• Tidak ada hasil yang ditemukan

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 1 dari 16 hal. Put. Nomor 718 K/Pdt.Sus-HKI/2015

P U T U S A N

Nomor 718 K/Pdt.Sus-HKI/2015

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA M A H K A M A H A G U N G

memeriksa perkara perdata khusus hak kekayaan intelektual (merek) pada tingkat kasasi telah memutuskan sebagai berikut dalam perkara antara:

DEWAN PIMPINAN NASIONAL HIMPUNAN KERUKUNAN TANI INDONESIA (“DPN HKTI”), Pimpinan DR. OESMAN SAPTA,

berkedudukan di Jalan Prof. Satrio C-4 Nomor 18, Jakarta Selatan 12950, dalam hal ini memberi kuasa kepada Dr. Dodi S. Abdulkadir, B.Sc., S.E. S.H., M.H., dan kawan-kawan, Para Advokat, beralamat di Grand Wijaya Centre Unit B.8-9, Jalan Wijaya II, Kebayoran Baru, Jakarta 12160, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 19 Agustus 2015;

Pemohon Kasasi dahulu Penggugat; L a w a n:

1. DEWAN PIMPINAN NASIONAL HIMPUNAN KERUKUNAN TANI INDONESIA (“DPN HKTI”) Pimpinan Letnan Jenderal (Purnawirawan) PRABOWO SUBIANTO, berkedudukan di

Gedung Arsip, Kantor Kementerian Pertanian Republik Indonesia Jalan Harsono R.M., Nomor 03, Kelurahan Ragunan, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, dalam hal ini memberi kuasa kepada Abdillah, S.H., Advokat dan Konsultan Hak Kekayaan Intelektual pada Kantor Hukum InterMark & C0, beralamat di Jatijajar Estate Blok A.09/03, Jatijajar, Tapos, Kota Depok, dan Jalan Raya Bogor KM.36, Depok, Jawa Barat, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 3 Maret 2015;

2. PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA cq DEPARTEMEN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA

cq DIREKTORAT JENDERAL HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL cq DIREKTORAT HAK MEREK,

berkedudukan di Jalan H.R. Rasuan Said Kav. 8-9, Gedung Ditjen HKI, Jakarta Selatan;

Para Termohon Kasasi dahulu Para Tergugat; Mahkamah Agung tersebut;

Membaca surat-surat yang bersangkutan;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(2)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 2 dari 16 hal. Put. Nomor 718 K/Pdt.Sus-HKI/2015

Menimbang, bahwa dari surat-surat tersebut ternyata bahwa sekarang Pemohon Kasasi dahulu sebagai Penggugat telah mengajukan gugatan terhadap Para Termohon Kasasi dahulu sebagai Para Tergugat di depan persidangan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, pada pokoknya sebagai berikut:

Penggugat dengan ini mengajukan Gugatan Pembatalan Pendaftaran Merek FIKTl, terhadap;

1. Dewan Pimpinan Nasional Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (“DPN HKTI”) pimpinan Letnan Jenderal (Purnawirawan) Prabowo Subianto, beralamat dan/atau berkedudukan di Gedung Arsip, Kantor Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Jalan Harsono R.M. Nomor 03, Kelurahan Ragunan, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan;

2. Pemerintah Republik Indonesia cq Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia cq Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual cq Direktorat Hak Merek, yang beralamat/berkedudukan di Jalan H.R. Rasuna Said Kav. 8-9, Gedung Ditjen HKI, Jakarta Selatan;

Adapun hal-hal yang menjadi dasar dari diajukan gugatan ini adalah sebagai berikut;

3. Bahwa Penggugat mengajukan gugatan Pembatalan Pendaftaran Merek Tergugat I berdasarkan Undang Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek, Pasal 4 juncto Pasal 63 juncto Pasal 68 ayat (1) dan (3) juncto Pasal 69 ayat (1);

4. Bahwa Pengadilan Niaga mempunyai wewenang untuk memeriksa, mengadili dan memutus perkara Pembatalan Pendaftaran Merek berdasarkan Undang Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek Pasal 63 juncto Pasal 64 juncto Pasal 70 juncto Pasal 80;

Pengurus Organisasi Dapat Bertindak Mewakili Organisasi Sebagai Subjek Hukum Untuk Melakukan Gugatan Pembatalan Merek A Quo;

5. Bahwa dalam Pasal 1 Undang Undang Nomor 8 Tahun 1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan (Undang Undang Ormas I) menyatakan Organisasi Kemasyarakatan adalah organisasi yang dibentuk oleh anggota masyarakat Warga Negara Indonesia secara sukarela atas dasar kesamaan kegiatan, profesi, fungsi, agama, dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, untuk berperan serta dalam pembangunan dalam rangka mencapai tujuan nasional dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila;

6. Bahwa Pasal 10 ayat (1) huruf a Undang Undang Nomor 17 Tahun 2013

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(3)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 3 dari 16 hal. Put. Nomor 718 K/Pdt.Sus-HKI/2015

tentang Organisasi Kemasyarakatan (Undang Undang Ormas II) Organisasi Kemasyarakatan dapat berbentuk badan hukum yang artinya termasuk dalam subjek hukum sehingga ormas dapat melakukan perbuatan hukum melakukan pendaftaran merek dan menjadi pemegang yang sah atas hak merek tersebut;

7. Bahwa badan hukum ormas diakui dan dikenal sebagai subjek hukum dan dapat melakukan perbuatan-perbuatan hukum, seperti disebutkan pada Pasal 1653 KUHPerdata yang berbunyi:

“Selain perseroan perdata sejati, perhimpunan orang-orang sebagai badan hukum juga diakui oleh undang-undang, entah badan hukum itu diadakan oleh kekuasaan umum atau diakuinya sebagai demikian, entah pula badan hukum itu diterima sebagai yang diperkenankan atau telah didirikan untuk suatu maksud tertentu yang tidak bertentangan dengan undang-undang kesusilaan”; Selanjutnya Pasal 1654 KUHPerdata berbunyi:

“Semua badan hukum yang sah, begitu pula orang-orang swasta, berkuasa untuk melakukan perbuatan-perbuatan perdata, tanpa mengurangi per undang-undangan yang mengubah kekuasaan itu, membatasinya, atau menundukannya pada tata cara tertentu”;

Sehingga Penggugat menurut hukum dapat melakukan perbuatan hukum gugatan Pembatalan Merek HKTI kepada Tergugat I;

Penggugat Adalah Wadah Satu-Satunya Bagi Kaum Petani Yang Mendapatkan Pengesahan Dari Pemerintah Melalui Kemenkumham RI

8. Bahwa Penggugat adalah sebagai wadah organisasi satu-satunya bagi petani yang bertujuan untuk mewujudkan cita-cita dan perjuangan kaum tani di Indonesia, yang didirikan sejak tanggal 27 April 1973 di Jakarta;

9. Bahwa Penggugat sebagai organisasi kemasyarakatan telah ditetapkan berdasarkan Undang Undang Nomor 8 Tahun 1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan juncto Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 5 Tahun 1986 pada Direktorat Jenderal Kesatuan Bangsa dan Politik Departemen Dalam Negeri;

10. Bahwa Penggugat pada tanggal 14 Juli 2010 telah menyelenggarakan Musyawarah Nasional VII “HKTI” di Bali yang mana salah satu hasil musyawarah nasional tersebut adalah memilih DR. Oesman Sapta sebagai Ketua Umum;

11. Bahwa setelah Musyawarah Nasional VII HKTI, Penggugat telah melakukan pelaporan atas perubahan kepengurusan DPN HKTI kepada Kementerian Dalam Negeri pada tanggal 23 Juli 2010 berdasarkan Surat Nomor;

104/SP-Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(4)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 4 dari 16 hal. Put. Nomor 718 K/Pdt.Sus-HKI/2015

HA/ll/2010 Perihal Permohonan Perubahan Susunan Kepengurusan (Bukti P - 01);

12. Bahwa berdasarkan Surat Nomor: 104/SP-HA/H/2010 perihal Permohonan Perubahan Susunan Kepengurusan (vide Bukti P - 01), telah dilaporkan Susunan Pengurus Dewan Pimpinan Nasional “HKTI” masa bakti 2010 -2015, berdasarkan;

a. Ketetapan Musyawarah Nasional VII HKTI Nomor TAP- V/MUNASA/II/ HKTI/2010 tentang Ketua Umum HKTI masa bakti 2010-2015 tertanggal 14 Juli 2010 (Bukti P-02);

b. Keputusan Musyawarah Nasional VII HKTI Nomor 06/MUNAS-VII/HKTI/ 2010 tentang Pemilihan Formatur MUNAS VII HKTI tertanggal 14 Juli 2010 (Bukti P-03); dan;

c. Keputusan Formatur MUNAS VII HKTI Nomor 01/FORMATUR/MUNAS HKTI VII/07/2010 tentang Komposisi dan Personalia DPN HKTI masa bakti 2010-2015 tanggal 14 Juli 2010 (Bukti P - 04);

13. Bahwa pelaporan perubahan susunan kepengurusan hasil musyawarah nasional oleh Penggugat telah dilakukan dengan memenuhi ketentuan waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) dan (3) Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1986 tentang pelaksanaan dari undang-undang Nomor 8 Tahun 1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan yaitu 2 bulan sejak perubahan susunan kepengurusan;

14. Bahwa dengan telah dilaporkannya perubahan susunan kepengurusan sebagaimana dimaksud di atas, maka satu-satunya pihak yang mempunyai kepentingan terhadap Organisasi Kemasyarakatan HKTI adalah pihak-pihak sebagaimana tercantum dalam Surat Nomor 104/SP-H/VII/2010, tertanggal 23 Juli 2010 perihal permohonan perubahan susunan kepengurusan yang sah, yaitu Penggugat (vide Bukti - 01);

15. Bahwa berdasarkan Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor AHU - 14 . AH.01.06. Tahun 2011, tertanggal 18 Januari 2011 telah memutuskan memberikan pengesahan Akta Pendirian Himpunan Kerukunan Tani Indonesia disingkat HKTI NPWP 02.491.222.2. 017.000 di bawah kepengurusan dengan Ketua Umum DR. Oesman Sapta (Penggugat) (Bukti P - 05);

16. Bahwa berdasarkan Putusan Kasasi Nomor 310 K/TUN/2012 yang diputus pada tanggal 23 Juli 2013 yang telah berkekuatan hukum tetap (Bukti P -06), Mahkamah Agung telah menolak permohonan Tergugat I yang meminta pembatalan terhadap Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(5)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 5 dari 16 hal. Put. Nomor 718 K/Pdt.Sus-HKI/2015

Manusia Republik Indonesia Nomor AHU-14.AH.01,06.Tahun 2011, tertanggal 18 Januari 2011 (vide Bukti P - 5);

17. Bahwa Tergugat I telah melakukan pendaftaran Hak Merek atas nama HKTI dengan Nomor Pendaftaran IDM000358786, tertanggal 23 Februari 2011 (Bukti P - 7) dan Nomor Permohonan D002011006917, tertanggal 18 Juni 2012 (Bukti P - 8 ) ;

18. Bahwa Tergugat I pada saat melakukan pendaftaran Hak Merek bukanlah Pemohon yang berhak berdasarkan Undang Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek karena berdasarkan Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor AHU - 14 . AH.01.06. Tahun 2011, tertanggal 18 Januari 2011, pengurus DPN HKTI yang sah adalah kepengurusan Ketua Umum DR. Oesman Sapta (Penggugat) karena yang disahkan adalah Akta Pendirian Himpunan Kerukunan Tani Indonesia disingkat HKTI NPWP 02.491.222.2.017.000 (vide Bukti P - 5);

19. Bahwa berdasarkan uraian pada angka 11 gugatan a quo. Tergugat I tidak mempunyai iktikad baik dalam melakukan pendaftaran Hak Merek "HKTI" kepada Tergugat II;

20. Bahwa Tergugat I dalam melakukan pendaftaran Hak Merek atas nama HKTI dengan Nomor Pendaftaran 1DM000358786, tertanggal 23 Februari 2011 (vide Bukti P - 7), dan Nomor Permohonan D002011006917, tertanggal 18 Juni 2012 (vide Bukti P - 8), tidak memiliki kapasitas hukum untuk melakukan tindakan hukum apapun untuk dan atas nama “HKTI”;

21. Bahwa pendaftaran merek a quo yang dilakukan oleh Tergugat I yang mengatasnamakan HKTI merupakan tindakan yang cacat hukum dan patut dibatalkan;

Penggugat Adalah Pihak Yang Berhak Melakukan Pendaftaran Merek, Baik Berupa Logo, Nama Dan Susunan Warna Dan Hal Lain Yang Berkenaan Dengan Hak Merek Atas Nama “HKTI”;

Perihal Wewenang Pendaftaran Merek:

22. Pasal 1 angka 1 Undang Undang Merek menyatakan bahwa:

“Merek adalah tanda yang berupa gambar, nama, kata, huruf-huruf, angka-angka, susunan warna, atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang atau jasa”;

Juncto Pasal 4 ayat (1) Undang Undang Merek yang menyatakan bahwa: “Merek tidak dapat didaftarkan atas dasar permohonan yang diajukan oleh Pemohon yang tidak beriktikad baik;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(6)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 6 dari 16 hal. Put. Nomor 718 K/Pdt.Sus-HKI/2015

23. Bahwa iktikad baik menurut M.L. Wry adalah:

“Perbuatan tanpa tipu daya, tanpa tipu muslihat, tanpa cilat-cilat, akal-akal, tanpa mengganggu pihak lain, tidak dengan melihat kepentingan sendiri saja, tetapi juga dengan melihat kepentingan orang lain;

24. Bahwa dalam Penjelasan Pasal 4 Undang Undang Merek berbunyi:

“Pemohon yang beriktikad baik adalah Pemohon yang mendaftarkan mereknya secara layak dan jujur tanpa ada niat apa pun untuk membonceng, meniru, atau menjiplak ketenaran merek pihak lain demi kepentingan usahanya yang berakibat kerugian pada pihak lain itu atau menimbulkan kondisi persaingan curang, mengecoh, atau menyesatkan konsumen”;

25. Bahwa Tergugat I pada saat melakukan pendaftaran merek HKTI dengan Nomor Pendaftaran 1DM000358786, tertanggal 23 Februari 2011 (vide Bukti P - 7) dan Nomor Permohonan D002011006917, tertanggal 18 Juni 2012 bukanlah pengurus yang sah dari Himpunan Kelompok Tani Indonesia sebagaimana keputusan Kementerian Hukum dan HAM (vide Bukti P - 5); 26. Bahwa Tergugat II berdasarkan permohonan pendaftaran merek dari

Tergugat I telah mengabulkan permohonan pendaftaran merek a quo dan dicatat dalam Buku Daftar Merek pada Tergugat II;

27. Bahwa Tergugat II dalam proses pemeriksaan permohonan merek a quo seharusnya terlebih dahulu menerima dan memastikan status dan keabsahan legalitas Pemohon (Tergugat I) yang bukan merupakan pengurus dari Dewan Pimpinan Nasional Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (DPN “HKTI”) yang sah;

28. Bahwa Tergugat II lalai dalam proses pemeriksaan permohonan pendaftaran merek a quo, sehingga berdasarkan hukum permohonan pendaftaran merek a quo patut dilakukan penghapusan pendaftaran merek dan hak yang timbul sebagai akibat dari pendaftaran harus dibatalkan;

29. Bahwa dengan demikian Tergugat I dalam melakukan pendaftaran merek atas nama “HKTI” tidaklah termasuk dalam kategori Pemohon yang beriktikad baik karena Tergugat I bukanlah Pemohon yang layak dan jujur; 30. Bahwa gugatan pembatalan merek yang diajukan oleh Penggugat belum

melewati masa daluarsa sebagaimana diatur dalam Pasal 69 ayat (1) Undang Undang Merek, yaitu 5 (lima) tahun sejak tanggal pendaftaran;

Bahwa, berdasarkan alasan-alasan tersebut di atas, Penggugat mohon kepada Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat agar memberikan putusan sebagai berikut:

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(7)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 7 dari 16 hal. Put. Nomor 718 K/Pdt.Sus-HKI/2015

Primair:

1. Menerima dan mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya;

2. Menyatakan secara hukum bahwa Tergugat I adalah Pemohon yang beriktikad tidak baik;

3. Membatalkan pendaftaran merek “HKTI” Nomor Pendaftaran IDM0000358786, tertanggal 18 Juni 2012 dengan Nomor D002011006917, tertanggal 23 Februari 2011, dari Daftar Umum Merek dan mengumumkannya dalam Berita Resmi Merek;

4. Memerintahkan Tergugat II untuk mencoret dari pendaftaran merek, pendaftaran merek HKTI dengan nomor pendaftaran IDM000358786, tertanggal 23 Februari 2011, dan Nomor Permohonan D002011006971, tertanggal 18 Juni 2012, yang dimohonkan pada Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual, Direktorat Merek, Kemenkumham RI Jakarta;

5. Menghukum Tergugat I dan Tergugat II untuk membayar semua biaya perkara yang timbul dalam perkara ini;

Subsidair:

Apabila Majelis Hakim yang memeriksa perkara a quo berpendapat lain, mohon putusan yang seadil-adilnya menurut hukum dan kebenaran (Ex aequo et bono); Bahwa, terhadap gugatan tersebut di atas, Tergugat I mengajukan eksepsi yang pada pokoknya sebagai berikut:

Bahwa Tergugat I menolak dengan tegas seluruh dalil gugatan Penggugat kecuali terhadap hal-hal yang secara tegas diakui kebenarannya; A. Penggugat Tidak Memenuhi Syarat Untuk Mengajukan Gugatan a quo

Sehingga Tidak Mempunyai Legal Standing Dan/Atau Kapasitas Untuk Mengajukan Gugatan;

1. Bahwa gugatan yang diajukan Penggugat tidak memenuhi syarat sebagaimana ditentukan dalam Pasal 68 ayat (2) Undang Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek (untuk selanjutnya disebut Undang Undang Merek) yang menyatakan;

“Pemilik merek yang tidak terdaftar dapat mengajukan gugatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) setelah mengajukan permohonan kepada Direktorat Jenderal”;

2. Bahwa berdasarkan ketentuan undang-undang merek tersebut berarti “untuk mengajukan suatu gugatan pembatalan merek terdaftar maka Penggugat wajib untuk terlebih dahulu mengajukan permohonan pendaftaran merek kepada Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (Ditjen HKI), karena hal tersebut adalah merupakan suatu syarat mutlak

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(8)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 8 dari 16 hal. Put. Nomor 718 K/Pdt.Sus-HKI/2015

bagi pihak yang akan mengajukan gugatan pembatalan apabila mereknya sendiri belum terdaftar di Indonesia”;

3. Bahwa oleh karena Penggugat tidak memiliki permohonan pendaftaran merek a quo di Indonesia, maka sesuai ketentuan sebagaimana diatur dalam undang-undang merek, seharusnya sebelum mengajukan gugatan a quo Penggugat harus terlebih dahulu mengajukan permohonan pendaftaran merek yang dianggapnya sama dengan merek yang akan digugat pembatalannya kepada Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (Ditjen HKI) Departemen Kehakiman & HAM Republik Indonesia;

4. Bahwa faktanya dalam gugatannya, ternyata Penggugat tidak mengajukan permohonan pendaftaran a quo;

5. Bahwa dengan demikian berarti dasar hukum untuk mengajukan gugatan sebagaimana diatur dalam undang-undang merek tidak Penggugat penuhi dengan kata lain Penggugat tidak memenuhi syarat untuk mengajukan gugatan;

6. Bahwa oleh karena tidak terpenuhinya persyaratan untuk mengajukan gugatan sebagaimana ketentuan Pasal 68 ayat (2) Undang Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek, maka sudah sepatutnya gugatan Penggugat dinyatakan tidak dapat diterima;

B. Bahwa berdasarkan uraian eksepsi tersebut di atas, Tergugat I mohon agar eksepsi tersebut dikabulkan dan selanjutnya menyatakan gugatan Penggugat tidak dapat diterima;

Bahwa, terhadap gugatan tersebut Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat telah memberi putusan Nomor 07/Pdt.Sus-MEREK/2015/ PN.NIAGA.JKT.PST., tanggal 18 Agustus 2015 yang amarnya sebagai berikut: DALAM EKSEPSI:

- Menyatakan eksepsi Tergugat I ditolak; DALAM POKOK PERKARA:

1. Menolak gugatan Penggugat seluruhnya;

2. Menghukum Penggugat membayar biaya perkara ini sejumlah Rp1.331.000,00 (satu juta tiga ratus tiga puluh satu ribu rupiah);

Menimbang, bahwa sesudah Putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tersebut diucapkan dengan hadirnya kuasa Penggugat pada tanggal 18 Agustus 2015, terhadap putusan tersebut Penggugat melalui kuasanya berdasarkan surat kuasa khusus tanggal 19 Agustus 2015 mengajukan permohonan kasasi pada tanggal 4 September 2015

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(9)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 9 dari 16 hal. Put. Nomor 718 K/Pdt.Sus-HKI/2015

sebagaimana ternyata dari Akta Permohonan Kasasi Nomor 21 K/Pdt.Sus-HaKI/ 2015/PN.Niaga.Jkt.Pst., juncto Nomor 07/Pdt.Sus-Merek/2015/PN.Niaga. Jkt.Pst., yang dibuat oleh Panitera Pengadilan Negeri/Niaga Jakarta Pusat, permohonan tersebut diikuti dengan memori kasasi yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Negeri/Niaga Jakarta Pusat tersebut pada tanggal 11 September 2015;

Bahwa memori kasasi telah disampaikan kepada Para Termohon pada tanggal 21 September 2015 kemudian Termohon Kasasi I mengajukan kontra memori kasasi yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Negeri/Niaga Jakarta Pusat pada tanggal 29 September 2015;

Menimbang, bahwa permohonan kasasi a quo beserta keberatan-keberatannya telah diberitahukan kepada pihak lawan dengan saksama, diajukan dalam tenggang waktu dan dengan cara yang ditentukan dalam undang-undang, sehingga permohonan kasasi tersebut secara formal dapat diterima;

Menimbang, bahwa keberatan-keberatan kasasi yang diajukan oleh Pemohon Kasasi dalam memori kasasinya adalah:

A. Bahwa Pemohon Kasasi/Penggugat tetap pada seluruh dalil-dalil serta argumen-argumen sebagaimana telah dikemukakan dan diajukan dalam gugatan, replik, bukti-bukti tertulis, serta kesimpulan dalam pemeriksaan dan persidangan tingkat pertama di Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, oleh karenanya secara keseluruhan merupakan satu kesatuan yang utuh;

B. Bahwa keberatan-keberatan yang menjadi dasar dan alasan Pemohon Kasasi/Penggugat mengajukan memori kasasi ini adalah keberatan mengenai pertimbangan-pertimbangan hukum maupun amar putusan Judex Facti dalam perkara a quo dengan alasan-alasan sebagai berikut:

1. Judex Facti telah salah dalam menerapkan hukum terutama hukum pembuktian yaitu tidak memeriksa secara keseluruhan keterangan saksi Pemohon Kasasi/Penggugat;

a. Bahwa alasan pengajuan memori kasasi ini berdasarkan Pasal 30 ayat (1) huruf b Undang Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung yang sudah dirubah dengan Undang Undang Nomor 5 Tahun 2004 yang berbunyi:

“Salah menerapkan atau melanggar hukum yang berlaku”; Oleh karena alasan kasasi yang diajukan oleh Pemohon Kasasi/ Penggugat merupakan alasan yang dibenarkan menurut

undang-Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(10)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 10 dari 16 hal. Put. Nomor 718 K/Pdt.Sus-HKI/2015

undang, maka sudah sepatutnya Ketua Mahkamah Agung menerima alasan permohonan kasasi ini;

b. Bahwa Pemohon Kasasi/Penggugat sangat keberatan atas pertimbangan hukum Judex Facti pada halaman 43 alinea 5 dan seluruhnya yang hanya memeriksa bukti-bukti dokumen yang diajukan oleh Termohon Kasasi I/Tergugat I tanpa memeriksa bukti-bukti saksi yang diajukan oleh Pemohon Kasasi/Penggugat;

c. Bahwa pertimbangan hukum Judex Facti pada halaman 43 alinea 5 adalah berbunyi sebagai berikut:

“Menimbang, bahwa selanjutnya menurut Tergugat I Logo HKTI merupakan hasil sayembara, yang selama ini diumumkan dan digunakan oleh Tergugat I sebagai penyelenggara tersebut, maka Tergugat I – lah yang dianggap sebagai Pencipta atas Logo HKTI tersebut menurut UU Hak Cipta. Bukti bahwa Tergugat I adalah sebagai pencipta dalam Logo HKTI dan penggunaan kata HKTI dalam setiap produk organisasinya, dapat dibuktikan dengan adanya perkara pembatalan Logo Hak Cipta yang pernah sebelumnya diajukan dengan iktikad tidak baik oleh Penggugat (DPN HKTI yang dipimpin Sdr. Oesman Sapta) yang terdaftar di Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dengan perkara Nomor 25/HAK CIPTA/2011/PN.NIAGA.JKT.PST)”;

d. Bahwa bukti saksi berupa keterangan Drs. H. Rusfian, M.M selaku pengurus HKTI masa bakti 1999-2004 yang diajukan oleh Pemohon Kasasi/Penggugat menerangkan dalam persidangan Judex Facti tanggal 14 Juli 2015 yaitu memang ada hasil sayembara mengenai pembuatan logo baru HKTI pada masa kepemimpinan Bapak Siswono Yudohusodo tahun 1999-2004, namun berdasarkan rapat pleno pengurus HKTI masa bakti 1999-2004 saat itu memutuskan untuk tidak menggunakan logo hasil sayembara;

e. Bahwa keterangan saksi Drs. Rusfian yang ditunjang oleh keterangan saksi Bapak Heru Soeparto menyatakan atas inisiatif dari Bapak Holman Purba, diajukanlah usulan gambar logo baru yang dibuat sendiri oleh Bapak Holman Purba;

f. Bahwa keterangan yang diberikan oleh bukti saksi yang telah diperiksa oleh Judex Facti dalam persidangan tanggal 14 Juli 2015 adalah berdasarkan sumber pengetahuan yang jelas, dan sumber

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(11)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 11 dari 16 hal. Put. Nomor 718 K/Pdt.Sus-HKI/2015

pengetahuan yang dibenarkan hukum. Dalam arti kata, kesaksian yang diberikan oleh saksi Drs. H. Rusfian, M.M dan Bapak Heru Soeparto adalah bersifat menentukan oleh karena didasarkan pada penglihatan, atau pendengaran yang bersifat langsung dari peristiwa atau kejadian yang berhubungan dengan pokok perkara sehingga sudah sepatutnya diperiksa dan dipertimbangkan seluruhnya oleh Judex Facti;

g. Bahwa berdasarkan hal-hal yang telah Pemohon Kasasi/Penggugat ungkapkan tersebut di atas maka terbukti Termohon Kasasi I/ Tergugat I bukanlah pencipta atas seni logo HKTI serta tidak berhak menggunakan kata HKTI dalam setiap produk organisasinya tanpa sepengetahuan dan seijin Bapak Holman Purba sebagai pencipta seni logo HKTI;

h. Bahwa Pemohon Kasasi/Penggugat sangat keberatan atas pertimbangan hukum Judex Facti pada halaman 45 alinea 5 dan halaman 46 alinea 1 seluruhnya yang hanya memeriksa bukti-bukti dokumen yang diajukan oleh Termohon Kasasi I/Tergugat I dan Termohon Kasasi II/Tergugat II tanpa memeriksa bukti dokumen dan bukti saksi yang diajukan oleh Pemohon Kasasi/Penggugat;

i. Bahwa pertimbangan hukum Judex Facti pada halaman 45 alinea 5 adalah berbunyi sebagai berikut:

“Menimbang, bahwa sebagaimana telah dipertimbangkan di atas, Tergugat I telah terlebih dahulu mendaftarkan Merek HKTI + Logo kepada Tergugat II daripada pendaftaran yang dilakukan oleh Penggugat, yaitu pada tanggal 23 Februari 2011, Nomor Agenda: D002011006917, sebagaimana bukti T.1.-1. Pada tanggal pendaftaran tersebut tidak ada seorangpun saksi yang menerangkan bahwa Tergugat I telah melakukan iktikad tidak baik dalam melakukan pendaftaran Merek HKTI, karena pada dasarnya para saksi, baik yang diajukan Penggugat maupun Tergugat I, hanya menerangkan persoalan adanya dualisme kepemimpinan HKTI, sehingga dengan demikian menurut Majelis Hakim tidak terbukti Tergugat I mempunyai niat untuk kepentingan usaha sekaligus merugikan pihak lain, karena Penggugat sebagai pihak lain pada tanggal tersebut belum mendaftarkan merek HKTInya kepada Tergugat II. Selanjutnya Majelis Hakim berpendapat adalah tidak terbukti Tergugat I telah

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(12)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 12 dari 16 hal. Put. Nomor 718 K/Pdt.Sus-HKI/2015

melakukan cara penyesatan konsumen, atau perbuatan persidangan atau menjiplak dan menumpang ketenaran merek yang lain karena pada saat itu tidak ada merek HKTI yang lain selain yang didaftarkan oleh Tergugat I kepada Tergugat II; j. Bahwa Pemohon Kasasi/Penggugat keberatan dengan pertimbangan

Judex Facti tersebut dikarenakan Majelis Judex Facti tidak melakukan pemeriksaan keterangan saksi secara menyeluruh;

k. Bahwa selain menerangkan adanya dualisme kepemimpinan HKTI, alat bukti saksi yang diajukan oleh Pemohon Kasasi/Penggugat dalam persidangan Judex Facti tanggal 14 Juli 2015 dengan acara pemeriksaan saksi juga memberikan keterangan mengenai pencipta Seni Logo HKTI adalah Bapak Holman Purba pada periode kepengurusan HKTI 1999-2004 yang dipimpin oleh Bapak Siswono Yudohusodo;

Jadi jelaslah pertimbangan Judex Facti yang dilakukan tanpa mempertimbangkan secara keseluruhan keterangan saksi yang diajukan oleh Pemohon Kasasi/Penggugat adalah salah penerapan karena menurut hukum pembuktian fakta tersebut seharusnya ikut diperiksa dan dipertimbangkan.

2. Judex Facti salah mempertimbangkan hukum pembuktian dengan mengesampingkan syarat formal pendaftaran merek memberikan pertimbangan yang tidak seksama (onvoldoende gemotiveerd) karena telah mengabaikan sesuatu fakta tanpa memberikan pertimbangan yang memadai mengapa fakta tersebut harus diabaikan;

l. Bahwa Judex Facti hanya memberikan pertimbangan apakah Termohon Kasasi I/Tergugat I dalam mengajukan permohonan Merek didasarkan oleh iktikad tidak baik, namun mengesampingkan syarat formal permohonan pendaftaran Merek sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek;

m. Bahwa syarat formal sebagaimana diatur dalam Pasal 7 ayat (2) poin 3 Undang Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek yang berbunyi:

“Pemohon sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat terdiri dari satu (1) orang atau beberapa orang secara bersama, atau badan hukum.”;

n. Bahwa pertimbangan Judex Facti pada halaman 46 alinea 1, sebagai berikut:

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(13)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 13 dari 16 hal. Put. Nomor 718 K/Pdt.Sus-HKI/2015

“Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut di atas, Majelis Hakim berpendapat Tergugat adalah pendaftar pertama (first to file) dan yang pertama terdaftar (first to registers) atas merek HKTI + Logo dan tidak terbukti Tergugat I beriktikad tidak baik dalam mendaftarkan merek HKTI + Logo, oleh karena itu maka dalil gugatan pembatalan merek yang diajukan oleh Penggugat berdasarkan Pasal 4 juncto Pasal 68 ayat (1) dan (3) juncto Pasal 69 ayat (1) Undang Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek haruslah dinyatakan ditolak”; o. Bahwa sebagaimana didalilkan oleh Pemohon Kasasi/Penggugat

dalam replik terhadap jawaban halaman 10 poin 7 Termohon Kasasi II/Tergugat II yang pada pokoknya menyatakan bahwa Termohon Kasasi I/Tergugat I dalam melakukan permohonan pendaftaran Merek tidak mempunyai kapasitas sebagai Pemohon Pendaftaran Merek karena Termohon Kasasi I/Tergugat I bukan merupakan badan hukum yang sah;

p. Bahwa Termohon Kasasi II/Tergugat II tetap menerima permohonan pendaftaran merek Termohon Kasasi I/Tergugat I hanya merujuk pada kelengkapan pemeriksaan substantif berdasarkan ketentuan Pasal 4, Pasal 5, dan Pasal 6 Undang Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek dan mengesampingkan syarat formal permohonan pendaftaran Merek sebagaimana diatur dalam Pasal 7 ayat (2) poin 3 Undang-undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek;

q. Jadi jelaslah pertimbangan Judex Facti yang dilakukan tanpa memeriksa keterangan saksi yang diajukan oleh Pemohon Kasasi/ Penggugat adalah salah karena fakta tersebut seharusnya ikut diperiksa dan tidak diabaikan;

r. Bahwa putusan Judex Facti tidak seksama mempertimbangkan semua hal yang relevan dengan perkara a quo sehingga mengakibatkan putusan tersebut tidak sesuai dan tidak memuaskan; s. Bahwa Judex Facti tidak secara saksama menilai pertimbangan

semua fakta yang ditemukan dalam persidangan, antara lain:

(1) Penciptaan Seni Logo HKTI tersebut dilakukan oleh Bapak Holman Purba atas dasar inisiatifnya sendiri dan bukan berdasarkan sayembara yang dibuat oleh kepengurusan DPP-HKTI periode 1999-2004;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(14)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 14 dari 16 hal. Put. Nomor 718 K/Pdt.Sus-HKI/2015

(2) Pendaftaran seni logo HKTI oleh Termohon Kasasi I/Tergugat I adalah cacat administratif oleh karena Termohon Kasasi I/Tergugat I tidak mampu membuktikan dirinya sebagai badan hukum yang sah sehingga tidak memenuhi kualifikasi untuk mendaftarkan Hak Cipta Seni Logo HKTI;

(3) Termohon Kasasi II/Tergugat II melakukan pencatatan Merek untuk dalam Daftar Umum Merek atas nama Termohon Kasasi I/Tergugat I melanggar Pasal 7 Undang Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek;

Bahwa berdasarkan fakta-fakta di atas, jelas Judex Facti telah mengabaikan fakta hukum tanpa memberikan pertimbangan yang memadai (onvoldoende gemotiveerd) sehingga cukup alasan bagi Judex Juris untuk membatalkan putusan Judex Facti;

Menimbang, bahwa terhadap keberatan-keberatan tersebut, Mahkamah Agung berpendapat:

Bahwa keberatan tersebut tidak dapat dibenarkan, oleh karena setelah meneliti secara saksama memori kasasi tanggal 10 September 2015 dan kontra memori kasasi tanggal 28 September 2015 dihubungkan dengan pertimbangan Judex Facti, dalam hal ini Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tidak salah menerapkan hukum dengan pertimbangan sebagai berikut: - Bahwa terbukti pihak Termohon Kasasi I/Tergugat I telah mendaftarkan

merek terkait lebih dahulu sesuai prosedur dalam Undang Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek dan tidak terbukti adanya iktikad tidak baik dari Tergugat I terkait pendaftaran merek dimaksud;

- Bahwa lagi pula alasan-alasan kasasi lainnya mengenai penilaian hasil pembuktian yang bersifat penghargaan tentang suatu kenyataan, hal mana tidak dapat dipertimbangkan dalam pemeriksaan pada tingkat kasasi karena pemeriksaan dalam tingkat kasasi hanya berkenaan dengan adanya kesalahan penerapan hukum, adanya pelanggaran hukum yang berlaku, adanya kelalaian dalam memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan yang mengancam kelalaian itu dengan batalnya putusan yang bersangkutan atau bila pengadilan tidak berwenang atau melampaui batas wewenangnya sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 30 Undang Undang Nomor 14 Tahun 1985 sebagaimana yang telah diubah dengan Undang Undang Nomor 5 Tahun 2004 dan perubahan kedua dengan Undang Undang Nomor 3 Tahun 2009;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(15)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 15 dari 16 hal. Put. Nomor 718 K/Pdt.Sus-HKI/2015

Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut di atas, ternyata bahwa Putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dalam perkara ini tidak bertentangan dengan hukum dan/atau undang-undang, sehingga permohonan kasasi yang diajukan oleh Pemohon Kasasi DEWAN PIMPINAN NASIONAL HIMPUNAN KERUKUNAN TANI INDONESIA (“DPN HKTI”), Pimpinan DR. OESMAN SAPTA tersebut harus ditolak;

Menimbang, bahwa oleh karena permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi ditolak, Pemohon Kasasi harus dihukum untuk membayar biaya perkara dalam tingkat kasasi ini;

Memperhatikan, Undang Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek, Undang Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, Undang Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimana yang telah diubah dengan Undang Undang Nomor 5 Tahun 2004 dan perubahan kedua dengan Undang Undang Nomor 3 Tahun 2009, serta peraturan perundang-undangan lain yang bersangkutan;

M E N G A D I L I

1. Menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi: DEWAN PIMPINAN

NASIONAL HIMPUNAN KERUKUNAN TANI INDONESIA (“DPN HKTI”) Pimpinan DR. OESMAN SAPTA, tersebut;

2. Menghukum Pemohon Kasasi untuk membayar biaya perkara dalam tingkat kasasi sebesar Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah);

Demikianlah diputuskan dalam rapat musyawarah Majelis Hakim pada hari Rabu tanggal 27 Januari 2016 oleh Prof. Dr. Takdir Rahmadi, S.H., LL.M., Hakim Agung yang ditetapkan oleh Ketua Mahkamah Agung sebagai Ketua Majelis, H. Mahdi Soroinda Nasution, S.H., M.Hum., dan I Gusti Agung Sumanatha, S.H., M.H., Hakim-Hakim Agung, masing-masing sebagai Hakim Anggota, putusan tersebut diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum pada hari itu juga oleh Ketua dengan dihadiri oleh Para Hakim Anggota tersebut dan dibantu oleh Rita Elsy, S.H., M.H., Panitera Pengganti tanpa dihadiri oleh para pihak.

Hakim-Hakim Anggota: Ketua Majelis,

ttd./ ttd./

H.Mahdi Soroinda Nasution, S.H., M.Hum. Prof.Dr.Takdir Rahmadi, S.H., LL.M

ttd./

I Gusti Agung Sumanatha, S.H., M.H.

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(16)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 16 dari 16 hal. Put. Nomor 718 K/Pdt.Sus-HKI/2015

Panitera Pengganti, ttd./ Rita Elsy, S.H., M.H. Biaya-biaya: 1. Meterai : Rp 6.000,00 2. Redaksi : Rp 5.000,00 3. Administrasi Kasasi : Rp4.989.000,00 + Jumlah : Rp5.000.000,00 UNTUK SALINAN MAHKAMAH AGUNG RI.

a.n. Panitera

Panitera Muda Perdata Khusus,

RAHMI MULYATI, SH., MH.

NIP. 19591207 198512 2 002

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

Referensi

Dokumen terkait

Menimbang, bahwa setibanya Saksi SAKSI I bersama Saksi SAKSI II, dan Saksi SAKSI V di daerah Bukit Xxxxx, tiba-tiba Terdakwa dengan berlari mendatangi Saksi SAKSI I

Bahwa Tergugat I, II dan III sampai saat ini melakukan pembangunan ruko dan aspol meskipun telah ada IMB ataupun Surat perintah Kerja (SPK), maka dengan ini

Bahwa berdasarkan uraian tersebut di atas, dengan masih adanya pemakaian merek Warung Soto Riendang yang dilakukan oleh Para Tergugat yang memiliki persamaan pada

- Bahwa benar para saksi menerangkan Terdakwa sebagai salah satu Karyawan Perusahaan DIMA GRUP yang menolak tawaran Paket Kompensasi dari Management

Menimbang, bahwa berdasarkan keterangan Para Terdakwa dan Saksi Jamaluddin Bin Maning yang menerangkan bahwa pada saat Para Terdakwa mengangkut pipa-pipa yang berada di

Bahwa Saksi-1 yang tidak terima dengan apa yang dilakukan Saksi-3 terhadap Saksi-2 tersebut kemudian mengajak Saksi-2 ke Madenpom VII/2 Palu pada Kamis tanggal

Majelis Hakim yang memeriksa perkara ini berkenan untuk membatalkan semua perbuatan hukum yang dilakukan oleh Tergugat I kepada Tergugat II sampai dengan Tergugat

Bahwa dalam surat gugatan Penggugat tertangal 20 Desember 2016, Penggugat mendalilkan akibat ulah Tergugat yang meniru merek “K.BROTHERS” milik Penggugat sehingga