• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Stres Kerja dan Kepuasan Kerja Terhadap Turnover Intention Karyawan Medis di RSIA. Stella Maris Kota Medan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengaruh Stres Kerja dan Kepuasan Kerja Terhadap Turnover Intention Karyawan Medis di RSIA. Stella Maris Kota Medan"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di era globalisasi sekarang ini persaingan antar perusahaan semakin ketat.

Perusahaan di tuntut untuk dapat mengikuti perkembangan yang ada supaya

tujuan perusahaan dapat tercapai. Salah satu cara untuk mencapai tujuan

perusahaan adalah dengan meningkatkan sumber daya manusia. Sumber daya

manusia merupakan salah satu aset perusahaan yang memiliki peranan sangat

penting dalam menjalankan roda kehidupan perusahaan, terutama di rumah sakit

karena berhubungan dengan jasa. Untuk itu perlu dilakukan pengelolaan sumber

daya manusia dalam organisasi. Namun kebijakan yang diterapkan perusahaan

kadang tidak sesuai dengan kebutuhan dan harapan karyawan sehingga

menyebabkan timbulnya keinginan karyawan untuk berhenti bekerja dari

perusahaan atau turnover intention.

Intensi adalah niat atau keinginan yang timbul dalam diri seseorang untuk

melakukan sesuatu. Sedangkan turnover adalah pergerakan tenaga kerja keluar

dari suatu organisasi. Jadi, turnover intention merupakan niat perilaku individu

untuk secara sukarela meninggalkan profesi atau organisasi (Mobley et all

2007:238). Pentingnya meneliti turnover yaitu karena tingkat turnover yang

tinggi akan menimbulkan dampak negatif terhadap perusahaan, hal ini seperti

(2)

peningkatan biaya sumber daya manusia yang telah perusahaan investasikan pada

karyawan mulai dari rekrutmen dan pelatihan kembali.

Turnover karyawan yang tinggi mengakibatkan organisasi tidak efektif

karena perusahaan kehilangan karyawan yang berpengalaman dan perlu melatih

kembali karyawan baru. Selain itu, karyawan yang keluar dari pekerjaannya

secara tiba-tiba mengakibatkan banyak ketentuan dalam rumah sakit yang

ditinggalkan menjadi berubah untuk sementara waktu, mulai dari perubahan

schedule karyawan juga penambahan jumlah jam kerja hingga ada karyawan

pengganti. Hal itu dikarenakan berkurangnya tenaga kerja, sehingga jam kerja

yang seharusnya menjadi tanggung jawab karyawan yang resign harus dibebankan

kepada karyawan yang lain. Salah satu dari berbagai faktor yang perlu menjadi

perhatian rumah sakit untuk mengurangi angka turnover karyawan adalah adanya

upaya untuk mengelola sumber daya manusia yang baik dan berkesinambungan

untuk mengurangi tingkat stres yang dapat dialami oleh karyawan dan

memperhatikan kesejahteraan karyawan agar terciptanya kepuasan kerja

karyawan.

Menurut Robbins (2008:368) stres adalah suatu kondisi dinamis dimana

seorang individu dihadapkan pada peluang, tuntutan, atau sumber daya yang

terkait dengan apa yang dihasratkan oleh individu itu dan yang hasilnya

dipandang tidak pasti dan tidak penting. Segala macam bentuk stres pada

dasarnya disebabkan oleh ketidakmengertian manusia akan

keterbatasan-keterbatasannya sendiri. Ketidakmampuan untuk melawan keterbatasan inlah

(3)

merupakan tipe-tipe dasar stres. Penyebab timbulnya stres dalam organisasi dapat

dibedakan dalam dua kategori yaitu faktor yang bersumber di luar dan dari

individu itu sendiri. Penyebab stres yang bersumber dari luar dibedakan lagi

menjadi stres yang bersumber dari dalam organisasi dan dari luar organisasi.

Sumber stres yang berasal dari individu itu sendiri, seperti kepribadiannya,

kebutuhan, nilai, tujuan, umur, dan kondisi kesehatan.

Terkait dengan variabel kepuasan kerja, Robbins (2008: 377) mengatakan

bahwa kepuasan kerja merupakan suatu kondisi perasaan positif tentang pekerjaan

seseorang yang merupakan hasil dari sebuah evaluasi karakteristiknya. Karyawan

yang memperoleh kepuasan dari perusahaannya akan memiliki rasa keterikatan

atau komitmen lebih besar terhadap perusahaan dibanding karyawan yang tidak

puas. Kepuasan atau ketidakpuasan karyawan tergantung pada perbedaan antara

apa yang diharapkan. Sebaliknya, apabila yang didapat karyawan lebih rendah

daripada yang diharapkan akan menyebabkan karyawan tidak puas.

Ketidakpuasan kerja akan menyebabkan motivasi kerja rendah, kinerja menurun,

komitmen keorganisasian menurun, kemangkiran meningkat, mengeluh,

menimbulkan stress, dan bahkan keluar dari perusahaan.

RSIA. Stella Maris merupakan salah satu rumah sakit yang khusus

menyediakan pelayanan bagi kesehatan wanita dan anak. Tingkat turnover di

RSIA. Stella Maris Kota Medan cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke

tahun. Tingkat turnover yang tinggi dapat dilihat dari perputaran karyawan RSIA.

(4)

Tabel 1.1

Labour Turnover tahun 2011 – 2015 RSIA. Stella Maris Kota Medan

Sumber: RSIA. Stella Maris, 2016 (Data Diolah)

Berdasarkan Tabel 1.1 terlihat bahwa tingkat turnover karyawan di RSIA.

Stella Maris Kota Medan cukup tinggi selama 5 tahun terakhir. Terlihat pada

tahun 2011 tingkat turnover mencapai 10% dengan jumlah karyawan yang keluar

sebanyak 13 orang. Kemudian pada tahun 2012 mencapai 9,5% dengan jumlah

karyawan yang keluar sebanyak 15 orang. Dalam 5 tahun terakhir, turnover

tertinggi terjadi pada tahun 2015 dengan tingkat turnover sebesar 11% dengan

jumlah karyawan keluar sebanyak 24 orang. Hal ini menunjukkan bahwa

kurangnya manajemen rumah sakit RSIA. Stella Maris dalam mengelola sumber

daya manusia secara berkesinambungan.

RSIA. Stella Maris termasuk rumah sakit yang banyak diminati

masyarakat sehingga mempunyai pasien yang banyak setiap bulannya.

Banyaknya jumlah pasien yang tidak diimbangi dengan jumlah tenaga kerja yang

memadai akan berdampak pada stress kerja yang dialami oleh karyawan.

Misalnya pada divisi keperawatan, beban kerja yang dirasa perawat sangat

berlebihan seperti membantu pasien ke kamar mandi, mendorong peralatan

(5)

perawat. Pasien yang dirawat oleh 1 perawat dapat mencapai 3, 4, 5 bahkan

hingga 6 pasien. Hal ini dapat menyebabkan perawat merasa lelah, pusing,

terburu-buru, dan bahkan stres karena beban kerja yang begitu berat.

Sedangkan pada divisi kebidanan, resiko besar sering kali membayangi

bidan dalam menjalankan tugasnya. Resiko tersebut dapat berupa kondisi sulit

dan kegawatan, khususnya ketika menangani pasien bersalin. Kondisi tersebut

antara lain; pendarahan, partus macet, eklamsia, infeksi, asfiksia neonatal, dan

lain-lain. Keadaan-keadaan seperti itu dapat terjadi diluar dugaan bidan. Banyak

kondisi tidak menentu dapat terjadi. Di mana yang semula dianggap baik,

tiba-tiba berubah menjadi kondisi yang buruk. Keadaan-keadaan yang sulit seringkali

membuat bidan merasa panik. Kegagalan penanganan dapat berakibat fatal. Hal

inilah yang dapat menimbulkan stres bidan.

Selanjutnya pada divisi farmasi, stres kerja terindikasi dari aspek perilaku

dan fisiologis, salah satunya adalah sikap terburu-buru dalam bekerja dan pusing

yang dialami karyawan medis bagian farmasi. Sikap terburu-buru dalam bekerja

dan pusing terjadi karena beban kerja dirasakan terasa berat khususnya pada

waktu jam sibuk (sekitar jam 10.30 – 13.00 siang), hal ini dikarenakan banyak

pasien menebus obat di jam tersebut. Pada waktu jam sibuk terdapat banyak

antrian di depan instalasi farmasi yang mengakibatkan waktu tunggu pasien

menjadi lama. Waktu tunggu pasien rawat jalan untuk pelayanan obat jadi

rata-rata dibutuhkan waktu sekitar 30 menit. Secara tidak langsung beberapa hal

tersebut mempengaruhi kondisi stres karyawan. Berikut ini hasil pra survey stres

(6)

Tabel 1.2

Hasil Pra survey mengenai Stres Kerja Karyawan Medis RSIA. Stella Maris Kota Meda

Sumber: Hasil prasurvey karyawan medis RSIA. Stella Maris

Berdasarkan Tabel 1.2 dapat dilihat bahwa dari pra survey yang dilakukan

peneliti dengan membagikan kuesioner kepada beberapa karyawan medis RSIA.

Stella Maris mengenai beban kerja yang berlebihan dinyatakan karyawan sebesar

80%, dan yang tidak menyatakan beban kerja berlebihan sebesar 20%. Sementara

mengenai waktu yang diberikan dalam menyelesaikan pekerjaan terlalu singkat

dinyatakan sebesar 93,3%, dan yang tidak menyatakan waktu terlalu singkat

sebesar 6,7%. Kemudian, karyawan yang menyatakan terburu-buru

menyelesaikan pekerjaan ketika beban pekerjaan diberikan secara bersamaan

sebesar 90%, dan yang menyatakan tidak terburu-buru sebesar 10%. Karyawan

yang menyatakan sering menunda pekerjaan yang sulit sebesar 80%, dan yang

menyatakan tidak sering menunda sebesar 20%. Selanjutnya, karyawan yang

merasa pekerjaan yang diberikan cukup sulit sebesar 80%, dan karyawan yang

Waktu yang diberikan dalam menyelesaikan pekerjaan terlalu singkat

30 93,3% 6,7%

Beban pekerjaan yang diberikan secara bersamaan sering membuat saya terburu-buru menyelesaikannya

30 90% 10,7%

Saya sering menunda-nunda pekerjaan yang sulit saya kerjakan

30 80% 20%

Pekerjaan yang diberikan kepada saya cukup sulit dikerjakan

30 80% 20%

Beban kerja yang berlebihan dapat

menimbulkan rasa bosan/jenuh.

(7)

merasa tidak sulit sebesar 20%. Kemudian, karyawan yang merasa bosan/jenuh

terhadap pekerjaannya sebesar 90%, dan yang menyatakan tidak bosan mengenai

pekerjaannya sebesar 10%.

Fenomena kepuasan kerja yang terjadi di RSIA. Stella Maris Kota Medan

adalah mengenai pengembangan karir. Karyawan medis sering mengeluh

mengenai pengembangan karir mereka, salah satunya diakibatkan tidak adanya

peningkatan jabatan atau tidak adanya kenaikan posisi pada karyawan medis yang

telah memperoleh pendidikan lanjutan. Minimnya kesempatan promosi yang

disediakan manajemen rumah sakit dikarenakan jenjang karir yang tersedia bagi

karyawan medis terbatas. Pihak rumah sakit juga belum mengatur lamanya masa

jabatan bagi seorang kepala ruangan. Promosi biasanya dilakukan ketika jabatan

kosong. Dengan demikian, waktu promosi tidak dapat diprediksi dengan kata lain

dapat terjadi sewaktu-waktu dan kesempatan promosi menjadi sangat terbatas.

Selain minimnya kesempatan promosi karyawan medis, ketidakpuasan

karyawan medis juga disebabkan karena keputusan promosi ditentukan oleh

kepala Divisi rumah sakit. Kepala Divisi rumah sakit membuat keputusan

mengenai karyawan yang berhak promosi berdasarkan pertimbangan pribadi

sendiri sehingga kriteria penilaian yang digunakan menjadi kurang jelas bagi

karyawan lain. Fenomena ini dapat membuat karyawan medis tidak peduli

terhadap pekerjaan mereka serta tidak merasa bertanggung jawab terhadap

kemajuan organisasi atau dengan kata lain mempunyai komitmen yang rendah

terhadap organisasi. Hal ini akan membawa dampak yang sangat tidak

(8)

yang rendah berarti memiliki kepuasan kerja yang rendah akan menghasilkan

prestasi kerja dan produktivitas yang rendah pula. Kondisi karyawan dengan

kepuasan kerja yang rendah, karyawan tidak bisa mencurahkan seluruh jiwa,

perasaan dan waktu mereka untuk kemajuan organisasi yang pada akhirnya akan

menyebabkan organisasi kehilangan daya saingnya. Berikut ini hasil pra survey

peneliti tentang kepuasan kerja karyawan medis di RSIA. Stella Maris Kota

Medan dapat dilihat pada Tabel 1.3:

Tabel 1.3

Hasil Prasurvey Mengenai Kepuasan Kerja Karyawan Medis RSIA. Stella Maris Kota Medan

Sistem promosi di perusahaan terlaksana dengan adil

30 3,33% 96,7%

Pimpinan saya mau mendengar keluhan saya 30 16,7% 83,3%

Komunikasi dengan atasan sangat baik 30 13,3% 86,7%

Sumber: Hasil prasurvey karyawan medis RSIA. Stella Maris

Berdasarkan Tabel 1.3 dapat dilihat bahwa dari pra survey yang dilakukan

peneliti mengenai kesesuaian gaji dengan beban kerja yang diterima dinyatakan

karyawan sebesar 33,3%, dan yang menyatakan gaji tidak sesuai dengan beban

kerja sebesar 66,7%. Sementara mengenai kepuasan pekerjaan yang ditekuni

dinyatakan sebesar 10%, dan yang menyatakan tidak puas dengan pekerjaan

sebesar 90%. Kemudian, Karyawan yang menyatakan sistem promosi di

(9)

menyenangkan sebesar 96,7%. Selanjutnya, karyawan yang menyatakan

pimpinan mendengar keluhan sebesar 16,7%, dan karyawan yang menyatakan

pimpinan tidak mendengar keluhan sebesar 83,3%. Terakhir, komunikasi dengan

atasan sangat baik dinyatakan karyawan sebesar 13,3% dan yang menyatakan

komunikasi tidak baik sebesar 86,7%.

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan oleh peneliti diatas,

maka peneliti mengambil judul dalam skripsi ini yaitu “Pengaruh Stres Kerja Dan

Kepuasan Kerja Terhadap Turnover Intention Karyawan Medis di RSIA. Stella

Maris Kota Medan”.

1.2.Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka rumusan masalah

dalam penelitian ini adalah: Apakah Stress Kerja dan Kepuasan Kerja

Berpengaruh Signifikan Terhadap Turnover Intention Karyawan Medis di RSIA.

Stella Maris Kota Medan?

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis

pengaruh stres kerja dan kepuasan kerja terhadap turnover intention karyawan

(10)

1.4. Manfaat Penelitian 1. Bagi Perusahaan

Sebagai bahan pertimbangan agar perusahaan dapat lebih menurunkan

tingkat stress karyawan dan meningkatkan kepuasan kerja karyawan yang

pada akhirnya akan menurunkan angka turnover karyawan.

2. Bagi Penyusun

Sebagai bahan masukan dalam menambah wawasan terhadap faktor yang

mempengaruhi terjadinya turnover karyawan.

3. Bagi Peneliti Selanjutnya

Untuk menjadi tambahan ilmu dalam bidang manajemen sumber daya

manusia, khususnya pada bidang stress kerja dan kepuasan kerja terhadap

Gambar

Tabel 1.2 Hasil Pra survey mengenai Stres Kerja Karyawan Medis

Referensi

Dokumen terkait

a) Konstanta sebesar 5,067, menyatakan bahwa jika tidak ada variabel bebas yaitu Stres kerja (konflik kerja (X1), beban kerja (X2), waktu kerja (X3)), maka prestasi kerja

Dan hasil yang diperoleh dari penelitian tersebut yaitu terdapat pengaruh kepuasan kerja terhadap keinginan keluar (turnover intention) karyawan sebesar 23,2%

Tingkat kepuasan kerja yang paling tinggi adalah mengenai gaji yang diberikan perusahaan sudah sesuai dengan beban kerja karyawan mendapatkan nilai rata-rata

Pengaruh Seleksi dan Penempatan Terhadap Prestasi Kerja Karyawan Dalam Menurunkan Tingkat Kesalahan Kerja Pada Rumah Sakit Muhammadiyah Gresik , Universitas Muhammadiyah

Berdasarkan uraian sebelumnya, dapat disimpulkan sebagai berikut: 1) Beban kerja berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kepuasan kerja karyawan PT. Adira Quantum

turnonver intention karyawan dapat di jelaskan oleh variabel stres kerja, kepuasan kerja, budaya organisasi, dan komitmen organisasi. Sisanya sebesar 23,2%

Apabila hasil yang dicapai karyawan dalam bekerja tidak sesuai dengan harapannya, kemudian beban pekerjaan yang berlebihan dan adanya tekanan dari lingkungan kerja, dapat

Stella Maris Makassar Elisabet Ersi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta 2010 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh secara simultan efektivitas kepemimpinan,