• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Praktikum Kimia Laju Hidrolisis

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Laporan Praktikum Kimia Laju Hidrolisis"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Laju Hidrolisis Sukrosa

Pretty Septiana*, Vera Nurchabibah, Teguh Andy A.M, Kiftiyah Yuni Fatmawardi, Nadhira Izzatur Silmi, Yuliatin, Ilham Al Bustomi

Kelompok 5, Kelas AB, Jurusan Kimia, Fakultas MIPA, Universitas Brawijaya, Jl. Veteran 65145, Indonesia

ABSTRAK

Pada percobaan ini dilakukan percobaan laju hidrolisis sukrosa untuk menentukan tetapan laju reaksi orde pertama dan mempelajari katalisis oleh ion hydrogen serta membandingkan penggunaan katalis ion hidrogen dan biokatalis dalam reaksi inversi sukrosa. Dengan cara mengukur sudut bidang perputaran cahaya menggunakan alat polarimeter, sehingga mendapatkan besar laju reaksi (k). Berdasarkan kurva hubungan antara ln(αt –α~) dengan waktu, campuran HCl dengan Sukrosa nilai konstanta laju hidrolisis yang diperoleh sebesar -0.029 S-1 Berdasarkan kurva hubungan antara ln(αt –α~) dengan waktu campuran sukrosa dengan enzim isolate diperoleh nilai K sebesar -0,0257 S-1

ABSTRACT

In this experiment carried out experiments to determine the rate of hydrolysis of sucrose first-order reaction rate constant and studying catalysis by hydrogen ions and hydrogen ions to compare the use of catalysts and biocatalysts in the reaction of sucrose inversion . By measuring the angle of rotation of the field of light using a polarimeter , so getting a big reaction rate ( k ) . Based on the relationship curve between ln ( αt -α ~ ) with time , a mixture of HCl with sucrose hydrolysis rate constant values were obtained for -0.029 S-1 Based on the relationship between the curve ln ( αt -α ~ ) with a mixture of sucrose with the enzyme isolates K values obtained by -0,0257 S-1

I. PENDAHULUAN

Kecepatan reaksi adalah perubahan konsentrasi persatuan waktu atau dapat ditulis dc/dt. Dalam reaksi kimia zat-zat kimia dapat dibagi menjadi 2 yaitu produk dan reaktan, dimana produk adalah zat yang bereaksi dan reaktan adalah zat hasil. Reaktan selalu bertambah dan produk selalu berkurang selama reaksi berlangsung sehingga kecepatan reaksinya adalah [1]:

(2)

Hidrolisis sukrosa oleh pemanasan dengan asam mineral, atau dengan enzim intervase akan menghasilkan produk campuran dari molekul yang sama yaitu glukosa dan D-Fruktosa [2]

C12H22O11 + H2 → C6H12O6 + C6H12O6 D-Glukosa D-Fruktosa

Larutan sukrosa adalah Dextrorotatory yaitu memutar bidang polarisasi kekanan tetapi selama hidrolisi menjadi leavorotatory yaitu memutar bidang polarisasi ke kiri. Perputaran spesifik dari sukrosa alalah 66,5°. D-glukosa mempunyai perputaran spesifik +52 dan D-Fruktosa sebesar 92°. Pada proses hidrolisis perputaran spesifik berubah dari +66,5 ke -20 . Tanda dari spesifik perputaran berubah dari( +) menjadi (-). Enzim yang menyebabkan inversi (perputaran)disebut enzim intervase. Laju perputaran (inversi) dapat diketahui dari bertambahnya konsentrasi fruktosa [2]

Inversi gula adalah proses hidrolisis sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa dengan bantuan katalis asam atau enzim invertase. Gula hasil invertase yang menggandung glukosa dan fruktosa dalam jumlah yang sama dinamakan gula invert[4]

Laju reaksi dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu konsentrasi, luas permukaan sentuhan, suhu, dan katalis. Oleh karena itu, reaksi kimia dapat berjalan cepat atau lambat. Dalam industri, reaksi kimia perlu dilangsungkan pada kondisi tertentu agar produknya dapat diperoleh dalam waktu yang sesingkat mungkin. Reaksi dapat dikendalikan dengan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhinya. Aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari adalah pembuatan kopi atau teh yang menggunakan pelarut bersuhu tinggi dengan tujuan untuk meningkatkan laju reaksi [5]

II. METODOLOGI

II.1. Alat dan Bahan

(3)

II.2. Prosedur kerja

Pertama dibuat 2 campuran larutan sukrosa dan HCl 4 M masing-masing 20 mL dicampurkan dalam Erlenmeyer. Pada campuran pertama dipanaskan pada suhu 70°C selama 20 menit sedangkan campuran kedua tidak dilakukan pemanasan. Dibuat 3 campuran sukrosa dan enzim isolate masing-masing 20 mL dicampurkan pada Erlenmeyer. Kemudian campuran pertama dipanaskan pada suhu 40°C, campuran kedua dipanaskan pada suhu 70°C masing – masing selama 20 menit, sedangkan pada campuran ketiga tidak dilakukan pemanasan.

Polarimeter ditentukan titik nol nya, kemudian dibersihkan tabung polarimeter dengan aquades dan diisi penuh,dilakukan pengukuran sudut polarisasi awal (α0). Setelah itu dilakukan pengukuran sudut polarisasi pada larutan Sukrosa + HCl tanpa pemanasan pada periode 0,5,10,25,40,55,70 menit. Sedangkan untuk Sukrosa + HCl pada suhu 70°C dilakukan pengukuran pada αt∞ 70°C. Pada pengukuran Sukrosa + enzim isolate tanpa pemanasan pada periode 0,5,10,25,40,55,70 menit. Sedangkan untuk Sukrosa + enzim isolate pada suhu 40°C dan70°C dilakukan pengukuran pada αt∞ 40°C dan αt∞ 70°C.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1Analisa Prosedur

Langkah kerja percobaan laju hidrolisis sukrosa yang pertama yaitu preparasi lima

larutan, yaitu HCl dengan sukrosa, HCl dan sukrosa dengan pemanasan pada temperatur

70oC, sukrosa dengan enzim, Enzim dan sukrosa dengan pemanasan pada temperatur 70oC

sukrosa dan enzim dengan pemanasan 40oC. Sukrosa digunakan sebagai larutan yang akan

diukur bidang polarisasinya. HCl digunakan sebagai katalis untuk memperpendek waktu paro

dari sukrosa sehingga reaksi berlangsung dengan cepat. Enzim digunakan sebagai biokatalis

untuk mempercepat reaksi. Pemanasan campuran HCl dengan sukrosa dilakukan pada

temperatur 70oC untuk mengukur sudut polarisasi tak hingga. Campuran enzim dengan

sukrosa dipanaskan pada temperatur 40oC karena enzim bekerja secara optimal pada

temperatur 40oC, sedangkan dipanaskan hingga 70oC untuk dibandingkan secara teori bahwa

enzim akan mengalami denaturasi pada temperatur 70oC. Kemudian, titik nol diukur untuk

mengkalibrasi polarimeter. Lalu, diukur sudut bidang polarisasi aquades sebagai alpha nol

agar dapat diketahui sudut bidang polarisasi dari sukrosa saja. Kemudian, diukur sudut bidang

polarisasi diukur pada menit ke nol hingga menit ke 70, sehingga didapatkan sudut bidang

polarisasi campuran sukrosa dengan HCL dan campuran sukrosa dengan enzim. Campuran

yang telah dipanaskan., diukur sudut bidang polarisasinya sebagai alpha tak hingga. Dalam

pengukuran sudut polarisasi, digunakan polarimeter dengan cara memutar revolver

berlawanan arah jarum jam secara konstan agar sudut bidang polarisasi yang didapatkan

(4)

karena udara didalam tabung dapat menyebabkan pembelokan cahaya yang berakibat sudut

Kurva 3. 1 Hubungan ln(αt –α~) terhadap waktu

(5)

eksperimen sebesar -0.029 S-1 dengan R2 sebesar 0.9537. Sedangkan secara teoritis,

didapatkan laju sebesar antara -0,0268 S-1 sampai – 0.0653 S-1. Nilai K secara teoritis dan percobaan hampir mendekati. Data yang didapatkan menjelaskan bahwa sudut polarisasi

campuran berbanding terbalik dengan waktu. Semakin lama waktu yang digunakan, maka

sudut polarisasi campuran yang terukur oleh polarimeter akan menurun. Dari nilai R2 yang

didapatkan mendekati 1, dapat disimpulkan bahwa reaksi tersebut orde pertama.

waktu

Kurva 3.2 Hubungan ln(αt –α~) terhadap waktu

Berdasarka data yang didapatkan pada campuran sukrosa dan enzim yaitu titik nol

sebesar 5.5o dan alpha nol sebesar 71.25oC. Sehingga didapatkan tetapan laju secara

eksperimen sebesar -0,0257 S-1 dengan R2 sebesar 0.9696 pada t~40oC. Sedangkan pada t~70

o

C tetapan laju reaksi tidak dapat ditentukan karena enzim pada temperatur 70oC mengalami

denaturasi. Data yang didapatkan menjelaskan bahwa sudut polarisasi campuran berbanding

terbalik dengan waktu. Semakin lama waktu yang digunakan, maka sudut polarisasi

(6)

campuran yang terukur oleh polarimeter akan menurun. Dari nilai R2 yang didapatkan

mendekati 1, dapat disimpulkan bahwa reaksi tersebut orde pertama.

IV. KESIMPULAN

Dari praktikum ini dapat disimpulkan bahwa tetapan laju hidrolisis sukrosa dengan katalis H+ sebesar -0.029 S-1 sedangakan menggunakan katalis enzim didapatkan tetapan

laju reaksi sebesar -0,0257 S-1 katalis enzim lebih berpengaruh terhadap laju hidrolisis

sukrosa karena nilai k enzim lebih besar daripada nilai k ion H+.

DAFTAR PUSTAKA

[1]Achmad,H. 2006. Elektrokimia dan Kinetika Kimia. Citra Aditya Bakti. Bandung.

[2] Torres,P dan Olivera, 2008, Application of Acid Hydrolysis of Sucrose as a Temperature,

Journal of Institute Inter Universitario de Macau Canada, 2(3) : 1-8

[3] Siddiqui, I, 2010, Polarigraphic Investigation of Kinetic of Invertion of Sucrose, Rasayan Journal, 3(2) : 255-259

[4] Razak,A.R.,Sumarni,N.K. dan Rahmat,B.,2012,Optimasi Hidrolisis Sukrosa

Gambar

Tabel 3.2 Perhitungan K secara teoritis

Referensi

Dokumen terkait

Setelah kegiatan ini berakhir, mahasiswa mampu memahami prinsip dasar pelaksanaan percobaan Suhu dan Laju reaksi dan menerapkan metode percobaan pengaruh Suhu dan Laju

Tujuan percobaan Reaksi-Reaksi Kimia untuk mengetahui dan mempelajari jenis dan sifat (sifat kimia dan fisika) darizat yang direaksikan, serta untuk mencari rumus senyawa dan

Merancang, melakukan, dan menyimpulkan serta menyajikan hasil percobaan faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi dan orde reaksi.

Percobaan faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi menggunakan alat dan bahan yang sederhana dan dapat dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, seperti balon, peniti, botol dan

Metode dalam percobaan ini adalah fotokimia yang merupakan ilmu yang mempelajari reaksi-reaksi kimia yang diinduksi oleh sinar secara

Ada beberapa cara menentukan laju reaksi, salah satunya itu ditentukan melalui percobaan, yaitu dengan mengukur konsentrasi salah satu reaksi salah satu produk pada

Suhu Apabila suhu pada suatu reaksi dinaikkan, maka partikel semakin aktif bergerak, sehingga sering terjadi tumbukan antar partikel, menyebabkan laju reaksi semakin besar..

Sehingga pada percobaan botol ke tiga menghasilkan laju reaksi yang lebih cepat dibandingkan percobaan botol pertama dan kedua, yang menyebabkan ukuran balon pada botol ke tiga lebih