• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN MODEL ACTIVE LEARNING TIPE KEEP ON LEARNING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR KOGNITIF PKn DI KELAS V SDN KRATON, YOGYAKARTA.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENERAPAN MODEL ACTIVE LEARNING TIPE KEEP ON LEARNING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR KOGNITIF PKn DI KELAS V SDN KRATON, YOGYAKARTA."

Copied!
184
0
0

Teks penuh

(1)

i

PENERAPAN MODEL ACTIVE LEARNING TIPE KEEP ON LEARNING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR KOGNITIF PKn

DI KELAS V SDN KRATON, YOGYAKARTA

TUGAS AKHIR SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan guna Memperoleh Gelar Sarjana

Pendidikan

Oleh Deny Estiningtyas NIM 13108241005

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

(2)

ii

PENERAPAN MODEL ACTIVE LEARNING TIPE KEEP ON LEARNING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR KOGNITIF PKn

DI KELAS V SDN KRATON YOGYAKARTA Oleh :

Deny Estiningtyas NIM 13108241005

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar kognitif PKn dengan menggunakan model active learning tipe keep on learning pada siswa kelas V SDN Kraton Yogyakarta.

Jenis penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Subjek penelitian adalah siswa kelas V SDN Kraton Yogyakarta yang berjumlah 24 siswa. Metode pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan tes, observasi dan dokumentasi. Instrumen penelitian berupa tes dan lembar keterlaksanaan pembelajaran. Teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Adapun indikator keberhasilan tindakan ditandai dengan ≥75% dari jumlah siswa yang mengikuti proses pembelajaran telah memperoleh nilai ≥75.

Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar kognitif PKn siswa kelas V SDN Kraton Yogyakarta setelah menggunakan model active learning tipe keep on learning baik pada siklus I maupun siklus II. Pada siklus I siswa yang memperoleh nilai ≥75 mengalami peningkatan sebesar 37,5% dengan kondisi awal 25% meningkat menjadi 62,5% dan pada siklus II mengalami peningkatan sebesar 33,33% menjadi 95,8%. Nilai rata-rata hasil belajar pada siklus I mengalami peningkatan sebesar 16,59% dengan kondisi awal 68,08 meningkat menjadi 79,38 dan pada siklus II mengalami peningkatan sebesar 8,13% menjadi 85,83.

(3)

iii

IMPLEMENTATION OF ACTIVE LEARNING MODEL KEEP ON LEARNING TYPE TO IMPROVE THE COGNITIVE ACHIEVEMENT OF CIVIC EDUCATION

AT 5th GRADE STUDENTS IN SDN KRATON YOGYAKARTA

By: students of grade fifth at State Elementary School Kraton, Yogyakarta amounting of 24 students. The methods of data collection used were test, observation, and documentation. The collected data then analyzed both descriptive qualitatively and descriptive quantitatively. The success indicator of the action is characterized by ≥75% of students who take the learning process has gained value ≥75. The results showed an increase in cognitive achievement Civics class student V State Elementary School Kraton Yogyakarta after using the active learning model keep on learning type both in the first cycle and the second cycle. In the first cycle, students who received ≥75 value increased by 37.5% with the initial conditions of 25% increased to 62.5% and the second cycle increased by 33.33% to 95.8%. The average value of learning outcomes in the first cycle increased by 16.59% with the initial conditions rose to 79.38 and 68.08 on the second cycle increased by 8.13% to 85.83.

(4)
(5)
(6)
(7)

vii MOTTO

“Setiap murid bisa belajar, hanya saja tidak pada hari yang sama atau dengan cara

yang sama.” (George Evans)

“Pendidikan bukanlah suatu proses untuk mengisi wadah yang kosong, akan tetapi

(8)

viii

PERSEMBAHAN

Dengan mengucap syukur Alhamdulillah, karya sederhana ini penulis

persembahkan kepada:

1. Ayah dan ibuku tercinta, Bpk. Sulyadi dan Ibu Henny.

2. Almamaterku, Universitas Negeri Yogyakarta yang telah menjadi tempatku

menuntut ilmu.

(9)

ix

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala limpahan

rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyalesaikan Tugas Akhir Skripsi yang berjudul “Penerapan Model Active Learning Tipe Keep On Learning

Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Kognitif PKn Siswa Kelas V SDN Kraton, Yogyakarta” dengan lancar. Penyusunan skripsi ini bertujuan untuk memenuhi

sebagian persyaratan guna memperoleh gelar sarjana pendidikan jurusan

Pendidikan Sekolah Dasar, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri

Yogyakarta.

Penulis menyadari sepenuhnya, tanpa bimbingan dan bantuan dari berbagai

pihak, Tugas Akhir Skripsi ini tidak akan dapat diselesaikan dengan baik. Oleh

karena itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada:

1. Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta, yang telah

memberikan izin penelitian untuk keperluan penyusunan skripsi.

2. Ketua Jurusan Pendidikan Sekolah Dasar Universitas Negeri Yogyakarta, yang

telah memberikan rekomendasi dan bantuan dari awal pembuatan proposal hingga

penyusunan skripsi ini terselesaikan.

3. Dr. Wuri Wuryandani, M. Pd. selaku dosen pembimbing yang telah bersedia

meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran guna memberikan petunjuk, arahan, dan

bimbingan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan lancar.

5. Seluruh dosen jurusan Pendidikan Sekolah Dasar yang telah memberikan

banyak ilmu, wawasan, dan pengalamannya selama penulis mengikuti

(10)
(11)

xi

C. Model Pembelajaran Aktif (Active Learning) ... 23

D. Model Active Learning Tipe Keep on Learning ... 31

E. Definisi Operasional ... 36

(12)

xii

G. Kerangka Pikir ... 39

H. Hipotesis Tindakan... 41

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 42

B. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 42

C. Subyek dan Obyek Penelitian ... 42

D. Desain Penelitian ... 43

E. Metode Pengumpulan Data ... 47

F. Instrumen Penelitian ... 48

G. Teknik Analisis Data ... 50

H. Kriteria Keberhasilan Tindakan ... 52

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A.Hasil Penelitian ... 53

B.Pembahasan ... 78

C.Keterbatasan Penelitian ... 83

BAB V SIMPULAN DAN SARAN A.Kesimpulan ... 84

B.Saran ... 85

DAFTAR PUSTAKA ... 86

(13)

xiii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Kerangka Berpikir ... 41

Gambar 2. Desain Penelitian Tindakan Kelas ... 43

Gambar 3. Diagram Capaian Hasil Belajar Siswa pada Siklus I ... 64

Gambar 4. Diagram Capaian Hasil Belajar Siswa pada Siklus II ... 75

Gambar 4. Diagram Capaian Hasil Belajar Siswa pada Pra Tindakan, Siklus I, dan Siklus II ... 76

(14)

xiv

DAFTAR TABEL

Tabel 1. SK dan KD PKn kelas V Semester II ... 23

Tabel 2. Kisi-kisi Soal Tes Siklus I ... 49

Tabel 3. Kisi-kisi Lembar Keterlaksanaan Pembelajaran ... 50

Tabel 4. Hasil Belajar Siswa pada Pra Tindakan... 55

Tabel 5. Hasil Belajar Siswa pada Siklus I ... 63

Tabel 6.Hasil Refleksi dan Upaya Perbaikan Tindakan Pada siklus I .... 67

(15)

xv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. RPP PKn siklus I dan II ... 89

Lampiran 2. Kisi-kisi soal evaluasi siklus I dan II ... 112

Lampiran 3. Lembar Keterlaksanaan Pembelajaran Siklus I dan II ... 126

Lampiran 4. Hasil Belajar Siswa ... 128

Lampiran 5. Foto Pelaksanaan Penelitian ... 146

Lampiran 6. Dokumen Hasil Pekerjaan Siswa ... 148

Lampiran 7. Surat-surat ... 168

(16)

1 BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan pengalaman belajar yang berlangsung sepanjang

hidup. Pendidikan dilakukan di lingkungan keluarga maupun masyarakat.

Pendidikan memerlukan peran serta dari semua pihak. Hal ini sesuai dengan

pengertian pendidikan menurut Mudyaharjo (2012: 11) yaitu:

“Pendidikan dapat diartikan usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat dan pemerintah melalui kegiatan bimbingan pengajaran atau latihan yang berlangsung di sekolah dan diluar sekolah sepanjang hayat, untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat memainkan peranan dalam berbagai lingkungan hidup secara tepat di masa yang akan datang.”

Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 dijelaskan bahwa

pendidikan mempunyai andil yang penting dalam menentukan proses pencapaian

tujuan pendidikan nasional yaitu mengembangkan potensi peserta didik agar

menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,

berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara

yang demokratis serta bertanggung jawab.

Masalah yang dihadapi dunia pendidikan salah satunya adalah masalah

lemahnya proses pembelajaran (Sanjaya, 2009: 1). “Pembelajaran adalah proses

interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar” (UU 20/2003). Dalam proses pembelajaran hendaknya dapat

mengembangkan proses pembelajaran aktif, sehingga dapat terwujud partisipasi

aktif siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Dengan adanya partisipasi siswa

(17)

2

Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang wajib

dipelajari di sekolah dasar. Siswa mempelajari mengenai tata kehidupan

masyarakat dan negara. Materi pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di sekolah

dasar merupakan mata pelajaran yang cukup luas. Materi yang luas tersebut

terlihat pada cakupannya bahwa PKn meliputi aspek-aspek yaitu: a) persatuan dan

kesatuan bangsa; b) norma, hokum, dan peraturan; c) hak asasi manusia; d)

kebutuhan warga negara; e) konstitusi negara; f) kekuasaan dan politik; Pancasila;

dan g) globalisasi (Suharno dkk, 2006 : 38). Muatan materi tersebut harus dapat

tersampaikan dengan baik pada siswa. Di sisi lain, guru diharuskan menyelesaikan

target ketuntasan belajar siswa, sehingga perlu perencanaan-perencanaan dan

pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model, metode, dan media yang

tepat.

Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 dijelaskan bahwa PKn

merupakan mata pelajaran diwajibkan untuk jenjang pendidikan dasar, menengah

dan mata kuliah wajib untuk pendidikan tinggi. Pada jenjang sekolah dasar PKn

diajarkan kepada siswa yang berusia 7-12 tahun dimana menurut Piaget merupakan fase perkembangan “operasional konkret”. Djiwandono (2006: 6) juga

menyebutkan bahwa sebagian besar anak sekolah dasar yang berada dalam

operasional konkret kurang mampu berfikir abstrak, sedangkan PKn merupakan

mata pelajaran yang abstrak, tidak seperti ilmu-ilmu atau mata pelajaran eksak.

Jika dilihat dari karakteristik anak usia sekolah dasar dan dibandingkan dengan

(18)

3

guru dapat merencanakan kegiatan yang mengandung lebih banyak keterlibatan

siswa.

Muatan materi dalam PKn yang abstrak tidak diimbangi dengan kegiatan

belajar mengajar yang sepadan. Kegiatan belajar mengajar yang terlaksana masih

menggunakan model konvensional. Pembelajaran masih didominasi ceramah oleh

guru, sehingga pembelajaran cenderung berpusat pada guru. KBM dengan model

ini membuat siswa kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran, karena mereka

tidak memiliki keterlibatan langsung.

Metode yang tidak pernah diganti dari tahun ke tahun inilah yang kemudian

menjadi penyebab tidak tuntasnya hasil belajar siswa. Umumnya dalam

pembelajaran siswa banyak mendapat asupan ilmu secara pasif, tanpa bisa terlibat

secara intensif. Hal ini menyebabkan kurang adanya timbal balik dari siswa,

sehingga guru tidak mengetahui permasalahan siswa dalam memahami materi

selama pembelajaran berlangsung. Jika metode yang digunakan ini dibiarkan terus

berlangsung, hasil belajar PKn siswa akan sulit meningkat dan tidak tuntas.

Pembelajaran perlu menggunakan model yang baru atau jarang digunakan

sebelumnya, sehingga tercipta suasana pembelajaran baru yang efektif, efisien,

dan lebih bermanfaat. Kegiatan pembelajaran yang menyenangkan dapat

diciptakan dengan menerapkan metode yang bervariasi, strategi yang tepat dan

media pembelajaran yang relevan dengan materi yang diajarkan. Model baru ini

diharapkan bisa membuat siswa lebih tertarik, sehingga memperkuat kemampuan

(19)

4

Mata pelajaran PKn di sekolah dasar menempatkan siswa untuk bisa

membangun pengetahuan dari pengalamannya sendiri, baik melalui pengalaman

menemui sesuatu hal maupun berfikir. Hal tersebut sejalan dengan proses

pembelajaran dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang menerapkan

adanya partisipasi aktif dari siswa. Kegiatan pembelajaran dipusatkan pada siswa,

sedangkan guru berperan sebagai fasilitator dan mediator.

Dari hasil observsai yang telah dilakukan, pembelajaran PKn di Kelas V

Sekolah Dasar Negeri Kraton masih menitikberatkan menuntut hafalan, beriringan

dengan metode penyampaian materi melalui ceramah kemudian siswa

mendengarkan lalu mencatat. Pembelajaran yang berlangsung kurang variatif

sehingga siswa menjadi kurang aktif. Siswa cenderung kurang ada tanggapan

ketika ditanyai pendapat, karena mereka tidak mempunyai bekal pengetahuan

yang lebih, selain daripada yang didapatkan di buku.

Pada saat kegiatan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan berlangsung,

tidak sepenuhnya seluruh siswa memperhatikan penjelasan guru. Sebagian siswa

bergurau dengan temannya atau mencari-cari kesibukan sendiri. Hal ini

dikarenakan siswa bosan dengan aktivitas mendengarkan, sehingga pembelajaran

PKn dirasa kurang menyenangkan bagi siswa. Keadaan tersebut menimbulkan

hasil belajar yang kurang memuaskan. (Indriani, 2015 : 3). Dengan demikian,

suasana pembelajaran yang kurang variatif menyebabkan hasil belajar yang

diperoleh menjadi kurang memuaskan.

Rendahnya hasil belajar dari siswa terlihat pada hasil beberapa kali ulangan

(20)

5

ulangan harian pertama diperoleh rata-rata 80,25, ulangan harian kedua diperoleh

rata-rata 78,20 dan ulangan harian ketiga diperoleh rata-rata 68,08. Hasil dari tiga

kali ulangan harian yang dilaksanakan, menunjukkan penurunan. Jadi, rata-rata

dari hasil tiga kali ulangan harian PKn tersebut adalah 75,51. Hasil ini lebih

rendah dibandingkan dengan hasil rata-rata tiga kali ulangan harian mata pelajaran

matematika yaitu 81,38 dan Bahasa Indonesia yaitu 78,77. Dalam hasil ulangan

harian mata pelajaran Bahasa Indonesia bahkan selalu terjadi peningkatan dalam

rata-rata nilainya. Dari hasil rekap nilai ulangan harian tersebut terlihat bahwa ada

beberapa siswa tidak dapat mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal. Rata-rata

dalam setiap ulangan harian ada 7-13 siswa dari 24 siswa keseluruhan. Apabila

dipresentasikan sekitar kurang lebih 50% dari jumlah siswa belum lulus KKM.

Hasil dari rekap nilai rata-rata ulangan tengah semester dan ulangan akhir

semester juga menunjukkan bahwa PKn masih lebih rendah dibandingkan

matematika dan bahasa Indonesia. Hasil belajar yang rendah ini harus segera

diatasi dan diupayakan pemecahan masalahnya.

Data yang diperoleh dari hasil pengamatan dan wawancara, di luar Kegiatan

Belajar Mengajar seperti jam istirahat dan waktu pulang sekolah, sebagian besar

siswa kurang dapat memanfaatkan waktu luangnya untuk mengulas kembali

pembelajaran yang sudah dilaksanakan didalam kelas. Waktu luang ini seharusnya

bisa dimanfaatkan siswa untuk memahami kembali bagian mana dari

pembelajaran yang belum ia mengerti. Siswa tetap bisa belajar diluar KBM

(21)

6

Model pembelajaran active learning adalah pendekatan dalam pengelolaan sistem pembelajaran melalui cara-cara belajar yang aktif menuju belajar yang

mendiri. Kemampuan belajar mandiri ini merupakan tujuan akhir dari active learning. Silbeman (2016 : 23) mengatakan bahwa apa yang saya dengar, saya lupa. Apa yang saya dengar dan lihat, saya ingat sedikit. Apa yang saya dengar,

lihat dan tanyakan atau diskusikan dengan beberapa teman lain, saya mulai

paham. Apa yang saya dengar, lihat, diskusikan dan lakukan, saya memperoleh

pengetahuan dan keterampilan. Apa yang saya ajarkan pada orang lain, saya

kuasai. Ada beberapa alasan yang dikemukakan mengenai penyebab mengapa

kebanyakan orang cenderung melupakan apa yang mereka dengar. Jawaban yang

menarik salah satunya adalah karena adanya perbedaan antara kecepatan bicara

guru dengan tingkat kemampuan siswa mendengarkan apa yang disampaikan

guru. Kebanyakan guru berbicara sekitar 100-200 kata per menit, sementara anak

didik hanya mampu mendengarkan 50-100 kata per menitnya (setengah dari apa

yang dikemukakan guru), karena siswa mendengarkan pembicaraan guru sambil

berpikir.

Keep on Learning merupakan salah satu strategi pembelajaran yang menggunakan pendekatan belajar aktif, yaitu pendekatan yang memungkinkan

dan memberi kemudahan kepada siswa menemukan cara-cara untuk terus

mempelajari materi yang telah guru sampaikan sesuai dengan cara mereka

sehingga siswa tidak cepat bosan dalam belajar (Silberman, 2016: 281). Hal ini

didasari oleh pengetahuan yang ada di sekolah, tetapi juga memberikan kebebasan

(22)

7

penyajian bahan pelajaran dimana guru memberikan tugas tertentu agar murid

melakukan kegiatan belajar, kemudian harus dipertanggungjawabkannya. Tugas

yang diberikan guru dapat memperdalam bahan pelajaran, dan dapat pula

mengecek bahan yang telah dipelajari. Tugas dan resitasi merangsang anak untuk

aktif belajar baik secara individual atau kelompok.

Keep on learning membantu siswa untuk efektif belajar di luar kelas, yang akan membantu siswa lebih aktif lagi ketika di dalam kelas. Keep on learning memberikan kesempatan pada siswa untuk terus belajar diluar KBM melalui

diskusi bersama teman dalam sebuah kelompok. Hal ini sesuai dengan hasil

pengamatan bahwa siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri Kraton sangat antusias

ketika mengikuti pembelajaran secara berkelompok. Siswa mampu memberikan

ulasan yang ditanggapi oleh siswa dari kelompok lain dan guru, terlihat dari hasil

mengerjakan tugas berkelompok. Suasana pembelajaran seperti ini akan lebih

banyak menimbulkan timbal balik antara guru dan siswa. Meningkatnya aktivitas

belajar siswa akan beriringan dengan meningkatnya hasil belajar siswa. Model

active learning tipe keep on learning ini diharapkan mampu menjadi solusi untuk meningkatkan hasil belajar PKn siswa kelas V SDN Kraton.

B.Diagnosis Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, terdapat

diagnosis masalah sebagai berikut :

1. Kegiatan pembelajaran kurang menarik, model pembelajaran yang digunakan

(23)

8

2. Metode yang digunakan kurang variatif, cenderung menggunakan metode

ceramah oleh guru.

3. Siswa kurang aktif dan terlibat dalam proses pembelajaran, karena

pembelajaran masih berpusat pada guru.

4. Siswa kurang dapat memanfaatkan waktu luang untuk belajar dengan cara

mereka sendiri.

5. Hasil belajar kognitif mata pelajaran PKn masih rendah dibandingkan dengan

beberapa mata pelajaran yang lain.

6. Guru belum menerapkan model active learning tipe keep on learning dalam pembelajaran PKn.

C.Batasan Masalah

Berdasarkan diagnosis masalah di atas, peneliti membatasi masalah pada

Penerapan Model Active Learning Tipe Keep on Learning untuk meningkatkan Hasil Belajar PKn di Kelas V SDN Kraton, Yogyakarta.

D.Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah di atas, maka rumusan masalah dalam

penelitian ini adalah bagaimana peningkatan hasil belajar PKn dengan

menggunakan Model Active Learning Tipe Keep On Learning pada siswa kelas V

SDN Kraton Yogyakarta?

E.Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah

untuk meningkatkan hasil belajar PKn siswa kelas V SDN Kraton dengan

(24)

9 F. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat. Adapun manfaat

penelitian ini adalah :

1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dalam

melakukan kegiatan pembelajaran di kelas, khususnya yang berhubungan

langsung dengan peningkatan hasil belajar PKn di Sekolah Dasar dengan

menerapkan model active learning tipe keep on learning.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Siswa

Penelitian ini dapat menjadikan siswa aktif dalam pembelajaran PKn

sehingga terjadi peningkatan hasil belajar. Membantu siswa yang mengalami

kesulitan dalam pembelajaran PKn, serta menjadikan siswa aktif dalam kegiatan

pembelajaran.

b. Bagi Guru

(25)

10 BAB II

KAJIAN PUSTAKA A.Hasil Belajar

1. Pengertian Belajar

Belajar pada hakikatnya adalah proses interaksi terhadap semua situasi yang

ada di sekitar individu. Belajar dipandang sebagai proses berbuat melalui berbagai

pengalaman. Hal ini sejalan dengan pendapat Rusman (2011: 14) tentang belajar

merupakan proses melihat, mengamati, dan memahami sesuatu. Seorang anak

belajar melalui melihat apa yang diindera dengan penglihatan, kemudian diamati

dengan pengetahuan awal yang dimiliki, dan sampai pada tahap memahami

sesuatu. Siswa sekolah dasar belajar harus didorong rasa ingin tahu mereka

sehingga bisa belajar secara positif dan efektif.

Belajar adalah sebuah proses perubahan tingkah laku pada individu yang

didapatkan melalui interaksi dengan lingkungan. Slameto (2003 : 2) berpendapat

bahwa belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk

memperoleh suatu perubahan tingkah laku secara keseluruhan, sebagai hasil

pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Hal ini sesuai

dengan pendapat Suparwoto (2004 : 41) bahwa belajar pada intinya adalah proses

internalisasi dalam diri individu yang belajar dapat dikenali produk belajarnya

yaitu berupa perubahan, baik penguasaan materi, tingkah laku, maupun

keterampilan.

Belajar mempunyai tujuan, hal ini sesuai dengan Sardiman (2007: 28) yang

mengungkapkan tujuan belajar itu adalah ingin mendapatkan pengetahuan,

(26)

11

belajar mempunyai perubahan arti tidak tahu menjadi tahu, tidak terampil menjadi

terampil, sikap mental menjadi lebih baik dan mempunyai pemahman nilai.

Pendapat ini sejalan dengan hal – hal pokok dalam belajar yang

dikemukakan oleh Suryabrata (2008: 323) yaitu; (a) belajar itu membawa

perubahan (baik dalam perubahan tingkah laku, aktual maupun potensial); (b)

perubahan itu pada pokoknya adalah didapatkannya kecakapan baru; dan (c)

perubahan itu didapatkannya karena usaha (secara disegaja). Usaha belajar adalah

merubah kecakapan yang dimiliki menjadi lebih kaya, beragam dan meningkatkan

kualitasnya. Perubahan ini dilakukan secara disengaja oleh individu yang

bersangutan.

Berdasarkan berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa belajar

merupakan usaha sadar yang dilakukan oleh seseorang untuk mencapai tujuan

tertentu. Tujuan tersebut dapat berupa perubahan-perubahan dari aspek kognitif,

afektif, maupun psikomotor. Belajar akan lebih optimal ketika didukung oleh

beberapa faktor seperti lingkungan sekitar. Belajar akan memberikan pengalaman

baru bagi seseorang yang akan menjadi bekal dalam kehidupan.

2. Pengertian Hasil Belajar

Belajar merupakan suatu proses yang akan membuahkan hasil.

Diperolehnya hasil belajar merupakan salah satu tujuan dari pembelajaran.

Hamalik (2006: 30) mengemukakan bahwa hasil belajar diperoleh jika terjadi

perubahan tingkah laku, dari tidak tahu menjadi tahu dan dari tidak mengerti

menjadi mengerti. Perubahan tersebut dapat diartikan terjadinya peningkatan dan

(27)

12

Hasil belajar menurut pemikiran Gagne (Sudjana, 2009 : 22) berupa

informasi verbal, keterampilan intelektual, strategi kognitif, keterampilan motorik,

dan sikap. Informasi verbal adalah informasi yang dapat berupa lisan maupun

tulisan. Informasi verbal dapat diperoleh melalui tes lisan maupun tertulis.

Keterampilan intelektual merupakan kemampuan menggunakan apa yang

didapatkan selama pembelajaran berlangsung, dalam analisis permasalahan,

perbandingan, dan pengambilan keputusan. Hasil maksimal dari matangnya

keterampilan intelektual dan strategi kognitif ini akan memudahkan seseorang

menemukan solusi dari sebuah masalah. Hal tersebut akan berdampak baik pada

terbentuknya keterampilan sikap dalam menghadapi persoalan.

Dalam pendapatnya Bloom yang telah direvisi oleh Anderson dan

Krathwohl (2001 : 66-68) mengatakan bahwa hasil belajar mencakup kemampuan

kognitif, afektif dan psikomotorik. Kemampuan kognitif meliputi mengingat

(remember); memahami atau mengerti (understand); menerapkan (apply); menganalisis (analyze); mengevaluasi (evaluate); dan menciptakan (create). Kemampuan afektif meliputi; menerima (receiving); menjawab (responding); menilai (valuing); organisasi (organize). Kemampuan psikomotor berhubungan dengan hasil belajar yang pencapaiannyamelalui keterampilan manipulasi yang

melibatkan otot dan kekuatan fisik.

a. Ranah kognitif

Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari

(28)

13

(understand); menerapkan (apply); menganalisis (analyze); mengevaluasi (evaluate); dan menciptakan (create).

1) Mengingat (remember)

Mengingat merupakan usaha mendapatkan kembali pengetahuan dari

memori atau ingatan yang telah lampau, baik yang baru saja didapatkan atau yang

sudah lama didapatkan. Mengingat meliputi mengenali (recognition) dan memanggil kembali (recalling). Mengenali berkaitan dengan mengetahui pengetahuan masa lampau yang berkaitan dengan hal-hal yang konkret misalnya

tanggal lahir, alamat rumah, dan usia, sedangkan memanggil kembali adalah

proses kognitif yang membutuhkan pengetahuan masa lampau secara tepat dan

cepat.

2) Memahami atau mengerti (understand)

Memahami atau mengerti berkaitan dengan membangun sebuah pengertian

dari berbagai sumber seperti pesan, bacaan, dan komunikasi.memahami berkaitan

dengan aktivitas mengklasifikasikan dan membandingkan. Mengklasifikasikan

akan muncul ketika seseorang berusaha mengenali pengetahuan yang merupakan

anggota dari kategori pengetahuan tertentu, sedangkan membandingkan merujuk

pada identifikasi persamaan dan perbedaan dari dua atau lebih objek,

permasalahan, atau situasi.

3) Menerapkan (apply)

Menerapkan merujuk pada proses kognitif memanfaatkan atau

mempergunakan suatu prosedur untuk melaksanakan percobaan atau

(29)

14

prosedur (executing) dan mengimplementasikan (implementing). Menjalankan prosedur merupakan proses kognitif siswa dalam menyelesaikan masalah dan

melaksanakan percobaan di mana siswa sudah mengetahui informasi tersebut dan

mampu menetapkan dengan pasti apa saja prosedur yang harus dilakukan.

Mengimplementasikan muncul apabila siswa memilih dan menggunakan prosedur

untuk hal-hal yang belum diketahui atau asing.

4) Menganalisis (analyze)

Menganalisis merupakan memecahkan suatu masalah dengan memisahkan

tiap-tiap bagian dari permasalahan dan mencari keterkaitan dari tiap-tiap bagian

tersebut dan mencari tahu bagaimana keterkaitan tersebut dapat menimbulkan

permasalahan. Menganalisis berkaitan dengan proses kognitif member atribut

(attributing) dan mengorganisasikan (organizing). Memberi atribut akan muncul apabila siswa menemukan suatu permasalahan dan kemudian memerlukan

kegiatan membangun ulang hal yang menjadi permasalahan. Mengorganisasikan

menunjuk pada identifikasi unsur-unsur hasil komunikasi atau situasi dan

mencoba mengenali bagaimana unsur-unsur tersebut dapat menghasilkan

hubungan yang baik.

5) Mengevaluasi (evaluate)

Evaluasi berkaitan dengan proses kognitif memberikan penilaian

berdasarkan kriteria dan standar yang sudah ada. Evaluasi meliputi mengecek

(30)

15

produk, sedangkan mengkritisi berkaitan erat dengan berpikir kritis. Siswa

melakukan penilaian dengan melihat suatu hal, kemudian melakukan penilaian

menggunakan standar ini.

6) Menciptakan (create)

Menciptakan mengarah pada proses kognitif meletakkan unsur-unsur secara

bersama-sama untuk membentuk kesatuan yang koheren dan mengarahkan siswa

untuk menghasilkan suatu produk baru dengan mengorganisasikan beberapa unsur

menjadi bentuk atau pola yang berbeda dengan sebelumnya. Menciptakan

meliputi menggeneralisasikan (generating) dan memproduksi (producing). Menggeneralisasikan merupakan kegiatan mempresentasikan permasalahan dan

penemuan alternatif hipotesis yang diperlukan, sedangkan memproduksi

mengarah pada perencanaan untuk memecahkan masalah yang diberikan.

Memproduksi berkaitan erat dengan dimensi pengetahuan yang lain yaitu

pengetahuan faktual, pengetahuan konseptual, pengetahuan prosedural, dan

pengetahuan metakognisi.

b. Ranah afektif

Ranah afektif berkenaan dengan sikap dan nilai. Tipe hasil belajar afektif

tampak pada siswa dalam berbagai tingkah laku seperti perhatiannya terhadap

pelajaran, disiplin, motivasi belajar, menghargai guru dan teman sekelas,

(31)

16

sebagai hasil belajar, yaitu : menerima (receiving); menjawab (responding); menilai (valuing); organisasi (organize).

1) Menerima (receiving)

Dalam tingkatan menerima, diharapkan siswa peka terhadap eksistensi

fenomena atau rangsangan tertentu. Kepekaan ini diawali dengan penyadaran

kemampuan untuk menerima dan memperhatikan. Kata-kata operasional yang

digunakan antara lain: menanyakan, memilih, mendeskripsikan, memberikan,

mengikuti, menyebutkan.

2) Menjawab (responding)

Dalam hal ini siswa tidak hanya peka pada satu fenomena, tetapi juga

bereaksi terhadap salah satu cara. Kata-kata operasional yang digunakan antara

lain : menjawab, membantu, melakukan, membaca, melaporkan, mendiskusikan,

dan menceritakan.

3) Menilai (valuing)

Dalam tingkatan menilai, diharapkan siswa dapat menilai suatu objek,

fenomena, atau tingkah laku tertentu dengan cukup konsisten. Kata-kata

operasional yang digunakan antara lain : melengkapi, menerangkan, membentuk,

mengusulkan, mengambil bagian, memilih, dan mengikuti.

4) Organisasi (organize)

Pada tingkat ini berhubungan dengan menyatukan nilai-nilai yang berbeda,

menyelesaikan atau memecahkan masalah, membentuk suatu sistem nilai.

(32)

17

menggabungkan, membandingkan, mempertahankan, menggeneralisasikan, dan

memodifikasikan.

c. Ranah psikomotor

Ranah psikomotor tercerminkan dalam bentuk keterampilan dan

kemampuan bertindak seorang individu. Hasil belajar psikomotor dapat dibedakan

menjadi lima tahap, yaitu :

1) Imitasi;

Imitasi adalah kemampuan melakukan kegiatan-kegiatan sederhana dan sama

persis dengan yang dilihat atau diperhatikan sebelumnya.

2) Manipulasi;

Manipulasi adalah kemampuan melakukan kegiatan sederhana yang belum pernah

dilihat, tetapi berdasarkan pada pedoman atau petunjuk saja.

3) Presisi;

Kemampuan tingkat presisi adalah kemampuan melakukan kegiatan-kegiatan

yang akurat sehingga mampu menghasilkan produk kerja yang tepat.

4) Artikulasi;

Kemampuan ini adalah kemampuan melakukan kegiatan yang kompleks dan tepat

sehingga hasil kerjanya merupakan suatu yang utuh.

5) Naturalisasi;

Kemampuan pada tingkat naturalisasi adalah kemampuan melakukan kegiatan

secara refleks, yakni kegiatan yang melibatkan fisik saja sehingga efektivitas kerja

(33)

18

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar terdiri dari

tiga ranah yaitu hasil belajar afekif, kognitif dan psikomotor. Masing-masing

memiliki kriteria, cara pencapaian, dan cara pengukuran yang berbeda. Hasil

belajar tersebut dapat diukur dengan teknik tes maupun non tes, untuk mengetahui

tingkat ketercapaian seseorang dalam belajar.

Dalam penelitian ini yang diukur adalah hasil belajar kognitif siswa. Hasil

belajar yang akan diukur adalah mulai dari tingkatan mengingat sampai dengan

tingkatan menganalisis. Hal ini karena untuk usia sekolah dasar masih agak sulit

apabila sampai pada tahap mengevaluasi dan menciptakan.

B.PKn

1. Pengertian PKn

Pendidikan Kewarganegaraan merupakan program pendidikan yang

menekankan pada pembentukan warga negara agar dapat melaksanakan hak dan

kewajibannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Sebagaimana disebutkan dalam Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 yaitu :

Mata pelajaran PKn merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warganegara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga Negara Indonesia yang cerdas, terampil, berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan Undang-Undang 1945.

Pendidikan Kewarganegaraan dalam paradigma barunya mempunyai tugas

mengembangkan pendidikan demokrasi yang mengemban tiga fungsi pokok yakni

(34)

19

warga negara (civic participation). Kecerdasan warga negara yang dikembangkan

untuk membentuk warga negara yang baik bukan hanya dalam dimensi rasional,

melainkan juga dalam dimensi spiritual, emosional, dan sosial sehingga

paradigma baru PKn bercirikan multidimensional. (Suharno dkk, 2006 : 11).

Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa PKn merupakan

salah satu mata pelajaran yang sangat penting. PKn inilah diharapkan tertanamnya

nilai-nilai luhur bangsa pada peserta didik. Melalui PKn peserta didik akan

memperoleh pengetahuan mengenai tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa

dan bernegara. Pengetahuan ini menjadi dasar dalam pembentukan sikap dan

perilaku yang baik sesuai tuntutan Pancasila dan UUD 1945.

2. Tujuan PKn

Permendiknas No.22 Tahun 2006 bahwa mata pelajaran PKn bertujuan agar

peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut :

a. berpikir secara kritis, rasional dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan,

b. berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, serta anti korupsi,

c. berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter karakter masyarakat indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa lain,

d. berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam peraturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.

PKn mengemban tujuan yang mempunyai andil besar dalam

keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara. Alasan-alasan tersebut

menjadi dasar penarikan kesimpulan bahwa keberhasilan pengajaran PKn penting

untuk dapat tercapai dengan baik. Tujuan tersebut hendaknya dapat dicapai

(35)

20

pembelajaran yang lebih bervariasi. Siswa akan lebih baik apabila mendapat

pengalaman langsung dalam belajar melalui keterlibatan secara aktif. Hal ini

sesuai dengan pendapat Eliis (1998 : 225) mengemukakan bahwa kata kunci

dalam pembelajaran PKn ialah partisipasi. Bentuk partisipasi tersebut bisa melalui

keterlibatan sehingga memberikan siswa pengalaman langsung, melalui membaca,

melihat tayangan, dan lain sebagainya. Untuk itu guru dapat membuat rancangan

kegiatan yang memunculkan partisipasi siswa dalam belajar sehingga dapat

mencapai tujuan PKn yang telah ditentukan.

3. Fungsi PKn

Pendidikan di Indonesia perlu mempersiapkan generasi mudanya agar

memiliki bekal kemampuan cukup untuk meneruskan estafet kepemimpinan

bangsa. Hal tersebut sesuai dalam kutipan bahwa dalam pendidikan perlu

ditanamkan pemahaman yang mendalam dan komitmen yang kuat dan konsisten

terhadap prinsip dansemangat kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat,

berbangsa dan bernegara yang berdasarkan pada Pancasila dan Konstitusi Negara

Indonesia perlu ditanamkan kepada seluruh komponen bangsa Indonesia,

khususnya generasi muda sebagai penerus bangsa. Upaya yang dapat dilakukan

adalah dengan menyelenggarakan program pendidikan yang memberikan berbagai

kemampuan sebagai seorang warga negara melalui mata pelajaran Pendidikan

Kewarganegaraan (Depdiknas, 2006 : 271).

Agar fungsi dari mata pelajaran PKn dapat berjalan dengan semestinya,

perlu diimbangi dengan lancarnya kegiatan pembelajaran PKn. Pembelajaran

(36)

21

membangun karakter, sikap, dan perilaku sesuai dengan tujuan yang tercantum

didalamnya. Dengan berfungsinya mata pelajaran PKn sebagaimana mestinya,

maka tujuannya akan tercapai dengan baik pula.

4. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar PKn di Sekolah Dasar

Pendidikan Kewarganegaraan memiliki 8 ruang lingkup kajian yaitu

persatuan dan kesatuan bangsa, norma hukum dan peraturan, hak asasi manusia,

kebutuhan warga negara, konstitusi negara, kekuasaan politik, Pancasila dan

globalisasi. Berdasarkan 8 ruang lingkup tersebut maka disusun Standar

Kompetensi dan Kompetensi Dasar mata pelajaran PKn sesuai dengan

Permendiknas No.22 Tahun 2006. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

yang dilaksanakan pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 1. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar mata pelajaran PKn kelas V Semester II

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar 3. Memahami kebebasan

3.3Menampilkan peran serta dalam memilih organisasi di sekolah

4. Menghargai keputusan bersama

4.1 Mengenal bentuk-bentuk keputusan bersama

(37)

22 C.Model Pembelajaran Aktif

1. Pengertian Model Pembelajaran

Suprijono (2014: 45) berpendapat bahwa “model pembelajaran merupakan

landasan praktik pembelajaran hasil penurunan teori psikologi pendidikan dan

teori belajar yang dirancang berdasarkan analisis terhadap implementasi

kurikulum dan implikasinya pada tingkat operasional di kelas”. Model

pembelajaran dirancang untuk menampung aktivitas belajar yang dapat

dicanangkan oleh guru dan diterapkan pada siswa, sesuai dengan tuntutan

kurikulum dan kebutuhan belajar siswa.

Soekamto (1997 : 78) menerangkan bahwa model pembelajaran merupakan

kerangka yang melukiskan prosedur sistematis dalam mengorganisasikan

pengalaman belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pemandu bagi para pengajar

dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar. Prosedur

untuk mengorganisasikan pembelajaran tersebut dirancang secara sistematis agar

dapat berjalan secara efektif.

Model pembelajaran merupakan suatu desain atau rancangan yang

menggambarkan proses dan penciptaan situasi lingkungan yang memungkinkan

anak agar dapat berinteraksi dalam kegiatan pembelajaran, sehingga terjadi

perubahan perilaku dalam pembelajaran (Mutiah, 2010: 120).

Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa model pembelajaran

merupakan sebuah desain yang terbentuk dalam kerangka konseptual mengenai

langkah-langkah dalam pembelajaran yang dapat dilakukan. Langkah-langkah

(38)

23

belajar yang telah diterapkan. Model pembelajaran menjadi salah satu hal penting

untuk terlaksana dengan baiknya sebuah pembelajaran.

2. Pengertian Model Pembelajaran Aktif (Active Learning)

Rusman (2014: 324) mengemukakan bahwa model pembelajaran aktif

merupakan model yang menekankan pada aktivitas peserta didik dalam mencari

berbagai informasi dan pengetahuan untuk dibahas dan dipelajari dalam proses

pembelajaran, sehingga peserta didik mendapatkan pengalaman yang dapat

meningkatkan pemahaman dan kompetensinya. Guru harus menciptakan suasana

sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, membangun gagasan, dan

melakukan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman langsung, sehingga

belajar merupakan proses aktif siswa dalam membangun pengetahuannya sendiri. Mulyasa (2006: 191) menjelaskan bahwa “Pembelajaran aktif

memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan kemampuan berpikir tingkat

tinggi, misalnya menganalisis dan mensintesis, serta melakukan penilaian

terhadap berbagai peristiwa belajar, dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari”. Dalam model pembelajaran aktif guru lebih memposisikan dirinya sebagai

fasilitator, yang bertugas memberikan kemudahan belajar kepada siswa. Siswa

terlibat aktif dan banyak berperan dalam proses pembelajaran, sedangkan guru

lebih banyak memberikan arahan, dan bimbingan, serta mengatur sirkulasi dan

jalannya proses pembelajaran.

Siswa belajar secara aktif ketika mereka terlibat secara terus menerus, baik

mental maupun fisik. Pembelajaran aktif itu penuh semangat, hidup, giat,

(39)

24

yang terjadi ketika siswa bersemangat, siap secara mental, dan bisa memahami

pengalaman yang dialami (Hollingsworth, 2008 : v)

Sesuai dengan yang dikemukakan oleh Uno (2015 : 76) bahwa untuk

menciptakan pembelajaran aktif, salah satu caranya adalah dengan anak belajar

dari pengalamannya, selain anak harus belajar memecahkan masalah yang dia

peroleh. Anak-anak dapat belajar dengan baik dengan melakukan, menggunakan

indera mereka, menjelajahi lingkungan, baik lingkungan berupa benda, tempat,

serta peristiwa di sekitar mereka. Belajar dari pengalaman langsung dan

pengalaman nyata, maupun dengan pengalaman yang menyentuh perasaan seperti

membaca buku, melihat lukisan, menonton televisi atau mendengarkan radio.

Keterlibatan yang aktif dengan objek –objek atau gagasan-gagasan tersebut dapat

mendorong aktivitas siswa untuk berpikir, menganalisa, menyimpulkan, dan

menemukan pemahaman konsep baru dan mengintegrasikannya dengan konsep

yang sudah mereka ketahui sebelumnya.

Pembelajaran aktif menekankan pada dominasi peran siswa dalam

pembelajaran. Keaktifan siswa dapat ditinjau dalam interaksi dengan sesama

siswa maupun interaksi dengan guru. Keterlibatan langsung siswa dalam

pembelajaran akan membawa siswa untuk menemui pengalaman langsung dalam

pembelajaran yang berlangsung. Hakikat dari pembelajaran aktif adalah untuk

menarik atensi siswa terhadap materi yang akan dipelajari sehingga akan menjadi

aktif selama pembelajaran berlangsung.

(40)

25

Ahmadi (2004: 212-213) menerangkan bahwa pembelajaran aktif memiliki

ciri-ciri sebagai berikut:

a. Situasi kelas menantang siswa untuk melakukan kegiatan belajar bebas rapi terkendali

b. Guru tidak mendominasi pembicaraan tetapi lebih banyak memberikan ringkasan berpikir kepada siswa untuk memecahkan masalah

c. Guru menyediakan sumber belajar bagi siswa d. Kegiatan belajar siswa bervariasi

e. Hubungan guru dengan siswa sifatnya harus mencerminkan hubungan manusia bagaikan orang tua dan anak

f. Situasi dan kondisi kelas tidak terikat dengan peran guru sebagai sumber belajar dan siswa sebagai penerima informasi yang pasif

g. Adanya keberanian siswa mengajukan pendapatnya h. Melalui pertanyaan atau pernyataan gagasannya

Uno (2015 : 75-76) menyebutkan beberapa ciri lain dari pembelajaran aktif

sebagaimana dikemukakan dalam panduan pembelajaran model ALIS (Active

Learning In School, 2009) adalah sebagai berikut : (1) pembelajaran berpusat pada siswa, (2) pembelajaran terkait dengan kehidupan nyata, (3) pembelajaran

mendorong anak untuk yang berbeda-beda, (4) pembelajaran melayani gaya

belajar anak yang berbeda-beda, (5) pembelajaran mendorong anak untuk

berinteraksi multiarah (siswa-guru), (6) pembelajaran menggunakan lingkungan

sebagaimedia atau sumber belajar, (7) pembelajaran berpusat pada anak, (8)

penataan lingkungan belajar memudahkan siswa untuk melakukan, (9) guru

memantau proses belajar siswa, dan (10) guru memberikan umpan balik terhadap

hasil kerja.

Karakteristik pembelajaran aktif seperti dijelaskan oleh Bonwell (Hamid,

2011: 49-50) yaitu dalam pembelajaran siswa tidak hanya pasif mendengakan

(41)

26

belajar siswa. Sehingga siswa aktif dalam pembelajaran. Siswa dituntut untuk

berfikir kritis, melakukan analisis dan melakukan evaluasi.

Pembelajaran aktif menekankan pada siswa dalam mengembangkan

keterampilan menganalisis dan mengkritisi persoalan yang berkaitan dengan

materi yang dipelajari, untuk itu umpan balik dalam pembelajaran sering terjadi.

Terkait dengan hal tersebut pembelajaran perlu memberikan kesempatan pada

siswa untuk lebih banyak mengambil peran. Pembelajaran perlu didesain agar

dapat memunculkan keberanian siswa dalam mengajukan pertanyaan,

mengemukakan dan atau menyanggah pendapat. Dalam pembelajaran aktif, peran

guru lebih banyak menjadi fasilitator dan pemberi arahan. Guru harus aktif

menciptakan suasana dan menstimulasi siswa agar mampu membangun

gagasannya sendiri dan mendapatkan pengalaman langsung.

4. Bentuk-bentuk Pembelajaran aktif (Active Learning)

Silberman (2016 : 280) mengemukakan bahwa salah satu cara untuk

menjadikan belajar aktif adalah dengan menjadikan belajar menjadi tidak

terlupakan. Beberapa tipe belajar yang tidak terlupakan adalah belajar yang

berkelanjutan. Pada akhir pembelajaran aktif, siswa biasanya akan bertanya “selanjutnya bagaimana?”. Keberhasilan belajar aktif akan terukur oleh cara

menjawab pertanyaan ini, yakni bagaimana hal-hal yang telah dipelajari di kelas

mempengaruhi apa yang akan dilakukan di masa mendatang. Tipe belajar yang

dapat membantu keberlangsungan pembelajaran tetap terjaga dalam model active

learning adalah sebagai berikut :

(42)

27

Strategi ini memungkinkan siswa menemukan cara-cara untuk terus

mempelajari mata pelajaran yang diajarkan. Keep on learning memungkinkan siswa tetap bisa mempelajari pelajaran di luar kelas bersama dengan teman

kelompok. Siswa dapat menggunakan bahan-bahan yang memuat pelajaran, selain

bahan yang telah dipelajari di dalam kelas.

b. Stiker yang Sangat Lengket

Strategi ini memungkinkan siswa untuk membuat pengingat, yang

mengingatkan mereka supaya menggunakan apa yang telah mereka pelajari.

Siswa dapat menempelkan stiker pada bagian yang rata seperti pintu kulkas, meja,

dan lain sebagainya.

c. Dengan Ini Saya Tetapkan Bahwa

Strategi ini digunakan untuk mendapat komitmen terhadap penerapan atas

apa yang dipelajari di kelas. Strategi bisa juga digunakan untuk membantu siswa

mengingat pelajaran yang telah lama berlalu.

d. Kuesioner Lanjutan

Strategi ini memungkinkan siswa untuk meningkatkan kesadaran setelah

pelajaran sudah lama berakhir. Fungsilain dari strategi ini adalah sebagai cara

untuk guru dapat tetap berhubungan dengan siswa. Kuesioner dikerjakan secara

individu dan diberikan setelah selang waktu yang cukup panjang dari berakhirnya

pelajaran.

(43)

28

Prosedur dalam berpegang erat adalah siswa membuat komitmen serius

untuk menerapkan apa yang telah mereka pelajari. Komitmen siswa dituliskan

dalam sebuah formulir yang berisi beberapa hal temasuk perencanaan masa depan.

Macam-macam tipe dalam model active learning tersebut akan dapat mengoptimalkan penggunaan potensi yang dimiliki oleh peserta didik. Tipe-tipe

di atas dapat digunakan sebagai variasi dalam pembelajaran, sehingga semua

peserta didik dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan. Pembelajaran aktif

juga dimaksudkan untuk menjaga perhatian siswa agar tetap tertuju pada proses

pembelajaran.

5. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Aktif (Active Learning) Kelebihan dari Active Learning menurut Hamid (2011: 50) antara lain :

a. Interaksi yang timbul dalam proses pembelajaran akan menimbulkan

pengetahuan yang dipelajari hanya dapat diperoleh secara bersama-sama

melalui eksplorasi aktif dalam belajar.

b. Siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran dan pengajar dapat memberikan

penilaian terhadap siswa sehingga terdapat individual accountability.

c. Agar proses pembelajaran aktif berjalan dengan efektif maka perlu dilakukan

kerjasama antar siswa sehingga dapat memupuk keterampilan sosial atau social

skills.

Berdasarkan pembahasan yang sudah dipaparkan diatas, kekurangan dari

penggunaan pembelajaran aktif (active learning) adalah:

(44)

29

b. Perlu keterampilan interaksi dan komunikasi pendidik dengan siswa, jika

pendidik tidak ada interaksi dan komunikasi yang baik maka tidak terjadi

umpan balik dalam pembelajaran,

c. Perlu pengkondisian kelas yang bervariasi agar semua siswa aktif dalam

pembelajaran,

d. Banyak proses dan tahapan dalam pembelajaran yang menimbulkan pendidik

enggan menerapkan dalam proses pembelajaran.

Berdasarkan uraian kelebihan dan kekurangan model active learning tersebut, terlihat bahwa model pembelajaran active learning akan membantu siswa memperdalam materi-materi yang mereka pelajari melalui cara-cara seperti

interaksi dengan siswa lain maupun dengan guru. Melalui interaksi-interaksi

tersebut menjadikan siswa lebih banyak terlibat dalam pembelajaran sehingga

pembelajaran yang dilaluinya akan menjadi lebih bermakna. Berdasarkan uraian

kekurangan yang tertulis, maka dalam pelaksanaannya guru perlu memperhatikan

pengorganisasian kegiatan pembelajaran sehingga pembelajaran aktif yang

direncanakan akan dapat berjalan dengan baik.

D.Model Active Learning Tipe Keep On Learning

1. Pengertian Model Active Learning Tipe Keep On Learning

Model pembelajaran aktif bertujuan untuk membuat siswa terlibat aktif

dalam kegiatan pembelajaran. Silberman (2016 : 281) menyebutkan bahwa ada

(45)

30

Dalam penerapannya cara ini akan dapat memberikan kelanjutan dari

pembelajaran yang telah diterima dikelas.

Dalam pembelajaran aktif, siswa akan lebih mendominasi aktivitas

pembelajaran. Dengan ini siswa secara aktif menggunakan otak baik untuk

menemukan ide pokok dari materi, memecahkan persoalan, atau mengalikasikan

apa yang baru mereka pelajari. Oleh sebab itu diperlukan perangkat tertentu untuk

dapat mengikat informasi yang telah diterima selama pembelajaran. Model

pembelajaran aktif yang diterapkan dapat menjadi salah satu jalan untuk

menjadikan materi yang telah dipelajari menjadi lebih bermakna dan bertahan

lama. Salah satu tipe dari pembelajaran aktif yang sesuai dengan kriteria tersebut

adalah tipe keep on learning. Dalam tipe ini siswa diharapkan dapat tetap belajar

di luar kegiatan pembelajaran di kelas. Tipe ini memungkinkan siswa untuk lebih

banyak mencurahkan ide atau gagasan dalam pembelajaran. Selain itu, siswa akan

dapat melakukan pendalaman materi melalui diskusi bersama siswa lain dalam

satu kelompok. Dengan ini siswa akan terlibat secara aktif dalam pembelajaran

sehingga membuat mereka mempunyai pengalaman belajar yang akan membantu

dalam pemahaman materi (Zaini, 2008 : 74)

Model active learning tipe keep on learning ini memungkinkan siswa menemukan cara-cara untuk terus mempelajari mata pelajaran yang diajarkan.

Siswa mendapat kesempatan untuk belajar diluar jam pelajaran di kelas sesuai

dengan minat dan cara lain yang dapat mereka lakukan. Siswa dapat berdiskusi

dengan kelompok mengenai materi yang telah diajarkan yang didapatkan dari

(46)

31

2. Langkah-langkah Model Active Learning Tipe Keep On Learning

Untuk dapat terlaksana dengan baik, perlu diperhatikan langkah-langkah

pembelajaran menggunakan model active learning tipe keep on learning yang akan dilakukan. Langkah-langkah tersebut yaitu :

a. Menunjukan harapan kepada siswa bahwa proses belajar tidak akan berhenti

disitu saja karena waktu pelajaran telah selesai.

b. Memberikan nasihat pada peserta didik bahwa ada beberapa cara bagi mereka

untuk melanjutkan belajar sesuai cara mereka sendiri.

c. Menunjukan bahwa salah satu cara melakukan ini adalah dengan brainstorming

atau menumpahkan ide-ide mereka sendiri agar “tetap belajar”.

d. Membuat kelompok dan meminta setiap kelompok melakukan brainstorming

(menumpahkan semua ide). Ada beberapa saran umum untuk menumpahkan

ide-ide melalui beberapa pilihan berikut ini :

1) mencari artikel dari majalah, koran dan sebagainya yang terkait dengan materi

pembelajaran,

2) mengambil cara lain dalam bidang pelajaran yang sama,

3) membuat daftar bacaan masa mendatang,

4) membaca kembali buku dan meninjau catatan yang dibuat selama pelajaran,

5) mengajarkan sesuatu yang telah dipelajari kepada siswa lain, dan

6) mencari pekerjaan atau tugas yang menggunakan keterampilan yang telah

dipelajari.

e. Mengumpulkan kembali siswa ke dalam kelas dan meminta setiap kelompok

(47)

32

3. Kelebihan dan Kekurangan Model Active Learning Tipe Keep On Learning Setiap model pembelajaran pasti mempunyai kelebihan dan kekurangan.

Kelebihan dan kekurangan dari model active learning tipe keep on learning yaitu :

a. Kelebihan tipe keep on learning adalah sebagai berikut :

1) Menyadarkan peserta didik bahwa banyak jalan dalam menyelesaikan masalah.

2) Mendorong peserta didik berfikir kritis.

3) Akan menemukan hal-hal baru dalam mencari jawaban yang bersumber dari

mana saja.

4) Interaksi antar peserta didik terjalin lebih erat.

5) Adanya ringkasan yang ditulis tiap kelompok.

b. Kekurangan tipe keep on learning adalah sebagai berikut :

1) Adanya peserta didik yang menggantungkan tugasnya pada orang lain.

2) Hanya dikuasai oleh orang yang pintar berbicara.

3) Peserta didik menjadi malas karena merasa ada yang sudah mengerjakan.

Dari uraian kelebihan dan kekurangan model active learning tipe keep on learning tersebut maka model ini sangat membantu siswa dalam meningkatkan aktivitas belajar yang selanjutnya diharapkan akan meningkatkan hasil belajar

siswa. Model dan tipe pembelajaran ini membuat siswa dapat belajar dari banyak

hal dan banyak jalan, sehingga akan mendorong mereka berpikir kritis.

Rangkuman yang dihasilkan akan membuat siswa lebih mudah mengulas materi

yang sedang dipelajari. Kekurangan model dan tipe ini harus diantisipasi oleh

guru dengan mengorganisasikan kegiatan pembelajaran agar dapat berjalan

(48)

33

4. Model Active Learning Tipe Keep On Learning dalam Pembelajaran PKn Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang memiliki

peran dalam keberlanjutan kehidupan siswa. Materi-materi yang diajarkan dalam

PKn akan banyak diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan

bernegara. Seperti dalam Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar mata

pelajaran PKn kelas V untuk sekolah dasar termuat materi mengenai organisasi

dan cara pengambilan keputusan dalam sebuah forum. Materi ini akan menjadi

bekal untuk siswa karena nantinya mereka akan banyak menerapkan apa yang

mereka dapatkan dari materi tersebut.

Dalam pembelajaran siswa akan mengetahui macam-macam organisasi dan

cara pengambilan keputusan didalamnya. Keterbatasan waktu yang tersedia

membuat materi tidak dapat diajarkan secara lebih mendalam dan mendetail.

Metode active learning tipe keep on learning memungkinkan siswa untuk mencari

berbagai informasi mengenai materi yang sedang mereka pelajari melalui berbagai

sumber. Melalui metode ini siswa juga akan dapat berdiskusi dengan

kelompoknya sehingga dapat tersampaikan ide atau gagasan baru yang tidak bisa

didapatkan di dalam kelas, sehingga siswa mempunyai cara untuk lebih

menguasai materi yang diajarkan.

Model active learning tipe keep on learning dalam pembelajaran PKn khususnya kelas V sekolah dasar, dapat diterapkan dalam materi-materinya sesuai

dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam Kurikulum Tingkat

Satuan Pendidikan. Siswa menjalankan prosedur dalam model active learning tipe

(49)

34

kelas. Model active learning tipe keep on learning dimulai dengan pemberian materi mengenai organisasi di sekolah dan masyarakat oleh guru di dalam kelas.

Selanjutnya guru membentuk kelompok-kelompok kecil, kemudian membuka

kesempatan pada siswa untuk menyampaikan ide-ide bersama teman satu

kelompok mengenai materi yang telah disampaikan. Guru kemudian memberikan

pertanyaan yang mampu menarik minat siswa untuk belajar lebih lanjut. Hasil

tanya jawab dan ulasan materi tersebut menjadi dasar untuk siswa mengumpulkan

berbagai materi lain untuk membuat sebuah rangkuman. Siswa membawa hasil

rangkuman pada pertemuan selanjutnya untuk diulas bersama. (Mahardika, 2013 :

51)

E.Definisi Operasional 1. Hasil Belajar

Hasil ditandai perubahan tingkah laku dari tidak tahu menjadi tahu. Hasil

belajar mencaskup kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik. Kemampuan

kognitif meliputi; pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesa, evaluasi.

Kemampuan afektif meliputi; sikap menerima, memberikan tanggapan, penilaian

atau penghargaan, organisasi, karakterisasi. Kemampuan psikomotor meliputi;

meniru, menerapkan, memantapkan, merangkai dan naturalisasi. Hasil belajar

kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek

yaitu pengetahuan atau ingatan; pemahaman; aplikasi; analisis; sintesis; dan

evaluasi. Hasil belajar kognitif diperoleh melalui tes tertulis.

(50)

35

Model active learning tipe keep on learning merupakan salah satu cara yang

dapat membantu keberlangsungan pembelajaran tetap terjaga. Dalam

penerapannya cara ini akan dapat memberikan kelanjutan dari pembelajaran yang

telah diterima dikelas. Model active learning tipe keep on learning ini memungkinkan siswa menemukan cara-cara untuk terus mempelajari mata

pelajaran yang diajarkan. Siswa mendapat kesempatan untuk belajar diluar jam

pelajaran di kelas sesuai dengan minat dan cara lain yang dapat mereka lakukan.

Siswa dapat berdiskusi dengan kelompok mengenai materi yang telah diajarkan

yang didapatkan dari berbagai sumber diluar kelas.

F. Penelitian Relevan

1. Penelitian yang dilakukan oleh Yudha Mahardika (2013) dalam skripsinya yang berjudul “Upaya Peningkatan Aktivitas Belajar Peserta Didik Kelas X

Akuntansi 3 dengan Model Active Learning teknik Guided Teaching dan Keep On

Learning di SMK 1 Godean Tahun Ajaran 2012/2013” menyimpulkan bahwa terjadi peningkatan aktivitas belajar siswa Kelas X Akuntansi 3 Sekolah

Menengah Kejuruan 1 Godean tahun ajaran 2012/2013 setelah menggunakan

model active learning teknik guided teaching dan keep on learning.

Hal ini dibuktikan pada rata-rata aktivitas belajar peserta didik pada siklus I

menunjukkan 75,52%. Sedangkan hasil presentase capaian untuk siklus ke II naik

menjadi 94,70% dengan memperoleh peningkatan sebesar 19,18%. Jadi indikator

keberhasilan pada aktivitas belajar siswa kelas X Akuntansi 3 SMK 1 Godean

(51)

36

2. Penelitian yang dilakukan oleh Marsiyanti Indriani (2015) dalam skripsinya yang berjudul “Upaya meningkatkan hasil belajar PKn menggunakan

Model Active Learning Tipe Role Reversal Question Pada Siswa Kelas V SD N Minomartani 6, Sleman, Yogyakarta” menyimpulkan bahwa terjadi peningkatan

hasil belajar PKn siswa kelas V SD N Minomartani 6, Sleman, Yogyakarta setelah

menggunakan model active learning tipe role reversal question.

Hal ini dibuktikan pada jumlah siswa yang memperoleh nilai ≥70

mengalami peningkatan yakni sebesar 25% kondisi awal 44% meningkat menjadi

69%. Nilai rata-rata pada siklus I sebesar 8,75% dimana kondisi awal adalah

66,53 meningkat menjadi 75,27. Pada siklus I jumlah siswa yang memperoleh nilai ≥70 sebesar 69% meningkat sebesar 28% menjadi 97% pada siklus II. Nilai

rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I 75,27 meningkat sebesar 10,97%

menjadi 86,25 pada siklus II.

Kedua penelitian tersebut relevan dengan penelitian yang akan dilakukan. Penelitian yang dilakukan oleh Yudha Mahardika dengan judul “Upaya

Peningkatan Aktivitas Belajar Peserta Didik Kelas X Akuntansi 3 dengan Model

Active Learning teknik Guided Teaching dan Keep On Learning di SMK 1 Godean Tahun Ajaran 2012/2013” mempunyai relevansi dengan penelitian ini

dalam hal tipe pembelajaran keep on learning. Perbedaan dengan penelitian ini adalah tipe keep on learning dalam penelitian tersebut diterapkan pada mata

(52)

37

meningkatkan hasil belajar PKn menggunakan Model Active Learning Tipe Role Reversal Question Pada Siswa Kelas V SD N Minomartani 6, Sleman, Yogyakarta” mempunyai relevansi dengan penelitian ini dalam hal meningkatkan

hasil belajar PKn kelas V sekolah dasar dengan model active learning. Perbedaannya adalah bahwa penelitian tersebut menggunakan tipe role reversal question sedangkan penelitian ini menggunakan tipe keep on learning.

G.Kerangka Berpikir

Hasil belajar siswa kelas V SDN Kraton yang ditinjau dari ulangan harian

menunjukkan bahwa hasil tersebut masih kurang baik. Hasil ulangan harian PKn

selama tiga kali menunjukkan bahwa pada ulangan harian pertama diperoleh

rata-rata 80,25, ulangan harian kedua diperoleh rata-rata-rata-rata 78,20 dan ulangan harian

ketiga diperoleh rata-rata 68,08. Dari tiga kali ulangan harian yang dilaksanakan,

hasil yang diperoleh menunjukkan penurunan. Jadi, rata-rata dari hasil tiga kali

ulangan harian PKn tersebut adalah 75,51. Hasil ini lebih rendah dibandingkan

dengan hasil rata-rata tiga kali ulangan harian mata pelajaran matematika yaitu

81,38 dan Bahasa Indonesia yaitu 78,77. Dalam hasil ulangan harian mata

pelajaran Bahasa Indonesia bahkan selalu terjadi peningkatan dalam rata-rata

nilainya. Dari hasil rekap nilai ulangan harian tersebut terlihat bahwa ada

beberapa siswa tidak dapat mencapai KKM. Rata-rata dalam setiap ulangan harian

ada 7-13 siswa dari 24 siswa keseluruhan. Apabila dipresentasikan sekitar kurang

lebih 50% dari jumlah siswa belum lulus KKM. Hasil dari rekap nilai rata-rata

ulangan tengah semester dan ulangan akhir semester juga menunjukkan bahwa

(53)

38

Pembelajaran PKn yang berlangsung kurang variatif. Ketika siswa ditanyai

pendapat, cenderung kurang ada tanggapan. Pembelajaran masih cenderung

berpusat pada guru. Siswa kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran, karena

mereka tidak memiliki keterlibatan langsung. Dalam pembelajaran siswa banyak

mendapat asupan ilmu secara pasif, tanpa bisa terlibat secara intensif. Sebagian

besar siswa kurang dapat memanfaatkan waktu luangnya untuk mengulas kembali

pembelajaran yang sudah dilaksanakan didalam kelas. Waktu luang ini seharusnya

bisa dimanfaatkan siswa untuk memahami kembali bagian mana dari

pembelajaran yang belum ia mengerti.

Model pembelajaran active learning membuat siswa untuk terlibat secara aktif dalam pembelajaran sehingga akan lebih bermakna. Model active learning tipe keep on learning ini membuat siswa menemukan cara-cara untuk terus mempelajari mata pelajaran yang diajarkan. Siswa mendapat kesempatan untuk

belajar di luar kelas sesuai dengan minat dan cara lain yang dapat mereka lakukan.

Dengan melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran terutama pada mata

pelajaran PKn, diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN

(54)

39

Dari uraian di atas diperoleh kerangka berfikir sebagai berikut :

Gambar 1. Kerangka Berpikir

H.Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kajian teori dan kerangka pikir, maka hipotesis tindakan pada

penelitian tindakan kelas yaitu penggunaan model active learning tipe keep on learning dapat meningkatkan hasil belajar PKn pada siswa kelas V SD N Kraton, Yogyakarta.

Kondisi awal

Pembelajaran berpusat pada guru

Hasil belajar rendah

Tindakan yang dilakukan

Hasil akhir Meningkatnya hasil belajar PKn Pembelajaran PKn menggunakan model

Gambar

Tabel 1. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar mata pelajaran PKn kelas V
Gambar 1. Kerangka Berpikir
Gambar 2. Desain Penelitian Tindakan Kelas (Arikunto, 2015 : 42)
Tabel 2. Kisi-kisi Soal Tes Siklus I
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn Materi Globalisasi dengan menggunakan model Cooperative Learning tipe

kesempurnaan skripsi ini. Sekian dan terima kasih.. “Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran PKn Melalui Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT Di Kelas V

1. Untuk meningkatkan aktivitas belajar PKn pada siswa kelas VI di SDN 02 Lemahbang Kabupaten Karanganyar dengan menerapkan strategi pembelajaran active

Rois, Martinus. Meningkatkan Minat Dan Disiplin Siswa Menggunakan Model Kooperatif Learning Tipe STAD Pada Mata Pelajaran PKn Kelas III SDN Ngabean Yogyakarta. Yogyakarta:

PENERAPAN MODEL ACTIVE LEARNING TIPE ACTIVE DEBATE UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI, PARTISIPASI DAN PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN EKONOMI SISWA KELAS X-5 SMA KOLESE DE

Hal ini menunjukan bahwa penerapan metode pembelajaran active learning tipe active dabate pada mata pelajaran ekonomi dalam penelitian ini sudah dapat meningkatkan hasil belajar

Untuk mengetahui hasil belajar peserta didik dengan menggunakan model pembelajaran koperatif tipe word square pada mata pelajaran pkn pokok bahasan globalisasi

Variabel terikat pada penelitian ini adalah hasil belajar biologi siswa kelas VII SMPN 2 Ranah Batahan setelah menggunakan strategi Active Learning tipe Giving Question and Getting