• Tidak ada hasil yang ditemukan

Profil Kemiskinan Maluku Utara Maret 2021

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Profil Kemiskinan Maluku Utara Maret 2021"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Profil Kemiskinan Maluku Utara Maret 2021 No. 39/07/82/Th.XX, 15 Juli 2021

BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI MALUKU UTARA

Profil Kemiskinan Maluku Utara

Maret 2021

 Jumlah penduduk miskin di Maluku Utara pada Maret 2021 sebesar 87,16 ribu orang (6,89 persen), menurun sekitar 0,35 ribu orang dibandingkan dengan penduduk miskin pada September 2020 yang sebesar 87,52 ribu orang (6,97 persen).

 Persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada Maret 2021 sebesar 5,13 persen atau meningkat 0,10 poin dibandingkan keadaan September 2020 yang sebesar 5,03 persen. Sedangkan persentase penduduk miskin di daerah perdesaan pada Maret 2021 turun 0,14 poin menjadi 7,59 persen dibandingkan keadaan pada September 2020 yang sebesar 7,74 persen.

 Garis Kemiskinan pada Maret 2021 adalah sebesar Rp.489.375,- atau naik sekitar sembilan belas ribu tujuh ratus tujuh puluh sembilan rupiah (4,21 persen) dibandingkan keadaan September 2020 yang sebesar Rp.469.596,-,-.

 Pada periode September 2020 - Maret 2021, Indeks kedalaman kemiskinan (P1) mengalami sedikit penurunan dari 1,090 pada September 2020 menjadi 0,970 pada Maret 2021. Indeks

Tingkat

Kemiskinan

Maluku Utara

Maret 2021

adalah sebesar

6,89 persen

(2)

1. Perkembangan Tingkat Kemiskinan di Maluku Utara

Persentase penduduk miskin di Maluku Utara sejak Maret 2015 hingga Maret 2021 cenderung berfluktuatif. Tingkat kemiskinan Maluku Utara pada September 2014 tercatat sebesar 7,41 persen menunjukkan pola menurun hingga September 2016 (6,41 persen). Pola yang berbeda terjadi dari Maret 2017 hingga September 2019 yang menunjukkan pola semakin meningkat. Persentase penduduk miskin terendah terjadi pada September 2015 yaitu sebesar 6,22 persen. Menurut Jumlah, penduduk miskin di Maluku Utara pada Maret 2015 mencapai 79,90 ribu orang yang terdiri dari 12,25 ribu orang di daerah perkotaan dan 67,65 ribu orang di daerah perdesaan. Sedangkan pada Maret 2021 jumlah orang miskin di Maluku Utara tercatat sebanyak 87,16 ribu orang yang terdiri dari 18,54 ribu orang di daerah perkotaan dan 68,62 ribu orang di daerah perdesaan.

Tabel 1.

Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Daerah di Maluku Utara, Maret 2015 – Maret 2021

Periode

Jumlah Penduduk Miskin (000)

PersentasePenduduk Miskin (%) K D K+D K D K+D (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Maret 2015 12,25 67,65 79,90 3,85 7,95 6,84 September 2015 8,29 64,35 72,65 2,61 7,57 6,22 Maret 2016 10,58 64,10 74,68 3,32 7,44 6,33 September 2016 12,45 63,95 76,40 3,76 7,43 6,41 Maret 2017 12,00 64,47 76,47 3,61 7,40 6,35 September 2017 12,93 65,35 78,28 3,70 7,55 6,44 Maret 2018 13,34 68,12 81,46 3,80 7,78 6,64 September 2018 14,90 67,03 81,93 4,21 7,58 6,62 Maret 2019 15,32 69,28 84,60 4,27 7,78 6,77 September 2019 15,37 71,80 87,18 4,24 7,99 6,91 Maret 2020 16.58 69.79 86,37 4,53 7,70 6,78 September 2020 18,00 69.52 87,52 5,03 7,74 6,97 Maret 2021 18,54 68,62 87,16 5,13 7,59 6,89

(3)

Gambar 1.

Perkembangan Persentase dan Jumlah Penduduk Miskin (000 orang) Maluku Utara, September 2015 – Maret 2021

Secara khusus jika dilihat perkembangan tingkat kemiskinan Maluku Utara pada periode September 2020 - Maret 2021, jumlah penduduk miskin di Maluku Utara mengalami penurunan sekitar 0,36 ribu orang dari 87,52 ribu orang (6,97 persen) menjadi 87,16 ribu orang (6,89 persen) pada Maret 2021. Penduduk miskin di daerah perdesaan pada Maret 2021 berkurang menjadi 68,62 ribu orang dibandingkan kondisi September 2020 yang sebanyak 69,52 ribu orang. Sementara itu jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan pada Maret 2021 bertambah menjadi 18,54 ribu orang dibandingkan September 2020 yang sebanyak 18,00 ribu orang.

72,65 74,68 76,40 76,47 78,28 81,46 81,93 84,60 87,18 86,37 87,52 87,16 6,22 6,33 6,41 6,35 6,44 6,64 6,62 6,77 6,91 6,78 6,97 6,89 5 6 7 8 9 10 11 12 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100

Sep 2015 Mar 2016 Sep 2016 Mar 2017 Sep 2017 Mar 2018 Sep 2018 Mar 2019 Sep 2019 Mar 2019 Sep 2020 Mar 2021

(P ers en ) (0 00 o ra n g) Jumlah Persentase

(4)

Faktor-faktor yang diduga mempengaruhi tingkat kemiskinan di Maluku Utara pada periode September 2020 - Maret 2021 adalah:

1. Terjadi Peningkatan Nilai Tukar Petani pada Maret 2021 (98,54) dibandingkan Nilai Tukar Petani pada September 2020 (95,69). Hal ini menunjukkan terjadinya peningkatan kesejahteraan petani.

2. Ekonomi Maluku Utara Triwulan I 2021 dibandingkan triwulan sebelumnya (q to q) naik sebesar 0,65 persen. Dari sisi produksi, kenaikan disebabkan oleh kenaikan yang terjadi pada beberapa lapangan usaha. Sementara dari sisi pengeluaran disebabkan oleh peningkatan pada komponen ekspor.

3. Perubahan Indeks Harga yang cendrung stabil selama periode September 2020 (104,60) ke periode Maret 2021 (106,61)

4. Persentase penduduk usia kerja yang terdampak Covid-19 menurun dari 10,73 persen pada Agustus 2020 menjadi 6,89 persen pada Februari 2021.

2. Perubahan Garis Kemiskinan September 2020 - Maret 2021

Jumlah penduduk miskin sangat dipengaruhi oleh Garis Kemiskinan (GK), karena penduduk miskin merupakan penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan. Pada periode September 2020 - Maret 2021, Garis Kemiskinan Maluku Utara naik sebesar Rp.19.779,- atau 4,21 persen yaitu dari Rp. 469.596,- per kapita per bulan pada September 2020 menjadi Rp.489.375,- per kapita per bulan pada Maret 2021.

Garis kemiskinan makanan (GKM) naik sebesar Rp.16.069,- atau 4,43 persen, yaitu dari Rp. 362.406,- per kapita per bulan pada September 2021 menjadi Rp.378.475,- per kapita per bulan pada Maret 2021. Sementara garis kemiskinan non makanan (GKNM) naik sebesar Rp.3.709,- atau 3,46 persen yaitu dari Rp. 107.190,- per kapita per bulan pada September 2020 menjadi Rp.110.900,- per kapita per bulan pada Maret 2021.

Menurut daerah, garis kemiskinan daerah perkotaan naik sebesar Rp.21.747,- atau 4,40 persen yaitu dari Rp. 494.703,- per kapita per bulan pada September 2020 menjadi Rp.516.450,- per kapita per bulan pada Maret 2021. Sementara garis kemiskinan daerah perdesaan naik Rp. 18.872,- atau 4,11 persen yaitu dari Rp. 459.580,- per kapita per bulan pada September 2020 menjadi

(5)

Tabel 2.

Garis Kemiskinan Per Kapita Per Bulan Menurut Daerah September 2020 - Maret 2021

Daerah/ Periode

Garis Kemiskinan per Kapita per Bulan (Rp)

GKM GKNM GK (1) (2) (3) (4) Perkotaan September 2020 364.415 130.288 494.703 Maret 2021 383.780 132.670 516.450 Perubahan (%) 5,31 1,83 4,40 Perdesaan September 2020 361.627 97.954 459.580 Maret 2021 376.259 102.193 478.452 Perubahan (%) 4,05 4,33 4,11 Perkotaan+Perdesaan September 2020 362.406 107.190 469.596 Maret 2021 378.475 110.900 489.375 Perubahan (%) 4,43 3,46 4,21

Sumber: Diolah dari data Susenas

Keterangan: Garis Kemiskinan (GK) = Garis Kemiskinan Makanan (GKM) + Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM)

Dengan memperhatikan komponen Garis Kemiskinan (GK), yang terdiri dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM) seperti terdapat pada Tabel 3, bahwa peranan komoditi makanan masih jauh lebih besar dibandingkan dengan komoditi bukan makanan. Besarnya sumbangan GKM terhadap GK pada Maret 2021 adalah sebesar 74,31 persen untuk daerah perkotaan dan lebih rendah di daerah perdesaan yaitu sebesar 78,64 persen.

Pada Maret 2021, komoditi makanan yang memberikan sumbangan terbesar pada GK baik di perkotaan maupun perdesaan pada umumnya hampir sama, yaitu beras sebesar 21,42 persen di perkotaan dan 27,21 persen di perdesaan. Rokok kretek filter memberikan sumbangan terbesar kedua terhadap GK dengan kontribusi sebesar 12,76 persen di daerah perkotaan sedangkan di daerah perdesaan rokok kretek filter memberikan sumbangan terbesar kedua dengan kontribusi 11,41 persen. Sedangkan pada komoditi non makanan, pengeluaran untuk perumahan memberikan kontribusi terbesar terhadap GK baik di perkotaan maupun perdesaan, yaitu sebesar 9,30 persen di daerah perkotaan dan 10,18 persen di daerah perdesaan.

(6)

Tabel 3.

Daftar Komoditi Penyumbang Garis Kemiskinan Beserta Kontribusinya (%), Maret 2021

Jenis Komoditi Perkotaan Jenis Komoditi Perdesaan

(1) (2) (3) (4)

Makanan 74,31 Makanan 78,64

Beras 21,42 Beras 27,21

Rokok kretek filter 12,76 Rokok kretek filter 11,41

Tongkol/Tuna/Cakalang 5,85 Tongkol/tuna/cakalang 5,62

Roti 4,13 Gula Pasir 4,10

Gula Pasir 2,85 Ketela pohon/singkong 3,27

Telur Ayam 2,42 Roti 3,04

Bawang Merah 2,14 Bawang Merah 2,19

Kue Basah 1,84 Telur Ayam Ras 2,12

Cabe Rawit 1,60 Mie Instan 2,02

Bukan Makanan 25,69 Bukan Makanan 21,36

Perumahan 9,30 Perumahan 10,18

Listrik 2,70 Pendidikan 1,33

Bensin 2,30 Bensin 1,15

Minyak Tanah 1,80 Kayu Bakar 1,04

Pendidikan 1,57 Listrik 0,95

Perlengkapan Mandi 1,15 Perlengkapan Mandi 0,94

Sumber: Diolah dari data Susenas Maret 2021

3. Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2)

Persoalan kemiskinan bukan hanya sekedar berapa jumlah dan persentase penduduk miskin. Dimensi lain yang juga perlu diperhatikan adalah tingkat kedalaman dan keparahan kemiskinan. Selain upaya memperkecil jumlah penduduk miskin, kebijakan penanggulangan kemiskinan juga terkait dengan bagaimana mengurangi tingkat kedalaman dan keparahan kemiskinan.

(7)

Tabel 4.

Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2)

Menurut Daerah di Maluku Utara, September 2020 - Maret 2021

Periode Perkotaan Perdesaan Perkotaan + Perdesaan

(1) (2) (3) (4)

Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1)

September 2020 0,653 1,264 1,090

Maret 2021 0,969 0,970 0,970

Indeks Keparahan Kemiskinan (P2)

September 2020 0,110 0,283 0,234

Maret 2021 0,247 0,191 0,207

Sumber: Diolah dari data Susenas Maret 2021

Pada periode September 2020 - Maret 2021, Indeks kedalaman kemiskinan (P1) mengalami peningkatan. Indeks kedalaman kemiskinan turun dari 1,090 pada September 2020 menjadi 0,970 pada Maret 2021. Hal ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin semakin mendekati garis kemiskinan. Hal tersebut diiringi pula dengan penurunan pada indeks keparahan kemiskinan (P2). Indeks keparahan kemiskinan (P2) turun dari 0,234 pada September 2020 menjadi 0,207 pada Maret 2021. Hal ini mengindikasikan bahwa ketimpangan pengeluaran antar penduduk miskin cenderung semakin menyempit.

Nilai indeks kedalaman kemiskinan (P1) di daerah perdesaan lebih tinggi dibandingkan dengan perkotaan. Pada Maret 2021, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) untuk perkotaan sebesar 0,970 sementara di daerah perdesaan mencapai 0,969. Hal yang sebaliknya terjadi pada nilai indeks keparahan kemiskinan (P2) untuk wilayah perdesaan yang juga lebih rendah dibandingkan daerah perkotaan. Pada Maret 2021, Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) untuk daerah perkotaan yaitu sebesar 0,247 sementara di daerah perdesaan mencapai 0,191

(8)

4. Penjelasan Teknis dan Sumber Data

a. Untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan non makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Dengan pendekatan ini, dapat dihitung Headcount Index, yaitu persentase penduduk miskin terhadap total penduduk.

b. Metode yang digunakan adalah menghitung Garis Kemiskinan (GK), yang terdiri dari dua komponen, yaitu Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM). Penghitungan Garis Kemiskinan dilakukan secara terpisah untuk daerah perkotaan dan perdesaan. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan.

c. Garis Kemiskinan Makanan (GKM) merupakan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan yang disetarakan dengan 2.100 kkalori per kapita per hari. Paket komoditi kebutuhan dasar makanan diwakili oleh 52 jenis komoditi (padi-padian, umbi-umbian, ikan, daging, telur dan susu, sayuran, kacang-kacangan, buah-buahan, minyak dan lemak, dll).

d. Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM) adalah kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan. Paket komoditi kebutuhan dasar non-makanan diwakili oleh 51 jenis komoditi untuk daerah perkotaan dan 47 jenis komoditi untuk daerah perdesaan. e. Sumber data utama yang dipakai untuk menghitung tingkat kemiskinan di Provinsi Maluku Utara

Maret 2021 adalah data Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) bulan Maret 2021

f. Klasifikasi daerah perkotaan dan perdesaan sesuai dengan Peraturan Kepala Badan Pusat Statistik Nomor 37 Tahun 2010 tentang Klasifikasi Perkotaan dan Perdesaan di Indonesia.

Diterbitkan oleh:

Badan Pusat Statistik Provinsi Maluku Utara

Jl. Stadion No. 65 Ternate 97712

Insaf Santoso SST., M.Si.

Statistisi Ahli Madya

Koordinator Fungsi Statistik Sosial

Konten Berita Resmi Statistik dilindungi oleh Undang-Undang, hak cipta melekat pada Badan Pusat Statistik. Dilarang mengumumkan, mendistribusikan, mengomunikasikan, dan/atau menggandakan sebagian atau seluruh isi tulisan ini untuk tujuan komersial tanpa izin tertulis dari

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin di perdesaan lebih jauh dari garis kemiskinan dibanding perkotaan, begitu juga tingkat

Sedangkan persentase penduduk miskin di daerah perdesaan mengalami kenaikan, yaitu 8,85 persen pada September 2014 dari 8,56 persen pada Maret 2014.. Kenaikan garis kemiskinan

Pada periode September 2015 – Maret 2016 terjadi peningkatan jumlah dan persentase penduduk miskin sebesar 14,18 ribu jiwa dengan perubahan 0,38 persen point..

 Komposisi penduduk miskin menurut daerah tempat tinggal di Riau pada Bulan Maret 2010 di perdesaan sebesar 58,24 persen, sedangkan di perkotaan sebesar 41,76 persen dari

Persentase penduduk miskin yang tinggal di daerah perkotaan pada bulan Maret 2015 terhadap penduduk miskin Jawa Barat adalah sebesar 59,48 persen... Berita

Hal ini mengindikasikan bahwa tingkat pendapatan sebagian penduduk miskin di daerah perdesaan khususnya penduduk miskin transient pada Maret 2015 tidak mengalami

Pada bulan Maret 2007, sebagian besar (63,52 persen) penduduk miskin berada di daerah perdesaan, sementara pada bulan Maret 2008 persentase ini hampir sama yaitu 63,47

Selama periode Maret – September 2015, Garis Kemiskinan Maluku Utara naik sebesar 5,31 persen atau sekitar delapan belas ribu rupiah, yaitu dari Rp... Garis kemiskinan