1
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Komunikasi sangat penting dalam kehidupan manusia. Hal ini karena pada hakikatnya manusia adalah makhluk sosial dan saling membutuhkan untuk melengkapi kehidupannya. Komunikasi yang hidup sebagai makhluk sosial, menjadikannya sebagai kunci terjadinya sosialisasi. Komunikasi sendiri dijadikan sebagai dasar dalam melakukan interaksi dengan manusia lain. Manusia senantiasa melakukan hubungan atau interaksi antara manusia satu dengan yang lain untuk bertukar informasi. Komunikasi dapat berlangsung dalam dua cara, verbal dan nonverbal. verbal dan non-verbal.
Komunikasi lisan adalah komunikasi dalam bentuk tulisan, termasuk bahasa lisan dan tulisan. Komunikasi nonverbal adalah komunikasi tanpa bahasa. Dalam komunikasi verbal, komunikasi yang dilakukan sangat terstruktur dan mempunyai tata bahasa. Dalam komunikasi terdapat beberapa unsur yang perlu diperhatikan yaitu sumber informasi, komunikator, pesan, saluran/ media, penerima, efek, umpan balik , dan gangguan (Rumono1 et al., 2014).
Dari unsur-unsur komunikasi yang ada, terdapat salah satu unsur media komunikasi yang penting dalam komunikasi.Media komunikasi untuk saat ini tidak hanya secara cetak dan siar, akan tetapi juga dapat dilakukan secara online menggunakan internet. Terdapat banyak interaksi yang dilakukan oleh manusia yang menggunakan internet yang sering disebut dengan interaksi dunia maya. Saat ini banyak sekali aplikasi yang menunjang manusia untuk melakukan komunikasi sosial menggunakan media internet. Hal tersebut ditunjukkan dari penggunaan media sosial mulai dari kalangan anak-anak hingga orang tua. Banyak tujuan dari komunikasi melalui media sosial (medsos) secara online di internet. Media sosial digunakan sebagai alat untuk mengekspresikan diri, bertukar informasi, mencari penghasilan,dll (Rumono et al., 2014).
(Nasrullah Dr. Rulli, 2018) dalam Muchlis 2020:103) Dilihat dari pandangan sosial masyarakat Indonesia, masyarakat sangat senang Saat berbagi hobi yang ada seringkali bersifat narsis dan tidak terlalu peduli dengan masalah privasi, sehingga media sosial menjadi media komunikasi yang sangat representatif. Media sosial memungkinkan
2
pengguna untuk dengan bebas memposting dan membagikan apa yang mereka inginkan.
Berbagai aplikasi media sosial yang populer untuk setiap aplikasi memiliki fungsi dan standar yang berbeda. Media sosial kini sering digunakan untuk alat mengkomunikasikan dan mengekspresikan diri dari penggunanya. Salah satu dari media sosial yang sering digunakan untuk mengekspresikan diri adalah TikTok. Aplikasi TikTok merupakan aplikasi jejaring sosial dan platform video yang digunakan pengguna untuk mengunggah video pengguna dan dibagikan ke pengguna aplikasi TikTok yang lain. Aplikasi TikTok menjadi salah satu aplikasi yang populer saat ini.
Aplikasi ini memiliki efek khusus yang keren dan mudah digunakan. Dengan cara ini, semua orang dapat membuat video hebat, itulah sebabnya TikTok adalah aplikasi yang sangat populer (Fauziah, 2019). TikTok saat ini juga menjadi salah satu media berbisnis menarik,karena audiens segala golongan dan menghadirkan kreativitas untuk para creator ataupun pemilik brand dengan fitur editing yang instan dan mudah digunakann (Andini, 2020). TikTok memeiliki beberapa keunggulan dalam mempromosikan bisnis secara online yaitu : bisa melihat tanpa memiliki akun TikTok, durasi video pendek , ada challenge, bebas menggunakan background musik,tidak ada iklan ketika kita menonton video, TikTok jadi tempat berkreasi , dituntut menjadi content creator dan ada trending dan banyak filter yang beragam (Bali, 2021). Instagram sendiri sekarang mengeluarkan fitur rells , rells sebelumnya telah diluncurkan di beberapa negara dan kerap kali disebut pesaing TikTok. dalam video berdurasi berdurasi 2 menit 26 detik itu Mosseri berbicara mengenai sifat layanan di aplikasi. "Kami bukan lagi aplikasi berbagi foto,” ujar Mosseri. Sebagai gantinya perusahaan fokus pada 4 hal ,yakni pembuat konten, video, belanja dan pengiriman pesan. Instagram lebih fokus ke video mirip dengan TikTok dan Youtube (Kusumawardhani,2021)
Perkembangan media sosial tentunya memiliki banyak dampak, Aspek positif dan negatif bagi pendidikan anak-anak, khususnya pendidikan moral anak-anak. Adapun dampak positif media sosial terhadap pendidikan moral Anak memberikan banyak manfaat, termasuk anak bisa belajar caranya beradaptasi, bersosialisasi dengan publik, dan kelola jaringan pertemanan (Berteman atau berkumpul kembali dengan teman lama) dan mempermudah anak-anak dalam kegiatan pembelajaran, karena dapat digunakan sebagai sarana diskusi dengan orang lain teman tentang pekerjaan rumah mereka
3
(Khairuni, 2016). Dampak negatif penggunaan media sosial terhadap pendidikan moral anak dengan melihat banyaknya anak yang menggunakannya. Bukan untuk belajar, tapi untuk kesibukan mereka di jejaring sosial; Facebook, Twitter, Instagram, TikTok, dll.
Membuat anak-anak mengabaikan tanggung jawabnya, anak-anak jadi kurang disiplin dan mudah meniru karya orang lain (Khairuni, 2016).
Menurut lembaga survei asal New York, ‘We Are Social’, tahun 2021 Instagram berada di posisi keempat media sosial paling banyak digunakan oleh penduduk Indonesia (Social, 2021). Seiring berkembangnya era digital, kini telah muncul platform media baru yang menyediakan dukungan dalam pembuatan video yaitu Tiktok. Menurut Sensor Tower, sebuah lembaga penyedia survei mengenai aplikasi ekonomi global asal Amerika Serikat, Tiktok berhasil menjadi aplikasi nomor 1 yang paling banyak diunduh sebanyak 364,6 juta kali selama kurun waktu enam bulan pertama ditahun 2021 ini (Riyanto, 2021). Penggunaan internet oleh semua kalangan menujukkan bahwa dampak dari teknologi terjadi ke semua kalangan usia. Hal tersebut menunjukkan bahwa internet menjadi new media yang paling diminati oleh masyarakat sekarang. Berkembangnya new media ditunjukkan dengan banyaknya media sosial. Seiringnya berkembangnya teknologi, media sosial juga mengalami banyak perkembangan. Perkembangan tersebut ditunjukkan dengan berkembangnya aplikasi aplikasi media sosial. Seperti facebook, instagram, TikTok, twitter, weverse, dll (Susilowati, 2018)
Menurut laporan Kaspersky Safe Kids, TikTok, YouTube, dan WhatsApp adalah tiga aplikasi paling populer yang digunakan anak-anak di seluruh dunia . Di Indonesia sendiri, aplikasi yang paling populer di kalangan anak-anak adalah YouTube (32,99 persen), WhatsApp (21,47 persen), dan TikTok (10,18 persen) (Stephanie, 2021). Hal tersebut ditunjukkan dari banyaknya yang mengunduh aplikasi tersebut dari kalangan anak-anak.
Penggunaan aplikasi TikTok oleh individu pasti memiliki tujuan tertentu. TikTok yang menjadi salah satu wadah untuk berekspresi melalui konten video yang diunggah tak terkecuali bagi individu pada rentang usia anak-anak. Anak –anak yang saat ini menjadi sering bermain dengan smartphone berpeluang besar untuk memainkan aplikasi- aplikasi media sosial tak terkecuali TikTok. Anak anak menggunakan media sosial TikTok sebagai ajang untuk memamerkan bakat, memperluas pertemanan dll. Akan
4
tetapi, dalam penggunaan TikTok pastinya terdapat dampak positif dan negatif yang didapat. Dampak tersebut dipengaruhi oleh tujuan utama pengguna menggunakan aplikasi itu sendiri (Arrofi & Hasfi, 2019).
Dalam penggunaan aplikasi TikTok ini sendiri Semuel Abrijani Pangerapan, Direktur Jenderal Aplikasi Informasi (Dirjen Aptika), mengatakan di kantor Kemenkominfo, Selasa (7 Oktober) “ Batas umur pengguna TikTok sama halnya dengan facebook minimal berusia 13 tahun” menurut beliau pada usia 13 tahun, anak-anak telah memasuki jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan mampu melindungi diri dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab di dunia maya(RBC, 2018).Pernyataan tersebut tidak sama halnya yang terjadi di lapangan,bahwa masih banyak anak-anak dibawah usia 13 tahun yang menggunakan aplikasi TikTok. Peneliti melakukan pra survei di kelurahan Jambu Hilir dari total 120 jumlah anak terdapat 105 anak dengan usia 10-12 tahun menggunakan media sosial TikTok.
Dampak positif dari penggunaan TikTok bisa dilihat dari individu terutama kalangan anak-anak yang bebas untuk mengekspresikan jati dirinya dan talentanya.
Mereka mampu berlatih untuk menunjukkan bakat yang dimilikinya secara leluasa (Batoebara, 2020).Akan tetapi seiringnya penggunaan aplikasi TikTok untuk mengekspresikan diri, terdapat dampak negatif yang harus diperhatikan oleh penggunanya sendiri. Dampak negatif dari penggunaan aplikasi TikTok yang sangat marak dijumpai adalah tindakan hate comment. Komentar komentar jahat yang merujuk pada bullying perlu diperhatikan dalam penggunaan aplikasi TikTok karena mampu mematikan karakter dan kreativitas individu (Batoebara, 2020).
Baru - baru ini sabtu 23/01 2021 seorang anak berusia 10 tahun di italia melakukan tantangan di TikTok “ Blackout challenge”, dimana tantangan ini dengan mengikat sabuk ke leher dan menahan nafas sampai pingsan yang menyebabkan kematian karena kehabisan oksigen (It, 2021). Badan Perlindungan Data Italia mengatakan dalam sebuah pernyataan Jumat malam bahwa mereka akan segera
"memblokir" jejaring sosial (Cina) hingga 15 Februari. Di indonesia sendiri pada tahun 2020 media sosial diramaikan dengan kejadian naas dialami siswi SMP di Cibitung, kabupaten bekasi, jawa barat. siswi tersebut tewas tersetrum saat mencoba mengambil hp yang terjatuh saat bermain aplikasi TikTok (Putranto, 2020). Berdasarkan dampak yang
5
mungkin dapat terjadi, maka perlu adanya pembimbingan yang dilakukan oleh orang dewasa dalam penggunaan medsos TikTok. Dalam pendampingan yang dilakukan, orang dewasa selaku pembimbing juga perlu mengetahui terlebih dahulu motif anak-anak pengguna TikTok saat menggunakan aplikasi tersebut. Hal tersebut dilakukan agar para anak-anak pengguna TikTok dapat menggunakan dan memanfaatkan aplikasi dengan bijak (Susilowati, 2018).
Dalam masa pandemi Covid-19 ini, penggunaan TikTok semakin marak dikalangan anak-anak. Sebuah studi oleh Kaspersky Safe Kids menunjukkan bahwa pandemi juga mempengaruhi minat anak-anak di seluruh dunia, terutama dalam hal mengosumsi aplikasi. Penelitian dilakukan dari Mei 2020 hingga April 2021. Menurut laporan Kaspersky Safe Kids, TikTok, YouTube, dan WhatsApp adalah tiga aplikasi yang paling banyak digunakan oleh anak-anak di dunia (Stephanie, 2021). Kondisi pandemi tersebut merubah gaya anak anak dalam berkomunikasi, bersosialisasi, dan memperkenalkan jati diri. Penggunaan TikTok dijadikan alat ganti untuk berkomunikasi dengan teman sebayanya. Selain itu TikTok juga sering digunakan sebagai personal branding bagi penggunanya (Susilowati, 2018).
Pada usia ( 6-12) tahun atau lebih, digunakan istilah anak usia sekolah, artinya sekolah menjadi pusat pengalaman anak. Usia sekolah ini merupakan masa dimana anak berhasil beradaptasi dengan pengetahuan dasar. Anak-anak akan memiliki perilaku spontan dan secara bertahap berubah menjadi upaya yang lebih fokus untuk mencapai tujuan mereka, karena anak-anak akan mulai berubah dari keadaan tergantung ke keadaan yang lebih mandiri, dalam keadaan ini. Anak-anak akan berjuang dengan konsep diri, rasa harga diri, dan keinginan untuk membuat keputusan, dan bertanggung jawab atas perilaku mereka ketika berhadapan dengan orang tua, teman sebaya, dan orang lain (Allen, 2010).
Erikson (1968 dalam Wong, 2008) mengatakan bahwa anak usia sekolah (6-12 tahun) berada di antara “Industry vs Inferiority”, dimana perkembangan sosial dan psikologis anak usia sekolah adalah kemampuan untuk menciptakan pekerjaan, berinteraksi dan belajar sesuai dengan kemampuannya sendiri. Erikson juga menyatakan, karakteristik perilaku anak usia sekolah yang berkaitan dengan tugas tertentu pada akhirnya dapat menghasilkan sesuatu yang berharga baginya, belajar
6
aturan, ketakutan dan stresor, berinteraksi dengan teman, dan memainkan peran dalam permainan kelompok (Nasution, 2017)
Anak usia sekolah merupakan kelompok yang paling rentan mengalami masalah psikososial, sehingga dari hasil observasi peneliti menunjukkan bahwa anak-anak kelurahan jambu hilir memiliki rasa percaya diri yang tinggi karena mereka dapat suport dari orang tuanya dalam menggunakan media sosial TikTok.
Anak-anak kelurahan jambu hilir sering mengisi waktu luang mereka dengan mengunggah video mereka di media sosial TikTok. Tentunya dengan mengupload video tersebut mereka ingin videonya masuk for your page agar mereka terkenal. Orang tua mereka pun menyadari dan membiarkan hal tersebut,menurut orang tua mereka yang penting masih di batas wajar. Orang tua anak-anak dikelurahan jambu hilir juga memiliki akun TikTok akan tetapi kurang meleknya mereka terhadap peraturan batas usia pengguna media sosial terhadap anak-anak. Fenomena yang terjadi di kelurahan jambu hilir , banyaknya waktu mereka habiskan bermain aplikasi TikTok, anak-anak menhababiskan waktu bermain TikTok 4-6 jam, walaupun ada jedanya tetap saja seumuran mereka harus sering berinteraksi di dunia nyata dengan teman sebayanya.
Ditambah lagi dengan liburnya sekolah akibat pandemi COVID-19 membuat anak-anak jadi lupa waktu.
Berdasarkan penjelasan di atas maka peneliti ingin melakukan penelitian mengungkap motif dari penggunaan aplikasi TikTok pada kalangan anak anak. Hal tersebut dilakukan supaya dapat mengetahui tujuan yang pengguna TikTok dikalangan anak anak.
7 1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas ,rumusan masalah yang peneliti kaji adalah : Apa yang menjadi motif pengguna media sosial TikTok pada usia anak-anak.
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
Mengetahui motif pengguna pengguna media sosial TikTok pada usia anak-anak.
1.4 Manfaat penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah :
Manfaat penelitian secara praktis diharapkan dapat memberikan kontribusi positif sebagai bahan referensi dan evaluasi bagi masyarakat khususnya bagi anak-anak pengguna media sosial TikTok.
Sedangkan manfaat secara teoritis diharapkan dapat memberikan sumbangan pengetahuan dan wawasan terhadap pembaca tentang motif pengguna media sosial TikTok di kalangan anak-anak, sehingga orang dewasa dapat mengetahui motif pengguna media sosial TikTok pada anak-anak agar pengguna dapat mendapatkan bimbingan yang tepat untuk menggunakan media sosial secara bijak