PENDIDIKAN
LINGKUNGAN HIDUP
Tematik
M
ANGROVE
KELAS 5Tim Penyusun :
Dr. Ir. Hendra Gunawan, M.Si. Dr. Ir. Diah Zuhriana, M.Pd. Dr. Siti Badriyah Rushayati, M.Si. Ir. Sugiarti
Melani Kurnia, S.Si.
Dr. Tien Lastini, S.Hut, M.Si. Dr. Tuti Herawati, S.Hut, M.Si. Dr. Ir. Dede Rohadi, M.Sc. Triana
Cecep Supriyatna, S.E. Siti Hanum H. Ilmi, S.I.Kom.
Tim Editor:
Ir. Adi Susmianto, M.Sc. Dr. H. M. Ali Hasan, M.Pd.
Drs. Adung Suteja, SH. MMPd. MH..
DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN INDRAMAYU Jl. MT. Haryono No. 56, Sindang, Kab. Indramayu 45222
Kerjasama dengan
PT. PERTAMINA RU VI Balongan, Indramayu Jl. Raya Balongan, Kab. Indramayu, Jawa Barat 45217
Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove
ii
iii
Hak cipta dilindungi Undang-undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta
PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP
TEMATIK MANGROVE
UNTUK KELAS 5 SEKOLAH DASAR
© Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang (2017)
Tim Penyusun : Dr. Ir. Hendra Gunawan, M.Si. Dr. Ir. Diah Zuhriana, M.Pd. Dr. Siti Badriyah Rushayati, M.Si. Ir. Sugiarti
Melani Kurnia, S.Si.
Dr. Tien Lastini, S.Hut, M.Si. Dr. Tuti Herawati, S.Hut, M.Si. Dr. Ir. Dede Rohadi, M.Sc. Triana
Cecep Supriyatna, S.E. Siti Hanum H. Ilmi, S.I.Kom.
Tim Editor : Ir. Adi Susmianto, M.Sc. Dr. H. M. Ali Hasan, M.Pd.
Drs. Adung Suteja, SH. MMPd. MH
Desain Sampul : Triana
Tata Letak isi : Tatang Rohana
Penerbit : Dinas Pendidikan Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat ISBN : 978-602-50287-2-4
Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove
ii
iii
Hak cipta dilindungi Undang-undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta
PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP
TEMATIK MANGROVE
UNTUK KELAS 5 SEKOLAH DASAR
© Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang (2017)
Tim Penyusun : Dr. Ir. Hendra Gunawan, M.Si. Dr. Ir. Diah Zuhriana, M.Pd. Dr. Siti Badriyah Rushayati, M.Si. Ir. Sugiarti
Melani Kurnia, S.Si.
Dr. Tien Lastini, S.Hut, M.Si. Dr. Tuti Herawati, S.Hut, M.Si. Dr. Ir. Dede Rohadi, M.Sc. Triana
Cecep Supriyatna, S.E. Siti Hanum H. Ilmi, S.I.Kom.
Tim Editor : Ir. Adi Susmianto, M.Sc. Dr. H. M. Ali Hasan, M.Pd.
Drs. Adung Suteja, SH. MMPd. MH
Desain Sampul : Triana
Tata Letak isi : Tatang Rohana
Penerbit : Dinas Pendidikan Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat ISBN : 978-602-50287-2-4
Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove
Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove
Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove
vi
vii
UCAPAN TERIMA KASIH
Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, berkat rahmat dan karunia-NYA, penyusunan buku Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove dapat diselesaikan dengan baik. Tim penyusun juga ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua yang telah memungkinkan tersusunnya buku ini, yaitu :
1. Dr. H. M. Ali Hasan, M.Pd. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Indramayu
2. Pri Hartanto Manager HSE PT. Pertamina RU VI Balongan
3. I Nyoman N Suryadiputra Direktur Wetlands Internatinal - Indonesia Programme 4. Drs. Adung Suteja. SH. MMPD. MH. Kepala Seksi Kurikulum Dinas Pendidikan
Kabupaten Indramayu
5. Omat, ST, MT.Kasubid Prasarana Wilayah, Badan Perencana Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah Kabupaten Indramayu.
6. Oni S.Hut.Dinas Kelautan dan Perikanan
7. Suhartati, S.Si., M.Si. Kepala Seksi Perencanaan, Dinas Lingkungan Hidup 8. Cecep Supriyatna CSR PT. Pertamina RU VI Balongan
9. Siti Hanum H. Ilmi CSR PT. Pertamina RU VI Balongan 10. Rina Estelita CSR PT. Pertamina RU VI Balongan 11. Sari Handayani CSR PT. Pertamina RU VI Balongan 12. Eka Tarika Kelompok Pantai Lestari
Terima kasih juga disampaikan kepada peserta workshop Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove untuk Sekolah Dasar di Kabupaten Indramayu, yaitu:
1. Tati Rustatiningsih, S.Pd.SD SDN Pabean Udik I 2. Fatkanah , S.Pd.SD SDN Pabean Udik I
3. Titi Liriyanti, S.Pd SDN Pabean Udik II 4. Kuraesin, S.Pd.SD SDN Pabean Udik II 5. Mustafidz, S.Pd SDN Pabean Udik III 6. Sundarih, S.Pd.SD SDN Pabean Udik III 7. Feni Wahyuni, A.Ma.Pd SDN Karangsong I 8. Sri Rahayu SDN Karangsong I
9. Yayah Badriah,S.Pd.SD SDN Karangsong II 10. Nurhayati,S.Pd.I SDN Karangsong II 11. Tia Istianah SDN Karangsong III 12. Casniah, S.Pd.SD SDN Karangsong III 13. Bambang Sugiharto, S.Pd SDN Unggulan 14. Lutfyah, S.Pd SDN Unggulan
15. Hj. Suhaelah, S.Pd SDN Paoman IV 16. Hj. Endang Sutiati, S.Pd SDN Paoman IV 17. Yayan Supyadin, Mpd SDN Pasekan I 18. Makrus, SE. M.Pd SDN Pabean Ilir III 19. Kasdi Priyono, S.Pd.SD SDN Cangkring II 20. Sujana, SPd.I. M.Pd.I SDN Cangkring II
Semoga Tuhan YME memberikan balasan yang setimpal dan pahala yang berlimpah.
Indramayu, Juni 2017 Lingkunga Hidup Tematik Mangrove untuk Sekolah Dasar Kabupaten Indramayu telah selesai disusun oleh Tim. Pendidikan Lingkungan Hidup merupakan salah satu pembentuk watak atau karakter generasi yang akan datang menjadi insan pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.
Kabupaten Indramayu yang sebagian wilayahnya merupakan pesisir, sangat mengandalkan perekonomiannya di sektor kelautan dan perikanan. Dengan panjang pantai 147 km yang dihuni oleh penduduk 35 desa pesisir dari 11 kecamatan, Pemerintah Kabupaten Indramayu berkomitmen untuk melestarikan hutan mangrove di sepanjang pesisir utara guna mendukung pembangunan daerah yang berkelanjutan dan meningkatkan perekonomian masyarakat pesisir. Hal tersebut sesuai dengan visi Kabupaten Indramayu terwujudnya masyarakat yang religius, maju, mandiri, dan sejahtera serta terciptanya keunggulan daerah (Remaja Tiga).
Dinas Pendidikan Kabupaten Indramayu berkewajiban menyiapkan generasi pemimpin masa depan yang berwawasan lingkungan, oleh karena itu Dinas Pendidikan berkomitmen untuk menerapkan pelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup sejak di tingkat Sekolah Dasar. Kekhasan
Kabupaten Indramayu dengan hutan mangrovenya yang telah ditetapkan sebagai Mangrove
Center untuk kepentingan Pendidikan dan Penelitian Mangrove Indonesia Wilayah Barat, menjadi pertimbangan bagi Dinas Pendidikan untuk mengangkat Mangrove sebagai tema Pendidikan Lingkungan Hidup Sekolah Dasar di Indramayu.
Kami mengucapkan terima kasih kepada Dinas Lingkungan Hidup; Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah; Dinas Kelautan dan Perikanan; PT. Pertamina RU VI Balongan dan Tim Penyusun atas dukungan dan bantuannya sehingga Buku Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove dapat disusun dan diimplementasikan di Kabupaten Indramayu.
Indramayu, Juni 2017 Kepala Dinas,
Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove
vi
vii
UCAPAN TERIMA KASIH
Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, berkat rahmat dan karunia-NYA, penyusunan buku Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove dapat diselesaikan dengan baik. Tim penyusun juga ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua yang telah memungkinkan tersusunnya buku ini, yaitu :
1. Dr. H. M. Ali Hasan, M.Pd. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Indramayu
2. Pri Hartanto Manager HSE PT. Pertamina RU VI Balongan
3. I Nyoman N Suryadiputra Direktur Wetlands Internatinal - Indonesia Programme 4. Drs. Adung Suteja. SH. MMPD. MH. Kepala Seksi Kurikulum Dinas Pendidikan
Kabupaten Indramayu
5. Omat, ST, MT.Kasubid Prasarana Wilayah, Badan Perencana Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah Kabupaten Indramayu.
6. Oni S.Hut.Dinas Kelautan dan Perikanan
7. Suhartati, S.Si., M.Si. Kepala Seksi Perencanaan, Dinas Lingkungan Hidup 8. Cecep Supriyatna CSR PT. Pertamina RU VI Balongan
9. Siti Hanum H. Ilmi CSR PT. Pertamina RU VI Balongan 10. Rina Estelita CSR PT. Pertamina RU VI Balongan 11. Sari Handayani CSR PT. Pertamina RU VI Balongan 12. Eka Tarika Kelompok Pantai Lestari
Terima kasih juga disampaikan kepada peserta workshop Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove untuk Sekolah Dasar di Kabupaten Indramayu, yaitu:
1. Tati Rustatiningsih, S.Pd.SD SDN Pabean Udik I 2. Fatkanah , S.Pd.SD SDN Pabean Udik I
3. Titi Liriyanti, S.Pd SDN Pabean Udik II 4. Kuraesin, S.Pd.SD SDN Pabean Udik II 5. Mustafidz, S.Pd SDN Pabean Udik III 6. Sundarih, S.Pd.SD SDN Pabean Udik III 7. Feni Wahyuni, A.Ma.Pd SDN Karangsong I 8. Sri Rahayu SDN Karangsong I
9. Yayah Badriah,S.Pd.SD SDN Karangsong II 10. Nurhayati,S.Pd.I SDN Karangsong II 11. Tia Istianah SDN Karangsong III 12. Casniah, S.Pd.SD SDN Karangsong III 13. Bambang Sugiharto, S.Pd SDN Unggulan 14. Lutfyah, S.Pd SDN Unggulan
15. Hj. Suhaelah, S.Pd SDN Paoman IV 16. Hj. Endang Sutiati, S.Pd SDN Paoman IV 17. Yayan Supyadin, Mpd SDN Pasekan I 18. Makrus, SE. M.Pd SDN Pabean Ilir III 19. Kasdi Priyono, S.Pd.SD SDN Cangkring II 20. Sujana, SPd.I. M.Pd.I SDN Cangkring II
Semoga Tuhan YME memberikan balasan yang setimpal dan pahala yang berlimpah.
Indramayu, Juni 2017 Lingkunga Hidup Tematik Mangrove untuk Sekolah Dasar Kabupaten Indramayu telah selesai disusun oleh Tim. Pendidikan Lingkungan Hidup merupakan salah satu pembentuk watak atau karakter generasi yang akan datang menjadi insan pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.
Kabupaten Indramayu yang sebagian wilayahnya merupakan pesisir, sangat mengandalkan perekonomiannya di sektor kelautan dan perikanan. Dengan panjang pantai 147 km yang dihuni oleh penduduk 35 desa pesisir dari 11 kecamatan, Pemerintah Kabupaten Indramayu berkomitmen untuk melestarikan hutan mangrove di sepanjang pesisir utara guna mendukung pembangunan daerah yang berkelanjutan dan meningkatkan perekonomian masyarakat pesisir. Hal tersebut sesuai dengan visi Kabupaten Indramayu terwujudnya masyarakat yang religius, maju, mandiri, dan sejahtera serta terciptanya keunggulan daerah (Remaja Tiga).
Dinas Pendidikan Kabupaten Indramayu berkewajiban menyiapkan generasi pemimpin masa depan yang berwawasan lingkungan, oleh karena itu Dinas Pendidikan berkomitmen untuk menerapkan pelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup sejak di tingkat Sekolah Dasar. Kekhasan
Kabupaten Indramayu dengan hutan mangrovenya yang telah ditetapkan sebagai Mangrove
Center untuk kepentingan Pendidikan dan Penelitian Mangrove Indonesia Wilayah Barat, menjadi pertimbangan bagi Dinas Pendidikan untuk mengangkat Mangrove sebagai tema Pendidikan Lingkungan Hidup Sekolah Dasar di Indramayu.
Kami mengucapkan terima kasih kepada Dinas Lingkungan Hidup; Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah; Dinas Kelautan dan Perikanan; PT. Pertamina RU VI Balongan dan Tim Penyusun atas dukungan dan bantuannya sehingga Buku Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove dapat disusun dan diimplementasikan di Kabupaten Indramayu.
Indramayu, Juni 2017 Kepala Dinas,
DAFTAR ISI
KEPUTUSAN KEPALA DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN INDRAMAYU ... iii
UCAPAN TERIMA KASIH ... vi
SAMBUTAN KEPALA DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN INDRAMAYU ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ... ix
BAB I IDENTIFIKASI FLORA DAN FAUNA MANGROVE ... 1
A. Identifikasi Flora Mangrove ... 2
B. Identifikasi Fauna Mangrove ... 8
1. ... 8
BAB II INTERAKSI ANTAR MAKHLUK HIDUP ... 22
A. Pendahuluan ... 22
C. Autotrof dan Heterotrof ... 26
D. Rangkuman ... 27
1. Jenis Api-api (Avicennia) ... 3
2. Jenis Pidada (Sonneratia) ... 4
3. Jenis Bakau (Rhizophora) ... 5
4. Jenis Tanjang (Bruguiera) ... 6
5. Jenis Nipah (Nypa) ... 7
2. Jenis Reptilia
3. Jenis Amfibia 11
4. Jenis Crustacea (Kepiting/Udang)
7. Mamalia
Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove
viii
ix
Masalah lingkungan hidup sudah menjadi masalah semua negara di dunia, seperti banjir, rob, kekeringan, kelaparan, kebakaran hutan, sampah, pencemaran hingga pemanasan global. Banyak masalah lingkungan hidup timbul akibat perilaku manusia yang tidak peduli lingkungan, perilaku yang merusak, perilaku boros dan serakah. Oleh karena itu, apabila ingin memperbaiki lingkungan agar lebih baik, maka harus dimulai dari memperbaiki perilaku manusianya. Perilaku peduli lingkungan harus ditanamkan sejak usia dini, baik melalui teladan para orang tua maupun melalui pendidikan di sekolah.
Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) merupakan salah satu upaya menciptakan generasi yang peduli lingkungan yang akan menjadi pelaku dan pengawal pembangunan berkelanjutan di masa mendatang. Pendidikan lingkungan hidup harus dekat dengan permasalahan lingkungan di sekitar siswa dan harus berbasis pada potensi sumberdaya lokal, sehingga akan mudah diterima, dihayati dan tertanam kuat dalam perilaku sehari-hari para siswa.
Kabupaten Indramayu menghadapi berbagai masalah lingkungan antara lain hilangnya daratan akibat abrasi, banjir, rob, pencemaran perairan sungai dan laut, sampah, pembabatan hutan mangrove untuk tambak dan kurangnya ruang terbuka hijau di perkotaan. Meskipun demikian, Kabupaten Indramayu telah berhasil bangkit memperbaiki lingkungan, khususnya pesisir utara dengan cara merehabilitasi pantai dengan menanam mangrove. Keberhasilan rehabilitasi pantai utara dengan tanaman mangrove yang dimulai sejak tahun 2008 telah menjadikan Indramayu dikenal dengan ekowisata hutan mangrovenya. Bahkan hutan mangrove di pantai Karangsong, Indramayu telah dicanangkan
sebagai Mangrove Center oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, untuk tujuan penelitian,
pendidikan dan ekowisata.
Mengingat pentingnya pelestarian hutan mangrove dalam kerangka pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Indramayu, para stakeholders memandang perlu untuk memasukkan tema mangrove ke dalam pendidikan lingkungan hidup di sekolah dasar. Dinas Pendidikan Kabupaten Indramayu dengan dukungan PT. Pertamina RU VI Balongan, menginisiasi pembentukan PLH tematik mangrove sebagai pelajaran ekstrakurikuler bagi sekolah dasar di pesisir Indramayu.
Dengan dimasukkannya Pendidikan Lingkungan Hidup tematik mangrove ke dalam sistem pendidikan dasar di Kabupaten Indramayu, diharapkan dapat membekali para siswa untuk menjadi pelaku pembangunan yang berwawasan lingkungan sesuai dengan asas pembangunan Indonesia yaitu pembangunan berkelanjutan. Buku PLH ini dirancang untuk mendukung tercapainya tujuan pembelajaran pendidikan lingkungan hidup di Sekolah Dasar. Buku ini juga memberikan lembar tugas yang harus diselesaikan oleh siswa serta akan melatih sikap dan perilaku positif terhadap lingkungan. Diharapkan buku ini dapat membuka wawasan, menambah pengetahuan dan keterampilan serta membangun sikap dan perilaku positif terhadap lingkungan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Akhirnya, kami terbuka menerima kritik, koreksi dan saran untuk perbaikan buku ini. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Indramayu dengan dukungan PT. Pertamina RU VI Balongan, yang telah mempercayakan penyusunan buku ini kepada Tim Penyusun.
Indramayu, Juni 2017 Tim Penyusun,
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
KEPUTUSAN KEPALA DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN INDRAMAYU ... iii
UCAPAN TERIMA KASIH ... vi
SAMBUTAN KEPALA DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN INDRAMAYU ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ... ix
BAB I IDENTIFIKASI FLORA DAN FAUNA MANGROVE ... 1
A. Identifikasi Flora Mangrove ... 2
B. Identifikasi Fauna Mangrove ... 8
1. ... 8
BAB II INTERAKSI ANTAR MAKHLUK HIDUP ... 22
A. Pendahuluan ... 22
C. Autotrof dan Heterotrof ... 26
D. Rangkuman ... 27
1. Jenis Api-api (Avicennia) ... 3
2. Jenis Pidada (Sonneratia) ... 4
3. Jenis Bakau (Rhizophora) ... 5
4. Jenis Tanjang (Bruguiera) ... 6
5. Jenis Nipah (Nypa) ... 7
2. Jenis Reptilia
3. Jenis Amfibia 11
4. Jenis Crustacea (Kepiting/Udang)
7. Mamalia
Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove
viii
ix
Masalah lingkungan hidup sudah menjadi masalah semua negara di dunia, seperti banjir, rob, kekeringan, kelaparan, kebakaran hutan, sampah, pencemaran hingga pemanasan global. Banyak masalah lingkungan hidup timbul akibat perilaku manusia yang tidak peduli lingkungan, perilaku yang merusak, perilaku boros dan serakah. Oleh karena itu, apabila ingin memperbaiki lingkungan agar lebih baik, maka harus dimulai dari memperbaiki perilaku manusianya. Perilaku peduli lingkungan harus ditanamkan sejak usia dini, baik melalui teladan para orang tua maupun melalui pendidikan di sekolah.
Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) merupakan salah satu upaya menciptakan generasi yang peduli lingkungan yang akan menjadi pelaku dan pengawal pembangunan berkelanjutan di masa mendatang. Pendidikan lingkungan hidup harus dekat dengan permasalahan lingkungan di sekitar siswa dan harus berbasis pada potensi sumberdaya lokal, sehingga akan mudah diterima, dihayati dan tertanam kuat dalam perilaku sehari-hari para siswa.
Kabupaten Indramayu menghadapi berbagai masalah lingkungan antara lain hilangnya daratan akibat abrasi, banjir, rob, pencemaran perairan sungai dan laut, sampah, pembabatan hutan mangrove untuk tambak dan kurangnya ruang terbuka hijau di perkotaan. Meskipun demikian, Kabupaten Indramayu telah berhasil bangkit memperbaiki lingkungan, khususnya pesisir utara dengan cara merehabilitasi pantai dengan menanam mangrove. Keberhasilan rehabilitasi pantai utara dengan tanaman mangrove yang dimulai sejak tahun 2008 telah menjadikan Indramayu dikenal dengan ekowisata hutan mangrovenya. Bahkan hutan mangrove di pantai Karangsong, Indramayu telah dicanangkan
sebagai Mangrove Center oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, untuk tujuan penelitian,
pendidikan dan ekowisata.
Mengingat pentingnya pelestarian hutan mangrove dalam kerangka pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Indramayu, para stakeholders memandang perlu untuk memasukkan tema mangrove ke dalam pendidikan lingkungan hidup di sekolah dasar. Dinas Pendidikan Kabupaten Indramayu dengan dukungan PT. Pertamina RU VI Balongan, menginisiasi pembentukan PLH tematik mangrove sebagai pelajaran ekstrakurikuler bagi sekolah dasar di pesisir Indramayu.
Dengan dimasukkannya Pendidikan Lingkungan Hidup tematik mangrove ke dalam sistem pendidikan dasar di Kabupaten Indramayu, diharapkan dapat membekali para siswa untuk menjadi pelaku pembangunan yang berwawasan lingkungan sesuai dengan asas pembangunan Indonesia yaitu pembangunan berkelanjutan. Buku PLH ini dirancang untuk mendukung tercapainya tujuan pembelajaran pendidikan lingkungan hidup di Sekolah Dasar. Buku ini juga memberikan lembar tugas yang harus diselesaikan oleh siswa serta akan melatih sikap dan perilaku positif terhadap lingkungan. Diharapkan buku ini dapat membuka wawasan, menambah pengetahuan dan keterampilan serta membangun sikap dan perilaku positif terhadap lingkungan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Akhirnya, kami terbuka menerima kritik, koreksi dan saran untuk perbaikan buku ini. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Indramayu dengan dukungan PT. Pertamina RU VI Balongan, yang telah mempercayakan penyusunan buku ini kepada Tim Penyusun.
Indramayu, Juni 2017 Tim Penyusun,
KATA PENGANTAR
Halaman
Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove
x
vii
E. Latihan ... 27
BAB III RANTAI MAKANAN ... 28
A. Pengertian Rantai Makanan ... 28
B. Komponen dalam Rantai Makanan ... 29
... 30
2. Konsumen ... 30
3. ... 31
C. Rangkuman ... 32
D. Latihan ... 32
BAB IV JARING-JARING MAKANAN ... 34
A. Pengertian Jaring-jaring Makanan ... 34
B. Contoh Jaring-jaring makanan ... 36
C. Manfaat Jaring-Jaring Makanan untuk Keseimbangan Ekosistem Mangrove ... 37
D. Rangkuman ... 38
E. Latihan ... 38
BAB V Fungsi Ekosistem Mangrove ... 39
Manfaat Ekosistem Mangrove ... 43
1. Produsen A. B. C. Rangkuman ... 44
D. Latihan ... 44
DAFTAR PUSTAKA ... 46
Pengurai (Detritivora dan Dekomposer) FUNGSI DAN MANFAAT EKOSISTEM MANGROVE ... 39
PENDIDIKAN
LINGKUNGAN HIDUP
Halaman
Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove
x
vii
E. Latihan ... 27
BAB III RANTAI MAKANAN ... 28
A. Pengertian Rantai Makanan ... 28
B. Komponen dalam Rantai Makanan ... 29
... 30
2. Konsumen ... 30
3. ... 31
C. Rangkuman ... 32
D. Latihan ... 32
BAB IV JARING-JARING MAKANAN ... 34
A. Pengertian Jaring-jaring Makanan ... 34
B. Contoh Jaring-jaring makanan ... 36
C. Manfaat Jaring-Jaring Makanan untuk Keseimbangan Ekosistem Mangrove ... 37
D. Rangkuman ... 38
E. Latihan ... 38
BAB V Fungsi Ekosistem Mangrove ... 39
Manfaat Ekosistem Mangrove ... 43
1. Produsen A. B. C. Rangkuman ... 44
D. Latihan ... 44
DAFTAR PUSTAKA ... 46
Pengurai (Detritivora dan Dekomposer) FUNGSI DAN MANFAAT EKOSISTEM MANGROVE ... 39
PENDIDIKAN
LINGKUNGAN HIDUP
1
bab
1. Kompetensi Dasar
a.
Siswa memahami cara mengidentifikasi flora mangroveb.
Siswa memahami perbedaan jenis flora mangrovec.
Siswa memahami cara mengidentifikasi fauna mangroved.
Siswa memahami perbedaan jenis fauna mangrove2. Indikator Hasil Belajar
a.
Siswa dapat menyebutkan ciri dan sifat flora mangroveb.
Siswa dapat membedakan jenis flora mangrovec.
Siswa dapat menyebutkan ciri dan sifat fauna mangrove d. Siswa dapat membedakan jenis fauna mangrovePendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove
1
IDENTIFIKASI
FLORA DAN FAUNA MANGROVE
Pada materi di kelas IV, kalian telah mengenal keanekaragaman flora dan fauna yang terdapat di hutan mangrove. Flora dan fauna ini memiliki ciri dan sifat yang berbeda, sehingga dibedakan spesies atau jenisnya. Kalian juga sudah mempelajari ciri atau sifat-sifat flora (tumbuhan) dan fauna (hewan) yang membedakan spesies yang satu dengan yang lain.
Ciri dan sifat untuk flora tentu berbeda dengan ciri dan sifat fauna. Untuk flora, ciri yang dapat kita lihat adalah dari bentuk batang, bentuk daun, akar, buah, bunga dan tempat hidupnya. Sedangkan untuk fauna kita bisa lihat dari bentuk anggota badan, warna, tempat hidup, makanannya dan prilaku?
Agar kalian dapat membedakan antara jenis flora dan fauna yang satu dan lainnya, maka sekarang kita akan belajar cara mengidentifikasi atau mengenal flora dan fauna mangrove dengan melihat ciri-ciri fisiknya.
1
bab
1. Kompetensi Dasar
a.
Siswa memahami cara mengidentifikasi flora mangroveb.
Siswa memahami perbedaan jenis flora mangrovec.
Siswa memahami cara mengidentifikasi fauna mangroved.
Siswa memahami perbedaan jenis fauna mangrove2. Indikator Hasil Belajar
a.
Siswa dapat menyebutkan ciri dan sifat flora mangroveb.
Siswa dapat membedakan jenis flora mangrovec.
Siswa dapat menyebutkan ciri dan sifat fauna mangrove d. Siswa dapat membedakan jenis fauna mangrovePendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove
1
IDENTIFIKASI
FLORA DAN FAUNA MANGROVE
Pada materi di kelas IV, kalian telah mengenal keanekaragaman flora dan fauna yang terdapat di hutan mangrove. Flora dan fauna ini memiliki ciri dan sifat yang berbeda, sehingga dibedakan spesies atau jenisnya. Kalian juga sudah mempelajari ciri atau sifat-sifat flora (tumbuhan) dan fauna (hewan) yang membedakan spesies yang satu dengan yang lain.
Ciri dan sifat untuk flora tentu berbeda dengan ciri dan sifat fauna. Untuk flora, ciri yang dapat kita lihat adalah dari bentuk batang, bentuk daun, akar, buah, bunga dan tempat hidupnya. Sedangkan untuk fauna kita bisa lihat dari bentuk anggota badan, warna, tempat hidup, makanannya dan prilaku?
Agar kalian dapat membedakan antara jenis flora dan fauna yang satu dan lainnya, maka sekarang kita akan belajar cara mengidentifikasi atau mengenal flora dan fauna mangrove dengan melihat ciri-ciri fisiknya.
Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove
2
3
A. Identifikasi Spesies Flora Mangrove
Kita telah mengenal nama 10 spesies flora yang hidup di hutan mangrove, dan 5 spesies diantaranya merupakan pohon-pohon penyusun utama hutan mangrove. Dalam materi kali ini, kita akan mengidentifikasi 5 spesies pohon mangrove dengan melihat ciri-ciri fisik dan sifatnya. Lima jenis flora tersebut adalah api-api, pidada, bakau, tanjang, dan nipah. Secara umum flora mangrove memiliki beberapa ciri, yaitu :
1. Jumlah spesies (jenis) relatif terbatas.
2. Akar pepohononan terbilang unik, sebab berbentuk layaknya jangkar yang melengkung juga menjulang pada jenis tanaman Bakau (Rhizophora).
3. Terdapat beberapa pohon yang akarnya mencuat secara
vertikal seperti pensil pada Pidada (Sonneratia) dan Api-api (Avicennia).
4. Terdapat biji, yang mampu melakukan proses perkecam-bahan pada kulit pohon.
Berbagai macam akar yang menjadi ciri khas hutan mangrove yaitu :
1. Akar udara / akar gantung
2. Akar papan
3. Akar lutut
4. Akar nafas
5. Akar tunjang
Sumber : http://mentarib1ru.blogspot.co.id/2015/07/mangrove.html
Tipe-tipe akar tersebut dapat ditemukan pada flora mangrove yang akan kita bahas.
Mari kita pelajari ciri-ciri dan sifat jenis-jenis flora berikut ini .
1.Jenis Api-api (Avicennia)
Foto : Hendra Gunawan
Ciri-ciri Api-api :
1. Pohonnya memiliki tinggi hingga mencapai 25 meter
2. Akarnya berbentuk seperti pinsil, mencuat secara vertikal
3. Permukaan daunnya halus, berwarna hijau muda mengkilap. Ujung daunnya runcing, dengan ukuran panjang 16 cm dan lebar 5 cm.
4. Bunganya berwarna kuning, tumbuhnya bergerombol
5. Buahnya berbentuk seperti kerucut, berwarna hijau muda kekuningan
Sifat Api-api :
1. Merupakan pohon mangrove yang pertama tumbuh (pionir).
2. Tumbuhnya selalu di tepi laut maupun di tepi sungai.
3. Merupakan pohon tinggi yang berukuran sedang sampai besar.
4. Hidup di tempat area yang terendam 10 - 19 kali perbulan.
Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove
2
3
A. Identifikasi Spesies Flora Mangrove
Kita telah mengenal nama 10 spesies flora yang hidup di hutan mangrove, dan 5 spesies diantaranya merupakan pohon-pohon penyusun utama hutan mangrove. Dalam materi kali ini, kita akan mengidentifikasi 5 spesies pohon mangrove dengan melihat ciri-ciri fisik dan sifatnya. Lima jenis flora tersebut adalah api-api, pidada, bakau, tanjang, dan nipah. Secara umum flora mangrove memiliki beberapa ciri, yaitu :
1. Jumlah spesies (jenis) relatif terbatas.
2. Akar pepohononan terbilang unik, sebab berbentuk layaknya jangkar yang melengkung juga menjulang pada jenis tanaman Bakau (Rhizophora).
3. Terdapat beberapa pohon yang akarnya mencuat secara
vertikal seperti pensil pada Pidada (Sonneratia) dan Api-api (Avicennia).
4. Terdapat biji, yang mampu melakukan proses perkecam-bahan pada kulit pohon.
Berbagai macam akar yang menjadi ciri khas hutan mangrove yaitu :
1. Akar udara / akar gantung
2. Akar papan
3. Akar lutut
4. Akar nafas
5. Akar tunjang
Sumber : http://mentarib1ru.blogspot.co.id/2015/07/mangrove.html
Tipe-tipe akar tersebut dapat ditemukan pada flora mangrove yang akan kita bahas.
Mari kita pelajari ciri-ciri dan sifat jenis-jenis flora berikut ini .
1.Jenis Api-api (Avicennia)
Foto : Hendra Gunawan
Ciri-ciri Api-api :
1. Pohonnya memiliki tinggi hingga mencapai 25 meter
2. Akarnya berbentuk seperti pinsil, mencuat secara vertikal
3. Permukaan daunnya halus, berwarna hijau muda mengkilap. Ujung daunnya runcing, dengan ukuran panjang 16 cm dan lebar 5 cm.
4. Bunganya berwarna kuning, tumbuhnya bergerombol
5. Buahnya berbentuk seperti kerucut, berwarna hijau muda kekuningan
Sifat Api-api :
1. Merupakan pohon mangrove yang pertama tumbuh (pionir).
2. Tumbuhnya selalu di tepi laut maupun di tepi sungai.
3. Merupakan pohon tinggi yang berukuran sedang sampai besar.
4. Hidup di tempat area yang terendam 10 - 19 kali perbulan.
Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove
4
5
2. Jenis Pidada (Sonneratia)
Foto : Hendra Gunawan
Ciri-ciri Pidada :
1. Pohon selalu hijau, dengan ketinggian mencapai 15 meter. Kulit kayu berwarna putih tua hingga coklat.
2. Akar berbentuk seperti pinsil, mencuat secara vertikal dan tingginya mencapai 25 cm.
3. Daun berbentuk bulat telur terbalik. Ujungnya membundar. Daun memiliki panjang 5 - 12,5 cm dan lebar 3 - 9 cm.
4. Bunga berbentuk seperti lonceng, panjangnya 2-2,5 cm. Tumbuhnya berkelompok (1-3 bunga per kelompok), dan berwarna putih. Daun mudah rontok, kelopak bunga bagian luar berwarna hijau dan di dalam berwarna kemerahan.
5. Buah berbentuk seperti bola. Ujungnya bertangkai dan bagian bawahnya terbungkus kelopak bunga. Buah mengandung banyak biji (150 - 200 biji) dan tidak akan membuka pada saat telah matang. Buah ini dapat mengapung karena adanya jaringan yang mengandung air pada bijinya.
Sifat Pidada :
1. Tumbuhnya tersebar dan tidak tahan terhadap air tawar dalam waktu yang lama. 2. Menyukai tanah yang bercampur lumpur dan pasir, kadang-kadang pada batuan dan
karang.
3. Sering ditemukan di lokasi pesisir yang terlindung dari hempasan gelombang, juga di muara dan sekitar pulau-pulau lepas pantai.
4. Di jalur pesisir yang berkarang mereka tumbuh secara vegetatif dan tersebar. Kunang-kunang sering menempel pada pohon ini dikala malam.
3. Jenis Bakau (Rhizophora)
Foto : Hendra Gunawan
Ciri-ciri Bakau :
1. Tinggi pohon dewasa dapat mencapai 30 — 40 m.
2. Batangnya besar, berwarna abu-abu tua.
3. Memiliki tipe akar tunjang (akar keluar dari batang), dengan bentuk seperti jangkar
4. Warna daun hijau tua dengan hijau muda pada bagian tengah, dan kemerahan di bagian bawah. Ujung daunnya meruncing dengan panjang daun 7 – 19 cm dan lebar 3,5 – 8 cm.
5. Buah kasar berbentuk bulat memanjang, berwarna coklat.
6. Bunga berwarna kekuningan.
Sifat Bakau :
1. Tumbuh pada tanah berlumpur, halus, dalam dan tergenang pada saat pasang normal.
2. Tidak menyukai tempat yang keras yang bercampur dengan pasir.
3. Menyukai perairan pasang surut yang memiliki pengaruh masukan air tawar yang kuat.
4. Percabangan akarnya dapat tumbuh secara tidak normal karena gangguan kumbang yang menyerang ujung akar. Kepiting dapat juga menghambat pertumbuhan mereka karena mengganggu kulit akar anakan.
Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove
4
5
2. Jenis Pidada (Sonneratia)
Foto : Hendra Gunawan
Ciri-ciri Pidada :
1. Pohon selalu hijau, dengan ketinggian mencapai 15 meter. Kulit kayu berwarna putih tua hingga coklat.
2. Akar berbentuk seperti pinsil, mencuat secara vertikal dan tingginya mencapai 25 cm.
3. Daun berbentuk bulat telur terbalik. Ujungnya membundar. Daun memiliki panjang 5 - 12,5 cm dan lebar 3 - 9 cm.
4. Bunga berbentuk seperti lonceng, panjangnya 2-2,5 cm. Tumbuhnya berkelompok (1-3 bunga per kelompok), dan berwarna putih. Daun mudah rontok, kelopak bunga bagian luar berwarna hijau dan di dalam berwarna kemerahan.
5. Buah berbentuk seperti bola. Ujungnya bertangkai dan bagian bawahnya terbungkus kelopak bunga. Buah mengandung banyak biji (150 - 200 biji) dan tidak akan membuka pada saat telah matang. Buah ini dapat mengapung karena adanya jaringan yang mengandung air pada bijinya.
Sifat Pidada :
1. Tumbuhnya tersebar dan tidak tahan terhadap air tawar dalam waktu yang lama. 2. Menyukai tanah yang bercampur lumpur dan pasir, kadang-kadang pada batuan dan
karang.
3. Sering ditemukan di lokasi pesisir yang terlindung dari hempasan gelombang, juga di muara dan sekitar pulau-pulau lepas pantai.
4. Di jalur pesisir yang berkarang mereka tumbuh secara vegetatif dan tersebar. Kunang-kunang sering menempel pada pohon ini dikala malam.
3. Jenis Bakau (Rhizophora)
Foto : Hendra Gunawan
Ciri-ciri Bakau :
1. Tinggi pohon dewasa dapat mencapai 30 — 40 m.
2. Batangnya besar, berwarna abu-abu tua.
3. Memiliki tipe akar tunjang (akar keluar dari batang), dengan bentuk seperti jangkar
4. Warna daun hijau tua dengan hijau muda pada bagian tengah, dan kemerahan di bagian bawah. Ujung daunnya meruncing dengan panjang daun 7 – 19 cm dan lebar 3,5 – 8 cm.
5. Buah kasar berbentuk bulat memanjang, berwarna coklat.
6. Bunga berwarna kekuningan.
Sifat Bakau :
1. Tumbuh pada tanah berlumpur, halus, dalam dan tergenang pada saat pasang normal.
2. Tidak menyukai tempat yang keras yang bercampur dengan pasir.
3. Menyukai perairan pasang surut yang memiliki pengaruh masukan air tawar yang kuat.
4. Percabangan akarnya dapat tumbuh secara tidak normal karena gangguan kumbang yang menyerang ujung akar. Kepiting dapat juga menghambat pertumbuhan mereka karena mengganggu kulit akar anakan.
Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove
6
7
4. Jenis Tanjang (Bruguiera)
Ciri-ciri Tanjang :
1. Tinggi pohon mencapai 30 meter.
2. Akarnya seperti papan melebar ke samping di bagian pangkal pohon, juga memiliki sejumlah akar lutut.
3. Daun berkulit, berwarna hijau pada lapisan atas dan hijau kekuningan pada bagian bawahnya, ujung daun runcing.
4. Bunga berwarna merah muda, berukuran cukup besar, memiliki kelopak bunga berwarna kemerahan dengan letak menggantung.
5. Buah berwarna hijau keunguan, berbentuk panjang.
Sifat Tanjang :
1. Tumbuh di tempat dengan kadar garam (salinitas) rendah dan kering, serta tanah yang memiliki aerasi yang baik.
2. Mereka juga tumbuh pada tepi daratan dari mangrove, sepanjang tambak serta sungai pasang surut dan payau.
3. Ditemukan di tepi pantai hanya jika terjadi erosi pada lahan di hadapannya.
4. Tumbuh di tanah yang terdiri dari lumpur, pasir dan kadang-kadang tanah gambut hitam.
5. Kadang-kadang juga ditemukan di pinggir sungai yang kurang terpengaruh air laut, hal tersebut dimungkinkan karena buahnya terbawa arus air atau gelombang pasang.
6. Bunga dan buah terdapat sepanjang tahun.
5. Jenis Nipah (Nypa)
http://alamendah.files.wordpress.com
Ciri-ciri Nipah :
1. Batang nipah menjalar di tanah membentuk rimpang yang terendam oleh lumpur. Hanya daunnya yang muncul di atas tanah, sehingga nipah nampak seperti tak berbatang.
2. Akarnya serabut yang panjangnya bisa mencapai belasan meter.
3. Dari rimpangnya tumbuh daun hingga setinggi 9 meter dengan tangkai daun sekitar 1-1,5 m. Daun nipah yang sudah muda berwarna kuning sedangkan yang tua berwarna hijau.
4. Bunga nipah berwarna merah, jingga atau kuning pada cabang di bawahnya. Tandan bunganya mengandung air nira.
5. Buah nipah bulat telur dan gepeng, berwarna coklat kemerahan. Panjangnya sekitar 13 cm dengan lebar 11 cm. Dalam satu tandan, dapat terdiri antara 30-50 butir buah.
Sifat Nipah :
1. Salah satu pohon anggota palem.
2. Umumnya tumbuh di daerah rawa yang berair payau atau daerah pasang surut di dekat pantai.
3. Pohon nipah tumbuh di lingkungan hutan bakau.
Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove
6
7
4. Jenis Tanjang (Bruguiera)
Ciri-ciri Tanjang :
1. Tinggi pohon mencapai 30 meter.
2. Akarnya seperti papan melebar ke samping di bagian pangkal pohon, juga memiliki sejumlah akar lutut.
3. Daun berkulit, berwarna hijau pada lapisan atas dan hijau kekuningan pada bagian bawahnya, ujung daun runcing.
4. Bunga berwarna merah muda, berukuran cukup besar, memiliki kelopak bunga berwarna kemerahan dengan letak menggantung.
5. Buah berwarna hijau keunguan, berbentuk panjang.
Sifat Tanjang :
1. Tumbuh di tempat dengan kadar garam (salinitas) rendah dan kering, serta tanah yang memiliki aerasi yang baik.
2. Mereka juga tumbuh pada tepi daratan dari mangrove, sepanjang tambak serta sungai pasang surut dan payau.
3. Ditemukan di tepi pantai hanya jika terjadi erosi pada lahan di hadapannya.
4. Tumbuh di tanah yang terdiri dari lumpur, pasir dan kadang-kadang tanah gambut hitam.
5. Kadang-kadang juga ditemukan di pinggir sungai yang kurang terpengaruh air laut, hal tersebut dimungkinkan karena buahnya terbawa arus air atau gelombang pasang.
6. Bunga dan buah terdapat sepanjang tahun.
5. Jenis Nipah (Nypa)
http://alamendah.files.wordpress.com
Ciri-ciri Nipah :
1. Batang nipah menjalar di tanah membentuk rimpang yang terendam oleh lumpur. Hanya daunnya yang muncul di atas tanah, sehingga nipah nampak seperti tak berbatang.
2. Akarnya serabut yang panjangnya bisa mencapai belasan meter.
3. Dari rimpangnya tumbuh daun hingga setinggi 9 meter dengan tangkai daun sekitar 1-1,5 m. Daun nipah yang sudah muda berwarna kuning sedangkan yang tua berwarna hijau.
4. Bunga nipah berwarna merah, jingga atau kuning pada cabang di bawahnya. Tandan bunganya mengandung air nira.
5. Buah nipah bulat telur dan gepeng, berwarna coklat kemerahan. Panjangnya sekitar 13 cm dengan lebar 11 cm. Dalam satu tandan, dapat terdiri antara 30-50 butir buah.
Sifat Nipah :
1. Salah satu pohon anggota palem.
2. Umumnya tumbuh di daerah rawa yang berair payau atau daerah pasang surut di dekat pantai.
3. Pohon nipah tumbuh di lingkungan hutan bakau.
Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove
8
9
B. Identifikasi Fauna Mangrove
Di Kelas IV, kalian telah mempelajari mengenai penyebaran dan jenis-jenis fauna mangrove yaitu jenis burung, ikan, reptilia, amfibia, kepiting, udang-udangan, moluska, dan mamalia. Sekarang mari kita pelajari bagaimana membedakan fauna mangrove tersebut dengan cara mengidentifikasi ciri-ciri dan sifatnya
1. Burung (Aves)
Lebih dari 100 spesies (jenis) burung hidup di hutan mangrove, dan daratan lumpur yang luas berbatasan dengan hutan mangrove merupakan tempat mendaratnya ribuan burung pantai ringan migran, termasuk jenis burung langka Blekok Asia.
Burung-burung dari daerah daratan menemukan sumber makanan dan habitat yang baik untuk bertengger dan bersarang. Mereka makan kepiting, ikan dan mollusca atau hewan lain yang hidup di habitat mangrove. Setiap jenis biasanya mempunyai gaya yang khas dan memilih makanannya sesuai dengan kebiasaan dan kesukaanya masing-masing dari keanekaragaman sumber yang tersedia di lingkungan tersebut. Sebagai timbal baliknya, burung-burung meninggalkan kotorannya (guano) sebagai pupuk bagi pertumbuhan pohon mangrove.
Burung yang hidup di daerah mangrove tidak selalu sama dengan jenis-jenis yang hidup di daerah hutan sekitarnya, karena sifat khas hutan mangrove. Keluarga burung air di Indonesia diantaranya adalah : Titihan, Pecuk, Pelikan, Kuntul, Cangak, Blekok, Kowak, Bangau, Dara laut, Trinil Berkek, Camar, Layang dan Rajaudang. Kali ini, kalian akan melihat ciri ciri dan sifat empat spesies burung yang sering dijumpai di hutan mangrove, yaitu :
Ciri dan sifat Bangau :
1. Badan besar, kaki panjang, leher panjang, paruh besar, kuat dan tebal dan tidak bisa bersuara
2. Habitat di daerah yang lebih kering dari kuntul
3. Makanan berupa katak, ikan, serangga, cacing, burung kecil dan mamalia kecil dari lahan basah dan pantai
4. Bangau merupakan burung pantai migran, terbang jauh dengan cara melayang
a. Bangau
b. Kuntul
c. Pecuk Padi
d. Kowak Malam Abu
https://id.wikipedia.org
Ciri dan sifat Kuntul :
1. Memiliki tubuh berukuran besar (95 cm).
Paruh lebih berat, leher bersimpul khas. Berdiri agak tegak, mematuk mangsa dari atas.
2. Habitat di mangrove berlumpur dan pasir.
3. Makanan berupa ikan, udang, belalang, larva
capung.
4. Terbang dengan kepakan sayap pelan dan
penuh tenaga.
Ciri dan sifat Pecuk Padi :
1. Berukuran kecil, dari paruh ke ekor sekitar
56 cm, berwarna hitam, dengan beberapa bulu putih kecil di sisi kepala, leher, dan di atas mata.
2. Habitat di hutan bakau, danau, rawa tergenang, dan muara sungai.
3. Menyelam berulang-ulang untuk memburu ikan, ketika berenang di permukaan biasanya hanya kepalanya yang terlihat.
Ciri dan sifat Kowak Malam Abu:
1. Berukuran sedang (64 cm), berkepala besar dan tubuh kekar. Burung dewasa memiliki mahkota hitam kebiruan, Leher dan dada berwarna putih. Paruh agak panjang dan runcing, berwarna hitam.
2. Memakan ikan, kodok, serangga air, ular kecil, tikus kecil dan cerurut.
3. Habitat di sekitar sungai dan aliran air, tambak, rawa, persawahan dan padang rumput.
4. Aktif berburu mangsa di malam hari. siang hari beristirahat, bertengger dalam kelompok, biasanya tidak jauh dari air.
Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove
8
9
B. Identifikasi Fauna Mangrove
Di Kelas IV, kalian telah mempelajari mengenai penyebaran dan jenis-jenis fauna mangrove yaitu jenis burung, ikan, reptilia, amfibia, kepiting, udang-udangan, moluska, dan mamalia. Sekarang mari kita pelajari bagaimana membedakan fauna mangrove tersebut dengan cara mengidentifikasi ciri-ciri dan sifatnya
1. Burung (Aves)
Lebih dari 100 spesies (jenis) burung hidup di hutan mangrove, dan daratan lumpur yang luas berbatasan dengan hutan mangrove merupakan tempat mendaratnya ribuan burung pantai ringan migran, termasuk jenis burung langka Blekok Asia.
Burung-burung dari daerah daratan menemukan sumber makanan dan habitat yang baik untuk bertengger dan bersarang. Mereka makan kepiting, ikan dan mollusca atau hewan lain yang hidup di habitat mangrove. Setiap jenis biasanya mempunyai gaya yang khas dan memilih makanannya sesuai dengan kebiasaan dan kesukaanya masing-masing dari keanekaragaman sumber yang tersedia di lingkungan tersebut. Sebagai timbal baliknya, burung-burung meninggalkan kotorannya (guano) sebagai pupuk bagi pertumbuhan pohon mangrove.
Burung yang hidup di daerah mangrove tidak selalu sama dengan jenis-jenis yang hidup di daerah hutan sekitarnya, karena sifat khas hutan mangrove. Keluarga burung air di Indonesia diantaranya adalah : Titihan, Pecuk, Pelikan, Kuntul, Cangak, Blekok, Kowak, Bangau, Dara laut, Trinil Berkek, Camar, Layang dan Rajaudang. Kali ini, kalian akan melihat ciri ciri dan sifat empat spesies burung yang sering dijumpai di hutan mangrove, yaitu :
Ciri dan sifat Bangau :
1. Badan besar, kaki panjang, leher panjang, paruh besar, kuat dan tebal dan tidak bisa bersuara
2. Habitat di daerah yang lebih kering dari kuntul
3. Makanan berupa katak, ikan, serangga, cacing, burung kecil dan mamalia kecil dari lahan basah dan pantai
4. Bangau merupakan burung pantai migran, terbang jauh dengan cara melayang
a. Bangau
b. Kuntul
c. Pecuk Padi
d. Kowak Malam Abu
https://id.wikipedia.org
Ciri dan sifat Kuntul :
1. Memiliki tubuh berukuran besar (95 cm).
Paruh lebih berat, leher bersimpul khas. Berdiri agak tegak, mematuk mangsa dari atas.
2. Habitat di mangrove berlumpur dan pasir.
3. Makanan berupa ikan, udang, belalang, larva
capung.
4. Terbang dengan kepakan sayap pelan dan
penuh tenaga.
Ciri dan sifat Pecuk Padi :
1. Berukuran kecil, dari paruh ke ekor sekitar
56 cm, berwarna hitam, dengan beberapa bulu putih kecil di sisi kepala, leher, dan di atas mata.
2. Habitat di hutan bakau, danau, rawa tergenang, dan muara sungai.
3. Menyelam berulang-ulang untuk memburu ikan, ketika berenang di permukaan biasanya hanya kepalanya yang terlihat.
Ciri dan sifat Kowak Malam Abu:
1. Berukuran sedang (64 cm), berkepala besar dan tubuh kekar. Burung dewasa memiliki mahkota hitam kebiruan, Leher dan dada berwarna putih. Paruh agak panjang dan runcing, berwarna hitam.
2. Memakan ikan, kodok, serangga air, ular kecil, tikus kecil dan cerurut.
3. Habitat di sekitar sungai dan aliran air, tambak, rawa, persawahan dan padang rumput.
4. Aktif berburu mangsa di malam hari. siang hari beristirahat, bertengger dalam kelompok, biasanya tidak jauh dari air.
Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove
10
11
2.
Jenis Reptilia
Jenis reptilia yang biasa ditemukan di hutan mangrove yaitu :
a. Biawak yang selalu mencari makanannya disekitar akar mangrove hingga naik ke batang untuk menggapai makanannya
b. Ular cincin emas dan Ular sanca dengan sifatnya melata berjalan menaiki akar, batang sampai kerantingnya mencari mangsanya, serta berbagai jenis ular air.
Ciri dan sifat Biawak :
1. Biawak yang kerap ditemui kebanyakan adalah biawak air.
2. Panjang tubuhnya (moncong hingga ujung ekor) umumnya hanya sekitar 1 m lebih sedikit.
3. Umumnya menghuni tepi-tepi sungai atau saluran air, tepian danau, pantai, dan rawa-rawa termasuk rawa-rawa bakau.
4. Biawak memangsa aneka serangga, ketam atau yuyu, berbagai jenis kodok, ikan, kadal, burung, serta mamalia kecil seperti tikus dan cerurut.
Ciri dan sifat Ular Cincin Emas :
1. Badan berwarna dasar hitam gelap (kadang berbintik kuning) dengan bagian sisi
terdapat sekitar 35-52 belang (cincin) berwarna kuning yang melingkari, namun tidak menyatu sampai ke punggung/perut. 2. Panjang jarak moncong-ekor mencapai
130,8 cm.
3. Sering ditemukan melingkar di cabang pohon yang menjuntai pada bakau di tepi pantai, atau cabang pohon di tepi sungai.
4. Aktivitas harian pada malam hari dan termasuk jenis ular yang arboreal.
5. Makanannya mamalia kecil, terutama anak burung dan kadal. Ular ini memiliki gigi taring yang letaknya di belakang rahang atas.
6. Perilakunya jinak dan sering dipelihara orang 7. Tergolong jenis dengan bisa sedang.
a. Biawak istimewa di kalangan amfibi karena dapat hidup dan berkembang biak dalam air yang sedikit asin.
Ciri dan sifat Katak :
1. Nama daerahnya kodok ijo (banyak juga yang berwarna kehijauan), kodok cina dan bangkong
2. Bertubuh kecil sampai agak besar, gempal, kaki kuat dan paha berotot.
3. Hewan jantan dewasa sekitar 6 cm dan betina dewasa sekitar 7- 8 cm.
4. Punggung berwarna lumpur kecoklatan, dengan bercak-bercak gelap.
5. Proses mencari makan katak naik ke akar atau batang mangrove untuk mencari serangga atau nyamuk sebagai makanannya. Juga memakan kepiting.
6. Kebanyakan aktif di waktu gelap dan pagi hari. Siang hari kodok ini berlindung di balik rerumputan atau celah di pematang atau tebing saluran air.
ht
tps://id.
wikipedia.or
g/wiki
4. Jenis Crustacea (Kepiting/Udang)
Biota yang paling banyak dijumpai di ekosistem mangrove adalah kepiting, udang dan berbagai jenis kerang dan siput. Kebanyakan fauna ini hidup berinteraksi pada akar-akar mangrove. Biota yang hidup dibagian akar, mereka makan ketika air pasang naik dan kembali menutup ketika air laut surut. Sejumlah fauna tinggal di dalam lumpur, agar mereka terlindung dari perubahan suhu dan faktor lingkungan (pasang surut) dan terhindar dari pemangsa (predator).
Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove
10
11
2.
Jenis Reptilia
Jenis reptilia yang biasa ditemukan di hutan mangrove yaitu :
a. Biawak yang selalu mencari makanannya disekitar akar mangrove hingga naik ke batang untuk menggapai makanannya
b. Ular cincin emas dan Ular sanca dengan sifatnya melata berjalan menaiki akar, batang sampai kerantingnya mencari mangsanya, serta berbagai jenis ular air.
Ciri dan sifat Biawak :
1. Biawak yang kerap ditemui kebanyakan adalah biawak air.
2. Panjang tubuhnya (moncong hingga ujung ekor) umumnya hanya sekitar 1 m lebih sedikit.
3. Umumnya menghuni tepi-tepi sungai atau saluran air, tepian danau, pantai, dan rawa-rawa termasuk rawa-rawa bakau.
4. Biawak memangsa aneka serangga, ketam atau yuyu, berbagai jenis kodok, ikan, kadal, burung, serta mamalia kecil seperti tikus dan cerurut.
Ciri dan sifat Ular Cincin Emas :
1. Badan berwarna dasar hitam gelap (kadang berbintik kuning) dengan bagian sisi
terdapat sekitar 35-52 belang (cincin) berwarna kuning yang melingkari, namun tidak menyatu sampai ke punggung/perut. 2. Panjang jarak moncong-ekor mencapai
130,8 cm.
3. Sering ditemukan melingkar di cabang pohon yang menjuntai pada bakau di tepi pantai, atau cabang pohon di tepi sungai.
4. Aktivitas harian pada malam hari dan termasuk jenis ular yang arboreal.
5. Makanannya mamalia kecil, terutama anak burung dan kadal. Ular ini memiliki gigi taring yang letaknya di belakang rahang atas.
6. Perilakunya jinak dan sering dipelihara orang 7. Tergolong jenis dengan bisa sedang.
a. Biawak istimewa di kalangan amfibi karena dapat hidup dan berkembang biak dalam air yang sedikit asin.
Ciri dan sifat Katak :
1. Nama daerahnya kodok ijo (banyak juga yang berwarna kehijauan), kodok cina dan bangkong
2. Bertubuh kecil sampai agak besar, gempal, kaki kuat dan paha berotot.
3. Hewan jantan dewasa sekitar 6 cm dan betina dewasa sekitar 7- 8 cm.
4. Punggung berwarna lumpur kecoklatan, dengan bercak-bercak gelap.
5. Proses mencari makan katak naik ke akar atau batang mangrove untuk mencari serangga atau nyamuk sebagai makanannya. Juga memakan kepiting.
6. Kebanyakan aktif di waktu gelap dan pagi hari. Siang hari kodok ini berlindung di balik rerumputan atau celah di pematang atau tebing saluran air.
ht
tps://id.
wikipedia.or
g/wiki
4. Jenis Crustacea (Kepiting/Udang)
Biota yang paling banyak dijumpai di ekosistem mangrove adalah kepiting, udang dan berbagai jenis kerang dan siput. Kebanyakan fauna ini hidup berinteraksi pada akar-akar mangrove. Biota yang hidup dibagian akar, mereka makan ketika air pasang naik dan kembali menutup ketika air laut surut. Sejumlah fauna tinggal di dalam lumpur, agar mereka terlindung dari perubahan suhu dan faktor lingkungan (pasang surut) dan terhindar dari pemangsa (predator).
Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove
12
13
Ciri dan sifat Kepiting Bakau :
1. yang hidup di ekosistem hutan bakau. 2. Kepiting dengan batok (karapas) bentuk
bundar telur, lebih lebar daripada panjang permukaan nya halus dan agak mencembung.
3. Habitatnya di perairan payau terutama di dekat tanaman bakau.
4. Warnanya bervariasi dari satu jenis dengan jenis lainnya.
Ciri dan sifat Udang Windu :
1. Memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dibanding udang-udang biasanya.
2. Disebut juga udang macan karena ada corak-corak yang ada di tubuhnya.
3. Habitat sebenarnya adalah laut, namun sering juga ditemukan di payau.
4. Merupakan hewan nokturnal (aktif mencari makan dan berkembang biak pada malam hari). Siang hari bersembunyi di antara bebatuan.
5. Rata-rata merupakan hewan karnivora, memakan ikan, udang dan kerang kecil, terkadang makan algae.
Moluska adalah hewan yang bertubuh lunak. Tubuhnya dilindungi oleh cangkang, namun ada juga yang tidak bercangkang. Jenis moluska sangat banyak, namun dalam materi ini hanya akan disampaikan 7 jenis saja. Diharapkan kalian mencoba mencari dari sumber lainnya, atau amati jika ada kesempatan karyawisata ke hutan mangrove Karangsong.
Termasuk yang paling umum ditemukan
diatas tanah/lumpur/ pasir atau diantara serasah daun mangrove.
Mudah dikenali karena bentuknya yang khas
seperti kerucut.
Termasuk jenis yang dapat dimakan.
Jenis ini jarang ditemukan berada diatas
lumpur atau pasir, biasanya menempel pada batang dan akar mangrove.
Relatif mudah ditemukan terutama pada
area mangrove dengan media lumpur.
Tinggi cangkang maksimum 4.5 cm, biasanya
hanya sekitar 3.5 cm.
Seringkali ditemukan melimpah pada media
lumpur di area dekat mangrove.
Dalam 1 meter persegi jumlahnya bisa
mencapai 500 individu.
Jenis ini dapat dimakan.
Sering dikenal sebagai "siput nenek". Cangkang berukuran antara 4.5 - 5.5 cm. Sering ditemukan menempel pada batang
atau akar mangrove
Jenis ini termasuk dapat dimakan
a.Telecopium telescopium
b. Cassidula aurisfelis
Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove
12
13
Ciri dan sifat Kepiting Bakau :
1. yang hidup di ekosistem hutan bakau. 2. Kepiting dengan batok (karapas) bentuk
bundar telur, lebih lebar daripada panjang permukaan nya halus dan agak mencembung.
3. Habitatnya di perairan payau terutama di dekat tanaman bakau.
4. Warnanya bervariasi dari satu jenis dengan jenis lainnya.
Ciri dan sifat Udang Windu :
1. Memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dibanding udang-udang biasanya.
2. Disebut juga udang macan karena ada corak-corak yang ada di tubuhnya.
3. Habitat sebenarnya adalah laut, namun sering juga ditemukan di payau.
4. Merupakan hewan nokturnal (aktif mencari makan dan berkembang biak pada malam hari). Siang hari bersembunyi di antara bebatuan.
5. Rata-rata merupakan hewan karnivora, memakan ikan, udang dan kerang kecil, terkadang makan algae.
Moluska adalah hewan yang bertubuh lunak. Tubuhnya dilindungi oleh cangkang, namun ada juga yang tidak bercangkang. Jenis moluska sangat banyak, namun dalam materi ini hanya akan disampaikan 7 jenis saja. Diharapkan kalian mencoba mencari dari sumber lainnya, atau amati jika ada kesempatan karyawisata ke hutan mangrove Karangsong.
Termasuk yang paling umum ditemukan
diatas tanah/lumpur/ pasir atau diantara serasah daun mangrove.
Mudah dikenali karena bentuknya yang khas
seperti kerucut.
Termasuk jenis yang dapat dimakan.
Jenis ini jarang ditemukan berada diatas
lumpur atau pasir, biasanya menempel pada batang dan akar mangrove.
Relatif mudah ditemukan terutama pada
area mangrove dengan media lumpur.
Tinggi cangkang maksimum 4.5 cm, biasanya
hanya sekitar 3.5 cm.
Seringkali ditemukan melimpah pada media
lumpur di area dekat mangrove.
Dalam 1 meter persegi jumlahnya bisa
mencapai 500 individu.
Jenis ini dapat dimakan.
Sering dikenal sebagai "siput nenek". Cangkang berukuran antara 4.5 - 5.5 cm. Sering ditemukan menempel pada batang
atau akar mangrove
Jenis ini termasuk dapat dimakan
a.Telecopium telescopium
b. Cassidula aurisfelis
Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove
14
15
Jenis ini lebih jarang dijumpai.
Biasanya menempel pada substrat keras
seperti bebatuan.
Termasuk jenis yang dapat dimakan.
Jenis ini umum ditemukan di pantai pada
media keras seperti bebatuan.
Termasuk jenis yang dapat dimakan.
Sering disebut sebagai "kerang batik". Jenis kerang yang biasanya terdapat
di pantai berlumpur atau area depan mangrove.Termasuk jenis yang dapat dimakan.
f.Tapes literatus
e. Chicoreus capucinus
Sumber: http://2.bp.blogspot.com/
g. Paphia textile
Sumber: http://2.bp.blogspot.com/
Sumber:
ht
tp://2.bp.blogspot.c
om/
6. Jenis Ikan
Lihatlah kedua gambar berikut ini. Betapa beragamnya jenis ikan yang berada di hutan mangrove. Apa saja jenis ikan tersebut?
Sumber : http://ernanurlinasari.blogspot.co.id
Ikan yang terdapat dalam ekosistem mangrove dapat dikelompokkan pada empat tipe, yaitu :
a. Ikan penetap sejati, yaitu ikan yang seluruh siklus hidupnya dijalankan di daerah hutan mangrove seperti ikan Gelodok.
b. Ikan penetap sementara, yaitu ikan yang berhubungan dengan hutan mangrove selama periode anakan, tetapi pada saat dewasa menggerombol di sepanjang pantai yang berdekatan dengan hutan mangrove, seperti ikan Belanak, ikan Kuweh, dan ikan Kapasan.
c. Ikan pengunjung pada periode pasang, yaitu ikan yang berkunjung ke hutan mangrove pada saat air pasang untuk mencari makan, contohnya ikan Gulama, Barakuda/Alu-alu dan Tancak .
Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove
14
15
Jenis ini lebih jarang dijumpai.
Biasanya menempel pada substrat keras
seperti bebatuan.
Termasuk jenis yang dapat dimakan.
Jenis ini umum ditemukan di pantai pada
media keras seperti bebatuan.
Termasuk jenis yang dapat dimakan.
Sering disebut sebagai "kerang batik". Jenis kerang yang biasanya terdapat
di pantai berlumpur atau area depan mangrove.Termasuk jenis yang dapat dimakan.
f.Tapes literatus
e. Chicoreus capucinus
Sumber: http://2.bp.blogspot.com/
g. Paphia textile
Sumber: http://2.bp.blogspot.com/
Sumber:
ht
tp://2.bp.blogspot.c
om/
6. Jenis Ikan
Lihatlah kedua gambar berikut ini. Betapa beragamnya jenis ikan yang berada di hutan mangrove. Apa saja jenis ikan tersebut?
Sumber : http://ernanurlinasari.blogspot.co.id
Ikan yang terdapat dalam ekosistem mangrove dapat dikelompokkan pada empat tipe, yaitu :
a. Ikan penetap sejati, yaitu ikan yang seluruh siklus hidupnya dijalankan di daerah hutan mangrove seperti ikan Gelodok.
b. Ikan penetap sementara, yaitu ikan yang berhubungan dengan hutan mangrove selama periode anakan, tetapi pada saat dewasa menggerombol di sepanjang pantai yang berdekatan dengan hutan mangrove, seperti ikan Belanak, ikan Kuweh, dan ikan Kapasan.
c. Ikan pengunjung pada periode pasang, yaitu ikan yang berkunjung ke hutan mangrove pada saat air pasang untuk mencari makan, contohnya ikan Gulama, Barakuda/Alu-alu dan Tancak .
Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove
16
17
Ciri dan sifat ikan Gelodok :
1. Ikan penetap sejati.
2. Habitatnya di tempat yang berlumpur.
3. senang menghabiskan waktunya dengan meloncat-loncat di daratan lumpur untuk mencari makan. 4. Mampu bertahan hidup lama di daratan (90%
waktunya dihabiskan di darat), dapat memanjat akar-akar pohon bakau, melompat jauh, dan 'berjalan' di atas lumpur.
Ciri dan sifat ikan Belanak :
1. Ikan penetap sementara di hutan mangrove, hanya ketika musim beranak.
2. Habitatnya air payau dan terkadang di air tawar. 3. Secara umum bentuknya memanjang agak langsing dan
gepeng, dengan ukuran umumnya 20 – 30 cm.
4. Sirip punggung ada 9, 1 keras dan 8 lunak. Sirip ekor berwarna putih kotor.
5. Bibir bagian atas lebih tebal daripada bagian
bawahnya ini berguna untuk mencari makan di dasar atau makanan yang terbenam dalam lumpur dan sebagian besar mempunyai gigi yang amat kecil. 6. Belanak hilir mudik di permukaan pantai, muara
sungai, masuk hutan-hutan mangrove.
a. Ikan Gelodok (Periophthalmus sp)
b. Ikan Belanak (Valamugil seheli)
c. Ikan Baracuda (Sphyraena barracuda)
http://unik.kompasiana.com
http://www.infoikan.com/2017
7. Belanak sering kali berenang secara berkelompok sebanyak 20-30 ekor. 8. Makanannya alga halus dan lumpur, kadang udang dan hewan lainnya.
Ciri dan sifat ikan Barakuda :
1. Merupakan ikan yang menyeramkan, berukuran tubuh besar, panjangnya enam kaki dan lebar satu kaki. Tubuhnya ditutupi sisik yang halus. 2. Biasa ditemukan di permukaan atau dekat
permukaan air.
3. Ikan-ikan muda biasanya membentuk kelompok kecil, yang berada di tepi karang dan diatas tempat dangkal.
4. Ikan barakuda termasuk carnivora dengan makanan utama ikan kecil, cumi- cumi dan udang.
5. Barakuda muda biasanya berada di daerah Bakau, dan terumbu karang bagian dalam. 6. Barakuda dewasa tersebar luas dari lepas pantai sampai kelaut lepas.
https://upload.wikimedia.org/wikipedia
7. Mamalia
Beberapa jenis mamalia yang hidup di hutan mangrove yaitu monyet, berang-berang, kucing bakau, kelelawar dan tikus. Contoh mamalia yang terdapat di hutan mangrove yaitu :
a. Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis)
Sumber foto : Hendra Gunawan
Ciri dan sifat Monyet Ekor Panjang :
1. Mempunyai panjang tubuh sekitar 38-55 cm, ditambah ekor sepanjang 40-65 cm
2. Bulunya berwarna coklat keabuan, kadang terdapat jambul di atas kepala.
3. Makanannya buah, daun, bunga, umbi, jamur, serangga, siput, rumput muda, bahkan kepiting. 4. Mampu hidup dalam beragam ekosistem mulai dari
hutan bakau pantai hingga pegunungan dengan ketinggian 2.000 meter dpl.
,
b.Berang-berang (Amblonyx cinereus)
Ciri dan sifat Berang-berang :
1. Terdapat 12 jenis berang-berang di seluruh dunia, dan 4 jenis ada di Indonesia, yaitu berang-berang cakar kecil, utara, hidung berbulu dan bulu licin.
2. Memiliki ukuran panjang tubuh 65-75 cm. Ekor berbentuk tabung mengerucut.
3. Tubuhnya berwarna coklat terkadang krem atau sedikit kemerahan. 4. Merupakan kelompok mamalia pengerat yang gemar berenang di air. 5. Lebih menyukai air dangkal, dengan ketersediaan makanan yang baik. 6. Memiliki adaptasi iklim dan makanan yang tinggi, dari pesisir sampai
pegunungan ketinggian 2000 m dpl.
7. Bersarang pada lubang-lubang sarang hewan lain yang telah ditinggalkan 8. Berang-berang umumnya mencari makan pada malam hari.
9. Merupakan karnivora tingkat tinggi, makanannya kepiting, keong mas, ikan dan amfibia.
10. Keberadaan hewan ini sebagai indikator lingkungan/habitat yang masih baik.
Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove Pendidikan Lingkungan Hidup Tematik Mangrove
16
17
Ciri dan sifat ikan Gelodok :
1. Ikan penetap sejati.
2. Habitatnya di tempat yang berlumpur.
3. senang menghabiskan waktunya dengan meloncat-loncat di daratan lumpur untuk mencari makan. 4. Mampu bertahan hidup lama di daratan (90%
waktunya dihabiskan di darat), dapat memanjat akar-akar pohon bakau, melompat jauh, dan 'berjalan' di atas lumpur.
Ciri dan sifat ikan Belanak :
1. Ikan penetap sementara di hutan mangrove, hanya ketika musim beranak.
2. Habitatnya air payau dan terkadang di air tawar. 3. Secara umum bentuknya memanjang agak langsing dan
gepeng, dengan ukuran umumnya 20 – 30 cm.
4. Sirip punggung ada 9, 1 keras dan 8 lunak. Sirip ekor berwarna putih kotor.
5. Bibir bagian atas lebih tebal daripada bagian
bawahnya ini berguna untuk mencari makan di dasar atau makanan yang terbenam dalam lumpur dan sebagian besar mempunyai gigi yang amat kecil. 6. Belanak hilir mudik di permukaan pantai, muara
sungai, masuk hutan-hutan mangrove.
a. Ikan Gelodok (Periophthalmus sp)
b. Ikan Belanak (Valamugil seheli)
c. Ikan Baracuda (Sphyraena barracuda)
http://unik.kompasiana.com
http://www.infoikan.com/2017
7. Belanak sering kali berenang secara berkelompok sebanyak 20-30 ekor. 8. Makanannya alga halus dan lumpur, kadang udang dan hewan lainnya.
Ciri dan sifat ikan Barakuda :
1. Merupakan ikan yang menyeramkan, berukuran tubuh besar, panjangnya enam kaki dan lebar satu kaki. Tubuhnya ditutupi sisik yang halus. 2. Biasa ditemukan di permukaan atau dekat
permukaan air.
3. Ikan-ikan muda biasanya membentuk kelompok kecil, yang berada di tepi karang dan diatas tempat dangkal.
4. Ikan barakuda termasuk carnivora dengan makanan utama ikan kecil, cumi- cumi dan udang.
5. Barakuda muda biasanya berada di daerah Bakau, dan terumbu karang bagian dalam. 6. Barakuda dewasa tersebar luas dari lepas pantai sampai kelaut lepas.
https://upload.wikimedia.org/wikipedia
7. Mamalia
Beberapa jenis mamalia yang hidup di hutan mangrove yaitu monyet, berang-berang, kucing bakau, kelelawar dan tikus. Contoh mamalia yang terdapat di hutan mangrove yaitu :
a. Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis)
Sumber foto : Hendra Gunawan
Ciri dan sifat Monyet Ekor Panjang :
1. Mempunyai panjang tubuh sekitar 38-55 cm, ditambah ekor sepanjang 40-65 cm
2. Bulunya berwarna coklat keabuan, kadang terdapat jambul di atas kepala.
3. Makanannya buah, daun, bunga, umbi, jamur, serangga, siput, rumput muda, bahkan kepiting. 4. Mampu hidup dalam beragam ekosistem mulai dari
hutan bakau pantai hingga pegunungan dengan ketinggian 2.000 meter dpl.
,
b.Berang-berang (Amblonyx cinereus)
Ciri dan sifat Berang-berang :
1. Terdapat 12 jenis berang-berang di seluruh dunia, dan 4 jenis ada di Indonesia, yaitu berang-berang cakar kecil, utara, hidung berbulu dan bulu licin.
2. Memiliki ukuran panjang tubuh 65-75 cm. Ekor berbentuk tabung mengerucut.
3. Tubuhnya berwarna coklat terkadang krem atau sedikit kemerahan. 4. Merupakan kelompok mamalia pengerat yang gemar berenang di air. 5. Lebih menyukai air dangkal, dengan ketersediaan makanan yang baik. 6. Memiliki adaptasi iklim dan makanan yang tinggi, dari pesisir sampai
pegunungan ketinggian 2000 m dpl.
7. Bersarang pada lubang-lubang sarang hewan lain yang telah ditinggalkan 8. Berang-berang umumnya mencari makan pada malam hari.
9. Merupakan karnivora tingkat tinggi, makanannya kepiting, keong mas, ikan dan amfibia.
10. Keberadaan hewan ini sebagai indikator lingkungan/habitat yang masih baik.