SKRIPSI
Disusun Oleh :
SIESTIKA ARIMA ANGGRESTASI NPM. 0812010105
PROGRAM STUDI MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL ”VETERAN” JAWA TIMUR SURABAYA
MEDIA IKLAN TELEVISI PENGARUHNYA
TERHADAP MINAT BELI KONSUMEN
PROVIDER XL DI SURABAYA
SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Ekonomi
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur Untuk Menyusun Skripsi S-1 Jurusan Manajemen
Oleh :
SIESTIKA ARIMA ANGGRESTASI 0812010105 / EM
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL ”VETERAN” JAWA TIMUR
SKRIPSI
MEDIA IKLAN TELEVISI PENGARUHNYA
TERHADAP MINAT BELI KONSUMEN
PROVIDER XL DI SURABAYA
Yang diajukan
SIESTIKA ARIMA ANGGRESTASI 0812010105 / EM
disetujui untuk Ujian Lisan oleh
Pembimbing Utama
Dr. H. Prasetyohadi, MM Tanggal………
Mengetahui Wakil Dekan I
Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat
dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul :
“Media Iklan Televisi Pengaruhnya Terhadap Minat Beli Konsumen
Provider XL Di Surabaya”
Skripsi ini diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan guna
memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Progdi Manajemen pada Fakultas Ekonomi
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak akan berhasil tanpa adanya
dukungan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini dengan segala
ketulusan hati penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Ir. Teguh Soedarto, MP, selaku Rektor Universitas
Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
2. Bapak Dr. Dhani Ichsanudin Nur, MM, selaku Dekan Fakultas Ekonomi
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur
3. Bapak Dr. Muhadjir Anwar, MM, selaku Ketua Jurusan Manajemen Fakultas
Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
4. Bapak Dr. H. Prasetyohadi, MM, selaku Dosen Pembimbing Utama yang telah
memberikan bimbingan dan dorongan kepada peneliti dalam menyelesaikan
“Veteran” Jawa Timur yang telah memberikan banyak pengetahuan selama
masa perkuliahan.
6. Bapak dan Ibu, yang telah memberikan dukungan, doa dan semangat dan
segalanya.
7. Semua pihak yang ikut membantu, yang tidak bisa penulis sebutkan
satu-persatu.
Penulis menyadari bahwa apa yang telah disajikan masih banyak
kekurangan, untuk itu kritik dan saran yang membangun dari semua pihak sangat
diharapkan demi kesempurnaan skripsi ini. Akhirnya dengan segala keterbatasan
yang penulis miliki, semoga skripsi ini bermanfaat bagi pihak yang
berkepentingan.
Surabaya, Maret 2012
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR TABEL ... vi
DAFTAR GAMBAR... vii
ABSTRAKSI ... viii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang Masalah ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 7
1.3. Tujuan Penelitian ... 7
1.4. Manfaat Penelitian ... 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 8
2.1. Penelitian Terdahulu ... 8
2.2. Landasan Teori ... 9
2.2.1. Pengertian Pemasaran... 9
2.2.2. Konsep Pemasaran ... 11
2.2.3. Merek... 14
2.2.4. Iklan ... 18
2.2.5. Minat beli ... 19
2.2.6. Indikator Minat Beli. ... 24
2.4. Hipotesis ... 26
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel ... 27
3.2 Populasi Dan Sampel Penelitian ... 28
3.3 Jenis Data dan Sumber Data ... 29
3.4 Teknik Analisis dan Uji Hipotesis ... 30
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Deskripsi Obyek Penelitian ... 38
4.1.1. Sejarah singkat Perusahaan... 38
4.1.2. Produk dan Layanan ... 40
4.1.3. Filosofi, Visi dan Misi Perusahaan ... 40
4.2. Hasil Penelitian dan Pembahasan ... 43
4.2.1. Analisis Statistik Deskriptif ... 43
4.2.2. Uji Outlier Multivariate ... 45
4.2.3. Uji Reliabilitas ... 46
4.2.4. Uji Validitas ... 48
4.2.5. Uji Construct Reliability dan Variance Extracted ... 48
4.2.6. Uji Normalitas ... 50
4.2.7. Evaluasi Model One-Steep Approach to SEM ... 51
4.4. Pembahasan... 54
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 56
5.1. Kesimpulan ... 56
5.2. Saran ... 56
Tabel 4.1. Identitas Responden Menurut Jenis Kelamin...45
Tabel 4.2. Identitas Responden Menurut Jenis Pekerjaan...45
Tabel 4.3. Hasil Uji Outlier Multivariate ...51
Tabel 4.4. Pengujian Reliability Consistency Internal...52
Tabel 4.5. Hasil Uji Validitas...53
Tabel 4.6. Construct Reliability & Variance Extrated ...54
Tabel 4.7. Assessment of Normality ...55
Tabel 4.8. Evaluasi Kriteria Goodness of Fit Indeces ...56
Tabel 4.9. Evaluasi Kriteria Goodness of Fit Indeces ...57
DAFTAR GAMBAR
Gambar 4.1: Model Pengukuran dan Struktural ...53
TERHADAP MINAT BELI KONSUMEN
PROVIDER XL DI SURABAYA
Siestika Arima Anggrestasi
ABSTRAK
Belanja iklan dari XL paling besar, tetapi tidak begitu mendapat respon dari masyarakat. Salah satu strategi yang digunakan oleh perusahaan Excelcomindo untuk menawarkan produknya agar menarik minat konsumen terhadap produk tersebut adalah melalui iklan. Seiring pertumbuhan ekonomi, iklan menjadi sangat penting karena konsumen potensial akan memperhatikan iklan dari produk yang akan ia beli.. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh iklan terhadap minat beli konsumen pada provider XL.
Populasi dalam penelitian ini adalah calon pengguna produk Provider XL di Surabaya. Metode pengambilan sampel dengan metode non probability sampling dengan teknik Purposive Sampling Sampel yang digunakan adalah minimal sebesar 100 responden. Model yang digunakan dalam penelitian ini adalah Structural Equation Modeling (SEM).
Berdasarkan analisis data dengan menggunakan SEM (Stuctural Equation Modeling) dan pembahasan hasil penelitian yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan hal-hal untuk menjawab permasalahan sebagai berikut : Iklan mempunyai kotribusi terhadap minat beli provider XL.
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Seiring dengan kemajuan pesat dalam dunia ilmu pengetahuan dan
teknologi, bidang telekomunikasi juga mengalami kemajuan yang cukup
pesat. Komunikasi merupakan suatu hal yang penting yang dianggap
mampu membantu hidup manusia. Sejak ditemukannya alat komunikasi,
gerak hidup manusia menjadi berubah lebih mudah dan terasa dekat.
Semakin lama pola pikir konsumen berubah seiring perkembangan jaman.
Konsumen yang dulunya hanya menggunakan alat komunikasi yang
disebut telepon, kini mulai beralih menggunakan telepon seluler.
Dengan beragam macam pilihan kartu provider yang beredar
dipasaran memberikan banyak pilihan bagi konsumen untuk memenuhi
kebutuhannya. Dengan demikian perusahaan diharapkan lebih jeli dalam
melihat peluang dan mempertahankan konsumen agar tidak beralih ke
merek lain. Menggarap pasar yang sama memang membuat para operator
kartu seluler harus berlomba-lomba menanamkan citra yang positif di
mata konsumen. Apalagi citra yang positif akan membuat konsumen lebih
percaya pada merek.
Konsumen dalam menggunakan informasi dalam pemilihan dan
menentukan suatu produk atau merek akan melalui suatu proses baik
akan secara langsung diobservasikan dalam konteks keputusan dan
konsumen dapat dengan secara langsung memilih seluruh merek pada
seluruh atribut.
XL adalah salah satu perusahaan telekomunikasi terkemuka di
Indonesia. Mulai beroperasi secara komersial sejak 8 Oktober 1996, XL
saat ini adalah penyedia layanan seluler dengan jaringan yang luas dan
berkualitas di seluruh Indonesia bagi pelanggan ritel (Consumer Solutions)
dan solusi bagi pelanggan korporat (Business Solutions).
XL satu-satunya operator yang memiliki jaringan serat optik yang luas. XL telah meluncurkan XL 3G pada 21 September 2006, layanan
telekomunikasi selular berbasis 3G pertama yang tercepat dan terluas di
Indonesia. XL pada saat ini merupakan penyedia layanan telekomunikasi
seluler dengan cakupan jaringan yang luas di seluruh wilayah Indonesia
bagi pelanggan ritel dan menyediakan solusi bisnis bagi pelanggan
korporat. Layanan XL mencakup antara lain layanan suara, data dan
layanan nilai tambah lainnya (value added services). Untuk mendukung
layanan tersebut, XL beroperasi dengan teknologi GSM 900/DCS 1800
serta teknologi jaringan bergerak seluler sistem IMT-2000/3G. XL juga
telah memperoleh Ijin Penyelenggaraan Jaringan Tetap Tertutup, Ijin
Penyelenggaraan Jasa Akses Internet (Internet Services Provider/ISP), Ijin
over Internet Protocol/VoIP), dan Ijin Penyelenggaraan Jasa Interkoneksi
Internet (“NAP”).
XL, sebagai perusahaan telekomunikasi yang terus berkembang, memiliki visi untuk menjadi penyedia teknologi informasi dan komunikasi
terpilih di Indonesia, dan XL meyakini bahwa pembangunan masyarakat Indonesia yang berkesinambungan adalah landasan yang mutlak bagi
terbentuknya lingkungan bisnis yang kondusif. Oleh karena itu, sebagai
warga negara korporat yang bertanggung jawab, XL tidak hanya berupaya keras untuk memberikan nilai lebih kepada para pemegang sahamnya serta
tidak hanya berkomitmen untuk memberikan layanan dan produk
berkualitas kepada para pelanggannya, akan tetapi XL juga memiliki komitmen untuk memberikan sumbangsih bagi pembangunan masyarakat
Indonesia. merek XL pra bayar, Simpati, dan IM3 terlihat saling berlomba.
Sekalipun, untuk urusan kartu pra bayar, XL terlihat paling menguasai
Tabel 1.1 Jumlah pelanggan
Dari tabel jumlah pelanggan tersebut, meskipun XL mengalami
kenaikan jumlah pelanggan dari tahun 2007-2010 tetapi masih menduduki
peringkat ke tiga jumlah pelanggan dengan total XL sebanyak 113 juta.
Setelah pesaing pertama nya yaitu TELKOMSEL sebanyak 295,1 juta
pelanggan dan INDOSAT pada peringkat kedua sebanyak 134,1 juta
pelanggan. Hal ini disebabkan karena perang tarif yang semakin
menjadi-jadi. Kartu yang dimanfaatkan oleh para pelanggan apabila tarif kartu yang
ditawarkan dinilai murah, Sebagian para pelanggan di Indonesia sangat
sensitif dengan masalah tariff. Sehingga setiap ada promo tarif murah
maka akan terjadi perpindahan pelanggan dari satu operator ke operator
Sektor telekomunikasi menjadi penyumbang belanja iklan terbesar
pada 2010. Belanja sektor telekomunikasi mencapai Rp5 triliun dan
minuman Rp 7 triliun. Menurut Managing Manager Audience
Measurement Nielsen Company, belanja telekomunikasi sebesar Rp5
triliun naik 43 persen dibanding 2009. Perusahaan telekomunikasi yang
paling banyak beriklan adalah Exelcomindo yang kini dikenal dengan
XL-Axiata sebesar Rp593 miliar atau naik 66 persen dari tahun lalu. Disusul
oleh Telkomsel sebesar Rp538 miliar, Telkomsel Simpati Rp438 miliar,
Telkomsel Kartu AS Rp398 miliar, Axis Rp396 miliar dan Indosat M3
Rp320 miliar
Tabel 1.2 Iklan yang sering ditonton
Berdasarkan data diatas menunjukkan bahwa belanja iklan dari XL
paling besar, tetapi tidak begitu mendapat respon dari masyarakat. Salah
satu strategi yang digunakan oleh perusahaan Excelcomindo untuk
menawarkan produknya agar menarik minat konsumen terhadap produk
tersebut adalah melalui iklan. Seiring pertumbuhan ekonomi, iklan
menjadi sangat penting karena konsumen potensial akan memperhatikan
ataupun profit perusahaan dan sebagai media untuk mengingatkan
konsumen terhdap suatu produk atau jasa.
Selain bentuk penyampaian yang jelas yang didapat oleh
konsumen, bentuk media iklan elektronik memberikan penjelasan tentang
produk yang ditawarkan. Pemilihan promosi yang di tawarkan dalam
bentuk iklan ditelevisi saat ini sangat menarik dan dapat menjangkau
penonton yang sangat luas. Baik diwilayah perkotaan dan wilayah
perdesaan. Pelaksaan promosi melalui media iklan diharap dapat menarik
perhatian konsumen sehingga mempengaruhi konsumen dalam
pengambilan keputusan untuk melakukan pembelian.
Dalam penelitian ini selain dipengaruhi secara langsung oleh sikap
terhadap iklan, minat beli konsumen dipengaruhi langsung oleh sikap
terhadap merek. Pembentukan sikap terhadap merek dipengaruhi secara
langsung oleh persepsi konsumen terhadap produk atau pesan. Sikap
terhadap merek diawali oleh proses kognitif yang bekerja terhadap
rangsangan. kemudian akan mempengaruhi minat beli konsumen terhadap
produk yang ditawarkan.
Berdasarkan hal tersebut , penulis merasa tertarik untuk membahas
secara lebih lanjut tentang minat beli konsumen dengan judul :
1.2 Perumusan Masalah
Dari latar belakang masalah, perumusan dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut :
Apakah terdapat pengaruh iklan terhadap minat beli konsumen pada
provider XL di Surabaya?
1.3 Tujuan Penelitian
Untuk membuktikan pengaruh iklan terhadap minat beli konsumen pada
provider XL
1.4 Manfaat Penelitian
1. Bagi Masyarakat
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan
pertimbangan konsumen dalam mengevaluasi citra produk XL melalui
persepsi produk, persepsi terhadap sumber, persepsi terhadap iklan,
sikap terhadap merek dan sikap terhadap iklan.
2. Bagi Akademisi
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan
referensi atau kajian bagi penelitian-penelitian berikutnya mampu
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Hasil Penelitian Terdahulu
1. Handayani, 2005, Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Minat Beli
Konsumen Pada Iklan Flexy
Hasil penelitian ini diperoleh hasil bahwa semua variabel predictor yaitu
persepsi terhadap produk, persepsi terhadap model persepsi terhadap
iklan, serta sikap terhadap merek dan sikap terhadap iklan secara
bersama-sama mempunyai pengaruh signifikan dalam pembentukan
minat beli konsumen pada iklan. Terdapat sebuah penemuan bahwa
keterlibatan pembuatan iklan (adexecution involvement) tinggi dan
keterlibatan pesan iklan (ad message) rendah, aspek peripheral dari
ilan bekerja lebih dominan . Dalam kondisi ini, sikap terhadap iklan
menjadi dominan mempengaruhi sikap terhadap iklan dan pengaruh
hal-hal yang berhubungan dengan pesan menjadi minimal
Berdasarkan penelitian terdahulu diatas terdapat perbedaan dan
persamaan penelitian yang akan dilakukan, perbedaannya terdapat pada uji
hipotesis yang digunakan. Pada penelitian terdahulu periode penelitian yang
dilakukan, dimana dalam penelitian terdahulu pada tahun 2005. Sedangkan
pada penelitian ini menggunakan periode tahun 2012. Persamaannya adalah
2.2. Landasan Teori
2.2.1. Pengertian Pemasaran.
Pemasaran merupakan salah satu dari kegiatan – kegiatan pokok
yang dilakukan oleh para pengusaha dalam usahanya untuk meningkatkan
laba, aktivitas pemasaran memegang peranan penting dalam rangka
mencapai tujuan perusahaan. Menurut Kotler (1997 : 8) "Pemasaran
adalah suatu proses sosial dan manajerial yang di dalamnya ( individu
dan kelompok ) mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan
dengan menciptakan, menawarkan, dan menukarkan produk yang bernilai
dengan pihak lain".
Jadi menurut definisi diatas, semua manusia harus menemukan
kebutuhanya dulu baru kemudian berusaha memenuhinya dengan cara
mengadakan hubungan dengan pihak lain. Pemasaran mencakup usaha
perusahaan yang dimulai dengan mengidentitikasi kebutuhan dan
keinginan konsumen, menentukan produk yang dapat memenuhi
kebutuhan konsumen, menentukan tingkat harga yang sesuai, menentukan
jenis Iklan dan media Iklan yang tepat, serta menentukan saluran distribusi
yang digunakan dalam rangka mencapai tujuan perusahaan yang
diinginkan. Sehingga pemasaran bukanlah hal yang sederhana yang hanya
Rangkaian kegiatan-kegitan pemasaran yang saling berhubungan
sebagai usaha untuk mencapai hasil pertukaran yang diinginkan dengan
pasar sasarannya (target market) sehingga dikenal istilah manajemen
pemasaran.
Menurut Kotler (1997 : 13) "Manajemen Pemasaran adalah proses
perencanaan dan pelaksanaan pemikiran, penetapan harga dan Iklan serta
penyaluran gagasan, barang dan jasa untuk menciptakan pertukaran uang
dan memuaskan tujuan individu organisasi.
Dari definisi diatas terdapat fungsi-fungsi manajemen meliputi
penganalisaan, perencanaan, pelaksanaan serta pengawasan. Perencanaan
merupakan upaya pemeliharaan tindakan yang diikuti suatu usaha, juga
merupakan upaya untuk memutuskan sebelumnya apa yang dilakukan,
bagaimana, bila dan siapa yang akan melakukannya. Perencanaan
menjembatani kesenjangan antara keadaan yang diinginkan di masa depan.
Penganalisaan merupakan fungsi yang penting sebagai dasar suatu rencana
yang dibuat dengan lebih matang dan tepat. Sedangkan pelaksanaan
merupakan tindakan yang diambil sesuai dengan rencana. Pengawasan
(Controlling) adalah pengukuran dan koreksi terhadap kegiatan para
bawahan untuk menjamin bahwa apa yang terlaksana itu sesuai dengan
2.2.2. Konsep Pemasaran
Pemasaran akan berhasil mencapai tujuannya apabila pemasaran
menitik-beratkan pada pemuasan kebutuhan dan keinginan konsumen.
Kepuasan konsumen tersebut baru akan diperoleh apabila barang atau jasa
yang dibeli sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan konsumen.
Perkembangan dunia usaha yang semakin pesat tentunya membawa
dampak pada situasi persaingan yang semakin ketat pula. Untuk mengatasi
persaingan tersebut salah satunya dengan menggunakan konsep
pemasaran, karena konsep pemasaran bertujuan untuk memberikan
kepuasan terhadap keinginan dan kebutuhan konsumen. Disinilah
pemasaran berperan untuk menjembatani permasalahan yang ada sehingga
memungkinkan bagi konsumen untuk membuat pilihan yang nantinya akan
coba dipenuhi oleh penjual.
Sedangkan Kotler dan Amstrong (2001:23), berpendapat bahwa
konsep pemasaran bertujuan untuk mencapai tujuan organisasi tergantung
pada penentuan kebutuhan dan keinginan pasar serta memuaskan
pelanggan secara lebih efektif dan efisien daripada yang dilakukan oleh
para pesaing.
Konsep pemasaran merupakan suatu kunci atau keseluruhan sistem
untuk meraih tujuan perusahaan yang berhubungan dengan
kegiatan-kegiatan usaha dalam merencanakan, menentukan hingga melaksanakan
Tiga faktor penting yang dipakai sebagai dasar konsep pemasaran
menurut Swastha dan Handoko (2006:6-8), meliputi:
a. Orientasi Konsumen
Perusahaan yang benar-benar memperhatikan konsumen maka harus:
1. Menentukan kebutuhan pokok dari pembeli yang akan
dilayani dan dipenuhi.
2. Menentukan kelompok pembeli yang akan dijadikan
sasaran penjualan.
3. Menentukan produk dan program pemasarannya.
4. Mengadakan penelitian pada konsumen untuk mengukur,
menilai, dan menafsirkan keinginan, sikap, serta tingkah
laku mereka.
5. Menentukan dan melaksanakan strategi yang paling baik,
apakah pada mutu yang tinggi atau pada harga yang
murahserta model yang menarik.
b. Penyusunan kegiatan secara integral
Untuk memberikan kepuasan yang optimal, semua
elemen-elemen harus dikoordinasikan dan diintegrasikan, selain itu
juga berusaha untuk menghindari adanya pertentangan
didalam maupun diluar perusahaan dengan pasar. Semua
bagian yang ada dalam perusahaan harus menyadari bahwa
bahwa setiap perilaku dan pola pikir mereka sangat
dan mempertahankan pelanggan, jadi dapat dikatakan bahwa
setiap orang dan setiap bagian dalam perusahaan harus
mampu berkoordinasi untuk memberikan kepuasan kepada
konsumen sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai.
c. Kepuasan Konsumen
Faktor yang menentukan apakah dalam jangka panjang
perusahaan akan mendapatkan laba adalah tingkat kepuasan
konsumen yang dapat terpenuhi. Laba merupakan
pencerminan dari usaha perusahaan yang berhasil
memberikan kepuasan kepada konsumen, dimana perusahaan
dapat menyediakan atau menjual barang atau jasa yang paling
baik, yang sesuai dengan keinginan konsumen dan dengan
harga yang layak.
Berdasarkan pengertian diatas, konsep pemasaran
merupakan orientasi perusahaan yang menekankan bahwa tugas
pokok perusahaan adalah menentukan kebutuhan dan keinginan
pasar, selanjutnya memenuhi kebutuhan tersebut, sehingga
tercapai tingkat kepuasan yang melebihi dari kepuasan yang
diberikan oleh para pesaing.
Tetapi semenjak keruntuhan rezim Orde Baru, masyarakat semakin
berani untuk beraspirasi dan mengekspresikan tuntutannya terhadap
perkembangan dunia bisnis Indonesia. Masyarakat telah semakin kritis dan
para pelaku bisnis untuk menjalankan usahanya dengan semakin
bertanggungjawab. Pelaku bisnis tidak hanya dituntut untuk memperoleh
keuntungan dari lapangan usahanya, melainkan mereka juga diminta untuk
memberikan kontribusi positif terhadap lingkungan sosialnya. (Daniri,
2007:1)
2.2.3. Merek
Menurut American Marketing Associattion (dalam Kotler, 2000 :
460) mendefinisikan merek sebagi berikut :
Merek adalah nama, istilah, tanda, symbol, rancangan, atau kombinasidari
hal-hal tersebut, yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi barang atau
jasa dari seseorang atau sekelompok penjual dan untuk membedakannya
dari produk pesaing.
Keegan, Moriarty, dan Duncan (1995 : 318) mendevinisikan merek
sebagai satu kumpulan yang kompleks dari citra, janji, dan pengalaman
dalam pikiran konsumen yang menghadirkan janji oleh perusahaan tentang
produk tertentu. Merek sebenarnya merupakan janji penjual untuk secara
konsisten memberikan tampilan, manfaat, dan jasa tertentu pada pembeli.
Nilai dari suatu merek muncul dari presepsi dan asaosiasi positif yang
dipegang oleh seseorang dan tidak hanya terdiri dari idwe tentang fungsi
Merek dapat memiliki enam tingkatan pengertian : (Kotler, 2000 : 460)
1. Atribut (attributes)
Suatu merek membawa atribut-atribut dalam benak konsumen Merek
mengingatkan pada atribut-atribut tertentu. Mercedes memberi kesan sebagi
mobil yang mahal, dibuat dengan baik, dirancang dengan baik, tahan lama,
bergengsi tinggi.
2. Manfaat (benefits)
Artribut harus diterjemahkan ke dalam manfaat fungsional dan emosional.
Atribut “tahan lama” dapat diterjemahkan menjadi manfaat fungsional. Atribut
“mahal” mungkin diterjemahkan menjadi manfaat emosional.
3. Nilai (Value)
Merek yang menyatakan sesuatu tentang nilai yang dimiliki oleh produsen.
Jadi Mercedes berarti kinerja tinggi, keamanan, gengsi, dan lain-lain.
4. Budaya (culture)
Merek juga mewakili kriteria budaya tertentu. Mercedes mewakili budaya
Jerman : terorganisasi, efisien, bermutu tinggi.
5. Kepribadian (personality)
Mercedes mencerminkan pimpinan yang masuk akal (orang), singa yang
memerintah (binatang), atauistana yang agung (obyek).
6. Pemakai (user)
Merek menunjukkan konsumen mana yang membeli atau menggunakn produk
Suatu merek mempunyai lima komponen (Assael, 1993 : 393-400)
1. Nama merek (brand name)
Nama merek merupakan indicator inti yang mendasar dari merek, basis
untuk kesadaran maupun usaha-usaha komunikasi. Bahkan sering kali
nama merek bisa menghasilkan asosiasi-asosiasi yang mampu
menggambarkan merek tersebut. Dengan kata lain, nama merek bisa
membentuk esesnsi dari konsep suatu merek (Aaker, 1997: 277).
2. Simbol (symbol)
Simbol adalah bagian yang penting dari suatu merek yang mempunyai
bentuk yang unik. Suatu simbol dapat mengkomunikasikan
asosiasi-asosiasi atau bahkan atribut-atribut yang spesisfik (Aaker, 1997). Sebuah
symbol bisa dengan sendirinya menciptakan kesadaran, asosiasi, dan rasa
suka atau perasaan mempengaruhi loyalitas atau kesan kualitas (Aaker,
1997: 294).
3. Pengemasan (the package)
Pengemasan mencakup kegiatan-kegiatan dalam mendesain dan
memproduksi kontainer atau pembungkus untuk suatu produk. Fungsi
utama kemasan adalah untuk membungkus dan melindungi produk. Selain
itu, kemasan juga berfungsi untuk menarik perhatian, menjelaskan produk,
hingga membuat penjualan (Aaker. 1997: 287)
4. The warranty
Pernyataan tertulis yang menggambarkan komitmen perusahaan untuk
5. Citra merek (brand image)
Keseluruhan kesan yang terbuentuk dalam benak konsumen oleh
karakteristik fisik merek, nama, symbol, keriaasan, reputasi untuk jasa.
Konsumen memandang merek sebagai bagian penting dari produk, dan
pamberian merek dapat menambah nilai produk tersebut (Kotler dan Amstrong,
1997: 267). Pemberian merek dapat bernilai bagi perusahaan dan pelanggan.
Keuntungan pemberian merek bagi perusahaan (Assael, 1993: 400) :
1. Bila nama merek diasosiasikan dengan produk yang sukses, hal ini akan
menarik loyalitas pelanggan
2. Merek yang telah membangun dasar loyalitas konsumen telah mempunyai
kekuatan.
3. Merek dengan loyalitas konsumen juga memlihara pendukung distribusi lebuih
mudah.
4. Merek yang kuat dapat diturunkan dengan menerapkannya pada spin-offs
dalam lini produk.
Keuntungan pemberian merek (branding) bagi konsumen
1. Nama merek mengidentifikasi manfaat produk sehingga konsumen
mengetahui apa yang akan mereka peroleh.
Konsumen tidak perlu kawatir tentang variasi dalam isi dan kualitas dari satu
pembeli ke pembelian berikutnya.
2. Branding memfasilitasi belanja.
Penghargaan nama merek mengijinkan konsumen untuk membeli dengan
3. Nama merek juga memberikan informasi kepada konsumen
Konsumen ingat rasa, isi, harga, dan kinerja suatu merek. Konsumen ingat
merek mana yang memuaskan mereka dan mana yang tidak. Karena hal inilah
branding membentuk kesempatan bagi konsumen untuk menjadi loyal pada
merek.
2.2.4. Iklan
Iklan merupakan komponen yang dipakai untuk memberitahu dan
menyampaikan pesan mengenai barang yang ditujukan pada para calon
pembeli dan juga berperan mempengaruhi masyarakat untuk melakukan
pembelian terhadap produk tersebut. Adapun kegiatan-kegiatan yang
termasuk Iklan adalah : (Kotler 1997: 257)
1. Advertasi, merupakan suatu bentuk penyajian dan Iklan dari gagasan,
barang atau jasa yang dibiayai oleh suatu sponsor tertentu yang bersifat
non personal. Contoh : radio, TV, majalah, Koran dll.
2. Personal selling, yang merupakan penyajian secara lisan dalam suatu
pembicaraan dengan calon pembeli dengan tujuan agar dapat
terealisasinya penjualan.
3. Iklan penjualan (sales promotion), yang merupakan segala kegiatan
pemasaran yang merangsang pembelian konsumen dan keefektifan agen
Publisitas (publicity), merupakan usaha untuk merangsang
permintaan dari suatu produk secara nonpersonal dengan membuat, baik yang
berupa berita di dalam media tercetak atau tidak.
Selain iklan masih ada alat Iklan masa lainnya, yakni Iklan penjualan
dan hubungan masyarakat. Iklan penjualan terdiri dari insentif jangka pendek
untuk mendorong pembelanjaan atau penjualan produk atau jasa. Kalu iklan
menyodorkan alasan untuk membeli suatu produk atau jasa, maka Iklan
penjualan menekankan alasan mengapa kita harus membeli sekarang juga.
(Kotler, 1997:257).
Iklan merupakan komponen yang dipakai untuk memberitahu dan
menyampaikan pesan mengenai barang yang ditujukan pada para calon
pembeli. Menurut Ermayanti (2006:99) terdapat indikator utama, yaitu :
a) Pengenalan iklan adalah upaya perusahaan dalam mengenalkan
produknya melalui promosi atau iklan
b) Kemampuan iklan adalah kemampuan iklan dalam menjelaskan
kepada pemirsa mengenai keunggulan produk.
c) Kekuataan pengaruh iklan adalah kekuatan iklan dalam
mempengaruhi pemirsa untuk membeli produk
2.2.6 Minat beli
Minat adalah selera masing-masing orang yang menjadi dasar
pemilihan sesuatu, minat membeli menunjukkan pada kecenderungan
Menurut Sukardi (1994) minat adalah suatu perangkat mental yang
terdiri dari kombinasi perpaduan dan campuran dari perasaan, harapan,
prasangka, cemas, takut dan kecenderungan-kecenderungan lain yang bisa
mengarahkan individu kepada suatu pilihan tertentu.
Menurut Aiken (1983) pada umumnya minat beli sebagai salah
satu aspek tingkah laku afektif memiliki ciri-ciri antara lain bersosialisasi
dengan aktivitas, bersifat tetap dan terus menerus, mempunyai intensitas
dan kecenderungannya untuk menerima atau menolak untuk melakukan
suatu aktivitas.
Minat beli merupakan kecenderungan konsumen untuk membeli
suatu merek atau mengambil tindakan yang berhubungan dengan
pembelian yang diukur dengan tingkat kemungkinan konsumen
melakukan pembelian (Assael, 2001). Mehta (1994: 66) mendefinisikan
minat beli sebagai kecenderungan konsumen untuk membeli suatu merek
atau mengambil tindakan yang berhubungan dengan pembelian yang
diukur dengan tingkat kemungkinan konsumen melakukan pembelian.
Pengertian minat beli menurut Howard (1994) (Durianto dan Liana, 2004:
44) adalah minat beli merupakan sesuatu yang berhubungan dengan
rencana konsumen untuk membeli produk tertentu serta berapa banyak
unit produk yang dibutuhkan pada periode tertentu. Dapat dikatakan
bahwa minat beli merupakan pernyataan mental dari dari konsumen yang
merefleksikan rencana pembelian sejumlah produk dengan merek tertentu.
konsumen terhadap suatu produk, baik para pemasar maupun ahli ekonomi
menggunakan variabel minat untuk memprediksi perilaku konsumen
dimasa yang akan datang.
Pada kebanyakan orang, perilaku pembelian konsumen seringkali
diawali dan dipengaruhi oleh banyaknya rangsangan (stimuli) dari luar
dirinya, baik berupa rangsangan pemasaran maupun rangsangan dari
lingkungannya. Rangsangan tersebut kemudian diproses dalam diri sesuai
dengan karakteristik pribadinya, sebelum akhirnya diambil keputusan
pembelian. Karakteristik pribadi konsumen yang dipergunakan untuk
memproses rangsangan tersebut sangat komplek, dan salah satunya adalah
motivasi konsumen untuk membeli.
Menurut Keller (1998), minat konsumen adalah seberapa besar
kemungkinan konsumen membeli suatu merek atau seberapa besar
kemungkinan konsumen untuk berpindah dari satu merek ke merek
lainnya. Sedangkan Mittal (1999) menemukan bahwa fungsi dari minat
dari minat konsumen merupakan fungsi dari mutu produk dan mutu
layanan.
Minat beli adalah tahap kecenderungan responden untuk
bertindak sebelum keputusan membeli benar-benar dilaksanakan.
Terdapat perbedaan antara pembelian aktual dan minat pembelian.
Bila pembelian aktual adalah pembelian yang benar-benar dilakukan
oleh konsumen, maka minat pembelian adalah niat untuk melakukan
pembelian yang belum tentu akan dilakukan pada masa mendatang
namun pengukuran terhadap minat pembelian umumnya dilakukan
guna memaksimumkan prediksi terhadap pembelian aktual itu sendiri
(Kinnear dan Taylor, 1995). Intention juga didefinisikan sebagai
pernyataan yang berkaitan dengan batin yang mencerminkan rencana
dari pembeli untuk membeli suatu merek tertentu dalam suatu periode
waktu tertentu
Sedangkan definisi minat beli menurut Kinnear dan Taylor (1995)
(Thamrin, 2003: 142) adalah merupakan bagian dari komponen perilaku
konsumen dalam sikap mengkonsumsi, kecenderungan responden untuk
bertindak sebelum keputusan membeli benar-benar dilaksanakan. Rossiter
dan Percy (1998: 126) mengemukakan bahwa minat beli merupakan
instruksi diri konsumen untuk melakukan pembelian atas suatu produk,
melakukan perencanaan, mengambil tindakan-tindakan yang relevan
seperti mengusulkan (pemrakarsa) merekomendasikan (influencer),
memilih, dan akhirnya mengambil keputusan untuk melakukan pembelian.
Menurut Schiffman dan Kanuk (1994) dalam Albari (2002) menyatakan
bahwa motivasi sebagai kekuatan dorongan dari dalam diri individu yang
memaksa mereka untuk melakukan tindakan.
Jika seseorang mempunyai motivasi yang tinggi terhadap obyek tertentu,
maka dia akan terdorong untuk berperilaku menguasai produk tersebut.
Sebaliknya jika motivasinya rendah, maka dia akan mencoba untuk
adalah untuk kemungkinan orang tersebut berminat untuk membeli produk
atau merek yang ditawarkan pemasaran atau tidak.
Konsumen akan melakukan tindakan setelah pembelian dan menggunakan
produk tersebut yang mendapat perhatian dari pemasar. Tugas pemasar
tidak hanya berakhir ketika produk dibeli tetapi terus hingga periode
setelah pembelian. Dinyatakan bahwa pembeli bergerak setelah
membentuk persepsi terhadap nilai penawaran. Jika barang atau jasa yang
di beli cocok dengan yang diharapkan konsumen, maka terdapat kepuasan
2.2.7 Indikator Minat Beli.
Indikator dari minat beli menurut Junaedi (2009 : 99) adalah sebagai berikut:
1. Kelengkapan barang yang meliputi aneka macam jenis dan merek
produk
2. Harga yaitu nilai yang diberikan pembeli terhadap suatu produk
3. Lokasi, produk dijual diberbagai lokasi
4. Kualitas barang yaitu ciri, mutu, serta nilai dari produk
5. Pelayanan adalah merupakan pelayanan costumer service dalam
menanggapi keluhan pelanggan.
2.2.8 Pengaruh Iklan Terhadap Minat beli
Perusahaan perlu melakukan promosi untuk memperkenalkan
produknya kepada konsumen. Dalam strategi promosi, periklanan
merupakan salah satu variabel promosi yang paling sering digunakan
perusahaan untuk mempromosikan produknya, karena sifatnya yang
memasyarakat, yaitu dapat menjangkau masyarakat dengan cepat dan luas.
Menurut Jefkins (1997 : 5), iklan merupakan pesan-pesan
penjualan yang paling persuasif yang diarahkan kepada para calon pembeli
yang paling potensial atas produk barang atau jasa tertentu dengan biaya
usaha mempengaruhi konsumen dalam bentuk tulisan, gambar, suara atau
kombinasi dari semuanya itu yang diarahkan pada masyarakat secara luas
dan secara tidak langsung (Nitisemito, 1977 : 137).
Terdapat sebuah penemuan bahwa keterlibatan pembuatan
iklan (adexecution involvement) tinggi dan keterlibatan pesan iklan
(ad message) rendah, aspek peripheral dari iklan bekerja lebih
dominan . Dalam kondisi ini, sikap terhadap iklan menjadi dominan
mempengaruhi sikap terhadap iklan dan pengaruh hal-hal yang
berhubungan dengan pesan menjadi minimal. sikap terhadap merek dan
sikap terhadap iklan secara bersama-sama mempunyai pengaruh
2.3. Kerangka Konseptual
2.4. Hipotesis
Didiuga bahwa iklan berpengaruh positif terhadap minat beli konsumen pada
Provider XL di Surabaya. Iklan
(X)
BAB III
METODELOGI PENELITIAN
3.1. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
Definisi operasional dan pengukuran variabel berisi pernyataan tentang
pengoperasiaan atau pendefinisian konsep penelitian termasuk penetapan cara dan
satuan pengukuran variabelnya, adalah sebagai berikut:
1. Iklan (X1)
Iklan merupakan komponen yang dipakai untuk memberitahu dan
menyampaikan pesan mengenai barang yang ditujukan pada para calon
pembeli. Menurut Ermayanti (2006:99) terdapat indikator utama, yaitu :
X1.1 = Pengenalan iklan adalah upaya perusahaan dalam mengenalkan
Provider XL melalui promosi atau iklan
X1.2 = Kemampuan iklan adalah kemampuan iklan dalam menjelaskan
kepada pemirsa mengenai keunggulan Provider XL.
X1.3 = Kekuataan pengaruh iklan adalah kekuatan iklan dalam
mempengaruhi pemirsa untuk membeli Provider XL
4. Minat Beli (Y)
Minat Beli adalah kecenderungan konsumen untuk melakukan pembelian
terhadap suatu produk dan akhirnya mengambil keputusan untuk membeli.
Indikator dari minat beli menurut Junaedi (2009 : 99) adalah sebagai berikut:
Y1 = Kelengkapan barang yang meliputi aneka macam jenis dan merek
Y2 = Harga yaitu nilai yang diberikan pembeli terhadap suatu produk
Y3 = Jangkauan, merupakan signal yang terjangkau di berbagai daerah
Y4 = Pelayanan adalah merupakan pelayanan costumer service dalam
menanggapi keluhan pelanggan.
3.1.1. Pengukuran Variabel
Skala pengukuran yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala
interval dengan menggunakan teknik pembobotan skala (semantic differential
scale). Analisis ini dilakukan dengan meminta responden untuk menyatakan
pendapatnya tentang serangkaian pernyataan yang berkaitan dengan obyek yang
diteliti dalam bentuk nilai yang berada dalam rentang dua sisi. Dalam penelitian
ini, setiap pernyataan masing-masing diukur dalam 7 skala dan ujung-ujung
ditetapkan dengan kata sifat yang tidak secara kontras berlawanan. sebagai
berikut:
Sangat Jelek Sangat Bagus
3.2.Teknik Pengambilan Sampel
a. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah pengguna produk Provider XL di
Surabaya.
b. Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi yang mempunyai ciri dan karakteristik
yang sama dengan populasi tersebut. Karena itu sample harus representative 7
dari sebuah populasi (Sumarsono, 2002 : 45). Metode pengambilan sampel
dengan metode non probability sampling dengan teknik Purposive Sampling
yaitu sampel dipilih berdasarkan kriteria yang sudah ditetapkan oleh peneliti.
Dengan kriteria antara lain :
- Menggunakan Provider XL.
- Mempunyai umur lebih dari 18 tahun karena mengetahui makna dari
pertanyaan yang diberikan
Teknik penentuan sampel yang dipergunakan adalah berdasarkan
pedoman pengukuran sampel menurut Augusty (2002:48), antara lain :
1. 100 – 200 sampel untuk teknik maximum likelihood estimation.
2. Pedomannya adalah 5 – 10 kali jumlah parameter yang diestimasi.
3. Tergantung pada jumlah indikator yang digunakan dalam seluruh
variabel laten. Jumlah sampel adalah jumlah indikator dikali 5-10. bila
terdapat 20 indikator, besarnya sampel adalah 100-200.
Karena terdapat 8 indikator maka jumlah sampel dalam penelitian ini adalah
(8 X 10 = 80) maka sampel yang digunakan adalah minimal sebesar 100
responden.
3.3.Teknik Pengumpulan Data
3.3.1. Jenis Data
Data Primer
Data primer yang diolah dalam penelitian ini diperoleh dengan menyebarkan
3.3.2. Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam analisis ini adalah data yang diambil
langsung kepada konsumen yang hendak membeli atau membeli Provider XL di
Surabaya dengan cara menyebarkan kuesioner.
3.3.3. Tehnik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam skripsi ini dilakukan dengan menggunakan
beberapa cara berikut:
a. Observasi
Merupakan pengamatan langsung pada perusahaan untuk mendapatkan bukti -
bukti yang berkaitan dengan obyek penelitian.
b. Kuisioner
Yaitu pengumpulan data dilakukan dengan cara menyebarkan daftar
pertanyaan kepada konsumen di Surabaya.
c. Dokumentasi
Yaitu dengan mengumpulkan data, menggali data dokumen atau arsip-arsip
aturan yang disepakati, misalnya keberadaan perusahaan dan struktur
manajemen perusahaan.
3.4. Teknik Analisis dan Uji Hipotesis
Model yang digunakan untuk menganalisis data dalam penelitian ini
adalah Structural Equation Modelling [SEM]. Merupakan teknik statistik yang
memungkinkan pengujian sebuah rangkaian hubungan yang relatif rumit. Model
pengukuran variabel menggunakan confirmatory factor analyses. Penaksiran
pengaruh masing-masing variable bebas terhadap variable terikatnya
menggunakan koefidien jalur
Langkah-langkah dalam analisis SEM model pengukuran dengan contoh
sebagai berikut :
Persamaan Harga (X):
X.1. = 1 iklan + er_1
X.2 = 2 iklan + er_2
X.3 = 3 iklan + er_3
Bila persamaaan di atas dinyatakan dalam sebuah pengukuran
model untuk diuji unidimensionalitasnya melalui confirmatory factor
analysis, maka model pengukuran dengan contoh variable harga akan
nampak sebagai berikut :
Gambar 3.1 : Contoh Model Pengukuran Iklan
Iklan
X1.1 er_1
X1.2 er_2
Keterangan :
X.1 = pertanyaan tentang Pengenalan iklan
X.2 = pertanyaan tentang Kemampuan iklan
X.3 = pertanyaan tentang Kekuataan pengaruh iklan
3.4.2. Outliers
Outlier adalah obsevasi yang muncul dengan nilai-nilai eksterim baik
secara univariat maupun multivariate yang muncul karena kombinasi karakteristik
unik yang dimilikinya dan terlihat sangat jauh berbeda dari observasi-observasi
lainya. Dapat diadakan treatment khusus pada outliers ini asal diketahui
munculnya outlier itu. Outliers pada dasarnya dapat muncul dalam empat
kategori.
Pertama, Outlier muncul karena kesalahan prosedur seperti kesalahan dalam
memasukkan data atau kesalahan dalam mengkoding data. Misalnya 8 diketik
80 sehingga jauh berbeda dengan nilai-nilai lainnya dalam rentang jawaban
responden antara 1-10 jika hal semacam ini lolos maka akan menjadi sebuah
nilai ekstrim.
Kedua, outlier dapat muncul karena keadaan yang benar-benar khusus yang
memungkinkan profil datanya lain daripada yang lain daripada tetapi peneliti
Ketiga, outlier dapat muncul karena adanya sesuatu alasan tetapi peneliti tidak
dapat mengetahui apa penyebabnya atau tidak ada penjelasan mengenai nilai
ekstrim itu.
Keempat, outlier dapat muncul dalam range nilai yang ada, tetapi bila
dikombinasi dengan varibel lainnya, kombinasinya menjadi tidak lazim atau
sangat ekstrim. Inilah yang disebut multivariate outlier.
3.4.3. Evaluasi atas outliers
Menagamati atas z-score variabel: ketentuan diantara +_ 3,0 non outlier
Multivariate outlier diukur dengan kriteria jarak mahalanobis pada tingkat p <
0,001.Jarak diuji dengan Chi-Square (X2) pada df (degrees of Freedom) sebesar
jumlah variabel bebasnya. Ketentuan : Mahalanobis > dari nilai X2 adalah
multivariate outlier.
3.4.4. Uji Validitas
Uji validitas adalah suatu derajat ketepatan alat ukur penelitian tentang isi
sebenarnya yang diukur. Analisis validitas item bertujuan untuk menguji apakah
tiap butir pertanyaan benar-benar sudah sahih, paling tidak kita dapat menetapkan
derajat yang tinggi dari kedekatan data yang diperoleh dengan apa yang diyakini
dalam pengukuran. Sebagai alat ukur yang digunakan, analisis ini dilakukan
dengan cara mengkorelasiakn antar skor item denga skor total item. Dalam hal ini
koefisien korelasi yang nilai signifikasinya lebih kecil dari 5 % (level of
significance) menunjukkan bahwa item-item tersebut sudah sahih sebagai
3.4.5. Uji Reliabilitas
Yang dimaksud dengan reabilitas ukuran mengenai konsistensi internal
dari indikator-indikator sebuah konstruk yang menunjukan derajat sampai dimana
masing-masing indicator itu menghasilakan sebuah konstruk/faktor laten yang
umum. Secara umum, nilai construct reliability yang dapat diterima adalah ≥ 0,70
dan variance extracted≥ 0,5 Hair et. al., (1998).
3.4.6. Uji Normalitas
Untuk menguji normalitas distribusi data-data yang digunakan dalam
analisis, peneliti dapat menggunakan uji-uji statistik. Uji yang paling mudah
adalah dengan mengamati skewness value dari data yang digunakan, yang
biasanya disajikan dalam statistik diskriptif dari hampir semua program statistik.
Nilai statistik untuk menguji normalitas itu disebut z-value yang dihasilkan
melalui rumus berikut ini :
Bila nilai z lebih besar dari nilai kritis, maka dapat diduga bahwa distribusi
data adalah tidak normal. Nilai kritis dapat ditentukan berdasarkan tingkat
signifiukasi yag dikehendaki. Misalnya, bila nilai yang dihitung lebih besar dari
2,58 berarti kita dapat menolak asumsi mengenai normalitas dari distribusi pada
tingkat 0,01 (1%). Nilai kritis lainnya yang umum digunakan adalah nilai kritis
sebesar 1,96 yang berarti bahwa asumsi normalitas ditolak pada tingkat
3.4.7. Multicollinearity dan Singularity
Untuk melihat apakah pada data penelitian terdapat multikolinieritas dan
singularitas dalam kombinasi-komninasi variabel, maka perlu mengamati
determinan dari variable kovarian sampelnya. Determinan yang benar-benar kecil
mengindikasikan adanya multikolinieritas dan singularitas, sehingga data tidak
dapat digunakan untuk analisis yang sedang dilakukan. Augusty (2002 : 108).
3.4.8. Pengujian Hipotesis dan Hubungan Kausal
Pengaruh langsung [koefisien jalur] diamati dari bobot regresi terstandar,
dengan pengujian signifikansi pembanding nilai CR [Critical Ratio] atau p
[probability] yang sama dengan nilai t hitung. Apabila t hitung lebih besar
daripada t table berarti pengujian hipotesis kausal berarti signifikan.
3.4.9. Evaluasi Model
Hair et.al., 1998 menjelaskan bahwa pola “confirmatory” menunjukkan
prosedur yang dirancang untuk mengevaluasi utilitas hipotesis-hipotesis dengan
pengujian fit antara model teoritis dan data empiris. Jika model teoritis
menggambarkan “good fit” dengan data, maka model dianggap sebagai yang
diperkuat. Sebaliknya, suatu model teotitis tidak diperkuat jika teori tersebut
mempunyai suatu “poor fit” dengan data. Amos dapat menguji apakah model
“good fit” atau “poor fit”. Jadi, “good fit” model yang diuji sangat penting dalam
Tabel 3.1. Goodness of Fit Indices
GOODNESS OF
FIT INDEX KETERANGAN CUT-OFF VALUE
X2 - Chi-square Menguji apakah covariance populasi yang destimasi sama dengan cova-riance sample [apakah model sesuai dengan data].
Diharapkan Kecil, 1 s.d 5. atau paling baik diantara 1 dan 2.
Probability Uji signifikansi terhadap perbedaan matriks covariace data dan matriks covariance yang diestimasi.
Minimum 0,1 atau 0,2, atau 0,05
RMSEA Mengkompensasi kelemahan Chi-Square pada sample besar. 0,08
GFI
Menghitung proporsi tertimbang varians dalam matrtiks sample yang dijelaskan oleh matriks covariance populasi yang diestimasi [analog dengan R2 dalam regresi berganda].
0,90
AGFI GFI yang disesuaikan terhadap DF. 0,90
CMIND/DF Kesesuaian antara data dan model 2,00
TLI Pembandingan antara model yang diuji terhadap baseline model. 0,95
CFI Uji kelayakan model yang tidak sensitive terhadap besarnya
sample dan kerumitan model. 0,95
Sumber : Hair et.al., [1998]
1. X² CHI SQUARE STATISTIK
Alat uji paling fundamental untuk mengukur overall fit adalah likelihood
ratio chi-square ini bersifat sangat sensitif terhadap besarnya sampel yang
digunakan. Karenanya bila jumlah sampel cukup besar (lebih dari 200), statistik
chi-square ini harus didampingi oleh alat uji lain. Model yang diuji akan
dipandang baik atau memuaskan bila nilai chi-squarenya rendah. Semakin kecil
nilai X² semakin baik model itu. Karena tujuan analisis adalah mengembangkan
dan menguji sebuah model yang sesuai dengan data atau yang fit terhadap data,
maka yang dibutuhkan justru sebuah nilai X² yang kecil dan signifikan. X² bersifat
sangat sensitif terhadap besarnya sampel yaitu terhadap sampel yang terlalu kecil
2. RMSEA-THE ROOT MEAN SQUARE ERROR Of APPROXIMATION
RMSEA adalah sebuah indeks yang dapat digunakan mengkompensasi
chi-square statistik dalam sampel yang besar. Nilai RMSEA menunjukkan
goodness-of-fit yang dapat diharapkan bila model diestimasi alam populasi. Nilai
RMSEA yang lebih kecil atau sama dengan 0,08 merupakan indeks untuk dapat
diterimanya degress of freedom.
3. GFI – GOODNES of FIT INDEKS
GFI adalah analog dari R dalam regresi berganda. Indeks kesesuaian ini
akan menghitung proporsi tertimbang dari varians dalam matriks kovarians
sampel yang dijelaskan oleh kovarians matriks populasi yang terestimasi. GFI
adalah sebuah ukuran non- statistika yang mempunyai rentang nilai antara 0 (poor
fit) sampai dengan 1,0 (perfect fit). Nilai yang tinggi dalam indeks ini
menunjukkan sebuah “better fit”.
4. AGFI – ADJUST GOODNES of FIT INDEX
AGFI = GFI/df Tingkat penerimaan yang direkomendasikan adalah bila
AGFI mempunyai niali yang sama dengan atau lebih besar dari 0.90. GFI maupun
AGFI adalah kriteria yang memperhitungkan proporsi tertimbang dari varians
alam sebuah matriks kovarians sampel. Nilai sebesar 0,95 dapat diinterprestasikan
sebagai tingkatan yang baik (good overall model fit) sedangkan besaran nilai
antara 0,90-0,95 menunjukkan tingkatan cukup (adequate fit).
Sebagai salah satu indikator untuk mengukur tingkat fitnya sebuah model.
Dalam hal ini CMNI/DF tidak lain adalah statistik chi-square, X² dibagi Dfnya
sehingga disebut X² relatif. Nilai X² relatif kurang dari 2,0 atau bahkan kurang
dari 3,0 adalah indikasi dari acceptable fit antara model dan data. Nilai X² relatif
yang tinggi menandakan adanya perbedaan yang signifikan antara matriks
kovarians yang diobservasikan dan diestimasi.
6. TLI – TUCKER LEWIS INDEKS
TLI adalah sebuah model yang diuji terhadap sebuah baseline model. Nilai
yang direkomendasikan sebagai acuan untuk diterimanya sebuah model adalah
penerimaan ≥0,95 nilai yang sangat mendekati 1 menunjukkan a verry good fit.
7. CFI – COMPERATIF FIT INDEX
Besaran indeks ini adalah pada rentang nilai sebesar 0-1, dimana semakin
mendekati 1, mendidentifikasikan tingkat fit yang paling tinggi (a very good fit).
Nilai yang direkomendasikan adalah CFI > 0.95. Keunggulan dari indeks ini
besarnya tidak dipengaruhi oleh ukuran sampel karena itu sangat baik untuk
mengukur tingkat penerimaan sebuah model. Indeks CFI adalah identik dengan
Gambar 3.2. Evaluasi Model
Iklan
(X) Minat Beli (Y)
Pengenalan Iklan X1.1
Kemampuan Iklan X1.2
Kekuatan Iklan X1.3
Kelengkapan Y1
Harga Y2
Lokasi Y3
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Deskripsi Obyek Penelitian
4.1.1. Sejerah singkat Perusahaan
PT Excelcomindo Pratama Tbk. (“XL” atau “Perseroan”) didirikan
pada tanggal 6 Oktober 1989 dengan nama PT Grahametropolitan Lestari,
bergerak di bidang perdagangan dan jasa umum.
Enam tahun kemudian, Perseroan mengambil suatu langkah
penting seiring dengan kerja sama antara Rajawali Group – pemegang
saham PT Grahametropolitan Lestari – dan tiga investor asing (NYNEX,
AIF, dan Mitsui). Nama Perseroan kemudian berubah menjadi PT
Excelcomindo Pratama dengan bisnis utama di bidang penyediaan layanan
teleponi dasar. Pada tahun 1996, XL mulai beroperasi secara komersial
dengan fokus cakupan area di Jakarta, Bandung dan Surabaya. Hal ini
menjadikan XL sebagai perusahaan tertutup pertama di Indonesia yang
menyediakan jasa teleponi dasar bergerak seluler.
Bulan September 2005 merupakan suatu tonggak penting untuk
Perseroan. Dengan mengembangkan seluruh aspek bisnisnya, XL menjadi
perusahaan publik dan tercatat di Bursa Efek Jakarta (sekarang Bursa Efek
Indonesia). Kepemilikan saham XL saat ini mayoritas dipegang oleh TM
Emirates Telecommunications Corporation (Etisalat) melalui Etisalat
International Indonesia Ltd (16,0%).
XL pada saat ini merupakan penyedia layanan telekomunikasi
seluler dengan cakupan jaringan yang luas di seluruh wilayah Indonesia
bagi pelanggan ritel dan menyediakan solusi bisnis bagi pelanggan
korporat. Layanan XL mencakup antara lain percakapan, data dan layanan
nilai tambah lainnya (value added services). Untuk mendukung layanan
tersebut, XL beroperasi dengan teknologi GSM 900/DCS 1800 serta
teknologi jaringan bergerak seluler sistem IMT-2000/3G. XL juga telah
memperoleh Ijin Penyelenggaraan Jaringan Tetap Tertutup, Ijin
Penyelenggaraan Jasa Akses Internet (Internet Services Protocol/ ISP), Ijin
Penyelenggaraan Jasa Internet Teleponi untuk Keperluan Publik (Voice
over Internet Protocol/VoIP), dan Ijin Penyelenggaraan Jasa Interkoneksi
Internet (“NAP”).
Di area pengembangan jaringan, strategi XL untuk menghadapi
perubahan dalam bisnis model, dari tarif tinggi dan volume-rendah ke
tarif-rendah dan volume-tinggi adalah meningkatkan kapasitas jaringan. Pada
akhir 2007, jangkauan XL telah mencapai sekitar 90% populasi penduduk
Indonesia. Kapasitas jaringan yang lebih besar dan peningkatan kualitas
membuat XL mampu menangani pertumbuhan pelanggan, memperluas
pangsa pasar dan mengakomodasi lonjakan trafik, baik untuk pelanggan
4.1.2. Produk dan Layanan
XL Prabayar
Merupakan produk XL yang dahulu memiliki brand XL Bebas dan
XL Jempol. Saat ini XL hanya meluncurkan satu produk untuk layanan
prabayarnya, yaitu XL Prabayar.
XL Pascabayar
Produk layanan pascabayar dari XL, dimana para penggunanya
dapat menikmati fasilitas XL setiap bulannya dan akan ditagih
penggunaannya setiap akhir bulan sesuai dengan layanan yang telah
digunakan. Produk pascabayar ini sebelumnya bernama ‘XPLOR’, tetapi
sejak akhir 2008 telah berganti nama menjadi XL Pascabayar.
4.1.3. Filosofi, Visi dan Misi Perusahaan
Filosofi
XL berupaya sepenuhnya untuk bisa memenuhi kebutuhan para
pelanggan melalui layanan yang berkualitas tinggi. Produk-produk yang
ada, baik untuk perorangan maupun untuk perusahaan diciptakan untuk
memenuhi kebutuhan para pelanggan. XL patut merasa bangga sebagai
macam produk maupun layanan melalui teknologi yang tepat guna
memuaskan pelanggan dalam berkomunikasi.
Disamping hubungan yang baik dengan pelanggan, XL juga
memiliki hubungan yang baik dengan masyarakat sekitar. XL percaya akan
perlunya pembangunan masyarakat secara berkesinambungan guna
menciptakan lingkungan bisnis yang kondusif. Sebagai bentuk tanggung
jawab dari kalangan industri, XL sangat berkomitmen untuk menciptakan
nilai tambah pada pemegang sahamnya dan juga berkomitmen untuk
berpartisipasi dalam pembangunan masyarakat Indonesia. Hal diatas
diwujudkan melalui program-program sosial perusahaan (CSR program)
yang difokuskan pada pendidikan dan kegiatan sosial lainnya dalam payung
XL CSR.
Visi
Visi : Menjadi penyedia jasa TI dan komunikas terpilih di seluruh
Indonesia, baik bagi pelanggan individu maupun kalangan bisinis.
Misi
Misi : Memberikan yang terbaik bagi pelanggan baik dalam hal produk,
Strategi Bisnis Perusahaan
Jaringan distribusi merupakan faktor utama dalam memastikan
penyediaan produk sehingga dapat menjangkau pangsa pasar yang dituju.
Tantangan di area ini adalah menciptakan sistem yang dapat memberikan
kinerja yang positif bagi mitra XL dalam mendistribusikan produk XL serta
bagi pelanggan sebagai pengguna akhir. Distribusi yang efektif tidak hanya
mendistribusikan produk kepada penjual atau tempat penjualan, tetapi juga
mendukung perluasan distribusi. Persaingan ketat antar operator seluler
memacu XL membangun sistem yang dapat mendistribusikan produk sesuai
permintaan pasar, juga secara aktif mempromosikan penjualan. Bukti
kontribusi dari saluran distribusi untuk kesuksesan XL adalah pencapaian
26 juta pelanggan pada 2008. Walaupun sebelumnya telah mempunyai
sistem distribusi yang baik, XL secara rutin mengevaluasi bagaimana sistem
distribusi yang ada senantiasa dapat berjalan mengikuti kondisi pasar secara
dinamis.
Di 2007, XL melakukan perubahan dengan mengimplementasi
sistem distribusi baru. XL telah mengimplementasikan sistem distribusi
hybrid, gabungan antara sistem indirect (dealer management) dan direct.
Sistem ini mengambil contoh dari sistem distribusi untuk fast moving
consumer goods (FMCG) dengan tujuan menjangkau pelanggan dan
mengawasi saluran distribusi serta ketersediaan produk dan layanan dengan
4.2. Hasil Penelitian dan Pembahasan
4.2.1. Analisis Statistik Deskriptif
Gambaran statistik deskriptif digunakan untuk mengetahui gambaran
jawaban responden berdasarkan hasil penyebaran kuesioner terhadap
unsur-unsur yang ada pada setiap variabel.
a. Deskripsi responden berdasarkan jenis kelamin
Identitas Responden Menurut Jenis Kelamin dapat dilihat pada Tabel 4.1.
Dalam Tabel 4.1 terlihat bahwa dari 100 responden 100 responden (50%)
adalah laki-laki, 40 responden (50%) perempuan.
Tabel 4.1
Identitas Responden Menurut Jenis Kelamin Jenis Kelamin Jumlah Persentase
Laki-Laki 50 50
Perempuan 50 50
Total 100 100 Sumber : Lampiran.
Berdasarkan table identitas responden berdasarkan jenis kelamin dapat
diketahui bahwa tidak ada perbedaan antara laki laki dan perempuan atau
dengan kata lain seimbang. Hal ini mengindikasikan tidak ada perbedaan
gender untuk pemakai kartu provider XL.
b. Deskripsi responden berdasarkan kelompok umur
Pada tabel 4.2 menunjukkan bahwa responden yang berusia 36–45 tahun
sejumlah 44 orang (44%) selanjutnya, yang berumur sekitar 25–35 tahun
46-55 tahun sejumlah 11 orang (11%) dan yang terakhir adalah responden yang
berusia 55 tahun sebanyak 5 orang (6%).
Tabel 4.2
Identitas Responden Menurut Umur
No Umur Jumlah (orang) Persentase (%)
Berdasarkan table identitas responden berdasarkan umur dapat diketahui
bahwa yang paling banyak respondennya adalah kalangan muda. Tetapi tidak
dari kalangan sekolah, tetapi pada kalangan sudah berkarier, atau golongan
eksekutif muda.
c. Deskripsi responden berdasarkan kelompok pendidikan
Pada tabel 4.3 menunjukkan bahwa responden terbesar adalah berpendidikan
S1 sebanyak 52 orang (52%), selanjutnya responden yang berpendidikan D3
sebanyak 32 orang (32%), dan D1 masing-masing sebanyak sejumlah 32
orang (32%), SMU sejumlah 4 orang (4%).
Tabel 4.3
Identitas Responden Menurut Pendidikan
No Jabatan Jumlah (orang) Persentase (%)
Berdasarkan table identitas responden berdasarkan pendidikan dapat diketahui
bahwa yang paling banyak respondennya adalah kalangan pekerja, atau
eksekutif muda yang lulus S1.
4.2.2. Uji Outlier Multivariate
Outlier adalah observasi atau data yang memiliki karakteristik unik
yang terlihat sangat berbeda jauh dari observasi-observasi lainnya dan
muncul dalam bentuk nilai ekstrim untuk sebuah variabel tunggal atau
variabel kombinasi atau mutivariat (Hair, 1998). Evaluasi terhadap outlier
multivariate (antar variabel) perlu dilakukan sebab walaupun data yang
dianalisis menunjukkan tidak ada outliers pada tingkat univariate, tetapi
observasi itu dapat menjadi outliers bila sudah saling dikombinasikan. Jarak
antara Mahalanobis untuk tiap-tiap observasi dapat dihitung dan akan
menunjukkan sebuah observasi dari rata-rata semua variabel dalam sebuah
ruang multidimensional (Hair.dkk, 1998; Tabachnick & Fidel, 1996). Uji
terhadap outliers multivariate dilakukan dengan menggunakan jarak
Mahalanobis pada tingkat p < 1%. Jarak Mahalanobis itu dievaluasi dengan
menggunakan χ² (chi kuadrat) pada derajat bebas sebesar jumlah variabel
yang digunakan dalam penelitian ini. Hasil uji outlier tampak pada tabel
Tabel 4.4. Hasil Uji Outlier Multivariate
Standard Error of Predicted
Value 3.079 11.434 6.361 1.600 100
Adjusted Predicted Value 2.875 80.492 50.622 18.676 100
Residual -57.637 50.190 0.000 22.350 100
Centered Leverage Value 0.008 0.233 0.070 0.041 100
Sumber : Lampiran
Berdasarkan tabel diatas, setelah dilakukan pengujian ditemukan
bahwa tidak terdapat outlier multivariat [antar variabel], karena MD
Maksimum 23,091 < 24,322.
Deteksi terhadap multivariat outliers dilakukan dengan
menggunakan kriteria Jarak Mahalanobis pada tingkat p < 0,001. Jarak
Mahalanobis itu dievaluasi dengan menggunakan 2 pada derajat bebas
sebesar jumlah variabel yang digunakan dalam penelitian. Bila kasus yang
mempunyai Jarak Mahalanobis lebih besar dari nilai chi-square pada tingkat
signifikansi 0,001 maka terjadi multivariate outliers. Nilai 20.001 dengan
jumlah indikator 10 adalah sebesar 24,322
4.2.3. Uji Reliabilitas
Seperti telah dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa Cronbach’s
Alpha ini digunakan untuk mengestimasi reliabiltas setiap skala (variabel
untuk memperbaiki ukuran – ukuran dan mengeliminasi butir – butir yang
kehadirannya akan memperkecil koefisien Cronbach’s Alpha yang
dihasilkan (Purwanto, 2002). Hasil selengkapnya dapat dilihat pada tabel
berikut :
Tabel 4.5. Pengujian Reliability Consistency Internal
Konstrak Indikator Item to Total
Correlation
Koefisien Cronbach’s Alpha dihitung untuk mengestimasi
reliabilitas setiap skala [variabel atau indikator observasian]. Sementara itu
item to total correlation digunakan untuk memperbaiki ukuran-ukuran dan
mengeliminasi item-item yang kehadirannya akan memperkecil koefisien
Cronbach’s Alpha yang dihasilkan.
Proses eleminasi diperlakukan pada item to total correlation pada
indikator yang nilainya < 0,5 [Purwanto,2003]. Terjadi eliminasi karena
nilai item to total correlation indikator belum seluruhnya ≥ 0,5. Indikator
yang tereliminasi tidak disertakan dalam perhitungan cronbach's alpha.
Perhitungan cronbach's dilakukan setelah proses eliminasi.
Hasil pengujian reliabilitas konsistensi internal untuk setiap
construct di atas menunjukkan cukup baik dimana koefisien Cronbach’s
Alpha yang diperoleh belum seluruhnya memenuhi rules of thumb yang
4.2.4. Uji Validitas
Validitas menyangkut tingkat akurasi yang dicapai oleh sebuah
indikator dalam menilai sesuatu atau akuratnya pengukuran atas apa yang
seharusnya diukur, karena indikator multidimensi, maka uji validitas dari
setiap latent variable / construct akan diuji dengan melihat loading factor
dari hubungan antara setiap observed variable dan latent variable. Hasil
analisis tampak pada tabel di bawah ini.
Tabel 4.6. Hasil Uji Validitas
Faktor Loading
Berdasarkan hasil confirmatory factor analysis terlihat bahwa
factor loadings masing masing butir pertanyaan yang membentuk setiap
construct belum seluruhnya ≥ 0,5, sehingga butir-butir instrumentasi setiap
konstruk tersebut dapat dikatakan validitasnya kurang baik.
4.2.5. Uji Construct Reliability Dan Variance Eztracted
Selain melakukan pengujian konsistensi internal Cronbach’s
Alpha, perlu juga dilakukan pengujian construct reliability dan variance
extracted. Kedua pengujian tersebut masih dalam koridor uji konsistensi
bahwa indikator – indikator individual mengukur suatu pengukuran yang
sama (Purwanto, 2002). Dan variance extracted direkomendasikan pada
tingkat 0,50. Hasil perhitungan construct reliability dan variance extracted
dapat dilihat dalam tabel di bawah ini
Tabel 4.7. Construct Reliability & Variance Extrated
Konstrak Indikator
Selain melakukan pengujian konsistensi internal Cronbach’s
Alpha, perlu juga dilakukan pengujian construct reliability dan variance
extracted. Kedua pengujian tersebut masih termasuk uji konsistensi internal
yang akan memberikan peneliti kepercayaan diri yang lebih besar bahwa
indikator-indikator individual mengukur suatu pengukuran yang sama.
Hasil pengujian reliabilitas instrumen dengan construct reliability
dan variance extracted menunjukkan instrumen kurang reliabel, yang
ditunjukkan dengan nilai construct reliability belumseluruhnya ≥ 0,7.
Meskipun demikian angka tersebut bukanlah sebuah ukuran “mati” artinya
bila penelitian yang dilakukan bersifat exploratory, maka nilai di bawah 0,70
pun masih dapat diterima sepanjang disertai alasan–alasan empirik yang
terlihat dalam proses eksplorasi. Dan variance extracted direkomendasikan
4.2.6. Uji Normalitas
Uji normalitas sebaran dilakukan dengan Skewness Value dari data
yang digunakan yang biasanya disajikan dalam statistik deskriptif. Nilai
statistik untuk menguji normalitas itu disebut z-value. Bila nilai-z lebih besar
dari nilai kritis maka dapat diduga bahwa distribusi data adalah tidak
normal. Nilai kritis dapat ditentukan berdasarkan tingkat signifikansi 0,01
(1%) yaitu sebesar 2,58. Hasilnya diperoleh nilai c.r. multivariat diantara
2,58 dan itu berarti asumsi normalitas tidak terpenuhi dan data layak untuk
digunakan dalam estimasi selanjutnya. Hasil analisis tampak pada tabel
berikut :
Tabel 4.8. Assessment of Normality
Variable min max kurtosis c.r.
X1 2 7 1.026 2.094
Uji normalitas sebaran dilakukan dengan Kurtosis Value dari data
yang digunakan yang biasanya disajikan dalam statistik deskriptif. Nilai
statistik untuk menguji normalitas itu disebut Z-value. Bila nilai-Z lebih