• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar belakang

Setiap hal yang ada didunia pasti ada tujuannya. Demikian pula dengan kebijakan, hadir dengan tujuan tertentu, yaitu mengatur krhidupan bersama, untuk mencapai tujuan bersama yang telah disepakati ( Riant Nugroho,2009:130). Salah satu permasalahan kesejahteraan sosial yang berkembang saat ini adalah masih banyaknya warga negara yang belum terpenuhi hak kebutuhan dasarnya secara layak karena pelayanan sosial dari negara yang belum diperolehnya. Akibatnya masih ada warga negara yang mengalami hambatan terhadap pelaksanaan fungsi sosial sehingga tidak dapat menjalani kehidupan secara layak dan kurangnya kesempatan dalam mengakses pendidikan dan kesehatan, kurangnya jaminan serta rendahnya kemampuan untuk menyampaikan aspirasi.

Pemerintah, sebagai organisasi negara yang bijak selalu menjaga fokusnya pada kesejahteraan rakyat sebagaimana juga telah dijadikan sebagai tuntutan masyarakat (Budiono,2009:28). Dalam konteks negara berkembang seperti Indonesia peran negara itu menjadi sangat penting, karena apapun yang berbicara mengenai pembangunan itu sangat terkait dengan negara terutama dalam aspek-aspek pendanaan pembangunan.

Kemiskinan merupakan salah satu permasalahan yang masih belum bisa teratasi. Pada umumnya masyarakat yang masih terbelakang, berpenghasilan rendah, dan jika diukur dengan kebutuhan hidup minimum masih dibawah standar itulah yang kebanyakan orang mendefinisikannya sebagai masyarakat miskin (Sumodiningrat,1999:13). Kebanyakan dari negara-negara berkembang yang masih memiliki permasalahan kemiskinan termasuk Indonesia pada umumnya akan melakukan tindakan yang kemudian dituangkan dalam sebuah kebijakan. Kementrian keuangan terus memperkuat alokasi anggaran untuk penanggulangan kemiskinan dan kesenjangan pada masyarakat yang berpendapatan rendah. Di Indonesia banyak kebijakan yang dibuat untuk pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat. Sebagai contoh, PNPM Mandiri, P2KP (Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan), dan Bantuan Langsung Tunai (BLT). Salah satu kebutuhan utama yang wajib dipenuhi oleh negara adalah kebutuhan akan pendidikan dan kesehatan. Sebagai tanggung jawab pemerintah, pemerintah harus

(2)

2

menjamin semua warga negaranya berhak mendapatkan kebutuhan dasar pendidikan dan kesehatan. Untuk itu pemerintah membuat berbagai kebijakan agar masyarakat miskin tetap bisa mengakses kebutuhan pendidikan dan kesehatan. Adanya isu kemiskinan dunia meresponnya dengan menyepakati dalam pertemuan pada September 2000 yang diikuti oleh 189 negara dengan mengeluarkan deklarasi yang dikenal dengan Sustainable Development Goals (SDG’s). Salah satu targetnya adalah mengurangi jumlah penduduk miskin hingga 50% pada tahun 2015 (Santoso, 2016: 159).

Sehubungan dengan hal tersebut dalam rangka penanggulangan kemiskinan dan pencapaian target Sustainable Development Goals (SDGs) sekaligus pengembangan kebijakan dibidang perlindungan sosial, sejak tahun 2007 pemerintah Indonesia dalam hal ini melalui Direktorat Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial merancang suatu program khusus untuk pemberdayaan masyarakat miskin yang dikenal dengan Program Keluarga Harapan (PKH). Program ini bertujuan untuk membuat masyarakat dapat mengubah kehidupan mereka menjadi kehidupan yang berkualitas sehingga masyarakat mampu mencapai taraf kehidupan yang lebih baik.

Program penanggulangan kemiskinan dengan basis bantuan sosial yang merupakan baru di Indonesia adalah program pemberian bantuan dana bersyarat atau lebih dikenal dengan Conditional Cash Transfer (CCT), program tersebut merupakan kebijakan perlindungan sosial bagi masyarakat miskin yang sama sekali tidak mampu untuk mendapatkan kebutuhan dasar akan pendidikan dan kesehatan dengan fokus target adalah keluarga sangat miskin. Program pemberian bantuan ini masuk ke dalam kluster 1, dimana program bantuan sosial dan perlindungan sosial ditujukan untuk pemenuhan hak dasar seperti pendidikan dan kesehatan.1

Berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Bantuan dan Jaminan Sosial Nomor: 27/BJS-BS.08.04/II/2010 tentang Pedoman Umum Program Keluarga Harapan

(2012:10), dinyatakan bahwa Program Keluarga Harapan adalah program yang memberikan bantuan tunai bersyarat kepada Rumah Tangga/Keluarga Sangat Miskin (RTSM/KSM) yang telah ditetapkan sebagai peserta PKH. Tujuan PKH adalah mengurangi angka kemiskinan, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta merubah pandangan dan perilaku keluarga miskin yang kurang mendukung peningkatan

1

(3)

3

kesejahteraan. Tujuan itu merupakan upaya mempercepat pencapaian target SDG’s, sementara secara khusus tujuan PKH terdiri dari: (1) Meningkatkan status sosial ekonomi Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM)/Keluarga Sangat Miskin (KSM). (2) Meningkatkan taraf pendidikan anak-anak RTSM/KSM. (3) Meningkatkan status kesehatan dan gizi ibu hamil, ibu nifas dan anak usia dibawah 6 (enam) tahun dari RTSM/KSM. (4) Meningkatkan akses dan kualitas pelayanan pendidikan dan kesehatan khususnya bagi RTSM/KSM. ( Pedoman Umum PKH 2012: 13). Pada tahun 2018 Kemenkeu menaikkan sasaran keluarga penerima manfaat, menjadi 10 juta rumah tangga miskin dengan anggaran Rp17,3 triliun dari keseluruhan dana Rp. 297,8 triliun yang dinaikan untuk penanggulangan kemiskinan.2

Sehubungan dengan hal tersebut, kota Salatiga merupakan salah satu kota yang memperoleh bantuan Program Keluarga harapan (PKH) sejak tahun 2013. Program ini diprioritaskan untuk keluarga sangat miskin atau Rumah Tangga Sangat Miskin dalam upaya meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), terkhusus dibidang kesehatan dan pendidikan. Pada tahun 2018 sekitar 3.544 keluarga yang memperoleh kartu PKH di kota Salatiga. Salah satu kecamatan di Kota Salatiga yang menerima bantuan PKH adalah kecamatan Argomulyo, ada sekitar 1.158 keluarga penerima bantuan PKH ini. Kebijakan Program Keluarga Harapan belum sepenuhnya menjangkau keluarga sangat miskin yang ada di Kecamatan Argomulyo. Menurut data BDT 2015 jumlah keseluruhan masyarakat miskinnya adalah 2.700 keluarga. Dengan adanya PKH mewajibkan RTM memeriksakan kesehatan ibu hamil dan memberikan imunisasi dan pemantauan tumbuh kembang anak, termasuk menyekolahkan anak-anak, akan membawa perubahan prilaku RTM terhadap pentingnya kesehatan dan pendidikan.

Mengingat Program Keluarga Harapan merupakan bentuk dari salah satu kebijakan pemerintah dalam meminimalisir kemiskinan, serta implikasi positif PKH harus bisa dibuktikan secara empiris yang bisa dipertanggung jawabkan. Dari penjelasan yang ada diatas peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian terkait dengan persoalan “Evaluasi Pelaksanaan Program Keluarga Harapan di Kecamatan Argomulyo Kota Salatiga

2

https://tirto.id/menkeu-menambah-alokasi-anggaran-kemiskinan-sebesar-rp2978-triliun-cCXy diakses pada 25 Februari 2019, 10.43

(4)

4

1.2Rumusan masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: bagaimana capaian pelaksanaan Program Keluarga Harapan (PKH) di Kecamatan Argomulyo ?

1.3Tujuan Penelitian

Untuk mendeskripsikan capaian pelaksanaan Program Keluarga Harapan di Kecamatan Argomulyo Kota Salatiga.

1.4Manfaat Penelitian

a. Manfaat Teoritis

Diharapkan penelitian ini dapat memberikan kontribusi baik secara langsung atau tidak langsung bagi kepustakaan Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi Universitas Kristen Satya Wacana, serta menjadi alternatif referensi bagi yang tertarik pada kajian implementasi kebijakan publik, khususnya dalam hal evaluasi pelaksanaan kebijakan.

b. Manfaat Praktis

Bagi peneliti: diharapkan dapat menerapkan juga mengembangkan ilmu yang didapat dalam kuliah khususnya dalam mata kuliah Analisis Kebijakan Publik.

Bagi Pemerintah : diharapkan penelitian ini dapat dijadikan masukan dan bahan pertimbangan bagi pemerintah dalam merumuskan kembali kebijakan khususnya dalam Program Keluarga Harapan.

1.5Defisini Konsep

1.5.1 Kebijakan Publik

Kebijakan publik adalah serangkaian keputusan yang saling berkaitan yang diambil oleh seorang aktor politik atau sekelompok aktor, berkenaan dengan tujuan yang telah dipilih beserta cara-cara untuk mencapainya dalam suatu situasi. Keputusan-keputusan itu pada prinsipnya masih berada dalam batas-batas kewenangan kekuasaan (Wahab 2012:15)

1.5.2 Evaluasi Kebijakan

Istilah evaluasi memiliki arti yang berhubungan pada beberpa skala nilai terhadap hasil kebijakan dan program. Secara umum evaluasi dapat disamakan

(5)

5

dengan penaksiran, pemberian angka, dan penilaian. Dalam arti yang lebih spesifik, evaluasi berkenaan dengan produksi informasi mengenai nilai atau manfaat hasil kebijakan. Ketika hasil kebijakan pada kenyataannya mempunyai nilai dapat dikatakan bahwa kebijakan atau program telah mencapai tingkat kinerja yang bermakna, yang berarti bahwa masalah-masalah kebijakan dibuat jelas atau diatasi (William Dunn, 2003:608).

1.5.3 Kemiskinan

Kondisi masyarakat yang disebut miskin dapat diketahui berdasarkan kemampuan pendapatan dalam memenuhi standar hidup (Nugroho, 1995). Pada prinsipnya, standar hidup disuatu masyarakat tidak sekedar tercukupinya kebutuhan akan pangan, akan tetapi juga tercukupinya kebutuhan akan kesehatan maupun pendidikan. Tempat tinggal maupun pemukinan yang layak merupakan salah satu dari standar hidup atau standar kesejahteraan masyarakat disuatu daerah. Berdasarkan kondisi ini, suatu masyarakat disebut miskin apabila memiliki pendapatan jauh lebih rendah dari rata-rata pendapatan sehingga tidak banyak memiliki kesempatan untuk mensejahterakan dirinya (Suryawati, 2004).

1.5.4 Program Keluarga Harapan (PKH)

Program Keluarga Harapan (PKH) adalam program pemberian bantuan sosial yang bersyarat kepada keluarga penerima manfaat yang ditetapkan sebagai keluarga penerima manfaat. PKH merupakan program bantuan dan perlindungan sosial yang termasuk kedalam klaster I strategi penaggulangan kemiskinan di Indonesia yang berkaitan dengan pendidikan, kesehatan dan pemenuhan dasar bagi lansia dan penyandang disabilitas berat (Kementrian Sosial RI, 2017).

1.6Batasan Penelitian

Penelitian ini hanya akan membatasi dengan melihat evaluasi pelaksanaan Program Keluarga Harapan di Kecamatan Argomulyo, penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif deskriptif, dengan menyebar kuesioner kapada 297 responden yaitu peserta Program Keluarga Harapan yang ada di Kecamatan Argomulyo.

Referensi

Dokumen terkait

Untuk mendukung program BOS Pusat pada sekolah menengah tersebut, maka Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada tahun anggaran 2014 menyelenggarakan pemberian Bantuan

bantuan lainnya agar dana yang diterima daerah dapat meningkat; melakukan berbagai bentuk kerja sama dengan pihak swasta dan lembaga keuangan agar berbagai program pembangunan

Tidak lama kemudian pemerintah memberikan bantuan dana untuk pengembangan sektor pariwisata di desa tersebut melalui Program Nasioal Pemberdayaan Masyarakat (PNPM)

Program Keluarga Harapan adalah suatu program dengan tujuan memberikan bantuan sosial secara bersyarat terhadap keluarga atau warga miskin dan rentan, yang sudah

Program Pemberdayaan Masyarakat Desa adalah satu bentuk program penanggulangan kemiskinan sebagai upaya untuk menyelesaikan masalah rendahnya kesejahteraan rakyat

Untuk mendukung strategi penanggulangan kemiskinan di wilayah Jawa Tengah, perlunya menciptakan pemantauan kesejahteraan masyarakat yang terintegrasi dengan

Imunisasi yang dikenal saat ini ialah imunisasi dasar lengkap yakni pemberian 5 vaksin imunisasi (vaksin BCG, polio, DPT, hepatitis B, dan campak) sesuai jadwal yang

Pindahnya WNI menjadi WNM menjadi sangat mudah bagi warga KabupatenNunukan, hal ini dikarenakan tawaran bantuan dari negara tetangga seperti bantuan dana (uang cash)