i
PENERAPAN MODEL ACTIVE LEARNING TIPE KEEP ON LEARNING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR KOGNITIF PKn
DI KELAS V SDN KRATON, YOGYAKARTA
TUGAS AKHIR SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan guna Memperoleh Gelar Sarjana
Pendidikan
Oleh Deny Estiningtyas NIM 13108241005
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
ii
PENERAPAN MODEL ACTIVE LEARNING TIPE KEEP ON LEARNING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR KOGNITIF PKn
DI KELAS V SDN KRATON YOGYAKARTA Oleh :
Deny Estiningtyas NIM 13108241005
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar kognitif PKn dengan menggunakan model active learning tipe keep on learning pada siswa kelas V SDN Kraton Yogyakarta.
Jenis penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Subjek penelitian adalah siswa kelas V SDN Kraton Yogyakarta yang berjumlah 24 siswa. Metode pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan tes, observasi dan dokumentasi. Instrumen penelitian berupa tes dan lembar keterlaksanaan pembelajaran. Teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Adapun indikator keberhasilan tindakan ditandai dengan ≥75% dari jumlah siswa yang mengikuti proses pembelajaran telah memperoleh nilai ≥75.
Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar kognitif PKn siswa kelas V SDN Kraton Yogyakarta setelah menggunakan model active learning tipe keep on learning baik pada siklus I maupun siklus II. Pada siklus I siswa yang memperoleh nilai ≥75 mengalami peningkatan sebesar 37,5% dengan kondisi awal 25% meningkat menjadi 62,5% dan pada siklus II mengalami peningkatan sebesar 33,33% menjadi 95,8%. Nilai rata-rata hasil belajar pada siklus I mengalami peningkatan sebesar 16,59% dengan kondisi awal 68,08 meningkat menjadi 79,38 dan pada siklus II mengalami peningkatan sebesar 8,13% menjadi 85,83.
iii
IMPLEMENTATION OF ACTIVE LEARNING MODEL KEEP ON LEARNING TYPE TO IMPROVE THE COGNITIVE ACHIEVEMENT OF CIVIC EDUCATION
AT 5th GRADE STUDENTS IN SDN KRATON YOGYAKARTA
By: students of grade fifth at State Elementary School Kraton, Yogyakarta amounting of 24 students. The methods of data collection used were test, observation, and documentation. The collected data then analyzed both descriptive qualitatively and descriptive quantitatively. The success indicator of the action is characterized by ≥75% of students who take the learning process has gained value ≥75. The results showed an increase in cognitive achievement Civics class student V State Elementary School Kraton Yogyakarta after using the active learning model keep on learning type both in the first cycle and the second cycle. In the first cycle, students who received ≥75 value increased by 37.5% with the initial conditions of 25% increased to 62.5% and the second cycle increased by 33.33% to 95.8%. The average value of learning outcomes in the first cycle increased by 16.59% with the initial conditions rose to 79.38 and 68.08 on the second cycle increased by 8.13% to 85.83.
vii MOTTO
“Setiap murid bisa belajar, hanya saja tidak pada hari yang sama atau dengan cara
yang sama.” (George Evans)
“Pendidikan bukanlah suatu proses untuk mengisi wadah yang kosong, akan tetapi
viii
PERSEMBAHAN
Dengan mengucap syukur Alhamdulillah, karya sederhana ini penulis
persembahkan kepada:
1. Ayah dan ibuku tercinta, Bpk. Sulyadi dan Ibu Henny.
2. Almamaterku, Universitas Negeri Yogyakarta yang telah menjadi tempatku
menuntut ilmu.
ix
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala limpahan
rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyalesaikan Tugas Akhir Skripsi yang berjudul “Penerapan Model Active Learning Tipe Keep On Learning
Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Kognitif PKn Siswa Kelas V SDN Kraton, Yogyakarta” dengan lancar. Penyusunan skripsi ini bertujuan untuk memenuhi
sebagian persyaratan guna memperoleh gelar sarjana pendidikan jurusan
Pendidikan Sekolah Dasar, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri
Yogyakarta.
Penulis menyadari sepenuhnya, tanpa bimbingan dan bantuan dari berbagai
pihak, Tugas Akhir Skripsi ini tidak akan dapat diselesaikan dengan baik. Oleh
karena itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada:
1. Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta, yang telah
memberikan izin penelitian untuk keperluan penyusunan skripsi.
2. Ketua Jurusan Pendidikan Sekolah Dasar Universitas Negeri Yogyakarta, yang
telah memberikan rekomendasi dan bantuan dari awal pembuatan proposal hingga
penyusunan skripsi ini terselesaikan.
3. Dr. Wuri Wuryandani, M. Pd. selaku dosen pembimbing yang telah bersedia
meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran guna memberikan petunjuk, arahan, dan
bimbingan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan lancar.
5. Seluruh dosen jurusan Pendidikan Sekolah Dasar yang telah memberikan
banyak ilmu, wawasan, dan pengalamannya selama penulis mengikuti
xi
C. Model Pembelajaran Aktif (Active Learning) ... 23
D. Model Active Learning Tipe Keep on Learning ... 31
E. Definisi Operasional ... 36
xii
G. Kerangka Pikir ... 39
H. Hipotesis Tindakan... 41
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 42
B. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 42
C. Subyek dan Obyek Penelitian ... 42
D. Desain Penelitian ... 43
E. Metode Pengumpulan Data ... 47
F. Instrumen Penelitian ... 48
G. Teknik Analisis Data ... 50
H. Kriteria Keberhasilan Tindakan ... 52
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A.Hasil Penelitian ... 53
B.Pembahasan ... 78
C.Keterbatasan Penelitian ... 83
BAB V SIMPULAN DAN SARAN A.Kesimpulan ... 84
B.Saran ... 85
DAFTAR PUSTAKA ... 86
xiii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Kerangka Berpikir ... 41
Gambar 2. Desain Penelitian Tindakan Kelas ... 43
Gambar 3. Diagram Capaian Hasil Belajar Siswa pada Siklus I ... 64
Gambar 4. Diagram Capaian Hasil Belajar Siswa pada Siklus II ... 75
Gambar 4. Diagram Capaian Hasil Belajar Siswa pada Pra Tindakan, Siklus I, dan Siklus II ... 76
xiv
DAFTAR TABEL
Tabel 1. SK dan KD PKn kelas V Semester II ... 23
Tabel 2. Kisi-kisi Soal Tes Siklus I ... 49
Tabel 3. Kisi-kisi Lembar Keterlaksanaan Pembelajaran ... 50
Tabel 4. Hasil Belajar Siswa pada Pra Tindakan... 55
Tabel 5. Hasil Belajar Siswa pada Siklus I ... 63
Tabel 6.Hasil Refleksi dan Upaya Perbaikan Tindakan Pada siklus I .... 67
xv
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. RPP PKn siklus I dan II ... 89
Lampiran 2. Kisi-kisi soal evaluasi siklus I dan II ... 112
Lampiran 3. Lembar Keterlaksanaan Pembelajaran Siklus I dan II ... 126
Lampiran 4. Hasil Belajar Siswa ... 128
Lampiran 5. Foto Pelaksanaan Penelitian ... 146
Lampiran 6. Dokumen Hasil Pekerjaan Siswa ... 148
Lampiran 7. Surat-surat ... 168
1 BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan pengalaman belajar yang berlangsung sepanjang
hidup. Pendidikan dilakukan di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
Pendidikan memerlukan peran serta dari semua pihak. Hal ini sesuai dengan
pengertian pendidikan menurut Mudyaharjo (2012: 11) yaitu:
“Pendidikan dapat diartikan usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat dan pemerintah melalui kegiatan bimbingan pengajaran atau latihan yang berlangsung di sekolah dan diluar sekolah sepanjang hayat, untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat memainkan peranan dalam berbagai lingkungan hidup secara tepat di masa yang akan datang.”
Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 dijelaskan bahwa
pendidikan mempunyai andil yang penting dalam menentukan proses pencapaian
tujuan pendidikan nasional yaitu mengembangkan potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara
yang demokratis serta bertanggung jawab.
Masalah yang dihadapi dunia pendidikan salah satunya adalah masalah
lemahnya proses pembelajaran (Sanjaya, 2009: 1). “Pembelajaran adalah proses
interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar” (UU 20/2003). Dalam proses pembelajaran hendaknya dapat
mengembangkan proses pembelajaran aktif, sehingga dapat terwujud partisipasi
aktif siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Dengan adanya partisipasi siswa
2
Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang wajib
dipelajari di sekolah dasar. Siswa mempelajari mengenai tata kehidupan
masyarakat dan negara. Materi pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di sekolah
dasar merupakan mata pelajaran yang cukup luas. Materi yang luas tersebut
terlihat pada cakupannya bahwa PKn meliputi aspek-aspek yaitu: a) persatuan dan
kesatuan bangsa; b) norma, hokum, dan peraturan; c) hak asasi manusia; d)
kebutuhan warga negara; e) konstitusi negara; f) kekuasaan dan politik; Pancasila;
dan g) globalisasi (Suharno dkk, 2006 : 38). Muatan materi tersebut harus dapat
tersampaikan dengan baik pada siswa. Di sisi lain, guru diharuskan menyelesaikan
target ketuntasan belajar siswa, sehingga perlu perencanaan-perencanaan dan
pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model, metode, dan media yang
tepat.
Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 dijelaskan bahwa PKn
merupakan mata pelajaran diwajibkan untuk jenjang pendidikan dasar, menengah
dan mata kuliah wajib untuk pendidikan tinggi. Pada jenjang sekolah dasar PKn
diajarkan kepada siswa yang berusia 7-12 tahun dimana menurut Piaget merupakan fase perkembangan “operasional konkret”. Djiwandono (2006: 6) juga
menyebutkan bahwa sebagian besar anak sekolah dasar yang berada dalam
operasional konkret kurang mampu berfikir abstrak, sedangkan PKn merupakan
mata pelajaran yang abstrak, tidak seperti ilmu-ilmu atau mata pelajaran eksak.
Jika dilihat dari karakteristik anak usia sekolah dasar dan dibandingkan dengan
3
guru dapat merencanakan kegiatan yang mengandung lebih banyak keterlibatan
siswa.
Muatan materi dalam PKn yang abstrak tidak diimbangi dengan kegiatan
belajar mengajar yang sepadan. Kegiatan belajar mengajar yang terlaksana masih
menggunakan model konvensional. Pembelajaran masih didominasi ceramah oleh
guru, sehingga pembelajaran cenderung berpusat pada guru. KBM dengan model
ini membuat siswa kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran, karena mereka
tidak memiliki keterlibatan langsung.
Metode yang tidak pernah diganti dari tahun ke tahun inilah yang kemudian
menjadi penyebab tidak tuntasnya hasil belajar siswa. Umumnya dalam
pembelajaran siswa banyak mendapat asupan ilmu secara pasif, tanpa bisa terlibat
secara intensif. Hal ini menyebabkan kurang adanya timbal balik dari siswa,
sehingga guru tidak mengetahui permasalahan siswa dalam memahami materi
selama pembelajaran berlangsung. Jika metode yang digunakan ini dibiarkan terus
berlangsung, hasil belajar PKn siswa akan sulit meningkat dan tidak tuntas.
Pembelajaran perlu menggunakan model yang baru atau jarang digunakan
sebelumnya, sehingga tercipta suasana pembelajaran baru yang efektif, efisien,
dan lebih bermanfaat. Kegiatan pembelajaran yang menyenangkan dapat
diciptakan dengan menerapkan metode yang bervariasi, strategi yang tepat dan
media pembelajaran yang relevan dengan materi yang diajarkan. Model baru ini
diharapkan bisa membuat siswa lebih tertarik, sehingga memperkuat kemampuan
4
Mata pelajaran PKn di sekolah dasar menempatkan siswa untuk bisa
membangun pengetahuan dari pengalamannya sendiri, baik melalui pengalaman
menemui sesuatu hal maupun berfikir. Hal tersebut sejalan dengan proses
pembelajaran dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang menerapkan
adanya partisipasi aktif dari siswa. Kegiatan pembelajaran dipusatkan pada siswa,
sedangkan guru berperan sebagai fasilitator dan mediator.
Dari hasil observsai yang telah dilakukan, pembelajaran PKn di Kelas V
Sekolah Dasar Negeri Kraton masih menitikberatkan menuntut hafalan, beriringan
dengan metode penyampaian materi melalui ceramah kemudian siswa
mendengarkan lalu mencatat. Pembelajaran yang berlangsung kurang variatif
sehingga siswa menjadi kurang aktif. Siswa cenderung kurang ada tanggapan
ketika ditanyai pendapat, karena mereka tidak mempunyai bekal pengetahuan
yang lebih, selain daripada yang didapatkan di buku.
Pada saat kegiatan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan berlangsung,
tidak sepenuhnya seluruh siswa memperhatikan penjelasan guru. Sebagian siswa
bergurau dengan temannya atau mencari-cari kesibukan sendiri. Hal ini
dikarenakan siswa bosan dengan aktivitas mendengarkan, sehingga pembelajaran
PKn dirasa kurang menyenangkan bagi siswa. Keadaan tersebut menimbulkan
hasil belajar yang kurang memuaskan. (Indriani, 2015 : 3). Dengan demikian,
suasana pembelajaran yang kurang variatif menyebabkan hasil belajar yang
diperoleh menjadi kurang memuaskan.
Rendahnya hasil belajar dari siswa terlihat pada hasil beberapa kali ulangan
5
ulangan harian pertama diperoleh rata-rata 80,25, ulangan harian kedua diperoleh
rata-rata 78,20 dan ulangan harian ketiga diperoleh rata-rata 68,08. Hasil dari tiga
kali ulangan harian yang dilaksanakan, menunjukkan penurunan. Jadi, rata-rata
dari hasil tiga kali ulangan harian PKn tersebut adalah 75,51. Hasil ini lebih
rendah dibandingkan dengan hasil rata-rata tiga kali ulangan harian mata pelajaran
matematika yaitu 81,38 dan Bahasa Indonesia yaitu 78,77. Dalam hasil ulangan
harian mata pelajaran Bahasa Indonesia bahkan selalu terjadi peningkatan dalam
rata-rata nilainya. Dari hasil rekap nilai ulangan harian tersebut terlihat bahwa ada
beberapa siswa tidak dapat mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal. Rata-rata
dalam setiap ulangan harian ada 7-13 siswa dari 24 siswa keseluruhan. Apabila
dipresentasikan sekitar kurang lebih 50% dari jumlah siswa belum lulus KKM.
Hasil dari rekap nilai rata-rata ulangan tengah semester dan ulangan akhir
semester juga menunjukkan bahwa PKn masih lebih rendah dibandingkan
matematika dan bahasa Indonesia. Hasil belajar yang rendah ini harus segera
diatasi dan diupayakan pemecahan masalahnya.
Data yang diperoleh dari hasil pengamatan dan wawancara, di luar Kegiatan
Belajar Mengajar seperti jam istirahat dan waktu pulang sekolah, sebagian besar
siswa kurang dapat memanfaatkan waktu luangnya untuk mengulas kembali
pembelajaran yang sudah dilaksanakan didalam kelas. Waktu luang ini seharusnya
bisa dimanfaatkan siswa untuk memahami kembali bagian mana dari
pembelajaran yang belum ia mengerti. Siswa tetap bisa belajar diluar KBM
6
Model pembelajaran active learning adalah pendekatan dalam pengelolaan sistem pembelajaran melalui cara-cara belajar yang aktif menuju belajar yang
mendiri. Kemampuan belajar mandiri ini merupakan tujuan akhir dari active learning. Silbeman (2016 : 23) mengatakan bahwa apa yang saya dengar, saya lupa. Apa yang saya dengar dan lihat, saya ingat sedikit. Apa yang saya dengar,
lihat dan tanyakan atau diskusikan dengan beberapa teman lain, saya mulai
paham. Apa yang saya dengar, lihat, diskusikan dan lakukan, saya memperoleh
pengetahuan dan keterampilan. Apa yang saya ajarkan pada orang lain, saya
kuasai. Ada beberapa alasan yang dikemukakan mengenai penyebab mengapa
kebanyakan orang cenderung melupakan apa yang mereka dengar. Jawaban yang
menarik salah satunya adalah karena adanya perbedaan antara kecepatan bicara
guru dengan tingkat kemampuan siswa mendengarkan apa yang disampaikan
guru. Kebanyakan guru berbicara sekitar 100-200 kata per menit, sementara anak
didik hanya mampu mendengarkan 50-100 kata per menitnya (setengah dari apa
yang dikemukakan guru), karena siswa mendengarkan pembicaraan guru sambil
berpikir.
Keep on Learning merupakan salah satu strategi pembelajaran yang menggunakan pendekatan belajar aktif, yaitu pendekatan yang memungkinkan
dan memberi kemudahan kepada siswa menemukan cara-cara untuk terus
mempelajari materi yang telah guru sampaikan sesuai dengan cara mereka
sehingga siswa tidak cepat bosan dalam belajar (Silberman, 2016: 281). Hal ini
didasari oleh pengetahuan yang ada di sekolah, tetapi juga memberikan kebebasan
7
penyajian bahan pelajaran dimana guru memberikan tugas tertentu agar murid
melakukan kegiatan belajar, kemudian harus dipertanggungjawabkannya. Tugas
yang diberikan guru dapat memperdalam bahan pelajaran, dan dapat pula
mengecek bahan yang telah dipelajari. Tugas dan resitasi merangsang anak untuk
aktif belajar baik secara individual atau kelompok.
Keep on learning membantu siswa untuk efektif belajar di luar kelas, yang akan membantu siswa lebih aktif lagi ketika di dalam kelas. Keep on learning memberikan kesempatan pada siswa untuk terus belajar diluar KBM melalui
diskusi bersama teman dalam sebuah kelompok. Hal ini sesuai dengan hasil
pengamatan bahwa siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri Kraton sangat antusias
ketika mengikuti pembelajaran secara berkelompok. Siswa mampu memberikan
ulasan yang ditanggapi oleh siswa dari kelompok lain dan guru, terlihat dari hasil
mengerjakan tugas berkelompok. Suasana pembelajaran seperti ini akan lebih
banyak menimbulkan timbal balik antara guru dan siswa. Meningkatnya aktivitas
belajar siswa akan beriringan dengan meningkatnya hasil belajar siswa. Model
active learning tipe keep on learning ini diharapkan mampu menjadi solusi untuk meningkatkan hasil belajar PKn siswa kelas V SDN Kraton.
B.Diagnosis Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, terdapat
diagnosis masalah sebagai berikut :
1. Kegiatan pembelajaran kurang menarik, model pembelajaran yang digunakan
8
2. Metode yang digunakan kurang variatif, cenderung menggunakan metode
ceramah oleh guru.
3. Siswa kurang aktif dan terlibat dalam proses pembelajaran, karena
pembelajaran masih berpusat pada guru.
4. Siswa kurang dapat memanfaatkan waktu luang untuk belajar dengan cara
mereka sendiri.
5. Hasil belajar kognitif mata pelajaran PKn masih rendah dibandingkan dengan
beberapa mata pelajaran yang lain.
6. Guru belum menerapkan model active learning tipe keep on learning dalam pembelajaran PKn.
C.Batasan Masalah
Berdasarkan diagnosis masalah di atas, peneliti membatasi masalah pada
Penerapan Model Active Learning Tipe Keep on Learning untuk meningkatkan Hasil Belajar PKn di Kelas V SDN Kraton, Yogyakarta.
D.Rumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah di atas, maka rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah bagaimana peningkatan hasil belajar PKn dengan
menggunakan Model Active Learning Tipe Keep On Learning pada siswa kelas V
SDN Kraton Yogyakarta?
E.Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah
untuk meningkatkan hasil belajar PKn siswa kelas V SDN Kraton dengan
9 F. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat. Adapun manfaat
penelitian ini adalah :
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dalam
melakukan kegiatan pembelajaran di kelas, khususnya yang berhubungan
langsung dengan peningkatan hasil belajar PKn di Sekolah Dasar dengan
menerapkan model active learning tipe keep on learning.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Siswa
Penelitian ini dapat menjadikan siswa aktif dalam pembelajaran PKn
sehingga terjadi peningkatan hasil belajar. Membantu siswa yang mengalami
kesulitan dalam pembelajaran PKn, serta menjadikan siswa aktif dalam kegiatan
pembelajaran.
b. Bagi Guru
10 BAB II
KAJIAN PUSTAKA A.Hasil Belajar
1. Pengertian Belajar
Belajar pada hakikatnya adalah proses interaksi terhadap semua situasi yang
ada di sekitar individu. Belajar dipandang sebagai proses berbuat melalui berbagai
pengalaman. Hal ini sejalan dengan pendapat Rusman (2011: 14) tentang belajar
merupakan proses melihat, mengamati, dan memahami sesuatu. Seorang anak
belajar melalui melihat apa yang diindera dengan penglihatan, kemudian diamati
dengan pengetahuan awal yang dimiliki, dan sampai pada tahap memahami
sesuatu. Siswa sekolah dasar belajar harus didorong rasa ingin tahu mereka
sehingga bisa belajar secara positif dan efektif.
Belajar adalah sebuah proses perubahan tingkah laku pada individu yang
didapatkan melalui interaksi dengan lingkungan. Slameto (2003 : 2) berpendapat
bahwa belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk
memperoleh suatu perubahan tingkah laku secara keseluruhan, sebagai hasil
pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Hal ini sesuai
dengan pendapat Suparwoto (2004 : 41) bahwa belajar pada intinya adalah proses
internalisasi dalam diri individu yang belajar dapat dikenali produk belajarnya
yaitu berupa perubahan, baik penguasaan materi, tingkah laku, maupun
keterampilan.
Belajar mempunyai tujuan, hal ini sesuai dengan Sardiman (2007: 28) yang
mengungkapkan tujuan belajar itu adalah ingin mendapatkan pengetahuan,
11
belajar mempunyai perubahan arti tidak tahu menjadi tahu, tidak terampil menjadi
terampil, sikap mental menjadi lebih baik dan mempunyai pemahman nilai.
Pendapat ini sejalan dengan hal – hal pokok dalam belajar yang
dikemukakan oleh Suryabrata (2008: 323) yaitu; (a) belajar itu membawa
perubahan (baik dalam perubahan tingkah laku, aktual maupun potensial); (b)
perubahan itu pada pokoknya adalah didapatkannya kecakapan baru; dan (c)
perubahan itu didapatkannya karena usaha (secara disegaja). Usaha belajar adalah
merubah kecakapan yang dimiliki menjadi lebih kaya, beragam dan meningkatkan
kualitasnya. Perubahan ini dilakukan secara disengaja oleh individu yang
bersangutan.
Berdasarkan berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa belajar
merupakan usaha sadar yang dilakukan oleh seseorang untuk mencapai tujuan
tertentu. Tujuan tersebut dapat berupa perubahan-perubahan dari aspek kognitif,
afektif, maupun psikomotor. Belajar akan lebih optimal ketika didukung oleh
beberapa faktor seperti lingkungan sekitar. Belajar akan memberikan pengalaman
baru bagi seseorang yang akan menjadi bekal dalam kehidupan.
2. Pengertian Hasil Belajar
Belajar merupakan suatu proses yang akan membuahkan hasil.
Diperolehnya hasil belajar merupakan salah satu tujuan dari pembelajaran.
Hamalik (2006: 30) mengemukakan bahwa hasil belajar diperoleh jika terjadi
perubahan tingkah laku, dari tidak tahu menjadi tahu dan dari tidak mengerti
menjadi mengerti. Perubahan tersebut dapat diartikan terjadinya peningkatan dan
12
Hasil belajar menurut pemikiran Gagne (Sudjana, 2009 : 22) berupa
informasi verbal, keterampilan intelektual, strategi kognitif, keterampilan motorik,
dan sikap. Informasi verbal adalah informasi yang dapat berupa lisan maupun
tulisan. Informasi verbal dapat diperoleh melalui tes lisan maupun tertulis.
Keterampilan intelektual merupakan kemampuan menggunakan apa yang
didapatkan selama pembelajaran berlangsung, dalam analisis permasalahan,
perbandingan, dan pengambilan keputusan. Hasil maksimal dari matangnya
keterampilan intelektual dan strategi kognitif ini akan memudahkan seseorang
menemukan solusi dari sebuah masalah. Hal tersebut akan berdampak baik pada
terbentuknya keterampilan sikap dalam menghadapi persoalan.
Dalam pendapatnya Bloom yang telah direvisi oleh Anderson dan
Krathwohl (2001 : 66-68) mengatakan bahwa hasil belajar mencakup kemampuan
kognitif, afektif dan psikomotorik. Kemampuan kognitif meliputi mengingat
(remember); memahami atau mengerti (understand); menerapkan (apply); menganalisis (analyze); mengevaluasi (evaluate); dan menciptakan (create). Kemampuan afektif meliputi; menerima (receiving); menjawab (responding); menilai (valuing); organisasi (organize). Kemampuan psikomotor berhubungan dengan hasil belajar yang pencapaiannyamelalui keterampilan manipulasi yang
melibatkan otot dan kekuatan fisik.
a. Ranah kognitif
Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari
13
(understand); menerapkan (apply); menganalisis (analyze); mengevaluasi (evaluate); dan menciptakan (create).
1) Mengingat (remember)
Mengingat merupakan usaha mendapatkan kembali pengetahuan dari
memori atau ingatan yang telah lampau, baik yang baru saja didapatkan atau yang
sudah lama didapatkan. Mengingat meliputi mengenali (recognition) dan memanggil kembali (recalling). Mengenali berkaitan dengan mengetahui pengetahuan masa lampau yang berkaitan dengan hal-hal yang konkret misalnya
tanggal lahir, alamat rumah, dan usia, sedangkan memanggil kembali adalah
proses kognitif yang membutuhkan pengetahuan masa lampau secara tepat dan
cepat.
2) Memahami atau mengerti (understand)
Memahami atau mengerti berkaitan dengan membangun sebuah pengertian
dari berbagai sumber seperti pesan, bacaan, dan komunikasi.memahami berkaitan
dengan aktivitas mengklasifikasikan dan membandingkan. Mengklasifikasikan
akan muncul ketika seseorang berusaha mengenali pengetahuan yang merupakan
anggota dari kategori pengetahuan tertentu, sedangkan membandingkan merujuk
pada identifikasi persamaan dan perbedaan dari dua atau lebih objek,
permasalahan, atau situasi.
3) Menerapkan (apply)
Menerapkan merujuk pada proses kognitif memanfaatkan atau
mempergunakan suatu prosedur untuk melaksanakan percobaan atau
14
prosedur (executing) dan mengimplementasikan (implementing). Menjalankan prosedur merupakan proses kognitif siswa dalam menyelesaikan masalah dan
melaksanakan percobaan di mana siswa sudah mengetahui informasi tersebut dan
mampu menetapkan dengan pasti apa saja prosedur yang harus dilakukan.
Mengimplementasikan muncul apabila siswa memilih dan menggunakan prosedur
untuk hal-hal yang belum diketahui atau asing.
4) Menganalisis (analyze)
Menganalisis merupakan memecahkan suatu masalah dengan memisahkan
tiap-tiap bagian dari permasalahan dan mencari keterkaitan dari tiap-tiap bagian
tersebut dan mencari tahu bagaimana keterkaitan tersebut dapat menimbulkan
permasalahan. Menganalisis berkaitan dengan proses kognitif member atribut
(attributing) dan mengorganisasikan (organizing). Memberi atribut akan muncul apabila siswa menemukan suatu permasalahan dan kemudian memerlukan
kegiatan membangun ulang hal yang menjadi permasalahan. Mengorganisasikan
menunjuk pada identifikasi unsur-unsur hasil komunikasi atau situasi dan
mencoba mengenali bagaimana unsur-unsur tersebut dapat menghasilkan
hubungan yang baik.
5) Mengevaluasi (evaluate)
Evaluasi berkaitan dengan proses kognitif memberikan penilaian
berdasarkan kriteria dan standar yang sudah ada. Evaluasi meliputi mengecek
15
produk, sedangkan mengkritisi berkaitan erat dengan berpikir kritis. Siswa
melakukan penilaian dengan melihat suatu hal, kemudian melakukan penilaian
menggunakan standar ini.
6) Menciptakan (create)
Menciptakan mengarah pada proses kognitif meletakkan unsur-unsur secara
bersama-sama untuk membentuk kesatuan yang koheren dan mengarahkan siswa
untuk menghasilkan suatu produk baru dengan mengorganisasikan beberapa unsur
menjadi bentuk atau pola yang berbeda dengan sebelumnya. Menciptakan
meliputi menggeneralisasikan (generating) dan memproduksi (producing). Menggeneralisasikan merupakan kegiatan mempresentasikan permasalahan dan
penemuan alternatif hipotesis yang diperlukan, sedangkan memproduksi
mengarah pada perencanaan untuk memecahkan masalah yang diberikan.
Memproduksi berkaitan erat dengan dimensi pengetahuan yang lain yaitu
pengetahuan faktual, pengetahuan konseptual, pengetahuan prosedural, dan
pengetahuan metakognisi.
b. Ranah afektif
Ranah afektif berkenaan dengan sikap dan nilai. Tipe hasil belajar afektif
tampak pada siswa dalam berbagai tingkah laku seperti perhatiannya terhadap
pelajaran, disiplin, motivasi belajar, menghargai guru dan teman sekelas,
16
sebagai hasil belajar, yaitu : menerima (receiving); menjawab (responding); menilai (valuing); organisasi (organize).
1) Menerima (receiving)
Dalam tingkatan menerima, diharapkan siswa peka terhadap eksistensi
fenomena atau rangsangan tertentu. Kepekaan ini diawali dengan penyadaran
kemampuan untuk menerima dan memperhatikan. Kata-kata operasional yang
digunakan antara lain: menanyakan, memilih, mendeskripsikan, memberikan,
mengikuti, menyebutkan.
2) Menjawab (responding)
Dalam hal ini siswa tidak hanya peka pada satu fenomena, tetapi juga
bereaksi terhadap salah satu cara. Kata-kata operasional yang digunakan antara
lain : menjawab, membantu, melakukan, membaca, melaporkan, mendiskusikan,
dan menceritakan.
3) Menilai (valuing)
Dalam tingkatan menilai, diharapkan siswa dapat menilai suatu objek,
fenomena, atau tingkah laku tertentu dengan cukup konsisten. Kata-kata
operasional yang digunakan antara lain : melengkapi, menerangkan, membentuk,
mengusulkan, mengambil bagian, memilih, dan mengikuti.
4) Organisasi (organize)
Pada tingkat ini berhubungan dengan menyatukan nilai-nilai yang berbeda,
menyelesaikan atau memecahkan masalah, membentuk suatu sistem nilai.
17
menggabungkan, membandingkan, mempertahankan, menggeneralisasikan, dan
memodifikasikan.
c. Ranah psikomotor
Ranah psikomotor tercerminkan dalam bentuk keterampilan dan
kemampuan bertindak seorang individu. Hasil belajar psikomotor dapat dibedakan
menjadi lima tahap, yaitu :
1) Imitasi;
Imitasi adalah kemampuan melakukan kegiatan-kegiatan sederhana dan sama
persis dengan yang dilihat atau diperhatikan sebelumnya.
2) Manipulasi;
Manipulasi adalah kemampuan melakukan kegiatan sederhana yang belum pernah
dilihat, tetapi berdasarkan pada pedoman atau petunjuk saja.
3) Presisi;
Kemampuan tingkat presisi adalah kemampuan melakukan kegiatan-kegiatan
yang akurat sehingga mampu menghasilkan produk kerja yang tepat.
4) Artikulasi;
Kemampuan ini adalah kemampuan melakukan kegiatan yang kompleks dan tepat
sehingga hasil kerjanya merupakan suatu yang utuh.
5) Naturalisasi;
Kemampuan pada tingkat naturalisasi adalah kemampuan melakukan kegiatan
secara refleks, yakni kegiatan yang melibatkan fisik saja sehingga efektivitas kerja
18
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar terdiri dari
tiga ranah yaitu hasil belajar afekif, kognitif dan psikomotor. Masing-masing
memiliki kriteria, cara pencapaian, dan cara pengukuran yang berbeda. Hasil
belajar tersebut dapat diukur dengan teknik tes maupun non tes, untuk mengetahui
tingkat ketercapaian seseorang dalam belajar.
Dalam penelitian ini yang diukur adalah hasil belajar kognitif siswa. Hasil
belajar yang akan diukur adalah mulai dari tingkatan mengingat sampai dengan
tingkatan menganalisis. Hal ini karena untuk usia sekolah dasar masih agak sulit
apabila sampai pada tahap mengevaluasi dan menciptakan.
B.PKn
1. Pengertian PKn
Pendidikan Kewarganegaraan merupakan program pendidikan yang
menekankan pada pembentukan warga negara agar dapat melaksanakan hak dan
kewajibannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Sebagaimana disebutkan dalam Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 yaitu :
Mata pelajaran PKn merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warganegara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga Negara Indonesia yang cerdas, terampil, berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan Undang-Undang 1945.
Pendidikan Kewarganegaraan dalam paradigma barunya mempunyai tugas
mengembangkan pendidikan demokrasi yang mengemban tiga fungsi pokok yakni
19
warga negara (civic participation). Kecerdasan warga negara yang dikembangkan
untuk membentuk warga negara yang baik bukan hanya dalam dimensi rasional,
melainkan juga dalam dimensi spiritual, emosional, dan sosial sehingga
paradigma baru PKn bercirikan multidimensional. (Suharno dkk, 2006 : 11).
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa PKn merupakan
salah satu mata pelajaran yang sangat penting. PKn inilah diharapkan tertanamnya
nilai-nilai luhur bangsa pada peserta didik. Melalui PKn peserta didik akan
memperoleh pengetahuan mengenai tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa
dan bernegara. Pengetahuan ini menjadi dasar dalam pembentukan sikap dan
perilaku yang baik sesuai tuntutan Pancasila dan UUD 1945.
2. Tujuan PKn
Permendiknas No.22 Tahun 2006 bahwa mata pelajaran PKn bertujuan agar
peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut :
a. berpikir secara kritis, rasional dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan,
b. berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, serta anti korupsi,
c. berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter karakter masyarakat indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa lain,
d. berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam peraturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.
PKn mengemban tujuan yang mempunyai andil besar dalam
keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara. Alasan-alasan tersebut
menjadi dasar penarikan kesimpulan bahwa keberhasilan pengajaran PKn penting
untuk dapat tercapai dengan baik. Tujuan tersebut hendaknya dapat dicapai
20
pembelajaran yang lebih bervariasi. Siswa akan lebih baik apabila mendapat
pengalaman langsung dalam belajar melalui keterlibatan secara aktif. Hal ini
sesuai dengan pendapat Eliis (1998 : 225) mengemukakan bahwa kata kunci
dalam pembelajaran PKn ialah partisipasi. Bentuk partisipasi tersebut bisa melalui
keterlibatan sehingga memberikan siswa pengalaman langsung, melalui membaca,
melihat tayangan, dan lain sebagainya. Untuk itu guru dapat membuat rancangan
kegiatan yang memunculkan partisipasi siswa dalam belajar sehingga dapat
mencapai tujuan PKn yang telah ditentukan.
3. Fungsi PKn
Pendidikan di Indonesia perlu mempersiapkan generasi mudanya agar
memiliki bekal kemampuan cukup untuk meneruskan estafet kepemimpinan
bangsa. Hal tersebut sesuai dalam kutipan bahwa dalam pendidikan perlu
ditanamkan pemahaman yang mendalam dan komitmen yang kuat dan konsisten
terhadap prinsip dansemangat kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara yang berdasarkan pada Pancasila dan Konstitusi Negara
Indonesia perlu ditanamkan kepada seluruh komponen bangsa Indonesia,
khususnya generasi muda sebagai penerus bangsa. Upaya yang dapat dilakukan
adalah dengan menyelenggarakan program pendidikan yang memberikan berbagai
kemampuan sebagai seorang warga negara melalui mata pelajaran Pendidikan
Kewarganegaraan (Depdiknas, 2006 : 271).
Agar fungsi dari mata pelajaran PKn dapat berjalan dengan semestinya,
perlu diimbangi dengan lancarnya kegiatan pembelajaran PKn. Pembelajaran
21
membangun karakter, sikap, dan perilaku sesuai dengan tujuan yang tercantum
didalamnya. Dengan berfungsinya mata pelajaran PKn sebagaimana mestinya,
maka tujuannya akan tercapai dengan baik pula.
4. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar PKn di Sekolah Dasar
Pendidikan Kewarganegaraan memiliki 8 ruang lingkup kajian yaitu
persatuan dan kesatuan bangsa, norma hukum dan peraturan, hak asasi manusia,
kebutuhan warga negara, konstitusi negara, kekuasaan politik, Pancasila dan
globalisasi. Berdasarkan 8 ruang lingkup tersebut maka disusun Standar
Kompetensi dan Kompetensi Dasar mata pelajaran PKn sesuai dengan
Permendiknas No.22 Tahun 2006. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
yang dilaksanakan pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 1. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar mata pelajaran PKn kelas V Semester II
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar 3. Memahami kebebasan
3.3Menampilkan peran serta dalam memilih organisasi di sekolah
4. Menghargai keputusan bersama
4.1 Mengenal bentuk-bentuk keputusan bersama
22 C.Model Pembelajaran Aktif
1. Pengertian Model Pembelajaran
Suprijono (2014: 45) berpendapat bahwa “model pembelajaran merupakan
landasan praktik pembelajaran hasil penurunan teori psikologi pendidikan dan
teori belajar yang dirancang berdasarkan analisis terhadap implementasi
kurikulum dan implikasinya pada tingkat operasional di kelas”. Model
pembelajaran dirancang untuk menampung aktivitas belajar yang dapat
dicanangkan oleh guru dan diterapkan pada siswa, sesuai dengan tuntutan
kurikulum dan kebutuhan belajar siswa.
Soekamto (1997 : 78) menerangkan bahwa model pembelajaran merupakan
kerangka yang melukiskan prosedur sistematis dalam mengorganisasikan
pengalaman belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pemandu bagi para pengajar
dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar. Prosedur
untuk mengorganisasikan pembelajaran tersebut dirancang secara sistematis agar
dapat berjalan secara efektif.
Model pembelajaran merupakan suatu desain atau rancangan yang
menggambarkan proses dan penciptaan situasi lingkungan yang memungkinkan
anak agar dapat berinteraksi dalam kegiatan pembelajaran, sehingga terjadi
perubahan perilaku dalam pembelajaran (Mutiah, 2010: 120).
Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa model pembelajaran
merupakan sebuah desain yang terbentuk dalam kerangka konseptual mengenai
langkah-langkah dalam pembelajaran yang dapat dilakukan. Langkah-langkah
23
belajar yang telah diterapkan. Model pembelajaran menjadi salah satu hal penting
untuk terlaksana dengan baiknya sebuah pembelajaran.
2. Pengertian Model Pembelajaran Aktif (Active Learning)
Rusman (2014: 324) mengemukakan bahwa model pembelajaran aktif
merupakan model yang menekankan pada aktivitas peserta didik dalam mencari
berbagai informasi dan pengetahuan untuk dibahas dan dipelajari dalam proses
pembelajaran, sehingga peserta didik mendapatkan pengalaman yang dapat
meningkatkan pemahaman dan kompetensinya. Guru harus menciptakan suasana
sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, membangun gagasan, dan
melakukan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman langsung, sehingga
belajar merupakan proses aktif siswa dalam membangun pengetahuannya sendiri. Mulyasa (2006: 191) menjelaskan bahwa “Pembelajaran aktif
memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan kemampuan berpikir tingkat
tinggi, misalnya menganalisis dan mensintesis, serta melakukan penilaian
terhadap berbagai peristiwa belajar, dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari”. Dalam model pembelajaran aktif guru lebih memposisikan dirinya sebagai
fasilitator, yang bertugas memberikan kemudahan belajar kepada siswa. Siswa
terlibat aktif dan banyak berperan dalam proses pembelajaran, sedangkan guru
lebih banyak memberikan arahan, dan bimbingan, serta mengatur sirkulasi dan
jalannya proses pembelajaran.
Siswa belajar secara aktif ketika mereka terlibat secara terus menerus, baik
mental maupun fisik. Pembelajaran aktif itu penuh semangat, hidup, giat,
24
yang terjadi ketika siswa bersemangat, siap secara mental, dan bisa memahami
pengalaman yang dialami (Hollingsworth, 2008 : v)
Sesuai dengan yang dikemukakan oleh Uno (2015 : 76) bahwa untuk
menciptakan pembelajaran aktif, salah satu caranya adalah dengan anak belajar
dari pengalamannya, selain anak harus belajar memecahkan masalah yang dia
peroleh. Anak-anak dapat belajar dengan baik dengan melakukan, menggunakan
indera mereka, menjelajahi lingkungan, baik lingkungan berupa benda, tempat,
serta peristiwa di sekitar mereka. Belajar dari pengalaman langsung dan
pengalaman nyata, maupun dengan pengalaman yang menyentuh perasaan seperti
membaca buku, melihat lukisan, menonton televisi atau mendengarkan radio.
Keterlibatan yang aktif dengan objek –objek atau gagasan-gagasan tersebut dapat
mendorong aktivitas siswa untuk berpikir, menganalisa, menyimpulkan, dan
menemukan pemahaman konsep baru dan mengintegrasikannya dengan konsep
yang sudah mereka ketahui sebelumnya.
Pembelajaran aktif menekankan pada dominasi peran siswa dalam
pembelajaran. Keaktifan siswa dapat ditinjau dalam interaksi dengan sesama
siswa maupun interaksi dengan guru. Keterlibatan langsung siswa dalam
pembelajaran akan membawa siswa untuk menemui pengalaman langsung dalam
pembelajaran yang berlangsung. Hakikat dari pembelajaran aktif adalah untuk
menarik atensi siswa terhadap materi yang akan dipelajari sehingga akan menjadi
aktif selama pembelajaran berlangsung.
25
Ahmadi (2004: 212-213) menerangkan bahwa pembelajaran aktif memiliki
ciri-ciri sebagai berikut:
a. Situasi kelas menantang siswa untuk melakukan kegiatan belajar bebas rapi terkendali
b. Guru tidak mendominasi pembicaraan tetapi lebih banyak memberikan ringkasan berpikir kepada siswa untuk memecahkan masalah
c. Guru menyediakan sumber belajar bagi siswa d. Kegiatan belajar siswa bervariasi
e. Hubungan guru dengan siswa sifatnya harus mencerminkan hubungan manusia bagaikan orang tua dan anak
f. Situasi dan kondisi kelas tidak terikat dengan peran guru sebagai sumber belajar dan siswa sebagai penerima informasi yang pasif
g. Adanya keberanian siswa mengajukan pendapatnya h. Melalui pertanyaan atau pernyataan gagasannya
Uno (2015 : 75-76) menyebutkan beberapa ciri lain dari pembelajaran aktif
sebagaimana dikemukakan dalam panduan pembelajaran model ALIS (Active
Learning In School, 2009) adalah sebagai berikut : (1) pembelajaran berpusat pada siswa, (2) pembelajaran terkait dengan kehidupan nyata, (3) pembelajaran
mendorong anak untuk yang berbeda-beda, (4) pembelajaran melayani gaya
belajar anak yang berbeda-beda, (5) pembelajaran mendorong anak untuk
berinteraksi multiarah (siswa-guru), (6) pembelajaran menggunakan lingkungan
sebagaimedia atau sumber belajar, (7) pembelajaran berpusat pada anak, (8)
penataan lingkungan belajar memudahkan siswa untuk melakukan, (9) guru
memantau proses belajar siswa, dan (10) guru memberikan umpan balik terhadap
hasil kerja.
Karakteristik pembelajaran aktif seperti dijelaskan oleh Bonwell (Hamid,
2011: 49-50) yaitu dalam pembelajaran siswa tidak hanya pasif mendengakan
26
belajar siswa. Sehingga siswa aktif dalam pembelajaran. Siswa dituntut untuk
berfikir kritis, melakukan analisis dan melakukan evaluasi.
Pembelajaran aktif menekankan pada siswa dalam mengembangkan
keterampilan menganalisis dan mengkritisi persoalan yang berkaitan dengan
materi yang dipelajari, untuk itu umpan balik dalam pembelajaran sering terjadi.
Terkait dengan hal tersebut pembelajaran perlu memberikan kesempatan pada
siswa untuk lebih banyak mengambil peran. Pembelajaran perlu didesain agar
dapat memunculkan keberanian siswa dalam mengajukan pertanyaan,
mengemukakan dan atau menyanggah pendapat. Dalam pembelajaran aktif, peran
guru lebih banyak menjadi fasilitator dan pemberi arahan. Guru harus aktif
menciptakan suasana dan menstimulasi siswa agar mampu membangun
gagasannya sendiri dan mendapatkan pengalaman langsung.
4. Bentuk-bentuk Pembelajaran aktif (Active Learning)
Silberman (2016 : 280) mengemukakan bahwa salah satu cara untuk
menjadikan belajar aktif adalah dengan menjadikan belajar menjadi tidak
terlupakan. Beberapa tipe belajar yang tidak terlupakan adalah belajar yang
berkelanjutan. Pada akhir pembelajaran aktif, siswa biasanya akan bertanya “selanjutnya bagaimana?”. Keberhasilan belajar aktif akan terukur oleh cara
menjawab pertanyaan ini, yakni bagaimana hal-hal yang telah dipelajari di kelas
mempengaruhi apa yang akan dilakukan di masa mendatang. Tipe belajar yang
dapat membantu keberlangsungan pembelajaran tetap terjaga dalam model active
learning adalah sebagai berikut :
27
Strategi ini memungkinkan siswa menemukan cara-cara untuk terus
mempelajari mata pelajaran yang diajarkan. Keep on learning memungkinkan siswa tetap bisa mempelajari pelajaran di luar kelas bersama dengan teman
kelompok. Siswa dapat menggunakan bahan-bahan yang memuat pelajaran, selain
bahan yang telah dipelajari di dalam kelas.
b. Stiker yang Sangat Lengket
Strategi ini memungkinkan siswa untuk membuat pengingat, yang
mengingatkan mereka supaya menggunakan apa yang telah mereka pelajari.
Siswa dapat menempelkan stiker pada bagian yang rata seperti pintu kulkas, meja,
dan lain sebagainya.
c. Dengan Ini Saya Tetapkan Bahwa
Strategi ini digunakan untuk mendapat komitmen terhadap penerapan atas
apa yang dipelajari di kelas. Strategi bisa juga digunakan untuk membantu siswa
mengingat pelajaran yang telah lama berlalu.
d. Kuesioner Lanjutan
Strategi ini memungkinkan siswa untuk meningkatkan kesadaran setelah
pelajaran sudah lama berakhir. Fungsilain dari strategi ini adalah sebagai cara
untuk guru dapat tetap berhubungan dengan siswa. Kuesioner dikerjakan secara
individu dan diberikan setelah selang waktu yang cukup panjang dari berakhirnya
pelajaran.
28
Prosedur dalam berpegang erat adalah siswa membuat komitmen serius
untuk menerapkan apa yang telah mereka pelajari. Komitmen siswa dituliskan
dalam sebuah formulir yang berisi beberapa hal temasuk perencanaan masa depan.
Macam-macam tipe dalam model active learning tersebut akan dapat mengoptimalkan penggunaan potensi yang dimiliki oleh peserta didik. Tipe-tipe
di atas dapat digunakan sebagai variasi dalam pembelajaran, sehingga semua
peserta didik dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan. Pembelajaran aktif
juga dimaksudkan untuk menjaga perhatian siswa agar tetap tertuju pada proses
pembelajaran.
5. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Aktif (Active Learning) Kelebihan dari Active Learning menurut Hamid (2011: 50) antara lain :
a. Interaksi yang timbul dalam proses pembelajaran akan menimbulkan
pengetahuan yang dipelajari hanya dapat diperoleh secara bersama-sama
melalui eksplorasi aktif dalam belajar.
b. Siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran dan pengajar dapat memberikan
penilaian terhadap siswa sehingga terdapat individual accountability.
c. Agar proses pembelajaran aktif berjalan dengan efektif maka perlu dilakukan
kerjasama antar siswa sehingga dapat memupuk keterampilan sosial atau social
skills.
Berdasarkan pembahasan yang sudah dipaparkan diatas, kekurangan dari
penggunaan pembelajaran aktif (active learning) adalah:
29
b. Perlu keterampilan interaksi dan komunikasi pendidik dengan siswa, jika
pendidik tidak ada interaksi dan komunikasi yang baik maka tidak terjadi
umpan balik dalam pembelajaran,
c. Perlu pengkondisian kelas yang bervariasi agar semua siswa aktif dalam
pembelajaran,
d. Banyak proses dan tahapan dalam pembelajaran yang menimbulkan pendidik
enggan menerapkan dalam proses pembelajaran.
Berdasarkan uraian kelebihan dan kekurangan model active learning tersebut, terlihat bahwa model pembelajaran active learning akan membantu siswa memperdalam materi-materi yang mereka pelajari melalui cara-cara seperti
interaksi dengan siswa lain maupun dengan guru. Melalui interaksi-interaksi
tersebut menjadikan siswa lebih banyak terlibat dalam pembelajaran sehingga
pembelajaran yang dilaluinya akan menjadi lebih bermakna. Berdasarkan uraian
kekurangan yang tertulis, maka dalam pelaksanaannya guru perlu memperhatikan
pengorganisasian kegiatan pembelajaran sehingga pembelajaran aktif yang
direncanakan akan dapat berjalan dengan baik.
D.Model Active Learning Tipe Keep On Learning
1. Pengertian Model Active Learning Tipe Keep On Learning
Model pembelajaran aktif bertujuan untuk membuat siswa terlibat aktif
dalam kegiatan pembelajaran. Silberman (2016 : 281) menyebutkan bahwa ada
30
Dalam penerapannya cara ini akan dapat memberikan kelanjutan dari
pembelajaran yang telah diterima dikelas.
Dalam pembelajaran aktif, siswa akan lebih mendominasi aktivitas
pembelajaran. Dengan ini siswa secara aktif menggunakan otak baik untuk
menemukan ide pokok dari materi, memecahkan persoalan, atau mengalikasikan
apa yang baru mereka pelajari. Oleh sebab itu diperlukan perangkat tertentu untuk
dapat mengikat informasi yang telah diterima selama pembelajaran. Model
pembelajaran aktif yang diterapkan dapat menjadi salah satu jalan untuk
menjadikan materi yang telah dipelajari menjadi lebih bermakna dan bertahan
lama. Salah satu tipe dari pembelajaran aktif yang sesuai dengan kriteria tersebut
adalah tipe keep on learning. Dalam tipe ini siswa diharapkan dapat tetap belajar
di luar kegiatan pembelajaran di kelas. Tipe ini memungkinkan siswa untuk lebih
banyak mencurahkan ide atau gagasan dalam pembelajaran. Selain itu, siswa akan
dapat melakukan pendalaman materi melalui diskusi bersama siswa lain dalam
satu kelompok. Dengan ini siswa akan terlibat secara aktif dalam pembelajaran
sehingga membuat mereka mempunyai pengalaman belajar yang akan membantu
dalam pemahaman materi (Zaini, 2008 : 74)
Model active learning tipe keep on learning ini memungkinkan siswa menemukan cara-cara untuk terus mempelajari mata pelajaran yang diajarkan.
Siswa mendapat kesempatan untuk belajar diluar jam pelajaran di kelas sesuai
dengan minat dan cara lain yang dapat mereka lakukan. Siswa dapat berdiskusi
dengan kelompok mengenai materi yang telah diajarkan yang didapatkan dari
31
2. Langkah-langkah Model Active Learning Tipe Keep On Learning
Untuk dapat terlaksana dengan baik, perlu diperhatikan langkah-langkah
pembelajaran menggunakan model active learning tipe keep on learning yang akan dilakukan. Langkah-langkah tersebut yaitu :
a. Menunjukan harapan kepada siswa bahwa proses belajar tidak akan berhenti
disitu saja karena waktu pelajaran telah selesai.
b. Memberikan nasihat pada peserta didik bahwa ada beberapa cara bagi mereka
untuk melanjutkan belajar sesuai cara mereka sendiri.
c. Menunjukan bahwa salah satu cara melakukan ini adalah dengan brainstorming
atau menumpahkan ide-ide mereka sendiri agar “tetap belajar”.
d. Membuat kelompok dan meminta setiap kelompok melakukan brainstorming
(menumpahkan semua ide). Ada beberapa saran umum untuk menumpahkan
ide-ide melalui beberapa pilihan berikut ini :
1) mencari artikel dari majalah, koran dan sebagainya yang terkait dengan materi
pembelajaran,
2) mengambil cara lain dalam bidang pelajaran yang sama,
3) membuat daftar bacaan masa mendatang,
4) membaca kembali buku dan meninjau catatan yang dibuat selama pelajaran,
5) mengajarkan sesuatu yang telah dipelajari kepada siswa lain, dan
6) mencari pekerjaan atau tugas yang menggunakan keterampilan yang telah
dipelajari.
e. Mengumpulkan kembali siswa ke dalam kelas dan meminta setiap kelompok
32
3. Kelebihan dan Kekurangan Model Active Learning Tipe Keep On Learning Setiap model pembelajaran pasti mempunyai kelebihan dan kekurangan.
Kelebihan dan kekurangan dari model active learning tipe keep on learning yaitu :
a. Kelebihan tipe keep on learning adalah sebagai berikut :
1) Menyadarkan peserta didik bahwa banyak jalan dalam menyelesaikan masalah.
2) Mendorong peserta didik berfikir kritis.
3) Akan menemukan hal-hal baru dalam mencari jawaban yang bersumber dari
mana saja.
4) Interaksi antar peserta didik terjalin lebih erat.
5) Adanya ringkasan yang ditulis tiap kelompok.
b. Kekurangan tipe keep on learning adalah sebagai berikut :
1) Adanya peserta didik yang menggantungkan tugasnya pada orang lain.
2) Hanya dikuasai oleh orang yang pintar berbicara.
3) Peserta didik menjadi malas karena merasa ada yang sudah mengerjakan.
Dari uraian kelebihan dan kekurangan model active learning tipe keep on learning tersebut maka model ini sangat membantu siswa dalam meningkatkan aktivitas belajar yang selanjutnya diharapkan akan meningkatkan hasil belajar
siswa. Model dan tipe pembelajaran ini membuat siswa dapat belajar dari banyak
hal dan banyak jalan, sehingga akan mendorong mereka berpikir kritis.
Rangkuman yang dihasilkan akan membuat siswa lebih mudah mengulas materi
yang sedang dipelajari. Kekurangan model dan tipe ini harus diantisipasi oleh
guru dengan mengorganisasikan kegiatan pembelajaran agar dapat berjalan
33
4. Model Active Learning Tipe Keep On Learning dalam Pembelajaran PKn Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang memiliki
peran dalam keberlanjutan kehidupan siswa. Materi-materi yang diajarkan dalam
PKn akan banyak diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara. Seperti dalam Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar mata
pelajaran PKn kelas V untuk sekolah dasar termuat materi mengenai organisasi
dan cara pengambilan keputusan dalam sebuah forum. Materi ini akan menjadi
bekal untuk siswa karena nantinya mereka akan banyak menerapkan apa yang
mereka dapatkan dari materi tersebut.
Dalam pembelajaran siswa akan mengetahui macam-macam organisasi dan
cara pengambilan keputusan didalamnya. Keterbatasan waktu yang tersedia
membuat materi tidak dapat diajarkan secara lebih mendalam dan mendetail.
Metode active learning tipe keep on learning memungkinkan siswa untuk mencari
berbagai informasi mengenai materi yang sedang mereka pelajari melalui berbagai
sumber. Melalui metode ini siswa juga akan dapat berdiskusi dengan
kelompoknya sehingga dapat tersampaikan ide atau gagasan baru yang tidak bisa
didapatkan di dalam kelas, sehingga siswa mempunyai cara untuk lebih
menguasai materi yang diajarkan.
Model active learning tipe keep on learning dalam pembelajaran PKn khususnya kelas V sekolah dasar, dapat diterapkan dalam materi-materinya sesuai
dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan. Siswa menjalankan prosedur dalam model active learning tipe
34
kelas. Model active learning tipe keep on learning dimulai dengan pemberian materi mengenai organisasi di sekolah dan masyarakat oleh guru di dalam kelas.
Selanjutnya guru membentuk kelompok-kelompok kecil, kemudian membuka
kesempatan pada siswa untuk menyampaikan ide-ide bersama teman satu
kelompok mengenai materi yang telah disampaikan. Guru kemudian memberikan
pertanyaan yang mampu menarik minat siswa untuk belajar lebih lanjut. Hasil
tanya jawab dan ulasan materi tersebut menjadi dasar untuk siswa mengumpulkan
berbagai materi lain untuk membuat sebuah rangkuman. Siswa membawa hasil
rangkuman pada pertemuan selanjutnya untuk diulas bersama. (Mahardika, 2013 :
51)
E.Definisi Operasional 1. Hasil Belajar
Hasil ditandai perubahan tingkah laku dari tidak tahu menjadi tahu. Hasil
belajar mencaskup kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik. Kemampuan
kognitif meliputi; pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesa, evaluasi.
Kemampuan afektif meliputi; sikap menerima, memberikan tanggapan, penilaian
atau penghargaan, organisasi, karakterisasi. Kemampuan psikomotor meliputi;
meniru, menerapkan, memantapkan, merangkai dan naturalisasi. Hasil belajar
kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek
yaitu pengetahuan atau ingatan; pemahaman; aplikasi; analisis; sintesis; dan
evaluasi. Hasil belajar kognitif diperoleh melalui tes tertulis.
35
Model active learning tipe keep on learning merupakan salah satu cara yang
dapat membantu keberlangsungan pembelajaran tetap terjaga. Dalam
penerapannya cara ini akan dapat memberikan kelanjutan dari pembelajaran yang
telah diterima dikelas. Model active learning tipe keep on learning ini memungkinkan siswa menemukan cara-cara untuk terus mempelajari mata
pelajaran yang diajarkan. Siswa mendapat kesempatan untuk belajar diluar jam
pelajaran di kelas sesuai dengan minat dan cara lain yang dapat mereka lakukan.
Siswa dapat berdiskusi dengan kelompok mengenai materi yang telah diajarkan
yang didapatkan dari berbagai sumber diluar kelas.
F. Penelitian Relevan
1. Penelitian yang dilakukan oleh Yudha Mahardika (2013) dalam skripsinya yang berjudul “Upaya Peningkatan Aktivitas Belajar Peserta Didik Kelas X
Akuntansi 3 dengan Model Active Learning teknik Guided Teaching dan Keep On
Learning di SMK 1 Godean Tahun Ajaran 2012/2013” menyimpulkan bahwa terjadi peningkatan aktivitas belajar siswa Kelas X Akuntansi 3 Sekolah
Menengah Kejuruan 1 Godean tahun ajaran 2012/2013 setelah menggunakan
model active learning teknik guided teaching dan keep on learning.
Hal ini dibuktikan pada rata-rata aktivitas belajar peserta didik pada siklus I
menunjukkan 75,52%. Sedangkan hasil presentase capaian untuk siklus ke II naik
menjadi 94,70% dengan memperoleh peningkatan sebesar 19,18%. Jadi indikator
keberhasilan pada aktivitas belajar siswa kelas X Akuntansi 3 SMK 1 Godean
36
2. Penelitian yang dilakukan oleh Marsiyanti Indriani (2015) dalam skripsinya yang berjudul “Upaya meningkatkan hasil belajar PKn menggunakan
Model Active Learning Tipe Role Reversal Question Pada Siswa Kelas V SD N Minomartani 6, Sleman, Yogyakarta” menyimpulkan bahwa terjadi peningkatan
hasil belajar PKn siswa kelas V SD N Minomartani 6, Sleman, Yogyakarta setelah
menggunakan model active learning tipe role reversal question.
Hal ini dibuktikan pada jumlah siswa yang memperoleh nilai ≥70
mengalami peningkatan yakni sebesar 25% kondisi awal 44% meningkat menjadi
69%. Nilai rata-rata pada siklus I sebesar 8,75% dimana kondisi awal adalah
66,53 meningkat menjadi 75,27. Pada siklus I jumlah siswa yang memperoleh nilai ≥70 sebesar 69% meningkat sebesar 28% menjadi 97% pada siklus II. Nilai
rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I 75,27 meningkat sebesar 10,97%
menjadi 86,25 pada siklus II.
Kedua penelitian tersebut relevan dengan penelitian yang akan dilakukan. Penelitian yang dilakukan oleh Yudha Mahardika dengan judul “Upaya
Peningkatan Aktivitas Belajar Peserta Didik Kelas X Akuntansi 3 dengan Model
Active Learning teknik Guided Teaching dan Keep On Learning di SMK 1 Godean Tahun Ajaran 2012/2013” mempunyai relevansi dengan penelitian ini
dalam hal tipe pembelajaran keep on learning. Perbedaan dengan penelitian ini adalah tipe keep on learning dalam penelitian tersebut diterapkan pada mata
37
meningkatkan hasil belajar PKn menggunakan Model Active Learning Tipe Role Reversal Question Pada Siswa Kelas V SD N Minomartani 6, Sleman, Yogyakarta” mempunyai relevansi dengan penelitian ini dalam hal meningkatkan
hasil belajar PKn kelas V sekolah dasar dengan model active learning. Perbedaannya adalah bahwa penelitian tersebut menggunakan tipe role reversal question sedangkan penelitian ini menggunakan tipe keep on learning.
G.Kerangka Berpikir
Hasil belajar siswa kelas V SDN Kraton yang ditinjau dari ulangan harian
menunjukkan bahwa hasil tersebut masih kurang baik. Hasil ulangan harian PKn
selama tiga kali menunjukkan bahwa pada ulangan harian pertama diperoleh
rata-rata 80,25, ulangan harian kedua diperoleh rata-rata-rata-rata 78,20 dan ulangan harian
ketiga diperoleh rata-rata 68,08. Dari tiga kali ulangan harian yang dilaksanakan,
hasil yang diperoleh menunjukkan penurunan. Jadi, rata-rata dari hasil tiga kali
ulangan harian PKn tersebut adalah 75,51. Hasil ini lebih rendah dibandingkan
dengan hasil rata-rata tiga kali ulangan harian mata pelajaran matematika yaitu
81,38 dan Bahasa Indonesia yaitu 78,77. Dalam hasil ulangan harian mata
pelajaran Bahasa Indonesia bahkan selalu terjadi peningkatan dalam rata-rata
nilainya. Dari hasil rekap nilai ulangan harian tersebut terlihat bahwa ada
beberapa siswa tidak dapat mencapai KKM. Rata-rata dalam setiap ulangan harian
ada 7-13 siswa dari 24 siswa keseluruhan. Apabila dipresentasikan sekitar kurang
lebih 50% dari jumlah siswa belum lulus KKM. Hasil dari rekap nilai rata-rata
ulangan tengah semester dan ulangan akhir semester juga menunjukkan bahwa
38
Pembelajaran PKn yang berlangsung kurang variatif. Ketika siswa ditanyai
pendapat, cenderung kurang ada tanggapan. Pembelajaran masih cenderung
berpusat pada guru. Siswa kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran, karena
mereka tidak memiliki keterlibatan langsung. Dalam pembelajaran siswa banyak
mendapat asupan ilmu secara pasif, tanpa bisa terlibat secara intensif. Sebagian
besar siswa kurang dapat memanfaatkan waktu luangnya untuk mengulas kembali
pembelajaran yang sudah dilaksanakan didalam kelas. Waktu luang ini seharusnya
bisa dimanfaatkan siswa untuk memahami kembali bagian mana dari
pembelajaran yang belum ia mengerti.
Model pembelajaran active learning membuat siswa untuk terlibat secara aktif dalam pembelajaran sehingga akan lebih bermakna. Model active learning tipe keep on learning ini membuat siswa menemukan cara-cara untuk terus mempelajari mata pelajaran yang diajarkan. Siswa mendapat kesempatan untuk
belajar di luar kelas sesuai dengan minat dan cara lain yang dapat mereka lakukan.
Dengan melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran terutama pada mata
pelajaran PKn, diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN
39
Dari uraian di atas diperoleh kerangka berfikir sebagai berikut :
Gambar 1. Kerangka Berpikir
H.Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian teori dan kerangka pikir, maka hipotesis tindakan pada
penelitian tindakan kelas yaitu penggunaan model active learning tipe keep on learning dapat meningkatkan hasil belajar PKn pada siswa kelas V SD N Kraton, Yogyakarta.
Kondisi awal
Pembelajaran berpusat pada guru
Hasil belajar rendah
Tindakan yang dilakukan
Hasil akhir Meningkatnya hasil belajar PKn Pembelajaran PKn menggunakan model