• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERAN MEDIASI LEADER MEMBER EXCHANGE (LMX)DALAM PENGARUH KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL PADA KINERJA KARYAWAN DAN ORGANIZATIONAL CITIZENSHIP BEHAVIOR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PERAN MEDIASI LEADER MEMBER EXCHANGE (LMX)DALAM PENGARUH KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL PADA KINERJA KARYAWAN DAN ORGANIZATIONAL CITIZENSHIP BEHAVIOR"

Copied!
110
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

46

PERAN MEDIASI

LEADER-MEMBER EXCHANGE

(LMX)

DALAM PENGARUH KEPEMIMPINAN

TRANSFORMASIONAL PADA KINERJA KARYAWAN DAN

ORGANIZATIONAL CITIZENSHIP BEHAVIOR

(OCB)

(Studi Pada Pegawai DPPKA Kota Surakarta)

SKRIPSI

Diajukan untuk melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi

Syarat-Syarat Guna Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi

Jurusan Manajemen pada Universitas Sebelas Maret

Surakarta

Oleh :

TRI HARYANTO

NIM. F1206542

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

(2)
(3)
(4)
(5)

commit to user

MOTTO

Tiga sifat manusia yang merusak adalah : kikir yang dituruti, hawa nafsu yang diikuti,

serta sifat mengagumi diri sendiri yang berlebihan.

~ Nabi Muhammad Saw

Orang yang banyak ketawa itu kurang wibawanya. Orang yang suka menghina orang lain,

dia juga akan dihina. Orang yang mencintai akhirat, dunia pasti menyertainya.

Barangsiapa menjaga kehormatan orang lain, pasti kehormatan dirinya akan terjaga.

~ Sayidina Umar bin Khattab

Bersikaplah kukuh seperti batu karang yang tidak putus-putus-nya dipukul ombak. Ia

tidak saja tetap berdiri kukuh, bahkan ia menenteramkan amarah ombak dan gelombang

itu.

~ Marcus Aurelius

belajar dari pengalaman, bertanyalah pada orang-orang bijak, membaca

pertanda-pertanda dan tetap berusaha menjadi orang yang lebih baik dari hari kemarin. ~ Penulis

dari 250.478.351.100 langkah yang hendak kau tempuh, pastilah ada langkah pertama yang senyata berat, tapi percayalah kau tak mampu melihat semuanya jikalau kau tak

mengambil keputusan untuk melangkahkan kaki pertama dari tempat kau berdiri, jangan

takut maju sekali pun perlahan, karena mereka yang timpang pun tak pernah berjalan

mundur.

enjoyed the lonelyness,accept the story gone,bury the feeling and realize life goes on..

(6)

commit to user

PERSEMBAHAN

Skripsi ini penulis persembahkan untuk:

~ALLAH SWT, pemilik semesta sebenarnya dan dzat yang kusebut Tuhan,

~Rosulullah SAW, orang pilihan dengan tugas brilian,

~Bapak dan Ibu, ketika aku lelah dan semangatku patah untuk meneruskan

perjuangan, terhenti oleh kerikil –kerikil yang kurasa terlampau tajam hingga

akhirnya aku pun memilih jeda!Kau tetap ada di sana…memberiku isyarat untuk

tetap bertahan sehingga terkumpul seluruh daya dunia. Semoga semua itu tak

akan pernah layu dan membuatku terus untuk tetap berjalan.

~Mbak dan Mas, manusia yang terlahir sebelum aku, thanks support dan

cerewetnya ngingetin skripsi disaat aku gila dengan gitar.

~Reno dan Sasa, keponakanku.

~Cashback, keluarga kedua sekaligus wadah penampung musikku, banyak ide gila

yang terbuang, terbungkus dan terbentuk saat kami meletakkan suara dalam

(7)

commit to user

ABSTRAK

“PERAN MEDIASI LEADER-MEMBER EXCHANGE (LMX)

DALAM PENGARUH KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL

PADA KINERJA KARYAWAN DAN ORGANIZATIONAL

CITIZENSHIP BEHAVIOR (OCB)”

(Studi Pada Pegawai DPPKA Kota Surakarta)

Tri Haryanto Nim F. 1206542

Pada era globalisasi dan pasar bebas pada saat ini organisasi harus senantiasa melakukan perbaikan terus menerus di berbagai bidang dalam rangka menciptakan organisasi yang efektif dan membentuk keunggulan kompetitif agar mampu berkembang dan tetap berjaya di tengah ketatnya persaingan. Keefektifan organisasi dalam mencapai visi, misi dan tujuan organisasi tak terlepas dari peranan pemimpin. Kepemimpinan adalah tulang punggung pengembangan organisasi, karena tanpa adanya kepemimpinan yang baik, maka akan sulit untuk mencapai tujuan organisasi, bahkan untuk dapat beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang sedang terjadi di dalam maupun di luar organisasi.

Tujuan yang hendak dicapai dari penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh: 1) kepemimpinan transformasional pada kinerja dan OCB; 2) Leader-Member Exchange pada kinerja dan OCB; dan 3) peran mediasi Leader-Member Exchange dalam pengaruh kepemimpinan transformasional pada kinerja dan OCB Pada Kantor DPPKA Kota Surakarta.

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode survei. Target populasi penelitian adalah Pada Pegawai DPPKA Kota Surakarta yang diambil secara sensus, dimana seluruh populasi menjadi sampel pada penelitian ini. Adapun pengumpulan data ini dengan menggunakan kuesioner. Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan Structural Equation Modelling (SEM).

Hasil analisis data pada penelitian ini dapat diambil kesimpulan: (1) Kepemimpinan transformasional berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja. (2) Kepemimpinan transformasional berpengaruh positif dan signifikan terhadap

OCB. (3) Kepemimpinan transformasional berpengaruh positif dan signifikan terhadap Leader-Member Exchange. (4) Leader-Member Exchange berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja. (5) Leader-Member Exchange tidak berpengaruh signifikan positif terhadap OCB. (6) OCB berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja.

(8)

commit to user

hubungan Kepemimpinan transformasional terhadap kinerja. Tetapi hipótesis 3b tidak terbukti karena LMX tidak memediasi hubungan Kepemimpinan transformasional terhadap OCB.

Kata kunci: Kepemimpinan Transformasional, Leader-Member Exchange, Kinerja, dan OCB.

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Allah SWT atas segala kuasa-Nya sehingga skripsi

yang berjudul ” PERAN MEDIASI LEADER-MEMBER EXCHANGE (LMX) DALAM PENGARUH KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL PADA

KINERJA KARYAWAN DAN ORGANIZATIONAL CITIZENSHIP BEHAVIOR

(OCB) dapat diselesaikan oleh penulis sebagai syarat guna mencapai gelar

Sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Berhasilnya penulisan skripsi ini adalah berkat bantuan dari berbagai pihak

yang dengan ketulusannya telah memberikan semangat, dorongan, serta

penagrahan kepada penulis. Oleh karena itu pada kesempatan ini, dengan segala

ketulusan dan kerendahan hati penulis ingin mengucapkan terima kasih yang

sebesar-besarnya kepada yang terhormat :

1. Prof. Bambang Sutopo, M.Com., Ak. Selaku Dekan Fakultas Ekonomi

Universitas Sebelas Maret Surakarta.

2. Dra. Endang Suhari, Msi. selaku Ketua Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi

Universitas Sebelas Maret Surakarta dan Reza Rahardian, SE, MSi. selaku

Sekretaris Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret

(9)

commit to user

3. Joko Suyono, SE, Msi selaku pembimbing yang telah memberikan bimbingan

dan saran sampai terselesaikannya penulisan skripsi ini.

4. Semua dosen dan staff Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta

yang telah membantu dalam pengerjaan skripsi ini baik secara langsung dan

tidak langsung.

5. Pimpinan dan Staf DPPKA Pemerintah Kota Surakarta yang telah membantu

dalam pembuatan dan penyelesaian skripsi ini.

6. Mas Budi (terimakasih atas bantuan dan teh manis-nya :D), Patria Indyah

Puspitasari (hahha...selayak partner in crime, akhirnya kita lulus..).

7. Wiwid, ade, aryo, bayu, hanin dan temen2 angkatan 2006 (hoiy, aku lulus cah

:D!!)

8. Dias, setyo, koko, dimang, elsa temen2 angkatan 2007- angkatan 2008

(terimakasih atas semangatnya kawan2!!)

9. Anak-anak Cashback (Vick, Rizal dan Rama), mari lanjutkan kawan..kita

telah banyak berkorban J

10.The Janoko, Rep dan Romeo, 3 gitar dengan berbagai cerita.

11.Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah banyak

membantu penulis dalam menyusun skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna.

Untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang

sifatnya membangun guna kesempurnaan skripsi ini.

Akhir kata, penulis berharap semoga karya sederhana ini dapat bermanfaat

(10)

commit to user

Surakarta, Maret 2011

Penulis

DAFTAR ISI

(11)

commit to user

HALAMAN JUDUL ...

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ...

HALAMAN PENGESAHAN ...

MOTTO ...

PERSEMBAHAN ...

ABSTRAK ...

KATA PENGANTAR ...

DAFTAR ISI ...

DAFTAR TABEL ...

DAFTAR GAMBAR ...

BAB I PENDAHULUAN ...

A. Latar Belakang Masalah ...

...

B. Perumusan Masalah ...

C. Tujuan Penelitian ...

D. Manfaat Penelitian ...

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...

A. LMX ...

B. Kepemimpinan Transformasional ...

C. Kinerja Karyawan ...

D. OCB ...

E. Penelitian Terdahulu ...

F. Kerangka Pemikiran ...

G. Hipotesis ...

(12)

commit to user

BAB III METODE PENELITIAN ...

A. Desain Penelitian ...

B. Populasi, Sampel, dan Sampling ...

C. Definisi Operasional Variabel ...

D. Sumber Data ...

E. Instrumen Penelitian ...

F. Metode Pengumpulan Data ...

G. Metode Analisis Data ...

1. Uji Kualitas Instrumen Penelitian ...

...

2. Analisis Structural Equation Model (SEM) ....

BAB IV. ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN ...

A. Gambaran Umum DPPKA Kota Surakarta ...

B. Diskripsi Data Responden ...

C. Uji Kualitas Instrumen Penelitian ...

1. Uji Validitas (validity convergent) ... ...

2. Uji Reliabilitas Konstruk ...

D. Uji Kecukupan Sampel ...

E. Penilaian Model Fit ...

F. Modifikasi Model Struktural ...

G. Uji Hipotesis ...

H. Pembahasan ...

BAB V. PENUTUP ...

A. Kesimpulan ...

B. ... K eterbatasan Penelitian ...

C. ... S aran ...

(13)

commit to user

DAFTAR PUSTAKA ...

LAMPIRAN ... 6

6

2

6

9

7

0

7

3

7

4

7

8

8

0

8

2

8

5

9

0

9

0

9

1

9

3

(14)

commit to user

DAFTAR TABEL

(15)

commit to user

Tabel 3.1 Indikator Goodness-of-fit Model ... Tabel 4.1 Karakteristik Umur Responden...

Tabel 4.2 Karaktersitik Jenis Kelamin Responden ...

Tabel 4.3 Karakteristik Pendidikan Terakhir Responden ...

Tabel 4.4 Hasil Validitas Konvergen Kepemimpinan Transformasional ...

Tabel 4.5 Hasil Validitas Konvergen LMX ...

Tabel 4.6 Hasil Validitas Konvergen Kinerja ...

Tabel 4.7 Hasil Validitas Konvergen OCB ...

Tabel 4.8 Contruct Reliability ... Tabel 4.9 Hasil Uji Normalitas ...

Tabel 4.10 Hasil Uji Outlier ...

Tabel 4.11 Evaluasi Goodness of Fit Indices ... Tabel 4.12 Evaluasi Goodness of Fit Indices setelah Modifikasi Model ... Tabel 4.13 Hasil Pengujian Kausalitas ...

45

63

63

64

70

71

72

72

74

75

77

79

81

82

(16)

commit to user

Halaman

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran ...

Gambar 4.1 Bagan Organisasi ...

Gambar 4.2 Model Struktural (SEM) ...

Gambar 4.3 Model Struktural (SEM) setelah Dimodifikasi ...

Gambar 4.4 Hubungan Model Struktural (SEM) ... 29

55

79

80

(17)

commit to user

BAB I

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Masalah

Pada era globalisasi dan pasar bebas pada saat ini organisasi harus

senantiasa melakukan perbaikan terus menerus di berbagai bidang dalam

rangka menciptakan organisasi yang efektif dan membentuk keunggulan

kompetitif agar mampu berkembang dan tetap berjaya di tengah ketatnya

persaingan. Keefektifan organisasi dalam mencapai visi, misi dan tujuan

organisasi tak terlepas dari peranan pemimpin. Kepemimpinan adalah tulang

punggung pengembangan organisasi, karena tanpa adanya kepemimpinan

yang baik, maka akan sulit untuk mencapai tujuan organisasi, bahkan untuk

dapat beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang sedang terjadi di dalam

maupun di luar organisasi.

Mulai tahun 1999, pemerintah Indonesia menerapkan sistem

pemerintahan otonomi Daerah dimana dependensi daerah terhadap pusat

dikurangi dengan menetapkan UU No. 22 Tahun 1999. Penyelenggaraan

otonomi daerah yang luas, nyata dan bertanggung jawab maka diperlukan

pengelolaan keuangan dan kemampuan untuk menggali sumber-sumber

pendapatan keuangan sendiri dengan didukung oleh dana perimbangan baik

dari pusat maupun propinsi yang merupakan prasyarat bagi suatu pemerintah

daerah. Pegawai negeri adalah bagian dari aparat pemerintah yang

(18)

commit to user

yang berada di tingkat pusat maupun di daerah. Dalam rangka membantu

pimpinan melancarkan jalannya penyelenggaraan di bidang pemerintahan,

pelaksanaan pembangunan dan pembinaan kemasyarakatan, maka dibutuhkan

adanya aparatur pemerintah yang mampu melaksanakan profesinya dengan

sikap profesionalisme.

Pegawai negeri sebagai unsur utama aparatur pemerintah bertugas

melaksanakan tugas-tugas pemerintah dan pembangunan untuk mencapai

tujuan nasional. Kelancaran penyelenggaraan pemerintah dan pembangunan

nasional sangat tergantung pada kualitas atau kinerja pegawai negeri.

Sesuai dengan struktur organisasi, fungsi dan tata kerja Dinas

Pendapatan, Pengelolaan Keuangan Dan Aset (DPPKA) Kota Surakarta yang

ditetapkan dengan Peraturan Daerah No. 24 Tahun 2008 yaitu tentang

Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah Kota Surakarta, dalam peraturan

daerah tersebut memuat tugas pokok DPPKA yaitu menyelenggarakan urusan

pemerintahan di bidang pendapatan, pengelolaan keuangan dan aset.

Terdapat dua perspektif dalam kepemimpinan di dalam organisasi.

Yang pertama adalah leader focus yang menjelaskan individu, kelompok dengan mengidentifikasi dan menguji perilaku pemimpin secara langsung

(Bass dalam Wang & Law, 2005), perspektif yang kedua yaitu yang

(19)

commit to user

dalam Vibriwati (2005) mendefinisikan LMX sebagai kualitas hubungan

pertukaran interpersonal antara pekerja dan supervisornya.

Kepemimpinan transformasional juga berkaitan dengan sebuah

proses atau hubungan timbal balik antara atasan dan bawahan. Kepemimpinan

menyangkut sebuah proses pengaruh sosial yang dalam hal ini pengaruh

sengaja dijalankan oleh seseorang terhadap orang lain untuk menstruktur

aktivitas-aktivitas serta hubungan-hubungan di dalam sebuah kelompok atau

organisasi. Kepemimpinan sebagai salah satu penentu arah dan tujuan

organisasi harus mampu menyikapi adanya perubahan lingkungan dan

teknologi yang cepat sebagai suatu tantangan yang tersendiri bagi organisasi.

Dalam Yukl (1998), kepemimpinan dapat didefinisikan secara luas sebagai

proses mempengaruhi, yang mempengaruhi interpretasi mengenai

peristiwa-peristiwa bagi para karyawan, pilihan dari sasaran-sasaran bagi kelompok atau

organisasi, pengorganisasian dari aktivitas-aktivitas kerja untuk mencapai

sasaran-sasaran tersebut, memotivasi bawahan untuk mencapai sasaran,

pemeliharaan hubungan kerjasama dan teamwork serta perolehan dukungan dan kerjasama dari orang-orang yang berada di luar kelompok atau organisasi.

Kepemimpinan transformasional juga berhubungan dengan kinerja

bawahan (Kelman’s dalam Wang & Law, 2005) dan OCB (Podsakoff et al.,

1990). Organizational citizenship behavior (OCB) merupakan salah perilaku penting dalam penciptaan efektifitas organisasi, hal ini seperti yang

dikemukakan oleh Katz (dalam Akhirudin dan Qurroatul, 2005) yang

(20)

commit to user

efektifitas organisasi, yaitu: pertama individu harus masuk, kedalam dan

tinggal di dalam suatu organisasi, kedua mereka harus menyesuaikan peran

khusus dalam suatu pekerjaan, dan ketiga mereka harus terikat pada aktivitas

yang inovatif dan spontan melebihi persepsi perannya. Kategori yang ketiga

inilah yang sering disebut sebagai OCB.

Podsakoff et al., (1990) menyatakan bahwa mayoritas penelitian

mengemukakan dalam pemimpin yang efektif merubah nilai dasar,

kepercayaan, sikap dari bawahan akan dapat meningkatkan kinerja melebihi

level minimum organisasi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kemungkinan

bawahan memiliki kinerja sesuai dengan yang seharusnya atau melebihi level

minimum organisasi akan tergantung juga pada pemimpin. Efektifitas dari

kepemimpinan transformasional dijelaskan dalam kaitan dengan pengaruhnya

terhadap cara para pengikut melihat diri mereka sendiri dan menginterprestasi

peristiwa-peristiwa. Para pemimpin yang efektif mempengaruhi para

pengikutnya untuk mempunyai optimisme yang lebih besar, rasa percaya diri,

serta komitmen kepada tujuan dan misi organisasi. Kepemimpinan

transformasional mengidentifikasi jenis-jenis perilaku yang digunakan oleh

pemimpin dan ciri-ciri yang membantu efektifitas dari pemimpin tersebut.

Sehingga pemimpin yang transformasional juga mempunyai kemampuan

untuk memberikan inspirasi dan motivasi para pengikut untuk mencapai hasil

yang melebihi level minimum organisasi.

Kualitas hubungan pertukaran interpersonal antara bawahan dan

(21)

commit to user

sejalan dengan Liden & Maslyn dalam Wang & Law (2005) yang menyatakan

bahwa LMX berhubungan positif dengan kinerja bawahan. Yukl dalam

Vibriwati (2005) menyatakan bahwa LMX menggambarkan bagaimana

seorang pemimpin dan anggota secara individual mengembangkan sebuah

hubungan, seperti saling mempengaruhi dan merundingkan peran bawahan

dalam organisasi. Ketika hubungan berkembang, ruang gerak yang diberikan

supervisor pada bawahan akan meningkat.

LMX juga berhubungan dengan OCB ( Hackett & Farh dalam Wang

& Law (2005), Hubungan LMX kualitas tinggi (in-group) merupakan bukti keberhasilan pengembangan kepercayaan yang terus menerus antara

pemimpin dan anggota. Kualitas LMX yang dibangun tersebut akan

mempengaruhi persepsi anggota pada keadilan di dalam organisasi. Hubungan

positif antara LMX dan OCB dilihat karena OCB membantu pemenuhan

harapan suatu timbal balik karyawan dengan atasan.

Penelitian yang dilakukan oleh Graen & Uhl-Bien dalam Wang &

Law (2005) menyatakan bahwa adanya peran mediasi variabel LMX dalam

hubungan antara kepemimpinan transformasional dengan kinerja bawahan dan

OCB.

Makin besarnya tuntutan bagi pemerintah daerah untuk dapat lebih

berorientasi kinerja, karena diberlakukannya otonomi daerah dimana

dependensi daerah terhadap pusat dikurangi dan melihat perkembangan yang menuntut untuk dapat mengelola sumber daya manusia secara optimal yang

(22)

commit to user

bekerja seperti apa yang ada dalam perspektif bekerja, Perlu bagi pemimpin

instansi atau pihak yang bertanggungjawab untuk mengenal dan memahami

pentingnya pengaruh kepemimpinan transformasional, agar karyawan merasa

nyaman terhadap pekerjaannya dan karyawan merasa mempunyai keselarasan

antara kebutuhan dari aturan kerja sehingga muncul rasa komitmen terhadap

organisasi. Setiap proses hubungan atasan-bawahan dibutuhkan LMX.

Salah satu kebijakan pemerintah daerah kota Surakarta terhadap

pelaksanaan pajak daerah dilaksanakan secara proposional berdasar

fungsinya, yaitu fungsi mengatur (reguler) dan fungsi penerimaan (budgeter) oleh sebab itu diperlukan sumber daya manusia yang handal, kreatif dan

inovatif untuk dapat menjalankan dan mengelola sektor pajak daerah dengan

baik. Dengan fungsi ini maka Dinas Pendapatan Dinas Pendapatan,

Pengelolaan Keuangan dan Aset (DPPKA) Kota Surakarta dapat melakukan

monitoring, pengawasan, serta evaluasi, maka perlu melakukan berbagai

upaya konsisten dalam mengambil tindakan antisipatif guna mengembangkan

potensi pajak sebagai sumber pendapatan daerah. Untuk itu diperlukan

dukungan dari para Pegawai Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan

Aset (DPPKA) Kota Surakarta itu sendiri. Sehingga dibutuhkan rasa memiliki

dan bertanggung jawab atas kemajuan organisasi secara bersama-sama.

Berdasarkan latar belakang keterkaitan variabel-variabel tersebut maka

penelitian ini mengambil judul: Peran Mediasi Leader-Member Exchange

(23)

commit to user

Karyawan dan Organizational Citizenship Behavior (OCB) (Studi Pada Pegawai DPPKA Kota Surakarta).

B.

Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalah tersebut, maka rumusan

masalah yang diajukkan dalam penelitian ini adalah:

1. Apakah kepemimpinan transformasional berpengaruh positif pada kinerja

dan OCB?

2. Apakah Leader-Member Exchange berpengaruh positif pada kinerja dan OCB?

3. Apakah Leader-Member Exchange memediasi pengaruh kepemimpinan transformasional pada kinerja dan OCB?

4. Apakah OCB berpengaruh positif pada kinerja?

C.

Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan yang diajukkan di atas, maka tujuan yang

ingin diteliti dalam penelitian ini adalah:

1. Untuk menguji pengaruh kepemimpinan transformasional pada kinerja dan

OCB.

2. Untuk menguji pengaruh Leader-Member Exchange pada kinerja dan OCB.

(24)

commit to user

4. Untuk menguji pengaruh OCB pada kinerja.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Instansi

Sebagai sumber masukan atau informasi tambahan bagi DPPKA Kota

Surakarta dalam rangka menjalankan aktivitas organisasi berkaitan dengan

LMX, kepemimpinan transformasional, kinerja dan OCB.

2. Bagi Lembaga Pendidikan

Sebagai salah satu sumber informasi untuk pengembangan

penelitian-penelitian berikutnya yang berkaitan dengan LMX, kepemimpinan

transformasional, kinerja dan OCB.

3. Bagi Penulis

Sebagai sarana untuk melatih kemampuan analitis penulis melalui

penerapan teori yang telah diperoleh selama menempuh pendidikan di

perguruan tinggi, terutama dalam bidang Manajemen Sumber Daya

Manusia mengenai LMX, kepemimpinan transformasional, kinerja dan

(25)

commit to user

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Leader-Member Exchange (LMX)

Graen dalam Vibriwati (2005) mendefinisikan LMX sebagai kualitas

hubungan pertukaran interpersonal antara pekerja dan supervisornya. Dasar

pemikiran teori LMX adalah bahwa di dalam unit kerja, supervisor

mengembangkan tipe hubungan yang berbeda dengan bawahannya (Erdogan

et al., dalam Vibriwati, 2005). Konsekuensinya, atasan dengan sepuluh bawahan akan memiliki sepuluh hubungan LMX yang berbeda (Bauer dan

Green, dalam Vibriwati 2005).

Kualitas hubungan menentukan jumlah usaha fisik maupun mental,

sumber daya material, informasi dan dukungan sosial yang dipertukarkan

antara supervisor dan bawahannya (Erdogen et al., dalam Vibriwati 2005). Hubungan akan berkembang di dalam pertukaran kualitas tinggi yang

diwujudkan dengan tingkat saling percaya dan hormat yang tinggi, dan

kualitas rendah didasarkan pada kontrak kerja formal. Dansereau et al. (dalam Scandura, dalam Vibriwati, 2005) mempresentasikan sebuah model deskriptif

bagaimana kelompok kerja dibedakan menjadi in-group dan out-group

didasarkan pada kualitas hubungan pemimpin-anggota yang muncul antara

supervisor dan anggotanya di dalam kelompok kerja Anggota in-group

(26)

commit to user

formal/informal yang tinggi. Anggota out-group dikarakteristikkan oleh kepercayaan, interaksi, dukungan dan reward formal/informal yang rendah (Dienesch dan Liden dalam Vibriwati, 2005).

Hubungan LMX kualitas tinggi (in-group) merupakan bukti keberhasilan pengembangan kepercayaan yang terus menerus antara

pemimpin dan anggota. Kualitas LMX yang dibangun tersebut akan

mempengaruhi persepsi anggota pada keadilan di dalam organisasi. Anggota

in-group memandang tempat kerja lebih adil daripada anggota out-group. Teori LMX mengkonseptualisasikan kepemimpinan sebagai sebuah

proses yang dipusatkan pada interaksi antara pemimpin dan anggotanya. Yukl

dalam Vibriwati (2005) menyatakan bahwa LMX menggambarkan bagaimana

seorang pemimpin dan anggota secara individual mengembangkan sebuah

hubungan seperti mereka saling mempengaruhi dan merundingkan peran

bawahan dalam organisasi. Ketika hubungan berkembang, ruang gerak yang

diberikan supervisor pada bawahan akan meningkat.

Kepemimpinan Transformasional

Kepemimpinan adalah sebuah arus antar hubungan yang berkembang

yang padanya para pemimpin secara terus menerus membangkitkan

tanggapan-tanggapan motivasional dari para pengikut dan memodifikasi

perilaku mereka pada saat mereka menghadapi tanggapan atau perlawanan

dalam sebuah proses arus dan arus balik yang tidak pernah berhenti (Burns

(27)

commit to user

Konsep kepemimpinan transformasional menurut Yukl (1994:297)

didefinisikan sebagai pemimpin yang memberikan pertimbangan dan

rangsangan intelektual yang diindividualkan dan yang memiliki karisma.

Kepemimpinan yang mentransformasi dapat dipandang baik sebagai sebuah

proses mempengaruhi pada tingkat mikro antara para individu dan sebagai

sebuah proses pada tingkat makro dalam memobilisasi kekuasaan untuk

mengubah sistem sosial dan memperbaiki lembaga-lembaga.

Arti seorang pemimpin yang mempunyai perilaku kepemimpinan

transformasional adalah seorang pemimpin yang mempunyai kemampuan

untuk mentransformasikan organisasinya melalui keberhasilan dalam

mentransformasikan karyawan untuk menjadi seorang individu yang baik,

menjadi kelompok atau sebuah tim yang kompak dalam ruang lingkup

organisasi dan kehidupan sosial yang saling menghargai, termasuk

menghargai kemampuan dan ketrampilan karyawan serta mendukung mereka

untuk selalu berinovasi dan berpikir kreatif (Maxon, 2005).

Keberadaan seorang pemimpin transformasional mempunyai arti yang

sangat penting dalam suatu organisasi. Eksistensi dari pemimpin tersebut juga

berperan sebagai seorang yang membangun sebuah kepercayaan dari

karyawan kepada manajemen. Bass (dalam Yukl, 1994:298) menyatakan

bahwa kepemimpinan transformasional tidak hanya merupakan pertukaran

(28)

commit to user

transformasional dapat mentransformasi pengikut dengan bertindak sebagai

seorang guru atau mentor.

Prinsip-prinsip dasar dalam kepemimpinan transformasional yang

akan menciptakan sebuah ikatan emosional dari pemimpin dan pengikut

menurut Bass (dalam Muchairi et al., 2002) dibagi menjadi empat prinsip

dasar. Adapun keempat prisip tersebut adalah :

1. Karisma (Idealized Influence)

Seorang pemimpin transformasional mendapatkan karisma dari penilaian

pengikut, pemimpin yang berkarisma akan mempunyai banyak pengaruh

dan dapat menggerakkan bawahannya. Seorang pemimpin yang dipandang

memiliki karisma oleh pengikutnya adalah pemimpin yang mampu

mengambil keputusan yang tepat dalam kondisi yang sulit serta mampu

mempertanggungjawabkan segala akibat yang mungkin akan terjadi,

mampu menjaga kepercayaan yang diberikan oleh pengikutnya untuk tidak

disalahgunakan sehingga tercipta loyalitas kepada pemimpin untuk

kemudian bersama-sama meraih tujuan organisasi.

2. Menginspirasikan motivasi (In inspirational motivation)

Pemimpin yang inspirasional dapat mendeskripsikan tujuan bersama dan

mampu menentukan mengenai apa yang dirasa penting serta apa yang

dirasa benar tanpa menghalalkan segala cara, tetap berjalan di koridor

yang beretika dan dalam pencapaian tujuan bersama, pemimpin

menggunakan strategi yang dapat dibenarkan secara moral. Contoh

(29)

commit to user

selalu berkata optimis dalam menghadapi masalah, memberikan tantangan

kepada pengikut dengan menerapkan standar yang tinggi.

3. Menstimulasi Pengetahuan (In intellectual stimulation)

Pemimpin transformasional dituntut untuk membuat pengikutnya

memandang dan menyelesaikan masalah-masalah yang mereka hadapi

dengan perspektif dan metode-metode baru. Pemimpin berusaha untuk

mendayagunakan seluruh sumber daya yang ada untuk menciptakan suatu

kondisi yang kondusif serta proporsional agar pengikutnya mampu

mengembangkan daya kreatifitas serta mampu melakukan inovasi dalam

setiap penyelesaian masalah yang ada sehingga pemimpin dituntut untuk

berbagi wewenang agar tercipta situasi yang diinginkan bagi tercapainya

tujuan bersama.

4. Mempertimbangkan individu (In individu consideration)

Seorang pemimpin harus mampu memperlakukan karyawannya secara

spesifik (individu yang satu berbeda dengan yang lain) tetapi juga adil

dalam memfasilitasi mereka untuk mencapai tujuan bersama. Pada

dasarnya pemimpin harus melakukan pendekatan dan jaringan komunikasi

interpersonal dengan bawahannya untuk dapat mengerti apa keinginan

ataupun masalah yang dihadapi oleh masing-masing bawahan sehingga

pemimpin tersebut mampu mengaplikasikan solusi yang berbeda bagi tiap

bawahannya dengan menggunakan fasilitas yang sesuai dengan ide

(30)

commit to user

Perilaku kepemimpinan transformasional memungkinkan bagi

seorang pemimpin untuk menciptakan visi dan lingkungan yang dapat

memotivasi bawahannya agar mampu berprestasi di atas standar minimum

yang ditetapkan oleh organisasi. Pada dasarnya inti dari kepemimpinan

transformasional adalah berbagi wewenang dengan bawahan untuk

memberdayakan mereka agar bekerja secara efektif dengan cara membangun

komitmen mereka terhadap nilai-nilai baru, pengembangan kemampuan,

ketrampilan, rasa percaya diri serta melembagakan perubahan-perubahan

organisasi. Bahkan ada beberapa perilaku dasar yang berkaitan dengan

perilaku kepemimpinan transformasional. Perilaku dasar yang berkaitan

dengan perilaku kepemimpinan transformasional tersebut menurut Podsakoff

et al (1990) adalah:

a. Mengidentifikasi dan mengartikulasikan visi

Perilaku atau tindakan yang menjadi bagian dari seorang pemimpin yang

bertujuan untuk melakukan identifikasi peluang-peluang baru bagi divisi

suatu organisasi atau organisasi itu sendiri yang bertujuan untuk

mengembangkan, menyampaikan dan menginspirasi visi tentang masa

depannya kepada orang lain.

b. Memberikan sebuah model yang tepat

Perilaku yang menjadi bagian dari pemimpin di dalam memberikan

sebuah contoh kepada bawahannya untuk bisa bekerja secara konsisten

(31)

commit to user

c. Mendukung tujuan-tujuan kelompok

Perilaku yang menjadi bagian dari pemimpin yang mendorong kerjasama

di antara bawahannya dan membuat mereka bekerja sama secara kelompok

untuk meraih sebuah tujuan.

d. Harapan terhadap tingkat kinerja yang tinggi

Perilaku yang menunjukkan harapan pemimpin terhadap kinerja

bawahannya yang unggul, berkualitas serta mempunyai tingkat kinerja

yang tinggi.

e. Memberikan dukungan pribadi

Perilaku atau tindakan yang menjadi bagian dari pemimpin yang

mengindikasikan bahwa dia menghormati para bawahannya, dan hal ini

berkaitan dengan perasaan dan kebutuhan pribadi mereka.

f. Dorongan intelektual

Perilaku yang menjadi bagian dari pemimpin dengan memberikan

tantangan bagi bawahannya untuk bisa mengkaji ulang beberapa asumsi

mereka tentang pekerjaan mereka, dan berpikir kembali bagaimana hal

tersebut bisa dikerjakan kembali dengan lebih baik.

Seorang pemimpin yang berperilaku transformasional memiliki

beberapa kompentensi utama yang membedakan peran mereka dengan

pemimpin yang lain. Kompentensi yang dimiliki ini dapat berfungsi sebagai

tolok ukur kemampuan seorang pemimpin dalam organisasi untuk mengubah

(32)

commit to user

kapasitas masing-masing untuk mendukung eksistensi organisasi serta mampu

mengubah setiap individu untuk mempunyai kehidupan sosial yang lebih baik

terhadap lingkungan internal organisasi. Maxon (2005) mengemukakan bahwa

kompetensi tersebut adalah :

a. Visionari

Kemampuan untuk menciptakan atau memimpin dalam proses kreativitas,

artikulasi visi yang jelas dan kemampuan untuk merumuskan strategi yang

realistis serta memiliki kredibilitas tetapi strategi tersebut mampu

memberikan ruang bagi karyawan untuk selalu berkompetisi sehingga

tercipta suatu rivalitas yang sehat.

b. Inspirasional

Kemampuan yang dimiliki oleh seorang pemimpin untuk mempengaruhi

bawahannya agar selalu fokus terhadap visi dan misi organisasi.

c. Kredibilitas

Seorang pemimpin harus terlihat kompeten (seorang yang ahli di

bidangnya), efisien, efektif dan memiliki reputasi yang baik dalam

organisasi yang dipimpinnya.

d. Kerjasama

Membantu dalam kerja tim, mendukung bawahan serta mempunyai

(33)

commit to user

e. Kemampuan untuk memimpin

Tindakan atau perilakunya menjadi teladan untuk karyawannya, mampu

belajar dari kesalahan yang dibuatnya serta mampu menumbuhkan

semangat bagi bawahan.

f. Memberi pengakuan (ruang kreativitas bagi bawahan)

Pemimpin harus mengakui atau menghargai setiap kontribusi dari individu

ataupun kelompok bagi kemajuan organisasi. Pemimpin transformasional

memberikan penghargaan secara alami, mereka merayakan kesuksesan

tetapi juga mengakui ketika mengalami kegagalan dan bagi mereka dalam

mengalami kegagalan mereka lebih baik belajar dari kegagalan tersebut

dari pada saling menyalahkan.

g. Kejujuran

Seorang pemimpin berperan sebagai simbol kejujuran bagi karyawan dan

pemegang saham. Seorang pemimpin juga diharuskan mampu

mengarahkan organisasi dalam era kejujuran dan keterbukaan.

Pertimbangan utama dalam hal ini adalah kepercayaan karyawan untuk

memberikan yang terbaik bagi organisasi dan mereka percaya bahwa

tindakan tersebut tidak akan sia-sia karena mereka memiliki seorang

pemimpin yang mempunyai integritas.

h. Perubahan manajemen

Kemampuan ini meliputi pemahaman seorang pemimpin tentang akibat

(34)

commit to user

diharuskan mengetahui bagaimana cara untuk menolong mereka untuk

melewati masa transisi karena perubahan tersebut.

i. Kemampuan berfikir dan pengalaman yang dimiliki

Mempunyai kemampuan berfikir yang revolusioner, tidak berfikir

pragmatif dan konvensional serta memiliki pengalaman, kemampuan

dalam memimpin sebuah organisasi.

Kinerja Karyawan

a. Definisi Kinerja

Kinerja perusahaan erat kaitannya dengan kinerja karyawan. Jika

kinerja karyawan baik tentunya akan berdampak positif terhadap kinerja

perusahaan. Kinerja karyawan merupakan hasil kerja yang telah dicapai

setiap karyawan. Sehingga dapat memberikan kontribusi terhadap

perusahaan.

Kinerja (Mathis dan Jackson, 2002) pada dasarnya adalah apa yang

dilakukan atau tidak dilakukan karyawan. Kinerja karyawan adalah yang

mempengaruhi seberapa banyak mereka memberi kontribusi kepada

organisasi yang antara lain : kuantitas output, kualitas output, jangka

waktu output, kehadiran di tempat kerja, dan sikap kooperatif.

Menurut Simamora (1998:327) kinerja karyawan adalah tingkatan

dimana para karyawan mencapai persyaratan-persyaratan pekerjaan.

(35)

commit to user

1) Kaitan yang jelas antara standar kinerja untuk suatu pekerjaan

tertentu dan tujuan organisasi.

2) Kaitan yang jelas antara elemen-elemen kerja yang kritis yang

didefinisikan melalui suatu analisis pekerjaan dan dimensi-dimensi

yang akan dinilai pada formulir penilaian kinerja.

Menurut Robbins (2002:101) kinerja merupakan sejumlah faktor

struktural menunjukkan suatu hubungan ke kinerja, diantara faktor yang

menonjol adalah peran, norma akuitas status, ukuran kelompok, suasana

demografinya, tugas kelompok dan kekohesifan. Ada suatu hubungan

positif antara persepsi peran dan evaluasi kinerja seorang karyawan.

Derajat kesinambungan yang ada antara seorang karyawan dan atasannya

dalam persepsi mengenai pekerjaan itu mempengaruhi derajat sejauh mana

karyawan itu akan dinilai sebagai pekerja yang efektif oleh atasannya.

Sejauh persepsi peran karyawan itu memenuhi pengharapan peran sang

atasan, karyawan itu akan menerima evaluasi kinerja yang tinggi.

Berdasarkan beberapa definisi kinerja di atas dapat disimpulkan

bahwa kinerja adalah hasil dari sebuah pekerjaan dan kontribusi mereka

pada organisasi.

b. Pengukuran kinerja

Gibson (1996), standar ukuran kinerja antara lain :

1) Kualitas hasil pekerjaan, meliputi : ketepatan waktu, ketelitian

(36)

commit to user

2) Kuantitas hasil pekerjaan, meliputi : jumlah pekerjaan dan jumlah

waktu yang dibutuhkan.

3) pengertian terhadap pekerjaan, meliputi : pemahaman terhadap

pekerjaan, dan kemampuan kerja.

4) Inisiatif, meliputi : penyesuaian diri dan komunikasi.

5) Kerja sama, meliputi : kemampuan bekerjasama.

c. Penilaian kinerja

Ukuran kinerja bervariasi tergantung pada kinerja siapa yang akan

diukur, apakah kinerja pribadi, kelompok, kinerja unit atau kinerja

organisasi. Dessler (2003:2) mengungkapkan ada dua alasan untuk menilai

kinerja yaitu :

1) Penilaian memberikan informasi tentang dapat diukurnya promosi dan

penetapan gaji.

2) penilaian memberi satu peluang bagi anda dan bawahan anda untuk

meninjau perilaku yang berhubungan dengan kerja bawahan.

Robbins (2002:258) menyatakan bahwa penilaian kinerja memiliki

sejumlah tujuan dalam organisasi antara lain :

1) Manajemen menggunakan penilaian untuk mengambil keputusan

personalia secara umum.

2) Penilaian memberikan penjelasan tentang pelatihan dan pengembangan

yang dibutuhkan.

3) Penilaian kinerja dapat dijadikan sebagai kriteria untuk program

(37)

commit to user

4) Penilaian kinerja juga untuk memenuhi tujuan umpan balik yang ada

terhadap para karyawan tentanng bagaimana organisasi memandang

kinerja mereka.

Menurut Robbins (2002) dalam penilaian kerja terdapat beberapa

pilihan dalam menentukan mengenai yang sebaiknya melakukan penilaian

tersebut antara lain :

1) Atasan langsung

Sebagian besar dari semua evaluasi kinerja tingkat bawahan dan

menengah dari organisasi dijalankan oleh atasan langsung karyawan

tersebut.

2) Rekan sekerja

Evaluasi rekan sekerja merupakan salah satu sumber paling handal dari

data penelitian. Alasannya adalah rekan sekerja dekat dengan tindakan,

dimana interaksi sehari-hari memberi mereka pandangan menyeluruh

terhadap kinerja karyawan dalam pekerjaannya.

3) Pengevaluasian diri sendiri

Penilaian diri sendiri ini merupakan alat pengembangan diri yang

memaksa karyawan untuk memikirkan kekuatan dan kelemahan

mereka dan menetapkan tujuan untuk pengembangan. Kelemahannya

karyawan mungkin tidak menilai diri mereka sendiri sebagaimana para

(38)

commit to user

4) Bawahan langsung

Evaluasi bawahan dapat memberikan informasi yang tepat dan rinci

mengenai perilaku seorang manajer, karena lazimnya penilai

mempunyai kontak yang sering dengan yang dinilai. Masalah yang

mungkin terjadi adalah rasa takut yang akan dibahas oleh atasan yang

dievaluasi jelek. Sebab itu, anonimitas responden sangat menentukan

agar evaluasi tepat.

5) Pendekatan menyeluruh

Pendekatan ini memberikan umpan balik kinerja dari lingkaran penuh

kontak sehari-hari yang mungkin dimiliki seorang karyawan, yang

berkisar dari personil surat menyurat sampai ke pelanggan atasasan,

rekan sekerja.

Faktor-faktor yang mempengaruhi Penilaian Kinerja

Menurut Henry Simamora (1997:417), faktor-faktor yang

mempengaruhi penilaian kinerja adalah :

1. Karakteristik situasi

2. Deskripsi pekerjaan, spesifikasi pekerjaan, dan standar kinerja

pekerjaan

3. Tujuan-tujuan penilaian kinerja

4. Sikap para karyawan dan manajemen terhadap evaluasi

Kriteria yang dipilih manajemen dalam melakukan evaluasi pada

(39)

commit to user

oleh karyawan tersebut. Menurut Robbins (2002:101) ada tiga evaluasi

yang paling umum yaitu :

1) Hasil kerja perorangan

Jika mengutamakan hasil akhir, lebih dari sekedar alat, maka pihak

manajemen harus mengevaluasi hasil kerja dari seorang pekerja.

2) Perilaku

Dalam kebanyakan kasus, tidak mudah untuk mengidentifikasi hasil

tertentu sebagai hasil langsung dari kegiatan seseorang.

3) Sifat

ini merupakan bagian yang paling lemah dari kriteria sesuatu yang

masih digunakan secara luas oleh organisasi, yaitu sifat perorangan

(traits).

d. Manfaat penilaian kinerja

Penilaian kinerja karyawan memiliki manfaat ditinjau dari beragam

perspektif pengembangan perusahaan, khususnya manajemen sumber daya

manusia, yaitu sebagai berikut (Mangkupawira):

1) Perbaikan kinerja

Umpan balik kinerja bermanfaat bagi karyawan, manajer dan spesialis

personal dalam bentuk kegiatan yang tepat untuk memperbaiki kinerja.

2) Penyesuaian kompensasi

Penilaian kinerja karyawan membantu pengambilan keputusan

menentukan siapa yang seharusnya menerima peningkatan

(40)

commit to user

3) Keputusan penempatan

Promosi, transfer dan penurunan jabatan biasanya didasarkan pada

kinerja masa lalu dan antisipatif, misalnya dalam bentuk penghargaan.

4) Kebutuhan pelatihan dan pengembangan

Kinerja yang buruk mengindikasikan sebuah kebutuhan untuk

melakukan pelatihan kembali.

5) Perencanaan dan pengembangan karir

Umpan balik kinerja membantu proses pengambilan keputusan tentang

karir spesifik karyawan.

6) Defisiensi proses penempatan staf

Baik buruknya kinerja berimplikasi dalam hal kekuatan dan dalam

prosedur penempatan staf di departemen staf di departemen SDM.

7) Ketidak akuratan informasi

Kinerja yang buruk dapat mengindikasikan kesalahan dalam

menginformasikan analisis pekerjaan.

8) Kesalahan rancangan pekerjaan

Penilaian kinerja yang akurat yang secara aktual menghitung kaitannya

dengan kinerja dapat menjamin bahwa keputusan penempatan internal

bukanlah sesuatua yang bersifat diskriminasi.

9) Kesempatan kerja yang sama

10) Tantangan-tantangan eksternal

(41)

commit to user

e. Metode penilaian kinerja

Menurut Gary Dessler (2002) metode penilaian kinerja dibagi

menjadi :

1) Metode skala penilaian grafik yaitu skala yang mendaftarkan sejumlah

ciri dan kisaran kinerja untuk masing-masingnya. Karyawan kemudian

dinilai dengan mengidentifikasi skor yang paling baik menggambarkan

tingkat kinerja untuk masing-masing ciri.

2) Metode peningkatan alternasi yaitu membuat peringkat karyawan dari

yang terbaik ke yang terjelek berdasarkan ciri tertentu.

3) Metode perbandingan berpasangan yaitu memeringkatkan karyawan

dengan membuat peta dari semua pasangan karyawan yang mungkin

untuk setiap ciri dan menunjukan mana karyawan yang lebih baik dari

pasangannya.

4) Metode distribusi paksa adalah sama dengan pemeringkatan pada

sebuah kurva persentase yang sudah ditentukan dari peserta penilaian

ditempatkan berbagai kategori kinerja.

5) Metode insiden krisis yaitu membuang satu catatan tentang

contoh-contoh yang luar biasa baik atau tidak diinginkan dari perilaku yang

berhubungan dengan kerja seorang karyawan dan meninjaunya

bersama pada waktu yang telah ditentukan sebelumnya.

6) Formulir naratif yaitu beberapa karyawan menggunakan formulir

(42)

commit to user

7) Skala penilaian berjangkarkan perilaku yaitu suatu metode penilaian

yang bertujuan mengkombinasikan manfaat dari insiden kritis dan

penilaian berdasarkan kuantitas pada contoh-contoh naratif spesifik

dari kinerja yang baik dan kinerja yang jelek.

8) Metode manajemenen berdasarkan sasaran (MBO) yaitu meliputi

penerapan tujuan khusus yang dapat diukur bersama dengan

masing-masing karyawan dan selanjutnya secara berkala meninjau keinginan

yang dicapai.

Organizational Citizenship Behavior (OCB)

a. Definisi Organizational Citizenship Behavior (OCB)

Perilaku citizenship (OCB) sering disebut pula the extra-role yang artinya adalah perilaku kerja yang bekerja tidak hanya pada apa yang

menjadi tugasnya (in-role) tetapi juga bekerja yang tidak secara kontrak mendapatkan kompensasi pada sistem penghargaan.

Pada in-role biasanya dihubungkan dengan reward dan sanksi, sedangkan pada extra-role biasanya terbebas dari reward dan perilaku yang dilakukan oleh individu tidak diorganisir dalam reward yang akan mereka terima. Tidak ada insentif tambahan yang diberikan ketika

individu berperilaku extra-role.

OCB juga mengacu pada perilaku informal yag terkait perilaku

suka rela untuk membantu karyawan lain yang bekerja seperti perilaku

(43)

commit to user

menyediakan saran yang membangun dan menawarkan umpan balik

positif atas pekerjaan.

Organ (dalam Haunt, 2002) menyatakan bahwa Organizational Citizenship Behavior (OCB) sebagai perilaku yang sekehendak hati, tidak secara langsung atau eksplisit diketahui dari sistem penghargaan formal,

dan secara keseluruhan mendorong fungsi yang efektif dalam organisasi.

Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa OCB adalah

perilaku yang dilakukan oleh seorang karyawan dengan sukarela. Perilaku

ini bukan sebagai akibat dari adanya sistem penghargaan yang diberikan

perusahaan secara formal kepada karyawan, yang berarti karyawan

melakukan OCB bukan untuk mendapatkan penghargaan dari perusahaan.

Perilaku ini sangat penting untuk mencapai efektivitas organisasi.

b. Dimensi-dimensi Organizational Citizenship Behavior (OCB).

Organ dalam Robbin (2002) membagi OCB kedalam lima dimensi,

yaitu :

1. Altruism yaitu membantu rekan kerja dalam tugas.

2. Courtesy yaitu menggantikan orang lain dalam organisasi, tentang perubahan yang mempengaruhi kerja mereka.

3. Countsciencetiousness yaitu melaksanakan tugas melebihi kerja mereka.

4. Sportmanship yaitu menahan diri dari keluhan tentang hal-hal yang tidak berarti.

(44)

commit to user

Penelitian Terdahulu

Wang dan Law (2005)

Penelitian yang dilakukan oleh Wang dan Law (2005) yang

mengambil sampel karyawan di beberapa organisasi di

China menunjukkan bahwa kepemimpinan

transformasional berpengaruh signifikan dan positif pada

kinerja karyawan dan OCB. Hasil penelitian juga

menunjukkan bahwa

Leader-Member Exchange

(LMX)

berpengaruh signifikan dan positif pada kinerja karyawan

dan OCB. Wang dan Law (2005) juga menemukan adanya

peran mediasi LMX dalam pengaruh kepemimpinan

transformasional berpengaruh signifikan dan positif pada

kinerja karyawan dan OCB.

Howell

& Hall-Merenda, dalam Wang & Law (2005)

Studi yang dilakukan Howell & Hall-Merenda, dalam Wang & Law

(2005) yang mengambil sampel 109 manajer bank menyatakan bahwa

kepemimpinan transformasional berpengaruh positif pada kinerja

bawahan, namun Leader Member Exchange (LMX) tidak berpengaruh pada kinerja bawahan.

Truckenbrodt, Yolanda (2000)

Studi yang dilakukan Truckenbrodt, Yolanda (2000) yang dilakukan pada

perusahaan yang bergerak di bidang Information Technology Solution

yang mengambil sampel sebanyak 204 karyawan menunjukan bahwa

kualitas hubungan atasan-bawahan atau Leader Member Exchange (LMX) berhubungan signifikan dan positif dengan Organizational Citizenship Behavior (OCB).

(45)

commit to user

Kerangka pemikiran digunakan untuk menunjukkan arah bagi suatu

penelitian agar penelitian dapat berjalan pada lingkup yang telah ditentukan.

Kerangka penelitian ini adalah sebagai berikut :

[image:45.595.109.512.183.484.2]

Sumber : Wang, Hui & Law, Kanneth (2005) Gambar 2.1

Kerangka Pemikiran

Penelitian ini menguji pengaruh kepemimpinan transformasional pada

OCB dan kinerja dengan memasukkan variabel LMX sebagai variabel

pemediasi. Variabel independen dalam penelitian ini adalah kepemimpinan transformasional, adalah pemimpin yang memberikan pertimbangan dan

rangsangan intelektual yang diindividualkan dan yang memiliki karisma.

Variabel dependen adalah OCB dan kinerja. OCB adalah merupakan perilaku yang ditunjukkan pekerja atau karyawan untuk meningkatkan keefektifan

organisasi dengan melakukan di atas dan melebihi deskripsi kerja formal.

Sedangkan Kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai seseorang atau

sekelompok orang dalam organisasi. Pencapaian OCB dan kinerja dipengaruhi

oleh kepemimpinan transformasional. Kualitas LMX juga memegang peran

Kepemimpinan Transformasional

Leader-Member Exchange

(46)

commit to user

mediasi dalam pengaruh kepemimpinan transformasional pada OCB dan

kinerja.

Hipotesis

Hipotesis merupakan pernyataan atau dugaan sementara yang

diungkapkan secara deklaratif (Salamah, 2006). Penelitian yang dilakukan

oleh Wang dan Law (2005) menyatakan kepemimpinan transformasional

berpengaruh signifikan dan positif pada kinerja karyawan dan OCB. Dari

uraian di atas dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

H1a : Kepemimpinan transformasional berpengaruh positif pada kinerja

H1b : Kepemimpinan transformasional berpengaruh positif pada OCB

Penelitian yang dilakukan oleh Wang dan Law (2005) menyatakan

Leader-Member Exchange berpengaruh positif pada kinerja dan OCB. Dari uraian di atas dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

H2a : Leader-Member Exchange berpengaruh positif pada kinerja

H2b : Leader-Member Exchange berpengaruh positif pada OCB

Penelitian yang dilakukan oleh Wang dan Law (2005) menyatakan

Leader-Member Exchange memediasi pengaruh kepemimpinan transformasional pada kinerja dan OCB. Dari uraian di atas dapat dirumuskan

hipotesis sebagai berikut:

H3a : Leader-Member Exchange memediasi pengaruh kepemimpinan

transformasional pada kinerja

H3b : Leader-Member Exchange memediasi pengaruh kepemimpinan

(47)

commit to user

Penelitian yang dilakukan oleh Wang dan Law (2005) menyatakan

bahwa OCB juga berkaitan dengan kinerja, OCB berpengaruh positif pada

Kinerja. Dari uraian di atas dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

H4 : OCB berpengaruh positif pada kinerja

(48)

commit to user

METODE PENELITIAN

A.

Desain Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian survai. Penelitian dengan metode survai

adalah penelitian yang mengambil sampel dari suatu populasi dengan meminta

tanggapan dari responden, baik langsung maupun tidak langsung. Kuesioner

digunakan sebagi alat bantu dalam penelitian survei (Suliyanto, 2006:68).

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

kuantitatif dengan menggunakan seluruh populasi sebagai sampel (metode

sensus/ sampling jenuh), sehingga dapat dikatakan penelitian ini adalah

penelitian populasi (tidak menggunakan sampel).

B.

Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah jumlah dari keseluruhan obyek (satuan-satuan atau

individu-individu) yang karakteristiknya hendak diduga (Djarwanto dan

Subagyo, 1998:107). Populasi dalam penelitian ini adalah karyawan

DPPKA Kota Surakarta yang berjumlah 160 orang.

2. Sampel

Sampel adalah bagian dari populasi yang karakteristiknya hendak

diselidiki dan dianggap bisa mewakili keseluruhan populasi (Djarwanto

(49)

commit to user

estimasi Maximum Likelihood sebesar 100-200. Jogiyanto (2004:74), memberikan penjelasan mengenai sampel yang baik yaitu sampel harus

akurat (tidak bias) dan nilai presisinya tinggi. Sampel dalam penelitian ini

sebanyak 160 orang responden. Adapun sampel yang diambil untuk

penelitian ini adalah seluruh jumlah populasi yaitu sebesar 160 orang

responden.

C.

Definisi Operasional Variabel

a. Variabel Dependen

Variabel terikat (Dependen) adalah tipe variabel yang dipengaruhi oleh variabel independen. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel dependen adalah kinerja karyawan dan Organizational Citizenship Behavior (OCB). Kinerja adalah apa yang dilakukan atau tidak dilakukan karyawan (Mathis dan Jackson, 2002). Sedangkan definisi OCB adalah

perilaku yang sekehendak hati, tidak secara langsung atau eksplisit

diketahui dari sistem penghargaan formal, dan secara keseluruhan fungsi

yang efektif dalam organisasi (Organ dalam Haunt, 2002).

b. Variabel Independen

Variabel independen adalah variabel yang variasinya mempengaruhi variabel dependen. Variabel independen dalam penelitian ini adalah kepemimpinan transformasional. Kepemimpinan

(50)

commit to user

pertimbangan dan rangsangan intelektual yang diindividualkan dan yang

memiliki karisma (Yukl, 1994).

c. Variabel Pemediasi

Variabel pemediasi dalam penelitian ini adalah Leader-Member Exchange (LMX). LMX adalah kualitas hubungan pertukaran interpersonal antara pekerja dan supervisornya (Vibriwati, 2005).

D.

Sumber Data

a. Data primer

Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumbernya, diamati

dan dicatat untuk pertama kalinya (Marzuki, 2000: 55). Data primer dalam

penelitian ini meliputi jawaban responden terhadap pertanyaan-pertanyaan

yang ada pada kuesioner.

b. Data sekunder

Data sekunder adalah data yang bukan diusahakan sendiri

pengumpulannya oleh peneliti (Marzuki, 2000:56). Data sekunder ini

diperoleh melalui studi kepustakaan yang dilakukan penulis dengan

membaca buku-buku literatur dan jurnal yang berkaitan dengan penelitian

ini serta dokumen profil dan sejarah berdirinya DPPKA Kota Surakarta.

E.

Instrumen Penelitian

(51)

commit to user

Variabel kinerja diukur menggunakan 4 item pertanyaan dari Farth dan

Cheng (dalam Francesco dan Chen, 2004) dengan 5 skala Likert, dengan

1=sangat tidak setuju, 2=tidak setuju, 3=kurang setuju, 4=setuju, 5=sangat

setuju.

b. OCB

Variabel OCB diukur menggunakan 6 item pertanyaan yang

dikembangkan oleh Smith et. al; Zhang et. al (dalam Francesco dan Chen,

2004) dengan 5 skala Likert, dengan 1=sangat tidak setuju, 2=tidak setuju,

3=kurang setuju, 4=setuju, 5=sangat setuju.

c. Kepemimpinan Transformasional

Variabel kepemimpinan transformasional diukur menggunakan 20 item

pertanyaan dari Podsakoff et. al (1990) menggunakan 5 skala Likert,

dengan 1=sangat tidak setuju, 2=tidak setuju, 3=kurang setuju, 4=setuju,

5=sangat setuju.

LMX

Variabel LMX diukur menggunakan 12 item pertanyaan dari Liden dan

Maslyn (dalam Pellegrini dan Scandura, 2006), diukur dengan skala

Likert, dengan 1=sangat tidak setuju, 2=tidak setuju, 3=kurang setuju,

4=setuju, 5=sangat setuju.

F.

Metode Pengumpulan Data

(52)

commit to user

Kuesioner adalah daftar pertanyaan tertulis yang telah dirumuskan

sebelumnya yang akan responden jawab, biasanya dalam alternatif yang

didefinisikan dengan jelas. Djarwanto (1998) mengemukakan teknik

pengumpulan data dengan metode kuesioner, dengan cara memberi

seperangkat pertanyaan tertulis kepada responden.

b. Studi pustaka

Untuk mendapatkan teori yang kuat sebagai dasar dari masalah yang

diteliti sehingga akan diperoleh kesimpulan-kesimpulan ilmiah.

G.

Metode Analisis Data

Pengujian statistik diawali dengan pengujian validitas dan reliabilitas

data penelitian. Hal ini bertujuan untuk mengetahui ketepatan dan keandalan

data, sehingga data tersebut dapat diuji dengan menggunakan metode statistik

apapun jenisnya. Dengan demikian, hasil yang diperoleh mampu

menggambarkan fenomena yang diukur.

1. Uji Kualitas Instrumen Penelitian

Pengujian kualitas instrumen penelitian dalam penelitian ini

menggunakan bantuan Software (program) AMOS versi 16 dengan analisis first order confirmatory factor analysis (First Order CFA). Adapun penjelasan dan kriteria dari kedua pengujian adalah sebagai

berikut:

(53)

commit to user

Uji validitas bertujuan mengetahui ketepatan dan kecermatan

suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Suatu instrumen

dianggap memiliki validitas tinggi jika dapat memberikan hasil

pengukuran yang sesuai dengan tujuannya. Pengujian validitas dalam

penelitian menggunakan convergent validity atau validitas konvergen. Validitas konvergen dapat dinilai dari measurement model yang dikembangkan dalam penelitian dengan menentukan apakah setiap

indikator yang diestimasikan secara valid mengukur dimensi dari

konsep yang diujinya. Sebuah indikator dimensi menunjukkan

validitas konvergen yang signifikan apabila koefisien variabel

indikator itu lebih besar dari dua kali standar errornya (Anderson &

Gerbing dalam Ferdinand, 2005: 187). Bila setiap indikator memiliki

critical ratio (C.R) yang lebih besar dari dua kali standar errornya (S.E), hal ini menunjukkan bahwa indikator itu secara valid mengukur

apa yang seharusnya diukur dalam model yang disajikan.

b. Uji Reliabilitas Konstruk

Reliabilitas konstruk dinilai dengan menghitung indeks

reliabilitas instrumen yang digunakan (composite reliability) dari model SEM yang dianalisis. Nilai batas yang digunakan untuk menilai

sebuah tingkat reliabilitas yang dapat diterima adalah 0,70, walaupun

angka itu bukanlah sebuah ukuran yang “mati”. Artinya, bila

penelitian yang dilakukan bersifat eksploratori, maka nilai dibawah

(54)

commit to user

empirik yang terlihat dalam proses eksplorasi. Nunally dan Bernstein,

(1994) dalam Ferdinand, (2005: 193) memberikan pedoman yang baik

untuk menginterpretasikan indeks reliabilitas. Mereka menyatakan

bahwa dalam penelitian eksploratori, reliabilitas yang sedang antara

0,5 – 0,6 sudah cukup untuk menjustifikasi sebuah hasil penelitian.

Adapun rumus reliabilitas konstruk sebagai berikut:

Construct Reliability

(

)

(

S

)

+Sej

S =

2 2

Loading Std.

Loading Std.

Di mana:

Std. Loading = diperoleh langsung dari standarrized loading untuk

tiap-tiap indikator (perhitungan komputer AMOS).

εj = adalah measurement error dari tiap-tiap indikator.

2. Analisis Structural Equation Model (SEM)

Analisis stuctural equation model bertujuan untuk mengestimasi beberapa persamaan regresi terpisah akan tetapi masing masing

mempunyai hubungan simultan atau bersaman. Dalam analisis ini

dimungkinkan terdapat beberapa variabel dependen, dan variabel ini

dimungkinkan menjadi variabel independen bagi variabel dependen yang

lainnya.

Pada prinsipnya, model struktural bertujuan untuk menguji

hubungan sebab akibat antar variabel sehingga jika salah satu variabel

(55)

commit to user

data diolah dengan menggunakan Analysis of Moment Structure atau AMOS versi 16.

Analisis SEM memungkinkan perhitungan estimasi seperangkat

persamaan regresi yang simultan, berganda dan saling berhubungan.

Karakteristik penggunaan model ini: (1) untuk mengestimasi hubungan

dependen ganda yang saling berkaitan, (2) kemampuannya untuk

memunculkan konsep yang tidak teramati dalam hubungan serta dalam

menentukan kesalahan pengukuran dalam proses estimasi, dan (3)

kemampuannya untuk mengakomodasi seperangkat hubungan antara

variabel independen dengan variabel dependen serta mengungkap variabel

laten (Ghozali, 2005).

a. Evaluasi Asumsi SEM

1) Ukuran Sampel. Disarankan lebih dari 100 atau minimal 5 kali

jumlah observasi. Namun apabila jumlah sampel yang terlalu

banyak dan tidak memungkinkan untuk dilakukan penarikan

sampel seluruhnya, maka penelitian akan menggunakan

rekomendasi untuk menggunakan maksimun likelihood yaitu penarikan sampel antara 100-200 sampel (Ferdinand, 2006).

2) Normalitas. Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah

distribusi data mengikuti atau mendekati distribusi normal.

(56)

commit to user

skewness dan kurtosis dengan nilai batas di bawah + 2,58. Normalitas multivariate dilihat pada assessment of normality baris bawah kanan, dan mempunyai nilai batas + 2,58. Apabila data

terdistribusi normal baik secara univariate (individu) dan

multivariate secara bersama-sama maka pengujian data outlier tidak perlu dilakukan (Santoso, 2007: 81).

3) Outliers. Data outlier adalah data yang secara nyata berbeda

dengan data-data yang lain. Nilai kritis sebenarnya adalah nilai chi-square pada degree of freedom sebesar jumlah sampel pada taraf signifikansi sebesar 0,001. Asumsi terpenuhi jika tidak terdapat

observasi yang mempunyai nilai Z-score di atas + 3 atau 4. Sebuah

data termasuk outlier jika mempunyai nilai p1 dan p2 yang kurang

dari 0,05 pada pengujian outlier mahalanobis distance (Santoso, 2007: 75).

4) Multicollinearity dan Singularity. Multikolinearitas dilihat pada

determinant matriks kovarians. Nilai yang terlalu kecil menandakan

adanya multikolinearitas atau singularitas. Dalam program

komputer SEM telah menyediakan fasilitas “warning” setiap kali terdapat indikasi multikolinieritas atau singularitas.

b. Evaluasi Atas Kriteria Goodness of Fit

1) Likelihood ratio chi-square statistic (χ2). Merupakan ukuran

fundamental dari overall fit. Nilai chi square yang tiggi terhadap

(57)

commit to user

dengan yang diprediksi berbeda secara nyata dan ini menghasilkan

probabilitas lebih kecil dari tingkat signifikansi. Sebaliknya, nilai

chi square yang rendah terhadap degree of freedom menunjukkan bahwa korelasi yang diobservasi dengan yang diprediksi tidak

berbeda secara signifikan. Oleh sebab itu maka nilai yang

diharapkan adalah kecil, atau lebih kecil dari pada chi square tabel. Dalam model maximum likelihood atau jumlah sampel dibawah 200 pengujian goodness of fit (kesesuaian) dapat dilakukan hanya dengan melakukan pengujian chi-square statistic saja dengan ketentuan apabila nilai chi-square kecil atau nilai probabilitas > 0,05 maka model sudah dapat dikatakan fit. Hal tersebut

berdasarkan pendapat Hair et al., 1995; Tabachnick dan Fidell,

1996 (dalam Ferdinand, 2005: 55) yang menyatakan bahwa

Chi-square bersifat sensitif terhadap besarnya sampel yang

digunakan, karena itu bila jumlah sampel adalah cukup besar yaitu

lebih dari 200 sampel, maka statistik chi-square ini harus

didampingi oleh alat uji lainnya. Alat uji paling fundamental untuk

mengukur overall fit adalah likelihood ratio Chi-square statistic. Chi-square ini bersifat sangat sensitif terhadap besarnya sampel yang

digunakan. Karena itu bila jumlah sampel adalah cukup besar yaitu

lebih dari 200 sampel, maka statistik chi-square ini harus didampingi

oleh alat uji lainnya (Hair et. al., 1995; Tabachnick & Fidell, 1996).

(58)

chi-commit to user

squarenya rendah. Semakin kecil nilai c2 semakin baik model itu

(karena dalam uji beda chisquare, c2=0, berarti benar-benar tidak ada

perbedaan, Ho diterima) dan diterima berdasarkan probabilitas dengan

cut-off value sebesar p>0.05 atau p>0.10 (Hulland et. al, 1996).

Karena tujuan analisis adalah mengembangkan dan menguji

sebuah model yang sesuai dengan data atau yang fit terhadap data,

maka yang dibutuhkan justru sebuah nilai c2 yang tidak signifikan,

yang menguji hipotesa nol bahwa estimated population covarinace. Tidak sama dengan sampel covariance. Nilai c2 dapat juga dibandingkan dengan degrees of freedomnya untuk mendapatkan nilai c2-relatif, dan digunakan untuk membuat kesimpulan bahwa nilai c

2-relatif yang tinggi menandakan adanya perbedaan yang signifikan antara matriks kovarians yang diobservasi dan yang diestimasi. Dalam

pengujian ini nilai c2 yang rendah yang menghasilkan sebuah tingkat

signifikansi yang lebih besar dari 0.05 akan mengindikasikan tak

adanya perbedaan yang signifikan antara matriks kovarians data dan

matriks kovarians yang diestimasi (the actual and predicted input matrices are not stati

Gambar

Gambaran Umum DPPKA Kota Surakarta ..............................
Gambar 2.1   Kerangka Pemikiran ..................................................................
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran
  Tabel 3.1
+7

Referensi

Dokumen terkait

Fenomena yang ada dalam PT BPR Artha Kanjuruhan Pemkab Malang yaitu memiliki sumber daya manusia yang sangat bagus.Sseorang atasan menggunakan gaya kepemimpinan dalam peran

Hasil penelitian menunjukkan bahwa OCB berpengaruh positif dan signifikan pada kinerja karyawan, artinya bahwa semakin karyawan berperilaku OCB (membantu rekan kerja, bekerja

Komitmen organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap organizational citizenship behavior (OCB) karyawan pada Koperasi Pegawai Negeri Bina Sejahtera Kabupaten

Pengujian untuk hipotesis keenam dapat dilihat hasilnya yang menyatakan koefisien regresi (B) variabel kepuasan kerja sebesar 0.369 yang memiliki tingkat

4208 ikatan emosional kuat dengan organisasi, merasa tindakan meninggalkan organisasi mempunyai resiko tinggi dan keinginan untuk terus bekerja pada organisasi

Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan peneliti menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh Leader Member Exchange (LMX) terhadap Organizational Citizenship

(2012) menyatakan bahwa kepemimpinan transformasional telah terbukti memiliki efek signifikan pada kepuasan kerja karyawan melalui peningkatan pemberdayaan

Dalam rangka memenuhi persyaratan untuk menyelesaikan pendidikan sarjana di Fakultas Psikologi USU, saya membutuhkan sejumlah data yang hanya akan saya peroleh