Skenario Populisme Islam
di Indonesia
Pasca Aksi Bela Islam
Ahmad Najib Burhani
|
Wasisto Raharjo Jai
|
Zuly Qodir
M Salisul Khakim
|
Hamzah Fansuri
|
Geger Riyanto
1
Penanggung Jawab Ahmad Syafii Maarif
Jeffrie Geovanie Rizal Sukma
Pemimpin Umum Muhd. Abdullah Darraz
Pemimpin Redaksi Ahmad Imam Mujadid Rais
Wakil Pemimpin Redaksi Saefudin Zuhri
Redaktur Tamu Airlangga Pribadi
Dewan Redaksi Ahmad Najib Burhani
Ahmad–Norma Permata Clara Juwono
Haedar Nashir Hilman Latief Luthfi Assyaukanie M. Amin Abdullah
Sekretaris Redaksi M. Supriadi
Redaktur Pelaksana Khelmy K. Pribadi, Ahmad Imam Mujadid Rais
Pipit Aidul Fitriyana, Saefudin Zuhri
Design Layout Harhar Muharam, Deni Murdiani
Keuangan Henny Ridhowati
Sirkulasi Awang Basri, Pripih Utomo
Alamat Redaksi
MAARIF Institute for Culture and Humanity
Jl. Tebet Barat Dalam II No. 6, Jakarta 12810 Telp +62-21 8379 4554 Fax +62-21 8379 5758 website : www.maarifinstitute.org
email : jurnal@maarifinstitute.org [email protected]
Donasi dapat disalurkan melalui rekening : Yayasan A. Syafii Maarif
BNI MH. Thamrin (Wisma Nusantara) 0114179273
Terbit Perdana Juni 2003
22
Abstrak
Istilah dan perspektif populisme masih baru dalam kajian sosial politik Indonesia untuk menjelaskan adanya ideologi dan gerakan yang mengatasnamakan sebagai rakyat. Populisme sendiri bisa dikatakan sebagai strategi politik yang sifatnya informal dan inkonstitusional dalam upaya menjembatani representasi dan artikulasi aspirasi dari akar rumput kepada pusat kekuasaan. Narasi populisme dihadirkan dalam bentuk pertarungan antara elite dengan publik yang sebenarnya itu adalah wujud pertarungan kelas antara governing society dan non-governing society. Populisme Islam yang berkembang dalam kelas menengah muslim ini juga berupaya membangun kesadaran sebagai “umat” untuk kembali bangkit di ruang publik. Populisme Islam adalah bagian dari cara mempopulerkan dan menubuhkan Islam sebagai prinsip, nilai, dan norma baik secaa sosial maupun politik. Tulisan ini akan mengelaborasi lebih lanjut mengenai konteks populisme Islam di kalangan kelas menengah muslim Indonesia hari ini.
Kata Kunci : Populisme, Kelas menengah muslim, Ummat, Ummah
Dari Umat Menuju Ummah?:
Melacak Akar Populisme Kelas
Menengah Muslim Indonesia
23
MAARIF Vol. 12, No. 1 — Juni 2017
Relasi Populisme dan Islam
Narasi populisme tengah menghangat dalam perbincangan politik kontemporer baik dalam level global maupun nasional. Hal tersebut sebenarnya dipengaruhi konstelasi politik yang mengatasnamakan “rakyat” sebagai alat elektabilitas maupun juga alat popularitas demi kepentingan politis tertentu. Dengan kata lain, kata “rakyat” menjadi bahasa imperatif yang secara psikis menggerakan kolektivitas dan voluntarisme politik secara informal untuk merubah atau mempengaruhi tatanan politik formal. Pemahaman popular mengenai populisme yang berkembang saat ini adalah pemahaman yang menghadapkan politik “rakyat banyak” dengan politik “elite” yang digambarkan sebagai tamak dan jahat1. Istilah tersebut sebenarnya merujuk pada fenomena saat Pemilihan Presiden Republik Indonesia di tahun 2014 maupun Pemlihan Gubernur DKI di tahun 2017, yakni terdapat narasi besar yang mengerangkai preferensi pemilih dan menggerakan massa secara massif dalam bentuk gerakan politik tertentu. Namun demikian, pengertian populisme sendiri secara baku dan definitif dalam kajian ilmu politik belumlah mencapai satu pengertian yang pasti. Berdasarkan pada pengalaman praksis di berbagai negara, populisme bisa merujuk pada penguatan rezim dan figur karismatik, pola kampanye, mapun juga gerakan akar rumput. Ketiga premis itulah kerap menghiasi diskusi populisme sendiri di ruang publik.
Pengertian populisme yang berangkat dari ketiga premis tersebut bisa dikategorisasikan menjadi ketiga bentuk yakni populisme sebagai ideologi, populisme sebagai komunikasi politik, mapun gaya politik2. Ketiganya memiliki narasi dan substansi yang berbeda mengenai pemahaman populisme dari segi sudut pandang ilmu politik. Populisme bisa diartikan sebagai konsep lentur yang berfungsi menjelaskan adanya perjuangan kelas secara kolektif melawan ketimpangan. Terkait dengan kemunculan populisme dalam islam ini sebenarnya menarik untuk dikaji sebagai suatu kajian menarik. Populisme terlebih lagi Islam merupakan agama dan ideologi besar yang senantiasa memainkan peranan penting konstelasi politik Indonesia. Makna populisme dalam Islam kemudian menjadi multi intepretatif untuk didiskusikan lebih lanjut yang bisa dilihat dalam perspektif kanan, tengah, maupun kiri yang itu disesuikan dengan kebutuhan mendesak dan riil masyarakat muslim Indonesia hari ini. Mengemukanya kebutuhan umat Islam mulai dari isu khilafah, aksi bela ulama, maupun juga kafir-non kafir mencerminkan adanya variasi
1 Vedi Hadiz, Populisme Baru dan Masa Depan Demokrasi Indonesia, Depok, LP3ES, 2017, 38.
24
MAARIF Vol. 12, No. 1 — Juni 2017perjuangan, representasi, dan rekognisi yang ingin disampaikan masyarakat muslim Indonesia baik sebagai umat di level nasional maupun ummah di level global. Tulisan ini akan mengelaborasi lebih lanjut mengenai akar populisme Islam terutama di kalangan kelas menengah muslim Indonesia.
Islam, Populisme, dan Kelas Menengah Muslim
Istilah “rakyat”, “publik, maupun “orang biasa” melekat penting dalam setiap diskusi mengenai populisme. Ketiga kata tersebut sebenarnya digunakan untuk menegasikan adanya praktik demokrasi yang selama ini berlangsung secara formalistik, legalistik, maupun prosedural. Populisme sendiri dijalankan secara informal, gerakan ekstra parlementer, dan juga irrasional sebagai bentuk manifestasi anti tesis terhadap kemapanan. Ada semangat demokrasi substansial yang diusung oleh populisme ini sebagai aksi kuratif dan korektif terhadap demokrasi yang sebagian besar didominasi kekuatan oligarki. Hal itulah yang menyebabkan populisme sendiri berkembang menjadi payung besar atas berbagai macam ideologi besar yang melatarbelakangi gerakan masyarakat. Dengan kata lain, sebenarnya membaca populisme perlu lebih teliti karena istilah ini bisa dikaitkan dengan revolusi, jihad, maupun juga people power
yang itu menghadapkan rakyat melawan elite demi perubahan sosial. Dengan kata lain, populisme bisa dianggap sebagai “cerminan demokrasi” (mirror of democracy) yang melihat ada sisi “liyan” (the others) sebagai bentuk objek alienasi dan diskriminasi3. Liyan ditempatkan sebagai bentuk identifikasi sosial suatu individu dan kolektif yang selama ini berbeda dengan “kita” sebagai elite
(governing society) sebagai penguasa.
Populisme kemudian muncul dari relasi timpang antara publik (non-governing society) dengan elite (governing society). Pada akhirnya, populisme berkembang dalam berbagai bentuk ekspresi politis yang tergantung pada konteks dan konten politik kontemporer yang melatar belakanginya. Seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa populisme berkembang dalam tiga ranah yakni populisme sebagai ideologi, populisme sebagai komunikasi poliitk, maupun juga populisme sebagai gaya politik4. Ketiganya memiliki narasi berbeda dalam mengkerangkai adanya relasi timpang dan makna perubahan sosial tersebut. 1) populisme sebagai ideologi politik sebenarnya melihat dimensi “orang biasa” sebagai bentuk konstruksi sosial akan komunalitas yang perlu diperjuangka. Konstruksi sosial tersebut sebenarnya ingin melihat “orang
3 Fransisco Panizza (Eds.), Populism and the Mirror of Democracy, London, Verso, 2005,4-5.
25
MAARIF Vol. 12, No. 1 — Juni 2017
biasa” sebagai subjek daulat (people as sovereign entity), maupun sebagai kelas
(people as a social class)5. Kedua bentuk itu yang kemudian menentukan derajat ideologi yang dibawakan oleh populisme sendiri sebagai gerakan politik tengah, gerakan politik kanan, maupun gerakan kiri. Adanya diferensiasi makna dan tujuan tersebut yang menjadikan populisme sebagai ideologi yang tipis karena tergantung pada isu dan kepentingan yang dibawa. Selain kedua hal tersebut, populisme sebagai ideologi tergantung pada seberapa kuat tekanan politis yang dialamatkan publik kepada elite. Adapun pengertian 2) populisme sebagai gaya politik (political style) lebih mengarahkan diri pada bentuk patronase yang menjamin adanya hajat hidup masyarakat luas. Populisme sebagai gaya politik ini sebenarnya mengarahkan pada bentuk pemenuhan kebutuhan material fisik yang mengarah pada hak dasar. Populisme model seperti ini biasanya mengarah pada bentuk rezim kesejahteraan (welfarism regime) bagi masyarakatnya. Sedangkan makna 3) populisme sebagai komunikasi politik lebih diutamakan dalam mengkonstruksikan adanya figure pemimpin kharismatik. Hal itulah yang mengkonstruksi pemimpin populis adalah pemimpin rakyat. Dalam hal ini, rakyat secara kolektif kemudian dikristalkan dalam suatu figur yang menubuh. Kondisi tersebut diperkuat dengan jargon maupun semboyan politik yang bersifat sosialis misalnya saja “penyambung lidah rakyat”,“pemimpin wong cilik”, maupun juga “pelayan masyarakat”. Ketiga bentuk ekspresi tersebut sebenarnya lebih mengarahkan pada bentuk asosiasi politis bahwa pemimpin itu bekerja dan bertindak mengatasnamakan rakyat.
Populisme lekat dengan isu dan kepentingan rekognisi, representasi, advokasi, maupun juga aspirasi akar rumput menuju elite. Hal itulah yang menjadikan populisme dianggap sebagai “cerminan demokrasi” (mirror of democracy). Istilah itu sebenarnya bisa bermakna karikatif maupun kuratif terhadap pelaksanaan demokrasi kontemporer yang berlangsung selama ini. Dikatakan karikatif karena demokrasi yang berlangsung secara legal formal justru membuat jarak antara pemerintah dan rakyatnya. Dikatakan karikatif karena populisme membawa nilai-nilai substantif demokrasi yang selama ini diabaikan dalam praktiknya. Konteks populisme juga nantinya erat kaitan adanya revitalisasi publik sebagai
demos yang kemudian menciptakan adanya istilah representasi popular dengan tujuan mengembalikan daulat rakyat. Istilah tersebut muncul di pengalaman negara-negara berkembang (global south) yang telah mengalami transisi demokrasi yang belum sempurna sehingga menciptakan adanya pembajakan demokrasi dan oligarki baru6. Oleh karena itulah, populisme berkembang sebagai bentuk
26
MAARIF Vol. 12, No. 1 — Juni 2017ekspresi anti mapan maupun anti elitisme di kalangan masyarakat. Pelaku dan praktik populisme kemudian berkembang dalam berbagai lini masa tergantung pada relasi dan isu kontemporer. Populisme secara sederhana berkembang secara transformatif mulai dari isu revolusi menjadi negosiasi dan gerakan kelas bawah menuju gerakan kelas menengah.
Maka apabila dielaborasi lebih lanjut, pengertian populisme yang berkembang dalam ketiga ranah tersebut dapat ditabulasikan sebagai berikut ini.
Tabel 1 Transformasi Politik Populisme
No Tipologi Populisme Bentuk Aksi Politik Pelaku Tujuan
1 Populisme sebagai
Ideologi Politik Gerakan Politik Ekstra Parlementer Aliansi Kelas dalam Masyarakat Representasi, dan Advokasi Aspirasi 2 Populisme sebagai
Gaya Politik Kebijakan welfare state, Klintelisme berbasis barang publik
Komunikasi Politik Pembentukan Rezim (Peronisme, Chavizmo, Soekarnoisme, dsb)
Sumber : diolah dari berbagai data
Jika ditinjau dari pembahasan tabulasi diatas, populisme bisa dikatakan untuk memperbaiki demokrasi secara inkonstitusional, namun juga cara memperoleh kekuasaan secara informal. Dengan berlandaskan semangat anti kemapanan dan anti dominasi elite, kekuasaan berusaha untuk direbut kembali untuk kembali melayani kepentingan rakyat. Hal menarik yang perlu dicatat adalah pembentukan aliansi kelas dalam masyarakat yang membentuk semangat populisme. Narasi penting yang perlu dicatat adalah populisme sendiri adalah ideologi mendasar bagi kelas menengah7. Hal itu sebenarnya juga tidak terlepas dari adanya “kegamangan ideologi” (ideological confusion) yang dialami kelas menengah dalam menentukan sikap politiknya. Kalangan kelas menengah berusaha untuk menegaskan posisi kelas yang berbeda dengan kelas pekerja
(working class) dengan ideologi sosialismenya dan kelas borjuasi (bourgeoisies’
class) dengan ideologi kapitalismenya. Pertentangan populisme dengan
sosialisme sendiri terletak pada konsentrasi industrialisasi dan penyamarataan upah dan fasilitas barang publik. Sedangkan pertentangan dengan kapitalisme terletak pada penolakan terhadap nilai tambah dalam industri dan juga praktik monopoli maupun juga oligopoli dalam ranah ekonomi – politik. Dikarenakan
27
MAARIF Vol. 12, No. 1 — Juni 2017
berada di level menengah, kelas menengah juga bisa dartikan sebagai masyarakat yang rentan (defenceless society) karena pilihan politik mereka yang cenderung pragmatis dan negosiatif.
Dikatakan rentan, karena masyarakat kelas menengah melihat politik secara simbolik dan atributif sehingga dengan mudah dapat diinflitrasi oleh berbagai macam ideologi dan kepentingan politik tertentu. Kondisi tersebut dikarenakan masyarakat kelas menengah adalah masyarakat aliansi dan terspesialisasi oleh fungsi, afiliasi, dan juga materi yang beragam. Kehadiran mereka yang dimana-mana menjadi kelas menengah ini popular sebagai bentuk masyarakat dengan identitas baru. Populisme kemudian menjadi payung “ideologi” penting akan variasi kepentingan yang beragam dalam kelas menengah tersebut. Narasi lain yang perlu dilihat adalah dalam populisme di kalangan kelas menengah sendiri pada dasarnya adalah arena kontestasi pengaruh, relasi, dan aksesbilitas dalam internal kelas menengah tersebut. Artinya, populisme secara semu mengindikasikan adanya perebutan hegemoni yang berkembang dalam mengerahkan suara mayoritas kelas menengah. Implikasinya kemudian adalah ada kelompok kelas menengah yang kalah dan kelompok kelas menengah yang menang sesuai dengan massa Pada akhirnya kemudian terbentuk sel baru populisme lain yang berkembang di kelompok kelas menengah lainnya. Kondisi itulah yang sebenarnya membuat kelompok kelas menengah pada dasarnya teresklusi satu sama lain secara sosial, material, maupun identitas.
Terkait dengan populisme yang berkembang Islam, hal yang paling penting untuk dipahami adalah kata “umat” adalah bentuk proxy dari kata rakyat yang selama ini digunakan dalam bahasa populisme8. Dalam tulisan ini, populisme islam di kalangan kelas menengah muslim dapat dipahami dalam dua pengertian yakni 1) upaya mempopulerkan Islam di ruang publik dan 2) upaya membangkitkan Islam sebagai kekuatan kepentingan dan kekuatan penekan. Kedua istilah tersebut disarikan dari berbagai macam ekspresi politik kelas menengah muslim Indonesia kontemporer. Konteks umat sebenarnya adalah makna penting dalam melihat sebenarnya perdebatan mengenai keterwakilan kelas juga sebenarnya menjadi isu sentral dalam kelas menengah. Selain konteks keterwakilan, narasi identitas juga menjadi bagian dari konstruksi diferensiasi sosial dalam kelas menengah itu sendiri. Munculnya populisme Islam itu juga berkaitan dengan munculnya kelompok kelas menengah muslim Indonesia berbasis perkotaan. Munculnya kelompok kelas menengah muslim tersebut lahir karena adanya alienasi dan diskriminasi terutama dalam hal representasi kepentingan dan
28
MAARIF Vol. 12, No. 1 — Juni 2017akesebilitas terhadap sumber kekuasaan. Implikasinya yang ditimbulkan adalah gejala populisme kemudian menguat dengan langkah pertama adalah merevitalisasi makna dan posisi umat, ulama, dan Islam dalam satu barisan. Pola tersebut mengindikasikan adanya aspek kerentanan dan keterancaman terhadap posisi eksistensi dan koeksistensi kelas menengah muslim dalam relasi negara-masyarakat. Maka kemudian memunculkan upaya peneguhan kembali Islam dalam ranah politik formal maupun informal melalui berbagai macam ekspesi. “Umat” sebenarnya adalah konstruksi politis untuk menyebutkan masyarakat muslim yang selama ini teralineasi dan terdiskriminisasi secara ekonomi politik dan sosio historis. Kedua konteks itulah yang menjadikan populisme dalam umat islam berkembang dan menubuh sebagai bentuk mobilisasi sosial yang dibentuk berdasarkan pada aliansi kelas-kelas sosial yang sifatnya asimetris.
29
MAARIF Vol. 12, No. 1 — Juni 2017
terbentuknya pola pikir biner seperti halnya “muslim-non muslim”, “kafir-non kafir”, “sunnah-bid’ah”, dan lain sebagainya.
Hal itulah yang berdampak pada ekspresi populisme yang berkembang dalam kelas menengah muslim, khususnya dalam mengkonstruksi makna “umat” sendiri. Makna umat secara harfiah sebenarnya ingin menyambung relasi antara Tuhan dan hamba-Nya. Namun dalam konteks populisme kontemporer, makna “umat” adalah payung atas kepentingan berbagai macam kelompok kelas menengah muslim tersebut. Pada akhirnya, populisme yang berkembang di kalangan kelas menengah dapat dikategorisasikan dalam tabulasi berikut ini
Tabel 2: Ekspresi Populisme Islam
No Ekspresi Populisme Islam Aktor Tujuan
1 Populisme Berbasis Identitas Kelompok Being Islam
Afirmasi dan Afiliasi Islam dalam Modernitas
2 Populisme Berbasis Material Kelompok Islam
Organik Aksesbilitas terhadap sumber ekonomi-politik kekuasaan 3 Populisme Berbasis
Simbolitas Kelompok Pengajian Representasi Islam dalam Ruang Publik 4 Populisme Berbasis Tarbiyah Kelompok
Intelektual Diseminasi Nilai, Norma, dan Prinsip Islam dalam Kehidupan
5 Populisme Berbasis Syariah Kelompok Islam
Konservatif Amar Ma’ruf Nahi Munkar
sumber : diolah dari berbagai data
Aksi Bela Ulama, Populisme Islam,
dan Kelas Menengah Muslim Indonesia
30
MAARIF Vol. 12, No. 1 — Juni 2017konstruksi berpikir pemilih. Berbagai macam gerakan jalanan (mobocracy) yang utamanya dilakukan oleh kelas menengah Jakarta banyak dipengaruhi oleh kedua narasi misalnya saja “Gue Ahok”, “Aksi Bela Ulama”, “Teman Ahok”, “Aksi Bela Islam”, maupun juga “Sahabat Anies-Sandi”. Namun demikian di antara berbagai macam bentuk gerakan tersebut, faktor primordialisme masih menjadi faktor laten yang pada akhirnya menentukan pilihan politik individu dan kolektif. Ekspresi primordialisme sebenarnya merupakan cerminan politik di dunia berkembang dimana hubungan patronase dilandaskan paska prinsip mutualisme tukar-menukar kepentingan yang kemudian memunculkan adanya identifikasi simbolik sebagai tanda loyalitas. Populisme menjadi istilah akademik penting yang banyak digunakan dalam berbagai analisis baik tulisan ilmiah maupun tulisan popular dalam analisis Pemilihan Gubernur DKI 2017 kemarin. Kecenderungan meletakkan analisis populisme tersebut ditempatkan sebagai 1) analisis ekspresi gerakan, 2) analisis preferensi memlih, 3) analisis kebangkitan kelas. Ketiga kecenderungan analisis tersebut masih melihat secara normatif dalam melihat gerakan-gerakan tersebut. Dalam tulisan ini, istilah populisme dikaitkan dalam dua hal yakni 1) sebagai payung atas variasi kepentingan, 2) sebagai bentuk aliansi elemen dalam kelas menengah. Namun dalam analisis ini, sangat penting juga sebenarnya melihat dua elemen penting yang menjadi kunci populisme tersebut yakni 1) kesadaran kelas 2) kesadaran identitas. Kedua elemen itulah yang menjadi narasi utama kenapa populisme muncul dan menguat.
31
MAARIF Vol. 12, No. 1 — Juni 2017
Jika dianalisis lebih lanjut, relasi kedua kesadaran tersebut sebagai pembentuk populisme Islam dalam kelas menengah muslim Indonesia dapat dianalsisi sebagai berikut ini
Tabel 3 : Relasi Kesadaran Kelas dan Populisme Islam
.
No Jenis Kesadaran Paramater Kebutuhan Relasi Terhadap Populisme Islam
1 Kesadaran Kelas Ruang
Aksesbilitas
Sumber : diolah dari berbagai data
Dalam tabulasi tersebut dijelaskan bahwa, dua bentuk kesadaran dalam kelas menengah muslim tersebut kemudian bermuara pada dua bentuk yakni sebagai kelompok kepentingan maupun kelompok penekan. Munculnya dua bentuk tersebut sebenarnya adalah ekspresi populisme dalam bentuk organik. Adanya bentuk institusionalisme gerakan tersebut merupakan tindak lanjut dari perubahan paradigma gerakan yang semula berbasis atomized-enabled menjadi
organized-enabled dengan tujuan agar semua kepentingan terwadahkan dalam
suatu muara. Adapun dari dua bentuk kesadaran tersebut, hal yang paling menentukan sebenarnya adalah sebenarnya lebih pada penguatan identitas yang lebih dulu, baru setelahnya menyinggung mengenai penguatan kelas. Munculnya penguatan identitas ini sebenarnya karena kondisi keterdesakan dan ketimpangan sosial ekonomi dan sosial politik sehingga memicu adanya ruang esklusi sosial. Dari situlah kemudian secara emosional dan psikis akan mencari kesamaan identitas baik itu agama, etnis, bahasa, dan lain sebagainya sebagai bentuk penguatan kelompok. Konteks “umat” pun kemudian dimunculkan dan diwacanakan sebagai bentuk kolektivitas tersebut yang ditampilkan dengan gaya baru. Umat tidak lagi ditampikan sebagai anggota majelis pengajian maupun persantren, namun sebagai aksi massa dengan mengatasnamakan Islam sebagai simbol.
32
MAARIF Vol. 12, No. 1 — Juni 2017secara fluktuatif dalam perbincangan sosial-politik karena tergantung pada momen politik tertentu. Kelas menengah muslim Indonesia adalah kelompok masyarakat yang baru memahami Islam secara normatif, literal, dan juga simbolis yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing9. Selain itu pula, kelas menengah muslim merupakan kelompok masyarakat yang tidak terikat adanya sanad, silsilah, maupun tarekat keilmuan dengan mahzab teologi tertentu. Kecenderungan tersebut mendorong kelas menengah muslim sebagai kelompok pembelajar Islam kemudian berusaha untuk bersikap salaf dengan mencari akar originalitas Islam untuk bisa dikonstektualisasikan hari ini. Dengan kata lain, Arabisasi muslim Indonesia menjadi kata kunci alternatif dalam membaca pola kelas menengah muslim Indonesia. Hal tersebut cukup berbeda secara signifikan dengan kelompok santri yang secara benar dan nyata memahami Islam secara substantif yang dikondisikan dengan akar budaya Indonesia. Pertumbuhan kelas menengah muslim ini sekarang lebih besar karena didorong pula dengan pergeseran pemahaman Islam yang tidak lagi berbasis teologis namun berbasis pada pemberian solusi kuratif. Konteks pergeseran dakwah Islam yang lebih menekankan pada fungsional tersebut sebenarnya selaras dengan kebutuhan kelas menengah yang melihat agama sebagai entitas yang leksikal dan praktikal. Kondisi tersebut yang kemudian menciptakan adanya perbedaan pemahaman nilai Islam di kalangan kelas menengah muslim Indonesia.
Premis penting dalam kelas menengah muslim Indonesia hari ini sebenarnya adalah kelas menengah yang teresklusi secara sosial ekonomi, sosial politik, maupun juga sosio teologis satu sama lainnya. Diferensiasi tersebut pada akhiirnya membentuk adnaya kelompok sosial (social grouping) satu sama lainnya. Adanya diferensiasi dalam memaknai Islam itulah yang menjadikan level dan derajat populisme yang ditampilkan kemudian beraneka ragam mulai dari level ekspresi populisme yang ditampilkan oleh kelas menengah muslim Indonesia. Maka yang perlu dilihat sebenarnya adalah ekspresi keislaman yang ditonjolkan oleh kelas menengah muslim mulai dari sifatnya simbolis-komoditas, fungsional-agamis, dogmatif-reaksioner, dan substantif-sugestif. Keempat tipologi tersebut mencerminkan level pemahaman Islam sebagai prinsip, nilai, dan norma kelas menengah muslim Indonesia yang pada akhirnya berimplikasi pada pilihan dan strategi populisme yang digunakan. Berbagai macam tipologi tersebut muncul selain halnya terkait dengan pemahaman Islam, juga terkait bagaimana cara mengkonstektualisasikan Islam dalam kesehariannya baik dalam interaksi inti, sosial, maupun juga bentuk sosialisasi eksternal lainnya.
33
MAARIF Vol. 12, No. 1 — Juni 2017
Adapun berbagai macam tipologi ekspresi keislaman yang ditunjukkan oleh kelas menengah muslim tersebut dapat dijelaskan dalam tabulasi sebagai berikut ini.
Tabel 4 : Ekspresi Kelas Menengah Muslim Indonesia
No
1 simbolis-komoditas Islam sebagai bagian
Identitas Komoditaspopuler fashion, budaya 2 fungsional-agamis Islam sebagai bagian dari
sosialisasi majelis pengajian, lembaga filantropis 3 dogmatif-reaksioner Islam sebagai bagian dari
perjuangan organisasi massa Islam 4 substantif-sugestif Islam sebagai bagian dari
dakwah kelompok epistemik
sumber : diolah dari berbagai macam data
Dari tabulasi tersebut dapat dijelaskan bahwa, ekspresi pemahaman dan implementasinya di lapangan memiliki berbagai macam ekspresi mulai dari levelnya produk hingga pada diskursus. Kesemuanya kemudian berujung pada bentuk Islam sebagai agama, norma, dan perilaku kemudian berkembang dan menubuh dalam ruang publik. Hal itulah yang sebenarnya menjadi esensi dari populisme Islam dimana aliansi kepentingan dari setiap elemen kelas menengah kemudian terwadahkan. Premis penting yang perlu dicatat mengenai populisme Islam di Indonesia sebenarnya tergantung pada seberapa jauh isu mengenai Islam itu menguat dalam ruang publik nasional dan seberapa kuat pula isu Islam trans nasional turut mempengauhi dinamika Islam di level nasional. Kedua hal itulah yang kemudian mngerucut pada dua bentuk yakni sebagai umat dan ummah. Keduanya seringkali dikaitkan dalam bentuk pemahaman dan terminologi yang sama. Namun dalam tulisan ini, kedua istilah tersebut memiliki pendefinisian yang berbeda. Adapun gerakan Aksi Bela Islam, Aksi Bela Ulama, maupun Tamasya Al-Maidah merupakan bentuk ekspresi populisme islam yang berbasis isu dan simbol dengan mengatanamakan kepentingan umat. Sedangkan gerakan lain misalnya Menuju NKRI Bersyariah, Khalifah Indonesia,
dan lain sebagainya merupakan bentuk ekspresi mengatasnamakan kepentingan
34
MAARIF Vol. 12, No. 1 — Juni 2017Adapun penjelasan kelas menengah muslim sebagai bentuk umat sendiri terbentuk secara by incident yakni melihat momentum politik terlebih dahulu untuk memunculkan dan mencuatkan Islam sebagai identitas politik. Narasi utama yang dibangun secara jelas adalah aliansi kepentingan kelas dengan menempatkan kata “umat” sebagai alat penyugesti dan persuasif. Pola menarik yang dibangun membangun narasi tersebut sebenarnya lebih pemenuhan kebutuhan ekonomi-politik yang kemudian dicarikan legitimasi di Qur’an dan Sunnah sehingga mengesankan ini adalah bentuk jihad fisabilillah. Oleh karena itulah sebenarnya narasi lain yang dibangun sebenarnya adalah heroisme karena telah menolong agama. Kondisi tersebut yang secara tidak langsung menjadi faktor simbolik dan atraktif bagi kelas menengah muslim bergerak Hal tersebut yang berimplikasi secara dogmatif mendorong kelas menengah muslim untuk hadir merapatkan barisan karena ada Qur’an dan Hadist yang menjadi dasar sehingga mengesankan ini adalah perintah agama. Posisi dan istilah ulama pun menjadi penting untuk digunakan memberikan legitimasi secara teologis mengenai gerakan populisme yang dimaksud. Posisi ulama sebenarnya adalah broker kultural, namun justru berkembang menjadi broker politik dengan mencampuradukkan agama dalam masalah politik. Populisme Islam yang berkembang dalam bentuk umat justru berkembang menjadi aksi chauvinistik yang mengedepankan Islam sebagai kaffah. Dengan kata lain sebenarnya terjadi komoditisasi Islam dalam bentuk gerakan ekonomi-politik yang seolah menampilkan ini adalah aksi jihad. Harus diakui bahwa Islam masih menjadi alat politik identitas yang sifatnya sensitif, namun efektif untuk menjadi faktor determinan dalam konstelasi politik Indonesia. Terlebih lagi kalau itu kemudian digerakkan dalam massa besar. Maka bisa dikatakan bahwa populisme Islam juga bagian dari bentuk eskapisme terhadap akses formal kekuasaan bagi kelas menengah muslim untuk bangkit.
Sedangkan narasi populisme Islam sebagai ummah sebenarnya terkait dengan adanya konstelasi dunia Islam kontemporer mulai isu ISIS, Israel-Palestina, Wahabisme, Jamaah Islamiyah, Global Khalifah, dan lain sebagainya. Konteks ummah adalah bentuk populisme umat di tingkat global dengan mengambil kacamata Islam versus Barat sebagai pertarungan klasik. Selain dilihat sebagai kontestasi Islam versus Barat, sebenarnya ada upaya lain yang tengah ditonjolkan yakni adanya Pan-Islamisme yang ingin dikuatkan kembali oleh ummah ini dalam bentuk entitas organik. Sebenarnya menjadi konteks
ummah adalah bagian upaya membangun konektivitas isu sama yang tujuannya
35
MAARIF Vol. 12, No. 1 — Juni 2017
tersebut yang menjadikan adanya fragmentasi sikap bagi kelas menengah muslim di Indonesia dalam melihat fenomena terorisme kontemporer, antara mendukung atau menolak. Dengan kata lain, sebagai ummah secara otomatis akan mengonsolidasikan semua kepentingan kelas menengah muslim dalam level global.
Kesimpulan
Hal yang dapat disimpulkan mengenai populisme dalam kelas menengah muslim Indonesia adalah bagian upaya membangun representasi dan artikulasi kepentingan melalui jalur informal. Meskipun dalam beberapa narasi juga mengatakan bahwa populisme adalah upaya inkonstitusional terhadap kekuasaan dengan berupaya menekan pemerintah melalui jalur informal. Populisme seolah menjadi “panacea” penting atas berbagai masalah yang dihadapi oleh masyarakat yang menampilkan dirinya sebagai “demos”.
Konteks populisme dalam kelas menengah muslim Indonesia sebenarnya bagian dari upaya merekonstruksi makna “umat” dalam konteks kekinian. Situasi yang dimunculkan dalam narasi umat tersebut adalah kondisi ketimpangan dan alienasi yang dialami oleh umat karena tidak mempunyai aksesbilitas terhadap kekuasaan. Kondisi tersebut yang dikonstruksikan menjadi simbol penguatan umat secara kolektif. Dengan menggunakan dalil dari Qur’an dan Hadist seolah menampilkan bahwa populisme Islam adalah perintah ukhrawi yang mesti dijabarkan dalam alam duniawi. Padahal realitanya terjadi komodifikasi makna atas ayat yang dgunakan sebagai dalil kebenaran atas gerakan yang dilakukan. Komodifikasi itu pulalah yang menjadi alat koersif yang cukup psikis menekan bagi kelompok masyarakat lainnya yang pada akhirnya bergabung. Dalam trend ke depan, era populisme ini akan digunakan sebagai senjata politik terakhir manakala jalur formal dan konstitusional. Namun sekali lagi tergantung pada isu dan kepentingan yang menjadi dasar populisme itu hadir dan berkembang dalam masyarakat.
36
MAARIF Vol. 12, No. 1 — Juni 2017Daftar Pustaka
Burris, Val, “The Discovery of the New Middle Classes”, dalam Arthur Vidich (Eds.), The New Middle Classes: Life-Styles, Status Claims and Political Orientations, London : MacMillan, 1995.
Hadiz, Vedi, Islamic Populism in Indonesia and the Middle East, Cambridge : Cambridge University Press, 2016.
Hadiz, Vedi. “ Populisme Baru dan Masa Depan Demokrasi Indonesia.” Prisma. 36.1 (2017): 38-41.
Jati, Wasisto Raharjo, Politik Kelas Menengah Muslim Indonesia, Depok : LP3ES, 2017.
Mudde, Cas (Eds.), Populism: A Very Short Introduction, Oxford : Oxford University Press, 2017.
Panizza, Fransisco (Eds.), Populism and the Mirror of Democracy, London : Verso, 2005.
Tornquist, Olle (Eds.), Rethinking Popular Representation, New York : Palgrave, 2009.