• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III GAMBARAN UMUM WILAYAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB III GAMBARAN UMUM WILAYAH"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

69

BAB III

GAMBARAN UMUM WILAYAH

3.1 Gambaran Umum Kota Bandar Lampung

Kota Bandar Lampung Sebagai Ibu Kota Provinsi Lampung memiliki fungsi untuk pusat kegiatan pemerintahan, sosial, politik, pendidikan dan kebudayaan. Kota Bandar Lampung memiliki lokasi yang strategis sebagai pintu masuk dari Pulau Jawa menuju Pulau Sumatera, sehingga dapat dijadikan kegiatan perekonomian daerah Lampung. Kota Bandar Lampung merupakan kota administrasi yang terdiri dari 20 kecamatan dan 126 kelurahan. Kota Bandar Lampung memiliki luas wilayah sebesar 197,22 Km 2 . Secara geografis Kota Bandar Lampung terletak pada 5 o 20 sampai dengan 5 o 30 lintang selatan dan 105 o 28 sampai dengan 105 o 37 bujur timur. Kota Bandar Lampung terletak di ujung selatan Pulau Sumatera. Kota Bandar Lampung memiliki batas yang terdiri dari:

1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan 2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Teluk Lampung

3. Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Gedung Tataan dan Padang Cermin Kabupaten Pesawaran

4. Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Tanjung Bintang Kabupaten Lampung Selatan.

Kota Bandar Lampung memiliki topografi yang beragam yaitu daerah

pantai, daerah perbukitan, dan daerah dataran tinggi dengan ketinggian 0-700

meter di atas permukaan laut. Kota Bandar Lampung memiliki beberapa daerah

aliran sungai (DAS) dengan hulu sungai berada di bagian barat dan hilir sungai

berada di selatan sekitar wilayah pantai. Lebih jelasnya batas administrasi dan letak

geografis Kota Bandar Lampung dapat dilihat pada Gambar 3.1.

(2)

Sumber: RTRW Kota Bandar Lampung 2011-2031

GAMBAR 3.1

PETA ADMINISTRASI KOTA BANDAR LAMPUNG

Kota Bandar Lampung dalam segi kependudukan sejak tahun 2015-2019

selalu mengalami penambahan jumlah penduduk. Proporsi jumlah penduduk laki-

laki dengan perempuan di Kota Bandar Lampung lebih dominan jumlah penduduk

laki-laki. Pada tahun 2019 Kota Bandar Lampung memiliki jumlah penduduk

sebanyak 1.051.500 jiwa. Jumlah penduduk tersebut menandakan Kota Bandar

Lampung menurut karakteristik kota berdasarkan jumlah penduduk termasuk Kota

Besar karena memiliki jumlah penduduk lebih dari satu juta jiwa. Selengkapnya

secara visual aspek kependudukan berdasarkan sebaran kepadatan penduduk di

kecamatan-kecamatan Kota Bandar Lampung menurut data BPS tahun 2019 dapat

dilihat pada Gambar 3.2.

(3)

Sumber: Kota Bandar Lampung Dalam Angka 2020

GAMBAR 3.2

PETA KEPADATAN PENDUDUK KOTA BANDAR LAMPUNG

Dari aspek kependudukan jumlah penduduk terbanyak terdapat di Kota Bandar Lampung terapat di Kecamatan Panjang dengan populasi mencapai 79.800 jiwa. Kepadatan penduduk tertinggi terdapat di Kecamatan Tanjung Karang Timur dengan kepadatan 19.633 jiwa/Km 2 . Hal ini disebabkan luas wilayah di Kecamatan Tanjung Karang Timur paling kecil dibandingkan dengan kecamatan lain di Kota Bandar Lampung sehingga memiliki kepadatan penduduk yang paling tinggi.

Sementara itu, jumlah penduduk paling rendah berada di Kecamatan Enggal dengan populasi penduduk mencapai 30164 jiwa. Sedangkan kepadatan penduduk paling rendah juga berada di Kecamatan Sukabumi dengan kepadatan 2690 jiwa/Km 2 .

3.2 Gambaran Umum Kecamatan Bumi Waras

Kecamatan Bumi Waras berasal dari sebagian wilayah geografis dan administratif Kecamatan Teluk Betung Selatan dengan batas-batas sebagai berikut:

1. Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Kedamaian

2. Sebelah selatan berbatasan dengan Teluk Lampung

(4)

3. Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Panjang

4. Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Teluk Betung Utara

Berdasarkan Perda No. 4 tahun 2012 tentang penataan dan pembentukan kelurahan dan kecamatan, wilayah Kecamatan Bumi waras dibagi menjadi lima kelurahan yaitu: Kelurahan Kangkung, Kelurahan Bumi Waras, Kelurahan Pecoh Raya yang berganti nama menjadi Kelurahan Bumi Raya, Kelurahan Sukaraja, Kelurahan Garuntang. Adapun pusat pemerintahan Kecamatan Bumi Waras berada di Kelurahan Sukaraja. Kecamatan Bumi Waras secara topografi memiliki wilayah yang relatif datar terutama bagian yang menyusuri pantai dan sebagian kecil memiliki wilayah berbukit atau bergelombang. Kelurahan yang terdapat di Kecamatan Bumi Waras memiliki pembagian wilayah administrasi. Secara umum Kecamatan Bumi Waras terdiri dari 12 Lingkungan (LK) dan 149 Rukun Tetangga (RT) yang terbagi dalam 5 (lima) kelurahan.

Dari aspek kependudukan jumlah penduduk terbanyak terdapat di Kelurahan Bumi Waras dengan populasi mencapai 14.266 jiwa. Kepadatan penduduk tertinggi terdapat di Kelurahan Kangkung dengan kepadatan 47.238 jiwa/Km 2 . Hal ini disebabkan luas wilayah di Kelurahan Kangkung paling kecil dibandingkan dengan kelurahan lain di Kecamatan Bumi Waras sehingga memiliki kepadatan penduduk yang paling tinggi. Sementara itu, jumlah penduduk paling rendah berada di Kelurahan Bumi Raya dengan populasi penuduk mencapai 6.766 jiwa. Sedangkan kepadatan penduduk paling rendah juga berada di Kelurahan Bumi Raya dengan kepadatan 8.152 jiwa/Km 2 .

3.3 Gambaran Umum Kecamatan Teluk Betung Timur

Kecamatan Teluk Betung Timur berasal dari sebagian wilayah geografis dan administratif Kecamatan Teluk Betung Barat dengan batas-batas sebagai berikut:

1. Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Teluk Betung Barat 2. Sebelah selatan berbatasan dengan Teluk Lampung

3. Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Teluk Betung Barat dan Kecamatan

Teluk Betung Selatan

(5)

4. Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Teluk Betung Barat

Berdasarkan Perda No. 4 tahun 2012 tentang penataan dan pembentukan kelurahan dan kecamatan, wilayah Kecamatan Teluk Betung Timur dibagi menjadi 6 (enam) kelurahan, yaitu: Kelurahan Kota Karang, Kelurahan Kota Karang Raya, Kelurahan Perwata, Kelurahan Keteguhan, Kelurahan Sukamaju, Kelurahan Way Tataan. Adapun pusat pemerintahan Kecamatan Teluk Betung Timur berada di Kelurahan Sukamaju. Kelurahan yang terdapat di Kecamatan Teluk Betung Timur memiliki pembagian wilayah administrasi. Secara umum Kecamatan Teluk Betung Timur terdiri dari 13 Lingkungan (LK) dan 101 Rukun Tetangga (RT) yang terbagi dalam 6 Kelurahan.

Dari aspek kependudukan jumlah penduduk terbanyak terdapat di Kelurahan Kota Karang dengan populasi mencapai 12.478 jiwa. Kepadatan penduduk tertinggi di Kelurahan Kota Karang dengan kepadatan 35.651 jiwa/Km 2 karena luas wilayah di Kelurahan Teluk Betung paling kecil dibandingkan dengan kelurahan lain. Sementara itu, jumlah penduduk paling rendah berada di Kelurahan Sukamaju dengan populasi 4.567 jiwa dan kepadatan penduduk paling rendah yaitu Kelurahan Way Tataan dengan kepadatan 897 jiwa/Km 2 .

3.4 Kondisi Fisik dan Geografis di Kelurahan Kota Karang dan Kelurahan Kangkung

Gambaran umum dari kondisi fisik dan geografis menginformasikan letak dan perbatasan masing-masing kawasan dan struktur fisik seperti topografi wilayah tersebut secara umum yaitu pada Kelurahan Kota Karang dan Kelurahan Kangkung.

3.4.1 Kondisi Geografis 1. Kelurahan Kangkung

Kelurahan Kangkung merupakan salah satu kelurahan di wilayah Kota Bandar Lampung Provinsi Lampung yang terletak pada 5º26’45”– 5⁰27’00”

Lintang Selatan dan 105º16’0” –105⁰ 16’15” Bujur Timur, jarak ke pusat Kota

Bandar Lampung kurang dari 5 km, dengan batas-batas wilayah administratif

sebagai berikut : Sebelah Utara Kelurahan Pesawahan; Sebelah Timur Kelurahan

(6)

Bumi Waras; Sebalah Selatan; Teluk Lampung; dan Sebelah Barat Kelurahan Pesawahan.

2. Kelurahan Kota Karang

Kelurahan Kota Karang merupakan salah satu kelurahan/desa di wilayah Kota Bandar Lampung yang terletak pada 05⁰ 15’ 20” Lintang Selatan dan 105⁰ 27’ 40” Bujur Timur dengan batas-batas wilayah administratif sebagai berikut:

Sebelah Utara Way Belau / Kelurahan Pesawahan; Sebelah Timur Laut / Teluk Lampung; Sebalah Selatan Jalan Teluk Ratai / Kelurahan Kota Karang Raya; dan Sebelah Barat Jalan Laks. RE. Marthadinata / Kelurahan Perwata. Lebih jelas batasan wilayah dan lokasi strategis lain dapat dilihat pada Gambar 3.3.

Sumber: RTRW Kota Bandar Lampung 2011-2031

GAMBAR 3.3

PETA LOKASI PENELITIAN

3.4.2 Kondisi Fisik Lingkungan

Kondisi fisik Kelurahan Kota Karang dan Kangkung memiliki topografi

wilayah dataran karena langsung bertemu dengan Teluk Lampung yang merupakan

hilir dari 3 (tiga) sungai besar yang ada di Kota Bandar Lampung. Selengkapnya

kondisi fisik dapat dilihat pada Tabel III.1.

(7)

TABEL III.1

KONDISI FISIK KELURAHAN KOTA KARANG DAN KANGKUNG

Kecamatan Kelurahan

Luas Wilayah

(Ha)

Persentase thd Luas Kec (%)

Jarak Ibu Kota (Km)

Topografi wilayah

Bumi Waras

Kangkung 30,2 8 4 Dataran

Bumi Waras 73 19,4 4 Dataran

Bumi Raya 83 22,1 4 Dataran

Sukaraja 80,3 21,3 4 Dataran

Garuntang 110 29,2 4 Dataran

Teluk Betung Timur

Sukamaju 412 34 5,5 Lereng/Puncak

Keteguhan 364 30 5,2 Lereng/Puncak

Kota Karang 35 3 4,6 Dataran

Perwata 40 3 3,75 Dataran

Way Tataan 337 28 10 Lereng/Puncak

Kota Karang Raya 22 2 4 Dataran

Sumber: Kecamatan Bumi Waras dan Teluk Betung Timur Dalam Angka 2019

3.5 Kondisi Sosial Kependudukan di Kelurahan Kota Karang dan Kelurahan Kangkung

Kondisi sosial kependudukan menjelaskan jumlah, rasio dan kepadatan penduduk yang juga menjadi pertimbangan memilih lokasi. Kondisi sosial dan kependudukan di Kelurahan Kangkung memiliki 27 rukun tetangga dengan jumlah penduduk 14517 jiwa dan rasio jenis kelamin 104. Sedangkan di Kelurahan Kota Karang memiliki 22 rukun tetangga dengan jumlah penduduk 12697 jiwa dan rasio jenis kelamin 104. Data kependudukan selengkapnya dapat dilihat pada Tabel III.2.

TABEL III.2

SOSIAL KEPENDUDUKAN KELURAHAN KOTA KARANG DAN KANGKUNG

Sumber: Kecamatan Bumi Waras dan Teluk Betung Timur Dalam Angka 2019 Kecamatan Kelurahan

Luas Wilayah

(Ha)

Rukun Tetangga (RT)

Jumlah Penduduk

Kepadatan Penduduk (Jiwa/Km

2

)

Rasio Jenis Kelamin

Bumi Waras

Kangkung 30,2 27 14517 48070 104

Bumi Waras 73 45 16735 22925 103

Bumi Raya 83 15 6886 8296 100

Sukaraja 80,3 36 12276 15288 105

Garuntang 110 26 9498 8635 107

Teluk Betung

Timur

Sukamaju 412 17 4648 1128 107

Keteguhan 364 24 12693 3487 108

Kota Karang 35 22 12697 36277 104

Perwata 40 13 5024 12560 104

Way Tataan 337 10 3077 913 109

Kota Karang Raya 22 15 5832 26509 102

(8)

Kepadatan penduduk di Kelurahan Kangkung dan Kelurahan Kota Karang memiliki tingkat kepadatan yang tinggi dibanding dengan kelurahan lain di kecamatan yang sama yang berbatasan langsung dengan pesisir. selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 3.4.

Sumber: Kecamatan Bumi Waras dan Teluk Betung Timur Dalam Angka 2019

GAMBAR 3.4

PETA KEPADATAN PENDUDUK LOKASI PENELITIAN

Peta kepadatan di atas menunjukkan bahwa Kelurahan Kota Karang dan Kangkung merupakan wilayah yang memiliki kepadatan tinggi di antara kelurahan- kelurahan di kecamatan yang sama. Kepadatan Kelurahan Kangkung yaitu 48070 jiwa/km

2

dan Kelurahan Kota Karang 36277 jiwa/km

2

.

3.6 Penggunaan Lahan Terbangun di Kelurahan Kota Karang dan Kelurahan Kangkung

Penggunaan lahan terbangun menjelaskan proporsi bagian lahan yang

digunakan pada Kelurahan Kota Karang dan Kelurahan Kangkung yang juga

digunakan sebagai pertimbangan pemilihan lokasi karena menjadi lahan

permukiman dan perdagangan dan jasa yang menjadi tempat penduduk berkumpul.

(9)

Untuk lebih jelas pembagian guna lahan pada Kelurahan Kota Karang dan Kelurahan Kangkung dapat kita lihat pada Gambar 3.5.

Sumber: Kecamatan Bumi Waras dan Teluk Betung Timur Dalam Angka 2019

GAMBAR 3.5

PETA TATA GUNA LAHAN DI KELURAHAN KOTA KARANG DAN KANGKUNG

Penggunaan lahan di Kelurahan Kangkung didominasi untuk pemukiman

yaitu seluas 15,10 hektar atau sekitar 31% dari total luas lahan yang ada. Selain

lahan untuk pemukiman fungsi penggunaan lahan untuk perkantoran, perdagangan,

industri/gudang, aman dan ruang terbuka hijau/lapangan secara berurutan memiliki

luas dan persentase total seluas 10,45 hektar (21%), 12,52 hektar (26%), 7,02 hektar

(14%) dan 3,7 hektar (8%). Tata guna lahan pada Kelurahan Kangkung

selengkapnya dapat dilihat pada Tabel III.3.

(10)

TABEL III.3

DATA PENGGUNAAN LAHAN DI KELURAHAN KANGKUNG

No Jenis Penggunaan Lahan Luas

(Ha) %

1 Perumahan/Pemukiman 15,1 31%

2 Perkantoran 10,45 21%

3 Perdagangan 12,52 26%

4 Industri/Gudang 7,02 14%

5 Taman dan Ruang Terbuka/Lapangan 3,7 8%

Jumlah 48,79 100%

Sumber: NUAP Rencana Aksi Perbaikan Lingkungan 2015-2019

Selain lahan untuk permukiman, penggunaan lahan untuk fungsi lainnya juga terdapat di kelurahan ini antara lain untuk perkantoran seluas 0,5 hektar atau sekitar 1,43%, untuk perdagangan/jasa 0,5 hektar atau sekitar 1,43%, sedangkan penggunaan lahan untuk taman/ruang terbuka/lapangan seluas 0,7 hektar (2%).

Penggunaan lahan pada Kelurahan Kota Karang selengkapnya dapat dilihat pada Tabel III.4.

TABEL III.4

DATA PENGGUNAAN LAHAN DI KELURAHAN KOTA KARANG

No. Jenis Penggunaan Lahan Luas (Ha) %

1. Perumahan/Permukiman 33,3 95,14

2. Perkantoran 0,5 1,43

3. Perdagangan / Jasa 0,5 1,43

4. Industri / Gudang - -

5. Taman dan Ruang Terbuka/Lapangan 0,7 2,00

Jumlah 35,0 100,00

Sumber: NUAP Rencana Aksi Perbaikan Lingkungan 2015-2019

3.7 Kondisi Klimatologi dan Perubahan Iklim di Kota Bandar Lampung

Kondisi klimatologi dan perubahan iklim Kota Bandar Lampung

berdasarkan data curah hujan dan temperatur pada saat musim hujan/DJF, musim

peralihan/MAM, musim kemarau/JJA, dan musim peralihan menuju musim

hujan/SON yang dilakukan proyeksi sehingga dapat melihat tren dan juga

kemiripan setiap data musim yang digunakan menjadi pembanding bahwa terjadi

perubahan iklim yaitu dari data curah hujan dan suhu di Kota Bandar Lampung.

(11)

Hasil studi ACCCRN (2010) menunjukkan hal yang mengindikasikan terjadinya peningkatan suhu harian yang semakin tinggi. Hal ini diprediksi dapat mempengaruhi aktivitas-aktivitas sektoral pada wilayahnya. Berikut hasil proyeksi tren di Kota Bandar Lampung yang ditunjukkan secara berturut-turut pada Gambar 3.6.

Sumber: (Sitadevi, 2016)

GAMBAR 3.6

PLOT TIME SERIES KENAIKAN SUHU DI KOTA BANDAR LAMPUNG

Grafik di atas menunjukkan tren kenaikan suhu di Kota Bandar Lampung

berdasarkan 4 metode yang digunakan oleh ACCCRN pada tahun 2010 untuk

melihat perubahan suhu yang terjadi selama 100 tahun ke depan dari tahun 1901-

2001. Diperoleh hasil dari masing-masing metode mengalami tren yang sama naik

antara 30 0 C-31 0 C. Sedangkan data curah hujan musiman Kota Bandar Lampung

dapat dilihat trennya pada Gambar 3.7.

(12)

Sumber: (Sitadevi, 2016)

GAMBAR 3.7

PLOT TIME SERIES CURAH HUJAN MUSIMAN DI KOTA BANDAR LAMPUNG

Grafik di atas menunjukkan tren penurunan curah hujan di Kota Bandar Lampung berdasarkan 4 metode yang digunakan oleh ACCCRN pada tahun 2010 untuk melihat perubahan suhu yang terjadi selama 100 tahun ke depan dari tahun 1900-2000. Diperoleh hasil dari masing-masing metode mengalami tren yang sama turun antara 300-400mm/hari. Tren suhu dan curah hujan yang mengalami perubahan yang signifikan dalam kurun waktu 100 tahun hal ini mengindikasikan terjadinya perubahan iklim dengan adanya peningkatan temperatur dan penurunan curah hujan di Kota Bandar Lampung.

3.5 Kondisi Bencana Iklim di Kelurahan Kota Karang dan Kangkung

Dalam studi ACCCRN (2010) mengungkapkan terjadinya bencana iklim

(banjir dan kekeringan) dapat memiliki potensi untuk mengubah urutan nilai-nilai

sosial pada masyarakat. Contohnya dengan terjadinya bencana, terdapat jalinan

kerja sama masyarakat dalam menangani masalah-masalah yang ada, seperti nilai-

nilai sosial semangat gotong royong yang telah tertanam sejak dini di Indonesia

dalam mengatasi pasca bencana. Kota Bandar Lampung dinilai sangat rawan

terhadap bencana alam (Mukhlis, Putri, dan Purnawaty, 2011).

(13)

Bencana iklim yang terjadi sangat merugikan dapat berdampak pada sektor ekonomi, sosial, dan lingkungan. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh ACCCRN (2010) bahwa terdapat potensi terulangnya kembali kejadian iklim yang ekstrem dan menyebabkan bencana di masa mendatang. Kondisi perumahan padat penduduk dengan lingkungan yang relatif kurang nyaman pada pesisir kota dapatlah menjadikan daerah tersebut rentan terhadap bencana yang akan dihadapinya (Mukhlis, Putri, dan Purnawaty, 2011).

Kelurahan Kota Karang dan Kelurahan Kangkung memiliki potensi lebih terdampak risiko dari perubahan iklim itu sendiri karena wilayah yang langsung berbatasan dengan teluk pesisir Kota Bandara Lampung sehingga kemungkinan terjadi bencana iklim semakin tinggi. Bencana iklim ini bisa jadi banjir dan kekeringan yang dapat mengganggu kehidupan di sana. Berikut selengkapnya bahaya iklim, kelompok risiko dan dampak yang dapat dilihat pada Tabel III.5.

TABEL III.5

BAHAYA IKLIM, KELOMPOK RISIKO DAN DAMPAK PERUBAHAN

Sumber: (Mukhlis, Putri, dan Purnawaty, 2011)

(14)

Berdasarkan data bahaya iklim dan kelompok risiko dari dampak perubahan iklim di Pesisir Kota Bandar Lampung adalah banjir, kenaikan muka air laut dan abrasi, kekeringan, erosi dan longsor dan puting beliung. Namun yang paling spesifik terdampak secara langsung dengan kriteria Kelurahan Kota Karang dan Kangkung adalah adanya kenaikan muka air laut dan abrasi yang dapat mengganggu sektor ekonomi, kesehatan, pendidikan, perikanan, dan sektor lingkungan hidup. Selanjutnya dampak ini akan menyebabkan risiko lainnya terjadi seperti banjir/genangan dan kekurangan air bersih.

3.6 Kondisi Kawasan Informal di Kota Bandar Lampung

Kawasan Informal pesisir Kota Bandar Lampung di Teluk Betung selatan dalam dokumen skripsi ditulis oleh Ahmad Rizqi Fajaruddin Tahun 2012 dengan judul Pro dan Kontra Penataan Wilayah Pesisir Kota Bandar Lampung memiliki Permasalahan yang dihadapi masyarakat pesisir merupakan masalah ekonomi, sertifikasi tanah, pendidikan, kesehatan dan lain-lain. Kecamatan lain seperti Bumi Waras dan Teluk Betung Timur juga mengalami hal yang serupa. Hal tersebut dapat disebabkan oleh berbagai aspek, seperti; a) fasilitas pembangunan, b) kebijakan pembangunan c) tingkat pendidikan, dan d) minimnya lapangan pekerjaan. Namun permasalahan pokok yang menimbulkan Pro dan Kontra penataan Wilayah Pesisir Kota Bandar Lampung, yaitu :

a) Konflik pengelolaan Wilayah Pesisir;

b) Rendahnya penaatan dan penegakan hukum dalam pengelolaan Wilayah Pesisir;

c) Telah terjadi kemiskinan struktural masyarakat pesisir yang semakin berat;

d) Belum adanya usaha-usaha yang terencana dan terpadu untuk memanfaatkan potensi dan keunggulan pesisir Kota Bandar Lampung.

Perbedaan pemahaman konsep penataan Wilayah Pesisir membuat

masyarakat berpendapat bahwa dengan adanya penataan Wilayah Pesisir akan

meningkatkan pemanfaatan potensi Wilayah Pesisir sehingga berdampak pada

meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Namun dilain sisi masyarakat memiliki

kekhawatiran terhadap penataan Wilayah Pesisir yang diikuti dengan adanya

relokasi/penggusuran. Sebagian besar kehidupan masyarakat pesisir sangat

bergantung pada Wilayah Pesisir yang mana kebanyakan dari masyarakat pesisir

(15)

bekerja sebagai nelayan. Berikut gambaran umum wilayah pesisir tersebut dapat dilihat pada Gambar 3.8.

GAMBAR 3.8

KAWASAN INFORMAL DI PESISIR KOTA BANDAR LAMPUNG

Semakin baik prospek perkembangan ekonomi Kota Bandar Lampung maka semakin meningkat pula perkembangan di kawasan pesisir dengan tingginya intensitas kegiatan pembangunan sehingga ada penurunan kualitas lingkungan.

Tata ruang pesisir yang tidak sesuai dengan arahan kawasan terbangun yang

terbangun tidak sesuai fungsi, kawasan konservasi yang terbangun, kawasan

konservasi yang belum terbangun tapi diperuntukkan lain. Perdebatan dalam

mengatasi permasalahan pada kawasan informal di pesisir Kota Bandar Lampung

tidak bisa dihindarkan karena dengan peran dan fungsi dan peran strategis pada

dasarnya merupakan potensi untuk pengembangan ekonomi kota sehingga perlu

ada kekuatan untuk mengelola dengan tetap melakukan pengembangan ekonomi

sekaligus perlindungan terhadap fungsi ekologi. Karena solusi yang ada saat ini

belum dapat mengakomodasi kebutuhan masyarakat yang ada di sana untuk tetap

bertahan hidup dengan segala risiko yang mengancam mereka setiap harinya.

Gambar

TABEL III.1
TABEL III.4
TABEL III.5

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian yaitu: 1) Meskipun pendidikan adalah hal yang dianggap penting bagi masyarakat di pesisir Teluk Lampung Kecamatan Teluk Betung Barat Kota Bandar Lampung

Alasan memilih sekolah MTs Hasanuddin Kupang Tebak Teluk Betung Bandar Lampung dikarenakan berdasarkan dari studi pendahuluan didapatkan bahwa di sekolahan

Jumlah sarana pendidikan, kesehatan, ibadah, transportasi, dan ekonomi di Kelurahan Kota Karang Kecamatan Teluk Betung Timur Kota Bandar Lampung tahun 2013.. Sarana Jenis sarana

Secara geografis Kecamatan Natar merupakan salah satu bagian dari wilayah Kabupaten Lampung Selatan yang berbatasan langsung dengan ibu kota Provinsi Lampung yaitu

Jumlah bus pada BRT Trans Bandar Lampung untuk melayani masyarakat Bandar Lampung dalam bergerak memiliki frekuensi/hari yang berbeda, baik untuk BRT Trans Bandar

Sasaran dari dimensi smart economy didalam masterplan Smart City Kota Bandar Lampung yaitu mewujudkan ekosistem yang mendukung aktifitas ekonomi masyarakat yang selaras

Kecamatan Teluk Betung Selatan adalah merupakan sebagian wilayah Kota Bandar Lampung, dengan luas wilayah 1.023 Ha, dan berbatasan dengan: (1) Sebelah utara berbatasan

Pola pemanfaatan ruang yang terkait dengan wilayah pesisir Teluk Lampung dalam RTRW Provinsi Lampung, Kabupaten Lampung Selatan, Pesawaran, dan Kota Bandar Lampung, secara