• Tidak ada hasil yang ditemukan

Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, Indonesia. 1, 2,

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, Indonesia. 1, 2,"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)

MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH BERPENGARUH

TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS V SD

GUGUS KOMPYANG SUJANA DENPASAR BARAT

TAHUN AJARAN 2013/2014

Ni Pt. Ade Suryani

1

, Rini Kristiantari

2

, I Wy. Wiarta

3

1,2,3

Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, FIP

Universitas Pendidikan Ganesha

Singaraja, Indonesia

email:

[email protected]

1

, [email protected]

2

,

[email protected]

3

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan yang signifikan hasil belajar matematika antara siswa yang mengikuti pembelajaran menggunakan model pembelajaran berbasis masalah dan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional pada siswa kelas V SD Gugus Kompyang Sujana Tahun Ajaran 2013/2014. Penelitian ini menggunakan desain Nonequivalent Control Group Design. Populasi penelitian ini adalah 16 kelas V di Gugus Kompyang Sujana Denpasar Barat Tahun Ajaran 2013/2014 sebanyak 683 siswa. Penentuan sampel dilakukan secara random. Sampel penelitian ini yaitu siswa kelas VC SD Negeri 9 Padangsambian yang berjumlah 40 orang sebagai kelas eksperimen dan siswa kelas VD SD Negeri 9 Padangsambian yang berjumlah 40 orang sebagai kelas kontrol. Data hasil belajar Matematika siswa dikumpulkan dengan instrumen tes berbentuk pilihan ganda biasa dan data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan statistik uji-t. Hasil analisis menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar matematika antara siswa yang mengikuti pembelajaran model berbasis masalah dan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional pada siswa kelas V di SD Gugus Kompyang Sujana Denpasar Barat Tahun Ajaran 2013/2014 (thitung= 3,17>ttabel ( = 2,00) dan nilai rata-rata kelompok eksperimen lebih besar dibandingkan nilai rata-rata kelompok kontrol (72,00 > 62,13). Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran berbasis masalah berpengaruh terhadap hasil belajar matematika siswa kelas V SD Gugus Kompyang Sujana Denpasar Barat.

Kata kunci: model pembelajaran berbasis masalah , pembelajaran konvensional, hasil belajar Matematika.

Abstract

This research aims to find out the significant distinction of the result of Mathematic learning between the students who follow the study using learning model based on problem and the students who follow the conventional learning on the grade V elementary school student cluster of Kompyang Sujana academic year of 2013/2014. The research was using Non-equivalent Control Group Design. The populations of the research are 16 classes of grade V in cluster Kompyang Sujana West Denpasar academic year of 2013/2014. The research’s sample is the students of grade VC Elementary School of Negeri 9 Padangsambian which numbering 40 students as an experiment class and the students of grade VD Elementary school of Negeri 9 Padangsambian numbering 40 students as a control class. The result data of Mathematics learning of the students was collected by instrument test in the form of common multiple choices and data was analyzed using test-t statistic analysis. The

(2)

analysis result using test-t showed that, It means that tcount = 3.17 > ttable (α = 0.05, dk = 78) = 2.00, so that can be concluded that there is a significant distinction of the result of Mathematics learning between the students who follow the study using learning model based on problem and the students who follow the study using conventional learning on the grade V elementary school students cluster of Kompyang Sujana West Denpasar academic year of 2013/2014 and the average scores of experiment group is 72.00 >the average scores of control group is 62.13. so that it can be concluded that the application of learning model based on problem has an impact to the mathematics learning result of grade V elementary school students cluster of Kompyang Sujana West Denpasar academic year of 2013/2014.

Keyword: Learning model based on problem, conventional learning, the result of Mathematics learning.

PENDAHULUAN

Pendidikan hendaknya berwawasan jauh ke depan dan memikirkan apa yang dihadapi siswa di masa yang akan datang. Idealnya pendidikan tidak hanya berorientasi pada masa lalu dan masa kini, tetapi sudah seharusnya merupakan proses yang mengantisipasi dan membicarakan masa depan. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang tidak hanya mempersiapkan para siswanya untuk sesuatu profesi atau jabatan, tetapi untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari ( Buchori, 2006:1 ).

Salah satu masalah pokok dalam pembelajaran di SD Gugus Kompyang Sujana Denpasar Barat adalah masih rendahnya daya serap dan pemahaman siswa khususnya dalam mata pelajaran matematika. Hal ini di dukung dari hasil wawancara dengan guru kelas tersebut dan diketahui pula dengan membaca hasil ulangan harian siswa di peroleh data bahwa nilai rata-rata ulangan harian siswa adalah 55, dimana nilai ini tidak memenuhi Standar Ketuntasan Minimum ( KKM) disekolah bersangkutan.

Adapun hal-hal yang mempengaruhi hasil belajar menurut Nasution, yaitu : (1) mutu pengajaran, (2) bakat untuk mempelajari sesuatu, (3) kesanggupan untuk memahami pengajaran, (4) ketekunan, (5) waktu yang tersedia untuk belajar. Dari hal-hal yang mempengaruhi hasil belajar di atas, tentunya hal yang sangat mempengaruhi hasil belajar siswa adalah mutu pengajaran yang diberikan oleh guru. Pada pembelajaran ini suasana kelas cendrung guru yang lebih aktif

sehingga siswa menjadi pasif. Ini tentunya merupakan hasil kondisi pembelajaraan yang menggunakan pembelajaran konvensional.

Meskipun demikian, kebanyakan guru menerapkan pembelajaran konvensional karena tidak memerlukan alat dan bahan praktek, cukup menjelaskan konsep-konsep yang ada pada buku ajar atau referensi lain. Sehingga hal itu membuat siswa kurang memahami dan memperhatikan saat guru menjelaskan dan hasil belajar yang diperoleh tidak sesuai dengan apa yang diinginkan. Untuk meningkatkan hasil belajar tentunya tidak terlepas dari upaya peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah.

Berlakunya kurikulum 2004 Berbasis Kompetensi yang telah di revisi melalui Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menghendaki bahwa konsep, teori, dan fakta tentang pembelajaran dapaat diaplikasikan dalam menyelesaikan masalah yang ada di kehidupan sehari-hari. Hal tersebut tidak jauh berbeda dari konsep dalam mempelajari matematika. Matematika sebagai salah satu cabang ilmu pengetahuan yang cukup peranannya dalam perkembangan dunia ilmu pengetahuan dan teknologi itu sendiri. Mengingat pentingnya peranan matematika, maka perlu adanya penguasaan yang baik terhadap bidang studi matematika, baik di tingkat dasar, pendidikan menengah maupun perguruan tinggi.

Cornellius (dalam Abdurrahman, 2009:253) mengatakan ada banyak alasan tentang perlunya siswa mempelajari matematika antara lain : 1) merupakan sarana berfikir yang jelas dan logis, 2)

(3)

sarana memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari, 3) sarana mengenal pola hubungan dan generalisasi pengalaman, 4) sarana untuk mengembangkan kreativitas dan, 5) sarana untuk meningkatkan kesadaran terhadap perkembangan budaya.

Berdasarkan kenyataan tersebut, agar pola yang digunakan dapat mengacu pada peningkatan mutu pendidikan dalam hasil belajar matematika, maka perlunya suatu model yang inovatif karena pembelajaran yang selama ini mereka terima hanyalah penonjolan tingkat hafalan dari sekian rentetan topik atau pokok bahasan.

Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran khususnya di sekolah dasar pada mata pelajaran matematika pada siswa kelas V SD adalah Model Pembelajaran berbasis masalah.

Trianto (2009:8) mengatakan “satu inovasi yang menarik mengiringi perubahan paradigma tersebut adalah ditemukan dan diterapkannya model-model pembelajaran inovatif-progresif yang dengan teapat dalam mengembangkan dan menggali pengetahuan siswa secara konkret dan mandiri”.

Model pembelajaran berbasis masalah merupakan salah satu model pembelajaran inovatif dan konstruktif yang diartikan sebagai suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam mengkonstruksikan wawasan pengetahuan dan implementasinya sehingga dapat meningkatkan aktivitas dan kreativitas siswa. Jaubar (2011) model pembelajaran berbasis masalah memusatkan pada masalah kehidupan yang bermakna bagi siswa, peran guru menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog.

Model pembelajaran berbasis masalah adalah salah satu model pembelajaran yang dicobakan dilaksanakan di sekolah, yang menjadikan masalah sebagai basis pembelajaran. “Guru tidak menyajikan konsep-konsep dalam pembelajaran tetapi konsep-konsep dicari oleh siswa sendiri melalui permasalahan yang diberikan” ( Sanjaya,2006:212). Permasalahan yang dijadikan bahan pengajaran adalah

masalah-masalah real siswa atau masalah yang ada di lingkungan siswa.

Dilihat dari aspek filosofi tentang fungsi sekolah sebagai wadah untuk mempersiapkan siswa agar dapat hidup di dalam masyarakat, maka pembelajaran berbasis masalah merupakan strategi pembelajaran yang penting untuk diterapkan, kkarena pada kenyataannya setiap manusia hidup selalu dihadapkan pada masalah, baik dari masalah paling sederhana sampai dengan masalah yang sangat rumit. Melalui model penerapan pembelajaran berbasis masalah dapat memberikan latihan dan kemampuan setiap individu untuk dapat memecahkan permasalahan yang dihadapi. Aktifitas pembelajaran diarahkan untuk penyelesaian masalah, dan masalah dijadikan kunci dalam proses pembelajaran, artinya tanpa masalah tidak terjadi proses pembelajaran.

Hal ini didukung oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Sugalayudhana (2006) menunjukkan bahwa model pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan ketrampilan berfikir kritis, ketrampilan proses sains dan penguasaan konsep sains yang lebih baik dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional. Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Kartiwi (2010) menunjukkan bahwa prestasi belajar matematika siswa yang mengikuti model pembelajaran berbasis masalah lebih baik dibandingkan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional.

Berdasarkan hal-hal yang telah diuraikan di atas, maka perlu diterapkan pembelajaran berbasis masalah dalam pembelajaran matematika melalui suatu penelitian dengan mengangkat judul “Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Masalah Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas V SD Gugus Kompyang Sujana Denpasar Barat Tahun Ajaran 2013/2014”.

Dalam penelitian ini, dapat diajukan permasalahan yaitu 1) Bagaimana hasil belajar matematika dengan model pembelajaran berbasis masalah pada siswa kelas V SD Gugus Kompyang Sujana Tahun Ajaran 2013/2014 ?, 2) Bagaimana hasil belajar matematika dengan model pembelajaran konvensional pada siswa

(4)

kelas V SD Gugus Kompyang Sujana Tahun Ajaran 2013/2014 ?, 3) Apakah ada perbedaan yang signifikan hasil belajar matematika antara siswa yang mengikuti pembelajaran menggunakan model peembelajaran berbasis masalah dan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional pada siswa kelas V SD Gugus Kompyang Sujana Tahun Ajaran 2013/2014 ?.

Adapun tujuan dari penelitian ini, yaitu 1) untuk mengetahui hasil belajar matematika dengan model pembelajaran berbasis masalah pada siswa kelas V SD Gugus Kompyang Sujana Tahun Ajaran 2013/2014, 2) untuk mengetahui hasil belajar matematika dengan model pembelajaran konvensional pada siswa kelas V SD Gugus Kompyang Sujana Tahun Ajaran 2013/2014, 3) untuk mengetahui perbedaan yang signifikan hasil belajar matematika antara siswa yang mengikuti pembelajaran menggunakan model pembelajaran berbasis masalah dan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional pada siswa kelas V SD Gugus Kompyang Sujana Tahun Ajaran 2013/2014.

METODE

Dalam penelitian ini digunakan jenis penelitian eksperimen semu (Quasi

Eksperimental Design), dikarenakan oleh

keterbatasan peneliti dalam mengontrol perilaku siswa yang dijadikan sebagai objek penelitian, terutama saat siswa berada di luar sekolah. Desain penelitian ini menggunakan Nonequivalent Control Group Design. Desain penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen dengan tes awal (pre test) berupa hasil ulangan umum dari sekolah dan tes akhir (post test).

Model pembelajaran yang digunakan sebagai perlakuan dalam hal ini dibedakan atas model pembelajaran berbasis masalah untuk kelompok eksperimen (kelompok yang mendapatkan perlakuan atau

treatment) dan model pembelajaran

konvensional untuk kelompok kontrol. Populasi adalah totalitas semua nilai yang mungkin, hasil menghitung atau pengukuran kuantitatif maupun kualitatif mengenai karakteristik tertentu dari semua anggota kumpulan yang lengkap dan jelas

yang ingin dipelajari sifar-sifatnya (Sudjana,2002). Pengertian senada juga mengatakan bahwa populasi adalah sekelompok individu yang memiliki ciri yang sama dan terhadap hasil penelitian dikenakan atau digeneralisasikan (Koyan, 2006). Dari beberapa pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa populasi adalah sekumpulan objek atau subjek yang jelas pada suatu wilayah yang memiliki ciri-ciri yang sama atau sejenis dan berkaitan dengan masalah peneliti. Populasi pada penelitian ini yaitu seluruh siswa kelas V SD Gugus Kompyang Sujana Denpasar Barat. SD Gugus Kompyang Sujana Denpasar Barat terdiri dari 7 SD yang tersebar di wilayah Padangsambian Denpasar Barat dengan jumlah populasi keseluruhan yaitu 683 siswa.

Sampel adalah bagian dari populasi (Arikunto dalam Riduwan,2004) dan sampel adalah sebagian kecil dari populasi yang karakteristiknya hendak diselidiki (Wiwaran,2001). Dalam pengambilan sampel penelitian, tidak dapat dilakukan pengacakan individu karena tidak bisa mengubah kelas yang terbentuk sebelumnya. Kelas dipilih sebagaimana telah terbentuk tanpa adanya campur tangan peneliti dan tidak dilakukan pengacakan individu, dengan tujuan untuk mencegah subjek mengetahui dirinya dilibatkan dalam penelitian sehingga penelitian ini benar-benar menggambarkan pengaruh perlakuan yang diberikan. Peneliti memberikan hak yang sama kepada setiap subjek untuk memperoleh kesempatan dipilih menjadi sampel (Arikunto,2010:177). Pemilihan sampel pada penelitian dilakukan dengan menggunakan teknik random sampling atau teknik acak (cara tradisional).

Pada teknik acak dalam pemilihan sampel, yang dirandom adalah kelas yaitu sebanyak 16 kelas V yang ada pada 7 SD di Gugus Kompyang Sujana Denpasar Barat. Random dilakukan sebanyak dua kali. Pengundian yang pertama yaitu untuk menentukan 2 kelas dari 16 kelas untuk diuji kesetaraannya secara empirik yaitu dengan uji-t. Pengundian yang kedua untuk menentukan kelas eksperimen dan kelas kontrol terhadap 2 kelas yang telah diuji dan dinyatakan setara. Untuk menguji kesetaraan diantara kedua sampel tersebut,

(5)

terlebih dulu dilakukan analisis uji prasyarat terhadap hasil belajar matematika siswa kelas V yang diambil berdasarkan nilai ulangan umum siswa (digunakan sebagai pre-test). Setelah menguji nilai pre

test matematika siswa kelas V yang

diperoleh dari dua kelas, yaitu kelas VC dan VD SD Negeri 9 Padangsambian dengan menggunakan uji normalitas dan uji homogenitas. Terbukti bahwa nilai pre test siswa kelas VC dan VD di SD Negeri 9 Padangsambian berdistribusi normal dan homogen.

Setelah diperoleh data dari kedua kelompok normal dan homogen dilanjutkan dengan menguji kesetaraan kedua kelompok tersebut dengan menggunakan uji-t. Dari pengujian kesetaraan yang telah dilakukan terhadap hasil pre test ke dua kelompok, diperoleh nilai thitung sebesar 1,11 dengan ttabel sebesar 2,00 pada taraf signifikansi 5 % dengan dk = 78. Ini berarti thitung < ttabel, sehingga kedua kelompok dinyatakan setara. Hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa kemampuan awal dari kelas tidak berbeda secara signifikan.

Setelah kedua kelompok tersebut setara, selanjutnya akan dilakukan pengundian untuk menentukan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Dari pengundian tersebut diperoleh siswa kelas VC SD Negeri 9 Padangsambian berjumlah 40 orang sebagai kelas eksperimen yang menerapkan model pembelajaran berbasis masalah, dan siswa kelas VD SD Negeri 9 Padangsambian berjumlah 40 sebagai kelas kontrol yang menerapkan pembelajaran konvensional.

Selain itu, penelitian ini juga melibatkan dua variabel, yaitu variabel bebas dan vaariabel terikat. Variabel bebas atau

Independence variable merupakan variabel

yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab timbulnya variabel terikat ( Sugiono,2010). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah model pembelajaran berbasis masalah yang diterapkan pada kelompok eksperimen dan model pembelajaran konvensional yang dikenakan pada kelompok kontrol. Dan variabel terikat atau Dependen Variable merupakan variabel yang terjadi akibat dikenainya perlakuan pada variabel bebas ( Sugiono,2010 ). Variabel terikat pada

penelitian ini adalah hasil belajar matematika pada siswa kelas V Gugus Kompyang Sujana Denpasar Barat Tahun Ajaran 2013/2014. Dalam penelitian ini terdapat definisi operasional variabel, yaitu 1) model pembelajaran berbasis masalah. Model pembelajaran berbasis masalah adalah model pembelajaran yang berpusat pada siswa, sedangkan guru berperan sebagai fasilitator dan moderator, yang mengharuskan siswa melakukan penyelidikan autentik untuk mencari penyelesaian nyata terhadap masalah nyata serta memberikan kesempatan bagi siswa untuk menguji ide mereka dengan berbagi teori dengan eksperimen. 2). Hasil belajar matematika adalah perubahan tingkah laku pada diri siswa akibat dari proses belajar dapat diamati dan diukur menggunakan tes hasil belajar untuk menyatakan hasil belajar dalam bentuk nilai atau angka serta dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal.

Dalam penelitian ini data yang dikumpulkan adalah data tentang hasil belajar matematika dari siswa. Untuk mengumpulkan data tersebut digunakan tes untuk mengukur hasil belajar. Tes merupakan alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana, dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan (Arikunto,2006:53).

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data hasil belajar matematika pada siswa kelas V di SD Gugus Kompyang Sujana Denpasar Barat. Maka dari itu untuk mengumpulkan data tersebut digunakan teknik tes. Tes dilakukan dengan tes obyektif untuk menilai ranah kognitif siswa yang dianalisis pada tahap pengakhiran eksperimen.

Dalam penelitian ini tes yang dipergunakan adalah tes hasil belajar matematika bentuk obyektif (objective test) yaitu tes objektif pilihan ganda biasa atau disebut dengan multiple choice test yang disusun berdasarkan kisi-kisi.

Berdasarkan hasil uji instrumen terhadap 40 soal yang telah dilakukan, yaitu uji validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran dan daya pembeda diperoleh 30 soal yang digunakan sebagai soal post-test.

(6)

Uji validitas sering diartikan dengan kesahihan. Suatu alat ukur disebut memiliki validitas bilamana alat ukur tersebut isinya layak mengukur objek yang seharusnya diukur dan sesuai kriteria tertentu ( Thoha,2003 ). Surapranata ( 2004 ) validitas adalah suatu konsep yang berkaitan dengan sejauh mana tes tes telah mengukur apa yang seharusnya diukur. Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen (Arikunto,2006 ). Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa validitas merupakan alat ukur yang digunakan untuk mengukur kesahihan suatu instrumen.

Uji reliabilitas berhubungan dengan kepercayaan dan keajegan hasiltes (Arikunto,2004). Reliabilitas diartikan dengan keterandalan, suatu tes memiliki keterandalan bilamana tes tersebut dipakai mengukur berulang-ulang hasilnya sama (Thoha,2003). Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa reliabilitas adalah suatu alat evaluasi dimaksudkan sebagai alat yang memberikan hasil yang relatif sama jika pengukurannya diberikan pada subjek yang sama meskipun dilakukan oleh orang yang berbeda.

Daya pembeda butir soal menunjukkan kemampuan suatu soal untuk membedakan siswa yang tergolong mampu dengan siswa yang tergolong tidak mampu. Derajat pembeda suatu butir soal dinyatakan dengan indeks diskriminan yang bernilai -1,00 sampai dengan -1,00. Apabila indeks diskriminan makin mendekati nilai 1,00, ini berarti daya pembeda soal semakin baik, begitu juga sebaliknya jika indeks diskriminasi suatu soal mendekati nilai 0,00 maka daya pembeda soal tersebut sangaat jelek. Indeks diskriminasi butir soal bernilai negatif ( antara 0,00 sampai -1,00 ) ini berarti kelompok testi kurang mampu banyak yang menjawab benar, sebaliknya banyak testi yang pintar menjawab salah. Sedangkan jika suatu butir soal memiliki indeks diskriminasi 0,00 berarti bahwa soal tersebut tidak memiliki daya pembeda, artinya baik siswa pandai maupun yang kurang mampu menjawab benar soal tersebut.

Yang digunakan untuk menyatakan tingkat kesukaran suatu butir soal

dinyatakan dengan bilangan yang disebut dengan indeks kesukaran. Indeks kesukaran berkisar antara 0,00 sampai dengan 1,00. Soal dengan indeks kesukaran 0,00 berarti butir soal tersebut terlalu sukar, sebaliknya indeks kesukaran soal mendekati 1,00 berarti soal tersebut terlalu mudah.

Data hasil belajar yang diperoleh dari hasil post test kemudian dianalisis dengan uji-t untuk uji hipotesis, namun sebelum uji hipotesis dilakukan uji prasyarat analisis data, yang meliputi uji normalitas dan uji homogenitas varians. Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah sebaran frekuensi nilai pada setiap variabel berdistribusi normal atau tidak. Data yang baik adalah data yang mempunyai pola distribusi normal yaitu data tersebut tidak melenceng ke kiri atau melenceng ke kanan. Menurut Santosa (2002,34) menyatakan uji normalitas pada multi variant sebenarnya sangat kompleks, karena harus dilakukan pada semua variabel secara bersama-sama. Pengujian homogenitas dimaksudkan untuk menyakinkan bahwa perbedaan yang terjadi pada hipotesis benar-benar terjadi akibat adanya perbedaan antar kelompok, bukan sebagai akibat perbedaan yang terjadi dalam kelompok. Hal ini diperkuat dengan adanya pendapat dari Candiasa (2010) yang menyatakan bahwa uji homogenitas pada analisis ini dimaksudkan untuk menguji bahwa kelompok yang dibandingkan memiliki varians yang sama. Dengan demikian, perbedaan yang terjadi dalam uji hipotesis benar-benar berasal dari perbedaan antar kelompok, bukan akibat dari perbedaan yang terjadi di dalam kelompok. Setelah uji prasyarat dan data hasil belajar yang diperoleh berdistribusi normal dan homogen dilanjutkan dengan uji hipotesis yaitu dengan menggunakan analisis data yaitu uji-t.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Adapun deskripsi data hasil penelitian dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrol adalah sebagai beikut.

Kelas VC di SD Negeri 9 Padangsambian yang menjadi kelompok eksperimen menerapkan model

(7)

pembelajaran berbasis masalah. Data hasil belajar matematika dari menjawab soal post

test terdiri dari nilai rata-rata 72,00 dengan

nilai tertinggi yaitu 90 dan nilai terendah yaitu 50.

Kelas VD di SD Negeri 9 Padangsambian yang menjadi kelompok kontrol menerapkan pembelajaran konvensional. Data hasil belajar matematika dari menjawab soal post test terdiri dari nilai rata-rata 62,13 dengan nilai tertinggi yaitu 90 dan nilai terendah yaitu 40.

Setelah mendapatkan data hasil belajar tersebut selanjutnya data tersebut diuji prasyarat yaitu uji normalitas dan uji hoomogenitas sebelum dilanjutkan dianalisis dengan uji t.

Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui berdistribusi normal atau tidaknya sebaran data nilai hasil belajar pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

Langkah-langkah dalam menguji normalitas data hasil belajar kelompok eksperimen yaitu menghitung nilai rata-rata (Mean) dari kelompok eksperimen yaitu 72,00, menghitung standar deviasi (s2) dari kelompok eksperimen adalah 12,29, menentukan kelas interval yang dapat ditentukan melalui distribusi kurva normal yang dibagi menjadi 6 bagian, menentukan frekuensi harapan (fh) yang dapat ditentukan melalui distribusi kurva normal yang dibagi menjadi enam bagian seperti halnya menentukan kelas interval, menentukan Tabel Chi-KUadrat dengan mengetahui kelas interval, frekuensi observasi (fo), dan frekuensi harapan (fh) dari data nilai post test matematika siswa kelas VC kelompok eksperimen, maka dapat dibuat tabel kerja Chi-Kuadrat, dan membandingkan dengan .

Dari tabel kerja diperoleh

, sedangkan untuk taraf signifikansi 5 % ( = 0,05) dan derajat kebebasan (dk) = 5 diperoleh = 11,07, karena maka H0 diterima (gagal ditolak). Ini berarti sebaran data hasil belajar kelompok eksperimen berdistribusi Normal.

Sedangkan untuk langkah-langkah dalam menguji normalitas data hasil belajar

kelompok kontrol yaitu menghitung nilai rata-rata (Mean) dari kelompok kontrol yaitu 62,13, menghitung standar deviasi (s2) dari kelompok kontrol adalah 15,77, menentukan kelas interval yang dapat ditentukan melalui distribusi kurva normal yang dibagi menjadi 6 bagian, menentukan frekuensi harapan (fh) yang dapat ditentukan melalui distribusi kurva normal yang dibagi menjadi enam bagian seperti halnya menentukan kelas interval, menentukan Tabel Chi-KUadrat dengan mengetahui kelas interval, frekuensi observasi (fo), dan frekuensi harapan (fh) dari data nilai post test matematika siswa kelompok kontrol, maka dapat dibuat tabel kerja Chi-Kuadrat, dan membandingkan

dengan .

Dari tabel kerja diperoleh

, sedangkan untuk taraf signifikansi 5 % ( = 0,05) dan derajat kebebasan (dk) = 5 diperoleh = 11,07, karena maka H0 diterima (gagal ditolak). Ini berarti sebaran data hasil belajar kelompok kontrol berdistribusi Normal.

Dari penghitungan tersebut dapat diketahui bahwa data hasil belajar kedua kelompok, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol berdistribusi normal maka analisis selanjutnya menggunakan uji-F untuk uji homogenitas.

Uji homogenitas varians dilakukan dengan menggunakan uji F, dengan kriteria data homogen jika Fhitung < Ftabel. Uji homogenitas dilakukan terhadap varians kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

Langkah-langkah yang digunakan dalam uji homogenitas yaitu menghitung varians terbesar dan varians terkecil, menghitung Nilai F, dan membandingkan Fhitung dengan Ftabel. Dari hasil penghitungan nilai F diperoleh Fhitung = 1,65, nilai ini kemudian dibandingkan dengan nilai Ftabel. Derajat kebebasan pembilang 40 – 1 = 39 dan derajat kebebasan penyebut 40 – 1 = 39 dengan taraf signifikansi 5 %, maka diperoleh Ftabel = 1,76. Nilai Fhitung = 1,65 < Ftabel =1,76, ini berarti data hasil belajar kelompok eksperimen dan kelompok kontrol Homogen.

(8)

Hasil uji normalitas dan homogenitas varians, diketahui bahwa sampel berdistribusi normal dan homogen maka untuk menguji hipotesisnya digunakan uji-t dengan taraf signifikansi 5%. Langkah-langkah menguji hipotesis yaitu merumuskan hipotesis penelitian

Adapun hipotesis yang diuji dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

Ha: µ1 ≠ µ2 = Terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar matematika antara siswa yang mengikuti pembelajaran menggunakan model pembelajaran berbasis masalah dengan siswa yang mengikuti pembelajaran menggunakan pembelajaran konvensional pada siswa kelas V di SD Gugus Kompyang Sujana Denpasar Tahun Ajaran 2013/2014.

H0: µ1 = µ2 = Tidak terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar matematika antara siswa yang mengikuti pembelajaran menggunakan model pembelajaran

berbasis masalah dan siswa yang mengikuti pembelajaran menggunakan pembelajaran konvensional pada siswa kelas V SD Gugus Kompyang Sujana Denpasar Tahun Ajaran 2013/2014.

Menentukan kriteria pengujian, jika thitung ttabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima, sebalikanya jika thitung < ttabel, maka Ho diterima (gagal ditolak) dan Ha ditolak dan yang terakhir membandingkan nilai thitung dengan ttabel.

Dari hasil perhitungan diperoleh thitung sebesar 3,17, sedangkan ttabel pada taraf signifikansi 5 % dan dk = n1 + n2 – 2 = 40 + 40 – 2 = 78, adalah 2,00. Oleh karena itu nilai thitung > ttabel, maka maka H0 ditolak dan Ha diterima.

Hasil perhitungan uji-t disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Uji Hipotesis

Pembelajaran berbasis masalah menekankan pemberian masalah kepada siswa agar siswa dapat membangun sendiri pengetahuannya. Pada kelas eksperimen diterapkan model pembelajaran berbasis masalah yang dimulai dari apersepsi, guru menyampaikan suatu permasalahan untuk dipecahkan oleh siswa.

Pada tahap eksplorasi, siswa mencari solusi atau jawaban dari permasalahan yang disampaikan oleh guru dengan membaca berbagai bukusumber. Pada tahap eksplorasi ini, guru berperan sebagai fasilitator yang memfasilitasi siswa dalam menggali berbagai informasi untuk mengembangkan pengetahuannya.

Dan di tahap konfirmasi, guru bersama siswa mengkonfirmasi jawaban hasil eksplorasi dan elaborasi dengan menyimpulkan pemecahan dari masalah yang disampaikan guru. Proses pembelajaran demikianlah yang

menunjukkan hasil belajar dilihat dari nilai rata-rata siswa pada kelompok eksperimen lebih besar dari kelompok kontrol yang menerapkan pembelajaran konvensional.

Pada pembelajaran konvensional, siswa cendrung pasif karena pembelajaran berpusat pada guru. Guru lebih banyak memberikan penjelasan, dan siswa mendengarkan ataupun mencatat materi yang disampaikan guru, sehingga pengetahuan siswa terbatas sesuai penjelasan dari guru saja.

Berdasarkan analisis data, nilai rata-rata kelas yang mendapat perlakuan berupa penerapan model pembelajaran berbasis masalah (kelompok eksperimen) lebih besar dari nilai rata-rata kelas yang menerapkan pembelajaran konvensional yaitu 72,00 untuk kelompok eksperimen dan 62,13 untuk kelompok kontrol. Dengan demikian terdapat pengaruh hasil belajar matematika antara siswa yang mengikuti Kelompok Nilai rata-rata

( )

dk

(n+n-2) Varians thit ttabel Keterangan Eksperimen 72,00

78 248,57 3,17 2,00 H₀ Ditolak dan Ha diterima

(9)

pembelajaran menggunakan model pembelajaran berbasis masalah dengan siswa yang mengikuti pembelajaran menggunakan pembelajaran konvensional pada siswa kelas V SD Gugus Kompyang Sujana Denpasar Barat Tahun Ajaran 2013/2014.

Dalam analisis data menggunakan uji-t, diperoleh thitung = 3,17 sedangkan ttabel pada taraf signifikansi 5 % dan dk = 78, adalah 2,00. Oleh karena itu nilai thitung > ttabel , maka H0 ditolak dan Ha diterima. Hal ini mendukung hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar matematika antara siswa yang mengikuti pembelajaran menggunakan model pembelajaran berbasis masalah dan siswa yang mengikuti pembelajaran menggunakan pembelajaran konvensional pada siswa kelas V SD Gugus Kompyang Sujana Denpasar Tahun Ajaran 2013/2014.

Hal tersebut dikarenakan dalam penerapan model pembelajaran berbasis masalah yang selanjutnya sebagai suatu model pembelajaran yang diawali dengan pemberian masalah kepada siswa di mana masalah tersebut dialami atau merupakan pengalaman sehari-hari siswa. Selanjutnya siswa menyelesaikan masalah tersebut untuk menemukan pengetahuan baru. Secaraa garis besar, pembelajaran berbasis masalah terdiri dari kegiatan menyajikan kepada siswa suatu situasi masalah yang autentik dan bermakna serta memberikan kemudahankepada siswa. Pembelajaran berbasis masalah dibuat dalam bentuk pembelajaran yang diawali dengan sebuah masalah dan diakhiri dengan penyajian dan analisis kerja siswa. Dalam model pembelajaran berbasis masalah, guru lebih berperan sebagai pembimbing dan fasilitator, sehingga siswa bisa belajar berfikir dan memecahkan masalah mereka sendiri.

Jadi pembelajaran berbasis masalah adalah model pembelajaran yang berpusat pada siswa, sedangkan guru berperan sebagai fasilitator dan moderator, yang mengharuskan siswa melakukan penyelidikan autentik untuk mencari penyelesaian nyata terhadap masalah nyata serta memberikan kesempatan bagi siswa untuk menguji ide mereka dengan berbagai teori dengan eksperimen.

SIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan analisis data dan pembahasan sebelumnya, dapat disimpulkan sebagai berikut.

Dari hasil analisis data uji-t pada taraf signifikansi 5 % dan dk = 78, diperoleh thitung = 3,17, sedangkan ttabel = 2,00.

Hal ini berarti, thit lebih dari ttabel (thitung> ttabel), sehingga H0 ditolak dan Ha diterima.

Berarti dalam penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar matematika antara siswa yang mengikuti pembelajaran menggunakan model pembelajaran berbasis masalah dan siswa yang mengikuti pembelajaran mengunakan pembelajaran konvensional pada siswa kelas V di SD Gugus Kompyang Sujana Denpasar Tahun Ajaran 2013 / 2014.

Dari nilai rata-rata, kelas yang menerapkan model pembelajaran berbasis masalah (kelompok eksperimen) lebih besar dari nilai rata-rata kelas yang menerapkan pembelajaran konvensional yaitu 72,00 untuk kelompok eksperimen dan 62,13 untuk kelompok kontrol.

Hal ini berarti bahwa model pembelajaran berbasis masalah berpengaruh terhadap hasil belajar matematika siswa kelas V di SD Gugus Kompyang Sujana Denpasar Tahun Ajaran 2013 / 2014.

Saran yang dapat disampaikan berdasarkan penelitian yang telah dilakukan adalah sebagai berikut.

Saran kepada guru, guru hendaknya menggunakan model pembelajaran berbasis masalah dalam kegiatan pembelajaran matematika karena penerapan model pembelajaran berbasis masalah memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan atau membangun sendiri pengetahuannya sehingga memberikan hasil belajar yang maksimal.

Saran kepada siswa, siswa diharapkan lebih aktif menggali pengetahuan sendiri sehingga pengetahuan yang didapat sendiri akan ingat lebih lama, hendaknya lebih kreatif di dalam kelas dalam kegiatan pembelajaran berlangsung, mengemukakan ide-ide kreatif dalam bentuk pendapat ataupun pertanyaan, dan siswa hendaknya tidak malu bertanya apabilaa menemukan

(10)

kesulitan pada saat pembelajaran, lebih baik bertanya kepada guru ataupun kepada teman sebayanya.

Saran kepada peneliti lain, materi pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini terbatas hanya pada pokok bahasan materi matematika di semester 2 saja yaitu bangun ruang dan bangun datar, sehingga dapat dikatakan bahwa hasil-hasil penelitian terbatas hanya pada materi tersebut. Untuk mengetahui kemungkinan hasil yang berbeda pada pokok bahasan lainnya, peneliti lain selanjutnya untuk melakukan penelitian yang sejenis pada pokok bahasan yang lain.

Saran kepada sekolah, yang dalam hal ini berperan kepala sekolah untuk mengambil suatu kebijakan dengan menerapkan berbagai model pembelajaran inovatif yang sesuai dengan mata pelajaran di sekolah dasar, salah satunya yaitu menerapkan model pembelajaran berbasis masalah, sehingga hasil belajar siswa menjadi lebih baik, guru menjadi lebih kreatif dan citra sekolah menjadi baik.

Saran kepada instansi terkait, untuk memberikan sosialisasi atau merekomendasikan terkait model-model pembelajaran inovatif sehingga keberhasilan pencapaian target kurikulum dapat dilaksanakan.

DAFTAR RUJUKAN

Arikunto, Suharsimi. 2009. Dasar-dasar

Evaluasi Penelitian. Jakarta:

Bumi Aksara.

Abdurrahman, Mulyono. 2009. Pendidikan

Bagi Anak Berkesulitan Belajar.

Jakarta: Rineka Cipta

Arikunto, Suharsimi. 2006. Dasar-dasar

Evaluasi Penelitian ( Edisi Revisi ).

Jakarta. Bumi Aksara.

Candiasa, I M. 2010. Statistik Multivaliar

disertai Aplikasi dengan SPSS.

Singaraja. Unit Penerbitan Universitas Pendidikan Ganesa. Dimyati, dan Mudjiono. 2009. Belajar dan

Pembelajaran. Jakarta. Rineka

Cipta.

Depdiknas. 2006. KurikulumTingkat

Satuan Pendidikan (KTSP) untuk SD/MI. Jakarta: Depdiknas.

Hudoyo, Herman. 1979. Pengembangan

Kurikulum Matematika dan Pelaksanaannya di depan kelas.

Surabaya: Usaha Nasional. Jauhar, Mohammad. 2011. Implementasi

Pakem Dari Behavioristik Sampai Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi

Pustaka.

Khabiba, S. 2006. Pengembangan Model

Pembelajaran Matematika dengan Soal Terbuka untuk Meningkatkan Kreativitas Siswa Sekolah Dasar Disertasi. Surabaya: Program

Pascasarjana Unesa

Koyan, I Wayan. 2004. Konsep Dasar Dan

Teknik Evaluasi Hasil Belajar.

Singaraja: Institut Keguruan dan Ilmu Pendiddikan Negeri Singaraja. Nasution . S. 1982. Berbagi Pendekatan

Dalam Proses Belajar & Mengajar.

Bandung. Bumi Aksara

Riduwan. 2004. Belajar Mudah Penelitian

Untuk Guru Karyawan Dan Peneliti Pemula. Bandung: Alfabeta.

Sanjaya, Wina. 2006. Strategi

Pembelajaran Berorientas Standar Proses Pendidikan. Jakarta:

Rineka Cipta.

Santyasa, I Wayan. 1999. Model Problem

Solving dan Reasoning Sebagai Alternativ Pembelajaran Inovatif. (

makalah disajikan dalam konvensi nasional Pendidikan Indonesia V ). Surabaya, 5-9 Oktober 2004. Sudjana. 2002. Metode Statistika.

Bandung; Tarsito.

Sudjana. Nana. Dan Ahmad Rifadi. 1998. Dasar-dasar Proses

Belajar Mengajar. Bandung:

Sinar Baru

Surapranata, Sumarna. 2004. Analisis ,

Validitas , Realibilitas , dan Interpretasi Hasil Tes. Jakarta:

PT. Remaja Rosedakarya.

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Bisnis. Bandung: CV Alfabeta.

(11)

Thoha. Chabib. 2003. Teknik Evaluasi

Pendidikan. Semarang: PT Raja

Kencana Pranada Media Group. Trianto. 2009. Mendesain Model

Pembelajaran Inovatif- Progresif.

Surabaya: Kencana Pranada Group.

Wirawan. 2001. Statistik 1. Denpasar: Kerara Mas

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya perbedaan yang signifikan pada hasil belajar kognitif IPA antara kelompok siswa yang belajar mengikuti model

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan yang signifikan kemampuan berfikir kreatif belajar PKn antara siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan yang signifikan hasil belajar matematika antara siswa yang belajar melalui model pembelajaran kooperatif

Dengan demikian, dapat diinterpretasikan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar IPA antara kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran dengan

Post-test diberikan setelah menerapkan model pembelajaran Think Pair Share (TPS) untuk mengetahui prestasi belajar siswa sebelum dan sesudah diberikan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan yang signifikan hasil belajar IPA antara siswa yang mengikuti pembelajaran yang menggunakan model

Maka, terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar IPS kelompok siswa yang mengikuti model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament)

analisis seperti yang telah diuraikan, dapat dinyatakan bahwa kemampuan penyelesaian soal cerita matematika pada siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran