KARYA TULIS ILMIAH
“GENERASI MUDA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN”
Oleh:
Nama : nurcaya abdullah
Nim : 160301029
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah swt yang maha pengasih lagi maha
panyayang, puja dan puji syukur atas kehadirat Allah swt, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-nya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini dengan judul “Generasi Muda Dalam Perspektif Al-Qur’an” Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Individu Mata Kuliah Materi Al-Qur’an
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi
susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu, kepada para pembaca
dan dosen pengajar materi ini, dengan tangan terbuka penulis menerima segala
saran dan kritik yang bersifat membangun demi melengkapi dan memperbaiki
pada karya tulis ilmiah yang akan datang.
Ambon, 28 Desember 2017
GENERASI MUDA DALAM PERSPEKTIF AL-
QUR’AN
Nurcaya Abdullah 160301029
Institut Agama Islam Negeri Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan
Jurusan Pendidikan Agama Islam Email: [email protected] Absrtak
Dalam penulisan karya tulis ilmiah dengan judul “Generasi Muda Dalam
Perspektif Al-Qur’an” ini lebih menekankan pada masalah yaitu: pertama,
pandangan Al-Qur’an tentang generasi muda kedua, keberadaan dan peranan generasi muda dan ketiga, peranan orang tua dalam membentuk generasi muda Islami. Metode yang digunakan Penulis adalah metode penelitian tinjaun pustaka untuk mengumpulkan informasi tentang pandangan Al-Qur’an tentang generasi muda, keberadaan dan peranan generasi muda, serta pengaruh pola asuh
dalam membentuk generasi muda Islami. Hasil yang didapatkan penulis dalam
mengumpulkan informasi yakni, generasi muda adalah generasi penerus bangsa,
generasi penakluk dunia yang tanpanya akan hancur sebagaimana dijelaskan
dalam QS An-Nisa 4: 9. Pengokohan dan penggeseran nilai akhlah terhadap
generasi muda islami tergantung dari pola asuh dari berbagai pihak terutama
kedua orang tua. orang tua yang lebih mementingkan diri sendiri justru akan
menjadikan anak sebagai generasi yang lemah dan tidak siap dalam menghadapi
hidupnya. karena pada dasarnya seorang anak sangat memerlukan bimbingan
dan arahan untuk membentuk kepribadian muslim agar menjadi generasi penerus
yang tangguh, berdaya saing, serta menjadikan Al-Qur’an sebagai pandangan
hidupnya.
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dunia Islam di tengah arus globalisasi dunia adalah suatu hal yang tidak
dapat dipungkiiri bahwa revolusi informasi semakin hari semakin dirasakan oleh
semua orang di seluruh bumi. Dunia semakin terasa kecil, semakin mengglobal,
sebaliknya privacy seakan tidak ada lagi. Memang dunia sedang dikendalikan oleh media masa, ke mana media masa menghadap, ke situ mata dunia tertuju,
sering kali yang benar terkubur oleh longsoran kesan negatif yang dihembuskan
oleh media massa, dan sebaliknya.1
Islam, sebagai agama yang mempunyai cita-cita dan wawasan jauh ke
depan, sangat menitikberatkan perhatian terhadap pendidikan dan orientasi
pembinaan generasi muda ini. Islam menganjukan bahkan mewajibkan kepada
orang tua khususnya agar mendidik dan membina anak-anak sejak dini, jauh
sebelum mereka menginjak dan menjalani fase kehidupan yang disebut generasi
muda.
Kajian yang singkat ini akan mencoba menelusuri bagaimana wawasan
al-qur’an, sebagai sumber utama ajaran islam tentang generasi muda tersebut.
Melalui kajian ini diharapkan akan terungkap bagaimana isyarat al-qur’an
mengenai kedudukan al-qur’an dan peranan generasi muda serta bagaimana
orintasi pembinaan yang mesti dituju.2
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis merumuskan sebagai
berikut:
1. Bagaimanakah Pandangan al-qur’an tentang generasi muda?
1 Yang termasuk media massa adalah surat kabar, majalah, radio, televisi, dan film.
Lihat joseph A. Devito, communicology: An Introduction to the study of communication. Lihat pula, Onong Uchjana Efendy, Ilmu komunikasi: teori dan praktek, (bandung: Remaja karya, 1985), hlm. 26,31,dan 62.
2 Abudin Natta: Kajian Tematik Al-Qur’an Tentang Kemasyarakatan. Bandung: Angkasa
2. Di manakah keberadaan dan peranan generasi muda?
3. Bagaimana cara membentuk generasi muda Islami?
C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan:
1. Untuk mengetahui pandangan al-qur’an tentang generasi muda
2. Untuk mengetahui keberadaan dan peranan generasi muda dalam suatu
bangsa.
3. Untuk mengetahui bagaimana peranan orang tua dalam membentuk
BAB II PEMBAHASAN
1. Pandangan Al-Qur’an Tentang Generasi Muda
Generasi muda terdiri dari dua kata yaitu generasi dan muda. Dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata “generasi” berarti: angkatan; turunan, sekalian orang yg kira-kira sama waktu hidupnya. Sedangkan “Muda”
berarti: kelompok (golongan, kaum) muda.3
Di kalangan umat islam, generasi muda sering disebutkan dengan istilah
generasi Qur’ani. Dimana generasi Qur’ani menjadikan al-qur’an sebagai pedoman hidupnya, generasi qur’ani merupakan generasi idaman karena mereka
menggunakan Al-qur’an sebagai pegangan, perisai, serta mempelajari dan
mengamalkannya dalam segala aspek kehidupan mereka.
Definisi yang berbeda ditunjukan oleh al-Qur’an. Dalam kaidah bahasa
Qur’an seorang pemuda atau yang disebut “asy-syabab” adalah mereka yang memiliki sifat dan sikap seperti yang tergambar dalam beberapa ayat dalam
Al-Qur’an:
1. QS. Al-kahf ayat 13
“Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar.
Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.”.4
Dalam Tafsir al-Azhar dijelaskan bahwa penghuni gua itu ialah anak-anak
muda belaka, tidak ada bercampur orang tua. Maka kalau hal ini
diperbandingkan kepada perjuangan Nabi saw. Di mekah itu kelihatan suatu
pengalaman yang sepatutnya dijadikan pedoman.5
3
Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahas. (jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Edisi IV.2008). hlm 440
4 http://www.al-qur’an-digital.com
Sedangkan di dalam tafsir ibn katsir menjelaskan tentang dimulainya
penjabaran kisah mereka (para pemuda ashabul kahfi) secara rinci. Allah
menyebutkan bahwa mereka adalah segolongan kaum muda yang menerima
perkara yang hak dan mendapat petunjuk jalan yang lurus dari guru-guru mereka
yang saat itu telah durhaka dan tenggelam ke dalam agama kebatilan menjadi
sesat. Oleh karena itulah kebanyakan orang yang menyambut baik seruan Allah
swt dan Rasulnya adalah dari kalangan kaum muda. Adapun orang-orang
tuanya, sebagian besar dari mereka tetap berpegang teguh pada agamanya dan
tidak ada yang masuk Islam dari kalangan mereka kecuali sedikit. Demikianlah
Allah swt, menceritakan tentang para penghuni gua, bahwa mereka semua terdiri
dari kalangan kau muda. 6
2. QS. Al-kahf ayat 60;
“dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke Pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun".7
Ringkas cerita, kisah di atas menceritakan tentang pemuda (nabi musa)
yang mempunyai semangat yang tinggi dalam menuntut ilmu, serta memiliki
rasa ingin tahu akan sesuatu. Tidak peduli dengan seberat apapun rintangan dan
tantangnnya pemuda tersebut tetap melalui dengan sabar dan ikhlas dengan niat
menuntut ilmu. Demi memenuhi rasa ingin tahunya, pemuda tersebut rela
menempuh perjalanan yang sangat jauh guna mencapai tujuan. Kisah ini
memberikan contoh kepada para generasi muda agar tidak patah semangat dalam
menuntut ilmu. Karena menuntut ilmu merupakan suatu hal yang tidak akan
pernah sia-sia.
3. QS. Al-anbiya ayat 60;
6 Lihat Ibnu Katsir Ad-Damasyqi: tafsir Al-Qur’an Al’Azim (Bandung: Sinar Baru
Algesindo Bandung). cet.3. 2012. hlm. 430.
“mereka berkata: "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim ".8
Allah menyutus seorang Nabi melaikan masih berusia muda, dan
tidaklah seorang di anugerahi ilmu melainkan ia masih berusia muda. Lalu Ibnu
Abbas membaca firman Allah: “mereka berkata: "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim ".Allah
menceritakan ucapan mereka: “ mereka berkata, (kalau demikian) bawalah dia dengan cara dapat dilihat orang banyak. (QS al-Anbiya: 61). Yakni di mata orang banyak, yang saat itu semua orang hadir. Ternyata apa yang telah
direncanakan oleh Nabi Ibrahim mencapai sasarannya dengan tepat. Dalam
pertemuan yang besar ini Ibrahim a.s. bermaksud menjelaskan kepada mereka
akan kebodohan dan kekurangan akal mereka tersebut. 9
Sebenarnya apa yang dilakukan Ibrahim a.s merupakan tindakan seorang
pemuda yang ingin menjelaskan bahwa apa yang orang-orang sembah
(berhala-berhala) merupakan suatu hal yang sia-sia. Ia mencela berhala-berhala tersebut
untuk menunjukan kepada umatnya bahwa tindakan yang ia lakukan tidak akan
membuat berhala-berhala tersebut marah dan memberikan hukuman. Tetapi
justru berhala-berhala itu akan tetap diam di tempat dan tidak akan pernah
memberikan apa-apa.
Jadi berdasarkan uraian di atas, maka generesi muda merupakan generasi
yang memiliki kemampuann untuk mengubah dunia, mengubah apa yang ada di
sekitarnya menjadi lebih baik. Selain itu, generasi muda memiliki ciri-ciri
berwawasan luas, cerdas, bertanggung jawab, berbudi pekerti baik, pantang
menyerah dalam menuntut ilmu, mudah bergaul, serta menjadikan Al-Qur’an
sebagai pedoman hidup di dalam kehidupannya.
8 http://www.al-qur’an-digital.com
2. Keberadaan dan Peranan Generasi Muda
Kembali kepada al-Qur’an, perihal keberadaan dan peranan generasi
muda di dalam kehidupan masyarakat umat manusia dapat dipahami dari
firman Allah swt:
“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari Keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah Keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah yang Maha mengetahui lagi Maha Kuasa. (QS. Ar-Ruum, 30:54).10
Ayat ini menjelaskan garis besar fase kehidupan manusia. Fase pertama
dijelaskan manusia itu dalam keadaan lemah. Dilihat dari segi umur, fase ini
dapat diartikan sebagai masa kanak-kanak. Fase kedua, pertengahan. Dijelaskan
bahwa manusia itu berada dalam keadaaan kuat. Fase ini dari segi umur, dapar
diartikan sebagai masa generasi muda. Sedangkan fase ketiga, terakhir,
dijelaskan manusia itu kembali dalam keadaaan lemah. Yang dimaksudkan
dengan fase kehidupan yang terakhir ini adalah di saat manusia menjalani
kehidupan masa tuanya; oleh sebab itu ungkapan di dalam ayat ini diikuti
dengan kata-kata syaibahyang berarti “berubah”, yang merupakan salah satu ciri
ketuaan seseorang pada umumnya.11
Dari ketiga fase kehidupan yang dikemukakan oleh Al-Qur’an, fase kedua,
di mana manusia hidup pada masa generasi muda, merupakan fase yang paling
utama. Generasi muda merupakan lapisan sosial yang memiliki potensi yang
seyogyanya dimanfaatkan secara maksimal dan sebaik-baiknya.
10 http://www.al-qur’an-digital.com
11 Al-Sayyid Muhammad Husaian Al-Thabathabaiy, Al-Mizan fi Tafsil al-Qur’an al-Karim,
Sampai di sini dapat ditarik suatu gambaran bahwa Islam, al-Qur’an,
mengakui keberadaan dan besar serta pentingnya peranan generasi muda di
tengah-tengah kehidupan umat manusia. Masa muda merupakan fase kehidupan
yang paling ideal, tempat seseorang mencapai puncak perkembangan dalam
segalaa aspek kehidupan, baik fisik, mental, maupun intelektual. Dengan
perkembangan dan kematangan serta potensi yang dimiliki, seorang pemuda
seyogyanya mampu hidup mandiri kreatif dan dinamis.
Pengakuan akan eksistensi dan peranan penting generasi muda ini tidak
hanya merupakan teoritis Qur’an, melainkan betul-betul dipraktekan disepanjang sejarah perkembangan islam. Rasulullah sangat memperhatikan dan menghargai
aspirasi para sahabat darigolongan generasi muda. Beliau tidak jarang
memercayakan suatu tugas dan tanggung jawab penting kepada sahabat generasi
muda. Sebagai contoh, Rasulullah pernah mempercayakan jabatan komandan
militer kepada Usamah Ibn Zaid, seorang pemuda yang waktu itu baru berusia
sekitar delapan belas tahun. Pasukan yang dipimpin oleh pemuda usamah ini
beranggotakan para sahabat besar, termasuk Abu Bakar Al-Siddiq, dan Umar
Ibn Al-Khatthab.12
Pendek kata, generasi muda di mata Islam mempunyai kedudukan dan
peranan penting. Dengan segala potensi dan kelebihan yang dimiliki, generasi
muda diharapkan dapat berbuat dan berdedikasi lebih banyak, untuk kemajuan,
dibandingkan lapisan masyarakat lainnya. Generasi muda merupakan sumber
daya manusia yang paling potensial. Maju mundurnya suatu bangsa di masa
depan tergantung pada kualitas generasi mudanya masa kini.13
Dewasa ini Keberadaan dan peranan generasi muda bukan hanya
penting, tetapi sangat penting baik dalam keluarga maupun di lingkungan
masyarakat. Dalam keluarga generasi muda merupakan suatu kebanggan bagi
keluarga lebih-lebih adalah kedua orang tua. Sedangkan dalam lingkungan
masyarakat sendiri generasi muda adalah generasi pencetus perubahan dan
penggerak, dengan potensi yang dimiliki. Dengan adanya genersi muda
12 Khalid Muhammad Khalid, Rijal Haul al-Rasul, Beirut: Dar al-Fikr, t.t,. hal. 522.
13 Abudin Nata: Kajian Tematik Al-Qur’an Tentang Kemasyarakatan. Bandung: Angkasa
Diharapkan suatu bangsa akan mengalami kemajuan serta meningkatkan harkat
dan martabat bangsa tersebut.
3. Peranan Orang Dalam Membentuk Generasi Muda
“dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya
meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang benar”. (An-Nisa : 9).14
Mewujudkan anak menjadi insan yang sehat dan berperilaku Islam, di
pundak orang tualah terletak tanggung jawab yang utama. Orang tua
berkewajiban merawat, memelihara serta mendidiknya sesuai dengan tuntunan
Allah dan Rasul-Nya. Apabila kewajiban merawat memelihara dan mendidiknya
itu dilakukan dengan tepat oleh setiap orang tua, niscaya hal itu merupakan
manifestasi dari mensyukuri nikmat Allah.15
Dampak dari perkembangan teknologi terkadang terasa sebagai suatu
pergeseran nilai-nilai sosial dan keagamaan. Seorang ayah yang terlalu sibuk
dengan aktivitas keduniawian, hampir tak tersisa waktunya untuk bertatap muka
dan berdialog dengan anaknya. Demikian juga dengan ibu, lebih-lebih bagi
ibu-ibu yang lebih mementingkan karier, untuk menempatkan dirinya agar disebut
“wanita karier”, banyak kewajiban yang seharusnya menjadi tanggungjawabnya ditinggalkan. Berapa banyak wanita yang masih enggan menyusui anaknya
dengan air susunya sendiri. Wanita seperti itu khawatir bila payudaranya akan
berubah bentuk jika bayinya disusui.16
14 http://www.al-qur’an-digital.com
15 Basri Iba Asghary: Solusi Al-Qur’an Tentang Problema Sosial. Politik. Budaya. Jakarta:
Rineka Cipta. 1994. hlm. 208.
Dengan kata lain, pengabaian orang tua terhadap pertumbuhan anak, sama
dengan membiarkan mereka tumbuh menjadi keturunan atau generasi yang
lemah. Muncul generasi yang penuh dengan santai dan hura-hura. Bagi generasi
umat Islam, kondisi ini benar-benar sangat riskan. Karena setiap anak yang tidak
memperoleh limpahan kasih sayang yang murni, akan mudah dirasuki oleh
anaris-anaris yang dapat menghancurkan akidahnya.17
Dalam suatu riwayat dinyatakan oleh Rasulullah, akan ada suatu zaman
yang menimpa ummatku, yaitu kehancuran seorang suami di tangan isteridan
anank-anaknya yang dihimpit kemelaratan, kemudian mendorong suami
melakukan perbuatan buruk yang dapat merusak dirinya.
Keadaan tersebut terjadi sebab utamanya adalah karena isteri, anak dan
anggota keluarga tersebut tidak memeiliki pendidikan. Untuk itulah, maka di
dalam berbagai atat al-Qur’an lainnya, Allah memerintahkan agar suami sebagai
kepala keluarga memberikan pendidikan kepada anggota keluarganya itu. Hal
yang demikian misalnya dicontohkan oleh Lukmanul Hakim sebagimana
dilukiskan dalam ayat berikut ini:
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada -Kulah kembalimu.”
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku
sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada -Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
“(Luqman berkata): "Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha mengetahui.”
“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).”
“Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS.luqman 13-19).18
Dari ayat 13 sampai 19 atau 7 ayat surat luqman tersebut terdapat enam
komponen pendidikan sebagai berikut. Pertama, komponen pendidik yang di dalam hal ini adalah kedua orang tua, khususnya lukman (ayah) sebagai kepala
keluarga. Kedua, komponen anak didik (murid) yang dalam hal ini adalah anaknya luqman sendiri.19Ketiga, komponen lingkungan yang di mana kegiatan pendidikan tersebut berlangsung, yang di dalam hal ini adalah lingkungan
keluarga. Keempat, komponen materi (kurikulum) pendidikan yang dalam ayat-ayat tersebut mencakup mareri pendidikan tentang keimanan atau akidah yang
kokoh antara lain dengan menjauhi perbuatan syirik, akhlak yang mulia antara
lain dengan memuliakan kedua orang tua, mendirikan sholat, memerintahkan
perbuatan yang baik dan menjauhi perbuatan yang mungkar, bersikap tabah,
tidak menyombongkan diri, dan bersikap rendah hati. Kelima, komponen hubungan, kedekatan dalam proses belajar mengajar, yang dalam hal ini
mengembangkan pola hubungan yang demokratis, menghargai pendapat orang
lain, manusiawi, berorientasi pada kebenaran ilmiah, dan profesional. Keenam, komponen metode yang dalam hal ini dengan ceramah (mau’idzah) dan
perintah.20
Dengan mengikuti uraian tersebut di atas tampak dengan jelas bahwa
ajaran Islam (Al-Qur’an) amat memperhatikan pembinaan generasi muda.
Pembinaan tersebut dilakukan melalui kegiatan yang dimulia dari rumah tangga
atau pendidikan keluarga, yang selanjutnya dilakukan oleh sekolah dengan biaya
ditanggu oleh keluarga.21
18 http://www.al-qur’an-digital.com
19
Menurut sebuah riwayat bahwa lukman memiliki anak yang susah diatur, nakal, dan banyak menentang. Kemudian luqman sering mengajak anaknya itu untuk melihat orang sakit payah dan orang yang meninggal. Dari penglihatannya itu, diharapkan timbul kesadaran bahwa manusia betapapun ia pada saatnya nanti ia kana mati, sakit, dan sebagainya yang tidak dapat dielakkan. Dengan demikian manusia diharapkan sadar, insaf dan menjadi oanng yang rendah hati, patuh, tunduk, dan ikhlas menerima perintah Allah.
20 Abuddin Nata. Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan. (Jakarta: Rajawali Pers). 2014. hlm.204.
Selain itu terdapat pula pendidikan yang bersifat kekeluargaan yang harus
ditanamkan kepada anak. Ia harus diperkenalkan kepada keluarganya yang
terdekat maupun yang jauh, seperti dengan nenek, atau kakeknya, bibi atau
pamannya, uaknya, dan seterusnya. Hal yang demikian dapat dilihat pada masa
Rasulullah SAW kecil, ia diajak oleh ibunya mengunjungi keluargnya yang
berada di Yatsrib atau yang sekarang disebut Madinah. Hal yang demikian amat
penting, sebagai persiapan manakala terdapat sesuatu yang tidak dikehendaki
dalam perjalanan hidup anak tersebut.
Dengan pendidikan keagamaan yang kokoh tersebut, barulah si anak
dipersilahkan memilih bidang keahlian yang akan ditekuninya, misalnya apakah
ia akan menjadi dokter, insinyur, pengacara, guru, seniman, budayawan,
politikus, dan lain sebagainya. Dengan cara demikian, maka berbagai keahian
yang dimiliki tidak akan membuat dirinya sombong, melainkan akan senantiasa
bersyukur kepada Allah dengan memanfaatkan keahliannya itu untuk beribadah
kapada Allah dan untuk kepentingan manusia.22
Dalam Islam membentuk generasi muda tidak semudah membalikkan
telapak tangan. Karena dalam masa pembentukan itu, jika dilakukan tidak
maksimal maka hasil yang didapat juga tidak maksimal. Sepert orang tua yang
sibuk juga akan mempengaruhi pendidikan seorang anak, karena bisa jadi orang
tua yang terlalu sibuk akan membuat seorang anak kehilangan kasih sayang dari
kedua orang tuanya, hal tersebut dapat menyebapkan si anak akan menjadi
generasi muda yang suka huru-hara dan tidak siap dalam menghadapi tuntunan
zaman.
Untuk memperoleh generasi muda yang tangguh maka yang berperan
penting adalah kedua orang tua. Orang tualah yang harus memberikan pendidkan
agama sejak dini kepada anak. Pendidikan yang pertama diberikan adalah
pendidikan agama. Pendidikan agama sangatlah penting untuk seorang anak,
karena dengan pendidikan agama akan membentuk perisai di dalam diri si anak
untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan di kehidupannya.
Contoh pendidkan agama yang diajarkan kepada seorang anak adalah
pendidikan sebagaimana yang dicontohkan/diterapkan oleh Lukmanul Hakim
kepada anaknya. Seperti mengajarkan sholat, tidak menyekutukan Allah (syirik),
hormat kepada orang tua, tidak sombong, berlaku lemah lembut, dan sebagainya.
Dengan pendidikan tersebut diharapkan si anak dapat tumbuh menjadi generasi
muda yang tangguh, kuat dan serta menjadikan al-Qur’an sebagai pedoman
BAB III PENUTUP
1. Kesimpulan
Generasi muda adalah generasi penakluk bangsa, pendorong terjadinya
perubahan, pelita bangsa, karena para generasi muda menjadikan Al-qur’an
sebagai pedoman hidup dalam segala aspek kehidupan. Selain itu al-Qur’an,
sendiri mengakui keberadaan dan serta pentingnya peranan generasi muda di
tengah-tengah kehidupan umat manusia. Masa muda merupakan masa
kehidupan yang paling ideal, tempat seseorang mencapai puncak perkembangan
dalam segala aspek kehidupan, baik fisik, mental, maupun intelektual.
Pengabaian orang tua terhadap pertumbuhan anak, entah itu karena sibuk,
antara isteri dan suami tidak ada kerjasama, breaking home maka sama dengan
membiarkan seorang anak tumbuh menjadi keturunan atau generasi yang lemah
dan susah diatur. maka akan muncul generasi yang penuh dengan santai dan
senang huru-hara. Bagi generasi umat Islam, kondisi ini benar-benar sangat
memprihatinkan. Karena jika setiap anak yang tidak memperoleh curahan kasih
sayang secara maksimal, akan mudah dipengaruhi oleh paham-paham yang
dapat menghancurkan akidahnya.
Dalam (Al-Qur’an) sangat memperhatikan pembinaan generasi muda.
Pembinaan tersebut dilakukan melalui berbagai kegiatan yang dimulia dari
dalam keluarga, yang selanjutnya pendidikan di sekolah dengan persyaratan
yang telah disepakati oleh keluarga sebagai mana yang telah di jelaskan dalam
QS. Luqman: 13-19 di atas.
2. Saran
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi
susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu, kepada para pembaca
dan dosen pengajar materi ini, dengan tangan terbuka penulis menerima segala
saran dan kritik yang bersifat membangun demi melengkapi dan memperbaiki
DAFTAR PUSTAKA
Ad-Damasyqi, Ibnu Katsir: tafsir Al-Qur’an Al’Azim (Bandung: Sinar Baru Algesindo Bandung). cet.3. 2012.
Asghary, Iba, Basri: Solusi Al-Qur’an Tentang Problema Sosial. Politik.
Budaya. (Jakarta: Rineka Cipta). 1994.
Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahas. (jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Edisi IV). 2008.
Hamka, Tafsir Al-Azhar, Jus 5. (Depok. Gema insani). Cet.1. 2015. http://www.al-qur’an-digital.com
Nata, Abuddin. Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan. (Jakarta: Rajawali Pers). cet.6. 2014