• Tidak ada hasil yang ditemukan

KARAKTERISTIK USIA IBU DAN TINGKAT SOSIOEKONOMI TERHADAP TERJADINYA CELAH BIBIR DAN LANGIT-LANGIT DI RSU MITRA SEJATI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KARAKTERISTIK USIA IBU DAN TINGKAT SOSIOEKONOMI TERHADAP TERJADINYA CELAH BIBIR DAN LANGIT-LANGIT DI RSU MITRA SEJATI"

Copied!
111
0
0

Teks penuh

(1)

SOSIOEKONOMI TERHADAP TERJADINYA CELAH BIBIR DAN LANGIT-LANGIT

DI RSU MITRA SEJATI

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi

NADA SYIFA ANANDA ZN 170600038

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2021

(2)
(3)

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan tim penguji Pada tanggal 23 November 2021

TIM PENGUJI

KETUA : Ahyar Riza, drg., Sp.BM (K)

ANGGOTA : 1. Indra Basar Siregar, drg., M. Kes

2. Hendry Rusdy, drg., M. Kes., Sp.BM (K)

(4)

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas berkat, rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Skripsi yang berjudul “Karakteristik Usia Ibu dan Tingkat Sosioekonomi Terhadap Terjadinya Celah Bibir dan Langit-langit di RSU Mitra Sejati” merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran Gigi pada Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.

Terima kasih yang tak terhingga penulis sampaikan kepada kedua orangtua penulis, yakni Zulfikar, SH, MH selaku ayah penulis dan Nurnaningsih, SE selaku ibu penulis atas segala doa, kasih sayang, dan dukungan selama ini yang tiada henti baik secara moril dan materil. Begitu juga kepada adik penulis, yakni Bintang Athallah Ariq dan Raihan Athallah Afif serta keluarga besar penulis yang tidak henti-hentinya memberikan semangat dan doa.

Dengan kerendahan hati, penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada Hendry Rusdy, drg., M. Kes., Sp.BM (K) selaku dosen pembimbing skripsi yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikirannya dan dengan sabar memberikan bimbingan, saran, dan motivasi kepada penulis dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini.

Pada kesempatan ini, penulis dengan segala kerendahan hati dan tulus menguucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya juga kepada:

1. Prof. Dr. Essie Octiara, drg., Sp.KGA selaku Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.

2. Hendry Rusdy, drg., M. Kes., Sp.BM (K) selaku Ketua Departemen Ilmu Bedah Mulut dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.

3. Isnandar, drg., Sp.BM (K) selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah memberikan bimbingan, arahan dan motivasi selama penulis menjalankan Pendidikan di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.

4. Ahyar Riza, drg., Sp.BM (K) selaku dosen penguji yang telah memberikan saran dan masukan yang membangunn untuk penyempurnaan skripsi ini.

iv

(5)

6. Dina Savitri, drg., MKM selaku konsultan validasi dan statistik yang telah memberikan bimbingan penulis dalam menyusun skripsi ini.

7. Seluruh staf pengajar departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial yang telah memberikan bantuan dan masukan sehingga skripsi ini dapat selesai dengan baik.

8. Sahabat-sahabat penulis: Karin, Febi, Rizki, Dilla, Tasya, Firda, Lena, Risa, Raisa, Auliya, Azizah, Aliftia, Femy, Pica, Ais dan Ariq yang telah memberikan masukan, doa dan semangat dalam penulisan skripsi ini.

9. Teman-teman seperjuangan yang melaksanakan penulisan skripsi di Departemen Ilmu Bedah Mulut dan Maksilofasial yaitu Veronica, Rizkiani dan Jemima dan teman-teman lainnya atas dukungan dan bantuannya selama pengerjaan skripsi.

Semoga Allah SWT membalas kebaikan dan memberikan kemudahan. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih jauh dari kata sempurna, karena kelemahan dan keterbatasan ilmu yang dimiliki penulis, sehingga skripsi ini masih perlu perbaikan. Penulis menerima dengan terbuka berbagai kritik dan saran yang membangun dari semua pihak. Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat dan sumbangan pikiran yang berguna bagi pengembangan ilmu pengetahuan kedokteran gigi dan masyarakat.

Medan, 13 Oktober 2021 Penulis

(Nada Syifa Ananda ZN) NIM: 170600038

v

(6)

Tahun 2021 ABSTRAK

Nada Syifa Ananda ZN

Karakteristik Usia Ibu dan Tingkat Sosioekonomi Terhadap Terjadinya Celah Bibir dan Langit-langit di RSU Mitra Sejati

Xiv + 67 halaman

Celah bibir dan langit-langit merupakan salah satu kelainan bawaan sejak lahir yang paling banyak ditemui. Etiologi dari celah bibir dan langit-langit ini belum diketahui secara pasti. Namun terdapat faktor penyebab yang diperkirakan antara lain faktor genetik dan faktor lingkungan. Kebanyakan masyarakat tidak mengetahui atau kurang memperhatikan faktor penyebab terjadinya celah seperti usia ibu dan tingkat sosioekonomi keluarga. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik usia ibu dan tingkat sosioekonomi terrhadap terjadinya celah bibir dan langit-langit di RSU Mitra Sejati. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan metode survei yang menggunakan alat ukur kuesioner tertutup. Penelitian ini dilakukan kepada 102 orangtua yang terdiri dari 2 bagian yaitu 6 pertanyaan berkaitan dengan usia ibu dan tingkat sosioekonomi dan 5 pertanyaan tambahan yang diberikan kepada orangtua dari anak yang mengalami celah bibir dan langit-langit di RSU Mitra Sejati. Hasil penelitian ini mendapati usia ibu <20 tahun sebanyak 11 orang (10,8%), usia ibu 20-35 tahun

sebanyak 79 orang (77,5%), dan usia ibu >35 tahun sebanyak 12 orang (11,8%).

Kemudian mendapati tingkat sosioekonomi keluarga adalah menengah kebawah yaitu sebanyak 57 keluarga (55,9%), disusul dengan bawah keatas sebanyak 33 keluarga (32,4%), menengah keatas sebanyak 11 keluarga (10,8%), dan atas hanya 1 keluarga (1,0%). Kesimpulan penelitian ini usia ibu dan tingkat sosioekonomi yang paling banyak adalah 20-35 tahun dan menengah kebawah.

Kata kunci: Celah Bibir dan Langit-langit, Karakteristik, Usia Ibu, Tingkat Sosioekonomi

vi

(7)

Year 2021 ABSTRACT

Nada Syifa Ananda ZN

Characteristics of Maternal Age and Socioeconomic Levels on the Occurrence of Cleft Lip and Palate at Mitra Sejati General Hospital

Xiv + 67 pages

Cleft lip and palate are one of the most common congenital malformations. The etiology of cleft lip and palate is not known with certainty. However, some factors are thought to include genetic factors and environmental factors. Most people do not know or pay less attention to the factors that cause gaps such as maternal age and family socioeconomic level. The purpose of this study was to determine the characteristics of maternal age and socioeconomic level on the occurrence of cleft lip and palate at Mitra Sejati General Hospital. This research is a descriptive study with a survey method using a closed questionnaire. This study was conducted to 102 parents consisting of 2 parts, namely 4 questions related to maternal age and socioeconomic level and 7

additional questions given to parents of children with cleft lip and palate at Mitra Sejati General Hospital. The results of this study found 11 mothers aged <20 years (10.8%), 79 mothers aged 20-35 years (77.5%), and 12 mothers aged >35 years (11.8%). Then the socioeconomic level of the family is lower-middle as many as 57 families (55.9%), followed by upper lower as many as 33 families (32.4%), upper-middle as many as 11 families (10.8%), and above only 1 family. (1.0%). The study concludes that the highest maternal age and socioeconomic level are 20-35 years and lower middle class.

Keywords: Cleft lip and palate, characteristics, maternal age, socioeconomic level

vii

(8)

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

PERNYATAAN PERSETUJUAN PROPOSAL ... ii

TIM PENGUJI PROPOSAL ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

ABSTRAK ... vi

ABSTRACT ... vii

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 6

1.3 Tujuan Penelitian ... 6

1.4 Manfaat Penelitian ... 6

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 7

2.1 Celah Bibir dan Langit-langit ... 7

2.1.1 Patofisiologi ... 7

2.1.2 Etiologi ... 9

2.1.3 Klasifikasi ... 9

2.1.4 Penatalaksanaan ... 11

2.2 Usia Ibu saat Hamil ... 13

2.3 Sosioekonomi ... 16

2.3.1 Pendidikan ... 17

2.3.2 Pekerjaan ... 18

2.3.3 Pendapatan ... 19

2.4 Kerangka Teori ... 21

2.5 Kerangka Konsep ... 22

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN ... 23

3.1 Jenis Penelitian ... 23

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 23

3.2.1 Lokasi penelitian ... 23 viii

(9)

3.3.2.1 Metode Pengambilan Sampel ... 23

3.3.2.2 Pemilihan Besar Sampel ... 23

3.4 Kriteria Inklusi dan Eksklusi ... 24

3.4.1 Kriteria Inklusi ... 24

3.4.2 Kriteria Eksklusi ... 25

3.5 Variabel dan Defenisi Operasional ... 25

3.6 Metode Pengumpulan Data dan Prosedur Penelitian ... 28

3.6.1 Metode Pengumpulan Data ... 28

3.6.1.1 Data Primer ... 28

3.6.1.2 Data Sekunder ... 29

3.6.2 Teknik Pengumpulan Data... 29

3.6.2.1 Instrumen Status Sosioekonomi ... 29

3.6.3 Prosedur Penelitian ... 31

3.7 Pengolahan Data dan Analisis Data ... 31

3.7.1 Pengolahan Data ... 31

3.7.2 Analisis Data ... 32

3.8 Etika Penelitian ... 32

BAB 4 HASIL PENELITIAN ... 33

4.1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden ... 33

4.1.1 Distribusi Frekuensi Jawaban Responden pada Lembar Kuesioner Karakteristik tentang usia ibu Saat Mengandung Anak yang Mengalami Celah Bibir dan Langit-langit Pada Soal 1 ... 33

4.1.2 Distribusi Frekuensi Jawaban Responden pada Lembar Kuesioner Karakteristik tentang Tingkat Sosioekonomi Orangtua Anak Terhadap Terjadinya Celah Bibir dan Langit-langit di RSU Mitra Sejati Pada Soal 2,3, dan 4 ... 33

4.1.3 Distribusi Frekuensi Jawaban Responden pada Lembar Kuesioner Karakteristik tentang Pekerjaan Ibu Terhadap Terjadinya Celah Bibir dan Langit-langit di RSU Mitra Sejati Pada Soal 5 ... 36

4.1.4 Distribusi Frekuensi Jawaban Responden pada Lembar Kuesioner Karakteristik tentang Pendidikan Ibu Terhadap Terjadinya Celah Bibir dan Langit-langit di RSU Mitra Sejati Pada Soal 6 ... 37

4.2 Celah Bibir dan Langit-langit ... 38

4.2.1 Distribusi Frekuensi Klasifikasi Celah Bibir dan Langit-langit ... 38

4.2.2 Distribusi Frekuensi Riwayat Kejadian Celah Bibir dan Langit-langit .... 38

4.2.2.1 Distribusi Frekuensi Jawaban Responden pada Lembar Kuesioner Karakteristik tentang Rutinitas Melakukan Kontrol ke Fasilitas Kesehatan Selama Masa Kehamilan Pada Soal 7 ... 38

ix

(10)

Karakteristik tentang Konsumsi Asam Folat dari Kehamilan Trimester

Pertam (3 bulan pertama) hingga Trimester Ketiga Pada Soal 9 ... 40

4.2.2.4 Distribusi Frekuensi Jawaban Responden pada Lembar Kuesioner Karakteristik tentang Konsumsi Asam Folat pada Kehamillan Berikutnya yang Telah diberikan oleh Fasilitas Kesehatan Pada Soal 10 ... 40

4.2.2.5 Distribusi Frekuensi Jawaban Responden pada Lembar Kuesioner Karakteristik tentang Anggota Keluarga yang Mengalami Celah Bibir dan Langit-langit Pada Soal 11 ... 41

BAB 5 PEMBAHASAN ... 42

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN ... 60

6.1 Kesimpulan ... 60

6.2 Saran ... 61

DAFTAR PUSTAKA ... 62 LAMPIRAN ...

x

(11)

Tabel Halaman

1. Tabel urutan waktu pengobatan celah bibir dan langit-langit ... 12

2. Variabel dan Defenisi Operasional ... 25

3. Skor Status Sosioekonomi ... 30

4. Skala Status Sosioekonomi ... 31

6. Distribusi Frekuensi Jawaban Responden pada Lembar Kuesioner Karakteristik tentang Usia Ibu Saat Mengandung Anak yang Mengalami Celah Bibir dan Langit- langit Pada Soal 1 ... 33

7. Distribusi Frekuensi Jawaban Responden pada Lembar Kuesioner Karakteristik tentang Tingkat Sosioekonomi Orangtua Anak Terhadap Terjadinya Celah Bibir dan Langit-langit di RSU Mitra Sejati Pada Soal 2,3, dan 4 ... 35

8. Distribusi Frekuensi Jawaban Responden pada Lembar Kuesioner Karakteristik tentang Pekerjaan Ibu Terhadap Terjadinya Celah Bibir dan Langit-langit di RSU Mitra Sejati Pada Soal 5 ... 37

9. Distribusi Frekuensi Jawaban Responden pada Lembar Kuesioner Karakteristik tentang Pendidikan Ibu Terhadap Terjadinya Celah Bibir dan Langit-langit di RSU Mitra Sejati Pada Soal 6 ... 38

9. Distribusi Frekuensi Klasifikasi Celah Bibir dan Langit-langit ... 38

11. Distribusi Frekuensi Jawaban Responden pada Lembar Kuesioner Karakteristik tentang Rutinitas Melakukan Kontrol ke Fasilitas Kesehatan Selama Masa Kehamilan Pada Soal 7 ... 39

12. Distribusi Frekuensi Jawaban Responden pada Lembar Kuesioner Karakteristik tentang Konsumsi Asam Folat 1 Bulan Sebelum Kehamilan Pada Soal 8 ... 39

13. Distribusi Frekuensi Jawaban Responden pada Lembar Kuesioner Karakteristik tentang Konsumsi Asam Folat dari Kehamilan Trimester Pertama (3 bulan pertama) hingga Trimester Ketiga Pada Soal 9 ... 40

xi

(12)

oleh Fasilitas Kesehatan Pada Soal 10 ... 40 15. Distribusi Frekuensi Jawaban Responden pada Lembar Kuesioner Karakteristik

tentang Anggota Keluarga yang Mengalami Celah Bibir dan Langit-langit Pada Soal 11... 41

xii

(13)

2.1 Perkembangan bibir dan langit-langit ... 8 2.2 Klasifikasi celah bibir dan langit-langit ... 10

xiii

(14)

1. Persetujuan komite etik pelaksanaan penelitian Kesehatan 2. Surat izin penelitian di RSU Mitra Sejati

3. Surat selesai penelitian di RSU Mitra Sejati

4. Lembar penjelasan penelitian kepada calon subjek penelitian

5. Lembar persetujuan setelah penjelasan penelitian (informed consent) 6. Kuesioner

7. Daftar riwayat hidup 8. Jadwal kegiatan

9. Justifikasi anggaran penelitian 10. Output hasil penelitian

11. Data sekunder dari RSU Mitra Sejati 12. Data penelitian di RSU Mitra Sejati

xiv

(15)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Celah bibir dan langit-langit merupakan salah salah satu kelainan bawaan sejak lahir yang paling banyak ditemui. Celah ini dapat terbagi lagi menjadi celah bibir (labioschisis), celah langit-langit (palatoschisis), dan celah bibir dan langit-langit (labiopalatoschisis).1 Insiden dari bibir sumbing dengan atau tanpa celah langit-langit ini dapat terjadi sekitar 1 per 700 hingga 1000 bayi yang lahir di dunia.2 Menurut WHO, lebih dari 8 juta bayi lahir setiap tahunnya dengan kelainan kongenital.3

Kejadian tertinggi ditemukan pada penduduk Asia dan Amerika yaitu terjadi sekitar 1 di antara 500 bayi yang lahir. Di Amerika Serikat, kejadian ini terjadi sekitar 11 dari 10.000 kelahiran hidup untuk bibir sumbing dengan atau tanpa celah langit- langit dan 6 per 10.000 kelahiran hidup hanya untuk celah langit-langit, sedangkan kejadian terendah terjadi pada penduduk di Afrika yaitu terjadi sekitar 1 dari 2500 bayi yang lahir.4,5 Kejadian celah bibir dan langit-langit di Indonesia adalah 1 dari 800 kelahiran dan setiap tahunnya terjadi peningkatan sebesar 7.500 kasus baru.6 Berdasarkan Kemenkes RI tahun 2018, dari awal bulan Desember 2014 sampai akhir bulan Agustus 2015 menunjukkan sebagian besar bayi lahir dengan kelainan kongenital. Kelainan kongenital yang paling banyak ditemukan salah satunya adalah celah bibir dan langit-langit.3

Etiologi dari celah bibir dan langit-langit ini belum diketahui secara pasti.

Namun terdapat faktor penyebab yang diperkirakan antara lain faktor genetik, seperti riwayat keluarga dan faktor lingkungan seperti umur ibu, obat-obatan, ibu hamil yang mengonsumsi minuman beralkohol atau merokok, kurangnya nutrisi pada saat kehamilan seperti mengonsumsi asam folat, trauma pada ibu di trimester 1, bahan kimia dan juga sosioekonomi.7,8

Celah dapat terjadi karena adanya gangguan proses tumbuh kembang janin selama berada di dalam kandungan. Dalam perkembangan embrio dapat terjadi penyatuan yang tidak sempurna dari struktur yang membentuk bibir dan langit-

(16)

langit.9 Identifikasi awal dari kelainan ini penting untuk menentukan penatalaksanaan yang tepat. Kelainan bawaan ini mempengaruhi bentuk, fungsi organ maupun keduanya.3 Selain itu, kelainan ini bisa menyebabkan beberapa masalah pada penderita jika tidak dirawat. Beberapa masalah yang terjadi yaitu kesulitan makan, gangguan berbicara, masalah pada gigi, gangguan pendengaran, gangguan psikologis. Kelainan ini juga mengganggu proses komunikasi dan mengakibatkan keterbatasan perkembangan sosial individu untuk masa depannya.5,7,9,10

Kebanyakan masyarakat tidak mengetahui atau kurang memperhatikan faktor penyebab celah. Usia ibu saat hamil adalah salah satu faktor risiko yang paling memungkinkan untuk terjadinya celah bibir dan langit-langit. Usia ibu terbagi atas beberapa kelas yaitu <20 tahun, 20-35 tahun, dan >35 tahun. Pada kurva reproduksi sehat, usia yang aman untuk kehamilan dan persalinan adalah 20-35 tahun.11

Menurut teori yang ada ibu hamil usia <20 tahun ini terlalu muda untuk hamil karena fisik kondisi rahim dan panggul belum berkembang optimal, sehingga dapat mengakibatkan risiko pertumbuhan janin dan terjadi hambatan terhadap bayi yang dikandungnya karena pertumbuhan linear (tinggi badan) pada umumnya baru selesai yaitu pada usia 16-18 tahun dan dilanjutkan dengan pematangan pertumbuhan rongga panggul beberapa tahun setelah pertumbuhan linear selesai yaitu pada usia 20 tahun, akibat dari hamil <20 tahun akan terjadi komplikasi persalinan dan gangguan penyelesaian pertumbuhan optimal karena masukan gizi tidak mencukupi untuk memenuhi dirinya yang masih tumbuh. 11,12,13,14,15,16

Faktor usia ibu >35 tahun, dengan bertambahnya usia ibu waktu hamil harus berhati-hati karena kondisi akan semakin menurun ketika memasuki usia 40 tahun.

Pada usia ini mudah terjadi penyakit pada ibu, elastisitas otot-otot panggul dan sekitarnya serta alat-alat reproduksi pada umumnya telah mengalami kemunduran sehingga dapat mempersulit persalinan, ada kemungkinan lebih besar ibu hamil mendapatkan anak cacat. 11

Pembentukan embriopun akan menurun, sehingga bertambah risiko dari ketidaksempurnaan pembelahan meiosis yang akan menyebabkan kehamilan trisomi.

Jika seorang wanita berumur 35 tahun, maka sel telurnya juga berusia 35 tahun

(17)

sehingga mengandung anak dengan kelainan kongenital bertambah besar sesuai dengan bertambahnya usia ibu. 11,12,13,14,15,16

Faktor lain yang memungkinkan terjadinya celah adalah sosioekonomi yang merupakan gambaran suatu masyarakat dari segi sosial dan ekonomi yaitu pendidikan, pekerjaan dan pendapatan suatu masyarakat. Status sosioekonomi dalam beberapa penelitian berkaitan dengan berbagai hasil kesehatan salah satunya celah bibir dan langit-langit yang mana dikatakan jika semakin baik kondisi sosioekonomi, maka status kesehatan semakin baik.17 Didapati persentase tingkat sosioekonomi di Indonesia (worldbank, 2020), yaitu tingkat sosioekonomi penduduk miskin/kelas bawah sebesar 11%, penduduk bawah keatas sebesar 24%, penduduk menengah kebawah sebesar 44,5%, penduduk menengah keatas sebesar 20%, dan penduduk tingkat atas sebesar 0,5%.18

Hasil penelitian Purwitasari et al 2020 membuktikan bahwa berdasarkan status sosioekonomi, sebagian besar responden dengan celah bibir dan langit-langit memiliki status sosioekonomi rendah (60%), status sosioekonomi sedang atau menengah (36%) dan tinggi (4%).19 Pada penelitian Al-Musawi et al 2020, kelainan kongenital terjadi karena ibu tidak mengonsumsi asam folat (70%) dan status sosioekonominya rendah (65%).20 Penelitian Phyu et al 2020 menunjukkan bahwa sosioekonomi rendah (kelas bawah keatas) (43,3%) sangat terkait celah bibir dan langit-langit.21

Salah satu contohnya adalah dalam hal pekerjaan. Jika suatu masyarakat mempunyai pendidikan yang baik, maka masyarakat itu berpeluang untuk mendapatkan pekerjaan yang baik pula untuk mempunyai taraf hidup atau pendapatan yang lebih baik.17 Pendapatan dapat berpengaruh pada nutrisi ibu hamil, semakin rendahnya penghasilan, maka daya beli untuk memenuhi kebutuhan gizi dan nutrisi ibu seperti asam folat tidak dapat terpenuhi, dimana asam folat penting untuk pertumbuhan janin.16

Pendidikan yang baik juga dapat menambah pengetahuan atau informasi yang lebih baik tentang gizi dan kesehatan sehingga mendorong terbentuknya perilaku yang sehat pula.17 Berdasarkan BPS, statistik Pendidikan 2021, Tingkat Pendidikan

(18)

penduduk Indonesia didominasi oleh pendidikan menengah, tingkat pendidikan penduduk Indonesia tamat SD/sederajat sebesar 24,8%, tidak tamat SD/sederajat sebesar 11,27%, tidak pernah sekolah sebesar 3,56%, tamat SMP/sederajat sebesar 21,78%, tamat SMA/sederajat sebesar 29,10%, dan tamat PT sebesar 9,49%.18 Status sosioekonomi rendah termasuk pendidikan rendah menyebabkan kurangnya pemahaman kesehatan pada kehamilan sehingga pada saat hamil ibu mengonsumsi obat-obatan, didapati ibu hamil sebesar 17 orang (34%) mengonsumsi beberapa obat- obatan maupun jamu yang dapat menimbulkan gangguan kongenital termasuk celah bibir dan langit-langit.119 Penelitian Francine R et al 2014, kelainan kongenital dapat terjadi dikarenakan ibu mengonsumsi obat-obatan saat hamil (6,9%).22

Penelitian Mattew F et al 2021, konsumsi obat-obatan yang menyebabkan kelainan kongenital (80%).23 United States food and drugs administration, ada beberapa jenis obat yang dilarang untuk dikonsumsi oleh wanita hamil antara lain:

aspirin, ibu profen (motrin, advil) dan thalidomide. WHO 2012 mengatakan obat tersebut berbahaya bagi perkembangan janin jika dikonsumsi pada ibu hamil, terutama pada usia gestasi kurang dari 3 bulan.24 Sebagian besar dari responden memiliki kaitan dengan faktor nutrisi (58%), faktor nutrisi terjadinya celah bibir dan langit-langit tidak mendapatkan nutrisi pada saat hamil.19

Penelitian Zhu Z et al 2016 mengatakan pada ibu tidak ada suplementasi asam folat dalam perikonsepsi (21,37%), tingkat pendidikan ibu rendah dan gaya hidup tidak sehat (39,75%) secara konsisten ini memiliki peningkatan risiko cacat lahir yang signifikan.25 Penelitian ini juga mengatakan kadar vitamin normal sangat penting untuk perkembangan embrio normal dan secara efektif dapat mengurangi terjadinya celah bibir dan langit-langit. 25 Faktor risiko celah bibir dan langit-langit menunjukkan pada usia ibu >34 tahun sebanyak 72 sampel (30,5%), orangtua dengan pendidikan rendah sebesar 136 sampel (57,6%) sedangkan asupan asam folat memadai, usia subur yang sesuai dan orangtua dengan tingkat pendidikan yang tinggi merupakan faktor pelindung terjadinya celah bibir dan langit-langit.14

Berdasarkan keterangan yang sudah dijelaskan terdapat beberapa penelitian yang mendukung atau membuktikan bahwa faktor usia ibu dan sosioekonomi ini juga

(19)

berpengaruh terhadap terjadinya celah bibir dan langit-langit. Menurut penelitian dari Xu DP et al 2017, terjadi peningkatan risiko celah bibir dan langit-langit pada anak saat usia subur ibu >34 tahun dan orangtua dengan tingkat pendidikan rendah.26 Menurut penelitian Suryandari 2017, sebagian besar umur ibu saat hamil dengan anak yang mengalami labioschisis adalah 20-35 tahun yaitu 67% , sedangkan pada responden umur ibu <20 tahun dan >35 tahun, terdapat kecenderungan anak mengalami labiopalatoschisis.10 Hal ini bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh Yunitasari et al 2020 bahwa pada responden dengan umur ibu >35 tahun cenderung mengalami labioschisis yaitu 65,9% sedangkan 34,1% responden mengalami labiopalatoschisis.2

Menurut penelitian Radityo et al 2016 bahwa sebagian besar kelainan celah bibir dan celah langit-langit sebesar 62,5% terjadi pada kelompok usia ibu >40 tahun dimana kelompok ini memiliki risiko 11,67 kali lebih besar.27 Penelitian lain dilakukan oleh Widayanti et al 2017 menemukan bahwa ibu berusia 35-48 tahun memiliki risiko 6.58 kali lebih besar dibandingkan dengan ibu berusia 25-29 tahun. Ibu dengan rentang usia 18-24 tahun memiliki risiko 4.38 kali lebih besar.28

Kunjana et al 2017 meneliti tentang kejadian celah bibir dan langit-langit pada 32 anak di Kabupaten Banyumas. Berdasarkan penelitian tersebut, diketahui bahwa pendidikan ayah didapati SD (33,3 %), SMP (33,3%), SMA (23,3%), PT/S1 (10%) diikuti dengan pendidikan ibu SD (40%), SMP (26,7%), SMA (16,7%), PT/S1 (16,7%). Pekerjaan ayah dari pasien sebagian besar adalah buruh dan wiraswasta (40%), karyawan swasta dan petani masing-masing (6,7%), serta perangkat desa dan perawat masing-masing (3,3%). Pekerjaan ibu yang paling banyak adalah ibu rumah tangga yaitu (80%), diikuti dengan buruh (13,3%), dan karyawan swasta (6,7%).29 Phyu MN et al 2020 pada penelitiannya mendapatkan hasil bahwa sebagian besar keluarga yang memiliki celah juga memiliki sosioekonomi yang rendah pula.21

Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Karakteristik Usia Ibu dan Tingkat Sosioekonomi terhadap Terjadinya Celah Bibir dan Langit-langit di RSU Mitra Sejati”.

(20)

1.2 Rumusan Masalah

a. Bagaimana gambaran karakteristik usia ibu terhadap terjadinya celah bibir dan langit-langit di RSU Mitra Sejati?

b. Bagaimana gambaran karakteristik tingkat sosioekonomi terhadap terjadinya celah bibir dan langit-langit di RSU Mitra Sejati?

1.3 Tujuan Penelitian

a. Mengetahui karakteristik usia ibu terhadap terjadinya celah bibir dan langit- langit di RSU Mitra Sejati.

b. Mengetahui karakteristik tingkat sosioekonomi terhadap terjadinya celah bibir dan langit-langit di RSU Mitra Sejati.

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Hasil penelitian diharapkan sebagai pedoman untuk memberikan data dan informasi tentang karakteristik usia ibu dan tingkat sosioekonomi terhadap terjadinya celah bibir dan langit-langit di RSU Mitra Sejati.

2. Memberikan masukan yang berarti mengenai karakteristik usia ibu dan tingkat sosioekonomi terhadap terjadinya celah bibir dan langit-langit di RSU Mitra Sejati.

3. Sebagai tambahan ilmu, kompetensi dan pengalaman berharga bagi peneliti dalam melakukan penelitian kesehatan pada umumnya dan terkait tentang usia ibu dan tingkat sosioekonomi terhadap terjadinya celah bibir dan langit-langit di RSU Mitra Sejati.

4. Memberikan manfaat sebagai bacaan, acuan, ataupun perbandingan bagi peneliti-peneliti selanjutnya.

(21)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Celah Bibir dan Langit-langit

Celah bibir dengan atau tanpa langit-langit adalah kelainan kongenital yang paling banyak dijumpai. Celah bibir dan langit-langit adalah kondisi terbelahnya pada bibir yang dapat sampai pada langit-langit.1 Terjadinya kelainan ini mungkin menyebabkan orangtua mengalami syok sehingga pendekatan yang paling sesuai kepada orangtua penderita adalah dengan memberikan penjelasan yang tepat dan meyakinkan mereka bahwa kelainan ini bisa ditangani sehingga tidak merugikan masa depan anaknya.30

Kelainan celah bibir dan langit-langit terjadi saat pembentukan janin, dimana adanya gangguan proses tumbuh kembang selama bayi ada di dalam kandungan dan ditandai dengan adanya ketidaksempurnaan pembentukan bibir bagian atas atau terdapatnya saluran abnormal yang melalui langit-langit mulut dan menuju saluran udara di hidung. Celah bibir dan langit-langit ini dapat terjadi secara tunggal maupun bersamaan. Efek yang terjadi pada individu ini yaitu akan mengalami masalah pada asupan makanan, berbicara, mendengar, gangguan proses komunikasi, masalah pada gigi dan psikologis yang dapat mengarah pada kondisi kesehatan dan keterbatasan perkembangan sosial yang buruk pada penderita.7,9,10

2.1.1 Patofisiologi

Celah bibir umumnya terjadi pada minggu ke 6-7 intrauterin. Saat usia kehamilan mencapai 6 minggu, palatum primer yang terdiri dari bibir, hidung, prolabium dan premaksila bayi dalam kandungan akan mulai terbentuk karena adanya fusi dari prosessus nasalis medialis dan prosessus maksilaris, diikuti dengan prosessus nasalis lateralis dan prosesus nasalis medialis membentuk bibir bagian atas, dasar hidung, dan langit-langit keras sebagian di bagian depan.11

Semua struktur ini berkembang cepat, lidah membesar dan berdiferensiasi tumbuh vertikal mengisi kavum stomodealis primitivum. Apabila jaringan ini gagal

(22)

bersatu yang mana terjadinya kegagalan penetrasi dari sel mesodermal pada groove epitel di antara prosesus nasalis medialis, lateralis dan maksilaris, maka akan terbentuk celah pada bibir.11

Perkembangan langit-langit (palatum sekunder) dimulai dari minggu ke-8 pada regio pre-maksila dan berakhir di minggu ke-12 pada uvula di langit-langit lunak.

Normalnya, pada minggu ke-8 sampai ke-9, lidah perlahan mulai turun dan tulang langit-langit meluas ke medial untuk berkontak pada garis tengah (midline) menghubungkan anterior ke posterior membentuk garis median sutura palatina dan palatum keras, tulang langit-langit ini yang memisahkan hidung dan rongga mulut.

Setelah palatum keras terbentuk, perkembangan berlanjut hingga ke palatum lunak dan uvula.11

Jika faktor penyebab bekerja pada minggu ke-8, akan terjadi perkembangan yang tidak sejalan dan kegagalan proliferasi dari mesodermal untuk membentuk jaringan ikat penghubung yang melintasi garis fusi yang akan menyebabkan terjadinya celah langit- langit.11

Jika faktor penyebab bekerja pada awal periode perkembangan yaitu minggu ke- 6, hal ini akan membuat celah terjadi lebih ke anterior. Sebaliknya jika penyebab bekerja dekat akhir periode perkembangan contohnya minggu ke-11, celah yang terlihat hanya pada langit-langit lunak bagian posterior (uvula).11

Gambar 2.1 Perkembangan bibir dan langit-langit31

(23)

2.1.2 Etiologi

Kelainan dari celah bibir dan langit-langit ini akan memberi pengaruh besar pada penderita.32 Penyebab pasti celah bibir dan langit-langit tidak dapat diketahui dalam banyak kasus. Kebanyakan celah bibir dan langit-langit ini disebabkan oleh interaksi antara gen individu dan faktor-faktor tertentu di lingkungan.1,6,18

Faktor genetik berperan sebanyak 22%. Faktor ini biasanya diturunkan secara genetik dari riwayat keluarga yang mengalami mutasi genetik. Jika keluarga memiliki satu anak yang terkena kelainan celah bibir dan langit-langit atau riwayat orangtua dengan celah bibir dan langit-langit, risiko anak pada kehamilan berikutnya adalah 2%- 5%. Jika dua anak sebelumnya atau terdapat lebih dari satu orang dalam keluarga memiliki celah bibir dan langit-langit, risiko meningkat menjadi 10%-12%, dan jika salah satu orangtua dan satu anak sebelumnya terkena kelainan celah bibir dan langit- langit, risikonya menjadi 17%.1,6,30

Faktor lingkungan berperan sebanyak 78%.1,6 Faktor lingkungan seperti kurangnya konsumsi asam folat, trauma (jatuh) di trimester 1, umur ibu dan sosioekonomi seperti pendidikan, pekerjaan dan pendapatan.1,8,21,33

2.1.3 Klasifikasi

Kelainan ini terdiri atas berbagai macam, diantaranya celah bibir (labioschisis), celah langit-langit (palatoschisis), ataupun gabungan dari keduanya berupa celah bibir dan langit-langit (labiopalatoschisis).1

1. Celah bibir (labioschisis) a. Celah bibir unilateral

Celah bibir satu sisi biasanya terjadi pada sisi kiri, dengan atau tanpa linggir alveolar anterior.

b. Celah bibir bilateral

Celah bibir dua sisi dengan atau tanpa linggir alveolar.

(24)

2. Celah langit-langit (palatoschisis)

a. Celah langit-langit hanya terdapat pada uvula.

b. Celah langit-langit lunak saja.

b. Celah langit-langit keras dan lunak

3. Celah bibir dan celah langit-langit (labiopalatoschisis)

a. Unilateral: celah bibir dan celah langit-langit yang hanya satu sisi yaitu kiri atau kanan saja, baik lengkap maupun tidak lengkap.

b. Bilateral: celah bibir dan langit-langit yang ada di dua sisi kiri dan kanan, baik lengkap maupun tidak lengkap.11,31

Gambar 2.2 Klasifikasi celah bibir dan langit-langit31

Keterangan Gambar:

A: Celah langit-langit lunak satu sisi B: Celah bibir satu sisi

C: Celah bibir dan langit-langit keras satu sisi D: Celah bibir dan langit-langit satu sisi lengkap E: Celah langit-langit lunak dua sisi

F: Celah bibir dua sisi

G: Celah bibir dan langit-langit keras dua sisi H: Celah bibir dan langit-langit dua sisi lengkap

(25)

Periode perkembangan struktur anatomi bersifat spesifik sehingga celah bibir dapat terjadi secara terpisah dari celah langit-langit, meskipun keduanya dapat juga terjadi secara bersama-sama dan bervariasi. 11

2.1.4 Penatalaksanaan

Umumnya celah bibir dan langit-langit diperbaiki sedini mungkin selama masa bayi. Kelainan ini dapat dirawat dengan cara pembedahan yang harus ditangani oleh dokter ahli. Pembedahan yang dilakukan yaitu labioplasty dan atau palatoplasty, sehingga pasien akan menjalani kehidupan yang normal setelah pembedahan. Tindakan operasi ini bertujuan untuk mencapai fungsi yaitu bicara, mendengar, dan pengunyahan yang normal, struktur dan penampilan yang lebih baik yaitu perbaikan estetika dari bibir dan hidung, penutupan celah langit-langit, dan kesehatan gigi serta perkembangan psikososial yang normal.7,30

Ada 3 tahap penanganan celah bibir dan langit-langit, yaitu tahap sebelum operasi, tahap sewaktu operasi dan tahap setelah operasi, yaitu:11

1. Tahap sebelum operasi

Pada tahap ini yang dipersiapkan adalah ketahanan tubuh bayi untuk menerima tindakan operasi, asupan gizi yang cukup dilihat dari berat badan yang diperoleh, dan usia yang memadai. Waktu pembedahan menjadi salah satu masalah yang paling diperdebatkan di antara ahli bedah. Orangtua dari penderita pasti menginginkan pengobatan untuk menghilangkan celah bibir dan langit-langit pada bayinya sedini mungkin.11

Kebanyakan ahli bedah mematuhi rule of ten untuk menentukan kapan waktu yang tepat untuk pembedahan. Pedoman rule of ten adalah pada saat pasien berusia minimal 10 minggu, beratnya minimal 10 pon, dan memiliki kadar hemoglobin minimal 10 g/dl, atau biasa dilakukan tindakan operasi pada saat bayi berusia 2-4 bulan untuk celah bibir dan 9-18 bulan untuk celah langit-langit.1,10,11,30 Pembedahan koreksi celah adalah prosedur elektif, sehingga jika ada kondisi medis lainnya yang membahayakan kesehatan bayi, operasi ditunda sampai risiko medis minimal.30

(26)

Jika bayi belum bisa memenuhi hal diatas, sebaiknya pemberian minum harus dengan dot khusus, dimana lubang dot tidak terlalu besar untuk menghindari bayi agar tidak tersedak atau dengan lubang dot tidak terlalu kecil yang dapat membuat asupan gizi menjadi tidak cukup. Adapun cara lain dengan bantuan sendok secara perlahan dalam posisi setengah duduk atau tegak. Untuk celah langit-langit, bisa dibuatkan obturator untuk bayi yang mengalami kesukaran menyusu atau mengalami gangguan masuknya makanan/cairan ke dalam tubuh bayi.11

2. Tahapan operasi

a. Usia untuk operasi bibir yang optimal pada usia 3 bulan, mengingat pengucapan bahasa bibir dimulai pada usia 5-6 bulan. Jika koreksi pada bibir lebih dari usia tersebut maka pengucapan huruf sudah terlanjur salah. Meskipun dilakukan operasi bibir pengucapan huruf tetap menjadi kurang sempurna.11

b. Usia untuk operasi langit-langit yang optimal pada usia 18-20 bulan, mengingat anak aktif bicara usia 2 tahun dan sebelum anak masuk sekolah. Operasi yang dilakukan sesudah usia 2 tahun harus diikuti dengan tindakan speech therapy untuk menghindari suara sengau, karena sebelumnya anak sudah terbiasa melafalkan suara yang salah.11

3. Tahap setelah operasi

Evaluasi bicara dan pendengaran yang dini sangat dianjurkan. Alat bantu pendengaran sering digunakan untuk mencegah timbulnya masalah belajar pada anak celah langit-langit yang sering kali juga mengalami otitis media. Biasanya dokter bedah yang menangani akan memberikan instruksi pada orangtua penderita setelah operasi, seperti tetap menggunakan sendok atau dot khusus untuk memberikan minum bayi.11

Tabel 2.1 Urutan waktu pengobatan celah bibir dan langit-langit:10,34

Usia Penatalaksanaan

Baru lahir Penilaian awal

3 bulan Pembedahan awal untuk memperbaiki celah bibir biasanya menggunakan

(27)

teknik Millard.

9-18 bulan Pembedahan untuk memperbaiki celah langit-langit untuk perkembangan kemampuan bicara dan pertumbuhan maksila; biasanya menggunakan teknik Von Langenbeck.

2 tahun Penilaian kemampuan bicara

3-5 tahun Pembedahan untuk perbaikan bibir kembali

8-9 tahun Perawatan ortodontik pre-bone graft; terapi bicara

10 tahun Melakukan pencangkokkan (penambahan) tulang alveolar dengan tulang kanselus (spons) dari krista iliaca untuk persiapan pertumbuhan gigi kaninus rahang atas dan untuk menopang dasar hidung.

12-14 tahun Ordodontik defenitif

16 tahun Pembedahan perbaikan hidung

17-20 tahun Perawatan konservasi lanjutan; bedah ortognatik untuk memperbaiki maksila hipoplastik.

Jika penderita celah bibir dan langit-langit yang dilakukan pembedahan melebihi batas usia optimal ini hanya memperbaiki fisiknya saja sedangkan secara fisiologis tidak tercapai, yaitu fungsi bicara tetap terganggu seperti suara sengau dan lafalisasi beberapa huruf yang tetap tidak sempurna, tindakan speech therapy pun tidak banyak bermanfaat.9

2.2 Usia Ibu saat Hamil

Usia adalah rentang kehidupan yang diukur dengan tahun terhitung dari dilahirkan sampai saat berulang tahun sekarang.35 Umur ibu pada saat hamil merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kondisi kehamilan ibu, karena

(28)

selain berhubungan dengan kematangan organ reproduksi juga berhubungan dengan kondisi psikologis terutama kesiapan dalam menerima kehamilan.36

Deteksi dini waktu awal kehamilan ibu dan kontrol kehamilan itu penting karena antenatal care berpengaruh terhadap kelainan kongenital, salah satunya celah. Hal ini sependapat dengan WHO yang menyatakan bahwa hasil konsepsi yang buruk dapat menyebabkan kelainan kongenital ini. Bila seorang ibu memiliki kunjungan kurang dari empat kali selama masa kehamilan, pelayanan antenatal yang kurang atau tidak melakukan sama sekali dapat menjadi salah satu faktor risiko terjadinya kelainan kongenital.27

Selama kunjungan, ibu hamil akan diberikan edukasi mengenai kehamilan dan pemberian asam folat.27 Kunjungan antenatal care yang dilakukan pertama yaitu pada minggu-minggu awal kehamilan, sehingga asupan asam folat pada trimester pertama tercukupi minimal 90 tablet selama kehamilan dengan minimal 600 mcg per harinya.

Jika kunjungan antenatal care yang dilakukan dimulai di trimester dua atau tiga kehamilan, maka dapat disimpulkan bahwa konsumsi suplemen asam folat yang harusnya diterima pada trimester pertama terlewat, yang artinya suplemen asam folat tidak terpenuhi. Ibu hamil dengan defisiensi asam folat pada trimester pertama lebih berisiko 13 kali lebih besar memiliki anak dengan celah. 29

Perbedaan pendapat terjadi mengenai kapan usia yang paling ideal ibu untuk hamil. Salah satu pendapat tentang kelompok usia ibu dalam masa reproduksi yang dihubungkan dengan kehamilan terbagi menjadi 3 kelompok, yaitu pertama, usia <20 tahun, pada masa ini ibu masih terlalu muda untuk hamil; kedua, usia 20-35 tahun, pada masa ini ibu harus menjarangkan kehamilan; dan ketiga, usia >35 tahun, pada masa ini ibu sudah harus mengakhiri kesuburan (tidak hamil lagi) karena ibu sudah terlalu tua untuk hamil.37

Berdasarkan pernyataan diatas, usia ibu yang paling aman untuk hamil secara umum dapat diambil kesimpulannya adalah 20-35 tahun. Karena pada wanita usia 20 tahun, rahim dan bagian tubuh lainnya sudah benar-benar siap untuk menerima kehamilan, pertumbuhan linear (tinggi badan) pada umumnya baru selesai yaitu pada usia 16-18 tahun dan dilanjutkan dengan pematangan pertumbuhan rongga panggul

(29)

beberapa tahun setelah pertumbuhan linear selesai yaitu pada usia 20 tahun, akibat dari hamil <20 tahun akan terjadi komplikasi persalinan dan gangguan penyelesaian pertumbuhan optimal karena masukan gizi tidak mencukupi untuk memenuhi dirinya yang masih tumbuh. Usia ibu yang hamil diantara 20-35 tahun memiliki risiko kehamilan dan persalinan yang paling minim. Dengan demikian usia ibu saat hamil

<20 tahun atau >35 tahun memiliki risiko kehamilan dan persalinan sangat tinggi yang merugikan kesehatan ibu dan anak yang akan dilahirkan. Kemudian kesiapan seorang wanita untuk hamil juga harus siap secara fisik, psikologi, sosial dan ekonomi.37

Semakin muda atau tua usia ibu hamil diluar dari rentang usia 20-35 tahun dapat mengakibatkan kehamilan risiko tinggi dan akan berpotensi tinggi untuk melahirkan bayi dengan celah. Hal ini diperkuat dengan teori bertambahnya usia ibu waktu hamil, maka daya pembentukan embriopun akan menurun sehingga bertambah pula risiko dari ketidaksempurnaan pembelahan (meiosis) sel sampai dengan organogenesis.

Elastisitas otot-otot panggul dan sekitarnya serta alat-alat reproduksi pada umumnya telah mengalami kemunduran sehingga dapat mempersulit persalinan, ada kemungkinan lebih besar ibu hamil mendapatkan anak cacat. 11,12,13,14,15,16

Bayi meninggal atau cacat, bahkan ibu meninggal saat persalinan sering terjadi pada kehamilan usia 35 tahun keatas. Pada usia ini, bayi yang dilahirkan rentan mengalami kelainan genetik. Pada usia reproduktif (20-35 tahun), risiko bayi yang mengalami kelainan genetik 1:1000, sedangkan pada ibu yang berusia >35 tahun, risiko itu meningkat menjadi 1:4. 11,12,13,14,15,16

Pada ibu dengan usia tua, maka daya pembentukan embriopun akan menurun dan mengalami penuaan rahim sehingga rahim menjadi kurang selektif terhadap embrio dengan malformasi. Terdapat fakta bahwa plasenta pada wanita yang lebih tua lebih rentan terhadap agen teratogenik.2,11

(30)

2.3 Sosioekonomi

Secara umum, status sosioekonomi merupakan penggolongan status keluarga dalam suatu lapisan masyarakat yang behubungan dengan kemampuan dalam memenuhi kebutuhan melalui usahanya untuk mencapai kesejahteraan.38 Status sosioekonomi adalah ukuran gabungan total ekonomi dan sosiologis dari pengalaman kerja seseorang, dari posisi ekonomi dan sosial individu yang didapatkan berdasarkan pada pendapatan, pendidikan, dan pekerjaan.33

Sebuah status sosioekonomi keluarga didasarkan pada pendapatan keluarga, tingkat pendidikan ayah, pekerjaan ayah. Tingkat sosioekonomi terbagi atas:39,40,41,42,43

a. Kelas atas

Orang kaya secara garis keturunan maupun orang kaya baru yang memiliki jumlah aset banyak atas usaha yang dilakukan dan jumlah kekayaan jauh diatas rata-rata.

Memiliki pendapatan yang diperoleh setiap bulannya > Rp 6.000.000.

b. Menengah keatas

Memiliki lebih banyak pendapatan yang tersedia untuk konsumsi dan mampu membeli keinginan yang di luar kebutuhan utama seperti melakukan liburan atau memiliki properti. Memiliki pendapatan yang diperoleh setiap bulannya sekitar Rp 3.600.000 – Rp 6.000.000.

c. Menengah kebawah

Sekelompok masyarakat yang hanya mampu mencukupi dirinya sendiri dan keluarganya. Memiliki pendapatan yang diperoleh setiap bulannya sekitar Rp 1.200.000 - Rp 3.600.000.

d. Bawah keatas

Tingkat dengan pendapatan dibawah rata-rata dimana pendapatannya lebih sedikit dibandingkan kebutuhan pokoknya. Memiliki pendapatan yang diperoleh setiap bulannya < Rp 1.200.000 atau sekitar Rp 1.200.000 – Rp 3.600.000.

e. Bawah

Kelas bawah berasal dari golongan dimana mereka berada di tingkat yang sangat kesusahaan dalam memenuhi kebutuhan pokok atau tidak mampu memenuhi

(31)

kebutuhan hidup sehari-hari hingga membutuhkan bantuan dari pemerintah.

Memiliki pendapatan yang diperoleh setiap bulannya tidak ada sama sekali atau paling tidak mendapatkan kurang lebih < Rp 1.200.000.

Sosioekonomi menggambarkan tentang kondisi seseorang atau suatu masyarakat yang ditinjau dari segi tingkat pendidikan, pendapatan dan pekerjaan.44

2.3.1 Pendidikan

Pendidikan sebagai suatu aspek yang menyumbangkan sumber daya manusia yang dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan seseorang dalam berbagai kegiatan, juga diharapkan mampu membuka cara berpikir ekonomis.

Dalam arti mampu mengembangkan potensi yang ada untuk memperoleh hasil semaksimal mungkin.45

Menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2003. Pendidikan adalah aktivitas dan usaha untuk meningkatkan kepribadian dengan jalan membina potensi pribadinya. Pendidikan diselenggarakan melalui jalur pendidikan sekolah yang terdiri dari pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.45

Pendidikan merupakan sampai sejauh mana tingkat pendidikan yang telah ditempuh, yaitu pendidikan dasar (SD), pendidikan menengah (SMP) atau (SMA) dan pendidikan tinggi (Perguruan tinggi:D1-D3, S1, S2-S3).40,46

Pendidikan ini memainkan sebuah peran dalam pendapatan keluarga yaitu memberikan dorongan dan dengan demikian dapat meningkatkan penghasilan. Tingkat pendidikan yang lebih tinggi berhubungan dengan hasil ekonomi dan psikologis yang lebih baik, yaitu pendapatan lebih, dukungan sosial lebih dan jaringan yang didapat lebih besar. Pendidikan juga memainkan peranan penting dalam mengasah keterampilan seorang individu sehingga membuat individu tersebut menjadi seseorang yang siap untuk mencari dan memperoleh pekerjaan, serta mendapatkan kualifikasi khusus yang mengelompokkan orang dengan status sosioekonomi tertinggi dari status sosioekonomi terendah.33

Individu yang pendidikannya rendah cenderung tidak memiliki kesadaran untuk mencari informasi kesehatan terutama tentang tindakan untuk mencegah terjadinya

(32)

suatu penyakit, ditambah lagi jarak dari rumah ke fasilitas kesehatan turut berpengaruh akan kesadaran untuk mencari informasi. Semakin jauh jarak fasilitas kesehatan, maka semakin berkurangnya kemauan untuk mendatangi fasilitas kesehatan. Pendidikan ibu juga berhubungan dengan konsumsi suplemen asam folat. Semakin rendah pendidikan ibu, pengetahuan ibu untuk mengonsumsi suplemen asam folat juga rendah begitu pula sebaliknya.29

2.3.2 Pekerjaan

Pekerjaan seseorang akan mempengaruhi kehidupan pribadinya. pekerjaan merupakan kegiatan untuk mencari nafkah baik untuk diri sendiri maupun untuk keluarga. Pekerjaan yang ditekuni oleh setiap orang berbeda-beda dan akan menyebabkan perbedaan tingkat penghasilan yang rendah sampai pada tingkat penghasilan yang tinggi, tergantung pada pekerjaan yang ditekuninya.28 Sosioekonomi salah satunya dapat dilihat dari pekerjaan, maka jenis pekerjaan dapat diberi batasan sebagai berikut:21,40

a. Legislator (DPD, DPR, MPR), Pejabat Senior & Manajer

b. Profesional (insinyur, dokter, hakim, bidan, arsitek, petinju, pemain bola dan lainnya)

c. Teknisi dan Profesional Asosiasi (karyawan swasta, PNS, kontraktor, TNI AD, TNI AL, POLRI dan lainnya)

d. Panitera (seseorang yang membantu hakim dalam dokumentasi, pengarsipan, dan penyiapan bahan persidangan)

e. Pekerja terampil (supir, montir, penjahit, koki, desainer, pramusaji, tukang salon) dan pekerja penjualan toko & pasar

f. Pekerja pertanian dan perikanan g. Kerajinan & pekerja perdagangan

h. Operator (teknisi komputer, hp, ac dan lainnya) dan perakit pabrik & mesin i. Pekerjaan dasar (cleaning service)

j. Pengangguran/ibu rumah tangga

(33)

Pekerjaan yang bergengsi sebagai salah satu komponen status sosioekonomi terdiri dari pendapatan dan pencapaian pendidikan. Status pekerjaan sesuai dengan tingkat pendidikan suatu individu. Pekerjaan yang lebih baik, mengeksplorasi dan mempertahankan posisi yang lebih baik menjadi tak terelakkan dan dengan demikian terjadi perbaikan dalam status sosioekonomi. Status pekerjaan akibatnya menjadi sebuah indikator untuk posisi sosial/status dalam masyarakat.33

Beberapa pekerjaan yang paling bergengsi adalah dokter dan ahli bedah, pengacara, insinyur kimia dan biomedis, spesialis komputer. Pekerjaan ini dianggap dikelompokkan dalam klasifikasi status sosioekonomi tinggi, memberikan lebih banyak pekerjaan menantang dan kemampuan kontrol yang lebih besar terhadap kondisi kerja. Pekerjaan dengan peringkat yang lebih rendah adalah pekerja pramusaji makanan, bartender, pencuci piring, tukang sapu, pelayan, pembantu rumah tangga, pembersih kendaraan, dan tukang parkir. Pekerjaan yang kurang dihargai juga dibayar secara signifikan kurang dan lebih melelahkan, selain itu secara fisik berbahaya seperti kuli bangunan.33

Pekerjaan juga berkaitan dengan kondisi kehamilan. Ibu yang bekerja di pertanian dan pabrik mendapatkan paparan terhadap pestisida dan debu. Dampak kerja keras atau melakukan kerja fisik yang berat selama kehamilan seperti beternak dan terkena paparan bahan kimia juga menyebabkan efek teratogenik pada bayi.32,47

2.3.3 Pendapatan

Pendapatan merupakan jumlah semua pendapatan kepala keluarga maupun anggota lainnya yang didapatkan dalam bentuk uang dan barang. Berdasarkan keputusan Gubernur Sumatera Utara tentang penetapan upah minimum Provinsi Sumatera Utara adalah sebesar Rp 2.499.423,06,-.48

Terdapat 7 golongan pendapatan:40 a. Lebih dari Rp 24.000.000 per bulan

b. Rp 12.000.000 s/d Rp 24.000.000 per bulan c. Rp 9.000.000 s/d Rp12.000.000 per bulan d. Rp 6.000.000 s/d Rp 9.000.000 per bulan

(34)

e. Rp 3.600.000 s/d Rp 6.000.000 per bulan f. Rp 1.200.000 s/d Rp 3.600.000 per bulan g. Kurang dari Rp 1.200.000 per bulan

Keluarga berpendapatan rendah fokus pada pemenuhan kebutuhan yang mendesak dan tidak menumpuk kekayaan yang dapat diteruskan ke generasi yang akan datang, jumlah pendapatan yang rendah akan mempengaruhi pemberian suplemen asam folat pada 3 bulan pertama kehamilan. Keluarga dengan pendapatan yang lebih tinggi dapat mengumpulkan kekayaan dan fokus pada pemenuhan kebutuhan mendesak, sambil dapat menikmati kemewahan yang ada.29,33

Jumlah anggota keluarga berpengaruh terhadap pendapatan dalam daya beli untuk penyediaan dan distribusi pangan dalam keluarga. Pada rumah tangga yang memiliki jumlah anggota keluarga relatif banyak, kualitas konsumsi pangan akan semakin buruk. Keluarga dengan keadaan sosial ekonomi yang kurang dengan jumlah anak yang banyak akan mengakibatkan kebutuhan primer seperti makanan tidak terpenuhi yang berpengaruh terhadap nutrisi ibu tersebut.49

Beban terkait keuangan adalah sumber stres yang umum pada ibu, yang menunjukkan bahwa wanita hamil dengan sosioekonomi rendah mengalami stress yang lebih tinggi hal ini terutama terjadi di negara berkembang. Sosioekonomi yang rendah berkontribusi pada stres dalam periode perikonsepsi karena beban yang terkait keuangan mengakibatkan kesehatan umum yang buruk dan perawatan kesehatan ibu yang tidak memadai, yang dapat menyebabkan anak lahir dengan celah. Selain itu, kadar kortisol yang berlebihan akibat stres dapat mengakibatkan konsentrasi kortisol yang lebih tinggi pada janin dan akibatnya terjadi efek teratogenik pada awal kehamilan. Oleh karena itu, penting bagi penyedia layanan kesehatan untuk berusaha memberikan dukungan sosial dan sumber keuangan yang memadai untuk memastikan kesejahteraan psikologis ibu.21

(35)

2.4 Kerangka Teori

Keterangan:

= yang diteliti

= yang tidak diteliti Celah Bibir dan

Langit-langit

Penatalaksanaan Klasifikasi

Etiologi Patofisiologi

Embriologi

Usia Ibu saat

Hamil Sosioekonomi

Pendapatan Pekerjaan Pendidikan Usia Ibu dan Tingkat Sosioekonomi Terhadap Terjadinya Celah Bibir dan

Langit-langit

(36)

2.5 Kerangka Konsep

Tingkat Sosioekonomi Terhadap Terjadinya

Celah Bibir dan Langit-langit Karakteristik Usia Ibu

dan Tingkat Sosioekonomi Terhadap Terjadinya

Celah Bibir dan Langit-langit

Usia Ibu Terhadap Terjadinya Celah Bibir dan Langit-

langit

(37)

BAB 3

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang akan dilaksanakan adalah penelitian deskriptif, dengan metode survei untuk menggambarkan karakteristik usia ibu dan tingkat sosioekonomi terhadap terjadinya celah bibir dan langit-langit di RSU Mitra Sejati.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di RSU Mitra Sejati.

3.2.2 Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan pada bulan Juli 2021 sampai September 2021.

3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi Penelitian

Populasi pada penelitian ini adalah seluruh orangtua dari anak yang mengalami celah yang melakukan perawatan di RSU Mitra Sejati.

3.3.2 Sampel Penelitian

3.3.2.1 Metode pengambilan sampel

Teknik ini menggunakan accidental sampling yaitu teknik berdasarkan dengan mengambil kasus atau responden yang kebetulan ada atau tersedia disuatu tempat sesuai dengan konteks penelitian.

3.3.2.2 Pemilihan besar sampel

Sampel penelitian ini adalah orangtua dari anak yang mengalami celah di RSU Mitra Sejati yang dipilih menggunakan metode purposive sampling, yang mana teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu.

Untuk menentukan jumlah sampel orangtua yang diambil pada penelitian ini digunakan rumus estimasi proporsi sebagai berikut:

(38)

𝑛 =Z21 −2. 𝑃. (1 − 𝑃) d2

Keterangan:

n = Jumlah sampel

Z1-α/2 = Derajat kepercayaan 95% (Z1-α/2 = 1,96)

P = Perkiraan proporsi penelitian terdahulu (0,48)29 d = Selisih proporsi (presisi) = 10%

Sehingga didapati hasil:

𝑛 =1,962∗ 0,48 ∗ (1 − 0,5) 0,12

n = 92,19 → 92

Berdasarkan rumus di atas, maka jumlah sampel yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah 92 orang.

Kemungkinan drop out adalah 10%.

Keterangan:

n

=

n

1−𝑓

n’ = Jumlah subjek yang dihitung n = Jumlah sampel minimal

f = Perkiraan proporsi drop out (10%) Sehingga didapati hasil:

𝑛′ = 92 1 − 0,1 n′ = 102, 22 → 102

Berdasarkan perhitungan besar sampel ditambah dengan kemungkinan drop out 10% didapatkan sampel sebesar 102 orang.

3.4 Kriteria Inklusi dan Eksklusi 3.4.1 Kriteria Inklusi

1. Orangtua dari anak yang lahir dengan kondisi celah bibir saja

(39)

2. Orangtua dari anak yang lahir dengan kondisi celah bibir dan langit-langit 3. Orangtua dari anak yang lahir dengan kondisi celah langit-langit saja 3.4.2 Kriteria Eksklusi :

1. Pasien yang tidak melakukan perawatan celah di RSU Mitra Sejati 2. Orangtua yang tidak bersedia untuk di wawancarai

3. Orangtua yang tidak memiliki alat komunikasi

3.5 Variabel Penelitian dan Defenisi Operasional Tabel 3.1 Variabel dan Defenisi Operasional

Definisi Skala

Variabel operasional Cara ukur Alat ukur Hasil ukur ukur

Usia ibu saat hamil

Lamanya kehidupan seseorang dihitung sejak tahun lahir sampai ulang tahun terakhir saat dilakukan penelitian

Wawancara Kuesioner a. <20 tahun b. 20-35 tahun c. >35 tahun

Ordinal

Pendidikan Pendidikan formal yang berhasil ditempuh, yaitu SD, SMP/SMA dan

perguruan tinggi

Wawancara Kuesioner a. S2-S3 b. S1 c. D1-D3

d. SMA/SLTA/S ederajat e. SMP/SLTP/S

ederajat f. SD

g. Buta Huruf

Ordinal

Pekerjaan Kegiatan Wawancara Kuesioner a. Legislator, Ordinal

orangtua Pejabat

untuk mencari nafkah, baik untuk sendiri

Senior &

Manajer b. Profesional c. Teknisi dan

(40)

maupun untuk keluarga

Pendapatan Segala bentuk penghasilan yang

diterima oleh keluarga dalam bentuk rupiah yang diterima setiap bulannya

k

Responden mengisi lembaran pertanyaan tentang karakteristi k usia ibu dan tingkat sosioekono mi terhadap terjadinya celah bibir dan langit- langit

Profesional Asosiasi d. Panitera e. Pekerja

terampil dan pekerja penjualan toko & pasar f. Pekerja

pertanian dan perikanan g. Kerajinan &

pekerja perdagangan h. Operator dan

perakit pabrik &

mesin i. Pekerjaan

dasar

j. Penganggura n

Kuesioner a. >Rp 24.000.000 b. Rp

12.000.000 – Rp

24.000.000 c. Rp 9.000.000

– Rp 12.000.000 d. Rp 6.000.000

– Rp 9.000.000 e. Rp 3.600.000

– Rp 6.000.000 f. Rp 1.200.000

Ordinal

(41)

– Rp 3.600.000 g. <Rp

1.200.000

Tingkat Orang kaya Scoring kuesioner 26-29 Ordinal sosioekonom secara garis

i kelas atas keturunan dan jumlah kekayaan jauh diatas rata-rata.

memiliki jumlah aset yang banyak atas usaha yang dilakukan

Tingkat memiliki Scoring kuesioner 16-25 Ordinal sosioekonom lebih

i kelas banyak menengah pendapatan keatas yang

tersedia untuk konsumsi dan mampu membeli keinginan yang di luar kebutuhan utama seperti melakukan liburan atau memiliki mobil dan memiliki properti.

Tingkat Sekelompok Scoring kuesioner 11-15 Ordinal sosioekonom masyarakat

i kelas yang menengah mampu

(42)

kebawah mencukupi dirinya sendiri dan keluarganya Tingkat

sosioekonom i kelas bawah atas

tingkat dengan pendapatan dibawah rata-rata dimana pendapatan nya lebih sedikit dibandingka n kebutuhan pokoknya.

Scoring kuesioner 5-10 Ordinal

Tingkat sosioekonom i kelas bawah

Tingkat yang sangat kesusahaan dalam memenuhi kebutuhan pokok hingga membutuhk an bantuan dari

Scoring kuesioner <5 Ordinal

pemerintah

3.6 Metode Pengumpulan Data dan Prosedur Penelitian 3.6.1 Metode Pengumpulan Data

3.6.1.1 Data Primer

Data primer merupakan data yang dikumpulkan langsung oleh peneliti pada saat penelitian melalui hasil wawancara yang hasil wawancaranya akan dipindahkan pada lembar kuesioner, wawancara yang diberikan berisi tentang beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan variabel penelitian, yaitu karakteristik usia ibu dan tingkat sosioekonomi terhadap terjadinya celah bibir dan langit-langit.

Alat yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah alat komunikasi dan kuesioner, dalam bentuk pertanyaan tertutup (close ended), berisi pertanyaan-

(43)

pertanyaan mengenai karakteristik usia ibu dan tingkat sosioekonomi terhadap terjadinya celah bibir dan langit-langit.

Sebelum mengisi kuesioner, peneliti memberikan penjelasan tentang tujuan serta tata cara pengisian kuesioner dan memberikan lampiran persetujuan oleh responden bahwa penelitian yang dilakukan secara sukarela dan tanpa paksaan serta data responden yang diberikan akan dijaga kerahasiaannya oleh peneliti.

3.6.1.2 Data Sekunder

Data sekunder merupakan data yang diperoleh rekam medis RSU Mitra Sejati yang digunakan untuk mendukung informasi primer.

3.6.2 Teknik Pengumpulan Data

Teknik yang digunakan oleh peneliti dalam pengumpulan data guna tercapainya tujuan penelitian yaitu dengan menggunakan instrumen berupa kuesioner. Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh dari responden tentang pribadinya. Dalam kuesioner tersebut peneliti menggunakan data demografi untuk mengukur status sosial dan ekonomi seperti pendidikan terakhir ayah, perkerjaan ayah, dan penghasilan perbulan keluarga yang kemudian mendapatkan skor sesuai kategorisasinya.

3.6.2.1 Instrumen Status Sosioekonomi

Instrumen variabel status sosial ekonomi menggunakan Skala Kuppuswamy’s Socioeconomic Scale. Instrumen dibuat oleh kuppuswamy tahun 1976 lalu di publikasikan pada tahun 2016 oleh Sheikh Mohd Saleem dan di modifikasi pada tahun 2021 oleh Sheikh Mohd Saleem dan Shah Sumaya Jan. Skoring yang dilakukan berdasarkan skor kategorisasinya yaitu:21,40

(44)

Tabel 3.2 Skor Status Sosioekonomi

Kategori Skor

Legislator (DPD, DPR, MPR), Pejabat Senior & Manajer 10

Pekerjaan Kepala Keluarga

Profesional (insinyur, dokter, hakim, bidan, arsitek, 9 petinju, pemain bola dan lainnya)

Teknisi dan Profesional Asosiasi (karyawan swasta, PNS, 8 kontraktor, TNI AD, TNI AL, POLRI dan lainnya)

Panitera (seseorang yang membantu hakim dalam 7 dokumentasi, pengarsipan, dan penyiapan bahan

persidangan)

Pekerja Terampil (supir, montir, penjahit, koki, desainer, 6 pramusaji, tukang salon) dan Pekerja Penjualan Toko &

Pasar

Pekerja Pertanian & Perikanan 5 Kerajinan & Pekerja Perdagangan 4 Operator (teknisi komputer, hp, ac dan lainnya) dan 3

Perakit Pabrik & Mesin

Pendidikan Kepala Keluarga

Penghasilan Keluarga (Perbulan)

Pekerjaan Dasar (Cleaning Service) 2

Pengangguran 1

S2-S3 7

S1 6

D1-D3 5

SMA/SLTA/Sederajat 4

SMP/SLTP/Sederajat 3

SD 2

Buta Huruf 1

>Rp 24.000.000 12

Rp 12.000.000 – Rp 24.000.000 10

Rp 9.000.000 – Rp 12.000.000 6

(45)

Rp 6.000.000 – Rp 9.000.000 4

Rp 3.600.000 – Rp 6.000.000 3

Rp 1.200.000 – Rp 3.600.000 2

<Rp 1.200.000 1

Setelah dikelompokkan sesuai dengan kategorinya, status sosial ekonomi responden diberikan skor yang sesuai. Setelah itu, responden dikelompokkan berdasarkan jumlah skor yang didapatkan masing-masing sesuai dengan skala status sosial ekonomi. Skala status sosial ekonomi sebagai berikut:

Tabel 3.3 Skala Status Sosioekonomi

No Skor Status Sosial Ekonomi

1 26-29 Atas

2 16-25 Menengah keatas

3 11-15 Menengah kebawah

4 5-10 Bawah keatas

5 <5 Bawah

3.6.3 Prosedur Penelitian

1. Pengurusan surat izin penelitian dari Dekan Fakultas Kedokteran Gigi USU 2. Melakukan wawancara kepada orangtua yang anaknya mempunyai celah 3. Pengumpulan data

4. Pengolahan dan analisis data

3.7 Pengolahan Data dan Analisis Data 3.7.1 Pengolahan Data

Pengolahan data dari hasil penelitian dilakukan secara komputerisasi dan dimulai dengan pengecekan isi kuesioner, editing, coding, entry dan analisis data.

(46)

3.7.2 Analisis Data

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis univariat.

Analisis ini berupa analisis terhadap suatu kelompok variabel yang bertujuan untuk meringkas kumpulan data hasil pengukuran sedemikian rupa sehingga kumpulan data tersebut berubah menjadi informasi yang berguna dalam bentuk persentase. Hasil dari data di sajikan dalam bentuk tabel untuk melihat karakteristik usia ibu dan tingkat sosioekonomi terhadap terjadinya celah bibir dan langit-langit di RSU Mitra Sejati.

3.8 Etika Penelitian

Penelitian akan dilakukan setelah mendapat persetujuan dari komisi etik Universitas Sumatera Utara. Hal ini bertujuan agar penelitian ini dapat dipertanggungjawabkan secara etika dan legitimasi. Setelah mendapat persetujuan dari komisi etik, penelitian ini akan memberikan penjelasan dan meminta persetujuan, kemudian menanyakan kesediaan dari responden tersebut untuk berpartisipasi dalam penelitian kepada subjek berupa informed consent. Penelitian ini akan dilanjutkan apabila informed consent telah disetujui oleh subjek penelitian.

(47)

BAB 4

HASIL PENELITIAN

4.1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Sampel

Karakteristik responden yaitu orangtua dari anak yang mengalami celah bibir dan langit-langit di RSU Mitra Sejati yang diteliti dalam penelitian ini adalah usia ibu dan tingkat sosioekonomi keluarga. Hasil penelitian dan keterangan selengkapnya dapat dilihat pada berikut ini.

4.1.1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Usia Ibu Saat Mengandung Anak yang Mengalami Celah Bibir dan Langit-langit di RSU Mitra Sejati

Karakteristik usia ibu saat mengandung anak yang mengalami celah bibir dan langit-langit di RSU Mitra Sejati, hasil penelitian didapatkan bahwa mayoritas usia ibu adalah 20-35 tahun yaitu sebanyak 79 orang (77,5%), disusul oleh ibu berusia

>35 tahun sebanyak 12 orang (11,8%), dan ibu <20 tahun hanya 11 orang (10,8%) (Tabel 1).

Tabel 1. Usia Ibu Saat Mengandung Anak yang Mengalami Celah Bibir dan Langit- langit di RSU Mitra Sejati

Usia Ibu n %

20-35 tahun 79 77,5

<20 tahun 11 10,8

>35 tahun 12 11,8

Total 102 100,0

4.1.2 Distribusi Frekuensi Karakteristik Tingkat Sosioekonomi Orangtua Anak Terhadap Terjadinya Celah Bibir dan Langit-langit di RSU Mitra Sejati

Tingkat sosioekonomi yang diteliti dalam penelitian ini antara lain pekerjaan, pendidikan, dan pendapatan orangtua. Berdasarkan pekerjaan ayah, hasil penelitian didapatkan bahwa mayoritas pekerjaan ayah adalah pekerja pertanian dan perikanan yaitu sebanyak 34 orang (33,3%), disusul oleh pekerja terampil (supir, montir, penjahit, koki, desainer, pramusaji, tukang salon), pekerja penjualan toko dan pasar

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini untuk membandingkan hasil belajar dan motivasi siswa pada materi masalah- masalah ekonomi sebelum dan sesudah menggunakan Metode Ice Breaking

- (erat dian)urkan 2% r 8 hari *isani! 2006+.. kali seminu selama kuran lebih 0 menit+, merupakan salah satu pilar dalam  penelolaan DM tipe 2!

Perkalian modulo (2 16 + 1) dua sub-blok 16-bit, dimana kedua sub-blok 16-bit itu dianggap sebagai representasi biner dari integer biasa kecuali sub-blok nol dianggap

6 Menyerahkan fotocopy lembar penilaian lapang (Form 4) yang ditandatangani pembimbing lapang tempat pelaksanaan PKN. 7 Menyerahkan hasil scan Berkas Persyaratan Ujian dalam bentuk

Siswa dapat melakukan latihan variasi dan kombinasi latihan teknik dasar permainan sepakbola (mengumpan, mengontrol, menggiring dan menembak) berpasangan dan berkelompok

Perancangan Tourist Center di Kota Bandung menjadi salah satu fasilitas.. penting yang menyediakan pusat informasi, fasilitas pendukung seperti

Akselerasi Pemenuhan Akses Pelayanan Kesehatan 'bu, Anak, Remaja, dan Lanjut Usia yang berkualitas.