• Tidak ada hasil yang ditemukan

NURCAYA ABDULLAH KARYA TULIS ILMIAH GENE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "NURCAYA ABDULLAH KARYA TULIS ILMIAH GENE"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

KARYA TULIS ILMIAH

“GENERASI MUDA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN”

Oleh:

Nama : nurcaya abdullah

Nim : 160301029

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI

(2)

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah swt yang maha pengasih lagi maha

panyayang, puja dan puji syukur atas kehadirat Allah swt, yang telah

melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-nya, sehingga penulis dapat

menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini dengan judul “Generasi Muda Dalam Perspektif Al-Qur’an” Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Individu Mata Kuliah Materi Al-Qur’an

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi

susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu, kepada para pembaca

dan dosen pengajar materi ini, dengan tangan terbuka penulis menerima segala

saran dan kritik yang bersifat membangun demi melengkapi dan memperbaiki

pada karya tulis ilmiah yang akan datang.

Ambon, 28 Desember 2017

(3)

GENERASI MUDA DALAM PERSPEKTIF AL-

QUR’AN

Nurcaya Abdullah 160301029

Institut Agama Islam Negeri Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan

Jurusan Pendidikan Agama Islam Email: [email protected] Absrtak

Dalam penulisan karya tulis ilmiah dengan judul “Generasi Muda Dalam

Perspektif Al-Qur’an” ini lebih menekankan pada masalah yaitu: pertama,

pandangan Al-Qur’an tentang generasi muda kedua, keberadaan dan peranan generasi muda dan ketiga, peranan orang tua dalam membentuk generasi muda Islami. Metode yang digunakan Penulis adalah metode penelitian tinjaun pustaka untuk mengumpulkan informasi tentang pandangan Al-Qur’an tentang generasi muda, keberadaan dan peranan generasi muda, serta pengaruh pola asuh

dalam membentuk generasi muda Islami. Hasil yang didapatkan penulis dalam

mengumpulkan informasi yakni, generasi muda adalah generasi penerus bangsa,

generasi penakluk dunia yang tanpanya akan hancur sebagaimana dijelaskan

dalam QS An-Nisa 4: 9. Pengokohan dan penggeseran nilai akhlah terhadap

generasi muda islami tergantung dari pola asuh dari berbagai pihak terutama

kedua orang tua. orang tua yang lebih mementingkan diri sendiri justru akan

menjadikan anak sebagai generasi yang lemah dan tidak siap dalam menghadapi

hidupnya. karena pada dasarnya seorang anak sangat memerlukan bimbingan

dan arahan untuk membentuk kepribadian muslim agar menjadi generasi penerus

yang tangguh, berdaya saing, serta menjadikan Al-Qur’an sebagai pandangan

hidupnya.

(4)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dunia Islam di tengah arus globalisasi dunia adalah suatu hal yang tidak

dapat dipungkiiri bahwa revolusi informasi semakin hari semakin dirasakan oleh

semua orang di seluruh bumi. Dunia semakin terasa kecil, semakin mengglobal,

sebaliknya privacy seakan tidak ada lagi. Memang dunia sedang dikendalikan oleh media masa, ke mana media masa menghadap, ke situ mata dunia tertuju,

sering kali yang benar terkubur oleh longsoran kesan negatif yang dihembuskan

oleh media massa, dan sebaliknya.1

Islam, sebagai agama yang mempunyai cita-cita dan wawasan jauh ke

depan, sangat menitikberatkan perhatian terhadap pendidikan dan orientasi

pembinaan generasi muda ini. Islam menganjukan bahkan mewajibkan kepada

orang tua khususnya agar mendidik dan membina anak-anak sejak dini, jauh

sebelum mereka menginjak dan menjalani fase kehidupan yang disebut generasi

muda.

Kajian yang singkat ini akan mencoba menelusuri bagaimana wawasan

al-qur’an, sebagai sumber utama ajaran islam tentang generasi muda tersebut.

Melalui kajian ini diharapkan akan terungkap bagaimana isyarat al-qur’an

mengenai kedudukan al-qur’an dan peranan generasi muda serta bagaimana

orintasi pembinaan yang mesti dituju.2

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis merumuskan sebagai

berikut:

1. Bagaimanakah Pandangan al-qur’an tentang generasi muda?

1 Yang termasuk media massa adalah surat kabar, majalah, radio, televisi, dan film.

Lihat joseph A. Devito, communicology: An Introduction to the study of communication. Lihat pula, Onong Uchjana Efendy, Ilmu komunikasi: teori dan praktek, (bandung: Remaja karya, 1985), hlm. 26,31,dan 62.

2 Abudin Natta: Kajian Tematik Al-Qur’an Tentang Kemasyarakatan. Bandung: Angkasa

(5)

2. Di manakah keberadaan dan peranan generasi muda?

3. Bagaimana cara membentuk generasi muda Islami?

C. Tujuan Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan:

1. Untuk mengetahui pandangan al-qur’an tentang generasi muda

2. Untuk mengetahui keberadaan dan peranan generasi muda dalam suatu

bangsa.

3. Untuk mengetahui bagaimana peranan orang tua dalam membentuk

(6)

BAB II PEMBAHASAN

1. Pandangan Al-Qur’an Tentang Generasi Muda

Generasi muda terdiri dari dua kata yaitu generasi dan muda. Dalam

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata “generasi” berarti: angkatan; turunan, sekalian orang yg kira-kira sama waktu hidupnya. Sedangkan “Muda”

berarti: kelompok (golongan, kaum) muda.3

Di kalangan umat islam, generasi muda sering disebutkan dengan istilah

generasi Qur’ani. Dimana generasi Qur’ani menjadikan al-qur’an sebagai pedoman hidupnya, generasi qur’ani merupakan generasi idaman karena mereka

menggunakan Al-qur’an sebagai pegangan, perisai, serta mempelajari dan

mengamalkannya dalam segala aspek kehidupan mereka.

Definisi yang berbeda ditunjukan oleh al-Qur’an. Dalam kaidah bahasa

Qur’an seorang pemuda atau yang disebut “asy-syabab” adalah mereka yang memiliki sifat dan sikap seperti yang tergambar dalam beberapa ayat dalam

Al-Qur’an:

1. QS. Al-kahf ayat 13









“Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar.

Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.”.4

Dalam Tafsir al-Azhar dijelaskan bahwa penghuni gua itu ialah anak-anak

muda belaka, tidak ada bercampur orang tua. Maka kalau hal ini

diperbandingkan kepada perjuangan Nabi saw. Di mekah itu kelihatan suatu

pengalaman yang sepatutnya dijadikan pedoman.5

3

Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahas. (jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Edisi IV.2008). hlm 440

4 http://www.al-qur’an-digital.com

(7)

Sedangkan di dalam tafsir ibn katsir menjelaskan tentang dimulainya

penjabaran kisah mereka (para pemuda ashabul kahfi) secara rinci. Allah

menyebutkan bahwa mereka adalah segolongan kaum muda yang menerima

perkara yang hak dan mendapat petunjuk jalan yang lurus dari guru-guru mereka

yang saat itu telah durhaka dan tenggelam ke dalam agama kebatilan menjadi

sesat. Oleh karena itulah kebanyakan orang yang menyambut baik seruan Allah

swt dan Rasulnya adalah dari kalangan kaum muda. Adapun orang-orang

tuanya, sebagian besar dari mereka tetap berpegang teguh pada agamanya dan

tidak ada yang masuk Islam dari kalangan mereka kecuali sedikit. Demikianlah

Allah swt, menceritakan tentang para penghuni gua, bahwa mereka semua terdiri

dari kalangan kau muda. 6

2. QS. Al-kahf ayat 60;

 





   





  

“dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke Pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun".7

Ringkas cerita, kisah di atas menceritakan tentang pemuda (nabi musa)

yang mempunyai semangat yang tinggi dalam menuntut ilmu, serta memiliki

rasa ingin tahu akan sesuatu. Tidak peduli dengan seberat apapun rintangan dan

tantangnnya pemuda tersebut tetap melalui dengan sabar dan ikhlas dengan niat

menuntut ilmu. Demi memenuhi rasa ingin tahunya, pemuda tersebut rela

menempuh perjalanan yang sangat jauh guna mencapai tujuan. Kisah ini

memberikan contoh kepada para generasi muda agar tidak patah semangat dalam

menuntut ilmu. Karena menuntut ilmu merupakan suatu hal yang tidak akan

pernah sia-sia.

3. QS. Al-anbiya ayat 60;

6 Lihat Ibnu Katsir Ad-Damasyqi: tafsir Al-Qur’an Al’Azim (Bandung: Sinar Baru

Algesindo Bandung). cet.3. 2012. hlm. 430.

(8)







“mereka berkata: "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim ".8

Allah menyutus seorang Nabi melaikan masih berusia muda, dan

tidaklah seorang di anugerahi ilmu melainkan ia masih berusia muda. Lalu Ibnu

Abbas membaca firman Allah: “mereka berkata: "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim ".Allah

menceritakan ucapan mereka: “ mereka berkata, (kalau demikian) bawalah dia dengan cara dapat dilihat orang banyak. (QS al-Anbiya: 61). Yakni di mata orang banyak, yang saat itu semua orang hadir. Ternyata apa yang telah

direncanakan oleh Nabi Ibrahim mencapai sasarannya dengan tepat. Dalam

pertemuan yang besar ini Ibrahim a.s. bermaksud menjelaskan kepada mereka

akan kebodohan dan kekurangan akal mereka tersebut. 9

Sebenarnya apa yang dilakukan Ibrahim a.s merupakan tindakan seorang

pemuda yang ingin menjelaskan bahwa apa yang orang-orang sembah

(berhala-berhala) merupakan suatu hal yang sia-sia. Ia mencela berhala-berhala tersebut

untuk menunjukan kepada umatnya bahwa tindakan yang ia lakukan tidak akan

membuat berhala-berhala tersebut marah dan memberikan hukuman. Tetapi

justru berhala-berhala itu akan tetap diam di tempat dan tidak akan pernah

memberikan apa-apa.

Jadi berdasarkan uraian di atas, maka generesi muda merupakan generasi

yang memiliki kemampuann untuk mengubah dunia, mengubah apa yang ada di

sekitarnya menjadi lebih baik. Selain itu, generasi muda memiliki ciri-ciri

berwawasan luas, cerdas, bertanggung jawab, berbudi pekerti baik, pantang

menyerah dalam menuntut ilmu, mudah bergaul, serta menjadikan Al-Qur’an

sebagai pedoman hidup di dalam kehidupannya.

8 http://www.al-qur’an-digital.com

(9)

2. Keberadaan dan Peranan Generasi Muda

Kembali kepada al-Qur’an, perihal keberadaan dan peranan generasi

muda di dalam kehidupan masyarakat umat manusia dapat dipahami dari

firman Allah swt:







“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari Keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah Keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah yang Maha mengetahui lagi Maha Kuasa. (QS. Ar-Ruum, 30:54).10

Ayat ini menjelaskan garis besar fase kehidupan manusia. Fase pertama

dijelaskan manusia itu dalam keadaan lemah. Dilihat dari segi umur, fase ini

dapat diartikan sebagai masa kanak-kanak. Fase kedua, pertengahan. Dijelaskan

bahwa manusia itu berada dalam keadaaan kuat. Fase ini dari segi umur, dapar

diartikan sebagai masa generasi muda. Sedangkan fase ketiga, terakhir,

dijelaskan manusia itu kembali dalam keadaaan lemah. Yang dimaksudkan

dengan fase kehidupan yang terakhir ini adalah di saat manusia menjalani

kehidupan masa tuanya; oleh sebab itu ungkapan di dalam ayat ini diikuti

dengan kata-kata syaibahyang berarti “berubah”, yang merupakan salah satu ciri

ketuaan seseorang pada umumnya.11

Dari ketiga fase kehidupan yang dikemukakan oleh Al-Qur’an, fase kedua,

di mana manusia hidup pada masa generasi muda, merupakan fase yang paling

utama. Generasi muda merupakan lapisan sosial yang memiliki potensi yang

seyogyanya dimanfaatkan secara maksimal dan sebaik-baiknya.

10 http://www.al-qur’an-digital.com

11 Al-Sayyid Muhammad Husaian Al-Thabathabaiy, Al-Mizan fi Tafsil al-Qur’an al-Karim,

(10)

Sampai di sini dapat ditarik suatu gambaran bahwa Islam, al-Qur’an,

mengakui keberadaan dan besar serta pentingnya peranan generasi muda di

tengah-tengah kehidupan umat manusia. Masa muda merupakan fase kehidupan

yang paling ideal, tempat seseorang mencapai puncak perkembangan dalam

segalaa aspek kehidupan, baik fisik, mental, maupun intelektual. Dengan

perkembangan dan kematangan serta potensi yang dimiliki, seorang pemuda

seyogyanya mampu hidup mandiri kreatif dan dinamis.

Pengakuan akan eksistensi dan peranan penting generasi muda ini tidak

hanya merupakan teoritis Qur’an, melainkan betul-betul dipraktekan disepanjang sejarah perkembangan islam. Rasulullah sangat memperhatikan dan menghargai

aspirasi para sahabat darigolongan generasi muda. Beliau tidak jarang

memercayakan suatu tugas dan tanggung jawab penting kepada sahabat generasi

muda. Sebagai contoh, Rasulullah pernah mempercayakan jabatan komandan

militer kepada Usamah Ibn Zaid, seorang pemuda yang waktu itu baru berusia

sekitar delapan belas tahun. Pasukan yang dipimpin oleh pemuda usamah ini

beranggotakan para sahabat besar, termasuk Abu Bakar Al-Siddiq, dan Umar

Ibn Al-Khatthab.12

Pendek kata, generasi muda di mata Islam mempunyai kedudukan dan

peranan penting. Dengan segala potensi dan kelebihan yang dimiliki, generasi

muda diharapkan dapat berbuat dan berdedikasi lebih banyak, untuk kemajuan,

dibandingkan lapisan masyarakat lainnya. Generasi muda merupakan sumber

daya manusia yang paling potensial. Maju mundurnya suatu bangsa di masa

depan tergantung pada kualitas generasi mudanya masa kini.13

Dewasa ini Keberadaan dan peranan generasi muda bukan hanya

penting, tetapi sangat penting baik dalam keluarga maupun di lingkungan

masyarakat. Dalam keluarga generasi muda merupakan suatu kebanggan bagi

keluarga lebih-lebih adalah kedua orang tua. Sedangkan dalam lingkungan

masyarakat sendiri generasi muda adalah generasi pencetus perubahan dan

penggerak, dengan potensi yang dimiliki. Dengan adanya genersi muda

12 Khalid Muhammad Khalid, Rijal Haul al-Rasul, Beirut: Dar al-Fikr, t.t,. hal. 522.

13 Abudin Nata: Kajian Tematik Al-Qur’an Tentang Kemasyarakatan. Bandung: Angkasa

(11)

Diharapkan suatu bangsa akan mengalami kemajuan serta meningkatkan harkat

dan martabat bangsa tersebut.

3. Peranan Orang Dalam Membentuk Generasi Muda





 





  

  



 



“dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya

meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang benar”. (An-Nisa : 9).14

Mewujudkan anak menjadi insan yang sehat dan berperilaku Islam, di

pundak orang tualah terletak tanggung jawab yang utama. Orang tua

berkewajiban merawat, memelihara serta mendidiknya sesuai dengan tuntunan

Allah dan Rasul-Nya. Apabila kewajiban merawat memelihara dan mendidiknya

itu dilakukan dengan tepat oleh setiap orang tua, niscaya hal itu merupakan

manifestasi dari mensyukuri nikmat Allah.15

Dampak dari perkembangan teknologi terkadang terasa sebagai suatu

pergeseran nilai-nilai sosial dan keagamaan. Seorang ayah yang terlalu sibuk

dengan aktivitas keduniawian, hampir tak tersisa waktunya untuk bertatap muka

dan berdialog dengan anaknya. Demikian juga dengan ibu, lebih-lebih bagi

ibu-ibu yang lebih mementingkan karier, untuk menempatkan dirinya agar disebut

“wanita karier”, banyak kewajiban yang seharusnya menjadi tanggungjawabnya ditinggalkan. Berapa banyak wanita yang masih enggan menyusui anaknya

dengan air susunya sendiri. Wanita seperti itu khawatir bila payudaranya akan

berubah bentuk jika bayinya disusui.16

14 http://www.al-qur’an-digital.com

15 Basri Iba Asghary: Solusi Al-Qur’an Tentang Problema Sosial. Politik. Budaya. Jakarta:

Rineka Cipta. 1994. hlm. 208.

(12)

Dengan kata lain, pengabaian orang tua terhadap pertumbuhan anak, sama

dengan membiarkan mereka tumbuh menjadi keturunan atau generasi yang

lemah. Muncul generasi yang penuh dengan santai dan hura-hura. Bagi generasi

umat Islam, kondisi ini benar-benar sangat riskan. Karena setiap anak yang tidak

memperoleh limpahan kasih sayang yang murni, akan mudah dirasuki oleh

anaris-anaris yang dapat menghancurkan akidahnya.17

Dalam suatu riwayat dinyatakan oleh Rasulullah, akan ada suatu zaman

yang menimpa ummatku, yaitu kehancuran seorang suami di tangan isteridan

anank-anaknya yang dihimpit kemelaratan, kemudian mendorong suami

melakukan perbuatan buruk yang dapat merusak dirinya.

Keadaan tersebut terjadi sebab utamanya adalah karena isteri, anak dan

anggota keluarga tersebut tidak memeiliki pendidikan. Untuk itulah, maka di

dalam berbagai atat al-Qur’an lainnya, Allah memerintahkan agar suami sebagai

kepala keluarga memberikan pendidikan kepada anggota keluarganya itu. Hal

yang demikian misalnya dicontohkan oleh Lukmanul Hakim sebagimana

dilukiskan dalam ayat berikut ini:

                                                                                                                                                                                                     
(13)







 

 



 



 





 

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada -Kulah kembalimu.

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku

sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada -Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

“(Luqman berkata): "Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha mengetahui.”

“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).”

(14)

“Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS.luqman 13-19).18

Dari ayat 13 sampai 19 atau 7 ayat surat luqman tersebut terdapat enam

komponen pendidikan sebagai berikut. Pertama, komponen pendidik yang di dalam hal ini adalah kedua orang tua, khususnya lukman (ayah) sebagai kepala

keluarga. Kedua, komponen anak didik (murid) yang dalam hal ini adalah anaknya luqman sendiri.19Ketiga, komponen lingkungan yang di mana kegiatan pendidikan tersebut berlangsung, yang di dalam hal ini adalah lingkungan

keluarga. Keempat, komponen materi (kurikulum) pendidikan yang dalam ayat-ayat tersebut mencakup mareri pendidikan tentang keimanan atau akidah yang

kokoh antara lain dengan menjauhi perbuatan syirik, akhlak yang mulia antara

lain dengan memuliakan kedua orang tua, mendirikan sholat, memerintahkan

perbuatan yang baik dan menjauhi perbuatan yang mungkar, bersikap tabah,

tidak menyombongkan diri, dan bersikap rendah hati. Kelima, komponen hubungan, kedekatan dalam proses belajar mengajar, yang dalam hal ini

mengembangkan pola hubungan yang demokratis, menghargai pendapat orang

lain, manusiawi, berorientasi pada kebenaran ilmiah, dan profesional. Keenam, komponen metode yang dalam hal ini dengan ceramah (mau’idzah) dan

perintah.20

Dengan mengikuti uraian tersebut di atas tampak dengan jelas bahwa

ajaran Islam (Al-Qur’an) amat memperhatikan pembinaan generasi muda.

Pembinaan tersebut dilakukan melalui kegiatan yang dimulia dari rumah tangga

atau pendidikan keluarga, yang selanjutnya dilakukan oleh sekolah dengan biaya

ditanggu oleh keluarga.21

18 http://www.al-qur’an-digital.com

19

Menurut sebuah riwayat bahwa lukman memiliki anak yang susah diatur, nakal, dan banyak menentang. Kemudian luqman sering mengajak anaknya itu untuk melihat orang sakit payah dan orang yang meninggal. Dari penglihatannya itu, diharapkan timbul kesadaran bahwa manusia betapapun ia pada saatnya nanti ia kana mati, sakit, dan sebagainya yang tidak dapat dielakkan. Dengan demikian manusia diharapkan sadar, insaf dan menjadi oanng yang rendah hati, patuh, tunduk, dan ikhlas menerima perintah Allah.

20 Abuddin Nata. Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan. (Jakarta: Rajawali Pers). 2014. hlm.204.

(15)

Selain itu terdapat pula pendidikan yang bersifat kekeluargaan yang harus

ditanamkan kepada anak. Ia harus diperkenalkan kepada keluarganya yang

terdekat maupun yang jauh, seperti dengan nenek, atau kakeknya, bibi atau

pamannya, uaknya, dan seterusnya. Hal yang demikian dapat dilihat pada masa

Rasulullah SAW kecil, ia diajak oleh ibunya mengunjungi keluargnya yang

berada di Yatsrib atau yang sekarang disebut Madinah. Hal yang demikian amat

penting, sebagai persiapan manakala terdapat sesuatu yang tidak dikehendaki

dalam perjalanan hidup anak tersebut.

Dengan pendidikan keagamaan yang kokoh tersebut, barulah si anak

dipersilahkan memilih bidang keahlian yang akan ditekuninya, misalnya apakah

ia akan menjadi dokter, insinyur, pengacara, guru, seniman, budayawan,

politikus, dan lain sebagainya. Dengan cara demikian, maka berbagai keahian

yang dimiliki tidak akan membuat dirinya sombong, melainkan akan senantiasa

bersyukur kepada Allah dengan memanfaatkan keahliannya itu untuk beribadah

kapada Allah dan untuk kepentingan manusia.22

Dalam Islam membentuk generasi muda tidak semudah membalikkan

telapak tangan. Karena dalam masa pembentukan itu, jika dilakukan tidak

maksimal maka hasil yang didapat juga tidak maksimal. Sepert orang tua yang

sibuk juga akan mempengaruhi pendidikan seorang anak, karena bisa jadi orang

tua yang terlalu sibuk akan membuat seorang anak kehilangan kasih sayang dari

kedua orang tuanya, hal tersebut dapat menyebapkan si anak akan menjadi

generasi muda yang suka huru-hara dan tidak siap dalam menghadapi tuntunan

zaman.

Untuk memperoleh generasi muda yang tangguh maka yang berperan

penting adalah kedua orang tua. Orang tualah yang harus memberikan pendidkan

agama sejak dini kepada anak. Pendidikan yang pertama diberikan adalah

pendidikan agama. Pendidikan agama sangatlah penting untuk seorang anak,

karena dengan pendidikan agama akan membentuk perisai di dalam diri si anak

untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan di kehidupannya.

(16)

Contoh pendidkan agama yang diajarkan kepada seorang anak adalah

pendidikan sebagaimana yang dicontohkan/diterapkan oleh Lukmanul Hakim

kepada anaknya. Seperti mengajarkan sholat, tidak menyekutukan Allah (syirik),

hormat kepada orang tua, tidak sombong, berlaku lemah lembut, dan sebagainya.

Dengan pendidikan tersebut diharapkan si anak dapat tumbuh menjadi generasi

muda yang tangguh, kuat dan serta menjadikan al-Qur’an sebagai pedoman

(17)

BAB III PENUTUP

1. Kesimpulan

Generasi muda adalah generasi penakluk bangsa, pendorong terjadinya

perubahan, pelita bangsa, karena para generasi muda menjadikan Al-qur’an

sebagai pedoman hidup dalam segala aspek kehidupan. Selain itu al-Qur’an,

sendiri mengakui keberadaan dan serta pentingnya peranan generasi muda di

tengah-tengah kehidupan umat manusia. Masa muda merupakan masa

kehidupan yang paling ideal, tempat seseorang mencapai puncak perkembangan

dalam segala aspek kehidupan, baik fisik, mental, maupun intelektual.

Pengabaian orang tua terhadap pertumbuhan anak, entah itu karena sibuk,

antara isteri dan suami tidak ada kerjasama, breaking home maka sama dengan

membiarkan seorang anak tumbuh menjadi keturunan atau generasi yang lemah

dan susah diatur. maka akan muncul generasi yang penuh dengan santai dan

senang huru-hara. Bagi generasi umat Islam, kondisi ini benar-benar sangat

memprihatinkan. Karena jika setiap anak yang tidak memperoleh curahan kasih

sayang secara maksimal, akan mudah dipengaruhi oleh paham-paham yang

dapat menghancurkan akidahnya.

Dalam (Al-Qur’an) sangat memperhatikan pembinaan generasi muda.

Pembinaan tersebut dilakukan melalui berbagai kegiatan yang dimulia dari

dalam keluarga, yang selanjutnya pendidikan di sekolah dengan persyaratan

yang telah disepakati oleh keluarga sebagai mana yang telah di jelaskan dalam

QS. Luqman: 13-19 di atas.

2. Saran

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi

susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu, kepada para pembaca

dan dosen pengajar materi ini, dengan tangan terbuka penulis menerima segala

saran dan kritik yang bersifat membangun demi melengkapi dan memperbaiki

(18)

DAFTAR PUSTAKA

Ad-Damasyqi, Ibnu Katsir: tafsir Al-Qur’an Al’Azim (Bandung: Sinar Baru Algesindo Bandung). cet.3. 2012.

Asghary, Iba, Basri: Solusi Al-Qur’an Tentang Problema Sosial. Politik.

Budaya. (Jakarta: Rineka Cipta). 1994.

Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahas. (jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Edisi IV). 2008.

Hamka, Tafsir Al-Azhar, Jus 5. (Depok. Gema insani). Cet.1. 2015. http://www.al-qur’an-digital.com

Nata, Abuddin. Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan. (Jakarta: Rajawali Pers). cet.6. 2014

Referensi

Dokumen terkait

Pada penderita yang belum mengalami osteoporosis, maka sifat latihan adalah pembebanan pada tulang, sedangkan pada penderita yang sudah osteoporosis, maka latihan

Maka dari itu seorang pemimpin haruslah bisa memahami perilaku individu-individu di dalam organisasi yang dipimpinnya untuk bisa menemukan gaya kepemimpinan yang

Tititk tertinggi pada gerakan naik disebut puncak gelombang sedangkan titik terendah pada gerak an menurun disebut lembah gelombang.- Pasang Surut (Ocean Tide)Pasang naik dan

Jika suatu komunitas itu hidup di dalam suatu tempat dalam ekosistem maka disebut dengan vegetasi .Vegetasi merupakan bagian hidup yang tersusun dari tetumbuhan yang menempati

Hal ini tidak jauh berbeda dengan pengertian atau batasan akhlaq yang telah dikemukakan oleh Ibrahim Anis dalam kitabnya ?Al-Mu'jam Al-Wasit telah disebutkan :.. ?Akhlaq ialah

suatu yang sedang dikerjakan, digarap, diteliti, atau diamati dan mengandu ng saran- saran Dibuat Berhubung an dengan tugas dalam bidang studi tertentu: Hasil pembahas an

Sebagai seorang mahasiswa dalam dunia akademik membuat karangan merupakan sebuah keniscayaan, dimana setiap mahasiswa dituntut untuk menguasainya. Baik dari

Metode penelitian yang penulis gunakan adalah library researh untuk mengkaji informasi tentang konsep dasar multikultural dalam perpektif al-Quran dan mengkaji