1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar belakang
Sejak zaman dahulu masyarakat Indonesia mengenal dan memanfaatkan tanaman berkhasiat obat sebagai salah satu upaya dalam penanggulangan masalah kesehatan yang dihadapinya. Pengetahuan tentang pemanfaatan tanaman ini merupakan warisan budaya bangsa berdasarkan pengalaman, pengetahuan dan keterampilan yang secara turun temurun diwariskan kepada generasi berikutnya, termasuk generasi saat ini (Wijayakusuma, 2000). Penggunaan obat tradisional secara umum dinilai lebih aman daripada penggunaan obat modern. Hal ini disebabkan karena obat tradisional memiliki efek samping yang relatif lebih sedikit daripada obat modern (Sari, 2006).
2
Diare sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan, tidak saja di negara berkembang, tetapi juga di negara maju (Tanjung, dkk., 2011). Riset Kesehatan Dasar (Rikesdas) tahun 2007 menyatakan diare merupakan penyebab kematian ke-13 dari 22 penyebab kematian berdasarkan pola penyebab kematian di semua usia di Indonesia. Persentase kematian yang disebabkan oleh diare sekitar 3,5% (Defrin, dkk., 2010). Diare secara umum didefinisikan sebagai bagian dari abnormal feses terkait dengan peningkatan frekuensi buang air besar dan berat feses. Peningkatan frekuensi didefinisikan oleh tiga atau lebih buang air besar per hari. Berat feses normal pada orang yang mengkonsumsi makanan tinggi lemak dan gula, bervariasi dari 100 sampai 200 g/hari, sehingga berat feses >200 g/hari dianggap diare, namun beberapa orang yang mengkonsumsi serat memiliki berat feses 300 g/hari atau lebih dengan konsistensi feses normal, tidak berarti diare. Kombinasi frekuensi, konsistensi feses dan berat feses harus diperhitungkan untuk menentukan diare (Navaneethan dan Giannella, 2011), sehingga tanaman berkhasiat obat yang terdapat di alam dapat diidentifikasi dan dievaluasi sebagai alternatif untuk obat antidiare (Gutiérrez, dkk., 2013).
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis melakukan penelitian mengenai uji aktivitas antidiare ekstrak etanol sabut pinang (Areca catechu L.) terhadap tikus yang telah diinduksi oleum ricini dengan menggunakan metode defekasi.
1.2Perumusan Masalah
3
a. Apakah karakterisasi serbuk simplisia dan ekstrak etanol sabut pinang dapat dilakukan?
b. Apakah serbuk simplisia dan ekstrak etanol sabut pinang dapat ditentukan golongan senyawa kimianya?
c. Bagaimana aktivitas antidiare ekstrak etanol sabut pinang bila dibandingkan dengan loperamid HCl?
1.3Hipotesis
Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka hipotesis pada penelitian ini adalah:
a. Karakterisasi simplisia dan ekstrak etanol sabut pinang dapat dilakukan. b. Serbuk simplisia dan ekstrak etanol sabut pinang dapat ditentukan golongan
senyawa kimianya dengan melakukan skrining fitokimia.
c. Ekstrak etanol sabut pinang memiliki aktivitas antidiare bila dibandingkan dengan loperamid HCl.
1.4Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui:
a. Karakteristik serbuk simplisia dan ekstrak etanol sabut pinang. b. Senyawa kimia serbuk simplisia dan ekstrak etanol sabut pinang.
c. Aktivitas antidiare ekstrak etanol sabut pinang yang dibandingkan dengan loperamid HCl.
1.5Manfaat Penelitian
4
informasi tentang khasiat tanaman obat, khususnya mengenai kegunaan sabut pinang terhadap antidiare, sehingga menambah khasanah obat-obat herbal sebagai antidiare yang efektif.
1.6Kerangka Penelitian
Variabel Bebas Variabel Terikat Parameter
Gambar 1.1 Kerangka pikir penelitian Suspensi ekstrak etanol
sabut pinang:
konsentrasi 2,25% - dosis 100 mg/kg bb 2. Konsistensi feses
(diameter serapan air dan berat feses) 3. Frekuensi diare 4. Lama terjadinya