• Tidak ada hasil yang ditemukan

MEDIA IKLAN TELEVISI PENGARUHNYA TERHADAP MINAT BELI KONSUMEN PROVIDER XL DI SURABAYA.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "MEDIA IKLAN TELEVISI PENGARUHNYA TERHADAP MINAT BELI KONSUMEN PROVIDER XL DI SURABAYA."

Copied!
72
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Disusun Oleh :

SIESTIKA ARIMA ANGGRESTASI NPM. 0812010105

PROGRAM STUDI MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL ”VETERAN” JAWA TIMUR SURABAYA

(2)

MEDIA IKLAN TELEVISI PENGARUHNYA

TERHADAP MINAT BELI KONSUMEN

PROVIDER XL DI SURABAYA

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Ekonomi

Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur Untuk Menyusun Skripsi S-1 Jurusan Manajemen

Oleh :

SIESTIKA ARIMA ANGGRESTASI 0812010105 / EM

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL ”VETERAN” JAWA TIMUR

(3)

SKRIPSI

MEDIA IKLAN TELEVISI PENGARUHNYA

TERHADAP MINAT BELI KONSUMEN

PROVIDER XL DI SURABAYA

Yang diajukan

SIESTIKA ARIMA ANGGRESTASI 0812010105 / EM

disetujui untuk Ujian Lisan oleh

Pembimbing Utama

Dr. H. Prasetyohadi, MM Tanggal………

Mengetahui Wakil Dekan I

(4)

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat

dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul :

“Media Iklan Televisi Pengaruhnya Terhadap Minat Beli Konsumen

Provider XL Di Surabaya”

Skripsi ini diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan guna

memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Progdi Manajemen pada Fakultas Ekonomi

Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak akan berhasil tanpa adanya

dukungan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini dengan segala

ketulusan hati penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Ir. Teguh Soedarto, MP, selaku Rektor Universitas

Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

2. Bapak Dr. Dhani Ichsanudin Nur, MM, selaku Dekan Fakultas Ekonomi

Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur

3. Bapak Dr. Muhadjir Anwar, MM, selaku Ketua Jurusan Manajemen Fakultas

Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

4. Bapak Dr. H. Prasetyohadi, MM, selaku Dosen Pembimbing Utama yang telah

memberikan bimbingan dan dorongan kepada peneliti dalam menyelesaikan

(5)

“Veteran” Jawa Timur yang telah memberikan banyak pengetahuan selama

masa perkuliahan.

6. Bapak dan Ibu, yang telah memberikan dukungan, doa dan semangat dan

segalanya.

7. Semua pihak yang ikut membantu, yang tidak bisa penulis sebutkan

satu-persatu.

Penulis menyadari bahwa apa yang telah disajikan masih banyak

kekurangan, untuk itu kritik dan saran yang membangun dari semua pihak sangat

diharapkan demi kesempurnaan skripsi ini. Akhirnya dengan segala keterbatasan

yang penulis miliki, semoga skripsi ini bermanfaat bagi pihak yang

berkepentingan.

Surabaya, Maret 2012

(6)

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... iii

DAFTAR TABEL ... vi

DAFTAR GAMBAR... vii

ABSTRAKSI ... viii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang Masalah ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 7

1.3. Tujuan Penelitian ... 7

1.4. Manfaat Penelitian ... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 8

2.1. Penelitian Terdahulu ... 8

2.2. Landasan Teori ... 9

2.2.1. Pengertian Pemasaran... 9

2.2.2. Konsep Pemasaran ... 11

2.2.3. Merek... 14

2.2.4. Iklan ... 18

2.2.5. Minat beli ... 19

2.2.6. Indikator Minat Beli. ... 24

(7)

2.4. Hipotesis ... 26

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel ... 27

3.2 Populasi Dan Sampel Penelitian ... 28

3.3 Jenis Data dan Sumber Data ... 29

3.4 Teknik Analisis dan Uji Hipotesis ... 30

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Deskripsi Obyek Penelitian ... 38

4.1.1. Sejarah singkat Perusahaan... 38

4.1.2. Produk dan Layanan ... 40

4.1.3. Filosofi, Visi dan Misi Perusahaan ... 40

4.2. Hasil Penelitian dan Pembahasan ... 43

4.2.1. Analisis Statistik Deskriptif ... 43

4.2.2. Uji Outlier Multivariate ... 45

4.2.3. Uji Reliabilitas ... 46

4.2.4. Uji Validitas ... 48

4.2.5. Uji Construct Reliability dan Variance Extracted ... 48

4.2.6. Uji Normalitas ... 50

4.2.7. Evaluasi Model One-Steep Approach to SEM ... 51

(8)

4.4. Pembahasan... 54

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 56

5.1. Kesimpulan ... 56

5.2. Saran ... 56

(9)

Tabel 4.1. Identitas Responden Menurut Jenis Kelamin...45

Tabel 4.2. Identitas Responden Menurut Jenis Pekerjaan...45

Tabel 4.3. Hasil Uji Outlier Multivariate ...51

Tabel 4.4. Pengujian Reliability Consistency Internal...52

Tabel 4.5. Hasil Uji Validitas...53

Tabel 4.6. Construct Reliability & Variance Extrated ...54

Tabel 4.7. Assessment of Normality ...55

Tabel 4.8. Evaluasi Kriteria Goodness of Fit Indeces ...56

Tabel 4.9. Evaluasi Kriteria Goodness of Fit Indeces ...57

(10)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 4.1: Model Pengukuran dan Struktural ...53

(11)

TERHADAP MINAT BELI KONSUMEN

PROVIDER XL DI SURABAYA

Siestika Arima Anggrestasi

ABSTRAK

Belanja iklan dari XL paling besar, tetapi tidak begitu mendapat respon dari masyarakat. Salah satu strategi yang digunakan oleh perusahaan Excelcomindo untuk menawarkan produknya agar menarik minat konsumen terhadap produk tersebut adalah melalui iklan. Seiring pertumbuhan ekonomi, iklan menjadi sangat penting karena konsumen potensial akan memperhatikan iklan dari produk yang akan ia beli.. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh iklan terhadap minat beli konsumen pada provider XL.

Populasi dalam penelitian ini adalah calon pengguna produk Provider XL di Surabaya. Metode pengambilan sampel dengan metode non probability sampling dengan teknik Purposive Sampling Sampel yang digunakan adalah minimal sebesar 100 responden. Model yang digunakan dalam penelitian ini adalah Structural Equation Modeling (SEM).

Berdasarkan analisis data dengan menggunakan SEM (Stuctural Equation Modeling) dan pembahasan hasil penelitian yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan hal-hal untuk menjawab permasalahan sebagai berikut : Iklan mempunyai kotribusi terhadap minat beli provider XL.

(12)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Seiring dengan kemajuan pesat dalam dunia ilmu pengetahuan dan

teknologi, bidang telekomunikasi juga mengalami kemajuan yang cukup

pesat. Komunikasi merupakan suatu hal yang penting yang dianggap

mampu membantu hidup manusia. Sejak ditemukannya alat komunikasi,

gerak hidup manusia menjadi berubah lebih mudah dan terasa dekat.

Semakin lama pola pikir konsumen berubah seiring perkembangan jaman.

Konsumen yang dulunya hanya menggunakan alat komunikasi yang

disebut telepon, kini mulai beralih menggunakan telepon seluler.

Dengan beragam macam pilihan kartu provider yang beredar

dipasaran memberikan banyak pilihan bagi konsumen untuk memenuhi

kebutuhannya. Dengan demikian perusahaan diharapkan lebih jeli dalam

melihat peluang dan mempertahankan konsumen agar tidak beralih ke

merek lain. Menggarap pasar yang sama memang membuat para operator

kartu seluler harus berlomba-lomba menanamkan citra yang positif di

mata konsumen. Apalagi citra yang positif akan membuat konsumen lebih

percaya pada merek.

Konsumen dalam menggunakan informasi dalam pemilihan dan

menentukan suatu produk atau merek akan melalui suatu proses baik

(13)

akan secara langsung diobservasikan dalam konteks keputusan dan

konsumen dapat dengan secara langsung memilih seluruh merek pada

seluruh atribut.

XL adalah salah satu perusahaan telekomunikasi terkemuka di

Indonesia. Mulai beroperasi secara komersial sejak 8 Oktober 1996, XL

saat ini adalah penyedia layanan seluler dengan jaringan yang luas dan

berkualitas di seluruh Indonesia bagi pelanggan ritel (Consumer Solutions)

dan solusi bagi pelanggan korporat (Business Solutions).

XL satu-satunya operator yang memiliki jaringan serat optik yang luas. XL telah meluncurkan XL 3G pada 21 September 2006, layanan

telekomunikasi selular berbasis 3G pertama yang tercepat dan terluas di

Indonesia. XL pada saat ini merupakan penyedia layanan telekomunikasi

seluler dengan cakupan jaringan yang luas di seluruh wilayah Indonesia

bagi pelanggan ritel dan menyediakan solusi bisnis bagi pelanggan

korporat. Layanan XL mencakup antara lain layanan suara, data dan

layanan nilai tambah lainnya (value added services). Untuk mendukung

layanan tersebut, XL beroperasi dengan teknologi GSM 900/DCS 1800

serta teknologi jaringan bergerak seluler sistem IMT-2000/3G. XL juga

telah memperoleh Ijin Penyelenggaraan Jaringan Tetap Tertutup, Ijin

Penyelenggaraan Jasa Akses Internet (Internet Services Provider/ISP), Ijin

(14)

over Internet Protocol/VoIP), dan Ijin Penyelenggaraan Jasa Interkoneksi

Internet (“NAP”).

XL, sebagai perusahaan telekomunikasi yang terus berkembang, memiliki visi untuk menjadi penyedia teknologi informasi dan komunikasi

terpilih di Indonesia, dan XL meyakini bahwa pembangunan masyarakat Indonesia yang berkesinambungan adalah landasan yang mutlak bagi

terbentuknya lingkungan bisnis yang kondusif. Oleh karena itu, sebagai

warga negara korporat yang bertanggung jawab, XL tidak hanya berupaya keras untuk memberikan nilai lebih kepada para pemegang sahamnya serta

tidak hanya berkomitmen untuk memberikan layanan dan produk

berkualitas kepada para pelanggannya, akan tetapi XL juga memiliki komitmen untuk memberikan sumbangsih bagi pembangunan masyarakat

Indonesia. merek XL pra bayar, Simpati, dan IM3 terlihat saling berlomba.

Sekalipun, untuk urusan kartu pra bayar, XL terlihat paling menguasai

(15)

Tabel 1.1 Jumlah pelanggan

Dari tabel jumlah pelanggan tersebut, meskipun XL mengalami

kenaikan jumlah pelanggan dari tahun 2007-2010 tetapi masih menduduki

peringkat ke tiga jumlah pelanggan dengan total XL sebanyak 113 juta.

Setelah pesaing pertama nya yaitu TELKOMSEL sebanyak 295,1 juta

pelanggan dan INDOSAT pada peringkat kedua sebanyak 134,1 juta

pelanggan. Hal ini disebabkan karena perang tarif yang semakin

menjadi-jadi. Kartu yang dimanfaatkan oleh para pelanggan apabila tarif kartu yang

ditawarkan dinilai murah, Sebagian para pelanggan di Indonesia sangat

sensitif dengan masalah tariff. Sehingga setiap ada promo tarif murah

maka akan terjadi perpindahan pelanggan dari satu operator ke operator

(16)

Sektor telekomunikasi menjadi penyumbang belanja iklan terbesar

pada 2010. Belanja sektor telekomunikasi mencapai Rp5 triliun dan

minuman Rp 7 triliun. Menurut Managing Manager Audience

Measurement Nielsen Company, belanja telekomunikasi sebesar Rp5

triliun naik 43 persen dibanding 2009. Perusahaan telekomunikasi yang

paling banyak beriklan adalah Exelcomindo yang kini dikenal dengan

XL-Axiata sebesar Rp593 miliar atau naik 66 persen dari tahun lalu. Disusul

oleh Telkomsel sebesar Rp538 miliar, Telkomsel Simpati Rp438 miliar,

Telkomsel Kartu AS Rp398 miliar, Axis Rp396 miliar dan Indosat M3

Rp320 miliar

Tabel 1.2 Iklan yang sering ditonton

Berdasarkan data diatas menunjukkan bahwa belanja iklan dari XL

paling besar, tetapi tidak begitu mendapat respon dari masyarakat. Salah

satu strategi yang digunakan oleh perusahaan Excelcomindo untuk

menawarkan produknya agar menarik minat konsumen terhadap produk

tersebut adalah melalui iklan. Seiring pertumbuhan ekonomi, iklan

menjadi sangat penting karena konsumen potensial akan memperhatikan

(17)

ataupun profit perusahaan dan sebagai media untuk mengingatkan

konsumen terhdap suatu produk atau jasa.

Selain bentuk penyampaian yang jelas yang didapat oleh

konsumen, bentuk media iklan elektronik memberikan penjelasan tentang

produk yang ditawarkan. Pemilihan promosi yang di tawarkan dalam

bentuk iklan ditelevisi saat ini sangat menarik dan dapat menjangkau

penonton yang sangat luas. Baik diwilayah perkotaan dan wilayah

perdesaan. Pelaksaan promosi melalui media iklan diharap dapat menarik

perhatian konsumen sehingga mempengaruhi konsumen dalam

pengambilan keputusan untuk melakukan pembelian.

Dalam penelitian ini selain dipengaruhi secara langsung oleh sikap

terhadap iklan, minat beli konsumen dipengaruhi langsung oleh sikap

terhadap merek. Pembentukan sikap terhadap merek dipengaruhi secara

langsung oleh persepsi konsumen terhadap produk atau pesan. Sikap

terhadap merek diawali oleh proses kognitif yang bekerja terhadap

rangsangan. kemudian akan mempengaruhi minat beli konsumen terhadap

produk yang ditawarkan.

Berdasarkan hal tersebut , penulis merasa tertarik untuk membahas

secara lebih lanjut tentang minat beli konsumen dengan judul :

(18)

1.2 Perumusan Masalah

Dari latar belakang masalah, perumusan dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut :

Apakah terdapat pengaruh iklan terhadap minat beli konsumen pada

provider XL di Surabaya?

1.3 Tujuan Penelitian

Untuk membuktikan pengaruh iklan terhadap minat beli konsumen pada

provider XL

1.4 Manfaat Penelitian

1. Bagi Masyarakat

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan

pertimbangan konsumen dalam mengevaluasi citra produk XL melalui

persepsi produk, persepsi terhadap sumber, persepsi terhadap iklan,

sikap terhadap merek dan sikap terhadap iklan.

2. Bagi Akademisi

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan

referensi atau kajian bagi penelitian-penelitian berikutnya mampu

(19)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Hasil Penelitian Terdahulu

1. Handayani, 2005, Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Minat Beli

Konsumen Pada Iklan Flexy

Hasil penelitian ini diperoleh hasil bahwa semua variabel predictor yaitu

persepsi terhadap produk, persepsi terhadap model persepsi terhadap

iklan, serta sikap terhadap merek dan sikap terhadap iklan secara

bersama-sama mempunyai pengaruh signifikan dalam pembentukan

minat beli konsumen pada iklan. Terdapat sebuah penemuan bahwa

keterlibatan pembuatan iklan (adexecution involvement) tinggi dan

keterlibatan pesan iklan (ad message) rendah, aspek peripheral dari

ilan bekerja lebih dominan . Dalam kondisi ini, sikap terhadap iklan

menjadi dominan mempengaruhi sikap terhadap iklan dan pengaruh

hal-hal yang berhubungan dengan pesan menjadi minimal

Berdasarkan penelitian terdahulu diatas terdapat perbedaan dan

persamaan penelitian yang akan dilakukan, perbedaannya terdapat pada uji

hipotesis yang digunakan. Pada penelitian terdahulu periode penelitian yang

dilakukan, dimana dalam penelitian terdahulu pada tahun 2005. Sedangkan

pada penelitian ini menggunakan periode tahun 2012. Persamaannya adalah

(20)

2.2. Landasan Teori

2.2.1. Pengertian Pemasaran.

Pemasaran merupakan salah satu dari kegiatan – kegiatan pokok

yang dilakukan oleh para pengusaha dalam usahanya untuk meningkatkan

laba, aktivitas pemasaran memegang peranan penting dalam rangka

mencapai tujuan perusahaan. Menurut Kotler (1997 : 8) "Pemasaran

adalah suatu proses sosial dan manajerial yang di dalamnya ( individu

dan kelompok ) mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan

dengan menciptakan, menawarkan, dan menukarkan produk yang bernilai

dengan pihak lain".

Jadi menurut definisi diatas, semua manusia harus menemukan

kebutuhanya dulu baru kemudian berusaha memenuhinya dengan cara

mengadakan hubungan dengan pihak lain. Pemasaran mencakup usaha

perusahaan yang dimulai dengan mengidentitikasi kebutuhan dan

keinginan konsumen, menentukan produk yang dapat memenuhi

kebutuhan konsumen, menentukan tingkat harga yang sesuai, menentukan

jenis Iklan dan media Iklan yang tepat, serta menentukan saluran distribusi

yang digunakan dalam rangka mencapai tujuan perusahaan yang

diinginkan. Sehingga pemasaran bukanlah hal yang sederhana yang hanya

(21)

Rangkaian kegiatan-kegitan pemasaran yang saling berhubungan

sebagai usaha untuk mencapai hasil pertukaran yang diinginkan dengan

pasar sasarannya (target market) sehingga dikenal istilah manajemen

pemasaran.

Menurut Kotler (1997 : 13) "Manajemen Pemasaran adalah proses

perencanaan dan pelaksanaan pemikiran, penetapan harga dan Iklan serta

penyaluran gagasan, barang dan jasa untuk menciptakan pertukaran uang

dan memuaskan tujuan individu organisasi.

Dari definisi diatas terdapat fungsi-fungsi manajemen meliputi

penganalisaan, perencanaan, pelaksanaan serta pengawasan. Perencanaan

merupakan upaya pemeliharaan tindakan yang diikuti suatu usaha, juga

merupakan upaya untuk memutuskan sebelumnya apa yang dilakukan,

bagaimana, bila dan siapa yang akan melakukannya. Perencanaan

menjembatani kesenjangan antara keadaan yang diinginkan di masa depan.

Penganalisaan merupakan fungsi yang penting sebagai dasar suatu rencana

yang dibuat dengan lebih matang dan tepat. Sedangkan pelaksanaan

merupakan tindakan yang diambil sesuai dengan rencana. Pengawasan

(Controlling) adalah pengukuran dan koreksi terhadap kegiatan para

bawahan untuk menjamin bahwa apa yang terlaksana itu sesuai dengan

(22)

2.2.2. Konsep Pemasaran

Pemasaran akan berhasil mencapai tujuannya apabila pemasaran

menitik-beratkan pada pemuasan kebutuhan dan keinginan konsumen.

Kepuasan konsumen tersebut baru akan diperoleh apabila barang atau jasa

yang dibeli sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan konsumen.

Perkembangan dunia usaha yang semakin pesat tentunya membawa

dampak pada situasi persaingan yang semakin ketat pula. Untuk mengatasi

persaingan tersebut salah satunya dengan menggunakan konsep

pemasaran, karena konsep pemasaran bertujuan untuk memberikan

kepuasan terhadap keinginan dan kebutuhan konsumen. Disinilah

pemasaran berperan untuk menjembatani permasalahan yang ada sehingga

memungkinkan bagi konsumen untuk membuat pilihan yang nantinya akan

coba dipenuhi oleh penjual.

Sedangkan Kotler dan Amstrong (2001:23), berpendapat bahwa

konsep pemasaran bertujuan untuk mencapai tujuan organisasi tergantung

pada penentuan kebutuhan dan keinginan pasar serta memuaskan

pelanggan secara lebih efektif dan efisien daripada yang dilakukan oleh

para pesaing.

Konsep pemasaran merupakan suatu kunci atau keseluruhan sistem

untuk meraih tujuan perusahaan yang berhubungan dengan

kegiatan-kegiatan usaha dalam merencanakan, menentukan hingga melaksanakan

(23)

Tiga faktor penting yang dipakai sebagai dasar konsep pemasaran

menurut Swastha dan Handoko (2006:6-8), meliputi:

a. Orientasi Konsumen

Perusahaan yang benar-benar memperhatikan konsumen maka harus:

1. Menentukan kebutuhan pokok dari pembeli yang akan

dilayani dan dipenuhi.

2. Menentukan kelompok pembeli yang akan dijadikan

sasaran penjualan.

3. Menentukan produk dan program pemasarannya.

4. Mengadakan penelitian pada konsumen untuk mengukur,

menilai, dan menafsirkan keinginan, sikap, serta tingkah

laku mereka.

5. Menentukan dan melaksanakan strategi yang paling baik,

apakah pada mutu yang tinggi atau pada harga yang

murahserta model yang menarik.

b. Penyusunan kegiatan secara integral

Untuk memberikan kepuasan yang optimal, semua

elemen-elemen harus dikoordinasikan dan diintegrasikan, selain itu

juga berusaha untuk menghindari adanya pertentangan

didalam maupun diluar perusahaan dengan pasar. Semua

bagian yang ada dalam perusahaan harus menyadari bahwa

bahwa setiap perilaku dan pola pikir mereka sangat

(24)

dan mempertahankan pelanggan, jadi dapat dikatakan bahwa

setiap orang dan setiap bagian dalam perusahaan harus

mampu berkoordinasi untuk memberikan kepuasan kepada

konsumen sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai.

c. Kepuasan Konsumen

Faktor yang menentukan apakah dalam jangka panjang

perusahaan akan mendapatkan laba adalah tingkat kepuasan

konsumen yang dapat terpenuhi. Laba merupakan

pencerminan dari usaha perusahaan yang berhasil

memberikan kepuasan kepada konsumen, dimana perusahaan

dapat menyediakan atau menjual barang atau jasa yang paling

baik, yang sesuai dengan keinginan konsumen dan dengan

harga yang layak.

Berdasarkan pengertian diatas, konsep pemasaran

merupakan orientasi perusahaan yang menekankan bahwa tugas

pokok perusahaan adalah menentukan kebutuhan dan keinginan

pasar, selanjutnya memenuhi kebutuhan tersebut, sehingga

tercapai tingkat kepuasan yang melebihi dari kepuasan yang

diberikan oleh para pesaing.

Tetapi semenjak keruntuhan rezim Orde Baru, masyarakat semakin

berani untuk beraspirasi dan mengekspresikan tuntutannya terhadap

perkembangan dunia bisnis Indonesia. Masyarakat telah semakin kritis dan

(25)

para pelaku bisnis untuk menjalankan usahanya dengan semakin

bertanggungjawab. Pelaku bisnis tidak hanya dituntut untuk memperoleh

keuntungan dari lapangan usahanya, melainkan mereka juga diminta untuk

memberikan kontribusi positif terhadap lingkungan sosialnya. (Daniri,

2007:1)

2.2.3. Merek

Menurut American Marketing Associattion (dalam Kotler, 2000 :

460) mendefinisikan merek sebagi berikut :

Merek adalah nama, istilah, tanda, symbol, rancangan, atau kombinasidari

hal-hal tersebut, yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi barang atau

jasa dari seseorang atau sekelompok penjual dan untuk membedakannya

dari produk pesaing.

Keegan, Moriarty, dan Duncan (1995 : 318) mendevinisikan merek

sebagai satu kumpulan yang kompleks dari citra, janji, dan pengalaman

dalam pikiran konsumen yang menghadirkan janji oleh perusahaan tentang

produk tertentu. Merek sebenarnya merupakan janji penjual untuk secara

konsisten memberikan tampilan, manfaat, dan jasa tertentu pada pembeli.

Nilai dari suatu merek muncul dari presepsi dan asaosiasi positif yang

dipegang oleh seseorang dan tidak hanya terdiri dari idwe tentang fungsi

(26)

Merek dapat memiliki enam tingkatan pengertian : (Kotler, 2000 : 460)

1. Atribut (attributes)

Suatu merek membawa atribut-atribut dalam benak konsumen Merek

mengingatkan pada atribut-atribut tertentu. Mercedes memberi kesan sebagi

mobil yang mahal, dibuat dengan baik, dirancang dengan baik, tahan lama,

bergengsi tinggi.

2. Manfaat (benefits)

Artribut harus diterjemahkan ke dalam manfaat fungsional dan emosional.

Atribut “tahan lama” dapat diterjemahkan menjadi manfaat fungsional. Atribut

“mahal” mungkin diterjemahkan menjadi manfaat emosional.

3. Nilai (Value)

Merek yang menyatakan sesuatu tentang nilai yang dimiliki oleh produsen.

Jadi Mercedes berarti kinerja tinggi, keamanan, gengsi, dan lain-lain.

4. Budaya (culture)

Merek juga mewakili kriteria budaya tertentu. Mercedes mewakili budaya

Jerman : terorganisasi, efisien, bermutu tinggi.

5. Kepribadian (personality)

Mercedes mencerminkan pimpinan yang masuk akal (orang), singa yang

memerintah (binatang), atauistana yang agung (obyek).

6. Pemakai (user)

Merek menunjukkan konsumen mana yang membeli atau menggunakn produk

(27)

Suatu merek mempunyai lima komponen (Assael, 1993 : 393-400)

1. Nama merek (brand name)

Nama merek merupakan indicator inti yang mendasar dari merek, basis

untuk kesadaran maupun usaha-usaha komunikasi. Bahkan sering kali

nama merek bisa menghasilkan asosiasi-asosiasi yang mampu

menggambarkan merek tersebut. Dengan kata lain, nama merek bisa

membentuk esesnsi dari konsep suatu merek (Aaker, 1997: 277).

2. Simbol (symbol)

Simbol adalah bagian yang penting dari suatu merek yang mempunyai

bentuk yang unik. Suatu simbol dapat mengkomunikasikan

asosiasi-asosiasi atau bahkan atribut-atribut yang spesisfik (Aaker, 1997). Sebuah

symbol bisa dengan sendirinya menciptakan kesadaran, asosiasi, dan rasa

suka atau perasaan mempengaruhi loyalitas atau kesan kualitas (Aaker,

1997: 294).

3. Pengemasan (the package)

Pengemasan mencakup kegiatan-kegiatan dalam mendesain dan

memproduksi kontainer atau pembungkus untuk suatu produk. Fungsi

utama kemasan adalah untuk membungkus dan melindungi produk. Selain

itu, kemasan juga berfungsi untuk menarik perhatian, menjelaskan produk,

hingga membuat penjualan (Aaker. 1997: 287)

4. The warranty

Pernyataan tertulis yang menggambarkan komitmen perusahaan untuk

(28)

5. Citra merek (brand image)

Keseluruhan kesan yang terbuentuk dalam benak konsumen oleh

karakteristik fisik merek, nama, symbol, keriaasan, reputasi untuk jasa.

Konsumen memandang merek sebagai bagian penting dari produk, dan

pamberian merek dapat menambah nilai produk tersebut (Kotler dan Amstrong,

1997: 267). Pemberian merek dapat bernilai bagi perusahaan dan pelanggan.

Keuntungan pemberian merek bagi perusahaan (Assael, 1993: 400) :

1. Bila nama merek diasosiasikan dengan produk yang sukses, hal ini akan

menarik loyalitas pelanggan

2. Merek yang telah membangun dasar loyalitas konsumen telah mempunyai

kekuatan.

3. Merek dengan loyalitas konsumen juga memlihara pendukung distribusi lebuih

mudah.

4. Merek yang kuat dapat diturunkan dengan menerapkannya pada spin-offs

dalam lini produk.

Keuntungan pemberian merek (branding) bagi konsumen

1. Nama merek mengidentifikasi manfaat produk sehingga konsumen

mengetahui apa yang akan mereka peroleh.

Konsumen tidak perlu kawatir tentang variasi dalam isi dan kualitas dari satu

pembeli ke pembelian berikutnya.

2. Branding memfasilitasi belanja.

Penghargaan nama merek mengijinkan konsumen untuk membeli dengan

(29)

3. Nama merek juga memberikan informasi kepada konsumen

Konsumen ingat rasa, isi, harga, dan kinerja suatu merek. Konsumen ingat

merek mana yang memuaskan mereka dan mana yang tidak. Karena hal inilah

branding membentuk kesempatan bagi konsumen untuk menjadi loyal pada

merek.

2.2.4. Iklan

Iklan merupakan komponen yang dipakai untuk memberitahu dan

menyampaikan pesan mengenai barang yang ditujukan pada para calon

pembeli dan juga berperan mempengaruhi masyarakat untuk melakukan

pembelian terhadap produk tersebut. Adapun kegiatan-kegiatan yang

termasuk Iklan adalah : (Kotler 1997: 257)

1. Advertasi, merupakan suatu bentuk penyajian dan Iklan dari gagasan,

barang atau jasa yang dibiayai oleh suatu sponsor tertentu yang bersifat

non personal. Contoh : radio, TV, majalah, Koran dll.

2. Personal selling, yang merupakan penyajian secara lisan dalam suatu

pembicaraan dengan calon pembeli dengan tujuan agar dapat

terealisasinya penjualan.

3. Iklan penjualan (sales promotion), yang merupakan segala kegiatan

pemasaran yang merangsang pembelian konsumen dan keefektifan agen

(30)

Publisitas (publicity), merupakan usaha untuk merangsang

permintaan dari suatu produk secara nonpersonal dengan membuat, baik yang

berupa berita di dalam media tercetak atau tidak.

Selain iklan masih ada alat Iklan masa lainnya, yakni Iklan penjualan

dan hubungan masyarakat. Iklan penjualan terdiri dari insentif jangka pendek

untuk mendorong pembelanjaan atau penjualan produk atau jasa. Kalu iklan

menyodorkan alasan untuk membeli suatu produk atau jasa, maka Iklan

penjualan menekankan alasan mengapa kita harus membeli sekarang juga.

(Kotler, 1997:257).

Iklan merupakan komponen yang dipakai untuk memberitahu dan

menyampaikan pesan mengenai barang yang ditujukan pada para calon

pembeli. Menurut Ermayanti (2006:99) terdapat indikator utama, yaitu :

a) Pengenalan iklan adalah upaya perusahaan dalam mengenalkan

produknya melalui promosi atau iklan

b) Kemampuan iklan adalah kemampuan iklan dalam menjelaskan

kepada pemirsa mengenai keunggulan produk.

c) Kekuataan pengaruh iklan adalah kekuatan iklan dalam

mempengaruhi pemirsa untuk membeli produk

2.2.6 Minat beli

Minat adalah selera masing-masing orang yang menjadi dasar

pemilihan sesuatu, minat membeli menunjukkan pada kecenderungan

(31)

Menurut Sukardi (1994) minat adalah suatu perangkat mental yang

terdiri dari kombinasi perpaduan dan campuran dari perasaan, harapan,

prasangka, cemas, takut dan kecenderungan-kecenderungan lain yang bisa

mengarahkan individu kepada suatu pilihan tertentu.

Menurut Aiken (1983) pada umumnya minat beli sebagai salah

satu aspek tingkah laku afektif memiliki ciri-ciri antara lain bersosialisasi

dengan aktivitas, bersifat tetap dan terus menerus, mempunyai intensitas

dan kecenderungannya untuk menerima atau menolak untuk melakukan

suatu aktivitas.

Minat beli merupakan kecenderungan konsumen untuk membeli

suatu merek atau mengambil tindakan yang berhubungan dengan

pembelian yang diukur dengan tingkat kemungkinan konsumen

melakukan pembelian (Assael, 2001). Mehta (1994: 66) mendefinisikan

minat beli sebagai kecenderungan konsumen untuk membeli suatu merek

atau mengambil tindakan yang berhubungan dengan pembelian yang

diukur dengan tingkat kemungkinan konsumen melakukan pembelian.

Pengertian minat beli menurut Howard (1994) (Durianto dan Liana, 2004:

44) adalah minat beli merupakan sesuatu yang berhubungan dengan

rencana konsumen untuk membeli produk tertentu serta berapa banyak

unit produk yang dibutuhkan pada periode tertentu. Dapat dikatakan

bahwa minat beli merupakan pernyataan mental dari dari konsumen yang

merefleksikan rencana pembelian sejumlah produk dengan merek tertentu.

(32)

konsumen terhadap suatu produk, baik para pemasar maupun ahli ekonomi

menggunakan variabel minat untuk memprediksi perilaku konsumen

dimasa yang akan datang.

Pada kebanyakan orang, perilaku pembelian konsumen seringkali

diawali dan dipengaruhi oleh banyaknya rangsangan (stimuli) dari luar

dirinya, baik berupa rangsangan pemasaran maupun rangsangan dari

lingkungannya. Rangsangan tersebut kemudian diproses dalam diri sesuai

dengan karakteristik pribadinya, sebelum akhirnya diambil keputusan

pembelian. Karakteristik pribadi konsumen yang dipergunakan untuk

memproses rangsangan tersebut sangat komplek, dan salah satunya adalah

motivasi konsumen untuk membeli.

Menurut Keller (1998), minat konsumen adalah seberapa besar

kemungkinan konsumen membeli suatu merek atau seberapa besar

kemungkinan konsumen untuk berpindah dari satu merek ke merek

lainnya. Sedangkan Mittal (1999) menemukan bahwa fungsi dari minat

dari minat konsumen merupakan fungsi dari mutu produk dan mutu

layanan.

Minat beli adalah tahap kecenderungan responden untuk

bertindak sebelum keputusan membeli benar-benar dilaksanakan.

Terdapat perbedaan antara pembelian aktual dan minat pembelian.

Bila pembelian aktual adalah pembelian yang benar-benar dilakukan

oleh konsumen, maka minat pembelian adalah niat untuk melakukan

(33)

pembelian yang belum tentu akan dilakukan pada masa mendatang

namun pengukuran terhadap minat pembelian umumnya dilakukan

guna memaksimumkan prediksi terhadap pembelian aktual itu sendiri

(Kinnear dan Taylor, 1995). Intention juga didefinisikan sebagai

pernyataan yang berkaitan dengan batin yang mencerminkan rencana

dari pembeli untuk membeli suatu merek tertentu dalam suatu periode

waktu tertentu

Sedangkan definisi minat beli menurut Kinnear dan Taylor (1995)

(Thamrin, 2003: 142) adalah merupakan bagian dari komponen perilaku

konsumen dalam sikap mengkonsumsi, kecenderungan responden untuk

bertindak sebelum keputusan membeli benar-benar dilaksanakan. Rossiter

dan Percy (1998: 126) mengemukakan bahwa minat beli merupakan

instruksi diri konsumen untuk melakukan pembelian atas suatu produk,

melakukan perencanaan, mengambil tindakan-tindakan yang relevan

seperti mengusulkan (pemrakarsa) merekomendasikan (influencer),

memilih, dan akhirnya mengambil keputusan untuk melakukan pembelian.

Menurut Schiffman dan Kanuk (1994) dalam Albari (2002) menyatakan

bahwa motivasi sebagai kekuatan dorongan dari dalam diri individu yang

memaksa mereka untuk melakukan tindakan.

Jika seseorang mempunyai motivasi yang tinggi terhadap obyek tertentu,

maka dia akan terdorong untuk berperilaku menguasai produk tersebut.

Sebaliknya jika motivasinya rendah, maka dia akan mencoba untuk

(34)

adalah untuk kemungkinan orang tersebut berminat untuk membeli produk

atau merek yang ditawarkan pemasaran atau tidak.

Konsumen akan melakukan tindakan setelah pembelian dan menggunakan

produk tersebut yang mendapat perhatian dari pemasar. Tugas pemasar

tidak hanya berakhir ketika produk dibeli tetapi terus hingga periode

setelah pembelian. Dinyatakan bahwa pembeli bergerak setelah

membentuk persepsi terhadap nilai penawaran. Jika barang atau jasa yang

di beli cocok dengan yang diharapkan konsumen, maka terdapat kepuasan

(35)

2.2.7 Indikator Minat Beli.

Indikator dari minat beli menurut Junaedi (2009 : 99) adalah sebagai berikut:

1. Kelengkapan barang yang meliputi aneka macam jenis dan merek

produk

2. Harga yaitu nilai yang diberikan pembeli terhadap suatu produk

3. Lokasi, produk dijual diberbagai lokasi

4. Kualitas barang yaitu ciri, mutu, serta nilai dari produk

5. Pelayanan adalah merupakan pelayanan costumer service dalam

menanggapi keluhan pelanggan.

2.2.8 Pengaruh Iklan Terhadap Minat beli

Perusahaan perlu melakukan promosi untuk memperkenalkan

produknya kepada konsumen. Dalam strategi promosi, periklanan

merupakan salah satu variabel promosi yang paling sering digunakan

perusahaan untuk mempromosikan produknya, karena sifatnya yang

memasyarakat, yaitu dapat menjangkau masyarakat dengan cepat dan luas.

Menurut Jefkins (1997 : 5), iklan merupakan pesan-pesan

penjualan yang paling persuasif yang diarahkan kepada para calon pembeli

yang paling potensial atas produk barang atau jasa tertentu dengan biaya

(36)

usaha mempengaruhi konsumen dalam bentuk tulisan, gambar, suara atau

kombinasi dari semuanya itu yang diarahkan pada masyarakat secara luas

dan secara tidak langsung (Nitisemito, 1977 : 137).

Terdapat sebuah penemuan bahwa keterlibatan pembuatan

iklan (adexecution involvement) tinggi dan keterlibatan pesan iklan

(ad message) rendah, aspek peripheral dari iklan bekerja lebih

dominan . Dalam kondisi ini, sikap terhadap iklan menjadi dominan

mempengaruhi sikap terhadap iklan dan pengaruh hal-hal yang

berhubungan dengan pesan menjadi minimal. sikap terhadap merek dan

sikap terhadap iklan secara bersama-sama mempunyai pengaruh

(37)

2.3. Kerangka Konseptual

2.4. Hipotesis

Didiuga bahwa iklan berpengaruh positif terhadap minat beli konsumen pada

Provider XL di Surabaya. Iklan

(X)

(38)

BAB III

METODELOGI PENELITIAN

3.1. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel

Definisi operasional dan pengukuran variabel berisi pernyataan tentang

pengoperasiaan atau pendefinisian konsep penelitian termasuk penetapan cara dan

satuan pengukuran variabelnya, adalah sebagai berikut:

1. Iklan (X1)

Iklan merupakan komponen yang dipakai untuk memberitahu dan

menyampaikan pesan mengenai barang yang ditujukan pada para calon

pembeli. Menurut Ermayanti (2006:99) terdapat indikator utama, yaitu :

X1.1 = Pengenalan iklan adalah upaya perusahaan dalam mengenalkan

Provider XL melalui promosi atau iklan

X1.2 = Kemampuan iklan adalah kemampuan iklan dalam menjelaskan

kepada pemirsa mengenai keunggulan Provider XL.

X1.3 = Kekuataan pengaruh iklan adalah kekuatan iklan dalam

mempengaruhi pemirsa untuk membeli Provider XL

4. Minat Beli (Y)

Minat Beli adalah kecenderungan konsumen untuk melakukan pembelian

terhadap suatu produk dan akhirnya mengambil keputusan untuk membeli.

Indikator dari minat beli menurut Junaedi (2009 : 99) adalah sebagai berikut:

Y1 = Kelengkapan barang yang meliputi aneka macam jenis dan merek

(39)

Y2 = Harga yaitu nilai yang diberikan pembeli terhadap suatu produk

Y3 = Jangkauan, merupakan signal yang terjangkau di berbagai daerah

Y4 = Pelayanan adalah merupakan pelayanan costumer service dalam

menanggapi keluhan pelanggan.

3.1.1. Pengukuran Variabel

Skala pengukuran yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala

interval dengan menggunakan teknik pembobotan skala (semantic differential

scale). Analisis ini dilakukan dengan meminta responden untuk menyatakan

pendapatnya tentang serangkaian pernyataan yang berkaitan dengan obyek yang

diteliti dalam bentuk nilai yang berada dalam rentang dua sisi. Dalam penelitian

ini, setiap pernyataan masing-masing diukur dalam 7 skala dan ujung-ujung

ditetapkan dengan kata sifat yang tidak secara kontras berlawanan. sebagai

berikut:

Sangat Jelek Sangat Bagus

3.2.Teknik Pengambilan Sampel

a. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah pengguna produk Provider XL di

Surabaya.

b. Sampel

Sampel adalah bagian dari populasi yang mempunyai ciri dan karakteristik

yang sama dengan populasi tersebut. Karena itu sample harus representative 7

(40)

dari sebuah populasi (Sumarsono, 2002 : 45). Metode pengambilan sampel

dengan metode non probability sampling dengan teknik Purposive Sampling

yaitu sampel dipilih berdasarkan kriteria yang sudah ditetapkan oleh peneliti.

Dengan kriteria antara lain :

- Menggunakan Provider XL.

- Mempunyai umur lebih dari 18 tahun karena mengetahui makna dari

pertanyaan yang diberikan

Teknik penentuan sampel yang dipergunakan adalah berdasarkan

pedoman pengukuran sampel menurut Augusty (2002:48), antara lain :

1. 100 – 200 sampel untuk teknik maximum likelihood estimation.

2. Pedomannya adalah 5 – 10 kali jumlah parameter yang diestimasi.

3. Tergantung pada jumlah indikator yang digunakan dalam seluruh

variabel laten. Jumlah sampel adalah jumlah indikator dikali 5-10. bila

terdapat 20 indikator, besarnya sampel adalah 100-200.

Karena terdapat 8 indikator maka jumlah sampel dalam penelitian ini adalah

(8 X 10 = 80) maka sampel yang digunakan adalah minimal sebesar 100

responden.

3.3.Teknik Pengumpulan Data

3.3.1. Jenis Data

 Data Primer

Data primer yang diolah dalam penelitian ini diperoleh dengan menyebarkan

(41)

3.3.2. Sumber Data

Sumber data yang digunakan dalam analisis ini adalah data yang diambil

langsung kepada konsumen yang hendak membeli atau membeli Provider XL di

Surabaya dengan cara menyebarkan kuesioner.

3.3.3. Tehnik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam skripsi ini dilakukan dengan menggunakan

beberapa cara berikut:

a. Observasi

Merupakan pengamatan langsung pada perusahaan untuk mendapatkan bukti -

bukti yang berkaitan dengan obyek penelitian.

b. Kuisioner

Yaitu pengumpulan data dilakukan dengan cara menyebarkan daftar

pertanyaan kepada konsumen di Surabaya.

c. Dokumentasi

Yaitu dengan mengumpulkan data, menggali data dokumen atau arsip-arsip

aturan yang disepakati, misalnya keberadaan perusahaan dan struktur

manajemen perusahaan.

3.4. Teknik Analisis dan Uji Hipotesis

(42)

Model yang digunakan untuk menganalisis data dalam penelitian ini

adalah Structural Equation Modelling [SEM]. Merupakan teknik statistik yang

memungkinkan pengujian sebuah rangkaian hubungan yang relatif rumit. Model

pengukuran variabel menggunakan confirmatory factor analyses. Penaksiran

pengaruh masing-masing variable bebas terhadap variable terikatnya

menggunakan koefidien jalur

Langkah-langkah dalam analisis SEM model pengukuran dengan contoh

sebagai berikut :

Persamaan Harga (X):

X.1. = 1 iklan + er_1

X.2 = 2 iklan + er_2

X.3 = 3 iklan + er_3

Bila persamaaan di atas dinyatakan dalam sebuah pengukuran

model untuk diuji unidimensionalitasnya melalui confirmatory factor

analysis, maka model pengukuran dengan contoh variable harga akan

nampak sebagai berikut :

Gambar 3.1 : Contoh Model Pengukuran Iklan

Iklan

X1.1 er_1

X1.2 er_2

(43)

Keterangan :

X.1 = pertanyaan tentang Pengenalan iklan

X.2 = pertanyaan tentang Kemampuan iklan

X.3 = pertanyaan tentang Kekuataan pengaruh iklan

3.4.2. Outliers

Outlier adalah obsevasi yang muncul dengan nilai-nilai eksterim baik

secara univariat maupun multivariate yang muncul karena kombinasi karakteristik

unik yang dimilikinya dan terlihat sangat jauh berbeda dari observasi-observasi

lainya. Dapat diadakan treatment khusus pada outliers ini asal diketahui

munculnya outlier itu. Outliers pada dasarnya dapat muncul dalam empat

kategori.

 Pertama, Outlier muncul karena kesalahan prosedur seperti kesalahan dalam

memasukkan data atau kesalahan dalam mengkoding data. Misalnya 8 diketik

80 sehingga jauh berbeda dengan nilai-nilai lainnya dalam rentang jawaban

responden antara 1-10 jika hal semacam ini lolos maka akan menjadi sebuah

nilai ekstrim.

 Kedua, outlier dapat muncul karena keadaan yang benar-benar khusus yang

memungkinkan profil datanya lain daripada yang lain daripada tetapi peneliti

(44)

 Ketiga, outlier dapat muncul karena adanya sesuatu alasan tetapi peneliti tidak

dapat mengetahui apa penyebabnya atau tidak ada penjelasan mengenai nilai

ekstrim itu.

 Keempat, outlier dapat muncul dalam range nilai yang ada, tetapi bila

dikombinasi dengan varibel lainnya, kombinasinya menjadi tidak lazim atau

sangat ekstrim. Inilah yang disebut multivariate outlier.

3.4.3. Evaluasi atas outliers

Menagamati atas z-score variabel: ketentuan diantara +_ 3,0 non outlier

Multivariate outlier diukur dengan kriteria jarak mahalanobis pada tingkat p <

0,001.Jarak diuji dengan Chi-Square (X2) pada df (degrees of Freedom) sebesar

jumlah variabel bebasnya. Ketentuan : Mahalanobis > dari nilai X2 adalah

multivariate outlier.

3.4.4. Uji Validitas

Uji validitas adalah suatu derajat ketepatan alat ukur penelitian tentang isi

sebenarnya yang diukur. Analisis validitas item bertujuan untuk menguji apakah

tiap butir pertanyaan benar-benar sudah sahih, paling tidak kita dapat menetapkan

derajat yang tinggi dari kedekatan data yang diperoleh dengan apa yang diyakini

dalam pengukuran. Sebagai alat ukur yang digunakan, analisis ini dilakukan

dengan cara mengkorelasiakn antar skor item denga skor total item. Dalam hal ini

koefisien korelasi yang nilai signifikasinya lebih kecil dari 5 % (level of

significance) menunjukkan bahwa item-item tersebut sudah sahih sebagai

(45)

3.4.5. Uji Reliabilitas

Yang dimaksud dengan reabilitas ukuran mengenai konsistensi internal

dari indikator-indikator sebuah konstruk yang menunjukan derajat sampai dimana

masing-masing indicator itu menghasilakan sebuah konstruk/faktor laten yang

umum. Secara umum, nilai construct reliability yang dapat diterima adalah ≥ 0,70

dan variance extracted≥ 0,5 Hair et. al., (1998).

3.4.6. Uji Normalitas

Untuk menguji normalitas distribusi data-data yang digunakan dalam

analisis, peneliti dapat menggunakan uji-uji statistik. Uji yang paling mudah

adalah dengan mengamati skewness value dari data yang digunakan, yang

biasanya disajikan dalam statistik diskriptif dari hampir semua program statistik.

Nilai statistik untuk menguji normalitas itu disebut z-value yang dihasilkan

melalui rumus berikut ini :

Bila nilai z lebih besar dari nilai kritis, maka dapat diduga bahwa distribusi

data adalah tidak normal. Nilai kritis dapat ditentukan berdasarkan tingkat

signifiukasi yag dikehendaki. Misalnya, bila nilai yang dihitung lebih besar dari

2,58 berarti kita dapat menolak asumsi mengenai normalitas dari distribusi pada

tingkat 0,01 (1%). Nilai kritis lainnya yang umum digunakan adalah nilai kritis

sebesar 1,96 yang berarti bahwa asumsi normalitas ditolak pada tingkat

(46)

3.4.7. Multicollinearity dan Singularity

Untuk melihat apakah pada data penelitian terdapat multikolinieritas dan

singularitas dalam kombinasi-komninasi variabel, maka perlu mengamati

determinan dari variable kovarian sampelnya. Determinan yang benar-benar kecil

mengindikasikan adanya multikolinieritas dan singularitas, sehingga data tidak

dapat digunakan untuk analisis yang sedang dilakukan. Augusty (2002 : 108).

3.4.8. Pengujian Hipotesis dan Hubungan Kausal

Pengaruh langsung [koefisien jalur] diamati dari bobot regresi terstandar,

dengan pengujian signifikansi pembanding nilai CR [Critical Ratio] atau p

[probability] yang sama dengan nilai t hitung. Apabila t hitung lebih besar

daripada t table berarti pengujian hipotesis kausal berarti signifikan.

3.4.9. Evaluasi Model

Hair et.al., 1998 menjelaskan bahwa pola “confirmatory” menunjukkan

prosedur yang dirancang untuk mengevaluasi utilitas hipotesis-hipotesis dengan

pengujian fit antara model teoritis dan data empiris. Jika model teoritis

menggambarkan “good fit” dengan data, maka model dianggap sebagai yang

diperkuat. Sebaliknya, suatu model teotitis tidak diperkuat jika teori tersebut

mempunyai suatu “poor fit” dengan data. Amos dapat menguji apakah model

“good fit” atau “poor fit”. Jadi, “good fit” model yang diuji sangat penting dalam

(47)

Tabel 3.1. Goodness of Fit Indices

GOODNESS OF

FIT INDEX KETERANGAN CUT-OFF VALUE

X2 - Chi-square Menguji apakah covariance populasi yang destimasi sama dengan cova-riance sample [apakah model sesuai dengan data].

Diharapkan Kecil, 1 s.d 5. atau paling baik diantara 1 dan 2.

Probability Uji signifikansi terhadap perbedaan matriks covariace data dan matriks covariance yang diestimasi.

Minimum 0,1 atau 0,2, atau  0,05

RMSEA Mengkompensasi kelemahan Chi-Square pada sample besar.  0,08

GFI

Menghitung proporsi tertimbang varians dalam matrtiks sample yang dijelaskan oleh matriks covariance populasi yang diestimasi [analog dengan R2 dalam regresi berganda].

 0,90

AGFI GFI yang disesuaikan terhadap DF.  0,90

CMIND/DF Kesesuaian antara data dan model  2,00

TLI Pembandingan antara model yang diuji terhadap baseline model.  0,95

CFI Uji kelayakan model yang tidak sensitive terhadap besarnya

sample dan kerumitan model.  0,95

Sumber : Hair et.al., [1998]

1. X² CHI SQUARE STATISTIK

Alat uji paling fundamental untuk mengukur overall fit adalah likelihood

ratio chi-square ini bersifat sangat sensitif terhadap besarnya sampel yang

digunakan. Karenanya bila jumlah sampel cukup besar (lebih dari 200), statistik

chi-square ini harus didampingi oleh alat uji lain. Model yang diuji akan

dipandang baik atau memuaskan bila nilai chi-squarenya rendah. Semakin kecil

nilai X² semakin baik model itu. Karena tujuan analisis adalah mengembangkan

dan menguji sebuah model yang sesuai dengan data atau yang fit terhadap data,

maka yang dibutuhkan justru sebuah nilai X² yang kecil dan signifikan. X² bersifat

sangat sensitif terhadap besarnya sampel yaitu terhadap sampel yang terlalu kecil

(48)

2. RMSEA-THE ROOT MEAN SQUARE ERROR Of APPROXIMATION

RMSEA adalah sebuah indeks yang dapat digunakan mengkompensasi

chi-square statistik dalam sampel yang besar. Nilai RMSEA menunjukkan

goodness-of-fit yang dapat diharapkan bila model diestimasi alam populasi. Nilai

RMSEA yang lebih kecil atau sama dengan 0,08 merupakan indeks untuk dapat

diterimanya degress of freedom.

3. GFI – GOODNES of FIT INDEKS

GFI adalah analog dari R dalam regresi berganda. Indeks kesesuaian ini

akan menghitung proporsi tertimbang dari varians dalam matriks kovarians

sampel yang dijelaskan oleh kovarians matriks populasi yang terestimasi. GFI

adalah sebuah ukuran non- statistika yang mempunyai rentang nilai antara 0 (poor

fit) sampai dengan 1,0 (perfect fit). Nilai yang tinggi dalam indeks ini

menunjukkan sebuah “better fit”.

4. AGFI – ADJUST GOODNES of FIT INDEX

AGFI = GFI/df Tingkat penerimaan yang direkomendasikan adalah bila

AGFI mempunyai niali yang sama dengan atau lebih besar dari 0.90. GFI maupun

AGFI adalah kriteria yang memperhitungkan proporsi tertimbang dari varians

alam sebuah matriks kovarians sampel. Nilai sebesar 0,95 dapat diinterprestasikan

sebagai tingkatan yang baik (good overall model fit) sedangkan besaran nilai

antara 0,90-0,95 menunjukkan tingkatan cukup (adequate fit).

(49)

Sebagai salah satu indikator untuk mengukur tingkat fitnya sebuah model.

Dalam hal ini CMNI/DF tidak lain adalah statistik chi-square, X² dibagi Dfnya

sehingga disebut X² relatif. Nilai X² relatif kurang dari 2,0 atau bahkan kurang

dari 3,0 adalah indikasi dari acceptable fit antara model dan data. Nilai X² relatif

yang tinggi menandakan adanya perbedaan yang signifikan antara matriks

kovarians yang diobservasikan dan diestimasi.

6. TLI – TUCKER LEWIS INDEKS

TLI adalah sebuah model yang diuji terhadap sebuah baseline model. Nilai

yang direkomendasikan sebagai acuan untuk diterimanya sebuah model adalah

penerimaan ≥0,95 nilai yang sangat mendekati 1 menunjukkan a verry good fit.

7. CFI – COMPERATIF FIT INDEX

Besaran indeks ini adalah pada rentang nilai sebesar 0-1, dimana semakin

mendekati 1, mendidentifikasikan tingkat fit yang paling tinggi (a very good fit).

Nilai yang direkomendasikan adalah CFI > 0.95. Keunggulan dari indeks ini

besarnya tidak dipengaruhi oleh ukuran sampel karena itu sangat baik untuk

mengukur tingkat penerimaan sebuah model. Indeks CFI adalah identik dengan

(50)

Gambar 3.2. Evaluasi Model

Iklan

(X) Minat Beli (Y)

Pengenalan Iklan X1.1

Kemampuan Iklan X1.2

Kekuatan Iklan X1.3

Kelengkapan Y1

Harga Y2

Lokasi Y3

(51)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Deskripsi Obyek Penelitian

4.1.1. Sejerah singkat Perusahaan

PT Excelcomindo Pratama Tbk. (“XL” atau “Perseroan”) didirikan

pada tanggal 6 Oktober 1989 dengan nama PT Grahametropolitan Lestari,

bergerak di bidang perdagangan dan jasa umum.

Enam tahun kemudian, Perseroan mengambil suatu langkah

penting seiring dengan kerja sama antara Rajawali Group – pemegang

saham PT Grahametropolitan Lestari – dan tiga investor asing (NYNEX,

AIF, dan Mitsui). Nama Perseroan kemudian berubah menjadi PT

Excelcomindo Pratama dengan bisnis utama di bidang penyediaan layanan

teleponi dasar. Pada tahun 1996, XL mulai beroperasi secara komersial

dengan fokus cakupan area di Jakarta, Bandung dan Surabaya. Hal ini

menjadikan XL sebagai perusahaan tertutup pertama di Indonesia yang

menyediakan jasa teleponi dasar bergerak seluler.

Bulan September 2005 merupakan suatu tonggak penting untuk

Perseroan. Dengan mengembangkan seluruh aspek bisnisnya, XL menjadi

perusahaan publik dan tercatat di Bursa Efek Jakarta (sekarang Bursa Efek

Indonesia). Kepemilikan saham XL saat ini mayoritas dipegang oleh TM

(52)

Emirates Telecommunications Corporation (Etisalat) melalui Etisalat

International Indonesia Ltd (16,0%).

XL pada saat ini merupakan penyedia layanan telekomunikasi

seluler dengan cakupan jaringan yang luas di seluruh wilayah Indonesia

bagi pelanggan ritel dan menyediakan solusi bisnis bagi pelanggan

korporat. Layanan XL mencakup antara lain percakapan, data dan layanan

nilai tambah lainnya (value added services). Untuk mendukung layanan

tersebut, XL beroperasi dengan teknologi GSM 900/DCS 1800 serta

teknologi jaringan bergerak seluler sistem IMT-2000/3G. XL juga telah

memperoleh Ijin Penyelenggaraan Jaringan Tetap Tertutup, Ijin

Penyelenggaraan Jasa Akses Internet (Internet Services Protocol/ ISP), Ijin

Penyelenggaraan Jasa Internet Teleponi untuk Keperluan Publik (Voice

over Internet Protocol/VoIP), dan Ijin Penyelenggaraan Jasa Interkoneksi

Internet (“NAP”).

Di area pengembangan jaringan, strategi XL untuk menghadapi

perubahan dalam bisnis model, dari tarif tinggi dan volume-rendah ke

tarif-rendah dan volume-tinggi adalah meningkatkan kapasitas jaringan. Pada

akhir 2007, jangkauan XL telah mencapai sekitar 90% populasi penduduk

Indonesia. Kapasitas jaringan yang lebih besar dan peningkatan kualitas

membuat XL mampu menangani pertumbuhan pelanggan, memperluas

pangsa pasar dan mengakomodasi lonjakan trafik, baik untuk pelanggan

(53)

4.1.2. Produk dan Layanan

XL Prabayar

Merupakan produk XL yang dahulu memiliki brand XL Bebas dan

XL Jempol. Saat ini XL hanya meluncurkan satu produk untuk layanan

prabayarnya, yaitu XL Prabayar.

XL Pascabayar

Produk layanan pascabayar dari XL, dimana para penggunanya

dapat menikmati fasilitas XL setiap bulannya dan akan ditagih

penggunaannya setiap akhir bulan sesuai dengan layanan yang telah

digunakan. Produk pascabayar ini sebelumnya bernama ‘XPLOR’, tetapi

sejak akhir 2008 telah berganti nama menjadi XL Pascabayar.

4.1.3. Filosofi, Visi dan Misi Perusahaan

Filosofi

XL berupaya sepenuhnya untuk bisa memenuhi kebutuhan para

pelanggan melalui layanan yang berkualitas tinggi. Produk-produk yang

ada, baik untuk perorangan maupun untuk perusahaan diciptakan untuk

memenuhi kebutuhan para pelanggan. XL patut merasa bangga sebagai

(54)

macam produk maupun layanan melalui teknologi yang tepat guna

memuaskan pelanggan dalam berkomunikasi.

Disamping hubungan yang baik dengan pelanggan, XL juga

memiliki hubungan yang baik dengan masyarakat sekitar. XL percaya akan

perlunya pembangunan masyarakat secara berkesinambungan guna

menciptakan lingkungan bisnis yang kondusif. Sebagai bentuk tanggung

jawab dari kalangan industri, XL sangat berkomitmen untuk menciptakan

nilai tambah pada pemegang sahamnya dan juga berkomitmen untuk

berpartisipasi dalam pembangunan masyarakat Indonesia. Hal diatas

diwujudkan melalui program-program sosial perusahaan (CSR program)

yang difokuskan pada pendidikan dan kegiatan sosial lainnya dalam payung

XL CSR.

Visi

Visi : Menjadi penyedia jasa TI dan komunikas terpilih di seluruh

Indonesia, baik bagi pelanggan individu maupun kalangan bisinis.

Misi

Misi : Memberikan yang terbaik bagi pelanggan baik dalam hal produk,

(55)

Strategi Bisnis Perusahaan

Jaringan distribusi merupakan faktor utama dalam memastikan

penyediaan produk sehingga dapat menjangkau pangsa pasar yang dituju.

Tantangan di area ini adalah menciptakan sistem yang dapat memberikan

kinerja yang positif bagi mitra XL dalam mendistribusikan produk XL serta

bagi pelanggan sebagai pengguna akhir. Distribusi yang efektif tidak hanya

mendistribusikan produk kepada penjual atau tempat penjualan, tetapi juga

mendukung perluasan distribusi. Persaingan ketat antar operator seluler

memacu XL membangun sistem yang dapat mendistribusikan produk sesuai

permintaan pasar, juga secara aktif mempromosikan penjualan. Bukti

kontribusi dari saluran distribusi untuk kesuksesan XL adalah pencapaian

26 juta pelanggan pada 2008. Walaupun sebelumnya telah mempunyai

sistem distribusi yang baik, XL secara rutin mengevaluasi bagaimana sistem

distribusi yang ada senantiasa dapat berjalan mengikuti kondisi pasar secara

dinamis.

Di 2007, XL melakukan perubahan dengan mengimplementasi

sistem distribusi baru. XL telah mengimplementasikan sistem distribusi

hybrid, gabungan antara sistem indirect (dealer management) dan direct.

Sistem ini mengambil contoh dari sistem distribusi untuk fast moving

consumer goods (FMCG) dengan tujuan menjangkau pelanggan dan

mengawasi saluran distribusi serta ketersediaan produk dan layanan dengan

(56)

4.2. Hasil Penelitian dan Pembahasan

4.2.1. Analisis Statistik Deskriptif

Gambaran statistik deskriptif digunakan untuk mengetahui gambaran

jawaban responden berdasarkan hasil penyebaran kuesioner terhadap

unsur-unsur yang ada pada setiap variabel.

a. Deskripsi responden berdasarkan jenis kelamin

Identitas Responden Menurut Jenis Kelamin dapat dilihat pada Tabel 4.1.

Dalam Tabel 4.1 terlihat bahwa dari 100 responden 100 responden (50%)

adalah laki-laki, 40 responden (50%) perempuan.

Tabel 4.1

Identitas Responden Menurut Jenis Kelamin Jenis Kelamin Jumlah Persentase

Laki-Laki 50 50

Perempuan 50 50

Total 100 100 Sumber : Lampiran.

Berdasarkan table identitas responden berdasarkan jenis kelamin dapat

diketahui bahwa tidak ada perbedaan antara laki laki dan perempuan atau

dengan kata lain seimbang. Hal ini mengindikasikan tidak ada perbedaan

gender untuk pemakai kartu provider XL.

b. Deskripsi responden berdasarkan kelompok umur

Pada tabel 4.2 menunjukkan bahwa responden yang berusia 36–45 tahun

sejumlah 44 orang (44%) selanjutnya, yang berumur sekitar 25–35 tahun

(57)

46-55 tahun sejumlah 11 orang (11%) dan yang terakhir adalah responden yang

berusia 55 tahun sebanyak 5 orang (6%).

Tabel 4.2

Identitas Responden Menurut Umur

No Umur Jumlah (orang) Persentase (%)

Berdasarkan table identitas responden berdasarkan umur dapat diketahui

bahwa yang paling banyak respondennya adalah kalangan muda. Tetapi tidak

dari kalangan sekolah, tetapi pada kalangan sudah berkarier, atau golongan

eksekutif muda.

c. Deskripsi responden berdasarkan kelompok pendidikan

Pada tabel 4.3 menunjukkan bahwa responden terbesar adalah berpendidikan

S1 sebanyak 52 orang (52%), selanjutnya responden yang berpendidikan D3

sebanyak 32 orang (32%), dan D1 masing-masing sebanyak sejumlah 32

orang (32%), SMU sejumlah 4 orang (4%).

Tabel 4.3

Identitas Responden Menurut Pendidikan

No Jabatan Jumlah (orang) Persentase (%)

(58)

Berdasarkan table identitas responden berdasarkan pendidikan dapat diketahui

bahwa yang paling banyak respondennya adalah kalangan pekerja, atau

eksekutif muda yang lulus S1.

4.2.2. Uji Outlier Multivariate

Outlier adalah observasi atau data yang memiliki karakteristik unik

yang terlihat sangat berbeda jauh dari observasi-observasi lainnya dan

muncul dalam bentuk nilai ekstrim untuk sebuah variabel tunggal atau

variabel kombinasi atau mutivariat (Hair, 1998). Evaluasi terhadap outlier

multivariate (antar variabel) perlu dilakukan sebab walaupun data yang

dianalisis menunjukkan tidak ada outliers pada tingkat univariate, tetapi

observasi itu dapat menjadi outliers bila sudah saling dikombinasikan. Jarak

antara Mahalanobis untuk tiap-tiap observasi dapat dihitung dan akan

menunjukkan sebuah observasi dari rata-rata semua variabel dalam sebuah

ruang multidimensional (Hair.dkk, 1998; Tabachnick & Fidel, 1996). Uji

terhadap outliers multivariate dilakukan dengan menggunakan jarak

Mahalanobis pada tingkat p < 1%. Jarak Mahalanobis itu dievaluasi dengan

menggunakan χ² (chi kuadrat) pada derajat bebas sebesar jumlah variabel

yang digunakan dalam penelitian ini. Hasil uji outlier tampak pada tabel

(59)

Tabel 4.4. Hasil Uji Outlier Multivariate

Standard Error of Predicted

Value 3.079 11.434 6.361 1.600 100

Adjusted Predicted Value 2.875 80.492 50.622 18.676 100

Residual -57.637 50.190 0.000 22.350 100

Centered Leverage Value 0.008 0.233 0.070 0.041 100

Sumber : Lampiran

Berdasarkan tabel diatas, setelah dilakukan pengujian ditemukan

bahwa tidak terdapat outlier multivariat [antar variabel], karena MD

Maksimum 23,091 < 24,322.

Deteksi terhadap multivariat outliers dilakukan dengan

menggunakan kriteria Jarak Mahalanobis pada tingkat p < 0,001. Jarak

Mahalanobis itu dievaluasi dengan menggunakan 2 pada derajat bebas

sebesar jumlah variabel yang digunakan dalam penelitian. Bila kasus yang

mempunyai Jarak Mahalanobis lebih besar dari nilai chi-square pada tingkat

signifikansi 0,001 maka terjadi multivariate outliers. Nilai 20.001 dengan

jumlah indikator 10 adalah sebesar 24,322

4.2.3. Uji Reliabilitas

Seperti telah dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa Cronbach’s

Alpha ini digunakan untuk mengestimasi reliabiltas setiap skala (variabel

(60)

untuk memperbaiki ukuran – ukuran dan mengeliminasi butir – butir yang

kehadirannya akan memperkecil koefisien Cronbach’s Alpha yang

dihasilkan (Purwanto, 2002). Hasil selengkapnya dapat dilihat pada tabel

berikut :

Tabel 4.5. Pengujian Reliability Consistency Internal

Konstrak Indikator Item to Total

Correlation

Koefisien Cronbach’s Alpha dihitung untuk mengestimasi

reliabilitas setiap skala [variabel atau indikator observasian]. Sementara itu

item to total correlation digunakan untuk memperbaiki ukuran-ukuran dan

mengeliminasi item-item yang kehadirannya akan memperkecil koefisien

Cronbach’s Alpha yang dihasilkan.

Proses eleminasi diperlakukan pada item to total correlation pada

indikator yang nilainya < 0,5 [Purwanto,2003]. Terjadi eliminasi karena

nilai item to total correlation indikator belum seluruhnya ≥ 0,5. Indikator

yang tereliminasi tidak disertakan dalam perhitungan cronbach's alpha.

Perhitungan cronbach's dilakukan setelah proses eliminasi.

Hasil pengujian reliabilitas konsistensi internal untuk setiap

construct di atas menunjukkan cukup baik dimana koefisien Cronbach’s

Alpha yang diperoleh belum seluruhnya memenuhi rules of thumb yang

(61)

4.2.4. Uji Validitas

Validitas menyangkut tingkat akurasi yang dicapai oleh sebuah

indikator dalam menilai sesuatu atau akuratnya pengukuran atas apa yang

seharusnya diukur, karena indikator multidimensi, maka uji validitas dari

setiap latent variable / construct akan diuji dengan melihat loading factor

dari hubungan antara setiap observed variable dan latent variable. Hasil

analisis tampak pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.6. Hasil Uji Validitas

Faktor Loading

Berdasarkan hasil confirmatory factor analysis terlihat bahwa

factor loadings masing masing butir pertanyaan yang membentuk setiap

construct belum seluruhnya ≥ 0,5, sehingga butir-butir instrumentasi setiap

konstruk tersebut dapat dikatakan validitasnya kurang baik.

4.2.5. Uji Construct Reliability Dan Variance Eztracted

Selain melakukan pengujian konsistensi internal Cronbach’s

Alpha, perlu juga dilakukan pengujian construct reliability dan variance

extracted. Kedua pengujian tersebut masih dalam koridor uji konsistensi

(62)

bahwa indikator – indikator individual mengukur suatu pengukuran yang

sama (Purwanto, 2002). Dan variance extracted direkomendasikan pada

tingkat 0,50. Hasil perhitungan construct reliability dan variance extracted

dapat dilihat dalam tabel di bawah ini

Tabel 4.7. Construct Reliability & Variance Extrated

Konstrak Indikator

Selain melakukan pengujian konsistensi internal Cronbach’s

Alpha, perlu juga dilakukan pengujian construct reliability dan variance

extracted. Kedua pengujian tersebut masih termasuk uji konsistensi internal

yang akan memberikan peneliti kepercayaan diri yang lebih besar bahwa

indikator-indikator individual mengukur suatu pengukuran yang sama.

Hasil pengujian reliabilitas instrumen dengan construct reliability

dan variance extracted menunjukkan instrumen kurang reliabel, yang

ditunjukkan dengan nilai construct reliability belumseluruhnya ≥ 0,7.

Meskipun demikian angka tersebut bukanlah sebuah ukuran “mati” artinya

bila penelitian yang dilakukan bersifat exploratory, maka nilai di bawah 0,70

pun masih dapat diterima sepanjang disertai alasan–alasan empirik yang

terlihat dalam proses eksplorasi. Dan variance extracted direkomendasikan

(63)

4.2.6. Uji Normalitas

Uji normalitas sebaran dilakukan dengan Skewness Value dari data

yang digunakan yang biasanya disajikan dalam statistik deskriptif. Nilai

statistik untuk menguji normalitas itu disebut z-value. Bila nilai-z lebih besar

dari nilai kritis maka dapat diduga bahwa distribusi data adalah tidak

normal. Nilai kritis dapat ditentukan berdasarkan tingkat signifikansi 0,01

(1%) yaitu sebesar  2,58. Hasilnya diperoleh nilai c.r. multivariat diantara 

2,58 dan itu berarti asumsi normalitas tidak terpenuhi dan data layak untuk

digunakan dalam estimasi selanjutnya. Hasil analisis tampak pada tabel

berikut :

Tabel 4.8. Assessment of Normality

Variable min max kurtosis c.r.

X1 2 7 1.026 2.094

Uji normalitas sebaran dilakukan dengan Kurtosis Value dari data

yang digunakan yang biasanya disajikan dalam statistik deskriptif. Nilai

statistik untuk menguji normalitas itu disebut Z-value. Bila nilai-Z lebih

Gambar

Tabel 1.2 Iklan yang sering ditonton
Gambar 3.1 :  Contoh Model Pengukuran Iklan
Tabel 3.1. Goodness of Fit Indices
Gambar 3.2. Evaluasi Model
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan analisis data dengan menggunakan SEM (Stuctural Equation Modeling) dan pembahasan hasil penelitian yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan hal-hal untuk

Berdasarkan analisis data dengan menggunakan SEM (Stuctural Equation Modeling) dan pembahasan hasil penelitian yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan hal-hal untuk

Berdasarkan analisis data dengan menggunakan SEM (Structural Equation Modeling) dan pembahasan hasil penelitian yang telah dikemukakan,dapat disimpulkan hal-hal untuk

Berdasarkan analisis data dengan menggunakan SEM (Stuctural Equation Modeling) dan pembahasan hasil penelitian yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan hal-hal untuk

Berdasarkan analisis data dengan menggunakan SEM (Stuctural Equation Modeling) dan pembahasan hasil penelitian yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan hal-hal

Berdasarkan analisis data dengan menggunakan SEM (Stuctural Equation Modeling) dan pembahasan hasil penelitian yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan hal-hal untuk

Berdasarkan analisis data dengan menggunakan SEM (Stuctural Equation Modeling) dan pembahasan hasil penelitian yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan hal-hal untuk

Berdasarkan analisis data dengan menggunakan SEM (Stuctural Equation Modeling) dan pembahasan hasil penelitian yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan hal-hal untuk