• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Mitra Pendidikan (JMP Online)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jurnal Mitra Pendidikan (JMP Online)"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN MIND MAPPING UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN TENTANG PENAKSIRAN

DAN PEMBULATAN BILANGAN PADA SISWA

Wiwin Lukmawati

SD Negeri Rejosari 02 Semarang

INFORMASI ARTIKEL ABSTRAK

URL : http://e-jurnalmitrapendidikan.com

© 2021 Kresna BIP.

e-ISSN 2550-0481 p-ISSN 2614-7254

Jurnal Mitra Pendidikan (JMP Online)

Dik irim : 30 Maret 2021 Revisi pertama : 13 April 2021 Diterima : 15 April 2021 Tersedia online : 21 April 2021

Pembelajaran merupak an inti dari seluruh proses pendidik an yang berlangsung di sek olah.

Pembelajaran yang tepat dan efek tif memungk ink an terjadinya k egiatan pembelajaran yang optimal.

Keberhasilan siswa dalam proses belajarnya ditandai dengan adanya perubahan perilak u dari tidak tahu menjadi tahu. Peneliti melak uk an penelitian tindak an k elas meningk atk an hasil belajar sesuai dengan harapan semua pihak yang terk ait. Setelah dia dak an pengamatan terhadap hasil tes formatif dan hasil reflek si diri dari pembelajaran tersebut. Perbaik an pembelajaran pada sik lus I dilak sanak an pada hari k amis, 27 Juli 2017, dengan materi yang diajark an adalah penak siran dan pembulatan bilangan dengan menggunak an Rencana Perbaikan Pembelajaran sik lus I. Dari analisa data hasil evaluasi siswa k elas IV hanya 14 siswa yang mencapai nilai tuntas (56 %) dengan nilai terendah 40. Secara umum proses pembelajaran sudah baik , sik lus Il cuk up berhasil k arena hasil belajar siswa sudah memenuhi k etuntasan. Hipotesa yang telah dirumusk an terbuk ti, temuan hasil reflek si maupun evaluasi pada sik lus II.

ternyata dengan menggunak an metode Mind Map p i n g dalam pengajaran materi penak siran dan pembulatan bilangan pemahaman terbuk ti dari hasil analisa tes evaluasi yang dilak uk an setelah semester II, siswa yang mencapai nilai tuntas sebanyak 80 % dengan nilai rata ata k elas 83,2.

Kata Kunci: Mind Mapping, Penak siran, Pembulatan

Email: wiwinluk [email protected]

(2)

PENDAHULUAN Latar Belakang

Proses belajar merupakan proses pendidikan, sedangkan kegiatan pembelajaran merupakan inti dari seluruh proses pendidikan yang berlangsung di sekolah. Pembelajaran yang tepat dan efektif memungkinkan terjadinya kegiatan pembelajaran yang optimal, sehingga dapat dilihat suatu keberhasilan siswa (Suprayekti, 2013). Secara psikologis keberhasilan siswa dalam proses belajarnya ditandai dengan adanya perubahan perilaku dari tidak tahu menjadi tahu dan tidak dapat menjadi dapat serta dari sikap negatif menjadi sikap positif.

Upaya yang dilakukan untuk mencapai keberhasilan dalam proses belajar mengajar tidaklah mudah. Seringkali terjadi keluhan seorang guru dalam mengajar mata pelajaran matematika. Nilai rata-rata siswa selalu rendah tidak sesuai yang diharapkan guru. Siswa tidak mengkorelasikan apa yang di dapat dengan hidup sehari-hari dengan ilmu hitung, apalagi mengkorelasi sikapnya. Hal ini apabila tidak segera diatasi akan mengakibatkan mutu lulusan yang tidak sesuai dengan harapan semua pihak, baik bagi guru, sekolah ataupun masyarakat pada umumnya.

Betapa pentingnya peranan seorang guru dalam upaya meningkatkan potensi belajar siswa. Selain menguasai materi yang akan disampaikan, guru juga harus mampu mengorganisir kelas, memilih dan menggunakan media dan tidak kalah pentingnya mampu menggunakan metode yang tepat.

Untuk itu karena pengalaman peneliti mengajar di kelas yang hasilnya belum tuntas. Langkah-langkah tersebut ditempuh karena pada Semester I tahun pelajaran 2017/2018. Peneliti menjumpai hasil ulangan pada mata pelajaran matematika materi Taksiran rendah, Taksiran tinggi dan Taksiran baik dari 25 jumlah siswa kelas IV hanya 6 siswa atau 24% yang mendapatkan nilai tuntas, sedangkan 19 siswa atau 76% belum mecapai ketuntasan. Berdasarkan hal tersebut, maka peneliti merencanakan untuk melakukan penelitian tindakan kelas meningkatkan hasil belajar sesuai dengan harapan semua pihak yang terkait.

Setelah diadakan pengamatan terhadap hasil tes formatif dan hasil refleksi diri dari pembelajaran tersebut, peneliti melakukan konsultasi dengan supervisor dan mendiskusikan permasalahan dengan teman sejawat untuk mengidentifikasi kekurangan dalam proses pembelajaran yang telah dilakukan ternyata dapat diindentifikasi sebagai berikut : masih banyak siswa yang pasif dalam mengikuti pembelajaran, siswa tidak dapat mengerjakan tugas dengan baik. prestasi belajar siswa belum tuntas.

Rumusan Masalah

Dari analisis masalah di atas yang menjadi faktor pertukam pembelajaran adalah bagaimana cara yang efektif untuk meningkatkan pemahaman siswa dengan mengunakan model pembelajaran Mind Mapping pada pembelajaran matematika materi taksiran tinggi taksiran rendah, taksiran SD Negeri Rejosari 02 Kecamatan Bancak, Kabupaten Semarang

(3)

Tujuan Penelitian

Bardasarkan rumusan masalah tersebut diatas, penelitian ini bertujuan untuk.

1. Mendeskripsikan penerapan model pembelajaran Mind Mapping dan pemberian latihan pembelajaran matematika pada materi Taksiran Tinggi, Taksiran Rendah dan Taksiran Baik Siswa kelas IV SD Negeri Rejosari 02

2. Menganalisis dampak penggunaan model pembelajaran Mind Mapping dan pemberian latihan soal dalam pembelajaran terhadap hasil belajar siswa.

3. Mencari cam yang efektif dalam meningkatkan pembelajaran matematika kelas IV Sekolah Dasar Negeri Rejosari 02 mengenai Taksiran Tinggi, Taksiran Rendah dan Taksiran Baik

KAJIAN PUSTAKA

Pentingnya Persiapan dan Perencanaan Sebelum Pembelajaran

Sebelum menjadi guru yang profesional seorang guru harus berkomitmen pada profesi untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya dan terun menerus mengembangkan strategi-strategi yang digunakan

Dalam pelaksanaan pembelajaran guru harus mampu mengembangkan strateginya agar selalu bisa membuat peserta didik senang dan termotivasi.

Sebelum melaksanakan pembelajaran guru harus sudah membuat persiapan dan rencana pembelajaran sebelumnya sehingga pelaksanaan pembelajaran terorganisasi dan terarah.

Model Pembelajaran Mind Mapping

Mind Mapping merupakan cara untuk menempatkan informasi ke dalam otak dan mengambilnya kembali ke otak (Chusnul Nurroeni, 2013). Mind Mapping bisa disebut juga peta rute yang digunakan ingatan, membuat kita bisa menyusun fakta dan pikiran sedemikian rupa sehingga cara kerja otak akan dilibatkan sejak awal mengingat informasi akan lebih mudah dan bisa dinadalkan daripada menemukan teknik mencatat biasa. Dengan metode Mind Mapping siswa dapat meningkatkan daya ingat hingga 70%.

Metode Mind Mapping (Peta Pikiran) adalah metode pembelajaran yang dikembangkan oleh Tony Buzana, kepala Brain Foundation. Peta pikiran adalah metode mencatat kreatif yang memudahkan kita mengingat banyak informasi (Winotoputra, 2017). Setelah selesai, catatan yang dibuat membentuk sebuah pola gagasan yang saling berkaitan, dengan topik utama di tengah, sementara subtopik dan perincian menjadi cabang-cabangnya. Enam cabang tersebut juga bisa berkembang lagi sampai ke materi yang lebih kecil. Sebagaimana struktur keturunan manusia yang bisa berkembang terus sampai hari akhir tiba, sehingga terbentuklah sebuah sistem keturunan manusia hidup sampai hari akhir.

Belajar berbasis pada konsep Peta Pikiran (Mind Mapping) merupakan cara belajar yang menggunakan konsep pembelajaran komprehensif Total Mind Learning (TML). Pada konteks TML, pembelajaran mendapatkan arti yang lebih luas. Bahwasanya, di setiap saat dan di setiap tempat semua makhluk hidup di muka bumi belajar, karena belajar merupakan proses (Satori, 2015)

Mata pelajaran matematika di sekolah dasar merupakan satu bidang pengajaran yang membutuhkan kekhususan dalam strategi pembelajaran karena

(4)

matematika adalah ilmu yang bersifat abstrak seperti yang dikemukakan oleh Karso dan kawankawan bahwa. "Matematika adalah ilmu deduktif, aksiomatik, formal hierarkis, abstrak, bahasa simbol yang padat arti dan semacamnya schingga para ahli matematika dapat mengembangkan sistem matematika (Muhsetyo, 2017)

Mind Mapping sebagai salah satu bentuk layanan tugas kelompok yang berusaha mengatasi kesulitan belajar siswa. Model Mind Mapping merupakan model layanan tugas kelompok yang ditempuh karena berdasarkan pertimbangan efektif dan efesien mengangkat keberhasilan siswa secara berkelompok (Setyawan, 2013). Perubahan perilaku sebagai hasil belajar terjadi disebabkan karena terjadinya interaksi antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, kelompok dengan kelompok atau organisasi dengan organisasi, seperti yang di kemukakan oleh Suprayekti, dkk dalam bukunya yang berjudul "Pemahaman Pembelajaran di SD dalam pembelajaran matematika di Sekolah Dasar tedapat model-model pembelajaran yang efektif, seperti : Cooperative Scripe, Jigsaw, STAD, Mind Mapping, artikulasi dan sebagainya, sehingga peneliti dapat memilih model yang berpotensi dapat mengembangkan suasana belajar menjadi lebih aktif, efektif dan menyenangkan (Hamid 2013).

Penerapan Metode Pada Pembelajaran Matematika SD

Pembelajaran matematika di sekolah dasar merupakan pembelajaran yang memerlukan banyak latihan. Metode latihan dalam pembelajaran matematika sangat beragam, guru hendaknya mampu memilih metode yang tepat dan sesuai dalam penyampaian materi.

Pada dasarnya metode mengajar merupakan cara atau teknik yang digunakan guru dalam melakukan interaksi dengan siswa pada suatu proses pembelajaran. Metode mengajar harus meyakinkan siswa untuk lebih termotivasi dalam belajarnya " (Udin S Winataputra, dkk, 1997. 44)

Penggunaan metode yang bervariasi dapat memotivasi siswa untuk aktif dalam pembelajaran Keaktifan siswa dalam pembelajaran merupakan faktor yang ikut andil menentukan keberhasilan belajar Dengan belajar aktif siswa akan memperoleh pengalaman belajar yang tertanam dalam bentuk pikiran, sehingga pengetahuan siswa tidak mudah lupa dan hilang.

Pemanfaatan Pembelajaran Matematika di SD

Dalam pembelajaran matematika di sekolah dasar umumnya situasi belajar kreatif lebih banyak menuntut siswa untuk aktif melakukan kegiatan fisik dan diskusi. Sebagai pengajar di kelas, guru tidak dapat menuntut siwa untuk duduk rapi dan diam ditempatnya masing masing. Guru harus lebih toleran dan menyadari karakteristik tiap siswanya, sehingga terjadi interaksi yang aktif dan kreatif antara siswa dan guru dalam pembelajaran.

Peran guru sebagai fasilitator harus terbuka, mendorong siswa untuk aktif belajar dapat menerima gagasan / pemikiran orang lain, memupuk siswa untuk dapat memberikan kritik membangun dan menerima perbedaan menurut waktu dan kecepatan setiap siswa dalam menuangkan idenya.

(5)

Penaksiran dan Pembulatan

Pembulatan artinya mengurangi cacah bilangan namun nilainya hampir sama Hasil yang diperoleh menjadi kurang akan tetapi akan lebih mudah digunakan. Taksiran merupakan perkiraan terdekat dan satu hasil operasi hitung. ( Utia Andayani, 2019 ).

METODE PENELITIAN

Tempat Waktu dan Subjek Penelitian

Penelitian dilaksanakan di kelas IV SD Negeri Rejosari 02 Kecamatan Bancak, Kabupaten Semarang Tahun Pelajaran 2017 / 2018 pada pelajaran matematika dengan materi penaksiran dan pembuatan dengan sub pokok bahasan Taksiran Tinggi, Taksiran Rendah dan Taksiran Baik. Adapun jadwal pelaksanaan perbaikan pembelajaran sebagai berikut :

1. Siklus I dilaksanakan pada hari Kamis, 27 Juli 2017 2. Siklus Il dilaksanakan pada hari Kamis, 3 Agustus 2017

Karakteristik Siswa Jumlah siswa kelas IV SD Negeri Rejosari 02 adalah 25 anak yang terdiri dari 13 siswa laki - laki dan 12 anak perempuan.Ketika proses pembelajaran berlangsung anak kurang bersemangat dan kurang konsentrasi, bahkan tidak mau diam karena kurangnya kesadaran diri dari siswa akan pelajaran matematika. Siswa berasal dari keluarga berlatarbelakang berbeda, baik dari segi ekonomi, sosial dan pendidikannya. Sehingga motivasi belajamya juga berbeda yang akhimya mempengaruhi konsentrasi maupun minat belajar siswa.

Deskripsi Per Siklus

Perbaikan ini merupakan hasil kolaburasi antara peneliti dengan teman sejawat serta tak lepas bimbingan dosen pembimbing yang bersifat situasional.

Kondisional dan kontekstual berdasarkan permasalahan yang muncul dalam kegiatan pembelajaran sehari - hari di sekolah. Dari hasil identifikasi dan perumusan masalah, maka peneliti akan menguraikan tentang siklus yang memiliki 4 tahap, yaitu : Perencanaan, tindakan, pengamatan, refleksi.

Siklus I

a. Perencanaan

1. Perencanaan tindakan pada siklus II didasarkan atas hasil refleksi pada siklus I pada tahap identifikasi masalah dan perumusan masalah. Peneliti bekerjasama dengan teman sejawat dan dosen pembimbing untuk mengungkap dan memperjelas permasalahan yang dihadapi untuk dijadikan jalan pemecahan masalah.

2. Merancang membentuk kelompok diskusi, setiap kelompok terdiri dari 4 atau 5 siswa dengan memperhatikan penyebaran kemampuan siswa, kecocokan, dan kedekatan alamat rumah.

3. Merancang pembelajaran dengan memberi materi bahan ajar yang harus dipelajari siswa secara mandiri atau dengan diskusi dengan kelompoknya, siswa sebagai wakil kelompoknya menyajikan materi pelajaran di depan kelas.

4. Menyusun lembar observasi dan merancang tes formatif.

(6)

b. Pelaksanaan

Langkah - langkah pelaksanaan perbaikan pembelajaran adalah : 1. Kegiatan awal

(10 Menit) 1. Apresiasi. 2. Menyampaikan tujuan pembelajaran untuk siswa.

2. Kegiatan inti

(35 Menit) Eksplorasi : Siswa diajak menyebutkan daftar harga barang di sekitar Guru mengungkapkan / menjelaskan materi yang akan di bahas dan ditangapi siswa. Elaborasi Guru membagi siswa menjadi 5 kelompok dan memberikan lembar diskusi. Konfirmasi Guru memberi penguatan berupa hadiah sederhana bagi kelompok yang mendapat jawaban yang benar. Guru bersama siswa menyimpulkan hasil dan bertanya jawab tentang hal yang belum diketahui siswa.

c. Pengamatan

Dari Pengamatan observer pada saat aktifitas belajar siswa ditemukan hal – hal sebagai berikut :

1. Hanya sebagian siswa yang aktif lainnya belum mampu mengikuti pelajaran dengan baik.

2. Masih banyak siswa yang tidak berani bertanya.

3. Sebagian kelompok belum mampu menyelesaikan tugas dengan baik Adapun Instrumen yang digunakan dalam melaksanakan penelitian tindakan kelas ini adalah: rencana perbaikan pembelajaran, lembar kerja siswa, analisa hasil ulangan tes formatif, lembar observasi.

d. Refleksi

Setelah selesai melakukan pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus I mata pelajaran matematika dengan materi Penaksiran dan Pembulatan Bilangan pada tanggal 27 Juli 2017 maka peneliti berdiskusi dengan teman sejawat dan di peroleh refleksi sebagai berikut : a. Penguasaan metode kurang efektif, guru harus mampu menciptakan suasana kelas yang kondusif sehingga siswa aktif dalam pembelajaran. b. Ada sebagian kelompok yang belum mampu menyelesaikan tugas dengan baik artinya penguasaan siswa terhadap materi masih kurang. c. Masih banyak siswa yang pasif dalam diskusi. d. Banyak siswa tidak berani menanyakan materi yang belum jelas.

Berdasarkan hasil pelaksanaan atas tindakan pembelajaran di kelas pada Siklus I. Selanjutnya peneliti merencanakan tindakan pembelajaran di kelas pada siklus II.

Siklus II

Berdasarkan hasil pelaksanaan atas tindakan pembelajaran di kelas pada Siklus L Selanjutnya peneliti merencanakan tindakan penbelajaran di kelas pada siklus II Di siklus Il ini peneliti berkolaborasi dengan teman sejawat menyusun 4 langkah yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi

a. Perencanaan

1. Peneliti melakukan diskusi dengan teman wat um memperjelas permasalahan yang dihadapi dan mencari upaya pemecahan

(7)

2. Menetapkan susunan kelompok masih cukup efektif maka tidak perlu di ganti

3. Mengecek kembali lembar observasi yang difokuskan pada kegiatan guru dan aktifitas siswa

4. Memancing tes formatif b. Pelaksanaan

Langkah-langkah pelaksanaan perbaikan pembelajaran adalah 1. Kegiatan awal (10 menit)

Apresiasi, menyampaikan tujuan pembelajaran 2. Kegiatan inti (35 menit)

1) Eksplorasi

Guru mengemukakan konsep permasalahan yang akan ditanggapi oleh siswa menggunakan permasalahan yang mempunyai alternatif jawaban

2) Elaborasi

Guru membagi siswa menjadi kelompok yang terdiri dari 2 - 3 siswa tiap kelompok menginventarisasi / mencatat alternatif jawaban hasil diskusi, tiap kelompok membaca hasil diskusinya

3) Konfirmasi

Guna memben pujian terhadap hasil kerja siswa, membuat kesimpulan mencatat alternatif jawaban hasil diskusi

3. Kegiatan akhir (15 menit)

Siswa diberi kesempatan bertanya pada materi yang belum jelas mengerjakan tugas individu menyimpulkan materi pelajaran.

c. Pengamatan

Penelitian terlaksana atas kerjasama antara peneliti, temans sejawat, pembimbing, kepala sekolah dan siswa kelas IV SD Negeri Rejosari 02

1) Observer mengamati kegiatan guru dan aktifitas siswa pada pembelajaran dengan metode Mind Mapping

2) Observer mencatat hal hal atau tempat pada saat proses pembelajaran berlangsung

Duri pengamatan terhadap guru di peroleh temuan sebagai berikut 1. Guru telah melaksanakan pembelajaran sesuai dengan rencana

2. Metode yang digunakan menjadikan siswa lebih aktif

Adapun instruksi yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini adalah rencana perbaikan pembelajaran Lembar kerja siswa, lembar tes formatif analisa Hasil ulangan tes formatif lembar observasi

d. Refleksi

Setelah selesai mengadakan pelaksanakan perbaikan pembelajaran siklus II, di peroleh hasil refleksi sebagai berikut:

a. Guru telah melaksanakan pembelajaran sesuai rencana yang di buat.

b. Semua siswa ikut aktif dalam proses diskusi

Secara umum proses pembelajaran sudah baik, siklus Il cukup berhasil karena hasil belajar siswa sudah memenuhi ketuntasan.

(8)

Teknik Pengumpulan Data

Observasi atau pengamatan merupakan suatu teknik atau cara mengumpulkan data dengan melakukan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melaksanakan observasi, diantaranya :

1. Memperhatikan fokus penelitian, kegiatan apa yang harus diamati, baik yang umum maupun yang khusus.

2. Menentukan kriteria yang diamati, dengan terlebih dahulu mendiskusikan ukuranukuran apa yang digunakan dalam pengamatan.

Langkah-langkah Observasi Dalam melaksanakan observasi ada beberapa langkah/ fase utama yang harus ditempuh, antara lain :

a. Pertemuan Perencanaan

Dalam menyusun rencana observasi perlu diadakan pertemuan bersama untuk menentukan urutan kegiatan observasi dan menyamakan persepsi antara 2 observer (pengamat) dan observe (yang diamati) mengenai fokus permasalahan yang akan diamati.

b. Observasi Kelas

Dalam fase ini, observer mengamati proses pembelajaran dan mengumpulkan data mengenai segala sesuatu yang terjadi pada proses pembelajaran tersebut, baik yang terjadi pada siswa maupun situasi di dalam kelas.

c. Diskusi Balikan

Pada fase ini, guru sebagai peneliti bersama dengan pengamat mempelajari data hasil observasi untuk dijadikan catatan lapangan dan mendiskusikan langkah-langkah selanjutnya. Kegiatan ini harus dilaksanakan dalam situasi saling mendukung (mutually supportive) serta didasarkan pada informasi yang diperoleh selama observasi.

Jenis data

Adapun data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Hasil pekerjaan peserta didik dalam menyelesaikan soal yang diberikan peneliti tentang penaksisan dn pembulatan bilangan. Hasil pekerjaan tersebut digunakan untuk melihat kemajuan pemahaman siswa terhadap materi.

b. Hasil wawancara antara peneliti dengan peserta didik yang dijadikan subyek penelitian mengenai pemahaman konsep penaksiran dan pembulatan bilangan.

c. Hasil dokumentasi yang diperoleh dari pengamatan peneliti selama proses pembelajaran berlangsung, kegiatan ini bertujuan untuk merekam kegiatan peserta didik dan guru dalam proses pembelajaran.

Teknik Analisis Data

Analisis data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikan ke dalam suatu pola, kategori dan satuan uraian dasar. Sedangkan menurut Suprayogo dalam Tanzeh analisis data adalah rangkaian kegiatan penelaahan, pengelompokan, sistematisasi, penafsiran dan verifikasi data agar sebuah fenomena memiliki nilai sosial, akademis, dan ilmiah.

(9)

Analisis data dalam penelitian ini dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan, selama di lapangan dan setelah selesai di lapangan. Analisis data ini dilakukan setelah data yang diperoleh dari sample melalui instrumen yang dipilih dan akan digunakan untuk menjawab masalah dalam penelitian atau untuk menguji hipotesa yang diajukan melalui penyajian data. Data yang terkumpul tidak mesti seluruhnya disajikan dalam pelaporan penelitian,penyajian data ini adalah dalam rangka untuk memperlihatkan data kepada para pembaca tentang realitas yang sebenarnya terjadi sesuai dengan fokus dan tema penelitian, oleh karena itu data yang disajikan dalam penelitian tentunya adalah data yang terkait tengan tema bahasan saja yang perlu disajikan. Aktifitas dalam analisis data yaitu reduksi data (data reduction), penyajian data (data display), dan penarikan kesimpulan / verifikasi data (conclusion drawing / verification).

1. Reduksi Data

Data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak, untuk itu maka perlu dicatat secara teliti dan rinci. Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya dan mencarinya bila diperlukan.

2. Menyajikan Data

Penyajian data dilakukan dalam rangka mengorganisasikan hasil reduksi dengan cara menyusun secara narasi sekumpulan informasi yang telah diperoleh dari hasil reduksi, sehingga dapat memberikan kemungkinan penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Data yang sudah terorganisir ini dideskripsikan sehingga bermakna baik dalam bentuk narasi, grafis maupun tabel.

3. Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi

Penarikan kesimpulan dan verifikasi adalah memberikan kesimpulan terhadap hasil penafsiran dan evaluasi. Kegiatan ini juga mencakup pencarian makna data serta pemberian penjelasan. Selanjutnya dilakukan kegiatan verifikasi yaitu kegiatan mencari validitas kesimpulan dan kecocokan makna- makna yang muncul dari data. (Ngalim Purwanto, 2016)

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan identifikasi dan perumusan masalah, peneliti akan menguraikan secara singkat tentang prosedur kerja dalam penelitian tindakan yang dilaksanakan di dalam kelas, Tahapan penelitian ini meliputi 2 siklus. Dalam satu siklus terdiri atas tahapan perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi.

1. Data Tentang Perencanaan

Peneliti dalam mengidentifikasi dan merumuskan masalah ini berkolaborasi dengan teman sejawat dan pembimbing untuk mengungkap dan memperjelas permasalahan yang penulis hadapi sehingga dapat dicarikan pemecahan yang tepat.

Merancang pembelajaran yang menitik beratkan pada model pembelajaran Mind Mapping Menyusun lembar observasi sebagai panduan

(10)

observer dalam mengobserver pelaksanaan perbaikan pembelajaran. Merancang test formatif.

2. Data Tentang Pelaksanaan

Perbaikan pembelajaran pada siklus I dilaksanakan pada hari Kamis, 27 Juli 2017, dengan materi yang diajarkan adalah penaksiran dan pembulatan bilangan dengan menggunakan Rencana Perbaikan Pembelajaran siklus I . Dari analisa data hasil evaluasi siswa kelas IV hanya 14 siswa yang mencapai nilai tuntas (56 %) dengan nilai terendah 40

Untuk mencapai keberhasilan pada proses pembelajaran sangatlah sulit.

Banyak sekali kendala-kendala yang harus dihadapi guru sebagai pelaksana pembelajaran. Dari kajian teori yang dapat menentukan berhasil dan tidaknya pembelajaran antara lain : penguasaan guru terhadap materi, pemilihan metode, strategi guru, penggunaan alat peraga, dan teknik pembelajaran.

Siklus I

Sebelum perbaikan pembelajaran siklus I dilaksanakan pemahaman siswa tentang materi penaksiran dan pembulatan bilangan masih kurang Hasil Evaluasi siswa masih rendah. Hal ini disebabkan karena matematika selalu dianggap pelajaran yang sulit dan membosankan. Sehingga kebanyakan siswa pasif dan tidak tertarik mengikuti pelajaran. Akhirmya guru menerapkan model pembelajaran Mind Mapping sebagai variasi dalam menyampaikan pembelajarannya. Hal ini menjadikan siswa tertarik dan aktif, berani bertanya, siswa yang pandai dapat bertindak sebagai tutor sebaya. Pada siklus I siswa yang mencaoai nilai tuntas 56 % dan masih 44% prosentase siswa yang masih dibawaah nilai tuntas. Hal ini menjadikan dasar peneliti untuk memperbaiki pembelajaran dengan melakukan perbaikan siklus II

Gambar 1. Diagram Batang Hasil Evaluasi Siklus I

Sumber : Hasil Penelitian, diolah (2017)

Siklus II

Dari hasil diskusi dengan teman sejawat dan konsultasi dengan pembimbing, peneliti perlu mengadakan perbaikan pembelajaran siklus II, pada siklus II peneliti merancang pembelajaran dengan memokuskan pada keaktifan siswa dalam pembelajaran dengan model Mind Mapping. Dalam pembentukan kelompok, guru membagi kelompok dengan penyebaran siswa yang tepat. Siswa yang pandai bisa menjadi tutor sebaya pada kelompok. Setelah diadakan perbaikan pembelajaran siklus II siswa yang memperoleh nilai mencapai ketuntasan

(11)

sebanyak 20 dari 25 siswa telah mencapai nilai tuntas, sehingga dapat dikatakan standar ketuntasan belajar klasikal telah tercapai.

Gambar 2. Diagram Batang Hasil Evaluasi Siklus II

Sumber : Hasil Penelitian, diolah (2017)

Secara umum proses pembelajaran sudah baik, siklus Il cukup berhasil karena hasil belajar siswa sudah memenuhi ketuntasan. Hipotesa yang telah dirumuskan terbukti, temuan hasil refleksi maupun evaluasi pada siklus II.

Ternyata dengan menggunakan metode Mind Mapping dalam pengajaran materi penaksiran dan pembulatan bilangan pemahaman siswa kelas IV SD Negeri Rejosari 02, Kecamatan Bancak, Kabupaten Semarang Tahun pelajaran 2017/2018 dim ditingkatkan. Hal tersebut terbukti dari hanil analisa tes evaluasi yang dilakukan setelah semester II, siswa yang mencapai nilai tuntas sebanyak 80 % dengan nilai rata ata kelas 83,2.

KESIMPULAN DN SARAN Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan hasil penelitian, dapat ditarik kesimpulan bahwa dengan Penerapan Model Mind Mapping dalam pembelajaran matematika membuat siswa aktif dan termotivasi sehingga pemahaman siswa pada materi penaksiran dan pembulatan bilangan di kelas IV SD Negeri Rejosari 02 dapat ditingkatkan.

Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilakukan, agar hasil belajar pada mata pelajaran matematika materi penaksiran dan pembulatan dapat berhasil optimal, hendaknya menggunakan langkah langkah sebagai berikut.

1. Dalam penyampaian materi pelajaran hendaknya memperhatikan penggunaan metode pengajaran yang tepat, sehingga materi yang di sampaikan mudah dipahami.

2. Guru hendaknya memberi banyak contoh soal. 3. Dalam pembagian kelompok, harus diperhatikan penyebaran siswa, sehingga anak yang pandai dapat bertindak sebagai tutor sebaya.

Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan agar hasil pada mata pelajaran matematika materi penaksiran dan pembulatan dapat berhasil optimal. Hendaknya menggunakan langkah – langkah sebagai berikut

(12)

1. Dalam penyampaian materi hendaknya memperhatikan penggunakan metode pengajaran yang tepat, sehingga materi yang disampaikan dapat dipahami.

2. Hendaknya memberi banyak contoh soal

3. Dalam pembagian kelompok, harus diperhatikan penyebaran siswa, sehingga anak yang pandai dapat bertindak tutor sebelahnya.

DAFTAR PUSTAKA

Chusnul Nurroeni, 2013. Keefektifan Penggunaan Model Mind Mapping Terhadap Aktivitas dan Hasil Belajar IPA, Semarang : Universitas Negeri Semarang.

Gatot Muhsetyo, dkk. 2017. Pembelajaran Matematika SD, Jakarta : Universitas Terbuka.

Denny Setiawan, dkk. 2013. Komputer dan Media Pembelajaran, Jakarta:

Universitas Terbuka.

TIM FKIP. 2017. Pemantapan Kemampuan Profesional, Universitas Terbuka.

Udin S. Wintaputra, dkk. 2017. Teori Belajar dan Pembelajaran, Jakarta : Universitas Terbuka.

Djam'an Satori, dkk. 2015, Profesi Keguruan, Jakarta : Universitas Terbuka.

Suprayekti, dkk. 2013. Pembaharuan Pembealjaran di SD. Jakarta : Universitas Terbuka.

Nur Haryanto, HM Akib Hamid. 2013. Statistika Dasar, Jakarta : Universitas Jakarta.

Utia Andayani, 2019 Peningkatan Hasil Belajar Siswa Materi Penaksiran dan Pembulatan melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tourn ament (TGT) Siswa Kelas IV-1 MI Islamiyah Kramat Jegu Sidoarjo, Suraba ya : UIN Sunan Ampel Surabaya

Ngalim Purwanto. 2016. Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, Bandung: Remaja Rosdakarya,

Gambar

Gambar  1. Diagram  Batang Hasil Evaluasi Siklus I
Gambar  2. Diagram  Batang Hasil Evaluasi Siklus II

Referensi

Dokumen terkait

Salah satu kebiasaan belajar yang baik dapat dideskripsikan dengan belajar secara efisien (mantap) yang ditampakan pada komitmen yang tinggi untuk memanfaatkan

Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus I dilaksanakan pada tanggal 11 Maret 2020 di kelas IV MI Darul Ulum Sidojangkung dengan jumlah siswa 20 siswa. Dalam

Berdasarkan penilaian pada ujicoba perorangan, ujicoba kelompok kecil dan ujicoba kelompok besar menujukan bahwa lembar kerja siswa yang dikembangan layak digunakan

Lebih lanjut, Djohar (2007:1285) mengemukakan bahwa pendidikan kejuruan adala h suatu program pendidikan yang menyiapkan individu peserta didik menjadi tenaga kerja

Ada beberapa simpulan yang dapat ditarik dari kegiatan penelitian tindakan kelas ini antara lain 1) Peserta didik akan belajar matematika dengan kreatif jika guru

Sehubungan dengan hal tersebut, Hamruni, (2012:2) mengemukakan “Strategi dalam kegiatan belajar-mengajar adalah seni atau ilmu untuk membawakan pengajaran di kelas

Menurut Pintrich (2014, dalam Yunas dan Rachmawati 2018) motivasi belajar dapat diartikan sebagai memunculkan usaha yang lebih, selama pelajaran berlangsung dan

Pada siklus II, proses kegiatan belajar mengajar telah mengalami peningkatan, peneliti dalam proses pembelajaran sudah menggunakan media gambar seri hanya saja