ANALISIS
CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY
DAN
CORPORATE IMAGE
TERHADAP PURCHASE
INTENTION PADA CARREFOUR
SURABAYA TIMUR
SKRIPSI
Oleh :
KIKI DODY P.
0712010235 / EM
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL ”VETERAN”
JAWA TIMUR
SKRIPSI
ANALISIS
CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY
DAN
CORPORATE IMAGE
TERHADAP PURCHASE
INTENTION PADA CARREFOUR
SURABAYA TIMUR
Yang diajukan
KIKI DODY P.
0712010235 / EM
disetujui untuk Ujian Lisan oleh
Pembimbing Utama
Dra. Ec. Hj. Luky S, MP Tanggal………
Mengetahui Wakil Dekan I
SKRIPSI
ANALISIS
CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY
DAN
CORPORATE IMAGE
TERHADAP PURCHASE
INTENTION PADA CARREFOUR
SURABAYA TIMUR
Disusun Oleh:
KIKI DODY P.
0712010235/EM
Telah Dipertahankan Dihadapan Dan Diterima Oleh
Tim Penguji Skripsi Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional ”Veteran” Jawa Timur
Pada tanggal 30 Maret 2012
Pembimbing Utama : Tim Pengguji : Ketua
`
Dra. Ec. Lucky Susilowati, MP Dr. H. Prasetyohadi, MM
Sekretaris
Dra. Ec. Lucky Susilowati, MP
Anggota
Rizky Dermawan, SE, MM
Mengetahui
Dekan Fakultas Ekonomi
Universitas Pembangunan Nasional ”Veteran” Jawa Timur
Puji syukur peneliti ucapkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayah-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan penelitian ini dengan judul : “Analisis Corporate Social Responsibility dan Corporate Image terhadap Purchase Intention Pada Carrefour Surabaya Timur”
Penelitian ini diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Progdi Manajemen pada Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
Peneliti menyadari bahwa penelitian ini tidak akan berhasil tanpa adanya dukungan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini dengan segala ketulusan hati peneliti ingin mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Ir. Teguh Soedarto, MP, selaku Rektor Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
2. Bapak Dr. Dhani Ichsanudin Nur, MM, selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur dan selaku Dosen Pembimbing Utama yang telah memberikan bimbingan dan dorongan kepada peneliti dalam menyelesaikan penelitian ini.
3. Bapak Dr. Muhadjir Anwar, MM, selaku Ketua Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
Jawa Timur yang telah memberikan banyak pengetahuan selama masa perkuliahan. 6. Bapak dan Ibu, yang telah memberikan dukungan, doa dan semangat dan segalanya. 7. Semua pihak yang ikut membantu, yang tidak bisa peneliti sebutkan satu-persatu.
Peneliti menyadari bahwa apa yang telah disajikan masih banyak kekurangan, untuk itu kritik dan saran yang membangun dari semua pihak sangat diharapkan demi kesempurnaan penelitian ini. Akhirnya dengan segala keterbatasan yang peneliti miliki, semoga penelitian ini bermanfaat bagi pihak yang berkepentingan.
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR TABEL ... vi
DAFTAR GAMBAR... vii
ABSTRAKSI ... viii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang Masalah ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 6
1.3. Tujuan Penelitian ... 6
1.4. Manfaat Penelitian ... 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 8
2.1. Penelitian Terdahulu ... 8
2.2. Landasan Teori ... 9
2.2.1. Pengertian Pemasaran ... 9
2.2.2. Konsep Pemasaran ... 11
2.2.3. Tanggung Jawab Sosial ( Corporate social ) ... 14
2.2.5. Citra Perusahaan ( corporate image )... 19
2.2.6. Minat Beli ( Purchase Intention )... 22
terhadap Purchase Intention... 26
2.2.9. Pengaruh Corporate Image terhadap Purchase Intention ... 27
2.3. Kerangka Pikir... 29
2.4. Hipotesis... 30
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel ... 31
3.2 Populasi Dan Sampel Penelitian ... 35
3.3 Jenis Data dan Sumber Data... 36
3.4 Teknik Analisis dan Uji Hipotesis ... 37
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Depenelitian Obyek Penelitian... 43
4.1.1. Sejerah singkat Perusahaan...43
4.1.2. Komitmen Carrefour...46
4.2. Hasil Penelitian dan Pembahasan ... 47
4.2.1. Depenelitian Hasil Analisis... 47
4.2.2. Uji Outlier Multivariate ... 48
4.2.3. Uji Reliabilitas ... 49
4.2.4. Uji Validitas ... 51
4.2.5. Uji Construct Reliability dan Variance Extracted ... 52
4.2.8. Uji Kausalitas... 57
4.3. Pembahasan... 58
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 62
5.1. Kesimpulan ... 62
5.2. Saran ... 62
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1. Identitas Responden Menurut Jenis Kelamin ...47
Tabel 4.2. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan...48
Tabel 4.3. Hasil Uji Outlier Multivariate...49
Tabel 4.4. Pengujian Reliability Consistency Internal...50
Tabel 4.5. Hasil Uji Validitas ...51
Tabel 4.6. Construct Reliability & Variance Extrated...52
Tabel 4.7. Assessment of Normality...54
Tabel 4.8. Evaluasi Kriteria Goodness of Fit Indeces ...56
Tabel 4.9. Evaluasi Kriteria Goodness of Fit Indeces ...57
DAFTAR GAMBAR
ANALISIS CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY DAN
CORPORATE IMAGE TERHADAP PURCHASE
INTENTION PADA CARREFOUR
SURABAYA TIMUR
Kiki Dody P.
ABSTRAK
Corporate Social Responsibility merupakan sebuah tanggung jawab social dengan tujuan menciptakan kondisi ekonomi, sosial, dan lingkungan yang lebih baik. Corporate Social Responsibility akan menjadi strategi bisnis yang bagus dalam perusahaan untuk menjaga atau meningkatkan daya saing melalui reputasi dan kesetiaan merek produk (loyalitas) atau corporate image. Kedua hal tersebut akan menjadi keunggulan kompetitif perusahaan yang sulit untuk ditiru oleh para pesaing. Di lain pihak, adanya pertumbuhan keinginan dari konsumen untuk membeli produk berdasarkan kriteria-kriteria berbasis nilai-nilai dan etika akan merubah perilaku konsumen di masa mendatang. Implementasi kebijakan CSR (Corporate Social Responsibility ) adalah suatu proses yang terus menerus dan berkelanjutan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah Corporate Social Responsibility dan Corporate Image berpengaruh terhadap Purchase Intention Pada Carrefour Surabaya Timur.
Populasi dalam penelitian ini adalah setiap pengunjung Carefour. Metode pengambilan sampel yang dilakukan adalah non probability sampling dengan teknik teknik accidental sampling, yaitu pengambilan dengan cara memberikan kuesioner kepada setiap pengunjung Carefour pada saat mereka berada di Carefour, dengan jumlah responden yang diambil sebanyak 105 orang. Pengujian hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis multivariate dengan Structural Equation Modeling (SEM).
Berdasarkan analisis data dengan menggunakan SEM (Stuctural Equation Modeling) dan pembahasan hasil penelitian yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan berikut : Corporate Social Responsibility berpengaruh terhadap Corporate Image, Corporate Social Responsibility tidak berpengaruh terhadap Purchase Intention, Corporate Image berpengaruh positif terhadap Purchase Intention.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Seiring dengan perkembangan zaman menjadikan perusahaan lupa akan fungsinya yaitu sebagai organisasi bisnis perusahaan juga sebagai organisasi sosial. Orientasi bisnis yang hanya terfokus pada tujuan ekonomi tersebut dewasa ini telah menghadapi tantangan, karena secara langsung maupun tidak langsung dalam menjalankan kegiatan operasinya perusahaan harus berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.
Perusahaan yang ingin mengembangkan harus memiliki Tanggung Jawab Sosial, bagaimana perusahaan sadar dan tanggap terhadap issue sosial yang muncul. Tanggung Jawab Sosial adalah merupakan semacam jaminan yang diperlukan untuk melindungi perusahaan jika sewaktu-waktu terjadi sesuatu yang tidak diharapkan.
Corporate Social Responsibility akan menjadi strategi bisnis yang bagus dalam perusahaan untuk menjaga atau meningkatkan daya saing melalui reputasi dan kesetiaan merek produk (loyalitas) atau corporate image. Kedua hal tersebut akan menjadi keunggulan kompetitif perusahaan yang sulit untuk ditiru oleh para pesaing. Di lain pihak, adanya pertumbuhan keinginan dari konsumen untuk membeli produk berdasarkan kriteria-kriteria berbasis nilai-nilai dan etika akan merubah perilaku konsumen di masa mendatang. Implementasi kebijakan CSR (Corporate Social Responsibility ) adalah suatu proses yang terus menerus dan berkelanjutan. Dengan demikian akan tercipta satu ekosistem yang menguntungkan semua pihak (true win win situation) – konsumen mendapatkan produk unggul yang ramah lingkungan, produsen pun mendapatkan profit yang sesuai yang pada akhirnya akan dikembalikan ke tangan masyarakat secara tidak langsung. Untuk mencapai keberhasilan dalam melakukan program CSR ( Corporate Social Responsibility ) , diperlukannya komitmen yang kuat, partisipasi aktif, serta ketulusan dari semua pihak yang peduli terhadap program-program CSR. Program CSR menjadi begitu penting karena kewajiban manusia untuk bertanggung jawab atas keutuhan kondisi-kondisi kehidupan umat manusia di masa depan.
tentang suatu produk. Terdapat kecenderungan bahwa konsumen akan memilih produk yang telah dikenal baik melalui pengalaman menggunakan produk maupun berdasarkan informasi yang diperoleh melalui berbagai sumber
Penelitian ini menggunakan variable CSR (Corporate Social Responbility) karena kepedulian kepada masyarakat sekitar/relasi komunitas dapat diartikan sangat luas, namun secara singkat dapat dimengerti sebagai peningkatan partisipasi dan posisi organisasi di dalam sebuah komunitas melalui berbagai upaya kemaslahatan bersama bagi organisasi dan komunitas. CSR bukan hanya sekedar kegiatan amal, namun mengharuskan perusahaan dalam pengambilan keputusannya harus sungguh-sungguh memper-hitungkan akibat terhadap seluruh pemangku kepentingan (stakeholder), termasuk lingkungan hidup. Hal ini karena belum banyak informasi tentang penerapan CSR di industri tersebut, selain itu hanya beberapa perusahaan telah menerapkan konsep CSR dalam kegiatan manajemennya.
sebagai salah satu kegiatan Corporate Social Responsibility dalam bidang pendidikan terutama dalam membantu memperkenalkan teknologi informasi bagi anak-anak sekolah dasar. Akan tetapi dalam dua tahun belakangan ini Carrefour mengalami penurunan omset penjualan. Hal ini terlihat pada penurunan tabel laporan penjualan yang terjadi pada Carrefour pada February 2009 sampai dengan February 2010.
Tabel 1.1. laporan penjualan Carrefour Surabaya Timur
Berdasarkan tabel dapat diketahui bahwa terjadi penurunan omset penjualan dari Februari 2009 sampai Februari 2010. Pada Februari 2009 total omset 5.456.926.099 turun menjadi 4.272.775.914 pada Februari 2010, . Hal ini mengindikasikan menurunnya minat beli ( purchase intention ) yang diindikasikan penerapan CSR yang kurang efektif dan corporate image yang menurun. Sedangkan berdasarkan keterangan diatas Carrefour telah melakukan CSR, tetapi masih mengalami penurunan penjualan. Deskripsi permasalahan pada penelitian ini bagaimana kedepannya Carrefour bisa meningkatkan omset penjualannya agar dapat mengembalikan image dan minat beli konsumen. Menurut Kotler dan Lee (2005), CSR mampu memberikan banyak keuntungan bagi perusahaan yang telah melakukan. Corporate Social Responsibility (CSR) mampu meningkatkan penjualan dan penguasaan pasar. Survei yang dilakukan Klein (1990) menjelaskan bahwa 8 dari 10 orang berminat untuk membayar lebih apabila produk tersebut ramah lingkungan. Perusahaan menjalankan CSR untuk berbagai orientasi keuntungan, seperti menaikan penjualan, perluas inovasi, mengurangi produksi yang tidak efisien, mengurangi resiko kedepan, dan memiliki akses terhadap modal, (Redman, 2005).
jelaslah bahwa citra perusahaan dapat mendorong tumbuhnya minat beli (Darley dan Lim 1999:31)
Berdasarkan permasalahan yang dikemukakan diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Analisis Corporate Social Responsibility dan Corporate Image terhadap Purchase Intention Pada Carrefour Surabaya
Timur”.
1.2. Perumusan Masalah
Atas dasar latar belakang diatas, maka penelitian ini mempunyai perumusan masalah sebagai berikut :
1. Apakah Corporate Social Responsibility berpengaruh terhadap Corporate Image pada Carrefour Surabaya timur ?
2. Apakah Corporate Social Responsibility berpengaruh terhadap Purchase Intention Carrefour Surabaya timur ?
3. Apakah Corporate Image berpengaruh terhadap Purchase Intention Carrefour Surabaya timur ?
1.3. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui apakah Corporate Social Responsibility berpengaruh terhadap Corporate Image Carrefour Surabaya timur
3. Untuk mengetahui apakah Corporate Image berpengaruh terhadap Purchase Intention Carrefour Surabaya timur
1.4. Manfaat Penelitian
a. Bagi Perusahaan
Diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan penerapan tanggung jawab sosial secara efektif bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia.
b. Bagi Peneliti lain
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Penelitian Terdahulu
Bagian ini berisikan fakta atau temuan serta penelitian yang telah dilakukan peneliti terdahulu yang berhubungan dan permasalahan dalam penelitian ini.
A.Gendut sukarno
Meneliti dengan judul “Corporate Reputation melalui pendekatan corporate Social responsibility Di lingkunganPT.PERKEBUNAN NUSANTARA X”
B. Samuel (2008)
Corporate social responsibility, Purchase intension dan Corporate image pada restoran di Surabaya dari perspektif pelanggan, Dalam penelitian ini aktivitas CSR mampu menggambarkan dimensi Economics, social, dan environtment. Dimensi economics dapat menjelaskan indikator pelayanan restoran dan kejujuran restoran, sedangkan dimensi social dapat menggambarkan labour practises dan social activities dan dimensi environtment lebih dapat menggambarkan produk yang ramah lingkungan.
2.2. Landasan Teori
2.2.1. Pengertian Pemasaran.
Jadi menurut definisi diatas, semua manusia harus menemukan kebutuhanya dulu baru kemudian berusaha memenuhinya dengan cara mengadakan hubungan dengan pihak lain. Pemasaran mencakup usaha perusahaan yang dimulai dengan mengidentitikasi kebutuhan dan keinginan konsumen, menentukan produk yang dapat memenuhi kebutuhan konsumen, menentukan tingkat harga yang sesuai, menentukan jenis promosi dan media promosi yang tepat, serta menentukan saluran distribusi yang digunakan dalam rangka mencapai tujuan perusahaan yang diinginkan. Sehingga pemasaran bukanlah hal yang sederhana yang hanya sekedar menghasilkan uang.
Rangkaian kegiatan-kegitan pemasaran yang saling berhubungan sebagai usaha untuk mencapai hasil pertukaran yang diinginkan dengan pasar sasarannya (target market) sehingga dikenal istilah manajemen pemasaran.
Menurut Kotler (1997 : 13) "Manajemen Pemasaran adalah proses perencanaan dan pelaksanaan pemikiran, penetapan harga dan promosi serta penyaluran gagasan, barang dan jasa untuk menciptakan pertukaran uang dan memuaskan tujuan individu organisasi.
lebih matang dan tepat. Sedangkan pelaksanaan merupakan tindakan yang diambil sesuai dengan rencana. Pengawasan (Controlling) adalah pengukuran dan koreksi terhadap kegiatan para bawahan untuk menjamin bahwa apa yang terlaksana itu sesuai dengan rencana.
2.2.2. Konsep Pemasaran
Pemasaran akan berhasil mencapai tujuannya apabila pemasaran menitik-beratkan pada pemuasan kebutuhan dan keinginan konsumen. Kepuasan konsumen tersebut baru akan diperoleh apabila barang atau jasa yang dibeli sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan konsumen.
Perkembangan dunia usaha yang semakin pesat tentunya membawa dampak pada situasi persaingan yang semakin ketat pula. Untuk mengatasi persaingan tersebut salah satunya dengan menggunakan konsep pemasaran, karena konsep pemasaran bertujuan untuk memberikan kepuasan terhadap keinginan dan kebutuhan konsumen. Disinilah pemasaran berperan untuk menjembatani permasalahan yang ada sehingga memungkinkan bagi konsumen untuk membuat pilihan yang nantinya akan coba dipenuhi oleh penjual.
Konsep pemasaran merupakan suatu kunci atau keseluruhan sistem untuk meraih tujuan perusahaan yang berhubungan dengan kegiatan-kegiatan usaha dalam merencanakan, menentukan hingga melaksanakan kegiatan pemasaran.
Tiga faktor penting yang dipakai sebagai dasar konsep pemasaran menurut Swastha dan Handoko (2006:6-8), meliputi:
a. Orientasi Konsumen
Perusahaan yang benar-benar memperhatikan konsumen maka harus: 1. Menentukan kebutuhan pokok dari pembeli yang akan dilayani
dan dipenuhi.
2. Menentukan kelompok pembeli yang akan dijadikan sasaran penjualan.
3. Menentukan produk dan program pemasarannya.
4. Mengadakan penelitian pada konsumen untuk mengukur, menilai, dan menafsirkan keinginan, sikap, serta tingkah laku mereka.
5. Menentukan dan melaksanakan strategi yang paling baik, apakah pada mutu yang tinggi atau pada harga yang murah serta model yang menarik.
b. Penyusunan kegiatan secara integral
harus menyadari bahwa bahwa setiap perilaku dan pola pikir mereka sangat mempengaruhi kemampuan perusahaan dalam menciptakan dan mempertahankan pelanggan, jadi dapat dikatakan bahwa setiap orang dan setiap bagian dalam perusahaan harus mampu berkoordinasi untuk memberikan kepuasan kepada konsumen sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai.
c. Kepuasan Konsumen
Faktor yang menentukan apakah dalam jangka panjang perusahaan akan mendapatkan laba adalah tingkat kepuasan konsumen yang dapat terpenuhi. Laba merupakan pencerminan dari usaha perusahaan yang berhasil memberikan kepuasan kepada konsumen, dimana perusahaan dapat menyediakan atau menjual barang atau jasa yang paling baik, yang sesuai dengan keinginan konsumen dan dengan harga yang layak.
Berdasarkan pengertian diatas, konsep pemasaran merupakan orientasi perusahaan yang menekankan bahwa tugas pokok perusahaan adalah menentukan kebutuhan dan keinginan pasar, selanjutnya memenuhi kebutuhan tersebut, sehingga tercapai tingkat kepuasan yang melebihi dari kepuasan yang diberikan oleh para pesaing.
menjalankan usahanya dengan semakin bertanggungjawab. Pelaku bisnis tidak hanya dituntut untuk memperoleh keuntungan dari lapangan usahanya, melainkan mereka juga diminta untuk memberikan kontribusi positif terhadap lingkungan sosialnya. (Daniri, 2007:1)
2.2.3. Tanggung Jawab Sosial ( Corporate social )
Tanggung jawab sosial adalah basis teori tentang perlunya sebuah perusahaan membangun hubungan harmonis dengan masyarakat setempat. Secara teoretik, Tanggung jawab sosial dapat didefinisikan sebagai tanggung jawab moral suatu perusahaan terhadap para stakeholdersnya, terutama komunitas atau masyarakat disekitar wilayah kerja dan operasinya. Tanggung jawab sosial memandang perusahaan sebagai agen moral. Dengan atau tanpa aturan hukum, sebuah perusahaan harus menjunjung tinggi moralitas. Parameter keberhasilan suatu perusahaan dalam sudut pandang tanggung jawab sosial adalah pengedepankan prinsip moral dan etis, yakni menggapai suatu hasil terbaik, tanpa merugikan kelompok masyarakat lainnya. Salah satu prinsip moral yang sering digunakan adalah goldenrules, yang mengajarkan agar seseorang atau suatu pihak memperlakukan orang lain sama seperti apa yang mereka ingin diperlakukan. Dengan begitu, perusahaan yang bekerja dengan mengedepankan prinsip moral dan etis akan memberikan manfaat terbesar bagi masyarakat.
Corporate Social Responsibility justru dianggap sok social. Ada juga yang berhasil memberikan materi riil kepada masyarakat, namun diruang public nama perusahaan gagal menarik simpati orang. Tujuannya mau berderma sembari meneguk untung citra, tetapi malah bunting. Hal ini terjadi karena CSR dilakukan secara latah dan tidak didukung konsep yang baik (Badri,2007). Praktik Corporate Social Responsibility (CSR) tidaklah semudah konsepnya, Hal tersebut dikarenakan untuk melaksanakan memerlukan pemahaman yang mendalam dan mendasar, perusahaan harus selalu memperhatikan aspek sosial secara komprehensif dan integratfif, dimana sebuah keputusan akan berdampak terhadap lingkungan. Pertimbangan keseimbangan yang tepat antara apa yang benar dengan dengan apa yang menghasilkan keuntungan.
Dengan tanggung jawab social sebagai penekanan nalar dan obyektif bagi kesejateraan masyarakat yang mengendalikan prilaku manusia dan perusahaan dari aktivitas yang pada akhirnya merusak, tidak jadi soal betapapun segeranya laba yang dihasilkan, dan hal itu menimbulkan kontribusi positif bagi kesejateraan manusia, di mana berbagai hal dapat didefinisikan dari hal yang terakhir.
Perusahaan merupakan sistem terbuka. Sistem terbuka adalah sistem yang menggunakan masukan dari luar perusahaan dan memproses masukan tersebut menjadi keluaran untuk dijual kepada pihak eksternal dalam rangka mencapai tujuan. Oleh karena itu, menajemen perusahaan harus mempertimbangkan berbagai pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan. Berbagai pihak tersebut dinamakan stakeholders. Stakholders mencakup para investor (pemegang saham atau pemilik dan kreditor), konsumen, pemasok, karyawan, masyarakat umum dan pemerintah Sedangkan Freeman (1984) mendefinisikan stakeholders sebagai “any group or individual Who can affect by the affected by the achievement of the
organization’s objectives”.Berdasarkan definisi seperti yang dikemukakan oleh Freeman diatas dapat dipahami bahwa stakeholders merupakan kelompok atau individu yang dapat mempengaruhi atau sangat berpengaruh terhadap pencapaian tujuan perusahaan, sehingga secara eksplisit dapat disimpulkan bahwa stakeholders dapat mempengaruhi kelangsungan hidup (goingconcern) perusahaan.
Beberapa literatur menekankan 4 hal yang menjadi isu-isu krusial dalam ruang lingkup stakeholders saat ini keempat hal tersebut adalah (Freeman, 1984):
2) Kelompok Masyarakat (Community) kelompok masyarakat harus diperhatikan karena kelompok masyarakat adalah elemen konsumen yang akan mengkonsumsi hasil produksi dari perusahaan.Kelompok lain yang dapat dikategorikan bagian dari masyarakat adalah institusi pendidikan yang selalu merespons secara kajian akademis jika terjadi suatu hal di dunia usaha terutama yang merugikan masyarakat umum demi kepentingan dan kepentingan kelompok masyarakat.
3) Organisasi Lingkungan (EnvironmentalOrganizatio), menurut Freeman (1984) dewasa ini telah nenjadi salah satu kekuatan kontrol sosial yang dapat mengawasi aktifitas perusahaan. Orientasi organisasi lingkungan secara umum adalah menghindari eksploitasi yang berlebihan terhadap linkungan hidup demi kepentingan perusahaan (profit). Aktifitas organisasi lingkungan dapat memobilisasi gerakan masyarakat dan opini terhadap aktifitas perusahaan, sehingga kepentingan organisasi tersebut jika tidak disikapi dengan bijaksana akan berbenturan dangan kepentingan perusahaan.
perusahaan tidak pernah menghindari media massa jika terjadi informasi-informasi tentang aktifitas sosial dunia bisnis, tetapi selalu menyikapi sebagai suatu bukti bahwa perusahaan mempersepsikan peran media memang sangat penting dalam dunia usaha. Freeman (1984) juga menyebutkan bahwa media dapat membentuk opini masyarakat terhadap perusahaan dan hal tersebut sangat berhubungan erat dengan kepentingan perusahaan,sehingga media juga salah satu kelompok stakeholders.
2.2.5. Citra Perusahaan ( corporate image )
Citra merupakan petunjuk yang akan digunakan oleh konsumen untuk mengevaluasi produk ketika konsumen tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang suatu produk. Terdapat kecenderungan bahwa konsumen akan memilih produk yang telah dikenal baik melalui pengalaman menggunakan produk maupun berdasarkan informasi yang diperoleh melalui berbagai sumber.
Keinginan sebuah organisasi untuk mempunyai citra yang baik pada publik sasaran berawal dari pengertian yang tepat mengenai citra stimulus adanya pengelolaan upaya yang perlu dilaksanakan. Ketepatan pengertian citra agar organisasi dapat menetapkan upaya dalam mewujudkannya pada obyek dan mendorong prioritas pelaksanaan.
kesan yang diperoleh sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman seseorang tentang sesuatu. Menurut Davies et al. dalam Vera (2006) dikatakan bahwa citra diartikan sebagai pandangan mengenai perusahaan oleh para pemegang saham eksternal, khususnya oleh para pelanggan. Definisi citra menurut Renald Kasali dalam Iman (2010) yaitu kesan yang timbul karena pemahaman akan suatu kenyataan. Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut citra menunjukan kesan suatu obyek terhadap obyek lain yang terbentuk dengan memproses informasi setiap waktu dari berbagai sumber terpercaya.
Citra perusahaan dapat menjadi informasi ekstrinsik petunjuk bagi pembeli baik yang ada dan potensi dan mungkin atau tidak dapat mempengaruhi loyalitas pelanggan (misalnya kesediaan untuk memberikan kata positif dari mulut ke mulut). Citra Perusahaan diasumsikan berdampak akibat pada pilihan pelanggan perusahaan ketika atribut pelayanan sulit untuk dievaluasi, maka citra perusahaan didirikan dan dikembangkan di benak konsumen melalui komunikasi dan pengalaman. Citra perusahaan yang diyakini untuk menciptakan efek halo pada penilaian kepuasan pelanggan (Andreassen et al., 1997)
Sutisna (2001) mengatakan satu hal yang dianalisis mengapa terlihat ada masalah citra perusahaan adalah organisasi dikenal atau tidak dikenal. Dapat dipahami ketidakterkenalan perusahaan menunjukan citra perusahaan yang bermasalah. Masalah citra perusahaan tersebut, dalam keberadaannya berada dalam pikiran dan atau perasaan konsumen. Berdasarkan pendapat tersebut, keberadaannya citra perusahaan bersumber dari pengalaman dan atau upaya komunikasi sehingga penilaian maupun pengembangannya terjadi pada salah satu atau kedua hal tersebut. Citra perusahaan yang bersumber dari pengalaman memberikan gambaran telah terjadi keterlibatan anatar konsumen dengan perusahaan. Keterlibatan tersebut, belum terjadi citra perusahaan yang bersumber dari upaya komunikasi perusahaan
Terbentuknya citra perusahaan berlangsung beberapa tahapan. Pertama, obyek mengetahui (melihat atau mendengar) upaya yang dilakukan Exposure Attention Image, Comprehensive, Behavior perusahaan dalam membentuk citra perusahaan. Kedua, memperhatikan upaya perusahaan tersebut. Ketiga, setelah adanya perhatian obyek mencoba memahami semua yang ada pada upaya perusahaan. Keempat, terbentuknya citra pada obyek yang kemudian tahap kelima citra perusahaan yang terbentuk akan menentukan perilaku obyek sasaran dalam hubungannya dengan perusahaan.
pemahaman yang berasal dari suatu informasi yang tidak lengkap menghasilkan citra yang tidak sempurna
2.2.6. Minat Beli ( Purchase Intention )
Minat beli terjadi dari berbagai tahapan saat iklan masuk pada konsumen, mulai dari rasa perhatian terhadap iklan yang ditampilkan, kemudian membawa rasa ketertarikan terhadap produk yang diiklankan tadi, sehingga konsumen akan mulai mencoba dengan apa yang mereka ketahui di iklan tadi, dari tahap mencoba tadi mereka akan melakukan suatu tindakan pembelian (Tjiptono, 1997; 226).
Minat beli merupakan bagian dari komponen perilaku dalam sikap mengkonsumsi. Menurut Kinnear dan Taylor (1995; 306), minat beli adalah tahap kecenderungan repsonden untuk bertindak sebelum keputusan membeli benar-benar dilaksanakan. Sedangkan minat pembelian ulang merupakan minat pembelian yang didasarkan atas pengalaman pembelian yang telah dilakukan pada masa lalu. (Thamrin, 2003; 142)
Dari pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa minat beli adalah pikiran seseorang yang merupakan dorongan yang bersifat intrinsic yang mampu membuat seseorang secara sadar menaruh perhatian terhadap suatu barang atau jasa karena dia merasa bahwa barang atau jasa tersebut mempunyai sangkut paut dengan dirinya. Dengan kata lain, minat beli ini dapt timbul dari kebutuhan pribadi dan tuntutan masyarakat serta dari pikirandan perasaan terhadap barang atau jasa yang diinginkan (timbul dari dalam diri individu tersebut atau dapat juga berasal dari luar dirinya).
2.2.7. Pengaruh Corporate Social Responsibility Terhadap Corporate Image
CSR di bidang sosial pun dapat meningkatkan image, baik internal maupun eksternal. Cara pandang karyawan terhadap perusahaan tentu akan brbeda, secara tidak langsung maka image perusahaan di mata karyawannya akan meningkat. Dengan demikian turnover dari karyawan akan rendah bahkan justru mampu menarik perhatian masyarakat. Dan hal ini akan meningkatkan corporate image karena berdampak pada kualitas sumber daya manusia yang dimiliki.
Dari sisi perusahaan terdapat berbagai manfaat yang dapat diperoleh dari aktivitas CSR.Pertama , mengurangi resiko tuduhan terhadap perlakuan tidak pantas yang diterima oleh perusahaan. Perusahaan yang menjalankan tanggung jawabnya secara konsisten akan mendapatkan dukungan luas dari komunitas yang telah merasakan manfaat dari berbagai aktivitas yang dijalankannya. CSR akan mendongkrak citra perusahaan yang dalam rentang waktu panjang akan meningkatkan reputasi perusahaan. Manakala terdapat pihak – pihak tertentu yang menuduh perusahaan menjalankan perilaku serta praktik – praktik yang tidak pantas, masyarakat akan menunjukkan pembelaannya. Karyawan pun akan berdiri dibelakang perusahaan, membela institusi mereka bekerja. ( A. B. Susanto 2009 ).
consnsus antara manajemen dan karyawan dalam tata nilai utama ( core values ) dan tujuan perusahaan. Meskipun demikian, perlu diorganisasikan secara jelas antara pengelolaan reputasi perusahaan dan pengelolaan reputasi produk. Masig – masing mempunyai porsi dan penanggung jawab sendiri – sendiri dan diatur sedemikian rupa agar tidak saling berbenturan sehingga tidak kontra produktif. Pengelolaan reputasi yang efektif tidak bisa dilepaskan dari peran bisnis perusahaan dalam menangkap peluang ( ofensif ) dan menanggulangi ancaman ( defensif ) . Dengan demikian, reputasi menjadi bagian dari karakter, budaya, dan DNA perusahaan yang perlu ditekankan kembali : harus direfleksikan dalam kegiatan operasional sehari – hari. Dan salah satu yang terpenting adalah penerapan CSR dalm arti luas, apalagi jika dapat melangkah menuju CSL ( Corprate social leadership ). ( A. B. Susanto 2009 ).
Jadi berdasarkan teori di atas maka dapat disimpulkan bahwa Corporate Social Responsibility berpengaruh positif terhadap citra perusahaan, hal ini berarti bahwa jika perusahaan melakukan tanggung jawab sosial ( Corporate Social Responsibility ) dengan baik maka akan dapat meningkatkan citra dari perusahaan.
2.2.8. Pengaruh Corporate Social Responsibility terhadap Purchase Intention
Menurut Kotler dan Lee (2005), CSR mampu memberikan banyak keuntungan bagi perusahaan yang telah melakukan. Corporate Social Responsibility (CSR) mampu meningkatkan penjualan dan penguasaan pasar. Survei yang dilakukan Klein (1990) menjelaskan bahwa 8 dari 10 orang berminat untuk membayar lebih apabila produk tersebut ramah lingkungan. Perusahaan menjalankan CSR untuk berbagai orientasi keuntungan, seperti menaikan penjualan, perluas inovasi, mengurangi produksi yang tidak efisien, mengurangi resiko kedepan, dan memiliki akses terhadap modal, (Redman, 2005).
Banyak indikator menunjukan bahwa pada kegiatan bisnis abad 21, masalah sosial dan lingkungan merupakan alat stragi bisnis yang dapat diandalkan, (Social Investment Forum, 2003). CSR dapat meyakinkan kepercayaan eksekutif perusahaan bahwa hal tersebut dapat membantu perusahaan mendapat pelanggan baru. (Redman, 2005 )
apabila perusahaan melakukan tanggung jawab sosial ( Corporate Social Responsibility ) dengan baik maka akan meningkatkan minat beli ( Purchase intention ) masyarakat.
2.2.9. Pengaruh Corporate Image terhadap Purchase Intention
Produk atau jasa yang ditawarkan tidak dapat dilepaskan dari citra perusahaan. Citra perusahaan dapat menjadi pengenal produk / jasa yang ditawarkan. Disamping itu, citra perusahaan juga dapat digunakan untuk memperbaiki atau mempertahankan posisi persaingan, mempertahankan pelanggan lama, dan menjaring pelanggan baru. Hal ini demikian karena citra perusahaan sering digunakan sebagai sumber informasi tentang kualitas produk / jasa yang ditawarkan. Dengan demikian jelaslah bahwa citra perusahaan dapat mendorong tumbuhnya minat beli (Darley dan Lim 1999:31)
Jadi berdasarkan teori di atas maka dapat disimpulkan bahwa citra perusahaan berpengaruh positif terhadap minat beli, hal ini berarti apabila citra perusahaan ( corporate image ) baik akan meningkatkan minat beli ( purchase intention ) masyarakat.
2.3. Kerangka Konseptual
Corporate Social Responsibility
Purchase Intention
2.4. Hipotesis
Adapun hipotesis dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Diduga Corporate Social Responsibility berpengaruh positif terhadap Corporate Image Carrefour Surabaya timur
2. Diduga Corporate Social Responsibility berpengaruh positif terhadap Purchase Intention Carrefour Surabaya timur
3.1. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
Variabel beserta definisi operasional yang digunakan dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut :
Corporate Social Responsibility (X)
Corporate Social Responsibility adalah kegiatan yang telah dilakukan oleh
perusahaan yang dijabarkan dalam tiga dimensi, (Chahal dan Sharma (2006) yaitu:
1) Economic Dimension meliputi dampak ekonomi dari kegiatan operasional yang
dilakukan oleh perusahaan, dengan indikator (Semuel, 2008:37) :
a) Product adalah produk yang dihasilkan dan memiliki kualitas yang tinggi,
aman dipakai, dan inovatif,
b) Service pelayanan yang diterapkan perusahaan agar dapat memuaskan
konsumen,
c) Avoiding Actions that Damage Trust, kepercayaan dan dukungan
masyarakat dan komunitas lokal lainnya.
2) Social Dimension, adalah bentuk perhagaan dari perusahaan yang diberikan
kepada stakeholder internal maupun eksternal. Dimensi sosial memiliki
b) Social Activities berupa corporate philantrophy, corporate
volunteering, dan cause-related marketing.
3) Environment Dimension, adalah tindakan perusahaan agar dapat mengurangi
dampak negatif terhadap lingkungan, Indikatornya adalah (Semuel, 2008:37) :
a) Waste Management adalah usaha perusahaan untuk melakukan recycle,
reduce, reuse untuk mengurangi dampak negatif dari aktivitas perusahaan
terhadap lingkungan, dan
b) Producing Environment Friendly Product adalah usaha perusahaan untuk
menghasilkan produk yang ramah lingkungan.
Corporate Image (Y)
Corporate Image adalah usaha-usaha perusahaan untuk meningkatkan reputasi
yang dijabarkan melalui dimensi (Samuel : 2008 ) :
1) Moralities (Moral) adalah moral yang ditunjukan perusahaan terhadap
lingkungan sosialnya, meliputi indikator (Semuel, 2008:40):
a) Charity Activities, kegiatan-kegiatan sosial yang diperuntukan kepada
masyarakat sekitarnya.
b) Eco-friendly Activities, adalah proses produksi yang menghasilkan produk
yang ramah lingkungan.
2) Managements (Manajemen), adalah usaha pengelolaan perusahaan yang
kepuasan konsumennya,
b) Teamwork, adalah bentuk kerjasama yang ditunjukan antara pekerja di
perusahaan.
3) Performance (Kinerja), berkaitan dengan kinerja yang ditunjukan perusahaan
dalam melakukan kegiatan bisnisnya, indikatornya meliputi (Semuel, 2008:41):
a) Reasonability of price, adalah kesesuaian harga yang dibayarkan konsumen
dengan kualitas produk yang didapatkan,
b) Promotional activities, kegiatan promosi yang mampu menarik perhatian
konsumennya,
c) Advertisement, pengiklanan yang mendongkrak pendapatan bagi
perusahaaan,
d) Selling Channel, kemudahan untuk bertransaksi yang disediakan oleh
perusahaan.
4) Services (Layanan), berkaitan dengan usaha-usaha yang dilakukan perusahaan
untuk memuaskan konsumennya, indikatornya adalah (Semuel, 2008:41):
a) Speed of Service, kecepatan yang diberikan dalam melayani konsumen,
b) Handling Complaint, bagaimana pekerja mengatasi komplain dari
konsumennya,
c) Focussing on custommer’s needs, adalah kemampuan perusahaan
memenuhi kebutuhan pelanggannya.
suatu merek atau mengambil tindakan yang berhubungan dengan pembelian yang
diukur dalam tingkat kemungkinan konsumen melakukan pembelian. (Assael,1998
: 41 ) memiliki indikator :
Rangsangan
2. Kesadaran
3. Pencarian informasi
3.1.1. Pengukuran Variabel
Skala pengukuran variabel yang digunakan ialah Skala Interval, yaitu skala jarak antara data satu dengan data yang lain sama tetapi tidak merupakan nilai
nol absolut (Indriantoro dan Supomo, 2002 : 105). sedangkan teknik
pengukurannya menggunakan semantik diferensial yang mempunyai skala 7 poin dengan pola sebagai berikut :
1 7
Sangat tidak setuju Sangat setuju
Keterangan : Jawaban dengan nilai 1 berarti kecenderungan tidak menyetujui
pernyataan yang diberikan (negatif), jawaban dengan nilai antara 7 berarti
menyetujui pernyataan yang diberikan (positif).
3.2. Teknik Penentuan Sampel
karakteristik tertentu yang berbeda dengan kelompok asubyek atau obyek yang
laen,dan kelompok tersebut akan dikenai generalisasi dari hasil penelitian (
Sumarsono, 2004 : 44). Populasi dalam penelitian ini adalah setiap pengunjung
Carefour.
b. Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi yang mempunyai ciri dan karakteristik
yang sama dengan populasi tersebut. Karena itu sample harus representative dari
sebuah populasi (Sumarsono, 2002 : 45). Metode pengambilan sampel yang
dilakukan adalah non probability sampling dengan teknik teknik accidental sampling, yaitu pengambilan dengan cara memberikan kuesioner kepada setiap pengunjung Carefour pada saat mereka berada di Carefour
Teknik penentuan sampel yang dipergunakan adalah berdasarkan
pedoman pengukuran sampel menurut Augusty (2002:48), antara lain :
1. 100 – 200 sampel untuk teknik maximum likelihood estimation.
2. Tergantung pada jumlah parameter yang diestimasi. Pedomannya adalah 5 – 10
kali jumlah parameter yang diestimasi.
3. Tergantung pada jumlah indikator yang digunakan dalam seluruh variabel
laten. Jumlah sampel adalah jumlah indikator dikali 5-10. bila terdapat 20
indikator, besarnya sampel adalah 100-200.
Dalam penelitian ini sampel diambil dari pelanggan yang berada di
pada penelitian ini responden yang diambil sebanyak 105 orang.
3.3. Teknik Pengumpulan Data.
3.3.1. Jenis Data.
Data Primer
Data yang diperoleh dari jawaban kuesioner yang diisi oleh pelanggan Carefour.
3.3.2. Sumber Data.
Sumber data diperoleh dari Hasil penyebaran kuesioner atau jawaban dari
pelanggan Carefour di Surabaya timur.
3.3.3. Pengumpulan Data.
1. Teknik wawancara.
Melakukan wawancara secara langsung dengan pelanggan Carefour.
2. Kuesioner
Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara
memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden
untuk dijawabnya.
dalam penelitian sangat tergantung pada kualitas data yang diperoleh dan
dipergunakan dalam penelitian tersebut (Ancok, 1991:63). Kualitas data yang
diperoleh sangat ditentukan oleh kesungguhan responden dalam menjawab semua
pertanyaan penelitian, alat pengukuran (berupa kuisioner) yang dipergunakan
mengumpulkan data tersebut, apakah memiliki validitas dan reliabilitas yang tinggi.
Berdasarkan skala pengukuran yang dipakai dan kuisioner yang digunakan
dalam penelitian ini, maka untuk mengetahui sejauh mana suatu uji dapat mengukur
apa yang sebenarnya ingin diukur dengan AMOS 4.0, teknik analisis yang
digunakan adalah teknik analisis konfirmatori.
Model yang digunakan untuk menganalisis data dalam penelitian ini adalah
Structural Equation Modelling (SEM).
1. Asumsi Model (Structural Equation Modelling)
a. Uji Normalitas Sebaran dan Linieritas
1 Normalitas dapat diuji dengan melihat gambar histogram data atau dapat diuji
dengan metode-metode statistik.
2. Menggunakan Critical Ratio yang diperoleh dengan membagi koefisien
sampel dengan standart errornya dan skewnwss value yang biasanya disajikan
dalam statistik deskriptif, dimana nilai statistik untuk menguji normalitas itu
disebut sebagai Z_value. Pada tingkat signifikan 1% jika Z lebih besar dari
nilai kritis, maka dapat diduga bahwa distribusi data adalah tidak normal.
pasangan data dan dilihat pola penyebarannya untuk menduga ada tidaknya
linieritas.
b. Evaluasi Atas Outlier
1. Mengamati nilai Z score : ketentuannya diantara ± 3,0 non outlier.
2. Multivariate outlier diuji dengan criteria jarak mahalonobis pada tingkat P <
0,001. Jarak diuji dengan chi_square [X2] pada df sebesar jumlah variabel
bebasnya. Ketentuan : bila mahalonobis > dari nilai X2 adalah multivariate
outlier adalah observasi atau data yang memiliki karakteristik unik yang
terlihat sangat berbeda jauh dari observasi-observasi lainnya dan muncul
dalam bentuk nilai ekstrim untuk sebuah variabel tunggal atau variabel
kombinasi (Hair, et, al, 1998).
c. Deteksi Multicollinierity dan Singularity
Dengan mengamati Determinan Matriks Covarians. Dengan ketentuan
apabila determinant sample matriks mendekati angka 0 (kecil), maka terjadi
multikolinieritas dan singularitas (Tabachnick & Fidell, 1996).
d. Uji Validitas dan Reliabilitas
Validitas menyangkut tingkat akurasi yang dicapai oleh sebuah
indikator dalam menilai sesuatu atau akuratnya pengukuran atas apa yang
menunjukkan derajat sampai dimana masing-masing indicator itu
mengindikasikan senuah konstruk yang umum.
Karena indikator multidimensi, maka uji validitas dari setiap latent
variabel/konstruk akan diuji dengan melihat loading faktor dari hubungan
antara setiap observed variabel dan latent variabel. (Hair, et, al, 1998)
2. Pengujian Hipotesis dan Hubungan Kausal
Pengaruh langsung [koefisien jalur] diamati dari bobot regresi
terstandar, dengan pengujian signifikansi pembanding nilai CR (Critical Ratio)
atau P (Probability) yang sama dengan nilai t hitung. Apabila t hitung lebih
besar daripada t tabel berarti signifikan. (Hair, et, al, 1998)
3. Pengujian Model dengan Two – Step Approach
Two-Step Approach to Structural Equation Modelling (SEM)
digunakan untuk menguji model yang diajukan pada gambar 3.2. Two-Step
Approach digunakan untuk mengatasi masalah sampel data yang kecil jika
dibandingkan dengan jumlah butir instrumentasi yang digunakan (Hartline &
Ferrell, 1996), dan keakuratan reliabilitas indikator-indikator terbaik dapat
dicapai dalam two-step approach ini. Two-Step Approach bertujuan untuk
menghindari interaksi antara molekul pengukuran dan model structural pada
One-Step Approach (Hair et.al., 1998). Yang dilakukan dalam Two-Step
dalam menganalisis SEM dengan Two-Step Approach adalah sebagai berikut :
a. Menjumlahkan skala butir-butir setiap konstrak menjadi sebuah indikator
summed-scale bagi setiap konstrak. Jika terdapat skala yang berbeda setiap
indikator tersebut distandardisasi [Z-scores] dengan mean = 0, deviasi
standar = 1, yang tujuannya adalah untuk mengeliminasi pengaruh-pengaruh
skala yang berbeda-beda tersebut (Hair et.al., 1998).
b. Menetapkan error [ ] dan lambda [λ] terms, error terms dapat dihitung
dengan rumus 0,1 kali 2 dan lambda terms dengan rumus 0,95 kali
[Anderson dan Gerbing, 1988]. Perhitungan construct reliability [α] telah
dijelaskan pada bagian sebelumnya dan deviasi standar [ ] dapat dihitung
dengan bantuan program aplikasi statistik SPSS. Setelah error [ ] dan
lambda [λ] terms diketahui, skor-skor tersebut dimasukkan sebagai
parameter fix pada analisis model pengukuran SEM.
4. Evaluasi Model
Hair et.al.,1998, menjelaskan bahwa pada “confirmatory” menunjukkan
prosedur yang dirancang untuk mengevaluasi utilitas hipotesis-hipotesis dengan
pengujian fit antara model teoritis dan data empiris. Jika model teoritis
menggambarkan “good fit” dengan data, maka model dianggap sebagai yang
diperkuat. Sebaliknya, suatu model teoritis tidak diperkuat jika teori tersebut
model-penting dalam penggunaan structural equation modeling.
Pengujian terhadap model yang dikembangkan dengan berbagai criteria
goodness of fit, yakni chi-square, probability, RMSEA, GFI, TLI, CFI, AGFI,
Cmin / DF. Apabila model awal tidak good fit dengan data maka model
dikembangkan dengan pendekatan two step approach to SEM.
Tabel 3.1 : Goodness of Fit Indices
Goodness of Fit Index
Keterangan Cut-Off Value
X2 chi square Menguji apakah covariance populasi yang
diestimasi sama dengan covariance sample [apakah model sesuai dengan data]
Diharapkan kecil, 1 s/d 5 atau paling baik diantara 1 dan 2
Probability Uji signifikansi terhadap perbedaan
matriks covariance data dan matriks covariance yang diestimasi
Minimum 0,1 atau 0,2 atau ≥ 0,05
RMSEA Mengkompensasi kelemahan chi square
pada sampel besar
≤ 0,08
GFI Menghitung proporsi tertimbang varians
dalam matriks sampel yang dijelaskan oleh matriks covariance populasi yang
diestimasi [analog dengan R2 dalam
regresi berganda]
≥ 0,90
AGFI GFI yang disesuaikan terhadap DF ≥ 0,90
C min / DF Kesesuaian antara data dan model ≤ 2,00
TLI Perbandingan antara model yang diuji
terhadap baseline model
≥ 0,95
CFI Uji kelayakan model yang tidak sensitive
terhadap besarnya sampel dan kerumitan model
≥ 0,94
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Deskripsi Obyek Penelitian
4.1.1. Sejerah singkat Perusahaan
Carrefour Indonesia memulai sejarahnya di Indonesia pada bulan Oktober
1998 dengan membuka unit pertama di Cempaka Putih. Pada saat yang sama,
Continent, juga sebuah paserba dari Perancis, membuka unit pertamanya di Pasar
Festival.
Pada penghujung 1999, Carrefour dan Promodes (Induk perusahaan
Continent) sepakat untuk melakukan penggabungan atas semua usahanya di
seluruh dunia. Penggabungan ini membentuk suatu grup usaha ritel terbesar kedua
di unia dengan memakai nama Carrefour.
Dengan terbentuknya Carrefour baru ini, maka segala sumber daya yang dimiliki
kedua group tadi menjadi difokuskan untuk lebih memenuhi dan memuaskan
kebutuhan pelanggan kami. Penggabungan ini memungkinkan kami untuk
meningkatkan kinerja paserba – paserba kami, mendapat manfaat dari keahlian
karyawan – karyawan kami di Indonesia dan di dunia, dan mengantisipasi
Benar Murah) di Carrefour Seasons City, Jakarta. Untuk saat ini, terdapat 12 jenis
produk dengan harga jual 30% lebih murah dari harga merk nasional dan tentunya
tanpa mengurangi kualitas produk tersebut. BBM diterapkan di semua gerai
Carrefour di Indonesia mulai tanggal 31 Maret 2010. Program yang baru pertama
ada di Indonesia ini sengaja diluncurkan Carrefour untuk membuktikan eksistensi
produk asli Indonesia ditengah maraknya produk impor yang masuk ke Indonesia.
Program BBM merupakan program permanen Carrefour dan bukan
merupakan program promosi bulanan. Hal ini ditegaskan Irawan Kadarman,
Corporate Affairs Director PT. Carrefour Indonesia saat peluncuran program BBM.
“Kami sudah cukup lama melakukan berbagai persiapan untuk meluncurkan BBM.
BBM memang kami siapkan sebagai program permanen dan bukan merupakan
program promosi bulanan seperti yang selama ini biasa dilakukan gerai pasar
modern. Setelah peluncuran 12 produk BBM inipun kami terus melakukan kajian
sehingga kelak jumlah jenis produk BBM terus bertambah, tidak hanya 12 produk,”
jelas Irawan.
BBM dirancang untuk menguntungkan semua pihak. “Pelanggan kami
akan diuntungkan karena membeli produk berkualitas dengan lebih murah.
Carrefour menjamin kepuasan pelanggan. Bila pelanggan tidak puas maka 100%
uangnya akan kembali. Pemasok pun mendapat keuntungan berlipat karena
kesempatan untuk meningkatkan penjualan terbuka lebar termasuk pemasok UKM
tambah Irawan.
Selain membuktikan eksistensi produk asli Indonesia, BBM diharapkan
dapat membantu daya beli masyarakat yang ditengarai sedang turun akibat berbagai
hal termasuk imbas krisis ekonomi global. Seluruh produk BBM merupakan produk
yang berdasarkan data internal Carrefour merupakan produk paling dicari oleh
pelanggan. “Produk BBM bukan merupakan produk tidak laku yang dijual murah,
tapi produk ini telah dibuktikan sebagai produk paling laku di seluruh gerai
Carrefour. Contoh produk beras, kami sampai menyediakan 2 jenis beras di BBM,
setra ramos dan pandan wangi, karena memang 2 beras ini adalah beras yang paling
dicari, demikian pula dengan minyak goreng, air mineral dan deterjen” kata Irawan.
Produk lain yang termasuk program BBM selain beras adalah minyak
goreng, air mineral dan deterjen adalah kecap manis, tissue untuk muka, tissue
gulung, kapas, abon sapi, sosis sapi dan nugget ayam. Semua produk yang termasuk
BBM telah diberi petunjuk label BBM berlatar belakang oval kuning dengan 2 ibu
jari di pojok kiri bawah. Saat ditanya bagaimana bila ada kompetitor yang meniru
program ini? Irawan mempersilahkan saja selama tidak merugikan masyarakat
terutama para pemasok yang selalu dipandang Carrefour sebagai mitra usaha.
4.1.2. Komitmen Carrefour
1. Ada yang Lebih Murah Kami Ganti 10x lipat
minggu.
4. Perbandingan selisih hanya bisa dilakukan untuk gerai moderen (Griya/Yogya,
Giant Superindo, Hero dan Hypermart) yang berjarak maksimum 2 km dari
Carrefour tempat Anda mengklaim dan tidak berlaku untuk pembelian di pasar
tradisional atau toko kecil.
5. Hanya berlaku untuk produk kebutuhan sehari-hari (grocery) dan produk segar,
kecuali departemen Bakery dan Salad Bar.
6. Selisih harga akan diganti sebesar 10 kali lipat. Pelanggan harus menunjukkan
struk belanja Carrefour dan struk belanja gerai moderen lain pada hari yang sama.
7. Khusus untuk harga promosi kompetitor, klaim hanya akan diberlakukan
penggantian selisih 1 kali lipat.
8. Klaim hanya bisa dilakukan untuk maksimal 5 jenis barang yang berbeda dan
setiap jenisnya maksimal 1 unit atau seberat 1 kg, nilai maksimum pengembalian
Rp. 100.000,00 dari setiap struk pembelanjaan.
9. Pengembalian selisih harga ini bisa dilakukan setelah pelanggan mengisi dan
mengembalikan formulir di Bagian Pusat Informasi, sambil membawa dan
menunjukkan barang yang dibeli lengkap dengan struk belanja Carrefour dan
struk belanja gerai moderen lain, satu struk hanya untuk satu kali klaim
10.Semua penggantian 10 kali hanya bisa dilakukan di kasir Bagian Pusat Informasi.
4.2. Hasil Penelitian dan Pembahasan
responden berdasarkan hasil penyebaran kuesioner terhadap unsur-unsur yang ada
pada setiap variabel.
a. Deskripsi responden berdasarkan jenis kelamin
Identitas Responden Menurut Jenis Kelamin dapat dilihat pada Tabel 4.1. Dalam
Tabel 4.1 terlihat bahwa dari 105 responden 20 responden (20%) adalah laki-laki, 85
responden (80%) perempuan.
Tabel 4.1
Identitas Responden Menurut Jenis Kelamin Jenis Kelamin Jumlah Persentase
Laki-Laki 20 20
Perempuan 85 80
Total 110 100 Sumber : Lampiran.
b. Deskripsi responden berdasarkan kelompok pendidikan
Pada tabel 4.2 menunjukkan bahwa responden terbesar adalah berpendidikan D3
sebanyak 52 orang (52%), selanjutnya responden yang berpendidikan S1 sebanyak
sejumlah 27 orang (22%), D1 sebanyak sejumlah 12 orang (12%)selanjutnya
responden sedikit adalah SMU sejumlah 14 orang (14%).
Tabel 4.2
Identitas Responden Menurut Pendidikan
No Jabatan Jumlah (orang) Persentase (%)
4.2.2. Uji Outlier Multivariate
Outlier adalah observasi atau data yang memiliki karakteristik unik yang terlihat sangat berbeda jauh dari observasi-observasi lainnya dan muncul dalam
bentuk nilai ekstrim untuk sebuah variabel tunggal atau variabel kombinasi atau
mutivariat (Hair, 1998). Evaluasi terhadap outlier multivariate (antar variabel) perlu dilakukan sebab walaupun data yang dianalisis menunjukkan tidak ada outliers pada
tingkat univariate, tetapi observasi itu dapat menjadi outliers bila sudah saling
dikombinasikan. Jarak antara Mahalanobis untuk tiap-tiap observasi dapat dihitung
dan akan menunjukkan sebuah observasi dari rata-rata semua variabel dalam sebuah
ruang multidimensional (Hair.dkk, 1998; Tabachnick & Fidel, 1996). Uji terhadap
outliers multivariate dilakukan dengan menggunakan jarak Mahalanobis pada
tingkat p < 1%. Jarak Mahalanobis itu dievaluasi dengan menggunakan χ² (chi
kuadrat) pada derajat bebas sebesar jumlah variabel yang digunakan dalam
penelitian ini. Hasil uji outlier tampak pada tabel berikut :
Tabel 4.3. Hasil Uji Outlier Multivariate
Minimum Maximum Mean Std.
Deviation N
Predicted Value 0.538 100.899 53.000 22.941 105
Std. Predicted Value -2.287 2.088 0.000 1.000 105
Standard Error of Predicted
Value 6.786 15.524 10.131 1.648 105
Adjusted Predicted Value -3.420 101.535 52.764 23.505 105
terdapat outlier multivariat [antar variabel], karena MD Maksimum 48,865 ≥ 46,797
4.2.3. Uji Reliabilitas
Seperti telah dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa Cronbach’s Alpha ini digunakan untuk mengestimasi reliabiltas setiap skala (variabel atau observasi
indikator). Sementara itu item to total correlation digunakan untuk memperbaiki
ukuran – ukuran dan mengeliminasi butir – butir yang kehadirannya akan
memperkecil koefisien Cronbach’s Alpha yang dihasilkan (Purwanto, 2002). Hasil
selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.4. Pengujian Reliability Consistency Internal
Konstrak Indikator Item to Total
Correlation
Koefisien Cronbach’s Alpha dihitung untuk mengestimasi reliabilitas
item yang kehadirannya akan memperkecil koefisien Cronbach’s Alpha yang
dihasilkan.
Proses eleminasi diperlakukan pada item to total correlation pada indikator
yang nilainya < 0,5 [Purwanto,2003]. Terjadi eliminasi karena nilai item to total
correlation indikator belum seluruhnya ≥ 0,5. Indikator yang tereliminasi tidak
disertakan dalam perhitungan cronbach's alpha. Perhitungan cronbach's dilakukan
setelah proses eliminasi.
Hasil pengujian reliabilitas konsistensi internal untuk setiap construct di
atas menunjukkan kurang baik dimana koefisien Cronbach’s Alpha yang diperoleh
belum seluruhnya memenuhi rules of thumb yang disyaratkan yaitu ≥ 0,7 [Hair
et.al.,1998].
4.2.4. Uji Validitas
Validitas menyangkut tingkat akurasi yang dicapai oleh sebuah indikator
dalam menilai sesuatu atau akuratnya pengukuran atas apa yang seharusnya diukur,
karena indikator multidimensi, maka uji validitas dari setiap latent variable /
construct akan diuji dengan melihat loading factor dari hubungan antara setiap observed variable dan latent variable. Hasil analisis tampak pada tabel di bawah
ini.
Tabel 4.5. Hasil Uji Validitas
Faktor Loading Konstrak Indikator
1 2 3 4 X11 0.538
X31 0.448
Berdasarkan hasil confirmatory factor analysis terlihat bahwa factor
loadings masing masing butir pertanyaan yang membentuk setiap construct belum
seluruhnya ≥ 0,5, sehingga butir-butir instrumentasi setiap konstruk tersebut dapat
dikatakan validitasnya cukup baik.
4.2.5. Uji Construct Reliability dan Variance Extracted
Selain melakukan pengujian konsistensi internal crobach’s alpha, perlu
juga dilakukan pengujian construct reliability dan variance eztracted. Kedua
pengujian tersebut masih termasuk uji konsistensi internal yang akan memberikan
penelitian kepercayaan diri yang lebih besar bahwa indikator-indikator individual
mengukur suatu pengukuran yang sama.
Tabel 4.6. Construct Reliability & Variance Extrated
Environment
Selain melakukan pengujian konsistensi internal Cronbach’s Alpha, perlu
juga dilakukan pengujian construct reliability dan variance extracted. Kedua
pengujian tersebut masih termasuk uji konsistensi internal yang akan memberikan
peneliti kepercayaan diri yang lebih besar bahwa indikator-indikator individual
mengukur suatu pengukuran yang sama.
'Hasil pengujian reliabilitas instrumen dengan construct reliability dan
variance extracted menunjukkan instrumen cukup reliabel, yang ditunjukkan
dengan nilai construct reliability belum seluruhnya ≥ 0,7. Meskipun demikian
angka tersebut bukanlah sebuah ukuran “mati” artinya bila penelitian yang
dilakukan bersifat exploratory, maka nilai di bawah 0,70 pun masih dapat diterima
sepanjang disertai alasan–alasan empirik yang terlihat dalam proses eksplorasi. Dan
variance extracted direkomendasikan pada tingkat 0,50.
4.2.6. Uji Normalitas
dapat diduga bahwa distribusi data adalah tidak normal. Nilai kritis dapat
ditentukan berdasarkan tingkat signifikansi 0,01 (1%) yaitu sebesar 2,58.
Hasilnya diperoleh nilai c.r. multivariat diantara 2,58 dan itu berarti asumsi
normalitas tidak terpenuhi dan data layak untuk digunakan dalam estimasi
selanjutnya. Hasil analisis tampak pada tabel berikut :
Tabel 4.7. Assessment of Normality
Variable min max kurtosis c.r.
Uji normalitas sebaran dilakukan dengan Kurtosis Value dari data yang
digunakan yang biasanya disajikan dalam statistik deskriptif. Nilai statistik untuk
menguji normalitas itu disebut Z-value. Bila nilai-Z lebih besar dari nilai kritis
maka dapat diduga bahwa distribusi data adalah tidak normal. Nilai kritis dapat
itu berarti asumsi normalitas tidak terpenuhi. Fenomena ini tidak menjadi masalah
serius seperti dikatakan oleh Bentler & Chou [1987] bahwa jika teknik estimasi
dalam model SEM menggunakan maximum likelihood estimation [MLE] walau
ditribusi datanya tidak normal masih dapat menghasilkan good estimate, sehingga
data layak untuk digunakan dalam estimasi selanjutnya.
4.2.7. Evaluasi Model One-Steep Approach to SEM
Dalam model SEM, model pengukuran dan model struktural
parameter-parameternya diestimasi secara bersama-sama. Cara ini agak mengalami kesulitan
dalam memenuhi tuntutan fit model. Kemungkinan terbesar disebabkan oleh
terjadinya interaksi antara measurement model dan structural model yang diestimasi
secara bersama-sama (one – steep approach to SEM). One – steep approach to SEM
digunakan bila model dilandasi teori yang kuat serta validitas dan reliabilitas data
sangat baik (Hair, et,al, 1998).
Economic
Tabel 4.8. Evaluasi Kriteria Goodness of Fit Indeces
Kriteria Hasil Nilai Kritis Evaluasi Model
Cmin/DF 1.567 ≤ 2,00 baik
Dari hasil evaluasi terhadap model one step approach modifikasi ternyata dari
semua kriteria goodness of fit yang digunakan, seluruhnya menunjukkan hasil
evaluasi model yang kurang baik, berarti model kurang sesuai dengan data. Artinya,
model konseptual yang dikembangkan dan dilandasi oleh teori telah sepenuhnya
didukung oleh fakta.
Economic
Tabel 4.9. Evaluasi Kriteria Goodness of Fit Indeces
Kriteria Hasil Nilai Kritis Evaluasi
Model
Dari hasil evaluasi terhadap model one step modification model ternyata dari
semua kriteria goodness of fit yang digunakan, seluruhnya menunjukkan hasil evaluasi
model yang baik, berarti model telah sesuai dengan data. Artinya, model konseptual yang
dikembangkan dan dilandasi oleh teori telah sepenuhnya didukung oleh fakta. Dengan
demikian model ini adalah model yang terbaik untuk menjelaskan keterkaitan antar
Dilihat dari angka determinant of sample covariance matrix : 12,499 > 0
mengindikasikan tidak terjadi multicolinierity atau singularity dalam data ini
sehingga asumsi terpenuhi. Dengan demikian besaran koefisien regresi
masing-masing faktor dapat dipercaya sebagaimana terlihat pada uji kausalitas di bawah ini.
Tabel 4.8. Data Uji Kausalitas
Ustd Std
Faktor Faktor Estimate Estimate Prob.
Corporate_Image CSR 0,021 0,281 0,039
Purchase_Intention CSR 0,178 0,015 0,450
Purchase_Intention Corporate_Image 0,074 0,353 0,001
Batas Signifikansi ≤ 0,10
Sumber : Lampiran
4.3. Hasil Uji Pengujian Hipotesis Penelitian
Dilihat dari tingkat Prob. arah hubungan kausal, maka hipotesis yang
menyatakan bahwa :
a. Faktor CSR berpengaruh positif terhadap Faktor Corporate Image, dapat
diterima [Prob. kausalnya 0,039 ≤ 0,10 [signifikan [positif].
b. Faktor CSR berpengaruh positif terhadap Faktor Purchase Intention, tidak dapat
Intention, dapat diterima [Prob. kausalnya 0,701 ≤ 0,10 [signifikan [positif].
.
4.4 Pembahasan
Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan didapatkan bahwa
Corporate Social Responsibility berpengaruh terhadap Corporate image Carrefour
Surabaya timur, Corporate Social Responsibility tidak berpengaruh terhadap Purchase
Intention Carrefour Surabaya timur, Corporate Image berpengaruh positif terhadap
Purchasi Intention Carrefour Surabaya timur.
Untuk hipotesis pertama Corporate Social Responsibility berpengaruh
terhadap Corporate Image. Hal ini membuktikan bahwa perusahaan Carrefour
Surabaya timur melakukan tanggung jawab sosial ( Corporate Social Responsibility )
dengan baik dapat meningkatkan Corporate image. Kegiatan sosial yang dilakukan
PT carrefour indonesia mendonasikan 50 Laptop kepada 48 Sekolah Dasar binaan
Carrefour (One Store One School) di 13 kota sebagai salah satu kegiatan Corporate
Social Responsibility dalam bidang pendidikan terutama dalam membantu
memperkenalkan teknologi informasi bagi anak-anak sekolah dasar. Hal ini sesuai
dengan teori Kotler dan Lee ( 2005 ) mengemukakan bahwa CSR yang diterapkan
secara tepat, baik di bidang ekonomi, sosial maupun lingkungan, akan dapat
memberikan banyak keuntungan bagi perusahaan, salah satunya adalah mampu
merupakan semacam jaminannyang diperlukan untuk melindungi perusahaan jika
sewaktu - waktu terjadi sesuatu yang tidak diharapkan. Kinerja sosial perusahaan
merupakan hal yang cukup penting bagi Corporate Reputation ( citra/ reputasi
perusahaan ), terutama dalam jangka panjang perusahaan yang dapat memberikan
kontribusi cukup berarti dalam pengembangan berkelanjutan bagi perusahaan.
Dengan demikian kinerja sosial perusahaan dapat menjadi salah satu ukuran bagi
citra atau reputasi perusahaan. Citra atau Reputasi perusahaan sendiri merupakan
salah satu aset yang sangat berharga. ( Anggraini, 2008 : 2 )
Untuk hipotesis kedua Corporate social responsibility tidak berpengaruh
terhadap Purchase intention Carrefour Surabaya timur. Hasil ini menunjukkan bahwa
Carrefour hendaknya lebih memperhatikan penghargaan terhadap karyawan guna
memberikan imbal balik yang positif terhadap pelanggan. Upaya Carrefour
melakukan kegiatan corporate social responsibility untuk kelangsungan hidup
perusahaan dalam jangka panjang, jadi tidak langsung diperoleh dalam jangka
pendek. Hal ini kurang sesuai dengan teori Kotler dan Lee (2005), CSR mampu
memberikan banyak keuntungan bagi perusahaan yang telah melakukan. Corporate
Social Responsibility (CSR) mampu meningkatkan penjualan dan penguasaan pasar. Survei yang dilakukan Klein (1990) menjelaskan bahwa 8 dari 10 orang berminat
untuk membayar lebih apabila produk tersebut ramah lingkungan. Perusahaan
menjalankan CSR untuk berbagai orientasi keuntungan, seperti menaikan penjualan,
perluas inovasi, mengurangi produksi yang tidak efisien, mengurangi resiko kedepan,
stategi bisnis yang dapat diandalkan. CSR dapat meyakinkan kepercayaan eksekutif
perusahaan bahwa hal tersebut dapat membantu perusahaan mendapat pelanggan
baru.
Untuk hipotesis ketiga Corporate image berpengaruh positif terhadap
Purchase intention Carrefour Surabaya timur. Hasil ini menunjukkan bahwa Samuel
(2008) , Corporate image adalah kesan-kesan yang dimiliki oleh public terhadp
perusahaan. Corporate image dapat dikatakan sebagai fungsi dari akumulasi
pelngalaman pembelian yang memiliki dua komponen yaitu, functional, dan
emotional. Functional berkatan dengan atribut nyata yang dapat diukur dengan mudah
sedangkan emotional berkaitan dengan factor psikologi yang meliputi perasaan dan
perilaku terhadap perusahaan.jadi dapat disimpulkan bahwa corporate image adalah
hasil dari sebuah proses dimana konsumen telah membandingkan berbagai atribut
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan analisis data dengan menggunakan SEM (Stuctural Equation Modeling) dan pembahasan hasil penelitian yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan hal-hal untuk menjawab permasalahan sebagai berikut :
a. Persepsi Pelanggan mempunyai pengaruh yang positif terhadap Kepuasan Pelanggan pada Carrefour
b. Kepuasan Pelanggan mempunyai pengaruh yang positif terhadap Kepercayaan Pelanggan pada Carrefour
c. Kepercayaan Pelanggan mempunyai pengaruh yang positif terhadap Kesetiaan Pelanggan pada Carrefour
5.2 Saran
Sehubungan dengan permasalahan dari hasil analisa data yang telah disajikan dihasil penelitian,maka dapat dikemukakan beberapa saran yang bermanfaat, antara lain :