• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
65
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1. Perencanaan Instalasi Listrik

Pada bab ini akan dibahas tentang ketentuan yang berkaitan dengan perencanaan yang ada pada PUIL 2000.

2.2. Pengertian Panel Hubung Bagi (PHB) Dan Fungsi Panel

Panel adalah suatu lemari hubung atau suatu kesatuan dari alat penghubung, pengaman, dan pengontrolan untuk suatu instalasi kelistrikan yang ditempatkan dalam suatu kotak tertentu sesuai dengan banyaknya komponen yang digunakan. Panel hubung bagi adalah peralatan yang berfungsi menerima energi listrik dari PLN dan selanjutnya mendistribusikan dan sekaligus mengontrol penyaluran energi listrik tersebut melalui sirkit panel utama dan cabang ke PHB cabang atau langsung melalui sirkit akhir ke beban yang berupa beberapa titik lampu dan melalui kotak-kontak ke peralatan pemanfaatan listrik yang berada di dalam bangunan.

Sesuai dengan kegunaan dari panel listrik, maka dalam perancangannya harus sesuai dengan syarat dan ketentuan serta standar panel listrik yang ada. Untuk penempatan panel listrik hendaknya disesuaikan dengan situasi bangunan dan terletak ditempat yang mudah dijangkau dalam memudahkan pelayanan. Panel harus mendapatkan ruang yang cukup luas sehingga pemeliharaan, perbaikan, pelayanan dan lalu lintas dapat dilakukan dengan mudah dan aman.

Dalam penempatan panel ini sangat mempengaruhi proses kelangsungan penyaluran energi listrik, karena apabila penempatan dari panel tersebut tidak diperhatikan maka kontinitas pelayanan panel tersebut tidak akan bertahan lama dan dapat mengurangi keandalan dalam penyaluran energi listrik.

               

(2)

Fungsi panel dapat diklasifikasikan menjadi beberapa macam yaitu (Drs.Aslimeri,M.T: 1991: 92) :

1. Penghubung

Panel berfungsi untuk menghubungkan antara satu rangkaian listrik dengan rangkaian listrik lainnya pada suatu operasi kerja. Panel menghubungkan suplay tenaga listrik dari panel utama sampai ke beban-beban baik instalasi penerangan maupun instalasi tenaga.

2. Pengaman

Suatu panel akan bekerja secara otomatis melepas sumber atau suplay tenaga listrik apabila terjadi gangguan pada rangkaian. Komponen yang berfungsi sebagai pengaman pada panel listrik ini adalah MCCB dan MCB.

3. Pembagi

Panel membagi kelompok beban baik pada instalasi penerangan maupun pada instalasi tenaga. Panel dapat memisahkan atau membagi suplay tenaga listrik berdasarkan jumlah beban dan banyak ruangan yang merupakan pusat beban. Pembagian tersebut dibagi menjadi beberapa group beban dan juga untuk membagi fasa R, fasa S, fasa T agar mempunyai beban yang seimbang antar fasa.

4. Penyuplai

Panel menyuplai tenaga listrik dari sumber ke beban. Panel sebagai penyuplai, dan mendistribusikan tenaga listrik dari panel utama, panel cabang sampai ke pusat beban baik untuk instalasi penerangan maupun instalasi tenaga.

5. Pengontrol

Fungsi panel sebagai pengontrol merupakan fungsi paling utama, karena dari panel tersebut masing-masing rangkaian beban dapat dikontrol. Seluruh beban pada bangunan baik instalasi penerangan maupun instalasi tenaga dapat dikontrol dari satu tempat.

               

(3)

2.2.1. Konfigurasi Panel

Seperti yang kita ketahui terdapat beberapa macam panel menurut fungsi dan pendistribusiannya. Setiap panel memiliki fungsi dan kegunaan masing-masing tanpa harus memiliki ketergantungan dengan panel lainnya. Berikut adalah beberapa macam jenis panel :

1. LVMDP (Low Voltage Main Distribution Panel)

LVMDP adalah sebagai panel penerima daya dari trafo dan mendistribusikan power tersebut ke panel SDP (Sub Distribution Panel). 2. SDP (Sub Distribution Panel)

SDP adalah panel pembagi daya ke sirkit akhir yang berupa panel penerangan (LP), Panel Control (CP), Panel Daya (PP).

3. LP (Lighting Panel)

LP adalah suatu panel yang seluruh bebannya berupa penerangan. 4. CP (Control Panel)

CP adalah suatu panel untuk mengoperasikan beban berupa tenaga (Motor).

5. PP (Power Panel)

PP adalah panel yang digunakan untuk mendistribusikan beban melalui kotak kontak.

Gambar 2.1. Konfigurasi Panel

Dari gambar diatas terdapat keterangan bulatan yaitu penulis dalam proyek akhir ini membuat panel kontrol.

               

(4)

Panel kontrol adalah panel yang menyuplai dan mengoperasikan beban motor. Diantaranya penulis memakai beban DOL 1 (Direct On Line), DOL 2 (Direct On Line), Forward Reverse (FR) dan Bintang Segitiga (Y/∆).

2.2.2. Kriteria Panel

Penulis disini akan membuat panel bentuk nyata dari panel diantaranya adalah:

a. Tampak Depan

1. Nama Panel

Panel yang dibuat penulis ada nama yang tertera yaitu Panel Kontrol Instalasi Tenaga. Nama tersebut tercantum di pintu panel.

2. Lampu Indikator

Lampu indikator ini mengidentifikasikan bahwa ada tegangan didalam panel tersebut dan panel tersebut dalam keadaaan bertegangan atau beroperasi. Lampu pindikator tersebut berada dipintu panel dengan keterangan Fasa S, Fasa T dan Fasa T.

3. Tombol On/Off

Tombol on/off ini gunanya adalah untuk mengoperasikan dan memutuskan pengoperasian didalam panel tersebut. Sehingga operator bisa lebih mudah mengoperasikan panel tersebut apabila beban yang akan dipakai dioperasikan.

4. Kunci Panel

Kunci panel ini gunanya intuk mengunci suapaya lebih aman dan terkendali apabila ada orang iseng yang akan memakai panel tersebut. Sehingga panel tersebut bisa diam dengan aman tanpa gangguan dari orang lain.

b. Tampak Dalam

1. Cover

Cover gunanya untuk pengaman arus bocor sehingga apabila ada arus bocor operator masih tetap aman dengan cover tersebut. Cover juga

               

(5)

gunanya untuk memperindah dalaman panel sehingga tampak lebih rapi.

2. Kabel Bounding Grounding ke pintu

Gunanya untuk mengamankan dari tegangan sentuh dikarenakan bahan panel terbuat dari besi dengan adanya bounding ini secara otomatis mcb akan trip terlebih dahulu karena ada Bounding tersebut. 3. Gambar

a. Single Line Diagram b. Diagram Lokasi c. Kartu Pemeliharaan

Dari keterangan diatas gunanaya untuk mempermudah operator apabila terjadi gangguan dan dengan membuat single line diagram operator bisa tahu bahwa panel tersebut menyuplai menjadi beberapa bagian. Diagram lokasi juga gunanya untuk mempermudah bahwa panl tersebut berada disuatu tempat. Sedangkan kartu pemeliharaan gunanya untuk mengetahui apabila ada komponen yang rusak, pemeliharaan adanya debu dsb. Pemeliharaan tersebut sangat penting untuk mengidentifikasi adanya gangguan.

4. Label Komponen Pengaman dan Kontaktor

Gunanya untuk mempermudah bahwa pengaman tersebut sudah ada labelnya dan akan mempermudah apabila ada gangguan.

c. Dalam Panel

1. Line Up Terminal

Gunanya untuk menjumper keluaran kabel dari mcb menuju kontrol. 2. Wire Duct

Gunanya untuk tempat jalur kabel sehingga kabel terlihat rapih karena kabel di tempatkan pada tempatnya.

3. Profil C dan G

Gunanya untuk dudukanMCB dan Line Up terminal sehingga komponen tersebut bisa tersimpan atau tertata dengan rapijh.

               

(6)

4. MCB (Miniature Circuit Breaker)

Gunanya untuk menyuplai ke tiap beban dan Mcb tersebut juga berguna untuk pemutus beban lebih.

5. Kontaktor

Berfungsi sebagai penyambung dan pemutus rangkaian, yang dapat dikendalikan dari jarak jauh.

6. Kodefikasi Warna

Kodefikasi warna gunanya untuk mengetahui bahwa warna tersebut menyuplai antar fasa. Biasanya kodefikasi kabel harus sesuai standar. 7. Labeling Kabel

Gunanya untuk mengetahui bahwa kabel tersebut digunakan oleh antar fasa. Sehingga pada saat terjadi gangguan operator bisa lebih midah untuk mengidentifikasi gamgguan. Dikarenakan sudah tertera label kabel. Biasanya didalam wire duct kabel tersusun dengan tidak rapih atau tumpang tindih.

8. Busbar

Gunanya untuk pemisah Netral dan PE. Penulis menggunakan busbar tersebut agar antar fasa mempunyai tempat sendiri dan untuk pengamanan komponen.

9. Sepatu Kabel

Adalah alat yang dapat dipasang pada ujung kabel yang tidak berisolasi. Dengan dipasangnya sepatu kabel akan memudahkan pelaksanaan pekerjaan, terutama pada pekerjaan kabel-kabel yang besar.

2.2.3. Jenis dan Tipe Panel

Menurut PUIL 2000; 6.3.2 – 6.4.3 jenis panel hubung bagi terdiri dari: 1. Panel Hubung Bagi tertutup pasang dalam

Panel Hubung Bagi tertutup pasang dalam adalah panel yang sudah komponen-komponennya ditempatkan didalam kotak panel yang tertutup dan terpasang didalam ruangan.

               

(7)

2. Panel Hubung Bagi tertutup pasang luar

Panel Hubung Bagi tertutup pasang luar adalah panel yang seluruh komponen-komponen ditempatkan didalam kotak panel yang tertutup dan dipasang diluar ruangan. Bahan yang digunakan harus tahan cuaca. 3. Panel Hubung Bagi terbuka pasang dalam

Panel Hubung Bagi terbuka pasang dalam tidak boleh ditempatkan dekat saluran gas, saluran uap, saluran air atau saluran lainnya yang tidak ada kaitannya dengan Panel Hubung Bagi (PHB) tersebut.

4. Panel Hubung Bagi terbuka pasang luar

Tampat pemasangan Panel Hubung Bagi (PHB) terbuka pasang luar harus merupakan perlengkapang yang tahan cuaca. Perlengkapan atau harus mempunyai saluran air sehingga dapat dicegah terjadinya genangan air.

Pada Laboratorium Instalasi Tenaga, jenis dan tipe panel yang digunakan adalah panel hubung bagi tertutup pasang dalam, yaitu panel yang seluruh komponen-komponennya ditempatkan di dalam kotak panel yang tertutup dan dipasang di dalam ruangan.

Panel Hubung Bagi (PHB) tertutup pasang dalam banyak dijumpai pada konsumen atau pemakai yang digunakan sebagai tempat untuk menampung energi listrik dari jaringan PLN dan sebagai penyalur energi listrik ke pusat beban serta untuk menempatkan pengaman-pengaman instalasi listrik.

Penempatan panel harus memenuhi syarat-syarat berikut ini sesuai dengan PUIL 2000 (6.3-6.4) yaitu :

1. Tinggi maksimal dari lantai 1,2 – 2m.

2. Di depan panel harus memiliki ruang bebas yang cukup luas. 3. Saat membuka panel ini tidak terganggu oleh benda apapun. 4. Pintu harus bisa terbuka penuh.

5. Panel dipasang pada tempat yang sesuai, kering dan berventilasi cukup.

               

(8)

2.2.4. Penataan PHB

PHB harus ditata dan dipasang sedemikian rupa sehingga terlihat rapi dan teratur, dan harus ditempatkan dalam ruang yang leluasa. (PUIL 2000:6.2.1.1)PHB harus ditata dan dipasang sedemikian rupa sehingga pemeliharaan dan pelayanan mudah dan aman, dan bagian yang penting mudah dicapai. (PUIL 2000:6.2.1.2).

Semua komponen yang pada waktu kerja memerlukan pelayanan, seperti instrumen ukur, tombol dan sakelar, harus dapat dilayani dengan mudah dan aman dari depan tanpa bantuan tangga, meja atau perkakas yang tidak lazim lainnya. (PUIL 2000:6.2.1.3).

Penyambungan saluran masuk dan saluran keluar pada PHB harus menggunakan terminal sehingga penyambungannya dengan komponen dapat dilakukan dengan mudah teratur dan aman. Ketentuan ini tidak berlaku bila komponen tersebut letaknya dekat saluran keluar atau saluran masuk. (PUIL 2000:6.2.1.4).

Terminal kabel kendali harus ditempatkan terpisah dari terminal saluran daya. (PUIL 2000:6.2.1.5). Beberapa PHB yang letaknya berdekatan dan disuplai oleh sumber yang sama sedapat mungkin ditata dalam satu kelompok. (PUIL 2000:6.2.1.6). PHB tegangan rendah atau bagiannya, yang masing-masing disuplai dari sumber yang berlainan harus jelas terpisah dengan jarak sekurang-kurangnya 5 cm. (PUIL 2000:6.2.1.7).

Komponen PHB harus ditata dengan memperhatikan keadaan di Indonesia dan dipasang sesuai dengan petunjuk pabrik pembuat; jarak bebas harus memenuhi ketentuan tersebut dalam 6.2.9 (PUIL 2000:6.2.1.8).

Sambungan dan hubungan penghantar dalam PHB harus mengikuti ketentuan dalam 7.11. Semua mur baut dan komponen yang terbuat dari logam dan berfungsi sebagai penghantar, harus dilapisi logam pencegah karat untuk menjamin kontak listrik yang baik. Rel dari tembaga hanya memerlukan lapisan tersebut pada pemakaian arus 1000A ke atas. Sambungan dua jenis logam yang berlainan harus menggunakan konektor khusus, misalnya konektor bimetal. (PUIL 2000:6.2.1.9).

               

(9)

2.2.5. Ruang pelayanan dan ruang bebas sekitar PHB

Di sekitar PHB harus terdapat ruang yang cukup luas sehingga pemeliharaan, pemeriksaan, perbaikan, pelayanan dan lalulintas dapat dilakukan dengan mudah dan aman. (PUIL 2000:6.2.2.1). Ruang pelayanan di sisi depan, lorong dan emper lalulintas yang dimaksud dalam di atas pada PHB tegangan rendah, lebarnya harus sekurang-kurangnya 0,75 m, sedangkan tingginya harus sekurang-kurangnya 2 m. (PUIL 2000:6.2.2.2).

Jika di sisi kiri dan kanan ruang bebas yang berupa lorong terdapat instalasi listrik tanpa dinding pengaman (dinding pemisah), lebar ruang bebas ini harus sekurang- kurangnya 1,5 m (PUIL 2000:6.2.2.3).

Pintu ruang khusus tempat PHB terpasang harus mempunyai ukuran tinggi sekurang-kurangnya 2 m dan ukuran lebar sekurang-kurangnya 0,75 m (PUIL 2000:6.2.2.4). Dalam ruang sekitar PHB tidak boleh diletakkan barang yang mengganggu kebebasan bergerak. (PUIL 2000:6.2.2.5)

PHB harus dipasang di tempat yang jelas terlihat dan mudah dicapai. Tempat itu harus dilengkapi dengan tanda pengenal seperlunya dan penerangan yang cukup. (PUIL 2000:6.2.2.6)Dinding dan langit-langit ruang tempat PHB dipasang harus terbuat dari bahan yang tidak mudah terbakar. (PUIL 2000:6.2.2.7).

Untuk PHB terbuka tegangan rendah dengan rel telanjang melintang dalam ruang bebas, tinggi rel tersebut di atas lantai lorong harus sekurang kurangnya 2,3 m. (PUIL 2000:6.2.2.8).

2.2.6. Penandaan

Di beberapa tempat yang jelas dan mudah terlihat pada sirkit arus PHB dipasang pengenal yang jelas sehingga memudahkan pelayanan dan pemeliharaan. (PUIL 2000:6.2.3.1). Tiap penghantar fase, penghantar netral dan penghantar atau rel pembumi harus dapat dibedakan secara mudah dengan warna atau tanda sesuai dengan PUIL 2000 : 7.2. (PUIL

               

(10)

2000:6.2.3.2). Untuk memudahkan pelayanan dan pemeliharaan, harus dipasang bagan sirkit PHB yang mudah dilihat. (PUIL 2000:6.2.3.3).

Terminal gawai kendali harus diberi tanda atau lambang yang jelas dan mudah dilihat sehingga memudahkan pemeriksaan. (PUIL 2000:6.2.3.4).

PHB yang ada gawai kendalinya harus dilengkapi dengan gambar beserta penjelasan secukupnya. (PUIL 2000:6.2.3.5). Pada gawai kendali harus ada tanda pengenal dan keterangan yang jelas dan mudah dilihat sehingga memudahkan pelayanan. (PUIL 2000:6.2.3.6).

Pada PHB harus dipasang tanda-tanda yang jelas dan tidak mudah terhapus sehingga terlihat pada kelompok mana perlengkapan disambungkan dan pada terminal mana setiap fase dan netral dihubungkan. (PUIL 2000:6.2.3.7).

2.2.7. Pemasangan Sakelar Masuk

Pada sisi penghantar masuk dari PHB yang berdiri sendiri harus dipasang setidak tidaknya satu sakelar, sedangkan pada setiap penghantar keluar setidak-tidaknya dipasang satu proteksi arus.

Sebagai alternatif untuk sakelar dengan proteksi arus lebih, atau pengaman lebur, dapat juga dipakai sakelar yang didalamnya terdapat proteksi arus yang dikehendaki, seperti: pemutus sirkit (Mini Circuit Breaker/MCB). Apabila hal ini diterapkan maka pemutus sirkit yang akan digunakan harus dipilih yang sesuai, yaitu memilliki ketahanan arus hubung singkat paling tidak sama besar dengan arus hubung singkat yang mungkin terjadi dalam sirkit yang diamankan. (PUIL 2000:6.2.4.1).

Saklar masuk untuk memutuskan aliran suplai PHB tegangan rendah harus mempunyai batas kemampuan minimum 10A, dan arus minimum sama besar dengan arus nominal penghantar masuk tersebut. (PUIL 2000:6.2.4.2).

Sakelar yang dimaksud dalam PUIL 2000 6.2.4.1 dan 6.2.4.2 diatas tidak diperlukan dalam hal berikut:

a.

Jika PHB mendapat suplai dari saluran keluar suatu PHB lain, yang pada

               

(11)

saluran keluarnya dipasang sakelar yang mudah dicapai dan kedua PHB tersebut terletak dalam ruang yang sama serta jarak antar keduanya tidak lebih dari 5m.

b.

Jika dengan cara tertentu dapat dilaksanakan pemutusan dan penyambungan suplai ke PHB tersebut melalui suatu sakelar pembantu. Sakelar pembantu ini harus dipasang pada tempat yang mudah dicapai.

c.

Jika saklar itu diganti dengan pemisah, asalkan pada setiap sirkit keluar dipasang sakelar keluar.

(PUIL 2000:6.2.4.3).

Sakelar masuk harus dipasang sedemikian rupa sehingga tidak ada pengaman lebur dan gawai lainya yang menjadi bertegangan, kecuali voltmeter, lamu indikator, dan pengaman lebur utama yang dipasang sebelum sakelar masuk tersebut dalam keadaan terbuka. (PUIL 2000:6.2.4.4). Sakelar masuk pada PHB harus diberi tanda pengenal khusus sehingga mudah dikenal dan dibedakan dari sakelar lain. (PUIL 2000:6.2.4.5).

Jika PHB dapat disuplai oleh bberapa sumber tegangan yang berlainan dan tidak sinkron, maka pada penghantar masuk harus dipasang sakelar yang dalam pelayanannya tidak dimungkinka terjadi hubungan paralel antara sumber yang berlainan. (PUIL 2000:6.2.4.6).

2.2.8. Pemasangan Sakelar Keluar

Pada sirkit keluar PHB harus dipasang sakelar keluar jika sirkit tersebut:

a. Mensuplai tiga buah atau lebih PHB yang lain.

b. Dihubungkan ke tiga buah atau lebih motor/perlengkapan listrik yang lain. Hal ini tidak berlaku jika motor atau perlengkapan listrik tersebut dayanya masing-masing lebih kecil atau sama dengan 1,5 kW dan letaknya dalam ruang yang sama kecuali untuk tegangan menengah. c. Dihubungkan ke tiga buah atau lebih kotak kontak yang masing masing

mempunyai arus nominal lebih dari 16A.

               

(12)

d. Mempunyai arus nominal 100A atau lebih. (PUIL 2000:6.2.5.1).

2.2.9. Pengelompokan Perlengkapan Sirkit

Pada PHB yang mempunyai banyak sirkit keluar fase tunggal, dan fase tiga, baik untuk instalasi tenaga maupun instalasi penerangan, gawai proteksi, sakelar dan terminal yang serupa harus dikelompokan sehingga: a. Tiap kelompok melayani sebanyak- banyaknya enam buah sirkit.

b. Kelompok perlengkapan instalasi tenaga terpisah dengan kelompok perlengkapan instalasi penerangan.

c. Kelompok perlengkapan fase tunggal, fase dua dan fase tiga merupakan kelompok sendiri sendiri yang terpisah. (PUIL 2000:6.2.6.1).

2.2.10. Penempatan Pengaman Lebur, Sakelar dan Rel

Jika pengaman lebur dan sakelar kedua-duanya terdapat pada sirkit masuk, sebaiknya pengaman lebur dipasang sesudah sakelar. (PUIL 2000:6.2.7.1). Jika pengaman lebur dan sakelar kedua duanya terdapat pada sirkit keluar, sebaiknya pengaman lebur dipasang sesudah sakelar sebagaimana dimaksud 6.2.7.1 di atas. Apabila sistem proteksi tidak menggunakan pengaman lebur tetapi menggunakan pemutus sirkit sejenis MCB, maka ketentuan dalam 6.2.7.1 dan ayat ini tidak berlaku, tetapi diterapkan ketentuan seperti tersebut dalam 6.2.4.1. (PUIL 2000:6.2.7.2).

Kemampuan sakelar pada suatu sirkit sekurang-kurangnya harus sama dengan kemampuan lebur pada sirkit tersebut. (PUIL 2000:6.2.7.3). Dalam memasang rel dan penghantar pada PHB untuk arus bolak balik harus dihindari kemungkinan terjadinya pemanasan yang berlebihan yang disebabkan oleh arus pusar pada kerangka dan pipa pelindung yang terbuat dari bahan feromagnetis. (PUIL 2000:6.2.7.4)

2.2.11. Jarak Minimum Antar Bagian Yang Telanjang

Untuk PHB yang ditata ditempat pemasangan, jarak minimum antar setiap bagian bertegangan yaitu :

               

(13)

a. Semua bagian konduktif terbuka (BKT), yaitu bagian yang bersifat penghantar yang tidak termasuk sirkit arus.

b. Bagian bertegangan lain yang memiliki polaritas atau fase yang berbeda. c. Bagian bertegangan lain yang memiliki polaritas atau fase sama, yang

dapat diputuskan hubungannya secara bebas.

Harus sekurang kurangnya 5cm ditambah 2/3cm untuk setiap kV tegangan nominalnya. (PUIL 2000:6.2.9.1)Ketentuan dalam 6.2.9.1 tidak berlaku dibagian belakang PHB, dalam peranti listrik dan juga jika dalam penyelenggaraannya akan menimbulkan kerusakan pada penyambungan peranti listrik.(PUIL 2000:6.2.9.2).

2.2.12. Pembebanan Yang Berlebihan

Bagian PHB tidak boleh dibebani secara terus menerus dengan arus, tegangan, atau frekuensi yang melebihi kemampuannya. (PUIL 2000:6.2.10.1). PHB harus tahan terhadap arus hubung pendek yang dapat timbul di dalamnya dengan cara memperhitungkan kerja gawai proteksi yang terpasang di depannya. (PUIL 2000:6.2.10.2).

2.2.13. Bahan

Bahan yang digunakan harus dari jenis yang sesuai dengan cuaca dan lingkungan setempat. (PUIL 2000:6.2.11.1).

2.2.14. Pembumian Rel PHB

Pembumian pada rel PHB adalah sebagai berikut:

a. Bila pada PHB utama, rel proteksi dipakai juga sebagai rel netral (sistem TNC), rel tersebut harus dibumikan.

b. Bila pada PHB utama, rel proteksi terpisah dari rel netral, maka hanya rel proteksi saja yang harus dibumikan.

c. Bila pada PHB, sakelar pada saluran masuk dilengkapi sakelar proteksi arus sisa, maka rel netral tidak boleh dibumikan. (PUIL 2000:6.2.13.1)

               

(14)

2.2.15. Perlengkapan Hubung Bagi dan Kendali (PHB) tertutup

Rangka, rumah dan bagian konstruksi PHB tertutup harus terbuat dari bahan yang tidak mudah terbakar, tahan lembab dan kokoh. (PUIL 2000:6.3.1.1).

Selain syarat yang tercantum dalam 6.2.8.1 pada PHB tertutup untuk sistem tegangan bolak balik di atas 1000 V atau untuk sistem tegangan searah di atas 1500 V harus dipenuhi pula ketentuan sebagai berikut:

a. Di depan sakelar harus dipasang pemisah atau gawai lain yang sekurang kurangnya sederajat untuk memastikan sakelar tersebut bebas tegangan. b. Pada pelayanan dari luar, keadaan kedudukan pemisah harus dapat dilihat

dengan mudah dari tempat pelayanan.

c. Pemisah harus dipasang, dibuat atau dilindungi sedemikian rupa sehingga pada keadaan terbuka semua bagian bertegangan cukup aman terhadap sentuhan langsung.

d. Pengukuran, pemeriksaan pembumian, dan penghubungan singkat dari bagian yang akan dikerjakan harus dapat dilakukan dengan mudah dan aman.

e. Semua bagian logam yang dalam keadaan normal tidak bertegangan, harus dibumikan secara baik. (PUIL 2000:6.3.1.2)

PHB tertutup untuk sistem tegangan bolak balik di atas 1000 V atau tegangan searah di atas 1500 V yang tidak dipasang dalam ruang kerja listrik atau ruang kerja terkunci, selain harus memenuhi ketentuan dalam harus pula memenuhi ketentuan- ketentuan berikut:

a. Pemisah tidak boleh dapat dilepas sebelum sakelar yang bersangkutan dibuka.

b. Pintu PHB tidak boleh dapat dibuka sebelum pemisah yang bersangkutan terbuka.

c. Pemisah tidak boleh ditutup selama pintu PHB yang bersangkutan masih terbuka

d. Dalam keadaan pintu tertutup, sakelar tidak boleh dapat ditutup, selama pemisah bersangkutan masih dalam keadaan terbuka, atau dengan cara

               

(15)

lain harus dapat dijamin bahwa pemisah itu hanya dapat ditutup jika sakelar dalam keadaan terbuka. (PUIL 2000:6.3.1.3).

Sakelar masuk dan sakelar keluar PHB tertutup harus dapat dilayani dari luar,serta kedudukan atau posisi kerja sakelar itu harus dapat dilihat dengan mudah dari tempat pelayanan. (PUIL 2000:6.3.1.4).

Di dalam PHB tertutup hanya boleh ada sambungan kawat yang diperlukan untuk penyambungan gawai listrik yang terdapat di dalam PHB tersebut; sambungan listrik untuk sistem hidrolik/pnematik dan saluran pengukuran dikecualikan dari ketentuan ini asal dipasang secara teratur, teliti, dan sependek mungkin. (PUIL 2000:6.3.1.5).

2.2.16. Komponen yang dipasang pada Perlengkapan Hubung Bagi dan Kendali (PHB)

Komponen yang dipasang pada PHB harus dari jenis yang sesuai dengan syarat penggunaannya. (PUIL 2000:6.6.1.1).

Kemampuan komponen yang dipasang pada PHB harus sesuai dengan keperluan. (PUIL 2000: 6.6.1.2). Komponen yang dipasang pada PHB harus memenuhi ketentuan PUIL 2000 2.1.1.2. (PUIL 2000: 6.6.1.3).

2.2.17. Sakelar, pemisah, pengaman lebur dan pemutus

Sakelar, pemisah dan pemutus yang dipasang pada PHB harus mempunyai kutub yang jumlahnya sekurang-kurangnya sama dengan banyaknya fase yang digunakan. Semua kutub harus dapat dibuka atau ditutup secara serentak. (PUIL 2000: 6.6.2.1).

Untuk JTR dengan pembumian netral pengaman (TNC), sakelar, pemisah dan pemutus sirkit yang digunakan harus dari jenis tiga kutub, yakni hanya untuk membuka dan menutup penghantar fasenya saja. Penghantar netral tidak boleh diputuskan. (PUIL 2000: 6.6.2.2). Untuk JTR dengan sistem pembumian pengaman (TT) boleh digunakan sakelar, pemisah atau pemutus sirkit dengan tiga kutub atau empat kutub. (PUIL 2000: 6.6.2.3).

               

(16)

Untuk JTR dengan sistem penghantar pengaman (IT) harus digunakan sakelar, pemisah atau pemutus sirkit empat kutub. (PUIL 2000: 6.6.2.4).

2.2.18. Instrumen Ukur dan Indikator

Instrumen ukur dan indikator yang dipasang pada PHB harus terlihat jelas dan harus ada petunjuk tentang besaran apa yang dapat diukur dan gejala apa yang ditunjukkan. Untuk JTR dengan sistem pembumian pengaman (TT) boleh digunakan sakelar, pemisah atau pemutus sirkit dengan tiga kutub atau empat kutub. (PUIL 2000: 6.6.3.1).

Instrumen ukur dan indikator yang dipasang pada PHB atau panel distribusi harus terhindar terhadap kemungkinan pengaruh induksi listrik sekitar, terlindung dari suhu yang melampaui suhu kerja maksimum, bebas dari getaran mekanik atau pengaruh lain yang dapat menurunkan mutu/akurasi instrumen ukur/indikator. (PUIL 2000: 6.6.3.2).

Instrumen ukur dan indikator yang dipasang pada PHB atau panel distribusi selalu terpelihara kehandalannya secara berkesinambungan dapat menampilkanpenunjukkan yang benar sesuai dengan peruntukannya. (PUIL 2000: 6.6.3.3).

Pengawatan instrumen ukur dan indikator dalam PHB atau panel distribusi harus menggunakan kabel fleksibel yang mempunyai pelindung elektrik yang dapat dihubungkan dengan saluran pembumian. (PUIL 2000: 6.6.3.4).

2.2.19. Penghantar Rel

Rel yang digunakan pada PHB harus terbuat dari tembaga atau logam lain yang memenuhi persyaratan sebagai penghantar listrik. (PUIL 2000: 6.6.4.1). Besar arus yang mengalir dalam rel tersebut harus diperhitungkan sesuai kemampuan rel sehingga tidak akan menye a kan suhu le ih dari . ada suhu sekitar 3 dapat digunakan ukuran rel menurut Ta el . -1 dan 6.6-2 (Tabel pembebanan penghantar yang diperbolehkan untuk tembaga dan aluminium penampang persegi). (PUIL 2000: 6.6.4.2). Lapisan yang

               

(17)

digunakan untuk memberi warna rel dan saluran harus dari jenis yang tahan terhadap kenaikan suhu yang diperbolehkan. (PUIL 2000: 6.6.4.3).

2.2.20. Komponen Gawai Kendali

Komponen gawai kendali seperti tombol, sakelar, lampu, sinyal, sakelar magnet dan kawat penghubung harus mempunyai kemampuan yang sesuai dengan penggunaannya. (PUIL 2000: 6.6.5.1). Komponen seperti tombol, sakelar kendali, dan sakelar pemilih harus mempunyai tanda atau warna yang memudahkan operator untuk melayaninya. (PUIL 2000: 6.6.5.2). Penghantar atau kabel yang digunakan untuk gawai kendali dalam PHB harus berukuran sekurang-kurangnya 1,0 mm kecuali penghantar atau kabel yang sudah terpasang dalam gawai kendali itu. (PUIL 2000: 6.6.5.3). Proteksi sistem kendali harus terpisah dari proteksi yang lain. (PUIL 2000: 6.6.5.4).

2.2.21. Terminal dan Sepatu Kabel

Terminal harus terbuat dari paduan tembaga atau logam lain yang memenuhi persyaratan atau standar yang berlaku. (PUIL 2000: 6.6.6.1). Dudukan terminal harus terbuat dari bahan isolasi yang tidak mudah pecah atau rusak oleh gaya mekanis dan termis dari penghantar yang disambung pada terminal tersebut. (PUIL 2000: 6.6.6.2). Kemampuan terminal sekurang-kurangnya harus sama dengan kemampuan sakelar dari sirkit yang bersangkutan. (PUIL 2000: 6.6.6.3). Sepatu kabel harus dibuat dari bahan yang sesuai dan kuat, dan ukurannya harus sesuai dengan kabel yang akan dipasang. Sepatu kabel yang dibuat dari bahan aluminium tidak boleh disambung dengan kabel tembaga atau sebaliknya, kecuali dengan menggunakan bimetal.Pemegang kabel harus dapat memikul gaya berat, gaya tekan, dan gaya tarik yang ditimbulkan oleh kabel yang akan dipasang sehingga gaya-gaya tersebut tidak akan langsung dipikul oleh gawai listrik yang lain. (PUIL 2000: 6.6.6.4).

               

(18)

2.3. Komponen-Komponen Panel Hubung Bagi

Seperti yang diterangkan didalam pengertian panel pada 2.2 bahwa didalam panel penulis membutuhkan komponen dalam suatu panel listrik yang diantaranya adalah:

1. Miniature Circuit Breaker (MCB).

2. Kontaktor Magnetik (Magnetic Contactor). 3. Thermal Overload (TOR).

4. Sakelar Tekan (Push Button). 5. Lampu Indikator (Indicator Lamp). 6. Kabel Penghantar.

7. Sepatu Kabel. 8. Busbar.

9. Cable Tidy atau Spiral. 10. Wiring Duct.

11. Cable Gland.

2.3.1. Miniature Circuit Breaker (MCB)

Miniature Circuit Breaker (MCB) merupakan alat pengamanan

terhadap gangguan beban lebih dan arus hubung singkat. Berdasarkan konstruksinya, MCB dilengkapi dengan komponen dwi logam yang digunakan untuk pengamanan gangguan beban lebih dan komponen elektromagnetik untuk pengamanan terhadap gangguan arus hubung singkat.

Thermis, prinsip kerjanya berdasarkan pada pemuaian atau pemutusan

dua jenis logam yang koefisien jenisnya berbeda. Kedua jenis logam tersebut dilas jadi satu keping (bimetal) dan dihubungkan dengan kawat arus. Jika arus yang melalui bimetal tersebut melebihi arus nominal yang diperkenankan maka bimetal tersebut akan melengkung dan memutuskan aliran listrik.

Magnetik, prinsip kerjanya adalah memanfaatkan arus hubung singkat yang cukup besar untuk menarik sakelar mekanik dengan prinsip induksi

               

(19)

elektromagnetis. Semakin besar arus hubung singkat, maka semakin besar gaya yang menggerakkan sakelar tersebut sehingga lebih cepat memutuskan rangkaian listrik dan gagang operasi akan kembali ke posisi off. Busur api yang terjadi masuk ke dalam ruangan yang berbentuk pelat-pelat, tempat busur api dipisahkan, didinginkan dan dipadamkan dengan cepat.

Gambar 2.2. Miniature Circuit Breaker(MCB)

1. Jenis-Jenis MCB (Miniature Circuit Breaker) a. Kurva B

Miniature Circuit Breaker ( MCB ) jenis ini biasanya digunakan untuk

kontrol dan proteksi baik di industri maupun di perumahan. Karakteristik dari jenis ini memiliki magnetic trip 3-5 x In, maksudnya untuk perumahan dengan besar arus tiga sampai lima kali arus nominal akan membuat MCB ( Miniature Circuit Breaker ) bekerja. Dan dibawah ini merupakan gambar dari karakteristik MCB.

               

(20)

Gambar 2.3. Kurva karakteristik arus waktu pemutusan tenaga jenis B

b. Kurva C

Miniature Circuit Breaker ( MCB ) jenis ini biasanya digunakan untuk

kontrol dan proteksi baik di industri maupun di perumahan. Karakteristik dari jenis ini memiliki magnetic trip 5-10 x In, maksudnya untuk perumahan dengan besar arus lima sampai sepuluh kali arus nominal akan membuat MCB ( Miniature Circuit Breaker ) bekerja. Dan dibawah ini merupakan gambar dari karakteristik MCB

Gambar 2.4. Kurva karakteristik arus waktu pemutusan tenaga jenis C

               

(21)

c. Kurva D

Miniature Circuit Breaker ( MCB ) jenis ini lebih dikhususkan untuk

dipakai dalam instalasi dengan arus masuk yang tinggi. Karakteristik dari jenis ini memiliki magnetic trip 10-50 x In, maksudnya untuk perumahan dengan besar arus sepuluh sampai lima puluh kali arus nominal akan membuat MCB ( Miniature Circuit Breaker ) bekerja. Dan dibawah ini merupakan gambar dari karakteristik MCB.

Gambar 2.5. Kurva karakteristik arus waktu pemutusan tenaga jenis D

2. Spesifikasi MCB

Gambar 2.6. Name plate MCB

               

(22)

1. Tipe CB. 2. Rating Arus.

3. Karakteristik kurva Tripping. 4. Tegangan Kerja.

6. Nomor Katalog.

7. Rating arus minimal gangguan (BC). 8. Rating arus maksimal gangguan (BC). 9. Simbol Rating CB (IEC).

3. Kurva Arus MCB

Pemilihan MCB ditentukan oleh beberapa hal, yaitu : 1. Standar yang berlaku. Contoh PUIL, SPLN, IEC, dll. 2. Kapasitas Pemutusan.

Kapasitas pemutusan tidak boleh kurang dari arus hubung pendek prospektif pada tempat instalasinya (PUIL pasal 3.24.4.3.1).

3. Arus Pengenal. 4. Tegangan.

Tegangan operasional pengenal pemutus tenaga harus lebih besar atau sama dengan tegangan sistem. Dibawah ini adalah gambar kurva pemutus sirkit Thermal Magnetic. Namun untuk lebih lengkap dapat dilihat pada lampiran.

Gambar 2.7. Kurva standar operasi untuk pemutus sirkit termal-magnetik

               

(23)

Ir adalah arus nomimal mcb, sedangkan Im adalah arus hubung singkat minimum, dan Icu adalah arus hubung singkat maksimum atau arus

Breaking Capacity.

4. Gawai Proteksi Motor

Menurut PUIL 2000 pasal 5.5.5.2.2 : Untuk sirkit akhir yang menyuplai motor tunggal, nilai pengenal atau setelan proteksi hubung singkat tidak boleh melebihi dari nilai yang bersangkutan dalam tabel 2.1. juga dalam pasal 5.5.5.2.3 menyebutkan untuk sirkit akhir yang menyuplai beberapa motor, nilai pengenal atau setelan gawai proteksi, tidak boleh melebihi nilai terbesar dihitung menurut tabel 2.1 untuk masing-masing motor.

Tabel 2.1. Nilai pengenal atau setelan tertinggi gawai proteksi sirkit motor terhadap

hubung pendek (PUIL tabel 5.5-2).

Jenis Motor Persentase Arus Beban Lebih Pemutus Sirkit % Pengaman Lebur%

Motor sangkar atau

serempak, dengan

pengasutan bintang segitiga, langsung pada jaringan dengan reactor atau resistor dan motor pasa tunggal.

250 400

Motor sangkar atau

serempak, dengan

pengasutan

autotransformator atau motor sangkar reaktansi tinggi.

200 400

Motor rotor lilit atau arus

searah. 150 400                

(24)

Maka, menurut tabel diatas bisa dilihat bahwa besarnya rating MCB yang digunakan untuk mengamankan motor sangkar dapat diketahui dengan menggunakan persamaan :

Rating MCB = 250% x In………(2.1.)

5. Breaking Capasity

Setelah mendapatkan rating MCB, maka harus ditentukan pula kapasitas pemutusan (Breaking Capasity). Perhitungan kapasitas pemutusan sangat penting untuk memperkirakan besarnya arus hubung singkat maksimum yang mungkin terjadi, sehingga dapat ditentukan besarnya kapasitas Breaking Capasity (BC) peralatan pengaman. Perhitungan besarnya BC pada peralatan pengaman di suatu titik jaringan instalasi menjadikan peralatan pengaman mampu untuk menahan arus hubung singkat yang terjadi pada saat terjadi gangguan pada instalasi tersebut. Proteksi hubung singkat yang optimum harus disediakan untuk mempertahankan kinerja, usia, dan biaya efektif dari peralatan. Untuk menghitung besarnya Breaking Capasity dapat dihitung dengan menggunakan metode tabulasi (pembacaan tabel metode pendekatan).

Rumus perhitungan Breaking Capasity:

...(2.2.)

2.3.2. Kontaktor Magnetik (Magnetic Contactor)

Kontaktor magnet adalah gawai elektromekanik yang dapat berfungsi sebagai penyambung dan pemutus rangkaian, yang dapat dikendalikan dari jarak jauh. Pergerakan kontak-kontaknya terjadi karena adanya gaya elektromagnet. Kontaktor magnet merupakan sakelar yang bekerja berdasarkan kemagnetan. Karena magnet berfungsi sebagai penarik dan pelepas kontak-kontak pada kontaktor.

               

(25)

Gambar 2.8. Kontaktor Magnetik

Berdasarkan fungsinya, kontak-kontak pada kontaktor ada 2 macam, yaitu: 1. Kontak Utama

Adalah kontak yang menghubungkan dan memutuskan arus listrik yang menuju ke beban atau motor. Dapat dilihat pada tabel 2.2 :

Tabel 2.2. Simbol Input dan Output Kontak utama.

No Simbol Input Kontaktor Utama Simbol Output Kontaktor Utama 1 1 atau R 2 atau U 2 3 atau S 4 atau V 3 5 atau T 6 atau W 2. Kontak Bantu

Kontak ini hanya digunakan pada rangkaian kontrol. Terdiri dari dua jenis kontak yaitu kontak normally open (NO) dan normally close (NC). a. Kontak NO cirinya bernomor ganda dan nomor terakhir adalah 3-4.

Contoh : 13-14, 23-24, 33-34.

b. Kontak NC cirinya bernomor ganda dan nomor terakhir 1-2. Contoh : 11-12, 21-22, 31-32.

Dalam pemilihan kontaktor, jika dilihat dari beban ada beberapa hal yang menjadi parameter. Yaitu:

a. Jenis beban.

b. Kapasitas beban, meliputi : arus, tegangan, daya, dll.

               

(26)

c. Frekuensi On-Off. d. Kategori penggunaan.

Sedangkan untuk pemilihan jenis kontaktornya sendiri harus memperhatikan:

a. Tegangan kerja. b. Besarnya daya.

c. Kemampuan hantar arus (kontaknya). d. Jumlah kontak bantu yang dimiliki. e. Kategori penggunaan.

Pemilihan kontaktor yang didasarkan pada standar kategori pemakaian yang ditetapkan oleh standar IEC 6094-7 didefinisikan sebagai harga arus kontaktor saat penutupan atau pembukaan kontak yang tergantung pada : a. Kategori pemakaian AC1 : Pemakaian untuk beban non-induktif atau

sedikit induktif.

b. Kategori pemakaian AC2 : Pemakaian untuk starting motor slipring

(starting, switching off).

c. Kategori pemakaian AC3 : Untuk pemakaian pada starting motor rotor sangkar. (starting, switching off).

d. Kategori pemakaian AC4 : Pemakaian untuk jenis motor rotor sangkar

(starting, plugging atau berbalik arah putaran, inching).

2.3.3. Thermal Overload Relay (TOR) a. Pengertian

Thermal Overload Relay (TOR) adalah suatu pengaman beban lebih

pada motor. Menurut PUIL 2000 pasal 5.5.4.1 menyebutkan bahwa proteksi beban lebih (arus lebih) dimaksudkan untuk melindungi motor dan perlengkapan kendali motor, terhadap pemanasan berlebihan sebagai akibat beban lebih atau sebagai akibat motor tak dapat diasut. Beban lebih atau arus lebih pada waktu motor berjalan bila bertahan cukup lama akan mengakibatkan kerusakan atau pemanasan yang berbahaya pada motor tersebut. TOR memiliki rating yang berbeda-beda tergantung dari

               

(27)

kebutuhan, biasanya tiap-tiap TOR batas ratingnya dapat diatur. Bentuk fisik TOR bisa dilihat pada gambar 2.9.

Gambar 2.9. Bentuk TOR ( Thermal Overload)

Relay ini dihubungkan dengan kontaktor pada kontak utama 2, 4, 6 sebelum ke beban (motor listrik). Gunanya untuk mengamankan motor listrik atau memberi perlindungan kepada motor listrik dari kerusakan akibat beban lebih. Beberapa penyebab terjadinya beban lebih antara lain:

a. Terlalu besarnya beban mekanik dari motor listrik

b. Arus start yang tertalu besar atau motor listrik berhenti secara mendadak c. Terjadinya hubung singkat

d. Terbukanya salah satu fasa dari motor listrik 3 fasa.

Arus yang terlalu besar yang timbul pada beban motor listrik akan mengalir pada belitan motor listrik yang dapat menyebabkan kerusakan dan terbakarnya belitan motor listrik. Untuk menghindari hal itu dipasang termal beban lebih pada alat pengontrol.

Tabel 2.3. Notasi kontak pada TOLR

Kontak Notasi Angka Jenis kontak Penggunaan

Utama 1 3 5 2 4 6 NC Ke kontaktor Ke Motor 95-96 NC Pengaman 97-98 NO Ke lampu tanda                

(28)

b. Cara kerja

TOLR pada prinsipnya terdiri dari dua macam logam yang berbeda serta tingkat pemuaian yang berbeda pula. Kedua logam tersebut dilekatkan menjadi satu yang disebut bimetal. Apabila bimetal tersebut dipanasi maka akan membengkok karena perbedaan tingkat pemuaian kedua logamnya. Bimetal tersebut diletakan didekat sebuah elemen pemanas yang dilalui oleh arus menuju beban. Ujung yang satu dipasang tetap sedangkan yang lainnya dipasang bebas bergerak dan membengkok dan dapat membukakan kontak-kontaknya, dengan demikian rangkaian beban atau motor akan terputus.

c. Menentukan Pemilihan dan Setting Thermal Overload Relay

Untuk memilih TOR ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu: a. Kemampuan menghantarkan arus

b. Tegangan kerja nominal

c. Nilai nominal arus beban lebih (seting arus beban lebih) d. Karakteristik berdasarkan kelas TOLR

TOR di pasaran memiliki beberapa tipe yang disebut Class. Jadi, dengan memilih Class yang berbeda maka kecepatan trip TOLR pun akan berbeda pula. Untuk TOLR dengan tipe LRD 01 sampai 16, 21 sampai 35 termasuk kedalam Class 10. Sedangkan tipe LR2 D15, D25, dan D35 termasuk kedalam Class 20. Namun TOLR untuk motor yang starting TOLR Class 10.                

(29)

Gambar 2.10. Kurva Karakteristik TOR Class 10

Angka 1 menunjukkan keadaan tiga fasa dalam keadaan dingin atau mulai start. Angka 2 menunjukkan keadaan dua fasa dalam keadaan dingin atau mulai start. Dan angka 3 menunjukkan keadaan tiga fasa dalam keadaan panas atau setelah beroperasi dalam waktu yang lama.

Menurut PUIL 2000 pasal 5.5.4.3 bahwa : Gawai proteksi beban lebih yang digunakan adalah tidak boleh mempunyai nilai pengenal, atau disetel pada nilai yang tinggi dari yang diperlukan untuk mengasut motor pada beban penuh. Oleh karena itu, waktu tunda gawai proteksi beban lebih tersebut tidak boleh lebih lama dari yang diperlukan untuk memungkingkan motor diasut dan dipercepat pada beban penuh.Untuk menentukan arus setting TOLR ini dengan cara:

I set TOLR ≤ In………..………..(2.3.)

2.3.4. Sakelar Tekan (Push Button)

Sakelar tekan atau push button adalah jenis sakelar yang tidak memiliki pengunci, sakelar tersebut mempunyai dua buah kontak, yaitu kontak NO dan NC. Kontak NO akan terhubung hanya pada saat selama tombol ini ditekan dan kontak NC akan lepas hanya pada saat selama

               

(30)

tombol ini ditekan. Fungsi dari tombol tekan atau push button dalam rangkaian adalah untuk mengaktifkan dan menon-aktifkan kontaktor magnetik.

Gambar 2.11. Tombol Tekan (Push Button)

Prinsip kerja Push Button adalah apabila dalam keadaan normal atau tidak ditekan maka kontak tidak berubah, apabila ditekan maka kontak NC akan berfungsi sebagai stop (memberhentikan) dan kontak NO akan berfungsi sebagai start (menjalankan). Biasanya digunakan pada sistem pengontrolan motor-motor induksi untuk menjalankan dan mematikan motor di industri-industri.

Dalam pemasangan push button terdapat identifikasi warna yang membedakan fungsi masing-masing. Identifikasi warna pada push button menurut IEC 60204-1 dapat dibedakan sesuai penjelasan pada tabel 2.4.

Tabel 2.4. Standardisasi warna Push Button menurut IEC 60204-1

Warna Makna Warna Aplikasi

Merah Kondisi Bahaya Tombol Bahaya (Dibolehkan untuk Tombol Stop)

Kuning Kondisi Tidak Normal

Tombol untuk kondisi tidak normal yang dioperasikan operator

Biru

Membutuhkan penanganan

operator

Tombol Reset

Hijau Kondisi Normal

1. Menunjukan kondisi normal (Dibolehkan untuk Tombol Start) 2. Tombol Start                

(31)

Lanjutan Tabel 2.4. Standardisasi warna Push Button menurut IEC 60204-1

Warna Makna Warna Aplikasi

Putih

Fungsi Umum

1. Tombol Start (Diutamakan) 2. Tombol Stop

Abu-Abu 1. Tombol Start

2. Tombol Stop

Hitam 1. Tombol Stop (Diutamakan)

2. Tombol Start

2.3.5. Lampu Indikator (Indicator Lamp)

Lampu indikator adalah suatu komponen sistem kendali yang digunakan untuk memberikan penandaan visual terhadap kondisi operasi sistem. Komponen ini terdiri atas sebuah lampu kecil (pijar/neon) dengan rumahnya yang tutup atasnya terbuat dari bahan transparan dengan warna tertentu. Warna-warna lampu indikator ini dapat dipilih sesuai dengan standar kode warna yang berlaku. Lampu indikator umumnya disambungkan sedemikian rupa sehingga akan menyala jika kontaktor terkait sedang dalam kondisi operasi atau lampu-lampu indikator digunakan untuk memberi tanda bahwa motor telah siap untuk dijalankan dan motor telah beroperasi. Lampui indikator sering digunakan pula untuk indikator kondisi operasi sistem atau sub sistem yang lain seperti kondisi gangguan dan tujuan peringatan.

Gambar 2.12. Bentuk fisik Pilot lamp

Seperti halnya pada push button, lampu indikator juga memiliki identifikasi kode warna yang membedakan setiap lampu indikator sesuai

               

(32)

dengan fungsinya. Menurut IEC 60204-1 identifikasi warna pada lampu indiktor dibedakan sebagai berikut.

Tabel 2.5. Standardisasi warna lampu indikator menurut IEC 60204-1

Warna Makna Warna Aplikasi

Merah Kondisi Bahaya Menandakan kondisi bahaya dan

membutuhkan penanganan

secepatnya oleh operator Kuning Kondisi Tidak

Normal

Monitoring dan atau membutuhkan penanganan dari operator

Biru Mesin siap untuk bekerja

Mesin dalam kondisi siap dioperasikan

Hijau Kondisi Normal 1.Sakelar utama dalam kondisi ON 2.Pemilihan kecepatan dan arah

putar mesin

3.Peralatan utama ataupun tambahan yang dalam kondisi ON

4. Mesin Bekerja Putih Fungsi lain yang

tidak dapat dijelaskan melalui

warna diatas

2.3.6. Penghantar

Penghantar yang digunakan untuk instalasi listrik adalah penghantar yang dilindungi dengan isolasi atau disebut dengan kabel. Perkembangan penghantar semakin pesat seiring berkembangnya bahan-bahan isolasi, sehingga banyak bermunculan jenis penghantar baru. Untuk mempermudah identifikasi dari jenis kabel yang ada, maka diadakan suatu penandaan dari

               

(33)

huruf maupun angka. Kode pengenal kabel yang sering digunakan adalah sebagai berikut :

Untuk Instalasi listrik, penyaluran arus listriknya dari panel ke beban maupun sebagai pengaman ( arus bocor ke tanah ) digunakan penghantar listrik yang sesuai dengan penggunaanya. Penghantar yang terbungkus isolasi, ada yang berinti tunggal atau banyak. ada yang pejal atau berserabut, ada yang terpasang di udara atau didalam tanah, dan masing-masing digunakan sesuai dengan kondisi pemasangannya.

Menurut PUIL 2000 bagian 7.2.1.1 (lihat lampiran A), Peraturan warna selubung penghantar dan warna isolasi inti penghantar yang tercantum dalam pasal ini berlaku untuk semua instalasi tetap atau sementara, termasuk instalasi dalam perlengkapan listrik.

a. Standar Warna

Kabel dan hantaran listrik memiliki identifikasi kode warna yang dibuat sesuai standar, karena dalam penggunaanya setiap warna kabel memiliki arti masing masing. Berikut standar warna kabel menurut PUIL 2000 :

Tabel 2.6. Standar warna kabel menurut PUIL 2000

No Warna Selubung Keterangan

1 Merah Fasa R

2 Kuning Fasa S

3 Hitam Fasa T

4 Biru Netral

5 Kuning - Hijau Pentanahan

1. Earth/pertanahan: Warna majemuk hijau- kuning, tak boleh untuk tujuan lain.

2. Kawat netral/Tengah: warna biru, bila instalasi tanpa hantaran netral, warna biru boleh digunakan.

3. Kawat fase/life/hidup: Fase 1 ( Fase R ) : Merah

               

(34)

Fase 2 ( Fase S ) : Kuning Fase 3 ( Fase T ) : Hitam

b. Jenis-Jeni Kabel Penghantar 1. Kabel NYA

Yaitu kabel dengan penghantar/inti tembaga berselubung PVC. Kabel NYA berinti tunggal, berlapis bahan isolasi PVC, untuk instalasi luar/kabel udara. Kode warna isolasi ada warna merah, kuning, biru dan hitam. Kabel tipe ini umum dipergunakan di perumahan karena harganya yang relatif murah. Lapisan isolasinya hanya 1 lapis sehingga mudah cacat, tidak tahan air (NYA adalah tipe kabel udara) dan mudah digigit tikus.

Gambar 2.13. Konstruksi kabel NYA.

Agar aman memakai kabel tipe ini, kabel harus dipasang dalam pipa/conduit jenis PVC atau saluran tertutup. Sehingga tidak mudah menjadi sasaran gigitan tikus, dan apabila ada isolasi yang terkelupas tidak tersentuh langsung oleh orang.

2. Kabel NYM

Yaitu kabel jenis standar dengan tembaga sebagai penghantar berisolasi PVC dan berselubung PVC, Kabel NYM memiliki lapisan isolasi PVC (biasanya warna putih atau abu-abu), ada yang berinti 2, 3, atau 4. Kabel NYM memiliki dua lapisan isolasi, sehingga tingkat keamanannya lebih baik dari kabel NYA (harganya lebih mahal dari NYA). Kabel ini dapat dipergunakan dilingkungan yang kering dan basah, namun tidak boleh ditanam.                

(35)

Gambar 2.14. Konstruksi NYM dengan tegangan kerja 500 V

3. Kabel NYAF

Merupakan jenis kabel fleksibel dengan penghantar tenbaga serabut berisolasi PVC. Digunakan untuk instalasi panel - panel yang memerlukan fleksibilitas yang Tinggi.

Gambar 2.15. Konstruksi kabel NYAF

4. Kabel NYY

Merupakan kabel jenis standar dengan tembaga sebagai penghantar berselubung PVC dan berisolasi PVC. Kabel NYY memiliki lapisan isolasi PVC (biasanya warna hitam), ada yang berinti 2, 3 atau 4. Kabel NYY dipergunakan untuk instalasi tertanam (kabel tanah), dan memiliki lapisan isolasi yang lebih kuat dari kabel NYM (harganya lebih mahal dari NYM). Kabel NYY memiliki isolasi yang terbuat dari bahan yang tidak disukai tikus.

Gambar 2.16. Konstruksi kabel NYY

               

(36)

c. Pemilihan Penghantar

Dalam pemilihan jenis penghantar yang akan digunakan untuk instalasi sistem pengasutan motor ditentukan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:

1. Memilih Tegangan Nominal 2. Kemampuan hantar arus (KHA) 3. Kondisi suhu.

4. Drop tegangan. 5. Kondisi lingkungan. 6. Kekuatan mekanis. 7. Kemungkinan perluasan.

2.3.7. Kemampuan Hantar Arus ( KHA )

Kemampuan Hantar Arus ( KHA ) suatu kabel dapat dinyatakan sebagai kemampuan maksimum kabel untuk dilalui arus secara terus-menerus tanpa menyebabkan kerusakan pada kabel tersebut.

Untuk menentukan kemampuan hantar arus ( KHA ) dan luas penampang penghantar maka harus diketahui arus nominal ( In ) dari beban yang dihubungkan, In dapat ditentukan dengan persamaan sebagai berikut :

Untuk arus searah DC

V P

I  ...(2.4.) Untuk arus bolak balik satu fasa

Cos V P I   ...(2.5.) Untuk arus bolak balik tiga fasa

Cos V P I    3 ...(2.6.) Dimana : I = Arus nominal ( A )

P = Daya aktif ( W ) V = Tegangan ( V ) Cos φ = Faktor daya

Menurut PUIL 2000 bagian 5.5.3.1 nilai KHA tidak boleh kurang dari 125 % In, jika KHA telah diketahui maka untuk menentukan luas

               

(37)

penampang dipilih kabel yang memiliki nilai yang diatasnya. Diperhatikan pula rating MCB yang dipilih. Jika nilai KHA masih dibawah rating MCB, maka ditetapkan rating MCB sebagai KHA minimal yang digunakan. Sedangkan untuk penghantar sirkit akhir yang mensuplai dua motor atau lebih tidak boleh mempunyai KHA kurang dari jumlah arus beban penuh semua motor itu ditambah 25 % dari arus beban penuh motor yang terbesar dalam kelompok tersebut ( PUIL 2000 5.5.3.2 ), apabila kemampuan hantar arus sudah diketahui maka tinggal menyesuaikan dengan tabel untuk mencari luas penampang yang diperlukan. Berikut adalah salah satu tabel antara luas penampang dengan kemampuan hantar arus penghantar. Dengan tujuan apabila terjadi gangguan, kabel masih dapat menghantarkan arus sebelum MCB memutuskan rangkaian.

Dibawah ini adalah tabel untuk menentukan luas penampang penghantar. Diambil dari tabel 7.3-1 pada PUIL 2000.

Tabel 2.7. Tabel untuk menentukan luas penampang penghantar

Jenis Penghantar Luas Penampang mm² KHA terus menerus KHA pengenal gawai proteksi NYFA NYFAF NYFAD NYA NYAF NYFAw NYFAFw NYFAZw NYFADw NYL 1,5 18 10 2,5 26 20 4 34 25 6 44 35 10 61 50 16 82 63 25 108 80 35 135 100 50 168 125 70 207 160 95 250 200 120 292 250                

(38)

Lanjutan Tabel 2.7. Tabel untuk menentukan luas penampang penghantar Jenis Penghantar Luas Penampang mm² KHA terus menerus KHA pengenal gawai proteksi 150 335 250 185 382 315 240 453 400 300 504 400 400 - - 500 - - 2.3.8. Sepatu Kabel

Hubungan setiap terminal (apitan) pada suatu penghantar haruslah cukup kuat, nilai kabel digerak-gerakan atau direntangkan harus dijamin tidak akan lepas atau putus. Untuk memperkuat setiap terminal dapat menggunakan sepatu kabel. Sepatu kabel yaitu alat yang dapat dipasang pada ujung kabel yang tidak berisolasi. Dengan dipasangnya sepatu kabel akan memudahkan pelaksanaan pekerjaan, terutama pada pekerjaan kabel-kabel yang besar.

Dengan pemasangan sepatu kabel hendaknya diperhatikan benar kerapihan dan kekokohan pemasangan sehingga tidak mengalami rugi tegangan yang berarti. Di pasaran, sepatu kabel dijual dengan ukuran tebal dan besar yang sesuai dengan ukuran kabelnya. Berdasarkan pada cara pemasangannya, sepatu kabel terdapat beberapa bentuk :

1. Pemasangan sepatu kabel dengan sekrup

Suatu hal yang harus dijaga dalam pemasangan sepatu kabel dengan sekrup ialah ditinjau dari segi kelistrikan dan mekanis harus cukup aman. Sebenarnya pemasangan dengan sekrup cukup mudah dan praktis karena dapat dilakukan disembarang tempat, namun bila tidak baik pemasangannya akan mudah lepas.

               

(39)

Cara pemasangannya : bersihkan sepatu kabel yang tidak berisolasi sepanjang longsongan sepatu kabel agar hubungannya baik. Keraskan sekrup yang ada dengan menggunakan obeng atau kunci pas dan semacamnya. Pada gambar di bawah diperlihatkan beberapa bentuk sepatu kabel yang dipasang dengan sekrup.

Gambar 2.17. Sepatu Kabel dengan Sekrup

2. Pemasangan sepatu kabel dengan alat penekan

Cara ini lebih praktis, akan tetapi sepatu kabel yang telah dipasang tidak dapat dilepas lagi (permanen) dengan mudah. Selain daripada itu pemasangannya pun harus menggunakan alat khusus untuk keperluan ini.

Gambar 2.18. Sepatu Kabel dengan Penekan

3. Pemasangan sepatu kabel dengan pematrian

Pemasangan sepatu kabel dengan pematrian merupakan suatu cara yang cukup baik. Dengan mematrikan langsung kawat kabel ke dalam selongsong sepatu kabel akan mendapatkan hubungan baik dan kokoh. Cara pemasanganya : setelah kabel dibuka isolasinya, bersihkanlah kawatnya dari kotoran yang mengganggu penempelan timah. Untuk memperoleh hasil yang sempurna sebaiknya bagian kawat yang akan

               

(40)

dimasukan ke dalam sepatu kabel dilapisi dahulu dengan patri. Selanjutnya cairkanlah timah dan tuangkan ke dalam sepatu kabel secukupnya. Kemudian masukan kawat kabel ke dalam selongsong sebelum timah membeku. Pada umumnya bagian dalam (lubang) sepatu kabel yang diperdagangkan telah dilapisi dengan timah.

Gambar 2.19. Pematrian Sepatu Kabel

2.3.9. Busbar

Busbar merupakan penghantar listrik yang berbentuk empat persegi

panjang tanpa isolasi. Busbar biasanya ditempatkan di dalam panel yang bersifat menampung tenaga listrik guna menyalurkannya ke komponen lainnya. Pada penggunaanya busbar dipasang untuk keperluan fasa, netral, dan pembumian. Untuk membedakan antara fasa dan netral, busbar diberi cat dengan warna yang berbeda yakni:

1. Fasa R (LI) dicat dengan warna merah.

2. Fasa S (L2) dicat dengan warna kuning.

3. Fasa T (L3) dicat dengan warna hitam.

4. Netral (N) dicat dengan warna biru.

Busbar yang digunakan pada PHB harus terbuat dari tembaga atau

logam yang memenuhi persyaratan sebagai penghantar listrik. Besar arus yang mengalir dalam rel tersebut harus diperhitungkan sesuai kemampuan rel sehingga tidak akan menyebabkan suhu rel lebih dari 65° C. Sedangkan untuk memberi warna rel dan saluran harus dari jenis yang tahan terhadap kenaikan suhu yang diperbolehkan (PU1L: 2000: 6.6.4.1 - 6.6.4.3).

               

(41)

Tabel 2.8. Arus Pada Penampang Busbar

Ukuran

Penam-pang Berat

Pembebanan Kontinu (A) Arus Bolak-Balik Dilapisi Lapisan Konduktif

Jumlah Batang Telanjang

mm kg/m 1 2 3 4 1 2 3 4 12 x 2 15 x 2 15 x 3 20 x 2 20 x 3 20 x 5 25 x 3 25 x 5 30 x 3 30 x 5 40 x 3 40 x 5 40 x 10 50 x 5 24 30 45 40 60 100 75 125 90 150 120 200 400 250 0,23 0,27 0,40 0,36 0,53 0,89 0,67 1,11 0,80 1,34 1,07 1,78 3,56 2,23 123 148 187 205 237 325 287 385 350 448 460 576 865 703 202 240 316 350 394 470 766 670 600 760 780 952 1470 1140 - - - - - - - - - - - - 2060 1750 - - - - - - - - - - - - 2800 2310 100 128 162 185 204 290 245 350 315 379 420 482 715 588 182 252 282 315 384 495 412 600 540 672 710 836 1290 994 - - - - - - - - - - - - 1650 1550 - - - - - - - - - - - - 25 00 Catatan : Suhu sekitar 30-35 oC.

Suhu penghantar tembaga maksimum 65oC.

Gambar 2.20. Busbar

2.3.10. Cable Tidy (Spiral)

Cable Tidy atau Spiral digunakan untuk pembungkus kabel atau casing kabel untuk mengamankan kabel dan memperindah kabel. Biasanya selubung kabel ini dipakai untuk kabel yang menuju lampu indikator dan

               

(42)

atau menuju pintu panel. Dengan adanya spiral kabel terlihat lebih rapih dan tidak berantakan, biasanya pada panel-panel sering menggunakan solasi untuk menggabungkan beberapa kabel menjadi satu, dengan adanya spiral kabel tersebut dapat d lilit atau di satukan. Penggunaan spiral sangat cocok pada panel instalasi, karena lebih mudah mengarahkan penghantar dan tidak menghabiskan ruang panel yang sangat sempit.

Gambar 2.21. Spiral atau Cable Tidy

2.3.11. Wiring Duct

Wiring Duct digunakan untuk jalur-jalur kabel supaya terlihat rapih dan

tidak terlihat acak-acakan. Biasanya wiring duct ini dipakai di dalam panel untuk wadah beberapa kabel sebelum menuju komponen harus menuju

wiring duct terlebih dahulu di karenakan supaya terlihat rapih.

Gambar 2.22. Wiring Duct

2.3.12. Cable Gland (Kabel Gland)

Pada intinya Cable Gland adalah sebuah alat (non-listik) yang dipakai untuk melekatkan dan mengamankan ujung kabel di sisi peralatan listrik. Fungsi Cable Gland yaitu mengurangi stress pada terminal dan tembaga

               

(43)

yang diterminasi. Stress itu disebabkan karena tarikan gravitasi berat kabel atau vibrasi. Jadi, efek mekanis kabel diluar peralatan listrik tidak ditahan oleh terminal, tetapi oleh Cable Gland tadi. Pada lingkungan yang berbahaya (hazardous area), Cable Gland juga harus mendukung fungsi ini. Untuk Cable Gland type Eex „d” (explosion proof), berfungsi juga menahan

internal pressure jika terjadi ledakan didalam sebuah papan bagi

(distribution panel) jenis Eex „d‟. Cable Gland juga berperan dalam instalasi bangunan higienis sehingga bisa mempertahankan tekanan bangunan lebih tinggi dari dalam bangunan (positive pressure). Ruangan jadi bebas debu dan bebas dari rembesan air yang masuk/turun melalui kabel. Cable Gland juga berperan untuk memberikan koneksi secara fisik dari panel ke kabel armor atau shielding kabel. Cable Gland sendiri memiliki berbagaia macam type dari segi material, seperti yang dikemukakan terbuat dari:

a. Plastik.

b. Kuningan.

c. Aluminum.

d. Stainless Steel.

Cable Gland sendiri memiliki beberapa fitur khusus alias sesuai

pesanan, seperti tahan api, tahan ledakan (explosion proof), pelindung electromagnetic interference (EMI). Cable Gland tahan api bertujuan untuk mencegah penyebaran api melalui kabel (yang terbakar) ke area yang lain (fire zone barrier). Cable Gland tahan ledakan (explosion proof), seperti dijelaskan diatas, memiliki kekuatan extra untuk menahan ledakan dan percikan (arcing) keluar dari panel listrik. Cable Gland dengan fitur EMI shielding (beserta dengan asesoris pentanahannya (grounding) dipakai jika memerlukan interferensi elektromagnetik atau interferensi gelombang radio yang minim atau bahkan tidak ada sama sekali.Untuk area industrial dan

marine pada umumnya memakai Cable Gland bermaterial kuningan (brass).

Ini disebabkan karena kekuatan dan ketahanan terhadap korosi serta harga cukup memadai. Akan tetapi harus diingat bahwa setiap material logam

               

(44)

memiliki daya korosif terhadap logam lain (galvanic corrosion). Pada umumnya galvanic corrosion dapat diterima jika beda potensial material tersebut 0.25 V untuk kondisi normal dan skala 0.15V pada lingkungan yang keras. Isolator biasanya dipakai untuk mencegah terjadinya galvanic

corrosion jika material yang dipakai memiliki index galvanic series yang

berjauhan.

Contoh gland dengan double compression adalah seperti di gambar dibawah. Gambar dibawah ini adalah gambar schematicnya

(from http://www.cometgland.com)

Gambar 2.23. Cable Gland.

2.3.13. Line Up Terminal

Line Up Terminal merupakan sederetan terminal yang berguna untuk

penyambungan dari rangkaian panel ke pemakaian. Terminal blok ini dapat dikategorikan sebagai pelengkap dan merupakan tempat penampungan. ”Terminal ini harus ter uat dari paduan tem aga atau logam lain yang memenuhi persyaratan yang berlaku serta mempunyai kemampuan sekurang-kurangnya sama dengan kemampuan saklar dari sirkit yang bersangkutan. Dudukan terminal harus terbuat dari bahan isolator yang tidak mudah pecah,rusak oleh gaya mekanis dan termis dari penghantar yang disambung pada terminal tersebut.” ( UIL 2000 : . . – 6.6.6.3 ).

               

(45)

Gambar 2.24. Line up terminal.

2.4. Beban (Motor Induksi)

Prinsip atau cara kerja dari motor induksi tiga fasa yaitu perputaran motor ditimbulkan karena adanya medan magnet (flux) yang berputar yang dihasilkan dari kumparan statornya yang diberi tegangan tiga fasa, dan rotor mendapat arus yang terinduksi sebagai akibat adanya medan putar yang dihasilkan oleh stator tadi. Medan putar pada stator akan memotong konduktor-konduktor pada rotor sehingga terjadi arus. Arus ini menyebabkan adanya medan magnet pada rotor dan rotor pun akan turut berputar mengikuti medan putar stator.

Gambar 2.25. Motor Induksi Tiga Fasa

2.5. Timer On Delay

Timer ON Delay Pneumatik. Timer ini terdiri dari, coil relay

kontaktor, kontak langsung, blok On delay timer dan kotak tunda.

               

(46)

Gambar 2.26. On Delay

Adapun simbol dari timer on delay :

Gambar 2.27. Timer On Delay Sistem Pneumatik

Gambar 2.28. Timer On Delay sistem Motorized

Gambar 2.29. Timer On Delay System Elektronik

Cara kerja On delay adalah apa ila coil di eri tegangan “kontak langsung” bekerja sedang kontak tunda belum bekerja. Kontak tunda bekerja apabila waktu pengesetannya telah terpenuhi apabila tegangan coil diputus maka kontak tundadan kotak langsung kembali keposisi semula.

               

(47)

Gambar 2.30. Diagram Timer On Delay

Diagram chart diatas memberikan contoh timer on delay dengan setingan waktu 10 detik. Saat coildiberi tegangan maka kontak langsung juga langsung bekerja, tapi kontak tunda akan bekerja setelah10 menit. Dan saat coil tidak diberi tegangan maka kontak langsung dan kontak tunda akan putus.

2.6. Labelling Sistem Penghantar Dan Komponen 2.6.1. Label Komponen

Sistem pelabelan ini pada dasarnya adalah pemberian identifikasi setiap komponen dalam suatu sistem sehingga dapat dibedakan secara mudah posisi jenis dan lokasi pemasangannya. Label jenis ini dibuat sesuai identifikasi setiap komponen dalam gambar diagramnya. Label ini dicetak diatas kertas stiker ataupun alluminium foil yang diberi lapisan perekat. Menurut standart IEC, pelabelan dibuat dengan 3 digit identifikasi yang merupakan kombinasi huruf dan angka sebagai berikut.

               

(48)

Digit I : berupa notasi huruf A – Z yang ditulis dengan huruf besar. Notasi ini menunjukkan jenis dari komponen yang bersangkutan.

Digit II : berupa notasi angka yang menunjukkan nomor urut dari setiap jenis komponen yang sama.

Digiti III : berupa notasi huruf A – Z yang ditullis dengan huruf besar. Notasi ini manunjukkan fungsi dari komponen yang bersangkutan.

Contohnya seperti K1M dimana huruf K menyatakan kontaktor, angka satu menyatakan kontaktor nomor urut ke satu, dan M menyatakan fungsi utama kontaktor.

Label komponen dirancang dan dibuat dengan mengikuti notasi yang terdapat pada diagram rangkaiannya. Label ini umumnya dicetak sendiri (tidak dijual bebas dipasaran) dengan cara :

1. Dicetak diatas almunium foil dan diberi lapisan perekat. 2. Dicetak diatas kertas stiker.

3. Gunakan cat yang tidak mudah luntur/terhapus.

2.6.2. Label Kawat Hantaran

Sistem pelabelan ini pada dasarnya adalah pemberian identifikasi setiap ujung kawat penghantar yang digunakan dalam suatu sistem. Label hantaran dipasang dengan acuan:

a. Setiap potongan kawat penghantar yang digunakan diberi tanda dengan notasi nomor hantaran yang sama pada kedua ujungnya.

b. Setiap penghantar yang terhubung pada titik yang sama diberi notasi nomor hantaran yang sama.

c. Penghantar masukan dan keluaran pada setiap anak kontak saklar diberi notasi nomor hantaran yang berbeda.

               

Gambar

Gambar 2.1. Konfigurasi  Panel
Gambar 2.4. Kurva karakteristik arus waktu pemutusan tenaga jenis C         
Gambar 2.5. Kurva karakteristik arus waktu pemutusan tenaga jenis D
Gambar 2.7.  Kurva standar operasi untuk pemutus sirkit termal-magnetik         
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pemegang opsi tidak diwajibkan untuk menggunakan haknya atau akan menggunakan haknya jika perubahan dari harga aset yang mendasarinya akan menghasilkan keuntungan

Bahan yang biasa digunakan sebagai penghantar arus listrik yaitu tembaga, alumunium, baja, emas, dan perak.Dari kelima bahan tersebut tembaga merupakan penghantar yang paling

Higher carrying capacity – Karena serat optik lebih tipis dari kabel tembaga maka kebanyakan serat optik dapat dibundel ke dalam sebuah kabel dengan diameter tertentu maka

2) Beton ringan menggunakan bahan kimia bubuk aluminium, yaitu beton ringan yang dibuat menggunakan foam agent dan bubuk aluminium dicampurkan dalam adukan semen,

Larutnya gas hidrogen dalam aluminium cair disebabkan oleh lingkungan yang lembab, material bahan yang kurang baik, proses penggunaan flux yang tidak optimal (tidak menutupi

Discharging. e) Loss pada kabel tergantung jarak kabel dan resistansi kabel. Salah satu syarat solar panel dapat menghasilkan daya sesuai daya peaknya adalah temperatur

Jumlah antara idler bawah adalah dua kali jarak atas.. Kecuali panjang rol, ukuran-ukuran yang lain dibuat sama dengan rol Idler atas. Poros yang dibebani dengan momen puntir

Pemegang opsi tidak diwajibkan untuk menggunakan haknya atau akan menggunakan haknya jika perubahan dari harga aset yang mendasarinya akan menghasilkan keuntungan