• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan buku cerita anakberbasis pendidikan seks untuk anak SD kelas atas

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pengembangan buku cerita anakberbasis pendidikan seks untuk anak SD kelas atas"

Copied!
128
0
0

Teks penuh

(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. PENGEMBANGAN BUKU CERITA ANAK BERBASIS PENDIDIKAN SEKS UNTUK ANAK SD KELAS ATAS. SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Oleh: Albertus David Nugraha NIM: 131134061. PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2020.

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. PERSEMBAHAN. Karya sederhana ini saya persembahkan kepada:. TUHAN YANG MAHA ESA Orangtua Saya Terutama Ibu Saya Domnina Suhartini yang selalu memberi semangat, doa dan dukungan kepada saya. Saudara-saudara saya yang selalu memberi bantuan dalam bentuk apapun. Pak Damai dan bu Erlita selaku dosen pembimbing yang selalu membimbing saya sehingga skripsi saya dapat terselesaikan. Teman dekat dan sahabat-sahabat yang selalu memberi hiburan dan keceriaan kepada saya. Semua mahasiswa PGSD angkatan 2013 yang ikut berdinamika bersama saya Instagram yang selalu memberikan hiburan. Terimakasih semuanya atas segala semangat, perhatian, bantuan dan kasih sayang yang telah diberikan kepada saya.. iv.

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. MOTTO. Seseorang tidak akan pernah sukses hanya karna satu pujian, tetapi seseorang akan sukses jika selalu dapat menerima banyak kritikan.. ~DN Project~. v.

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. ABSTRAK PENGEMBANGAN BUKU CERITA ANAK BERBASIS PENDIDIKAN SEKS UNTUK ANAK SD KELAS ATAS Albertus David Nugraha Universitas Sanata Dharma 2020 Pendidikan seks merupakan pendidikan yang non formal yang cocok diberikan untuk anak SD. Pemberian pendidikan seks untuk anak SD ini dapat diberikan dengan cara memberikan buku bacaan yang tepat untuk mereka.. Tujuan utama dari penelitian ini adalah menghasilkan suatu produk berupa buku cerita anak berbasis pendidikan seks yang sesuai dengan perkembanan bahasa anak, gambar yang sesuai untuk anak dan konten pendidikan seks yang sesuai dengan anak. Penelitian ini merupakan jenis penelitian pengembangan. Pengembangan buku cerita anak ini menggunakan modifikasi antar prosedur pengembangan Dick and Carey dan prosedur penelitian pengembangan yang dikemukakan oleh Borg and Gall. Modifikasi produk tersebut terdiri dari 7 langkah yaitu: (1) penelitian dan pengumpulan informasi awal, (2) perencanaan, (3) pengembangan produk awal, (4) uji coba awal, (5) revisi produk, (6) uji coba lapangan, dan (7) revisi produk akhir. Ketujuh langkah tersebut kemudian menghasilkan desain produk final berupa buku cerita anak. Instrumen dalam penelitian ini adalah daftar pertanyaan wawancara analisis kebutuhan dan kuesioner. Wawancara digunakan untuk analisis kebutuhan kepada guru kelas atas SD N 1 Sanden, sedangkan kuesioner digunakan untuk validasi kualitas bahan ajar oleh pakar, guru kelas tas yaitu keas IV SD, dan 11 Siswa kelas IV SD sebagai subjek uji coba. Berdasarkan hasil validasi, validasi pakar yaitu oleh guru kelas IV SD memperoleh skor sebesar 4,63. Subjek uji coba sebesar 4,40 sebagai data terendah. Rerata skor validasi yaitu 4,70 dengan kategori “Sangat Baik”. Hal tersebut ditinjau dari aspek (1) desain dan pengorganisasian, (2) kebahasaan dan isi, (3) tujuan dan pendekatan. Dengan demikian, buku cerita anak yang dikembangkan sudah layak digunakan sebagai buku bacaan tentang pendidikan seks untuk anak SD kelas atas. Kata Kunci: penelitian dan pengembangan, buku cerita anak berbasi pendidikan seks, pendidikan seks untuk anak SD.. viii.

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. ABSTRACT DEVELOPMENT OF CHILDREN STORY BOOK BASED SEX FOR UPPER CLASS CHILDREN OF ELEMENTARY SCHOOL Albertus David Nugraha Sanata Dharma University 2020 Sex education is non-formal education suitable given to elementary school children. The provision of sex education for elementary school children can be given by providing appropriate reading materials for them. The main objective of this research is to produce a product in the form of a children book-based sex education in accordance with development of children's language, appropriate images and content suitable for children’s sex education. This study is research and development. The development of this children story book using a modified procedure between Dick and Carey development and research procedures development proposed by Borg and Gall. Modification of the product is comprised of seven steps: (1) initial research and information gathering, (2) planning, (3) early product development, (4) initial trials, (5) product revision, (6) field trials, and (7) the revision of the final product. The seventh step is then to produce the final product design in the form of a children story book. Instruments in this study is a list of questions of the need’s analysis interview and questionnaire. The interview is used to analyze the upper-class teachers’ needs of SD N Ngering 1, while the questionnaire is used to validate the quality of teaching materials by experts, teacher of upper class especially class V, and eight students of class V elementary school as subject of the research. Based on the results of the validation, teacher of IV grade class as expert validator was give a score of 4,63. Subject test of 4,40 as the bottom score. The mean score of 4,70 with validation that the category of "Very Good". It is reviewed from aspects (1) design and organization, (2) language and content, (3) purpose and approach. Therefore, a children's book that was developed is already fit for use as a textbook on sex education for upper class children of elementary school. Keywords: research and development, children story book-based sex education, sex education for elementary school children. ix.

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL................................................................................................ i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ..................................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................ iii HALAMAN PERSEMBAHAN............................................................................. iv HALAMAN MOTTO ............................................................................................. v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ................................................................ vi LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ............................................................. vii ABSTRAK ........................................................................................................... viii ABSTRACT ............................................................................................................. ix KATA PENGANTAR ............................................................................................ x DAFTAR ISI ......................................................................................................... xii DAFTAR TABEL .............................................................................................. xviii DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... xix BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1 A. Latar Belakang Masalah ................................................................................ 1 B. Rumusan Masalah.......................................................................................... 5 C. Tujuan Penelitian ........................................................................................... 5 D. Manfaat Penelitian ......................................................................................... 6 1. Bagi siswa ................................................................................................. 6 2. Bagi guru ................................................................................................... 6. xii.

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 3. Bagi sekolah .............................................................................................. 6 4. Bagi program studi PGSD ........................................................................ 6 5. Bagi peneliti .............................................................................................. 7 E. Definisi Operasional ...................................................................................... 7 1. Buku cerita bergambar .............................................................................. 7 2. Pendidikan seks penanaman rasa malu ..................................................... 7 3. Membaca ................................................................................................... 7 F. Spesifikasi Produk yang dikembangkan ........................................................ 8 BAB II LANDASAN TEORI ................................................................................. 9 A. Kajian Pustaka ............................................................................................... 9 1. Buku Cerita Anak ..................................................................................... 9 a. Cerita Anak .......................................................................................... 9 b. Tujuan Pemanfaatan Media Pembelajaran ......................................... 10 c. Macam-macam Bentuk Buku Cerita Anak ........................................ 10 2. Pendidikan Seks di Keluarga .................................................................. 12 a. Pengertian Pendidikan Seks di Keluarga ........................................... 12 3. Buku Cerita Bergambar .......................................................................... 13 a. Pengertian Buku Cerita Bergambar.................................................... 13 b. Jenis dan Karakteristik Buku Cerita Bergambar ................................ 16 c. Fungsi Buku Cerita Bergambar .......................................................... 17 4. Pendidikan Seks ...................................................................................... 18 a. Pengertian Pendidikan Seks ............................................................... 18 b. Pentingnya Pengetahuan Pendidikan Seks Bagi Siswa ...................... 19. xiii.

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. c. Cara Melindungi Anak Dari Pelaku Kekerasan ................................. 21 5. Perkembangan Anak Usia Sekolah Dasar Memasuki Remaja ............... 22 a. Perkembangan .................................................................................... 22 b. Masa Usia Sekolah Dasar ................................................................... 24 c. Perkembangan Intelektual Anak ........................................................ 25 d. Perkembangan Sosial ......................................................................... 28 e. Perkembangan Emosi ......................................................................... 29 f. Perkembangan Anak Memasuki Masa Remaja .................................. 30 g. Perkembangan Minat Pada Seks ........................................................ 32 6. Gerakan Literasi Sekolah ........................................................................ 34 a. Tujuan Gerakan Literasi Sekolah ....................................................... 35 b. Sasaran Gerakan Literasi Sekolah ...................................................... 35 c. Prinsip-prinsip Literasi Sekolah ......................................................... 36 d. Tahapan Pelaksanaan GLS ................................................................. 36 B. Penelitian yang Relevan .............................................................................. 37 1. Penelitian tentang Buku Cerita ............................................................... 40 C. Kerangka Berpikir ....................................................................................... 42 D. Pertanyaan Penelitian ................................................................................... 43 BAB III METODE PENELITIAN........................................................................ 44 A. Jenis Penelitian ............................................................................................ 44 B. Penelitian dan Pengumpulan Informasi Awal ............................................. 45 1. Perencanaan ............................................................................................ 46 2. Pengembangan Produk Awal .................................................................. 46. xiv.

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 3. Uji Coba Awal ........................................................................................ 47 4. Revisi Produk .......................................................................................... 47 5. Uji Coba Lapangan ................................................................................. 48 6. Revisi Produk .......................................................................................... 48 C. Setting Penelitian ......................................................................................... 49 1. Subjek Penelitian .................................................................................... 49 2. Objek Penelitian ...................................................................................... 49 3. Lokasi Penelitian..................................................................................... 49 4. Waktu Penelitian ..................................................................................... 49 D. Uji Validasi Produk ..................................................................................... 50 1. Uji Validasi Produk oleh Pakar............................................................... 50 2. Uji Validasi Produk melalui Uji Coba Lapangan ................................... 50 E. Teknik Pengumpulan Data .......................................................................... 51 1. Wawancara.............................................................................................. 51 2. Kuesioner ................................................................................................ 52 F. Instrumen Penelitian .................................................................................... 53 1. Instrumen Pengumpulan Data ................................................................. 53 a. Pedoman Wawancara ......................................................................... 53 b. Kuesioner ........................................................................................... 55 G. Teknik Analisis Data ................................................................................... 57 1. Data Kualitatif......................................................................................... 57 2. Data Kuantitatif....................................................................................... 58 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ...................................... 60. xv.

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. A. Analisis Kebutuhan...................................................................................... 60 1. Hasil Wawancara Analisis Kebutuhan.................................................... 61 B. Deskripsi Produk Awal ................................................................................ 63 1. Sampul Buku Cerita ................................................................................ 63 2. Bagian-bagian Buku Cerita ..................................................................... 64 a. Identitas Kepunyaan Buku ................................................................. 64 b. Kata Pengantar ................................................................................... 64 c. Isi cerita .............................................................................................. 65 d. Kesan .................................................................................................. 65 e. Daftar pustaka .................................................................................... 65 f. Biodata penulis ................................................................................... 66 C. Data Uji Coba dan Revisi Produk ................................................................ 66 1. Data Uji Coba ......................................................................................... 66 2. Revisi produk .......................................................................................... 69 3. Data Validasi Guru SD Kelas Atas dan Revisi Produk .......................... 72 D. Data Validasi Uji Coba Lapangan dan Revisi Produk................................. 72 E. Kajian Produk Akhir .................................................................................... 75 1. Sampul Buku Cerita Setelah Direvisi .................................................... 75 2. Bagian-bagian Buku Cerita Setelah Direvisi .......................................... 76 a. Identitas Kepemilikan Buku ............................................................... 76 b. Kata Pengantar ................................................................................... 76 c. Isi Buku Cerita ................................................................................... 77 d. Daftar Pustaka .................................................................................... 77. xvi.

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. e. Biodata Penulis................................................................................... 78 3. Rekapitulasi Hasil Validasi ..................................................................... 78 F. Pembahasan ................................................................................................. 79 BAB V PENUTUP ................................................................................................ 85 A. Kesimpulan .................................................................................................. 85 B. Keterbatasan Pengembangan ....................................................................... 86 C. Saran ......................................................................................................... 86 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 87 LAMPIRAN .......................................................................................................... 91 DAFTAR RIWAYAT HIDUP………………………………………………….115. xvii.

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. DAFTAR TABEL Halaman Tabel 3.1 Daftar Pertanyaan Wawancara .............................................................. 54 Tabel 3.2 Kisi-kisi Kuesioner Uji Validasi untuk Pakar dan Guru ....................... 56 Tabel 3.3 Kisi-kisi Kuesioner Uji Validasi untuk Siswa ...................................... 57 Tabel 3.4 Konversi Data Kuantitatif ke Data Kualitatif Skala Lima .................... 58 Tabel 4.1 Rangkuman Hasil Wawancara Guru SD N 1 Sanden ........................... 61 Tabel 4.2 Hasil Validasi Pakar .............................................................................. 67 Tabel 4.3 Komentar Pakar dan Revisi................................................................... 68 Tabel 4.4 Hasil Validasi Guru ............................................................................... 72 Tabel 4.5 Hasil Validasi Subjek Penelitian ........................................................... 73 Tabel 4.6 Komentar Subjek Penelitian dan Revisi................................................ 74 Tabel 4.7 Rakapitulasi Validasi Pakar, Guru Kelas, dan Siswa Kelas IV SD ...... 78. xviii.

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 2.1 Hasil Penelitian yang Relevan........................................................... 40 Gambar 3.1 Prosedur Pengembangan yang Digunakan Peneliti........................... 45 Gambar 4.1 Cover Buku Cerita ............................................................................. 63 Gambar 4.2 Buku Cerita Hasil Revisi ................................................................... 69 Gambar 4.3 Buku Cerita Hasil Revisi ................................................................... 70 Gambar 4.4 Buku Cerita Hasil Revisi ................................................................... 71 Gambar 4.5 Sampul Buku Hasil Revisi ................................................................ 76. xix.

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Berbicara mengenai seks merupakan topik yang sangat menarik, terutama bagi kaum remaja dan dewasa. Sebenarnya, bukan hanya remaja dan orang dewasa saja yang perlu diberi pengetahuan mengenai pendidikan seks, pendidikan seks perlu diberikan sedini mungkin, bahkan sejak usia anak-anak. Untuk usia anak-anak yang tentunya sudah menginjak Sekolah Dasar perlu penanaman rasa malu, karena ecara etimologi dalam kamus besar bahasa Indonesia disebutkan berkaitan rasa bersalah dan rasa malu yaitu : rasa : tanggapan indra terhadap rangsangan saraf, seperti manis, pahit, masam terhadap indra pengecap, atau panas, dingin, nyeri terhadap indra perasa) dan malu merasa sangat tidak enak hati karena berbuat sesuatu yang kurang baik (kurang benar, berbeda dengan kebiasaan) jadi rasa malu dan rasa bersalah adalah benih-benih untuk membentuk disiplin anak adalah merupakan investasi pendidikan yang harus ditanamkan pada anak untuk menghindari terjadinya kasus kejahatan pada anak seperti yang dikutip dalam blog Tanjung Pinang POS di internet. Banyak hal yang perlu dilakukan untuk membuat anak memiliki rasa malu dilingkungan sekitarnya. Banyak sekali cara bagaimana menanamkan rasa malu pada anak seperti, untuk anak perempuan jangan diberikan pakaian yang terbuka. Begitu juga dengan anak laki-laki, perlu diajarkan sedini. 1.

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. mungkin untuk buang air kecil dan mengganti baju di tempat tertutup, anak laki-laki dilatih untuk tida buang air sembarangan. Sesuatu yang kecil seperti itu akan berdampak besar untuk kedepannya nanti. Calderone (2001) mendefinisikan pendidikan seks sebagai berikut: “Pelajaran untuk menguatkan kehidupan keluarga, untuk menumbuhkan pemahaman diri dan hormat terhadap diri, untuk mengembangkan kemampuan hubungan manusiawi yang sehat, untuk membangun tanggung jawab seksual dan sosial; untuk mempertinggi masa perkenalan yang bertanggung jawab, perkawinan yang bertanggung jawab dan orang tua yang bertanggung jawab.” Di Indonesia sangat sedikit orang tua yang menyampaikan informasi tentang seksualitas dan hal-hal yang berkaitan erat dengan pertumbuhan dan perkembangan remaja (Meilani dkk, 2014). Hal ini tentunya berkaitan dengan kurang terbukanya orang tua dalam memberikan informasi mengenai seks yang benar dan sehat. Sikap yang cenderung membiarkan dan menganggap tabu berbicara seks dengan anak membawa kecenderungan untuk perilaku seks yang dianggap tidak bermoral, seharusnya peran orang tua dapat memberikan informasi tentang pendidikan seks pada anak dengan baik dan benar. Hal ini di dukung oleh hasil riset yang dilakukan oleh Zelnik dan Kim (2008) menunjukkan bahwa jika orang tua bersedia mendiskusikan seks dengan anaknya, maka anaknya cenderung menunda perilaku seksual premarital. Sciller (dalam Bruess, 2009) menyebutkan tujuan pendidikan seks adalah memberikan informasi yang faktual seluruh aspek seksualitas dan perencanaan keluarga Meningkatkan pemahaman diri mengenai seksualitas sehingga.

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3. menjadi percaya diri. Pendidikan seks tidak hanya mengenai pembiakan manusia, tetap juga mencakup keseluruhan sikap terbuka laki-laki dan perempuan dalam hubungan mereka satu sama lain. Definisi lain dari pendidikan seks adalah pendidikan tentang tingkah laku yang baik sehubungan dengan masalah-masalah seks. Jadi, penjelasan seks mengutamakan pendidikan tingkah laku yang baik dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemasyarakatan; yang dipentingkan adalah pendidikannya, bukanlah seksnya, walaupun pada pendidikan seks memang tidak dapat dihindari pembahasan pengetahuan tetntang seks dalam arti keilmuan (seksologi). Hasil riset yang dilakukan oleh Bennet dan Dickinson (2006) menyebutkan bahwa sebagian besar remaja memilih mendapatkan pendidikan seksual dini orang tua, tapi karena orang tua kurang mampu menjelaskan secara detail, maka remaja mencari informasi dari kelompok atau di mana saja. Demikian juga hasil riset yang dilakukan oleh Meilani, Shaluhiyah, dan Suryoputro (2014) menunjukkan bahwa kebanyakan remaja mendapat informasi tentang seks melalui guru di sekolahnya tidak melalui orang tuanya. Namun berbeda dengan hasil riset Bennett & Dickinson (2006) maupun riset Fisher (2009) yang menyebutkan bahwa pemberian informasi tentang seks dari orang tua tentu lebih baik daripada informasi dari sumber lain. Dari beberapa pendapat di atas dapat di garis bawahi bahwa pendidikan seksual dapat mengurangi informasi yang keliru dan mengarahkan perilaku seksual secara baik dan benar. Pendidikan seks juga dapat diartikan sebagai semua cara pendidikan yang dapat membantu anak muda untuk menghadapi persoalan hidup yang.

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4. berpusat pada naluri seks, yang kadang-kadang timbul dalam bentuk tertentu dan merupakan pengalaman manusia yang normal. Tujuan pendidikan seks yang pertama disampaikan oleh Vos (1980), yakni bahwa pendidikan seks harus memberikan informasi yang tepat dan mengurangi mitos dan konsep yang keliru. Dari empat tujuan yang disampaikan, yang pertama ialah adalah yang paling umum dapat dicapai. Sejumlah studi telah melaporkan bahwa sebelum anak-anak diberi pendidikan seks, hanya 11% yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang seksualitas secara benar. Setelah diberikan pendidikan seks selama sebulan, mereka yang dapat menjawab dengan benar pertanyaan tentang seksualitas mencapai 70%. Berdasarkan wawancara dengan salah satu guru di SD N 1 Sanden pendidikan seks sangat penting karena anak-anak perlu ditanamkan pendidikan seks sejak usia dini. Oleh karena itu media buku cerita yang diterpakan di SD N 1 Sanden di setujui oleh sekolah demi memperdalam penndidikan seks usia dini. Media buku cerita juga di gemari anak-anak karena buku cerita ini memiliki tampilan gambar yang lumayan menarik sehingga anak-anak tidak malas untuk membaca buku cerita ini. Di SD N 1 Sanden juga diterapkan Gerakan Literasi Sekolah demi mengingkatkan minat baca anak, maka dari itu pihak sekolah menyetujui media buku cerita anak berbasis pendidikan seks karena. disamping meningkatkan minat. baca anak juga. anak-anak. bisamenambah wawasan tentang pentingnya pendidikan seks sejak dini. Selanjutnya menumbuhkan rasa malu, dalam kehidupan itu ada banyak cara diantaranya yaitu dengan mulai dari yang kecil mengajarkan anak dengan.

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5. membiasakan berkata jujur dan berperilaku yang benar, pada saat bertingkah laku sesuai dengan kebiasaan yang dilakukan maka jika memang dari awalnya sudah biasa melakukan kebaikan maka sikap dan perilaku anak akan baik tetapi jika kita terbiasa berbuat salah maka perilaku juga akan selalu salah. Pendidikan seksual selain menerangkan tentang aspek-aspek anatomis dan biologis juga menerangkan tentang aspek-aspek psikologis dan moral. Pendidikan seksual yang benar harus memasukkan unsur-unsur hak asasi manusia. Juga nilai-nilai kultur dan agama diikutsertakan sehingga akan merupakan pendidikan akhlak dan moral juga.. B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana mengembangkan buku cerita bergambar berbasis pendidikan seks untuk siswa sekolah dasar kelas atas? 2. Bagaimana kualitas buku cerita bergambar berbasis pendidikan seks untuk siswa sekolah dasar kelas atas?. C. Tujuan Penelitian 1. Mengembangkan buku cerita bergambar berbasis pendidikan seks untuk siswa sekolah dasar kelas atas. 2. Mendeskripsikan kualitas buku cerita bergambar berbasis pendidikan seks untuk siswa sekolah dasar kelas atas..

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6. D. Manfaat Penelitian 1. Bagi siswa Buku cerita bergambar berbasis pendidikan seks ini dapat membantu siswa untuk belajar membaca sekaligus belajar bagaimana cara anak merawat diri dan mengenali rasa malu di lingkungan sekitarnya. Siswa akan tertarik membaca karena bentuk buku disertai dengan gambar. Selain itu, siswa dapat menerapkannya dalam kehidupan.. 2. Bagi guru Buku cerita bergambar berbasis pendidikan seks ini dapat menambah sumber yang dapat membantu guru dalam proses belajar mengajar di dalam kelas.. 3. Bagi sekolah Sekolah dapat menggunakan buku cerita bergambar berbasis pendidikan seks sebagai acuan untuk mengembangkan bahan ajar lain. Buku cerita bergambar ini juga bisa menjadi koleksi perpustakaan yang bisa dibaca oleh siswa.. 4. Bagi program studi PGSD Penelitian ini dapat menambah pustaka program studi PGSD Universitas Sanata Dharma terkait dengan pengembangan buku cerita bergambar berbasis pendidikan seks untuk pelajaran membaca siswa..

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7. 5. Bagi peneliti Menambah wawasan dan pengalaman peneliti dalam mengembangkan media berupa buku cerita bergambar.. E. Definisi Operasional 1. Buku cerita bergambar Buku cerita bergambar adalah buku cerita yang berisikan teks narasi yang dilengkapi dengan gambar sebagai ilustrasinya dan bertujuan untuk membantu siswa agar mudah memahami isi cerita serta dapat merangsang dan memperkaya imajinasi siswa.. 2. Pendidikan seks penanaman rasa malu Pendidikan seks adalah usaha sadar untuk mencegah dan mengurangi pelecehan seksual usia dini. Usaha ini dapat dilakukan di lingkup keluarga, sekolah, maupun masyarakat.. 3. Membaca Membaca adalah kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh informasi atau pesan yang hendak disampaikan oleh penulis..

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8. F. Spesifikasi Produk yang dikembangkan 1. Produk yang dihasilkan dalam penelitian pengembangan ini berupa buku literasi yaitu buku cerita anak berbasis pendidikan seks untuk anak kelas atas. 2. Ukuran buku A4 dengan sampul buku lebih tebal dari isinya. Sampul buku dengan kertas Art Paper 260 dan isi buku dengan kertas Art Paper 230..

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. BAB II LANDASAN TEORI. A. Kajian Pustaka 1. Buku Cerita Anak a. Cerita Anak Hardjana (2006: 2-3) menyatakan bahwa cerita anak adalah cerita yang ditujukan untuk anak-anak, dan bukan cerita tentang anak. Dalam buku cerita anak yang menjadi tokoh tidak harus terdiri dari anak, melainkan apa saja atau siapa saja dapat dijadikan tokoh/pelaku dalam sebuah cerita tersebut. Orang tua, kakek, nenek, pak guru, mahasiswa, anak remaja, binatang, bahkan peri atau makhluk halus boleh menjadi tokoh cerita. Wahyudi (2013: 18) mengutarakan cerita anak adalah cerita yang ditulis dengan menggunakan sudut pandang anak. Jika cerita adalah pengalaman. sehari-hari,. pengalaman itu. harus. ditulis. dengan. menggunakan sudut pandang anak. Jika cerita adalah gambaran seharihari, gambaran kehidupan itu harus ditulis dengan menggunakan sudut pandang anak.. 9.

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10. b. Tujuan Pemanfaatan Media Pembelajaran Media pembelajaran anak yang dibuat peneliti memiliki tujuan yang berguna bagi anak-anak. Tujuan dari media pembelajaran buku cerita anak diantaranya adalah:  Melalui media pembelajaran buku cerita anak dapat membuat anak menjadi terinspirasi,  Membantu anak dalam perkembangan apresiasi kultural,  Memperluas pengetahuan anak,  Menimbulkan kesenangan tersendiri bagi anak,  Mengembangkan imajinasi anak, Sesuai dengan salah satu tujuan cerita anak yaitu mengembangkan imajinasi anak buku cerita bergambar yang disusun untuk memfasilitasi anak dalam mengembangkan imajinasi. Melalui gambar-gambar yang terdapat pada buku cerita. Berikut cerita anak dapat dikemas dalam berbagai bentuk buku.. c. Macam-macam Bentuk Buku Cerita Anak Mengarang buku cerita anak dapat menggunakan bentuk atau wadah: cerita pendek, novelet dan novel. Dalam ilmu kesusastraan ketiga bentuk cerita tadi disebut fiksi. Kata fiksi dalam bahasa Inggris dinamakan fiction diturunkan dari bahasa Latin fictio yang berarti: membentuk, membuat, menggandakan, dan menciptakan. Cerita fiksi adalah cerita yang dibentuk, cerita yang dibuat, cerita yang diadakan atau.

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11. yang diciptakan. Oleh sebab itu, cerita fiksi juga disebut sebagai cerita rekaan. Selain fiksi ada juga cerita nonfiksi, kalau fiksi berdasarkan khayalan atau tidak nyata sedangkan nonfiksi nyata Hardjana (2006: 4). Perbedaan utama antara fiksi dengan nonfiksi terletak dalam tujuan. Maksud dan tujuan narasi nonfiksi adalah untuk menciptakan kembali sesuatu yang telah terjadi secara actual. Karena itu dengan kata lain dapat dikatakan (a) narasi nonfiksi mulai dengan mengatakan: karena semua ini fakta, maka beginilah yang harus terjadi, dan (b) narasi fiksi mulai dengan mengatakan: seandainya semua ini fakta, maka beginilah yang akan terjadi (Hardjana, 2006: 5). Dari pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan ada dua bentuk buku cerita yaitu fiksi dan non fiksi. Fiksi itu apa yang dapat terjadi, tetapi belum tentu terjadi/rekaan, sedangkan non fiksi apa yang benar terjadi/nyata. Buku cerita anak berbasis pendidikan seks merupakan buku cerita nonfiksi, artinya buku tersebut dibuat berdasarkan fakta tentang pacaran di dalam sekolah. Cerita nonfiksi tersebut dikemas dalam bentuk buku cerita sederhana yang ditambah gambar-gambar untuk mempermudah pemahaman anak..

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12. 2. Pendidikan Seks di Keluarga a. Pengertian Pendidikan Seks di Keluarga Menurut Warnaen (dalam Wuryani, 2008: 5) pendidikan seks juga dapat diartikan sebagai semua cara pendidikan yang dapat membantu anak muda untuk menghadapi persoalan hidup yang berpusat pada naluri seks, yang kadang-kadang timbul dalam bentuk tertentu dan merupakan pengalaman manusia yang normal. Dari definisi-definisi yang tertera di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan seks adalah pendidikan yang bertujuan mengenalkan tentang jenis kelamin dan cara menjaganya untuk meningkatkan hubungan manusiawi yang sehat dalam menghadapi persoalan hidup yang berpusat pada naluri seks. Andika (2010: 15) mengemukakan pendidikan seks bertujuan untuk mengenalkan anak tentang jenis kelamin dan cara menjaganya, baik dari sisi kesehatan dan kebersihan, keamanan, serta keselamatan. Wuryani (2008: 5) Pendidikan seks adalah pendidikan tentang tingkah laku yang baik sehubungan dengan masalah-masalah seks. Dr Marry Calderone (2000) memberikan definisi bahwa pendidikan seks adalah pelajaran untuk menguatkan kehidupan keluarga, untuk menumbuhkan pemahaman diri dan hormat terhadap diri, untuk mengembangkan kemampuan hubungan manusiawi yang sehat, untuk membangun tanggung jawab seksual dan sosial: untuk mempertinggi.

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13. masa perkenalan yang bertanggung jawab, perkawinan yang bertanggung jawab, dan orang tua yang bertanggung jawab. Wirawansarwono dan Amisiamsidar (1986:7) mengatakan bahwa pendidikan seks ialah pendidikan yang memuat tentang kelamin, anggota tubuh yang membedakan pria dan wanita, dan kelenjar atau hormon yang mempengaruhi bekerjanya alat kelamin. Dari definisi-definisi yang tertera di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan seks adalah pendidikan yang bertujuan mengenalkan tentang jenis kelamin dan cara menjaganya yang diperlukan oleh anakanak yang dapat diperoleh dari membaca buku atau obrolan-obrolan kecil. 3. Buku Cerita Bergambar a. Pengertian Buku Cerita Bergambar Buku cerita bergambar adalah buku bacaan cerita yang menampilkan teks narasi secara verbal dan disertai gambar-gambar ilustrasi (Nurgiyantoro, 2005: 152). Lukens (2003: 38) mengatakan ilustrasi cerita dan gambar merupakan dua media yang berbeda, tetapi dalam buku cerita keduanya secara bersama membentuk perpaduan. Micthel (2003: 87) mengatakan buku cerita bergambar adalah buku yang menyampaikan cerita bergambar dan teks dan keduanya saling menjalin. Dari definisi-definisi yang tertera di atas buku cerita bergambar adalah buku yang di dalamnya memuat teks bacaan dan gambar-gambar yang keduanya saling berkaitan untuk membentuk suatu cerita..

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14. Gambar adalah segala sesuatu yang diwujudkan secara visual kedalam bentuk dua dimensi sebagai hasil perasaan dan pikiran. Gambar dapat dipergunakan sebagai media dalam penyelenggaraan proses pendidikan sehingga memungkinkan terjadinya proses belajar-mengajar. Tarigan (1995:209) mengemukakan bahwa pemilihan gambar haruslah tepat, menarik dan dapat merangsang siswa untuk belajar. Media gambar yang menarik, akan menarik perhatian siswa dan menjadikan siswa memberikan respon awal terhadap proses pembelajaran. Media gambar yang digunakan dalam pembelajaran akan diingat lebih lama oleh siswa karena bentuknya yang konkrit dan tidak bersifat abstrak. Gambar adalah suatu bentuk ekspresi komunikasi universal yang dikenal khalayak luas. Buku cerita bergambar adalah buku bergambar tetapi dalam bentuk cerita, bukan buku informasi. Dengan demikian buku cerita bergambar sesuai dengan ciri-ciri buku cerita, mempunyai unsur-unsur cerita (tokoh, plot, alur). Buku cerita bergambar ini dapat dibedakan menjadi dua jenis, (1) buku cerita bergambar dengan kata-kata, (2) buku cerita bergambar tanpa kata-kata. Kedua buku tersebut biasanya untuk prasekolah atau murid sekolah dasar kelas awal. Buku cerita bergambar merupakan sesuatu yang tidak asing dalam kehidupan anak-anak. Disamping itu, buku adalah sebuah media yang baik bagi anak-anak untuk belajar membaca. Buku cerita bergambar merupakan kesatuan cerita disertai dengan gambar-gambar yang berfungsi sebagai penghias dan pendukung cerita yang dapat membantu.

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15. proses pemahaman terhadap isi buku tersebut. Melalui buku cerita bergambar, diharapkan pembaca dapat dengan mudah menerima informasi dan deskripsi cerita yang hendak disampaikan. Untuk anak usia dini, alangkah baiknya jika kita mengenalkan buku cerita bergambar yang sesuai dengan usia mereka, untuk membantu perkembangannya. Karena pada saat usia dini, perkembangan otak anak berkembang secara pesat. Sehingga kita harus memotivasi anak untuk selalu belajar dan media pembelajaran membaca permulaan yang efektif adalah melalui buku cerita bergambar. Dari beberapa paparan diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa media buku cerita bergambar sangat cocok jika diterapkan dalam proses pembelajaran membaca permulaan di kelas 1, karena media tersebut dapat merangsang siswa dalam pembelajaran membaca khususnya membaca permulaan, media buku cerita bergambar tersebut diwujudkan dalam bentuk visual ke dalam bentuk dua dimensi sebagai hasil pikiran dan perasaan..

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16. b. Jenis dan Karakteristik Buku Cerita Bergambar Buku. cerita. bergambar. mempunyai. beberapa. jenis. dan. karakteristik. Menurut McElmeel (2002), buku cerita bergambar memiliki 6 jenis, yaitu sebagai berikut: 1) Fiksi Buku fiksi adalah buku yang menceritakan cerita khayal, rekaan, atau sesuatu yang tidak terjadi sungguh-sungguh. Kategori yang termasuk dalam fiksi adalah cerita hewan, misteri, humor, dan cerita fantasi yang dibuat sesuai imajinasi penulis. 2) Historis Buku historis adalah buku yang mendasarkan diri pada suatu fakta atau kenyataan di masa lalu. Buku ini meliputi kejadian sebenarnya, tempat, atau karakter yang merupakan bagian dari sejarah. 3) Informasi Buku informasi adalah buku-buku yang memberikan informasi faktual. Buku informasi menyampaikan fakta dan data apa adanya, yang berguna untuk menambah keterampilan, wawasan, dan juga bekal teoritis dalam batas tertentu bagi anak. 4) Biografi Biografi adalah kisah atau keterangan tentang kehidupan seseorang mulai kelahiranya hingga kematianya jika sudah meninggal..

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17. 5) Cerita rakyat Cerita rakyat merupakan cerita atau kisah yang asal mulanya bersumber dari masyarakat serta tumbuh dan berkembang dalam masyarakat di masa lampau. 6) Kisah nyata Kisah nyata berfokus pada peristiwa yang sebenarnya dari sebuah situasi atau peristiwa. c. Fungsi Buku Cerita Bergambar Mitchell (dalam Nurgiantoro, 2005:159) mengungkapkan fungsi dan pentingnya buku cerita bergambar sebagai berikut: 1) Membantu perkembangan emosi anak. 2) Membantu anak belajar tentang dunia dan keberadaannya. 3) Belajar. tentang. orang. lain,. hubungan. pengembangan perasaan. 4) Memperoleh kesenangan. 5) Untuk mengapresiasi keindahan, dan 6) Untuk menstimulasi imajinasi.. yang. terjadi. dan.

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18. 4. Pendidikan Seks a. Pengertian Pendidikan Seks Seksualitas adalah suatu istilah yang mencakup segala sesuatu yang berkaitan degan seks. Dalam pengertian ini ada dua aspek (segi) dari seksualitas: (1) seks dalam arti sempit dan (2) seks dalam arti luas 1) Seks Dalam Arti Sempit Dalam arti sempit seks berarti kelamin. Yang termasuk pengertian kelamin adalah:  Alat kelamin itu sendiri  Anggota-anggota tubuh dan ciri-ciri badaniah yang lainnya yang membedakan laki-laki dan wanita (misalnya perbedaan suara, pertumbuhan kumis, payudara, dan lain-lain)  Kelenjar-kelenjar dan hormon-hormon dalam tubuh yang mempengaruhi bekerjanya alat-alat kelamin.. 2) Seks Dalam Arti Luas Segi lain dari seksualitas adalah seks dalam arti yang luas, yaitu segala hal yang terjadi sebagai akibat (konsekuensi) dari adanya perbedaan jenis kelamin, antara lain:  Perbedaan tingkah laku: lembut, kasar, genit, dan lain-lain.  Perbedaan atribut: Pakaian, nama, dan lain-lain  Perbedaan peran dan pekerjaan.

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19.  Hubungan antara priadan wanita : tata krama, pergaulan, dan lain-lain.. b. Pentingnya Pengetahuan Pendidikan Seks Bagi Siswa Pentingnya pengetahuan siswa tentang pendidikan seks hendaknya diperhatikan oleh para guru dan orang tua. Dengan memiliki pemahaman yang baik, diharapkan para siswa dapat meminimalisir timbulnya perilaku menyimpang dan pelecehan seksual yang dilakukan oleh orangorang yang kurang bertanggung jawab. Pengetahuan pendidikan seks sangat penting bagi siswa karena dengan pemahaman itu siswa akan dapat menilai bahwa perilaku menyimpang harus dihindari dan siswa dapat menghindari tindakan kekerasan seksual. Dalam hubungan ini Wirawansarwono dan Amisiamsidar (1986:60) mengatakan bahwa pendidikan seks sangat perlu diberikan pada anak sedini mungkin agar mereka memiliki dasar pengetahuan yang kuat mengenai masalah seksual. Hal itu bertujuan agar mereka terhindar dari orang orang yang tidak bertanggung jawab yang ingin melakukan tindakan yang kurang terpuji kepada mereka. Misalnya adalah phaedophil, phaedophil adalah pria dewasa yang melakukan tindakan seks kepada anak anak (Wirawansarwono dan Amisiamsidar, 1986:60)..

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20. Menurut Tretsakis (2003:12), pendidikan seks secara dini bagi anak-anak perlu dan penting demi kesejahteraan dan kemantapan pribadi anak tersebut kelak setelah dewasa. Berikut alasannya:  Pendidikan seks secara dini akan memudahkan anak-anak menerima keberadaan tubuhnya secara menyeluruh dan menerima fase-fase perkembangannya secara wajar.  Pendidikan seks secara dini akan membantu anak-anak untuk mengerti dan merasa puas dengan peranannya dalam kehidupan.  Pendidikan seks yang sehat cukup efektif untuk menghilangkan rasa ingin tahu yang tidak sehat yang sering muncul dalam benak anakanak.  Secara keseluruhan, informasi seks yang diberikan akan melindungi kehidupan masa depan mereka dari komplikasi dan kelainan seks.  Pendidikan seks yang sehat, jujur dan terbuka juga akan menumbuhkan rasa hormat dan patuh anak-anak terhadap orang tuanya.  Pendidikan seks yang diajarkan secara terarah dan terpimpin di dalam lingkungan keluarga cenderung cukup efektif untuk mengatasi informasi informasi negatif yang berasal dari luar lingkungan keluaraga.  Bila diajarkan dengan baik, pendidikan seks akan membuat masingmasing anak bangga dengan jenis kelaminnya..

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21.  Pendidikan yang sehat dan wajar memungkinkan anak memperoleh taraf kedewasaan yang layak menurut usianya.. c. Cara Melindungi Anak Dari Pelaku Kekerasan Orang tua atau guru hendaknya lebih peka untuk melindungi anak. Jika ada orang dewasa mengatakan hal-hal yang tidak mengenakan kepada seorang anak, ini juga dapat dikategorikan kekerasan seksual. Ajarkan kepada anak bahwa jika ada orang lain melakukan sesuatu kepada dia lalu menyuruh dia untuk tutup mulut, berarti orang itu melakukan hal yang salah. Katakan kepada anak-anak bagaimana menjaga diri mereka dari pelaku kekerasan seksual supaya terhindar dari bahaya. Menurut Wuryani (2008: 164) orang tua dapat mengajarkan kepada mereka hal-hal sebagai berikut:  Jika ada orang meraba-raba bagian-bagian pribadi tubuhmu atau menyentuhmu dengan cara yang menyakitkan atau membuatmu merasa tidak enak atau tidak senang, katakan “jangan” dengan tegas. Katakan kepada orang itu supaya tidak melakukan perbuatan itu, dan ancamlah mereka bahwa kamu akan melaporkan ke polisi.  Kamu harus melapor kepada orang tua, guru atau keluarga terdekat jika kamu merasa diperlakukan tidak menyenangkan dan tidak sopan. Jika kamu merahasiakanya, kekerasan ini akan berlangsung.

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22. terus. Jangan takut, ingatlah bahwa kamu tidak bersalah dan kamu berhak mendapatkan rasa aman.  Jika ada temanmu yang menceritakan hal-hal yang tidak mereka sukai dari orang lain, atau menceritakan secara langsung kekerasan yang dialaminya. Bantulah temanmu itu dengan menyampaikan ceritanya kepada orang dewasa atau orang tua sehingga mereka dapat segera bertindak menyelamatkan temanmu.  Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa cara melindungi anak dari kekerasan seksual perlu supaya mereka terhindar dari bahaya. Contohnya meraba bagian-bagian yang tidak boleh disentuh oleh sembarang orang, ajarkan pada anak bahwa mereka harus lapor pada polisi atau orang yang ada di sekitarnya. 5. Perkembangan Anak Usia Sekolah Dasar Memasuki Remaja a. Perkembangan Perkembangan dapat diartikan sebagai “perubahan yang progresif dan kontinyu (berkesinambungan) dalam diri individu dari mulai lahir sampai mati”. Pengertian lain dari perkembangan adalah “perubahanperubahan yang dialami individu atau organisme menuju tingkat kedewasaannya atau kematangannya yang berlangsung secara sistematis, progresif, dan berkesinambungan, baik menyangkut fisik maupun psikis. Perkembangan secara umum memiliki mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:.

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23.  Terjadinya perubahan dalam (a) aspek fisik: perubahan tinggi dan berat badan serta organ-organ tubuh lainnya, (b) aspek psikis: semakin bertambahnya perbendaharaan kata dan matangnya kemampuan berpikir, mengingat, serta menggunakan imajinasi kreatifnya.  Terjadinya perubahan dalam proporsi: (a) aspek fisik: proporsi tubuh anak berubah sesuai dengan fase perkembangannya dan pada usia remaja proporsi tubuh anak mendekati proporsi tubuh usia remaja, (b) aspek psikis: perubahan imajinasi dari yang fantasi ke realitas; dan perubahan perhatiannya dari yang tertuju kepada dirinya sendiri perlahan-lahan beralih kepada orang lain.  Lenyapnya tanda-tanda yang lama: (a) tanda-tanda fisik: lenyapnya kelenjar thymus (kelenjar kanak-kanak) yang terletak pada bagian dada, kelenjar pineal pada bagian bawah otak, rambut-rambut halus dan gigi susu, (b) tanda-tanda psikis: lenyapnya masa mengoceh (meraban), bentuk gerak-gerik kanak-kanak (seperti merangkak) dan perilaku impulsive (dorongan untuk bertindak sebelum berpikir).  Diperoleh tanda-tanda yang baru: (a) tanda-tanda fisik: pergantian gigi dan karakteristik seks pada usia remaja, baik primer (menstruasi pada anak wanita, dan mimpi “basah” pada anak pria ), maupun sekunder (perubahan pada anggota tubuh: pinggul dan buah dada pada wanita; kumis, jakun, suara pada anak pria), (b) tanda-tanda psikis: seperti berkembangnya rasa ingin tahu terutama yang.

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24. berhubungan dengan seks, ilmu pengetahuan, nilai-nilai moral, dan keyakinan beragama (Yusuf, 2009). Berdasarkan pengertian di atas perkembangan adalah perubahanperubahan yang dialami individu atau organisme menuju tingkat kedewasaannya atau kematangannya yang berlangsung secara sistematis, progresif, dan berkesinambungan, baik menyangkut fisik maupun psikis.. b. Masa Usia Sekolah Dasar Masa usia sekolah dasar sering disebut sebagai masa intelektual atau masa keserasian bersekolah. Pada umur 6 atau 7 tahun, biasanya anak telah matang untuk memasuki sekolah dasar. Pada masa keserasian bersekolah ini secara relatif, anak-anak lebih mudah dididik daripada masa sebelum dan sesudahnya. Masa ini diperinci lagi menjadi dua fase, yaitu:  Masa kelas-kelas rendah sekolah dasar, kira-kira 6 atau 7 tahun sampai umur 9 atau 10 tahun.  Masa kelas-kelas tinggi sekolah dasar kira-kira umur 9,0 atau 10,0 sampai umur 12,0 atau 13,0 tahun. Beberapa sifat khas anak-anak pada masa kelas tinggi sekolah dasar ialah:  Adanya minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkret, hal ini menimbulkan adanya kecenderungan untuk membandingkan pekerjaan-pekerjaan yang praktis..

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25.  Amat realistik, ingin mengetahui, dan ingin belajar.  Menjelang akhir masa ini telah ada minat kepada hal-hal dan mata pelajaran khusus, yang oleh para ahli yang mengikuti teori faktor ditafsirkan sebagai mulai menonjolnya faktor-faktor (bakat-bakat khusus).  Sampai kira-kira umur 11,0 tahun anak membutuhkan guru atau orang-orang dewasa lainnya untuk menyelesaikan tugas dan memenuhi keinginannya. Selepas umur ini pada umumnya anak menghadapi tugas-tugasnya dengan bebas dan berusaha untuk menyelesaikannya.  Pada masa ini, anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran yang tepat (sebaik-baiknya) mengenai prestasi sekolah.  Anak-anak pada usia ini gemar membentuk kelompok sebaya biasanya untuk dapat bermain bersama-sama. Dalam permainan itu biasanya anak tidak lagi terikat kepada peraturan permainan yang tradisional (yang sudah ada), mereka membuat peraturan sendiri (Yusuf, 2011). Dari pengertian di atas masa anak sekolah dasar kelas tinggi kira-kira umur 9,0 atau 10,0 sampai umur 12,0 atau 13,0 tahun. c. Perkembangan Intelektual Anak Piaget. dalam. (Nurgiyantoro,. 2005:. 50). membedakan. perkembangan intelektual anak ke dalam empat tahapan. Tiap tahapan memiliki karakteristik yang membedakannya dengan tahapan lain..

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26. Tahapan tersebut meliputi: tahap sensorimotor, tahap praoperasional, tahap operasi konkret, dan tahap operasional formal.  Tahap sensorimotor (the sensorymotor period, 0 - 2 tahun). Tahap ini merupakan tahapan pertama dalam perkembangan kognitif anak. Tahap sensorimotor terjadi berdasarkan informasi dari indera (senses) dan bodi (motor). Karakteristik utama dalam tahap ini adalah bahwa anak belajar lewat koordinasi persepsi indera dan aktivitas motor serta mengembangkan pemahaman sebab-akibat atau hubungan-hubungan berdasarkan sesuatu yang dapat diraih atau dapat berkontak langsung. Anak mulai memahami hubungannya dengan orang lain, mengembangkan pemahaman objek secara permanen. Pada usia anak 1 - 2 tahun, anak pada tahapan ini menyukai aktivitas atau permainan bunyi yang mengandung perulangan-perulangan yang ritmis. Anak menyukai bunyi-bunyian yang bersajak dan berirama. Permainan bunyi yang dimaksud dapat berupa nyanyian, kata-kata yang dinyanyikan, atau kata-kata biasa dalam perkataan yang tidak dilagukan (Nurgiyantoro, 2005: 50).  Tahap praoperasional (the preoperational period, 2 - 7 tahun). Dalam tahap ini anak mulai dapat “mengoperasikan” sesuatu yang sudah mencerminkan aktivitas mental dan tidak lagi semata-mata bersifat fisik. Karakteristik dalam tahap ini antara lain adalah bahwa (i) anak mulai belajar mengaktualisasi dirinya lewat bahasa, bermain, dan menggambar (corat-coret). (ii) Jalan pikiran anak.

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27. masih bersifat egosentris, menempatkan dirinya sebagai pusat dunia, yang didasarkan persepsi segera dan pengalaman langsung karena masih kesulitan menempatkan dirinya di antara orang lain. Anak tidak dapat memahami sesuatu dari sudut pandang orang lain. (iii) Anak mempergunakan simbol dengan cara elementer yang pada awalnya lewat gerakan-gerakan tertentu dan kemudian lewat bahasa dalam pembicaraan. (iv) Pada masa ini anak mengalami proses asimilasi di mana anak mengasimilasikan sesuatu yang didengar, dilihat, dan dirasakan dengan cara menerima ide-ide tersebut ke dalam suatu bentuk skema di dalam kognisinya (Nurgiyantoro, 2005: 51).  Tahap operasional konkret (the concrete operational, 7 - 11 tahun). Pada tahap ini anak mulai dapat memahami logika secara stabil. Karakteristik anak pada tahap ini antara lain adalah (i) anak dapat membuat. klasifikasi. sederhana,. mengklasifikasikan. objek. berdasarkan sifat-sifat umum, misalnya klasifikasi warna, klasifikasi karakter tertentu. (ii) Anak dapat membuat urutan sesuatu secara semestinya, mengurutkan abjad, angka, besar-kecil, dan lain-lain. (iii) Anak mulai dapat mengembangkan imajinasinya ke masa lalu dan masa depan: adanya perkembangan dari pola berpikir yang egosentris menjadi mudah untuk mengidentifikasikan sesuatu dengan sudut pandang berbeda. (iv) Anak mulai dapat berpikir argumentatif. dan. memecahkan. masalah. sederhana,. ada.

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28. kecenderungan memperoleh ide-ide sebagaimana yang dilakukan oleh orang dewasa, namun belum dapat berpikir tentang sesuatu yang abstrak karena jalan pikirnya terbatas pada situasi yang konkret (Nurgiyantoro, 2005: 52).  Tahap operasi formal (the formal operational, 11 atau 12 tahun ke atas). Pada tahap ini, tahap awal adolesen, anak sudah mampu berpikir abstrak. Karakteristik penting dalam tahap ini antara lain adalah (i) anak sudah mampu berpikir “secara ilmiah”, berpikir teoritis, berargumentasi dan menguji hipotesis yang mengutamakan kemampuan berpikir. (ii) Anak sudah mampu memecahkan masalah secara logis dengan melibatkan berbagai masalah yang terkait (Nurgiyantoro, 2005: 53). Berdasarkan penjelasan mengenai tahap perkembangan intelektual anak dapat dibagi menjadi 4 tahapan, yaitu sensorimotor, praoperasional, operasional konkret, dan operasional formal. Anak SD kelas atas awal berusia sekitar 9-10 tahun sehingga pada usia itu mereka termasuk kedalam tahap operasional konkret.. d. Perkembangan Sosial Maksud perkembangan sosial ini adalah pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Dapat juga dikatakan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok, tradisi dan moral (agama). Perkembangan sosial pada anak-anak Sekolah Dasar.

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29. ditandai dengan adanya perluasan hubungan, di samping dengan keluarga juga dia mulai membentuk ikatan baru dengan teman sebaya atau teman sekelas, sehingga ruang gerak hubungan sosialnya telah bertambah luas. Pada usia dini, anak mulai memiliki kesanggupan menyesuaikan diri-sendiri kepada sikap yang kooperatif (bekerja sama) atau sosiosentris (mau memperhatikan kepentingan orang lain). Anak dapat berminat terhadap. kegiatan-kegiatan. teman. sebayanya,. dan. bertambah. kuatkeinginannya untuk diterima menjadi anggota kelompok (gang), dia merasa tidak senang apabila tidak diterima dalam kelompoknya (Yusuf, 2011). Dari pengertian diatas perkembangan sosial pada anak-anak Sekolah Dasar ditandai dengan adanya perluasan hubungan, di samping dengan keluarga juga dia mulai membentuk ikatan baru dengan teman sebaya atau teman sekelas, sehingga ruang gerak hubungan sosialnya telah bertambah luas.. e. Perkembangan Emosi Menginjak. usia. sekolah,. anak. mulai. menyadari. bahwa. pengungkapan emosi secara kasar tidaklah diterima di masyarakat. Oleh karena itu dia mulai belajar untuk mengendalikan dan mengontrol ekspresi emosinya. Kemampuan mengontrol emosi diperoleh anak melalui peniruan dan latihan (pembiasaan). Dalam proses peniruan,.

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30. kemampuaan orangtua dalam mengendalikan emosinya sangatlah berpengaruh. Emosi merupakan faktor dominan yang mempengaruhi tingkah laku individu, dalam hal ini termasuk pula perilaku belajar. Emosi yang positif, seperti perasaan senang, bergairah, bersemangat atau rasa ingin tahu akan mempengaruhi individu untuk mengonsentrasikan dirinya terhadap aktivitas belajar, seperti memperhatikan penjelasan guru, membaca buku, aktif dalam berdiskusi, mengerjakan tugas, dan disiplin dalam belajar. Sebaliknya apabila yang menyertai proses itu emosi negatif, seperti perasaan tidak senang, kecewa, tidak bergairah, maka proses belajar akan mengalami hambatan, dalam arti individu tidak dapat memusatkan perhatiannya untuk belajar sehingga kemungkinan besar dia akan mengalami kegagalan dalam belajarnya (Yusuf, 2011). Dari pengertian di atas anak harus belajar untuk mengendalikan dan mengontrol ekspresi emosinya. Mengontrol emosi diperoleh anak melalui peniruan dan latihan (pembiasaan).. f. Perkembangan Anak Memasuki Masa Remaja Masa dalam kehidupan seseorang ketika dia berubah dari anak menjadi orang dewasa sering disebut dengan adolesens/ remaja. Ini adalah suatu periode yang secara kasar pararel dengan tahun-tahun remaja awal, tetapi kadang-kadang lebih awal lagi pada anak perempuan.

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31. yaitu umur 9 tahun. Awal adolesens dikenal sebagai pubertas. Istilah “pubertas” mengacu pada fase pertama masa remaja, ketika pematangan seksual menjadi nyata. Dapat dikatakan bahwa pubertas dimulai dengan peningkatan hormone dan manifestasinya, seperti pembesaran indung telur secara berangsur pada perempuan dan pertumbuhan sel testis pada pria. Tahap perkembangan ini ditandai dengan kematangan organ-organ seks yang akan dipersiapkan untuk reproduksi–menstruasi pada anakanak perempuan dan munculnya sperma untuk pertama kali pada anak laki-laki sama dengan ciri-ciri seks sekunder seperti tumbuhnya rambut di kemaluan dan ketiak, membesarnya payudara pada anak-anak perempuan, dan suara yang berat pada anak laki-laki (Wuryani, 2008: 87). Lebih detail perubahan fisik dalam (Farida, 2014: 22) yaitu Lakilaki: (1) Perubahan suara, dikarena pita suara berkembang, suara menjadi lebih berat. (2) Berat dan tinggi badan bertambah secara signifikan. (3) Penis mulai membesar. (4) Testis mulai tumbuh. (5) Rambut di sekitar kemaluan mulai tumbuh. (6) Kelenjar minyak lebih aktif, keringat lebih banyak. (7) Tumbuh rambut di daerah wajah dan ketiak. Sedangakan pada perempuan: (1) Mulai menstruasi. (2) Payudara mulai tumbuh. (3) Berat dan tinggi badan mulai berkembang secara signifikan. (4) Mulai tumbuh rambut di wilayah kemaluan. (5) Kelenjar minyak lebih aktif, keringat lebih banyak. (6) Mulai tumbuh rambut di ketiak..

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32. Dari pengertian di atas perkembangan anak memasuki masa remaja ditandai dengan kematangan organ-organ seks yang akan dipersiapkan untuk reproduksi-menstruasi pada anak-anak perempuan dan munculnya sperma untuk pertama kali pada anak laki-laki sama dengan ciri-ciri seks sekunder.. g. Perkembangan Minat Pada Seks Hurlock (2005:135) menjelaskan minat seks berkembang setelah anak masuk sekolah. Hal ini disebabkan oleh hubungan dengan teman sebaya yang bertambah kerab dan erat. Sepanjang masa sekolah, minat pada seks meningkat, dan biasanya mencapai puncaknya selama periode perubahan pubertas. Minat seks pada masa pubertas adalah minat pertama yang muncul dalam kehidupan. Terdapat. beberapa. faktor pada. masa. kanak-kanak. yang. menyebabkan peningkatan pada minat seks jika anak bertambah besar. Salah satu yang terpenting adalah tekanan teman sebaya. Menurut anak puber, kemampuan menceritakan atau mengerti lelucon porno dan mampu menangkap humornya memperbesar reputasi anak sebagai anak yang “sportif”. Anak-anak masa kini tidak luput dari banjir seks di media massa. Semua bentuk media massa, misalnya komik, film, televisi, dan surat kabar, menyuguhkan gambar dan informasi tentang seks yang meningkatkan minat anak. Pertujukan film pada televisi yang “untuk.

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33. tujuh belas tahun ke atas” atau “hanya bimbingan orang tua” makin memperbesar minat anak pada seks. Kejadian dalam kehidupan sehari-hari juga dapat menumbuhkan minat anak pada seks. Kejadian tersebut antara lain: saat kelahiran bayi dalam keluarga atau lingkungan tetangga, membesarnya tubuh wanita selama kehamilan diikuti dengan mengecilnya perut dan menonjolnya dada sesudah kehamilan. Tekanan orang tua, teman sebaya dan sekolah pada perbedaan seks dan kesesuaian seks menambah minat seks pada anak. Pendidikan seks juga dapat membangkitkan minat anak pada seks. Sebagai contoh, saat orang tua memanggil anaknya terpisah dari saudara kandungnya dan menceritakan segala hal tentang seksualitas padanya, lalu diakhiri dengan peringatan untuk tidak membicarakannya dengan siapa pun, membuat anak merasa bahwa pembicaraan mengenai seksualitas adalah bagian yang menarik dalam hidup mereka. Selain itu pendidikan seks di sekolah, berupa kelas khusus yang hanya diikuti dengan izin tertulis orang tua, ikut memperkuat minat anak pada seks. Dari pengertian di atas didapat kesimpulan bahwa minat seks berkembang setelah anak masuk sekolah. Hal ini disebabkan oleh hubungan dengan teman sebaya yang bertambah erat selama periode perubahan pubertas..

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34. 6. Gerakan Literasi Sekolah Selain di rumah, sekolah merupakan lingkungan kedua bagi remaja untuk melakukan berbagai aktivitas dan menjalin hubungan sosial dengan teman-temannya sehingga bisa dikatakan sekolah mempunyai pengaruh yang besar bagi remaja. Sekolah sebagai lembaga formal mempunyai peranan yang strategis untuk pembinaan remaja. Secara umum, pendidikan seksualitas di sekolah menyediakan informasi seksualitas dan mengajarkan berbagai kemampuan dalam mengambil keputusan mengenai seksualitas. Selain itu, pendidikan seksualitas merupakan salah satu strategi untuk meningkatkan pengetahuan mengenai seksualitas dan mengubah sikap terhadap perilaku seksual. Tujuan pendidikan seksualitas adalah mengurangi resiko yang ditimbulkan dari perilaku seksual sebelum menikah seperti kehamilan yang tidak diinginkan, penyakit menular seksual, aborsi, dan HIV/AIDS (Prameswari, 2013). Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan seks di sekolah mempunyai pengaruh besar bagi remaja. Sekolah sebagai lembaga formal mempunyai peranan yang strategis untuk pembinaan remaja. Secara umum, pendidikan seksualitas di sekolah menyediakan informasi seksualitas dan mengajarkan berbagai kemampuan dalam mengambil keputusan mengenai seksualitas sehingga anak dapat memiliki pengetahuan tentang seksualitas dan dapat merubah sikap terhadap perilaku seksual..

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35. a. Tujuan Gerakan Literasi Sekolah Gerakan Literasi Sekolah (GLS) mempunyai tujuan secara umum dan tujuan yang bersifat khusus. Tujuan umum GLS yaitu menumbuhkembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah yang diwujudkan dalam Gerakan Literasi Sekolah agar menjadi pembelajar sepanjang hayat. Sedangkan tujuan khusus GLS yaitu:  Menumbuhkembangkan budaya literasi membaca dan menulis siswa di sekolah.  Meningkatkan kapasitas warga dan lingkungan sekolah agar literat.  Menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan dan ramah anak agar warga sekolah mampu mengelola pengetahuan.  Menjaga. keberlanjutan. pembelajaran. dengan. menghadirkan. beragam buku bacaan dan mewadahi berbagai strategi membaca (Muhammad, 2016).. b. Sasaran Gerakan Literasi Sekolah Sasaran gerakan literasi sekolah adalah ekosistem sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah (Muhammad, 2016)..

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36. c. Prinsip-prinsip Literasi Sekolah Dilaksanakan sesuai dengan tahapan perkembangan peserta didik berdasarkan karakteristiknya, serta dilaksanakan secara berimbang menggunakan berbagai ragam teks dan memperhatikan kebutuhan peserta didik.  Berlangsung secara terintegrasi dan holistik di semua area kurikulum.  Kegiatan literasi dilakukan secara berkelanjutan.  Melibatkan kecakapan berkomunikasi lisan.  Mempertimbangkan keberagaman (Muhammad, 2016).. d. Tahapan Pelaksanaan GLS Pelaksanaan GLS (Gerakan Literasi Sekolah) memiliki beberapa tahap. Tahap-tahap tersebut adalah sebagai berikut:  Penumbuhan minat baca melalui kegiatan 15 menit membaca (Permendikbud No.23 Tahun 2015).  Meningkatkan kemampuan literasi melalui kegiatan menanggapi buku pengayaan.  Meningkatkan kemampuan literasi di semua mata pelajaran: mengguanakan buku pengayaan dan strategi membaca di semua mata pelajaran (Muhammad, 2016). Dari pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa GLS adalah gerakan pembiasaan membaca peserta didik 15 menit sebelum.

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37. pembelajaran dimulai. Desain Induk GLS diharapkan dapat memberikan fondasi dan arahan konseptual untuk memahami bagaimana sebaiknya GLS dilaksanakan, mulai dari tingkat pusat provinsi, kabupaten/kota, hingga satuan pendidikan.. B. Penelitian yang Relevan Dari beberapa penelitian yang dilakukan oleh penelitian terdahulu terkait dengan pengembangan media pembelajaran, peneliti mengambil beberapa penelitian yang terkait atau bisa dikatakan sejenis. Penelitian tersebut adalah sebagai berikut: Pertama, penelitian yang dilakukan Bonaventura Sri Widyanovan Aditya Chandra yang berjudul “Perbedaan Sikap Terhadap Perilaku Seksual Antara Remaja Yang Tinggal di Kota Dengan Di Desa”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya perbedaan sikap terhadap perilaku seksual antara remaja yang tinggal di kota dengan yang di desa. Subjek dalam penelitian ini adalah 72 orang remaja, terdiri dari 41 orang remaja desa dan 31 orang remaja kota. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif dan menggunakan metode pengumpulan data berupa Skala sikap terhadap perilaku seksual. Skala disusun berdasarkan struktur sikap dan tahapan dalam perilaku seksual. Skala tersebut terdiri dari 44 item dengan koefisien reliabilitas 0,943. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji T. Hasil analisis menunjukkan nilai p = 0,000 lebih kecil dari 0,05. Nilai mean untuk remaja desa ialah 99,4634 sementara untuk remaja kota ialah 78,4516. Dengan demikian remaja desa.

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38. lebih mendukung perilaku seksual dibanding remaja di kota. Relevansi dengan penelitian ini adalah untuk mendukung penelitian mengenai perilaku seksual peneliti memilih SD tempat penelitian di pedesaan. Kedua, penelitian yang dilakukan oleh Ursulani Bonatiur Nainggolan yang berjudul "Pendapat Siswa Kelas VI SD Kanisius Baciro Joannes Bosco Yogyakarta Tahun Ajaran 2012/2013 Mengenai Hal-Hal Yang Menyangkut Seksualitas Yang Perlu Dijelaskan Oleh Guru Dan Implikasinya Terhadap Usulan Program Pendidikan Seksualitas Di Sekolah Dasar” Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mengungkap pendapat siswa kelas VI SD Kanisiu Baciro Joannes Bosco Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013 mengenai hal-hal yang menyangkut seksualitas yang perlu dijelaskan oleh guru. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas VI dengan jumlah responden sebanyak 41 siswa. Instrumen penelitian ini adalah kuesioner yang disusun oleh peneliti berdasarkan aspek-aspek seksualitas dengan 38 pernyataan. Data dianalisis dengan menggunakan kategorisasi jenjang (ordinal) menurut Azwar. Pendapat siswa digolongkan menjadi lima yaitu tidak perlu, kurang perlu, cukup perlu, perlu, dan sangat perlu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa seluruh siswa (100 %) berpendapat bahwa ada berbagai hal yang perlu dijelaskan oleh guru menyangkut pendidikan seksualitas. Relevansi dengan penelitian ini adalah peneliti juga membuat buku cerita anak yang menjelaskan tentang berbagai hal mengenai pendidikan seks untuk anak SD kelas atas..

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39. Ketiga, penelitian yang dilakukan oleh Maria Nike Prasetyo Wido Saputri (2016) yang berjudul "Pengembangan Prototipe Buku Cerita Bergambar Tentang Tradisi Nglarung Dalam Konteks Pendidikan Karakter Kebangsaan". Jenis penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan (research & development) dengan menggunakan enam langkah menurut Sugiyono, yaitu: (1) potensi dan masalah, (2) pengumpulan data, (3) desain produk, (4) validasi desain, (5) revisi desain dan (6) uji coba produk. Relevansi dengan penelitian ini adalah menggunakan langkah yang sama dalam mengembangkan buku cerita anak untuk anak SD. Dari penelitian yang dilakukan oleh Bonaventura Sri Widyanovan Aditya Chandra yang berjudul “Perbedaan Sikap Terhadap Perilaku Seksual Antara Remaja Yang Tinggal di Kota Dengan Di Desa”, penelitian yang dilakukan oleh Ursulani Bonatiur Nainggolan yang berjudul "Pendapat Siswa Kelas VI SD Kanisius Baciro Joannes Bosco Yogyakarta Tahun Ajaran 2012/2013 Mengenai Hal-Hal Yang Menyangkut Seksualitas Yang Perlu Dijelaskan Oleh Guru Dan Implikasinya Terhadap Usulan Program Pendidikan Seksualitas Di Sekolah Dasar”, dan penelitian dari Maria Nike Prasetyo Wido Saputri (2016) yang berjudul "Pengembangan Prototipe Buku Cerita Bergambar Tentang Tradisi Dalam Konteks Pendidikan Karakter Kebangsaan" dapat di bagankan sebagai berikut :.

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40. Pendidikan Seks. Bonaventura Sri W. A. C. (2015) Perbedaan Sikap Terhadap Perilaku Seksual Antara Remaja Yang Tinggal di Kota Dengan Di Desa. Ursulani Bonaventura N. (2012) Pendapat Siswa Kelas VI SD Kanisius Baciro Joannes Bosco Yogyakarta Tahun Ajaran 2012/2013 Mengenai Hal-Hal Yang Menyangkut Seksualitas Yang Perlu Dijelaskan Oleh Guru Dan Implikasinya Terhadap Usulan Program Pendidikan Seksualitas Di Sekolah Dasar. Pengembangan Buku Cerita. Maria Nike P. W. S. (2016) Pengembangan Prototipe Buku Cerita Bergambar Tentang Tradisi Nglarung Dalam Konteks Pendidikan Karakter Kebangsaan. Penelitian yang dilakukan Pengembangan Buku Cerita Anak Berbasis Pendidikan Seks Untuk Anak SD Kelas Atas. Gambar 2.1 Hasil Penelitian yang Relevan. 1. Penelitian tentang Buku Cerita Chandra, Rustika (2016) mengembangkan media buku cerita bergambar pada pelajaran IPS untuk kelas IV SDI As-Salam Malang dengan tema pahlawanku. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian dan pengembangan (Research and Development). Subyek penelitian Chandra adalh siswa SDI As-Salam kelas IV. Desain yang digunakan dalam pebgembangan media pembelajaran ini mengadopsi pada model desain Borg ang Gall. Pengembangan media pembelajaran ini telah menghasilkan produk berupa buku cerita bergambar mata pelajaran IPS tema pahlawanku kelas IV SD..

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41. Dari hasil validasi: 1) media pembelajaran ini menunjukan kevalitan yang terbukti dengan presentasi rata – rata: (a) validasi ahli (isi) 92,00% menyatakan sangat valid, (b) hasil validasi desain 96,00% menyatakan sangat valid, (c) hasil uji coba pembelajaran (guru) 92,8 menyatakan sangat valid 2) hasil presentase tingkat kevalidan pada uji coba kelas IVA SDI As-Salam Malang menunjukan 95% menyatakan sangat valid. Sehingga terdapat perbedaan pada siswa yang menggunakan media pembelajaran dengan tidak. Maka hasil pengembangan yang telah dilakukan mampu meningkatkan hasil belajar. siswa.. Relevansi. dengan. penelitian. ini. adalah. sama-sama. mengembangkan buku cerita untuk anak SD. Nugroho, Deta (2016) mengembangkan buku cerita untuk menanamkan nilai-nilai karakter pada anak. Subyek penelitian Deta Nugroho adalah 5 orang siswa SD N Ngasinan. Jenis penelitian yang digunakan penelitian dan pengembangan (Research and Development). Proses pengembangan buku cerita tersebut mengikuti enam langkah dari modifikasi langkah Sugiyono dan langkah Borg and Gall yaitu (1) potensi dan masalah (2) pengumpulan data (3) desain produk (4) validasi desain (5) revisi desain, dan (6) uji coba produk. Dari hasil uji coba peneliti didapatkan data bahwa semua siswa menyukai buku cerita yang dibaca. Relevansi dengan penelitian ini adalah sama-sama mengembangkan buku cerita untuk anak SD..

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42. C. Kerangka Berpikir Upaya peningkatan kualitas pendidikan menjadi tugas dan tanggung jawab seorang guru, karena guru yang berhadapan langsung untuk membina para siswa di sekolah dalam proses kegiatan belajar mengajar. Jika siswa terbina dengan baik maka akan timbul generasi-generasi penerus bangsa yang berkualitas. Banyak kasus yang merusak masa depan anak bangsa contoh salah satunya yaitu pelecehan seksual dan kasus kehamilan di usia dini. Dengan tidak mengertinya anak tentang seks, maka itu akan mudah sekali anak masuk ke dalam pergaulan yang salah dan akhirnya terjerumus ke dalam hal-hal yang tidak diinginkan karena sifat kemudaan remaja yang kurang mengendalikan diri. Pendidikan seks sangat diperlukan untuk anak-anak mengingat kasuskasus yang sering muncul di usia anak dibawah umur. Pendidikan seks dapat terjadi dalam berbagai situasi, mulai dari membaca buku-buku yang ditulis oleh para professional sampai ke bisik-bisik anak-anak umur sebelas tahun di belakang pintu (Wuryani, 2008: xiii). Pemberian pendidikan seks penting supaya anak memiliki pengetahuan yang cukup tentang seks sehingga anak tidak terjerumus kedalam hal-hal negatif. Mengingat yang menjadi kekhawatiran guru SD 1 Sanden mengenai banyaknya kasus pelecehan seksual remaja putri dan belum ada media yang dapat digunakan sekolah untuk memberikan pelayanan dan dukungan terhadap kasus tersebut maka pada penelitian ini akan dibuat pengembangan media buku cerita anak mengenai pendidikan seks untuk anak SD kelas IV. Berdasarkan.

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 43. latar belakang yang sudah diuraikan sebelumnya, kemudian mengidentifikasi masalah sehingga ide untuk mengembangkan media buku cerita anak muncul. Buku cerita anak yang dikembangkan harus melewati tahap validasi dan revisi, kemudian tahap uji lapangan. Jika kedua tahap telah dilakukan, akan didapat media buku cerita anak berbasis pendidikan seks yang layak dan dapat dipergunakan sebagai media baca anak. Buku dapat dipergunakan guru untuk mengajarkan pendidikan seks dalam mendukung praktik pendidikan melalui gerakan literasi sekolah yaitu gerakan 15 menit membaca buku non pelajaran sebelum waktu belajar dimulai. Tujuan ini yaitu supaya menumbuhkan minat baca anak serta menambah wawasan agar pengetahuan tentang seks dapat dikuasai secara lebih baik.. D. Pertanyaan Penelitian Pada penelitian ini terdapat empat pertanyaan penelitian yaitu sebagai berikut: 1. Bagaimana mengembangkan buku cerita anak berbasis pendidikan seks untuk anak SD kelas atas? 2. Bagaimana kualitas buku cerita anak berbasis pendidikan seks untuk anak SD kelas atas menurut ahli media? 3. Bagaimana kualitas buku cerita anak berbasis pendidikan seks untuk anak SD kelas atas menurut guru SD kelas IV SD N 1 Sanden? 4. Bagaimana kualitas buku cerita anak berbasis pendidikan seks untuk anak SD kelas menurut siswa kelas IV SD N 1 Sanden?.

Gambar

Gambar 2.1 Hasil Penelitian yang Relevan
Gambar 3.1 Prosedur Pengembangan yang Digunakan Peneliti
Tabel 3.1 Daftar Pertanyaan Wawancara
Tabel 3.2 Kisi-kisi Kuesioner Uji Validasi untuk Pakar dan Guru  Indikator  Deskriptor  Nomor  Item       Desain dan  pengorganisasian
+7

Referensi

Dokumen terkait

Maka dari itu, salah satu upaya untuk mengenalkan dasar-dasar pendidikan seks kepada anak Sekolah Dasar adalah dengan membuat sebuah media informasi tentang pendidikan seks

Kemudian kesadaran orang tua akan kebutuhan anak terhadap pendidikan seks, adapun peran orang tua yang lebih besar untuk memberikan pendidikan seks kepada anak,

Anak usia 10-12 tahun (praremaja) cenderung dianggap masih belum pantas menerima informasi seksual, selain itu mereka cenderung menganggap bahwa praremaja tidak

menganggap tabu untuk membicarakan seksualitas dengan remaja. Persoalan lain ditemukan di lapangan adalah kurangnya pengetahuan serta keterampilan orang tua

Untuk memecahkan masalah; 2 cerita bergambar menarik imajinasi anak dan rasa ingin tahu tentang masalah supranatural; 3 cerita bergambar memberi anak pelarian sementara hiruk

1. Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma. Christiyanti Aprinastuti S.Si., M.Pd. selaku Ketua Program Studi

Berbagai keadaan di luar diri remaja terkait perilaku seks pranikah, seperti pola asuh orang tua, yang cenderung menganggap tabu informasi seksual, lingkungan sosial perkotaan yang

Peran orangtua dalam pendidikan seks terhadap anak usia dini pada keluarga Muslim di kampung bina Karya baru Kecamatan putra rumbia Kabupaten Lampung tengah.. IMPLEMENTASI PENDIDIKAN