7
Untuk mengelola sebuah perusaaan atau organisasi selalu dibutuhkan
sistem manajemen agar tujuan dari perusahaan atau organisasi tersebut dapat
tercapai. Manajemen adalah suatu proses untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan sebelumnya dengan menggunakan orang-orang melalui fungsi
perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian (POAC) dengan
memanfaatkan sumber daya yang tersedia.
Produksi (production) adalah proses penciptaan barang dan jasa. Menurut Jay Heizer dan Barry Render (2006), ‟‟Manajemen Operasi (operation management-OM) adalah serangkaian aktivitas yang menghasilkan nilai dalam bentuk barang dan jasa dengan mengubah input menjadi output‟‟. Sedangkan menurut Eddy Herjanto (2008) „‟Manajemen operasi dan produksi dapat diartikan
sebagai suatu proses yang berkesinambungan dan efektif menggunakan
fungsi-fungsi manajemen untuk mengintegrasikan berbagai sumber daya secara efisien
dalam rangka mencapai tujuan‟‟.
Maka dapat disimpulkan bahwa Manajemen Operasi adalah suatu
kumpulan aktivitas yang berhubungan dengan pembuatan produk, melalui proses
2.2Pengertian Produk
Definisi produk menurut Laksana Fajar (2008 : 67) adalah segala sesuatu
bersifat fisik maupun non fisik yang dapat ditawarkan kepada konsumen untuk
memenuhi keinginan dan kebutuhannya. Sedangkan menurut Saladin (2003 : 71)
produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar untuk mendapatkan
perhatian, dibeli, dipergunakan, atau dikonsumsi yang dapat memuaskan
keinginan dan kebutuhan.
Berdasarkan definisi diatas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa yang
dimaksud dengan produk adalah bukan hanya sekedar berbentuk fisik atau wujud,
melainkan mengandung makna pengertian yang luas, yang meliputi obyek secara
fisik, jasa, ide yang secara keseluruhannya dapat ditawarkan dipasaran untuk
mendapat perhatian, dimiliki, digunakan atau dikonsumsi serta dapat memuaskan
kebutuhan dan keinginan konsumen, produk dapat dijual kembali dan produk
dapat dijadikan persediaan.
Produk dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok, yaitu :
A. Berdasarkan wujudnya, produk dapat diklasifikasikan ke dalam dua
kelompok utama, yaitu :
1. Barang
Barang merupakan produk yang berwujud fisik, sehingga bisa dilihat,
diraba atau disentuh, dirasa, dipegang, disimpan, dipindahkan dan perlakuan fisik
2. Jasa
Jasa merupakan aktivitas, manfaat atau kepuasan yang ditawarkan untuk
dijual (dikonsumsi pihak lain). Jasa disini memiliki arti dimana setiap tindakan
atau kegiatan yang ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain, yang pada
dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun.
Produknya dapat dikaitkan atau tidak dikaitkan dengan suatu produk fisik.
B. Berdasarkan aspek daya tahannya produk dapat dikelompokan menjadi
dua, yaitu :
1. Barang tidak tahan lama (nondurable goods).
Barang tidak tahan lama adalah barang berwujud yang biasanya habis
dikonsumsi dalam dalam satu atau beberapa kali pemakaian. Dengan kata lain,
umur ekonomisnya kondisi pemakaian normal kurang dari satu tahun.
2. Barang tahan lama (durable goods)
Barang tahan lama merupakan barang berwujud yang biasanya bisa
bertahan lama dengan banyak pemakaian (umur ekonomisnya untuk pemakaian
normal adalah satu tahun lebih).
C. Berdasarkan tujuan konsumsi yaitu didasarkan pada siapa konsumennya
dan untuk apa produk itu dikonsumsi, maka produk diklasifikasikan
1. Barang konsumsi (consumer’s goods).
Barang konsumsi merupakan suatu produk yang langsung dapat
dikonsumsi tanpa melalui pemrosesan lebih lanjut untuk memperoleh manfaat dari
produk tersebut.
2. Barang industri (industrial’s goods).
Barang industri merupakan suatu jenis produk yang masih memerlukan
pemrosesan lebih lanjut untuk mendapatkan suatu manfaat tertentu. Biasanya
hasil pemrosesan dari barang industri diperjual belikan kembali.
2.3 Pengertian Kualitas
Istilah kualitas dapat berbeda-beda tergantung dari rangkaian perkataan atau
kalimat di mana istilah kualitas ini dipakai dan orang yang menggunakannya.
Dalam suatu perusahaan atau pabrik, istilah kualitas diartikan sebagai faktor-
faktor yang terdapat dalam suatu barang yang menyebabkan barang tersebut
sesuai dengan tujuan untuk apa barang itu dimaksudkan atau dibutuhkan.
Secara definitif yang dimaksud dengan kualitas suatu produk jasa adalah
derajat atau tingkatan dimana produk atau jasa tersebut mampu memuaskan
keinginan dari konsumen (fitness for use atau tailor made) (Wignjosoebroto,2006: 251).
Menurut Goetsch dan Davis (dalam Tjiptono, 2005:10) “kualitas merupakan
suatu kondisi yang dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia,
proses, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan.” Total Quality Management adalah suatu pendekatan dalam menjalankan usaha yang mencoba
untuk memaksimumkan daya saing organisasi melalui perbaikan terus menerus
atas produk, jasa, manusian, proses dan lingkungannya.
Kualitas merupakan suatu faktor yang sangat menentukan keberhasilan
suatu produk menembus pasaran, di samping faktor utama yang lain seperti harga.
Produk yang berkualitas akan memiliki daya saing besar. Kualitas menjadi salah
satu tolak ukur keberhasilan suatu perusahaan. Kualitas tidak hanya menjadi
tanggung jawab bagian produksi, namun menjadi perhatian semua bagian dalam
perusahaan
.
2.4 Pengendalian Kualitas
Pengendalian kualitas adalah suatu sistem verifikasi dan penjagaan dari
suatu tingkat atau derajat kualitas produk atau proses yang dikehendaki dengan
cara perencanaan yang seksama , pemakaian peralatan yang sesuai, inspeksi yang
terus menerus, serta tindakan korektif bilamana diperlukan (Wignjosoebroto,2006:
252). Dengan demikian hasil yang diperoleh dari kegiatan pengendalian kualitas
ini bisa memenuhi standar-standar yang telah direncanakan atau ditetapkan.
Aktifitas pengendalian kualitas umumnya akan meliputi kegiatan-kegiatan :
- Pengamatan terhadap performance produk atau proses.
- Membandingkan performance yang ditampilkan dengan standar yang berlaku.
- Mengambil tindakan apabila terdapat penyimpangan-penyimpangan yang
cukup signifikan (accept or reject) dan apabila diperlukan dibuat tindakan untuk mengoreksinya.
Pengertian pengendalian kualitas tidaklah sama dengan kegiatan “inspeksi”, karena justru inspeksi merupakan bagian dari kegiatan untuk mengendalikan
kualitas produk atau proses, maka yang dimaksud inspeksi adalah sekedar
menentukan apakah produk/proses baik (accept) atau rusak (reject). Sedangkan kegiatan pengendalian kualitas selain berkepentingan dengan upaya untuk
menemukan kesalahan , kerusakan atau ketidaksesuaian suatu produk/proses
dalam memenuhi fungsi yang diharapkan dan juga mencoba menemukan sebab
terjadinya kesalahan tersebut.
Suatu produk harus dibuat sedemikian rupa sehingga bisa sesuai dan
memenuhi spesifikasi, standar, dan kriteria-kriteria standar kerja lainnya yang
telah disepakati. Dalam pemakaian nantinya, maka produk tersebut harus pula
sesuai dengan fungsi yang telah dirancang sebelumnya. Kualitas kesesuaian ini
akan berkaitan dengan tiga macam bentuk pengendalian (kontrol) sebagai berikut:
- Pencegahan cacat (defect prevention).
Yaitu mencegah kerusakan atau cacat sebelum benar-benar terjadi.
Contohnya dalam hal ini seperti pembuatan standar-standar kualitas, inspeksi
terhadap material yang datang , membuat peta kontrol untuk mencegah
penyimpangan dalam proses kerja yang berlangsung.
- Mencari kerusakan, kesalahan, atau cacat (defect finding).
Aplikasi dan pemakaian metode-metode yang spesifik untuk proses
Proses untuk mencari penyimpangan-penyimpangan terhadap tolak ukur atau
standar yang telah ditetapkan.
- Analisa dan tindakan koreksi (defect analysis and correction).
Menganalisa kesalahan-kesalahan yang terjadi dan melakukan
koreksi-koreksi terhadap penyimpangan tersebut. Kegiatan ini merupakan bagian dari
tanggung jawab pengendalian kualitas.
Pelaksanaan yang cermat terdapat upaya pengendalian kualitas dari
rancangan produk (quality of design) dan kualitas kesesuaian (quality of compormance) akan memberikan tingkat kualitas performance dari produk yang dihasilkan (quality of performance) (Wignjosoebroto,2006: 251-254).
2.5 Kualitas Produk
Menurut Juran ( Hunt, 1993 : 32 ), kualitas produk adalah kecocokan penggunaan produk (fitness for use) untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan pelanggan. Sedangkan Menurut Feigenbaum ( 1986 : 7 ), kualitas produk adalah kepuasaan pelanggan sepenuhnya ( full customer satisfaction ). Suatu produk berkualitas apabila dapat memberi kepuasan sepenuhnya kepada
konsumen, yaitu sesuai dengan apa yang diharapkan konsumen atau suatu produk.
Selanjutnya Menurut Vincent Garpersz, Kualitas adalah segala sesuatu yang mampu memenuhi keinginan atau kebutuhan pelanggan. Dan Menurut ISO 8402 (Quality Vocabulary), kualitas adalah sebagai totalitas karakteristik suatu produk yang menunjang kemampuan produk itu untuk memuaskan yang
dispesifikasikan atau ditetapkan.Kualitas sering kali diartikan sebagai kepuasan
pelanggan atau konformans terhadap kebutuhan atau persyaratan.
Perlu dicatat sejak awal bahwa produk, seperti didefinisikan dalam ISO
8402, adalah hasil dari aktivitas atau proses. Suatu poduk dapat berbentuk
(tangible), tak berbentuk (intangible) atau kombinasi keduanya. Disamping
pengertian seperti yang disebutkan diatas, kualitas juga dapat diartikan sebagai
segala sesuatu yang menentukan kepuasan pelanggan dan upaya perubahan ke
arah perbaikan terus menerus sehingga dikenal istilah Q-MATCH (Quality = Meets Agreed Terms and Charges).
2.6 Strategi Proses
Sebuah strategi proses (process strategy) atau transformasi adalah sebuah
pendekatan organisasi untuk mengubah sumber daya menjadi barang dan jasa.
Tujuan strategi proses adalah untuk menemukan suatu cara memproduksi barang
dan jasa yang memenuhi persyaratan pelanggan dan spesifikasi produk yang
berada dalam batasan biaya dan manajerial lain. Proses yang dipilih akan
mempunyai dampak jangka panjang pada efisiensi dan produksi, begitu juga
fleksibilitas, biaya dan kualitas barang yang diproduksi. Oleh karena itu banyak
2.6.1 Empat Strategi Proses
Sebenarnya semua barang atau jasa dibuat dengan menggunakan beberapa
variasi pada satu dari empat strategi proses :
1. Fokus pada Proses
Fasilitas produksi diatur disekeliling proses untuk menghasilkan produksi
yang rendah volume tetapi bervariasi tinggi. Tujuh puluh lima persen dari semua
produksi global berdedikasi untuk membuat produk yang bervolume rendah,
tetapi bervariasi tinggi, pada tempat yang disebut dengan ‘job shop’. Fasilitas mungkin berupa departemen yang menangani pengelasan, penghalusan dan
pengecatan. Dalam sebuah kantor, proses yang ada dapat berupa penanganan
utang, penjualan dan pembayaran. Dalam sebuah restoran proses tersebut,
mungkin berupa bar, panggangan, dan pembuat roti. Fasilitas yang ada terfokus
pada proses (process focused) dalam arti peralatan, tata letak, dan pengawasan. Mereka menyajikan fleksibilitas produk yang tinggi, karena produk berpindah
diantara proses secara sebentar-sebentar (intermittent). Setiap proses di desain untuk melaksanakan beberapa aktivitas dan menghadapi seringnya perubahan.
Karena itu disebut juga sebagai process intermittent.
Fasilitas ini memiliki biaya variable yang tinggi, dengan utilitas yang
sangat rendah, hingga serendah 5%. Ini merupakan banyak kasus pada restoran,
rumah sakit, dan took mesin. Walaupun demikian, beberapa fasilitas dapat
bekerja lebih baik dengan menggunakan peralatan yang canggih, yang
menggunakan kendali elektronis. Dengan perkembangan peralatan computer
maka sangat mungkin untuk memprogram peralatan mesin, pergerakan
komponen, dan pergantian peralatan, dan bahkan penempatan komponen pada
mesin dan pergerakan bahan antar mesin secara otomatis.
2. Proses Berulang
Proses produksi yang berorientasi pada produk yang menggunakan modul.
Modul disini adalah bagian atau komponen suatu produk yang telah disiapkan
sebelumnya, biasanya dalam suatu proses yang kontinu. Lini proses berulang
(repetitive process) sama dengan lini perakitan klasik. Lini yang secara luas digunakan didalam hampir seluruh perakitan mobil dan peralatan rumah tangga
lebih terstruktur dan karenanya menjadi lebih tidak fleksibel dibandingkan suatu
fasilitas yang terfokus pada proses.
3. Fokus pada Produk
Sebuah fasilitas di atur disekitar produk, sebuah proses yang berorientasi
pada produk, bervolume tinggi, bervariasi rendah. Proses yang memiliki volume
tinggi dan variasi yang rendah adalah proses fokus pada produk ( product-focused). Fasilitas diatur di sekeliling produk. Proses ini disebut juga dengan
proses kontinu, sebab mempunyai lintasan produksi yang sangat panjang, dan kontinu. Perusahaan dapat mendirikan fasilitas yang terfokus pada produk hanya
dengan standarisasi dan pengendalian kualitas yang efektif. Sebuah organisasi
memiliki kemampuan yang tidak bisa dipisahkan untuk menetapkan standar dan
menjaga kualitas tertentu, yang berbanding terbalik dengan organisasi yang
Sebuah fasilitas yang terfokus pada produk menghasilkan produk dengan
volume tinggi dengan variasi rendah. Fasilitas seperti ini biasanya menggunakan
biaya tetap yang tinggi, tetapi biaya variabel rendah, sebagai imbalan atas utilisasi
fasilitas yang tinggi.
4. Fokus Mass Customization
Merupakan pembuatan produk dan jasa yang dapat memenuhi keinginan
pelanggan yang semakin unik, secara cepat dan murah. Dunia kita yang semakin
canggih dan kaya ini membutuhkan jasa dan barang-barang yang sesuai dengan
kebutuhan tiap individu. Mass customization merupakan pembuatan produk dan jasa yang dapat memenuhi keinginan pelanggan yang semakin unik, secara cepat,
dan murah. Mass Customization memberikan kita variasi produk yang biasanya disediakan oleh manufaktur yang bervolume rendah (terfokus pada proses) dengan
biaya seperti manufaktur yang bervolume tinggi dan terstandarisasi (terfokus pada
produk). Untuk mencapai mass customization merupakan suatu tantangan yang membutuhkan peningkatan kemampuan operasional. Kaitan antara logistik,
produksi penjualan semakin erat. Para manajer operasi harus menggunakan
sumber daya organisasi yang imajinatif dan agresif untuk membentuk proses yang
gesit, yang memproduksi produk tertentu dengan cepat dan murah.
2.7 Mengelola Kualitas
Banyak perusahaan telah menemukan bahwa kualitas merupakan obat kuat
untuk memperbaiki operasi. Mengelola kualitas membantu membangun strategi
Peningkatan kualitas akan membantu perusahaan dalam meningkatkan
penjualan dan mengurangi biaya, yang keduanya akan meningkatkan keuntungan.
Peningkatan penjualan sering terjadi saat perusahaan mempercepat respons, merendahkan harga jual sebagai hasil dari skala ekonomis, dan memperbaiki
reputasi mereka akan produk yang berkualitas. Sama hal nya, kualitas yang
diperbaiki menyebabkan biaya turun karena perusahaan meningkatkan
produktivitas dan menurunkan rework, bahan yang terbuang(scrap), dan biaya garansi.
Satu analisis dari produsen pendingin udara telah mendokumentasikan
bahwa kualitas dan produktivitas berbanding lurus. Dalam penelitian tersebut,
perusahaan dengan kualitas terbaik, lima kali lebih produktif (dengan ukuran unit
yang diproduksi per jam kerja) dibandingkan dengan perusahaan dengan kualitas
paling rendah. Tentu saja, apabila pengaruh biaya jangka panjang organisasi dan
potensi peningkatan penjualan dipertimbangkan, biaya total mungkin berada pada
titik minimum, disaat 100% barang atau jasa sempurna dan bebas dari kecacatan.
Kualitas, atau kualitas rendah memberikan pengaruh pada organisasi
keseluruhan, mulai dari pemasok hingga ke pelanggan, dan dari desain produk
hingga ke pemeliharaan. Walaupun demikian, mungkin hal yang lebih penting
adalah membangun sebuah organisasi yang dapat mencapai kulaitas dan juga mempengaruhi organisasi secara keseluruhan – yang mana merupakan tugas yang
memang dibutuhkan. Satu kelompok aktivitas yang berhasil dimulai dengan
lingkungan organisasi yang membantu perkembangan kualitas, yang diikuti oleh
aktivitas yang dibutuhkan untuk menerapkan kualitas. Bila semua hal ini
dikerjakan dengan baik, maka biasanya organisasi dapat memuaskan
pelanggannya dan mendapatkan keunggulan bersaing tujuan akhirnya adalah
untuk memenangkan pelanggan. Karena kualitas mengakibatkan terjadinya
banyak hal baik lainnya, maka kualitas merupakan awal yang baik.
2.7.1 Menetapkan Kualitas
Sistem TQM diarahkan oleh pengidentifikasian dan pemuasan kebutuhan
pelanggan. TQM merawat pelanggan, karenanya, definisi kualitas (quality)
sebagaimana yang diambil oleh American Society For Quality adalah : “Keseluruhan fitur dan karakteristik produk atau jasa yang mampu memuaskan kebutuhan yang terlihat atau tersamar”.
Walaupun demikian, Sebagian orang percaya bahwa definisi kualitas
terbagi atas beberapa kategori. Beberapa definisi adalah yang berbasis pengguna.
Mereka mengajukan bahwa kualitas “bergantung pada pemirsa”. Orang
pemasaran menyukai pendekatan ini, juga pelanggan. Bagi mereka, kualitas yang
lebih tinggi, berarti kinerja lebih baik, fitur yang lebih baik, dan perbaikan lainnya
(yang terkadang memakan biaya). Bagi manajer produksi, kualitas adalah yang
berbasis manufaktur. Mereka percaya bahwa kualitas berarti pemenuhan standar dan membuat produk secara benar sejak dari awalnya. Pendekatan ketiga adalah
yang berbasis produk, yang memandang kualitas sebagai variabel yang tepat dan dapat dihitung.
2.7.2 Dua Cara Kualitas Meningkatkan Keuntungan :
1. Keuntungan Penjualan
- Perbaikan Respons.
- Harga yang lebih tinggi.
- Perbaikan reputasi.
2. Peningkatan Kualitas Peningkatan Keuntungan
- Penurunan Biaya.
- Peningkatan produktivitas.
- Penggunaan biaya rework dan limbah.
Buku Heizer ini memberikan beberapa pendekatan dan teknik untuk
menghadapi ketiga kategori kualitas yang ada. Karakteristik yang mengandung
arti kualitas harus diidentifikasi pertama kali melalui penelitian (sebuah
pendekatan kualitas berbasis pengguna). Karakteristik ini kemudian
diterjemahkan pada atribut produk yang spesifik (sebuah pendekatan berbasis
produk). Kemudian proses manufaktur diatur untuk memastikan produk dibuat
tepat seperti spesifikasi yang ada (sebuah pendekatan kualitas berbasis
manufaktur).
Suatu proses yang mengabaikan salah satu dari langkah ini tidak akan
2.8 Peningkatan Kualitas Melalui Kaizen
Kaizen adalah suatu istilah dalam bahasa jepang yang dapat diartikan
sebagai peningkatan secara terus-menerus (Continuous Improvement). Semangat
Kaizen yang tinggi dalam perusahaan jepang telah membuat mereka maju pesat
dan unggul dalam kualitas. Kaizen pada dasarnya merupakan suatu kesatuan
pandangan yang komprehensif yang bertujuan untuk melaksanakan peningkatan
secara terus-menerus. Aspek perbaikan dalam kaizen mencakup orang dan
proses. Bila filosofi kaizen diterapkan, maka semua aspek organisasi harus
diperbaiki sepanjang waktu. Dalam hal ini berlaku prinsip good enough is never good enough. Unsur-unsur kaizen sendiri terangkum dalam payung Kaizen (Kaizen Umberella), yang terdiri atas :
1. Fokus pada pelanggan.
2. Pengendalian kualitas terpadu (Total Quality Control).
3. Robotik.
4. Gugus kendali kualitas.
5. Sistem saran.
6. Otomatisasi.
7. Disiplin di tempat kerja.
8. Pemeliharaan produktivitas terpadu (Total Productive Maintenance).
9. Kanban.
10.Penyempurnaan kualitas.
11.Tepat waktu (just-in-time).
13.Aktivitas kelompok kecil.
14.Hubungan kerjasama karyawan-manajemen.
15.Pengembangan produk baru.
Semangat Kaizen berlandaskan pandangan berikut :
- Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari hari ini.
- Tidak boleh ada 1 hari pun yang lewat, tanpa perbaikan atau peningkatan.
- Masalah yang timbul merupakan suatu kesempatan untuk melaksanakan perbaikan/peningkatan.
- Menghargai adanya perbaikan/peningkatan meskipun kecil.
- Perbaikan atau peningkatan tidak harus memerlukan investasi yang besar.
Disini peneliti sangat tertarik sekali untuk mencoba membandingkan hasil
uji bahan baku antara sebelum dan sesudah penerapan kaidah kaizen,
dimana perbaikan akan dilihat dari etos keja operator, kerapihan dan
kebersihan alat, peletakkan alat kerja, ketelitian pengujian bahan baku,
totalitas pengujian dan lain sebagainya. Setiap elemen-eleman kaizen
yang lima akan di terapkan seluruhnya di semua kegiatan yang ada di
2.8.1 HIRARKI KETERLIBATAN KAIZEN DALAM PERUSAHAAN MANAJEMEN PUNCAK MANAJEMEN MADYA SUPERVISOR KARYAWAN - Bertekad memperkenalkan KAIZEN sebagai strategi perusahaan. - Memberikan dukungan dan pengarahan untuk KAIZEN dengan mengalokasi sumber daya. - Menetapkan kebijakan KAIZEN dan sasaran fungsional silang. - Merealisasikan sasaran KAIZEN melalui penyebarluasan kebijakan dan audit.
- Membentuk sistem,
menyusun prosedur dan struktur yang membantu KAIZEN. - Menyebarluaskan dan mengimplementasik an sasaran KAIZEN sesuai pengarahan menajemen puncak melalui penyebarluasan kebijakan. - Menggunakan KAIZEN dalam kapasitas fungsional. - Menetapkan, memelihara, dan menetapkan standar. - Mengusahakan karyawan sadar KAIZEN melalui program pelatihan secara intensif. - Membantu karyawan memperoleh keterampilan dan alat memecahkan masalah. - Menggunakan KAIZEN dalam peranan fungsional. - Memformulasikan rencana untuk KAIZEN dan memberikan bimbingan kepada karyawan. - Menyempurnakan komunikasi dengan karyawan dan mempertahankan moral yang tinggi.
- Mendukung
aktivitas kelompok kecil (gugus kendali mutu, GKM) dan sistem saran individual. - Menegakkan disiplin di tempat kerja. - Memberikan saran KAIZEN. - Melibatkan diri dalam KAIZEN melalui sistem saran dan aktivitas kelompok kecil (GKM, dll). - Mempraktikan disiplin di tempat kerja. - Mengembangka n diri terus-menerus sehingga mampu memecahkan masalah secara lebih baik. - Meningkatkan keterampilan dan keahlian dalam bekerja melalui pendidikan dan latihan. Sumber : Gaspers, 2011:37
2.8.2LANGKAH-LANGKAH PROGRAM PENINGKATAN KUALITAS
Program peningkatan kualitas dapat dilakukan melalui langkah-langkah berikut:
1. Memilih dan menetapkan program peningkatan kualitas.
2. Mengemukakan alasan mengapa memilih program itu.
3. Melakukan analisis situasi melalui pengamatan situasional.
4. Melakukan pemgumpulan data selama beberapa waktu.
5. Melakukan analisis data.
6. Menetapkan rencana peningkatan melalui penetapan sasaran peningkatan
kualitas.
7. Melaksanakan program peningkatan selama waktu tertentu.
8. Melakukan studi penilaian terhadap program peningkatan kualitas itu.
9. Mengambil tindakan berupa tindakan korektif atas penyimpangan yang
terjadi atau standarisasi terhadap aktivitas yang sesuai.
2.9 Total Quality Management
2.9.1 Pengertian Total Quality Management
Total Quality Management adalah suatu pendekatan dalam menjalankan usaha yang mencoba untuk memaksimumkan daya saing organisasi melalui
perbaikan terus menerus atas produk, jasa, tenaga kerja, proses dan lingkungan.
Untuk memudahkan pemahamannya, pengertian TQM dapat dibedakan dalam dua
aspek (Fandi, 1995 : 4). Aspek pertama menguraikan apa TQM itu dan aspek
Sepuluh unsur utama TQM menurut Fandi, 1995: 4 adalah :
1. Fokus pada pelanggan.
2. Obsesi terhadap kualitas.
3. Pendekatan ilmiah.
4. Komitmen jangka panjang.
5. Kerja sama tim.
6. Perbaikan system secara berkesinambungan.
7. Pendidikan dan pelatihan.
8. Kebebasan yang terkendali.
9. Kesatuan tujuan.
10.Adanya keterlibatan dan pemberdayaan karyawan.
Konsep pengendalian kualitas total TQM di bagi dalam 3 area yaitu :
Sumber : Garperz, 1997 : 19
Filosopi
1. Orientasi Pasar (Pelanggan). 2. “Tanpa Kesalahan” ke Pelanggan.
3. Keputusan dasar hanya berdasarkan fakta.
Peralatan 1.2. Penyimpangan hasil menyebabkan tindakan. Peralatan untuk identifikasi penyimpangan.
Aktivitas
1. Penyelesaian masalah .
2. Pengembangan kebijaksanaan.
3. Jaminan kualitas.
4. Aktivitas melalui manajemen + aktivitas yang dimulai oleh
2.9.2 Konsep TQM
TQM merupakan sistem manajemen yang berfocus pada semua
orang/tenanga kerja, yang bertujuan untuk terus menerus meningkatkan nilai yang
diberikan bagi pelanggan dengan biaya penciptaan nilai yang lebih rendah
daripada nilai suatu produk. Konsep TQM ini memerlukan komitmen semua
anggota organisasi terhadap perbaikan seluruh aspek manajemen organisasi.
Konsep TQM mengandung 3 unsur (Bounds et al; dalam Hessel, 2003 : 77)
1. Strategi Nilai Pelanggan.
Nilai pelanggan adalah manfaat yang dapat diperoleh pelanggan atas
penggunaan barang/jasa yang dihasilkan dan pengorbanan pelanggan
untuk memperolehnya.
2. Sistem Organisasional.
System organisasional berfokus pada penyediaan nilai bagi pelanggan.
3. Perbaikan kualitas berkelanjutan.
Perbaikan kualitas diperlukan untuk menghadapi lingkungan eksternal
yang selalu berubah, terutama perubahan selera pelanggan.
Penerapan TQM pada proses produksi dilakukan setiap tahap dalam proses
produksi. Proses produksi terdiri dari tiga tahap yaitu : preproduction, production, dan postproduction. Preproduction merupakan tahap sebelum produksi yaitu penentuan sistem kualitas desain dan sertifikasi produk, kualitas desain
menentukan spesifikasi produk yang jelas melalui keterlibatan semua departemen
dapat mengingkatkan kualitas produk. Tahap Production diperlukan jaminan kualitas produk dengan menggunkan pengawasan statistic.
Dalam proses produksi, penerapan TQM melalui 3 cara yaitu :
1. Meniadakan atau mengurangi penyimpangan proses produksi agar
presentase kerusakan tidak ada atau kecil dan kualita produk makin baik
dengan menggunakan metode statistical quality control.
2. Menekankan pada preventive maintenance untuk mencegah kerusakan
mesin dan mencegah kesalahan dalam proses operasi.
3. Melalui employee self inspection sebagai salah satu unsur dalam “manajemen proses” yang akan meningkatkan kesadaran karyawan untuk selalu menjaga kualitas produk.
Postproduction diperlukan jaminan kualitas mengenai ketepatan distribusi produk kepada pelanggan.
2.9.3 Prinsip TQM
TQM Merupakan suatu konsep yang berupaya melaksanakan sistem
manajemen kualitas kelas dunia.Menurut Hensler dan Brunell (dalam Scheuing
dan Christoper, 1993 : 165-166) ada empat prinsip yaitu :
1. Kepuasan Pelanggan.
Konsep mengenai kualitas pelanggan diperluas, kualitas tidak hanya bermakna
kesesuaian dengan spesifikasi-spesifikasi tertentu, tetapi kualitas tersebut
2. Respek terhadap setiap orang.
Dalam perusahaan yang kualitasnya tergolong kelas dunia, setiap karyawan
dipandang sebagai individu yang memiliki talenta dan kreatifitas yang khas.
3. Manajemen berdasarkan fakta.
Perusahaan kelas dunia berorientasi pada fakta. Maksudnya, bahwa setiap
orang keputusan selalu berdasarakan data, bukan sekedar perasaan.
4. Perbaikan berkesinambungan.
Agar dapat sukses, setiap perusahaan perlu melakukan proses sistematis
dalam melaksanakan perbaikan secara berkesinambungan. Konsep yang
berlaku di sini adalah siklus PDCAA (plan-do-check-act-analyze), yaitu terdiri dari langkah-langkah perencanaan dan melakukan tindakan korektif terhadap
hasil yang diperoleh.
2.9.4 Metode TQM
Pembahasan mengenai metode TQM difocuskan pada tiga pakar utama
yang merupakan pionir dalam pengembangan TQM.Mereka adalah W. Edwards
Deming, Joseph M. Juran dan Philip B. Crosby.
1. Metode W. Edwards Deming.
Kontribusi utama yang membuat terkenal adalah Deming Cycle, Deming Fourteen Points, dan Seven Deadly Diseases.
2. Metode Joseph M. Juran.
Kontribusi utama yang paling terkenal adalah Juran’s Three Basic Steps to
Progress, Juran’s Ten Steps to Quality Management, The Pareto Principle, dan The Juran Trilogy yang merupakan suatu teknik untuk melaksanakan penyempurnaan kualitas secara fungsional.
3. Metode Philip B. Crosby.
Crosby terkenal dengan anjuran manajemen zero defect dan pencegahan, yang menentang tingkat kualiatas yang dapat diterima secara statisik. Crosby juga
dikenal dengan Quality Vaccine dan Crosby’s Fourteen Steps to Quality
Improvement.
2.9.5 Keuntungan kualitas yang baik
Telah banyaknya hasil analisis yang menunjukan bahwa manajemen
kualitas berpengaruh penting terhadap kinerja perusahaan, yang menunjukan
bahwa terdapat hubungan antara dimensi kualitas dengan kinerja organisasi yang
tergantung pada tipologi organisasinya.
Hessel (2003:72) telah meneliti hubungan antara penerapan TQM dengan
kinerja dan keunggulan kompetitif beberapa perusahaan manufaktur Indonesia.
Hasil penelitiannya menunjukan bahwa kualitas syarat keberhasilan
perusahannya, TQM merupakan pendekatan untuk mempertahankan hidup serta
meningkatkan daya saing perusahaan, penerapan TQM memerlukan dukungan
Faktor yang dipengaruhi oleh kebijakan, program, dan prosedur kualitas
perusahaan adalah :
- Pasar yang dilayani oleh industri mencakup pelanggan-pelanggan dengan kebutuhan barang dan jasa tertentu.
- Penelitian pemasaran mengidentifikasikan kebutuhan tersebut dan mendifinisikan dalam hal kualitas.
- Pelanggan menganggap produk dan jasa perusahaan lebih berkualitas dari pada pesaingnya.
- Karena dianggap lebih berkualitas, pelanggan bersedia membayar harga relatif lebih tinggi daripada harga pesaing.
- Karena dianggap lebih berkualitas dan harganya lebih tinggi, produk tersebut dianggap memiliki nilai yang relative lebih tinggi.
- Nilai yang relatif lebih tinggi menghasilkan kenaikan dalam pangsa pasar.
- Berkat program kualitasnya, perusahaan dapat mengikuti spesifikasi pelanggan lebih baik daripada para pesaing.
- Efektivitas ini menghasilkan penurunan biaya dengan memproduksi produk yang dibutuhkan secara benar sejak pertama kali.
- Penurunan biaya digabungkan dengan pangsa pasar yang lebih luas akan menghasilkan biaya lebih rendah daripada pesaing.
- Gabungan dari keunggulan relatif di bidang harga pangsa pasar, dan biaya untuk menciptakan profitabilitas serta pertumbuhan perusahaan.
Berdasarkan pengaruh hubungan tersebut diatas, maka kualitas ditentukan
oleh dua pengaruh. Pengaruh pertama berasal dari pelanggan perusahaan dalam
bentuk peningkatan pendapatan penjualan. Pengaruh lain bersumber dari
efesiensi internal dan dicerminkan dalam penurunan biaya.
2.10 Statistical Process Control
Statistical Process Control (SPC) adalah sebuah tekhnik statistik yang digunakan secara luas untuk memastikan bahwa proses memenuhi standar.
Semua proses tidak pernah lupit dari hasilbyang bervariasi. Penyebab variasi ini
saatdibagi menjadi penyebab yang umum dan khusus. Untuk memisahkan kedua
jenis penyebab tadi, saat ini telah dibuat alat yang disebut dengan Bagan Kembali
(Control Chart).
2.10.1 Pengertian Statistical Process Control
Metode pengendalian proses secara statistik atau Statistical Process Control (SPC) adalah cara untuk mengolah data-data yang ada melalui metode-metode statistik dengan cara membuat batas-batas kendali dari proses yang ada,
sehingga dapat memberikan gambaran tentang proses yang terjadi serta dapat
2.10.2 Manfaat dari Statistical Process Control
Manfaat dari Statistical Process Control dalam aplikasinya pada proses manufaktur adalah :
A. Dapat mengurangi jumlah produk yang tidak sesuai dengan standar dengan
mendeteksi adanya penyebab umum dan penyebab khusus.
B. Dapat mencegah terjadinya produksi yang tidak sesuai sejak awal dan
melakukan perbaikan dengan segera.
C. Perbaikan terhadap proses yang berlangsung secara terus-menerus dan
pengurangan terhadap produk-produk cacat.
D. Melakukan analisis terhadap timbulnya penyebab khusus sehingga dapat
diambil tindakan antisipasi untuk mencegah di produksinya produk cacat
secara terus-menerus.
E. Untuk mengurangi variabilitas proses yaitu untuk menjaga produk (output)
yang dihasilkan, sehingga masuk dalam batas spesifikasi yang ditentukan.
F. Sebagai alat ukur performance proses, mengindikasikan proses stabil, terkendali, dan member sinyal terhadap adanya penyebab khusus yang
terjadi.