dapat menerjemahkan soal cerita FPB dalam kalimat matematika dengan benar dan (2) Peserta didik dapat menentukan FPB dalam kehidupan sehari-hari (soal cerita) dengan benar. Menjelaskan cakupan materi
2. Kegiatan Inti
bersama dalam kelompok. Peserta didik yang sudah selesai mengerjakan membantu teman yang belum selesai belajar. Peserta didik dengan bimbingan guru mendalami materi untuk persiapan pertandingan (eksplorasi).
Gambar 4.8 Dokumentasi Kegiatan Eksplorasi
Kegiatan selanjutnya adalah berdiskusi dalam kelompok menyelesaikan soal cerita FPB. Siswa diberi kesempatan berkomunikasi dengan teman dan peneliti untuk membahas soal cerita FPB.
Pertandingan dilaksanakan dengan bertukar soal cerita yang telah ditulis pada kartu soal. Soal dijawab secara individu dari perwakilan masing-masing kelompok. Peserta didik yang akan bertanding harus mengatakan Aku Jawab Tantangan Kamu. (aturan permainan terlampir)
Gambar 4.10 Dokumentasi pertandingan
Pada tahap ini guru berperan sebagai fasilitator jalanya pertandingan yang dilakukan peserta didik, dan memastikan pertandingan berjalan lancar. Jika peserta didik ada kesulitan, guru dapat memberikan bantuan terbatas.
Peneliti berperan sebagai narasumber dan fasilitator dalam menjawab pertanyaan peserta didik yang menghadapi kesulitan, dengan menggunakan bahasa yang baku dan benar atau membantu menyelesaikan masalah. Peserta didik diberi motivasi bagi yang kurang atau belum berpartisipasi secara aktif.
a. Kegiatan Penutup
Dengan bimbingan peneliti peserta didik membuat simpulan dengan menggunakan bahasa sendiri, di sini setiap pendapat peserta didik dihargai peneliti selanjutnya membagikan lembar evaluasi dan meminta peserta didik mengerjakan
Gambar 4.11 Dokumentasi Kegiatan Evaluasi
pada pertemuan berikutnya dan menutup pembelajaran dengan demo Aku Sayang Semua
3. Hasil Pengamatan
a. Hasil Pengamatan Aktivitas Belajar Matematika
Pada siklus I pembelajaran menggunakan model TGT Ajataka menggunakan kartu soal. Pada pertemuan pertama, siswa kesulitan menyelesaikan soal cerita. Mereka kesulitan menerjemahkan soal cerita menjadi kalimat matematika. Hal ini terjadi karena siswa belum menguasai materi sepenuhnya. Sebagian siswa belum dapat menerjemahkan soal cerita menjadi kalimat matematika. Terjadi diskusi yang cukup serius dalam setiap kelompok untuk menyelesaikan soal cerita. Pada pertemuan kedua, siswa bermain TGT Ajataka (Aku Jawab Tantangan Kamu). Kerjasama yang baik
dalam kelompok terlihat pada semua kelompok. Pada putaran pertama, pertandingan belum lancar karena beberapa siswa belum memahami aturan main dengan baik. Mereka masih kebingungan untuk menilai skor perolehan.
terbaik di meja pertandingannya. Pada akhir pertandingan, Regu Kartini memimpin dengan skor 60, disusul Regu Bung Hatta dan Diponegoro dengan skor 58, Regu Fatmawati menempati urutan ketiga dengan skor 55, sedangkan Regu Soekarno menempati urutan keempat dengan skor 52. Masih adanya beberapa nilai nol menunjukkan masih ada beberapa siswa yang belum menguasai materi FPB.
Aktivitas belajar Matematika pada pembelajaran menggunakan pembelajaran kooperatif TGT model Ajataka (Aku Jawab Tantangan Kamu) diamati dengan menggunakan lembar observasi siswa. Ada tigas aspek yang diamati, yaitu diskusi, kerjasama, dan keaktifan. Hasil pengamatan aktivitas belajar nampak pada tabel berikut.
Tabel 4.3 Aktivitas belajar pada siklus I No. Kualifikasi Jumlah siswa
1. Kurang 4
2. Cukup 14
3. Baik 17
4. Sangat baik 0
Terdapat 17 siswa (48,5%) mencapai rerata skor aktivitas belajar lebih besar dari 3,00 (kualifikasi baik) pada siklus I. Rerata skor aktivitas adalah 3,62.
b. Hasil Pengamatan Hasil Belajar Matematika
divisualisasi dengan grafik berikut.
Gambar 4.12 Diagram batang hasil belajar siswa
Terdapat 17 siswa (48,57 %) memperoleh nilai hasil belajar Matematika ≥ 70 atau tuntas KKM.
4. Refleksi
a. Refleksi Aktivitas Belajar Matematika
Pada siklus I telah dilaksanakan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran TGT Ajataka pada materi soal cerita FPB. Aktivitas belajar Matematika mengalami peningkatan dibandingkan dengan kondisi awal. Jika dibandingkan dengan kondisi awal rerata skor aktivitas meningkat dari 3,00 menjadi 3,62. Pada siklus I ini, jumlah siswa yang memiliki rerata skor lebih besar dari 4,00 ada 17 siswa (48,57 %). Aktivitas belajar sebesar 48,57% belum memenuhi indikator kinerja penelitian yaitu 90% siswa mencapai skor lebih besar dari 4,00 (kualifikasi baik) pada siklus I.
b. Refleksi Hasil Belajar Matematika 0
20 40 60 80 100
Nilai
Terendah Nilai
Pada siklus I telah dilaksanakan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran TGT Ajataka (Aku Jawab Tantangan Kamu) pada materi soal cerita FPB. Hasil belajar siswa mengalami peningkatan dibandingkan dengan kondisi awal. Jika dibandingkan dengan kondisi awal, nilai terendah naik 25% dari 40 menjadi 50. Nilai tertinggi naik 26,25% dari 80 menjadi 100. Rata-rata nilai naik 18,94% dari 58,86 menjadi 70. Persentase jumlah siswa yang telah tuntas belajar juga meningkat. Ketuntasan belajar siswa pada siklus I adalah:
Tabel 4.4 Ketuntasan belajar siswa pada siklus I
Jumlah siswa Belum tuntas Tuntas Persentase ketuntasan
35 18 17 48,57 %
Ketuntasan belajar pada siklus I telah mencapai 48,57 %, berarti belum memenuhi indikator kinerja penelitian yaitu 90% siswa memperoleh nilai hasil belajar ≥ 70 pada siklus I.
c. Refleksi Tindakan Siklus I
Dalam pelaksanaan tindakan ada beberapa hal yang menjadi catatan, yaitu:
1) Ada beberapa siswa yang belum menguasai materi sehingga kebingungan pada saat pertandingan.
2) Guru perlu lebih meyakinkan siswa bahwa penguasaan materi sangat penting untuk memenangkan pertandingan 3) Guru perlu lebih memotivasi siswa yang telah menguasai
4) Guru perlu menyampaikan aturan permainan dengan jelas supaya siswa tidak kebingungan pada saat pertandingan C. Deskripsi Hasil Siklus II
1. Tahap Perencanaan
Tahap perencanaan tindakan yang dilakukan pada siklus II meliputi penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran yang dilengkapi dengan instrumen penilaian, media kartu soal, dan lembar observasi.
Penyusunan rencana pelaksanaan perbaikan pembelajaran (RPPP) dilakukan dengan cara memperbaiki dan menyesuaikan program pembelajaran yang telah dibuat pada siklus I sesuai dengan catatan yang diperoleh pada siklus I. RPPP disusun sesuai dengan model RPP yang dilengkapi model TGT pertandingan Ajataka (Aku Jawab Tantangan Kamu) menggunakan kartu soal.
Seperti pada siklus I, Pembuatan media kartu soal dilakukan dengan mengetik dalam komputer dan mencetaknya. Setiap kartu kata berukuran 20 cm x 14 cm. Jumlah kartu kata disesuaikan dengan jumlah kelompok yaitu 7 kartu setiap permainan/ game. Kartu kata dibuat dari kertas asturo berwarna agar menarik dan meningkatkan motivasi siswa di samping itu peneliti juga menyediakan spidol untuk menulis soal pada kartu soal. Peneliti membuat 7 set sesuai dengan jumlah kelompok dan meja pertandingan yang telah disiapkan. Untuk melengkapi peralatan di atas, peneliti membuat kartu nilai permainan tiap kelompok.
pengamatan dan penilaian pada aspek diskusi, kerjasama dan keaktifan. Lembar pengamatan guru juga disiapkan untuk melakukan pengamatan terhadap proses pembelajaran dan ketempilan guru dalam membawakan pembelajaran. Diharapkan dengan lembar pengamatan ini proses pembelajaran dapat terprotret secara menyeluruh dari berbagai sudut pandang.
2. Pelaksanaan Tindakan
Tindakan yang dilakukan pada pembelajaran mengacu pada perencanaan tindakan yang telah dibuat. Materi yang disajikan pada siklus II materi soal cerita KPK (Kelipatan Persekutuan Terkecil). Siklus II dilaksanakan dalam 2 kali pertemuan (4 jam pelajaran), pertemuan pertama pada 9 September 2013 (2 jp), pertemuan kedua pada 13 September 2013 (2 jp).
Ulangan harian dilaksanakan pada pertemuan kedua tanggal 13 September 2013. Pembelajaran dengan model games/permainan Ajataka (Aku Jawab Tantangan Kamu)
menggunakan Kartu soal dilaksanakan pada pertemuan kedua. Pertemuan pertama, 9 September 2013.
1. Kegiatan Pendahuluan
pembelajaran dengan menyanyikan lagu KPK.
Gambar 4.13 Dokumentasi Kegiatan Pendahuluan
Selanjutnya peneliti mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari dan menyampaikan tujuan pembelajaran yang meliputi (1) Peserta didik dapat menerjemahkan soal cerita KPK dalam kalimat matematika dengan benar dan (2) Peserta didik dapat menentukan KPK dalam kehidupan sehari-hari (soal cerita) dengan benar.
jawab dimunculkan dengan cara menentukan KPK oleh peserta didik secara lisan dan tertulis di whiteboard/blackboard.
Gambar 4.14 Dokumentasi kegiatan apersepsi 2. Kegiatan Inti
Peserta didik dengan bimbingan guru mencari informasi menerjemahkan soal cerita menjadi kalimat matematika
Peneliti menyajikan soal cerita/permasalahan dalam kehidupan sehari-hari siswa secara lisan dan meminta peserta didik menerjemahkan dalam kalimat matematika. Tanya jawab dilakukan untuk meningkatkan motivasi. Peneliti memuji peserta didik yang menjawab dengan benar.
Gambar 4.15 Dokumentasi kegiatan eksplorasi
Pada tahap ini peneliti berperan sebagai fasilitator jalanya eksplorasi yang dilakukan peserta didik, dan memastikan terjadi interaksi didalam setiap kelompok. Jika peserta didik ada kesulitan, peneliti memberikan bantuan terbatas. Setelah diskusi selesai, setiap kelompok, mempresentasikan hasil yang telah didapat dengan cara memperagakannya di depan kelas , kelompok lain untuk mengikutinya sehingga temuan dari masing-masing kelompok dapat dipahami oleh kelompok lainnya.
Peneliti melakukan konfirmasi dengan cara memberikan penguatan, penekanan ketika presentasi kelompok dilakukan. Memberikan umpan balik positif terhadap kegiatan, maupun memberikan penghargaan terhadap keberhasilan peserta didik misal dengan tepuk tangan, pujian, isyarat, dan lain-lain. Peneliti berperan sebagai narasumber dan fasilitator dalam menjawab pertanyaan peserta didik yang menghadapi kesulitan, dengan menggunakan bahasa yang baku dan benar atau membantu menyelesaikan masalah. Peserta didik diberi motivasi bagi yang kurang atau belum berpartisipasi secara aktif.
Gambar 4.17 Dokumentasi kegiatan konfirmasi
3. Kegiatan Penutup
mengucapkan terima kasih atas kesediaan peserta didik belajar bersama dan membantu teman dalam belajar.
Gambar 4.18 Dokumentasi Kegiatan Penutup Pertemuan kedua, 13 september 2013
1. Kegiatan Pendahuluan
Peneliti menyapa peserta didik dengan mengucapkan salam dan menanyakan apakah peserta didik sudah siap menerima materi pembelajaran. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari.
Peneliti menyampaikan tujuan pembelajaran yang meliputi (1) Peserta didik dapat menerjemahkan soal cerita KPK dalam kalimat matematika dengan benar dan (2) Peserta didik dapat menentukan KPK dalam kehidupan sehari-hari (soal cerita) dengan benar. Menjelaskan cakupan materi
2. Kegiatan Inti
Peneliti mempersiapkan pertandingan Ajataka (Aku Jawab Tantangan Kamu). Peserta didik diminta mencari soal cerita KPK baik dari buku ataupun sumber lain. Soal kemudian dikerjakan bersama dalam kelompok. Peserta didik yang sudah selesai mengerjakan membantu teman yang belum selesai belajar
Gambar 4.20 Dokumentasi kegiatan eksplorasi
didik yang akan bertanding harus mengatakan Aku Jawab Tantangan Kamu. Pada tahap ini peneliti berperan sebagai fasilitator jalanya pertandingan yang dilakukan peserta didik, dan memastikan pertandingan berjalan lancar. Jika peserta didik ada kesulitan, peneliti dapat memberikan bantuan terbatas.
Gambar 4.21 Dokumentasi kegiatan elaborasi
Setelah pertandingan selesai, peneliti membacakan skor perolehan masing-masing kelompok dan menentukan juara pertandingan dan memberikan umpan balik positif terhadap kegiatan, maupun memberikan penghargaan terhadap keberhasilan peserta didik misal dengan tepuk tangan, pujian, isyarat, dan lain-lain.