• Tidak ada hasil yang ditemukan

ProdukHukum BankIndonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ProdukHukum BankIndonesia"

Copied!
101
0
0

Teks penuh

(1)

KAJIAN EKONOMI REGIONAL

PROVINSI JAWA BARAT

TRIWULAN II-2010

(2)

Kantor Bank Indonesia Bandung Jl. Braga No. 108

BANDUNG

Telp : 022 – 4230223

(3)

Visi Bank Indonesia

Menjadi lembaga bank sentral yang dapat dipercaya (kredibel) secara nasional maupun internasional melalui penguatan nilai-nilai strategis yang dimiliki serta pencapaian inflasi yang rendah dan stabil.

Misi Bank Indonesia

Mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah melalui pemeliharaan kestabilan moneter dan pengembangan stabilitas sistem keuangan untuk pembangunan nasional jangka panjang yang berkesinambungan.

Nilai-nilai Strategis Bank Indonesia

Nilai-nilai yang menjadi dasar organisasi, manajemen dan pegawai untuk bertindak atau berperilaku yaitu kompetensi, integritas, transparansi, akuntabilitas dan kebersamaan.

Visi Kantor Bank Indonesia Bandung

Menjadi Kantor Bank Indonesia yang dapat dipercaya di daerah melalui peningkatan peran dalam menjalankan tugas-tugas Bank Indonesia yang diberikan.

Misi Kantor Bank Indonesia Bandung

Mendukung pencapaian kebijakan Bank Indonesia di bidang moneter, perbankan dan sistem pembayaran secara efisien dan optimal serta memberikan saran kepada Pemda & lembaga terkait lainnya di daerah dalam rangka mendukung pembangunan ekonomi daerah.

Tugas Pokok Bank Indonesia Bandung adalah sebagai berikut :

1. Memberikan masukan kepada Kantor Pusat tentang kondisi ekonomi dan keuangan daerah di wilayah kerjanya;

2. Melaksanakan kegiatan operasional sistem pembayaran tunai dan/atau non tunai sesuai dengan kebutuhan ekonomi daerah di wilayah kerjanya;

3. Melaksanakan pengawasan terhadap perbankan di wilayah kerjanya;

4. Memberikan saran kepada Pemerintah Daerah mengenai kebijakan ekonomi daerah, yang didukung dengan penyediaan informasi berdasarkan hasil kajian yang akurat;

(4)
(5)

Nya, buku “Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Barat Triwulan II-2010” ini akhirnya dapat diselesaikan. Hasil kajian atas perkembangan ekonomi regional Provinsi Jawa Barat pada triwulan laporan memberi gambaran bahwa perekonomian Jawa Barat terindikasikan terus menunjukkan perkembangan yang baik.

Perekonomian Jawa Barat pada triwulan II-2010 semakin menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Pertumbuhan ekonomi Jawa Barat pada periode tersebut meningkat, dari sebelumnya tumbuh sebesar 6,6% (yoy), menjadi tumbuh 6,9%. Dengan perkembangan tersebut, perekonomian Jawa Barat diperkirakan mampu tumbuh diatas 6% untuk keseluruhan tahun 2010, lebih tinggi dibandingkan tahun 2009. Dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga mengalami peningkatan, diantaranya karena membaiknya daya beli masyarakat, akibat kenaikan penghasilan serta didukung oleh masih relatif terkendalinya inflasi. Sementara itu, investasi juga mengalami kenaikan, seiring meningkatnya optimisme kalangan usaha, yang didorong oleh membaiknya prospek perekonomian ke depan. Dari sisi penawaran, meningkatnya kinerja sektor pertanian merupakan faktor penggerak akselerasi perekonomian Jawa Barat. Hal ini terutama terjadi karena mundurnya masa panen raya padi di sebagian wilayah di Jawa Barat, yang terkonsentrasi sebelumnya pada triwulan I-2009, bergeser ke bulan April 2010 (triwulan II).

Dari sisi perkembangan harga, laju inflasi tahunan Jawa Barat pada triwulan II-2010 meningkat cukup tinggi dibandingkan periode lalu, yaitu dari 2,99% (yoy) pada triwulan I-2010 menjadi 4,68% (yoy) pada triwulan II-2010. Namun demikian, angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan dengan inflasi nasional yang tercatat sebesar 5,05%. Tekanan inflasi pada periode laporan terutama berasal dari kenaikan harga beberapa bahan makanan, akibat masih tingginya curah hujan. Sementara itu, terbatasnya produksi seiring dengan masih berlangsungnya musim tanam padi mendorong pula kenaikan harga beras, dan turut mendorong kenaikan ekspektasi inflasi.

Sejalan dengan membaiknya kondisi perekonomian, perbankan di Jawa Barat pada triwulan II-2010 (posisi Mei II-2010) menunjukkan peningkatan. Total aset perbankan menunjukkan pertumbuhan 11,00% (yoy) menjadi Rp203,14 triliun, didorong oleh relatif tingginya pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mencapai 26,34,% (yoy) sehingga menjadi Rp171,94 triliun. Sementara itu, penyaluran kredit menunjukkan pertumbuhan 14,36% sehingga menjadi Rp116 triliun. Relatif tingginya pertumbuhan DPK dibandingkan pertumbuhan penyaluran kredit menyebabkan fungsi intermediasi perbankan yang dicerminkan oleh indikator Loan to Deposit Ratio (LDR) mengalami penurunan.

(6)

Sejalan dengan terjadinya akselerasi perekonomian, kondisi ketenagakerjaan serta kesejahteraan masyarakat Jawa Barat juga terdorong membaik. Semakin menggeliatnya perekonomian domestik mendorong terciptanya kesempatan kerja yang lebih luas kepada masyarakat, seperti diindikasikan dari meningkatnya jumlah penduduk yang bekerja, serta menurunnya jumlah penganggur. Kondisi ini menjadikan angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Jawa Barat mengalami penurunan. Sementara itu, kesejahteraan masyarakat juga diindikasikan semakin membaik, seiring meningkatnya penghasilan masyarakat, serta didukung pula oleh relatif terkendalinya inflasi.

Uraian di atas merupakan hasil analisa kami terhadap berbagai data dan informasi, yang selain berasal dari Bank Indonesia, laporan perbankan, serta hasil-hasil survei yang dilakukan oleh Kantor Bank Indonesia Bandung, juga kami peroleh dari berbagai pihak, seperti Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dinas-dinas terkait, Badan Pusat Statistik Jawa Barat, BULOG Divre III Jawa Barat, Direktorat Jenderal Pajak Jawa Barat I, Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), PT. PLN Distribusi Jabar dan Banten, PT. Angkasa Pura II, PT. Jasa Marga, PT. Kereta Api, serta PT Pelindo. Sehubungan dengan hal tersebut, dalam kesempatan ini, perkenankanlah kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak tersebut yang telah membantu penyusunan buku ini.

Kami menyadari bahwa cakupan serta kualitas data dan informasi yang disajikan dalam buku ini masih perlu terus disempurnakan. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran membangun dari semua pihak yang berkepentingan dengan buku ini. Kiranya kerjasama yang sangat baik dengan berbagai pihak selama ini dapat terus ditingkatkan di masa yang akan datang.

Akhir kata, kami berharap semoga buku ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa melimpahkan ridha-Nya dan melindungi setiap langkah kita.

Bandung, Agustus 2010

(7)

Daftar Isi ... vii

Daftar Tabel... ix

Daftar Grafik... x

Tabel Indikator Ekonomi Jawa Barat... xiii

RINGKASAN EKSEKUTIF ... 1

BAB 1 KONDISI MAKRO EKONOMI REGIONAL ... 7

1. Sisi Permintaan... 9

1.1.Konsumsi ... 9

1.2.Investasi ... 11

1.3.Ekspor ... 13

2. Sisi Penawaran... ... 15

2.1.Sektor Pertanian... 16

2.2.Sektor Industri Pengolahan... 17

2.3.Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran... 21

2.4.Sektor Pengangkutan dan Komunikasi ... 22

2.5.Sektor Bangunan/Konstruksi ... 24

2.6.Sektor Lainnya ... 25

Boks 1. Dampak ACFTA terhadap Kinerja Industri Tekstil dan Produk Tekstil di Jawa Barat ... 26

Boks 2. ASEAN Federation of Textile Industries ... 30

BAB 2 PERKEMBANGAN INFLASI DAERAH ... 31

1. Perkembangan Inflasi ... ... 33

1.1.Inflasi Menurut Kelompok Barang dan Jasa ... 34

Inflasi Tahunan... 34

a. Kelompok Bahan Makanan ... ... 34

b. Kelompok Sandang………... ... 35

c. Kelompok Transpor, Komunikasi, dan Jasa Keuangan... 35

Inflasi Triwulanan... .. 36

1.2.Inflasi Menurut Kota ... 37

Inflasi Tahunan... 37

a. Kota Bekasi, Depok, dan Bogor. ... 38

b. Kota Bandung. ... 38

c. Kota Sukabumi, Tasikmalaya, dan Cirebon. ... 38

Inflasi Triwulanan... .. 38

2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Inflasi... ... 39

2.1.Fundamental... 40

a. Interaksi Permintaan dan Penawaran ... 40

b. Eksternal ... ... 40

c. Ekspektasi Inflasi ... ... 41

2.2.Non Fundamental... 41

a. Volatile Foods .... ... 41

b. Administered Price ... 42

BAB 3 PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH ... 43

1. Struktur Perbankan di Jawa Barat ... 45

2. Bank Umum Konvensional ... 45

2.1.Pendanaan dan Risiko Likuiditas ... 45

Perkembangan Dana Pihak Ketiga ... 45

2.2.Perkembangan Kredit dan Risikonya ... 47

Perkembangan Kredit ... 47

Kredit Mikro, Kecil dan Menengah (MKM)... 49

(8)

BAB 4 KEUANGAN DAERAH... ... 55

1. Pendapatan Pemerintah di Jawa Barat... ... 57

1.1. Pendapatan Pemerintah Pusat di Jawa Barat... 57

1.2. Pendapatan Pemerintah Provinsi ... 57

2. Belanja Daerah... ... 58

2.1.Belanja APBN di Jawa Barat ... 58

2.2. Belanja APBD Provinsi Jawa Barat... 58

BAB 5 PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN ... 61

1. Pengedaran Uang Kartal... 63

1.1. Aliran Uang Kartal Masuk/Keluar (Inflow/Outflow) ... 63

1.2. Penyediaan Uang Kartal Layak Edar ... 64

1.3. Uang Palsu ... 65

2. Sistem Pembayaran Non Tunai... 65

2.1 Kliring Lokal... 65

2.2 Real Time Gross Settlement (RTGS)... 66

BAB 6 PERKEMBANGAN KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT DAERAH... 67

1. Ketenagakerjaan ... 69

Keadaan Ketenagakerjaan Jawa Barat ... ... 69

2. Kesejahteraan... 71

BAB 7 PROSPEK PEREKONOMIAN DAERAH ... 73

1. Prospek Ekonomi Makro... 75

2. Prakiraan Inflasi ... 76

LAMPIRAN... 79

(9)

Tabel 1.2. Pertumbuhan Nilai Ekspor Berdasarkan Benua Asal Pembeli... 15

Tabel 1.3. Pertumbuhan Ekonomi Tahunan Provinsi Jawa Barat – Sisi Penawaran (yoy)... 16

Tabel 1.4. Indikator Perhotelan di Jawa Barat... 22

Tabel 1.5. Jumlah Kendaraan yang Melintasi 12 Gerbang Tol di Jawa Barat... 23

Tabel 1.6. Jumlah Penumpang Kereta Api di Jawa Barat... ... 23

Tabel 1.7. Pemakaian Listrik di Jawa Barat (Juta Kwh)... 25

Tabel 2.1. Inflasi Tahunan Jawa Barat Menurut Kelompok Barang dan Jasa (%)... 34

Tabel 2.2. Inflasi Triwulanan di Jawa Barat Menurut Kelompok Barang dan Jasa (%)... 36

Tabel 2.3. Inflasi Tahunan di Jawa Barat Menurut Kota (%)... 37

Tabel 2.4. Inflasi Tahunan di Jawa Barat Menurut Kota & Kelompok Barang dan Jasa Triwulan I-2010 (yoy, %)... 37

Tabel 2.5. Inflasi Triwulanan Jawa Barat Menurut Kota (qtq,%)... ... 39

Tabel 2.6. Inflasi Tahunan Menurut Faktor Penyebab (yoy, %)... 39

Tabel 2.7. Inflasi Triwulanan Menurut Faktor Penyebab (qtq, %)... 39

Tabel 2.8. Produksi Padi Jawa Barat (kg)... 41

Tabel 3.1. Posisi Kredit Bank Umum Konvensional di Jawa Barat Berdasarkan Kabupaten/Kota Triwulan II-2010 (Posisi Bulan April)... ... 49

Tabel 3.2. Posisi Kredit Lokasi Proyek di Jawa Barat Berdasarkan Kota/Kabupaten Triwulan II-2010 .. 51

Tabel 5.1. Perkembangan Outflow Uang Kertas dan Uang Logam melalui KBI Bandung. ... 64

Tabel 5.2. Perkembangan Transaksi Kliring Lokal Rata-rata per Bulan di Jawa Barat ... 66

Tabel 5.3. Perkembangan Transaksi RTGS di Jawa Barat ... 66

Tabel 6.1. Penduduk Bekerja Berdasarkan Lapangan Pekerjaan Utama... 70

(10)

Grafik 1.1. Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Jawa Barat (yoy) ... 9

Grafik 1.2. Indeks Keyakinan Konsumen ... 10

Grafik 1.3. Komponen Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini... 10

Grafik 1.4. Komponen Indeks Ekspektasi... 10

Grafik 1.5. Indeks Penjualan Eceran... 11

Grafik 1.6. Indeks Penjualan Makanan dan Minuman... 11

Grafik 1.7. Konsumsi Listrik Rumah Tangga... 11

Grafik 1.8. Kredit Konsumsi ... 11

Grafik 1.9. Indeks Penjualan Bahan Konstruksi ... 12

Grafik 1.10. Penjualan Semen di Jawa Barat... 12

Grafik 1.11. Impor Barang Modal... 12

Grafik 1.12. Nilai Ekspor Jawa Barat... 13

Grafik 1.13. Volume Ekspor Jawa Barat... 13

Grafik 1.14. Nilai dan Volume Ekspor TPT ... 14

Grafik 1.15. Nilai dan Volume Ekspor Alat Telekomunikasi ... 14

Grafik 1.16. Nilai dan Volume Ekspor Mesin Elektrik... 14

Grafik 1.17. Nilai dan Volume Ekspor Kendaraan ... 14

Grafik 1.18. Nilai Ekspor Jawa Barat Berdasarkan Benua Pembeli... ... 15

Grafik 1.19. Nilai dan Volume Impor Jawa Barat... 15

Grafik 1.20. Produksi Padi Sawah dan Ladang di Jawa Barat... 16

Grafik 1.21. Luas Panen Padi Sawah dan Ladang di Jawa Barat... 16

Grafik 1.22. Luas Panen Padi Jawa Barat... ... 17

Grafik 1.23. Konsumsi Listrik Industri ... 17

Grafik 1.24. Penjualan Motor Nasional... 18

Grafik 1.25. Penjualan Mobil Nasional... ... 18

Grafik 1.26. Nilai Ekspor Kendaraan... 18

Grafik 1.27. Volume Ekspor Kendaraan ... 18

Grafik 1.28. Indeks Produksi Tekstil... 19

Grafik 1.29. Arus Bongkar Muat di Pelabuhan Cirebon ... 21

Grafik 1.30. Perkembangan Wisatawan Mancanegara yang Berkunjung ke Jawa Barat... 22

Grafik 1.31. Asal Wisatawan Mancanegara yang Berkunjung ke Jawa Barat ... 22

Grafik 1.32. Penyaluran Kredit oleh Bank Umum ke Sektor Pengangkutan dan Komunikasi... ... 23

Grafik 1.33. Jumlah Penumpang Domestik dan Internasional di Bandara Husein Sastranegara ... 24

Grafik 1.34. Penyaluran Kredit oleh Bank Umum di Jawa Barat ke Sektor Konstruksi... 24

Grafik 1.35. Posisi Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Kepemilikan Apartemen (KPA)... 25

Grafik 1.36. Posisi Kredit Kepemilikan Ruko dan Rukan ... 25

Grafik 1.37. Penyaluran Kredit oleh Bank Umum di Jawa Barat ke Sektor Listrik, Gas, dan Air Bersih.... 25

Grafik 2.1. Inflasi Tahunan Jawa Barat dan Nasional... 33

Grafik 2.2. Inflasi Triwulanan Jawa Barat dan Nasional ... 33

Grafik 2.3. Inflasi Bulanan Jawa Barat dan Nasional... 33

Grafik 2.4. Andil Inflasi Tahunan Subkelompok dalam Kelompok Bahan Makanan di Jawa Barat ... 35

Grafik 2.5. Inflasi Tahunan Kelompok Sandang... 35

Grafik 2.6. Inflasi Tahunan Kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok, dan Tembakau di Jawa Barat 35 Grafik 2.7. Andil Inflasi Triwulanan Subkelompok dalam Kelompok Makanan di Jawa Barat ... 36

Grafik 2.8. Pertumbuhan Kapasitas Terpakai Industri di Jawa Barat... 40

Grafik 2.9. Laju Inflasi di Negara Mitra Dagang... 40

Grafik 2.10. Perkembangan Kurs Rupiah... ... 40

Grafik 2.11. Perkembangan Harga Emas dan Minyak Dunia di Pasar Internasional... ... 40

Grafik 2.12. Ekspektasi Pedagang Eceran Terhadap Harga Barang dan Jasa di Kota Bandung... 41

Grafik 2.13. Ekspektasi Konsumen terhadap Harga Barang dan Jasa di Kota Bandung... 41

(11)

Grafik 3.5. Perkembangan DPK Bank Umum Konvensional di Jawa Barat berdasarkan Kelompok

Bank ... 47

Grafik 3.6. Perkembangan Kredit yang disalurkan Bank Umum Konvensional di Jawa Barat Berdasarkan Jenis Penggunaan... 47

Grafik 3.7. Pangsa Kredit yang disalurkan Bank Umum Konvensional di Jawa Barat Berdasarkan Sektor Ekonomi Triwulan II-2010... 48

Grafik 3.8. Perkembangan Kredit yang disalurkan Bank Umum Konvensional di Jawa Barat Berdasarkan Kelompok Bank... 48

Grafik 3.9. Perkembangan Pertumbuhan Kredit yang disalurkan Bank Umum Konvensional di Jawa Barat Berdasarkan Kelompok Bank... 48

Grafik 3.10. Perkembangan Kredit MKM... 50

Grafik 3.11. Perkembangan Kredit MKM Berdasarkan Skala Usaha ... ... 50

Grafik 3.12. Posisi Kredit MKM Berdasarkan Sektor Ekonomi Triwulan II-2010 ... 50

Grafik 3.13. Perkembangan Kredit Lokasi Proyek Berdasarkan Jenis Penggunaan... ... 51

Grafik 3.14. Posisi Kredit Lokasi Proyek Berdasarkan Sektor Ekonomi Triwulan II-2010 ... 52

Grafik 3.15. Perkembangan Indikator Bank Umum Syariah Di Jawa Barat... . 52

Grafik 3.16. Perkembangan Pertumbuhan Beberapa Indikator Bank Umum Syariah di Jawa Barat ... 52

Grafik 3.17. Perkembangan Indikator BPR di Jawa Barat ... 53

Grafik 5.1. Perkembangan Inflow dan Outflow Uang Kartal di Jawa Barat ... 63

Grafik 5.2. Perkembangan PTTB Kantor Bank Indonesia Bandung ... 65

Grafik 6.1. Perkembangan Ketenagakerjaan di Jawa Barat... 69

Grafik 6.2. SBT Indikator Jumlah Tenaga Kerja... 70

Grafik 6.3. Indeks Penghasilan dan Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja... 71

Grafik 6.4. Nilai Tukar Petani ... 71

Grafik 7.1. Indeks Ekspektasi Konsumen... 75

Grafik 7.2. Indeks Penghasilan... 75

Grafik 7.3. Realisasi dan Ekspektasi Kegiatan Dunia Usaha... 76

(12)

I. MAKRO

2009 2010

INDIKATOR

Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I Tw.II

PDRB - harga konstan (Rp Miliar) 72.980 73.390 77.680 78.560 77.610 78.710

- Pertanian 11.380 9.080 10.180 9.470 11.700 9.760

- Pertambangan & Penggalian 1.720 1.780 1.920 2.000 1.840 1.880

- Industri Pengolahan 31.590 32.940 33.400 34.440 31.890 33.440

- Listrik. Gas. dan Air Bersih 1.580 1.650 1.830 1.970 1.860 1.850

- Bangunan 2.330 2.460 2.680 2.830 2.720 2.870

- Perdagangan. Hotel. dan Restoran 14.250 14.980 16.660 16.820 16.790 17.250

- Pengangkutan dan Komunikasi 3.180 3.270 3.480 3.440 3.400 3.860

- Keuangan. Persewaan. dan Jasa 2.140 2.350 2.550 2.580 2.450 2.590

- Jasa 4.820 4.870 4.980 5.010 4.970 5.200

Pertumbuhan PDRB (yoy %) 4,4 3,2 4,0 6,1 6,6 6,9

Ekspor-Impor 2.967,76 3.119,55 3.459,90 3.637,59 3.254,81 3.357,80

Nilai Ekspor Nonmigas (USD Juta) 4.063,09 4.681,69 5.053,79 5.306,40 5.212,96 5.802,48

Volume Ekspor Nonmigas (ribu ton) 1.434,01 1.921,40 1.727,67 1.998,84 1.693,90 1.961,02

Nilai Impor Nonmigas (USD Juta) 1.095,33 1.562,14 1.593,88 1.668,81 1.958,15 2.444,69

Volume Impor Nonmigas (ribu ton) 193,08 246,97 272,10 250,90 339,65 346,91

Indeks Harga Konsumen* 113,54 113,37 115,49 115,83 116,94 118,68

- Kota Bandung 112,82 112.66 114,51 115,08 116,05 116,60

- Kota Bekasi 118,25 112,43 114,41 114,88 116,33 118,75

- Kota Bogor 116,92 116,60 118,60 118,50 119,81 121,53

- Kota Sukabumi 116,23 116,64 118,10 118,31 119,03 120,24

- Kota Cirebon 118,25 118,30 121,25 122,00 122,44 123,97

- Kota Tasikmalaya 115,97 117,23 118,51 119,87 121,47 122,47

- Kota Depok 112,92 112,69 115,43 115,39 116,26 118,85

Laju Inflasi Tahunan (yoy %)* 7,45 3,13 1,87 2,02 2,99 4,68

- Kota Bandung 6,31 2,17 1,61 2,11 2,86 3,50

- Kota Bekasi 6,68 3,59 1,51 1,93 3,20 5,62

- Kota Bogor 6,17 2,57 2,24 2,16 2,47 4,23

- Kota Sukabumi 8,25 3,38 3,31 3,49 2,41 3,09

- Kota Cirebon 8,22 5,23 3,47 4,11 3,54 4,79

- Kota Tasikmalaya 9,18 6,91 2,99 4,17 4,74 4,47

- Kota Depok N/A 6,87 1,33 1,30 2,96 5,47

Keterangan:

(13)

A Bank Umum

1 Total Aset (Rp Triliun) 162,80 170,85 178,02 181,92 187,08 191,07 2 DPK (Rp Triliun) 123,03 126,97 129,53 133,28 125,42 161,35 - Tabungan (Rp Triliun) 41,63 45,06 47,31 53,05 46,94 62,82 - Giro (Rp Triliun) 27,48 27,61 27,14 25,32 24,11 31,73 - Deposito (Rp Triliun) 53,91 54,31 55,08 54,91 54,37 66,80 3 Kredit (Rp Triliun) - berdasarkan lokasi proyek* 167,13 171,39 174,16 181,41 185,20 189,55

- Investasi 24,28 24,25 24,74 27,05 27,51 28,23

- Modal Kerja 79,79 81,36 81,55 83,16 80,59 81,87

- Konsumsi 63,06 65,77 67,87 71,20 77,10 79,45

4 Kredit (Rp Triliun) - berdasarkan lokasi kantor cabang 87,58 95,46 98,77 102,62 110,96 108,77

- Modal Kerja 39,39 44,00 44,95 46,68 48,29 46,11

- Investasi 9,18 9,50 9,69 10,36 12,16 11,49

- Konsumsi 39,02 41,96 44,13 45,58 50,51 51,17

5 - LDR (%) 71,19 75,18 76,25 77,00 88,47 67,41

6 Rasio NPL Gross (%) 3,99 3,91 3,82 3,37 3,72 3,64

7 Kredit MKM (triliun Rp) 66,18 71,97 75,29 78,04 84,30 83,86 8 Kredit Mikro (< Rp50 juta) (triliun Rp) 26,49 28,42 29,92 30,40 29,90 30,69

- Kredit Modal Kerja 4,48 5,26 5,79 5,99 5,49 5,92

- Kredit Investasi 0,46 0,56 0,57 0,57 0,59 0,60

- Kredit Konsumsi 21,56 22,60 23,57 23,84 23,81 24,16 9 Kredit Kecil (Rp50 juta s.d. Rp 500 juta) (triliun Rp) 22,04 24,97 26,42 27,24 32,36 31,91

- Kredit Modal Kerja 6,39 6,85 7,09 7,13 7,47 7,08

- Kredit Investasi 0,99 1,15 1,28 1,41 2,01 1,83

- Kredit Konsumsi 14,66 16,97 18,05 18,71 22,87 23,00 10 Kredit Menengah (Rp500 juta s.d.Rp5 miliar) (triliun Rp) 17,65 18,57 18,95 20,39 22,04 21,26 - Kredit Modal Kerja 12,66 13,46 13,67 14,77 15,23 14,59

- Kredit Investasi 2,73 2,83 2,89 2,99 3,66 3,40

- Kredit Konsumsi 2,26 2,28 2,38 2,64 3,16 3,27

11 Pangsa Kredit MKM 76% 75% 76% 76% 76% 77%

12 Rasio NPL MKM gross (%) 3,69 3,62 3,60 3,23 3,47 3,35

B Bank Umum Syariah*)

1 Total Aset (Rp Triliun) 5,20 5,66 5,61 6,57 6,71 6,88

2 DPK (Rp Triliun) 4,03 4,49 4,38 5,07 5,01 5,02

- Giro (Rp Triliun) 0,33 0,34 0,40 0,53 0,38 0,37

- Deposito (Rp Triliun) 1,87 1,90 2,14 2,37 2,45 2,42 - Tabungan (Rp Triliun) 1,89 2,25 2,06 2,16 2,18 2,22 3 Pembiayaan (Rp Triliun) - berdasarkan lokasi kantor cabang 3,41 3,53 3,72 4,05 4,24 4,41

- Modal Kerja 1,86 1,89 2,07 2,10 2,13 2,16

- Investasi 0,54 0,55 0,57 0,61 0,60 0,65

- Konsumsi 1,01 1,09 1,19 1,34 1,51 1,59

4 - FDR 86,26 78,50 84,83 79,89 84,78 87,87

C BPR Konvensional

1 Total Aset (Rp Triliun) 6,21 6,49 6,67 7,06 7,33 5,19

2 DPK (Rp Triliun) 4,40 4,62 4,78 5,08 5,38 5,58

- Tabungan (Rp Triliun) 0,96 1,03 1,03 1,16 1,27 1,33 - Deposito (Rp Triliun) 3,44 3,59 3,75 3,93 4,11 4,25 3 Kredit (Rp Triliun) - berdasarkan lokasi proyek 4,49 4,59 4,72 4,81 4,94 5,16

- Modal Kerja 2,42 2,45 2,48 2,64 2,70 2,82

- Investasi 0,14 0,14 0,14 0,13 0,13 0,14

- Konsumsi 1,93 2,00 2,08 2,03 2,11 2,20

(14)

Posisi Kas Gabungan (Rp Triliun) 5,77 7,42 6,65 4,10 5,49 3,67

Inflow (Rp Triliun) 7,02 3,34 3,71 6,00 5,39 3,60

Outflow (Rp Triliun) 0,81 2,01 3,14 2,05 0,66 1,59

Transaksi Non Tunai BI-RTGS

Nominal Transaksi BI-RTGS (Rp Triliun) 130,57 138,64 159,53 147,18 146,68 164,38 Volume Transaksi BI-RTGS 188.863 196.533 232.945 238.919 243.135 265.405 Rata-rata Harian Nominal Transaksi BI-RTGS (Rp Triliun) 2,18 2,24 2,57 2,37 2,40 2,65 Rata-rata Harian Volume Transaksi BI-RTGS 3.148 3.170 3.757 3.854 3.986 4.281

Kliring

(15)
(16)
(17)
(18)

PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO

Penguatan perekonomian Jawa Barat terus berlanjut, dari sebelumnya tumbuh 6,6% (yoy) menjadi tumbuh 6,9% pada triwulan II-2010

Perekonomian Jawa Barat terus menunjukkan penguatan. Pada triwulan II-2010, perekonomian Jawa Barat tumbuh pada level yang relatif tinggi, yaitu 6,9% (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya yang sebesr 6,6%. Selain didukung oleh pulihnya perekonomian global, penguatan tersebut didorong pula oleh stabil dan baiknya kondisi perekonomian domestik.

Dari sisi permintaan, peningkatan perekonomian didukung oleh membaiknya konsumsi, serta investasi

Dari sisi permintaan, faktor yang mendorong akselerasi perekonomian Jawa Barat adalah membaiknya konsumsi, baik rumah tangga maupun pemerintah, serta kenaikan investasi. Konsumsi mengalami kenaikan karena membaiknya daya beli masyarakat, akibat kenaikan penghasilan serta didukung oleh masih relatif terkendalinya inflasi. Sementara itu, konsumsi pemerintah juga membaik, akibat sudah mulai direalisasikannya beberapa proyek infrastruktur. Investasi juga mengalami peningkatan, seiring prospek perekonomian yang terus bergerak ke arah yang positif.

Dari sisi penawaran, peningkatan kinerja sektor pertanian merupakan faktor utama meningkatnya perekonomian Jawa Barat pada triwulan II-2010

Dari sisi penawaran, kenaikan pertumbuhan sektor pertanian pada triwulan II-2010 merupakan faktor utama yang mendorong perekonomian Jawa Barat untuk tumbuh lebih tinggi. Sektor pertanian tumbuh meningkat, karena adanya kemunduran masa panen raya padi di sebagian wilayah di Jawa Barat, dari sebelumnya Februari-Maret di tahun 2009, menjadi Februari-April di tahun 2010. Sementara itu, walaupun sedikit melambat, sektor PHR masih tumbuh relatif tinggi, karena semakin tingginya volume perdagangan besar di Jawa Barat, sebagai dampak meningkatnya produksi sektor pertanian, tingginya pertumbuhan perdagangan eceran akibat membaiknya daya beli masyarakat, serta peningkatan volume perdagangan ekspor dan impor Jawa Barat. Kinerja sektor industri pengolahan juga masih tumbuh positif, seiring terus membaiknya permintaan masyarakat luar negeri terhadap hasil produksi Jawa Barat, serta meningkatnya permintaan di pasar domestik karena membaiknya daya beli masyarakat dan adanya faktor musiman untuk persiapan Lebaran.

PERKEMBANGAN INFLASI

Laju inflasi Jawa Barat secara tahunan mengalami peningkatan

Secara tahunan, laju inflasi Jawa Barat pada triwulan II-2010 meningkat cukup tinggi dibandingkan periode lalu, yakni dari 2,99% (yoy) pada triwulan I-2010 menjadi 4,68% (yoy) pada triwulan II-2010. Namun demikian, angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan dengan inflasi nasional yang tercatat sebesar 5,05%. Secara triwulanan, laju inflasi Jawa Barat juga menunjukkan peningkatan, dari 0,96% (qtq) pada triwulan I-2010 menjadi 1,49% pada periode laporan.

Tekanan inflasi terutama berasal dari kenaikan harga bahan makanan, akibat faktor iklim

Tekanan inflasi pada periode laporan terutama berasal dari kenaikan harga beberapa bahan makanan yang bergejolak (volatile foods). Curah hujan yang masih tinggi merupakan faktor utama kenaikan bumbu-bumbuan (seperti cabe merah dan bawang merah), serta sayur-sayuran. Sementara itu, terbatasnya produksi seiring dengan masih berlangsungnya musim tanam padi mendorong pula kenaikan harga beras. Kondisi tersebut turut mendorong kenaikan laju inflasi inti khususnya ekspektasi inflasi.

PERKEMBANGAN PERBANKAN

Perbankan di Jawa Barat

terus menunjukkan Sejalan dengan membaiknya kondisi perekonomian, perbankan di Jawa

(19)

(yoy), didorong oleh relatif tingginya pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mencapai 27,2,% (yoy). Sementara itu, penyaluran kredit menunjukkan pertumbuhan 13,79%. Di lain pihak, relatif tingginya pertumbuhan DPK dibandingkan pertumbuhan penyaluran kredit menyebabkan fungsi intermediasi perbankan yang dicerminkan oleh indikator loan to deposit ratio (LDR) mengalami penurunan.

PERKEMBANGAN KEUANGAN DAERAH

Realisasi belanja Pemerintah Provinsi Jawa Barat diperkirakan meningkat

Peran keuangan daerah terhadap perekonomian Jawa Barat pada triwulan II-2010 diperkirakan mengalami peningkatan dibandingkan dengan triwulan yang sama pada tahun sebelumnya. Hal ini antara lain tercermin dari peningkatan realisasi belanja Pemerintah Provinsi Jawa Barat, yang diperkirakan berkisar 25 – 35%, lebih tinggi dibandingkan realisasi pada triwulan II-2009 yang sekitar 20%.

Pencapaian penerimaan pajak diperkirakan berkisar 55-60%

Di sisi penerimaan, realisasi penerimaan pajak Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada triwulan II-2010 diperkirakan dapat mencapai 55 – 60%. Pencapaian penerimaan pajak terkait dengan meningkatnya aktivitas perekonomian, terutama meningkatnya penjualan kendaraan bermotor yang berdampak kepada peningkatan penerimaan dari Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor.

PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN

Transaksi sistem pembayaran non tunai di Jawa Barat mengalami kenaikan

Selama triwulan II-2010, transaksi sistem pembayaran di Jawa Barat mengalami kenaikan, khususnya sistem pembayaran non tunai. Hal ini tercermin dari naiknya nilai maupun volume transaksi pembayaran non tunai, baik melalui kliring maupun BI-RTGS, di wilayah Jawa Barat. Sementara itu, net inflow di wilayah Jawa Barat mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya, karena turunnya inflow dan naiknya outflow. Kondisi-kondisi tersebut sejalan dengan semakin menggeliatnya perekonomian di Jawa Barat selama periode laporan.

PERKEMBANGAN KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN

Penyerapan tenaga kerja di Jawa Barat diindikasikan terus meningkat

Kondisi perekonomian yang semakin membaik membuka kesempatan kerja yang lebih luas kepada masyarakat. Peningkatan permintaan di sektor-sektor dominan di Jawa Barat mendorong pelaku usaha meningkatkan kapasitas utilisasinya, sehingga mendorong penyerapan tenaga kerja yang lebih besar. Kondisi ini tercermin dari meningkatnya beberapa indikator ketenagakerjaan, seperti meningkatnya jumlah penduduk Jawa Barat yang bekerja, serta menurunnya jumlah penduduk yang menganggur, yang menjadikan angka Tingkat Pengangguran Terbuka di Jawa Barat mengalami penurunan.

Kondisi kesejahteraan di Jawa Barat menunjukkan perkembangan positif

Tingkat kesejahteraan masyarakat juga menunjukkan perbaikan. Daya beli masyarakat diperkirakan semakin membaik, disebabkan oleh meningkatnya penghasilan masyarakat, serta didukung oleh relatif terkendalinya angka inflasi. Selain itu, tingkat kemiskinan juga menurun dibandingkan sebelumnya.

PROSPEK PEREKONOMIAN

Perekonomian Jawa Barat diperkirakan tumbuh semakin tinggi pada

(20)

sisi permintaan, konsumsi rumah tangga diperkirakan meningkat, terdorong oleh perayaan Idul Fitri yang diperkirakan lebih ramai dibandingkan tahun 2009, karena semakin kuatnya konsumsi masyarakat. Investasi juga semakin banyak direalisasikan, baik oleh pemerintah maupun pelaku usaha. Disamping itu, masuknya peak season didukung oleh semakin membaiknya perekonomian global, mendorong kinerja ekspor untuk tumbuh tinggi. Di sisi penawaran, tingginya pertumbuhan ekonomi ditopang oleh semakin membaiknya kinerja industri pengolahan, terutama industri kendaraan bermotor dan TPT, dengan memanfaatkan momentum pemulihan ekonomi global serta perayaan Idul Fitri.

Laju inflasi Jawa Barat pada triwulan III-2010 diperkirakan sekitar 7,1% (yoy)

(21)

 

,

BAB 1

KONDISI

(22)
(23)

Penguatan perekonomian Jawa Barat terus berlanjut selama triwulan II-2010. Setelah tumbuh 6,6% (yoy) pada triwulan sebelumnya, pertumbuhan ekonomi Jawa Barat kembali tumbuh pada level yang relatif tinggi, yaitu sebesar 6,9%. Optimisme semakin membaiknya kondisi perekonomian serta prospek ke depan mendorong meningkatnya konsumsi rumah tangga serta investasi. Sementara itu, ekspor Jawa Barat terus menunjukkan pergerakan positif, seiring membaiknya permintaan dunia internasional yang masih menunjukkan kenaikan, akibat pemulihan ekonomi global yang masih berlanjut. Sementara itu, dari sisi penawaran, peningkatan kinerja sektor pertanian di Jawa Barat merupakan faktor utama pendorong terjadinya akselerasi perekonomian Jawa Barat pada triwulan II-2010.

1.

S

ISI

P

ERMINTAAN

Meningkatnya konsumsi, baik rumah tangga maupun pemerintah, serta investasi, merupakan beberapa faktor yang mendorong tingginya pertumbuhan ekonomi Jawa Barat

pada triwulan II-2010 (Tabel 1.1). Daya beli masyarakat yang membaik akibat peningkatan

penghasilan masyarakat sebagai dampak dari meningkatnya ekspor dan volume perdagangan, termasuk produk-produk pertanian, serta didukung oleh relatif terkendalinya inflasi, mendorong konsumsi rumah tangga untuk tumbuh lebih tinggi pada periode laporan. Konsumsi pemerintah juga mengalami peningkatan seiring mulai direalisasikannya beberapa proyek infrastruktur pemerintah, baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota. Investasi juga mengalami kenaikan, seiring prospek perekonomian yang terus bergerak ke arah positif. Sementara itu, pemulihan perekonomian yang terus berlanjut mendorong kinerja ekspor produk-produk Jawa Barat mampu tumbuh positif.

Tabel 1.1. Pertumbuhan Ekonomi Tahunan Provinsi Jawa Barat – Sisi Permintaan (yoy)

Tw.I Tw.II Tw.III Tw. IV Tw.I Tw.II Tw.III Tw. IV Tw.I Tw.II Konsumsi Rumah Tangga 8,0% 4,8% 7,8% 4,3% 7,1% 5,6% 8,0% 3,5% 2,5% 5,1% Konsumsi Pemerintah ‐2,9% ‐14,5% 11,0% 5,0% 4,5% 7,0% 3,2% 1,1% ‐11,4% ‐2,0% Pembentukan Modal Tetap Bruto 10,4% 8,5% 14,0% 7,9% 12,7% 4,4% ‐9,0% 0,2% 5,4% 8,8% Perubahan Inventori 2,5% 3,4% ‐3,1% 10,9% 18,9% 32,2% 47,0% 64,8% 32,4% 33,2% Ekspor ‐14,2% ‐10,5% ‐20,8% ‐8,4% ‐13,7% ‐13,0% 9,5% 5,3% 4,8% 0,6% Impor ‐5,5% ‐14,3% ‐19,8% ‐3,9% ‐8,8% ‐2,8% 5,8% ‐8,2% 2,6% 8,9% PDRB  7,1% 4,7% 6,4% 4,5% 4,4% 3,2% 4,0% 6,1% 6,6% 6,9%

Komponen Penggunaan 2008 2009 2010

 

Sumber: BPS Provinsi Jawa Barat

1.1. Konsumsi

Konsumsi rumah tangga pada triwulan II-2010 tumbuh 5,1% (yoy), meningkat bila

dibandingkan pertumbuhan pada periode sebelumnya yang tumbuh 2,5%. Beberapa sumber

Grafik 1.1. Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Jawa Barat (yoy)

7,1% 4,7% 6,4% 4,5% 4,4% 3,2% 4,0% 6,1% 6,6% 6,9% 0% 2% 4% 6% 8%

Tw.I Tw.II Tw.III Tw. IV Tw.I Tw.II Tw.III Tw. IV Tw.I Tw.II

2008 2009 2010

 

(24)

utama pendorong kenaikan tersebut antara lain adalah naiknya penghasilan masyarakat yang terutama diakibatkan membaiknya ekspor, meningkatnya kondisi usaha, serta masuknya puncak panen padi di sebagian besar wilayah di Jawa Barat. Selain itu, relatif terkendalinya inflasi turut mendukung naiknya konsumsi rumah tangga pada periode laporan. Faktor musiman berupa masa liburan sekolah yang diperkirakan lebih ramai dibandingkan tahun lalu, juga turut berperan dalam peningkatan konsumsi rumah tangga.

Kenaikan konsumsi rumah tangga diindikasikan salah satunya oleh meningkatnya keyakinan konsumen. Indeks Keyakinan Konsumen1

di Kota Bandung meningkat dari rata-rata 92,37 pada triwulan I-2010, menjadi 99,48 pada triwulan II-2010, yang sudah mendekati nilai optimis (IKK>100) (Grafik 1.2). Dilihat dari komponennya, kenaikan pada seluruh penyusun Indeks Kondisi Ekonomi Saat ini merupakan faktor utama yang mendorong kenaikan IKK tersebut, meliputi kenaikan Indeks Penghasilan Saat Ini, Indeks Pembelian Durable Goods, serta Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi usaha yang semakin membaik berdampak terhadap penyerapan tenaga kerja yang lebih besar, yang

selanjutnya mendorong kenaikan penghasilan masyarakat, dan naiknya konsumsi rumah tangga. Sementara itu, Indeks Ekspektasi juga mengalami kenaikan, yaitu pada komponen Indeks Ekspektasi Kondisi Perekonomian, serta Ekspektasi Ketersediaan Lapangan Kerja. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat masih tetap optimis dalam memandang perekonomian ke depan, sehingga memberikan jaminan untuk melakukan pengeluaran untuk konsumsi pada periode laporan.

Grafik 1.3. Komponen Indeks Kondisi Ekonomi Saat ini

25 50 75 100 125

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 2008 2009 2010 Penghasilan saat ini Pembelian durable goods Garis 100 Ketersediaan lapangan kerja saat ini

Sumber: Survei Konsumen Bank Indonesia Bandung

Grafik 1.4. Komponen Indeks Ekspektasi

40 60 80 100 120 140

1 2 3 4 56 7 8 9 10 11 12 1 23 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6

2008 2009 2010

Ekspektasi penghasilan Ekspektasi kondisi perekonomian Garis 100 Ekspektasi ketersediaan Lap. Kerja

Sumber: Survei Konsumen Bank Indonesia Bandung.

Peningkatan pertumbuhan konsumsi rumah tangga juga tercermin dari tingginya Indeks Penjualan Eceran2

di Kota Bandung, yang tumbuh sekitar 12% (yoy) (Grafik 1.5). Apabila dilihat dari komoditasnya, kenaikan indeks penjualan eceran tertinggi terjadi pada kelompok makanan dan

       

Grafik 1.2. Indeks Keyakinan Konsumen

40 60 80 100 120 140

1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 2007 2008 2009 2010 Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) Garis 100

 

(25)

minuman, yang mampu tumbuh rata-rata 38% (yoy) selama triwulan II-2010. Hal ini juga didukung oleh hasil liaison KBI Bandung terhadap produsen makanan dan minuman, yang menyatakan adanya peningkatan permintaan di pasar domestik. Disamping itu, kenaikan konsumsi rumah tangga juga terlihat dari naiknya penggunaan listrik untuk rumah tangga, yang masih mengalami kenaikan dibandingkan periode sebelumnya, dengan pertumbuhan sebesar 9% (yoy), serta tingginya pertumbuhan kredit konsumsi (24%).

Grafik 1.5. Indeks Penjualan Eceran

-15 60

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 2008 2009 2010

0 15 30 100 140 180 %

Indeks Penjualan Eceran Pertumbuhan (yoy, sumbu kanan)

Sumber: Survei Penjualan Eceran, Bank Indonesia

Grafik 1.6. Indeks Penjualan Makanan dan Minuman

0 0

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 2008 2009 2010

30 60 90 120 100 200 300 400 %

Makanan & Tembakau Pertumbuhan (yoy, sumbu kanan)

Sumber: Survei Penjualan Eceran, Bank Indonesia

Grafik 1.7. Konsumsi Listrik Rumah Tangga

0% 5% 10% 15% 20% 25% -800 1.600 2.400 3.200

Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I Tw.II

2008 2009 2010

% Juta kWh

Konsumsi Listrik Rumah Tangga Pertumbuhan (yoy, sumbu kanan)

Sumber: PT PLN Distribusi Jawa Barat dan Banten

Grafik 1.8. Kredit Konsumsi

0 10 20 30 40 0 20 40 60

Tw.I Tw.II Tw.IIITw.IV Tw.I Tw.II Tw.IIITw.IV Tw.I Tw.II Tw.IIITw.IV Tw.I Tw.II

2007 2008 2009 2010

% Rp Triliun

Posisi Baki Debet Pertumbuhan (yoy)

Sumber: Bank Indonesia

1.2. Investasi

Membaiknya kondisi dunia usaha akibat membaiknya permintaan, terutama dari luar negeri, serta prospek positif perekonomian ke depan, memacu optimisme pelaku usaha, sehingga mendorong

realisasi investasi pada triwulan II-2010. Kenaikan investasi ini tidak terlepas pula dari peran

(26)

Khusus untuk triwulan II-2010, realisasi investasi di Provinsi Jawa Barat diperkirakan lebih dikuasai oleh investasi PMDN (Penanaman Modal Dalam Negeri), dengan nilai sebesar Rp1,5 triliun untuk 34 buah proyek. Pencapaian tersebut merupakan 10% dari keseluruhan investasi PMDN di Indonesia, yang bernilai Rp15,2 triliun.

Investasi yang dilakukan, baik oleh swasta maupun pemerintah, dilakukan dalam bentuk bangunan maupun non bangunan. Kenaikan investasi bangunan dan proyek infrastruktur di Jawa Barat diantaranya tercermin dari meningkatnya Indeks Penjualan Eceran untuk bahan/peralatan konstruksi, serta tingginya pertumbuhan penjualan semen di Jawa Barat yang tumbuh sebesar 11% (yoy). Sementara itu, kenaikan investasi pada komponen non bangunan diindikasikan dari tingginya pertumbuhan impor barang modal, yang rata-rata meningkat 85% (yoy) dibandingkan periode yang sama di tahun 2009. Apabila kenaikan impor barang modal yang terjadi pada periode sebelumnya didorong oleh meningkatnya impor peralatan transportasi untuk industri, maka kenaikan impor tahun ini disebabkan karena meningkatnya kelompok komoditas barang modal di luar peralatan transportasi.

Grafik 1.10. Penjualan Semen di Jawa Barat

-20 -10 0 10 20 30 40 0 400 800 1.200 1.600 2.000

Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I Tw.II 2007 2008 2009 2010

% Ribu Ton

Penjualan Semen Pertumbuhan (yoy, sumbu kanan)

Sumber: Asosiasi Semen Indonesia.

Grafik 1.11. Impor Barang Modal

-100% -50% 0% 50% 100% 150% 200% 250% 0 25 50

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 2008 2009 2010 Ribu Ton

Volume Impor Barang Modal Pertumbuhan (yoy, sumbu kanan)

Sumber: Bank Indonesia

Kenaikan investasi juga didukung oleh hasil wawancara KBI Bandung dengan beberapa perusahaan, yang menyatakan adanya kenaikan realisasi investasi pada periode laporan. Salah satunya adalah investasi yang dilakukan oleh produsen elektronik, untuk melakukan pengembangan teknologi secara kontinyu agar dapat bersaing dengan produsen sejenis. Begitu pula dengan perusahaan yang bergerak di jasa transportasi, dimana investasi dilakukan secara ekspansif dengan menambah jumlah armada baru untuk mengantisipasi permintaan domestik yang semakin tinggi. Beberapa perusahaan lain juga melakukan investasi, berupa penggantian mesin dan sparepart.

Grafik 1.9. Indeks Penjualan Bahan Konstruksi -60 -30 0 30 60 90 120 0 50 100 150 200 250 300

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 2008 2009 2010

%

Bahan Konstruksi Pertumbuhan (yoy, sumbu kanan)

(27)

1.3. Ekspor

Kinerja ekspor Jawa Barat terus mengalami pertumbuhan positif pada triwulan II-2010.

Kondisi ini terjadi akibat daya beli masyarakat internasional yang membaik, yang mendorong permintaan mitra dagang utama terhadap produk-produk Jawa Barat tetap tumbuh positif. Tumbuhnya permintaan ekspor ini juga didukung oleh hasil liaison KBI Bandung terhadap mayoritas perusahaan yang diwawancarai, dimana permintaan ekspor beberapa perusahaan mengalami peningkatan, terutama perusahaan yang bergerak pada sektor industri pengolahan, dengan sub sektor mesin, alat angkutan, dan peralatannya (elektronik), subsektor tekstil, barang kulit dan alas kaki (benang rayon dan polyester), dan sub sektor pupuk, kimia, dan barang dari karet (produk bahan kimia monomer dan polymer).

Namun demikian, apabila dilihat dari sisi pertumbuhan tahunan, ekspor mengalami sedikit perlambatan pertumbuhan dibandingkan periode sebelumnya, yaitu tumbuh 0,6% (yoy). Kondisi ini tercermin dari realisasi ekspor Jawa Barat, baik secara nilai maupun volume. Rata-rata nilai ekspor Jawa Barat selama triwulan II-2010 tumbuh meningkat rata-rata 24,1% (yoy), lebih lambat dibandingkan pertumbuhan pada triwulan I-2010 yang sebesar 28,2%. Sementara dari sisi volume, terjadi perlambatan dari tumbuh 17,8% pada periode sebelumnya, menjadi tumbuh rata-rata 2,1%.

Grafik 1.12. Nilai Ekspor Jawa Barat

-20% 0% 20% 40%

1.000 1.250 1.500 1.750 2.000 2.250

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 2008 2009 2010

USD Juta

Nilai Ekspor Pertumbuhan (sumbu kanan)

Sumber: Bank Indonesia

Grafik 1.13. Volume Ekspor Jawa Barat

-50% -25% 0% 25% 50%

300 600 900

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 45 6 2008 2009 2010

Ribu Ton

Volume Ekspor Pertumbuhan (sumbu kanan)

Sumber: Bank Indonesia

(28)

Grafik 1.14. Nilai dan Volume Ekspor TPT 50 60 70 80 90 100 0 100 200 300 400 500

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 2008 2009 2010

Ribu Ton USD Juta

Nilai Ekspor Volume Ekspor

Sumber: Bank Indonesia

Grafik 1.15. Nilai dan Volume Ekspor Alat Telekomunikasi 0 5 10 15 0 100 200 300 400

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 2008 2009 2010

Ribu Ton USD Juta

Nilai Ekspor Volume Ekspor

Sumber: Bank Indonesia

Grafik 1.16. Nilai dan Volume Ekspor Mesin Elektrik 10 15 20 25 0 50 100 150 200

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 2008 2009 2010

Ribu Ton USD Juta

Nilai Ekspor Volume Ekspor

Sumber: Bank Indonesia

Grafik 1.17. Nilai dan Volume Ekspor Kendaraan 0 3 6 9 12 0 20 40 60 80 100

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 2008 2009 2010

Ribu Ton USD Juta

Nilai Ekspor Volume Ekspor

Sumber: Bank Indonesia

(29)

Grafik 1.18. Nilai Ekspor Jawa Barat Berdasarkan Benua Pembeli

0 300.000 600.000 900.000 1.200.000

1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 2008 2009 2010

USD Ribu

Asia Amerika Eropa Australia Afrika  

Sumber: Bank Indonesia

Tabel 1.2. Pertumbuhan Nilai Ekspor Berdasarkan Benua Asal Pembeli

Benua Pertumbuhan

Tw.I-2010

Pertumbuhan Tw.II-2010

Afrika 16,9% 28,4%

Amerika 23,7% 26,8%

Asia 34,1% 28,3%

Australia & Oceania 0,1% 43,4%

Eropa 22,7% 4,0%

Sumber: Bank Indonesia

Berbeda dengan ekspor, kegiatan impor ke Jawa Barat mengalami peningkatan pertumbuhan yang cukup signifikan pada triwulan II-2010, yaitu 8,9% (yoy). Nilai tersebut jaug lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya yang sebesar2,6%. Kenaikan tersebut diperkirakan terjadi untuk memenuhi kenaikan konsumsi masyarakat, terutama menjelang Ramadhan dan Idul Fitri, serta kenaikan permintaan oleh kalangan industri, seiring peningkatan kapasitas produksi yang dilakukan oleh kalangan usaha. Disamping itu, kenaikan ekspor Jawa Barat pun berpengaruh dalam mendongkrak impor, karena mayoritas produk ekspor Jawa Barat memiliki kandungan bahan baku impor yang tinggi.

2.

S

ISI

P

ENAWARAN

Peningkatan pertumbuhan ekonomi Jawa Barat pada triwulan II-2010 didorong oleh

positifnya kinerja ketiga sektor dominannya, terutama sektor pertanian. Sektor pertanian

mengalami peningkatan pertumbuhan pada triwulan II-2010, dikarenakan mundurnya masa panen raya padi di sebagian wilayah di Jawa Barat sekitar 30 hari, dari sebelumnya Februari-Maret di tahun 2009, menjadi Februari-April di tahun 2010. Kinerja sektor industri pengolahan juga masih tumbuh positif, seiring terus membaiknya permintaan masyarakat luar negeri terhadap hasil produksi Jawa Barat. Sementara itu, sektor PHR masih dapat tumbuh relatif tinggi, karena tingginya volume perdagangan besar di Jawa Barat, sebagai dampak meningkatnya produksi sektor pertanian dan industri pengolahan, tingginya pertumbuhan perdagangan eceran akibat membaiknya daya beli masyarakat, serta peningkatan volume perdagangan ekspor dan impor Jawa Barat.

Grafik 1.19 Nilai dan Volume Impor Jawa Barat

0 100 200 300 400 500 0 250 500 750 1.000 1.250 1.500

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 2008 2009 2010

Ribu Ton USD Juta

Nilai Impor Volume Impor

(30)

Tabel 1.3. Pertumbuhan Ekonomi Tahunan Provinsi Jawa Barat – Sisi Penawaran (yoy)

Tw.I Tw.II Tw.III Tw. IV Tw.I Tw.II Tw.III Tw. IV Tw.I Tw.II Pertanian 34,8% ‐2,0% ‐3,5% ‐11,2% 2,7% 9,7% 3,3% 16,9% ‐3,0% 2,2% Pertambangan dan Penggalian ‐15,3% ‐15,9% ‐8,8% 2,4% 1,0% 4,6% 10,9% 16,1% 7,1% 5,7% Industri Pengolahan 5,5% 9,5% 10,5% 10,8% 4,3% ‐1,6% ‐1,2% ‐1,8% 3,2% 2,4% Listrik, Gas, dan Air Bersih 4,7% 5,4% 3,7% 3,3% 4,5% 11,0% 22,6% 27,9% 17,2% 11,8% Bangunan/Konstruksi 2,1% 1,2% 13,4% 19,2% 3,9% 8,5% 2,4% 8,7% 17,0% 16,6% Perdagangan, Hotel, dan Restoran 3,6% 2,8% 6,1% ‐0,8% 6,5% 6,8% 12,4% 14,4% 17,9% 15,1% Pengangkutan dan Komunikasi 0,5% 7,0% 3,5% 0,7% 7,7% 11,1% 10,5% 11,2% 13,7% 18,0% Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan ‐1,8% 3,5% 8,6% 9,9% 2,5% 4,3% 5,0% 11,8% 14,5% 10,0% Jasa‐jasa 1,1% ‐0,1% 2,4% 3,8% 2,7% 4,0% 3,4% 2,8% 3,2% 6,9% PDRB  7,1% 4,7% 6,4% 4,5% 4,4% 3,2% 4,0% 6,1% 6,6% 6,9%

2008 2009

Lapangan Usaha 2010

Sumber: BPS Provinsi Jawa Barat

2.1. Sektor Pertanian

Pertumbuhan sektor pertanian mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya.

Peningkatan tersebut terjadi seiring adanya pergeseran musim tanam padi di akhir tahun 2009 silam selama 10 hingga 30 hari, sehingga masa panen yang seharusnya terkonsentrasi pada triwulan I-2010, sebagian mundur ke bulan April 2010.

Peningkatan pertumbuhan kinerja sektor pertanian di Jawa Barat diindikasikan dari meningkatnya produksi tanaman padi, baik sawah maupun ladang, selama triwulan II-2010. Pertumbuhan produksi padi tersebut mengalami peningkatan, dari turun 6,6% (yoy) pada triwulan I-2010, menjadi tumbuh meningkat 9,0% (yoy) pada triwulan II-2010. Hal ini terjadi seiring meningkatnya luas panen padi di Jawa Barat selama triwulan laporan, dengan pertumbuhan sebesar 4,7% (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada periode sebelumnya yang turun 10,7%.

Grafik 1.20. Produksi Padi Sawah dan Ladang di Jawa Barat

-50% 0% 50% 100% 150% -1.000.000 2.000.000 3.000.000 4.000.000

Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I Tw.II 2007 2008 2009 2010

% Ton

Produksi Padi Pertumbuhan (yoy)

Sumber: Dinas Pertanian Tanaman Pangan Jawa Barat

Grafik 1.21. Luas Panen Padi Sawah dan Ladang di Jawa Barat

-50% 0% 50% 100% 150% -200.000 400.000 600.000 800.000

Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I Tw.II 2007 2008 2009 2010

% Ha

Luas Panen Padi Pertumbuhan (yoy)

Sumber: Dinas Pertanian Tanaman Pangan Jawa Barat

(31)

Hasil produksi pertanian lainnya juga diperkirakan lebih baik dibandingkan perkiraan sebelumnya. Berdasarkan Angka Ramalan II, produksi jagung di Jawa Barat selama tahun 2010 meningkat sebesar 6,3% (yoy), lebih tinggi dibandingkan perkiraan sebelumnya pada Angka Ramalan I yang hanya tumbuh sebesar 1,6%. Selain dipengaruhi oleh kenaikan produktivitas, peningkatan produksi tersebut juga terjadi akibat meningkatnya

perkiraan luas panen jagung, dari sebelumnya turun 0,8% menjadi tumbuh meningkat 3,2%. Sementara itu, walaupun masih tumbuh negatif, namun produksi kedelai di Jawa Barat juga diperkirakan membaik, dari perkiraan sebelumnya tumbuh -19,4% (yoy) menjadi -13,3%. Peningkatan perkiraan tersebut diperkirakan terjadi seiring membaiknya produksi hasil pertanian selama triwulan II-2010.

2.2. Sektor Industri Pengolahan

Kinerja sektor industri pengolahan masih mengalami pertumbuhan yang positif selama triwulan II-2010, seiring baiknya permintaan masyarakat, baik di pasar

domestik maupun ekspor. Selain itu,

prospek positif perekonomian ke depan seiring berlanjutnya proses pemulihan global serta faktor musiman berupa persiapan Ramadhan dan Idul Fitri pada triwulan III-2010, mendorong pengusaha meningkatkan kapasitas produksinya selama triwulan laporan. Adapun peningkatan tersebut terjadi pada subsektor-subsektor dominan di Jawa Barat, yaitu Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) serta mesin, alat angkutan, dan peralatannya.

Subsektor Industri Mesin, Alat Angkutan, dan Peralatannya

Positifnya kinerja subsektor industri mesin, alat angkutan, dan peralatannya terindikasikan dari kenaikan permintaan masyarakat terhadap kendaraan bermotor, baik mobil maupun motor, selama triwulan II-2010. Walaupun terhadang berbagai isu negatif, seperti kenaikan Tarif Dasar Listrik, harga baja, dan pajak, namun permintaan masyarakat terhadap kendaraan bermotor terus menunjukkan peningkatan. Terus membaiknya daya beli masyarakat serta tren penurunan tingkat suku bunga pembiayaan, didukung pula oleh aksi promosi yang dilakukan oleh dealer dan berbagai program kemudahan yang ditawarkan, mendorong peningkatan permintaan masyarakat, yang selanjutnya meningkatkan kinerja subsektor industri mesin, alat angkutan, dan peralatannya.

Penjualan mobil secara nasional untuk wholesale mengalami kenaikan signifikan selama triwulan II-2010, dengan pertumbuhan sebesar 78% (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada

Grafik 1.23. Konsumsi Listrik Industri

0% 10% 20% 30% 40% -2.000 4.000 6.000

Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I Tw.II

2008 2009 2010

% Juta kWh

Konsumsi Listrik Industri Pertumbuhan (yoy, sumbu kanan)

Sumber: PT PLN Distribusi Jawa Barat dan Banten  Grafik 1.22. Luas Panen Padi Jawa Barat

1,83 0,42 0,76 0,64 1,80 0,32 0,64 0,84 1,95 0,35 0,74 0,86 1,89 0,33 0,72 0,84

0,00 0,50 1,00 1,50 2,00 2,50 Jan-Des Sep-Des Mei-Ags Jan-Apr Juta Ha Subround

2010 (Angka Ramalan II) 2009 (Angka Tetap) 2008 (Angka Tetap) 2007

(32)

triwulan sebelumnya yang sebesar 73%. Bahkan, penjualan mobil pada bulan Juni 2010 mengalami kenaikan sebesar 15% (mtm) dibandingkan Mei 2010, dan menjadi rekor penjualan tertinggi sepanjang sejarah penjualan mobil di Indonesia. Kondisi tersebut berbeda dengan kondisi normal, yang biasanya mengalami penurunan penjualan, karena preferensi masyarakat untuk memberikan prioritas pada sekolah anak (memasuki masa tahun ajaran baru sekolah). Hal tersebut juga terjadi pada penjualan ritel kendaraan, yang juga mengalami kenaikan sekitar 13% (mtm) pada bulan Juni 2010. Serupa dengan mobil, penjualan motor juga mengalami peningkatan pada triwulan II-2010. Pertumbuhan penjualan selama triwulan laporan adalah sebesar 46% (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada periode sebelumnya yang sebesar 35%.

Penjualan kendaraan di pasar luar negeri juga mengalami kenaikan. Baik secara nilai maupun volume, ekspor kendaraan dari Jawa Barat selama triwulan II-2010 (April-Mei 2010) rata-rata tercatat tumbuh sebesar 74% (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada periode sebelumnya yang masing-masing sebesar 52% dan 44%. Adapun kenaikan permintaan tersebut terutama berasal dari negara-negara ASEAN, seperti Vietnam, Filipina, dan Malaysia.

Gambar 1.24. Penjualan Motor Nasional

-30% 0% 30% 60% 90% 0 1.000.000 2.000.000

Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I Tw.II 2007 2008 2009 2010

Unit

Penjualan Motor Pertumbuhan (yoy, sumbu kanan)

Sumber: Bank Indonesia

Gambar 1.25. Penjualan Mobil Nasional

-40% 0% 40% 80% 0 100.000 200.000

Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I Tw.II 2007 2008 2009 2010

Unit

Penjualan Mobil Pertumbuhan (yoy, sumbu kanan)

Sumber: Bank Indonesia, Gaikindo

Gambar 1.26. Nilai Ekspor Kendaraan

-75% -50% -25% 0% 25% 50% 75% 100% 0 20 40 60 80 100

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 2008 2009 2010

yoy USD Juta

Nilai Ekspor Pertumbuhan (yoy, sumbu kanan)

Sumber: Bank Indonesia

Gambar 1.27. Volume Ekspor Kendaraan

-75% -50% -25% 0% 25% 50% 75% 0 5 10 15

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 2008 2009 2010

yoy Ribu Ton

Volume Ekspor Pertumbuhan (yoy, sumbu kanan)

Sumber: Bank Indonesia

Kenaikan permintaan juga dialami oleh PT Pindad, yang mendapatkan tawaran pesanan 32 unit panser dari Malaysia, senilai USD80 juta. Penjualan tersebut merupakan peluang bagus untuk meningkatkan produktivitas Pindad, dengan adanya kontrak tahunan dengan pemerintah untuk pengadaan panser dan alutsista (alat utama sistem senjata) lainnya, disamping peluang untuk memperluas pasar di Asia Tenggara.

(33)

Industri elektronik juga menunjukkan kinerja yang semakin baik, karena penjualan di pasar domestik yang diperkirakan mengalami peningkatan selama triwulan II-2010. Peningkatan tersebut didorong oleh lonjakan penjualan produk perlengkapan rumah tangga didorong oleh stabilnya harga produk elektronik akibat apresiasi nilai tukar rupiah. Sementara itu, penyelenggaraan Piala Dunia juga turut mendongkrak permintaan televisi oleh masyarakat. Berbagai prospek positif tersebut mendorong rencana LG untuk merelokasi beberapa pabriknya ke Indonesia, dimana saat ini, pabrik LG di Indonesia berlokasi di Jawa Barat. Demikian juga dengan Sharp yang berencana untukmendirikan pabrik LCD di Jawa Barat, dengan nilai investasi sekitar Rp50 miliar.

Perkiraan tersebut didukung oleh liaison KBI Bandung terhadap salah satu perusahaan PMA yang bergerak di industri elektronik, yang menyatakan adanya peningkatan penjualan ekspor diatas normal yang antara lain ditujukan ke negara di ASEAN, Timur Tengah, Afrika, Australia, Rusia, China, Jepang, Israel, dan Korea. Peningkatan tersebut antara lain dikarenakan tren TV LCD di masyarakat, sehingga permintaan terhadap TV LCD meningkat tajam, baik di pasar internasional maupun domestik. Selain itu, perusahaan secara kontinyu berinovasi menghasilkan produk dengan teknologi baru, melakukan strategi pemasaran secara aktif langsung ke konsumen, dan gencar mencari negara-negara tujuan ekspor yang potensial.

Subsektor Industri Tekstil, Barang Kulit, dan Alas Kaki

Kinerja subsektor industri tekstil, barang kulit, dan alas kaki di Jawa Barat masih bergerak dalam arah yang positif. Kondisi ini tercermin dari tren meningkatnya Indeks Produksi Tekstil di Jawa Barat sejak Februari hingga April 2010 (Gambar 1.30).

Sementara itu, walaupun terhadang oleh serbuan produk garmen impor China, penjualan di pasar domestik masih relatif stabil dan meningkat sebagai upaya persiapan menghadapi kenaikan permintaan dalam rangka perayaan Idul Fitri. Hal ini terjadi pada produk berkualitas tinggi, karena memiliki karakteristik produk yang berbeda dengan produk China. Adapun subsektor pemintalan merupakan industri TPT yang mengalami peningkatan signifikan. Hal ini terjadi karena adanya kebebasan dari pelaku usaha untuk memilih bahan baku (kapas) dari berbagai negara, dengan harga dan kualitas sesuai

kebutuhan produk. Diperkirakan, investasi pun akan meningkat pada industri pemintalan di tahun 2010 ini.

Walaupun mengalami sedikit perlambatan pada triwulan II-2010, optimisme pada subsektor tesktil tetap tumbuh. Hal ini salah satunya tercermin dari relokasi pabrik salah satu perusahaan garmen asal Korea Selatan ke Purwakarta, Jawa Barat. Berdasarkan rencana, perusahaan tersebut akan membangun kompleks pabrik garmen terintegrasi dari hulu ke hilir dengan kebutuhan lahan minimal 30 hektar, dan diperkirakan dapat menyerap hingga 20 ribu tenaga kerja.

Sementara itu, beberapa perusahaan China sudah merencanakan untuk merelokasi pabrik TPT ke Indonesia, khususnya Jawa Barat. Untuk itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat membidik Kabupaten Majalengka sebagai alternatif area relokasi industri tekstil. Jawa Barat dipilih karena sistem industri terpadu dari hulu ke hilir yang telah berjalan di Jawa Barat, selain kedekatan lokasi dengan DKI Jakarta. Relokasi tersebut dilakukan Cina karena pabrik di Cina telah mengalami over kapasitas. Relokasi tersebut diperkirakan dapat menyerap hingga 200.000 tenaga kerja, dengan investasi rata-rata Rp50 miliar per pabrik untuk menyiapkan permesinan. Untuk mendukung relokasi tersebut,

Grafik 1.28 Indeks Produksi Tekstil

60 80 100 120

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Sumber: Bank Indonesia 

(34)

Pemeritah diharapkan menyiapkan infrastruktur jalan tol, jaminan pasokan listrik, ketersediaan air bersih, koneksi internet, serta akses sambungan jalan.

Di sisi lain, berdasarkan informasi dari Asosiasi Pertekstilan Indonesia Jawa Barat, ACFTA sudah berubah dari awalnya merupakan hal yang menakutkan menjadi peluang besar bagi industri tekstil. Hal ini terjadi, karena pada dasarnya industri tekstil di China telah masuk dalam kategori sunset industry dan memasuki masa jenuh, karena biaya upah dan energi yang sangat mahal di China (upah buruh di Indonesia merupakan yang paling rendah diantara pesaingnya di ASEAN, seperti China, Thailand, dan Filipina). Oleh karena itu, industri TPT lokal pada dasarnya dapat mengambil peluang untuk memperluas pasar ekspornya dengan implementasi ACFTA ini. Selain itu, sebagai upaya antisipasi, saat ini API selalu melakukan pemantauan terhadap harga dan aktivitas ekspor-impor produk TPT, dan segera akan mengajukan permohonan safeguard apabila hasil pemantauan mulai menunjukkan keadaan yang membahayakan.

Terkait dengan ACFTA, Asosiasi Pedagang Ritel Indonesia (APRINDO) Jabar menyatakan bahwa dari sisi pedagang, tidak tampak adanya lonjakan permintaan konsumen terhadap produk garmen China, dimana produk lokal masih menjadi pemenang dalam pasar domestik. Hal ini disebabkan oleh preferensi konsumen untuk produk lokal, yang memiliki kualitas jauh di atas produk garmen China, yang sangat mudah rusak.

Industri alas kaki di Jawa Barat menunjukkan perkembangan yang relatif baik. Prospek positif terhadap perkembangan industri alas kaki mendorong maraknya rencana relokasi prinsipal luar negeri untuk mendirikan pabrik di Jawa Barat, serta meningkatkan investasinya di Jawa Barat. Pelaku UMKM di industri alas kaki juga menunjukkan peningkatan kinerja, bagi yang mampu memberikan karakteristik unik pada produknya, seperti industri sandal dengan motif kartun di Cirebon, dengan penjualan yang mampu meningkat sekitar 100%. Namun demikian, penurunan penjualan juga tetap terjadi pada pelaku UMKM yang tidak mampu memberikan keunikan pada produknya, karena kalah bersaing dengan produk alas kaki China. Sementara itu, penjualan sepatu non sport, baik ekspor maupun domestik masih relatif stabil dan sedang memasuki periode puncak, memasuki musim liburan sekolah dan menjelang Lebaran. Bahkan, permintaan bisa mengalami peningkatan hingga 100%. Tingginya kualitas produk sepatu Jawa Barat disertai dengan merek terkenal, pasar yang sudah terbentuk di luar negeri, serta harga yang bervariasi, menjadikan daya saing produk lokal Jawa Barat relatif tinggi dibandingkan produk China. Kondisi ini juga berlaku untuk pelaku usaha UMKM, karena perusahaan-perusahaan dengan merk-merk ternama tersebut menggunakan jasa berbagai pelaku UMKM untuk memproduksi sepatu sesuai pesanan. Oleh karena itu, kekhawatiran terhadap implementasi ACFTA secara umum terlalu berlebihan.

Pesanan sepatu sejumlah prinsipal besar, khususnya sepatu sport, ke perusahaan lokal di Jawa Barat juga mengalami peningkatan. Selain ke pasar ekspor utama, peningkatan juga terjadi untuk pasar non tradisional, seperti Timur Tengah, Eropa Timur, dan Afrika. Dalam upaya mendukung daya saing industri alas kaki nasional, Pemerintah Pusat memberikan bantuan dana untuk restrukturisasi mesin industri alas kaki dan penyamakan kulit, dengan total Rp34,25 miliar. Adapun bantuan diberikan tunai dengan pola cash back sebesar 10-25% dari harga mesin (10-15% untuk industri menengah, dan 20-25% untuk industri kecil), dan dengan pola reimbursement.

(35)

Sebagai catatan, salah satu hal yang menghambat proses produksi alas kaki di Jawa Barat adalah ketentuan karantina untuk impor bahan baku alas kaki, khususnya kulit. Berdasarkan ketentuan dari Kementerian Pertanian, impor kulit lembaran (yang telah diproduksi, bukan bahan kulit mentah), wajib melalui proses karantina. Ketentuan ini pada dasarnya bertujuan untuk mencegah masuknya penyakit ke Indonesia, namun ketentuan tersebut dirasakan perlu dikaji ulang, karena kulit lembaran sudah melalui proses produksi yang mematikan seluruh virus/bibit penyakit. Proses karantina ini mengakibatkan panjangnya waktu yang dibutuhkan pelaku usaha alas kaki untuk mendapatkan bahan baku.

Subsektor Industri Makanan, Minuman, dan Tembakau 

Berdasarkan hasil liaison terhadap dua perusaan makanan minuman terbesar di Jawa Barat, peningkatan permintaan di pasar domestik mendukung baiknya kinerja industri makanan dan minuman di Jawa Barat. Melihat prospek yang baik di depan serta kapasitas produksi yang sudah mencapai 90%, salah satu perusahaan merencanakan untuk menambah investasi dengan pendirian pabrik baru di Jawa Timur pada tahun 2010. Selain daya beli masyarakat yang meningkat, kenaikan permintaan juga dipengaruhi oleh strategi pemasaran yang agresif, yang dilakukan oleh perusahaan.

2.3.

Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran

Sektor perdagangan, hotel, dan restoran masih mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi

pada triwulan II-2010, walaupun sedikit melambat. Tingginya pertumbuhan sektor PHR ini

disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya adalah membaiknya daya beli masyarakat yang mendorong konsumsi rumah tangga serta perdagangan ritel, meningkatnya volume perdagangan besar akibat aktivitas ekspor impor Jawa Barat serta kenaikan produksi komoditas di sektor pertanian dan industri pengolahan di Jawa Barat.

Baiknya kinerja sektor PHR salah satunya tercermin dari peningkatan Indeks Pembelian

Durable Goods3

dari rata-rata sebesar 54,6 selama triwulan I-2010 menjadi 75,2 selama triwulan II-2010 (Grafik 1.3). Selain itu, indikasi lainnya adalah tingginya Indeks Penjualan Eceran4

di Kota Bandung, yang tumbuh sebesar 12% (yoy) (Grafik 1.5). Selain itu, aktivitas perdagangan juga terlihat dari arus bongkar muat di Pelabuhan Cirebon, yang mengalami peningkatan signifikan. Kenaikan tersebut dipicu pula oleh kenaikan aktivitas bongkar

komoditas gypsum (bahan baku semen), seiring dengan meningkatnya kapasitas produksi Indocement. Namun demikian, walaupun tumbuh tinggi, kinerja sektor PHR yang mengalami sedikit perlambatan terindikasikan dari melambatnya pertumbuhan Indeks Penjualan Eceran, dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya.

       

Hasil Survei Konsumen, BI Bandung 

4

Hasil Survei Penjualan Eceran, BI Bandung 

Grafik 1.29. Arus Bongkat Muat di Pelabuhan Cirebon

0 1000 2000

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 2009 2010

Ribu ton

 

(36)

Tabel 1.4. Indikator Perhotelan di Jawa Barat

Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I Tw.II

Hotel Bintang 42.31 41.40 40.03 40.45 43.65 43.10 46.93 49.67 48.16 48.71 10.3% 13.0%

Hotel Non Bintang

24.54 25.24 25.18 27.13 24.96 28.08 27.40 32.35 31.65 33.60 26.8% 19.6%

Hotel Bintang &

Non Bintang 36.01 31.22 32.84 33.87 35.23 36.75 37.33 42.75 42.85 45.50 21.6% 23.8%

2009 Pertumbuhan Tw.II-10 (yoy) 2010 Tingkat Hunian Kamar 2008 Pertumbuhan Tw.I-10 (yoy)

Sumber: BPS Provinsi Jabar

Keterangan: data merupakan rata-rata dari data THK (Tingkat Hunian Kamar) bulanan

Sementara itu, subsektor hotel diperkirakan mengalami kenaikan, yang diindikasikan oleh meningkatnya Tingkat Hunian Kamar (THK) perhotelan di Jawa Barat selama triwulan II-2010 (Tabel 1.4). Secara rata-rata, THK hotel di Jawa Barat selama triwulan II-2010 adalah sebesar 45,5, atau merupakan yang tertinggi sejak tahun 2008. Hal ini menunjukkan bahwa industri perhotelan di Jawa Barat masih terus berkembang dan dicari oleh masyarakat, di tengah masih gencarnya pembangunan hotel-hotel baru di Jawa Barat, khususnya Kota Bandung. Kondisi tersebut diperkirakan terjadi karena semakin banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Jawa Barat, dengan segala daya tarik wisata yang dimiliki, sebagaimana terlihat dari kenaikan jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Jawa Barat, terutama dari Bandara Husein Sastranegara (Grafik 1.32). Dilihat dari asalnya, kenaikan jumlah wisman yang datang tersebut terutama berasal dari Malaysia, dengan pangsa 86% dari seluruh wisman, meningkat dibandingkan pangsa pada triwulan I-2010 yang sebesar 84%.

2.4. Sektor Pengangkutan dan Komunikasi

Kinerja sektor pengangkutan dan komunikasi mengalami peningkatan kinerja pada triwulan

II-2010. Pertumbuhan selama triwulan II-2010 untuk sektor pengangkutan dan komunikasi adalah

sebesar 18,0% (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya yang sebesar 13,7%. Hal ini terjadi seiring membaiknya indikator-indikator pada subsektor pengangkutan, seperti jumlah kendaraan yang melalui 12 gerbang tol di Jawa Barat. Jumlah kendaraan yang melalui jalan tol di Jawa Barat tumbuh meningkat, yaitu dengan pertumbuhan rata-rata 6,7% (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada periode sebelumnya yang sebesar 6,4%. Selain itu, penyaluran kredit perbankan Jawa Barat ke sektor tersebut juga menunjukkan pergerakan yang positif, dimana kredit tumbuh sebesar 88,5% (yoy) selama triwulan II-2010 (posisi Mei 2010), lebih tinggi

Grafik 1.30. Perkembangan Wisatawan Mancanegara yang Berkunjung ke Jawa Barat

0 2000 4000 6000 8000 10000 12000

6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 2008 2009 2010 orang

Husein Sastranegara Muarajati Total

Sumber: BPS Provinsi Jabar

Grafik 1.31. Asal Wisatawan Mancanegara yang Berkunjung ke Jawa Barat

Malaysia 86% Singapura 8% Lainnya 5% Eropa 1%

(37)

Grafik 1.32. Penyaluran Kredit oleh Bank Umum di Jawa Barat ke Sektor Pengangkutan, Gudang, dan Komunikasi

0 150 300 450

0 2 4 6

Tw.I Tw.II Tw.IIITw.IV Tw.I Tw.II Tw.IIITw.IV Tw.I Tw.II Tw.IIITw.IV Tw.I Tw.II

2007 2008 2009 2010

% Rp Triliun

Posisi Kredit Pertumbuhan (yoy, sumbu kanan)

 

Sumber: PT Pelindo II

Tabel 1.5. Jumlah Kendaraan yang Melintasi 12 Gerbang Tol di Jawa Barat

Tw.II-09 Tw.II-10 Pertumbuhan (yoy)

Gerbang Tol

Masuk Keluar Masuk Keluar Masuk Keluar

Sadang 416.584 398.591 456.341 443.655 9,5% 11,3%

Jatiluhur 322.334 328.424 346.922 352.207 7,6% 7,2%

Padalarang Barat 1.847.581 2.034.186 2.044.990 2.270.940 10,7% 11,6%

Padalarang 1.557.871 1.427.225 1.660.561 1.510.487 6,6% 5,8%

Baros 1 500.029 753.830 515.612 820.423 3,1% 8,8%

Baros 2 757.301 529.006 800.768 534.323 5,7% 1,0%

Pasteur 2.501.639 2.447.935 2.644.820 2.609.555 5,7% 6,6%

Pasir Koja 1.438.255 1.172.394 1.443.382 1.215.166 0,4% 3,6%

Kopo 1.038.842 1.085.514 1.104.961 1.145.765 6,4% 5,6%

M Toha 838.023 900.880 886.157 963.813 5,7% 7,0%

Buah Batu 1.212.982 1.323.949 1.305.289 1.419.204 7,6% 7,2%

Cileunyi 1.791.962 1.809.661 1.937.440 1.947.169 8,1% 7,6%

TOTAL 14.223.403 14.211.595 15.147.243 15.232.707 6,5% 7,2%

Sumber: PT Jasa Marga Kantor Cabang Purbaleunyi

Sementara itu, angkutan rel di Jawa Barat, menunjukkan pertumbuhan positif, diindikasikan dari jumlah penumpang yang menggunakan jasa kereta api di Jawa Barat. Demikian juga halnya dengan angkutan udara, yang masih mampu tumbuh diatas 50% (yoy) selama triwulan II-2010 ini.

Tabel 1.6. Jumlah Penumpang Kereta Api di Jawa Barat

Pertumbuhan Pertumbuhan

Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I Tw.II Tw.I-10 (yoy) Tw.II-10 (yoy)

Eksekutif 0,23 0,30 0,33 0,32 0,28 0,32 0,34 0,34 0,28 0,30 2,15% -8,71% Bisnis 0,20 0,26 0,33 0,32 0,27 0,29 0,35 0,31 0,28 0,29 5,24% -0,93% Ekonomi 0,37 0,41 0,46 0,49 0,41 0,48 0,53 0,49 0,47 0,54 14,31% 11,28% Lokal Bisnis 0,26 0,28 0,33 0,33 0,36 0,40 0,47 0,42 0,41 0,43 12,39% 7,80% Lokal Ekonomi 1,74 1,88 2,01 2,23 1,94

2,23 2,45 2,25 2,29 2,31 18,42% 3,57%

Total 2,80 3,12 3,45 3,69 3,25 3,72 4,13 3,81 3,73 3,86 14,77% 3,60%

Kelas 2008 2009 2010

 

(38)

Grafik 1.33. Jumlah Penumpang Domestik dan Internasional di Bandara Husein Sastranegara

-25% 0% 25% 50% 75% 100% 125%

0 50.000 100.000 150.000 200.000

Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I Tw.II 2008 2009 2010 orang

Jumlah Penumpang Pertumbuhan (yoy, sumbu kanan)

 

Sumber: PT Persero Angkasa Pura II

2.5. Sektor Bangunan/Konstruksi

Sektor bangunan/konstruksi tu

Gambar

Grafik 1.20. Produksi Padi Sawah dan Ladang
Gambar 1.25. Penjualan Mobil Nasional
Tabel 1.5.  Jumlah Kendaraan yang Melintasi 12 Gerbang Tol di Jawa Barat
Grafik 1. Masuknya Produk China di Pasar
+7

Referensi

Dokumen terkait

Ekspor barang dan jasa pada triwulan IV-2006 diperkirakan Ekspor barang dan jasa pada triwulan IV-2006 diperkirakan Ekspor barang dan jasa pada triwulan IV-2006 diperkirakan

Secara tahunan, posisi DPK yang berhasil dihimpun bank umum di Jawa Tengah pada triwulan III- 2010 mengalami pertumbuhan sebesar 14,46% (yoy) menjadi Rp100,33 triliun,

Laju inflasi tahunan Kota Palangka Raya dan Sampit pada triwulan III-2010. tercatat masing-masing sebesar 9,11% dan 7,59% meningkat

Perekonomian Gorontalo triwulan III-2009 diperkirakan melambat 7.60% (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan triwulan III-2008 sebesar 9.00% (yoy). Melemahnya

Kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga tercatat mengalami inflasi sebesar minus 0,01% (q-t-q) pada triwulan I-2010, mengalami peningkatan dibandingkan kondisi triwulan

Laju pertumbuhan ekonomi Kalimantan Timur pada periode triwulan I-2010 diperkirakan mengalami pertumbuhan yang positif, yaitu sebesar 4,72% (yoy) dibandingkan dengan

Dari sisi perbankan, secara umum kinerja sektor perbankan di Jawa Tengah (Bank Umum dan BPR) pada triwulan II-2010 (Data posisi Mei 2010) menunjukkan perkembangan

Secara tahunan (y.o.y) pertumbuhan ekonomi Maluku pada triwulan laporan tumbuh 6,95%, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun 2009 yang tercatat sebesar 5,25%