• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA - Analisis Dampak Pemecahan Saham (Stock Split) Terhadap Volume Perdagangan Saham dan Abnormal Return Saham

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA - Analisis Dampak Pemecahan Saham (Stock Split) Terhadap Volume Perdagangan Saham dan Abnormal Return Saham"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Dalam bab ini akan dijabarkan beberapa teori yang menjadi landasan analisis penulis mengenai hubungan variabel- variabel dalam penelitian, yaitu : Stock split (pemecahan saham), volume perdagangan saham dan abnormal return saham. Penelitian terdahulu yang merupakan acuan dari penelitian ini juga akan disampaikan dalam bab ini dan selanjutnya akan diakhiri dengan kerangka pemikiran yang menganalisis hubungan ketiga variabel diatas, sehingga nantinya dapat diambil kesimpulan penelitian yang benar mengenai hubungan dan pengaruh antara ketiga variabel tersebut.

2.1. Pemecahan Saham

(2)
(3)

tidak bagus melakukan pemecahan saham, perusahaan tersebut tidak akan mampu menanggung biaya yang ditimbulkan , sehingga keputusan melakukan stock split tidak akan meningkatkan harga sekuritasnya malah akan menurunkannya jika pasar cukup canggih untuk mengetahuinya.

2.1.1. Teori Pemecahan Saham

Ada dua teori yang mendasari perusahaan untuk melakukan pemecahan saham :

Signaling Theory

Menurut teori ini stock split memberikan sinyal yang positif kepada pasar karena manejemen menginformasikan bahwa perusahaan memiliki kinerja dan prospek yang baik di masa yang akan datang. Alasan ini didukung bahwa perusahaan yang mampu melakukan stock split adalah perusahaan dengan predikat bagus. Ketika melakukan stock split perusahaan akan menanggung biaya, contohnya biaya percetakan, izin dan sebagainya (Copeland : 1979 ). Sehingga perusaaan yang melakukan stock split adalah perusahaan yang mampu menanggung resiko dan biaya dari keputusan tersebut . Supaya suatu sinyal dianggap benar dan dapat dipercaya maka tidak semua perusahaan mampu melakukan stock split, dan hanya perusahaan yang memberikan sinyal sesuai dengan yang dikondisikan akan menerima reaksi yang positif dari pasar.

Trading Range Theory

(4)

aliran kas masa depan perusahaan. Dengan melakukan stock split perusahaan memecah saham lama menjadi beberapa lembar saham baru dengan harga yang lebih murah, sehingga perdagangan saham berada pada rentang optimal. Harga saham yang murah dari perusahan yang memiliki predikat baik tentu menarik bagi investor maupun calon investor . Para investor dapat turut andil dalam perdagangan saham yang bisa mencakup investor dengan modal kecil, dan akhirnya perdagangan saham akan meningkat dan menambah volume perdagangan ( I Gusti Mila W: 2010 ).

2.1.2. Jenis Pemecahan Saham

Pemecahan saham adalah membagi satu lembar saham lama menjadi beberapa lembar saham baru. Terdapat dua jenis pemecahan saham yakni : pemecahan saham naik ( stock split up ) dan pemecahan saham turun ( reverse stock split ).

Stock Split Up

(5)

Reverse Stock split

Reverse stock split merupakan kebalikan dari stock split up, pemecahan saham turun akan menyebabkan nilai saham akan naik, sehingga jumlah lembar saham yang akan diperdagangkan semakin sedikit. Contoh reverse stock split dengan perbandingan 2:1, maka harga saham yang semula 1000 menjadi 2000, reverse stock split menggabungkan dua lembar saham menjadi satu lembar saham dengan nilai nominal dua kali lipat dari saham yang lama.

2.2. Event Study

(6)

2.3. Likuiditas Saham

Likuiditas saham merupakan salah satu indikator dalam melihat reaksi pasar terhadap suatu pengumuman di pasar modal. Semakin tinggi frekuensi perdagangan atas saham tersebut maka semakin tinggi pula likuiditas saham tersebut. Semakin cepat suatu saham dapat ditukarkan menjadi uang maka semakin likuid saham tersebut. Untuk sekuritas pengertian likuiditas dapat dilihat dari perbedaan antara harga jual dan harga beli, semakin besar selisih harga tersebut maka semakin tidak likuid sekuritas tersebut. Bagi investor, portofolio yang likuid adalah portofolio yang lebih banyak peminatnya ( Suad Husnan 1994 : 199). Volume perdagangan saham dapat menunjukkan bagaimana likuditas saham, dengan membandingkan jumlah saham yang diperdagangkan pada waktu tertentu dengan jumlah saham yang beredar waktu tertentu. TVA ( Trading Volume Activity ) dapat dijadikan acuan untuk melihat reaksi pasar terhadap volume perdagangan saham.

2.4. Return Saham dan Abnormal Return Saham

(7)

dilihat melalui abnormal return. Keuntungan yang didapat melalui pemecahan saham dapat dilihat pada tanggal pemecahan saham, yang diakibatkan perilaku abnormal yang dilakukan pasar. Efisiensi pasar diuji melalui abnormal return, pasar dikatakan tidak efisien apabila terdapat pelaku pasar yang menikmati keuntungan yang tidak normal dalam jangka waktu yang cukup lama. Abnormal return adalah selisih antara return sebenarnya dengan return normal. Return normal merupakan return ekspektasi, dengan demikian return tidak normal adalah selisih antara return sesungguhnya yang terjadi dengan return ekspektasi sebagai berikut :

ARi,t = Ri,t – E[Ri,t]

Dimana :

ARi,t = return tidak normal (abnormal return ) sekuritas ke-i pada periode

peristiwa ke-t.

Ri,t = return sesungguhnya yang terjadi untuk sekuritas ke-i pada periode peristiwa ke-t.

E[Ri,t] = return ekspektasi sekuritas ke-i untuk periode peristiwa ke-t. Return sesungguhnya merupakan return yang terjadi pada waktu ke-t yang merupakan selisih harga sekarang relatif terhadap harga sebelumnya yang dapat dirumuskan sebagai berikut :

Rit = Pit - Pit-1 Pit -1

(8)

Rit = Return harga saham i pada hari ke-t

Pit = Harga saham i pada hari ke-t

Pit-1 = Harga saham i pada hari t-1

Sedangkan return ekspektasi merupakan return yang harus diestimasi. Brown dan Warner (1985) mengestimasi return ekspektasi menggunakan model estimasi mean adjusted model, market model dan market adjusted model.

Mean-adjusted Model

Model disesuaikan dengan rata-rata menganggap bahwa return ekspektasi bernilai konstan yang sama dengan rata-rata return realisasi sebelumnya selama periode estimasi (estimation period ), sebagai berikut :

t2

∑ Rij E[Ri,t] = j = t1

T

Dimana :

E[Ri,t] = return ekspektasi sekuritas ke-i pada peiode peristiwa ke-t

Rij = return realisasi sekuritas ke-i pada periode estimasi ke-j

T = lamanya periode estimasi, yaitu dari t1 sampai t2

(9)

Market Model

Perhitungan return ekspektasi dengan model pasar (market model) dilakukan dengan dua tahap, pertama membentuk model ekspektasi dengan menggunakan data realisasi selama periode estimasi dan kedua, menggunakan model ekspektasi di periode jendela. Model ekspektasi ini dibentuk dengan menggunakan teknik regresi OLS ( Ordinary Least Square) dengan persamaan :

Ri,j =

α

i +

β

i. RMj +

ε

i,j

Dimana :

Ri,j = return realisasi sekuritas ke-i pada periode estimasi ke-j

αi = intercept untuk sekuritas ke-i

βi = koefisien slope yang merupakan Beta dari sekuritas ke-i

RMj = return indeks pasar pada periode estimasi ke-j

εij = kesalahan residu sekuritas ke-I pada periode estimasi ke-j

return ekspektasi juga dapat dihitung dengan rumus :

RMj = (IHSGj - IHSGj-1) IHSGj-1

Dimana :

RMj = return indeks pasar pada periode estimasi ke-j

IHSGj = indeks harga saham gabungan pada hari ke-j

(10)

Market-Adjusted Model

Model ini menganggap untuk mengestimasi return suatu sekuritas terbaik adalah return indeks pasar pada saat tersebut. Model ini tidak perlu menggunakan periode estimasi untuk membentuk model estimasi, karena return yang diestimasi sama dengan besar return indeks pasar.

E ( Rit )= Rmt

Dimana :

E (R it) = return ekspektasi sekuritas ke-i pada periode peristiwa ke-t

R mt = return sekuritas pada waktu ke-t

2.5. Penelitian Terdahulu

Berikut ini adalah beberapa penelitian-penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian yang akan dilakukan oleh penulis dan merupakan acuan atau pembanding dengan penelitian yang akan dilakukan :

Tabel 2.1

Penelitian Terdahulu

N0. Nama Peneliti Judul Penelitian Hasil Penelitian 1. Melinda Savitri

dan Dwi Martani (2008)

The Analysis Impact Of Stock Split And Reverse Stock Split On Stock Return And Volume The Case Of Jakarta Stock Exchange.

Dalam penelitian pada saat terjadi stock split dan reverse stock split terdapat peningkatan abnormal return pada waktu tertentu. Hasil menunjukkan bahwa pemecahan saham ke bawah memiliki efek lebih

untuk return saham

(11)

pengaruh pemecahan saham terhadap abnormal return dan volume perdagangan. Dan Trading Volume Activity (TVA)

Terdapat perbedaan abnormal return selang waktu 10 hari sebelum pemecahan saham dan 10 hari sesudah stock split. Dan juga terdapat perbedaan aktivitas volume perdagangan saham sebelum stock split dan aktivitas volume perdagangan saham sesudah stock split. Sedangkan untuk return saham, pengumuman stock split berpengaruh signifikan terhadap return saham hanya pada periode-periode tertentu. Return Saham Pada Perusahaan Yang Terdaftar Di BEI Tahun 2007 – 2009

(12)

Tidak adanya perbedaan signifikan untuk abnormal return berarti tidak ada perubahan pada return saham baik secara individual maupun sebuah portofolio.

Dalam penelitian ini ditemukan bahwa perubahan harga dan volume berhubungan signifikan. Hal ini didukung oleh perubahan kemiringan volume dan harga saham untuk tingkat pengembalian negatif kurang curam dibandingkan kemiringan untuk volume dan harga saham untuk tingkat pengembalian saham, rata-rata, bereaksi positif dengan dividen saham dan pengumuman pemecahan saham yang tidak terganggu oleh pengumuman perusahaan yang sejenis. Selain itu ditemukan bahwa terdapat hubungan signifikan yang positif kelebihan penerimaan pada saat dan sekitar tanggal pengumuman dividen saham dan pemecahan saham. Diantara kedua pengumuman dan tanggal setelah pengumuman ditemukan penerimaan untuk dividen saham lebih besar daripada pemecahan saham.

(13)

saham. Ada peningkatan signifikan secara statistik dalam bid-ask spread sebagai persen dari harga penawaran dan kenaikan berlanjut, hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan perantara meningkat setelah perpecahan. Hal ini sesuai dengan proporsional volume yang lebih rendah dan pendapatan broker yang lebih tinggi. Besarnya volume dimotivasi oleh keseimbangan portofolio dapat menurun setelah perpecahan. Karena individu dapat membeli dan menjual saham secara proporsional lebih sedikit setelah perpecahan dalam rangka untuk mencapai bobot portofolio yang diinginkan.

2.6. Kerangka Konseptual

(14)

meningkat sehingga akan menambah return yang didapat, hal ini akan mengakibatkan adanya abnormal return yang dinikmati pemegang saham.

Penelitian ini menggunakan perusahaan-perusahaan yang melakukan aktivitas pemecahan saham sepanjang tahun 2007-2014 dan terdaftar di Bursa Efek Indonesia sebagai sampel. Pemilihan perusahaan yang menjadi sampel menggunakan metode purposive sampling dengan menggunakan kriteria-kriteria tertentu. Penelitian dibuat untuk menganalisis dampak dari pemecahan saham terhadap volume perdagangan saham dan abnormal return saham, berdasarkan hal tersebut masing-masing volume perdagangan dan abnormal return perusahaan akan dicari. Abnormal return saham didapat dengan menggunakan selisih variabel actual return dan return ekspektasi. Sedangkan untuk volume perdagangan, di dapat langsung dari data histori perusahaan sampel. Setelah data abnormal return dan volume perdagangan didapat, dicari rata- rata abnormal return dan volume perusahaan dari setiap perusahaan yang menjadi sampel penelitian, kemudian melakukan uji beda dua rata-rata dari abnormal return dan volume perdagangan sebelum dan sesudah tanggal pengumuman pemecahan saham, berdasarkan hal tersebut peneliti membuat kerangka konseptual sebagai berikut :

Gambar 2.1

Kerangka Konseptual

(15)

Uji Beda

2.7. Hipotesis

Hipotesis menyatakan jawaban sementara yang menjelaskan hubungan antara dua variabel atau lebih. Berdasarkan latar belakang masalah, tinjauan teoritis dan penelitian terdahulu maka hipotesis dalam penelitian ini adalah :

a. Volume Perdagangan

H0 : Tidak ada perbedaan volume perdagangan sebelum dan sesudah stock split dilakukan.

H1 : Ada perbedaan volume perdagangan sebelum dan sesudah stock split dilakukan.

b. Abnormal Return

H0 : Tidak ada perbedaan abnormal return sebelum dan sesudah stock split dilakukan.

H1 : Ada perbedaan abnormal return sebelum dan sesudah stock split dilakukan

Sebelum Stock Split  

Sesudah Stock Split  

Volume Perdagangan dan Abnormal Return

Gambar

Tabel 2.1
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis perbedaan abnormal return dan volume perdagangan saham yang signifikan pada saat sebelum dan

menyatakan bahwa tidak adanya perbedaan yang signifikan pada trading cost , volume perdagangan saham, dan abnormal return saham pada saat sebelum dan sesudah pengumuman stock split.

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah rata-rata return saham, rata-rata abnormal return saham dan rata-rata aktivitas volume perdagangan saham perusahaan

Sofi Sofhia Utami (0707502 ), “Analisis Volume Perdagangan Saham dan Abnormal Return Saham Sebelum dan Sesudah Stock Split. Kenaikan harga saham yang terlalu tinggi

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis perbedaan abnormal return dan volume perdagangan saham yang signifikan pada saat sebelum dan sesudah terjadinya

Penelitian ini menguji reaksi pasar yang diukur dengan abnormal return dan rata-rata volume perdagangan saham terhadap pengumuman dividen tunai pada perusahaan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis perbedaan abnormal return dan volume perdagangan saham yang signifikan pada saat sebelum dan sesudah terjadinya

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis perbedaan abnormal return dan volume perdagangan saham yang signifikan pada saat sebelum dan sesudah terjadinya