• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tingkat kecemasan terhadap perawatan gigi dan mulut pada pasien Poli Gigi RUSD Dr.Pirngadi Medan.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Tingkat kecemasan terhadap perawatan gigi dan mulut pada pasien Poli Gigi RUSD Dr.Pirngadi Medan."

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Kecemasan

Rasa cemas merupakan sesuatu perasaan gelisah terhadap suatu bahaya yang

akan terjadi. Rasa cemas dan rasa takut sering berhubungan erat tapi diantara

keduanya ada sedikit perbedaan. Saat orang merasa takut akan sesuatu, orang tersebut

sering merasa cemas juga. Perasaan cemas berhubungan dengan harapan seseorang

dalam menghadapi sesuatu yang mengerikan atau menakutkan. Sebaliknya rasa takut

merupakan respons terhadap sesuatu bahaya yang timbul pada saat ini. Menurut

Soemartono pada tahun 2003, rasa takut dan cemas menghadapi perawatan gigi

merupakan reaksi yang pada umumnya dirasakan pasien anak maupun orang dewasa,

perasaan ini sering kali menjadi penyebab seseorang menghindar dari perawatan

gigi.

9

Kecemasan atau

anxiety

adalah suatu perasaan takut, kekhawatiran atau

kecemasan yang sering terjadi tanpa ada penyebab yang jelas. Kecemasan adalah

pengalaman yang normal dalam menghadapi ancaman yang dirasakan atau bahaya.

Tingkat kecemasan adalah adaptif dan dapat berguna karena berfungsi untuk

memobilisasi cadangan energi untuk tindakan dan meningkatkan kinerja dengan

meningkatkan gairah. Ketika kecemasan menjadi sering dan terus-menerus akibatnya

akan mengganggu kemampuan individu untuk berfungsi, hal tersebut menjadi

masalah sehingga dapat dikatakan patologis dan bagian dari gangguan kecemasan.

4

Gejala-gejala kecemasan meliputi :

10

a.

Fungsi otot : merasa gemetar, otot melemah, otot jantung berdebar.

b.

Hiperaktif autonom : sesak nafas, sensasi mencekik, aktivitas jantung cepat

(takikardia), tangan berkeringat, mulut kering, pusing, mual, diare, kesulitan menelan

dan sering buang air kecil.

c.

Kewaspadaan dan

scanning

: merasa tegang, respons mengagetkan

berlebihan, kesulitan berkonsentrasi, pikiran menjadi kosong, kesulitan tidur dan

(2)

2.1.1 Klasifikasi Kecemasan Perawatan gigi

Menurut Moore et al

.

klasifikasi kecemasan perawatan gigi dapat dibagi

menjadi 4 subtipe, yaitu :

11

a. Tipe I

Tipe ini merupakan ketakutan akibat rangsangan yang menyakitkan atau tidak

menyenangkan seperti jarum, suara, dan bau.

b.

Tipe II

Tipe ini merupakan kecemasan tentang reaksi somatik selama pengobatan atau

perawatan gigi (reaksi serangan panik).

c.

Tipe III

Pasien dengan kecemasan yang rumit atau

multiphobia

.

d.

Tipe IV

Tipe ini tergolong kepada ketidakpercayaan pasien terhadap dokter gigi.

2.1.2 Penyebab Kecemasan Perawatan gigi

Beberapa penyebab kecemasan pasien terhadap perawatan gigi yang sering

ditemukan dalam praktek dokter gigi meliputi:

5,12

1.

Rasa sakit

Secara umum pasien yang mengalami rasa sakit, tersedak-sedak selama

perawatan gigi merupakan pemicu utama kecemasan pasien. Dalam salah satu studi

Kent et al

.

menunjukkan bahwa memori rasa sakit pasien direkonstruksi dari waktu

ke waktu. Kent menemukan pasien sangat cemas cenderung melebih-lebihkan rasa

sakit mereka sebelum prosedur perawatan gigi. Misalnya, dalam studi Arntz et al

.

terhadap 40 pasien yang menjalani perawatan Bedah Mulut, pasien mengalami lebih

cemas karena pengalaman rasa sakit yang sebenarnya terhadap perawatan tersebut.

5

2.

Ketakutan kehilangan kontrol

Kehilangan kontrol biasanya disebabkan pada saat pasien menunggu giliran di

ruang tunggu praktek dokter gigi. Ini dapat menjadi masalah utama pada kecemasan

(3)

3.

Tenaga kesehatan gigi yang pemarah dan agresif

Aspek dari interaksi dokter gigi dengan pasien merupakan hal yang sangat

penting dalam perawatan gigi. Adapun pemicu kecemasan pasien terhadap perawatan

gigi mencakup pernyataan yang dibuat oleh operator, khususnya ketika operator

bersifat tidak simpatik atau pemarah dalam berkomunikasi memicu kecemasan

pasien. Dalam salah satu studi Moore et al

.

menemukan bahwa jenis kontak

komunikasi dokter gigi yang berprilaku negatif diperoleh 5-10 kali pasien mengalami

kecemasan. Selain itu, pasien sering mengeluh karena dokter gigi membuat mereka

lebih cemas terhadap perawatan gigi.

5

4.

Melihat, mendengar dan merasakan sensasi getaran bur dan suntikan

Beberapa studi melaporkan bahwa prosedur tindakan restorasi gigi membawa

pemicu kecemasan selama perawatan gigi yang umum, seperti melihat, mendengar

dan merasakan sensasi suntikan.

5

5.

Pengalaman buruk dari orang lain

Akibat pengaruh cerita buruk dari orang lain seperti pengalaman seseorang

terhadap traumatis gigi di masa lalu membuat seseorang tersebut menghindari

kunjungan ke dokter gigi, sehingga orang tersebut cenderung untuk tidak ingin

mencari perawatan ke dokter gigi. Banyak juga pasien yang sudah berjanji dengan

dokter gigi untuk melakukan perawatan tetapi akhirnya sering menunda sampai

menggagalkan untuk melakukan perawatan gigi. Akibat menghindari perawatan gigi

prevalensi karies dari orang tersebut akan lebih tinggi apabila tidak dirawat.

5

Dalam

penelitian Liddel menemukan bahwa kecemasan pasien terhadap perawatan gigi

cenderung keadaan rongga mulutnya buruk dan signifikan jumlah gigi telah banyak

(4)

Interaksi kecemasan dengan modifikasi perawatan gigi terlihat pada Gambar 1.

Dokter Gigi/staf

Tempat

Prosedur

Teknik

Bau ruangan

Ekstraksi

Desain gambar ruangan

Perawatan saluran

akar

Menunggu giliran

Scalling

dan

root

planning

Tingkah laku buruk

Suara mengerang dari

pasien

Penambalan dan

preparasi

mahkota

Dokter gigi

pemarah

Prosedur

merangsang

muntah

Tidak simpatik/

tidak ada dukungan

dari staff

Tim perilaku

negatif terhadap

perawatan gigi

(tidak ramah atau

tidak meyakinkan)

(5)

2.2

Psikologi perkembangan berdasarkan umur

Psikologi perkembangan merupakan ilmu yang mempelajari karakteristik setiap

fase-fase perkembangan. Psikologi perkembangan fisik yang terjadi pada anak-anak,

remaja, dewasa muda dan dewasa tua sebagai berikut :

18

1.

Masa awal anak-anak

Menurut Piaget, perkembangan awal anak-anak dibagi atas perkembangan fisik,

kognitif, emosi dan psikososial. Perkembangan emosi merupakan suatu perasaan

yang kompleks disertai karakteristik kegiatan belajar dan motoris. Berikut beberapa

contoh tentang pengaruh emosi terhadap perilaku individu di antaranya :

a.

Memperkuat semangat, apabila orang merasa senang atau puas dengan hasil

yang dicapai.

b.

Melemahkan semangat apabila timbul rasa kecewa karena kegagalan.

c.

Apabila sedang mengalami ketegangan emosi dapat menimbulkan sikap

gugup dan gagap dalam berbicara.

d.

Terganggunya penyesuaian sosial apabila terjadi rasa cemburu.

e.

Suasana emosional yang diterima dan dialami individu semasa kecilnya akan

mempengaruhi sikapnya di kemudian hari, baik terhadap dirinya maupun orang lain.

2.

Remaja

Masa remaja adalah masa transisi dari kanak-kanak ke dewasa. Masa remaja

menurut Olds dimulai pada usia 12 sampai awal duapuluhan tahun. Masa ini hampir

selalu merupakan masa-masa sulit bagi remaja. Perkembangan secara emosionalnya

antara lain :

a.

Remaja mulai menyampaikan kebebasan dan haknya untuk mengemukakan

pendapatnya sendiri. Ini dapat menciptakan ketegangan dan perselisian serta dapat

menjauhkan diri.

b.

Remaja lebih muda dipengaruhi teman-temannya daripada ketika masih lebih

muda.

c.

Remaja mengalami perubahan fisik yang luar biasa seperti penakut,

membingungkan dan menjadi sumber perasaan salah dan frustasi.

(6)

3.

Dewasa muda

Masa dewasa adalah masa awal seseorang dalam menyesuaikan diri terhadap

pola-pola kehidupan baru dan harapan-harapan sosial baru. Masa dewasa menurut

Hurlock kisaran 21 sampai awal empat puluhan tahun. Ciri-ciri psikologis masa

dewasa muda :

a.

Ketika seseorang berumur duapuluhan kondisi emosionalnya tidak terkendali.

b.

Cenderung labil, resah dan mudah memberontak.

c.

Pada masa ini emosinya bergelora dan mudah tegang.

d.

Dapat berfikir secara logis.

e.

Dapat mempertimbangkan segala sesuatu dengan adil, terbuka dan dapat

menilai semua pengalaman hidup.

4.

Dewasa tua

Masa tua ditandai oleh adanya perubahan jasmani dan mental. Pada usia 40

sampai 60 tahun biasanya terjadi penurunan kekuatan fisik diikuti oleh penurunan

daya ingat. Masalah-masalah yang timbul pada usia ini antara lain :

a.

Kemauan untuk mau melakukan penerimaan dan penyesuaian dengan

berbagai perubahan fisik yang normal.

b.

Penyesuaian terhadap perubahan fisik biasanya terjadi secara bertahap dan

lambat laun.

c.

Rasa terkejut dan takut terhadap hilangnya kemudaan, hilangnya tenaga fisik

dan berkembang kearah sikap melawan dan menolak.

d.

Masa ini merupakan masa jenuh dimana umumnya umur 60 tahun mereka

menemukan masa yang hampir tidak menyenangkan.

e.

Perubahan dalam penampilan sangat penting terutama dalam penilaian sosial.

f.

Bagi pria terdapat kesulitan tambahan dalam berlomba dengan orang yang

lebih muda, lebih kuat dan lebih berenergik yang cenderung untuk menilai

(7)

2.3

Psikologi perbedaan emosional antara laki-laki dan perempuan

Secara alamiah semua orang sudah mengetahui kodrat laki-laki dan perempuan

tidak saja dibedakan oleh identitas jenis kelamin, bentuk anatomi dan biologis

lainnya melainkan juga hormon-hormon dalam tubuh. Sejumlah ilmuwan

mengatakan adanya pengaruh hormon perkembangan emosional dan intelektual

antara laki-laki dan perempuan. Dalam studi Umar mengidentifikasi perbedaan

emosional dan intelektual antara laki-laki dan perempuan yang dapat dicirikan seperti

pada tabel 1:

19

Tabel 1. Identifikasi perbedaan emosional dan intelektual antara laki-laki dan

perempuan

Laki-laki (

masculine)

Perempuan (

feminim

)

-

sangat agresif

-

independen

-

tidak emosional

-

dapat menyembunyikan emosi

-

lebih objektif

-

tidak mudah terpengaruh

-

lebih aktif

-

lebih kompetitif

-

lebih logis

-

lebih mendunia

-

lebih berterus terang

-

memahami seluk beluk perkembangan

dunia

-

berperasaan tidak mudah tersinggung

-

lebih suka berpetualang

-

mudah mengatasi persoalan

-

jarang mangis

-

umumnya selalu tampil sebagai

pemimpin

-

penuh rasa percaya diri

-

lebih banyak mendukung sikap agresif

-

tidak canggung dalam penampilan

-

pemikiran lebih unggul

-

lebih bebas berbicara

-

tidak terlalu agresif

-

tidak terlalu independen

-

lebih emosional

-

sulit menyembunyikan emosi

-

lebih subjektif

-

mudah terpengaruh

-

lebih pasif

-

kurang kompetitif

-

kurang logis

-

berorientasi ke rumah

-

kurang berterus terang

-

kurang memahami seluk beluk

perkembangan dunia

-

berperasaan mudah tersinggung

-

tidak suka berpetualang

-

sulit mengatasi persoalan

-

lebih sering menangis

-

tidak umum tampil sebagai pemimpin

-

kurang rasa percaya diri

-

kurang senang terhadap sikap agresif

-

lebih canggung dalam penampilan

-

pemikiran kurang unggul

(8)

Berdasarkan ciri-ciri tersebut akan menjadi faktor utama dalam penentuan peran

sosial antara laki-laki dan perempuan di masyarakat. Pemisahan fungsi ini

dipengaruhi oleh faktor budaya dalam jangka waktu yang lama. Kenyataan lain

bahwa laki-laki umumnya lebih besar dan kuat fisiknya secara spontan dibanding

perempuan.

19

Dalam menghadapi masalah, perempuan memiliki cara yang berbeda daripada

laki-laki. Saat mempunyai masalah, perempuan lebih mudah menderita depresi dan

kecemasan daripada laki-laki.

12

Secara umum perempuan lebih teratur mengunjungi

dokter gigi dan memiliki tingkat pengetahuan tentang kesehatan rongga mulut yang

lebih baik daripada laki-laki akan tetapi dalam literatur mengatakan perempuan lebih

cemas daripada laki-laki.

5-7,12,13

Dapat dilihat emosi secara psikologis seperti stres,

depresi, ketakutan, fobia sosial, panik dan kecemasan lebih sering terjadi pada

perempuan sehingga kecemasan pada perempuan dapat berhubungan dengan

emosi-emosi tersebut.

12

2.4 Kecemasan perawatan gigi

Kecemasan dan ketakutan terhadap perawatan gigi merupakan alasan utama

untuk menghindari perawatan sehingga dapat memperburuk kesehatan rongga mulut

seseorang (gambar 2).

11,15

Gambar 2. Siklus negatif terhadap perawatan gigi

3

Kecemasan

perawatan gigi

Pengalaman

negatif

Menghindari

perawatan gigi

Kesehatan

rongga mulut

(9)

Dari siklus kecemasan perawatan gigi di atas, telah terbukti bahwa kondisi

pengalaman negatif seseorang terhadap perawatan gigi, akan menimbulkan gangguan

kecemasan, mengakibatkan kegagalan pasien untuk berobat ke dokter gigi sehingga

dapat memperburuk keadaan rongga mulut seseorang. Selain itu kecemasan terhadap

perawatan gigi juga mengakibatkan perjanjian antara pasien dan dokter gigi sering

dibatalkan.

3

Menurut Walts tahun 2007, adanya konsekuensi pasien yang mengalami tingkat

kecemasan tinggi selama perawatan gigi yaitu menghindari perawatan gigi, sering

membatalkan janji, resiko masalah ekonomi yang lebih besar untuk ke dokter gigi,

memperburuk keadaan rongga mulut sehingga memerlukan tindak lanjut pengobatan,

persepsi negatif tentang perawatan gigi, keparahan prevalensi karies tinggi (DMFT),

mengurangi rasa percaya diri, perasaan malu dan rendah diri dan gangguan tidur di

malam hari.

13

2.5

Penanggulangan Kecemasan

Seperti dengan kondisi yang banyak saat ini, mencegah lebih baik daripada

mengobati. Penanggulangannya kemudian harus ditujukan untuk mencegah kondisi

yang berkembang saat ini. Secara umum, pengalaman traumatis pertama

mengunjungi dokter gigi kemungkinan akan menghasilkan tingkat yang lebih besar

dari kecemasan antisipasif sebelum kunjungan berikutnya, sehingga mengurangi

kemungkinan kehadiran perawatan di hari esok. Saat ini telah ada penanggulangan

kecemasan gigi yang dapat dikelola dengan menggunakan berbagai langkah, mulai

dari modifikasi sederhana dari lingkungan dan pendekatan klinis untuk teknis

psikologis lebih kompleks. Kadang- kadang obat-obatan mungkin diperlukan untuk

mengurangi gejala kecemasan.

3

Secara umum ada beberapa penanggulangan masalah

kecemasan pasien selama perawatan di praktek dokter gigi yaitu :

3,5,16

1.

Komunikasi

Komunikasi dengan pasien sangat berperan penting mengurangi kecemasan

pasien. Sehingga dapat memberikan dukungan verbal dan kepastian dengan strategi

(10)

dilakukan oleh staf maupun tenaga kesehatan yang berinteraksi siapa saja dengan

pasien.

3

Menurut teori komunikasi, komunikasi yang terjadi selama transaksi

terapeutik adalah komuniksasi interpersonal.

Naude cit Santosa

menyebutkan bahwa

pada proses pelayanan medik gigi terjalin suatu hubungan kerja sama antara dokter

gigi dengan penderitanya yang dikenal dengan komunikasi interpersonal. Menurut

Rakhmat, karakteristik komunikasi interpersonal adalah proses komunikasi terjadi

tanpa melalui media komunikasi, sehingga dalam proses komunikasi interpersonal

mempunyai ciri pesan dari komunikator tidak terbatas pada pesan verbal tetapi juga

pesan non verbal seperti ekspresi wajah, gerakan anggota tubuh, sehingga pesan

tersebut mempunyai makna yang beragam.

16

2.

Terapi relaksasi

Teknik relaksasi yang tidak memerlukan pelatihan lanjutan, seperti biofeedback

atau hypnosis, paling sering menggunakan relaksasi otot progresif, latihan

pernapasan, citra dipandu atau kombinasi dari teknik ini. Relaksasi otot progresif

melibatkan sistematis tegang dan otot santai dari kepala sampai kaki dan

menggunakan pernapasan tubuh dalam bentuk lebih rileks.

3

3.

Modelling

Pemodelan adalah tindakan mengamati orang lain menjalani perawatan, baik

secara langsung atau dilihat pada rekaman video tersebut bahwa aspek prosedur dan

sensasi yang bisa diharapkan jelas terlihat kepada pasien. Manfaat pemodelan ada 2

yaitu :

3

a.

Menyediakan informasi tentang prosedur.

b.

Memungkinkan pasien untuk mengamati model menerima dukungan positif

untuk perilaku yang tepat.

4.

Selingan

Mengurangi gangguan kecemasan pasien dengan cara keasyikan. Bentuk

gangguan yang paling dasar adalah pasien terlibat dalam percakapan positif dan

(11)

(AV) dilaporkan kecemasan berkurang. Kondisi pasien yang diliputi kecemasan akan

memperkuat rangsang nyeri yang diterimanya karena kecemasan menyebabkan zat

penghambat rasa nyeri tidak disekresikan. Dengan adanya musik sebagai fasilitas

dalam praktek dokter gigi maka tingkat kecemasan pasien dapat dikurangi sehingga

(12)

2.6 Kerangka Konsep

Tingkat Kecemasan terhadap Perawatan Gigi dan Mulut

pada Pasien Poli gigi RSUD Dr. Pirngadi Medan

Tingkat kecemasan

pasien terhadap

perawatan gigi :

1. Tidak cemas

2.

Cemas

Jumlah kunjungan terdiri dari :

Kunjungan pertama :

-

Perasaan mengunjungi dokter

gigi

-

Mendengar pengalaman buruk

seseorang

-

Ditakut – takuti ke dokter gigi

-

Menunggu giliran

-

Bau ruangan lingkungan

praktek dokter gigi

-

Nama dipanggil

Kunjungan berulang :

-

Perasaan tidak menyenangkan

sebelumnya

-

Duduk di kursi gigi

-

Dokter gigi memeriksa

-

Dokter gigi memegang jarum

suntik

-

Mendengar suara getaran bur

-

Dokter gigi tidak ramah

-

Dokter gigi terburu - buru

Karakteristik

pasien :

1.

Umur

Gambar

Gambar 1. Interaksi kecemasan dan modifikasi perawatan gigi5,13
Gambar 2. Siklus negatif terhadap perawatan gigi3

Referensi

Dokumen terkait

Melalui hasil perhitungan nilai Rasio Prevalensi pada penelitian ini juga menunjukkan nilai Rasio Prevalensi (RP) 2,100; dengan 95%CI (1,1586 < RP < 3,8062) nilai

Implementasi Layanan Bimbingan Konseling untuk Mengatasi Kesulitan Belajar di SD Negeri Sambi 1 tahun 2016/2017, (Surakarta, Naskah Publikasi).

Hasil pengujian menunjukkan bahwa Hedonic Shopping Value dan Fashion Involvement tidak berpengaruh terhadap perilaku Impulse Buying pada Matahari Department Store di

Predikat LAKIP Jum lah jenis pelaporan capaian kinerja dan keuangan yang dilaksanakan t epat w akt u. Subbag Keuangan, Perencanaan dan

mutakallim. Hal ini terjadi karena keadaan manusia yang menginginkan berbicara dengan singkat tetapi dapat tersampaikan secara utuh dan lengkap. Dalam banyak

pada entitas bagian Bidang Hukum BKD memproses data persetujuan cuti yang menghasilkan permintaan cuti dan disimpan ke dalam database yang bernama tabel cuti, dan juga

Pemrograman web 1 merupakan salah satu mata pelajaran wajib dasar pada dasar program keahlian Teknik Komputer dan Informatika (TKI). Berdasarkan struktur kurikulum mata

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi menyelenggarakan Olimpiade Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Perguruan Tinggi (ON MIPA-PT) sebagai bagian