Melalui Pendekatan
Pembelajaan Berbasis Kompetensi
Mata Pelajaran Bahasa Mandarin
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN MENENGAH
DIREKTORAT PSMA
2013
KATA PENGANTAR
Rasa syukur kami panjatkan ke hadiran Tuhan Yang Maha Kuasa, karena berkat kemurahan-Nya naskah Pendukung pembelajaran Kurikulum 2013 ini dapat diselesaikan. Naskah ini kami beri judul “Pembelajaran Berbasis Kompetensi Mata Pelajaran dengan Pendekatan Saintifik”. Hal ini disesuaikan dengan tuntutan Kurikulum 2013 yang menekankan pada pembelajaran dengan pendekatan ilmiah (saintifik) dan penilaian autentik.
pembelajaran adalah suatu kegiatan yang mengandung terjadinya proses penguasaan pengetahuan, keterampilan dan sikap oleh subjek yang sedang belajar. Pelaksanaan pembelajaran akan berjalan efektif apabila didahului dengan penyiapan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang dikembangkan oleh guru baik secara individual maupun kelompok yang mengacu pada Silabus. Sehubungan hal tersebut, maka naskah ini disusun dalam rangka memenuhi kebutuhan guru yang terkait dengan pengembangan persiapan pembelajaran.
Semoga naskah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, untuk memfasilitasi guru secara individual dan kelompok dalam mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan melaksanakan pembelajaran dalam berbagai modus, strategi, dan model untuk muatan dan/atau mata pelajaran yang diampunya.
Pada kesempatan ini kami menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada semua pihak yang telah terlibat dalam penyusunan naskah ini, yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu. Semoga Tuhan Yang Maha Esa membalas semua kebaikan dan jerih payah saudara-saudara sekalian.
Dalam penyusunan naskah ini, kami akui masih jauh dari sempurna. Untuk itu saran dan kritik yang membangun kearah penyempurnaan naskah Pendukung pembelajaran Kurikulum 2013 ini kami terima dengan tangan terbuka.
DAFTAR ISI
COVER ---i
KATA PENGANTAR ---ii
DAFTAR ISI ---iii
BAB I : PENDAHULUAN ---1
A. Latar Belakang ---1
B. Tujuan ---2
C.Ruang Lingkup ---2
D. Landasan Hukum---3
BAB II : PEMBELAJARAN KOMPETENSI ---4
A. Pendekatan Pembelajaran Saintifik ---5
B.Penilaian Autentik ---8
C. Penilaian Hasil Belajar---10
BAB III : ANALISIS KOMPETENSI ---12
A. Prosedur Analisis ---12
B.Hasil Analisis Kompetensi Dasar ---19
BAB IV : PENUTUP ---41
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Selanjutnya dalam rangka mencapai tujuan tersebut disusun standar pendidikan nasional, terdiri atas: standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, standar sarana prasarana, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian.
Dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses disebutkan bahwa setiap pendidik pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Untuk itu setiap satuan pendidikan perlu melakukan perencanaan pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran serta penilaian proses pembelajaran dengan strategi yang benar untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas ketercapaian kompetensi lulusan.
pembelajaran didahului dengan penyiapan RPP yang dikembangkan oleh guru baik secara individual maupun kelompok yang mengacu pada Silabus. Sedangkan Strategi penilaian disiapkan untuk memfasilitasi guru dalam mengembangkan pendekatan, teknik dan instrumen penilaian hasil belajar dengan pendekatan autentik. Penilaian memungkinkan para pendidik mampu menerapkan program remedial bagi peserta didik yang tergolong pebelajar lambat dan program pengayaan bagi peserta didik yang termasuk kategori pebelajar cepat.
Pemerintah telah menetapkan pelaksanaan kurikulum 2013 secara terbatas pada 1.270 SMA di 33 provinsi pada 295 kabupaten/kota mulai tahun pelajaran 2013/2014 untuk kelas X. Untuk mendukung implementasi pelaksanaan kurikulum tersebut pemerintah telah melatih guru inti dan guru sasaran serta menyediakan silabus, buku guru, dan buku siswa untuk mata pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia, dan Sejarah. Sedangkan untuk mata pelajaran lainnya diharapkan dapat memanfaatkan buku-buku yang ada (dari kurikulum 2006 dan buku sebelumnya) mulai menerapkan kurikulum 2013 mengacu pada silabus yang telah disediakan.
Untuk menyiapkan kemampuan guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran saintifik serta melakukan penilaiain autentik menggunakan silabus sebagai acuan, perlu penjabaran operasional antara lain dalam mengembangkan materi pembelajaran, mengembangkan langkah pembelajaran serta merancang dan melaksanakan penilaian autentik. Oleh karena itu diperlukan rambu-rambu yang bisa memfasilitasi guru secara individual dan kelompok dalam mengembangkan dan melaksanakan pembelajaran dalam berbagai modus, strategi, dan model untuk muatan dan/atau mata pelajaran yang diampunya.
B. Tujuan
Secara umum tujuan penulisan naskah ini adalah membantu guru mata pelajaran dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 dengan memafaatkan buku sumber yang ada. Secara khusus naskah ini bertujuan: Memberikan rambu-rambu bagi guru dalam menganalisis kompetensi inti dan kompetensi dasar
1. Mengembangkan materi pembelajaran berdasarkan materi pokok dari silabus mata pelajaran
3. Mengembangkan indikator pencapaian dan penilaian 4. Merancang penilaian otentik
C. Ruang Lingkup
Ruang lingkup buku ini terdiri atas:
1. Penjelasan dan langkah-langkah pembelajaran saintifik 2. Langkah-langkah analisis kompetensi;
3. Penilaian otentik; dan
4. Hasil analisis kompetensi untuk membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
D. Landasan Hukum
1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
2. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
3. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 54 Tahun 2013 tentang Standar Kompetensi Lulusan
4. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 64 Tahun 2013 tentang Standar Isi Pendidikan Dasar dan Menengah
5. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses
6. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 66 Tahun 2013 tentang Standar Penilaian
7. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 69 Tahun 2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum SMA-MA
8. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 81A tentang Implementasi Kurikulum
BAB II
PEMBELAJARAN KOMPETENSI
Pembelajaran kurikulum 2013 adalah pembelajaran kompetensi dengan memperkuat proses pembelajaran dan penilaian otentikautentik untuk mencapai kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan. Penguatan proses pembelajaran dilakukan melalui pendekatan saintifik, yaitu pembelajaran yang mendorong siswa lebih mampu dalam mengobservasimengamati,
bertanyamenanya, mencoba/mengumpulkan data, mengasosiasi/bernalarmenalar, dan mengomunikasikanmengomunikasikan.
Karakteristik pembelajaran pada setiap satuan pendidikan terkait erat pada Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi. Standar Kompetensi Lulusan memberikan kerangka konseptual tentang sasaran pembelajaran yang harus dicapai. Standar Isi memberikan kerangka konseptual tentang kegiatan belajar dan pembelajaran yang diturunkan dari tingkat kompetensi dan ruang lingkup materi.
Sesuai dengan Standar Kompetensi Lulusan, sasaran pembelajaran mencakup pengembangan ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dielaborasi untuk setiap satuan pendidikan. Ketiga ranah kompetensi tersebut memiliki lintasan perolehan (proses psikologis) yang berbeda. Sikap diperoleh melalui aktivitas menerima, menjalankan, menghargai, menghayati, dan mengamalkan. Pengetahuan diperoleh melalui aktivitas mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta. Keterampilan diperoleh melalui aktivitas mengamati, menanya, mencoba, menalar, menyaji, dan mencipta. Karaktersitik kompetensi beserta perbedaan lintasan perolehan turut serta mempengaruhi karakteristik standar proses.
Untuk memperkuat Penguatan pendekatan saintifik perlu diterapkan pembelajaran berbasis penyingkapan/penelitian (discovery/inquiry learning).
Untuk mendorong kemampuan Untuk mendorong kemampuan peserta didik menghasilkan karya kontekstual, baik individual maupun kelompok maka sangat disarankan menggunakan pendekatan pembelajaran yang menghasilkan karya berbasis pemecahan masalah (project based learning).
didik mencari tahu; (2) dari guru sebagai satu-satunya sumber belajar menjadi belajar berbasis aneka sumber belajar; (3) dari pendekatan tekstual menuju
menjadi pendekatan proses sebagai penguatan penggunaan pendekatan ilmiah; (4) dari pembelajaran berbasis konten menuju menjadi pembelajaran berbasis kompetensi; (5) dari pembelajaran parsial menuju menjadi pembelajaran terpadu; (6) daripembelajaran yang menekankan jawaban tunggal menuju menjadi pembelajaran dengan jawaban yang kebenarannya multi dimensi; (7) daripembelajaran verbalisme menuju menjadi keterampilan aplikatif; (8) peningkatan dan keseimbangan antara keterampilan fisikal (hardskills) dan keterampilan mental (softskills); (9) pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sebagai pebelajar sepanjang hayat; (10) pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan (ing ngarso sung tulodo), membangun kemauan (ing madyo mangun karso), dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran (tut wuri handayani); (11) pembelajaranyang berlangsung di rumah, di sekolah, dan di masyarakat; (12) pembelajaran yang menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja adalah siswa, dan di mana saja adalah kelas; (13) pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran; dan (14) pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang budaya peserta didik.
Penilaian otentikautentik merupakan penilaian yang dilakukan secara komprehensif untuk menilai mulai dari masukan (input), proses, dan keluaran (output) pembelajaran, yang meliputi ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Penilaian otentikautentik menilai kesiapan siswa, serta proses dan hasil belajar secara utuh. Keterpaduan penilaian ketiga komponen (input – proses – output) tersebut akan menggambarkan kapasitas, gaya, dan hasil belajar peserta didik, bahkan mampu menghasilkan dampak instruksional (instructional effect) dan dampak pengiring (nurturant effect) dari pembelajaran.
A. Pendekatan Pembelajaran saintifik
pembelajaran yang dibutuhkan adalah yang mampu menghasilkan kemampuan untuk belajar (Joice & Weil: 1996), bukan saja diperolehnya sejumlah pengetahuan, keterampilan, dan sikap, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana pengetahuan, keterampilan, dan sikap itu diperoleh peserta didik (Zamroni: , 2000; & Semiawan: , 1998).
Pembelajaran saintifik tidak hanya memandang hasil belajar sebagai muara akhir, namum proses pembelajaran dipandang sangat penting. Oleh karena itu pembelajaran saintifik menekankan pada keterampilan proses. Model pembelajaran berbasis peningkatan keterampilan proses sains adalah model pembelajaran yang mengintegrasikan keterampilan proses sains ke dalam sistem penyajian materi secara terpadu (Beyer: , 1991). Model ini menekankan pada proses pencarian pengetahuan dari pada transfer pengetahuan, peserta didik dipandang sebagai subjek belajar yang perlu dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran, guru hanyalah seorang fasilitator yang membimbing dan mengkoordinasikan kegiatan belajar. Dalam
Dalam model ini peserta didik diajak untuk melakukan proses pencarian pengetahuan berkenaan dengan materi pelajaran melalui berbagai aktivitas proses sains sebagaimana dilakukan oleh para ilmuwan (scientist) dalam melakukan penyelidikan ilmiah (Nur: 1998), dengan demikian peserta didik diarahkan untuk menemukan sendiri berbagai fakta, membangun konsep, dan nilai-nilai baru yang diperlukan untuk kehidupannya. Fokus proses pembelajaran diarahkan pada pengembangan keterampilan siswa dalam memproseskan pengetahuan, menemukan dan mengembangkan sendiri fakta, konsep, dan nilai-nilai yang diperlukan (Semiawan: 1992).
Model pembelajaran berbasis keterampilan proses sains berpotensi membangun kompetensi dasar hidup siswa melalui pengembangan keterampilan proses sains, sikap ilmiah, dan proses konstruksi pengetahuan secara bertahap. Keterampilan proses sains pada hakikatnya adalah kemampuan dasar untuk belajar (basic learning tools) yaitu kemampuan yang berfungsi untuk membentuk landasan pada setiap individu dalam mengembangkan diri (Chain and Evans: 1990).
Sesuai dengan karakteristik bahasa sebagai alat komunikasi, pembelajaran bahasa tidak hanya mempelajari ilmu bahasa yang terkait dengan gramatika, tatacara membaca atau menulis saja, tetapi harus merefleksikan kompetensi sikap berbahasa yang santun, cara berfikir ilmiah, dan keterampilan berbahasa yang komunikatif baik lisan maupun tulisan, baik aktif maupun pasif melalui keterampilan mendengar, berbicara, membaca dan menulis. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan melalui proses mengamati, menanya, mengeksplor data/mengumpulkan informasi, mengasosiasi, dan mengomunikasikan.
(1) Kegiatan mengamati bertujuan agar pembelajaran berkaitan erat dengan konteks situasi nyata yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Proses mengamati fakta atau fenomena mencakup mencari informasi, melihat, mendengar, membaca, dan atau menyimak.
(2) Kegiatan menanya dilakukan sebagai salah satu proses membangun pengetahuan siswa dalam bentuk konsep, prinsip, prosedur, hukum dan terori, hingga berpikir metakognitif. Tujuannnya agar siswa memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi (critical thingking skill) secara kritis, logis, dan sistematis. Proses menanya dilakukan melalui kegiatan diksusi dan kerja kelompok serta diskusi kelas. Praktik diskusi kelompok memberi ruang kebebasan mengemukakan ide/gagasan dengan bahasa sendiri, termasuk dengan menggunakan bahasa daerah.
(4) Kegiatan mengasosiasi bertujuan untuk membangun kemampuan berpikir dan bersikap ilmiah. Kegiatan dapat dirancang oleh guru melalui situasi yang direkayasa dalam kegiatan tertentu sehingga siswa melakukan aktifitas antara lain menganalisis data, mengelompokan, membuat kategori, menyimpulkan, dan memprediksi/mengestimasi dengan memanfaatkan lembar kerja diskusi atau praktik.
(5) Kegiatan mengomunikasikan adalah sarana untuk menyampaikan hasil konseptualisasi dalam bentuk lisan, tulisan, gambar/sketsa, diagram, atau grafik. Kegiatan ini dilakukan agar siswa mampu mengomunikasikan pengetahuan, keterampilan, dan penerapannya, serta kreasi siswa melalui presentasi, membuat laporan, dan/ atau unjuk karya.
Tantangan baru dinamika kehidupan menuntut aktifitas pembelajaran bukan sekedar mengulang fakta dan fenomena keseharian yang dapat diduga melainkan mampu menjangkau pada situasi baru yang tak terduga. Dengan dukungan kemajuan teknologi dan seni, pembelajaran diharapkan mendorong kemampuan berpikir siswa hingga situasi baru yang tak terduga. Agar pembelajaran terus menerus membangkitkan kreativitas dan keingintahuan siswa kegiatan pembelajaran kompetensi dilakukan dengan langkah sebagai berikut
(1)Menyajikan atau mengajak siswa mengamati fakta atau fenomena baik secara langsung dan/ atau rekonstruksi sehingga siswa mencari informasi, membaca, melihat, mendengar, atau menyimak fakta/fenomena tersebut (2)Memfasilitasi diskusi dan Tanya jawab dalam menemukan konsep, prinsip,
hukum,dan teori
(3)Mendorong siswa aktif mengeksplor data melaui kegiatan mengumpulkan jawaban/data dari pertanyaan, dan membaca sumber data lain
(4)Memaksimalkan pemanfaatan tekonologi dalam mengolah data, mengembangkan penalaran dan memprediksi fenomena
(5)Memberi kebebasan dan tantangan kreativitas dalam presentasi dengan aplikasi baru yang terduga sampai tak terduga
B. Penilaian Autentik
sebagai proses evaluasi untuk mengukur kinerja, prestasi, motivasi, dan sikap-sikap peserta didik pada aktivitas yang relevan dalam pembelajaran; (2) Newton Public School, mengartikan penilaian otentikautentik sebagai penilaian atas produk dan kinerja yang berhubungan dengan pengalaman kehidupan nyata peserta didik; dan (3) Wiggins mendefinisikan penilaian
otentikautentik sebagai upaya pemberian tugas kepada peserta didik yang mencerminkan prioritas dan tantangan yang ditemukan dalam aktivitas-aktivitas pembelajaran, seperti meneliti, menulis, merevisi dan membahas artikel, memberikan analisis oral terhadap peristiwa, berkolaborasi dengan antar sesama melalui debat, dan sebagainya.
Penilaian otentikautentik memiliki relevansi kuat terhadap pendekatan ilmiah (scientific approach) dalam pembelajaran sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013. Karena penilaian semacam ini mampu menggambarkan peningkatan hasil belajar peserta didik, baik dalam rangka mengobservasi, menalar, mencoba, membangun jejaring, dan lain-lain. Penilaian otentikautentik cenderung fokus pada tugas-tugas kompleks atau kontekstual, memungkinkan peserta didik untuk menunjukkan kompetensi mereka yang meliputi sikap, pengetahuan, dan keterampilan.Karenanya, penilaian
otentikautentik sangat relevan dengan pendekatan saintifik dalam pembelajaran di SMA.
Penilaian otentikautentik merupakan pendekatan dan instrumen asesmen yang memberikan kesempatan yang luas kepada peserta didik untuk menerapkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang sudah dimilikinya dalam bentuk tugas: membaca dan meringkasnya, eksperimen, mengamati, survei, projek, makalah, membuat multi media, membuat karangan, dan diskusi kelas.
Kata lain dari penilaian Penilaian otentikautentik adalah penilaian kinerja, termasuk di dalamnya penilaian portofolio dan penilaian projek. Penilaian
Hasil penilaian otentikautentik dapat digunakan oleh pendidik untuk merencanakan program perbaikan (remedial), pengayaan (enrichment), atau pelayanan konseling. Selain itu, hasil penilaian otentikautentik dapat digunakan sebagai bahan untuk memperbaiki proses pembelajaran yang memenuhi Standar Penilaian Pendidikan.
Penilaian autentik merupakan penilaian yang dilakukan secara komprehensif untuk menilai mulai dari masukan (input), proses, dan keluaran (output) pembelajaran mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Penilaian sikap dilakukan melalui observasi/pengamatan menggunakan jurnal, penilaian diri, dan/atau penilaian antar teman. Penilaian pengetahuan melalui tes tertulis, tes lisan, dan/atau penugasan. Penilaian keterampilan melalui tes praktik, penilaian proyek, dan penilaian portofolio. Implementasi penilaian autentik didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut;
(1)BAB II. PEMBELAJARAN KOMPETENSI (2)
(3) Kurikulum 2013 adalah penyempurnaan kurikulum berbasis kompetensi yang telah dirintis sejak tahun 2004 melalui piloting beberapa sekolah, dan secara operasional dikembangkan menjadi KTSP sejak tahun 2006. Oleh karena itu pembelajaran kurikulum 2013 adalah pembelajaran kompetensi dengan memperkuat proses pembelajaran dan penilaian otentikautentik untuk mencapai kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan. Penguatan proses pembelajaran dilakukan melalui pendekatan saintifik, yaitu pembelajaran yang mendorong siswa lebih mampu dalam mengobservasi, bertanya, mengeksplor, bernalar, dan mengomunikasikan atau mempresentasikan.
(4)
(5) Pendekatan Pembelajaran saintifik
adalah bagaimana pengetahuan, keterampilan, dan sikap itu diperoleh siswa (Zamroni: 2000; Semiawan: 1998).
(7) Pembelajaran saintifik tidak hanya memandang hasil belajar sebagai muara akhir, namum proses pembelajaran dipandang sangat penting. Oleh karena itu pembelajaran saintifik menekankan pada keterampilan proses. Model pembelajaran berbasis peningkatan keterampilan proses sains adalah model pembelajaran yang mengintegrasikan keterampilan proses sains ke dalam sistem penyajian materi secara terpadu (Beyer: 1991). Model ini menekankan pada proses pencarian pengetahuan dari pada transfer pengetahuan, siswa dipandang sebagai subjek belajar yang perlu dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran, guru hanyalah seorang fasilitator yang membimbing dan mengkoordinasikan kegiatan belajar siswa.
(8) Dalam model ini siswa diajak untuk melakukan proses pencarian pengetahuan berkenaan dengan materi pelajaran melalui berbagai aktivitas proses sains sebagaimana dilakukan oleh para ilmuwan (scientist) dalam melakukan penyelidikan ilmiah (Nur: 1998), dengan demikian siswa diarahkan untuk menemukan sendiri berbagai fakta, membangun konsep, dan nilai-nilai baru yang diperlukan untuk kehidupannya. Fokus proses pembelajaran diarahkan pada pengembangan keterampilan siswa dalam memproseskan pengetahuan, menemukan dan mengembangkan sendiri fakta, konsep, dan nilai-nilai yang diperlukan (Semiawan: 1992).
(9) Di dalam model ini juga tercakup penemuan makna (meanings), organisasi, dan struktur dari ide atau gagasan, sehingga secara bertahap siswa belajar bagaimana mengorganisasikan dan melakukan penelitian. Pembelajaran berbasis keterampilan proses sains menekankan pada kemampuan siswa dalam menemukan sendiri (discover) pengetahuan yang didasarkan atas pengalaman belajar, hukum-hukum, prinsip-prinsip dan generalisasi, sehingga lebih memberikan kesempatan bagi berkembangnya keterampilan berpikir tingkat tinggi (Houston: 1988). Dengan demikian siswa lebih diberdayakan sebagai subjek belajar yang harus berperan aktif dalam memburu informasi dari berbagai sumber belajar, dan guru lebih berperan sebagai organisator dan fasilitator pembelajaran.
keterampilan proses sains, sikap ilmiah, dan proses konstruksi pengetahuan secara bertahap. Keterampilan proses sains pada hakikatnya adalah kemampuan dasar untuk belajar (basic learning tools) yaitu kemampuan yang berfungsi untuk membentuk landasan pada setiap individu dalam mengembangkan diri (Chain and Evans: 1990).
(11) Sesuai dengan karakteristik bahasa sebagai alat komunikasi, pembelajaran bahasa tidak hanya mempelajari ilmu bahasa yang terkait dengan gramatika, tatacara membaca atau menulis saja, tetapi harus merefleksikan kompetensi sikap berbahasa yang santun, cara berfikir ilmiah, dan keterampilan berbahasa yang komunikatif baik lisan maupun tulisan, baik aktif maupun pasif melalui keterampilan mendengar, berbicara, membaca dan menulis. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan melalui proses mengamati, menanya, mengeksplor data/mengumpulkan informasi, mengasosiasi, dan mengomunikasikan.
(12) Kegiatan mengamati bertujuan agar pembelajaran berkaitan erat dengan konteks situasi nyata yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Proses mengamati fakta atau fenomena mencakup mencari informasi, melihat, mendengar, membaca, dan atau menyimak.
(13) Kegiatan menanya dilakukan sebagai salah satu proses membangun pengetahuan siswa dalam bentuk konsep, prinsip, prosedur, hukum dan terori, hingga berpikir metakognitif. Tujuannnya agar siswa memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi (critical thingking skill) secara kritis, logis, dan sistematis. Proses menanya dilakukan melalui kegiatan diksusi dan kerja kelompok serta diskusi kelas. Praktik diskusi kelompok memberi ruang kebebasan mengemukakan ide/gagasan dengan bahasa sendiri, termasuk dengan menggunakan bahasa daerah.
(14) Kegiatan mengeksplor/mengumpulkan informasi bermanfaat untuk meningkatkan keingintahuan siswa, mengembangkan kreatifitas, dan keterampilan berkomunikasi melalui cara kerja ilmiah. Kegiatan ini melalui membaca sumber lain selain buku teks, mengamati aktivitas, kejadian atau objek tertentu, memperoleh informasi, menyajikan, dan mengolah data. Pemanfaatan sumber belajar termasuk mesin komputasi dan otomasi sangat disarankan dalam kegiatan ini.
melakukan aktifitas antara lain menganalisis data, mengelompokan, membuat kategori, menyimpulkan, dan memprediksi/mengestimasi dengan memanfaatkan lembar kerja diskusi atau praktik.
(16) Kegiatan mengomunikasikan adalah sarana untuk menyampaikan hasil konseptualisasi dalam bentuk lisan, tulisan, gambar/sketsa, diagram, atau grafik. Kegiatan ini dilakukan agar siswa mampu mengomunikasikan pengetahuan, keterampilan, dan penerapannya, serta kreasi siswa melalui presentasi, membuat laporan, dan/ atau unjuk karya.
(17) Tantangan baru dinamika kehidupan menuntut aktifitas pembelajaran bukan sekedar mengulang fakta dan fenomena keseharian yang dapat diduga melainkan mampu menjangkau pada situasi baru yang tak terduga. Dengan dukungan kemajuan teknologi dan seni, pembelajaran diharapkan mendorong kemampuan berpikir siswa hingga situasi baru yang tak terduga.
(18) Agar pembelajaran terus menerus membangkitkan kreativitas dan keingintahuan siswa kegiatan pembelajaran kompetensi dilakukan dengan langkah sebagai berikut
(19) Menyajikan atau mengajak siswa mengamati fakta atau fenomena baik secara langsung dan/ atau rekonstruksi sehingga siswa mencari informasi, membaca, melihat, mendengar, atau menyimak fakta/fenomena tersebut (20) Memfasilitasi diskusi dan Tanya jawab dalam menemukan konsep,
prinsip, hukum,dan teori
(21) Mendorong siswa aktif mengeksplor data melaui kegiatan mengumpulkan jawaban/data dari pertanyaan, dan membaca sumber data lain
(22) Memaksimalkan pemanfaatan tekonologi dalam mengolah data, mengembangkan penalaran dan memprediksi fenomena
(23) Proses penilaian harus merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses pembelajaran, bukan bagian terpisah dari proses pembelajaran (apart of,not apart from instruction),
(24) Penilaian harus mencerminkan masalah dunia nyata (real world problems), bukan masalah dunia sekolah (schoolwork-kind of problems), (25) Penilaian harus menggunakan berbagai ukuran, metoda dan
criteria yang sesuai dengan karakteristik dan esensi pengalaman belajar, (26) Penilaian harus bersifat holistic yang mencakup semua aspek dari
C. Penilaian Hasil Belajar Bahasa Mandarin
Bahasa Mandarin merupakan salah satu mata pelajaran yang ada pada struktur kurikulum 2013, pada kelompok pilihan peminatan baik peminatan kelompok mata pelajaran, maupun peminatan mata pelajaran (lintas minat). Penilaian hasil belajar bahasa Mandarin dikembangkan sesuai dengan konsep penilaian kurikulum 2013, bahwa penilaian hasil belajar oleh pendidik dilakukan secara berkesinambungan bertujuan untuk memantau proses dan kemajuan belajar pesertadidik serta untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran (Standar Penilaian). Proses penilaian diawali dari pengkajian teknik penilaian yang tepat pada silabus sebagai acuan dalam membuat rancangan dan kriteria penilaian, kemudian dilakukan pengukuran sebagai kegiatan membandingkan hasil pengamatan dengan suatu kriteria atau ukuran yang ditetapkan, terakhir proses memberi penilaian pada sejumlah informasi yang diperoleh terkait kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
1. Penilaian Kompetensi Sikap
Pengumpulan informasi terkait sikap peserta didik pada pembelajaran bahasa Mandarin dilakukan dengan teknik observasi, pada saat kegiatan belajar berlangsung, dimulai pada proses mengamati, menanya, mengeksplor data, mengasosiasi, sampai mengomunikasikan hasil pembelajarannya. Disamping observasi, penilaian kompetensi sikap dapat juga dilakukan dengan cara penilaiandiri, dengan cara meminta peserta didik untuk mengemukakan kelebihan dan kekurangan dirinya dalam konteks pencapaian kompetensi. Instrumenyang digunakan berupa lembar penilaian diri. Bentuk lain dari penilaian sikap adalah penilaian antar teman dan jurnal. Penilaian antar peserta didik merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk saling menilai terkait dengan pencapaian kompetensi. Instrumen yang digunakan berupa lembar penilaian antar peserta didik.
Penilaian ini digunakan untuk mengukur pencapaian Kompetensi Inti 1 dan 2, dengan kompetensi dasar 1.1, 2.1, 2.2, 2.3, dan 2.4.
2. Penilaian Kompetensi Pengetahuan
Pengumpulan informasi terkait pencapaian pengetahuan peserta didik dilakukan melalui tes dengan teknik tes tertulis dan pemberian tugas. Pengetahuan bahasa Mandarin terakumulasi pada Kompetensi Inti 3, dengan Kompetensi Dasar 3.1, 3.2, 3.3, dan 3.4.
Pengetahuan bahasa Mandarin terdiri dari Hanyu pinyin, Hanzi, struktur kalimat, ungkapan-ungkapan yang merepresentasi budaya setempat. Hanzi dikembangkan jadi ciyu/duanyu, selanjutnya digabung menjadi kalimat yang sesuai gramatika bahasa Mandarin. Kosa kata, struktur bahasa, dan ungkapan-ungkapan dipelajari dalam satu kesatuan utuh berbentuk wacana lisan dan tulisan, yang diikat oleh tema Identitas Diri dan Kehidupan sekolah.
Kriteria Sko r
Indikator
Baik 7 Pelafalan tepat, berbicara lancar, pola kalimat tepat.
cukup 6 Pelafalan kurang tepat, berbicara kurang lancar, pola kalimat kurang tepat.
Kurang 5 Pelafalan tidak tepat, berbicara tidak lancar, pola kalimat tidak tepat.
3. Penilaian Kompetensi Keterampilan
Pengumpulan informasi terkait keterampilan berbahasa Mandarin dalam bentuk penyusunan teks lisan dan tulisan sederhana diukur dengan teknik tes praktik, melalui unjuk kerja, unjuk karya (produk). Penilaian ini digunakan untuk mengukur ketercapaian Kompetensi Inti 4, yang terdiri dari KD 4.1, 4.2, 4.3, dan 4.4. Instrumen penilaiannya dilengkapi dengan rubrik, seperti contoh berikut ini:
Rubrik penyusunan teks lisan.
banyak tugas/poin yang tidak dikerjakan. Yuedu dan shuohua ( Pelafalan), dengan skor 4 jika pelafalan sangat baik dan dipahami, skor 3 jika pada pelafalan masih terdengar dialek bahasa ibu, tetapi masih bisa dipahami, dan terakhir karena pelafalan yang buruk, bahasanya menjadi hampir tidak dipahami. Berikut ini tabel kriteria penilaian penyusunan teks lisan;
Kriteria Sko r
Indikator
Baik 7 Rapih, penulisan tepat, pola kalimat tepat.
cukup 6 Kurang rapih, penulisan kurang tepat, pola kalimat kurang tepat.
Kurang 5 Tidak rapih, penulisan tidak tepat, pola kalimat tidak tepat.
BAB III
ANALISIS KOMPETENSI
A. Prosedur Analisis
Kurikulum berbasis kompetensi menekankan pada pencapaian kompetensi yang dirumuskan dalam standar kompetensi lulusan, komptensi inti dan kompetensi dasar.Oleh karena itu fokus pertama dan utama bagi guru dalam menyiapkan pembelajaran adalah melakukan analisis pada ketiga kompetensi itu. Dari analisis itulah akan diperoleh penjabaran materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan penilaian yang diperlukan.
Standar kompetensi lulusan adalah muara utama pencapaian yang dituju semua mata pelajaran pada jenjang tertentu.Sedangkan kompetensi inti adalah pijakan pertama pencapaian yang dituju semua mata pelajaran pada tingkat kompetensi tertentu.Penjabaran kompetensi inti untuk tiap mata pelajaran tersaji dalam rumusan kompetensi dasar.
Rumusan standar kompetensi lulusan seperti yang tercantum pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 54 tahun 2013 untuk tingkat SMA adalah sebagai berikut.
Dimensi Kualifikasi Kemampuan
Sikap Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap orang beriman, berakhlak mulia, berilmu, percaya diri, dan bertanggung jawab dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia
kreatif dalam ranah abstrak dan konkret sebagai pengembangan dari yang dipelajari di sekolah secara mandiri.
Kompetensi inti tingkat SMA terdiri atas dua tingkatan, yaitu tingkat kompetensi ke lima yang mencakup kelas X dan kelas XI, dan tingkat kompetensi ke enam untuk kelas XII. Rumusan kompetensi yang relevan bagi kelas X sesua Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 64 Tahun 2013 tentang Standar Isi adalah sebagai berikut.
Kompetensi Deskripsi Kompetensi
Sikap
Spiritual 1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yangdianutnya Sikap Sosial 2. Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia
Pengetahuan 3. Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah
Keterampilan 4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metoda sesuai dengan kaidah keilmuan
Prosedur analisis kompetensi inti (KI) dilakukan dengan langkah sebagai berikut
(1) Melakukan linierisasi kompetensi dasar dari KI 3 dan KI 4 sesuai materi pokok seperti tabel berikut ini.
Kompetensi Dasar (KI 3) Kompetensi Dasar (KI 4)
Materi Pokok (Dalam Silabus)
3.1. Memahami cara menyapa, berpamitan, mengucapkan terima kasih, meminta maaf, meminta izin, memberi instruksi dan
memperkenalkan diri, serta cara meresponnya terkait topik identitas diri (个人信息gèrén xìnxī) dan kehidupan sekolah (学校生
活xuéxiào shēnghuó) dengan memperhatikan unsur kebahasaan, struktur teks dan unsur budaya yang sesuai kontekspenggunaannya.
4.1Menyusun teks lisan dan tulis sederhana untuk merespon perkenalan diri, sapaan, pamitan, ucapan terimakasih, permintaan maaf, permintaan izin dan instruksi, terkait topik identitas diri ( 个人信息 gèrén xìnxī) dan kehidupan sekolah ( 学校生活xuéxiào shēnghuó) dengan
memperhatikan unsur kebahasaan, struktur teks dan unsur budaya secara benar dan sesuai konteks.
Salam
Sapaan
Perkenalan
Identitas diri
Kegiatan di sekolah
Keadaan di dalam kelas
Kompetensi Dasar (KI 3) Kompetensi Dasar (KI 4)
Materi Pokok (Dalam Silabus)
3.2. Memahami cara memberitahu dan menanyakan fakta, perasaan dan sikap, serta cara meminta dan
menawarkan barang dan jasa terkait topik identitas diri (个人信息gèrén xìnxī) dan kehidupan sekolah (学
校生活xuéxiào shēnghuó)dengan memperhatikan unsur kebahasaan, struktur teks dan unsur budaya yang sesuai konteks
penggunaannya.
4.2. Menyusun teks lisan dan tulis sederhana tentang cara menanyakan fakta, perasaan dan sikap, serta meminta dan menawarkan barang dan jasa terkait topik identitas diri ( 个人信息
gèrén xìnxī) dan kehidupan sekolah (学校生活xuéxiào shēnghuó) dengan
memperhatikan unsur kebahasaan, struktur teks dan unsur budaya secara benar dan sesuai konteks.
3.3. Memahamiunsur kebahasaan, struktur teks dan unsur budaya yang terdapat dalam teks terkait topik identitas diri (个人信息gèrén xìnxī)dan kehidupan sekolah (学校生
活xuéxiào shēnghuó) yang sesuai konteks penggunaannya secara sederhana.
4.3. Menyusun teks lisan dan tulis sederhana untuk mengungkapkan informasi tentang identitas diri (个人
信息gèrén xìnxī) dan
kehidupan sekolah (学校生活 xuéxiào shēnghuó) dengan memperhatikan unsur kebahasaan, struktur teks dan unsur budaya secara benar dan sesuai konteks. 3.4. Memahami unsur
kebahasaan danbudaya dalam karya
sastrasecara sederhana.
4.4. Menyusun teks lisan dan tulissederhanadengan memperhatikan unsur kebahasaan dan budaya terdapat dalam karya sastra.
(2) Mengembangkan kompetensi dasar dari KI 3 dan materi pokok (silabus) menjadi materi pembelajaarn yang terdiri atas: fakta, konsep, prinsip, dan prosedur
Materi Pokok (Silabus) Prinsip, dan
Prosedur
(4) Mengembangkan alternatif pembelajaran mulai dari mengamati, menanya, mencoba, mengasosiasi, dan mengomunikasikan yang diperlukan untuk mengembangkan sikap sosial dan sikap religius.
(5) Menyusun indikator sikap dari KI 2 dan KI 1 yang relevan (6) Merancang penilaian yang diperlukan
Prosedur analisis dapat diilustrasikan dengan diagram berikut ini.
1. Mengembangkan Materi pembelajaran
Pengembangan materi pembelajaran merujuk pada materi pokok dalam silabus dan kompetensi dasar yang termuat dalam kompetensi inti ke tiga (pengetahuan).Dalam penjabaran materi pembelajaran tetap diperlukan untuk melihat linierisai dengan kompetensi inti ke empat (keterampilan). Hasil pengembangan materi pembelajaran dikelompokan dalam empat kategori, yaitu:
(1) Fakta, yaitu kejadian atau peristiwa yang dapat dilihat, didengar, dibaca, disentuh, atau diamati
(2) Konsep, merupakan ide yang mempersatukan fakta-fakta atau dengan kata lain konsep merupakan suatu penghubung antara fakta-fakta yang saling berhubungan. Contoh konsep tentang zat cair (kelompok benda-benda seperti air, minyak, alkohol, bensin, dan spiritus) adalah zat yang mempunyai ciri-ciri bentuk selalu berubah sesuai bentuk wadah/tempat yang ditempatinya, volume dan beratnya selalu tetap, dapat mengalir dari tempat yang tinggi menuju ke tempat yang lebih rendah, tidak dapat dimampatkan.Konsep adalah kristalisasi dari fakta yang telah didefinisikan.
generalisasi induktif yang ditarik dari berapa contoh. Contoh yang merupakan prinsip adalah air jika dipanaskan akan menguap. Prinsip yang menghubungkan adalah konsep air, konsep panas, dan konsep penguapan. Termasuk ke dalam kategori prinsip adalah hokum, teori, dan azas.
(4) Prosedur, merupkan sederatan langkah yang bertahap dan sistematis dalam menerapkan prinsip. Langkah prosedural merupakan bagian dari kompetensi pada aspek keterampilan. Pada mata pelajaran fisika, langkap kerja ilmiah merupakan bagian tidak terpisahkan pada setiap materi pokok.
2. Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran dikembangkan dengan pendekatan saintifik yaitu mengamati, menanya, mencoba, mengasosiasi, dan mengomunikasikan (1) Mengamati adalah kegiatan yang dilakukan dengan memaksimalkan
panca indra dengan cara melihat, mendengar, membaca, menyentuh, atau menyimak. Yang diamati adalah materi yang berbentuk fakat, yaitu fenomena atau beristiwa dalam bentuk gambar, video, rekaman suara, atau fakta langsung yang bias disentuh, dilihat, dan sebagainya. Contoh:
Siswa mengamati gambar/video sikap tubuh orang-orang yang bersalaman atau menyimak percakapan memperkenalkan diri dalam bahasa Indonesia dan bahasa Mandarin.
(2) Menanya adalah proses mengkonstruksi pengetahuan berupa konsep, prinsip dan prosedur melalui diskusi kelompok atau diskusi kelas. Contoh:
Siswa mendiskusikan kapan, dengan siapa, apa yang mereka katakan saat mereka melakukan salaman yang ada pada gambar/video yang ditampilkan.
(3) Mencoba
Siswa mencoba memperkenalkan diri dalam bahasa Mandarin, mulai dengan mengulang kalimat, melengkapi percakapan yang rumpang, sampai memperkenalkan diri dengan beberapa teman di kelas.
(4) Mengasosiasi
Siswa membandingkan memperkenalkan diri dalam bahasa dan budaya Indonesia dengan bahasa dan budaya Mandarin, dan menarik kesimpulan persamaan dan perbedaannya.
(5) Mengomunikasikan
B. Hasil Analisis Kompetensi Dasar
Pembelajaran Aspek Sikap
Pengetahuan Keterampilan
Indikator Penilaian Indikator Penilaian
3.1. alkan diri, serta cara meresponny
- Menyimak cara pelafalan fonetik bahasa Mandarin yang terdapat dalam berbagai wacana lisan berisi ujaran (kata, frasa, kalimat) dan ungkapan dasar terkait salam, perkenalan dan jati diri seperti nama dan marga, alamat, tempat dan tanggal lahir, usia , nomor telepon, kelas, sekolah, asal daerah dan kewarganegaraa n yang
rasa ingin tahu, ketelitian,
kejujuran, tanggung jawab,
3.1.1
Mengidentifi kasi ujaran yang didengar
Tugas 1
- Menyimak pelafalan dan makna fonetik bahasa
Mandarin dalam berbagai bentuk ujaran, kata dan frasa .
- membedakan bunyi tertentu.
-
mengidentifikas i bunyi ujaran .
- menentukan informasi umum dan/atau rinci.
- menanggapi ungkapan yang dilontarkan
Kompeten
Pembelajaran Aspek Sikap
Pengetahuan Keterampilan
Indikator Penilaian Indikator Penilaian
xìnxī) dan
- Menyimak cara penulisan ejaan Hanyu pinyin .
Menanya:
- Menanyakan perbedaan antar bunyi-bunyi bahasa serta ton yang terdapat dalam bahasa Mandarin.
- menanyakan informasi umum dan/atau rinci dari wacana lisan yang
diperdengarkan
- menanyakan unsur-unsur budaya atau
3.1.2
Menanyakan cara
pelafalan yang tidak dipahami terkait isi teks yang
Kompeten
Pembelajaran Aspek Sikap
Pengetahuan Keterampilan
Indikator Penilaian Indikator Penilaian
dan tidak aspirasi Perubahan
ton kata tanya dan partikel
Kompeten si Dasar
Materi Pokok
Materi Pembelaja
ran
Alternatif
Pembelajaran Aspek Sikap
Pengetahuan Keterampilan
Indikator Penilaian Indikator Penilaian
Struktur teks ( dialog dan paparan )
Eksperimen/ek splor:
-Mengidentifikasi bunyi
ujaran(fonetik) dan ton dalam bahasa Mandarin sesuai contoh yang diberikan.
- Menentukan makna ujaran dan ungkapan yang terdapat dalam wacana lisan.
- Menentukan informasi umum dan/atau rinci
3.1.6
Mencocokka n gambar dengan ujarantentan gidentitas diri
3.1.7
Menentukan informasi umum tentang identitas diri
3.1.8
Kompeten
Pembelajaran Aspek Sikap
Pengetahuan Keterampilan
Indikator Penilaian Indikator Penilaian
4.1.
Menyusun teks lisan dan tulis
yang terdapat dalam wacana lisan.
- Menuliskan kalimat
sederhana dalam ejaan Hanyu pinyin dan/atau aksara China.
- Mencari unsur-unsur budaya yang terdapat dalam karya sastra atau wacana lisan .
Mengasosiasi:
-
Kompeten
Pembelajaran Aspek Sikap
Pengetahuan Keterampilan
Indikator Penilaian Indikator Penilaian
ucapan dan ungkapan dalam bahasa yang didengar dengan bahasa lain.
- Mencari
persamaan atau perbedaan unsur budaya yang terdapat dalam wacana.
-
Membandingkan bunyi dengan bentuk aksara.
Mengkomunika sikan:
-
Mempresentasik an pelafalan dan
Kompeten si Dasar
Materi Pokok
Materi Pembelaja
ran
Alternatif
Pembelajaran Aspek Sikap
Pengetahuan Keterampilan
Indikator Penilaian Indikator Penilaian
sesuai konteks.
makna bunyi-bunyi ujaran lengkap dengan ton yang telah dipelajari dengan tepat dan abenar sesuai ejaan Hanyu pinyin.
- Menyampaikan informasi umum dan rinci dari wacana lisan.
- Menceritakan perbedaan dan persamaan unsur budaya.
Kompeten si Dasar
Materi Pokok
Materi Pembelaja
ran
Alternatif
Pembelajaran Aspek Sikap
Pengetahuan Keterampilan
Kompeten si Dasar
Materi Pokok
Materi Pembelaja
ran
Alternatif
Pembelajaran Aspek Sikap
Pengetahuan Keterampilan
Indikator Penilaian Indikator Penilaian
4.1.1 Menuliska n ujaran dengan Hanyu pinyin yang tepat
4.1.2 Menyusun kata/frasa menjadi kalimat
Kompeten si Dasar
Materi Pokok
Materi Pembelaja
ran
Alternatif
Pembelajaran Aspek Sikap
Pengetahuan Keterampilan
Indikator Penilaian Indikator Penilaian
4.1.4 Menyam paikanpe rasaan dan sikap perkenal an diri/ sapaan,/p amitan/p ermintaa n izin dan instruksi
4.1.4
Kompeten si Dasar
Materi Pokok
Materi Pembelaja
ran
Alternatif
Pembelajaran Aspek Sikap
Pengetahuan Keterampilan
Indikator Penilaian Indikator Penilaian
diri
4.1.5
Membandi ngkan bunyi aspirasi dan tidak aspirasi bahasa Mandarin
4.1.6 Membandi ngkan bunyi 平舌
音
pingsheyi n
(z,c,s)dan qiaosheyi n 翘舌音
(zh,ch,sh,r )
Kompeten
Pembelajaran Aspek Sikap
Pengetahuan Keterampilan
Indikator Penilaian Indikator Penilaian
memperke fakta, perasaan dan sikap.
- Menyimak cara meminta dan
Rasa ingin tahu, Ketelitian, kejujuran,
3.2.1
Menandai ujaran yang sesuai
3.2.2
Menandai pelafalan
Tugas:
- Melafalkan ujaran dan ungkapan yang terdapat dalam bahasa
Kompeten
Pembelajaran Aspek Sikap
Pengetahuan Keterampilan
Indikator Penilaian Indikator Penilaian
serta cara meminta barang dan jasa .
- Menyimak cara pelafalan fonetik bahasa Mandarin yang terdapat dalam berbagai wacana lisan berisi ujaran (kata, frasa, kalimat) dan ungkapan dasar terkait salam, perkenalan dan jidentitas diri seperti nama dan marga, alamat, tempat dan tanggal lahir, usia , nomor telepon, kelas, sekolah, asal daerah dan kewarganegaraa
- Menceritakan kembali.
- Membuat paparan singkat dalam bentuk dialog sederhana.
Tes:
- Melafalkan ujaran dengan tepat
-Melakukan dialog
Kompeten
Pembelajaran Aspek Sikap
Pengetahuan Keterampilan
Indikator Penilaian Indikator Penilaian
penggunaa nnya.
4.2.
Menyusun teks lisan dan tulis kalimat yang terdapat dalam buku teks.
Menanya
- Menanyakan perbedaan intonasi kalimat .
- menanyakan informasi umum dan/atau rinci dari wacana lisan yang
diperdengarkan.
- menanyakan unsur-unsur budaya atau makna karya sastra yang tersirat/tersurat dalam wacana
Kompeten
Pembelajaran Aspek Sikap
Pengetahuan Keterampilan
Indikator Penilaian Indikator Penilaian
sekolah (学
- menanyakan makna dan
ungkapan dalam bahasa Mandarin sesuai contoh yang diberikan.
- Bercakap-cakap sesuai topik yang
ditentukan .
- Menentukan informasi umum dan/atau rinci yang terdapat dalam wacana lisan.
- Mencari
Kompeten si Dasar
Materi Pokok
Materi Pembelaja
ran
Alternatif
Pembelajaran Aspek Sikap
Pengetahuan Keterampilan
Indikator Penilaian Indikator Penilaian
unsur budaya yang terdapat dalam wacana lisan .
Mengasosiasi
-Menghubungkan bunyi ujaran atau ungkapan yang didengar dengan makna dan
penggunaannya dalam
percakapan.
- Mencari
persamaan atau perbedaan unsur budaya yang terdapat dalam wacana .
Mengkomunika
4.2.2
Berdialog dengan teman atau dengan guru
4.2.3
Mengemu kakan informasi secara lisan
4.2.4
Menyamp aikan
-
Tugas/latihan membuat paparan atau dialog
Kompeten
Pembelajaran Aspek Sikap
Pengetahuan Keterampilan
Indikator Penilaian Indikator Penilaian
sikan
-
Mempresentasik an dialog dengan sesama murid atau dengan guru.
- Menyampaikan informasi umum dan rinci .dalam bentuk wacana lisan
- Menceritakan perbedaan dan persamaan wacana tulis yang tersedia terkait salam, perkenalan dan identitas diri seperti nama
rasa ingin tahu, gemar , Ketelitian, disiplin, tanggung jawab
3.3.1
Mengidentifi kasi ujaran dalam
bentuk wacana tulis .
kisah-Kompeten
Pembelajaran Aspek Sikap
Pengetahuan Keterampilan
Indikator Penilaian Indikator Penilaian
yang terdapat dalam teks terkait topik teks lisan dan tulis sederhana untuk
3. Jenis teks 4. Unsur Pola kalimat
dengan kata tanya
吗selalu dibelkang
dan marga, alamat, tempat dan tanggal lahir, usia , nomor telepon, kelas, sekolah, asal daerah dan kewarganegaraa n termasuk teks lagu atau kisah-kisah asal mula perayaan
tradisional China.
- Memperhatikan bentuk teks, susunan fungsi sintaksis kalimat, dan penulisan kata, frasa atau kalimat.
Menanya:
- Menanyakan makna dan
kisah tentang hari raya
-Membaca teks sesuai lafal dan intonasi yang tepat
- Menentukan isi bacan
- Menjawab pertanyaan terkait isi teks
Portofolio:
Kompeten
Pembelajaran Aspek Sikap
Pengetahuan Keterampilan
Indikator Penilaian Indikator Penilaian
mengungka
Perubahan ton kosakata dan struktur bahasa Mandarin yang terdapat pada wacana.
- Menanyakan informasi umum dan/atau rinci yang terdapat dalam wacana tulis.
- Menanyakan unsur-unsur budaya atau makna yang tersurat/tersirat dalam suatu karya sastra.
Eksperimen/ek splor:
- Membaca wacana yang
Kompeten
Pembelajaran Aspek Sikap
Pengetahuan Keterampilan
Indikator Penilaian Indikator Penilaian
tersedia dengan suara lantang.
- Mengumpulkan informasi umum dan/atau rinci yang terdapat pada wacana.
- Menyimpulkan isi wacana.
- Menyusun kata menjadi frasa dan/atau kalimat.
- Menyusun kalimat menjadi paragraf atau karangan.
-
Kompeten si Dasar
Materi Pokok
Materi Pembelaja
ran
Alternatif
Pembelajaran Aspek Sikap
Pengetahuan Keterampilan
Indikator Penilaian Indikator Penilaian
Mengasosiasi:
-
Membandingkan bentuk aksara yang mirip .
-
Membandingkan makna dan penggunaan kosakata atau ungkapan berdasarkan perbedaan latar belakang
budaya.
- Mendiskusikan unsur-unsur budaya atau makna karya sastra.
Mengkomunika
4.3.2
Memprese ntasikan wacana tulis
4.3.3
Kompeten
Pembelajaran Aspek Sikap
Pengetahuan Keterampilan
Indikator Penilaian Indikator Penilaian
sikan:
- Membaca wacana dengan suara lantang.
- Membacakan informasi yang dikumpulkan hasil
pemahamannya terhadap suatu wacana tulis.
3.4.
Memahami unsur kebahasaan dan budaya dalam karya cara penulisan笔
画,笔顺
- memperhatikan makna radikal偏 旁,部首.
- memperhatikan cara-cara
menyusun
Rasa ingin tahu, ketelitian,
tangngung jawab, kerja keras, cinta perdamaian,
- Menghafal makna aksara China.
- Menghafal bentuk dan cara penulisan aksara China.
-
Mengelompokk
Portofolio:
Kompeten
Pembelajaran Aspek Sikap
Pengetahuan Keterampilan
Indikator Penilaian Indikator Penilaian
Menyusun teks lisan dan dan budaya terdapat (puisi, lagu, dll)
kalimat menjadi teks.
- memperhatikan makna lagu.
- membaca kisah perayaan
tradisional China.
Menanya:
- Menanyakan cara penulisan bihua, bishun
-Menanyakan arti dari偏旁,部首
- Menanyakan makna dan penggunaan kata/frasa.
- Menanyakan makna cerita rakyat dan perayaan (lagu, puisi, cerita)
3.4.3 Menjawab pertanyaan terkait tema pada sebuah China yang sudah dipelajari i aksara China berdasarkan makna dan bentuk.
-
Mengidentifikas i aksara China berdasarkan 偏 旁,部首,声旁
Kompeten
Pembelajaran Aspek Sikap
Pengetahuan Keterampilan
Indikator Penilaian Indikator Penilaian
tradisional China.
- Menyusun kata menjadi kalimat.
- Menyusun kalimat menjadi paragrap.
- Menyusun paragraf menjadi karangan .
- Membuat kalimat dari kata kunci atau frasa.
- Menggali informasi umum dan/atau rinci dari teks lagu dan kisah Hanzi secara tepat
3.4.6
Menyusun kata /frasa menjadi kalimat
3.4.7
Membuat
berbagai bentuk ujaran dalam ejaan Hanyu pinyin yang tepat.
Kompeten si Dasar
Materi Pokok
Materi Pembelaja
ran
Alternatif
Pembelajaran Aspek Sikap
Pengetahuan Keterampilan
Indikator Penilaian Indikator Penilaian
perayaan
tradisional China.
- Menuangkan ide, gagasan atau pikiran dalam karangan pendek dan sederhana.
Asosiasi:
-mencocokkan汉
字
dengangambar yang mewakili makna
- Mendiskusikan informasi yang digali dari wacana yang disajikan.
kalimat berdasarkan kata kunci
4.4.1
Menuliska n Hanzi dengan urutan yang tepat
4.4.2
Menyusun ujaran yang telah dipelajari berdasark an
Kompeten si Dasar
Materi Pokok
Materi Pembelaja
ran
Alternatif
Pembelajaran Aspek Sikap
Pengetahuan Keterampilan
Indikator Penilaian Indikator Penilaian
Komunikasi:
- Membacakan karangan.
4.4.3
Membuat karangan sederhana
4.4.4
Menyamp aiakan karangan sederhana dalam bentuk tertulis
4.4.5
BAB IV KESIMPULAN
Efektifitas pembelajaran merupakana indikator keberhasilan belajar, artinya bahwa semakin efektifitasnya tinggi dalam kegiatan pembelajaran maka hasil belajar semakin berkualitas dan sebaliknya semakin tidak efektifnya pembelajaran maka berdampak hasil belajar yang tidak optimal.
Kurikulum 2013 mengembangkan dua modus proses pembelajaran yaitu proses pembelajaran langsung dan proses pembelajaran tidak langsung. Proses pembelajaran langsung adalah proses pendidikan di mana peserta didik mengembangkan pengetahuan, kemampuan berpikir dan keterampilan psikomotorik melalui interaksi langsung dengan sumber belajar yang dirancang dalam silabus dan RPP berupa kegiatan-kegiatan pembelajaran. Dalam pembelajaran langsung peserta didik melakukan kegiatan belajar dengan pendekatan saintifik yaitu melalui mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi atau menganalisis, dan mengkomunikasikan apa yang sudah ditemukannya dalam kegiatan analisis. Oleh karena itu fokus pertama dan utama bagi guru dalam menyiapkan pembelajaran adalah melakukan analisis pada ketiga kompetensi itu. Dari analisis itulah akan diperoleh penjabaran materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan penilaian yang diperlukan
Pembelajaran tidak langsung adalah proses pendidikan yang terjadi selama proses pembelajaran langsung tetapi tidak dirancang dalam kegiatan khusus. Pembelajaran tidak langsung berkenaan dengan pengembangan nilai dan sikap. Baik pembelajaran langsung maupun pembelajaran tidak langsung terjadi secara terintegrasi dan tidak terpisah. Pembelajaran langsung berkenaan dengan pembelajaran yang menyangkut KD yang dikembangkan dari KI-3 dan KI-4. Keduanya, dikembangkan secara bersamaan dalam suatu proses pembelajaran dan menjadi wahana untuk mengembangkan KD pada KI-1 dan KI-2. Pembelajaran tidak langsung berkenaan dengan pembelajaran yang menyangkut KD yang dikembangkan dari KI-1 dan KI-2.
Dalam hal ini, strategi pembelajaran sangat diperlukan dalam menunjang terwujudnya seluruh kompetensi yang dimuat dalam Kurikulum 2013 agar KI-1, KI-2, KI-3, dan KI-4 dapat tercapai secara terintegrasi.
DAFTAR PUSTAKA
Anderson, Le.W. dan Kreathwohl, D.R. (2001). A Taxonomy For Learning, Teaching, And Assesssing: A Revision of Bloom,s Taxonomy of Educational Objectives. New York. Longman.
Bruner, J. (1996). The Culture of Education. Cambridge, MA: Harvard University Press.
Harding, S. (1998). Is Science Multicultural? Postcolonialisms, Feminisms, and Epistemologies. Bloomington: Indiana University Press.
Calabrese Barton, A. (1998). Reframing “science for all” through the politics of poverty. Educational Policy, 12, 525-541.
http://www.ase.org.uk/documents/principles-and-big-ideas-of-science-education Peraturan Pemerintah No.32 Tahun 2013 tentang perubahan atas PP No. 19
tahun 2005 tentang Standar Nasional pendidikan (Lembar Negara RI Tahun 2013 No.71, Tambahan Lembar Negara)
Permendikbud No.54 Tahun 2013 tentang Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Dasar dan Menengah;
Permendikbud No.64 Tahun 2013 tentang Standar Isi Pendidikan Dasar dan Menengah.
Permendikbud No.65 Tahun 2013 tentang Standar proses Pendidkan Dasar dan Menengah.
Permendikbud No.66 Tahun 2013 tentang Standar Penilaian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Permendikbud No.69 Tahun 2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah.
UU No 20 tahun 2003 tentang Sisten Pendidikan Nasional (lembar Negara RI tahun 2003 No. 78, Tambahan lembar Negara RI No. 4301),
Lampiran: Contoh RPP
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Mata Pelajaran : Bahasa Mandarin Kelas/Semester : X/Satu
Peminatan : Bahasa dan Budaya Materi Pokok : Identitas Diri
Alokasi Waktu : 10 x 3 JP
Kompetensi Inti
KI 1 : Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
KI 2 : Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan pro-aktif) dan menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
KI 3 : Memahami dan menerapkan pengetahuan faktual, konseptual, prosedural dalam ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
KI 4 : Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.
Kompetensi Dasar
3.1. Memahami cara menyapa, berpamitan, mengucapkan terima kasih, meminta maaf, meminta izin, memberi instruksi dan memperkenalkan diri, serta cara meresponnya terkait topik identitas diri (个人信息gèrén xìnxī) dan kehidupan sekolah (学 校 生 活 xuéxiào shēnghuó) dengan memperhatikan unsur kebahasaan, struktur teks dan unsur budaya yang sesuai kontekspenggunaannya.
4.1. Menyusun teks lisan dan tulis sederhana untuk merespon perkenalan diri, sapaan, pamitan, ucapan terimakasih, permintaan maaf, permintaan izin dan instruksi, terkait topik identitas diri ( 个 人 信 息 gèrén xìnxī) dan kehidupan sekolah ( 学 校 生 活 xuéxiào shēnghuó) dengan memperhatikan unsur kebahasaan, struktur teks dan unsur budaya secara benar dan sesuai konteks.
Indikator
Mengidentifikasi ujaran yang didengar
Menanyakan ujaran tentang menyapa, berpamitan, mengucapkan terima kasih, memberi instruksi dan memperkenalkan diri
Menanya / Menjawab pertanyaan sesuai dengan konteks Mencocokkan gambar dengan ujaran tentang identitas diri Menentukan informasi umum tentang identitas diri
Menentukan unsur-unsur budaya dalam seebuah wacana
Memperkenalkan diri dan atau orang lain berdasarkan kata kunci yang tersedia
Menuliskan ujaran dengan Hanyu pinyin yang tepat Menyusun kata/frasa menjadi kalimat
Menyusun kalimat menjadi wacana
Menyampaikanperasaan dan sikap perkenalan diri/ sapaan,/pamitan/ permintaan izin dan instruksi
Menyampaikan informasi tertulis dalam wacana singkat tentang identitas diri Membandingkan bunyi aspirasi dan tidak aspirasi bahasa Mandarin
Membandingkan bunyi 平舌音pingsheyin (z,c,s)dan qiaosheyin翘舌音
(zh,ch,sh,r)
Memperkenalkan diri sendiri dan atau orang lain Berdialog tentang Identitas Diri
Memperkenalkan diri sendiri dan atau orang lain
Tujuan Pembelajaran
Siswa dapat mengidentifikasi ujaran yang didengar
Siswa dapat menanyakan cara pelafalan yang tidak dipahami Siswa dapat menanyakan ujaran tentang menyapa, berpamitan,
mengucapkan terima kasih, memberi instruksi dan memperkenalkan diri Siswa dapat menanya / Menjawab pertanyaan sesuai dengan konteks Siswa dapat mencocokkan gambar dengan ujaran tentang Identitas Diri Siswa dapatmenentukan informasi umum tentang Identitas Diri
Siswa dapat menentukan unsur-unsur budaya dalam seebuah wacana
Siswa dapat memperkenalkan diri dan atau orang lain berdasarkan kata kunci yang tersedia
Siswa dapat menuliskan ujaran dengan Hanyu pinyin yang tepat Siswa dapat menyusun kata/frasa menjadi kalimat
Siswa dapat menyusun kalimat menjadi wacana
Siswa dapat menyampaikanperasaan dan sikap perkenalan diri/ sapaan,/pamitan/ permintaan izin dan instruksi
Siswa dapat menyampaikan informasi tertulis dalam wacana singkat tentang Identitas Diri
Siswa dapat membandingkan bunyi aspirasi dan tidak aspirasi bahasa mandarin
Siswa dapat membandingkan bunyi 平舌音pingsheyin (z,c,s)dan qiaosheyin 翘
舌音(zh,ch,sh,r)
Siswa dapatmemperkenalkan diri sendiri dan atau orang lain Siswa dapat berdialog tentang Identitas Diri
Materi Pembelajaran
Fakta
Dialog dengan tema Identitas Diri
Konsep
Penggunaan ujaran berdasarkan waktu (早上好,晚上好...) Memperkenalkan diri sendiri;
你好!
我叫...
我是...人
我住在...
Memperkenalkan orang lain : 我来介绍一下,他是我同学。 Bertanya pada seseorang;
你叫什么名字? 你住在哪儿?
Menyapa orang yang dihormati atau belum dikenal menggunakan 您好! Prinsip pelafalan aspirasi dan tidak aspirasi
Perubahan ton
Prosedur;
Struktur
-kalimat afirmatif dan kalimat sangkal.
- kalimat tanya dengan kata tanya dan partikel tanya.
- susunan kalimat dengan pola: Keterangan - Subjek – Predikat – Objek. Struktur teks
( dialog dan paparan )
Metode Pembelajaran Demonstrasi
Diskusi kelompok Presentasi
Penugasan
Alat/Media/Bahan
Alat/Media : Flash card, PPT, secarik kertas
Bahan ajar : Buku Teks Pelajaran dan materi bahan ajar yang relevan.
Langkah Kegiatan/Skenario Pembelajaran