PERBEDAAN PERILAKU SEKSUAL REMAJA DI SEKOLAH HOMOGEN DAN HETEROGEN
Ursula Kanindya Chrysanthea ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan perilaku seksual remaja di sekolah homogen dan heterogen. Hipotesis awal adalah ada perbedaan perilaku seksual remaja di sekolah homogen dan remaja di sekolah heterogen. Di mana perilaku seksual remaja di sekolah heterogen lebih tinggi dari pada perilaku seksual remaja di sekolah homogen. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 140 orang yang terdiri dari remaja di sekolah homogen laki-laki dan perempuan serta remaja di sekolah heterogen. Penelitian ini menggunakan skala perilaku seksual sebagai alat ukur, yang dibuat sendiri oleh penulis. Reliabilitas skala perilaku seksual yang didapatkan sebesar 0,816. Analisis data dilakukan dengan menggunakan Nonparametric Mann-Whitney U. Hasil Mann-Whitney U menunjukkan spesifikasi p= 0,000<0,05 maka ada perbedaan pada perilaku seksual remaja di sekolah homogen dan heterogen. Kemudian jika dilihat dari mean yang dimiliki setiap kelompok, sekolah homogen memiliki mean sebesar 5,74 dan sekolah heterogen sebesar 13,03 menandakan bahwa remaja di sekolah heterogen memiliki perilaku seksual yang lebih tinggi dibandingkan dengan di sekolah homogen. Kesimpulannya ada perbedaan perilaku seksual remaja, di sekolah homogen dan heterogen.
THE DIFFERENCE OF SEXUAL BEHAVIOUR ON ADOLESCENCE IN HOMOGENY SCHOOL AND HETEROGEN SCHOOL
Ursula Kanindya Chrysanthea
ABSTRACT
This study was aimed to see differences in adolescence sexual behavior in homogeneous and heterogeneous school. Early hypothesis was conclusion there were differences for the adolescence sexual behavior in homogeneous and heterogeneous school. Initial hypothesis was that sexual behavior of adolescence in the heterogeneous school was higher than in the homogeneous school. The subjects of this study were 140 people consisting of adolescence in homogeneous school-boys and girls as well as adolescence in heterogeneous school. This study used the measurement of sexual behavior which was made by the author herself. The reliability of sexual behavior measurement obtained was 0.816. The data was analysed using Nonparametric Mann-Whitney U. The result of Mann-Whitney U indicated the specification of p = 0.000 < 0.05 then there was the difference in the sexual behavior of adolescence in the homogeneous and heterogeneous school. Furthermore, if we saw from the maean owned by each group, homogeneous school had mean 5,74 and heterogeneous school by 13,03 which indicated that adolescence of heterogeneous school had higher sexual behavior than in homogeneous school. In conclusion there were differences for adolescence sexual behavior in homogeneous and heterogeneous school.
PERBEDAAN PERILAKU SEKSUAL REMAJA DI SEKOLAH HOMOGEN DAN HETEROGEN
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi
Program Studi Psikologi
Oleh :
Ursula Kanindya Chrysanthea NIM : 099114079
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA
iii
MOTTO
Impian Ada Di Tengah Peluh
Bagai Bunga Yang Mekar Secara Perlahan
Usaha Keras Itu Tak Akan Mengkhianati
(JKT 48)
I Can Make It Through The Rain
I Can Stand Up Once Again,
On My Own
And I Know That I’m Strong Enough
To Mend
And Every Time I Feel Afraid I Hold Tighter To My Faith
And I live One More Day And I Make It Though The Rain
iv
PERSEMBAHAN
Tuhan Yesus dan Bunda Maria khususnya karena telah berkenan
menyampaikan ujub doa Novena 3 Salam Maria yang hampir setiap hari di
daraskan olehku, pada Tuhan serta mengabulkannya. “Terima kasih banyak Tuhan dan Ibu Maria berkat yang berlimpah yang sudah diberikan kepadaku, Ichan sayang sekali sama Tuhan Yesus dan Bunda Maria ”.
Bapak dan Mama. Terima kasih, terima kasih banyak untuk semua hal yang
telah diberikan pada penulis. Waktu, tenaga, pikiran, dana dan semua hal
yang benar-benar membantuku menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
“banyak..banyak terima kasih ya ma, pak udah mau anter aku kesana
kemari. Ngurusin surat perijinan, nyebar kuisioner dan masih banyak lagi. Terima kasih banyak, sekarang saatnya aku gantian membahagiakan mama sama bapak ya”.
Keluarga besar Soelanto. Semua yang tidak bisa disebutkan satu persatu
terima kasih doa dan dukungannya untukku selama ini.
Sahabat-Sahabatku.Ciwiiiis. Terima kasih banyak untuk Fransiska Eka
Budiarti, Angela Kenya Astari, Nathasya Dea, Putri Sudharsana dan Sisilia
v
Kalian adalah salah satu motivasi penulis untuk bisa segera menyelesaikan
skripsi ini. Semoga kita bisa menjadi sahabat untuk selamanya .
Mas Panca Sona Aji selaku pelatih PSM CANTUS FIRMUS Universitas
Sanata Dharma. Terima kasih untuk semua petuah-petuah yang diberikan
kepadaku dalam semua aspek kehidupannya. Mas Mbong akan selalu
diingat sampai kapanpun.
Untuk semua teman-teman di paduan suara mahasiswa Cantus Firmus
angkatan 2009. I love you all. Semoga kita bisa bertemu lagi di lain
kesempatan dan bernyanyi bersama kembali.
Unit Kegiatan Mahasiswa CANTUS FIRMUS. Beribu terima kasih untuk
semua hal yang sudah diberikan padaku dalam bentuk pengalaman. Dari
awal kuliah hingga penulis dapat menyelesaikan kuliah saat ini banyak hal
yang sudah didapatkan dan hal tersebut merupakan hal berharga yang
akan diingat sampai kapanpun olehku. Terima kasih. “aaah i love yo so
vi
Teman-teman satu angkatan, psikologi 09 semuanya tanpa terkecuali
terima kasih banyak untuk waktu-waktu yang telah kita lewati bersama.
Semoga sukses dalam semua hal di hidup kalian.
Untuk Ruthie, Albert, Gita, Cicik, Dinda, Nao, Awik, Xyannie, Dicky
danKeket terima kasih sudah mau meluangkanwaktumembantuku dan
menyemangatiku sampai akhirnya aku bisa menyelesaikan skripsi ini.
Terima kasih.
Lagu-lagu yang senantiasa menemaniku mengerjakan skripsiku terima
kasih sudah memberikan banyak semangat untuk mengerjakan skripsi
yang sangat menguras banyak pikiran ini. Tapi sekarang sudah selesai
viii
PERBEDAAN PERILAKU SEKSUAL REMAJA DI SEKOLAH HOMOGEN DAN HETEROGEN
Ursula Kanindya Chrysanthea ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan perilaku seksual remaja di sekolah homogen dan heterogen. Hipotesis awal adalah ada perbedaan perilaku seksual remaja di sekolah homogen dan remaja di sekolah heterogen. Di mana perilaku seksual remaja di sekolah heterogen lebih tinggi dari pada perilaku seksual remaja di sekolah homogen. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 140 orang yang terdiri dari remaja di sekolah homogen laki-laki dan perempuan serta remaja di sekolah heterogen. Penelitian ini menggunakan skala perilaku seksual sebagai alat ukur, yang dibuat sendiri oleh penulis. Reliabilitas skala perilaku seksual yang didapatkan sebesar 0,816. Analisis data dilakukan dengan menggunakan Nonparametric Mann-Whitney U. Hasil Mann-Whitney U menunjukkan spesifikasi p= 0,000<0,05 maka ada perbedaan pada perilaku seksual remaja di sekolah homogen dan heterogen. Kemudian jika dilihat dari mean yang dimiliki setiap kelompok, sekolah homogen memiliki mean sebesar 5,74 dan sekolah heterogen sebesar 13,03 menandakan bahwa remaja di sekolah heterogen memiliki perilaku seksual yang lebih tinggi dibandingkan dengan di sekolah homogen. Kesimpulannya ada perbedaan perilaku seksual remaja, di sekolah homogen dan heterogen.
ix
THE DIFFERENCE OF SEXUAL BEHAVIOUR ON ADOLESCENCE IN HOMOGENY SCHOOL AND HETEROGEN SCHOOL
Ursula Kanindya Chrysanthea
ABSTRACT
This study was aimed to see differences in adolescence sexual behavior in homogeneous and heterogeneous school. Early hypothesis was conclusion there were differences for the adolescence sexual behavior in homogeneous and heterogeneous school. Initial hypothesis was that sexual behavior of adolescence in the heterogeneous school was higher than in the homogeneous school. The subjects of this study were 140 people consisting of adolescence in homogeneous school-boys and girls as well as adolescence in heterogeneous school. This study used the measurement of sexual behavior which was made by the author herself. The reliability of sexual behavior measurement obtained was 0.816. The data was analysed using Nonparametric Mann-Whitney U. The result of Mann-Whitney U indicated the specification of p = 0.000 < 0.05 then there was the difference in the sexual behavior of adolescence in the homogeneous and heterogeneous school. Furthermore, if we saw from the maean owned by each group, homogeneous school had mean 5,74 and heterogeneous school by 13,03 which indicated that adolescence of heterogeneous school had higher sexual behavior than in homogeneous school. In conclusion there were differences for adolescence sexual behavior in homogeneous and heterogeneous school.
xi
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya penjatkan tak henti-hentinya pada Tuhan Yesus
Kristus dan Bunda Maria yang telah berkenan menjaga dan membantu penulis
dalam menyelesaikan skripsi yang berjudul “Perbedaan Perilaku Seksual Remaja
di Sekolah Homogen dan Heterogen” ini.
Penulis juga menyadari banyak pihak yang telah berperan serta baik dalam
memberikan waktu, tenaga dan pikiran sehingga penulis mampu menyelesaikan
skripsi ini dengan baik. Oleh karena itu penulis ingin mengucapkan terima kasih
kepada :
1. Tuhan Yesus dan Bunda Maria khususnya karena telah berkenan
menyampaikan ujub doa Novena 3 Salam Maria yang hampir setiap hari di
daraskan olehpenulis, pada Tuhan serta mengabulkannya.
2. Ibu Dra. Lusia Pratidarmanastiti. M.S, terima kasih karena dengan sabar telah
membimbingpenulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
3. Ibu Ratri Sunar Astuti, M.Si. sebagai penguji, terimakasih sudah
menghantarkan saya pada kelulusan.
4. Ibu MM. Nimas Eki. S., M.Si, Psi sebagai penguji, terima kasih sudah
menghantarkan saya pada kelulusan.
5. Romo Kun selaku wakil rektor yang selalu memberikan saya arahan dan
masukan yang luar biasa berarti. Terima kasih untuk “surat saktinya” tanpa itu
xii
6. Bapak C.Siswa Widyatmoko, M.Psi selaku dosen pembimbing akademik,
terima kasih sudah selalu membimbing dan memberikan semangat serta
masukan selama penulis mengerjakan skripsi dan dapat menyelesaikannya
dengan baik.
7. Seluruh dosen dan karyawan fakultas Psikologi. Terima kasih atas bimbingan
dan bantuannya selama ini.
8. Kepala sekolah, guru serta semua staff dari SMA Stella Duce 1, Kolose De
Britto dan Bopkri 1. Terima kasih atas kerjasamanya dan kesediannya untuk
membolehkan penulismengadakan penelitian di sekolah dimana bapak dan ibu
mengajar serta bekerja.
9. Bapak dan Mama. Terima kasih, terima kasih banyak untuk semua hal yang
telah diberikan pada penulis. Waktu, tenaga, pikiran, dana dan semua hal yang
benar-benar membantupenulis menyelesaikan skripsi ini dengan baik
10. Ciwiiiis. Terima kasih banyak untuk Fransiska Eka Budiarti, Angela Kenya
Astari, Nathasya Dea, Putri Sudharsana dan Sisilia Arini untuk semangat dan
dukungan yang selalu kalian berikan kepadasaya. Kalian adalah salah satu
motivasi penulis untuk bisa segera menyelesaikan skripsi ini. Semoga kita bisa
menjadi sahabat untuk selamanya.
11. Mas Panca Sona Aji selaku pelatih PSM CANTUS FIRMUS Universitas
Sanata Dharma. Terima kasih untuk semua petuah-petuah yang diberikan
kepadapenulis dalam semua aspek kehidupannya. Mas Mbong akan selalu
xiii
12. Unit Kegiatan Mahasiswa CANTUS FIRMUS. Beribu terima kasih untuk
semua hal yang sudah diberikan padapenulis dalam bentuk pengalaman. Dari
awal kuliah hingga penulis dapat menyelesaikan kuliah saat ini banya hal yang
sudah didapatkan dan hal tersebut merupakan hal berharga yang akan diingat
sampai kapanpun olehpenulis.
13. Teman-teman satu angkatan, psikologi 09 semuanya tanpa terkecuali terima
kasih banyak untuk waktu-waktu yang telah kita lewati bersama. Semoga
sukses dalam semua hal di hidup kalian.
Penulis,
xiv DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN MOTTO ... iv
HALAMAN PERSEMBAHAN ... v
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... viii
ABSTRAK ... ix
ABSTRACT ... x
HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... xi
KATA PENGANTAR ... xii
DAFTAR ISI ... xiv
DAFTAR TABEL ... xvii
DAFTAR LAMPIRAN ... xviii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 7
C. Tujuan Penelitian ... 7
D. Manfaat Penelitian ... 7
xv
B. Perilaku Seksual ... 18
1. Perilaku Seksual ... 18
2. Tahap PerilakuSeksual ... 19
3. Faktor-faktor Penyebab Remaja Melakukan Perilaku Seksual ... 24
C. Sekolah Homogen dan Heterogen ... 28
1. Sekolah ... 28
D. Perbedaan Perilaku Seksual Remaja di Sekolah Homogen dan Heterogen ... 30
E. Hipotesis ... 32
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 34
A. Jenis Penelitian... 34
B. Variabel Penelitian ... 34
C. Definisi Operasional Variabel Penelitian ... 34
1. Perilaku Seksual ... 34
2. Sekolah Homogen dan Heterogen ... 35
D. Subjek Penelitian ... 35
xvi
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 41
A. Pelaksanaan Penelitian ... 41
B. Deskripsi Subjek Penelitian ... 41
C. Deskripsi Data Penelitian ... 42
B. Keterbatasan Penelitian ... 50
xvii
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Penskoran Item ... 37
Tabel 2 Karakteristik Subjek Penelitian ... 42
Tabel 3 Deskripsi Data Penelitian ... 43
Tabel 4 Uji Normalitas Perilaku Seksual SMA Homogen One-Sample
Kolmogorov-Smirnov Test ... 44 Tabel 5 Uji Normalitas Perilaku Seksual SMA Heterogen One-Sample
Kolmogorov-Smirnov Test ... 45 Tabel 6 Uji Homogenitas di Sekolah Homogen dan Heterogen, Levene’s
xviii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Surat Izin dari Dinas Perizinan Kota Yogyakarta ... 58
Lampiran 2 Surat Keterangan telah Melakukan Penelitian di SMA Stella
Duce 1 Yogyakarta ... 60
Lampiran 3 Surat Keterangan telah Melakukan Penelitian di SMA Kolose
De Britto Yogyakarta ... 62
Lampiran 4 Surat Keterangan telah Melakukan Penelitian di SMA Bopkri
1 Yogyakarta ... 64
Lampiran 5 Skala Perilaku Seksual ... 66
Lampiran 6 Reliabilitas Skala Perilaku Seksual ... 72
Lampiran 7 Uji Normalitas Perilaku Seksual di Sekolah Homogen
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test ... 74 Lampiran 8 Uji Normalitas Perilaku Seksual Remaja di Sekolah
Heterogen One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test ... 76
Lampiran 9 Uji Homogenitas dan Uji Beda Independent Sample T-Test
Remaja di Sekolah Homogen dan Heterogen, Levene’s Test
for Equality of Variances ... 78 Lampiran 10 Mann-Whitney U Remaja di Sekolah Homogen dan
Heterogen, Levene’s Test for Equality of Variances ... 80
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Seseorang masuk usia remaja saat ia telah mengalami kematangan
seksual dan fungsi reproduksi. Hal ini ditandai dengan adanya pubertas
yang merupakan titik klimaks untuk perkembangan selanjutnya. Freud
dalam Santrock (2002) mengatakan pada masa remaja seseorang telah
memasuki fase genital dimana kenikmatan yang didapatkan berasal dari
alat kelamin yang kemudian memunculkan sexual drive atau dorongan
seksual pada lawan jenis.
Pubertas untuk anak perempuan ditandai dengan menstruasi
pertama kali atau disebut dengan menarche. Untuk anak laki-laki pubertas
ditandai dengan peristiwa mimpi basah atau disebut juga dengan noctural
emission (Papalia, Olds, Feldman, 2004; Stone & Church, 1956; Kimmel & Weiner,1985). Hal inilah yang menjadi tanda awal bahwa mereka telah
memasuki masa remaja.
Remaja atau adolescence berasal dari bahasa Latin yang berarti
tumbuh atau tumbuh kearah kedewasaan. Batasan umur seseorang yang
dikatakan remaja ternyata berbeda jika dilihat dari sudut pandang jenis
kelamin. Untuk perempuan, mereka sudah bisa dikatakan remaja saat
berusia 13 dan untuk laki-laki di usia 14 tahun, 1 tahun lebih lambat dari
perempuan atau laki-laki akan mulai berpasang-pasangan dan menjalin
hubungan dengan lawan jenis (Schienfeld dalam Hurlock, 1959).
Remaja masuk dalam masa kebingungan identitas. Hal tersebut
dapat membawa mereka pada hal-hal buruk atau yang biasa disebut
dengan kenakalan remaja. Contohnya adalah mengkonsumsi obat-obat
terlarang dan minuman keras, terjerumus dalam pergaulan bebas atau free
sex (Erikson dalam Santrock, 2002). Pergaulan bebas atau free sex terjadi karena pada masa remaja mereka tidak dapat melakukan keinginan mereka
secara tuntas dalam berperilaku seksual dan perilaku seksual mereka
masih dibatasi oleh norma yang berlaku di masyarakat dimana di usia
remaja belum diperbolehkan melakukan hubungan fisik dengan lawan
jenis tanpa adanya ikatan pernikahan yang sah. Sedangkan dorongan
seksual yang dibarengi dengan keingintahuan mereka yang besar sudah
mulai ada ketika mereka memasuki masa remaja.
Dewasa ini, menurut banyak penelitian terlihat tingginya jumlah
remaja yang sudah pernah melakukan hubungan seks pranikah di
Indonesia. Pangkahila dalam Soejoeti (2001) mengatakan bahwa
penelitian yang dilakukan pada 633 remaja di kota besar di Bali
menunjukkan 27% remaja laki-laki dan 18% remaja perempuan pernah
melakukan hubungan badan. Hal tersebut juga terlihat dari penelitian
yang dilakukan pada remaja oleh Bandi dalam Soejoeti (2001) di Jakarta
dan Yogyakarta yang prosentasenya 4,1% dari 3967 remaja pernah
PKBI & Kutanegara,dkk dalam Suwarni (2009) memperlihatkan remaja di
Kalimantan Barat dan di kota Pontianak khususnya menunjukkan angka
yang tidak jauh berbeda. Penelitian serupa yang dilakukan oleh
Suryoputro, Ford, Shaluhiyah (2006) di berbagai sekolah di Indonesia
menampilkan prosentase serupa mengenai perilaku seksual remaja disana.
Perilaku seksual sendiri dapat diartikan sebagai segala macam
bentuk kegiatan yang tujuannya untuk meyalurkan hasrat seksual yang
dimiliki, biasanya terjadi diantara dua orang yang berbeda jenis
kelaminnya (Sarwono,1989). Menurut Masters,dkk (1982) dan menurut
Rathus, dkk (2008) terdapat tingkatan perilaku seksual yang biasa
dilakukan oleh seseorang. Tingkatan tersebut yaitu memegang dan
bergandengan tangan yang berarti salah satu bentuk sentuhan, berpelukan,
berciuman, menyentuh dengan memberi stimulasi pada bagian tubuh yang
sensitif, memegang alat kelamin atau memberi stimulasi pada alat vital,
petting, oral genital, anal sex, dan coital sex play/vaginal sex
Perilaku seksual tersebut dapat dipicu atau dipengaruhi oleh
beberapa faktor. Beberapa diantaranya ialah faktor gender, keluarga,
pendidikan seksualitas di sekolah dan relasi heteroseksual.
Relasi heteroseksual di sekolah homogen dan di sekolah heterogen
berbeda. Di sekolah homogen, remaja yang bersekolah di sana memiliki
kesempatan yang lebih kecil untuk memiliki relasi heteroseksual
diakibatkan, relasi di sekolah homogen kebanyakan atau lebih sering
dengan teman yang memiliki jenis kelamin yang sama.
Sekolah menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ialah bangunan
atau lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat menerima dan
memberi pelajaran (Tim penyusun kamus pusat pembinaan dan
pengembangan bahasa, 1995/1996). Sekolah dapat dibagi menjadi 2 tipe
yaitu sekolah homogen dan sekolah heterogen.
Sekolah heterogen berarti sekolah dengan murid yang memiliki
jenis kelamin berbeda di dalamnya yaitu murid laki-laki dan perempuan.
Menurut KBBI (1995/1996) heterogen berarti terdiri atas berbagai unsur
yang berbeda sifat atau berlainan jenis. Jadi sekolah heterogen dapat
diartikan sebagai lembaga atau bangunan yang muridnya terdiri dari jenis
kelamin yang berbeda yaitu laki-laki dan perempuan.
Di sekolah heterogen remaja laki-laki dan perempuan mulai
berteman dengan remaja lain yang berbeda jenis kelamin, hal ini kemudian
dapat memunculkan perasaan suka terhadap mereka satu sama lain
(Sudariyanti, 2011) yang memungkinkan untuk menarik atau
memunculkan pula hasrat seksual yang mereka miliki. Untuk para remaja
yang bersekolah di sekolah heterogen, tugas-tugas perkembangan yang
dimiliki oleh remaja yaitu salah satunya memperoleh hubungan dengan
teman-teman sebaya antara dua jenis kelamin (Garrison dalam Mappiare,
memunculkan hasrat seksual yang dapat pula menjurus pada perilaku
seksual.
Para remaja di sekolah heterogen memiliki kemungkinan yang
lebih besar untuk melakukan perilaku seksual karena masing-masing
remaja dapat melampiaskan keinginannya untuk melakukan perilaku
seksual walaupun dalam tingkatan yang paling sederhana dengan lawan
jenis di sekolah.
Berbeda halnya dengan remaja di sekolah homogen. Homogen
menurut KBBI (1995/1996) berarti terdiri atas jenis, macam, sifat, watak
dsb yang sama. Jadi dapat disimpulkan bahwa sekolah homogen adalah
bangunan atau lembaga di mana murid yang belajar di dalamnya memiliki
jenis kelamin yang sama. Menurut data faktual yang diamati sendiri oleh
penulis, ditemukan fakta bahwa di sekolah homogen perempuan maupun
laki-laki banyak yang membicarakan tentang perilaku seksual yang sudah
pernah mereka lakukan. Pembicaraan yag dilakukan memperlihatkan
bahwa remaja di sekolah homogen sudah pernah melakukan perilaku
seksual namun pada tahap yang rendah seperti bergandengan tangan
sampai berciuman atau kissing saja.
Di sekolah homogen, remaja memiliki waktu yang lebih sedikit
untuk berkenalan serta mengenal lawan jenis mereka di sekolah. Dari situ
kecil kemungkinan munculnya hasrat seksual dalam diri mereka dan kecil
keinginan untuk menyalurkan hasrat seksual tersebut pada perilaku
Dari kedua jenis sekolah yang berbeda ternyata remaja yang
bersekolah di sana sama-sama ditemukan hasil pernah melakukan perilaku
seksual namun dalam tahapan yang berbeda. Di sekolah homogen remaja
pernah melakukan perilaku seksual namun pada tahap yang rendah.
Sedangkan di sekolah heterogen, perilaku seksual yang ada sudah pada
tahap yang lebih tinggi.
Hal ini memunculkan kemungkinan adanya hubungan antara
perilaku seksual dengan jenis sekolah. akan tetapi dari beberapa penelitian
yang dilakukan mengenai perilaku seksual di sekolah belum ada yang
meneliti kaitan perilaku seksual dengan jenis sekolah. Beberapa penelitian
tentang perilaku seksual melihat hubungannya dengan teman sebaya dan
pendidikan orang tua (Naryanti, 2001), pendidikan seksualitas dalam
keluarga dan jenis kelamin (Trisminuratri, 2006), kontrol diri (Primasari,
2004). Kemudian muncul keinginan untuk melakukan penelitian mengenai
perilaku seksual yang dikaitkan dengan jenis sekolah.
Penelitian ini penting untuk dilakukan karena, mungkin saja ada
hubungan dari perilaku seksual dengan jenis kelamin. Nantinya, setelah
melihat hasil dari penelitian ini maka dapat dilihat tingginya perilaku
seksual remaja di sekolah homogen maupun heterogen agar nantinya dapat
dipikirkan cara-cara pencegahan atau intervensi untuk menekan perilaku
seksual yang dilakukan secara bebas dan tidak bertanggung jawab pada
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan dari latar belakang yang ada penelitian ini dilakukan
untuk melihat apakah ada perbedaan perilaku seksual remaja di sekolah
homogen dan heterogen.
C.TUJUAN PENELITIAN
Tujuan dari penelitian ini ialah peneliti ingin mengetahui apakah
ada perbedaan perilaku seksual remaja di sekolah homogen dan heterogen.
Peneliti juga ingin melihat tingkat perilaku seksual saat ini di kalangan
remaja.
D. MANFAAT PENELITIAN 1. Manfaat Teoritis
Di bidang psikologi sosial, pendidikan dan perkembangan, hasil
penelitian ini berguna untuk mengembangkan dan memberikan info
tentang perilaku seksual remaja
2. Manfaat Praktis
Bagi orang tua diharapkan mampu membekali anak-anak
mereka pengetahuan tentang seksualitas serta dampak dari perilaku
seksual yang dilakukan secara bebas.
Bagi mahasiswa fakultas Psikologi, diharapkan dengan adanya
penelitian ini dapat memberi masukan untuk para mahasiswa yang ingin
heterogen yang bisa membantu mahasiswa untuk bahan pembuatan karya
9
BAB II
LANDASAN TEORI
A.REMAJA
1. Pengertian Remaja
Berdasarkan beberapa definisi atau pengertian remaja yang
disampaikan beberapa ahli seperti Hall dan Freud dalam Santrock
(2003); Jersild (1963); Meddinus & Johnson (1969) dan Seidman
(1960), maka remaja dapat diartikan sebagai masa dimana seseorang
sudah mengalami pubertas. Hal tersebut ditandai dengan tumbuh dan
berkembangnya organ reproduksi serta ketertarikan pada lawan jenis.
Perkembangan remaja yang diikuti oleh perkembangan biologis juga
diikuti oleh perkembangan kognitif dan sosio-emosional yang
didalamnya mencakup fungsi seksual, proses berpikir secara abstrak
hingga kebebasan dalam menjalin suatu relasi. Dalam hal ini
perempuan akan lebih cepat memasuki masa remajanya dibandingkan
dengan laki-laki.Pada masanya, remaja akan mengalami pergolakan
dan akan muncul konflik-konflik serta adanya perubahan suasana hati.
Dalam diri mereka, akan mulai tumbuh rasa tanggung jawab atas diri
sendiri serta lingkungan sekitar. Mereka juga mulai ada rasa atau
keinginan dalam mempersiapkan diri untuk menghadapi
Ada berbagai pendapat menurut beberapa ahli dalam
mengklasifikasikan mulai dan berakhirnya masa remaja. Menurut
Sarwono (1981) seseorang dikategorikan sebagai remaja ketika berada
pada kisaran usia antara 10 tahun sampai dengan 20 tahun, hal
tersebut sesuai dengan data yang dimiliki oleh WHO. Sedangkan
Hurlock dalam Mappiare (1982) menyatakan pada kisaran usia 12
tahun sampai 21 tahun. Ia membagi masa remaja menjadi 2 tahapan
yaitu seseorang dikatakan masuk dalam masa remaja awal ketika
berusia 12 atau 14 tahun sampai 17 tahun dan dikatakan masuk dalam
masa remaja akhir ketika berusia 17 tahun sampai 21 tahun. Santrock
(2003) memiliki pendapat yang berbeda, menurutnya seseorang
dikatakan telah memasuki usia remaja ketika berusia 10-23 tahun.
Pengklasifikasian tersebut berdasarkan pada budaya Amerika dan
kebanyakan budaya lainnya.
Dilihat dari tahap perkembangan remaja, menurut Santrock
(2003) dapat dibedakan menjadi 2 tahapan dalam klasifikasi pada
masa perkembangan remaja. Tahap-tahap tersebut ialah :
a. Masa Remaja Awal
Pada masa remaja awal, seorang remaja sedang mengenyam
pendidikan setara sekolah menengah pertama dan mencakup
kebanyakan perubahan pubertas. Masa ini berlangsung ketika
b. Masa Remaja Akhir
Seorang remaja dikatakan masuk dalam masa remaja akhir
ketika mereka berusia 17-23 tahun. Pada masa ini para remaja telah
memiliki ketertarikan kepada lawan jenis.
Selanjutnya, tahap perkembangan menurut Mappiare (1982)
dibagi menjadi 2 tahap perkembangan. Tahap tersebut ialah :
a. Masa Remaja Awal
Remaja masuk dalam kriteria remaja awal dimulai saat ia
berusia 12 atau 13 tahun sampai dengan 16 tahun.
b. Masa Remaja Akhir
Remaja masuk dalam kriteria remaja akhir saat ia berusia
17-18 tahun.
Berdasarkan beberapa teori tentang remaja dapat disimpulkan
bahwa remaja ialah masa menuju kedewasaan. Seseorang dikatakan
masuk dalam fase remaja ketika ia berusia 10-23 tahun. Perubahan mulai
terjadi di berbagai aspek kehidupan seperti perubahan kognitif,
sosioemosional bahkan perubahan suasana hati. Masa remaja ini disertai
juga dengan matangnya fungsi organ seksual dan reproduksi seseorang.
Secara beriringan, ketika fungsi organ seksual tersebut matang maka
2. Perkembangan yang Terjadi di Masa Remaja a. Perkembangan Fisik
Masa remaja adalah masa dimana segala aspek dalam
kehidupan seseorang, khususnya perkembangan fisik berkembang
secara maksimal. Menurut Muss dalam Sarwono (1989) yang tidak
jauh berbeda dengan teori mengenai kematangan organ seksual dan
perkembangan tinggi badan dan berat badan menurut Santrock
(2003) tahap-tahap perkembangan remaja dapat dibagi menjadi :
1) Perkembangan fisik pada remaja perempuan
a) Mencapai pertumbuhan tulang secara maksimal (badan
menjadi tinggi, anggota badan menjadi lebih panjang)
b) Mengalami haid (sel telur siap dibuahi)
c) Pertumbuhan payudara
d) Tumbuh bulu yang halus dan lembut yang berwarna gelap di
kemaluan dan ketiak
e) Bulu kemaluan menjadi keriting
2) Pertumbuhan fisik pada anak laki-laki
a) Pertumbuhan tulang secara maksimal (tinggi badan bertambah)
b) Mengalami ejakulasi (keluarnya air mani) pada peristiwa
mimpi basah
c) Testis (buah pelir) membesar
e) Tumbuh serta bertambah gelap dan tebal rambut-rambut halus
di wajah (kumis, jenggot)
f) Tumbuh bulu halus di dada
g) Bulu kemaluan menjadi keriting
b. Perkembangan Sosial
Perkembangan sosial menurut Scheinfeld dalam Hurlock
(1959) seorang remaja mengalami perubahan pada umur yang
berbeda. Perubahan tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut :
1) Saat seorang remaja berumur 10-12 tahun, baik remaja
perempuan atau remaja laki-laki masih memilih untuk bermain
dan memilih teman bermain yang memiliki gender yang sama
dengan mereka. Jadi dapat dikatakan bahwa remaja laki-laki akan
bermain hanya dengan remaja laki-laki dan remaja perempuan
juga akan bermain hanya dengan remaja perempuan.
2) Saat remaja berusia 13-14 tahun, mereka masih memiliki
kecenderungan untuk bermain dengan teman remaja yang
memiliki jenis kelamin sama, namun ada perbedaan untuk remaja
perempuan. Mereka sudah mulai tertarik dengan remaja laki-laki
dan mencoba menarik perhatian teman laki-laki mereka.
3) Saat memasuki usia 14-16 tahun, remaja laki-laki mulai
menujukkan ketertarikan dengan remaja perempuan. Beberapa
4) Ketika mereka mulai berumur 16-17 tahun, baik laki-laki
maupun perempuan banyak yang mulai menjalin hubungan
dengan lawan jenis. Pergi berpasang-pasangan dengan teman
sebaya lain atau dalam satu grup merupakan hal yang wajar
pada tahap ini.
c. Perkembangan Emosi
Masa remaja memasuki periode “badai dan tekanan”, masa dimana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan
fisik dan kelenjar. Tingginya emosi mereka, diakibatkan
karenaremaja laki-laki dan perempuan berada dibawah tekanan
sosial dan menghadapi kondisi baru, sedangkan selama masa
kanak-kanak ia kurang mempersiapkan diri untuk menghadapi
keadaan-keadaan itu (Erikson dalam Santrock, 2002).
d. Perkembangan Kognitif
Menurut Piaget dalam Latifah (2008) dikatakan bahwa
perkembangan kognitif pada remaja berada pada tahap operasi
formal yaitu tahap berfikir yang dicirikan dengan kemampuan
berfikir secara logis, abstrak, hipotesis, dan ilmiah. Operasional
berpikir tidak lagi terbatas pada objek konkrit seperti pada usia
sebelumnya. Saat ini remaja memiliki kemampuan yang lebih baik
dalam berpikir hipotetik dan logis.
Perkembangan remaja terdiri dari perkembangan fisik, sosial,
mulai muncul hasrat seksual dalam diri mereka.Di usia 14-17, wajar
bagi para remaja untuk mulai berpasang-pasangan dan berhubungan
lebih intim dengan lawan jenis.
3. Tugas-tugas Perkembangan Remaja
Tugas-tugas perkembangan remaja dapat diartikan sebagai
sebuah petunjuk yang membuat seorang remaja mengerti dan
memahami apa yang menjadi tuntutan masyarakat dan lingkungan
kepada remaja. Tugas perkembangan juga dapat diartikan sebagai
petunjuk bagi seseorang untuk menuntun mereka menghadapi masa
depan. (Mappiare, 1982).
Menurut Havinghurst dalam Mappiare (1982), tugas-tugas yang
dimiliki oleh remaja antara lain :
a. Menerima keadaan psikisnya dan menerima peranannya sebagai pria
atau wanita
b. Menjalin hubungan-hubungan baru dengan teman-teman sebaya baik
sesama jenis maupun lain jenis kelamin.
c. Memperoleh kebebasan secara emosional dari orang tuanya dan
orang-orang dewasa lain.
d. Memperoleh kepastian dalam hal kebebasan pengaturan ekonomi.
e. Memilih dan mempersiapkan diri ke arah suatu pekerjaan atau
f. Mengembangkan keterampilan-keterampilan konsep-konsep
intelektual yang diperlukan dalam hidup sebagai warganegara yang
terpuji.
g. Menginginkan dan dapat berperilaku yang diperbolehkan oleh
masyarakat.
h. Mempersiapkan diri untuk pernikahan dan hidup berkeluarga.
i. Menyusun nilai-nilai kata hati yang sesuai dengan gambaran dunia,
yang diperoleh dari ilmu pengetahuan yang cukup.
Selanjutnya 6 tugas perkembangan menurut Garrison dalam
Mappiare (1982) mengatakan :
a. Remaja dapat menerima keadaan jasmani yang berarti ketika periode
pubertas anak remaja diharapkan berkembang pula citra dan sikap
diri. Hal ini dikarenakan karena umumnya mereka memiliki
kekhawatiran jika keadaan dirinya tidak sebagus/seindah
teman-teman sebayanya.
b. Memperoleh hubungan baru dan lebih matang dengan teman-teman
sebaya antara dua jenis kelamin. Akibat dari adanya kematangan
seksual, remaja mulai memulai hubungan terutama antara dua jenis
kelamin yang berbeda. Sangat penting bahwa remaja harus mendapat
penerimaan dari kelompok teman sebaya lawan jenis maupun
sesama jenis agar ia merasa dibutuhkan dan berharga.
c. Menerima keadaan sesuai jenis kelaminnya dan belajar hidup seperti
menerima keadaan diri sebagai pria atau wanita dengan sifat dan
tanggung jawab kaumnya masing-masing.
d. Memperoleh kebebasan emosional dari orang tua dan orang dewasa
lainnya. Mengartikan bahwa mereka dituntut untuk tidak lagi
mengalami perasaan bergantung secara emosi dengan keluarga
mereka seperti contohnya sewaktu anak-anak mereka akan ikut
menangis jika orang tua mereka menangis.
e. Memperoleh kesanggupan berdiri sendiri dalam hal-hal yang
bersangkutan dengan ekonomi atau keuangan. Remaja diharapkan
sedikit demi sedikit untuk tidak bergantung dari bantuan ekonomi
keluarga dengan mendapatkan pekerjaan (jangka pendek) dan mulai
mempersiapkan diri memasuki lapangan kerja. Selanjutnya remaja
diharapkan punya keterampilan dalam pengaturan pengeluaran uang
belanja, memprioritaskan apa yang akan dibelanjakan dan mengatur
penggunaan barang yang dibeli.
f. Mendapatkan perangkat nilai-nilai hidup dan falsafah hidup. Berarti
bahwa remaja diharapkan punya standar dalam berpikir, sikap dan
perasaan juga perilaku yang dapat menuntun dan mewarnai berbagai
aspek kehidupannya di masa dewasa nanti.
Tugas perkembangan adalah panduan untuk membantu seseorang
mengerti dan memahami tanggung jawabnya di dalam masyarakat dan
lingkungan dengan usia yang dimiliki seseorang. Tugas tersebut meliputi
sanggup mandiri dalam ekonomi, menjalin relasi dengan lawan jenis,
memiliki prinsip hidup sendiri dan mengembangkan konsep intelektual
yang didapatkan dari sekolah.
Selanjutnya dapat ditarik kesimpulan bahwa remaja ialah masa
dimana seseorang menuju ke arah kedewasaan. Seseorang dikatakan
masuk dalam masa remaja ketika ia berusia 10-23 tahun. di usia 14-17
wajar bagi mereka untuk mulai berpasang-pasangan dengan lawan jenis.
Proses ini diawali dengan dimulainya pubertas, matangnya fungsi organ
reproduksi, berkembangnya fisik dan berkembangnya relasi dengan lawan
jenis serta berkembangnya konsep-konsep intelektual yang dimiliki.
B. PERILAKU SEKSUAL 1. Perilaku Seksual
Perilaku seksual adalah berbagai macam bentuk kegiatan yang
berhubungan dengan aktifitas sosial yang bertujuan untuk
menyalurkan hasrat seksual. Biasanya dilakukan oleh dua orang yang
berbeda jenis kelamin (Sarwono, 1989).
Pada sebuah penelitian yang dilakukan oleh Impett & Tolman
(2006) perilaku seksual yang biasa diteliti ialah mengenai perilaku
seksual laki-laki namun pada remaja perempuan jarang diteliti dan
dilihat sampai dampak dari perilaku seksualnya terlihat seperti
kehamilan dan juga penyakit seksual. Banyak penelitian menunjukkan
ternyata mereka telah memiliki pengalaman tentang seksualitas. Dapat
ditarik kesimpulan bahwa saat mengenyam pendidikan di SMA mereka
sudah pernah melakukan hubungan seksual. Namun menurut More &
Davidson, Sawyer & Smith, dkk. dalam Impett & Tolman (2006)
terdapat dampak dari perilaku seksual yang mereka lakukan seperti
perasaan bersalah, rasa malu, rasa marah dan rasa kecewa.
Dari beberapa teori diatas perilaku seksual berarti kegiatan yang
dilakukan oleh seseorang untuk menyalurkan hasrat seksual yang ada
dalam diri mereka. Saat ini remaja yang duduk di bangku SMA banyak
yang sudah melakukan hubungan seksual di luar pernikahan.
2. Tahap Perilaku Seksual
Selanjutnya jika dilihat dari tahapan perilaku seksual menurut
Masters dkk (1982), tahapan tersebut dibagi menjadi :
g. Memegang dan bergandengan tangan
Memegang atau bergandengan tangan merupakan salah satu
bentuk sentuhan. Sentuhan merupakan bentuk perilaku seksual dan
bisa diartikan menjadi beberapa hal. Sentuhan dapat berarti
komunikasi contohnya memberi ucapan selamat. Sentuhan juga
dapat berarti melakukan sesuatu untuk mendapat kepuasan seksual.
Pada pengertian paling dalam, sentuhan dapat diartikan memberi
h. Berpelukan
Merupakan simbol afeksi yang gunanya untuk memberikan
rasa nyaman dan percaya pada pasangan
i. Berciuman
Berciuman adalah salah satu bentuk sentuhan yang berarti
simbol afeksi. Berciuman juga dapat bersifat erotik. Ciuman dibagi
menjadi 2 jenis. Jenis pertama ialah ciuman ringan atau simple
kissing seperti mencium kening atau mencium pipi yang masuk dalam simbol afeksi. Kemudian jenis kedua ialah ciuman sensual
yang dapat membangkitkan gairah seksual seperti ciuman di bibir
atau ciuman di leher (necking) .
j. Menyentuh dengan memberi stimulasi pada bagian tubuh yang
sensitif.
Tahapan ini dapat dicontohkan seperti menyentuh atau
menstimulasi payudara. Biasanya dilakukan oleh pria kepada wanita.
k. Memegang alat kelamin
Memberi stimulasi pada alat vital untuk memberi kesenangan
seksual. Hal ini dilakukan karena alat vital merupakan bagian yang
sangat sensitif terhadap sentuhan.
l. Petting
Petting adalah kegiatan memberi kenikmatan seksual tanpa memasukan penis dalam vagina. Hal ini dilakukan sebagai upaya
penetrasi (memasukkan penis ke dalam vagina). Tingkatan ini disebut juga tahapan mendekati hubungan seksual secara utuh.
m. Oral genital
Oral genital berarti memberi stimulasi genital dengan mulut. Pemberian stimulasi ini juga biasa disebut coital sex. Tahapan ini
juga disebut fellatiokarena memberikan stimulus dan kenikmatan
seksual lewat mulut dan lidah. Apabila memberi stimulus pada alat
vital wanita disebut dengan cunnilingus. Seseorang melakukan
tahapan ini dengan cara menjilat,menghisap, berciuman dan gigitan.
n. Anal sex
Anal sex berarti perilaku seksual dengan memasukan alat kelamin pria atau benda lain melalui dubur pasangannya. Tekhnik ini
biasa dilakukan oleh pasangan homoseksual.
o. Coital sex play/vaginal sex
Perilaku seksual ini merupakan perilaku seksual yang paling
wajar dilakukan oleh pasangan heteroseksual. Pada tahap ini penis
dimasukkan ke dalam vagina.
Adapun tahapan perilaku seksual menurut Rathus, Nevid dan
Fichner (2008) terdiri dari :
a. Foreplay atau perilaku seksual yang dilakukan tanpa adanya penetrasi alat kelamin. Seperti : berpelukan, berciuman, petting, dan
1) Kissing : gerakan menyesap atau menyedot bibir dan lidah pasangan yang menyebabkan terjadinya saling bertukar ludah
dari mulut pasangannya.
(a)Simple kissing : dalam berciuman, pasangan sama-sama tetap menjaga mulut agar tertutup, dapat pula mulai menjilat bibir
pasangan dengan lidah atau menggigit dengan perlahan
bagian bawah bibir pasangan
(b)Deep Kissing : gaya berciuman ini disebut juga dengan French Kiss atau berciuman dengan lidah pasangan dimasukkan ke dalam mulut pasangannya.
b. Touching
Perilaku seksual ini dilakukan untuk memberi kepuasan
seksual dengan memegang bagian tubuh yang sensitif. Hal ini dapat
dilakukan dengan 2 cara yaitu :
1) Stimulasi pada payudara
Menyentuh payudara khususnya di daerah puting,
biasanya dilakukan laki-laki pada perempuan.
2) Oral-genital Stimulation atau menstimulasi alat kelamin
(a) Fellatio: perilaku menjilat penis yang biasa dilakukan oleh
perempuan pada pasangannya
(b) Cunnilingus: menjilat atau menstimulus vagina (klitoris)
c. Sexual Intercourse
Aktifitas yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan,
dimana penis atau alat kelamin laki-laki dimasukkan ke dalam
vagina atau alat kelamin perempuan
Ditinjau dari beberapa pengertian perilaku seksual diatas, dapat
disimpulkan bahwa, perilaku seksual adalah tahapan atau tingkatan
perilaku yang digunakan untuk menyalurkan hasrat seksual yang
dimiliki oleh seseorang. Bagi remaja perempuan penelitian yang
dilakukan untuk melihat perilaku seksual yang mereka lakukan masih
sangat sedikit dibanding dengan perilaku seksual pada remaja laki-laki.
Dari banyak penelitian di Indonesia tingkat perilaku seksual di SMA juga
cukup tinggi. Kemudian jika dilihat dari tahap perilaku seksual dapat
dibagi menjadi beberapa tingkatan.
Dapat disimpulkan bahwa perilaku seksual adalah tahap dimana
tahapan tersebut dimulai dari tahap yang paling ringan atau touching
yang berfungsi untuk memunculkan kenyamanan atau dapat dikatakan
menjadi simbol afeksi yaitu berpegangan tangan dan berpelukan.
Selanjutnya tahapan yang berfungsi untuk memunculkan hasrat seksual
yaitu kissing, necking dan touching genital. Tahap yang terakhir ialah
menyalurkan hasrat seksual untuk mencapai kepuasan seksual atau
3. Faktor-faktor Penyebab Remaja Melakukan Perilaku Seksual a. Faktor Keluarga
Faktor keluarga memiliki peran penting untuk mengontrol
perilaku seksual para remaja. Dengan pemberian informasi serta
pemahaman yang utuh dari para orang tua tentang seksualitas
mampu menghambat munculnya perilaku seksual yang menyimpang
pada remaja (Welling, Nanchahal & Macdowal, 2001).
Menurut Day dalam Banner (1993) jika seorang remaja,
baik laki-laki maupun perempuan yang tinggal satu rumah dengan
ayah kandung mereka dapat memperlambat intercourse yang
pertama kali dengan pasangan.
Menurut Situmorang (2003) orang tua memiliki andil yang
lebih besar untuk menjaga remaja perempuan mereka dalam hal
perilaku seksual dengan lebih banyak memberikan pendidikan
tentang seksualitas dan membatasi pergaulan anak perempuan
mereka dibandingkan dengan anak laki-laki.
b. Faktor pendidikan tentang seksualitas di sekolah
Menurut Creagh (2004) pendidikan seksualitas di sekolah
swasta Kristiani berbeda dengan pendidikan seksualitas di sekolah
negeri. Di sekolah negeri pendidikan seksualitas dianggap tidak
penting diberikan kepada murid-murid mereka karena ada anggapan
bahwa murid yang terpilih dan bersekolah di sana merupakan murid
pasti tidak terlibat pada perilaku seksual yang tidak bertanggung
jawab. Di skeolah negeri pemberian pengetahuan seksualitas hanya
sebatas mengundang tamu dari luar untuk memberikan pengetahuan
tentang bahaya seks yang tidak bertanggung jawab
Berbeda dengan sekolah negeri, di sekolah Kristiani
pendidikan seksualitas dianggap sangat penting. Sekolah
memberikan pendidikan terbuka tentang seksualitas pada
murid-murid di sana. Guru Bimbingan Konseling di sekolah Kristen atau
Katholik menggunakan panduan UNICEF dicampur dengan akhlak
yang sesuai dengan agama Kristen atau Katholik untuk memberikan
pendidikans seks di sekolah.
c. Faktor Gender
Seorang laki-laki cenderung memiliki hasrat seksual yang
lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan. Ada pula penelitian
yang menyatakan bahwa perempuan memiliki hasrat seksual yang
cukup tinggi namun lebih bisa menahan diri untuk menyalurkannya
dibanding dengan laki-laki (Lendis dalam Mellis, 1971).
Menurut Roscoe, Kennedy dan Pope dalam Banner (1993)
perbedaan ekspektasi tentang intimasi dapat menyebabkan
pengertian mengenai sex pada laki dan perempuan. bagi
laki-laki perilaku seksual merupakan alasan mereka memiliki hubungan
dengan lawan jenis. Sedangkan bagi perempuan keterbukaan
Remaja laki-laki, menurut Situmorang (2003) memiliki
kesempatan dan kebebasan untuk melakukan hubungan seksual
dibandingkan dengan remaja perempuan. sedangkan anak
perempuan memiliki kebebasan yang lebih sedikit dalam hal
perilaku seksual.
d. Faktor Perilaku Heteroseksual
Pada penelitian yang dilakukan oleh Mutiara, Komariah
dan Karwati (2010) diketahui bahwa relasi heteroseksual dapat
memicu perilaku seksual. Menurut Hurlock (1976) relasi
heteroseksual pada remaja dapat memicu perilaku seksual.
Menurut Brannon (1996) perilaku heteroseksual merupakan
perilaku yang wajar dimiliki oleh sebagian besar orang. Ketertarikan
seksual dengan lawan jenis lebih mendominasi dibandingkan dengan
sesama jenis.
Santrock dalam Brannon (1993) mengatakan bahwa
eksplorasi dalam seksualitas merupakan hal yang wajar dalam
berkencan. Ketika remaja mulai melakukan aktifitas berkencan,
kemungkinan untuk melakukan perilaku seksual menjadi tinggi.
Menurut Hurlock (1980) ketika remaja telah matang secara
seksual maka, baik laki-laki dan perempuan akan mengembangkan
sikap baru pada lawan jenis pada kegiatan yang melibatkan
leki-laki dan perempuan. Minat baru ini bersifat romantis dan disertai
lawan jenis. Ada dua unsur yang berbeda dalam perilaku
heteroseksual yaitu perkembangan pola perilaku yang melibatkan
dua jenis kelamin yang berbeda dan perkembangan sikap yang
berhubungan dengan relasi antara kedua kelompok seks.
Pola perilaku seksual yang biasa dalam berkencan dan
berpacaran adalah berciuman, bercumbu ringan, bercumbu berat
kemudian bersenggama. Karena saat ini remaja mulai berkencan
dan mempunyai pasangan tetap lebih awal maka mereka lebih
mudah terlibat dalam perilaku seksual lebih awal pula dengan
lawan jenis. Bersenggama merupakan hal yang wajar bagi remaja
masa kini.
Dari beberapa teori diatas dapat disimpulkan bahwa perilaku seksual
adalah bentuk tindakan yang bertujuan menyalurkan hasrat seksual.
Penelitian tentang perilaku seksual pada remaja perempuan masih sangat
sedikit dibanding dengan perilaku seksual pada remaja laki-laki. Perilaku
seksual dapat dibedakan menjadi beberapa tahapan yang dimulai dari
tahap yang paling ringan atau touching yang berfungsi untuk
memunculkan kenyamanan atau dapat dikatakan menjadi simbol afeksi
yaitu berpegangan tangan dan berpelukan. Selanjutnya tahapan yang
berfungsi untuk memunculkan hasrat seksual yaitu kissing, necking dan
touching genital. Tahap yang terakhir ialah menyalurkan hasrat seksual untuk mencapai kepuasan seksual atau orgasme yang meliputi petting,
Beberapa faktor penyebab yang ternyata memicu timbulnya
perilaku seksual pada seseorang diantaranya ialah dari faktor keluarga,
perbedaan gender dan perilaku heteroseksual.
C.Sekolah Homogen dan Heterogen 1. Sekolah
Arti sekolah sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
ialah bangunan atau lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat
menerima dan memberi pelajaran
a. Fungsi sekolah
Ketika seseorang dikatakan remaja maka saat itu ia sedang
menempuh pendidikan salah satunya di sekolah menengah atas.
Sekolah menengah atas dikatakan bertujuan untuk mengarahkan
siswa menuju “gudang remaja” yang mengisolasi diri remaja dalam
dunianya dan nilai-nilai diri remaja yang jauh dari kehidupan orang
dewasa (Brown,Coleman,Martin dalam Santrock 2003).
Dikatakan pula menurut gerakan kembali ke asal atau back to
basics movement bahwa sekolah merupakan pelatihan keterampilan intelektual yang ketat melalui sejumlah mata pelajaran seperti bahasa
b. Jenis Sekolah
Sekolah sendiri dapat dibagi menjadi 2 jenis dilihat dari jenis
murid yang bersekolah didalamnya yaitu
1) Sekolah heterogen
Sekolah heterogen berarti sekolah dengan 2 jenis kelamin
berbeda di dalamnya yaitu laki-laki dan perempuan. Menurut
KBBI (1995/1996) heterogen berarti terdiri atas berbagai unsur
yang berbeda sifat atau berlainan jenis. Jadi sekolah heterogen
dapat diartikan sebagai lembaga atau bangunan yang siswanya
terdiri dari jenis kelamin yang berlainan jenis atau laki-laki dan
perempuan.
Sekolah heterogen masuk dalam jenis sekolah dilihat dari jenis
kelamin murid-murid yang belajar didalamnya. Di sekolah heterogen
remaja belajar bersama-sama di dalam kelas, sehingga mereka
mempunyai kesempatan untuk berinteraksi lebih dalam antara murid
laki-laki dan perempuan.
2) Sekolah homogen
Sekolah homogen adalah bangunan atau lembaga dimana
siswa yang belajar didalamnya memiliki jenis kelamin yang
sama. Sekolah homogen ialah sekolah dengan hanya 1 jenis
kelamin murid di dalamnya yaitu hanya murid perempuan atau
Berkebalikan dengan sekolah heterogen, sekolah homogen
merupakan jenis sekolah dimana siswa yang bersekolah
memiliki jenis kelamin yang sama. Jika sekolah homogen
tersebut adalah sekolah homogen putri maka hanya ada siswi
perempuan yang bersekolah di dalamnya. Begitu pula jika
sekolah tersebut adalah sekolah homogen putra, maka hanya ada
siswa laki-laki yang bersekolah di dalam sekolah tersebut.
Dari pengertian sekolah diatas dapat disimpulkan bahwa sekolah
dalam hal ini dibedakan menurut jenisnya. Jenis sekolah tersebut
dibagi menjadi 2 yaitu sekolah heterogen dan juga sekolah homogen
dilihat dari gender atau jenis kelamin murid yang bersekolah
didalamnya.
Sekolah heterogen merupakan sekolah dimana murid-murid
yang bersekolah di dalamnya memiliki jenis kelamin yang beragam
yaitu laki-laki dan perempuan. Mereka bersama-sama belajar di
sekolah dengan waktu dan tempat yang sama.
D. Perbedaan Perilaku Seksual Remaja di Sekolah Homogen dan Heterogen
Remaja yang mengalami pubertas memiliki keinginan untuk
membentuk hubungan baru dengan lawan jenis dan lebih matang dengan
remaja dan hasrat seksual tersebut wajar pula jika ingin disalurkan pada
perilaku seksual.
Di sekolah heterogen, remaja di sana memiliki kesempatan yang
lebih besar untuk memiliki relasi heteroseksual dibandingkan dengan di
sekolah homogen karena mereka memiliki waktu yang lebih banyak
untuk berelasi dengan lawan jenis. Dari situ dilihat dari tugas
perkembangan yang dimiliki remaja yaitu membentuk hubungan baru
yang lebih intim, mereka dapat lebih mudah untuk melaksanakan tugas
perkembangan tersebut. Perilaku heteroseksual biasa dikaitkan dengan
berpacaran atau berkencan. Hal tersebut mampu memunculkan hasrat
seksual dalam diri remaja dan keinginan untuk menyalurkannya melalui
perilaku seksual lebih mudah untuk terjadi di sekolah heterogen.
Berkebalikan dengan remaja di sekolah heteogen, di sekolah
homogen kesempatan untuk berkenalan dengan lawan jenis dan memiliki
hubungan yang lebih intim dengan lawan jenis lebih kecil. Kesempatan
untuk berkencan atau berpacaran bukan menjadi prioritas di sekolah
homogen. Hasrat seksual yang dapat muncul ketika terjadi relasi
heteroseksual dengan lawan jenispun frekuensinya menjadi lebih kecil
dibandingkan dengan remaja di sekolah heterogen.
Kecilnya muncul hasrat seksual dalam diri remaja di sekolah
homogen membuat keinginan untuk menyalurkannya pada perilaku
memiliki perilaku seksual yang lebih rendah dibandingkan dengan remaja
di sekolah heterogen.
E.Hipotesis
Berdasarkan teori di atas dapat disimpulkan hipotesis sebagai
berikut : “Ada perbedaan perilaku seksual antara remaja yang bersekolah di sekolah homogen dengan remaja yang bersekolah di sekolah heterogen,
dimana perilaku seksual remaja di sekolah heterogen lebih tinggi
BAGAN PERBEDAAN PERILAKU SEKSUAL REMAJA DI SEKOLAH
Kurang ada relasi dengan lawan jenis
Tidak terlalu memikirkan untuk memiliki pacar atau pasangan Kemungkinan munculnya
hasrat seksual lebih kecil keinginan menyalurkan hasrat
seksual lebih kecil Ada relasi dengan lawan jenis
34
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini yang menggunakan metode komparatif atau
perbandingan. Bertujuan untuk membandingkan perilaku seksual remaja di
sekolah homogen dan heterogen.
B. Variabel Penelitian
1. Variabel Bebas : Jenis Sekolah
2. Variabel Tergantung : Perilaku Seksual
C. Definisi Operasional Variabel Penelitian
Definisi operasional yang digunakan pada penelitian ini adalah :
1. Perilaku Seksual
Perilaku seksual merupakan tindakan yang bertujuan untuk
menyalurkan hasrat seksual yang dimulai dari tahapan yanng paling
ringan sampai yang paling berat (sexual intercourse). Pada penelitian
ini, perilaku seksual diukur dengan menggunakan skala perilaku
seksual yang dibuat oleh peneliti sendiri. Skala tersebut berisi tentang
gabungan 8 tahapan perilaku seksual sesuai dengan teori Masters,dkk
(1986) dan teori dari Rathus, Nevid dan Fichner ( 2008 ). Tahapan
kissing, necking, touching genital, petting, oral sex dan sexual intercourse.
Nantinya skor tinggi pada skala menunjukkan tingginya
perilaku seksual dan saat skor rendah menunjukkan rendahnya
perilaku seksual.
2. Sekolah Homogen dan Heterogen
Sekolah homogen dan heterogen adalah jenis sekolah berdasarkan
kelompok jenis kelamin. Jenis sekolah ini dibedakan dari jenis kelamin
siswa bersekolah di dalamnya. Untuk mengetahui tempat dimana
subjek bersekolah, digunakan data demografik.
D. Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah :
1. Remaja dengan usia 14-17 tahun.
2. Murid sekolah homogen dan heterogen di Yogyakarta.
Subjek dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling,
yaitu teknik pemilihan subjek berdasarkan ciri-ciri atau sifat-sifat
tertentu yang mempunyai keterikatan yang erat dengan ciri-ciri atau
sifat dari populasinya (Hadi,2004). Teknik ini dipakai pada subjek
dengan usia 14-17 tahun dan duduk di kelas 2-3 sekolah menengah
atas. Kriteria tersebut disesuaikan dengan perkembangan sosial subjek
pada usia 14-17 tahun, subjek telah mulai berpasang-pasangan dengan
E. Metode Pengumpulan Data
Peneliti menggunakan skala yang dibuat dengan mengacu pada
teori perilaku seksual Master, dkk (1986) dan teori perilaku seksual
Rathus, Nevid dan Fichner (2008) untuk mengumpulkan data.
Tiap pernyataan akan diberikan dua pilihan jawaban yaitu “pernah” dan “tidak pernah”. Skala dengan dua jawaban tersebut diadaptasi dan
dikembangkan sendiri oleh peneliti sendiri dari skala skalogram yang
dibuat oleh Guttman (Edward, 1957).
Tiap tahap perilaku seksual akan diberikan skor yang berbeda.
Skor diberikan sesuai dengan ringan dan beratnya perilaku seksual seperti
telah diurutkan oleh Master, dkk (1986) serta Rathus, Nevid dan Fichner
(2008).
Jika subjek menjawab “pernah”, maka skor yang diberikanberkisar dari 1-8 dan jika subjek menjawab “tidak pernah” maka akan diberikan
skor 0. Dalam proses pengerjaan, ketika subjek menjawab “tidak pernah”
maka subjek harus berhenti mengerjakan pernyataan yang ada dan
diasumsikan bahwa tahap subjek “tidak pernah” melakukan tahapan
selanjutnya. Hal tersebut juga menandakan, sampai pada jawaban
“pernah” yang terakhirlah perilaku seksual yang sudah pernah dilakukan.
Skor total didapatkan dari penjumlahan tiap tahap yang dijawab
Pemberian skor didasarkan pada tahap akhir perilaku seksual yang
pernah dilakukan. Akumulasi nilai yang dilakukan dengan cara
menambahkan skor dari banyaknya tahap perilaku seksual yang berbeda
dilakukan karena tiap tahap memiliki bobot yang berbeda dan tidak bisa
disamakan bukan semata hanya dilihat dari tahap yang berbeda saja.
Tabel 1 Penskoran Item
No. Tahapan perilaku seksual Skor
1 Bergandengan tangan 1
F. Validitas dan Reliabilitas Skala
Sebelumya, peneliti melakukan tryout kepada 20 orang subjek
penelitian pada tanggal 10 Oktober 2013, untuk melihat sejauh mana
mereka jujur menjawab pernyataan-pernyataan yang ada dalam kuisioner.
Tidak ada seleksi item pada kuisioner karena pernyataan dalam kuisioner
sampai pada tahap akhir maka subjek pasti telah melewati semua tahap
sebelumnya. Maka tidak ada item yang gugur dalam kuisioner pada
penelitian ini.
1. Validitas
Validitas berasal dari kata validity, yang berarti seberapa tepat
dan cermat suatu alat ukur dapat melakukan fungsi ukur dari suatu
instrumen. Alat ukur dapat dikatakan valid, ketika mampu
memberiksan hasil ukur yang sesuai dengan maksud awal sebelum
pengukuran dilakukan. Jika ingin mengukur instrumen Z maka ketika
alat ukur tersebut memberikan hasil informasi dan hasil yang
mengukur intrumen Z, maka alat ukur tersebut memiliki validitas yang
tinggi.
Dalam penelitian ini pengujian validitas yang digunakan adalah
validitas isi, yaitu validitas yang diestimasi lewat pengujian terhadap
isi tes dengan analisis rasional atau lewat Professional Judgement.
Analisis ini diperoleh dengan cara mengkonsultasikan item-item yang
telah dibuat kepada ahli atau dosen pembimbing, dengan tujuan agar
item-item yang dibuat dapat mewakili atau mencakup
komponen-komponen dalam keseluruhan kawasan isi objek yang hendak diukur
(aspek representasi) dan sejauhmana item-item tes mencerminkan ciri
2. Reliabilitas
Menurut Azwar (2011) reliabilitas berasal dari kata rely dan
ability. Pengukuran yang memiliki reliabilitas tinggi maka dapat dikatakan sebagai pengukuran yang bersifat reliabel. Dapat
disimpulkan bahwa konsep reliabilitas berarti bahwa, bagaimana suatu
pengukuran dapat dipercaya kebenarannya. Pengukuran yang akurat
dapat dijelaskan sebagai pengukuran yang hasilnya tetap sama atau
tidak ada perbedaan yang berarti saat alat ukur diberikan pada subjek
yang sama untuk beberapa kali pengukuran.
Dalam aplikasinya, reliabilitas dinyatakan dengan koefisien
reliabilitas yang angkanya berada dalam rentang 0 sampai dengan
1,00. Semakin tinggi koefisien reliabilitas mendekati angka 1,00
berarti semakin tinggi reliabilitasnya (Azwar, 2011).
Reliabilitas yang didapatkan pada skala tryout adalah sebesar
0,816 yang menandakan bahwa skala tersebut memiliki reliabilitas
yang cukup tinggi.
G. Metode Analisis Data 1. Uji asumsi
a. Uji normalitas
Uji normlitas merupakan uji yang dlakukan untuk
mengecek apakah data yang diperoleh dari penelitian merupakan
normal memiliki bentuk kurva yang sama. Analisis yang
digunakan adalah dengan menggunakan Kolmogorov-Smirnov.
Jika data memiliki p lebih besar atau sama dengan 0,05 maka dapat
disimpulkan data tersebut tidak berbeda secara signifikan dengan
data virtual yang normal (Santoso, 2010).
b. Uji homogenitas
Uji homogenitas berfungsi untuk melihat apakah varian ada
kesamaan varian dari dua populasi yang diuji (Samtoso, 2010).
Menurut Priyatno (2010) jika p lebih dari 0,05 maka dapat
dikatakan bahwa data berasal dari populasi yang memiliki varian
sama namun jika p kurang dari 0,05 maka dapat dikatakan bahwa
data berasal dari populasi yang memiliki varian tidak sama.
2. Uji Hipotesis
a. Independent sample t-test
Independent sample t-test atau uji sampel bebas digunakan untuk menguji perbedaan rata-rata dari dua kelompok data atau
sampel yang independen. Hasilnya dilihat dari signfikasi H0 pada
data. Jika p lebih dari 0,05 maka H0 diterima namun jika kurang
41
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Pelaksanaan Penelitian
Penelitian pertama, dilakukan di sekolah homogen perempuan pada
hari Sabtu tanggal 26 Oktober 2013. Selanjutnya penelitian di sekolah
heterogen dilakukan pada hari 15 November 2013 dan yang terakhir
penelitian di sekolah homogen laki-laki pada hari Jumat tanggal 22
November 2013.
Peneliti mengambil data pada remaja sekolah homogen dan
heterogen di Yogyakarta. Penelitian ini dilakukan dengan cara
menyebarkan 140 skala. Pengambilan data dilakukan dengan cara datang
ke sekolah-sekolah dan masuk ke kelas 2 atau XI pada saat jam pelajaran
BK atau Konseling.
Dalam proses pengambilan data, peneliti mengalami beberapa
hambatan seperti lamanya prosedur yang harus dilakukan untuk bisa
mengambil data di beberapa sekolah. Hal ini membuat pengolahan data
menjadi sedikit lama untuk bisa dilakukan.
B. Deskripsi Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini berjumlah 140 orang. Terdiri dari
remaja yang bersekolah disekolah homogen yaitu 35 perempuan dan 35