• Tidak ada hasil yang ditemukan

Musfina Ayub Nomor Stambuk :

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Musfina Ayub Nomor Stambuk :"

Copied!
105
0
0

Teks penuh

(1)

Musfina Ayub

Nomor Stambuk : 10561 03737 10

JURUSAN ILMU ADMINISTRASI NEGARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2014

(2)

i Skripsi

Skripsi Merupakan Salah Satu Persyaratan

Untuk Mendapatkan Gelar Sarjana Strata Satu (S1). IlmuAdministrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik

Di Susun dan diajukan oleh Musfina Ayub

Nomor Stambuk : (10561 03737 10)

Kepada

JURUSAN ILMU ADMINISTRASI NEGARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2014

(3)

ii Nama : Musfina Ayub.

Nomor Stambuk : 10561 03737 10.

Jurusan : Ilmu Administrasi Negara.

Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.

Setelah diperiksa dan diteliti, telah memenuhi syarat untuk diujikan.

Menyetujui ;

Pembimbing I Pembimbing II

Abdul Kadir Adys, SH,MM. Drs. H. Muhammad Idris, M.Si.

Mengetahui :

Dekan Ketua Jurusan Ilmu Administrasi Negara Fisipol Unismuh Makassar

Dr. H.Muhlis Madani, M.Si. Dr.Burhanuddin, M.Si.

(4)
(5)
(6)

v Muhammad Idris).

Implementasi kebijakan dapat disimpulkan sebagai suatu proses tindakan yang dilakukan oleh individu atau kelompok setelah peraturan atau keputusan ditetapkan untuk mencapai tujuan, berdasarkan hal tersebut peneliti terdorong untuk mencoba menggambarkan dan menjelaskan bagaimana Implementasi Kebijakan Penertiban Angkutan Umum Di terminal Daya Kota Makassar.

Jenis penelitian adalah kualitatif yang akan mendeskripsikan data-data empirik yang memuat gejala sosial dan informannya sebanyak delapan orang pegawai. Teknik pengumpulan datanya berupa : Observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data tersebut dianalisis dengan empat tahap yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.

Hasil peneliti Implementasi Kebijakan Penertiban Angkutan Umum Di Terminal Daya Kota Makassar masih perlu di tingkatkan implementasi kebijakan penertiban angkutan umum Di Terminal Daya Kota Makassar dengan semaksimal mungkin dan berdasarkan peneliti yang telah peneliti lakukan, faktor yang menyebabkan terkadang Implementasi Kebijakan Penertiban Angkutan Umum Di Terminal Daya Kota Makassar ini menjadi tidak berjalan efektif adalah karena kurangnya kesadaran masyarakat tentang penertiban angkutan umum ini kemudian sarana dan prasarananya di terminal Daya Kota Makassar masih sangat kurang sehingga kurangnya minat sopir angkutan umum dan penumpang untuk singgah di terminal.

Keyword : Angkutan umum, izin angkutan, membayar retribusi.

(7)

vi

Penderitaan adalah awal dari kenikmatan yang tertunda Dan hasil yang indah bukanlah tujuan utama Melainkan sebuah perjuangan yang bermakna

Jangan menyia-nyiakan Waktu yang diberikan Karena sesungguhnya Waktu tidak akan pernah kembali

PERSEMBAHAN

Kupersembahkan karya sederhana ini Kepada ayahanda dan ibunda tercinta Serta saudara-saudaraku tersayang

Yang senantiasa mengiringi Langkahku dengan doa

Perhatian dan kasih sayang yang tulus.

(8)

Alhamdulillahi’rabbil alamin, segala puji penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “ Implementasi Kebijakan Penertiban Angkutan Umum Di Terminal Daya Kota Makassar “.

Skripsi ini merupakan tugas akhir yang diajukan untuk memenuhi syarat dalam memperoleh gelar sarjana Ilmu Administrasi Negara pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.

Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dan dorongan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terimakasih kepada yang terhormat :

1. Bapak Abdul Kadir Adys, SH, MM. selaku Pembimbing I dan Drs. H.

Muhammad Idris, M.Si. selaku Pembimbing II yang senantiasa meluangkan waktunya membimbing dan mengarahkan penulis, sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

2. Bapak Dr. H. Muhlis Madani, M.Si. selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.

3. Bapak Burhanuddin S.Sos, M.Si selaku Ketua Jurusan Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu politik Universitas Muhammadiyah Makassar.

(9)

viii

maaf atas semua kesalahan yang pernah saya lakukan kepada keluarga saya.

Demi kesempurnaan skripsi ini, sarana dan kritik yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan. Semoga skripsi ini bermanfaat dan dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi pihak yang membutuhkan.

Makassar, 2014

Musfina Ayub

(10)

ix

Halaman Penerimaan ... iii

Halaman Pernyataan Keaslian Karya Ilmiah ... iv

Abstrak ... v

Motto... vi

Kata Pengantar ... vii

Daftar Isi... ix

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 5

D. Kegunaan Penelitian... 6

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Kebijakan ... 7

B. Konsep Kebijakan Publik... 8

C. Konsep Implementasi... 11

D. Defenisi Konsep Implementasi Kebijakan Publik ... 17

E. Konsep Angkutan Darat Dan Angkutan Umum ... 24

F. Kerangka Pikir ... 26

G. Fokus Penelitian... 27

H. Deskripsi Fokus Penelitian... 27

BAB III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Lokasi Penelitian ... 30

B. Jenis dan Tipe Penelitian... 30

C. Sumber Data... 30

D. Informan penelitian ... 31

E. Teknik Pengumpulan Data ... 31

F. Teknik Analisis Data... 32

G. Pengabsahan Data ... 33

H. Jadwal Penelitian ... 34

BAB IV HASIL PENELITI DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 36

1. Visi Terminal Daya Kota Makassar ... 37

2. Misi Terminal Daya Kota Makassar... 38

(11)

x Makassar.

a. Memiliki izin Angkutan... 50

b. Angkutan Harus Memasuki Terminal ... 54

c. Angkutan Harus Membayar Retribusi... 59

2. Implementasi Kebijakan Penertiban Angkutan Umum Di Terminal Daya Kota Makassar. a. Komunikasi ... 63

b. Aspek Organisasi dan Manajemen ... 67

c. Disposisi atau Sikap... 72

d. Struktur Birokrasi ... 76

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 80

B. Saran... 81

DAFTAR PUSTAKA ... 82 DOKUMENTASI

(12)

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Transportasi merupakan sarana yang dibutuhkan banyak orang sejak jaman dahulu dalam melaksanakan kegiatannya yang diwujudkan dalam bentuk angkutan.

Pengangkutan itu yang dimaksud, yaitu pengangkutan orang dan barang yang peruntukannya untuk umum atau pribadi. Sebagaimana dijelaskan pada Keputusan Menteri Perhubungan tentang penyelenggaraan angkutan orang dijalan dengan kendaraan umum mengatakan bahwa: (1) Kendaraan umum adalah setiap kendaraan bermotor yang disediakan untuk dipergunakan oleh umum dengan dipungut bayaran baik langsung maupun tidak langsung. (2) Terminal adalah prasarana transportasi jalan untuk keperluan memuat dan menurunkan orang dan atau barang serta mengatur kedatangan dan pemberangkatan kendaraan umum, merupakan salah satu wujud simpul jaringan transportasi.

Seiring dengan berkembangnya perjalanannya angkutan umum resmi banyak mengalami permasalahan transportasi khususnya persaingan dengan armada kendaraan mobil pribadi dengan pelat nomor hitam. Kendaraan tersebut tidak seharusnya dipergunakan sebagai angkutan umum akan tetapi sebagai angkutan pribadi sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Lalu Lintas Angkutan Jalan (UULLAJ). Banyaknya mobil pribadi sebagai angkutan umum dari hari ke hari mengakibatkan persaingan tidak sehat dengan angkutan umum resmi. Berbagai

1

(13)

persaingan antara perangkutan satu dengan yang lain, yaitu melakukan angkutan dengan menggunakan mobil plat hitam, sehingga pengangkutan yang menggunakan mobil plat hitam digunakan sebagai angkutan umum ini bebas masuk kota, tidak masuk terminal, dan bebas ambil penumpang dimana saja, ini bisa menguragi Pendapatan Asli Daerah (PAD) karena tidak membayar retribusi terminal, untuk itu peran pemerintah dalam masalah ini sangat dibutuhkan agar bisa menertibkan angkutan Umum. Padahal sebelumnya Wali Kota Makassar telah mengeluarkan Surat Keputusan Wali Kota Makassar Nomor 54 Tahun 2010 tentang “Larangan Bus dan mobil angkutan umum Menaikkan dan Menurunkan Penumpang Selain di Terminal”.

Kemudian dalam Peraturan Daerah Kota Makassar No. 14 Tahun 2009 tentang

“Perizinan angkutan umum di wilayah kota Makassar “ kemudian peraturan daerah Kota Makassar Nomor 14 Tahun 2002 mengatakan bahwa “ Angkutan umum wajib Membayar Retribusi “. Sedangkan dalam ketentuan pidana pasal 66 peraturan daerah Kota Makassar nomor 14 Tahun 2002 tentang Angkutan jalan dan retribusi perizinan angkutan dalam wilayah kota makassar mempunyai sangsi yaitu pelanggaran yang terjadi tentang membayar retribusi angkutan diancam denda paling banyak Rp.

5000.000, (lima juta rupiah) atau kurungan paling lama 3 (tiga) bulan. Begitupun dengan denda tidak masuk terminal dan izin angkutan.

Dalam mewujudkan ketertiban berlalu lintas khususnya angkutan umum peran Dinas Perhubungan menjadi sangat penting. Hal ini bisa tercapai jika Dinas Perhubungan dapat melakukan pengawasan dan pendataan angkutan umum yang beroperasi dijalan raya. Mengeluarkan surat izin angkutan ini dapat merupakan salah

(14)

satu cara yang dilakukan untuk mengontrol kendaraan angkutan umum yang sedang beroperasi sehingga dapat tercipta ketertiban berlalu lintas dijalan raya. Masalahnya, sudah mampukah Dinas Perhubungan mengimplementasikan penertiban angkutan umum yang tidak memiliki izin angkutan ?

Mobil plat hitam yang digunakan sebagai angkutan umum cenderung tidak membayar retribusi, tidak masuk terminal dan tidak menggunakan jasa pelayanan uji kendaraan. Mereka tidak mempunyai aturan dalam soal itu, sehingga pemerintah dirugikan. Jika semuanya memenuhi aturan, dana yang mungkin diperoleh pemerintah cukup besar. Ditambah lagi daya jelajah kendaraan tersebut yang tidak bisa masuk kota dan pelosok yang tidak bisa dimasuki angkutan resmi. Mobil pribadi yang kerap dipanggil angkutan mobil berplat hitam mulai menjamur. Tidak jarang pula awak atau pengusaha dari mobil pribadi sebagai angkutan umum memberikan semacam upeti pada oknum petugas lalu lintas dan angkutan jalan agar mereka mulus beroperasi di jalan tanpa hambatan apapun. Sejumlah mobil angkutan penumpang antar daerah yang beroperasi secara kucing-kucingan di luar di terminal daya. Mobil angkutan penumpang tersebut memakai nomor Polisi DD plat hitam dan seenaknya mengambil dan menurunkan penumpang secara sembunyi-sembunyi di pinggir jalan raya diluar areal terminal tanpa menghiraukan pengguna jalan lain.

Akibatnya, selain merugikan angkutan daerah yang berizin resmi juga membuat macet di ruas jalan tersebut. Mobil yang beroperasi liar ini dari berbagai merek, mulai dari Xenia, Avansa dan lainnya. Tidak pernah terlihat seorang pun petugas keamanan diluar terminal melarang aktifitas para sopir angkutan liar tersebut.

(15)

Akibatnya, mobil-mobil tersebut leluasa menadah atau mengambil penumpang di luar terminal Daya. Terminal liar yang digunakan mobil berplat hitam, merugikan angkutan umumyang memiliki izin angkutan. Kelengkapan kendaraan angkutan umum yang beroperasi dalam suatu wilayah dibuktikan dengan adanya kepemilikan terhadap surat izin angkutan dalam kota. Berkaitan dengan penertiban angkutan umum di kota Makassar, Dishub melakukan patroli rutin untuk penertiban angkutan umum yang mengambil penumpang di luar Terminal Regional Daya, karena selain menggerus dan merugikan Pendapatan Asli Daerah Makassar, kehadiran angkutan umum berplat pribadi juga telah melanggar ketentuan dalam UU 22 Tahun 2009 tentang Lalul intas dan Angkutan Jalan. Di situ dijelaskan, penggunaan jasa angkutan penumpang harus menggunakan plat khusus (kuning) melalui izin angkutan di Dinas Perhubungan. Sebagaimana dijelaskaan dalam UU 22 Tahun 2009 Pasal 36 BAB VI Bagian IV paragraf 1 menetapkan bahwa “ Setiap Kendaraan Bermotor Umum dalam angkutan wajib singgah di Terminal yang sudah ditentukan”. Sedangkan yang kita tahu bahwa mobil plat hitam yang digunakan sebagai angkutan umum tidak masuk terminal, bebas mengambil penumpang dan menurunkan penumpang dimana saja.

Banyaknya mobil angkutan umum yang tidak memiliki surat izin angkutan yang lengkap membuat peran pemerintah sangat penting untuk bagaimana implementasi kebijakan pemerintah menertibkan angkutan umum yang tidak memiliki izin angkutan. Banyaknya jumlah angkutan dalam kota yang tidak memiliki surat izin angkutan tersebut merupakan suatu indikasi, bahwa implementasi kebijakan pemerintah dalam menertibkan mobil plat hitam di kota Makassar masih sangat

(16)

rendah. Oleh karena itu perlu dilakukan penelusuran secara mendalam untuk mengetahui kendala-kendala dalam terimplementasinya kebijakan pemerintah dalam menertibkan angkutan yang tidak memiliki izin angkutan umum. Dimana dalam implementasi kebijakan mengenai hal ini, pada beberapa komponen menurut George C. Edward III (2005:90) yaitu 1) sumber daya 2) komunikasi 3) diposisi/sikap 4) birokrasi. Keempat komponen ini dapat mendorong implementor untuk secara khusus mengimplementasikan kebijakan, baik pada dimensi hukum dan terutama kelogisannya dalam mencapai tujuan, maupun konteks kebijakan berlalu lintas yang mempengaruhi seluruh proses kebijakan.

Dengan melihat masalah yang terjadi diatas, penulis tertarik untuk mengambil judul penelitian, “Implementasi Kebijakan Penertiban Angkutan Umum Di Terminal Daya Kota Makassar”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah di paparkan diatas, maka penulis dapat merumuskan permasalahan yang akan diangkat dalam penelitian ini, yaitu :

1. Bagaimana kebijakan penertiban angkutan di terminal Daya Kota Makassar ? 2. Bagaimana implementasi kebijakan penertiban angkutan di terminal Daya Kota

Makassar ?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui kebijakan penertiban angkutan di terminal Daya Kota Makassar.

(17)

2. Untuk mengetahui implementasi penertiban angkutan di terminal Daya Kota Makassar .

D. Manfaat / Kegunaan Penelitian

1. Kegunaan Akademik ini adalah memperkaya khasanah dan wawasan di dalam mengimplementasikan kebijakan dalam penertiban angkutan umum diterminal daya kota Makassar khususnya dalam penertiban angkutan umum yang tidak memiliki izin angkutan.

2. Kegunaan Praktis a. Bagi Penulis

Dapat menambah pengetahuan dan wawasan serta dapat mengaplikasikan dan mensosialisasi teori yang diperoleh selama perkuliahan.

b. Bagi Peneliti Selanjutnya

Dengan peneliti ini diharapkan dapat menjadi wahana pengetahuan mengenai Implementasi Kebijakan dibidang Perhubungan bagi peneliti selanjutnya yang tertarik untuk meneliti tentang Implementasi Kebijakan dibidang perhubungan.

c. Bagi Lembaga

Dapat digunakan oleh Dinas Perhubungan dalam rangka merumuskan kebijakan di bidang transportasi khususnya penertiban angkutan yang tidak memiliki izin angkutan.

d. Bagi Masyarakat

Sebagai bahan pertimbangan/masukan bagi masyarakat kota Makassar.

(18)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Kebijakan

Secara harfiah ilmu kebijakan adalah terjemahan langsung dari kata policy Dror dalam winarno (2008: 6-8). Beberapa penulis dalam ilmu ini, seperti William Dunn, Charles Jones, Lee Friedman,dan lain-lain, menggunakan istilah public policy dan public-policy analysis dalam pengertian yang tidak berbeda Istilah kebijaksanaan atau kebijakan yang diterjemahkan dari kata policy memang biasanya dikaitkan dengan keputusan pemerintah, karena pemerintahlah yang mempunyai wewenang atau kekuasaan untuk mengarahkan masyarakat, dan bertanggung jawab melayani kepentingan umum, Ini sejalan dengan pengertian public itu sendiri. Dalam bahasa Indonesia yang berarti pemerintah, masyarakat atau umum.

Pada intinya kebijakan merupakan keputusan-keputusan atau umum, pilihan tindakan yang secara langsung mengatur pengelolaan dan pendestribusian sumber daya alam, financial manusia demi kepentingan publik, yakni rakyat banyak, penduduk, masyarakat atau warga negara. Kebijakan merupakan hasil dari adanya sinergi, kompromi atau bahkan kompetisi antara berbagai gagasan, teori, ideologi dan kepentingan- kepentingan yang mewakili system politik suatu negara. (Suharto, 2007:3).

Selanjutnya menurut Sumaryadi (2003 : 11) makna kata policy dengan kebijksanaan dalam bahasa Indonesia masih belum memperoleh kesamaan pendapat.

7

(19)

Beberapa penulis mengartikan policy sebagai kebijakan dan wisdom sebagai kebijaksanaan. Agar tidak terjadi kesalahpahaman, penulis menetapkan arti policy sebagai kebijakan, dengan alasan bahwa kebanyakan pengarang atau penulis Indonesia menggunakan untuk mengartikan policy dan dikuatkan karena terjemahan policy kedalam bahasa Indonesian sulit mendapatkan pemahaman yang tepat.

B. Konsep Kebijakan Publik

Berbicara mengenai konsep kebijakan publik baik teori maupun praktik, hal awal yang penting untuk diperhatikan ialah defenisinya karena menjadi acuan utama agar kita dapat lebih mudah memahami dasar-dasar dari sebuah konsep kebijakan tersebut. Menurut Thomas R. Dye dan James Anderson ada tiga alasan yang melatar belakangi mengapa kebijakan publik harus dipelajari. Pertama, pertimbangan atau alasan ilmiah (scientific reasons). Kedua, pertimbangan atau alasan profesional (political reasons). ( Agustino, 2008: 4-6)

Kebijakan publik adalah keputusan-keputusan yang mengikat bagi orang banyak pada tataran strategis atau bersifat garis besar yang dibuat oleh pemegang otoritas publik. Sebagai keputusan yang mengikat publik maka kebijakan publik haruslah dibuat oleh otoritas politik, yakni mereka yang menerima mendapat dari publik atau orang banyak, umumnya melalui suatu proses pemilihan untuk bertindak atas nama rakyat banyak (Suharto, 2008: 45).

Dye Thomas menyatakan bahwa kebijakan publik adalah “whatever governments choose to do or not do” (pilihan tindakan apapun yang dilakukan atau tidak ingin dilakukan oleh pemerintah) (Wahab Abdul Solichin, 2012: 14) Chif J. O.

(20)

Udoji, seorang pakar dari Nigeria, telah mendefinisikan kebijakan publik sebagai “an sanctioned course of action addressed to a group of realeted problems that affect society at large” (seatau tindakan bersanksi mengarah pada suatu tujuan tertentu yang saling berkaitan dan mempengaruhi sebagian warga masyarakat) (Wahab Abdul Solichin, 2012: 14)

Mustopadidjaja, (2002: 56) Kebijakan Publik adalah suatu keputusan yang dimaksudkan untuk tujuan mengatasi permasalahan yang muncul dalam suatu kegiatan tertentu yang dilakukan instansi pemerintah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan. Guna memahami lebih jauh bagaimana kebijakan publik sebagai solusi permasalahan yang ada pada masyarakat, kita harus memahami dulu apa dan

seperti apa kebijakan publik itu sendiri. Berikut adalah defenisi-defenisi kebijakan publik menurut para ahli kebijakan publik

Dye Thomas (1981 : 32) Kebijakan publik adalah apa yang tidak dilakukan maupun yang dilakukan oleh pemerintah. Pengertian yang diberikan Thomas R. Dye ini memiliki ruang lingkup yang sangat luas. Selain itu, kajiannya yang hanya terfokus pada negara sebagai pokok kajian. Mendefenisikan kebijakan publik sebagai pengalokasian nilai-nilai kekuasaan untuk seluruh masyarakat yang keberadaannya mengikat. Dalam pengertian ini hanya pemerintah yang dapat melakukan sesuatu tindakan kepada masyarakat dan tindakan tersebut merupakan bentuk dari sesuatu tindakan kepada masyarakat dan tindakan tersebut merupakan bentuk dari sesuatu yang dipilih oleh pemerintah yang merupakan bentuk dari pengalokasian nilai-nilai kepada masyarakat.

(21)

Anderson (1994:34). Mendefenisikan kebijakan publik sebagai “Whatever governments choose to do or not to do.”, yaitu segala sesuatu atau apapun yang dipilih pemerintah untuk dilakukan atau tidak dilakukan. Kebijakan publik sebagai suatu upaya untuk mengetahui apa sesungguhnya yang dilakukan oleh pemerintah, mengapa mereka melakukannya dan apa yang menyebabkan mereka melakukannya secara berbeda-beda. Dia juga mengatakan bahwa apabila pemerintah memilih untuk melakukan suatu tindakan, maka tindakan trsebut harus memiliki tujuan. Kebijakan publik tersebut harus meliputi semua tindakan pemerintah, bukan hanya merupakan keinginan atau pejabat pemerintah saja. Disamping itu, sesuatu yang tidak dilaksanakan oleh pemerintah pun termasuk kebijakan publik. Hal ini disebabkan karena sesuatu yang tidak dilakukan oleh pemerintah akan mempunyai pengaruh yang sama besar dengan sesuatu yang dilakukan oleh pemerintah.

Kebijakan publik sebagai suatu kelanjutan kegiatan pemerintah di masa lalu dengan hanya mengubahnya sedikit demi sedikit. Jones (1994: 25). Kebijakan publik ialah sejumlah aktivitas pemerintah untuk memecahkan masalah di masyarakat, baik secara langsung maupun melalui berbagai lembaga yang mempengaruhi kehidupan masyarakat.

Berdasarkan stratifikasinya, Kebijakan publik dapat dilihat dari tiga tingkatan, yaitu kebijakan umum (strategi)., Kebijakan manajerial, dan kebijakan teknis operasional. Selain itu, Dari sudut manajemen, Proses kerja dari kebijakan publik dapat dipandang sebagai serangkaian kegiatan yang meliputi:

a. Pembuatan kebijakan

(22)

b. Pelaksanaan pengendalian c. Evaluasi kebijakan

Menurut Dunn (1994 : 34), Proses analisis kebijakan adalah serangkaian aktivitas dalam proses kegiatan yang bersifat politis. Aktivitas politis tersebut diartikan sebagai proses pembuatan kebijakan dan divisualisasikan sebagai serangkaian tahap yang saling tergantung, yaitu (a) penyusunan agenda, (b) formulasi kebijakan, (c) adopsi kebijakan, (d) implementasi kebijakan, dan (e) penilaian kebijakan.

C. Konsep Implementasi

Secara sederhana implementasi bisa diartikan pelaksanaan atau penerapan.

Majone dan willdavsky (dalam Nurdin dan Usman, 2004:25) mengemukakan implementasi sebagai evaluasi. Majone dan Wildavsky (2004:70) mengemukakan bahwa: “implementasi adalah perluasan aktifitas yang saling menyesuaikan”.pengertian implementasi sebagai aktivitas yang saling menyesuaikan juga dikemukakan oleh Mclaughin (2004:70)”

Pengertian-pengertian diatas memperlihatkan bahwa kata implementasi bermuara pada aktifitas, adanya aksi, tindakan, atau mekanisme suatu system.

Ungkapan mekanisme mengandung arti bahwa implementasi bukan sekadar aktifitas, tetapi suatu kegiatan yang terencana dan dilakukan secara sungguh-sungguh berdasarkan acuan norma tertentu untuk mencapai tujuan kegiatan. Implementasi kebijakan merupakan tahap yang krusial dalam proses kebijakan publik. Suatu program kebijakan harus di implementasikan agar mempunyai dampak atau tujuan

(23)

yang di inginkan. Dunn. W. D(2003:45) menganjurkan bahwa: “setiap tahap proses kebijakan publik, termasuk tahapan implementasi kebijakan, penting dilakukan analisa. Analisa disini tidak identik dengan evaluasi, karena dari tahapan penyusunan agenda hingga Policy Evaluation sudah harus dilakukan analisa”.

Ungkapan Dunn yang terkenal adalah “lebih baik perumusan masalah public benar tapi pelaksana salah, daripada perumusan masalah keliru tapi pelaksanaannya benar”. Hal ini memberi arti penting kesinambungan tahapan kebijakan, termasuk implementasi yang tepat bagi angkutan umum untuk kepentingan publik yang memang suatu kebutuhan masyarakat, sehingga persoalan-persoalan publik mendapatkan solusi yang tepat melalui implementasi.

Seperti dimaklumi bahwa kebijakan publik pada dasarnya merupakan suatu proses yang kompleks yang berangkatan dari tahap pendefenisian masalah hingga evaluasi dampak kebijakan. Oleh karena itu, implementasi kebijakan merupakan salah satu tahap sejak dari sekian tahap kebijakan publik. Hal ini berarti bahwa implementasi kebijakan hanya merupakan salah satu variable yang berpengaruh terhadap keberhasilan suatu kebijakan didalam memecahkan persoalan-persoalan publik. Menurut George C. Edwards III. Subarsono (2005:90) dimana implementasi dapat dimulai dari kondisi abstrak dan sebuah pertanyaan dapat berhasil, Geroge C.

Edwards III menyatakan bahwasannya“ ada empat variable dalam kebijakan publik yaitu komunikasi (Communications), sumber daya (resources), sikap (depositions atau attitudes) dan struktur birokrasi (bureaucratic structure)”. Factor-faktor yang

(24)

berpengaruh dalam implementasi menurut George C. Edwards C. Edward III sebagai berikut :

a. Komunikasi

Implementasi akan berjalan efektif apabila ukuran-ukuran dan tujuan-tujuan kebijakan dipahami oleh individu-individu bertanggung jawab dalam pencapaian tujuan kebijakan. Kejelasan ukuran dan tujuan kebijakan dengan demikian perlu dikomunikasikan secara tepat dengan para pelaksana. Konsistensi atau kesegaraman dari ukuran dasar dan tujuan perlu dikomunikasikan sehingga implementors mengetahui secara tepat ukuran maupun tujuan kebijakan itu.

Komunikasi dalam organisasi merupakan suatu proses yang amat kompleks dan rumit. Seseorang bisa menahannya hanya untuk kepentingan tertentu, atau menyebarkanluaskannya. Di samping itu sumber informasi yang berbeda juga akan melahirkan interpretasi yang berbeda pula. Agar implementasi berjalan efektif, siapa yang bertanggungjawab melaksanakan sebuah keputusan harus mengetahui apakah mereka dapat melakukannya. Sesungguhnya implementasi kebijakan harus diterima oleh semua personel dan harus mengerti secara jelas dan akurat mengenahi maksud dan tujuan kebijakan. Jika para actor pembuat kebijakan telah melihat ketidakjelasan spesifikasi kebijakan sebenarnya mereka tidak mengerti apa sesungguhnya yang akan diarahkan. Para implementor kebijakan bingung dengan apa yang akan mereka lakukan sehingga jika dipaksakan tidak akan mendapatkan hasil yang optimal. Tidak cukupnya

(25)

komunikasi kepada para implementor secara serius mempengaruhi implementasi kebijakan.

b. Sumber Daya

Tidak jadi masalah bagaimana jelas dan konsisten implementasi program dan bagaimana akuratnya komunikasi yang dikirim. Jika personel yang bertangggung jawab untuk melaksanakan program kekurangan sumber daya dalam melakukan tugasnya. Komponen sumber daya ini meliputi jumlah staf, keahlian dari para pelaksana, informasi yang relevan dan cukup untuk mengimplementasikan kebijakan dan pemenuhan sumber-sumber terkait dalam pelaksanaan program, adanya kewenangan yang menjamin bahwa program dapat diarahkan kepada sebagaimana yang diharapkan, serta adanya fasilitas-fasilitas pendukung yang dapat dipakai untuk melakukan kegiatan program seperti dana dan sarana prasarana.

Sumber daya manusia yang tidak memadahi (jumlah dan kemampuan) berakibat tidak dapat dilaksanakannya program secara sempurna karena mereka tidak bisa melakukan pengawasan dengan baik. Jika jumlah staf pelaksana kebijakan terbatas maka hal yang harus dilakukan meningkatkan skill/kemampuan para pelaksana untuk melakukan program. Untuk itu perlu adanya manajemen SDM yang baik agar dapat meningkatkan kinerja program. Ketidak mampuan program ini disebabkan karena kebijakan pemeriksaan kendaraan angkutan merupakan hal yang baru bagi mereka dimana dalam melaksanakan program ini membutuhkan kemampuan yang khusus, paling tidak mereka harus menguasai teknik-teknik dalam pemeriksaan kendaraan. Informasi merupakan sumber daya yang penting bagi

(26)

pelaksana kebijakan. Ada dua bentuk informasi yaitu informasi mengenai bagaimana cara menyelesaikan kebijakan/program serta bagi pelaksana harus mengetahui tindakan apa yang harus dilakukan dan informasi tentang data pendukung kepatuhan kepada peraturan pemerintah dan undang-undang. Kenyataan dilapangan bahwa tingkat pusat tidak tahu kebutuhan yang diperlukan para pelaksana dilapangan.

Kekurangan informasi/pengetahuan bagaimana melaksanakan kebijakan memiliki konsekuensi langsung seperti pelaksana yang tidak bertanggung jawab atau pelaksana tidak ada ditempat kerja sehingga menimbulkan inefisien. Implementasi kebijakan membutuhkan kepatuhan organisasi dan individu terhadap peraturan pemerintah yang ada sumber daya lain yang juga penting adalah kewenangan untuk menentukan bagaimana program dilakukan, kewenangan untuk membelanjakan/mengatur keuangan, baik penyediaan uang, pengadaan staf, maupun pengadaan supervisor.

Fasilitas yang diperlukan untuk melaksanakan kebijakan/program harus terpenuhi seperti kantor, peralatan, serta dana yang mencukupi. Tanpa fasilitas ini mustahil program bisa berjalan lancar.

c. Deposisi atau sikap

Salah satu factor yang mempengaruhi efektifitas implementasi kebijakan adalah sikap implementor. Jika implementor setuju dengan bagian-bagian isi dari kebijakan maka mereka akan melaksanakan denga senang hati tetapi jika pandangan mereka berbeda dengan pembuat kebijakan maka proses implementasi akan mengalami banyak masalah. Ada tiga respon/sikap implementor terhadap kebijakan;

kesadaran pelaksana, petunjuk/arahan pelaksana untuk merespon program kearah

(27)

penerimaan atau penolakan, dan intensitas dari respon tersebut. Para pelaksana mungkin memahami maksud dan sasaran program namun seringkali mengalami kegagalan dalam melaksanakan program secara tepat karena mereka menolak tujuan yang ada didalamnya sehingga secara sembunyi mengalihkan dan menghidari implementasi program. Disamping itu dukungan para pejabat pelaksana sangat dibutuhkan dalam mencapai sasaran program. Dukungan dari pimpinan sangat mempengaruhi pelaksana program dapat mencapai tujuan secara efektif dan efisien.

Wujud dari dukungan pimpinan adalah menempatkan kebijakan menjadi prioritas program, memperhatikan keseimbangan daerah, agama, suku, jenis kelamin, dan karakteristik demografi yang lain. Disamping itu penyediaan dana yang cukup guna memberikan insentif bagi para pelaksana program agar mereka mendukung dan bekerja secara total dalam melaksanakan kebijakan/program.

d. Struktur birokrasi

Membahas badab pelaksana suatu kebijakan, tidak dapat dilepaskan dari struktur birokrasi, struktur birokrasi adalah karakteristik, norma-norma, dan pola-pola hubungan yang terjadi berulang-ulang dalam badan-badan eksekutif yang mempunyai hubungan baik potensial maupun nyata dengan apa yang mereka miliki dalam menjalankan kebijakan.

Keempat factor diatas harus dilaksanakan secara simultan karena antara satu dengan yang lainnya memiliki hubungan yang erat, tujuan kita adalah meningkatkan pemahaman tentang implementasi kebijakan. Penyederhanaan pengertian dengan cara membrekdown (diturunkan) melalui eksplanasi implementasi kedalam komponen

(28)

prinsip. Implementasi kebijakan adalah suatu proses dinamik yang mana meliputi interaksi banyak factor. Sub kategoridari factor-faktor mendasar ditampilkan sehingga dapat diketahui pengaruhnya terhadap implementasi. Implementasi dipengaruhi oleh dua variabel menurut Grindle (Nugroho, 2003:174), yaitu :

1. Variabel isi kebijakan, mencakup: kepentingan yang terpengaruhi oleh kebijakan, jenis manfaat yang akan dihasilkan, derajat perubahan yang di inginkan kedudukan pembuat kebijakan, (siapa) pelaksana program dan sumberdaya yang dikerahkan.

2. Variabel Konteks Kebijakan, lingkungan kebijakan mencakup beberapa besar kekuasaan, kepentingan dan strategi yang dimiliki oleh para aktor yang terlibat dalam implementasi kebijakan, karakteristik institusi dan rejim yang sedang berkuasa, tingkat kepatuhan dan rensponsivitas kelompok sasaran

D. Defenisi dan Konsep Implementasi Kebijakan Publik

Implementasi merupakan salah satu fungsi manajemen, sebagaimana dikemukakan oleh Koontz ( 2003) dalam Winardi, (2005:29), Bahwa manajemen merupakan upaya secara kolektif dengan menggunakan peralatan dan dana untuk mencapai tujuan, misi dan sasaran organisasi melalui pendekatan perencanaan (planning), pelaksanaan (implementation), pengendalian (controlling), pengawasan (monitoring) dan evaluasi (evaluation) (winardi, 2005: 29). Van Meter dan Van Horn dalam Wibawa (1994: 36), Merumuskan proses implementasi sebagai berikut : Tindakan-tindakan yang dilakukan baik oleh individu/pejabat atau kelompok

(29)

pemerintah swasta yang diarahkan pada tercapainya tujuan-tujuan yang telah digariskan dalam keputusan kebijaksanaan.

Proses implementasi terkait erat dengan kebijakan, implementasi melibatkan usaha dai opolicy maker untuk mempengaruhi “street level bureaucats” untuk memberikan pelayanan atau mengatur perilaku kelompok sasaran (target group), Untuk kebijakan yang sederhana, implementasi hanya melibatkan satu badan yang bersifat makro, maka usaha-usaha implementasi akan melibatkan berbagai institusi.

Dalam hal keterlibatan barbagai perilaku (ectors) dalam implementasi, Ripley dan Frankin dalam Subarsono (2005: 88-89), Menyatakan: Implementasi bukan saja ditunjukkan oleh banyak aktor atau unit organisasi yang terlibat, tetapi juga dikarenakan proses implementasi dipengaruhi oleh berbagai variabel yang kompleks, baik variabel yang individual maupun variabel organisasional dan masing-masing veriabel pengaruh tersebut juga saling berinteraksi satu sama lain. Setelah ditetapkannya suatu kebijakan berarti masalah yang dihadapi sudah terselesaikan, masalah yang masih harus dihadapi adalah apakah kebijakan itu langsung dapat diteriman oleh masyarakat dan mempunyai kesediaan diri untuk mengimplementasikannya. Jika suatu kebijakan telah dirumuskan dan diputuskan maka dibutuhkan suatu system untuk melaksanakan kebijakan tersebut.

Pembuat kebijakan tidak hanya ingin melihat kebijakannya dilihat oleh masyarakat akan tetapi juga ingin mengetahui seberapa jauh kebijakan tersebut memberikan konsekuensi poisitif dan negative bagi masyarakat sebab pada dasarnya kebijakan itu dibuat untuk kepentingan orang banyak.

(30)

Implementasi kebijakan sesungguhnya bukanlah sekedar bersangkut paut dangan mekanisme penjabaran keputusan-keputusan politik ke dalam prosedur- prosedur rutin, melainkan lebih dari itu ialah menyangkut masalah konflik, keputusan dan siapa yang memperoleh apa dari suatu kebijakan merupakan aspek yang penting dari keseluruhan proses kebijakan. Implementasi kebijakan pada prinsipnya adalah cara agar sebuah kebijakan dapat mencapai tujuannya. Untuk mengimplementasikan kebijakan publik, maka dua pilihan langkah yang ada, yaitu langsung mengimplementasikan dalam bentuk program-program atau melalui formulasi kebijakan drivate atau turunan dari kebijakan publik tersebut. (Winarno 2008:36)

Pada umumnya tugas implementasi adalah mengaitkan realisasi tujuan kebijakan dengan hasil kegiatan atau program pemerintah. Beberapa kebijakan bersifat “self executing” artinya dapat dirumuskannya kebijakan itu sekaligus ( dengan sendirinya ) kebijakan itu terimplementasikan. Akan tetapi jumlah kebijakan yang self executing ini tidak banyak. Kebanyakan kebijakan negara itu berbentuk perundang-undangan baik berupa undang-undang, peraturan pemerintah, ataupun sebagai ketentuan atau ketetapan yang sejenis dengan itu yang bersifat non self executing artinya bahwa kebijakan negara perlu di wujudkan dan dilaksanakan oleh berbagai pihak sehingga nampak efeknya.

Keberhasilan implementasi kebijakan ditentukan oleh banyak variabel, faktor dan dimensi dan masing-masing saling berhubungan satu sama lain. Para ahli banyak mengemukakan pendapatnya tentang teori metode implementasi kebijakan.

(31)

Keberhasilan implementasi dipengaruhi oleh (dua) variabel besar, yaitu isi kebijakan (content of policy) dan lingkungan implementasi (Grindle 1980: 23).

Implementasi bukan hanya menyangkut perilaku badan-badan administrasi yang bertanggung jawab untuk melaksanakan program dan menimbulkan ketaatan pada diri kelompok sasaran, melainkan pula menyangkut jaringan kekuatan politik, ekonomi dan sosial yang berlangsung atau tidak dapat mempengaruhi perilaku dari semua pihak yang terlibat dan pada akhirnya berpengaruh terhadap dampak baik yang diharapkan maupun yang tidak diharapkan.

Implementasi kebijakan dapat disimpulkan sebagai suatu proses tindakan yang dilakukan oleh individu atau kelompok setelah peraturan atau keputusan ditetapkan untuk mencapai tujuan dengan didukung oleh peralatan, aparat pelaksana, dan biaya. Suatu kebijakan negara akan menjadi efektif bila dilaksanakan dan mempunyai dampak positif bagi masyarakat. Dengan demikian jika mereka bertindak/berbuat tidak sesuai dengan keinginan pemerintah atau negara itu, maka kebijakan negara akan menjadi tidak efektif.

Menurut Cleaves dalam (Wahab Abdul Sholichin, 2001: 59), Menyebutkan bahwa implementasi kebijakan sesungguhnya bukanlah sekedar bersangkut paut dengan mekanisme penjabaran keputusan-keputusan politik kedalam prosedur- prosedur rutin lewat saluran-saluran birokrasi, melainkan lebih dari itu ia menyangkut masalah konflik, keputusan dari siapa yang memperoleh apa dari suatu kebijakan.

Menurut Mazmanian dan Sabatier (Wahab Abdul Solichin, 2008 : 81) Menyatakan bahwa implementasi adalah pelaksanaan keputusan kebijakan dasar biasanya dalam

(32)

bentuk undang-undang, namun dapat pula berbentuk perintah-perintah atau keputusan-keputusan eksekutif yang penting atau badan peradilan lainnya, keputusan menyebutkan secara tegas tujuan atau sasaran yang ingin dicapai dengan implementasinya.

Menurut Mazmania dan Sabastier dalam (Wahab Abdul Sholichin, 2008: 81), Bahwa peran penting dari analisis implementasi kebijakan adalah mengindetifikasi variable-variabel yang mempengaruhi tercapainya tujuan-tujuan formal pada keseluruhan proses implementasi antara lain meliputi :

a. Mudah tidaknya masalah yang akan digarap dikendalikan

b. Kemampuan keputusan kebijakan untuk menstruktur secara tepat proses implementasi.

c. Pengaruh langsung berbagai variabel politik terhadap keseimbangan dukungan bagi tujuan yang termuat dalam keputusan kebijakan tersebut.

Menurut Colebatch, “...the implementation literarure is a litte depressing, because it is predominantly about implementation failure” (implementasi literarure itu adalah sedikit penekanan, sebab itu sebab itu sebagian besar sekitar kegagalan implementasi) (Suharto, 2012: 36).

Van Meter dan Van Horn dalam (Agustino, 2008: 140). mendefenisikan implementasi kebijakan, sebagai tindakan-tindakan yang dilakukan baik oleh individu-individu atau pejabat-pejabat atau kelompok-kelompok pemerintah atau swasta yang diarahkan pada tercapainya tujuan-tujuan yang telah digariskan dalam

(33)

keputusan kebijaksanaan. Dari beberapa pendapat para ahli dapat disimpulkan, implementasi kebijakan adalah suatu proses pelaksana dari kebijakan itu sendiri.

Apabila kita mengacu pada pandangan yang dikemukakan para ahli yang menyimpulkan bahwa peran birokrasi dalam implementasi kebijakan, baik ditingkat pusat maupun daerah berkaitan upaya mempengaruhi perilaku pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan kebijakan tersebut ( Wahab Abdul Solichin, 2002: 65).

Dengan demikian, implementasi kebijakan negara pada umumnya diserahkan kepada lembaga-lembaga pemerintahan (birokrasi) dalam berbagai jenjangnya sampai jenjang pemerintahan yang terendah, sehingga setiap pelaksanaannya sapai jenjang pemerintahan yang terendah, sehingga setiap pelaksanaannya masih memerlukan pembentukan kebijakan teknis dalam wujud peraturan perundang-undangan dan atau surat-surat keputusan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi implementasi kebijakan : 1. Faktor kegagalan

Secara empirik dapat dikatakan bahwa kebijakan apapun sebenarnya mengandung resiko untuk gagal dalam setiap implementasinya dilapangan. (Wahab ABdul Sholichin, 2002: 62) telah membagi pengertian kegagalan kebijakan (policy failure) ini dalam dua kategori, yaitu: pertama, tidak terimplementasikan (non implementantion) mengandung arti bahwa suatu kebijakan tidak dilaksanakan sesuai dengan rencana, karena hambatan-hambatan yang ada tidak sanggup mereka tanggulangi. Akibatnya implementasi yang efektif sukar untuk dipenuhi. Kedua, Implementasi yang tidak berhasil (unsuccessful implementation), biasanya terjadi

(34)

apabila suatu kebijakan tertentu telah dilaksanakan sesuai dengan rencana, namun mengingat kondisi eksternal ternyata tidak menguntungkan, sehingga kebijaksanaan tersebut tidak berhasil dalam mewujudkan dampak atau hasil akhir yang dikehendaki.

Salusu, (1997: 431-432) menambahkan penyebab terjadinya kegagalan implementasi kebijakan karena adanya beberapa masalah lain dihadapi, yaitu: (1) sumber daya manusia, uang atau material tidak selamanya tersedia saat dibutuhkan, (2) penyesuaian perilaku karyawan terhadap strategi baru dan struktur baru, dan (3) diantara unit kerja sering terjadi tujuan-tujuan yang bertentangan satu dengan yang lain

2. Faktor Keberhasilan

Selain beberapa faktor mempengaruhi kegagalan suatu implementasi kebijakan publik, terdapat pula faktor-faktor yang mendukung keberhasilan implementasi kebijakan tersebut. Thompson dan Stricland dalam (Salusu, 1997: 437-438), mengatakan kunci suksesnya suatu implementasi kebijakan sangat ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu: membutuhkan suatu komitmen, dukungan, disiplin, motivasi dan kerja keras dari semua top pimpinan, kepala-kepala unit kerja, karyawan dan para pelaksana serta dipengaruhi pula tingkat pendelegasian kewenangan pengambilan keputusan atau kebijakan bagi para pimpinan unit kerja.

Faktor lain seperti sikap dan persepsi masyarakat turut pula berpengaruh terhadap keberhasilan implementasi kebijakan di lapangan adalah pentingya masyarakat mengetahui isi kebijakan tersebut. Dalam kaitan ini, Anderson (1979:50) menjelaskan sebab-sebab anggota masyarakat untuk mengetahui dan melaksanakan suatu

(35)

kebijakan publik, yaitu; (1) adanya kesadaran untuk menerima kebijakan; (2) sikap menerima dan melaksanakan kebijakan publik karena lebih sesuai kepentingan mereka; dan (3) adanya sanksi-sanksi tertentu yang akan dikenakan bila tidak melaksanakannya ( Sunggono, 1994: 144)

E. Konsep Angkutan Darat dan Angkutan Umum

Angkutan darat adalah segala macam bentuk pemindahan barang atau manusia dari suatu tempat ke tempat lainnya dengan menggunakan sebuah roda transportasi yang digerakkan oleh manusia dengan didukung suatu infrastruktur jalan. Pergerakan ini ditujukan untuk mempermudah manusia melakukan aktivitas sehari-hari untuk memperoleh biaya kehidupannya,sedangkan angkutan umum merupakan salah satu media transportasi yang digunakan masyarakat secara bersama-sama dengan membayar tarif. Angkutan umum merupakan lawan kata dari ‘kendaraan pribadi’.

Menurut nasution (2004 : 30). Terdapat lima unsur angkutan, yaitu : a) Manusia, yang membutuhkan transportasi. b) Barang, yang diperlukan manusia.c) Kendaraan, sebagai sarana transportasi.d)Jalan, sebagai prasarana transportasi.e) Organisasi, sebagai pengelola transportasi.

Perpindahan itu sendiri dilandasi akibat proses interaksi manusia karena adanya hukum keterbatasan, yang mayoritas keterbatasan tersebut adalah keterbatasan produksi, ruang pekerjaan dan bahan baku yang tidak selalu tersedia secara merata dimuka bumi. Selain itu, faktor geografis bumi yang membatasi potensi dan sumber daya alam juga merupakan salah aspek pertimbangan dalam hukum keterbatasan.

Adanya alasan hukum keterbatasan tersebut, komunitas struktur manusiatelah terbagi

(36)

dalam dua kelompok konsumen. Interaksi yang akhirnya terjadi diantara kedua kelompok tersebut akan menimbulkan suatu perpindahan atau pergerakan. Efek dari adanya kebutuhan perpindahan /pergerakan orang dan barang akan menimbulkan suatu tuntutan untuk penyediaan prasarana dan sarana pergerakan supaya tercipta suatu pergerakan supaya tercipta suatu pergerakan yang berlangsung aman, nyaman dan lancar, serta ekonomis dari segi waktu dan biaya. Pada akhirnya, kebutuhan akan transportasi bukan hanya suatu kebutuhan yang dalam hal ini transportasi perlu mengadakan pemilihan jenis prasarana yang mampu melayani kegiatan manusia secara aman, nyaman dan ekonomis.

1. Pentingnya Angkutan Umum Memiliki Izin Angkutan.

Untuk menjamin ketertiban dan kelancaran serta untuk menetapkan kelangsungan pengangkutan dengan kendaraan bermotor umum, upaya pengendaliaan dan pembinaan secara intensif, dilaksanakan dalam bentuk pembinaan izin angkutan.

Menurut Undang-undang No 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan Dalam Pasal 140 yang dimaksudkan dengan angkutan adalah “ Lintasan kendaraan bermotor umum untuk pelayanan jasa angkutan, yang mempunyai asal dan tujuan perjalanan tetap, serta lintasan tetap, baik berjadwal maupun tidak terjadwal”.

Tujuan pemberian izin angkutan selain untuk menciptakan iklim usaha yang sehat dibidang pengangkutan umum, untuk mengendalikan kelangsungan perusahaan angkutan umum, dan untuk mengusahakan seoptimal mungkin arus penumpang dan barang yang seimbang serta menggali sumber-sumber dan menambah pendapatan

(37)

aslidaerah. Setiap pengoperasian angkutan dengan kendaraan bermotor umum harus mendapat izin dari pemerintah.

Izin angkutan adalah pembayaran atas pemberian izin angkutan bagi setiap pengusaha pengangkutan dengan kendaraan bermotor umum dalam hal ini angkutan yang beroperasi sebagai angkutan umum.

Izin angkutan sangat penting dimiliki oleh semua angkutan umum khususnya angkutan penumpang, agar terciptanya ketertiban dan kelancaran berlalu lintas disamping itu agar tidak terjadi kecurangan dan persaingan dengan armada kendaraan mobil pribadi dengan pelat nomor hitam yang di gunakan sebagai angkutan umum yang jelas-jelas melanggar aturan perizinan angkutan.

F. Kerangka Pikir

Sebuah kebijakan publik tidak lepas begitu saja. Kebijakan harus bisa terimplementasi dengan baik. , untuk membuat suatu implementasi kebijakan tersebut sejalan dengan teori George C. Edward III, maka standar penilaian yang dapat dipakai adalah a) komunikasi. b) sumber daya. c) disposisi. d) birokrasi. Keempat aspek pengamatan ini dapat mendorong seorang implementor untuk secara khusus bisa mengimplementasikan isi kebijakan, baik pada dimensi hukum dan terutama kelogisannya dalam mencapai tujuan, maupun konteks kebijakan kondisi lingkungan yang mempengaruhi seluruh proses kebijakan.

(38)

Desain Kerangka Pikir

G. Fokus Penelitian

Berdasarkan uraian kerangka pikir di atas maka yang menjadi fokus penelitian dalam penelitian ini adalah Bagaimana Kebijakan Penertiban Angkutan Umum dan Implementasi Kebijakan Penertiban Angkutan Umum Di Terminal Daya Kota Makassar.

H. Deskripsi Fokus Penelitian.

Berdasarkan uraian kerangka pikir di atas maka yang menjadi deskripsi fokus penelitian dalam penelitian ini adalah Implementasi Kebijakan Penertiban Angkutan Umum dan kebijakan angkutan umum agar mempermudah melakukan klarifikasi di dalam meneliti. Adapun deskripsi focus yang di uraikan oleh peneliti semoga dapat

Kebijakan Penertiban Angkutan : 1. Memilik izin Angkutan 2. Memasuki terminal 3. Membayar retribusi

IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENERTIBAN

ANGKUTAN UMUM

IMPEMENTASI KEBIJAKAN 1. Komunikasi 2. Sumber daya 3. Disposisi (sikap) 4. Struktur birokrasi

Efektifitas kebijakan penertiban

(39)

terciptanya ketertiban berlalu lintas. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam Mengimplementasikan Kebijakan Penertiban Angkutan Umum diantaranya yaitu : 1. Implementasi Kebijakan:

a. Komunikasi

- Untuk mengetahui kejelasan informasi mengenai sasaran dan tujuan mengenai kebijakan pemeriksaan angkutan umum, agar terciptanya ketertiban berlalu lintas.

- Untuk mengetahui koordinasi antar Bagian/seksi.

b. Sumberdaya, adalah mengetahui seberapa banyak sumber daya manusia yang berkompeten dalam kebijakan pemeriksaan angkutan umum di dinas perhubungan.

c. Disposisi (sikap)

- Seberapa besarkah para implementor terhadap kebijakan penertiban mobil angkutan agar terciptanya berlalu lintas yang baik ?

- Seberapa besarkah pemahaman implementor terhadap kebijakan penertiban angkutan umum ?

d. Struktur Birokrasi

- Tersediakah prosedur operasional standar dalam mengimplementasikan kebijakan penertiban angkutan umum.

- Bagaimanakah pola-pola dalam hubungan organisasi di dinas perhubungan kota makassar dan organda dalam menertibkan angkutan umum.

- Bagaimana kejelasan aturan.

(40)

2. Kebijakan Penertiban Angkutan.

a. Harus memiliki surat izin Angkutan, karena telah ditetapkan pada UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan dan ditetapkan dalam Peraturan Daerah No. 14 tahun 2002 tentang “ Perizinan angkutan umum di dalam wilayah Kota Makassar “

b. Angkutan umum harus masuk terminal, agar terciptanya ketertiban berlalu lintas karena sudah menjadi ketetapan UU Nomor 22 Tahun 2009 yang harus di ikuti bahwa Pasal 36 BAB VI Bagian IV paragraf menetapkan bahwa “ Setiap Kendaraan Bermotor Umum wajib singgah di Terminal yang sudah ditentukan” dan Ditetapkan juga dalam Surat Keputusan Wali Kota Makassar No. 74 tentang “ Larangan Bus dan mobil angkutan umum menaikkan dan menurunkan penumpang selain di terminal “

c. Angkutan umum harus membayar retribusi sehingga dapat menambah pendapatan asli daerh (PAD) karena sudah ditetapkan dalam Surat Keputusan Wali Kota Makassar No. 900/1010/Kep/VII/2013 tentang “ Bahwa angkutan umum wajib membayar retribusi “

(41)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini telah dilaksanakan di Terminal Regional Daya Kota Makassar.

Penelitian ini berlangsung kurang lebih 2 bulan. Pemilihan lokasi penelitian ini didasari karena banyaknya pengguna mobil angkutan umum yang beroperasi.

Disamping itu kawasan Daya merupakan jalan yang sering masuk mobil plat hitam yang digunakan sebagai angkutan umum, bebas masuk kota, tidak masuk terminal, bebas menaikkan tarif dan bebas mengambil penumpang dari mana saja.

B. Jenis dan Tipe Penelitian

Jenis dan tipe penelitian yang digunakan oleh peneliti:

a. Jenis peneliti ini adalah kualitatif yang akan mendeskripsikan data-data empirik yang memuat gejala sosial dan membutuhkan pemahaman holistik sehingga data yang dianalisis bukan hanya mengungkapkan hal-hal permukaan saja tetapi juga bagaimana cara mengimplementasikan kebijakan dalam menertibkan mobil pribadi yang di gunakan sebagai angkutan umum.

b. Tipe penelitian ini fenomonologi yaitu peneliti mendeskripsikan pengalaman yang dilakukan dan dialami oleh para informan.

C. Sumber Data

Sumber data yang diperoleh dalam penelitian ini berasal dari data primer dan sekunder.

30

(42)

a. Data Primer yaitu yang dikumpulkan dan diolah sendiri pengguna data, yang diperoleh melalui wawancara secara insentif terhadap beberapa responden yang ditetapkan sebagai sampel, serta hasil dari penyebaran kuesioner terhadap responden yang telah ditetapkan sebelumnya.

b. Data Sekunder yaitu data yang diperoleh dari dokumen-dokumen, catatan-catatan, laporan-laporan maupun arsip-arsip resmi, yang dapat didukung kelengkapan data primer.

D. Informan penelitian

Untuk memperoleh data guna kepentingan peneliti serta adanya hasil yang representif, maka diperlukan informan yang memahami dan mempunyai kaitan dengan permasalahan yang sedang diteliti. Adapun informan yang dimaksud adalah:

Direktur Utama Terminal Daya Kota Makassar : 1 Orang.

Kepala Bidang Ketertiban dan Keamanan Terminal Daya Kota Makassar : 1 Orang.

Kepala Bidang Angkutan Dinas Perhubungan Kota Makassar : 1 Orang.

Kepala Bidang Lalu Lintas Angkutan Jalan Dinas Perhubungan : 1 Orang.

Ketua Pelaksana Organda : 1 Orang.

Sopir Angkutan Umum : 3 Orang.

Jadi total keseluruhan adalah : 8 orang.

E. Teknik Pengumpulan Data

Tehnik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Tehnik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian oleh peneliti yaitu:

(43)

1. Wawancara yaitu peneliti akan melakukan wawancara dengan para informan antara lain ketua Dinas Perhubungan, sekretaris, staf yang menangani masalah angkutan umum dan sopir angkutan umum.

2. Observasi yaitu pengumpulan data yang dikumpulkan secara langsung dengan cara melakukan pengamatan langsung terhadap cara kerja aparat dalam melayani masyarakat. Serta langsung pada instansi terkait yang ada kaitannya langsung dengan masalah yang akan diteliti. Peneliti akan melakukan observasi pada implementor kebijakan dalam menertibkan angkutan umum.

3. Dokumentasi, yaitu tehnik ini digunakan untuk memperoleh data melalui dokumen (arsip) yang ada hubungannya dengan masalah yang diteliti dan mengambil foto-foto dilokasi penelitian.

F. Tehnik Analisis Data

Tehnik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini memuat dua aspek yaitu: a) analisis sebelum dilapangan dengan melakukan analisis data hasil studi pendahuluan yang digunakan dalam penentuan fokus penelitian yang berkaitan dengan implementasi kebijakan angkutan darat b) analisis selama dilapangan dengan menggunakan Model Miles and Huberman (Sugiono, 2012:246) bahwa terdapat beberapa komponen analisis dalam penelitian ini yaitu, pengumpulan data, reduksi data, sajian data dan penarikan kesimpulan. Selanjutnya analisis dilakukan dengan memadukan cara interaktif terhadap komponen tersebut sebagaimana yang diuraikan di bawah ini:

(44)

1. Pengumpulan data yaitu peneliti melakukan data hasil studi pendahuluan sebelum ke lapangan dan menganalisis data tersebut untuk keperluan penentuan fokus penelitian dan pengumpulan data setelah di lapangan. Banyaknya data yang terkumpul atau diperoleh di lapangan tentunya dianalisis untuk merangkum dan memilih hal-hal yang pokok yang dianggap relevan melalui reduksi data.

2. Reduksi data yaitu data yang terkumpul atau diperoleh di lapangan tentunya dianalisis untuk merangkum dan memilih hal-hal pokok yang dianggap relevan melalui reduksi data. Data yang direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan dan selanjutnya yang dianggap penting.

3. Penyajian data yaitu setelah data direduksi, peneliti menyajikan teks bersifat naratif atau dalam bentuk tabel dan grafik jika diperlukan agar mudah dipahami.

4. Penarikan kesimpulan yaitu data yang telah disajikan dijadikan dasar untuk melahirkan kesimpulan awal. Kesimpulan tersebut masih bersifat sementara dan akan berubah jika pengumpulan data selanjutnya ditemukan informasi baru dan terverifikasi maka kesimpulan sebelumnya dilakukan penyempurnaan.

G. Pengabsahan Data

Salah satu cara paling penting dan mudah dalam uji keabsahan hasil penelitian adalah dengan hasil triangulasi peneliti, metode, teori, dan sumber data :

a. Triangulasi Kejujuran Peneliti

Cara dilakukan untuk menguji kejujuran,subjektifvitas, dan kemampuan merekam data oleh peneliti dilapangan.

(45)

b. Triangulasi Dengan Sumber data

Dilakukan dengan membandingkan dan mengecek baik derajat kepercayaan suatu informasi yang di peroleh melalui waktu dan cara yang berbeda dalam metode kualitatif yang dilakukan dengan membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara.

c. Triangulasi Dengan Metode

Dilakukan untuk menguji sumber data, memiliki tujuan untuk mencari data dengan metode yang berbeda.

d. Triangulasi Dengan Teori

Dilakukan dengan mengurai pola, hubungan dan menyertakan penjelasan yang muncul dari analisis untuk mencari tema atau penjelasan pembanding.

H. Jadwal Penelitian

Penelitian akan dilakukan oleh peneliti adalah menggunakan metode observasi yaitu upaya membuat kesimpulan umum terhadap suatu kelompok subjek responsivitas penanganan keluhan pelayanan kesehatan. Jadwal pelaksanaan penelitian dilakukan dalam tiga tahapan, yaitu:

1. Tahap persiapan

Pada tahap ini peneliti mengurus perizinan penelitian pada lembaga terkait dan menyusun instrument penelitian.

2. Tahapan pelaksanaan

(46)

Pada tahapan ini peneliti mulai mengumpulkan data dan menarik suatu kesimpulan.

3. Tahapan penyelesaian

Pada tahapan ini peneliti melakukan penulisan laporan penelitian, diskusi perbaikan dan penggandaan laporan penelitian.

(47)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum PD Terminal Daya Makassar Metro

Secara khusus kedudukan Perusahaan Daerah Terminal Makassar Metro ( PD TMM ) didasarkan pada Peraturan Daerah Kota Makassar No. 16 Tahun 1999 tentang pendirian Perusahaan Daerah Terminal Makassar Metro (Lembaran Daerah Kota Makassar No. 16 Tahun 1999 seri D Nomor 3) sebagaimana telah diubah dengan peraturan daerah Kota Makassar Nomor 14 Tahun 2006 (Lembaran Daerah Kota Makassar Nomor 14 Tahun 2006). Disamping itu pengelolaan Terminal Penumpang (Lembaran Daerah Kota Makassar Nomor 15 Tahun 2006).

Adapun Organisasi dan Tata Kerja, tugas pokok dan fungsinya diatur ini dalam Peraturaan Daerah nomor 16 Tahun 1999 tentang Organisasi dan Tata Kerja, tugas pokok dan fungsinya adalah memberikan pelayanan jasa terminal terhadap sarana angkutan darat antar propinsi dan antar kabupaten dan kota di Sulawesi serta Peraturan Daerah Kota Makassar Nomor 13 Tahun 2000 tentang Ketentuan-ketentuan pokok badan pengawas, direksi dan kepegawaian perusahaan daerah Terminal Makassar Metro kota Makassar.

PD Terminal Makassar Metro berada dalam wilayah Kota Makassar tepatnya Jalan Kapasa Raya No. 33 Kelurahan Metro dipimpin oleh seorang Direktur Utama (Dirut) dan dibantu oleh seorang Direktur Umum (Dirum) dan Direktur Operasional (Dirops).

36

(48)

Sedangkan secara organisasi PD. Terminal Makassar Metro didasarkan pada Surat Keputusan Walikota Makassar Nomor 7039 Tahun 1999 tanggal 27 Oktober 1999. Dalam keputusan walikota Makassar tersebut PD. Terminal Makassar Metro dipimpin oleh dua seorang direktur utama. Dalam menjalankan tugasnya direktur utama dibantu oleh dua orang direktur yaitu direktur umum dan direktur operasional.

Direktur Umum membawahi bagian umum keuangan dan bagian umum. Adapun dalam menjalankan tugasnya bagian umum dibantu oleh seksi-seksi yang terdiri dari seksi administrasi dan kepegawaian, seksi perlengkapan dan seksi hukum dan humas.

Sedangkan bagian keuangan dibantu oleh seksi anggaran, seksi pembukuan dan seksi kas.

Direktur operasional membawahi bagian produksi dan bagian pengelolaan.

Dalam menjalankan tugasnya bagian produksi dibantu oleh seksi pendataan, seksi jasa/penagihan serta unit-unit yang terdiri adri unit bus sekolah dan unit terminal Mallengkeri. Sedangkan bagian pengelolaan dibantu oleh seksi-seksi yang terdiri dari seksi pengaturan parker, seksi pemeliharaan kebersihan, dan seksi keamanan dan ketertiban.

1. Visi, Misi dan Sumber Daya Terminal Daya Kota Makassar.

a. visi “Menjadi Pusat Pelayanan Jasa Terminal Angkutan Darat yang Profesional di Kawasan Timur Indonesia Tahun 2010-2014.” Visi tersebut mengandung

makna bahwa sebagai perusahaan yang bergerak di bidang jasa dan layanan, PD Terminal Makassar Metro berusaha secara maksimal dalam meningkatkan kinerja dan pelayanannya sehingga menjadi pusat pelayanan jasa terminal angkutan darat

(49)

yang dilakukan secara professional dalam wilayah kawasan Timur Indonesia (KTI) pada tahun 2010 hingga yang akan datang.

b. Misi

Dalam rangka mewujudkan visi diatas maka harus didukung oleh misi yang jelas sebagai berikut :

1. Senantiasa memberikan pelayanan jasa terminal secara maksimal bagi penumpang/pengguna jasa dan pengusaha angkutan darat secara professional.

Hal ini menjadi penting dalam memberi kepuasan pada pengguna jasa sehingga dapat meningkatkan pemasukan (income) demi kemajuan perusahaan.

2. Mengembangkan system informasi mengenai pelayanan jasa terminal angkutan darat terminal di seluruh propinsi yang ada di Sulawesi. Sebagai pusat pelayanan di bidang jasa terminal di Indonesia Timur , PD Terminal Makassar Metro harus mengembangkan system informasi yang lebih baik dan berkulitas guna menjamin terlaksananya pelayanan pada pengguna jasa terminal yang lebih baik.

3. Membangun jaringan kerjasama peningkatan pelayanan jasa terminal angkutan darat antar propinsi serta antar kabupaten dan kota. PD Terminal Makassar Metro harus membangun jaringan kerjasama yang baik antar propinsi serta kabupaten /kota yang ada secara bersama-sama meningkatkan pelayanan jasa yang memberi kepuasan pada pengguna jasa.

(50)

4. Memberikan pelayanan secara optimal kepada masyarakat sekaligus menunjang peningkatkan pendapatan asli daerah kota Makassar. Pelayanan yang baik merupakan indikator utama yang harus dimiliki oleh setiap perusahaan dalam mencapai tujuan yang ingin dicapai. Oleh karena itu, dalam mengejar peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) di kota Makassar, PD Terminal Makassar Metro harus meningkatkan pelayanannya kepada masyarakat khsusnya pengguna jasa terminal.

2. Sumber Daya Manusia Terminal Daya Kota Makassar.

1. Data Umum

PD. Terminal Makassar Metro adalah organisasi yang dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 7039 Tahun 1999 tentang Organisi dan Tata Kerja PD.

Terminal Makassar Metro.

Secara umum gambaran PD. Terminal Makassar Metro sebagai berikut : 1. Kondisi Karyawan dan Karyawati

Jumlah karyawan dan karyawati PD. Teminal Makassar Merto seluruhnya adlaah 111 orang. Dengan kualifikasi pendidikan sebagai berikut:

a. Pasca Sarjana (S2) : 1 orang b. Sarjana (S1) : 31 orang c. SLTA atau sederajat : 67 orang d. SLTP atau sederajat : 7 orang e. SD : 6 orang

Sedangkan karyawan dan karyawati menurut jenis kelamin sebagai berikut:

(51)

a. Laki-laki : 94 orang b. Perempuan : 17 orang

Pengelolaan PD Terminal Makassar Metro secara teknis di laksanakan sepenuhnya oleh organisasi yang tergabung dalam struktur organisasi perusahaan PD Terminal Makassar Metro. Dari segi teknis dan operational, PD Terminal Makassar Metro mengelola beberapa pelayanan jasa yang terdiri dari :

Jasa Kendaaraan Angkutan yang ada saat ini sebanyak 1479 unit, yang terdiri dari : 1. Angkutan Antar Propinsi (AKAP) sebanyak 317 unit

2. Angkutan Antar Kota (AKDP) sebanyak 1.162 unit.

Jumlah kendaraan angkutan antar propinsi dan antar kota yang masuk setiap harinya sebanyak 989 kendaraan, dengan kapasitas 25.714 penumpang, sedangkan yang keluar adalah sebanyak 976 kendaraan, dengan kapasitas 25.376 penumpang.

Seperti yang telah dikatakan sebelumnya bahwa Sumber daya manusia yang dimiliki oleh PD Terminal Makassar Metro saat ini sudah tergolong memadai, meskipun masih perlu peningkatan secara optimal pada masa yang akan datang.

Adapun jumlah total pegawai yang dimiliki saat ini sebanyak 111 orang Dengan rinci sebagai berikut :

(52)

No. URAIAN JUMLAH KET

1. Direksi 3 orang

2. Kepala Bagian 4 orang

3. Kepala Seksi 11 orang

4. Kepala Unit 2 orang

5 Pegawai / Staf 94 orang

JUMLAH 111 orang

Sementara itu kondisi pegawai berdasarkan jenis kelamin adalah sebagai berikut :

No. JENIS KELAMIN JUMLAH KET

1. Laki-laki 93 Orang

2. Perempuan 17 Orang

Kondisi pegawai berdasarkan kualifikasi tingkat pendidikan sebagai berikut : No. TINGKAT PENDIDIKAN JUMLAH

(ORANG)

KET.

1. S2 1

2. S1 26

3. Sarjana Muda 3

4. Diploma Dua 1

5. SMA/Sederajat 67

(53)

6. SMP/sederajat 7

7. SD 4

8. Tidak Berijazah 2

JUMLAH 111 Orang

Dari kualifikasi pendidikan yang dimiliki di atas Nampak bahwa sumber daya manusia yang dimiliki oleh PD Terminal Makassar Metro sudah cukup memadai, namun yang perlu mendapat pembenahan adalah bagaimana meningkatkan kinerja dan motivasi kerja yang lebih baik.

Sumber daya manusia PD. Terminal Makassar Metro akan semakin memacu motivasi dan kinerja karyawan agar dapat bekerja lebih baik lagi. sedangkan jumlah karyawan yang ada saat ini sebanyak 111 orang, ada kemungkinan akan di evaluasi secara profesional berdasarkan kemampuan, pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki oleh pihak direksi sehingga ada keseimbangan antara tenaga yang ada dengan tingkat pekerjaan yang tersedia.

Untuk memaksimalkan kinerja pegawai yang ada, PD. Terminal Makassar Metro akan mengkaji ulang pegawai yang ada dengan tugas dan tanggung jawab yang jelas.

3. Aspek Organisasi Dan Management

Berdasarkan SK Walikota Makassaar Nomor 7039 Tahun 1999 tentang Organisasi dan Tata Kerja PD. Terminal Makassar Metro, tugas pokok dan

(54)

fungsinya adalah memberikan jasa terminal terhadap sarana angkutan darat antar propinsi dan antar kabupaten dan kota kota Sulawesi.

Adapun struktur organisasi PD Terminal Makassar Metro sesuai Surat Keputusan tersebut diatas adalah sebaagai berikut :

BAGAN STRUKTUR ORGANISASI PD TERMINAL MAKASSAR METRO KOTA MAKASSAR

Keterangan :

: Garis Komando : Garis Koordinasi

WALIKOTA MAKASSAR

DIREKTUR UTAMA

BADAN PENGAWAS

DIREKTUR OPERASIONAL DIREKTURUMUM

BAGIAN UMUM

BAGIAN KEUANGAN

SEKSI ADM &

KEPEGAWAIAN

SEKSI ANGGARAN

SEKSI PERLENGKAPAN

SEKSI PEMBUKUAN

SEKSI HUKUM DAN HUMAS

SEKSI KAS

BAGIAN

PENGELOLAAN BAGIAN

PRODUKSI

SEKSI PENGATURAN

PARKIR

SEKSI PENDATAAN

SEKSI PEMELIHARAAN

SEKSI PENAGIHAN

SEKSI KEAMANAN

& KETERTIBAN UNIT UNIT UNIT

Referensi

Dokumen terkait

Hasil wawancara dari kelima informan diatas mengenai faktor apa yang menjadi penghambat stretegi pemerintah terhadap pengembangan tata kelola maritim di kota

Dari hasil wawancara tersebut diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa fasilitas seperti mobil armada yang dimiliki oleh Dinas Pemadam Kebakaran Kota Makassar baik di pusat maupun

Hasil wawancara dengan Bapak Saiful staff Angkutan di Dinas Perhubungan Kota Malang pada 16 maret 2015.. penyelenggaraan angkutan orang tidak dalam trayek mengenai alih

Berdasarkan hasil wawancara kedua informan diatas, maka penulis menyimpulkan bahwa dinas perhubungan kota Bitung telah melakukan penyusunan program kerja berdasarkan

Adapun kehadiran angkutan Grab direspon baik oleh sebagian masyarakat di Kota Makassar, maka dari itu sebagian penumpang angkutan umum konvensional di Makassar beralih ke

Hasil wawancara di atas dapat di simpulkan bahwa Faktor Penghambat Peran Pemerintah Dalam Penertiban Terminal Liar Di Kawasan Terminal Regional Daya Kota Makassar adalah adanya oknum

Hasil wawancara di atas dapat di simpulkan bahwa Faktor Penghambat Peran Pemerintah Dalam Penertiban Terminal Liar Di Kawasan Terminal Regional Daya Kota Makassar adalah adanya oknum

Hasil penelitian menujukkan bahwa mengenai Manajemen Pengelolaan Terminal Penumpang Angkutan Darat Pada Terminal Regional Daya di Kota Makassar masih sangat jauh dari yang diharapkan