• Tidak ada hasil yang ditemukan

Determinan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan oleh Peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Puskesmas Desa Binjai Kota Medan Tahun 2016

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Determinan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan oleh Peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Puskesmas Desa Binjai Kota Medan Tahun 2016"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

2.1 Sejarah Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)

Untuk mewujudkan komitmen global sebagaimana amanat resolusi

WHA ke-58 tahun 2005 di Jenewa yang menginginkan setiap negara

mengembangkan Universal Health Coverage (UHC) bagi seluruh penduduk, maka pemerintah bertanggung jawab atas pelaksanaan jaminan kesehatan

masyarakat melalui program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Usaha ke arah

itu sesungguhnya telah dirintis pemerintah dengan menyelenggarakan beberapa

bentuk jaminan sosial di bidang kesehatan, diantaranya adalah melalui PT Askes

dan PT Jamsostek yang melayani antara lain pegawai negeri sipil, penerima

pensiun, veteran, dan pegawai swasta.Untuk masyarakat miskin dan tidak mampu,

pemerintah pusat memberikanjaminan melalui skema Jaminan Kesehatan

Masyarakat (Jamkesmas) dan pemerintah daerah dengan Jaminan Kesehatan

Daerah (Jamkesda).Namun demikian, skema-skema tersebut masih

terfragmentasi, terbagi-bagi sehingga biaya kesehatan dan mutu pelayanan

menjadi sulit terkendali.

Untuk mengatasi hal tersebut, pada tahun 2004 dikeluarkan

Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN).

Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 ini mengamanatkan bahwa program

jaminan sosial wajib bagi seluruh penduduk termasuk program Jaminan

Kesehatan melalui suatu badan penyelenggara jaminan sosial. Badan

(2)

Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) yang terdiri dari

BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. Untuk program Jaminan Kesehatan

yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan, implementasinya telah dimulai sejak

1 Januari 2014. Program tersebut selanjutnya disebut sebagai program JKN.

Pada tahap awal kepersertaan program JKN yang dimulai 1 Januari 2014

terdiri daripeserta PBI JKN (pengalihan dari program Jamkesmas), anggota TNI

dan PNS di lingkunganKementerian Pertahanan dan anggota keluarganya,

anggota POLRI dan PNS di lingkunganPOLRI, dan anggota keluarganya, peserta

asuransi kesehatan sosial dari PT. Askes (Persero)beserta anggota keluarganya,

peserta Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) dari PT. (Persero)Jamsostek dan

anggota keluarganya, peserta Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) yang

telahberintegrasi dan peserta mandiri (pekerja bukan penerima upah dan pekerja

penerima upah).Tahap selanjutnya sampai dengan tahun 2019 seluruh penduduk

menjadi peserta JKN (Kemenkes, 2015).

2.2 Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)

2.2.1 Pengertian JKN

Jaminan Kesehatan Nasional adalah jaminan perlindungan kesehatan agar

peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam

memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yang diberikan kepada setiap orang yang

telah membayar iuran/iurannya dibayar oleh pemerintah (Kemenkes RI, 2013).

Program Jaminan Kesehatan Nasional adalah suatu program pemerintah

dan masyarakat/rakyat dengan tujuan memberikan kepastian jaminan kesehatan

(3)

hidup sehat, produktif, dan sejahtera. Tujuan penyelenggaran JKN ini adalah

untuk memberikan manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan akan

pemenuhan kebutuhan dasar kesehatan (UU No. 40 Tahun 2004 Pasal 19 ayat 2).

2.2.2 Prinsip JKN

Dalam UU No. 40 Tahun 2004 tentang SJSN pada Pasal 19 ayat 1 dan

bagian penjelasan, JKN diselenggarakan secara nasional berdasarkan prinsip

asuransi sosial dan prinsip ekuitas.

1. Prinsip asuransi sosial meliputi:

a. Kegotongroyongan antara peserta kaya dan miskin, yang sehat dan sakit,

yang tua dan muda, serta beresiko tinggi dan rendah;

b. Iuran berdasarkan persentase upah/penghasilan untuk peserta penerima upah

atau suatu jumlah nominal tertentu untuk peserta yang tidak menerima upah;

c. Dikelola dengan prinsip nirlaba, artinya pengelolan dana digunakan

sebesar-besarnya untuk kepentingan peserta dan setiap surplus akan disimpan

sebagai dana cadangan dan untuk peningkatan manfaat dan kualitas layanan.

2. Prinsip ekuitas yaitu kesamaan dalam memperoleh pelayanan sesuai dengan

kebutuhan medis yang tidak terkait dengan besaran iuran yang telah

dibayarkan.

2.2.3 Manfaat JKN

Dalam Buku Pegangan Sosialisasi Jaminan Kesehatan Nasional Tahun

2013, manfaat JKN terdiri atas 2 (dua) jenis, yaitu manfaat medis berupa

pelayanan kesehatan dan manfaat non medis meliputi akomodasi dan ambulans.

Ambulans hanya diberikan diberikan untuk pasien rujukan dari Fasilitas

(4)

Manfaat Jaminan Kesehatan Nasional mencakup pelayanan promotif,

preventif, kuratif, dan rehabilitatif termasuk pelayanan obat dan bahan medis

habis pakai sesuai dengan kebutuhan medis. Manfaat pelayanan promotif dan

preventif meliputi pemberian pelayanan:

a. Penyuluhan kesehatan perseorangan, meliputi paling sedikit penyuluhan

mengenai pengelolaan faktor risiko penyakit dan perilaku hidup bersih dan

sehat

b. Imunisasi dasar, meliputi Baccile Calmett Guerin (BCG), Difteri Pertusis

tetanus dan Hepatitis B (DPTHB), Polio, dan Campak.

c. Keluarga berencana, meliputi konseling, kontrasepsi dasar, vasektomi, dan

tubektomi bekerja sama dengan lembaga yang membidangi keluarga

berencana. Vaksin untuk imunisasi dasar dan alat kontrasepsi dasar

disediakan oleh Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah.

d. Skrining kesehatan, diberikan secara selektif yang ditujukan untuk

mendeteksi risiko penyakit dan mencegah dampak lanjutan dari risiko

penyakit tertentu.

Meskipun manfaat yang dijamin dalam JKN bersifat komprehensif,

masih ada manfaat yang tidak dijamin meliputi:

a. Tidak sesuai prosedur;

b. Pelayanan di luar Fasilitas Kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS;

c. Pelayanan bertujuan kosmetik;

d. General checkup, pengobatan alternatif;

e. Pengobatan untuk mendapatkan keturunan, pengobatan impotensi;

(5)

g. Pasien Bunuh Diri/Penyakit yang timbul akibat kesengajaan untuk

menyiksa diri sendiri/Bunuh Diri/Narkoba.

2.2.4 Pelayanan JKN

Pelayanan kesehatan yang dimaksud disini sesuai dengan Buku

Pegangan Sosialisasi JKN dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional Tahun 2013

sebagai berikut.

a. Jenis Pelayanan: Ada 2 (dua) jenis pelayanan yang akan diperoleh oleh

peserta JKN, yaitu berupa pelayanan kesehatan (manfaat medis) serta

akomodasi dan ambulans (manfaat non medis).

b. Prosedur Pelayanan: Peserta yang memerlukan pelayanan kesehatan

pertama-tama harus memperoleh pelayanan kesehatan pada fasilitas

kesehatan tingkat pertama. Bila peserta memerlukan pelayanan kesehatan

tingkat lanjutan, maka hal itu harus dilakukan melalui rujukan oleh

fasilitas kesehatan tingkat pertama, kecuali dalam keadaan

kegawatdaruratan medis.

c. Kompensasi Pelayanan: Bila di suatu daerah belum tersedia fasilitas

kesehatan yang memenuhi syarat guna memenuhi kebutuhan medis

sejumlah peserta, BPJS Kesehatan wajib memberikan kompensasi, yang

dapat berupa:penggantian uang tunai, pengiriman tenaga kesehatan atau

penyediaan fasilitas kesehatan tertentu. Penggantian uang tunai hanya

digunakan untuk biaya pelayanan kesehatan dan transportasi.

d. Penyelenggara Pelayanan Kesehatan: Penyelenggara pelayanan kesehatan

meliputi semua fasilitas kesehatan yang menjalin kerja sama dengan BPJS

(6)

dan swasta yang memenuhi persyaratan melalui proses kredensialing dan

rekredensialing.

2.2.5 Pembiayaan JKN

1. Tarif

Pelaksanaan tarif pelayanan program Jaminan Kesehatan Nasional

didasarkan pada tarif Indonesian-Case Based Groups atau yang disebut Tarif

INA-CBG’s dimana besarab pembayaran klaim oleh BPJS Kesehatan kepada fasilitas

kesehatan tingkat lanjutan atas paket layanan yang didasarkan kepada

pengelompokan diagnosis penyakit (Kemenkes RI, 2013).

Tarif pelayanan kesehatan pada fasilitas kesehatan tingkat pertama

meliputi:

a) Tarif kapitasi yaitu rentang nilai yang besarnya untuk setiap fasilitas

kesehatan tingkat pertama ditetapkan berdasarkan seleksi dan kredensial

yang dilakukan oleh BPJS Kesehatan sesuai dengan peraturan

perundang-undangan. Tarif kapitasi diberlakukan bagi fasilitas kesehatan tingkat

pertama yang melaksanakan pelayanan kesehatan komprehensif kepada

peserta program jaminan kesehatan berupa rawat jalan tingkat pertama.

b) Tarif non kapitasi yaitu nilai besaran yang sama bagi seluruh fasilitas

kesehatan tingkat pertama yang melaksanakan pelayanan kesehatan

kepada peserta program jaminan kesehatan berupa rawat inap tingkat

(7)

2. Iuran

Iuran Jaminan Kesehatan adalah sejumlah uang yang dibayarkan secara

teratur oleh Peserta, Pemberi Kerja, dan/atau Pemerintah untuk program Jaminan

Kesehatan (pasal 16, Perpres No. 12/2013 tentang Jaminan Kesehatan). Dalam

program JKN ini Iuran Peserta PBI dibayar oleh Pemerintah, Peserta Pekerja

Bukan Penerima Upah dan Peserta Bukan Pekerja iurannya dibayar oleh Peserta

yang bersangkutan.Besarnya Iuran Jaminan Kesehatan Nasional ditetapkan

melalui Peraturan Presiden dan ditinjau ulang secara berkala sesuai dengan

perkembangan sosial, ekonomi, dan kebutuhan dasar hidup yang layak.

Setiap Peserta wajib membayar iuran yang besarnya ditetapkan

berdasarkan persentase dari upah (untuk pekerja penerima upah) atau suatu

jumlah nominal tertentu (bukan penerima upah dan PBI).Setiap Pemberi Kerja

wajib memungut iuran dari pekerjanya, menambahkan iuran peserta yang menjadi

tanggung jawabnya, dan membayarkan iuran tersebut setiap bulan kepada BPJS

Kesehatan secara berkala (paling lambat tanggal 10 setiap bulan).Apabila tanggal

10 (sepuluh) jatuh pada hari libur, maka iuran dibayarkan pada hari kerja

berikutnya. Keterlambatan pembayaran iuran JKN dikenakan denda administratif

sebesar 2% (dua persen) perbulan dari total iuran yang tertunggak dan dibayar

oleh Pemberi Kerja. Peserta Pekerja Bukan Penerima Upah dan Peserta bukan

Pekerja wajib membayar iuran JKN pada setiap bulan yang dibayarkan paling

lambat tanggal 10 (sepuluh) setiap bulan kepada BPJS Kesehatan.

BPJS Kesehatan menghitung kelebihan atau kekurangan iuran JKN

sesuai dengan Gaji atau Upah Peserta. Dalam hal ini terjadi kelebihan atau

(8)

kepada Pemberi Kerja dan/atau Peserta paling lambat 14 (empat belas) hari kerja

sejak diterimanya iuran. Kelebihan atau kekurangan pembayaran iuran

diperhitungkan dengan pembayaran Iuran bulan berikutnya. Ketentuan lebih

lanjut mengenai tata cara pembayaran iuran diatur dengan Peraturan BPJS

Kesehatan.

3. Cara Pembayaran Fasilitas Kesehatan

BPJS Kesehatan melakukan pembayaran kepada fasilitas kesehatan

tingkat pertama secara pra upaya berdasarkan kapitasi atas jumlah peserta yang

terdaftar di fasilitas kesehatan tingkat pertama (Perpres No. 12 Tahun 2013 pasal

39).Dalam hal fasilitas kesehatan tingkat pertama di suatu daerah di suatu daerah

tidak memungkinkan, mengingat kondisi geografis Indonesia, tidak semua

fasilitas kesehatan dapat dijangkau dengan mudah. Maka, jika di suatu daerah

tidak memungkinkan pembayaran berdasarkan kapitasi, BPJS Kesehatan diberi

wewenang untuk melakukan pembayaran dengan mekanisme lain yang berhasil

guna.

Fasilitas kesehatan rujukan (rumah sakit) menggunakan sistem

pembayaran berdasarkan Indonesian Case Based Group’s (INA CBG’s).Besaran kapitasi dan INA CBG’s ditinjau sekurang-kurangnya setiap 2 (dua) tahun sekali

oleh Menteri setelah berkoordinasi dengan menteri yang menyelenggarakan

uraian pemerintahan di bidang keuangan. Selain itu berdasarkan Perpres No.12

Tahun 2013 pasal 40 menjelaskan bahwa:

1) Pelayanan gawat darurat yang dilakukan oleh fasilitas kesehatan yang

(9)

penggantian biaya yang ditagihkan langsung oleh fasilitas kesehatan

kepada BPJS Kesehatan.

2) BPJS Kesehatan memberikan pembayaran kepada fasilitas kesehatan

setara dengan tarif yang berlaku di wilayah tersebut.

3) Fasilitas kesehatan tidak diperkenankan menarik biaya pelayanan

kesehatan kepada peserta.

Tarif kapitasi adalah metode pembayaran untuk jasa pelayanan

kesehatan dimana pemberi pelayanan kesehatan (dokter atau rumah sakit)

menerima sejumlah pembayaran per periode waktu (bulanan) yang dibayar

dimuka oleh BPJS Kesehatan kepada fasilitas tingkat pertama berdasarkan jumlah

peserta yang terdaftar tanpa memperhitungkan jenis dan jumlah pelayanan

kesehatan yang diberikan.Tarif kapitasi untuk setiap fasilitas kesehatan tingkat

pertama disesuaikan dengan rentang nilai yang besarannya ditetapkan berdasarkan

seleksi dan kredensial yang dilakukan oleh BPJS.Selain itu, tarif kapitasi ini

diberlakukan bagi fasilitas kesehatan tingkat pertama yang melaksanakan

pelayanan kesehatan komprehensif kepada peserta program jaminan kesehatan

berupa rawat jalan tingkat pertama.

2.3 Kepesertaan JKN

Peserta adalah setiap orang, termasuk orang asing yang bekerja paling

singkat 6 (enam) bulan di Indonesia, yang telah membayar iuran. Peserta tersebut

meliputi Penerima Bantuan Iuran (PBI) dan bukan PBI JKN dengan rincian

(10)

a. Peserta PBI Jaminan Kesehatan meliputi orang yang tergolong fakir

miskin dan orang tidak mampu.

b. Peserta bukan PBI adalah adalah Peserta yang tidak tergolong fakir miskin

dan orang tidak mampu yang terdiri atas:

1) Pekerja Penerima Upah dan anggota keluarganya, yaitu:

a) Pegawai Negeri Sipil;

b)Anggota TNI;

c) Anggota Polri;

d)Pejabat Negara;

e) Pegawai Pemerintah Non Pegawai Negeri;

f) Pegawai Swasta;

g)Pekerja yang tidak termasuk huruf a sampai dengan huruf f yang

menerima upah.

2) Pekerja Bukan Penerima Upah dan anggota keluarganya, yaitu:

a) Pekerja di luar hubungan kerja atau Pekerja mandiri

b)Pekerja yang tidak termasuk huruf a yang bukan penerima upah

c) Pekerja sebagaimana dimaksud huruf a dan huruf b, termasuk warga

negara asing yang bekerja di Indonesia paling singkat 6 (enam)

bulan.

3) Bukan Pekerja dan anggota keluarganya terdiri atas:

a) Investor;

b)Pemberi Kerja;

(11)

d)Veteran;

e) Perintis Kemerdekaan

f) Bukan Pekerja yang tidak termasuk huruf a sampai dengan huruf e

yang mampu membayar iuran.

4) Penerima pensiun terdiri atas:

a) Pegawai Negeri Sipil yang berhenti dengan hak pensiun;

b)Anggota TNI dan Anggota Polri yang berhenti dengan hak pensiun;

c) Pejabat Negara yang berhenti dengan hak pensiun;

d)Penerima Pensiun selain huruf a, huruf b, dan huruf c;

e) Janda, duda, atau anak yatim piatu dari penerima pensiun

sebagaimana dimaksud pada huruf a sampai dengan huruf d yang

mendapat hak pensiun.

Anggota keluarga bagi pekerja penerima upah meliputi:

a. Istri atau suami yang sah dari peserta;

b. Anak kandung, anak tiri dan/atau anak angkat yang sah dari peserta,

dengan kriteria:

1. Tidak atau belum pernah menikah atau tidak mempunyai

penghasilan sendiri;

2. Belum berusia 21 (dua puluh satu) tahun atau belum berusia 25

(dua puluh lima) tahun yang masih melanjutkan pendidikan

formal.

Sedangkan Peserta bukan PBI JKN dapat juga mengikutsertakan

(12)

5) WNI di Luar Negeri

Jaminan kesehatan bagi pekerja WNI yang bekerja di luar negeri diatur

dengan ketentuan peraturan perundang-undangan tersendiri.

6) Hak dan kewajiban Peserta

Setiap Peserta yang telah terdaftar pada BPJS Kesehatan berhak

mendapatkan identitas Peserta dan manfaat pelayanan kesehatan di

Fasilitas Kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan.

7) Prosedur pendaftaran Peserta

a. Pemerintah mendaftarkan PBI JKN sebagai Peserta kepada BPJS

Kesehatan.

b. Pemberi kerja mendaftarkan pekerjanya atau pekerja dapat

mendaftarkan diri sebagai Peserta kepada BPJS Kesehatan.

c. Bukan pekerja dan peserta lainnya wajib mendaftarkan diri dan

keluarganya sebagai Peserta kepada BPJS Kesehatan.

Setiap peserta yang telah terdaftar pada BPJS Kesehatan berkewajiban

untuk membayar iuran dan melaporkan data kepesertaannya kepada BPJS

Kesehatan dengan menunjukkan identitas Peserta pada saat pindah domisili dan

atau pindah kerja.

Masa berlaku kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional berlaku selama

yang bersangkutan membayar Iuran sesuai dengan kelompok peserta dan status

kepesertaan akan hilang bila Peserta tidak membayar Iuran atau meninggal dunia.

Kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional dilakukan secara bertahap, yaitu tahap

(13)

Jaminan Kesehatan, anggota TNI/PNS di Lingkungan Kementerian Pertahanan

dan anggota keluarganya, anggota Polri/PNS di lingkungan Polri dan anggota

keluarganya, peserta asuransi kesehatan PT Askes (Persero) beserta anggota

keluarganya, serta peserta jaminan pemeliharaan kesehatan Jamsostek dan

anggota keluarganya. Selanjutnya tahap kedua meliputi seluruh penduduk yang

belum masuk sebagai Peserta BPJS Kesehatan paling lambat pada tanggal 1

Januari 2019.

2.4 Puskesmas

2.4.1 Pengertian Puskesmas

Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan

upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama,

dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif, untuk mencapai

derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya

(Permenkes, 2014).

Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) setiap kegiatan untuk memelihara

dan meningkatkan kesehatan serta mencegah dan menanggulangi timbulnya

masalah kesehatan dengan sasaran keluarga, kelompok, dan masyarakat

sedangkan Upaya Kesehatan Perseorangan (UPK) adalah suatu kegiatan dan/atau

serangkaian kegiatan pelayanan kesehatan yang ditujukan untuk peningkatan,

pencegahan, penyembuhan penyakit, pengurangan penderitaan akibat penyakit

dan memulihkan kesehatan perseorangan (Permenkes, 2014).

(14)

Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 75 Tahun 2014 tentang Puskesmas

dalam Pasal 2, pembangunan kesehatan yang diselenggarakan di Puskesmas

bertujuan untuk mewujudkan masyarakat yang:

a. Memiliki perilaku sehat yang meliputi kesadaran, kemauan dan kemampuan

hidup sehat;

b. Mampu menjangkau pelayanan kesehatan bermutu;

c. Hidup dalam lingkungan sehat; dan

d. Memiliki derajat kesehatan yang optimal, baik individu, keluarga, kelompok

dan masyarakat.

Pembangunan kesehatan yang diselenggarakan di puskesmas bertujuan

untuk mewujudkan kecamatan sehat.

2.4.3 Prinsip Penyelenggaraan Puskesmas

Adapun prinsip penyelenggaraan Puskesmas berdasarkan Peraturan

Menteri Kesehatan No. 75 Tahun 2014 tentang Puskesmas meliputi :

a. Paradigma Sehat

Puskesmas mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk

berkomitmen dalam upaya mencegah dan mengurangi resiko kesehatan

yang dihadapi individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.

b. Pertanggungjawaban Wilayah

Puskesmas menggerakkan dan bertanggung jawab terhadap

pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya.

c. Kemandirian Masyarakat

Puskesmas mendorong kemandirian hidup sehat bagi individu,

(15)

d. Pemerataan

Puskesmas menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan yang dapat

diakses dan terjangkau oleh seluruh seluruh masyarakat di wilayah

kerjanya secara adil tanpa membedakan status sosial, ekonomi, agama,

budaya dan kepercayaan.

e. Teknologi Tepat Guna

Puskesmas menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan dengan

memanfaatkan teknologi tepat guna yang sesuai dengan kebutuhan

pelayanan, mudah dimanfaatkan dan tidak berdampak buruk bagi

lingkungan.

f. Keterpaduan Dan Kesinambungan

Puskesmas mengintegrasikan dan mengoordinasikan

penyelenggaraan UKM dan UKP lintas program dan lintas sektor serta

melaksanakan Sistem Rujukan yang didukung dengan manajemen

Puskesmas.

2.4.4 Tugas, Fungsi, Dan Wewenang Puskesmas

Puskesmas mempunyai tugas melaksanakan kebijakan kesehatan untuk

mencapai tujuan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya dalam rangka

mendukung terwujudnya kecamatan sehat. Dalam melaksanakan tugasnya,

Puskesmas juga menyelenggarakan fungsi, sebagai berikut:

a. Penyelenggaraan UKM tingkat pertama di wilayah kerjanya; dan

(16)

Puskesmas sebagai salah satu jenis fasilitas pelayanan kesehatan tingkat

pertama, mempunyai beberapa wewenang dalam Upaya Kesehatan Masyarakat

(UKM), yaitu:

a. Melaksanakan perencanaan berdasarkan analisis masalah kesehatan

masyarakat dan analisis kebutuhan pelayanan yang diperlukan;

b. Melaksanakan advokasi dan sosialisasi kebijakan kesehatan;

c. Melaksanakan komunikasi, informasi, edukasi, dan pemberdayaan

masyarakat dalam bidang kesehatan;

d. Menggerakkan masyarakat untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan

masalah kesehatan pada setiap tingkat perkembangan masyarakat yang

bekerjasama dengan sektor lain terkait;

e. Melaksanakan pembinaan teknis terhadap jaringan pelayanan dan upaya

kesehatan berbasis masyarakat;

f. Melaksanakan peningkatan kompetensi sumber daya manusia

Puskesmas;

g. Memantau pelaksanaan pembangunan agar berwawasan kesehatan;

h. Melaksanakan pencatatan, pelaporan, dan evaluasi terhadap akses, mutu,

dan cakupan Pelayanan Kesehatan; dan

i. Memberikan rekomendasi terkait masalah kesehatan masyarakat,

termasuk dukungan terhadap sistem kewaspadaan dini dan respon

penanggulangan penyakit (Permenkes, 2014).

Puskesmas juga mempunyai beberapa wewenang dalam

(17)

a. Menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan dasar secara komprehensif,

berkesinambungan dan bermutu;

b. Menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan yang mengutamakan upaya

promotif dan preventif;

c. Menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan yang berorientasi pada individu,

kelompok dan masyarakat;

d. Menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan yang mengutamakan keamanan

dan keselamatan pasien, petugas dan pengunjung;

e. Menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan dengan prinsip koordinatif dan

kerja sama inter dan antar profesi;

f. Melaksanakan rekam medis;

g. Melaksanakan pencatatan, pelaporan, dan evaluasi terhadap mutu dan

akses Pelayanan Kesehatan;

h. Melaksanakan peningkatan kompetensi Tenaga Kesehatan;

i. Mengoordinasikan dan melaksanakan pembinaan fasilitas pelayanan

kesehatan tingkat pertama di wilayah kerjanya; dan

j. Melaksanakan penapisan rujukan sesuai dengan indikasi medis dan sistem

rujukan (Keputusan Menteri Kesehatan No. 75 Tahun 2014 tentang

Puskesmas).

2.4.5 Upaya Kesehatan Puskesmas

Puskesmas menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat tingkat

pertama dan upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama.Upaya kesehatan

yang dimaksud harus dilaksanakan secara terintegrasi dan

(18)

kesehatan masyarakat esensial dan upaya kesehatan masyarakat pengembangan.

Upaya kesehatan masyarakat esensial meliputi;

a. Pelayanan promosi kesehatan;

b. Pelayanan kesehatan lingkungan;

c. Pelayanan kesehatan ibu, anak, dan keluarga berencana;

d. Pelayanan gizi; dan

e. Pelayanan pencegahan dan pengendalian penyakit.

Upaya kesehatan masyarakat esensial harus diselenggarakan oleh setiap

Puskesmas untuk mendukung pencapaian standar pelayanan minimal

kabupaten/kota bidang kesehatan sedangkan upaya kesehatan masyarakat

pengembangan merupakan upaya kesehatan masyarakat yang kegiatannya

memerlukan upaya yang sifatnya inovatif dan/atau bersifat ekstensifikasi

pelayanan, disesuaikan dengan prioritas masalah kesehatan, kekhususan wilayah

kerja dan potensi sumber daya yang tersedia di masing-masing Puskesmas.

Upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama dilaksanakan dalam

bentuk:

a. Rawat jalan;

b. Pelayanan gawat darurat;

c. Pelayanan satu hari (one day care); d. home care; dan/atau

e. Rawat inap berdasarkan pertimbangan kebutuhan pelayanan kesehatan.

Pendanaan di Puskesmas bersumber dari:

a. Anggaran Penghasilan dan Belanja Daerah (APBD);

(19)

c. Sumber-sumber lain yang sah dan tidak mengikat.

Pengelolaan dana dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan

perundang-undangan (Permenkes, 2014).

2.5 Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan

Levey dan Loomba (1973) menjabarkan pelayanan kesehatan adalah

setiap upaya yang diselenggarakan secara sendiri atau secara bersama-sama dalam

suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan

menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan, keluarga,

kelompok ataupun masyarakat.Pemanfaatan pelayanan kesehatan paling erat

hubungannya dengan kapan seseorang memerlukan pelayanan kesehatan dan

seberapa jauh seseorang menempuh pelayanan kesehatan (Azwar, 1996).

2.5.1 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pemanfaatan Pelayanan

Kesehatan

Menurut WHO (1984) dalam Notoatmojdo (2012) menyebutkan bahwa

beberapa faktor perilaku yang mempengaruhi pelayanan kesehatan adalah

1. Pemikiran dan perasaan (thought and feeling) yakni dalam bentuk pengetahuan, persepsi, sikap, kepercayaan, dan penilaian seseorang terhadap

obyek/kesehatan :

 Pengetahuan diperoleh dari pengalaman sendiri atau pengalaman orang

lain.

 Kepercayaan sering diperoleh dari orang tua, yakni berdasarkan

keyakinan dan tanpa adanya pembuktian terlebih dahulu.

 Sikap menggambarkan perasaan suka/tidak suka terhadap obyek dan

(20)

2. Seseorang yang dianggap sebagai referensi

Perilaku seseorang lebih banyak dipengaruhi oleh orang-orang yang dianggap

penting

3. Sumber daya (resource)

Sumber daya mencakup fasilitas-fasilitas, uang, waktu, dan tenaga.Semua itu

berpengaruh terhadap perilaku seseorang atau kelompok masyarakat.

4. Kebudayaan berupa norma-norma yang ada di masyarakat yang menghasilkan

suatu pola hidup (way of life) yang pada umumnya disebut kebudayaan.

Menurut Anderson (1974) dalam Muzaham (2007), yang

menggambarkan model sistem kesehatanpenggunaan pelayanan kesehatan tediriri

dari 3 faktor utama, yaitu :

1. Karakteristik predisposisi (predisposing characteristics)

Fungsi dari karakteristik ini dapat menggambarkan fakta bahwa tiap

individu mempunyai kecendrungan untuk menggunakan pelayanan kesehatan

yang berbeda-beda. Ciri-ciri individu tersebut digolongkan dalam 3 kelompok

yaitu:

a. Ciri demografi yaitu, jenis kelamin, umur, status perkawaninan.

b. Struktur sosial yaitu, pendidikan, pekerjaan, suku, dan sebagainya.

c. Manfaat-manfaat kesehatan seperti, keyakinan bahwa pelayanan

kesehatan dapat menolong proses penyembuhan penyakit (termasuk

stress dan kecemasan yang ada kaitannya dengan kesehatan).

 Setiap individu/orang mempunyai perbedaan karakteristik

mempunyai perbedaan tipe dan frekuensi penyakit, dan mempunyai

(21)

 Setiap individu mempunyai perbedaan struktur social, mempunyai

perbedaan gaya hidup, dan akhirnya mempunyai perbedaan pola

penggunaan pelayanan kesehatan.

 Individu percaya adanya kemanjuran dalam penggunaan pelayanan

kesehatan.

2. Karakteristik kemampuan(enabling characteristics)

Karakteristik ini menggambarkan kondisi yang memungkinkan orang

memanfaatkan pelayanan kesehatan karena walaupun mempunyai predisposisi

untuk menggunakan pelayanan kesehatan namun tidak akan menggunakannya,

kecuali jika ia mampu menggunakannya. Kemampuan tersebut berasal dari

keluarga (misalnya: penghasilan dan simpanan/tabungan, asuransi kesehatan atau

sumber lainnya) dan dari komunitas (misalnya: tersedianya fasilitas dan tenaga,

lamanya menunggu pelayanan serta lama waktu yang digunakan untuk mencapai

fasilitas pelayanan kesehatan tersebut/lokasi pemukiman). Jadi, pengguna

pelayanan kesehatan yang ada tergantung pada kemampuan konsumen untuk

membayar.

3. Karakteristik kebutuhan (need characteristics)

Faktor predisposisi dan enabling dapat terwujud bila hal itu dirasakan

sebagai kebutuhan.Kebutuhan merupakan dasar dan stimulus langsung untuk

menggunakan pelayanan kesehatan, jika factor predisposisi dan enabling itu ada.

(22)

Perceived need dapat diukur dengan perasaan subyektif terhadap penyakit (misalnya: jumlah hari sakit, gejala-gejala sakit yang dialami dan laporan

tentang keadaan kesehatan umum). Sedangkan evaluated merupakan evaluasi

klinis terhadap penyakit yakni penilaian beratnya penyakit dari dokter yang

merawatnya biasanya berdasarkan keluhan-keluhan yang mungkin memerlukan

pengobatan, dari hasil pemeriksaan dan diagnosa.

2.6 KERANGKA KONSEP

Menurut Anderson (1974) dalam Muzaham (2007) :

Gambar 2.1 Kerangka Konsep Faktor Predisposisi

1. Pendidikan 2. Pekerjaan 3. Pengetahuan 4. Sikap

Faktor Pemungkin

1. Keterjangkauan 2. Penghasilan

Faktor Kebutuhan

1. Kondisi Kesehatan

(23)

2.6 Hipotesis Penelitian

Berdasarkan permasalahan, tujuan penelitian, dan kerangka konsep,

maka hipotesis penelitian ini terdapat pengaruh faktor predisposisi (meliputi

pendidikan, pekerjaan, pengetahuan, dan sikap) dan faktor pemungkin (meliputi

keterjangkauan dan penghasilan) dan faktor kebutuhan (kondisi kesehatan)

terhadap pemanfaatan pelayanan kesehatan oleh peserta Jaminan Kesehatan

Gambar

Gambar 2.1 Kerangka Konsep

Referensi

Dokumen terkait

a) Tarif kapitasi yaitu rentang nilai yang besarnya untuk setiap fasilitas kesehatan tingkat pertama ditetapkan berdasarkan seleksi dan kredensial yang dilakukan oleh BPJS

Determinan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Oleh Peserta Jamkesmas di Puskesmas Medan Helvetia Tahun 2013.. Skripsi

Mekanisme yang dapat ditempuh untuk menyelesaikan ketidakpuasan para pihak tersebut adalah: 1) Jika Peserta tidak puas terhadap pelayanan yang diberikan oleh fasilitas kesehatan

PIHAK PERTAMA tidak bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas dan pelayanan kesehatan dari PIHAK KEDUA kepada Peserta dan terhadap kerugian maupun tuntutan yang

Disarankan Kepada Kepala Puskesmas Parlilitan diharapkan dapat berkoordinir dengan Kepala Kecamatan Parlilitan untuk menyarankan masyarakat agar memanfaatkan pelayanan

Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) adalah salah satu program pemerintah yang memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, berperan penting meringankan

BPJS kesehatan kepada fasilitas tingkat pertama berdasarkan jumlah peserta yang. terdaftar tanpa memperhitungkan jenis dan jumlah pelayanan

Menerima diartikan bahwa seseorang atau subjek mau menerima stimulus yang diberikan, misalnya sikap seseorang terhadap pemanfaatan pelayanan kesehatan oleh peserta Jamkesmas