• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peningkatan Pembelajaran IPS di Sekolah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Peningkatan Pembelajaran IPS di Sekolah"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

1

PENINGKATAN PEMBELAJARAN IPS MELALUI PENDEKATAN

SCIENTIFIC DAN CONTEXTUAL TEACHING LEARNING

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah

Pengembangan Pembelajaran IPS

Dosen Pengampu : Dr. Anwar Senen, M.Pd

Disusun oleh :

Munari, S.Pd.I

NIM : 12020160006

PROGRAM PASCASARJANA

ILMU PENDIDIKAN DASAR ISLAM

(2)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Berbarengan dengan penerapan kurikulum 2013, istilah pendekatan ilmiah atau scientific

aproach pada pelaksanaan pembelajaran menjadi bahan pembahasan yang menarik perhatian para pendidik akhir-akhir ini. Yang menjadi latar belakang pentingnya materi ini karena produk pendidikan dasar dan menengah belum menghasilkan lulusan yang mampu berpikir kritis setara dengan kemampuan anak-anak bangsa lain.

Disadari atau tidak, guru-guru perlu memperkuat kemampuannya dalam memfasilitasi siswa agar terlatih berpikir logis, sistematis, dan ilmiah. Tantangan ini memerlukan peningkatan keterampilan guru melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan ilmiah. Skenario untuk memacu keterampilan guru menerapkan strategi ini di Indonesia telah melalui sejarah yang panjang, namun hingga saat ini harapan baik ini belum terwujudkan juga.

Dalam perancangan kurikulum baru, Kemendikbud masih menggunakan latar belakang pemikiran yang menyatakan bahwa secara faktual guru-guru belum melaksanakan cara belajar siswa aktif. Kondisi ideal yang diharapkan masih lebih sering menjadi slogan daripada fakta dalam kelas. Produktivitas pembelalaran untuk menghasilkan siswa yang terampil berpikir pada level tinggi dalam kondisi mandeg alias kolep. Deskripsi ini merujuk pada hasil tes anak bangsa kita yang dikompetisikan pada tingkat internasional dinyatakan tidak berkembang sejak tujuh tahun lalu. Memang, ini kondisi yang sangat memprihatinkan.

Ketika kita membicarakan tentang pendidikan, kita merasa bahwa kita sedang membicarakan permasalahan yang kompleks dan sangat luas. Mulai dari masalah peserta didik, pendidik/guru, manajemen pendidikan, kurikulum, fasilitas, proses belajar mengajar, dan lain sebagainya. Salah satu masalah yang banyak dihadapi dalam dunia pendidikan kita adalah lemahnya kualitas proses pembelajaran yang dilaksanakan guru di sekolah. Dalam proses pembelajaran di dalam kelas hanya diarahkan kepada kemampuan anak untuk menghafal informasi; otak anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang diingatnya itu untuk menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. Akibatnya banyak peserta didik yang ketika lulus dari sekolah, mereka pintar secara teoritis, akan tetapi mereka miskin aplikatif.

(3)

2 potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (UU Sisdiknas, 2003).

Sesuai fungsi pendidikan nasional tersebut terletak juga tanggung jawab guru untuk mampu mewujudkannya melalui pelaksanaan proses pembelajaran yang bermutu dan berkualitas. Salah satu strategi yang dapat dipergunakan guru untuk memperbaiki mutu dan kualitas proses pembelajaran adalah dengan menerapkan strategi pembelajaran Scientific dan Contextual Teaching and Learning (CTL).

B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan pendekatan scientific?

2. Apa saja kriteria pendekatan scientific (pendekatan ilmiah)? 3. Apa pengertian dari pendekatan kontekstual?

4. Apa saja komponen- komponen CTL (Contextual Teaching Learning)? 5. Bagaimana karakteristik pembelajaran kontekstual?

6. Bagaimana penerapan dan pendekatan kontekstual?

7. Apa saja tahapan- tahapan pelaksanaan pembelajaran kontekstual? 8. Apa kelebihan dan kekurangan pendekatan kontekstual?

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan

Tujuan Penulisan

Tujuan utama pembuatan makalah ini untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengembangan Pembelajaran IPS. Memahami Pendekatan Scientific dan Pendekatan Kontekstual serta menjelaskan langkah langkah proses pembelajaran Pendekatan Scientific dan Kontekstual.

Manfaat Penulisan

(4)

3

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pendekatan Scientific

1. Pengertian Pendekatan Scientific

Pendekatan adalah konsep dasar yang mewadahi, menginspirasi, menguatkan, dan melatari pemikiran tentang bagaimana metode pembelajaran diterapkan berdasarkan teori tertentu. Oleh karena itu banyak pandangan yang menyatakan bahwa pendekatan sama artinya dengan metode. Pendekatan ilmiah berarti konsep dasar yang menginspirasi atau melatarbelakangi perumusan metode mengajar dengan menerapkan karakteristik yang ilmiah. Pendekatan pembelajaran ilmiah (scientific teaching) merupakan bagian dari pendekatan pedagogis pada pelaksanaan pembelajaran dalam kelas yang melandasi penerapan metode ilmiah. (Akbar, 2015)

Pengertian penerapan pendekatan ilmiah dalam pembelajaran tidak hanya fokus pada bagaimana mengembangkan kompetensi siswa dalam melakukan observasi atau eksperimen, namun bagaimana mengembangkan pengetahuan dan keterampilan berpikir sehingga dapat mendukung aktivitas kreatif dalam berinovasi atau berkarya. Menurut majalah Forum Kebijakan Ilmiah yang terbit di Amerika pada tahun 2004 sebagaimana dikutip Wikipedia menyatakan bahwa pembelajaran ilmiah mencakup strategi pembelajaran siswa aktif yang mengintegrasikan siswa dalam proses berpikir dan penggunaan metode yang teruji secara ilmiah sehingga dapat membedakan kemampuan siswa yang bervariasi. Penerapan metode ilmiah membantu guru mengindentifikasi perbedaan kemampuan siswa. Pada penerbitan berikutnya pada tahun 2007 dinyatakan bahwa penerapan pendekatan saintifik dalam pembelajaran harus memenuhi tiga prinsip utama; yaitu:

1. Belajar siswa aktif, dalam hal ini termasuk inquiry-based learning atau belajar berbasis penelitian, cooperative learning atau belajar berkelompok, dan belajar berpusat pada siswa.

Assessment berarti pengukuran kemajuan belajar siswa yang dibandingkan dengan target pencapaian tujuan belajar.

2. Keberagaman mengandung makna bahwa dalam pendekatan ilmiah mengembangkan pendekatan keragaman. Pendekatan ini membawa konsekuensi siswa unik, kelompok siswa unik, termasuk keunikan dari kompetensi, materi, instruktur, pendekatan dan metode mengajar, serta konteks.

(5)

4 Pelaksanaan metode ilmiah tersusun dalam tujuh langkah berikut:

1. Merumuskan pertanyaan.

2. Merumuskan latar belakang penelitian. 3. Merumuskan hipotesis.

4. Menguji hipotesis melalui percobaan.

5. Menganalisis hasil penelitian dan merumuskan kesimpulan.

6. Jika hipotesis terbukti benar maka dapat dilanjutkan dengan laporan.

7. Jika Hipotesis terbukti tidak benar atau benar sebagian maka lakukan pengujian kembali.

Penerapan metode ilmiah merupakan proses berpikir logis berdasarkan fakta dan teori. Pertanyaan muncul dari pengetahuan yang telah dikuasai. Karena itu kemampuan bertanya merupakan kemampuan dasar dalam mengembangkan berpikir ilmiah. Informasi baru digali untuk menjawab pertanyaan.Oleh karena itu, penguasaan teori dalam sebagai dasar untuk menerapkan metode ilmiah. Dengan menguasi teori maka siswa dapat menyederhanakan penjelasan tentang suatu gejala, memprediksi, memandu perumusan kerangka pemikiran untuk memahami masalah. Bersamaan dengan itu, teori menyediakan konsep yang relevan sehingga teori menjadi dasar dan mengarahkan perumusan pertanyaan penelitian.

2. Kriteria pendekatan scientific (pendekatan ilmiah)

Bagaimana kriteria sebuah pendekatan pembelajaran sehingga dapat dikatakan sebagai pendekatan ilmiah atau pendekatan scientific? berikut ini tujuh (7) kriteria sebuah pendekatan pembelajaran dapat dikatakan sebagai pembelajaran scientific, yaitu:

1. Materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata. 2. Penjelasan guru, respon siswa, dan interaksi edukatif guru-siswa terbebas dari prasangka yang

serta-merta, pemikiran subjektif, atau penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis. 3. Mendorong dan menginspirasi siswa berpikir secara kritis, analistis, dan tepat dalam

mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan materi pembelajaran.

4. Mendorong dan menginspirasi siswa mampu berpikir hipotetik dalam melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan satu sama lain dari materi pembelajaran.

5. Mendorong dan menginspirasi siswa mampu memahami, menerapkan, dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon materi pembelajaran.

6. Berbasis pada konsep, teori, dan fakta empiris yang dapat dipertanggungjawabkan.

(6)

5 Proses pembelajaran yang mengimplementasikan pendekatan scientific akan menyentuh tiga ranah, yaitu: sikap (afektif), pengetahuan (kognitif), dan keterampilan (psikomotor) (Senen, 2014, hal. 4). Dengan proses pembelajaran yang demikian maka diharapkan hasil belajar melahirkan peserta didik yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi. Lihat diagram di bawah ini.

Adapun penjelasan dari diagram pendekatan pembelajaran scientific (pendekatan ilmiah) dengan menyentuh ketiga ranah tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Ranah sikap menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu mengapa”.

2. Ranah keterampilan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu bagaimana”.

3. Ranah pengetahuan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu apa.”

Hasil akhirnya adalah peningkatan dan keseimbangan antara kemampuan untuk menjadi manusia yang baik (soft skills) dan manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak (hard skills) dari peserta didik yang meliputi aspek kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi pedagogik modern dalam pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan ilmiah.Pendekatan ilmiah (scientific appoach) dalam pembelajaran sebagaimana dimaksud meliputi mengamati, menanya, menalar, mencoba, membentuk jejaring untuk semua mata pelajaran.

3. Langkah-langkah pembelajaran scientific meliputi:

Mengamati fakta

Mengamati fakta yang ada dapat dibagi dalam dua keadaan seperti pengamatan nyata fenomena alam atau lingkungan dan pengamatan obyek langsung.

a). Pengamatan nyata fenomena alam atau lingkungan.

(7)

6 pengetahuan secara lisan ataupun tertulis. Hasil tuangan dalam bahasa pengetahuan sederhana tersebut dengan mudah dapat dipahami. Misal; fakta tentang “pengetahuan kontekstual”, yang

menggambarkan tentang pola pemukiman penduduk, seperti gambar berikut:

Fenomena/fakta seperti yang tampak pada gambar di atas diamati, kemudian dibahasakan secara konseptual dalam bentuk penjelasan sederhana. Berdasarkan fenomena tersebut, dapat dijelaskan tentang pola pemukiman penduduk yaitu pola pemukiman penduduk secara memanjang. Maksudnya, pola pemukiman seperti ini memiliki ciri berupa pemukiman penduduk berderet memanjang mengikuti alur jalan, sungai, rel kereta api atau pantai. Jika dihubungkan dengan tema manusia sebagai makhluk sosial, fenomena tersebut tentu saja mengarah pada kesimpulan bahwa dalam memenuhi kebutuhannya, manusia tidak dapat hidup sendiri bahkan selalu berkelompok dan membutuhkan orang lain. Pemenuhan kebutuhan tersebut menyesuaikan dengan kondisi alam sekitar yang ada. Jika seseorang suka tinggal di tempat yang dekat dengan air, dia dapat memilih lokasi rumah di pinggiran atau menyusuri sungai, tetapi bagi yang suka dengan keramaian, dia memilih lokasi untuk membangun rumahnya mengikuti jalan, dsb. Kegiatan sederhana seperti yang dijelaskan di atas dapat membantu siswa mengembangkan kreativitas berpikir secara analitis, bukan sekedar menghafalkan fakta-fakta. Proses sebelum tercapai kesimpulan pada hakekatnya hampir sama dengan penjelasan berikut

1) Pengamatan objek IPS

(8)

7 Satu persatu siswa menyebutkan hasil pengamatannya seperti;

1) Ada 6 orang di sawah sedang bekerja menanam padi 2) Orang-orang bekerja di sawah membetulkan saluran irigasi 3) Orang-orang sedang bekerja melakukan panen padi

Dari hasil pengamatan obyek tersebut dapat disimpulkan tentang mahkluk sosial; Makhluk sosial adalah makhluk berkelompok dan tidak mampu hidup menyendiri. Makhluk sosial adalah makhluk yang memiliki kecenderungan menyukai dan membutuhkan kehadiran sesamanya sebagai kebutuhan dasar yang disebut kebutuhan sosial (social needs). Hasil pengamatan obyek secara sederhana tersebut jika dilanjutkan dapat berupa analisis dan menghasilkan kajian yang saling kait mengkait. Kegiatan petani dalam menggarap sawahnya untuk menanam padi sampai dengan panen adalah; memerlukan pedagang benih, setelah itu petani memerlukan pekerja untuk menanam padi, setelah masa tanam, petani memerlukan pupuk dan pekerja, pekerja untuk penyiangan gulma, pekerja untuk penyemprotan hama, buruh panen, setelah itu agar padi tersebut dapat diuangkan, petani perlu pembeli.

Kegiatan mungkin dapat berhenti sampai di sini. Tetapi jika ingin menganalisis sampai dengan berupa beras dan sampai di meja berupa hidangan nasi, tentu kegiatan petani dapat dilanjutkan, mereka masih memerlukan jasa orang lain lagi untuk melakukan penyelepan padi menjadi beras dan petani memerlukan pembeli beras, individu mengubah beras menjadi nasi

Jadi, kegiatan pengamatan, bertanya dan mencoba sangat bagus untuk menuntun siswa membangun pengetahuan sendiri dan diharapkan mereka mampu menemukan sesuatu sampai dengan memahami nilai dari pengetahuan, sikap dan ketrampilan. Dengan begitu dapat terjalin sinergi proses belajar yang sangat komunikatif dan aplikatif dengan cara memberikan pancingan-pancingan pada siswa untuk mengembangkan cara berpikir tingkat tinggi ilmiah,aktif, kreatif. Observation based learning, questioning menjadi dasar proses pembelajaaran, sehingga semua pertanyaan selalu terbuka dan mengarah pada multi jawaban. Berikut tahap-tahap pembelajaran berbasis scientific;

1. Menanya

(9)

8 menyelesaikan dan mencari alternatif yang lain. Misalnya dari analisis yang dijelaskan di atas, siswa diarahkan pada pertanyaan;

 mengapa petani perlu bekerja di sawah?

 apa yang akan terjadi seandainya petani tidak bekerja?

 mengapa para petani memerlukan orang lain untuk mengerjakan semua pekerjaan yang mengarah pada pekerjaan menggarap sawah?

 bagaimana seandainya tidak ada yang membantu menggarap sawah?

 apa yang akan terjadi seandainya tidak ada orang lain yang membantu?

 berapa penghasilan kotor petani pasca panen?

 berapa penghasilan bersih petani setelah dipotong biaya operasional?

Alternatif-alternatif seperti itu perlu dibangun sehingga memunculkan kreativitas dan tingkatan berpikir dari yang mudah ke yang sukar. Pertanyaan dapat ditingkatkan ke hal yang lebih sulit lagi seperti;

 apakah sawah yang digarap petani tersebut miliknya sendiri ataukah menyewa ke orang lain?

 bagaimana petani tersebut mengatur perekonomian keluarganya?

 bagaimana cara petani tersebut menjual hasil panen?

 menggunakan transportasi jenis apakah petani tersebut mengangkut hasil panenya? dst.

2. Menalar

Pertanyaan seperti di atas memerlukan adanya solusi (jawaban) melalui suatu penalaran. Dalam IPS permasalahan seperti ini dapat dijawab dengan mengaitkan teorema lain atau pendefinisian baru terutama bagi siswa yang sudah dapat menerima kebenaran logis. Penalaran secara umum adalah proses berfikir yang logis dan sistematis atas fakta-fakta empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan. Disini penalaran dapat bermakna penyerupaan (associating) dan juga dapat bermakna akibat (reasoning). Ada dua cara menalar, yaitu penalaran induktif dan penalaran deduktif.

(10)

9 Penalaran deduktif merupakan cara menalar dengan menarik simpulan dari pernyataan-pernyataan atau fenomena yang bersifat umum menuju pada hal yang bersifat khusus. Cara kerja menalar secara deduktif adalah menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk kemudian dihubungkan ke dalam bagian-bagiannya yang khusus. Penalaran dalam IPS terkait penarikan kesimpulan adalah manusia sebagai makhluk sosial pasti memerlukan orang lain. Hal ini disimpulkan dari fakta bahwa dimanapun berada tidak ada satupun manusia yang mampu hidup sendiri tanpa bantuan yang lain. Perlu diingat juga bahwa penalaran diartikan juga sebagai penyerupaan / analogi atau dalam bahasa sosial asosiasi Dengan definisi akan mewadahi atau memenuhi sistem dalam IPS itu sendiri. Dari sini diperlukan adanya langkah atau tahap berikutnya yaitu mencoba atau secara lebih luas membuktikan.

3. Mencoba

Pengertian mencoba disini dapat diartikan secara sempit seperti menunjukkan dan dapat diartikan secara luas yaitu membuktikan. Pembuktian dalam hal ini dapat dilakukan dengan cara membayangkan atau dengan mempraktekkan langsung. Sebagai contoh masih berhubungan dengan tema “manusia sebagai mahkluk sosial”, menunjukkan sekelompok manusia di dalam kelas memiliki

arti bahwa manusia selalu hidup bergerombol atau berkelompok atau memerlukan orang lain. Pembuktian melalui praktek dapat dilakukan dengan durasi waktu tertentu, missal selama 5 menit, siswa yang ada dalam kelas diperintahkan untuk duduk sendiri-sendiri, dan dilarang berbicara atau berkomunikasi dengan yang lain. Pengalaman seperti apa yang di dapat mereka? Contoh ini bukan merupakan pembuktian dalam IPS secara sempurna, hanya sekedar contoh tahapan/langkah dalam pendekatan ilmiah dengan tema manusia sebagai mahkluk sosial.

4. Menyimpulkan (mengaitkan dengan konsep dan aplikasi lain).

(11)

10

B. Pendekatan kontekstual

1. Pengertian Pendekatan Kontekstual

Dalam pendekatan kontekstual kita dapat membuat variasi dalam pembelajaran dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai secara optimal. Agar pendekatan pembelajaran tidak kaku harus menggunakan pendekatan yang sesuai, artinya memilih pendekatan disesuaikan dengan kebutuhan materi ajar yang dituangkan dalam perencanaan pembelajaran. Depdiknas (2002:5) menyatakan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) sebagai konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen, yakni kontruktivisme (Constuctivism), bertanya (Questioning), menemukan (Inquiri), masyarakat belajar (Learning Community), permodelan (Modeling), Refleksi (Reflection), penilaian sebenarnya (Authentic

Assessment). Pendekatan kontekstual menurut Amri (2010;21) yaitu merupakan metode belajar yang membantu semua guru mempraktekkan dan mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi yang ada di lingkungan siswa. Pendekatan kontekstual adalah sebuah pembelajaran yang terfokus dalam melibatkan siswa aktif memperoleh informasi yang dilaksanakan dengan mengenalkan mereka pada lingkungan serta terlibat secara langsung dalam proses pembelajarannya. Jadi dalam pembelajaran ini guru lebih aktif memberikan strategi pembelajaran daripada informasi pembelajaran.

Pendekatan kontektual (Contextual Teaching and Learning) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil.

2. Karakteristik Pembelajaran Kontekstual

Dalam pembelajaran kontekstual memungkinkan terjadinya lima bentuk belajar yang penting, yaitu mengaitkan (relating), mengalami (experiencing), menerapkan (applying), bekerja sama (cooperating) dan mentransfer (transferring).

(12)

11

Mengalami merupakan inti belajar kontekstual dimana mengaitkan berarti menghubungkan informasi baru dengan pengalaman maupun pengetahuan sebelumnya. Belajar dapat terjadi lebih cepat ketika siswa dapat memanipulasi peralatan dan bahan serta melakukan bentuk-bentuk penelitian yang aktif.

Menerapkan. Siswa menerapkan suatu konsep ketika ia malakukan kegiatan pemecahan masalah. Guru dapat memotivasi siswa dengan memberikam latihan yang realistik dan relevan.

Kerja sama. Siswa yang bekerja secara individu sering tidak membantu kemajuan yang signifikan. Sebaliknya, siswa yang bekerja secara kelompok sering dapat mengatasi masalah yang kompleks dengan sedikit bantuan. Pengalaman kerja sama tidak hanya membantu siswa mempelajari bahan ajar, tetapi konsisten dengan dunia nyata.

Mentransfer. Peran guru membuat bermacam-macam pengalaman belajar dengan fokus pada pemahaman bukan hafalan.

3. Komponen-komponen CTL (Contextual Teaching and Learning)

Komponen-komponen dari CTL (Contextual Teaching and Learning) antara lain :

a) Konstruktivisme (Constructivism)

Konstruktivisme (Constructivism) adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Menurut pengembang filsafat konstruktivisme Mark Baldawin dan diperdalam oleh Jean Piaget menganggap bahwa pengetahuan itu terbentuk bukan hanya dari objek semata, tetapi juga dari kemampuan individu sebagai subjek yang menangkap setiap objek yang diamatinya.

b) Menemukan (Inquiry)

Menemukan (Inquiry) adalah proses pembelajaran didasarkan pada pencapaian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis. Pengetahuan bukanlah sejumlah fakta hasil dari mengingat, akan tetapi hasil dari proses menemukan sendiri. Dalam model inquiry dapat dilakukan melalui beberapa langkah sistematis, yaitu:

1. Merumuskan masalah. 2. Mengajukan hipotesis. 3. Mengumpulkan data.

4. Menguji hipotesis berdasarkan data yang dikumpulkan. 5. Membuat kesimpulan.

c) Bertanya (Quesrioning)

(13)

12 mencerminkan kemampuan seseorang dalam berpikir. Dalam pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya berguna untuk:

 Menggali informasi tentang kemampuan siswa dalam penguasaan materi pelajaran.

 Membangkitkan motivasi siswa untuk belajar.

 Merangsang keingintahuan siswa terhadap sesuatu.

 Memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang diinginkan.

 Membimbing siswa untuk menemukan atau menyimpulkan sendiri.

 Menggali pemahaman siswa.

d) Masyarakat Belajar (Learning Community)

Konsep masyarakat belajar (Learning Community) dalam CTL menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh melalui kerja sama dengan orang lain. Kerja sama itu dapat dilakukan dalam berbagai bentuk baik dalam kelompok belajar secara formal maupun dalam lingkungan yang terjadi secara alamiah. Hasil belajar dapat diperoleh dari hasil sharing dengan orang lain, antarteman atau antarkelompok; yang sudah tahu memberi tahu kepada yang belum tahu atau yang pernah memiliki pengalaman membagi pengalamannya kepada orang lain. Inilah hakekat dari masyarakat belajar yaitu masyarakat yang saling membagi.

e) Pemodelan (Modeling)

Yang dimaksud dengan asas modeling adalah proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa. Proses modeling tidak sebatas dari guru saja, akan tetapi dapat juga memanfaatkan siswa yang dianggap memiliki kemampuan. Modeling merupakan asas yang cukup penting dalam pembelajaran CTL sebab melalui modeling siswa dapat terhindar dari pembelajaran yang teoristis-abstrak yang dapat memungkinkan terjadinya verbalisme.

f) Refleksi (Reflection)

Refleksi (Reflection) adalah cara berpikir tentang apa yang baru di pelajari atau berpikir ke belakang tentang apa yang sudah dilakukan di masa lalu. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau pengalaman yang baru di terima. Melalui proses refleksi, pengalaman belajar itu akan dimasukkan dalam struktur kognitif siswa yang pada akhirnya akan menjadi bagian dari pengetahuan yang dimilikinya.

g) Penilaian Nyata (Authentic Assessment)

(14)

13 secara terus-menerus selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Oleh sebab itu, tekanannya diarahkan kepada proses belajar bukan kepada hasil belajar.

4. Penerapan dan Pendekatan Kontekstual

Hal-hal yang diperlukan untuk mencapai sejumlah hasil yang diharapkan dalam penerapan pendekatan kontekstual adalah sebagai berikut :

a) Guru yang berwawasan. Maksudnya yaitu guru yang berwawasan dalam penerapan dan pendekatan.

b) Materi dalam pembelajaran.Dalam hal ini guru harus bisa mencari materi pembelajaran yang dijiwai oleh konteks perlu disusun agar bermakna bagi siswa.

c) Strategi metode dan teknik belajar dan mengajar.Dalam hal ini adalah bagaimana seorang guru membuat siswa bersemangat belajar, yang lebih konkret, yang menggunakan realitas, lebih aktual, nyata/riil, dsb.

d) Media pendidikan.Media yang digunakan dapat berupa situasi alamiah, benda nyata, alat peraga, film nyata yang mana perlu dipilih dan dirancang agar sesuai dan belajar lebih bermakna.

e) Fasilitas.Media pendukung pembelajaran kontekstual seperti peralatan dan perlengkapan, laboratorium, tempat praktek, dan tempat untuk melakukan pelatihan perlu disediakan. f) Proses belajar dan mengajar.Hal ini ditujukan oleh perilaku guru dan siswa yang bernuansa

pembelajaran kontekstual yang merupakan inti dari pembelajaran kontekstual. g) Kancah pembelajaran.Hal ini perlu dipilih sesuai dengan hasil yang diinginkan.

h) Penilaian.Penilaian/evaluasi otentik perlu diupayakan karena pada pembelajaran ini menuntut pengukuran prestasi belajar siswa dengan cara cara yang tepat dan variatif, tidak hanya dengan pensil atau paper test.

i) Suasana.Suasana dalam lingkungan pembelajaran kontekstual sangat berpengaruh karena dapat mendekatkan situasi kehidupan sekolah dengan kehidupan nyata di lingkungan siswa.

5. Tahapan-tahapan Pelaksanaan Pembelajaran Kontekstual

Tahapan pelaksanaan pembelajaran kontekstual antara lain : a) Mengkaji materi pelajaran yang akan diajarkan.

b) Mengkaji konteks kehidupan siswa sehari-hari.

c) Memilih materi pelajaran yang dapat dikaitkan dengan kehidupan siswa.

d) Menyusun persiapan proses KBM yang telah memasukkan konteks dengan materi pelajaran. e) Melaksanakan proses belajar mengajar kontekstual.

(15)

14 6. Kelebihan dan kekurangan pendekatan Kontekstual

Kelebihan

1. Pembelajaran menjadi lebih bermakna dan riil. Artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting, sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan berfungsi secara fungsional, akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori siswa, sihingga tidak akan mudah dilupakan. 2. Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada siswa

karena metode pembelajaran CTL menganut aliran konstruktivisme, dimana seorang siswa dituntun untuk menemukan pengetahuannya sendiri. Melalui landasan filosofis konstruktivisme siswa diharapkan belajar melalui ”mengalami” bukan ”menghafal”.

Kelemahan

1. Guru lebih intensif dalam membimbing. Karena dalam metode CTL. Guru tidak lagi berperan sebagai pusat informasi. Tugas guru adalah mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan pengetahuan dan ketrampilan yang baru bagi siswa. Siswa dipandang sebagai individu yang sedang berkembang. Kemampuan belajar seseorang akan dipengaruhi oleh tingkat perkembangan dan keluasan pengalaman yang dimilikinya. Dengan demikian, peran guru bukanlah sebagai instruktur atau ” penguasa ” yang memaksa kehendak melainkan guru adalah pembimbing siswa agar mereka dapat belajar sesuai dengan tahap perkembangannya.

(16)

15

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Pengertian penerapan pendekatan ilmiah dalam pembelajaran tidak hanya fokus pada bagaimana mengembangkan kompetensi siswa dalam melakukan observasi atau eksperimen, namun bagaimana mengembangkan pengetahuan dan keterampilan berpikir sehingga dapat mendukung aktivitas kreatif dalam berinovasi atau berkarya.

Pendekatan Kontekstual merupakan konsep belajar yang memudahkan guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Konteks dalam pengertian pembelajaran kontekstual mempunyai makna lebih dari sekedar keterkaitan lingkungan fisik tertentu pada waktu tertentu. Proses belajarnya berlangsung alamiah dalam bentuk siswa bekerja dan mengalami, tidak hanya mentransfer atau mengkopi dari guru

Strategi pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan peserta didik secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkan dengan situasi nyata sehingga mendorong peserta didik untuk menerapkannya dalam kehidupan mereka. CTL memandang bahwa belajar bukan menghafal, akan tetapi proses berpengalaman dalam kehidupan nyata. Kelas dalam pembelajaran CTL bukan sebagai tempat untuk memperoleh informasi tetapi sebagai tempat untuk menguji data hasil temuan peserta didik di lapangan. Ada beberapa perbedaan antara strategi pembelajaran CTL dan konvensional yang membuktikan bahwa CTL lebih efektif dan mampu menjadi alternatif pilihan strategi pembelajaran yang diterapkan guru di sekolah. Diperlukan pola dan langkah pembelajaran CTL di kelas agar strategi CTL dapat diterapkan secara efektif dan sesuai materi pelajaran yang telah ditetapkan dalam Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD).

Saran

(17)

16

DAFTAR PUSTAKA

Akbar, K. (2015). Kurikulum 2013 dengan Pendekatan Scientific. E-Training Terstruktur P4TKMatematika 2015, (p. 4). Lombok Tengah.

Anwar Senen, dkk. (2008). Pengembangan Pendidikan IPS SD. Dirjen Dikti Depdiknas.

Saputro, Budiyono. (2015). Pembelajaran dengan Pendekatan Scientific pada Kurikulum 2013.

Workshop dan Pendampingan Implementasi K-13 Guru Mts Negeri Kota Magelang, (p. 18). Magelang.

Senen, Anwar. (2014). Mengembangkan pembelajaran ips dalam perspektif paradigma konstruktivistik . Jurnal pendidikan dasar dinamika, 4.

Referensi

Dokumen terkait

Peserta didik melanjutkan untuk melakukan diskusi tentang contoh teknologi transportasi masa lalu di cabang utama yang telah dibuat dan menuliskan hasil

 Bersama-sama dengan peserta didik melakukan refleksi dengan menayakan keepada peserta didik apa yang telah di pelajari dan kesulitan apa saja yang dihadapi selama dalam

 CPMK 2: Pada kelass online sinkronus, mahasiswa mampu bertanya dan menjawab (merespon) tentang apa saja yang telah mereka pelajari sebelumnya di luar kelas,

(3) Tahap Refleksi Dalam tahapan ini memuat hasil pembelajaran yang dicapai saat melakukan tindakan penelitian di kelas, seperti berpikir ulang mengenai apa yang sudah

Sehingga adanya peningkatan aktivitas guru dalam proses pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri dan keterampilan berpikir kritis siswa,

Pada masa lalu teknologi komunikasi yang digunakan sangatlah sederhana dengan cara memukul alat kentongan atau bedug. Mereka bisa mengerti apa yang dimaksud. Misalnya mau

Refleksi Pembelajaran Bermakna: o Guru membimbing peserta didik melakukan refleksi dengan menjawab pertan yaan:  "Apa hal baru yang kalian pelajari hari ini tentang ginjal?"  "Apa